Anda di halaman 1dari 25

PERCOBAAN 5

OSBORNE REYNOLDS

5.1 PENDAHULUAN

5.1.1 Tujuan Percobaan


Tujuan dari percobaan ni adalah untuk mengamati jenis aliran laminar,
transisi dan turbulen.

5.1.2 Latar Belakang


Fluida dapat mengalir di dalam pipa atau saluran dengan beberapa cara
tergantung gaya yang mempengaruhinya. Perilaku fluida yang berupa aliran ini
merupakan salah satu hal pokok dalam satuan operasi. Aliran fluida ini dalam
cabang ilmu mekanika fluida dapat diketahui dengan adanya bilangan tak
berdimensi, yaitu reynold number. Dengan mengetahui bilangan tak berdimensi
tersebut dapat didefinisikan jenis-jenis aliran suatu fluida yang dapat berupa aliran
laminar, transisi, atau turbulen.
Skala laboratorium, reynolds number diuji berdasarkan bentuk aliran
warna dalam fluida yang membentuk garis lurus, acak, atau di antara keduanya.
Kemudian ditentukan nilainya dengan menggunakan variabel yang diperlukan
seperti densitas, viskositas, kecepatan dan diameter pipa, sehingga didapat jenis
aliran yang terjadi.
Bilangan Reynolds ini banyak digunakan dalam industri minyak,
makanan, dan minuman. Pengaplikasian bilangan Reynold dalam industri-industri
yaitu menjadi faktor dalam pengontrol kecepatan aliran zat cair yang masuk dalam
reaktor, distribusi cairan dari suatu titik ke titik lain, pencampuran materi dalam
silinder, sistem pelumasan, peredam kejutan, dan lain-lain. Oleh karena itu,
percobaan ini penting dilakukan agar praktikan dapat membedakan aliran laminar,
transisi, maupun turbulen.

V-1
V-2

5.2 DASAR TEORI

Perilaku zat cair yang mengalir sangat bergantung pada kenyataan apakah
fluida itu berada di bawah pengaruh bidang batas padat atau tidak. Di daerah
dimana pengaruh dinding itu kecil, tegangan geser mungkin dapat diabaikan dan
perilaku fluida itu mungkin mendekati perilaku fluida ideal. Aliran fluida
demikian disebut sebagai aliran potensial, yang mempunyai ciri pokok : (1) dalam
aliran itu tidak terdapat sirkulasi atau putaran dan (2) dalam aliran itu tidak ada
gesekan, sehingga tidak ada pelepasan energi mekanik menjadi kalor.
Rasio antara viskositas absolut dan densitas fluida / , biasanya sangat
berguna. Sifat ini disebut viskositas kinematik dan ditandai dengan lambang .
Untuk membedakan dan , maka dinamakan viskositas dinamik. Dalam satuan
SI, satuan adalah m2/s. Dalam cgs, viskositas kinematik disebut stoke (st), yang
didefinisikan ialah 1 cm2/s, satuannya adalah fps (square feet per second ), faktor
konversinya adalah :

1 m2/s = 104 st = 10,7639 ft2/s ............ (5.1)

Viskositas kinematik ini berubah dengan suhu dalam jangkauan lebih sempit dari
viskositas absolut (McCabe, 1999).
Apabila kecepatan suatu fluida yang mengalir dalam sebuah pipa
melampaui harga kritik tertentu (yang bergantung pada sifat-sifat fluida), maka
sifat aliran menjadi sangat sulit, kecepatan aliran di dalam lapisan batas pada
dinding pipa adalah nol dan semakin bertambah secara uniform di dalam lapisan
itu. Sifat-sifat lapisan batas sangat penting sekali dalam menentukan ketahanan
terhadap aliran, dan dalam menentukan perpindahan panas ke atau dari fluida
yang sedang tidak bergerak itu.
Aliran fluida secara umum bisa kita bedakan menjadi dua macam, yakni
aliran lurus alias laminar dan aliran turbulen. Aliran lurus bisa kita sebut sebagai
aliran mulus, karena setiap partikel fluida yang mengalir tidak saling berpotongan.
Adapun ciri-ciri umum lainnya dari fluida antara lain :

