Anda di halaman 1dari 19

Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.

1 April 2010 ISSN : 1907-9931

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii


dan Eucheuma denticullatum TERHADAP BAKTERI Aeromonas hydrophila DAN Vibrio
harveyii

DWI BUDI WIYANTO, S. Kel., MP

Email : wiyanto_marine@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian tentang Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Rumput Laut Kappaphycus alvarezii
dan Eucheuma denticullatum Terhadap Bakteri Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyii
dilakukan, mengingat banyak dijumpai penyakit pada usaha budidaya ikan dan udang, terutama bakteri
Aeromonas hydrophila dan Vibrio harveyii.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas senyawa bioaktif rumput laut K. alvarezii
dan E. denticullatum yang diekstrak menggunakan pelarut metanol dan etanol sebagai antibakteri
terhadap A. hydrophila dan V. harveyii. Penelitian dilakukan sebanyak dua tahap, yaitu: (1) Uji aktivitas
antibakteri ekstrak rumput laut; dan (2) Analisa senyawa bioaktif yang terdapat pada ekstrak rumput laut,
dimana masing-masing tahapan dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap faktorial.
Hasil penelitian menunjukkan, dua jenis ekstrak rumput laut dengan pelarut metanol dan etanol,
mempunyai daya antibakteri terhadap A. hydrophila dan V. harveyii. Ekstrak E. denticullatum dengan
pelarut metanol memiliki daya hambat lebih luas dibanding ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol
terhadap A. hydrophila (19.430,55 mm). Ekstrak E. denticullatum dengan pelarut metanol memiliki
daya hambat lebih luas dibanding ekastrak K. alvarezii dengan pelarut metanol terhadap V. harveyii
(19.850,23 mm). Asam heksadekanoat merupakan senyawa paling dominan dijumpai pada ekstrak
rumput laut K. alvarezii, dan E. denticullatum yang diekstrak menggunakan pelarut metanol.

Kata Kunci : Aktivitas Antibakteri, Rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum, Bakteri A.
hydrophila dan V. harveyii.

PENDAHULUAN secara serius. Penyakit pada ikan merupakan


salah satu masalah yang sering dijumpai
Penyakit bakterial pada ikan merupakan dalam usaha budidaya ikan. Di Indonesia
salah satu penyakit yang dapat menimbulkan telah diketahui ada beberapa jenis ikan air
kerugian yang tidak sedikit. Selain dapat tawar, dan diantaranya sering menimbulkan
mematikan ikan, penyakit ini dapat wabah penyakit serta menyebabkan
mengakibatkan menurunnya kualitas daging kegagalan dalam usaha budidaya ikan.
ikan yang terinfeksi. Bakteri patogen pada Penanggulangan penyakit dapat dilakukan
ikan dapat bersifat sebagai infeksi primer dengan cara pencegahan dan pengobatan.
atau sekunder. Penyakit akibat infeksi Pencegahan penyakit pada ikan biasanya
bakteria di Indonesia ternyata dapat dilakukan dengan cara menciptakan
mengakibatkan kematian sekitar 50-100% lingkungan steril dan pemberian pakan yang
(Supriyadi dan Rukyani, 1990). bernilai gizi baik. Pengobatan yang dilakukan
Indikator keberhasilan dalam usaha pada saat ikan terserang, biasanya diberikan
budidaya ikan adalah kondisi kesehatan ikan. bahan kimia atau sejenisnya. Akan tetapi
Oleh karena itu masalah penyakit merupakan penggunaan bahan kimia mempunyai dampak
masalah yang sangat penting untuk ditangani

1
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

lingkungan yang kurang baik karena bisa diisolasi. Namun pemanfaatan sumber bahan
mencemari lingkungan. bioaktif dari algae belum banyak dilakukan.
Dewasa ini telah banyak dilakukan Berdasarkan proses biosintesisnya, algae laut
penelitian tentang pengobatan yang aman dan kaya akan senyawa turunan dari oksidasi
berwawasan lingkungan yaitu menggunakan asam lemak yang disebut oxylipin. Melalui
bahan-bahan alami, salah satunya rumput senyawa ini berbagai jenis senyawa metabolit
laut. Hasil penelitian mengenai rumput laut sekunder diproduksi (Putra, 2006).
telah banyak dilaporkan, yaitu : Mtolera Misonou et al., (2003) melaporkan bahwa
(1996) yang mengekstrak 6 algae hijau jenis rumput laut merah Phorphyra
dengan bahan pelarut diethyl eter terhadap 3 yeszoensis mengandung potensi senyawa
bakteri uji yaitu :S. aureus, B.subtilis, E. coli, antioksidan yang dapat menghambat
ekstrak Valonia aegrophila paling aktif penetrasi sinar UV yang kuat kedalam
terhadap semua organisme uji. Vitor et al., jaringan atau sel. Menurut Kardono (2004)
(2002), ekstrak Heksan, Cloroform dan terdapat sekitar 2500 jenis senyawa bioaktif
Ethanol dari 6 makroalgae laut (Rhodophyta dari laut yang telah berhasil diisolasi dan
dan Chlorophyta) menunjukkan bahwa dari diidentifikasi, dan 93 % diantaranya
ekstrak makroalge bersifat menghambat diperoleh dari rumput laut.
terhadap bakteri. Choudhury (2005) Di Afrika Selatan ekstrak methanol dari
melaporkan tiga ekstrak algae laut, G. 56 rumput laut yang berasal kelas
corticata, U. fasciata, E. compressa dengan Chlorophyta (hijau), Phaeophyta (coklat) dan
menggunakan heksan, cloroform, etil asetat, Rhodophyta (merah), dari ketiga kelas
cloroform, alkohol dan metanol, rumput laut tersebut yang mempunyai
menunjukkan penghambatan terhadap bakteri antibakteri paling tinggi terdapat pada kelas
pathogen yaitu, E. tarda, V. alginolyticus, P. Phaeophyta (Choudhury, et al., 2005).
fluorescens, P. aeruginosa dan A. hydrophila. Salah satu alternatif yang dapat dilakukan
Menurut Taskin et al., (2007), ekstrak guna mengatasi masalah penyakit adalah
kasar dari semua algae yang diuji kecuali C. penggunaan rumput laut sebagai bahan
officinalis menunjukkan hambatan terhadap antimikroba. Dengan demikian, perlu
S. aureus dan U. rigida merupakan ekstrak alternatif lain untuk mengganti antibiotik
yang paling efektif. Aktivitas hambatan dengan bioaktif yang ramah lingkungan dan
paling tinggi terdapat pada E. aerogenes mudah terurai. Senyawa bioaktif yang mulai
(34.00 1.00 mm) dari C. officinalis dan banyak dikaji yaitu rumput laut yang
diikuti dengan E. coli dan E. faecalis. D. mengandung senyawa bioaktif sebagai
dichotoma mempunyai aktivitas hambatan antibakteri. Salah satu rumput laut yang
yang paling rendah (10.66 1.52 mm). banyak ditemukan di perairan Indonesia
Ekstrak C. barbata mempunyai aktivitas adalah rumput laut jenis K. alvarezii dan E.
spektrum yang paling luas, D. dichotoma dan denticullatum. Dengan adanya kandungan
H. filicina mempunyai aktivitas yang paling senyawa bioaktif pada rumput laut maka,
rendah terhadap mikroorganisme. Metabolit dipandang perlu untuk melakukan penelitian
primer atau sekunder dari rumput laut ini mengenai pemanfaatan rumput laut sebagai
mungkin mengandung senyawa bioaktif yang antibakteri. Dari ekstrak K. alvarezii dan E.
berpotensi untuk industri obat. Hasil denticullatum, diharapkan dapat berfungsi
penelitian juga dilaporkan bahwa aktivitas sebagai antibakteri yang dapat mengontrol
algae dapat digunakan sebagai antiviral, pertumbuhan bakteri A. hydrophila dan V.
antibakteri dan antifungal yang berpengaruh harveyii
terhadap beberapa pathogen (Vitor et al.,
2002). Tujuan Penelitian ini adalah :
Dalam dekade terakhir ini, berbagai 1) Mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak
variasi struktur senyawa bioaktif yang sangat rumput laut K. alvarezii dan E.
unik dari isolat algae merah telah berhasil denticullatum terhadap diameter daerah

