Anda di halaman 1dari 30

PROPOSAL MINI PROJECT

UPAYA PENINGKATAN PENGETAHUAN PASIEN


PROLANIS TENTANG PENYAKIT DIABETES
MELITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN
PEMERIKSAAN GULA DARAH DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR

Disusun oleh :
Dokter Internsip Puskesmas Kassi Kassi
Periode November 2016 - Maret 2017

Pembimbing :
dr. Linda Tanod
NIP 19571021 198701 2 002

PUSKESMAS KASSI KASSI KOTA MAKASSAR


PROGRAM DOKTER INTERNSIP
PERIODE NOVEMBER 2016 MARET 2017
MAKASSAR
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Diabetes adalah salah satu penyakit yang paling sering diderita dan penyakit
kronik yang serius di Indonesia saat ini. Setengah dari jumlah kasus Diabetes Mellitus
(DM) tidak terdiagnosa karena pada umumnya diabetes tidak disertai gejala sampai
terjadinya komplikasi. Prevalensi penyakit diabetes meningkat karena terjadi
perubahan gaya hidup, kenaikan jumlah kalori yang dimakan, kurangnya aktivitas
fisik, dan meningkatnya jumlah populasi manusia usia lanjut (Ndraha, 2014).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Indonesia (2003) diperkirakan


penduduk Indonesia yang berusia di atas 20 tahun adalah sebesar 133 juta jiwa.
Dengan prevalensi DM pada daerah urban sebesar 14,7% dan daerah rural sebesar
7,2%, maka diperkirakan pada tahun 2003 terdapat penyandang diabetes sejumlah 8,2
juta di daerah urban dan 5,5 juta di daerah rural. Selanjutnya, berdasarkan pola
pertambahan penduduk, diperkirakan pada tahun 2030 nanti akan ada 194 juta
penduduk yang berusia di atas 20 tahun dan dengan asumsi prevalensi DM pada
urban (14,7%) dan rural (7,2%) maka diperkirakan terdapat 12 juta penyandang
diabetes di daerah urban dan 8,1 juta di daerah rural (PERKENI, 2011).

Diabetes merupakan penyakit kronik yang dapat menyebabkan kerusakan


pada pembuluh darah sehingga dapat menimbulkan berbagai komplikasi baik
makrovaskular maupun mikrovaskular. Komplikasi makrovaskular meliputi penyakit
sumbatan otak (stroke) dan penyakit jantung koroner, sedangkan komplikasi
mikrovaskular meliputi kerusakan ginjal, kebutaan, gangguan saraf tepi, dan kaki
diabetes. Komplikasi ini akan memberikan dampak terhadap kualitas hidup pasien,
harapan hidup pasien dan tentunya peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar
(PERKENI, 2011).
Salah satu komplikasi DM yang merupakan penyebab utama penderita harus
dirawat dengan waktu perawatan yang lama adalah kaki diabetes. Bahkan, 70 % di
antaranya memerlukan tindakan pembedahan dan lebih dari 40 % di antaranya
berakhir dengan amputasi. Sampai saat ini, masalah kaki diabetes masih kurang
mendapat perhatian sehingga masih muncul konsep dasar yang kurang tepat pada
pengelolaan penyakit ini. Akibatnya, banyak penderita yang penyakitnya berkembang
menjadi komplikasi, harus diamputasi kakinya dan meninggal dunia karena infeksi
berat (Hastuti, 2008).

