Anda di halaman 1dari 6

Nama : Dyan Loka Vitha Wacy

NIM : 8156122006
Program Studi/Kelas : Teknologi Pendidikan/ B-1
Mata Kuliah : Filsafat Ilmu Pendidikan

Pengertian filsafat berdasarkan asal kata tersebut akan menghasilkan pengertian yang
berbeda-beda dalam makna yang tidak hakiki, jadi perbedaan tersebut hanya bersifat gradasi
( naik, yaitu dari ragu menjadi yakin ) saja. Aktivitas akal budi yang dilakukan oleh filsut yang
berupa philosopein memiliki dua unsur pokok, yaitu pertama philein dan sophos, kedua philos
dan sophia. Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat dipahami bahwa filsafat (philosophia)
berarti cinta kebijaksanaan. Seorang filsut adalah pencari kebijaksanaan, ia adalah pencinta
kebijaksanaan dalam arti hakikat. Seorang filsut mencintai atau mencari kebijaksanaan dalam arti
yang sedalam-dalamnya. Seorang fisut adalah pencinta atau pemakaian istilah filsafat pertama
kali digunakan oleh Pythagoras. Pada saat itu pengertian filsafat menurutnya menurutnya belum
begitu jelas, kemudian diperjelas oleh kaum sophist yang dipelopori oleh Socrates, yang telah
menjelaskan pengertian filsafat yang tetap dipakai hingga saat ini.

Faktor Faktor Filsafat

1. Pertentangan Mitos dan Logos

2. Rasa Ingin Tahu

3. Rasa Kagum

4. Perkembangan kesusastraan

Karakteristik Filsafat

a. Integralistik ( menyeluruh ), artinya pemikiran yang luas, pemikiran yang meliputi beberapa sudut
pandangan. Pemikirann kefilsafatan meliputi beberapa cabang ilmu, dan pemikiran semacam ini
ingin mengetahui hubungan antara cabang ilmu yang satu dengan yang lainnya. Integralitas
pemikiran kefilsafatan juga memikirkan hubungan ilmu dengan moral, seni dan pandangan
hidup.
b. Fundamental ( mendasar ), artinya pemikiran mendalam sampai kepada hasil yang fundamental
( keluar dari gejala ). Hasil pemikiran tersebut dapat dijadikan dasar berpijak segenap nilai dan
masalah-masalah keilmuan ( science )

c. Spekulatif, artinya hasil pemikiran yang diperoleh dijadikan dasar bagi pemikiran-pemikiran
selanjutnya dan hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai medan garapan ( objek ) yang
baru pula. Keadaan ini senantiasa bertambah dan berkembang meskipun demikian bukan berarti
hasil pemikiran kefilsafatan itu meragukan, karena tidak pernah selesai seperti ilmu-ilmu diluar
filsafat.

Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu
yang dilakukan oleh manusia. Ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan sutau
rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional,
kognitif, dan teleologis.

Ciri penentu yang kedua dari kegiatan yang merupakan ilmu ialah sifat kognitif, bertalian dengan
hal mengetahui dan pengetahuan. Filsuf Polandia Ladislav Tondl menyatakan bahwa science
terutama berarti conscious and organized cognitive activity (aktivitas kioginitf yang teratur dan
sadar). Dijelaskannya lebih lanjut demikian :
Tujuan-tujuan terpenting ilmu bertalian dengan apa yang telah dicirikan sebagai fungsi
pengetahuan atau kognitif dari ilmu, dengan fungsi itu ilmu memusatkan perhatian terkuat pada
pemahaman kaidah-kaidah yang tak diketahui sebelumnya dan baru atau pada penyempurnaan
keadaan pengetahuan dewasa ini mengenai kaidah-kaidah demikian itu.

Jadi pada dasarnya ilmu adalah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses
mengetahui dan pengetahuan.

Ilmu sebagai Metode Ilmiah

Prosedur yang merupakan metode ilmiah meliputi pengamatan, percobaan, analisis, deskripsi,
penggolongan, pengukuran, perbandingan, dan survai. Oleh karena ilmu merupakan suatu
aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode
ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika. Dengan demkikian, prosedur-prosedur yang
tergolong metode logis termasuk pula dalam ruang lingkup metode ilmiah. Ini misalnya ialah
deduksi, abstraksi, penalaran analogis, analisis logis.

Ilmu sebagai Pengetahuan Sistematis

Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang
terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik
yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang
merupakan isi substantif yang terkadung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut fakta.

Objek Filsafat

Ilmu filsafat memiliki objek material dan objek formal. Objek material adalah apa yang
dipelajari dan dikupas sebagai bahan (materi) pembicaraan. Objek material adalah objek yang di
jadikan sasaran menyelidiki oleh suatu ilmu, atau objek yang dipelajari oleh ilmu itu. Objek
material filsafat ilmu adalah pengetahuan itu sendiri, yakni pengetahuan ilmiah (scientific
knowledge) pengetahuan yang telah di susun secara sistematis dengan metode ilmiah tertentu,
sehingga dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.