2
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

hambatan bakteri A. hydrophila dan V. dan E. denticullatum. Faktor II adalah jenis


harveyii. pelarut pengekstrak yang terdiri dari 2 taraf
2) Mengetahui jenis pelarut yang efektif yaitu metanol (99,8%) dan etanol (99,8%).
untuk mengekstrak komponen antibakteri Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial ini,
pada rumput laut. digunakan pada pengujian daerah
3) Mengidentifikasi senyawa aktif yang penghambatan bakteri dengan metode difusi.
terdapat pada ekstrak rumput laut K. Pada penentuan dosis penghambat minimal
alvarezii dan E. denticullatum dengan (MIC) dan dosis antibakteri terendah yang
menggunakan GC-MS (Gas mampu membunuh bakteri (MBC),
Chromatography-Mass Spektrometer). menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL)
Perlakuan yang diberikan adalah
METODE PENELITIAN pemberian ekstrak rumput laut (K. alvarezii
dan E. denticullatum) yang diinfeksikan
Penelitian dilaksanakan pada bulan Mei s/d terhadap bakteri A. hydrophila dan V.
Juli 2018. Penelitian ini dilakukan di harveyii dengan konsentrasi 500 ppm, dari
Laboratorium Farmakologi dan Laboratorium dosis 500 ppm diencerkan dengan aquades
Mikrobiologi Fakultas Kedokteran (=100%), kemudian dilakukan uji
Universitas Brawijaya Malang. Laboratorium pendahuluan guna menentukan dosis yang
Kimia Fakultas MIPA Universitas Gajah tepat untuk diujikan pada bakteri. Dasar dari
Mada, Yogyakarta. konsentrasi yang diberikan terhadap bakteri
sesuai dengan hasil penelitian dari Putra
Bahan dan Alat (2007) yang melaporkan bahwa penambahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ekstrak metanol kayu nangka maupun ekstrak
ini meliputi : biakan murni bakteri A. metanol kulit buah manggis 500 ppm pada
hydrophila dan V. harveyii, rumput K. nira dapat menekan perkembangan BAL
alvarezii dan E. denticullatum. Media TSA maupun khamir pada proses kerusakan nira.
(Tryptone Soy Agar) dan media TCBSA Perlakuan ini adalah untuk mengetahui
(Thiosulfat Citrate Bilesalt Sucrose Agar), pengaruh penggunaan ekstrak rumput laut (K.
NB (Nutrient Broth), Alumonium foil, alvarezii dan E. denticullatum) terhadap
Aquades, Kertas cakram (paper disc), bakteri A. hydrophila dan V. harveyii.
Metanol (99,8%) dan etanol (99,8%) Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali untuk
semuanya dengan grade PA. setiap perlakuan dan penempatan perlakuan
Peralatan yang digunakan dalam dilakukan secara acak.
penelitian ini meliputi : rotary vacuum
evaporator, GC-MS (Gas Chromatography- Prosedur Penelitian
Mass Spectrometry GCMS-QP2010S A. Ekstraksi Rumput Laut
SHIMADZU), pH meter, Autoclave, Micro Rumput laut segar dicuci dan dibersihkan
pipette, Cawan petri, Tabung reaksi, dari ephifit dan kotoran lain dengan
Erlenmeyer, Jarum ose, Bunsen, Oven, menggunakan air bersih. Kemudian dikering
Timbangan Analitik, blender, Inkubator, anginkan. Sampel rumput laut dipotong-
penyaring, kertas saring, Water pump filtrasi, potong dengan ukuran 1 cm. Kemudian
Colony Counter, Pinset, Triangle. dikeringkan dalam pengering vakum (oven)
pada suhu 50 0C sampai berat kering konstan.
Rancangan Penelitian Setelah kering, sampel rumput laut
Rancangan penelitian yang digunakan dihaluskan dengan blender sehingga
dalam penelitian ini yaitu Rancangan Acak diperoleh bubuk kering. Kemudian
Lengkap (RAL) pola faktorial dengan 2 dimaserasi dengan menggunakan pelarut
faktor (Yitnosumarto, 1993). Faktor I adalah etanol dan metanol dengan perbandingan 1:1
jenis rumput laut yang terdiri dari K. alvarezii selama 3x24 jam. Rumput laut kemudian

3
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

disaring dengan menggunakan kertas saring dirapatkan range persentasenya untuk


dan filtrat ditampung dalam erlenmeyer menentukan dosis yang akan digunakan pada
sehingga diperoleh filtrat ekstrak etanol dan uji MIC dan MBC.
metanol yang bebas dari kotoran. Ekstrak Tabel 1. Dosis larutan ekstrak pada uji
etanol dan metanol yang terkumpul kemudian pendahuluan
dievaporasi dengan menggunakan rotary Konsentrasi
Konsentrasi Aquades
evaporator pada suhu 45 0C sampai tidak (%) (ml)
Ekstrak 500 ppm
(ml)
terjadi lagi pengembunan pelarut pada 100 0 1
kondensor (menunjukkan semua pelarut telah 50 0.50 0.50
menguap). Kemudian di oven selama 3 jam 25 0.75 0.25
pada suhu 50 0C dengan tujuan 6.25 0.9375 0.0625
menghilangkan pelarut yang masih terjebak 3.125 0.96875 0.03125
dalam senyawa aktif (Iswani, 2007). 0 1 0

B. Uji Cakram
1. Menyiapkan konsentrasi uji cakram, 0 D. Uji MIC
ppm sebagai kontrol dan 500 ppm. (Minimum Inhibitory Concentration).
2. Kemudian diberi 2 tetes bakteri dari 1. Siapkan tabung reaksi steril sebanyak 10
media cair secara merata pada seluruh tabung.
permukaan media dalam cawan petri 2. Dibuat larutan stok obat dengan dosis 500
dengan menggunakan triangle. ppm.
3. Setelah 15-30 menit kertas cakram yang 3. Disiapkan tabung reaksi steril untuk
telah mengandung ekstrak rumput laut, perlakuan dosis ekstrak
diletakkan pada media dan ditekan agar 4. Pengenceran berseri dilakukan dengan
ekstrak rumput laut meresap pada media pemindahan sebanyak 6 ml larutan dari
agar dengan baik. tabung pertama hingga tabung terakhir
4. Pembacaan hasil dilakukan setelah sehingga dihasilkan konsentrasi sebagai
inkubasi pada suhu 35 0C selama 18-24 berikut : 100%, 50%, 25%, 12,5%,
jam dengan cara mengukur diameter 6,25%, 3,125%, 0%.
daerah hambatan disekitar kertas cakram 5. Pengujian ini dilakukan dengan
dengan menggunakan kertas milimeter meneteskan inokulum bakteri sebanyak 2
atau penggaris. tetes kedalam masing-masing tabung.
5. Inkubasi dapat dilakukan sampai 48 jam 6. Tabung ke-9 adalah kontrol positif yang
untuk mengetahui sifat dari ekstrak berisi larutan NB dan inokulum.
rumput laut, jika daerah hambatan tetap 7. Tabung ke-10 adalah kontrol negatif yang
bening selama 48 jam maka zat tersebut berisi NB dan ekstrak rumput laut
bersifat bakteriosidal dan jika ditumbuhi 8. Kemudian ke-10 tabung reaksi tersebut
bakteri maka bersifat bakteriostatik. diinkubasikan dalam inkubator pada suhu
35 0C.
9. Setelah 24 jam dilakukan pengamatan
C. Uji Pendahuluan keseluruhan tabung kekeruhan media
Uji pendahuluan merupakan suatu dengan dengan melihat kontrol positf dan
langkah awal dalam penentuan dosis yang negatif. Untuk uji MIC ini diambil
akan digunakan dalam Uji MIC (Minimum konsentrasi yang mendekati kontrol
Inhibitory Concentration) dan Uji MBC positif dan standar Mc. Farland (108
(Minimum Bacterial Concentration). Kisaran sel/ml) sebagai konsentrasi minimum.
yang dipergunakan yaitu dari dosis 0%,
3,125%, 6,25%, 12.5%, 25%, 50%, dan
100%. Dari hasil uji pendahuluan, kemudian
masing-masing konsentrasi yang didapatkan,

