Anda di halaman 1dari 10

CHAPTER 5

INTRODUCTION TO RISK, RETURN AND THE HISTORICAL


RECORD

5.1.DETERMINANTS OF THE LEVEL OF INTEREST RATES


Tingkat bunga dan prediksi nilainya di masa akan datang merupakan masukan
paling penting dalam keputusan investasi. Memprediksi tingkat bunga
merupakan bagian yang paling sulit dari ekonomi makro. Terdapat faktor
fundamental yang akan menentukan tingkat bunga, yaitu :
1. Pasokan dana dari penyimoan, khususnya rumah tangga
2. Permintaan dana dari para pebisnis yang akan digunakan untuk membiayai
investasi pada pabrik, peralatan, dan persediaan

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
3. Pasokan atau permintaan bersih pemerintah atas dana yang dibentuk
dengan tindakan Fed

5.1.1. Tingkat Bunga Riil dan Nominal


Tingkat bunga nominal merupakan pertumbuhan uang dan tingkat bunga riil
adalah pertumbuhan daya beli. Jika R merupakan tingkat bunga nominal, r
sebagai tingkat binga riil, dan i adalah tingkat bungan inflasi. Maka dapat
disimpulkan:

R Ri

Dengan kata lainm tingkat bunga riil adalah tingkat bunga nominal dikurangi
dengan daya beli yang hilang akibat inflasi. Jika tingkat inflasi lebih rendah,
tingkat bungan rill akan menjadi tinggi. Tingkat bungan riil selalu dapat dihitung
setelah terjadi, namun tingkat bungan riil yang akan datang tidak dapat
diketahui tetapi dapat diprediksi. Tingkat inflasi adalah beresiko, maka tingkat
bungan riil juga beresiko sekalipun tingkat bunga nominalnya bebas resiko.

5.1.2. Keseimbangan Tingakat Bunga Riil


Terdapat tiga faktor yang dapat menentukan tingkat bunga riil:
1. Pasokan
2. Permintaan
3. Tindakan Pemerintah
4. Tingkat Inflasi
Kurva penawaran berbentuk miring keatas dari kiri ke kanan karena makin tinggi
tingkat bunga, makin besar penawaran rumah tangga. Dengan asumsi bahwa
pada tingkat bungan riil yang lebih tinggi, rumah tangga akan makin memilih
untuk menunda konsumsi saat ini dan menginvestasikan penghasilan mereka
untuk penggunaan di masa yang akan datang.

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 1


AIRLANGGA SURABAYA
Kurva permintaan berbentuk miring ke bawah dari kiri ke kanan karena makin
tinggi tingkat bunga riil, makin banyak perusahaan yang ingin berinvestasi pada
modal fisik. Dengan asumsi bahwa perusahaan memberikan peringkat proyek
berdasarkan imbal hasil riil yang diharapkan dari modal yang diinvestasikan,
perusahaan akan lebih menjalankan banyak proyek ketikan tingkat binga riil
dana untuk mendanai proyek makin rendah.
Pemerintah dan bank sentral dapat menggeser kurva permintaan dan penawaran
baik ke arah kanan maupun ke arah kiri dengan kebijakan fiskal dan moneter.
Oleh karena itu, meskipun penentu mendasar dari tingkat bungan riil adalah
keinginan rumah tangga untuk menabung dan profitabilitas yang diharapkan dari
modal fisik, tingakt bunga riil dapat dipengaruhi oleh pemerintah melalui

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
kebijakan fiskal dan moneter.

5.1.3. Keseimbangan Tingkat Bunga Nominal


Investor akan peduli pada imbal hasil riil atau kenaikan daya beli, maka ketika
inflasi meningkat investor akan meminta tingkat bunga nominal yang lebih tinggi
dari investasinya. Tingkat imbal hasil yang lebih tinggi ini diperlukan untuk
mempertahankan imbal hasil riil yanh ditawarkan investasi.
Irving Fisher (1930) berpendapat bahwa tingkat bunga nominal seharusnya
meningkat bertahap sesuai dengan kenaikan tingkat inflasi yang diharapkan.
Jika menggunakan notasi E(i) untuk menyebutkan ekspetasi saat ini tentang
tingkat bungan sebelum terjadinya, kita dapat membuat persamaan fisher
sebagai berikut:
R = r + E(i)

Persamaan ini berarti bahwa tingkat riil cukup stabil, maka kenaikan tingkat
bunga nominal merupakan prediksi tentang kenaikan tingkat inflasi.

