Anda di halaman 1dari 11

A.

Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Keselamatan dan kesehatan kerja difilosofikan sebagai suatu pemikiran
dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmani maupun
rohani tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya
dan budayanya menuju masyarakat makmur dan sejahtera. Sedangkan
pengertian secara keilmuan adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya
dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat
kerja.Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) tidak dapat dipisahkan dengan
proses produksi baik jasa maupun industri. Perkembangan pembangunan setelah
Indonesia merdeka menimbulkan konsekwensi meningkatkan intensitas kerja
yang mengakibatkan pula meningkatnya resiko kecelakaan di lingkungan kerja.

Hal tersebut juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan yang lebih tinggi


dalam mencegah terjadinya kecelakaan yang beraneka ragam bentuk maupun
jenis kecelakaannya. Sejalan dengan itu, perkembangan pembangunan yang
dilaksanakan tersebut maka disusunlah UU No.14 tahun 1969 tentang pokok-
pokok mengenai tenaga kerja yang selanjutnya mengalami perubahan menjadi
UU No.12 tahun 2003 tentang ketenaga kerjaan.Dalam pasal 86 UU No.13 tahun
2003, dinyatakan bahwa setiap pekerja atau buruh mempunyai hak untuk
memperoleh perlindungan atas keselamatan dan kesehatan kerja, moral dan
kesusilaan dan perlakuan yang sesuai dengan harkat dan martabat serta nilai-
nilai agama. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut, maka dikeluarkanlah
peraturan perundangan-undangan di bidang keselamatan dan kesehatan kerja
sebagai pengganti peraturan sebelumnya yaitu Veiligheids Reglement, STBl
No.406 tahun 1910 yang dinilai sudah tidak memadai menghadapi kemajuan dan
perkembangan yang ada.Peraturan tersebut adalah Undang-undang No.1 tahun
1970 tentang keselamatan kerja yang ruang lingkupnya meliputi segala
lingkungan kerja, baik di darat, didalam tanah, permukaan air, di dalam air
maupun udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik
Indonesia. Undang-undang tersebut juga mengatur syarat-syarat keselamatan
kerja dimulai dari perencanaan, pembuatan, pengangkutan, peredaran,
perdagangan, pemasangan, pemakaian, penggunaan, pemeliharaan dan
penyimpanan bahan, barang produk tekhnis dan aparat produksi yang
mengandung dan dapat menimbulkan bahaya kecelakaan.

Walaupun sudah banyak peraturan yang diterbitkan, namun pada pelaksaannya


masih banyak kekurangan dan kelemahannya karena terbatasnya personil
pengawasan, sumber daya manusia K3 serta sarana yang ada. Oleh karena itu,
masih diperlukan upaya untuk memberdayakan lembaga-lembaga K3 yang ada
di masyarakat, meningkatkan sosialisasi dan kerjasama dengan mitra sosial guna
membantu pelaksanaan pengawasan norma K3 agar terjalan dengan baik.

B. Sebab-sebab Kecelakaan
Kecelakaan tidak terjadi begitu saja, kecelakaan terjadi karena tindakan
yang salah atau kondisi yang tidak aman. Kelalaian sebagai sebab kecelakaan
merupakan nilai tersendiri dari teknik keselamatan. Ada pepatah yang
mengungkapkan tindakan yang lalai seperti kegagalan dalam melihat atau
berjalan mencapai suatu yang jauh diatas sebuah tangga. Hal tersebut
menunjukkan cara yang lebih baik selamat untuk menghilangkan kondisi
kelalaian dan memperbaiki kesadaran mengenai keselamatan setiap karyawan
pabrik.