4
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

E. Uji MBC Hasil penelitian dilaporkan sebagai nilai


(Minimum Bacterial Concentration). rata-rata dari 4 ulangan deviasi standar.
1. Biakan murni bakteri ditanam sebanyak 5 Untuk mengetahui pengaruh perlakuan
inokulum ke dalam 5 ml media cair (NB) terhadap respon parameter yang diukur, maka
dan diinkubasi pada suhu 37 0C selama 24 digunakan analisa keragaman atau uji F dan
jam sehingga terbentuk kekeruhan standar jika didapat hasil berbeda nyata atau berbeda
Mc Farland (108 sel/ml). sangat nyata maka dilanjutkan dengan uji
2. Dibuat larutan ekstrak rumput laut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 5%
dosis 500 ppm untuk mencari perbedaan antar perlakuan.
3. Siapkan tabung reaksi steril untuk
pengenceran dosis obat 500 ppm, dengan
konsentrasi sebagai berikut : 100%, 50%, IHASIL DAN PEMBAHASAN
25%, 12,5%, 6,25%, 3,125%, 0%.
4. Masing-masing tabung diinokulasikan 0,1 Aktivitas Antibakteri
ml bakteri (106 sel/ml). Hasil penelitian daya antibakteri ekstrak
5. Divortek hingga tercampur rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum
6. Masing-masing campuran ditabur dengan metode cakram, menunjukkan ekstrak
sebanyak 0,1 ml dalam media agar rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum
7. Pembacaan hasil dilakukan setelah mampu menghambat pertumbuhan bakteri A.
diinkubasi pada suhu 35 0C selama 18-24 hydrophila dan V. harveyii. Dalam penelitian
jam. Jika tumbuh bakteri berarti bahwa ini, aktivitas antibakteri diamati sebagai
dosis obat tersebut bersifat bakteriostatik. diameter zona penghambatan (mm) yang
Akan tetapi jika bakteri tidak tumbuh disebabkan oleh ekstrak rumput laut K.
berarti bahwa dosis obat tersebut bersifat alvarezii dan E. denticullatum dengan pelarut
bakteriosidal. metanol dan etanol terhadap bakteri uji, yaitu
A. hydrophila dan V. harveyii yang
F. Analisis GC-MS ditumbuhkan pada media TSA dan media
Analisis GC-MS dilakukan terhadap hasil TCBSA. Diameter daerah hambatan bakteri
ekstrak yang positif menunjukkan daya A. hydrophila dan V. harveyii disajikan pada
antibakteri terhadap bakteri A. hydrophila Tabel 2 dan Gambar 1.
dan V. harveyii. Analisis GC-MS dilakukan
berdasarkan metode Putra (2007), Gas Tabel 2. Diameter zona penghambat ekstrak
pembawa yang digunakan adalah helium rumput laut dengan pelarut metanol dan
dengan laju aliran diatur sebagai berikut. etanol terhadap bakteri A. hydrophila
Suhu injektor 320 0C, suhu awal oven 70 0C. Zona
Laju kenaikan suhu 10 0C/menit, dan suhu Sampel Pelarut
Penghambatan
akhir oven 310 0C. Identifikasi senyawa (mm)
A. hydrophila
dilakukan dengan bantuan perangkat lunak K. alvarezii Metanol 16.60 0.11 **)b*)
PC. Etanol 12.43 0.51
(a)

Parameter yang digunakan adalah E. Metanol 19.43 0.55 **


(d)

parameter kuantitatif, yaitu data yang denticullatum Etanol 15.56 0.26 **(c)
diperoleh dari hasil pengukuran diameter Keterangan :
daerah hambatan yang terlihat disekitar kertas **) = Nilai diameter zona penghambatan deviasi
cakram (mm), total bakteri setelah pemberian standar (n = 4)
*)
= Nilai dengan notasi berbeda pada kolom yang
ekstrak, dosis penghambatan minimal (MIC)
sama menunjukkan berbeda nyata pada uji BNT
dan dosis terendah ekstrak yang mampu 5%.
membunuh bakteri (MBC).

G. Analisa Data

5
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

Tabel 3. Diameter zona penghambat ekstrak Garis tegak diatas bar menunjukkan deviasi
rumput laut dengan pelarut metanol dan standar (n = 4).
etanol terhadap bakteri V. harveyii
Zona Berdasarkan hasil penelitian yang
Penghambatan ditunjukkan pada Tabel 3, menunjukkan
Sampel Pelarut
(mm) bahwa diameter zona penghambatan pada
V. harveyii
(b) ekstrak K. alvarezii dan E. denticullatum
K. Metanol 16.33 0.13 **
alvarezii Etanol (a) terhadap V. harveyii, berkisar antara 12.14-
12.14 0.16
E. Metanol 19.85 0.23 **(d)
19.85 mm. Dari hasil analisis ragam
denticullatum Etanol 16.36 0.26 **(c) menunjukkan bahwa, pengaruh jenis pelarut,
Keterangan : jenis rumput laut dan interaksinya sangat
**) = Nilai diameter zona penghambatan deviasi berbeda nyata (P0.01).
standar (n = 4) Perbandingan hasil ekstrak terhadap
*)
= Nilai dengan notasi berbeda pada kolom yang diameter zona penghambatan, antara E.
sama menunjukkan berbeda nyata pada uji BNT
5%. denticullatum dan K. alvarezii menunjukkan
bahwa, E. denticullatum memiliki daya
Berdasarkan data dari Tabel 2, antibakteri yang lebih tinggi dari pada ekstrak
menunjukkan bahwa diameter zona K. alvarezii terhadap bakteri V. harveyii.
penghambatan ekstrak rumput laut K. Grafik diameter daerah hambatan ekstrak
alvarezii dan E. denticullatum terhadap rumput laut terhadap bakteri V. harveyii
bakteri A. hydrophila berkisar antara 12.43- disajikan pada Gambar 3.
19.43 mm. Hasil analisis ragam 24.00

menunjukkan, bahwa pengaruh jenis pelarut, 21.00 19.85


Zona P engham batan (m m )

jenis rumput laut dan interaksinya sangat 18.00 16.36 16.33

berbeda nyata (P0.01). 15.00


12.14 Metanol
12.00
Perbandingan hasil ekstrak terhadap .
Etanol
9.00
diameter zona penghambatan, antara ekstrak
6.00
E. denticullatum dan ekstrak K. alvarezii
3.00
menunjukkan bahwa, E. denticullatum 0.00
memiliki daya antibakteri yang lebih tinggi E. denticullatum K. alvarezii
1 2

Jenis Rumput Laut


dari pada ekstrak K. alvarezii terhadap
bakteri A. hydrophila. Grafik diameter daerah Gambar 3. Daya Penghambat Ekstrak Metanol
hambatan ekstrak rumput laut terhadap dan Etanol Rumput Laut K. alvarezii dan E.
bakteri A. hydrophila disajikan pada Gambar denticulatum Terhadap Bakteri V. harveyii. Garis
2. tegak diatas bar menunjukkan deviasi standar (n =
4).
21 19.43

Adanya zona penghambatan pada ekstrak


Z o n a P en g h am b atan (m m )

18 16.60
15.56
15 rumput laut terhadap bakteri A. hydrophila
12.43
12 Metanol
dan V. harveyii, mengindikasikan bahwa
9 Etanol
dalam ekstrak tersebut terdapat senyawa
bioaktif yang mampu menghambat
6
pertumbuhan mikroba. Menurut Choudhury,
3
et al., (2005) senyawa bioaktif dari algae
0
E. denticullatum
1

