Anda di halaman 1dari 15

KAJIAN TEKNIS CRUSHING PLANT PADA UNIT

PENGOLAHAN BATUAN ANDESITE DI PT. GUNA DARMA


PUTRA, TASIKMALAYA, PROVINSI JAWA BARAT

PROPOSAL PENELITIAN TUGAS AKHIR


Diajukan untuk Penelitian Tugas Akhir Mahasiswa Pada Jurusan Teknik
Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Oleh
Sandi Kurniawan
03021181320038

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
IDENTITAS DAN PENGESAHAN USULAN PENELITIAN
TUGAS AKHIR MAHASISWA
1. Judul : Kajian Teknis Crushing Plant Pada Unit Pengolahan
Batuan Andesite di PT. Guna Darma Putra,
Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.
2. Pengusul
a. Nama : Sandi Kurniawan
b. Jenis Kelamin : Pria
c. NIM : 03021181320038
d. Semester : VIII (Delapan)
e. Fakultas/Jurusan : Teknik/Teknik Pertambangan
f. Alamat e-mail : sandykurniawan202@gmail.com
g. Contact Person : 085223164500
3. Waktu Pelaksanaan : 27 Februari 2017 27 April 2017
4. Lokasi Penelitian : PT. Guna Darma Putra, Tasikmalaya, Provinsi Jawa
Barat.

Indralaya, Februari 2017


Pengusul,

Sandi Kurniawan
NIM. 03021181320038

Menyetujui :
Ketua Jurusan Teknik Pertambangan Pembimbing Proposal,

DR.Hj. Rr. Harminuke Eko Handayani, ST., MT Ir. Taufik Arief, M.S.
NIP. 196902091997032001 NIP. 196309091989031002
A. JUDUL
Kajian Teknis Crushing Plant Pada Unit Pengolahan Batuan Andesite di PT.
Guna Darma Putra, Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat.

Universitas Sriwijaya
B. BIDANG ILMU
Teknik Pertambangan

C. LATAR BELAKANG
PT. Guna Darma Putra merupakan perusahaan tambang andesite yang
berlokasi di Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. PT. Guna Darma Putra telah
menetapkan rencana produksi tahunan dari 132.000 m3 / tahun menjadi 153.000
m3 / tahun, untuk mencapai target produksi tersebut PT.Guna Darma Putra terus
mengkaji produktivitas dari alat yang dimiliki.
Beberapa hal yang berpengaruh terhadap kegiatan produksi diantaranya
kondisi alat, efisiensi kerja dari alat mekanis, perlakuan operator terhadap alat,
dan setingan alat. Oleh karena itu dibutuhkan evaluasi terhadap faktor faktor yang
mempengaruhi kegiatan pengolahan.
Kemampuan kerja unit crusher dapat mempengaruhi hasil produksi yang
dihasilkan, tetapi tidak jarang kemampuan alat yang bekerja kurang optimal
menyebabkan tidak tercapainya target produksi yang diinginkan. Kurang
optimalnya kerja pada unit crushing plant dapat disebebkan oleh ukuran umpan
yang masuk pada unit crushing plant tersebut yang bervariasi, ataupun juga
dengan waktu efektif yang digunakan dalam proses crushing kurang. Hal ini dapat
menyebabkan alat-alat yang ada pada crushing plant bekerja sangat keras dan
mempercepat keausan pada alat tersebut. Oleh karena itu produksi yang dihasilkan
tidak memenuhi target.
Produktivitas unit crushing plant pada penelitian ini dengan
mempertimbangkan ukuran umpan yang masuk pada unit crushing plant, ataupun
waktu efektif yang digunakan dalam proses crushing guna mencapai targetan produksi
di PT. Guna Darma Putra.

D. RUMUSAN MASALAH
Adapun permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana mengoptimalkan kerja alat yang digunakan pada crushing
plant ?
2. Faktor apa saja yang berpengaruh terhadap produksi pada unit crushing
plant?