5.1.4. Pajak dan Tingkat Bunga Riil


Kewajiban pajak didasarkan pada penghasilan nominal dan tarif pajak investor
ditentukan oleh golongan tarif pajaknya. Golongan tarif pajak terkait dengan
indeks tidak membebaskan beban pajak tabungan dari dampak inflasi. Dengan
golongan tarif pajak (t) dan tingkat bungan nominal R, maka tingkat bunga
setelah pajak adalah R(1-t). Tingkat bunga setelah pajak riil secara pendekatan
adalah tingkat bunga nominal setelah pajak dikurangi tingkat inflasi:
R(1 - t) i = (r + i)(1 t) i = r(1 t) it

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 2


AIRLANGGA SURABAYA
Sehingga tingkat imbal hasil riil setelah pajak akan turun ketika tingkat inflasi
meningkat. Investor akan menderita sanski inflasi sebesar tarif pajak dikali
tingkat inflasi.

5.2.COMPARING RATES OF RETURN FOE DIFFERENT HOLDING PERIOD


Bagaimana kita membandingkan imbal hasil investasi dengan horizon waktu
yang berbeda? Perlu untuk menyajikan imbal hasil total sebagai imbal hasil untuk
periode yang umum. Biasanya kita menyajikan seluruh imbal hasil dalam tingkat
tahunan efektif (effective annual rate EAR), yang didefinisikan sebagai
presentase kenaikan dana yang diinvestasikan selama horizon waktu satu tahun.

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
5.2.1. Tingkat Persentase Disetahukan (APR)
Tingkat imbal hasil atas investasi jangka pendek (T < 1 Tahun) seringkali
disetahunkan (annualized) menggunakan metode sederhana (simple), bukan
berganda (compounding). Ini disebut tingkat bunga disetahunkan (annual
percentage rates APR). Sebagai contoh, APR yang sesuai untuk imbal hasil
bulanan atas kartu kredit dihitung dengan mengalikan tingkat bulanan itu
dengan 12.

5.3.SURAT UTANG DAN INFLASI, 1926 2009

Tingkat Tahunan Rata - Standar Deviasi Tingkat


Rata Tahunan
T- Inflasi T- Bills T - Bills Inflasi T- Bills
Bills Rill Rill
Seluruh tahun (84) 3,71 3,10 0,70 3,09 4,19 3,90
1926 - 2009
Separuh tahun terakhir 5,75 4,56 1,17 2,94 3,02 2,40
(42)
1968 2009
Separuh tahun awal 1,67 1,64 0,24 1,45 4,69 4,96
(42)
1926 - 1967
Tabel 1 Statistik tingkat t-bills, tingkat inflasi, dan tingkat riil, 1926 2009

Tingkat T-bill tahunan dihitung dari rolling over T-bill bulanan sebanyak 12
kali dan persentaseperubahan dalam CPI (consumer price index). Kolom
pertama dari Tabel 1 mendaftar tingkat tahunan rata rata untuk beberapa
seri. Tingkat bunga rata rata selama paruh terakhir sejarah (1968 2009) ,
5,75% jelas lebih tinggi daripada paruh awal, 1,67%. Alasannya adalah
inflasi, pemicu utama tingkat T-bills , yang juga terlihat lebih tinggi dalam
nilai rata rata pada paruh terakhir sampel, 4,56% daripada periode
sebelumnya hanya 1,64%. Akan tetapi, tingkat bunga nominal selama

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 3


AIRLANGGA SURABAYA
periode terakhir tetap cukup tinggi untuk menghasilkan tingkat riil rata
rata, 1,17%, dibandingkan tingkat rill yang hanya 0,24% pada pparuh
pertama. Alasan utama dari catatan sejarah ini adalah karena sekalipun
tingkat inflasi tergolong moderat, hal itu dapat diimbangi dengan
keuntungan nominal yang disediakan oleh investasi beresiko rendah.

5.4.RISIKO DAN PREMI RESIKO


Misalkan kita mempertimbangkan untuk berinvestasi pada sebuah reksa
dana dan saham. Reksa dana saat ini dijual pada $100 per lembar. Dengan
horizon waktu 1 tahun, tingkat imbal hasil teralisasi dari investasi akan
tergantung pada (a) harga per lembar reksa dana pada akhir tahun dan (b)
dividen kas yang akan diterima selama satu tahun. Imbal hasil yang

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
terealisasi, yang disebut holding period return HPR yang dalam kasus ini
adalah periode 1 tahun, didefinisikan sebagai berikut.