Antisipasi untuk mencegah dan menanggulangi timbulnya komplikasi pada


pederita DM harus sudah dimulai dari sekarang, salah satunya adalah dengan
memberikan penyuluhan kesehatan pada penderita DM. Penyuluhan kesehatan pada
penderita DM merupakan suatu hal yang amat penting dalam mencegah komplikasi
atau setidaknya menghambat perkembangan penyakit ke arah yang lebih berat.
Penyuluhan tersebut dapat meliputi beberapa hal, antara lain tentang DM,
pengetahuan mengenai pengaturan diet, latihan fisik atau senam kaki, minum obat
dan juga pengetahuan tentang komplikasi, pencegahan maupun perawatanny. Dalam
hal ini diperlukan kerjasama yang baik antara penderita DM dan keluarganya dengan
para pengelola/ penyuluh yang dapat terdiri dari dokter, perawat, ahli gizi, dan tenaga
lain. Oleh karena itu pada program mini project ini, kami akan melakukan
penyuluhan kesehatan terhadap pasien diabetes melalui program Pojok Gizi (POZI)
dan Perawatan Kaki Diabetes (PAKIDES) sebagai upaya peningkatan perilaku hidup
sehat pada pasien DM.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang muncul adalah sebagai berikut
:
Bagaimanakah tingkat pengetahuan dan perilaku pasien DM di wilayah kerja
Puskesmas Kassi Kassi terhadap penyakit DM?
Apakah dengan program Penyuluhan tentang DM dapat meningkatkan
pengetahuan dan perilaku sehat pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Kassi
Kassi?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan perilaku pasien DM di wilayah
kerja Puskesmas Kassi Kassi mengenai penyakit DM
Untuk mengetahui apakah dengan program penyuluhan tentang DM dapat
meningkatkan pengetahuan dan perilaku sehat pasien DM di wilayah kerja
Puskesmas Kassi Kassi

1.4 Manfaat
Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu upaya untuk
meningkatkan pengetahuan dan perilaku sehat pasien DM di wilayah kerja
Puskesmas Kassi Kassi. Sebagai upaya pencegahan komplikasi pada pasien DM
sehingga meningkatkan kualitas dan harapan hidup pasien DM di wilayah kerja
Puskesmas Kassi Kassi. Program ini diharapkan dapat menjadi masukan untuk
program selanjutnya, khususnya dalam rangka peningkatan pengetahuan dan
perilaku sehat pasien DM.
BAB 2
PROFIL PUSKESMAS KASSI KASSI

Gambaran Umum
A. Sejarah
Puskemas Kassi Kassi merupakan salah satu Puskesmas Pemerintah Kota
Makassar dan merupakan unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota Makassar.
Puskesmas Kassi Kassi berdiri sejak tahun 1978/1979 merupakan puskesmas
perawatan ke-VI (Rumah Sakit Pembantu VI) di Makassar. Puskesmas Kassi Kassi I
RSP-VI terletak di jalan Tamalate I no. 43 Kelurahan Kassi Kassi Kecamatan
Rappocini Kota Makassar.
Adapun letak atau batas-batas wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi sebagai
berikut:
> Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Ballaparang Rappocini
> Sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Panaikang Tamangapa
> Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Mangasa Jongaya
> Sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Maricaya Parangtambung

B. Keadaan Geografi
Puskesmas Kassi Kassi terletak di Kelurahan Kassi Kassi Kecamatan Rappocini
Kota Makassar dengan luas wilayah kerja 5,2 KHa. Dari 6 kelurahan terdapat 58
RW dan 361 RT. Pemanfaatan potensi lahan dan alih fungsi lahan terjadi sedemikian
rupa, yang akan membawa pengaruh terhadap kondisi dan perkembangan sosial
ekonomi dan keamanan masyarakat. Lahan yang berbentuk rawa-rawa di beberapa
bagian di kecamatan Rappocini beralih fungsi menjadi pemukiman sementara atau

darurat. Alih fungsi lahan juga banyak terjadi pada sektor pemukiman dan perumahan
yang menjamur beberapa tahun terakhir sebagai akibat peningkatan jumlah penduduk
yang sangat pesat. Hal ini dikarenakan tingginya urbanisasi yang akan membawa
pengaruh pada pola perilaku, sanitasi kesehatan, status gizi, pola dan jenis penyakit
serta kondisi lingkungan pemukiman yang sebagian besar daerahnya dilanda banjir
pada musim hujan. Luas wilayah kerja Puskesmas Kassi-Kassi seluruhnya dapat

dilihat pada tabel berikut :

C. Keadaan Penduduk
Kependudukan merupakan permasalahan kompleks yang di hadapi dewasa ini,
bukan hanya menyangkut jumlah penduduk tapi juga laju pertumbuhan penduduk,
kepadatan penduduk serta arus urbanisasi dengan segala dampak sosial, ekonomi dan
keamanan.

