Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PENDAHULUAN

ANTE NATAL CARE (ANC) FISIOLOGIS

1. Review Konsep Antenatal Care


1.1 Anatomi

1.1.1 Rahim
Rahim adalah organ reproduksi wanita yang paling utama dengan salah
satu ujungnya adalah tabung falopian (tuba fallopi) dan ujung yang
lainnya adalah leher rahim (serviks). Rahim berfungsi menerima
pembuahan ovum yang tertanam kedalam endometrium dan
mendapatkan makanan dari pembuluh darah. Ovum yang dibuahi
tersebut akan berkembang menajdi embrio dan selanjutnya menjadi
fetus dan terus berkembang hingga kelahiran setelah berusia sembilan
bulan.
1.1.2 Indung telur (Ovarium)
Organ reproduksi ini berupa kelenjar kelamin yang dimiliki oleh wanita
dan berjumlah dua buah. Fungsi ovarium adalah memproduksi sel telur
dan mengeluarkan hormon peptide dan steroid seperti progesteron dan
estrogen. Kedua hormon tersebut akan mempersiapkan dinding rahim
untuk implantasi telur yang telah dibuahi sel sperma.
1.1.3 Tuba Fallopi
Tuba fallopi adalah dua buah saluran halus yang menghubungkan
ovarium dengan rahim.
1.1.4 Leher rahim (serviks)
Leher rahim (serviks) adalah bagian dari anatomi organ reproduksi
wanita yang terletak di bawah rahim. Fungsi leher rahim (serviks)
adalah membantu perjalanan sperma dari vagina menuju rahim.
1.1.5 Vagina
Vagina adalah organ reproduksi wanita yang paling luar, berbentuk
tabung dan menjadi penghubung rahim ke bagian luar tubuh.

1.2 Fisiologi
1.2.1 Kehamilan
Periode Antepartum adalah periode kehamilan yang dihitung sejak hari
pertama haid terakhir (HPHT) hingga dimulainya persalinan sejati yang
menandai awal periode antepartum (Helen Varney, 2007).
1.2.2 Proses Kehamilan
a. Fertilasi
Bertemunya sel telur dan sel sperma. Tempat bertemunya didaerah
ampulla tuba. Sebelum keduanya bertemu maka akan terjadi 3 fase
yaitu:
Tahap penembusan korona radiata. Dari 200-500 juta hanya 300-
500 yang sampai di tuba fallopi yang bisa menembus korona
radiata karena sudah mengalami proses kapasitasi.
Penembusan zona pellusida, spermatozoa lain ternyata bisa
menempel di zona pelusida tetapi hanya satu terlihat mampu
menembus oosit.
Tahap penyatuan oosit dan membran sel sperma. Setelah menyatu
maka akan dihasilkan zigot yang mempunyai kromosom diploid
(44 autosom dan 2 gonosom) dan terbentuk jenis kelamin baru
(XX untuk wanita dan XY untuk laki-laki).

b. Pembelahan
Setelah itu zigot akan membelah menjadi tingkat 2 sel (30 jam), 4
sel, 8 sel sampai dengan 16 sel yang disebut blastomer (3 hari) dan
membentuk sebuah gumpalan bersusun longgar. Setelah 3 hari sel-
sel tersebut akan me mbelah membentuk morula (4 hari). Saat
morula masuk rongga rahim, cairan mulai menembus zona pellusida
setelah itu masuk kedalam ruang antar sel yang ada dimassa sel
dalam. Berangsur-angsur ruang antar sel menyatu dan akhirnya
terbentuklah sebuah rongga/blastokel sehingga disebut blastokista
(4-5 hari). Sel bagian dalam disebut embrioblas dan sel diluar
disebut trofoblas. Zona pellusida akhirnya menghilang sehingga
trofiblast bisa masuk endometrium dan siap berimplantasi 5-6 hari)
dalam bentuk blastokista tingkat lanjut.