Penyebab dasar kecelakaan kerja :

1. Faktor Personil

- Kelemahan Pengetahuan dan Skill

- Kurang Motivasi,

- Problem Fisik

- Faktor Pekerjaan :

- Standar kerja tidak cukup Memadai

- Pemeliharaan tidak memadai

- Pemakaian alat tidak benar

- Kontrol pembelian tidak ketat

Penyebab Langsung kecelakaan kerja

1. Tindakan Tidak Aman

- Mengoperasikan alat bukan wewenangnya

- Mengoperasikan alat dg kecepatan tinggi

- Posisi kerja yang salah

- Perbaikan alat, pada saat alat beroperasi

- Kondisi Tidak Aman:

- Tidak cukup pengaman alat

- Tidak cukup tanda peringatan bahaya

- Kebisingan/debu/gas di atas NAB

- Housekeeping tidak baik

Penyebab Kecelakaan Kerja (Heinrich Mathematical Ratio) dibagi atas 3 bagian


Berdasarkan Prosentasenya:

1. Tindakan tidak aman oleh pekerja (88%)

2. Kondisi tidak aman dalam areal kerja (10%)

3. Diluar kemampuan manusia (2%)

C. Masalah Kesehatan Dan Keselamatan Kerja


Kinerja (performen) setiap petugas kesehatan dan non kesehatan
merupakan resultante dari tiga komponen kesehatan kerja yaitu kapasitas kerja,
beban kerja dan lingkungan kerja yang dapat merupakan beban tambahan pada
pekerja. Bila ketiga komponen tersebut serasi maka bisa dicapai suatu derajat
kesehatan kerja yang optimal dan peningkatan produktivitas. Sebaliknya bila
terdapat ketidak serasian dapat menimbulkan masalah kesehatan kerja berupa
penyakit ataupun kecelakaan akibat kerja yang pada akhirnya akan menurunkan
produktivitas kerja

Kapasitas Kerja

Status kesehatan masyarakat pekerja di Indonesia pada umumnya belum


memuaskan. Dari beberapa hasil penelitian didapat gambaran bahwa 30-40%
masyarakat pekerja kurang kalori protein, 30% menderita anemia gizi dan 35%
kekurangan zat besi tanpa anemia. Kondisi kesehatan seperti ini tidak
memungkinkan bagi para pekerja untuk bekerja dengan produktivitas yang
optimal. Hal ini diperberat lagi dengan kenyataan bahwa angkatan kerja yang
ada sebagian besar masih di isi oleh petugas kesehatan dan non kesehatan yang
mempunyai banyak keterbatasan, sehingga untuk dalam melakukan tugasnya
mungkin sering mendapat kendala terutama menyangkut masalah PAHK dan
kecelakaan kerja.

Beban Kerja

Sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan maupun yang bersifat teknis


beroperasi 8 24 jam sehari, dengan demikian kegiatan pelayanan kesehatan
pada laboratorium menuntut adanya pola kerja bergilirdan tugas/jaga malam.
Pola kerja yang berubah-ubah dapat menyebabkan kelelahan yang meningkat,
akibat terjadinya perubahan pada bioritmik (irama tubuh). Faktor lain yang turut
memperberat beban kerja antara lain tingkat gaji dan jaminan sosial bagi pekerja
yang masih relatif rendah, yang berdampak pekerja terpaksa melakukan kerja
tambahan secara berlebihan. Beban psikis ini dalam jangka waktu lama dapat
menimbulkan stres.

Lingkungan Kerja

Lingkungan kerja bila tidak memenuhi persyaratan dapat mempengaruhi


kesehatan kerja dapat menimbulkan Kecelakaan Kerja (Occupational Accident),
Penyakit Akibat Kerja dan Penyakit Akibat Hubungan Kerja (Occupational Disease
& Work Related Diseases).

D. Peralatan Safety
Menyikapi hal tersebut diatas, maka perusahaan-perusahaan di bidang
Pertambangan/Perminyakan berusaha menjaga keselamatan para pekerjanya
beserta segala asset yang ada, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Salah satu caranya dengan melengkapi para pekerjanya dengan beberapa alat
keselamatan yang memadai. Di Perusahaan tambang, alat keselamatan kerja ini
biasanya dikenal dengan sebutan APD (Alat Pelindung Diri).APD di perusahaan
pertambangan merupakan kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja. APD
dipakai sesuai dengan tingkat bahaya dan risiko pekerjaaan, demi menjaga
keselamatan pekerja dan orang di sekelilingnya. Kewajiban itu sudah disepakati
oleh pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja RI. Semua jenis APD harus
digunakan sebagaimana mestinya berdasarkan pedoman yang benar-benar
sesuai dengan standar keselamatan kerja (K3L 'Kesehatan, Keselamatan Kerja
dan Lingkungan'). Alat-alat keselamatan kerja (APD) yang sering dipakai di
sebuah perusahaan pertambangan dan migas adalah seperti dibawah ini
(bentuknya lihat gambar, sesuaikan dengan nomor pada penjelasannya).

