Anda di halaman 1dari 37

e-Flip Chart

Praktikum Farmasi Fisika


Laboratorium Farmasetika
Fakultas Farmasi Unhas

PERCOBAAN II:
SISTEM MULTIKOMPONEN
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Apa itu Sistem Multikomponen?

Sistem yang mengandung lebih dari satu komponen.

Komponen Fase

Sebuah sistem dapat memiliki hanya satu komponen tetapi memiliki lebih dari satu
fase. Hal ini dinyatakan dalam persamaan Aturan Fase oleh J. Willard Gibbs yaitu

F=CP+2

dimana
F = Derajad kebebasan
C = Jumlah komponen
P = Jumlah fase

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Kondensasi

Sistem Kondensasi adalah sistem dimana fase uap diabaikan dan hanya fase cair
dan padat yang dipertimbangkan

Sistem ini sesuai untuk sediaan padat dan cair dimana bentuk sediaan farmasi
paling banyak dalam wujud ini

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Biner: Sistem Dua Komponen
Sistem Dua Komponen yang Mengandung 1 Diagram biner Sistem Fenol-Air
Fase Cair

Contohnya Sistem Fenol-Air, Anilin-Air, Karbon


Disulfida-Metanol, Isopentana-Fenol, Metanol-
Sikloheksan, Isobutilakohol-Air, Trietilamin-Air,
Nikotin-Air.

Selain sistem fenol-air (ditunjukkan pada


diagram hubungan konsentrasi fenol dan suhu
disamping), sistem lain yang diketahui belum
memiliki signifikansi di bidang farmasetika.

Coba jelaskan makna diagram biner


disamping?
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Sistem Biner: Sistem Dua Komponen
Sistem Dua Komponen yang Mengandung Fase Cair Diagram biner campuran eutektik
dan Padat

Campuran eutektik merupakan salah satu sistem dua


komponene yang memiliki signifikansi farmasetik
yang besar. Diagram biner campuran eutektik terlihat
seperti diagram disamping. Titik C pada diagram
adalah titik eutektik.

Titik Eutektik adalah titik saat fase cair dan padat


mempunyai komposisi yang sama atau Suhu
terendah dimana kehadiran fase cair (bahan A dan
bahan B berada dalam keadaan cair sempurna yang
homogen) dimungkinkan. Lebih sederhana lagi, titik
eutektik adalah titik lebur terendah dari campuran
dua fase menjadi satu fase cair yang homogen

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Biner: Sistem Dua Komponen
Campuran Salol-Timol
merupakan salah satu
bentuk sistem
eutektik. Diagram
biner disebelah
menunjukkan titik
eutetktik campuran
Salol-Timol yaitu pada
suhu 13C dengan
komposisi 34% timol
dalam salol.

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Biner: Sistem Dua Komponen

Bagaimana peranan campuran eutetik dalam bidang farmasi?


Salah satu contohnya adalah campuran Lidokain-Prilokain dalam emulsi anastetik
topikal. Coba cari contoh-contoh lainnya!

Apa itu dispersi padat dan apa hubungannya dengan sistem eutektik?
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen

Sesuai dengan namanya, sistem tiga komponen adalah sistem yang terdiri dari
tiga komponen. Dalam percobaan ini akan dibahas tentang sistem tiga komponen
dengan satu fase yaitu fase cair.

Dalam sistem yang akan dibahas ini, dua dari tiga komponen cair bercampur
dengan seluruh perbandingan.

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen

Diagram Terner Diagram Terner sistem Tiga Komponen

Jika kita mereduksi derajad kebebasan


(F) dalam suatu sistem tiga komponen
dengan menganggapnya menjadi
sebuah sistem kondensasi
(mengabaikan fase gas) dan menjaga
suhu tetap konstan, sistem tersebut
dapat digambarkan dalam sebuah
diagram planar segitiga yang disebut
diagram terner (ternary diagram)
karena derajad kebabasan sistem
direduksi menjadi 2 (Sebelumnya 4)

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen
Kaidah Diagram Segitiga: Diagram Terner sistem Tiga
Komponen
1. Masing-masing sudut atau puncak
segitiga menunjukkan 100% berat
salah satu komponen
2. Ketiga garis yang menghubungkan
titik-titik sudut menunjukkan
campuran dua komponen dari tiga
kemungkinan kombinasi
3. Daerah didalam segitiga menunjukkan
semua kombinasi seluruh komponen
yang mungkin untuk menghasilkan
sistem tiga komponen