2
V-3

1. Aliran fluida bisa berupa aliran tunak (steady) dan aliran tak tunak (non-
steady). Aliran fluida dikatakan aliran tunak jika kecepatan setiap partikel di
suatu titik selalu sama. Hal ini terjadi apabila laju aliran fluida rendah alias
partikel fluida tidak saling berdesakan. Contohnya adalah air yang mengalir
dengan tenang. Aliran tak tunak berlawanan dengan aliran tunak. Jadi
kecepatan partikel fluida di suatu titik yang sama selalu berubah.
2. Aliran fluida bisa berupa aliran termampatkan (compressible) dan aliran tak-
termapatkan (incompressible). Jika fluida yang mengalir mengalami perubahan
volum (atau massa jenis) ketika fluida tersebut ditekan, maka aliran fluida itu
disebut aliran termapatkan. Sebaliknya apabila jika fluida yang mengalir tidak
mengalami perubahan volum (atau massa jenis) ketika ditekan, maka aliran
fluida tersebut dikatakan tak termampatkan. Kebanyakan zat cair yang
mengalir bersifat tak-termampatkan.
3. Aliran fluida bisa berupa aliran berolak (rotational) dan aliran tak berolak
(irrotational). Jika suatu benda (contohnya kincir) berada di atas air, kemudian
kincir itu bergerak tapi tidak berputar, maka gerakannya adalah tak berolak.
Sebaliknya jika bergerak sambil berputar maka gerakannya kita sebut berolak.
4. Aliran fluida bisa berupa aliran kental (viscous) dan aliran tak kental (non-
viscous). Kekentalan dalam fluida itu mirip seperti gesekan pada benda padat.
Makin kental fluida, gesekan antara partikel fluida makin besar.
(San, 2009).
Pelajaran yang mengemukakan adanya transisi, laminar dan turbulen pada
sebuah pipa tidak hanya menyangkut velocity, tetapi juga density dan viscosity
dari fluida dan diameter pipa tersebut. Variabel-variabel ini dicakup dalam
bilangan Reynolds, yaitu :

D
Nre = ................(5.2)

Dimana,
Nre = Bilangan Reynolds
D = diameter (m, cm, ft)
V-4

= densitas fluida (kg/m3, g/cm3, lbm/ft3)


= viskositas (Pa.s , g/cm.s , lbm/ft.s)
=velocity atau kecepatan rata-rata dari fluida (m/s, cm/s , ft/s)
(Geankoplis, 1997).
Pengamatan-pengamatan selanjutnya menunjukan bahwa transisi dari
aliran laminar menjadi aliran turbulen dapat berlangsung pada suatu kisaran
Reynolds number yang cukup luas. Aliran laminar selalu ditemukan pada
Reynolds number dibawah 2.100 tetapi bisa terdapat pada Reynolds number
sampai beberapa ribu, yaitu dalam kondisi khusus dimana lubang-lubang tabung
sangat baik kebundarannya, dan zat cair didalam tangki sangat tenang. Pada
kondisi Aliran biasa, aliran turbulen pada Reynolds number di atas 4.000. Antara
2.100 dan 4.000 itulah yang disebut transisi, dimana jenis aliran itu mungkin
laminar dan mungkin pula turbulen, bergantung pada kondisi di lubang masuk
tabung dan jaraknya dari lubang masuk itu (McCabe, 1999).
Pada aliran laminar, fluida berlaku sebagai lapisan-lapisan konsentris yang
mengalir dengan kecepatan maksimum. Pada bagian sumbu pipa, dan kecepatan
yang saling rendah pada bagian dinding dengan pola distribusi berupa parabola.
Jika zat warna diinjeksikan pada laju aliran rendah, zat warna mengalir tanpa
adanya gangguan bersama aliran umum dan tidak terlihat adanya campur silang.
Proses pencampuran hanya terjadi karena adanya difusi molekuler. Perilaku aliran
zat warna ini menunjukkan dengan jelas bahwa aliran itu laminar

Gambar 5.1 Pola Aliran Laminar


Pada aliran pipa yang turbulen,zat warna yang diinjeksi akan tercampur
secara cepat karena pergerakkan lateral di dalam aliran dan perilaku aliran zat
warna terlihat tidak beraturan. Gerakan-gerakan ini terlihat acak dan tidak
beraturan akibat tidak stabilnya aliran.
V-5