1. Safety Helmet (Helm Pengaman) ; Fungsi helm pengaman yang paling utama
adalah untuk melindungi kepala dari jatuhan dan benturan benda secara
langsung. Perlengkapan keselamatan ini merupakan perlengkapan yang cukup
vital bagi para pekerja didunia Pertambangan dan Perminyakan. Safety Helmet
sangat menolong pekerja karena sifatnya yang melindungi kepala dari bahaya
terbentur benda keras seperti pipa besi ataupun batu yang jatuh selama para
pekerja berada diarea kerja. Safety Helmet memiliki berbagai desain yang
memiliki bentuk berbeda sesuai dengan fungsinya masing-masing. Selain itu,
warna helmet yang digunakan menunjukkan jenis pekerjaannya.

2. Safety Shoes (Sepatu Pengaman) ; Safety Shoes bentuknya seperti sepatu


biasa, tetapi terbuat dari bahan kulit yang dilapisi metal dengan sol dari karet
tebal dan kuat. Safety Shoes berfungsi untuk mencegah kecelakaan fatal yang
menimpa kaki seperti
tertimpa
benda
tajam atau
benda
berat,
benda
panas,
cairan
kimia, dsb.

3. Safety Goggles/Glasses (Kacamata Pengaman) ; Kacamata pengaman ini


berbeda dari kacamata pada umumnya. Perbedaanya terletak pada lensa/kaca
yang menutupi mata secara menyeluruh, termasuk bagian samping yang tidak
terlindungi oleh kacamata biasa. Dengan menggunakan safety Goggles/Glasses
ini, pekerja terhindar dari terpaan debu diarea Pertambangan ataupun cipratan
dari minyak saat proses drilling. Kacamata ini memiliki bermacam jenis
tergantung keperluan dan jenis pekerjaannya. Untuk orang berkacamata minus
atau plus, disediakan lensa khusus sesuai dengan kebutuhan yang
bersangkutan. Yang pasti, lensa ini tidak boleh terbuat dari kaca, karena jika
terjadi benturan dan lensa pecah, serpihan kaca malah akan membahayakan
penggunanya.

4. Safety Masker/masker respirator (Penyaring Udara) ; Safety Masker berfungsi


sebagai penyaring udara yang dihirup saat bekerja di tempat dengan kualitas
udara buruk (misal berdebu, beracun, dsb). Di berbagai area kilang banyak
bertaburan debu, yang dapat mengakibatkan gangguan kesehatan pada
pernafasan dalam jangka waktu yang panjang. Ada berbagai jenis masker yang
tersedia, mulai dari masker debu hingga masker khusus dalam menghadapi
bahan kimia yang mudah menguap.
5. Safety Gloves (Sarung Tangan Pengaman) ;
Berfungsi sebagai alat pelindung tangan pada saat
bekerja di tempat atau situasi yang dapat
mengakibatkan cedera tangan. Penggunaan Safety
Gloves menjadi hal yang wajib digunakan didunia
pertambangan. Hal ini dikarenakan para pekerja
banyak berinteraksi (menyentuh) benda2 yang panas,
tajam, ataupun yang beresiko terluka tergores saat
melakukan pekerjaannya. Penggunaan safety gloves
pun beragam sesuai dengan jenis pekerjaannya. Ada
safety gloves khusus pekerjaan seperti
mekanik/montir, ada yang khusus untuk pekerjaan yang berhubungan
dengan bahan kimia, ataupun pekerjaan seperti pengelasan.

6. Ear Plugs (Pengaman Telinga) ; Ear Plugs berfungsi sebagai alat


pelindung yang dilekatkan di telinga pada saat bekerja di tempat
yang bising. Ear plugs merupakan alat pelindung pendengaran
dari kebisingan. Penggunaan earplug ini mencegah pekerja
mengalami gangguan pendengaran seperti penurunan
pendengaran akibat terpapar kebisingan sewaktu bekerja di area
kerja yang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi atau bekerja
dengan peralatan yang mengeluarkan kebisingan tinggi.
Umumnya alat pendengaran kita hanya mampu menahan
besaran kebisingan sampai dengan 80-85 dB. Ear plugs pun
memiliki berbagai ragam bentuk dan jenis sesuai dengan
peruntukkannya dalam pekerjaan

7. Wearpack(baju pelindung); merupakan alat


pelindung diri yang berfungsi sebagai pelindung tubuh
dari bahan kimia maupun benda-benda yang dapat
merusak/melukai tubuh kita.

