Anda di halaman 1dari 5

BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK

Batuan Sedimen non klastik adalah batuan sedimen yang tidak berasal dari pecahan
batuan atau material lain. Proses pembentukannya dapat berupa proses kimiawi dan organik.
Sebagai contoh batuan sedimen non klastik yang terbentuknya dari proses kimiawi adalah
batu rijang dan batu halit dari proses evaporasi. Kemudian contoh batuan sedimen non klastik
yang terbentuknya dari proses organik adalah batugamping yang berasal dari organisme yang
telah mati dan batu bara yang berasal dari sisa sisa tumbuhan yang telah terubahkan. Dalam
keadaan tertentu proses yang terjadi tergolong kompleks. Dimana sulit membedakan antara
batuan yang berasal dari proses kimia dengan batuan yang berasal dari proses biologi (yang
secara langsung juga mengalami proses kimia). Jadi proses yang dominan sebagai pembentuk
batuan sedimen non klastik ini adalah reaksi kimia. Dimana macam-macam sedimen non
klastik ini dibedakan menjadi 4 kelompok yaitu :
1. Batuan Sedimen Evaporit
Batuan sedimen evaporit adalah batuan sedimen yang terbentuk karena proses penguapan
yang terjadi di daerah laut (evaporasi). Proses penguapan air laut menjadi bentuk uap
mengakibatkan tertinggalnya bahan kimia yang kemudian dapat menghablur apabila hampir
semua kandungan air menjadi uap. Prose pembentukan garam adalah melalui proses ini.
Dimana proses penguapan ini membutuhkan cahaya sinar matahari yang cukup lama.
Contohnya adalah batuan garam (rock salt) yang berupa halite (NaCl) dan batuan gipsum
yang berupa gipsum (CaSO4.2H2O)

2. Batuan Sedimen Karbonat


Batuan sedimen karbonat terbentuk melalui prose kimiawi dan juga proses biokimia.
Kelompok batuan karbonat adalah batugamping dan dolomit. Mineral utama pembentuk
batuan karbonat adalah : Kalsit (CaCO3), Dolomit (CaMG(CO3)2).
Nama-nama batuan karbonat:
a. Mikrit (Micrite) (microcrystalline limestone), berbutir sangat halus, mempunyai warna
kelabu cerah hingga gelap, tersusun dari lumpur karbonat (lime mud) yang juga dikenali
sebagai calcilutite.
b. Batugamping oolitik (Oolitic limestone) batugamping yang komponen utamanya terdiri
dari bahan atau allokem oolit yang berbentuk bulat.
c. Batugamping berfosil (Fossiliferous limestone) merupakan batuan karbonat hasil dari
proses biokimia. Fosil yang terdiri dari bahan / mineral kalsit atau dolomit merupakan bahan
utama yang membentuk batuan ini.
d. Kokina (Coquina) cangkang fosil yang tersedimen.
e. Chalk terdiri dari kumpulan organisme planktonic seperti coccolithophores; fizzes
readily in acid.
f. Batugamping kristalin (Crystalline limestone).
g. Travertine terbentuk dalam gua batugamping dan di daerah air panas hasil dari proses
kimia.
h. Batugamping intraklastik (intraclastic limestone), pelleted limestone.
3. Batuan Silika
Batuan sedimen silika tersusun dari mineral silika (SiO2). Batuan ini terhasil dari proses
kimiawi dan atau biokimia, dan berasal dari kumpulan organisme yang berkomposisi silika
seperti diatomae, radiolaria dan sponges. Kadang-kadang batuan karbonat dapat menjadi
batuan bersilika apabila terjadi reaksi kimia, dimana mineral silika mengganti kalsium
karbonat. Kelompok batuan silika adalah:
Diatomite, terlihat seperti kapur (chalk), tetapi tidak bereaksi dengan asam. Berasal dari
organisme planktonic yang dikenal dengan diatoms (Diatomaceous Earth).
Rijang (Chert), merupakan batuan yang sangat keras dan tahan terhadap proses lelehan,
masif atau berlapis, terdiri dari mineral kuarsa mikrokristalin, berwarna cerah hingga gelap.
Rijang dapat terbentuk dari hasil proses biologi (kelompok organisme bersilika, atau dapat
juga dari proses diagenesis batuan karbonat.
4. Batuan Organik
Endapan organik terdiri daripada kumpulan material organik yang akhirnya mengeras
menjadi batu. Contoh yang paling baik adalah batubara. Serpihan daun dan batang tumbuhan
yang tebal dalam suatu cekungan (biasanya dikaitkan dengan lingkungan daratan), apabila
mengalami tekanan yang tinggi akan termampatkan, dan akhirnya berubah menjadi bahan
hidrokarbon batubara.
Tabel dibawah adalah daftar nama-nama Batuan Sedimen Non-klastik (berdasarkan
genesa pembentukannya).
KLASIFIKASI BATUAN SEDIMEN NON-KLASTIK

