Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

NUTRITION IMMUNOLOGY

KARBOHIDRAT DAN SISTEM IMUN

DISUSUN OLEH :

STEFANI RATNA INDRIATI472014002


PATRICIA 472014004
DANNY C. MADACAN 472014011

PROGRAM STUDI ILMU GIZI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2017
1.1 Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu determinan penting respons imunitas. Sistem imun pada
makhluk hidup berperan dalam proteksi penjamu (host) dari agen penginfeksi yang ada di sekitar
lingkungan host (agen infeksi: bakteri, virus, fungi, dan parasit). Sistem imun dapat
diklasifikasikan menjadi imunitas innate / alamiah / natural dan imunitas adaptif / spesifik yang
melibatkan komponen tubuh, yaitu darah (komplemen, antibodi, dan sitokin) dan sel (makrofag,
sel polimorfonuklear, dan limfosit). Fungsi sistem pertahanan tubuh yang baik secara langusng
dapat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Selain itu, nutrisi sekaligus juga sebagai faktor resiko dari
suatu penyakit. Asupan nutrisi yang tidak adekuat akan menyebabkan defisiensi / kerusakan
komponen tertentu yang dibutuhkan untuk membentuk suatu respon imun yang efektif. Sebagai
contoh, antioksidan merupakan salah satu zat gizi yang berperan dalam mencegah terjadinya
stres oksidatif yang dapat mempengaruhi fungsi imun. Intervensi nutrisi yang tepat juga akan
membantu proses penyembuhan penyakit. Nutrisi yang adekuat membantu mengembalikan
fungsi imun untuk melawan infeksi. Namun kelebihan zat gizi tertentu dapat berdampak pada
kerusakan fungsi imun tertentu (Marcos A, 2003).
Gangguan pada berbagai aspek imunitas, termasuk fagositosis, respons proliferasi sel ke
mitogen, serta produksi T-lymphocyte dan sitokin telah ditemukan pada kondisi kekurangan gizi
(Chandra and Kumari, 1994; Chandra, 1990; Kulkarni et al. 1994). Sampai saat ini, mekanisme
yang melaluinya kekurangan gizi mengakibatkan gangguan fungsi imunitas.
1.2 Definisi dan Fungsi Umum Karbohidrat
Karbohirat adalah polihidroksi aldehida atau polihidroksi keton yang mempunyai rumus
molekul umum (CH2O)n. Yang pertama lebih dikenal sebagai golongan aldosa dan yang
kedua adalah ketosa. Dari rumus umum dapat diketahui bahwa karbohidrat adaalah suatu
polimer. Senyawa yang menyusunnya dalah monomer- monomer (Matorharsono, 1998).
Menurut Yazid dan Nursanti (2006) bahwa dari rumus umum karbohidrat, dapat diketahui
bahwa senyawa ini adalah suatu polimer yang tersusun atas monomer-monomer. Berdasarkan
monomer yang menyusunnya, karbohidrat dibedakan menjadi 3 golongan, yaitu
monosakarida, disakarida dan polisakarida.
a. Monosakarida
Menurut Poedjiadi dan Supriyanti (2009), monosakarida ialah karbohidrat yang
sederhana, dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom karbon saja dan
tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain. Tiga senyawa
gula yang penting dalam monosakarida adalah glukosa, fruktosa dan galaktosa.

b. Disakarida
Disakarida merupakan karbohidrat yang pada hidrolisis menghasilkan 2 molekul
monosakarida yang sama atau berlainan, misalnya sukrosa, maltosa dan laktosa
(Iswari & Yuniastuti, 2006). Karbohidrat yang tersusun dari dua sampai sepuluh
satuan monosakarida. Oligosakarida yang umum adalah disakarida, yang terdiri atas
dua satuan monosakarida dan dapat dihidrolisis menjadi monosakarida. Contoh:
sukrosa, maltosa, dan laktosa (Yazid & Nursanti, 2006).

c. Poliskarida
Polisakarida ialah karbohidrat yang lebih dari sepuluh satuan monosakarida dan
dapat berantai lurus atau bercabang. Kebanyakan dari gula tersebut mengandung
beberapa ratus atau bahkan ribuan gula sederhana. Polisakarida dirombak dalam
saluran pencernaan menjadi karbohidrat yang sederhana dengan kelengkapan
tingkatan yang beragam (Estien Yazid, 2006).