8. Safety Harness (Tali Pengaman) ;


Alat ini berfungsi sebagai pengaman
saat bekerja di ketinggian. Alat ini
wajib digunakan apabila bekerja pada
ketinggian lebih dari 1,8
meter.

9. Lifevest (Pelampung) ; Alat ini wajib digunakan saat kita


beraktivitas di wilayah perairan/di atas air. Biasanya untuk
menjangkau suatu lokasi tambang harus melewati perairan dengan
menggunakan alat transportasi. Alat ini harus selalu dikenakan
untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama
perjalanan (alat transportasinya karam/terbalik). Lifevest harus
selalu rutin di periksa untuk mengecek daya ambang atau daya
apungnya.

Industri yang bergerak dalam bidang minyak dan gas bumi memiliki resiko
tinggi di sektor hulu, yaitu pada kegiatan pengelolaan dan pengeboran. Selain itu
pada sektor hilir yaitu pada kegiatan pengolahan dan distribusi juga memiliki
resiko yang hampir sama dengan sektor hulu. Resiko ini meliputi aspek finansial,
kecelakaan, kebakaran, ledakan maupun penyakit akibat kerja dan dampak
lingkungan. Melihat keadaan tersebut diperlukan suatu manajemen yang
berorientasi pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada industri
perminyakan.

Perkembangan ilmu manajemen yang mempengaruhi Keselamatan dan


Kesehatan Kerja telah berhasil menurunkan angka kecelakaan dan penyakit
akibat kerja pada berbagai industri di dunia. Selain bidang Keselamatan dan
Kesehatan Lingkungan, juga diperlukan aspek Lindung Lingkungan (LL). K3 dan
LL merupakan aspek organisasi bisnis yang tidak hanya memerlukan
pengetahuan mendalam akan latar belakang maupun tata cara pelaksanaannya,
tetapi juga bagaimana perusahaan menaati peraturan yangberkaitan dengan K3
dan LL. Pemahaman K3 dan LL ini berawal dari pengetahuan (knowledge), sikap
(attitude) dan prilaku (behaviour).

Perkembangan bidang keselamatan dan kesehatan lingkungan mengikuti upaya


pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pembangunan yang berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan adalah upaya sadar dan terencana yang
memadukan lingkungan hidup termasuk sumber daya ke dalam proses
pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan dan mutu hidup
generasi masa kini dan generasi masa depan. Untuk menunjang pembangunan
berkelanjutan yang berwawasan lingkungan ini diperlukan suatu sistem politik
yang menjamin partisipasi aktif masyarakat dalam pengambilan keputusan,
sistem ekonomi yang mampu menghasilkan surplus dan berdasarkan
kemampuan sendiri yang berlanjut, sistem sosial yang memberikan penyelesaian
terhadap ketegangan akibat pembangunan yang tidak selaras, sistem produksi
yang menghormati kewajiban untuk melestarikan ekologi, sistem teknologi yang
dapat menemukan jawaban terhadap permasalahan lingkungan yang ada secara
terus menerus.

Dibawah ini beberapa istilah yang berkaitan dengan keselamatan dan kesehatan
lingkungan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup termasuk manusia dan prilakunya yang
mempengaruhi kelangsungan prikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup lainnya.

2. Ekosistem adalah tatanan unsure lingkungan hidup yang merupakan kesatuan


utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan,
stabilitas dan produktivitas lingkungan hidup. 3. Daya dukung lingkungan hidup
adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung prikehidupan manusia
dan makhluk hidup lain.

4. Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup,
zat, energi atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsure pencemar
yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai
unsure lingkungan hidup.