K. alvarezii
2
banyak digunakan sebagai obat, salah satunya
Jenis Rumput Laut ekstrak algae laut dilaporkan mengandung
Gambar 2. Daya Penghambat Ekstrak Metanol
antibakteri. Ekstrak metanol dari 56 rumput
dan Etanol Rumput Laut K. alvarezii dan E. laut yang berasal kelas Chlorophyta (hijau),
denticulatum Terhadap Bakteri A. hydrophila. Phaeophyta (coklat) dan Rhodophyta
(merah), dari ketiga kelas rumput laut

6
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

tersebut yang mempunyai antibakteri paling sehingga mengakibatkan pertumbuhan


tinggi terdapat pada kelas Phaeophyta. bakteri terhambat atau mati, selain itu
Ardiansyah (2007), menyatakan bahwa senyawa ini juga dapat menembus membran
kemampuan antimikroba dalam memberikan dan berinteraksi dengan material genetik
penghambatan terhadap mikroorganisme sehingga bakteri mengalami mutasi
yang merusak bahan pangan sangat (Trisnawati dan Susanto, 2003).
tergantung pada konsentrasi dan kandungan Berdasarkan hasil penelitian, daya
senyawanya. Pada dasarnya mekanisme antibakteri ekstrak rumput laut K. alvarezii
penghambatan mikroorganisme oleh dan E. denticullatum dipengaruhi oleh jenis
antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa pelarut yang digunakan untuk
faktor diantaranya 1) Gangguan pada mengekstraknya. Hasil peneilitian ini
senyawa penyusun dinding sel; 2) menunjukkan, ekstrak K. alvarezii dan E.
Peningkatan permeabilitas membran sel yang denticullatum dengan pelarut metanol, lebih
dapat menyebabkan kehilangan komponen efektif dibandingkan ekstrak dengan pelarut
penyusun sel; 3) Menginaktivasi enzim dan etanol. Hal ini mengindikasikan komponen
4) Kerusakan fungsi material genetik. senyawa bioaktif yang terdapat dalam K.
Rachmaniar (1996) dalam Prajitno alvarezii dan E. denticullatum tersebut, lebih
(2006) mengatakan bahwa beberapa jenis mudah larut dalam metanol. Hal ini
rumput laut dari perairan pantai Indonesia dipertegas oleh Putra (2007), yang
mempunyai aktivitas sebagai zat antibakteri, melaporkan bahwa ekstrak metanol BTPN
antara lain E. cottonii, E. spinosum, G. lebih efektif dibandingkan ekstrak etanolnya
Verrucosa, G. conferviodes, Sargassum sp, terhadap L. mesenteriodes, L. plantarum dan
H. opuntia yang menunjukkan aktivitas S. cerevisiae.
antibakteri patogen pada Staphylococcus Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa,
aureus, Bacillubtilis, V. parahaemolyticus ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol,
dan Vibrio harveyii. Hal ini dipertegas oleh. menunjukkan daya hambat yang lebih luas
Prayitno (2006) menyatakan bahwa terhadap bakteri A. hydrophila dan V.
Halimeda opuntia yang mempunyai harveyii dibandingkan ekstrak dengan pelarut
kandungan fenol sebagai zat antibakteri lebih etanol. Sedangkan pada ekstrak E.
dari 50 % berat basah. denticullatum dengan pelarut metanol,
Menurut Prajitno, (2006) menyatakan menunjukkan daya hambat yang lebih luas
bahwa pada E. cottonii, Gracilaria maupun terhadap bakteri A. hydrophila dan V.
H. opuntia pada konsentrasi 3 % mempunyai harveyii dibandingkan ekstrak dengan pelarut
sifat bakteriostatik dan bakteriosidal terhadap etanol. Hal ini mengindikasikan bahwa
bakteri Vibrio harveyii, pada ekstrak H. komponen senyawa bioaktif yang terdapat
opuntia mengandung 52,25% fenolik dalam K. alvarezii dan E. denticullatum lebih
(flavonoid). Hal ini dipertegas oleh Pelczar, mudah terlarut dalam metanol. Menurut Putra
et al (1988) menyatakan bahwa (2007), menyatakan bahwa pelarut yang
persenyawaan fenolik sebagai antibakteri paling efektif untuk mengekstrak senyawa-
menghambat pertumbuhan dan metabolisme senyawa antibakteri dari kulit kayu
bakteri dengan cara merusak membran Saccoglottis gabonensis adalah metanol,
sitoplasma dan mendenaturasi protein sel. disusul oleh etanol dan kemudian etil asetat
Golongan senyawa kimia utama yang dengan senyawa bioaktif dalam ekstrak
mempunyai sifat antibakteri adalah fenol, tersebut adalah senyawa-senyawa polifenol.
alkohol, halogen, logam berat, zat warna, Hal ini dipertegas oleh Cowan (1999), etanol
deterjen, senyawa kuarter, asam dan basa. dan metanol merupakan pelarut-pelarut yang
Senyawa fenol dapat berinteraksi dengan sering digunakan untuk mengekstrak
komponen dinding sel bakteri sehingga senyawa antimikroba dari tumbuhan. Karena
mengakibatkan permeabilitas pada sel bakteri senyawa-senyawa tersebut umumnya
dan dapat juga berdifusi kedalam sel

7
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

merupakan senyawa aromatik dan organik Tabel 4. Minimum Inhibitory Concentration


jenuh. (MIC) terhadap bakteri uji.
MIC
Sampel
MIC (Minimum Inhibitory Concentration) A. hydrophila V. harveyii
dan MBC (Minimum Bacterial 35% (1.370.34)**) 50% (1.860.14)**)
b*) b*)
Concentration). KM 55% (1.370.14)**
)
60% (1.510.34)**
)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, KE b


*)
b
*)

semua hasil ekstrak rumput laut menunjukkan EM 20% (1.590.11)**) 35% (1.480.17)**)
adanya daya penghambatan terhadap semua EE b*) b*)
bakteri uji. Berdasarkan hal tersebut, semua 40% (1.750.14)**) 60% (1.490.19)**)
*) *)
hasil ekstrak diteliti lebih lanjut dosis b b
penghambatan minimalnya (MIC) dan dosis
terendah ekstrak antibakteri yang mampu
membunuh bakteri (MBC). Tabel 5. Minimum Bacterial Concentration
Pada penelitian ini, penentuan dosis (MBC) terhadap bakteri uji.
MBC
penghambat minimal (MIC) dan dosis Sampel A. V.
terendah antibakteri yang mampu membunuh hydrophila harveyii
bakteri (MBC), ditentukan dari penghitungan KM 40% (0) 55% (0)
total bakteri, yaitu perbandingan total bakteri KE 60% (0) 65% (0)
dengan konsentrasi obat. EM 25% (0) 40% (0)
Menurut Benson (1990), antibakteri EE 45% (0) 65% (0)
dikategorikan sebagai bakteriostatik jika pada
konsentrasi tersebut bakteri tidak mengalami Dari data pada Tabel 4 dan 5
kematian, namun juga tidak tumbuh. menunjukkan bahwa, dosis penghambat
Antibakteri dikategorikan sebagai minimal dan dosis terendah ekstrak
bakteriosidal jika pada konsentrasi tersebut antibakteri yang mampu membunuh bakteri,
bakteri mengalami kematian. Edberg (1983), dengan pelarut etanol dan metanol dari
menjelaskan bahwa senyawa antibakteri rumput laut K. alvarezii dan E. denticullatum.
bekerja dengan cara berinteraksi dengan Pada bakteri A. hydrophila, dosis penghambat
dinding sel bakteri sehingga mengakibatkan minimal (MIC) paling rendah terdapat pada
permeabilitas pada sel bakteri dan juga ekstrak metanol E. denticullatum yaitu, pada
berdifusi ke dalam sel sehingga konsentrasi 20% dengan total bakteri 1.59 log
mengakibatkan pertumbuhan bakteri cfu/plate. Hasil ekstrak K. alvarezii dengan
terhambat (bakteriostatik) dan atau mati pelarut etanol mempunyai dosis penghambat
(bakteriosidal). Selain itu, senyawa minimal (MIC) paling tinggi yaitu pada
antibakteri juga dapat menembus membran konsentrasi 55% dengan total bakteri 1.37 log
dan berinteraksi dengan material genetik cfu/plate. Sedangkan dosis terendah ekstrak
sehingga bakteri mengalami mutasi. antibakteri yang mampu membunuh bakteri
Golongan bakteriostatik bekerja dengan (MBC), dosis paling rendah terhadap bakteri
jalan menghambat sintesis protein pada A. hydrophila, ditunjukkan pada ekstrak E.
ribosom bakteri melalui proses difusi pasif denticullatum dengan pelarut metanol yaitu,
melalui kanal hidrofilik dan sistem pada konsentrasi 25%, sedangkan dosis
transportasi aktif. Setelah antibakteri masuk tertinggi terjadi pada ekstrak K. alvarezii
ke dalam ribosom, maka akan berikatan dengan pelarut etanol yaitu pada konsentrasi
dengan ribosom dan menghalangi masuknya 60%. Hasil penelitian diatas
kompleks tRNA-asam amino pada lokasi mengindikasikan, bahwa ekstrak E.
asam amino, sehingga bakteri tidak dapat denticullatum dengan pelarut metanol
berkembang biak (Anonymous, 2008). mempunyai daya antibakteri paling tinggi
terhadap bakteri A. hydrophila.