1. Pertumbuhan penduduk l jumlah penduduk dalam upaya menahan laju


pertumbuhan penduduk dilaksanakan melalui pengendalian tingkat kelahiran dan
penurunan angka kematian (bayi, anak balita dan ibu), dimana pertumbuhan yang
tinggi akan menambah beban pembangunan. Jumlah penduduk di wilayah kerja
Puskesmas Kassi-Kassi pada tahun 2015 disajikan pada tabel berikut:

Jumlah Penduduk terpadat ditemukan pada kelurahan banta bantaeng


berdasarkan jenis kelamin juga terbanyak pada kelurahan tersebut dengan
perbandingan hampir sama.

2. Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan rakyat


khususnya kesejahteraan anak. Berdasarkan data yang diperoleh di puskesmas Kassi
Kassi, kepadatan penduduknya adalah 1342,2 jiwa per km, secara rinci dapat dilihat
pada lampiran. Jumlah kepala keluarga (KK) tahun 2015 di puskesmas adalah 6.393
KK melebihi jumlah rumah yang ada (5.452 rumah) yang berarti ditemukan dalam l
rumah terdapat 2 sampai 3 kepala keluarga.
1. Struktur penduduk Menurut Umur dan Sex Ratio

Dengan meningkatnya laju pertumbuhan akan mempengaruhi struktur


penduduk wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi Tahun 2015.

2. Sarana Kesehatan

Sarana kesehatan milik Pemerintah, Swasta dan partisipasi masyarakat yang


terdapat dalam wilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi turut berperan dalam
peningkatan status derajat kesehatan masyarakat dalam wilayah kerja Puskesmas
Kassi Kassi.

Jenis sarana kesehatan yang terdapat diwilayah kerja Puskesmas Kassi Kassi
tahun 2015 terdiri dari :

Rumah Sakit Umum :2 buah

Rumah Sakit Bersalin : l buah

Puskesmas : 1 buah

Puskesmas Pembantu :1 buah

Balai/ Klinik Pengobatan :2 buah

Dokter Praktek :30 orang

Bidan Praktek Swasta ( BPS ) : 20 orang

Apotik : 10 buah
Posyandu : 58 buah

3. Tenaga Dan Struktur Organisasi

a. Tenaga Kesehatan

Jumlah tenaga kesehatan yang terdapat di Puskesmas Kassi kassi tahun 2015
sebanyak 55 orang dengan berbagai spesifikasi, yang terdiri dari:

Dokter Umum : 3 orang

Dokter Gigi : 2 orang

Perawat : 18 orang

Perawat Gigi : 2 orang

Bidan : 9 orang

Sanitarian : 1 orang

Nutrisionis : 3 orang

Pranata Laboratorium : 2 orang

Apoteker . : 2 orang

Asisten Apoteker : 1 orang

Rekam Medik : 3 orang


Sarjana Ekonomi : 1 orang

Sarjana Kesehatan Masyarakat :

- Epidemiologi : l orang

- Kesling :2orang

SM A : l orang

4. Struktur Organisasi Struktur Organisasi Puskesmas Kassi Kassi berdasarkan Surat


Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar Nomor : 800 / 1682 / SK / IV /
2010 Tanggal 21 April 2010 terdiri atas :

Kepala Puskesmas

Kepala Subag Tata Usaha

Unit Pelayanan Teknis Fungsional Puskesmas

- Unit Kesehatan Masyarakat

- Unit Kesehatan Perorangan

Unit Jaringan Pelayanan Puskesmas

- Unit Puskesmas Pembantu ( Pustu )

- Unit Puskesmas Keliling ( Puskel )


- Unit Bidan Komunitas

Pembagian kerja setiap Unit dapat dilihat pada Bagan Struktur Organisasi

Puskesmas kassi kassi Tahun 2015.