Universitas Sriwijaya
3. Bagaimana pengaruh distribusi ukuran feed terhadap kerja unit crusher?
4. Bagaimana pengaruh screening pada feed yang akan diolah pada crusher
terhadapa kerja unit crusher?

E. PEMBATASAN MASALAH

Ruang lingkup permasalahan pada penelitian ini dibatasi pada produktivitas


kerja alat jaw crusher Shanbao PE 600x900 untuk mencapai target produksi yang
telah di tentukan oleh perusahaan.

F. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Menganalisis pengaruh distribusi ukuran feed terhadap kerja unit Crushing
Plant.
2. Menganalisis pengaruh screening pada feed terhadap kerja unit Crushing
Plant.
3. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi pada unit
crushing plant di PT. Guna Darma Putra.
4. Mengoptimalkan kerja unit Crushing Plant untuk mencapai target
produksi yang dibutuhkan.

G. MANFAAT PENELITIAN
Manfaat dalam penelitian ini adalah :
1. Dengan melakukan penelitian tersebut dapat diperoleh bahan kajian untuk
diaplikasikan oleh perusahaan.
2. Dengan memberikan alternatif solusi berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan, diharapkan target produksi yang diinginkan dapat tercapai.
3. Dengan melakukan penelitian tersebut dapat mengoptimalkan kerja alat
crusher.

H. TINJAUAN PUSTAKA

Universitas Sriwijaya
Setiap proses pengolahan bahan galian industri sudah pasti melakukan
proses pengecilan ukuran material, ada beberapa tahapan yang dilakukan untuk
melakukan proses pengecilan ukuran material, seperti:
1. Proses Peremukan Batuan
Prinsip dari peremukan ialah memperkecil ukuran material yang ditambang
menjadi ukuran yang seragam atau lebih kecil dari pada sebelumnya. Menurut
currie (1973) proses memperkecil ukuran material pada umumnya mengalami tiga
proses , yaitu :

a. Primary Crushing
Merupakan peremukan tahap pertama, alat peremukan yang digunakan pada
tahap ini adalah Jaw Crusher dan Gyratory Crusher. Material umpan / batuan
yang digunakan biasanya berasal dari hasil penambangan dengan ukuran berkisar
1500 mm, dengan ukuran setting antara 30 mm sampai 100 mm. Ukuran terbesar
dari produk peremukan material tahap pertama biasanya kurang dari 200 mm.

b. Secondary Crushing
Merupakan peremukan tahap kedua, pada tahap peremukan ini peralatan yang
digunakan adalah Jaw Crusher ukuran kecil, Gyratory Crusher ukuran kecil,
Cone Crusher, Hammer Mill dan Rolls. Umpan yang digunakan berkisar 150 mm,
dengan ukuran antara12,5 mm sampai 25,4 mm. Produk terbesar yang dihasilkan
adalah 75 mm.

c. Fine Crushing
Merupakan peremukan tahap lanjut dari secondary crushing, alat yang
digunakan adalah Rolls, Dry Ball Mills, Disc Mills dan Ring Mills. Umpan
material yang biasanya digunakan kurang dari 25,4 mm.

Proses peremukan atau pengecilan ukuran butir batuan harus dilakukan secara
bertahap karena keterbatasan kemampuan alat untuk mereduksi batuan berukuran
besar sampai menjadi butiran butiran kecil seperti yang dikehendaki. Peremukan
material yang dimaksud untuk memperkecil ukuran material agar dapat digunakan
pada proses berikutnya, dimana proses peremukan yang dilakukan di PT. Guna
Darma Putra adalah mula mula material hasil penambangan masuk melalui

Universitas Sriwijaya
hopper yang kemudian diterima vibrating feeder sebelum masuk ke dalam mesin
peremuk lalu dilanjutkan dengan proses screening yang kemudian menghasilkan
produk, dimana produk oversize akan dikembalikan ke mesin peremuk (seperti
pada gambar 1).

