Anda di halaman 1dari 26

Nama : Tn.

T No RM : 67-73-35
Umur : 56 tahun Ruang : Dahlia C14
Tanggal
Sex : Laki-laki : 4 Oktober 2016
Masuk
: Tidak
Pekerjaan Tanggal Kasus : 11 Oktober 2016
bekerja
: Karangpetir RT 7 RW 2
Pendidikan : SD Alamat
Tambak, Banyumas
Agama : Islam : Peritonitis umum e/c
Diagnosis perforasi colon transversum
: 16 Februari
Tanggal lahir Medis post laparotomi eksplorasi,
1958
colostomy, biopsi H7
Keluhan Utama Nyeri luka operasi, mual, muntah,
kembung, susah bernafas jika
dipaksakan makan dan minum banyak
Riwayat Penyakit Hipoalbumin, anemia, trombositopenia
Sekarang
Riwayat Penyakit Operasi batu ginjal (2013), operasi patah
Dahulu tulang kaki kanan (2013)

Riwayat Penyakit -
Keluarga
Metode : SNST
Skor :5
Interpretasi : Beresiko malnutrisi
Jumlah anggota keluarga: 3
Jenis pekerjaan: tidak bekerja
Jumlah jam tidur sehari: 8 jam per hari
Masalah gastrointestinal: mual, muntah, diare,
anoreksia, perubahan pengecapan/penciuman
Kesehatan mulut: sulit menelan, gigi tidak lengkap
Tidak ada modifikasi diet
Perubahan berat badan: tidak disengaja berkurang
dalam 3 bulan terakhir
Fasilitas memasak: kompor
Fasilitas menyimpan makanan: ditutup tudung saji
Riwayat makan dalam 3 bulan terakhir: makan
utama 1-2x/hari tanpa selingan
Makanan pokok: bubur saring 1-2x/hari @100 g
Sumber protein hewani: telur digoreng ceplok
3x/minggu @60 gram
Sumber protein nabati: tahu 2x/minggu @100
gram, tempe 2x/minggu @50 gram
Sayur: sayur bening 3-4x/minggu
Buah: tidak menyukai buah
Minuman: air putih hangat 4-5 gls/hari
LLA (cm) Panjang ulna TB estimasi BBI estimasi
(cm) (cm) (kg)
20 24 160,7 39,5

Persentil LLA pasien berada pada nilai < 70 %


yaitu 63,09% sehingga dapat disimpulkan
bahwa pasien memiliki status gizi buruk.
Parameter Nilai Normal Awal Kasus Keterangan
Total protein 6,6 8,7 mg/dL 3,59 Rendah
Albumin 3,46 4,8 g/dL 1,51 Rendah
BUN (UV) 4,7 23 mg/dL 55,8 Tinggi
Kreatinin 0,50 1,20 mg/dL 2,15 Tinggi
HGB 14 18 g/dL 10,5 Rendah
MCV 80 100 fL 73,7 Rendah
MCH 28 34 pg/sel 24,6 Rendah
WBC 4,8 10,8 10e3/uL 25,9 Tinggi
Neutrofil 36 73 % 22,7 Rendah
Limfosit 15 45 % 1,38 Rendah
Fisik : kesan umum sedang, compos mentis.
Klinik
Tensi : 110/70 mmHg (normal = 120/80 mmHg)
Nadi : 88 x/menit (normal = 80 100 x/menit)
Suhu : 36,60 C (normal = 36 37,20 C)
Keluhan: nyeri luka operasi, mual, muntah, susah
bernafas jika dipaksakan mengkonsumsi
makanan dalam jumlah banyak.
Kepala, ekstremitas atas, ekstremitas bawah, dll:
Kepala: normochepal.
Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah: kaki
kanan lumpuh, kaki kanan dan kiri bawah
bengkak, kulit kaki kiri mengelupas.
Terdapat luka operasi yang tertutup kassa.
Hasil recall 24 jam diet: Rumah sakit
Diet RS: TKTP, BB ex jp 2x

Implementasi Energi (kal) Protein (g) Lemak (g) KH (g)

Asupan Oral 198,5 15,7 0,5 79,7

Kebutuhan
1713 89,3 58,5 196,1
(standar RS)