3. Gambaran 10 Penyakit Terbanyak.

Adapun Gambaran 10 penyakit terbanyak di puskesmas di wilayah kerja


puskesmas Kassi-Kassi pada tahun 2015 disajikan pada tabel berikut:
BAB 3
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Pengertian Diabetes Mellitus


Menurut American Diabetes Association (ADA) 2005, Diabetes mellitus
merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia
yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya.
Sedangkan menurut Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) (2002) DM
merupakan kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh
karena adanya peningkatan kadar glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin
yang dapat dilatarbelakangi oleh kerusakan sel beta pankreas dan resistensi insulin.
Pada WHO 1980 dikatakan bahwa diabetes mellitus merupakan sesuatu yang tidak
dapat dituangkan dalam satu jawaban yang jelas dan singkat tapi secara umum dapat
dikatakan sebagai suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang merupakan
akibat dari sejumlah faktor di mana didapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan
gangguan fungsi insulin (PERKENI, 2011).

3.2 Etiologi
Menurut etiologinya diabetes mellitus dapat dibagi menjadi 2:
1. Diabetes Mellitus Tipe 1 (Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
Diabetes mellitus Tipe 1 terjadi karena sel-sel beta pada pankreas telah
mengalami kerusakan, sehingga pankreas sangat sedikit atau tidak sama sekali
memproduksi insulin. Kerusakan sel beta pankreas dapat disebabkan oleh adanya
peradangan pada sel beta pankreas (insulitis). Insulitis dapat disebabkan macam-
macam diantaranya virus, seperti virus cocksakie, rubella, CMV (Cytomegalovirus),
herpes, dan lain-lain. Hal ini mengakibatkan tubuh sedikit memproduksi atau sama
sekali tidak menghasilkan insulin, sehingga penderita DM Tipe 1 bergantung pada
insulin dari luar, yaitu melalui suntikan/injeksi insulin secara teratur agar pasien tetap
sehat.
Secara global DM Tipe 1 tidak begitu umum, hanya kira-kira 10-20 % dari
semua penderita DM yang menderita DM Tipe 1. DM Tipe 1 ini biasanya bermula
pada saat kanak-kanak dan puncaknya pada masa remaja. Biasanya penderita DM
Tipe 1 mempunyai berat badan yang kurus (PERKENI, 2011).
2. Diabetes Mellitus Tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)
DM Tipe 2 atau DM Tidak Tergantung Insulin adalah DM yang paling sering
dijumpai. DM Tipe 2 terjadi karena kombinasi dari kecacatan dalam produksi
insulin dan resistensi terhadap insulin. Pankreas masih bisa menghasilkan
insulin, tetapi kualitasnya buruk, tidak dapat berfungsi dengan baik sebagai kunci
untuk memasukkan glukosa ke dalam darah. Akibatnya, glukosa dalam darah
meningkat. Pasien biasanya tidak memerlukan tambahan suntikan insulin dalam
pengobatannya, tetapi memerlukan obat yang bekerja memperbaiki fungsi insulin dan
menurunkan kadar gula dalam darah.
DM Tipe 2 biasanya didiagnosa setelah berusia 40 tahun, dan 75 % individu
dengan DM Tipe 2 adalah obesitas atau dengan riwayat obesitas. Penyakit DM Tipe 2
biasanya terjadi pada usia dewasa yang berusia menengah atau lanjut. Di Indonesia,
sekitar 95 % kasus DM adalah DM Tipe 2, yang cenderung disebabkan oleh faktor
gaya hidup yang tidak sehat (PERKENI, 2011).