c. Nidasi/Implantasi
Penanaman sel telur yang sudah dibuahi (pada stadium blastokista)
kedalam dinding uterus pada awal kehamilan. Biasanya terjadi pada
pars superior korpus uteri bagian anterior/posterior. Pada saat
implantasi selaput lendir rahim sedang berada pada fase sekretorik
(2-3 hari setelah ovulasi). Pada saat ini kelenjar rahim dan pembuluh
darah nadi menjadi berkelok-kelok. Jaringan ini mengandung
banyak cairan (Marjati dkk, 2010)

1.2.3 Pertumbuhan Dan Perkembangan Janin dalam Kandungan


a Bulan ke 0
Sperma membuahi ovum, membelah, masuk di uterus dan
menempel pada hari ke 11.
b Minggu ke 4 / Bulan ke 1
Bagian tubuh embrio yang pertama muncul akan menjadi tulang
belakang, otak dan saraf tulang belakang. Jantung, sirkulasi darah
dan pencernaan juga sudah terbentuk.
c Minggu ke 8 / Bulan ke 2
Panjang janin 250 mm. Jantung mulai memompa darah. Raut muka
dan bagian utama otak dapat terlihat. Terbentuk telinga, tulang dan
otot di bawah kulit yang tipis.
d Minggu ke 12 / Bulan ke 3
Panjang janin 7-9 cm. Tinggi rahim di atas simpisis (tulang
kemaluan). Embrio menjadi janin. Denyut jantung terlihat pada
USG. Mulai ada gerakan. Sudah ada pusat tulang, kuku dan ginjal
mulai memproduksi urin.
e Minggu ke 16 / Bulan ke 4
Panjang janin 10-17 cm. Berat janin 100 gram. Tinggi rahim
setengah atas simpisis pubis. Sistem muskuloskeletal sudah
matang. Sistem saraf mulai melakukan kontrol. Pembuh darah
berkembang cepat. Tangan janin dapat menggenggam. Kaki
menendang aktif. Pankreas memproduksi insulin. Kelamin luar
sudah mulai ditentukan jenisnya.
f Minggu ke 20 / Bulan ke 5
Panjang janin 18-27 cm. Berat janin 300 gram. Tinggi rahim
setinggi pusat. Verniks melindungi tubuh, lanugo menutupi tubuh
dan menjaga minyak pada kulit. Terbentuk alis, bulu mata dan
rambut. Janin membuat jadwal teratur tidur, menelan dan
menendang.
g Minggu ke 24 / Bulan ke 6
Panjang janin 28-34 cm. Berat rahim 600 gram. Tinggi rahim di
atas pusat. Kerangka berkembang cepat. Berkembangnya sistem
pernafasan.
h Minggu ke 28 / Bulan ke 7
Panjang janin 35-38 cm. Berat rahim 1000 gram. Tinggi rahim
antara pertengahan pusat (prosessus xifodeus). Janin bisa bernafas,
menelan dan mengatur suhu. Terbentuk surfaktan dalam paru-paru.
Mata mulai membuka dan menutup. Bentuk janin dua pertiga
bentuk saat lahir.
i Minggu ke 32 / Bulan ke 8
Panjang janin 42,5 cm. Berat rahim 1700 gram. Tinggi rahim dua
pertiga di atas pusat. Simpanan lemak berkembang di bawah kulit.
Janin mulai menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor. Kulit
berwarna merah dan bergerak aktif.
j Minggu ke 36 / Bulan ke 9
Panjang janin 46 cm. Berat rahim 2500 gram. Tinggi rahim setinggi
prosessus xifodeus. Kulit penuh lemak dan organ sudah sempurna.
k Minggu ke 40 / Bulan ke 10
Panjang janin 50 cm. Berat rahim 3000 gram. Tinggi rahim dua jari
dibawah prosessus xifodeus. Kepala janin masuk PAP (Pintu Atas
Panggul), kuku panjang, testis telah turun. Kulit halus hampir tidak
ada lanugo.
2. Konsep ANC
2.1 Definisi
ANC adalah pengawasan sebelum persalinan terutama ditujukan pada
pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (Guttmacher, 2007).
Antenatal care adalah perawatan selama masa kehamilan sebagai suatu
manajemen kehamilan di mana ibu dan anaknya diharapkan sehat dan baik
(Wiknjosastro, 2002)