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen
Kaidah Diagram Segitiga (Lanjutan): Diagram Terner sistem Tiga
Komponen
4. Jika suatu garis digambarkan dari
sudut tertentu menuju satu titik pada
sisi yang berlawanan, semua sistem
yang ditunjukkan oleh titik-titik pada
garis tersebut mempunyai
perbandingan dua komponen yang
konstan.
5. Setiap garis yang digambarkan sejajar
dengan salah satu sisi segitiga
menunjukkan sistem terner dengan
perbandingan satu komponen bernilai
konstan
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen
Sistem Terner yang Mengandung Sepasang Cairan yang Bercampur
Sebagian

Contohnya:
Sistem Air-Benzen-Alkohol
Sistem Air-Kloroform-Asam Asetat
Sistem Air-Toluen-Alkohol
Sistem Air-Butanol-Asam Asetat

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sistem Terner: Sistem Tiga Komponen

Bagaimana pemanfaatan diagram


terner pada ilmu farmasetik? Salah
satu contohnya adalah untuk
menentukan komposisi sebuah
sistem mikroemulsi (seperti gambar
disamping) yang terdiri atas tiga
komponen yaitu fase air, fase
minyak dan fase campuran
surfaktan dan ko-surfaktan

Coba cari contoh lainnya!

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sasaran Pembelajaran Dalam Praktikum

Sasaran Pembelajaran:
Mahasiswa mampu memahami tentang sistem multikomponen dan diagram fase

Kemampuan psikomotor yang diharapkan dikuasai oleh mahasiswa:


Keterampilan dalam penentuan titik eutektikum, menentukan kesetimbangan fase
dalam sistem tiga kompoen dan menggambar diagram fase (biner dan terner

Apa yang diamati?


Observasi fenomena fisika yang disajikan dalam percobaan dan membandingkan
hasilnya dengan data dari literatur (jika ada)

Apa yang bisa dibahas dan didiskusikan lebih dalam?


Aplikasi sistem biner dan terner dalam ilmu farmasetika (misalnya formulasi,
pemrosesan produk-produk farmasi atau sistem penghantaran obat.

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Tujuan Percobaan
Dalam percobaan ini mahasiswa akan:
Menentukan komposisi campuran eutektik suatu bahan dan menggambar diagram
fasenya (diagram biner).
Menentukan kesetimbangan fase dalam sistem tiga komponen dan menggambar
diagram fasenya (diagram terner).

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Sebelum Praktikum
Praktikan diharapkan mampu membaca dan menginterpretasikan diagram biner
dan terner.

Praktikan diharapkan memiliki data dan referensi tentang titik lebur dan kelarutan
sampel di golongan tersebut.

Praktikan diharapkan membawa laptop dengan software CHEMIX School yang


sudah terinstal.

Praktikan diharapkan mengerti dan memahami semua metode kerja dan rumus-
rumus yang digunakan dalam percobaan

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Percobaan Penentuan Titik Eutektik
Langkah Kerja
Timbang sampel dalam berbagai perbandingan satu bahan terhadap bahan (0:100, 10:90,
20:80, 30: 70, 40:60, 50:50, 60:40, 70:30, 80:20, 90:10 dan 100:0)
Sampel digerus menjadi serbuk yang sangat halus dalam lumpang untuk sampel yang
diprediksi memiliki titik lebur dibawah suhu ruang, lakukan proses penggerusan dalam tangas
es.
Pipa kapiler kaca (yang salah satu ujungnya tertutup) diisi dengan serbuk kering secukupnya
hingga membentuk kolom di dasar tabung dengan tinggi 2,5 mm hingga 3,5 mm.
Setelah diisi, sampel dalam pipa kapiler dimampatkan dengan cara mengetukkan pipa kapiler
pada permukaan padat
Ikat pipa kapiler pada termometer dengan bagian terbuka menghadap ke bawah
Panaskan aquadest dalam gelas beaker menggunakan tangan air atau kompor listrik hingga
lebih kurang 30C dibawah suhu lebur yang diperkirakan atau jika diprediksi terjadi di bawah
suhu ruang maka tidak diperlukan pemanasan. Biarkan suhu naik dengan sendirinya.
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Percobaan Penentuan Titik Eutektik
Langkah Kerja
Termometer dan pipa kapiler dicelupkan kedalam tangas. Bagian bawah pipa kapiler tepat
berada dipermukaan air yang dipanaskan
Termometer dan pipa kapiler dicelupkan kedalam tangas. Bagian bawah pipa kapiler tepat
berada dipermukaan air yang dipanaskan
Lanjutkan pemanasan dengan begadukan tetap secukupnya hingga suhu naik sekitar 3 derajad
per menit
Pada saat suhu kurang lebih 3C dibawah jarak lebur yang diperkirakan, kurangi pemanasan
hingga suhu naik lebih kurang 1-2 per menit. Titik leleh diamat saat zat dalam pipa kapiler
mulai meleleh.
Ulangi langkah kerja untuk perbandingan lain