Gambar 5.2 Pola Aliran Turbulen


Aplikasi Reynolds number dalam industri, untuk aliran yang bersifat
laminar, aplikasinya terbatas pada aliran fluida yang sangat kental pada kecepatan
rendah, seperti dalam suatu pelumasan dan perendam kejutan. Sedangkan aliran
turbulen terjadi alam proses pencampuran (mixing), antara lain : pencampuran
bahan bakar dan udara dalam silinder motor bakar dan pencampuran zat warna
dalam suatu larutan (McCabe, 1999).
Kecepatan linier sebuah fluida yang mengalir melalui sebuah pipa tidak
tebatas. Pada aliran laminar kecepatannya linier tetapi berbanding lurus dengan
berbagai panjang diameter pipa. Pada aliran turbulen kecepatannya juga tidak
linier dan konstan disetiap diameter pipa. Artinya, kecepatan ditentukan volume
fluida yang mengalir memberikan poin atau yang dilepaskan sistem aliran
perdetik oleh luas penampang pipa. Di dalam aliran laminar, cairan bergerak
hanya pada suatu arah pada permukaan pipa, cairan hanya memberikan pengaruh
atas fluida yang mengalir yang ditentukan oleh besarnya sifat dari cairan, terutama
viskositas (Brown, 1956).
Aliran pipa pada bilangan Reynold tersebut mengindikasikan secara jelas
jarak aliran dari tipe yang diberikan. Sebagai contoh untuk bilangan Reynold yang
lebih kecil dari 2100 adalah aliran laminar, dari 2100 sampai 4000 adalah aliran
transisi dan dari 4000 ke atas adalah aliran turbulen. Batas antara transisi dan
turbulen tidak selalu didefinisikan secara jelas, harus dipertimbangkan dari situasi
yang mungkin ditemukan (Griskey,2002).
V-6

5.3 METODOLOGI PERCOBAAN

5.3.1 Alat dan Deskripsi Alat


Alat alat yang digunakan pada percobaan ini adalah:
- Pompa
- Gelas ukur 100 ml dan 1000 ml
- Rangkaian alat percobaan Osborne Reynolds (Gambar 5.4)
- Stopwatch
- Termometer

Deskripsi Alat:
1

1
2 2
3

5
6

10

11

12

13

Keterangan :
1. Penampung zat warna
3
4 2. Kran aliran zat warna
5 3. Sekrup pengatur ketinggian
6
7 4. Tangki
5. Overflow
8
V-7

6. Jarum suntik
9 7. Bell mouth entry
8. Kelereng kaca
9. Pipa pemasukan
10
10. Test-section
11. Flow control valve
11 12. Pipa pengeluaran
12 13. Penyangga yang dapat diatur
13
14 14. Gelas ukur

Gambar 5.3 Rangkaian Alat Percobaan Osborne Reynolds

5.3.2 Bahan
Bahan bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah:
- Zat warna biru
- Air

5.3.3 Prosedur Percobaan


5.3.3.1 Persiapan Alat
1. Rangkaian alat percobaan Osborne Reynolds dirangkai dan pipa pemasukan
dihubungkan dengan keran tandon.
2. Pompa dinyalakan dan kran tandon dibuka dengan bukaan yang telah diatur
serta tangki dibiarkan terisi penuh dengan air hingga overflow.
3. Pipa pengmatan pada test section dicek, apakah telah terisi penuh dengan baik
tanpa adanya gelembung udara.
4. Flow control valve dan kran tandon sedikit dibuka hingga overflow
dihasilkan, kemudian putaran pengontrol aliran zat warna diatur hingga zat
warna yang dilihat di test section jelas dan garis lurus terbentuk.
V-8

5.3.3.2 Pengambilan data


1. Kran dibuka pada bukaan 1, kemudian flow control valve dibuka dengan
sudut putar 15o, 30o, 45o dan 60o. Lalu aliran zat warna pada pipa test section
diamati.
2. Air yang keluar dari pipa pengeluaan ditampung menggunakan gelas ukur
selama 5 detik, dan volume air yang tertampung diukur. Langkah ini diulangi
3 kali
3. Langkah kerja 1 dan 2 diulangi dengan bukaan 2 dan 3, serta flow control
valve dibuka sesuai dengan sudut putar yang ditentukan, dan aliran zat warna
pada pipa test section diamati. Hasil ditulis dalam tabel pengamatan.
4. Suhu air diukur dengan termometer
V-9