Harha akhir per lembar - Harga awal +


HPR = Dividen kas
Harga awal

Definisi HPR ini berasumsi bahwa dividen dibayarkan pada akhir periode. Jika
deviden dibayarkan lebih awal, HPR ini mengabaikan pendapatan dari
menginvetasi kembali pendapatan antara penerimaan pembayaran sampai
akhir periode. Imbal hasil persentase atas penerimaan dividen disebut imbal
hasil dividen sehingga imbal hasil dividen ditambah imbal hasil keuntungan
modal sama dengan HPR.

5.4.1. Imbal Hasil yang Diharapkan dan Simpangan Baku


Tingkat imbal hasil yang diharapkan adalah tingkat imbal hasil rata rata
yang ditimbang terhadap probabilitas dari setiap skenario. Misalakan, p(s)
sebagai probabilitas dari setiap skenario dan r(s) sebagi HPR dari setiap
skenario, dimana setiap skenario diberi label atau indeks dengan s, maka
kita dapat menghitung imbal hasil yang diharapkan sebagi berikut.

E(r) = s p(s)r(s)
Standar deviasi dari imbal hasil adalah ukuran risiko. Ini didefinisikan sebagai
akar kuadrat dari varian yang kemudian menjadi nilai simpangan yang
diharapkan dikuadratkan dari imbal hasil yang diharapkan. Makin tinggi
volatilitas imbal hasil, makin besar nilai rata rata dari simpangan
dikuadratkan ini.
Jelas sekali bahwa yang menjadi masalah bagi investor potensial dalam
reksa dana indeks adalah risiko penurunan atau kerugian atau pasar yang
buruk, bukan potensi pasar yang baik. Standar deviasi dari tingkat imbal
hasil tidak membedakan antara kejutan baik dengan kejutan buruk, ukuran

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 4


AIRLANGGA SURABAYA
ini memperlakukan keduannya secara sederhana sebagai penyimpangan
dari rata rata. Sepanjang distribusi probabilitas kurang lebih simetri
terhadap rata rata, maka standar deviasi dari imbal hasil adalah ukuran
risiko yang memadai.

5.4.2. Imbal Hasil lebihan dan Premi Risiko


Perbedaan pada satu periode tertentu antara tingkat imbal hasil aktual pada
aset berisiko dengan tingkat bebas risiko aktual disebut imbal hasil lebihan
(excess return). Oleh karena itu, premi risiko adalah nilai yang diharapkan
dari imbl hasil lebihan, dan standar deviasi dari suatu imbal hasil lebihan
adalah sebuah ukuran risikonya.
Analisis keuangan secara umum berasumsi bahwa investor adalah penolak
risiko dalam arti bahwa jika oremi risiko adalah nol, maka orang tidak akan

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
bersedia berinvestasi pada saham. Oleh karena itu, secara teori premi risiko
atas saham akan selalu positif untuk mendorong investor penolak risiko
untuk menyimpan saham daripada menempatkan seluruh dananya pada
aset bebas risiko.

5.5.ANALISIS IMBAL RUNTUN WAKTU DARI IMBAL HASIL MASA LALU


5.5.1. Analisis Runtun Waktu Versus Analisis Skenario
Dalam skenario analisis kedepan, kita menentukan sekumpulan skenario
yang relevan dan hasil investasi yang terkait (tingkat imbal hasil),
menentuka probabilitas masing masing, dan memutuskan dengan
menghitung premi risiko (imbal hasil) serta standar deviasi (risiko) dari
investasi yang diusulkan. Sebaliknya, sejarah aset dan imbal hasil portofolio
dalam bentuk runtun waktu (time series) dari imbal hasil masa lalu yang
terealisasi tidak secara eksplisit menyediakan penilaian awal investor
tentang probabilitas dari imbal hasil tersebut, kita hanya dapat mengamati
tanggal dan HPR terkait.
5.5.2. Imbal Hasil yang diharapkan dan Rata Rata Arimatika
Jika data imbal hasil runtun waktu historis dapat secara wajar
memperlihatkan distribusi probabilitas yang sebenarnya dari imbal hasil,
maka rata rata arimatika periode masa lalu merupakan prediksi yang baik
atas imbal hasil yang diharapkan dari investasi.
5.5.3. Varian dan Standar Deviasi
Ketika berpikir tentang risiko, kita tertarik tentang kemungkinan nilai yang
terdeviasi dari imbal hasil yang diharapkan. Dalam praktiknya, biasanya kita
tidak dapat mengamati ekspetasi secara kangsung, sehingga kita akan
mengestimasi variandengan merata ratakan simpangan kuadrat dari
estimasi kita atas imbal hasil yang diharapkan, yaitu rata rata arimatika.
5.5.4. Rasio Kompensasi terhadap Volatilitas atau Rasio Sharpe
Pentingnya pertukaran antara kompensasi (premi risiko) dengan risiko
menunjukkan bahwa kita mengukur daya tarik investasi pada portofolio