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Percobaan Penentuan Titik Eutektik
Alat Bahan
Pipa Kapiler Aquadest
Gelas beaker 1000 ml Benang Godam
Termometer Gelas (0-100C) Kertas Perkamen
Kompor Listrik Sampel
Lumpang dan Alu (Mentol,Kamfer, Timol,
Statif dan Klem Asam Salisilat, Resorsinol,
Salol, Ibuprofen, Benzokain)

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Percobaan Penentuan Titik Eutektik
Ilustrasi Rangkaian Alat Dalam hal ini termometer dapat dikat dengan
benang godam dan digantungkan pada klem.

Termometer
Klem
Pipa Kapiler

Gelas Beaker Statif

Kompor Listrik/
Sumber Panas Lain
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Tabel Pengamatan
Tabel. Hasil Pengamatan Titik Leleh Campuran A dan B
Perbandingan
No. Bobot A Bobot B Titik Lebur Keterangan
A:B
1 0:100 00 mg 00 mg 00,0C
2 10:90 00 mg 00 mg 00,0C
3 20:80 00 mg 00 mg 00,0C
4 30:70 00 mg 00 mg 00,0C
5 40:60 00 mg 00 mg 00,0C
6 50:50 00 mg 00 mg 00,0C
7 60:40 00 mg 00 mg 00,0C Titik Eutektik
8 70:30 00 mg 00 mg 00,0C
9 80:20 00 mg 00 mg 00,0C
10 90:10 00 mg 00 mg 00,0C
11 100:0 00 mg 00 mg 00,0C

Gunakan Tabel Pengamatan ini dalam laporan


Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Menggambar Diagram Biner

Klik Binary Plot di


program chemix

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Biner
Isi seluruh informasi
yang relevan untuk
diagram yang akan
digambar pada bagian
ini

Title: Diagram Eutektik


Campuran A-B
X-axis : % Campuran B
Y-axis : Suhu (C)

X- min : 0
X- max : 100
Y-min : 0
Y-max : 100

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Biner
Isi bagian ini dengan
data yang diperoleh

X untuk sumbu X
Y untuk sumbu Y
Text jika ingin
memasukkan text pada
koordinat tertentu

Isi dengan:
0 0 [-s]
100 100 [-s]

Selanjutnya di bagian
Interpolate Pilih
Deactivated dan Klik
Calculate

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Biner

Pahami informasi ini untuk memudahkan menggambar diagram

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Biner
Mulai gambar titik-titik
pada plot. Setiap
mengganti garis pilih
nomor spline baru di
dropdown

Tahap akhir adalah


mengisi warna dan
legend

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Biner
Contoh diagram
biner yang
sudah lengkap
(diambil dari
template dalam
program)

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Interpretasi Hasil
- Dari data dan diagram yang diperoleh, tentukan titik eutektik campuran sampel
- Bandingkan hasilnya dengan nilai yang ada di buku-buku teks
- Bila nilai sama nyatakan sama dan simpulkan bahwa percobaan berhasil
- Bilai nilai berbeda nyatakan berbeda dan bahas penyebab perbedaan apakah
penyebab perbedaan karena ada faktor kesalahan pada bahan atau metode yang
digunakan? Jelaskan!
- Bahas kembali apa yang menyebabkan fenomena eutetktik ini
- Apa ada hubungan dengan informasi yang diperoleh dari praktikum pertama
tentang Wujud Zat dan SFBF? Jika da coba jelaskan!
- Bahan pengaplikasian sistem titik eutektik dibidang farmasi
- Sebagai tambahan, coba cari jurnal tentang dispersi padat yang menggunakan
sistem eutektik (misalnya dispersi padat ibuprofen-PEG), coba baca jurnal dan
pahami hasilnya (khususnya tentang hasil analsis termal dan difraksi sinar X-nya.
Apa yang bisa dipahami dan didiskusikan?
Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Percobaan Sistem Tiga Komponen
Alat Bahan
Burret 50 ml Aquadest
Erlenmeyer 100 ml atau 250 Benzen
ml Kloroform
Gelas beaker 100 ml Toluen
Butanol
Alkohol
Asam Asetat