5.4 HASIL DAN PEMBAHASAN


5.4.1 Data Pengamatan
Dari hasil percobaan diperoleh data sebagai berikut:
T : 28oC
Viskositas kinematika : 0,836 x 10-6 m2/s
Tabel 5.1 Hasil Pengamatan pada Bukaan 1
Visualisasi Gambar
Sudut Putar
Volume Tertampung (mL) Waktu Penampungan (s) sifat aliran Aliran
Kran (0)
1 2 3 Vavg (cm3) Vavg (m3) 1 2 3 T
15 34,33 3,43.10-5 5 5 5 5 laminar
30 53,33 5,33.10-5 5 5 5 5 laminar
45 60,33 6,03.10-5 5 5 5 5 transisi
60 170 17.10-4 5 5 5 5 turbulen
V-10

Tabel 5.2 Hasil Pengamatan pada Bukaan 2


visualisasi sifat Gambar
sudut putar volume tertampung (mL) waktu penampungan (s) aliran Aliran
0
kran( ) 1 2 3 Vavg (cm3) 3
Vavg(m ) 1 2 3 T
15 90 87 89 88,67 8,867.10 -5
5 5 5 5 laminar
30 160 140 155 151,67 15,167.10-5 5 5 5 5 transisi
45 220 220 220 211,67 21,667.10-5 5 5 5 5 transisi
60 250 270 270 263,36 26,363.10-5 5 5 5 5 turbulen

Tabel 5.3 Hasil Pengamatan pada Bukaan 3


visualisasi sifat Gambar
sudut putar volume tertampung (mL) waktu penampungan (s) aliran Aliran
0
kran( ) 1 2 3 Vavg (cm3) 3
Vavg(m ) 1 2 3 T
15 165 160 160 161,67 16,167.10 -5
5 5 5 5 transisi
30 210 222 218 216,67 21,667.10 -5
5 5 5 5 transisi
45 270 278 290 279,33 27,933.10-5 5 5 5 5 turbulen
60 325 330 325 326,67 32,667.10-5 5 5 5 5 turbulen

5.4.2 Hasil Perhitungan


V-11

Tabel 5.4 Hasil Perhitungan pada Bukaan 1


A = 7,854 x 10-5 m2
d = 0,01 m
Nre visualisasi sifat aliran
sudut flowrate(Qt) velocity (u) Nre kesalahan relatif
perhitungan xy x2
putar (x) m3/s m/s percobaan perhitungan persamaan (%)
(y)
150 6,866x10-6 0,087 1040,669 laminar laminar 15610,035 225 521,525 99,543
300 1,066x10-5 0,135 1614,832 laminar laminar 48444,96 900 1784,691 9,517
450 1,206x10-5 0,153 1830,143 laminar transisi 12356,43 2025 3047,857 39,95
600 3,4x10-5 0,433 5179,425 turbulen turbulen 310767,12 3600 4311,023 20,14
=1500 =9665,096 =457178,5 =6750
Nilai nilai yang diperoleh:
a = 84,211
b = -741,641
y = 84,211x 741,641

Tabel 5.5 Hasil Perhitungan pada Bukaan 2


A = 7,854 x 10-5 m2
V-12

d = 0,01 m
Nre visualisasi sifat aliran Nre
sudut flowrate(Qt) velocity (u) 2
kesalahan relatif
perhitungan xy x persamaa
putar (x) m3/s m/s percobaan perhitungan (%)
(y) n
150 1,773x10-5 0,226 2703,349 transisi transisi 73744,005 225 2793,0613 3,212
300 3,033x10-5 0,386 4617,224 turbulen turbulen 197727,27 900 4587,3201 0,652
450 4,333x10-5 0,551 6590,909 turbulen turbulen 382715,28 2025 6381,5784 3,280
600 5,272x10-5 0,671 8026,315 turbulen turbulen 596411,46 3600 8175,8367 1,828
=1500 =21937,797 =1250598,015 =6750

Nilai nilai yang diperoleh:


a = 119,617
b = 998,8035
y = 119,617x + 998,8035

Tabel 5.6 Hasil Perhitungan pada Bukaan 3


A = 7,854 x 10-5 m2
d = 0,01 m
V-13

Nre visualisasi sifat aliran


sudut flowrate(Qt) velocity (u) Nre kesalahan relatif
perhitungan perhitunga xy x2
putar (x) m3/s m/s percobaan persamaan (%)
(y) n
150 3,233x10-5 0,411 4916,267 turbulen turbulen 40550,23 225 4940,1907 0,484
300 4,333x10-5 0,551 6590,989 turbulen turbulen 138516,72 900 6638,7554 0,72
450 5,586x10-5 0,711 8504,784 turbulen turbulen 296590,905 2025 8337,3201 2,008
600 6,533x10-5 0,831 9940,19 turbulen turbulen 481578,9 3600 10035,884 0,953
=1500 =29952,151 =957236,76 =6750