% Pemenuhan 11,58 % 17,58 % 0,85 % 40,64 %


IVFD RL 24 tpm: Larutan infus untuk memelihara keseimbangan atau
mengganti elektrolit dan cairan tubuh
Inj. meropenem 2 x 1 g: Sebagai antibiotik pada infeksi di daerah kulit
dan abdominal yang disebabkan oleh bakteri. Mengandung natrium
karbonat, perlu menjadi perhatian pada pasien yang membatasi
natrium
Inj. ketorolac 3 x 30 mg: Penatalaksanaan jangka pendek, nyeri akut -
berat setelah operasi. Efek samping: diare, dispepsia, nyeri
gastrointestinal, nausea, sakit kepala, pusing, mengantuk, berkeringat,
asma, dispnea, pruritus, urtikaria, vasodilatasi. Bisa dikonsumsi
bersamaan dengan makanan atau tidak
Inj. ranitidin 2 x 50 mg: Menghambat sekresi asam lambung,
mempercepat penyembuhan tukak. Diberikan selama dan di antara
waktu makan atau sebelum dan sesudah makan tidak menjadi
masalah
(NI 2.1) Asupan oral inadekuat berkaitan
dengan gangguan gastrointestinal dibuktikan
oleh mual, muntah, kesulitan menelan,
perubahan indera pengecapan dan recall
asupan makan 24 jam yang masih defisit.
(NI 5.1) Peningkatan kebutuhan zat gizi spesifik
(protein dan energi) berkaitan dengan
penyembuhan luka dan perbaikan jaringan
dibuktikan oleh hasil pemeriksaan protein total
rendah, albumin rendah, hemoglobin rendah,
dan kondisi pasca bedah laparotomi
eksplorasi.
Tujuan Diet :
Memberikan makanan secara bertahap
sesuai daya terima dan kondisi pasien.
Membantu mempercepat
penyembuhan luka pasca operasi.
Membantu meningkatkan albumin dan
Hb.
Energi tinggi.
Protein tinggi, yaitu 1,5 g/kg BB.
Lemak cukup, yaitu 25% dari total
kebutuhan per hari.
Karbohidrat by difference.
Albumin tinggi.
Memberikan makanan sesuai daya terima
secara bertahap yaitu dengan pemberian
makanan melalui naso gastric tube (NGT).
Makanan tidak merangsang saluran cerna.
Frekuensi pemberian makan 6 kali per hari.
TEE = 2068,6146 kkal
Protein = 91,05 gram
Lemak = 57,46 gram
Karbohidrat = 296,81 gram
Cairan = 3035 ml
Albumin = 94,692 gram
Terapi Diet : Sonde TKTP 2x 160 ml,
Peptisol 2x 160 ml, jp 2x 160 ml
Bentuk makanan : Cair
Cara pemberian : NGT
Yang diukur Pengukuran Evaluasi/target
Antropometri LILA Akhir kasus Tetap/normal
Total protein, albumin, BUN
(UV), kreatinin, hemoglobin, Menyesuaikan
Biokimia Normal
MCV, MCH, WBC, neutrofil, dokter
limfosit
- Kesan umum - Baik
- Vital sign (tekanan darah, - Normal
Menyesuaikan
Fisik Klinis nadi, suhu, respirasi) - Normal
dokter
- Ekstremitas - Berkurang
- Keluhan
- Energi, protein, lemak, - Memenuhi
karbohidrat kebutuhan
Asupan zat gizi Setiap hari
- Daya terima basal
- Baik
Masalah gizi Tujuan Materi konseling Keterangan
Asupan oral Memberikan Pemberian motivasi Pemberian
inadekuat edukasi dan kepada pasien konseling
pemahaman untuk menghabiskan dilakukan
kepada keluarga makanan kepada
tentang Tahapan keluarga pasien.
pentingnya pemberian Konseling
mencukupi makanan yang akan dilakukan di
asupan gizi diterima pasien bangsal dan
berkaitan dengan selama di RS diberikan ketika
kondisi pasien Pentingnya asupan pasien akan
oral yang adekuat pulang dari
untuk membantu rumah sakit atau
proses pada saat akhir
penyembuhan kasus.
penyakit
Masalah gizi Tujuan Materi konseling Keterangan
Peningkatan Memberikan Pentingnya Pemberian
kebutuhan edukasi serta pemenuhan konseling
zat gizi pemahaman kebutuhan gizi saat dilakukan
spesifik kepada pasien sakit kepada
(protein dan dan keluarga Bahan makanan keluarga pasien.
energi) pasien tentang sumber energi dan Konseling
pemenuhan gizi protein dilakukan di
(energi dan Pentingnya protein bangsal dan
protein) yang untuk membantu diberikan ketika
meningkat proses pasien akan
mengikuti kondisi penyembuhan luka pulang dari
pasien post operasi dan rumah sakit atau
menggantikan pada saat akhir
jaringan yang rusak kasus.
Kajian Terapi Standar Diet Rumah Sakit
Tanggal Terapi Diet Bentuk Cara
Makanan Pemberian
13 Oktober Sonde TKTP 2x250 ml, Peptisol Cair NGT
2013 2x250 ml, jp 2x250 ml