1.3 Fungsi khusus karbohidrat terhadap sistem imun


1.3.1 Asupan karbohidrat terhadap fungsi imun
Karbohidrat memainkan sejumlah peran penting dalam biokimia. Karbohidrat berperan
sebagai sumber energi utama. Kedua, oligosakarida memainkan peran kunci dalam proses
yang terjadi pada permukaan sel khususnya dalam interaksi-interaksi sel dan kekebalan
tubuh. Beberapa polisakarida dapat bekerja menstimulasi sistem imun, yaitu inulin dari
Echinacea, acemannan dari lidah buaya, dan lentinan dari jamur Shiitake.
Glukosa dibutuhkan oleh sistem imun sebagai prekursor biosintesis dan energi, dengan
meningkatkan ekspresi dari transportasi glukosa dan insulin reseptor dimana kondisi hipo
dan hiperglikemia dapat mempengaruhi fungsi sel immun dan mempromosikan terjadinya
proses inflamasi. Kondisi hiperglikemia dapat menyebabkan inflamasi melalui mekanisme
yang menghasilkan radikal bebas dan sitokin pro inflamasi (Kats, 2012). Asupan karbohidrat
harus seimbang untuk menjaga fungsi imun tubuh. Asupan yang terlalu banyak mengandung
gula sederhana justru menghambat sistem imun. Sebagai contoh, kelebihan 100 gram glukosa
dapat menurunkan kemampuan sel imun neutrophil untuk memfagosit dan melisis bakteri
(Vita Health, 2006).

1.3.2 Peran polisakarida terhadap fungsi imun


Polisakarida memiliki peran dalam respon imun tubuh khususnya pada aktivasi sel
imun. Berikut merupakan ilustrasi terkait dengan aktivasi sel imun oleh polisakarida
menurut Sarkis (2006):
Ilustrasi gambar pada poin a menunjukkan bakteri polisakarida yang merupakan
antigen yang umum direspon oleh sel B dan dikenali dengan bantuan B-cell receptor
(BCR) dengan spesifitas khusus. Interaksi antara polisakarida pada antigen dan BCR
diperlukan dalam induksi sinyal untuk menstimulasi produksi sel B serta antibodi. Namun
proses ini tidak menghasilkan memori terkait antigen pada sel imun yang bekerja. Gambar
b) menunjukkan konjugasi protein-polisakarida berinteraksi dengan BCR (dengan cara
yang sama pada kasus interaksi polisakarida murni dengan BCR) membutuhkan bantuan
dari sel T melalui mekanisme presentasi antigen dari komponen protein ke CD4 + sel T,
yang menyediakan stimulasi untuk menginduksi pembentukan memori sel B dan sel T
terhadap antigen. Akibatnya, selain produksi antibodi tercapai terbentuk pula hasil memori
imunologi di sel imun spesifik terhadap polisakarida maupun protein dari antigen. Strategi
ini telah dimanfaatkan untuk memproduksi vaksin patogen spesifik yang menargetkan
bakteri polisakarida. Gambar c) menunjukkan polisakarida zwiter-ionik yang berinteraksi
langsung dengan CD4+ sel T dalam cara yang mirip dengan proses imun terhadap antigen
protein. Polisakarida ini diambil oleh sel-sel Antigen Presenting (APC), terdegradasi dan
dipresentasikan ke sel T menyebabkan aktivasi sel T. Selain polisakarida zwiter-ionik,
respon antibodi B-cell-dependent juga didapatkan respon hasil yang sama untuk beberapa
polisakarida lain seperti CD40L, ligan CD40, TCR, reseptor sel T.

1.3.3 Pentingnya peran glukosa dalam sistem imun


Berbagai proses regulasi imunitas mendasar dalam tubuh sangat membutuhkan energi
sehingga sel-sel imun baik bersifat innate maupun adaptif memanfaatkan berbagai
molekul dan sinyal ekstraseluler sebagai bahan bakar. Pemanfaatan glukosa pada respon
imun tubuh memiliki mekanisme serta sifat yang berbeda bergantung pada jenis sel imun
serta respon antigen yang diperlukan, sebagai contoh, apakah proliferatif (sel B atau sel T)
atau nonproliferative (makrofag atau neutrophil). Glukosa bersama glutamin, badan keton
atau asam lemak merupakan bahan bakar yang paling penting untuk sel imun
(Wolowczuk, 2008).
Pada studi awal beberapa peneliti menggunakan limfosit yang distimulasi dengan
mitogens spesifik untuk sel B atau sel T (seperti pokeweed mitogen (untuk sel B),
Concanavalin-A, atau phytohemagglutinin-A (untuk sel T)). Hasil penelitian menyatakan
pentingnya penyerapan glukosa dan katabolisme dalam menyediakan energi untuk
proliferasi, biosintesis, dan aktivitas sekretorik. Dalam 1 jam stimulasi, mitogen
mendorong aktivasi limfosit menyebabkan peningkatan konsumsi glukosa (sebagian besar
di-metabolisme menjadi laktat) membuktikan bahwa ada peningkatan pesat glikolisis
setelah aktivasi limfosit. Selain itu, jalur pemanfaatan glukosa lainnya juga terbukti
meningkat selama stimulasi limfosit (seperti jalur pentose fosfat yang memuncak pada 48
jam setelah stimulasi disertai dengan optimalnya sintesis protein dan RNA diikuti
blastogenesis limfosit. Kemudian, peran penting glukosa dalam aktivasi limfosit juga
terkait sistem imun innate seperti makrofag dan neutrofil. Meski dalam hal terkait
kapasitas untuk pembelahan sel yang cepat tidak berlaku dalam kasus ini, namun
makrofag dan neutrophil terbukti memiliki kemampuan fagositosis yang lebih baik
(membutuhkan tingkat turnover dan sintesis lipid yang tinggi) sehubungan dengan peran
glukosa di dalamnya. Dalam membangun dan menghasilkan kekebalan yang efisien dan
efektif membutuhkan tingkat proliferasi seluler yang tinggi, biosintesis, dan sekresi
kegiatan. Semua proses tersebut membutuhkan konsumsi energi yang tinggi. Kecepatan
sel imun (adaptif maupun alamiah) dalam merespon kehadiran patogen bergantung pada
tingkat metabolisme sel untuk menghasilkan energi untuk reaksi imun (Frauwirth, 2004).