8
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

Berdasarkan penelitian yang ditunjukkan 8

RerataTotal Bakteri Bakteri (log cfu/plate)


7.48
pada Tabel 4 dan 5, menunjukkan bahwa 7

pada bakteri V. harveyii, mempunyai dosis 6

penghambat minimal (MIC) dan dosis 5

terendah ekstrak antibakteri yang mampu 4


4.41

membunuh bakteri (MBC), dengan pelarut 3


3.22

etanol dan metanol dari rumput laut K. 2 2.03 MIC


1.37
alvarezii dan E. denticullatum. Dosis 1

penghambat minimal (MIC) paling rendah 0


MBC
0.00
0% 20% 25% 30% 35% 40%
terdapat pada ekstrak E. denticullatum Konsentrasi

dengan pelarut metanol yaitu pada


konsentrasi 35% dengan total bakteri 1.48 log Gambar 4. Nilai MIC dan MBC ekstrak K.
cfu/plate. Ekstrak K. alvarezii dengan pelarut alvarezii dalam pelarut metanol pada bakteri A.
hydrophilla. Garis tegak diatas bar menunjukkan
etanol, mempunyai dosis penghambat deviasi standar (n = 4).
minimal (MIC) paling tinggi yaitu pada
konsentrasi 60% dengan total bakteri 1.51 log Berdasarkan hasil analisis ragam,
cfu/plate. Sedangkan dosis terendah didapatkan hasil bahwa, keenam perlakuan
antibakteri yang mampu membunuh bakteri ekstrak K. alvarezii dengan pelarut etanol
(MBC), pada bakteri V. harveyii ditunjukkan terhadap bakteri A. hydrophila memberikan
pada ekstrak E. denticullatum dengan pelarut hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari
metanol, mempunyai dosis terendah yaitu, Fhitung dan signifikansi yang dihasilkan. Fhitung
pada konsentrasi 40%, dan dosis tertinggi yang dihasilkan sebesar 8338.874 (Fhitung >
yaitu pada ekstrak K. alvarezii dan ekstrak E.
F 05.,05
18 2.772853 ) dan signifikansi 0.000 (sig
denticullatum dengan pelarut etanol, yaitu
pada konsentrasi 65%. Hasil diatas < 0.05). Grafik korelasi antara konsentrasi
mengindikasikan, bahwa ekstrak E. ekstrak dan jumlah total bakteri serta nilai
denticullatum dengan pelarut metanol MIC dan MBC disajikan pada Gambar 5.
mempunyai daya antibakteri paling tinggi 7
6.50
Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)

terhadap bakteri V. harveyii. 6


6.38 6.34

Berdasarkan hasil analisis ragam, 5


didapatkan hasil bahwa keenam perlakuan 4
ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol, 3
terhadap bakteri A. hydrophila memberikan
2 2.03 MIC
hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari 1.37
1
Fhitung dan signifikansi yang dihasilkan. Fhitung MBC
yang dihasilkan sebesar 7253.828 (Fhitung > 0
0% 40% 45% 50% 55%
0.00
60%
F 05.,05
18 2.772853 ) dan signifikansi 0.000 (sig Konsentrasi

< 0.05). Grafik korelasi antara konsentrasi Gambar 5. Nilai MIC dan MBC ekstrak K.
ekstrak dan jumlah total bakteri serta nilai alvarezii dalam pelarut etanol pada bakteri A.
MIC dan MBC disajikan pada Gambar 4. hydrophilla. Garis tegak diatas bar menunjukkan
deviasi standar (n = 4).

Berdasarkan hasil analisis ragam,


didapatkan hasil bahwa keenam perlakuan
ekstrak E. denticullatum dengan pelarut
metanol terhadap bakteri A. hydrophilla
memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dapat
dilihat dari Fhitung dan signifikansi yang
dihasilkan. Fhitung yang dihasilkan sebesar

9
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

12646.219 (Fhitung > F 05.,05


18 2.772853 ) dan
Berdasarkan hasil analisis ragam
didapatkan hasil bahwa, keenam perlakuan
signifikansi 0.000 (sig < 0.05). Grafik
ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol
korelasi antara konsentrasi ekstrak dan
terhadap bakteri V. harveyii memberikan
jumlah total bakteri serta nilai MIC dan MBC
hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari
disajikan pada Gambar 6.
Fhitung dan signifikansi yang dihasilkan. Fhitung
8
7.46
yang dihasilkan sebesar 7432.154 (Fhitung >
Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)

7
F 05.,05
18 2.772853 ) dan signifikansi 0.000 (sig
6

5
< 0.05). Grafik korelasi antara konsentrasi
4 4.20 ekstrak dan jumlah total bakteri serta nilai
3
MIC dan MBC disajikan pada Gambar 8.
2.92

MIC 8
2
7.44

Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)


1.59
7
1
MBC 6
0 0.00
0.00
5
0% 10% 15% 20% 25% 30%
4.26
Konsentrasi 4

3 3.06

Gambar 6. Nilai MIC dan MBC ekstrak E. 2


MIC
1.86
denticullatum dalam pelarut metanol pada bakteri 1
A. hydrophilla. Garis tegak diatas bar 0
MBC
0.00
0.00
menunjukkan deviasi standar (n = 4). 0% 40% 45% 50% 55% 60%

Konsentrasi

Berdasarkan hasil analisis ragam, Gambar 8. Nilai MIC dan MBC ekstrak K.
didapatkan hasil bahwa keenam perlakuan alvarezii dalam pelarut metanol pada bakteri V.
ekstrak E. denticullatum dengan pelarut harveyii. Garis tegak diatas bar menunjukkan
etanol pada bakteri A. hydrophila deviasi standar (n = 4).
memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dapat
dilihat dari Fhitung dan signifikansi yang Berdasarkan hasil analisis ragam
dihasilkan. Fhitung yang dihasilkan sebesar didapatkan hasil bahwa, keenam perlakuan
4728.207 (Fhitung > F 05.,05 ekstrak K. alvarezii dengan pelarut etanol
18 2.772853 ) dan
terhadap bakteri V. harveyii memberikan
signifikansi 0.000 (sig < 0.05). Grafik
hasil yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari
korelasi antara konsentrasi ekstrak dan
Fhitung dan signifikansi yang dihasilkan. Fhitung
jumlah total bakteri serta nilai MIC dan MBC
yang dihasilkan sebesar 1066.984 (Fhitung >
disajikan pada Gambar 7.
F 05.,05
18 2.772853 ) dan signifikansi 0.000 (sig
7
6.46 < 0.05). Grafik korelasi antara konsentrasi
Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)