ILMU

Ilmu adalah suatu bentuk ciptaan Tuhan. Orang tidak menciptakan ilmu, melainkan
mengungkapkan ilmu, atau mencari ilmu. Mencari ilmu merupakan kewajiban manusia, dan
apabila manusia telah menguasai ilmu, ilmunya pun akan

memberikan kenikmatan padanya. Ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal
atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh
manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang
sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.

Ciri-Ciri Ilmu
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Kumpulan pengetahuan untuk dapat disebut ilmu
harus memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu objek material dan obyek formal. Setiap bidang
ilmu, baik ilmu-ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memiliki 2 (dua) macam obyek tersebut.

Hubungan Filsafat dan Ilmu

Adapun persamaan (lebih tepatnya persesuaian) antara ilmu dan filsafat adalah bahwa
keduanya menggunakan berfikir reflektif dalam upaya menghadapi/ memahami fakta-fakta dunia
dan kehidupan, terhadap hal-hal tersebut baik filsafat maupun ilmu bersikap kritis, berpikiran
terbuka serta sangat konsen pada kebenaran, disamping perhatiannya pada pengetahuan yang
terorganisir dan sistematis. Sementara itu perbedaan filsafat dengan ilmu lebih berkaitan dengan
titik tekan, dimana ilmu mengkaji bidang yang terbatas, ilmu lebih bersifat analitis dan deskriptif
dalam pendekatannya, ilmu menggunakan observasi, eksperimen dan klasifikasi data
pengalaman indra serta berupaya untuk menemukan hukum-hukum atas gejala-gejala tersebut,
sedangkan filsafat berupaya mengkaji pengalaman secara menyeluruh sehingga lebih bersifat
inklusif dan mencakup hal-hal umum dalam berbagai bidang pengalaman manusia, filsafat lebih
bersifat sintetis dan sinoptis dan kalaupun analitis maka analisanya memasuki dimensi kehidupan
secara menyeluruh dan utuh, filsafat lebih tertarik pada pertanyaan kenapa dan bagaimana dalam
mempertanyakan masalah hubungan antara fakta khusus dengan skema masalah yang lebih luas,
filsafat juga mengkaji hubungan antara temuan-temuan ilmu dengan klaim agama, moral serta
seni.

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan terminologi generik yang mencakup,seluruh hal yang di ketahui


oleh manusia,dengan demikian pengetahuan adalah kemampuan, seperti perasaan pikiran
pengalaman dan intuisi,yang mampu menangkap alam dan kehidupanya serta
mengabstraksikanya, untuk suatu tujuan. Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan adalah
merupakan hasil dari tahu dan ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek
tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia, yakni indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagaian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui
mata dan telinga.

. Sumber Pengetahuan
Proses terbentuknya pengetahuan yang dimiliki oleh manusia dapat diperoleh melalui
cara pendekatan apriori maupun aposteriori.
Pengetahuan yang diperoleh pendekatan apriori adalah pengetahuan yang diperoleh tanpa
melalui proses pengalaman, baik pengalamanan yang bersumber pada pancaindera maupun
pengalaman batin atau jiwa. Sebaliknya, pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan
aposteriori adalah pengetahuan yang diperoleh melalui informasi dari orang lain atau
pengalaman yang telah ada sebelumnya.

Ontologi

Ontologi juga sering diidentikkan dengan metafisika, yang juga disebut dengan proto-filsafat
atau filsafat yang pertama atau filsafat ketuhanan. Pembahasannya meliputi hakikat sesuatu,
keesaan, persekutuan, sebab dan akibat, substansi dan aksiden, yang tetap dan yang berubah,
eksistensi dan esensi, keniscayaan dan kerelatifan, kemungkinan dan ketidakmungkinan, realita,
malaikat, pahala, surga, neraka dan dosa. Dengan kata lain, pembahasan ontologi biasanya
diarahkan pada pendeskripsian tentang sifat dasar dari wujud, sebagai kategori paling umum
yang meliputi bukan hanya wujud Tuhan, tetapi juga pembagian wujud.

Epistemologi

Epistemologi secara etimologi dapat diartikan teori pengetahuan yang benar dan lazimnya hanya
disebut teori pengetahuan. Dengan kata lain, epistemologi adalah bidang ilmu yang membahas
pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenarannya.

Aksiologi

aksiologi adalah ilmu tentang nilai. Menurut Jujun S. Suriasumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu
mengatakan bahwa aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nalai secara
umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa
ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah
moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana
kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-
norma moral atau profesional?.