Kelompok Tekstur Komposisi Nama Batuan


An-organik Klastik atau Calcite, CaCO3 Batugamping
Non-klastik Klastik
Klastik atau Dolomite, CaMg(CO3)2 Dolomite
Non-klastik
Non-klastik Mikrokristalin quartz, Rijang (Chert)
SiO2
Non-klastik Halite, NaCl Batu Garam
Non-klastik Gypsum, CaSO4-2H2O Batu Gypsum
Biokimia Klastik atau Calcite, CaCO3 Batugamping
Non-klastik Terumbu
Non-klastik Mikrokristalin Quartz Rijang (Chert)
Non-klastik Sisa Tumbuhan yang Batubara
terubah

Tabel.1 Klasifikasi Batuan Sedimen Non Klastik (berdasarkan genesa pembentukannya)


Proses pembentukan batuan sedimen non klastik ini mempunyai 1 sifat yang sama
dari pembentukan batuan sedimen klastik yaitu pembentukan dari larutan larutan. Dimana
larutan larutan tersebut adalah bahan kimia berupa unsur tertentu. Pada sedimen klastik
proses yang melibatkan proses kimiawi ini hanya pada fase diagenesis, yaitu proses perekatan
batuan oleh larutan larutan yang mengisi rongga rongga pada material lepasan. Namun
pada batuan sedimen non klastik ini proses kimiawi menjadi proses utama dari pembentukan
batuan. Hal ini juga tergantung dari jenis batuan sedimen non klastik tersebut. Jika termasuk
dalam kelompok batuan evaporit, maka pembentukannya adalah berupa kristalisasi material
karena proses pengupan air. Jika kelompok batuan karbonatan maka akan melibatkan proses
biologis karena larutan kimia berasal dari pelarutan sisa-sisa organisme. Yang kemudian
mengalami pengendapan dan penguapan sehingga terbentuk batuan karbonatan. Kemudian
kelompok batuan silikat, maka pembentukannya dapat terjadi pada zona laut dalam. Dimana
tidak terdapat unsur karbonatan, melainkan unsur silikat hasil pelarutan dari organisme
radiolaria dan diatomae. Kemudian mengalami proses pengendapan dan kompaksi. Dan yang
terakhir adalah batuan organik sebagai contoh adalah batu bara. Dimana proses
pembentukannya karena sisa sisa organisme tumbuhan terlarut oleh air dan termampatkan
pada suatu cekungan dengan kondisi tekanan tinggi maka dapat berubah menjadi
hidrokarbon. Larutan hidrokarbon ini yang kelak dapat menjadi batu bara setelah terproses
sangat lama. Jadi proses pembentukannya secara keseluruhan didominasi oleh perlarutan
material menjadi bahan kimia tertentu. Kemudian bahan kimia tersebut mengalami proses
pengendapan dan kompaksi pada keadaan dan kondisi tertentu sehingga dapat membentuk
batuan.

Gb. Batu Bara Gb. Batu Gypsum

Gb. Batu Dolomit

DAFTAR PUSTAKA
http://miningundana07.wordpress.com/2009/10/08/batuan-sedimen-non-klastik/ Diakses pada
hari senin, tanggal 28 April 2014, pukul 22:30 WIB
http://rafliriandi.tumblr.com/post/54266351862/petrologi-batuan-sedimen-klastik-dan-non-
klastik Diakses pada hari senin, tanggal 28 April 2014, pukul 22:35 WIB
http://pojanwibawa.wordpress.com/tag/batuan-sedimen-non-klastik/ Diakses pada hari senin,
tanggal 28 April 2014, pukul 22:35 WIB