5.22
ekstrak dan jumlah total bakteri serta nilai
5
MIC dan MBC disajikan pada Gambar 9.
4 3.84
7
3
Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)

6.46
6
MIC
2 5.40
1.75 5
1 4.37
4
MBC
0 0.00
0.00 3
0% 30% 35% 40% 45% 50%
2.16 MIC
Konsentrasi 2
1.51
1
Gambar 7. Nilai MIC dan MBC ekstrak E. MBC
0
denticullatum dalam pelarut etanol pada bakteri 0% 45% 50% 55% 60% 65%
0.00

A hydrophilla. Garis tegak diatas bar Konsentrasi


menunjukkan deviasi standar (n = 4)
Gambar 9. Nilai MIC dan MBC ekstrak K.
alvarezii dalam pelarut etanol pada bakteri V.
10
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

harveyii. Garis tegak diatas bar menunjukkan 7


deviasi standar (n = 4). 6.48

Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)


6

5
Berdasarkan hasil analisis ragam
4.24
didapatkan hasil bahwa, keenam perlakuan 4

ekstrak E.denticullatum dengan pelarut 3 3.05

metanol terhadap bakteri V. harveyii 2 MIC

memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dapat 1


1.49

dilihat dari Fhitung dan signifikansi yang MBC


0 0.00
dihasilkan. Fhitung yang dihasilkan sebesar 0% 50% 55% 60%
0.00
65% 70%

4347.611 (Fhitung > F 05.,05


18 2.772853 ) dan
Konsentrasi

signifikansi 0.000 (sig < 0.05). Grafik Gambar 11. Nilai MIC dan MBC ekstrak E.
korelasi antara konsentrasi ekstrak dan denticullatum dalam pelarut etanol pada bakteri
jumlah total bakteri serta nilai MIC dan MBC V. harveyii. Garis tegak diatas bar menunjukkan
disajikan pada Gambar 10. deviasi standar (n = 4).

8
Analisis GC-MS Ekstrak Rumput Laut
7.51 Dari hasil penelitian, menunjukkan
Rerata Total Bakteri (log cfu/plate)

6
bahwa dua ekstrak rumput laut yang paling
5
berpotensi sebagai antibakteri yaitu ekstrak
4
4.37 Kappaphycus alvarezii dan ekstrak
3 3.21 Eucheuma denticullatum dengan pelarut
2 2.00
MIC
1.51
metanol. Oleh karena itu, kedua ekstrak
1 tersebut diteliti lebih lanjut untuk mengetahui
MBC
0
0.00 senyawa-senyawa antibakteri yang
0% 20% 25% 30% 35% 40%

Konsentrasi
terkandung didalamnya.

Gambar 10. Nilai MIC dan MBC ekstrak E. Hasil GC-MS Ekstrak Metanol E.
denticullatum dalam pelarut metanol pada bakteri denticullatum
V. harveyii. Garis tegak diatas bar menunjukkan
Berdasarkan hasil penelitian, aktivitas
deviasi standar (n = 4).
antibakteri ekstrak E. denticullatum dengan
pelarut metanol mempunyai daya hambat
Berdasarkan hasil analisis ragam
yang paling luas terhadap bakteri A.
didapatkan hasil bahwa keenam perlakuan
hydrophila dan bakteri V. harveyii, oleh
ekstrak E. denticullatum dengan pelarut
karena itu, ekstrak E. denticullatum dengan
etanol terhadap bakteri V. harveyii
pelarut metanol dianalisis komposisinya
memberikan hasil yang berbeda. Hal ini dapat
melalui analisis GC-MS (Gas
dilihat dari Fhitung dan signifikansi yang
Chromatography-Mass Spectrometry).
dihasilkan. Fhitung yang dihasilkan sebesar
Kromatogram GC-MC dan senyawa-
1066.984 (Fhitung > F 05.,05
18 2.772853 ) dan senyawa hasil identifikasi GC-MS ekstrak E.
signifikansi 0.000 (sig < 0.05). Grafik denticullatum dengan pelarut metanol,
korelasi antara konsentrasi ekstrak dan disajikan pada Tabel 6 dan Gambar 12.
jumlah total bakteri serta nilai MIC dan MBC Sebanyak 48 senyawa yang teridentifikasi
disajikan pada Gambar 11 pada ekstrak ekstrak E. denticullatum dengan
pelarut metanol (pada Tabel 6 hanya lima
puncak tertinggi yang ditampilkan).
Senyawa-senyawa tersebut dapat
digolongkan menjadi 4 golongan yaitu :
alkena, ester alifatik, asam karboksilat, keton
steroid.

11
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

Dari data Tabel 6 dan Gambar 12 Nursyam, 2008). Beberapa ester asam lemak,
menunjukkan bahwa, senyawa paling seperti monocylglycerol (monoglycerida) dan
dominan yang ditemui pada ekstrak E. ester dari sukrosa selain berfungsi sebagai
denticullatum dengan pelarut metanol adalah emulsife, juga memilki spektrum
hexadecanoid acid, yaitu 41,33% dan 9- penghambatan luas terhadap Listeria
octadecanoid acid sebesar 7,18% (Tabel 6). monocytogene (Wang, et al., 1991 dalam
Senyawa-senyawa ini merupakan senyawa Nursyam, 2008). Menurut Putra (2007) asam
turunan asam karboksilat (Putra, 2007). fenolat merupakan senyawa fenol yang
hexadecanoid acid adalah asam lemak jenuh memiliki gugus karboksilat. Salah satu
yang tersusun dari 16 atom karbon turunan asam fenolat yaitu asam kefeat, yang
(CH3(CH2)14COOH). Pada suhu ruang, ditemukan pada tumbuhan Artemisia
hexadecanoid acid berwujud padat berwarna dracunculus dan Thymus vulgari dilaporkan
putih. Titik leburnya 63,1oC. hexadecanoid mempunyai daya hambat terhadap bakteri,
acid adalah produk awal dalam proses kapang dan virus.
biosintesis asam lemak. Dari hexadecanoid Selain asam karboksilat, senyawa
acid, pemanjangan atau penggandaan ikatan antibakteri yang terdapat dalam ekstrak E.
berlangsung lebih lanjut. denticullatum dengan pelarut metanol yaitu
Menurut Kabara and Eklund (1991), keton steriod. Senyawa keton steroid yang
konsentrasi dari asam lemak dengan rantai ditemukan dalam ekstrak E. denticullatum
yang panjang dapat menghambat dengan pelarut metanol yaitu cholest-5-ene,3-
mikroorganisme khususnya bakteri gram bromo, dengan jumlah persentase sebesar
posistif, kapang dan khamir. Hal ini didukung 5.35% (Tabel 6). Menurut Putra (2007),
oleh Darmadji and Izumimoto (1994) yang mekanisme kerja steroid dalam menghambat
menyatakan bahwa, mekanisme kerja mikroba, adalah dengan merusak membran
hexadecanoid acid dalam menghambat plasma sel mikroba, sehingga menyebabkan
pertumbuhan bakteri yaitu, hexadecanoid bocornya sitoplasma keluar sel yang
acid mampu untuk menyerap nutrisi yang ada selanjutnya menyebabkan kematian sel.
pada bakteri dan memiliki kapasitas untuk Diduga hal tersebut disebabkan karena
menghambat air dan menghalangi system molekul steroid memiliki gugus nonpolar
enzim beberapa bakteri. (hidrofobik) dan polar (hidrofilik) sehingga
Menurut Suirta, et al., (2007) memiliki efek surfaktan yang dapat
menyatakan, bahwa Identifikasi isolat aktif melarutkan komponen fosfolipid membran
anti larvasida secara GC-MS mengandung 7 plasma. Lebih lanjut Black (2005)
komponen senyawa yang merupakan asam- menyatakan, fosfolipid merupakan komponen
asam organik yaitu asam heksadekanoat, dominan yang menyusun membran plasma
asam stearat, asam oleat, etil oleat, asam sel mikroba. Gambar kromatogram GC-MS
oktadekanoat, etil oktadekanoat, dioktil ekstrak Eucheuma denticullatum dengan
heksadioat. Diduga senyawa-senyawa diatas pelarut metanol disajikan pada Gambar 12.
bersifat antilarvasida terhadap larva nyamuk
Aedes aegypti. Ekstrak etanol dari buah pare
(Momordica charantia L.) yang mengandung
senyawa asam-asam organik, yaitu asam
heksadekanoat, asam oktadekanoat, dan ester
dioktilheksadioat bersifat toksik terhadap
larva udang Artemia salina (Rita, 2007).
Aktivitas antibakteri terhadap Listeria
monocytogenes dari asam-asam lemak bebas,
utamanya yang memilki rantai panjang telah Gambar 12. Kromatogram GC-MS ekstrak E.
banyak diuji cobakan terhadap pertumbuhan denticullatum dengan pelarut metanol.
Listeria monocytogenes (Glas, 2004 dalam