3.3 Faktor Resiko


Faktor risiko diabetes dapat dibagi menjadi : (PERKENI, 2011)
1. Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi :
- Ras dan etnik
- Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)
- Umur, risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring dengan
meningkatnya usia. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan DM.
- Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi > 4000 gram atau riwayat
pernah menderita DM gestasional (DMG).
- Riwayat lahir dengan berat badan rendah, kurang dari 2,5 kg.
- Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi
dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.
2. Faktor risiko yang bisa dimodifikasi;
- Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2).
- Kurangnya aktivitas fisik.
- Hipertensi (> 140/90 mmHg).
- Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL)
3. Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :
- Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain yang
terkait dengan resistensi insulin
- Penderita sindrom metabolic
- Memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa darah
puasa terganggu (GDPT) sebelumnya
- Memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK, PAD
(Peripheral Arterial Diseases)

3.4 Diagnosis
Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah.
Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria. Guna penentuan
diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan
glukosa secara enzimatik dengan bahan darah plasma vena. Penggunaan bahan darah
utuh (whole blood), vena ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan
memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh
WHO. Sedangkan
untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler (PERKENI, 2011).

1. Diagnosis diabetes melitus


Berbagai keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes. Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti tersebut di
bawah ini.
- Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan
berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
- Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan
disfungsi ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita.
- Diagnosis DM dapat ditegakkan melalui tiga cara.
Pertama, jika keluhan klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa
plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk menegakkan diagnosis
DM.
Kedua, dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa yang lebih mudah
dilakukan, mudah diterima oleh pasien serta murah, sehingga
pemeriksaan ini dianjurkan untuk diagnosis DM.
Ketiga dengan TTGO. Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa
lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa
plasma puasa, namun memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit
untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang
dilakukan.
2. Kriteria diabetes mellitus
Kriteria diagnosis DM untuk dewasa tidak hamil, dapat dilihat pada table di
bawah ini. Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka
dapat digolongkan ke dalam kelompok TGT atau GDPT tergantung dari hasil yang
diperoleh.
TGT : Diagnosis TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO didapatkan
glukosa plasma 2 jam setelah beban antara 140 199 mg/dL (7.8-11.0 mmol/L).
GDPT : Diagnosis GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa
didapatkan antara 100 125 mg/dL (5.6 6.9 mmol/L).
Kriteria Diagnostic Diabetes Mellitus

*Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2011

Cara pelaksanaan TTGO (WHO, 1994):


3 (tiga) hari sebelum pemeriksaan tetap makan seperti kebiasaan sehari-hari
(dengan karbohidrat yang cukup) dan tetap melakukan kegiatan jasmani seperti biasa
berpuasa paling sedikit 8 jam (mulai malam hari) sebelum pemeriksaan, minum air
putih tanpa gula tetap diperbolehkan diperiksa kadar glukosa darah puasa diberikan
glukosa 75 gram (orang dewasa), atau 1,75 gram/kgBB (anak-anak), dilarutkan dalam
air 250 mL dan diminum dalam waktu 5 menit berpuasa kembali sampai pengambilan
sampel darah untuk pemeriksaan 2 jam setelah minum larutan glukosa selesai
diperiksa kadar glukosa darah 2 (dua) jam sesudah beban glukosa selama proses
pemeriksaan subyek yang diperiksa tetap istirahat dan tidak merokok.

3.5 Pengelolaan Diabetes Mellitus


1. Edukasi
Diabetes tipe 2 umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku telah
terbentuk dengan mapan. Pemberdayaan penyandang diabetes memerlukan partisipasi
aktif pasien, keluarga dan masyarakat. Tim kesehatan mendampingi pasien dalam
menuju perubahan perilaku. Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku,
dibutuhkan edukasi pengelolaan dan pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia yang komprehensif dan upaya peningkatan motivasi (Ndraha, 2014).
Promosi perilaku sehat merupakan faktor penting pada kegiatan pelayanan
kesehatan. Untuk mendapatkan hasil pengelolaan diabetes yang optimal dibutuhkan
perubahan perilaku. Perlu dilakukan edukasi bagi pasien dan keluarga untuk
pengetahuan dan peningkatan motivasi. Hal tersebut dapat terlaksana dengan baik
melalui dukungan tim penyuluh yang terdiri dari dokter, ahli diet, perawat, dan tenaga
kesehatan lain (Ndraha, 2014).
Tujuan perubahan perilaku adalah agar penyandang diabetes dapat menjalani
pola hidup sehat. Perilaku yang diharapkan adalah:
- Mengikuti pola makan sehat
- Meningkatkan kegiatan jasmani
- Menggunakan obat diabetes dan obat-obat pada keadaan khusus secara aman,
teratur
- Melakukan Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM) dan memanfaatkan
data yang ada
- Melakukan perawatan kaki secara berkala
- Memiliki kemampuan untuk mengenal dan menghadapi keadaan sakit akut
dengan tepat
- Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana,dan mau
bergabung dengan kelompok penyandang diabetes serta mengajak keluarga
untuk mengerti pengelolaan penyandang diabetes.
- Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Prinsip yang perlu diperhatikan pada proses edukasi diabetes adalah:


- Memberikan dukungan dan nasehat yang positif serta hindari terjadinya
kecemasan
- Memberikan informasi secara bertahap, dimulai dengan hal-hal yang
sederhana
- Melakukan pendekatan untuk mengatasi masalah dengan melakukan simulasi
- Mendiskusikan program pengobatan secara terbuka, perhatikan keinginan
pasien. Berikan penjelasan secara sederhana dan lengkap tentang program
pengobatan yang diperlukan oleh pasien dan diskusikan hasil pemeriksaan
laboratorium
- Melakukan kompromi dan negosiasi agar tujuan pengobatan dapat diterima
- Memberikan motivasi dengan memberikan penghargaan
- Melibatkan keluarga/ pendamping dalam proses edukasi
- Memperhatikan kondisi jasmani dan psikologis serta tingkat pendidikan
pasien dan keluarganya
- Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari
pengelolaan DM secara holistic (Ndraha, 2014).

2. Pengaturan Diet
Pengaturan diet pada penderita DM sangatlah penting. Adapun tujuan pengaturan diet
adalah
- Memberikan makanan sesuai kebutuhan
- Mempertahankan kadar gula darah sampai normal/ mendekati normal
- Mempertahankan berat badan menjadi normal
- Mencegah terjadinya kadar gula darah terlalu rendah yang dapat
menyebabkan pingsan
- Mengurangi/ mencegah komplikasi
Syarat diet yang baik bagi penderita diabetes antara lain:
- Kebutuhan energi ditentukan dengan memperhitungkan kebutuhan untuk
metabolism basal sebesar 25-30 kkal/kg BB normal, ditambah kebutuhan
untuk aktivitas fisik dan keadaan khusus, misalnya kehamilan atau lakatasi
dan adanya komplikasi.
- Kebutuhan protein 10-15% dari kebutuhan energy total.
Kebutuhan lemak 20-25% dari kebutuhan energy total ( <10% dari lemak
jenuh, 10% dari lemak tidak jenuh ganda, sisanya dari lemak tidak jenuh
tunggal).
- Kolesterol makanan dibatasi maksimal 300 mg/hari.
- Kebutuhan Karbohidrat 60 -70% dari kebutuhan energi total.
- Penggunaan gula murni tidak diperbolehkan, bila kadar gula darah sudah
terkendali diperbolehkan mengkonsumsi gula murni sampai 5 % dari
kebutuhan energi total.
- Serat dianjurkan 25 gr / hari (Hiswani. 2006)
3. Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan Latihan jasmani selain untuk
menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan memperbaiki sensitivitas
insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang
dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik seperti: jalan kaki, bersepeda
santai, jogging, dan berenang. Latihan jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur
dan status kesegaran jasmani. Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan
jasmani bisa ditingkatkan, sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat
dikurangi. Hindarkan kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan
(PERKENI, 2011).