5. Pencemaran lingkungan adalah masuk atau dimasukannya makhluk hidup,


zat, energi dan/atau komponen lain dalam lingkungan hidup oelh kegiatan
manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang
menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan
peruntukannya.
6. Keselamatan dan kesehatan kerja adalah segala daya upaya atau pemikiran
yang ditujukan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga budayanya, untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga
kerja menuju masyarakat adil dan makmur.

7. Kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak diduga dari semula dan tidak
dikehendaki yang mengganggu suatu proses dari aktivitas yang telah ditentukan
dari semula dan dapat mengakibatkan kerugian baik korban manusia maupun
harta benda.

8. Potensi bahaya (Hazards) adalah suatu keadaan yang memungkinkan atau


dapat menimbulkan kecelakaan / kerugian berupa cedera, penyakit, kerusakan
atau kemampuan melaksanakan fungsi yang telah ditetapkan.

9. Resiko (Risk) adalah kemungkinan terjadinya kecelakaan / kerugian pada


periode waktu tertentu atau siklus operasi tertentu.

10. Insiden adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat dan telah
mengadakan kontak dengan sumber energi melebihi nilai ambang batas badan
atau struktur.

11. Aman / selamat adalah kondisi tiada kemungkinan malapetaka (bebas dari
bahaya)

E. RESIKO PADA LINGKUNGAN KERJA


Resiko yang terjadi dalam aktivitas kerja manusia berkaitan dengan
kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja. Setiap kecelakaan tidak terjadi begitu
saja, tetapi terdapat faktor penyebabnya. Apabila faktor tersebut dapat kita
ketahui, maka kita dapat melakukan pencegahan ataupun penanggulangan
terhad kecelakaan tersebut. Penyebab utama kecelakaan adalah :

a. Kondisi tidak aman (unsafe condition) Hal ini berkaitan dengan mesin / alat
kerja seperti mesin yang rusak ataupun tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Selain itu kondisi tidak aman juga dapat berupa kondisi lingkungan kerja yang
kurang mendukung, seperti penerangan yang kurang, keadaan bising,
kebersihan maupun instalasi yang kurang baik. Kondisi tidak aman juga dapat
diakibatkan oleh metode / proses produksi yang kurang baik. Hal ini dilihat dari
sistem pengisian bahan kimia yang salah, pengangkutan beban secara manal /
menggunakan tenaga manusia.

b. Tindakan tidak aman (unsafe action) Tindakan tidak aman ini lebih berkaitan
terhadap personal pekerja, antara lain : menggunakan peralatan yang kurang
baik, sembrono dalam bekerja, tidak menggunakan alat pelindung diri maupun
menjalan sesuatu tanpa wewenang.
c. Kelemahan sistem manajemen Kelemahan sistem manajemen ini seringkali
terkait dengan sistem prosedur kerja yang tidak jelas ataupun tidak adanya
standar yang dapat menjadi acuan bagi pekerja dalam melakukan kegiatan kerja
nya.

Dari penyebab kecelakaan di atas, tentunya akan berpengaruh pula pada


lingkungan kerja dan lingkungan hidup sekitarnya. Kecelakaan kerja khususnya
di bidang industri seringkali diikuti dengan adanya kerusakan lingkungan terlebih
jika kecelakaan industri tersebut berskala besar. Bagi para pekerja sendiri
tentunya akan berakibat cedera bahkan kematian jika kecelakaan yang terjadi
sangat fatal, sedangkan bagi lingkungan hidup akan terjadi gangguan
keseimbangan ekosistem bahkan penurunan kualitas lingkungan hidup.
Penurunan kualitas lingkungan ini biasanya disebabkan oleh adanya bahan sisa
proses produksi yang masih mengandung zat kimia berbahaya. Zat kimia
berbahaya ini tidak hanya terjadi akibat dari kecelakaan industri, namun bahkan
lebih sering sebagai akibat dari sistem pengolahan limbah industri yang tidak
baik. 8 Suatu lingkungan kerja meliputi :

1. Faktor Mekanis

2. Faktor Fisik

3. Faktor Kimia

4. Faktor Biologi

5. Faktor Ergonomi

Lingkungan kerja yang kondusif mendukung terciptanya keselamatan dan


kesehatan kerja, terpelihara sumber produksi dan tercapainya produktivitas kerja
yang tinggi. Lingkungan kerja yang baik dan cara kerja yang baik disamping
faktor-faktor lain di masyarakat akan menciptakan lingkungan umum / hidup
yang terjamin secara komprehensif.