12
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

Tabel 6. Hasil identifikasi senyawa yang acid adalah produk awal dalam proses
terdapat dalam ekstrak metanol E. biosintesis asam lemak. Dari hexadecanoid
denticullatum acid, pemanjangan atau penggandaan ikatan
berlangsung lebih lanjut.
Menurut Kabara and Eklund (1991),
konsentrasi dari asam lemak dengan rantai
yang panjang dapat menghambat
mikroorganisme khususnya bakteri gram
posistif, kapang dan khamir. Hal ini didukung
Hasil GC-MS Ekstrak Metanol K. oleh Darmadji and Izumimoto (1994) yang
alvarezii menyatakan bahwa, mekanisme kerja
Dari hasil penelitian, aktivitas antibakteri hexadecanoid acid dalam menghambat
ekstrak K. alvarezii dengan pelarut metanol, pertumbuhan bakteri yaitu, hexadecanoid
mempunyai daya hambat paling luas kedua acid mampu untuk menyerap nutrisi yang ada
setelah ekstrak E. denticullatum dengan pada bakteri dan memiliki kapasitas untuk
pelarut metanol terhadap bakteri A. menghambat air dan menghalangi system
hydrophila dan bakteri V. harveyii, oleh enzim beberapa bakteri.
karena itu ekstrak K. alvarezii dengan pelarut Munurut Rita (2007), Isolat yang bersifat
metanol dianalisis komposisinya melalui antitumor dari buah pare (Momordica
analisis GC-MS (Gas Chromatography-Mass charantia L) diduga gabungan dari beberapa
Spectrometry). senyawa dengan 3 senyawa mayor yang
Kromatogram GC-MC dan senyawa- sebagian besar merupakan asam-asam
senyawa hasil identifikasi GC-MS ekstrak organik, ketiga senyawa tersebut yaitu, asam
metanol K. alvarezii disajikan pada Gambar heksadekanoat, Asam oktadekanoat, dan ester
13 dan Tabel 7 Sebanyak 15 senyawa yang dioktilheksadioat. Dari uji aktivitas antitumor
teridentifikasi pada ekstrak K. alvarezii dengan bacterium tumefaciens A-208
dengan pelarut metanol (pada Tabel 7 hanya terhadap isolat aktif toksik menunjukkan
lima puncak tertinggi yang ditampilkan), dan bahwa, isolat tersebut aktif sebagai antitumor.
setelah dilakukan penggolongan, Senyawa- Nursyam (2008), menyatakan bahwa
senyawa tersebut dapat digolongkan menjadi asam laktat yang diproduksi oleh
4 golongan yaitu : asam karboksilat, keton Pediococcus acidilactici mampu meghambat
steroid, dan alkena. pertumbuhan Listeria monocytogenes mulai
Dari data Tabel 7 dan Gambar 13 awal hingga 14 hari inkubasi. Senyawa-
menunjukkan bahwa, senyawa paling senyawa asam lain yang berfungsi sebagai
dominan yang ditemui pada ekstrak antibakteri yaitu Asam fenoliat (Putra 2007).
Kappaphycus alvarezii dengan pelarut Cowan (1999) menyatakan, sifat daya hambat
metanol adalah hexadecanoid acid, yaitu senyawa fenol terhadap mikroba disebabkan
49,73% dan octadecanoic acid sebesar karena gugus hidroksil yang dimilikinya
21.63% (Tabel 7). Kedua senyawa-senyawa dapat berinteraksi dengan protein membran
ini merupakan senyawa turunan asam sel mikroba melalui ikatan hidrogen,
karboksilat (Putra, 2007). Antibakteri dari sehingga protein tersebut kehilangan
asam-asam organik berpengaruh dalam fungsinya.
mereduksi pH eksternal menjadi rendah agar Pada ekstrak K. alvarezii dengan pelarut
sel sitoplasma menjadi asam, sementara asam metanol, juga ditemukan senyawa-senyawa
tidak dapat berdifusi secara pasif menyerang lain yang berfungsi sebagai antibakteri, yaitu
membran sitiplasma (Nursyam, 2008). cholest-5-ene,3-bromo (8%) dan cholest-5-
hexadecanoid acid adalah asam lemak jenuh en-3-ol- (4.88%) (Tabel 7), kedua senyawa
yang tersusun dari 16 atom karbon ini merupakan turunan senyawa keton steroid
(CH3(CH2)14COOH). Pada suhu ruang, yang mempunyai fungsi sebagai antibakteri.
hexadecanoid acid berwujud padat berwarna Menurut Putra (2007), senyawa steriod
putih. Titik leburnya 63,1oC. hexadecanoid
13
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

merupakan senyawa antibakteri utama dalam 2. Metanol lebih efektif dibandingkan


fraksi kloroform ekstrak metanol kayu dengan etanol apabila digunakan sebagai
nangka. Lebih lanjut Reddy (2003) dalam pelarut untuk mengekstrak komponen
Putra (2007) menyatakan bahwa keton steroid antibakteri dari rumput laut.
yaitu sitost-4-en-3-one yang diisolasi dari 3. Ekstrak metanol E. denticullatum dan
Boswllia ovalifoliolata mampu menghambat ekstrak metanol K. alvarezii merupakan
pertumbuhan Saccharomyces, B. subtilis, P. dua ekstrak yang paling berpotensi untuk
aeruginosa dan B. sphaericus. Mekanisme dikembangkan sebagai antibakteri. Hal ini
kerja steroid dalam menghambat mikroba, ditunjukkan oleh diameter zona
adalah dengan merusak membran plasma penghambatan, yaitu pada ekstrak E.
sehingga menyebabkan bocornya sitoplasma denticullatum dengan pelarut metanol
keluar sel yang selanjutnya menyebabkan memiliki diameter zona penghambatan
kematian sel (Putra, 2007). Gambar sebesar 19.43 mm terhadap bakteri A.
kromatogram GC-MS ekstrak K. alvarezii hydrophila dan 19.85 mm terhadap
dengan pelarut metanol disajikan pada bakteri V. harveyii. Sedangkan pada
Gambar 13. ekstrak metanol K. alvarezii memiliki
diameter zona penghambatan sebesar
16.60 mm terhadap bakteri A. hydrophila
dan 16.33 mm terhadap bakteri V.
harveyii.
4. Senyawa antibakteri dominan yang
terdapat pada ekstrak metanol E.
denticullatum yaitu senyawa turunan
asam karboksilat yaitu hexadecanoid acid
(41.33%), 9-octadecanoid acid (7.18%)
Gambar 13. Kromatogram GC-MS ekstrak K. dan senyawa turunan keton steroid yaitu
alvarezii dengan pelarut metanol
cholest-5-ene,3-bromo (5.35%).
5. Senyawa antibakteri dominan yang
Tabel 7. Hasil identifikasi senyawa yang
terdapat pada ekstrak metanol K. alvarezii
terdapat dalam ekstrak metanol K. alvarezii
yaitu yaitu senyawa turunan asam
karboksilat yaitu hexadecanoid acid
(49.73%), octadecanoid acid (21.63%)
dan senyawa turunan keton steroid yaitu
cholest-5-ene,3-bromo (5.35%), cholest-
5-en-3-ol- (4.88).