Gambar 1. Sketsa crushing plant di PT. Guna Darma Putra (Sumber : PT.
Guna Darma Putra, 2014)

2. Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Peremukan


Pada proses peremukan ada beberapa faktor yang mempengaruhi terhadap
produk yang akan dihasilkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi peremukan
batuan oleh Crusher antara lain (Taggart, 1964):

a. Kuat tekan batuan


Ketahanan batuan dipengaruhi oleh kerapuhan (brittlenes) dari kandungan
mineralnya. Struktur rmineral yang sangat halus biasanya lebih tahan dari pada
batuan yang berstruktur kasar.

b. Ukuran material umpan

Universitas Sriwijaya
Ukuran material umpan untuk mencapai produk yang baik pada peremukan
adalah kurang dari 85 % dari ukuran bukaan dari alat peremuk.

c. Reduction Ratio
Nisbah reduksi (Reduction ratio) sangat menentukan keberhasilan suatu
peremukan, karena besar kecilnya nilai reduction ratio ditentukan oleh
kemampuan alat peremuk untuk mengecilkan ukuran material yang akan diremuk.
Untuk itu harus dilakukan pengamatan terhadap tebal material umpan maupun
tebal material produk. Reduction ratio adalah perbandingan ukuran terbesar
umpan dengan ukuran terbesar produk. Pada primary crushing besarnya reduction
ratio adalah 4 7 dan pada secondary crushing besarnya reduction ratio adalah 7
20 (Currie,1973). Besarnya reduction ratio merupakan batasan agar kerja alat
efektif.

RL = ...........................(1)

dimana :

RL = limiting reduction ratio

tF = tebal umpan (cm)

tP = tebal produk (cm)

wF = lebar umpan (cm)

wP = lebar produk (cm)

d. Arah resultan gaya


Untuk terjadinya suatu peremukan, maka arah resultan gaya terakhir haruslah
mengarah ke bawah. Jika arah resultan gaya terakhir mengarah ke atas berarti
peremukan tidak terjadi melainkan material hanya akan meloncat-loncat ke atas.

e. Energi peremukan
Energi yang dibutuhkan alat peremuk tergantung dari beberapa faktor antara
lain ukuran umpan, ukuran produk, kapasitas mesin peremuk, bentuk material,
persentase dari waktu berhenti alat peremuk pada suatu proses peremukan.

Universitas Sriwijaya
Besarnya energi yang dibutuhkan untuk meremuk berkisar antara 0,3 1,5
Kwh/ton.

f. Kapasitas
Kapasitas alat peremuk dipengaruhi oleh jumlah umpan yang masuk setiap
jam, berat jenis umpan dan besar setting dari alat peremuk.

3. Gaya-gaya pada Alat Peremuk


Pada proses peremukan ini material akan direduksi sesuai yang ditetapkan,
gaya gaya yang mengakibatkan material remuk antara lain (Currie, 1973) :
a. Gaya tekan (compression )
Gaya tekan dari alat peremuk harus lebih besar dari kekuatan material, gaya
tekan bisa berasal dari satu permukaan ataupun dua permukaan. Alat peremuk
yang meremukkan material adalah jaw crusher, gyratory crusher, dan roll
crusher.

b. Gaya Pukul (Impact )


Pukulan dikenakan pada material dimana semakin cepat pukulan maka
material yang terpukul akan semakin mudah untuk pecah. Alat pukul yang
menggunakan gaya pukul untuk meremukkan material adalah hammermill dan
Impactcrusher.

c. Gaya gesek (Attrition atau Abrasion )


Gesekan akan mengakibatkan material remuk, gesekan bisa terjadi antara
media yang digunakan untuk meremuk atau dari sesama material yang akan
diremuk. Alat peremuk yang menggunakan gaya ini adalah ballmill.