F. POTENSI BAHAYA PADA KILANG MINYAK


Secara umum bahaya yang timbul pada kilang minyak terdiri dari :

1. Jenis Pekerjaan, berhubungan dengan bahaya mekanik dan bahan kimia

2. Crude Oil, berhubungan dengan bahaya uap gas, cairan yang mudah meledak,
keracunan sulfur.

3. Cuaca, misalnya petir

Bahaya Bahan Kimia Kilang minyak menggunakan bahan bahan kimia yang
terkadang berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan manusia serta lingkungan
hidup. Penangangan bahan bahan kimia tersebut harus dilakukan dengan
serius. Untuk membantu pekerja dalam memperlakukan bahan bahan kimia
tersebut, maka diberikan suatu sistem labeling yang dapat menunjukan jenis dan
bahaya dari bahan kimia yang mereka gunakan. Label ini dapat mejelaskan sifat
bahaya dari bahan kimia yang bersangkutan. Label bahaya diberikan dalam
bentuk gambar untuk memberikan gambaran cepat sifat bahaya. Terdapat dua
label yang digunakan, yaitu menurut PBB (internasional) dan NFPA (Amerika).
Label NFPA ditunjukkan pada tabel dibawah, berupa 4 kotak yang mempunyai
ranking bahaya (0-4) ditinjau dari aspek bahaya kesehatan (biru), bahaya
kebakaran (merah) dan reaktivitas (kuning). 9 Bahan bahan kimia yang
digunakan dalam proses produksi juga harus diberikan informasi mengenai :

1. Informasi bahan singkat : Informasi singkat mengenai jenis bahan, wujud,


manfaat serta bahaya-bahaya utamanya. Dari informasi singkat dan label
bahaya, secara cepat bisa dipahami kehati-hatian dalam menangani bahan kimia
tersebut.

2. Sifat-sifat bahaya :

a. Bahaya kesehatan : Bahaya terhadap kesehatan dinyatakan dalam bahaya


jangka pendek (akut) dan jangka panjang (kronis). NAB (Nilai Ambang Batas)
diberikan dalam satuan mg/m3 atau ppm. NAB adalah konsentrasi pencemaran
dalam udara yang boleh dihirup seseorang yang bekerja selama 8 jam/hari
selama 5 hari. Beberapa data berkaitan dengan bahaya kesehatan juga
diberikan, yakni :

LD-50 (lethal doses) : dosis yang berakibat fatal terhadap 50 persen


binatang percobaan mati.

LC-50 (lethal concentration) : konsentrasi yang berakibat fatal terhadap 50


persen binatang percobaan.

IDLH (immediately dangerous to life and health) : pemaparan yang


berbahaya terhadap kehidupan dan kesehatan.

b. Bahaya kebakaran : Ini termasuk kategori bahan mudah terbakar, dapat


dibakar, tidak dapat dibakar atau membakar bahan lain. Kemudahan zat untuk
terbakar ditentukan oleh :

Titik nyala : suhu terendah dimana uap zat dapat dinyalakan.

Konsentrasi mudah terbakar : daerah konsentrasi uap gas yang dapat


dinyalakan. Konsentrasi uap zat terendah yang masih dapat dibakar disebut LFL
(low flammable limit) dan konsentrasi tertinggi yang masih dapat dinyalakan
disebut UFL (upper flammable limit). Sifat kemudahan membakar bahan lain
ditentukan oleh kekuatan oksidasinya.

Titik bakar : suhu dimana zat terbakar sendirinya.

c. Bahaya reaktivitas : Sifat bahaya akibat ketidakstabilan atau kemudahan


terurai, bereaksi dengan zat lain atau terpolimerisasi yang bersifat eksotermik
sehingga eksplosif. Atau reaktivitasnya terhadap gas lain menghasilkan gas
beracun.

3. Sifat-sifat fisika : Sifat-sifat fisika merupakan faktor-faktor yang dapat


mempengaruhi sifat bahaya suatu bahan.