Nilai nilai yang diperoleh:


a = 113,23
b = 3241,63
y = 113,23x + 3241,63
V-14

5.4.3 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan pada pengamatan jenis aliran fluida pada variasi
bukaan 1, 2 dan 3 serta sudut putar 15 o, 30o, 45o dan 60o. Pada percobaan ini
digunakan pula zat warna yang berupa tinta biru yang berfungsi memperjelas
aliran yang timbu pada air untuk menggambarkan pola aliran yang terjadi saat
fluida melalui test section. Pada percobaan ini juga menggunakan tangki yang
diisi kelereng untuk mencegah terjadinya gelembung udara ketika menggunakan
air dari pipa pemasukan kerena laju aliran sangat besar sehingga menimbulkan
gejolak dan gelembung udara dalam tangki.
Aliran laminar terjadi pada laju aliran yang rendah dan akan
memperlihatkan zat warna yang mengalir membentuk garis lurus tanpa adanya
gangguan serta memiliki nilai Reynold Number dibawah 2100. Aliran turbulen
terbentuk apabila keceparan alirannya sangat besar dan membentuk pola aliran
tidak stabil/arah alirannya tidak beraturan serta memiliki nilai Reynold Number
diatas 4000. Antara aliran laminar dan turbulen terdapat aliran transisi pada laju
alir sedang, pada aliran transisi sedikit tidak beraturan, terjadi gejolak singkat dan
diikuti oleh aliran yang lebih bersifat laminar.
Variabel-variabel yang diamati pada percobaan ini yaitu memperhatikan
gambaran atau visualilisasi dari setiap aliran yang melewati pipa test section,
mengukur volume tertampung untuk setiap putaran kran, serta waktu
penampungan volume tersebut. Pada setiap variabel dilakukan tiga kali
pengambilan data dan hasilnya dirata-ratakan. Waktu untuk setiap penampungan
volume berkisar 5 detik.
Dari hasil perhitungan pada percobaan, dapat dibuat grafik hubungan
antara sudut putar dengan nilai Reynold Number. Pada kran bukaan 1 dapat dilihat
pada Gambar 5.4.
V-15

6000

5000

4000

Nilai Re 3000
2000

1000

0
10 20 30 40 50 60 70

Sudut (o)

Gambar 5.4 Hubungan antara Sudut Putar dengan NRe pada Bukaan 1

Gambar 5.4 menunjukkan grafik hubungan yang linier antara sudut putar
dengan bilangan Reynoldnya. Semakin besar sudut putaran, maka nilai
reynoldnya juga akan semkain besar sehingga aliran akan lebih turbulen. Dari
hasil perhitungan didapatkan nilai flowrate dan velocity berbanding lurus dengan
sudut putar pada flow control valve dan kran bukaan dimana semakin besar
bukaan kran dan sudut putar pada flow control valve maka flowrate dan velocity
akan semakin besar pula. Jika kecepatan aliran semakin besar, maka aliran
cendrung turbulen, karena nili Reynoldnya akan semakin besar. Sehingga
kecepatan dapat dikatakan berbanding lurus dengan nilai Reynolds.
Pada kran bukaan 1, aliran laminar terbentuk pada sudut flow control valve
15o, 30o dan 45o, sedangkan pada sudut 60o terbentuk aliran turbulen. Hasil
perhitungan dan secara visualisasi aliran terdapat pebedaan, hal ini dikarenakan
kurang telitinya pada saat penempatan jarum pada ben mouth entry. Grafik
hubungan antara reynold number percobaan dan reynold number persamaan
terhadap sudut putar pada flow control valve ditunjukkan oleh Gambar 5.5.
V-16

6000

5000

4000

Nilai Re 3000
2000
Re Percobaan Re Persamaan
1000

0
0.0000E+00 1.0000E-05 2.0000E-05 3.0000E-05 4.0000E-05

Flowrate (m3/s)