4. Peralatan Pada Unit Peremukan


Dalam proses peremukkan, suatu unit alat peremuk terdiri dari bagian
bagian yang bertujuan untuk menyalurkan dan mengatur batuan ke proses
peremukkan. Bagian- bagian tersebut di antaranya, yakni:
a. Hopper
Hopper merupakan salah satu alat bantu dari unit peremuk yang berfungsi
sebagai tempat penampungan sementara dari material umpan batuan (Harahap,
2014), selanjutnya material tersebut diumpankan ke alat peremuk oleh alat
pengumpan feeder. Hopper ini terbuat dari beton yang dilapisi oleh lembaran baja
pada dinding-dindingnya dengan tujuan agar terhindar dari keausan akibat
gesekan dan benturan dinding dengan material. Kapasitas hopper dapat dihitung

Universitas Sriwijaya
dengan rumus berdasarkan volume trapesium yang terpancung (Yalsriman
Langgu, 2012), yaitu :

Setelah volume hopper diketahui, maka kapasitas hopper dapat dicari dengan
rumus di bawah ini :

K = Vh Bi............................. (3)

Di mana :

K = Kapasitas hopper (ton)

Vh = Volume hopper (m3)

Bi = Bobot isi material berai (ton/m3)

b. Pengumpan (Feeder)
Feeder adalah alat pengumpan material dari hopper ke unit peremuk dengan
kecepatan konstan (Harahap, 2014). Penggunaan alat pengumpan bertujuan agar
proses pengumpanan dari hopper menuju ke alat peremuk dapat berlangsung
dengan laju yang konstan, tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil, sehingga
dapat mencegah terjadinya penumpukan batu andesite atau tidak ada umpan di
dalam hopper ataupun pada alat peremuk.

Menurut Niko Rahmat (2014:Hlm 20) Kapasitas teoritis pengumpan (feeder)


dapat dihitung dengan menggunakan persamaan CEMA (Conveyor Equipment
Manufactures Association), Belt Conveyor For Bulk Materials, second edition
1979 ) sebagai berikut :

Q = V x T x L x d x 60 ............................. (4)

Dimana :

Q = Kapasitas feeder, ton/jam

Universitas Sriwijaya
V = Kecepatan angkut feeder, m/menit

T = Tinggi tumpukan material di atas feeder, m

L = Lebar feeder, m

d = Densitas lepas material, ton/m3

5. Kondisi Penggunaan Peralatan


Ada beberapa pengertian yang dapat menunjukkan keadaan peralataan
sesungguhnya dan efektifitas pengoperasiannya (Partanto Prodjosumarto, 1996),
antara lain :

a. Mechanical Availability (MA)


Mechanical Availability adalah suatu cara untuk mengetahui kondisi peralatan
yang sesungguhnya dari alat yang dipergunakan. Persamaannya adalah (Peurifoy,
1988).:

MA = ............................(5)

dimana :

W = Jumlah jam kerja, yaitu waktu yang dibebankan kepada suatu alat yang
dalam kondisi yang dapat dioperasikan, artinya tidak rusak. Waktu ini
meliputi pula tiap hambatan (delay time) yang ada.

R = Jumlah jam untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena menunggu
saat perbaikan termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang
serta waktu untuk perawatan prefentif.

b. Physical Availability (PA)


Physical Availability adalah catatan ketersediaan mengenai keadaan fisik dari
alat yang sedang dipergunakan. Persamaannyaa dalah (Peurifoy, 1988).:

PA = ...........................(6)

Universitas Sriwijaya
dimana :

S = Jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan, akan tetapi alat
tersebut tidak dalam keadaan rusak dan siap untuk dioperasikan.

c. Use of Availability (UA)


Angka Use of Availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa efektif
suatu alat yang sedang tidak rusak untuk dapat dimanfaatkan, hal ini dapat
dijadikan suatu ukuran seberapa baik pengelolaan pemakaian peralatan.
Persamaannya adalah (Peurifoy, 1988).:

UA = ...........................(7)

d. Effective Utilization (EU)


Effective Utilization merupakan cara untuk menunjukkan berapa persen dari
seluruh waktu kerja yang tersedia yang dapat dimanfaatkan untuk kerja produktif.
Persamaannya adalah (Peurifoy, 1988).:

EUt = ......................(8)

6. Efisiensi dan Efektifitas Rangkaian Alat Peremuk

1) Efisiensi
Efisiensi ayakan getar merupakan perbandingan antara material yang lolos
lubang ayakan dengan material yang seharusnya lolos. Secara umum efisiensi
ayakan tergantung pada lamanya umpan berada di atas ayakan, jumlah lubang
bukaan yang terbuka, tebal lapisan umpan perimbangan ukuran material pada
umpan (Peurifoy, 1988).
Adapun faktor faktor yang mempengaruhi effisiensi ayakan getar :
a. Persen (%) lubang ayakan yang terbuka
Bila persen (%) lubang ayakan yang terbuka kecil karena tertutup oleh
material yang mempunyai ukuran sama dengan ukuran lubangbukaan
maka effisiensi ayakan akan turun.
b. Kandungan air

Universitas Sriwijaya
Material-material halus dengan basah akan menimbulkan sifat lengket
sehingga akan mengurangi effisiensi dari pada ayakan, karena material
lengket akan menutupi lubang bukaan ayakan.
c. Ukuran Partikel
Partikel yang jauh lebih kecil dari lubang bukaan akan lebih mudah lolos
dibandingkan dengan partikel yang berukuran sama dengan lubang
bukaan.
2) Perhitungan Effisiensi Screen
Banyaknya material yang lolos pada ukuran screen tertentu yang biasanya
dinyatakan dalam persen (%) (Peurifoy, 1988)..

Material Yang Lolos


Eff= Material Yang Seharusnya Lolos x 100% ........ (9)

3) Efektifitas
Efektifitas rangkaian alat peremuk merupakan perbandingan antara kapasitas
nyata alat dengan kapasitas teoritis yang didapat dari hasil perhitungan.

Perhitungan Efektifitas Alat Peremuk (Peurifoy, 1988).:

Kapasitas Nyata
E = Kapasitas Teoritis x 100% ............... (10)

I. METODE PENELITIAN
Metodologi penelitian yang digunakan dalam menyelesaikan permasalahan
yang ada, penulis menggabungkan antara teori dengan data-data di lapangan,
sehingga dari keduanya akan didapatkan penyelesaian masalah. Adapun urutan
pekerjaan penelitian yaitu :
1. Studi Literatur
Dilakukan dengan mencari bahan-bahan pustaka yang menunjang yang
diperoleh dari :
a. Instansi yang terkait

Universitas Sriwijaya
b. Perpustakaan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya
c. Jurnal-jurnal ilmiah
2. Penelitian di Lapangan
Dalam pelaksanaan penelitian di lapangan ini akan dilakukan beberapa
tahap, yaitu :
a. Orientasi lapangan dengan melakukan penelitian dengan lingkup kajian
sistem/metode dan rencana produksi, serta peralatan (jenis, jumlah dan
kapasitas).
b. Pengambilan data
Pengambilan data yang dilakukan berupa data primer dan data sekunder.
Adapun data-data yang diperlukan adalah sebagai berikut :
1) Data Primer
Data primer merupakan data yang diukur langsung di lapangan yang masih
berbentuk data mentah, meliputi :
a). Data jumlah umpan yang masuk dan distribusi ukuran feed pada alat
peremukan
b). Data jumlah produk yang dihasilkan pada alat peremukan
c). Data Sifat bahan yang akan dilakukan peremukan
d). Data Produk yang dihasilkan telah mencapai target atau tidak ?
2) Data Sekunder
Data penunjang yang berasal dari literatur (kepustakaan) dan data
perusahaan yang menunjang dalam penelitian meliputi:
a). Data produksi alat peremuk per bulan
b). Data Spesifikasi alat dan kapasitas alat yang digunakan
c. Pengolahan Data
Dilakukan dengan melakukan beberapa perhitungan, selanjutnya disajikan
dalam bentuk tabel, grafik, atau rangkaian perhitungan pada penyelesaian
dalam suatu proses tertentu.