4. Keselamatan dan pengamanan : Diberikan langkah-langkah keselamatan dan


pengamanan : 11

a. Penanganan dan penyimpanan : usaha keselamatan yang dilakukan apabila


bekerja dengan atau menyimpan bahan.

b. Tumpahan dan kebocoran : usaha pengamanan apabila terjadi bahan


tertumpah atau bocor.
c. Alat pelindung diri : terhadap pernafasan, muka, mata dan kulit sebagai usaha
untuk mengurangi keterpaan bahan.

d. Pertolongan pertama : karena penghirupan uap / gas, terkena mata dan kulit
atau tertelan.

e. pemadaman api : alat pemadam api ringan yang dapat dipakai untuk
memadamkan api yang belum terlalu besar dan cara penanggulangan apabila
sudah membesar.

5. Informasi lingkungan : Menjelaskan bahaya terhadap lingkungan dan


bagaimana menangani limbah atau buangan bhan kimia baik berupa padat, cair
maupun gas. Termasuk di dalamnya cara pemusnahan.

G. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN BAHAYA PADA KILANG MINYAK


a. Mengurangi faktor resiko kebakaran dari sumber, misalnya hubungan listrik.
Pencegahan ini harus dilengkapi dengan peralatan pemadam kebakaran yang
memadai.

b. Penanggulangan kedaruratan termasuk fasilitas komunikasi dan medis

c. Pengawasan kesehatan dan mempertahankan personal hygiene yang baik


disamping pemakaian Alat Pelindung Diri (APD) yang tepat, termasuk
penyediaan fasilitas pencegahan keracunan dan pengadaan pertolongan
pernafasan.

d. Mematuhi peratran K3

e. Pelatihan K3 bagi semua pekerja sesuai dengan bidang kerja dan produk
masing masing, termasuk didalamnya emergency drill.

PERSEPSI TERHADAP K3

Setiap individu cenderung untuk melihat dan memahami dunia dan lingkungan
sekitarnya sesuai dengan cara pandang individu itu sendiri. Tindakan dan reaksi
individu tersebut berdasarkan persepsinya, bukan atas dasar kenyataan obyektif.
Persepsi pekerja terhadap K3 dapat berupa persepsi positif ataupun persepsi
negatif. Persepsi positif terjadi jika pekerja merasa bahwa K3 dapat memberikan
kenyamanan, ketenangan, kesehatan dan keamanan. Sedangkan persepsi
negatif terjadi karena program K3 tidak dapat memberikan rasa nyaman,
tenteram, tenang dan aman pada pekerja. Persepsi merupakan suatu proses
untuk mengatur dan menginterpretasikan sensor informasi yang masuk kedalam
tubuh (Halonen dan Santrock, 1999) atau persepsi 14 merupakan suatu
rangkaian proses pengenalan, pengorganisasian dan pengartian stimulus yang
ada dilingkungan (Sternberg, 1999). Berdasarkan keadaan tersebut, maka
diperlukan suatu kontrol bahaya yang dapat mendefinisikan bahaya secara
objektif bagi seluruh pekerja di kilang minyak. Pengontrolan bahaya ini meliputi
kegiatan internal kilang minyak maupun kegiatan eksternal/lapangan kilang
minyak. Kontrol bahaya tersebut meliputi :

a. House keeping yang memadai

b. Penyediaan alat keselamatan dan alat pelindung diri (APD)

c. Perawatan mesin dan instalasi kilang minyak


d. Ventilasi

PENCEGAHAN KECELAKAAN

Setelah melihat proses yang terjadi pada suatu kilang minyak dan potensi
bahaya yang terjadi pada kilang minyak, maka secara keseluruhan pencegahan
kecelakaan yang diperlukan adalah :

1. Peraturan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan perencanaan industri

2. Standarisasi, baik dalam perlakuan bahan baku industri, pengadaan alat


pengamanan, maupun dari hasil limbah yang dihasilkan agar tidak mengganggu
kualitas lingkungan

3. Dilakukan pelatihan dan tindakan persuasif bagi pengusaha dan pekerja


sehingga diharapkan dapat lebih berhati hati dalam melakukan pekerjaan
terutama yang menggunakan peralatan ataupun bahan kimia yang dapat
membahayakan diri sendiri maupun lingkungan.