4. Terapi Farmakologis
Intervensi farmakologis ditambahkan jika sasaran glukosa darah belum
tercapai dengan pengaturan makan dan latihan jasmani. Terdiri dari :
Obat hipoglikemik oral (OHO)
Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4 golongan:
- Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) : sulfonilurea dan glinid
- Penambah sensitivitas terhadap insulin: metformin, tiazolidindion
- Penghambat glukoneogenesis (metformin)
- Penghambat absorpsi glukosa: penghambat glukosidase alfa

Insulin
Insulin diperlukan pada keadaan:
- Penurunan berat badan yang cepat
- Hiperglikemia berat yang disertai ketosis
- Ketoasidosis diabetic
- Hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
- Hiperglikemia dengan asidosis laktat
- Gagal dengan kombinasi OHO dosis hampir maksimal
- Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, IMA, stroke)
- Kehamilan dengan DM/diabetes melitus gestasional yang tidak terkendali
dengan perencanaan makan
- Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat
- Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO
Berdasarkan lama kerja, insulin terbagi menjadi empat jenis, yakni:
- Insulin kerja cepat (rapid acting insulin)
- Insulin kerja pendek (short acting insulin)
- Insulin kerja menengah (intermediate acting insulin)
- Insulin kerja panjang (long acting insulin)

Terapi Kombinasi
Pemberian OHO maupun insulin selalu dimulai dengan dosis rendah, untuk
kemudian dinaikkan secara bertahap sesuai dengan respons kadar glukosa darah.
Bersamaan dengan pengaturan diet dan kegiatan jasmani, bila diperlukan dapat
dilakukan pemberian OHO tunggal atau kombinasi OHO sejak dini. Terapi dengan
OHO kombinasi, harus dipilih dua macam obat dari kelompok yang mempunyai
mekanisme kerja berbeda. Bila sasaran kadar glukosa darah belum tercapai, dapat
pula diberikan kombinasi tiga OHO dari kelompok yang berbeda atau kombinasi
OHO dengan insulin. Pada pasien yang disertai dengan alasan klinik di mana insulin
tidak memungkinkan untuk dipakai dipilih terapi dengan kombinasi tiga OHO. (lihat
bagan 2 tentang algoritma pengelolaan DM tipe-2).
Untuk kombinasi OHO dan insulin, yang banyak dipergunakan adalah
kombinasi OHO dan insulin basal (insulin kerja menengah atau insulin kerja panjang)
yang diberikan pada malam hari menjelang tidur. Dengan pendekatan terapi tersebut
pada umumnya dapat diperoleh kendali glukosa darah yang baik dengan dosis insulin
yang cukup kecil. Dosis awal insulin kerja menengah adalah 6-10 unit yang diberikan
sekitar jam 22.00, kemudian dilakukan evaluasi dosis tersebut dengan menilai kadar
glukosa darah puasa keesokan harinya. Bila dengan cara seperti di atas kadar glukosa
darah sepanjang hari masih tidak terkendali, maka obat hipoglikemik oral dihentikan
dan diberikan insulin saja (PERKENI, 2011).

3.6 Pengaturan Diet pada Pasien Diabetes


Kebutuhan Kalori
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mepertahankan berat badan ideal
komposisi energi adalah 60 70% dari karbohidrat, 10 - 15% dari protein dan 20
25% dari lemak. Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
orang dengan diabetes. Diantaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan
kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan
dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktifikasi,
kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan. Sedangkan cara yang lebih
gampang lagi adalah dengan pegangan kasar, yaitu untuk pasien kurus 2300 2500
kalori, normal 1700 2100 kalori dan gemuk 1300 - 1500 kalori (Hiswani. 2006).
Tabel Kebutuhan Kalori Pasien Diabetes

Perhitungan Berat Badan Idaman.


Dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut :
Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm 100) x 1 kg.
Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm,
atau bagi mereka yang berumur lebih dari 40 tahun, rumus dimodifikasi menjadi.
Berat badan ideal = (TB dalam cm 100) x 1 kg.
Sedangkan menurut Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT)
yaitu bera badan (kg) TB2 sebagai berikut :
Berat ideal : BMI 21 untuk wanita, BMI 22,5 untuk pria.

Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori antara lain:


1. Jenis Kelamin
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk ini dapat
dipakai angka 25 kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria.