J. JADWAL PELAKSANAAN
Rencana pelaksanaan kerja tugas akhir ini dimulai tanggal 27 Februari
2017 sampai dengan 27 April 2017, dengan jadwal pelaksanaan yang telah dibuat
sebaik-baiknya.

Waktu Pelaksanaan
No Kegiatan Minggu Ke -
1 2 3 4 5 6 7 8

Universitas Sriwijaya
Orientasi
1.
Lapangan
Pengumpulan
2.
Referensi dan Data
Konsultasi dan
3.
Bimbingan
4. Pengolahan Data
Penyusunan dan
5. Pengumpulan
Draft Laporan

K. PENUTUP
Demikian proposal permohonan Kerja Praktek yang kami rencanakan akan
dilakukan di PT. Guna Darma Putra. Besar harapan kami untuk dapat melakukan
Tugas Akhir dan mendapat sambutan yang baik dari pihak perusahaan. Melihat
keterbatasan dan kekurangan yang kami miliki, maka kami sangat mengharapkan
bantuan dan dukungan baik moril maupun materil dari pihak perusahaan untuk
Tugas Akhir ini.
Bantuan yang sangat kami harapkan dalam pelaksaan Tugas Akhir ini
adalah:
1. Adanya bimbingan selama melaksanakan Tugas Akhir.
2. Kemudahan dalam mengadakan penelitian (akomodasi) ataupun
pengambilan data-data yang diperlukan selama melaksanakan Tugas Akhir.
Semoga hubungan baik antara pihak industri pertambangan dengan pihak
institusi pendidikan pertambangan di Indonesia tetap berlangsung secara harmonis
demi kemajuan dunia pendidikan dan perkembangan industri pertambangan
Indonesia. Atas perhatian dan bantuan yang diberikan, kami ucapkan terimakasih.

L. DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Arsip Data PT. Guna Darma Putra, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Currie, J. M. 1973. Unit Operation Mineral Procesing, Departement of Chemical


and Metallurgical Technology Burnaby, British Colombia.

Universitas Sriwijaya
Gaudin, AM, Principles of Mineral Dressing, Mc. Graw Hill Book Company Inc,
New York, 1939.

Harahap, A.I, Iskandar, H, Arief, T. 2014. Kajian Kominusi Limestone Pada Area
Penambangan PT. Semen Padang (Persero) Tbk. Bukit Karang Putih
Indarung Sumatera Barat. Jurnal Ilmu Teknik Universitas Sriwijaya,
Volume 2. No. 2.

Suhala, S, M. Arifin. 1997. Bahan Galian Industri, Pusat Penelitian dan


Pengembangan Teknologi Mineral, Bandung.

Taggart, A. F. 1953. Handbook Of Mineral Dressing, John Willey and Son, Inc,
New York, London and Sidney.

Lodhi, G. 2013. Operation And Maintenance Of Crusher House For Handling In


Thermal Power Plant. International Journal Of Mechanical Engineering And
Robotics Research, Volume 2 No. 4.

Nasrudin, dudi, P. Linda, dan Normansyah. 2015. Optimalisasi Alat Crushing Plant
Untuk Memenuhi Target Produksi Andesite di PT. Ansar Terang Crushindo,
Kecamatan Pangkalan Kota Baru, Kabupaten Lima Puluh Kota Provinsi
Sumatera Barat . Jurnal Ilmu Teknik Pertambangan Universitas Islam Bandung,
volume 2 No. 2.

Universitas Sriwijaya