Gambar 5.5 Hubungan antara Flowrate dengan Bilangan Reynold pada


Perhitungan dan Bilangan Reynold pada Persamaan Bukaan 1

Gambar 5.5 menunjukkan grafik perbandingan nilai NRe dari hasil


perhitungan dan nilai NRe persamaan. Nilai Reynold persamaan diperoleh dari
analisa dimensi nilai Reynold percobaan dengan metode least square, yaitu y =
84,211x-741,641, dengan nilai a = 84,211 dan b = -741,641. NRe percobaan untuk
sudut putar 15o, 30o, 45o dan 60o berturut-turut adalah 1040,669; 1614,832;
1830,143 dan 5179,525. Sedangkan untuk NRe persamaannya adalah 521,525;
1784,691; 3047,857 dan 4311,23.
Garis NRe perhitungan sebagian berada di atas garis NRe persamaan, hal ini
menunjukkan adanya kesalahan relatif yang berfungsi sebagai paembanding antar
kesalahan pada saat percobaan dengan teorinya, nilai kesalahan relatif pada
bukaan 1 berturut-turut adalah 99,543%; 9,517%; 39,95% dan 20,14%. Nilai
kesalahan relatif pada bukaan 1 yang terbesar ada pada sudut 15o, hal ini
dikarenakan pengaruh friksi yang bekerja pada gesekan fluida dan dipengaruhi
suhu air yang dapat mengakibatkan kinematika viskositas berubah, serta
pengamatan waktu dan volume yang kurang akurat sehingga mempengaruhi nilai
NRe percobaan ketika dimasukkan ke prhitungan. Selanjutnya untuk kran bukaan 2
dapat dibuat grafik sebagaimana Gambar 5.6 berikut:
V-17

9000
8000
7000
6000
5000
Nilai Re 4000
3000
2000
1000
0
10 20 30 40 50 60 70

Sudut (o)

Gambar 5.6 Hubungan antara Putaran Sudut dengan NRe pada Bukaan 2

Grafik pada Gambar 5.6 di atas menunjukkan hubungan antara sudut putar
dan NRe berbanding lurus, hal ini menunjukkan bahwa semakin besar sudut putar
flow control valve maka semakin besar pula nilai bilangan Reynoldnya. Nilai N Re
untuk perhitungan pada sudut putar 15o, 30o, 45o dan 60o berturut-turut adalah
2703,349; 4617,224; 6590,909 dan 8026,315. Sehingga dapat diketahui aliran yan
didapat pada sudut 15o adalah transisi, sedangkan untuk sudut 30o-60o adalah
aliran turbulen. Hasil perhitungan dan secara visualisasi aliran terdapat perbedaan.
Hal ini menandakan aliran yang terlihat pada percobaan dan hasil perhitungan
tidak sesuai, dikarenakan pengamatan zat warna yang mengalir di test section,
serta disebabkan oleh aliran pada pipa pemasukan yang tidak stabil dan adanya
gelembung udara pada alat, serta pengaruh gesekan antara fluida dengan pipa.
Grafik hubunga antara NRe percobaan dan NRe persamaan terhadap sudut putar
pada flow control valve ditunjukkan oleh Gambar 5.7.
V-18

9000
8000
7000
6000
5000
Nilai Re 4000
3000 Re Percobaan Re Persamaan
2000
1000
0
0.000E+00 1.000E+00 2.000E+00 3.000E+00 4.000E+00 5.000E+00

Flowrate (m3/s)

Gambar 5.7 Hubungan antara Flowrate dengan Bilangan Reynold pada


Perhitungan dan Bilangan Reynold pada Persamaan Bukaan 1

Gambar 5.7 menunjukan adanya kesesuaian antara persamaan dengan NRe


percobaan yang ditunjukan oleh hubungan yang berbanding lurus antara NRe
persamaan dan NRe percobaan dengan sudut putar. Dimana Nre persamaan untuk
sudut 15o, 30o, 45odan 60o berturut-turut adalah 2793,0618; 4587,3201;
6381,5784; 8175,8367 ssedangkan untuk Nre percobaan adalah 2703,349;
4617,224; 6590,909 dan 8026;315. Untuk persamaan least square adalah y =
119,617x + 998,8035 dengan nilai a=119,617 dan b=998,8035.
Garis NRe persamaan sebagian besar berhimpit dengan garis Nre
percobaan. Jika semakin berhimpit, maka semakin akurat data yang didapat.
Beberapa titik NRe percobaan ada yang berada diatas dan dibawah garis NRe
persamaan. Hal ini menunjukan adanya kesalahan relatif. Kesalahan relatif
berfungsi sebagai pembanding antara kesalahan pada saat percobaan dengan
teorinya. Dari NRe percobaan dan NRe persamaan maka didapatkan kesalahan
relatifnya pada bukaan 2 berturut-turut 3,212%, 0,652%, 3,280% dan 1,828%.
Pada sudut 45o, memiliki kesalahan relatif pada percobaan yang paling besar. Hal
ini dikarenakan pengamatan waktu dan volume yang kurang akurat sehingga
mempengaruhi nilai NRe percobaan ketika dimasukan ke perhitungan.
Selanjutnya untuk kran bukaan 3 dapat dibuat grafik pada Gambar 5.8.
V-19