1.3.4 Hubungan ketersediaan glukosa dan fungsi sel T


Pada fase sel T yang beristirahat (tidak ada paparan antigen), sel T akan keluar dari
timus dan memasuki sirkulasi perifer sebagai sel nonaktif. Sel-sel ini akan
mengkonsumsi glukosa dan nutrisi lainnya pada tingkat rendah, cukup untuk
mempertahankan fungsi basal yang normal. Bahkan untuk memastikan tingkat
metabolisme basal ini, sel-sel T tetap membutuhkan sinyal ekstraseluler (misalnya,
sitokin) dengan stimulasi tingkat rendah melalui TCR (T-Cell Representing). Apabila
sinyal-sinyal ekstraseluler tersebut tidak ada / minim maka sel T akan mengurangi tingkat
mengimpor glukosa sejauh yang diperlukan untuk menjaga homeostasis seluler. Dengan
demikian, metabolisme dari limfosit (pada fase istirahat) dibatasi oleh ketersediaan sinyal
trofik daripada ketersediaan nutrisi, seperti glukosa (Healy, 2002). Saat sel T diaktifkan
oleh mitogens atau antigen, proses imunitas membutuhkan energi yang diaktifkan. Proses
peralihan dari fase istirahat ke aktivasi yang berlangsung dalam waktu singkat tentunya
membutuhkan peningkatakan kebutuhan glukosa salah satunya melalui proses glikolisis.
Peningkatan kadar glukosa dalam tubuh juga membantu dalam melindungi neutrophil dari
apoptosis (kematian sel terprogram) dan berhubungan pula dengan tingkat penggunaan
glukosa pada sel.

1.3.5 Hubungan metabolisme glukosa dan sistem imun


Protein transporter-glukosa (GLUT) dan reseptor insulin (InsR) diekspresikan juga
pada sel-sel imun (misalnya, monosit / makrofag, neutrofil, dan limfosit B dan limfosit T).
Reseptor serta transporter tersebut sangat fungsional karena berperan dalam respon pada
stimulasi imun dan insulin. Membrane sel yang berstruktur bilayer lipid akan
menyebabkan sifat impermeable pada molekul karbohidrat. Oleh karena itu, dibutuhkan
sistem transport untuk mengangkut glukosa. Glukosa dapat masuk ke dalam sel melalui
facilitated diffusion yang membutuhkan ATP, yakni melalui Glukosa Transporter (GLUT).
Terdapat 5 subtipe dari GLUT berdasarkan spesifisitas terhadap substrat, profil kinetk, dan
distribusinya pada jaringan. PI 3-kinase merupakan protein yang penting dalam translokasi
GLUT 4 ke membrane sel pada sel otot dan adiposa dan menginduksi enzim-enzim yang
bekerja pada downstream (Wilcox, 2005).
Pola pada proses upregulation GLUT akan berbeda pada jenis sel imun yang berbeda
pula. Sebagai contoh, diferensiasi monosit ke makrofag berhubungan dengan peningkatan
ekspresi GLUT3 dan GLUT5. Sementara pada transport insulin di dalam tubuh akan
meningkatakan ekspresi GLUT3 dan GLUT4 di monosit dan limfosit B (Y.Fu,20014). Di
sisi lain, insulin tidak berpengaruh pada sel neutrophil dan sel T nave. Dalam sel T,
diketahui bahwa ligasi pada reseptor CD28 mengaktifkan PI3-K / Akt, seperti pada kasus
pengikatan insulin pada reseptornya. Karena itu, CD28 sangat diperlukan dalam mengatur
metabolisme sel T. Pada stimulasi CD28, Sel T meningkatkan ekspresi GLUT, penyerapan
glukosa, dan glikolisis serta efek ini bergantung pada aktivitas PI3-K. Selain itu, CTLA-4,
reseptor penghambat yang memiliki efek berlawanan pada aktivasi sel T, dapat
menghambat CD28 dalam meningkatkan metabolisme glukosa. Kesimpulannya,
metabolisme glukosa yang terkait sistem imun berhubungan kerja PI3-K dan molekul Akt
(baik di limfosit T dan B) (Frauwirth, 2002).