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 5


AIRLANGGA SURABAYA
dengan rasio premi risikonya terhadap standar deviasi dari imbal hasil
lebihnya.

Ukuran kompensasi terhadap volatilitas ini digunakan secara luas untuk


mengevaluasi kinerja manajer investasi.

5.6.DISTRIBUSI NORMAL
Manajemen investasi jauh lebih dapat dilacak ketika tingkat imbal hasilnya
dapat dengan distribusi normal.
1. Distribusi normal bersifat simetris, artinya probabilitas dari setiap
simpangan positif diatas rata rata adalah sama dengan simpangan

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
negatif dengan besaran yang sama. Jika tidak simetris, maka mengukur
risiko menggunakan standar deviasi tidak akan tepat.
2. Distribusi normal merupakan bagian dari kelompok distribusi yang
bercirikan stabil, karena memiliki sifat ketika aset dengan imbal hasil
yang terdistribusi normal dibaurkan untuk membentuk sebuah portofolio,
maka imbal hasil portofolio juga akan terdistribusi normal.
3. Analisis skenarioi sangat disederhanakan ketika hanya terdapat dua
parameter yang perlu diestimasi untuk mendapatkan probabilitas
skenario yang kan datang.

5.7.DEVIASI DARI KENORMALAN DAN UKURAN RISIKO


Kenormalan dari imbal hasil lebihan sangat menyederhanakan pemilihan
portofolio. Kenormalan menjamin kita bahwa standar deviasi adalah ukuran
risiko yang lengkap sehingga rasio Sharpe juga merupakan ukuran kinerja
portofolio yang lengkap. Sayangnya, banyak pengamat saat ini percaya
bahwa simpangan dari kenormalan imbal hasil aset terlalu penting untuk
diabaikan. Simpangan dari kenormalan dapat dideteksi dengan menghitung
momen yang lebih tinggi dari distribusi imbal hasil.
5.7.1. Nilai Berisiko
Nilai berisiko atau VaR adalah ukuran dari kerugian yang paling sering terjadi
terkait dengan imbal hasil negatif yang ektrem. VaR telah menjadi bagian
dalam regulasi perbankan dan menjadi ukuran yang diawasi secara ketat
oleh manajer risiko.
5.7.2. Kerugian yang Diharapkan
Sebuah pandangan yang lebih realistis terkait eksposur sisi bawah akan
lebih berfokus pada kemungkinan rugi dengan asumsi skenario terburuk
tertentu. Sayangnya, nilai ini mempunyai dua sebutan expected shortfall
ES atau conditional tail expectation CTE dimana termonologi terakhir
menekankan bahwa ekspetasi ini tergantung pada kondisi pada distribusi
ekor kiri. Kita akan menggunakan termonologi yang diharapkan.

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 6


AIRLANGGA SURABAYA
5.7.3. Simapangan Baku Parsial Lebih Rendah dan Rasio Sortino
Pengumuman standar deviasi sebagai ukuran ketika distribusi imbal hasil
tidak normal menyisakan tiga masalah:
1. Distribusi yang tidak simetris menyebabkan kita harus melihat hasil
negatif secara terpisah.
2. Karena sebuah alternatif atas portofolia berisiko merupakan perangkat
investasi bebas risiko, kita harus memperhatikan simpangan imbal hasil
dari tingkat bebas risiko, bukan rata rata dari sampel.
3. Fat tails harus dihitung.
Sebuah ukuran risiko yang menjawab isu pertama dan kedua adalah standar
deviasi parsial lebih rendah, yang dihitung seperti standar deviasi biasa
tetapi menggukan imbal hasil buruk. Secara spesifik, ukuran ini hanya
menggunakan simpangan negatif dari imbal hasil bebas risiko, lalu angka

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
tersebut dikuadratkan untuk mendapatkan seperti varian, lalu dilakukan
akar kuadarat untuk mendapatkan standar deviasi ekor kiri.