12000

10000

8000

Nilai Re 6000

4000

2000

0
10 20 30 40 50 60 70

Sudut (o)

Gambar 5.8 Hubungan antara Putaran Sudut dengan NRe pada Bukaan 3

Grafik diatagambar 5.8 menunjukkan hubungan yang linier antara sudut


putar dengan nilai bilangan Reynoldnya. Semakin besar sudut putaran yang
mempengaruhi velocity yang menyebabkan airan semakin besar jika sudut putaran
flow control valve diperbesar. Ini menunjukan bahwa flow control valve
berpengaruh besar pada pembentukan aliran laminar, transisi atau turbulen.
Dimana dari hasil perhitungan, besarnya NRe pada sudut putar flow control valve
15o, 30o, 45odan 60o berturut-turut adalah 4916,267; 6590,989; 8504,784 dan
9940,19. Dapat dilihat bhawa sudut 15 60 o merupakan aliran turbulen. Hasil
perhitungan dan secara visualisasi aliran terdapat perbedaan, dimana pada
visualisasi percobaan sudut 15 60 o adalah aliran laminar. Ketidaksesuaian ini
dapat disebabkan oleh kesalahan pengamatan pada sat warna yang mengalir ditest
section, serta disebabkan oleh aliran air pada pipa pemasukan yang tidak stabil
dan adanya gelembung udara pada alat, serta pengaruh gesekan antara fluida
dengan pipa. Grafik hubungan antara NRe percobaan dan NRe persamaan
terhadap sudut putar pada flow control valve ditunjukkan oleh Gambar 5.9.
V-20

10000
9000
8000
7000
6000
Nilai Re 5000
4000 Re Percobaan Re Persamaan
3000
2000
1000
0
3.0E-05 3.5E-05 4.0E-05 4.5E-05 5.0E-05 5.5E-05 6.0E-05 6.5E-05 7.0E-05
Flowrate (m3/s)

Gambar 5.9 Hubungan antara Flowrate dengan Bilangan Reynold pada


Perhitungan dan Bilangan Reynold pada Persamaan Bukaan 1

Gambar 5.9 dapat dilihat terdapat kesesuain antara Re persamaan dan Re


percobaan dari hubungan linier terhadap velocity ini menunjukan bahwa
perhitungan hasil percobaan telah sesuai dengan persamaan yang didapatkan
dengan metode least square dapat ditulis y= 113,23x + 3241,63 dengan nilai
a=113,23 dan nilai b=3241,63.
Re percobaan yanf didapat dan Re persamaan berbanding lurus dengan
sudut putar flow control valve. Dimana Re persamaan untuk sudut 15o, 30o, 45odan
60o adalah 4940,1907; 6638,7554; 8337,3101 dan 10035,884. Semakin
berhimpitnya Nre percobaan dengan Nre persamaan maka semakin akurat data
yang diperoleh. Dari perbedaan NRe percobaan dan NRe persamaan didapat
kesalahan relatif pada bukaan 3 berturut-turut adalah 0,484%; 0,72%; 2,008% dan
0,953%. Kesalahan relatif terbesar ada pada sudut 45o hal ini dikarenakan
pengaruh friksi yang bekerja pada gesekan fluida dan dipengaruhi suhu air yang
dapat mengakibatkan kenmatika viskositas berubah, serta pengamatan waktu dan
volume kurang akurat sehingga mempengaruhi nilai NRe percobaan ketika
dimasukan ke perhitungan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi Reynold Number adalah bukaan flow
control valve, nilai friksi, velocity, diameter pipa, dan viskositas kinematika.
Semakin besar bukaan pada flow control valve mengakibatkan flowratenya
V-21

meningkat, sehingga bilangan Reynold meningkat. Semakin besar diameter pipa,


maka semakin besar nilai bilngan Reynold, semakin besar viskositas kinematik
suatu fluida, maka akan semakin kecil bilangan Reynoldnya. Hubungan antara
viskositas kinematika dengan NRe adalah semakin besar viskositas kinematik maka
akan mencegah aliran menuju kondisi turbulen dan kecepatan aliran fluida
menjadi lembut, sehingga NRe semakinkecil. Jadi dapat dikatakan bahwa nilai NRe
dan viskositas kinematika berbanding terbalik.
V-22