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Percobaan Sistem Tiga Komponen
Langkah Kerja
Siapkan campuran sampel (yang bercampur sempurna) dalam berbagai seri perbandingan
Tambahkan aquadest sedikit demi sedikit melalui buret hingga diperoleh larutan yang
keruh/fase yang terpisah. Catat jumlah air yang dibutuhkan untuk membuat sistem menjadi
keruh/terpisah
Hitung %b/b dari bahan dalam campuran dengan menggunakan rumus

xi adalah fraksi berat sampel Vi adalah volme dan i adalah berat jenis.
Plot data yang diperoleh pada diagram terner. Tentukan daerah tercampurkan dan daerah
tidak tercampurkan dari sistem

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Percobaan Sistem Tiga Komponen
Langkah Kerja
Cara membuat diagram terner:
Diagram terner adalah diagram segitiga sama sisi
Setiap sudut mewakili 100% dari jumlah masing-masing bahan dan titik
disberangnya menunjukkan 0% dari jumlah bahan
Jarak dari sudut ke tepi segitiga dibagi menjadi 100 titik
Daerah dalam segitiga mewakili kemungkinan kombinsi dari ketiga bahan
Diagram terner memiliki area tercampurkan dan area tidak tercampurkan.

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Tabel Pengamatan
Tabel. Hasil Pengamatan Kesetimbangan Fase Campuran A-B-C

Jumlah C Jumlah
Perbandingan
No. Total %Bobot A %Bobot B %Bobot C
A:B Volume Bobot Campuran
1 0:100 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
2 10:90 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
3 20:80 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
4 30:70 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
5 40:60 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
6 50:50 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
7 60:40 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
8 70:30 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
9 80:20 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
10 90:10 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%
11 100:0 00,0 ml 00 mg 0000 mg 000,0% 000,0% 000,0%

Gunakan Tabel Pengamatan ini dalam laporan


Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016
Menggambar Diagram Terner

Klik Ternary Plot di


program chemix

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Terner
Isi seluruh informasi
yang relevan untuk
diagram yang akan
digambar pada bagian
ini

Kotak paling atas:


Diagram Fase Asam
Asetat-Air-Kloroform

Kotak Kecil Pertama


diisi asam asetat
(puncak segitiga), air
(sudut sebelah kiri) dan
kloroform (sudut
sbebelah kanan)

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Menggambar Diagram Terner
Isi bagian ini dengan
data yang diperoleh

Isi data hasil


perhitungan (dua dari
tiga data) (dan
keterangan lain bila
diperlukan) dan klik
calculate untuk
memplot data pada
diagram

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Interpretasi Hasil
- Dari diagram yang terbentuk tentukan daerah satu fase dan daerah dua fase.
- Interpretasikan diagram lebih lanjut, coba tarik beberapa garis dan amil beberapa
titik dan deskripsikan kondisi sistem pada garis atau titik tersebut
- Bandingkan diagram yang diperoleh dengan diagram yang ada dalam referensi
untuk sampel yang sama (jika ada)
- Bahas perbedaan diagram yang diperoleh dari praktikum dan dari referensi (jika
ada) kemudian bahas faktor-faktor yang mungkin menyebabkan perbedaannya.
- Apa yang menyebabkan adanya bagian satu fase dan dua fase pada campuran?
Apakah ada hubungannya dengan praktikum pertama tentang Wujud Zat dan SFBF?
- Bahas kembali kegunaan diagram tiga fase dalam bidang farmasetika
- Sebagai tambahan, coba cari jurnal-jurnal tentang mikroemulsi ataus
SEDDS/SMEDDS dan pahami isinya. Perhatikan bagian konstruksi diagram fase dan
komponen-komponen apa saja yang ada didalamnya

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016


Referensi dan Bahan Bacaan
- Sinko PJ. Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika Edisi 5. EGC. Jakarta. 2011
- Sinko PJ. Martins Physical Pharmacy and Pharmaceutical Sciences 6th Edition.
Lippincott Williams & Wilskins. Philadelphia. 2011
- Rowe RC, et al. Handbook of Pharmaceutical Excipient 5th Ed. Pharmaceutical
Press. UK. 2009
- Attwodd D, et al. Physical Pharmacy. Pharmaceutical Press. UK. 2008
- Amiji MM, et al. Applied Physical Pharmacy 2nd Edition. McGraw Hill. USA. 2014
- Felton LA. Essentials of Pharmaceutics. Pharmaceutical Press. UK. 2012
- Florence AT, et al. Physicochemical Principles of Pharmacy 4th Edition.
Pharmaceutical Press. UK. 2006
- Berbagai jurnal tentang dispersi padat dan mikroemulsi

Achmad Himawan, Laboratorium Farmasetika, FFUH 2016