5.8.IMBAL HASIL HISTORIS PADA PORTOFOLIO BERISIKO: EKUITAS DAN


OBLIGASI PEMERINTAH JANGKA PANJANG
Sekarang kita dapat menerapkan perangkat analisis yang dibahas sebelum
ini terhadap lima portofolio berisiko tinngi:
1. Saham besar dunia. Portofolio ini meliputi seluruh portofolio indeks
negara yang tersedia (48 negara pada tahun 2009).
2. Saham besar AS. Portofolio ini berisi saham saham dalam indeks S&P
500 dan dibobotkan terhadap kapitalisasi.
3. Saham kecil AS. Indeks ini mengukur imbal hasil dari kuantil kecil dari
saham yang diperdagangkan secara umum di AS.
4. Obligasi jangka panjang pemerintah AS. Imbal hasil obligasi pemerintah
jangka panjang diukur dengan indeks tertimbang nilai Barclays Capital
dari seluruh obligasi pemerintah AS berjangka 10 tahun atau lebih.
5. Portofolio terdiversifikasi. Portofolio yang paling dimasukkan adalah
bauran antara portofolio lain dengan bobot 50% pada saham besar
dunia, 20% pada saham kecil AS, dan 30% dari obligasi jangka panjang
pemerintah AS.

5.8.1. Imbal Hasil Total


Satu fitur yang patut dicatat dari imbal hasil total adalah perbedaan antara
rata rata arimatika dengan rata rata geometri. Ini merupakan pertanda
awal bahwa terlepas dari isu yang mengemuka pada krisis 2008, kita tidak
menemukan bukt yang kuat bahwa distribusi normal gagal untuk
menjelaskan imabl hasil portofolio secara memadai.
5.8.2. Kinerja
Ketika imbal hasil aset terdistribusi normal, investor mungkin menilai kinerja
menggukan rasio kompensasi terhadap volalititas, atau rasio Sharpe, yang
membagi imabl hasil lebihan rata rata terhadap standar deviasi. Investasi

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 7


AIRLANGGA SURABAYA
yang sedang kita amati seluruhnya adalah portofolio kelas asetumum yang
bersifat pasif, dengan kata lain dibentuk tanpa informasi khusus tentang
potensi kinerja unggul dari setiap aset atau portofolio individu. Dengan
situasi ini, kita akan memprediksi bahwa portofolio yang terdiversifikasi lebih
baik akan bekinera lebih baik.
Portofolio obligasi adalah portofolio yang paling tidak terdiversifikasi, tanpa
saham didalamnya. Oleh karena itu, selain tampak yang paling tidak
berisiko, dengan SD yang paling kecil, juga mempunyai risiko Sharpe yang
paling rendah. Portofolio saham kecil, dengan imbal hasil lebihan rata rata
yang tertinggi dan mempunyai SD tertinggi, bekinerja paling buruk
berikutnya karena tidak terdiversifikasi dengan cukup baik. Bagaimanapun,
portofolio obligasi dan saham kecil mempunyai kinerja yang lebih baik ketika

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
ditambahkan ke dalam portofolio saham besar dunia untuk mencapai
diversifikasi yang lebih baik.

5.9. INVESTASI JANGKA PANJANG


Risiko dalam jangak Panjang dan Distribusi Lognormal
Ketika tingkat imbal hasil yang digandakan secara kontinu tersdistribusi
secara normal pada setiap titik waktu, tingkat imbal hasil efektif atau HPR
aktual, akan terdistribusi secara lognormal. Harus dikatakan bahwa untuk
periode yang pendek (misalnya sampai 1 bulan) perbedaan antara distribusi
normal dengan lognormal cukup kecil sehingga dapat diabaikan dengan
aman. Tetapi ketika membahas periode lebih panjang, penting untuk
memperhitungkan fakta bahwatingkat yang digandakan secara kontinu ini
akan terdistribusi secara normal, sedangkan HPR nya terdistribusi secara
lognormal.
Probabilitas kerugian merupakan ukuran risiko investasi yang tidak lengkap.
Probabilitas seperti itu tidak memperhitungkan ukuran dati kerugian
potensial, yang dalam beberapa hasil yang mungkin merupakan kehancuran
total.
Sebuah cara yang lebih baik untuk menguantifikasi risiko investasi jangka
panjang adalah harga pasar asuransi atas suatu kerugian. Sebuah premi
asuransi akan memperhitungkan baik probabilitas kerugian yang mungkin
seta besarnya kerugian tersebut.
Terlepas dari probablilitas yang rendah bahwa sebuah polis
asuransipoertofolio harus membayar (hanya sampai 3,8% untuk jangka
waktu 25 tahun), besaran dan jatuh tempo dari kerugian yang mungkin akan
membuat asuransi jangka panjang seperti itu secara mengejutkan akan
mahal.