5.5 PENUTUP

5.5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang didapat dalam percobaan ini adalah:
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi reynold number adalah viskositas
kinematik, diameter pipa, nilai friksi, bukaan flow control valve dan velocity.
2. Semakin besar putarasan pada flow control valve, maka kecepatan linier juga
semakin besar dan NRe akan semakin meningkat.
3. Pada bukaan 1, aliran laminar ditandai dengan pola aliran garis lurus yang
dibentuk zat warna di dalam air dan terjadi pda sudu putar 15o, 30o, 45o
dengan NRe 1040,669; 1614,832; 1830,113. Alitan turbulen ditandai dengan
aliran zat warna yang sangat cepat dan terlohat menyatu dengan air, terjadi
pada sudut putar 60o dengan nilai Nre 5179,425.
4. Pada bukaan 2, jenis akiran transisi ditandai pola aliran bergolak dan tak ber
aturan, terjadi pada sudut putar 15o dengan Re 2703,349 dan aliran turbulen
terjadi pada sudut putar 30o, 45o, 60o dengan nilai Re 467,224; 6590,909 dan
8026,315.
5. Pada bukaan 3, jenia aliran yang terjadi semuanya adalah turbulen pada sudut
putar 15o, 30o, 45o dan 60o dengan nilai Re sebesar 5916,267; 6590,909;
8504,784 dan 9940,191.

5.5.2 Saran
Saran yang dapat diberikan untuk percobaan ini adalah sebaiknya variasi
sudut lebih bermacam-macam, agar didapatkan hasil data yang lebih bervariasi
untuk jenis alirannya.
DAFTAR PUSTAKA

Brown, G. G, 1956. Unit Operation. John Willey and Son. Inc. New York.

Geankoplis. J. C, 1997.Transport Procces and Separation Prosses Principles


Edisi 4. Prentice-Hall. New York.

Griskey, Richard, G. 2002. Transport Phenomena and Unit Opertaion. John


Willey and Son Inc. New York.

McCabe W.L. dkk. 1999. Operasi Teknik Kimia Jilid 1. Erlangga. Jakarta

San. 2009. Pengantar Fluida Dinamis.


http : //www.gurumuda.com/fluida-dinamis
Diakses tanggal 10 Desember 2015.
LAMPIRAN PERHITUNGAN

Data yang tersedia


Diameter pipa pada test section d = 0,01 m
Luas permukaan pipa A = 7,854. 105 m2
Viskositas Kinematika (29 C) V = 0,836. 105m2/s

a) Pada baukaan 1 sudut putar 15o


1. Flowrate (Qt)
Diketahui : V = 3,433 . 105m3
t=5s
Ditanya :Qt=?
V
Jawab : Qt =
t
3,433. 10 5 m 3
= = 6,866 . 106 m3/s
5s

2. Velocity ()
Diketahui : Qt = 6,866 . 106 m3/ds
A = 7,854. 105 m2
Ditanya : = ?
Qt
Jawab := A
6,866 . 10 6 m3/ s
= = 0,087 m/s
7,854. 10 5 m 2

3. Reynolds number (NRe)


.d
Re percobaan =
V

0,087 m/s . 0,01 m


=
0,836.10 5 m2 /s
= 104,067

4. Reynolds number (NRe) Persamaan dengan metode least square


y = ax + b

LP V-1
Jika dilakukan metode least square, maka:
y = a x + nb x x x y = a (x)2 + n bx
xy = ax2 + bx x n n xy = n ax2 + n bx _
xy - n xy = a [(x)2 bx

xy n xy
a=
(x)2 - n x 2

y a x
b =
n

xy n xy
a=
( x ) 2n x 2

( 150 ) ( 9665,096 ) - 4 ( 457178,55 )


=
( 410 )2 - 4 ( 6750 )

= 84,211
y a x
b = n
( 9665,096 ) - ( 84,211 ) ( 150 )
=
4

= -741,641

Jadi, nilai persamaannya menjadi y = ax+b

NRe persamaan = 84,211 . 15 + (-741,641)

= 521,525

Kesalahan Relatif = |ReRe percobaan


persamaan
Re persamaan
|x 100%
= |1040,669(521,525)
521,525 |x 100
= 99,54%

LP V-2