2. Umur
Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada
orang dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB. Umur 1 tahun
membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anak-anak lebih
daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya . Penurunan
kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade antara 40 dan
59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, diatas 70 tahun dikurangi
20%.
3. Aktifitas Fisik atau Pekerjaan.
Jenis aktifitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis
aktifitas dikelompokan sebagai berikut :
- Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10%.
- Ringan : pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga,
dll kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal
- Sedang : pegawai di insdustri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak
perang, kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal
- Berat : petani, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, kebutuhan ditambah
40%
- Sangat berat : tukang beca, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus
ditambah 50% dari basal.

4. Kehamilan/Laktasi
Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada
trimester II dan III 350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak
550 kalori/hari.

5. Adanya komplikasi
Infeksi,Trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan
tambahan kalori sebesar 13% untuk tiap kenaikkan 1 derajat celcius.
6. Berat Badan
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung
kepada tingkat/kekurusannya.

Berikut ini makanan yang dianjurkan, dibatasi dan dihindari :


BAB 4
METODE

3.1 Jenis Program


Jenis program yang akan dilaksanakan pada mini project ini antara lain :
1. Rangkaian kegiatan bulanan Senam Prolanis
2. Pemeriksaan gula darah kepada pasien diabetes
3. Penyuluhan kesehatan dilakukan dengan metode ceramah
interaktif.
4. Penyuluhan kesehatan berisi pengertian diabetes, gejala, komplikasi,
pengelolaan secara umum, dan pengaturan gizi

3.2 Tempat dan Waktu


Kegiatan ini dilaksanakan di pekarangan UGD Puskesmas Kassi Kassi pada
bulan Februari 2017

3.3 Sasaran
Sasaran pada program ini adalah pasien diabetes di wilayah kerja Puskesmas
Kassi Kassi Kota Makassar dengan kriteria sebagai berikut :
1. Pasien prolanis yang melakukan kunjungan ke Puskesmas Kassi Kassi
2. Pasien Prolanis yang belum pernah mendapatkan penyuluhan tentang diabetes
melitus
Jumlah sasaran ditentukan sebanyak 20 pasien yang merupakan pasien
prolanis yang melakukan kunjungan. Pasien DM tersebut kemudian d minta
pencatatan identitasnya.

3.4. Penyuluhan Diabetes


Pada penyuluhan kesehatan diabetes ini digunakan metode ceramah outdoor
dengan slide power point serta pembagian Buku Sehat DM. Alat yang diperlukan :

Laptop
Microphone
LCD proyekstor + layar
Meja dan kursi
3.5 Hasil dan Evaluasi Kegiatan
Hasil kegiatan program ini selanjutnya ditampilkan dalam bentuk data
deskriptif dan laporan kegiatan. Sedangkan evaluasi kegiatan program ini
dilakukan dengan penilaian beberapa indikator, yaitu: jumlah kehadiran peserta >50%
dari total undangan dan peningkatan nilai post test sebesar >20% dari nilai pre test.

LAMPIRAN
DAFTAR PUSTAKA

PERKENI. 2011. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di


Indonesia 2011

Ndraha S. 2014. Diabetes Melitus Tipe 2 Dan Tatalaksana Terkini. MEDICINUS, Vol.
27, No.2, Hal. 9 16
Hastuti, R. 2008. Faktor-faktor Resiko Ulkus Diabetika pada Penderita Diabetes
Mellitus (Studi Kasus di RSUD Dr. Moewardi Surakarta). Naskah Publikasi
Tesis S-2 Magister Epidemiologi.

Hiswani. 2006. Peranan Gizi dalam Diabetes Mellitus. Naskah Publikasi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Flora et al. 2012. Pelatihan Senam Kaki pada Penderita Diabetes Mellitus Dalam
Upaya Pencegahan Komplikasi Diabetes pada Kaki (Diabetes Foot). Jurnal
Pengabdian Sriwijaya, Vol.6, Hal. 7 15

Anda mungkin juga menyukai