Saran
KESIMPULAN DAN SARAN Ekstrak metanol E. denticullatum dan
ekstrak metanol K. alvarezii mampu
Kesimpulan menghambat perkembangan bakteri A.
Kesimpulan yang dapat diambil dari hydrophila dan bakteri V. harveyii.
penelitian ini adalah : Sehubungan dengan hal tersebut maka
1. Ekstrak rumput laut K. alvarezii dan E. disarankan :
denticullatum menunjukkan daya 1) Untuk mengatasi bakteri A. hydrophila
antibakteri. Ekstrak metanol E. dan bakteri V. harveyii sebaiknya
denticullatum memiliki spektrum menggunakan ekstrak metanol E.
penghambatan paling luas yang mana denticullatum karena terbukti bersifat
menunjukkan daya antibakteri tehadap A. bakteriostatik dan bakteriosidal terhadap
hydrophila dan V. harveyii. bakteri

14
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

2) Penelitian lebih lanjut mengenai daya Preservatives. Blackie and Son,


antibakteri dari rumput laut lain dengan Glasgow, UK.
pelarut metanol terhadap bakteri Kardono, L.B. 2004. Prospecting on Marine
penyebab penyakit pada ikan baik secara Natural Products for Potensial
invitro maupun invivo. Functional Foods and Bioactive
3) Penelitian lebih lanjut mengenai Substance. Makalah disampaikan
pengujian hexadecanid acid sebagai pada forum Bioteknologi Kelautan
antibakteri. dan Perikanan, Badan Riset
Kelautan dan Perikanan.
Departemen Kelautan dan
DAFTAR PUSTAKA Perikanan, 25 Maret 2004. 15 pp.
Misonou, T. Saitoh, J. Oshiba, S. Tokitomo,
Ardiansyah. 2007. Antimikroba dari Y. Maegawa, M. Inoue, Y. Hori, H
Tumbuhan (Bagian Kedua). Berita and Sakurai, T. 2003. UV-
Iptek Online. 4hal. http ://www. Absorbing Substance in Red Alga
beritaiptek.com/zberita-beritaiptek- Porphyra Yezoensis (Bangiales,
2007-06-0Antimikroba-dari- Rhodophyta) Block Thymine
Tumbuhan. Sept, 06, 2008. Photodimer Production. Mar.
Benson, H.J. 1990. Microbiological Biotechnol. 5 : 194-200
Aplications. A Laboratory Manual in Mtolera and AK. Semeso. 1996.
General Microbiology. Wm. C. Antimicrobial Activity of Extracts
Brown Publishers. USA. 367 p from Six Green Algae from
Cowan, M.M. 1999. Plant Product As Tanzania. University of Dar es
Antimicrobial Agents. Clin. Salaam. Tanzamania.
Microbial. Rev, 12 (4) : 564-582. Nursyam, H. 2008. Kajian Kultur Starter
Choudhury, S. Sree, A. Mukherjee, S.C. Biopreservatif Bakteri Asam Laktat
Pattnaik, P. Bapuji. M. 2005. In (BAL) Pada Pengolahan Sosis
Vitro Antibacterial Activity of Fermentasi Ikan Lele Dumbo,
Extracts of selected Marine Algae Clarias sp. Disertasi. Program
and mangroves Against Fish Pascasarjana Universitas Brawijaya
Pathogens. Journal Asian Fisheries Malang
Science. 18:185-294. Pelczar, M. J dan E.C.S. dan Chan. 1988.
Darmadji, P. And Izumimoto, M. 1994. Dasar-Dasar Mikrobiologi Jilid 2.
Effect of Chitosan in Meat Alih Bahasa R.S. Hadioetomo, T.
Preservation. Meat Science. Imas, S.S. Tjitrosomo dan S.L.
University of Newfoundland. Angka. Penerbit Universitas
Canada 38, 243-254 Indonesia. Jakarta. 88 hal.
Edberg, S.C. 1983. Tes Kerentanan Prajitno, A. 2006. Pengendalian Penyakit
Antimikroba dalam Antibiotika dan Vibrio harveyii dengan Ekstrak
Infeksi. Alih bahasa: Chandra Rumput laut (Halimeda opuntia)
sanusi. CV. EGC. Penerbit Buku pada Udang Windu (Penaeus
Kedokteran. Jakarta. 219 hal. monodon Fab) PL-13. Disertasi.
Iswani, S. 2007. Proses Preparsi Ekstrak Program Pascasarjana Universitas
Kasar (Crude Extract) Etanol dari Brawijaya Malang.
Makroalga untuk Uji Farmakologi. Putra, I.N. K. 2007. Study Daya Antimikroba
Buletin Teknologi Akuakultur Vol. Ekstrak Beberapa Bahan Tumbuhan
6 No.1. Pengawet Nira Terhadap Mikroba
Kabara, J. J., and T. Eklund. 1991. Organic Perusak Nira Serta Kandungan
Acids and Esters. p.23 In N. J Senyawa Aktifnya. Disertasi.
Russell and G. W. Gould (ed), Food

15
Jurnal KELAUTAN, Volume 3, No.1 April 2010 ISSN : 1907-9931

Program Pascasarjana Universitas Bayar University, Manisa, Turkey.


Brawijaya Malang. JAfrican Journal of Biotechnology
Rita, W.S.. Suirta, I W dan Sabikin, A. 2007. Vol.6 (24), pp 2746-2751.
Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Trisnawati, Y dan E. Susanto. 2003.
Yang Berpotensi Sebagai Antitumor Pengolahan Propolis Sebagai Bahan
Pada Daging Buah Pare Pangan Fungsional Antimikroba
(Momordica charantia l.) Jurusan Untuk Kesehatan masyarakat.
Kimia FMIPA Universitas Udayana, Fakultas Peternakan. Universitas
Bukit Jimbaran. Jurnal Kimia 1 (2). Brawijaya. Malang. 8 hal.
47-54 hal. Vitor J.M, Carvalho A.F.F.U, Freitas S.M,
Suirta, I W. N. M. Puspawati, dan N. K. Melo V.M.M. 2002. Antibacterial
Gumiati. 2007. Isolasi dan Activity Of Extracts Of Six
identifikasi senyawa aktif larvasida Macroalgae From The Northeastern
Dari biji mimba (Azadirachta indika Brazilian Coast.. Departamento de
a. Juss) terhadap Larva nyamuk Microbiologia, Instituto de Ciencias
demam berdarah (Aedes aegypti). Biologicas, Universidade Federal de
Jurusan Kimia FMIPA Universitas Minas Gerais, Belo
Udayana, Bukit Jimbaran. Jurnal Horizonte;Departamento de
Kimia 1 (2). 47-54 hal. Biologia, Universidade Federal do
Supriyadi, H. dan A. Rukyani. 1990. Ceara, Fortaleza, CE, Brasil.
Immunopropilaksis dengan cara Brazilian Journal Of Microbiology.
vaksinasi pada usaha budidaya ikan. 33:311-313.
Seminar Nasional Ke II, Penyakit Yitnosumarto, S. 1993. Percobaan
Ikan dan Udang, Bogor. 16-18 Perancangan, Analisis dan
Januari 1990. Interpretasinya. PT.Gramedia
Taskin, E. Ozturk, M. Kurt, O. 2007. Pustaka Utama, Jakarta.
Antimicrobial Activities of Some
Marine Algae from the Aegean Sea
(Turkey). Departement of Biology,
Faculty of Arts&Sciences, Celal

16