Energi Protein Lemak KH


(kkal) (g) (g) (g)
Standar diet RS 1306,4 89,4 22,1 187,6
Kebutuhan 2068,615 91,05 57,46152 296,81523
%standar/
63,15 % 98,18 % 38,46 % 63,20 %
kebutuhan
Rekomendasi Diet Dahlia C14.pdf
Tanggal Terapi Diet Bentuk Cara
Makanan Pemberian
13 Oktober Sonde TKTP 2x160 ml, Peptisol Cair NGT
2013 2x160 ml, jp 2x160 ml

Energi Protein Lemak KH


(kkal) (g) (g) (g)
Nilai gizi
836,1 57,2 14,1 120,1
rekomendasi
Kebutuhan 2068,615 91,05 57,46152 296,81523
%standar/ 40,41 % 62,82% 24,53% 40,46%
kebutuhan
Monitoring dan Evaluasi Dahlia C14.pdf
Pasien didiagnosis medis mengalami peritonitis umum e/c perforasi
colon transversum post laparotomi eksplorasi, colostomy, biopsi.
Skrining gizi dilakukan di awal asesmen dan memberikan hasil skor
5, yaitu pasien beresiko mengalami malnutrisi.
Asesmen awal menunjukkan:
Persentil LLA pasien berada pada nilai 63,09 % sehingga dapat disimpulkan
bahwa pasien memiliki status gizi buruk.
Hasil pemeriksaan biokimia pada awal asesmen untuk total protein, albumin,
hemoglobin, MCV, MCH, neutrofil, dan limfosit rendah, sedangkan untuk hasil
pemeriksaan BUN (UV), kreatinin, dan WBC tinggi.
Kesan umum pasien sedang, compos mentis; vital sign normal; pasien mengeluh
nyeri luka operasi, mual, muntah, susah bernafas; tampak edema pada
ekstremitas bawah.
Asupan makan pasien jika dibandingkan dengan standar diet RS masih defisit
karena kurang dari 80%.
Diagnosis gizi yaitu:
Asupan oral inadekuat berkaitan dengan gangguan gastrointestinal dibuktikan oleh mual,
muntah, kesulitan menelan, perubahan indera pengecapan dan recall asupan makan 24
jam yang masih defisit.
Peningkatan kebutuhan zat gizi spesifik (protein dan energi) berkaitan dengan
penyembuhan luka dan perbaikan jaringan dibuktikan oleh hasil pemeriksaan protein total
rendah, albumin rendah, hemoglobin rendah, dan kondisi pasca bedah laparotomi
eksplorasi.
Intervensi yang dilakukan yaitu memberikan rekomendasi diet sonde TKTP 2x 160 ml,
Peptisol 2x 160 ml, jus putih telur 2x 160 ml dengan bentuk makanan cair melalui
NGT yang direncanakan untuk diberikan secara bertahap sesuai dengan kondisi
pasien.
Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap hari dengan melihat aspek antropometri,
biokimia, fisik klinik, dan asupan. Pada aspek antropometri, LLA pasien mengalami
penurunan 0,2 cm. Hasil pemeriksaan biokimia untuk albumin pada hari pertama
monev mengalami peningkatan. Pada aspek fisik klinik tekanan darah pasien
masuk dalam tahap prehipertensi. Pada aspek monev asupan, asupan enteral
pasien masih fluktuatif dan tergolong defisit.
Pasien diharapkan dapat meningkatkan
asupannya secara bertahap untuk memenuhi
kebutuhannya.
Pihak keluarga diharapkan dapat senantiasa
memotivasi pasien untuk menghabiskan
makanannya sehingga membantu mempercepat
proses penyembuhan.