Rasio Sharpe Direvisi

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 8


AIRLANGGA SURABAYA
Rasio Sharpe membagi hasil berlebih dengan standar deviasi. Rasio Sharpe
mempunyai dimensi waktu, didalamnya rasio Sharpe untuk portofolio
tertentu akan bervariasi secara sistematis dengan periode investasi yang
diasumsikan.
Ketika periode investasi menjadi lebih lama, imbal hasil yang digandakan
secara kontinu juga tumbuh secara proposional dengan horizon investasi.
Tetapi standar deviasi tumbuh dengan lebih lambat, sebesar akar kuadrat
waktu. Oleh karena itu, rasio Sharpe tumbuh dengan panjangnya periode
investasi dengan tingkat sebesar akar kuadrat waktu. Sehingga ketika
membandingkan rasio Sharpe dari serangkaian tingkat bulanan dengan
serangkaian tingkat tahunan, kita harus terlebih dahulu mengalikan rasio
Sharpe bulanan dengan akar kuadrat 12.

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record
Simulasi dari Imbal Hasil Masa depan Jangka Panjang
Sebuah cara yang baik dalam menggunakan data historis untuk
mempelasjari tentang distribusi imbal hasil akan datang jangka panjang
adalah dengan melakukan semulasi imbal hasil akan datang ini
menggukanan sampel yang ada. Satu metode yang populer untuk ini disebut
bootstapping.
Bootstapping adalah suatu prosedur yang mengabaikan setiap asumsi
tentang distribusi imbal hasil, kecuali bahwa seluruh tingkat imbal hasil dan
sampel historis diperlakukan sama dalam hal kemungkinan terjadinya.
Keputusan mendasar ketika melakukan prosedur pengujuan bootstapping ini
adalah pilihan tentang seberapa jauh kita akan mengambil sampel ke masa
lalu untuk mengestimasi serial imbal hasil akan datang.
Satu tujuan penting dari pengujian ini adalah untuk menilai dampak
potensial simpangan dari kenormalan pada distribusi probabilitas dari
investasi jangka panjang pada saham AS. Menyimulasikan distribusi imbal
hasil tahunan 25 tahun untuk saham besar dan kecil dan membandingkan
sampel ini dengan sampel yang mirip yang ditarik dari distribusi normal yang
menghasilkan imbal hasil total jangka panjang yang terdistribusi secara
lognormal.

Prediksi untuk Titik Waktu yang Panjang


Kita menggunakan rata rata arimatika untuk memprediksi imbal hasil akan
datang karena merupakan alat estimasi yang tidak bias untuk imbal hasil
yang diharapkan selapa periode ekuivalen. Tetapi rata rata arimatika dari
imbal hasil jangka pendek dapat menyesatkan ketika digunakan untuk
memprediksi imbal hasil kumulatif jangka panjang. Ini karena kesalahan
penarikan sampel dalam estimasi imbal hasil yang diharapkan akan
mempunyai dampak yang tidak simetris ketika digunakan periode yang

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 9


AIRLANGGA SURABAYA
panjang. Variasi penarikan sampel positif akan membesar ke atas daripada
variasi negatif.
Jacquier, Kane, dan Marcus memperlihatkan sebuah alat prediksi yang tidak
bias atas imbal hasil selama jangka panjang membutuhkan sebuah rata
rata tertimbang dari rata rata historis dan geometris. Bobot yang tepat
diterapkan bagi rata rata geometris sama dengan rasio jaman horizon
prediksi terhadap panjang periode estimasi.

DAFTAR PUSTAKA

Manajemen Investasi & Portofolio | Chapter 5 Introduction to Risk, Return, and The Historical Record

MAGISTER AKUNTANSI | DEPARTEMEN AKUNTANSI | FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS 10


AIRLANGGA SURABAYA