1.3.6 Pengembangan teknologi kesehatan terkait peran karbohidrat terhadap


fungsi imun tubuh
Karbohidrat adalah molekul penyusun sel terutama dinding / permukaan sel sehingga
karbohidrat sangat penting dalam proses pengenalan antigen. Molekul yang mengandung
karbohidrat (misal, lipopolisakarida) dapat dikenali oleh TLR (reseptor yang bekerja
dengan prinsip pegenalan pola) pada permukaan sel-sel imun tubuh. Hasil pengenalan oleh
TLR ini berperan dalam aktivasi sel dan produksi sitokin. Selain itu, glikoprotein, yang
memainkan peran penting dalam adhesi sel, perlindungan protease, signaling, protein
struktur, dan fungsi biologis lainnya, juga memainkan peran penting dalam toleransi
imunitas (Brian A, 2005). Kerusakan / perubahan pada proses glikosilasi sering dikaitkan
dengan sejumlah gangguan autoimun
Berdasarkan temuan di atas, produk baru vaksin telah dikembangkan. Vaksin ini dibuat
dengan proses konjugasi polisakarida ke protein pembawa, yang memaksa sistem imun
adaptif untuk menghasilkan respon sel T-dependent yang menyebabkan produksi antibodi
IgG dan membangun memori imunologi yang spesifik untuk gugus karbohidrat tertentu.
Strategi ini dapat menghasilkan pelindung antibodi terhadap bakteri yang tersusun atas
komponen karbohidrat tertentu pada sel nya, seperti dalam tersedia secara komersial
vaksin terhadap Haemophilus influenzae tipe B (Kelly,2004) dan Streptococcus
pneumoniae (Darkes, 2002).
DAFTAR PUSTAKA

Brian A. Cobb, Dennis L. Kasper. 2005. Coming of Age: Carbohydrates and Immunity. Eur. J.
Immunol. 2005. 35: 352356 2005. WILEY-VCH Verlag GmbH & Co. KGaA, Weinheim

Darkes,M. J. and Plosker, G. L. 2002. Pneumococcal conjugate vaccine (Prevnar;PNCRM7): a


review of its use in the prevention of Streptococcus pneumoniae infection. Paediatr. Drugs
2002. 4: 609630.

Healy D. A., R. W. G. Watson, and P. Newsholme. 2002. Glucose, but not glutamine, protects
against spontaneous and anti-Fas antibody-induced apoptosis in human neutrophils. Clinical
Science, vol. 103, no. 2, pp. 179189, 2002.

Estien Yazid dan Lisda Nursanti. 2006. Penuntun Praktikum Biokimia untuk Mahasiswa Analis.
Yogyakarta : Penerbit ANDI, hlm. 2.

Frauwirth, K. A.; C. B. Thompson. 2004. Regulation of T lymphocyte metabolism. Journal of


Immunology, vol. 172, no. 8,pp. 46614665,

Frauwirth K. A., J. L. Riley, M. H. Harris, et al. 2002. The CD28 signaling pathway regulates
glucose metabolism. Immunity, vol. 16, no. 6, pp. 769777, 2002.

Kats L, David. 2007. Nutrition in Clinical Practice Second Edition

Kelly, D. F., Moxon, E. R. and Pollard, A. J. 2004. Haemophilus influenzae type B conjugate
vaccines. Immunology 2004. 113: 163174

Sarkis K. Mazmanian & Dennis L. Kasper. 2006. The lovehate relationship between bacterial
polysaccharides and the host immune system.Nature Reviews Immunology 6, 849-858
(November 2006) doi:10.1038/nri1956

Wilcox, Gisela. 2005. Insulin and Insulin Resistance. Clin Biochem Rev. 2005 May; 26(2): 19
39.

Vita Health. 2006. Seluk Beluk Suplemen Makanan. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

Wolowczuk, Isabelle. 2008. Feeding Our Immune System: Impact on Metabolism. Clinical and
Developmental Immunology Volume 2008 Article ID 639803.

Y. Fu, L. Maianu, B. R. Melbert, and W. T. Garvey. 2004. Facilitative glucose transporter gene
expression in human lymphocytes, monocytes, and macrophages: a role for GLUT isoforms 1,
3, and 5 in the immune response and foam cell formation. Blood Cells, Molecules, and
Diseases, vol. 32, no. 1, pp. 182190, 2004.

Beri Nilai