2.2 Tujuan pelayanan Antenatal Care (ANC)


2.2.1 Memantau kemajuan kehamilan dan untuk memastikan kesehatan ibu
dan tumbuh kembang bayi.
2.2.2 Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental dan
sosial ibu.
2.2.3 Mengenal secara dini adanya ketidaknormalan, komplikasi yang
mungkin terjadi selama hamil termasuk riwayat penyakit secara
umum, kebidanan, dan pembedahan.
2.2.4 Mempersiapkan kehamilan cukup bulan, melahirkan dengan selamat
ibu dan bayinya dengan trauma seminimal mungkin.
2.2.5 Mempersiapkan Ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian
ASI ekslusif.
2.2.6 Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran
bayi agar dapat tumbuh kembang secara optimal.

2.3 Tanda dan gejala kehamilan


2.3.1 Tanda presumtif kehamilan
a Amenore (terlambat datang bulan)
Konsepsi dan nidasi menyebabkan tidak terjadinya pembentukan
folikel de Graff dan ovulasi di ovarium. Gejala ini sangat penting
karena umumnya wanita hamil tidak dapat haid lagi selama
kehamilan, dan perlu diketahui hari pertama haid terrakhir untuk
menentukan tuanya kehamilan dan tafsiran persalinan.
b Mual muntah
Umumnya tejadi pada kehamilan muda dan sering terjadi pada pagi
hari. Progesteron dan estrogen mempengaruhi pengeluaran asam
lambung yang berlebihan sehingga menimbulkan mual muntah.
c Ngidam
Menginginkan makanan/minuman tertentu, sering terjadi pada
bulan-bulan pertama kehamilan tetapi menghilang seiring tuanya
kehamilan.
d Sinkope atau pingsan
Terjadi sirkulasi ke daerah kepala (sentral) menyebabkan iskemia
susunan saraf dan menimbulkan sinkope/pingsan dan akan
menghilang setelah umur kehamilan lebih dari 16 minggu.
e Payudara tegang
Pengaruh estrogen, progesteron, dan somatomamotropin
menimbulkan deposit lemak, air, dan garam pada payudara
menyebabkan rasa sakit terutama pada kehamilan pertama.
f Anoreksia nervousa
Pada bulan-bulan pertama terjadi anoreksia (tidak nafsu makan),
tapi setelah itu nafsu makan muncul lagi.
g Sering kencing
Hal ini sering terjadi karena kandung kencing pada bulan-bulan
pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar.
Pada triwulan kedua umumnya keluhan ini hilang karena uterus
yang membesar keluar rongga panggul.
h Konstipasi/obstipasi
Hal ini terjadi karena tonus otot menurun disebabkan oleh pengaruh
hormone estrogen.
i Epulis
Hipertrofi gusi disebut epulis dapat terjadi pada kehamilan.
j Pigmentasi
Terjadi pada kehamilan 12 minggu keatas
o Pipi : Cloasma gravidarum
Keluarnya melanophore stimulating hormone hipofisis anterior
menyebabkan pigmentasi yang berlebihan pada kulit.
o Perut : Striae livide
Striae albican
Linea alba makin menghitam
o Payudara : hipepigmentasi areola mamae
Varises atau penampakan pembuluh vena. Karena pengaruh
estrogen dan progesteron terjadi penampakan pembuluh darah
vena. Terutama bagi mereka yang mempunyai bakat.
Penampakan pembuluh darah itu terjadi disekitar genitalia
eksterna, kaki dan betis serta payudara.

2.3.2 Tanda Kemungkinan (Probability Sign)


a. Pembesaran Perut
Terjadi akibat pembesaran uterus. Hal ini terjadi pada bulan keempat
kehamilan.
b. Tanda Hegar
Pelunakan dan dapat ditekannya isthmus uterus.
c. Tanda Goodel.
Pelunakan serviks
d. Tanda Chadwiks.
Perubahan warna menjadi keunguan pada vulva dan mukosa vagina
termasuk juga porsio dan serviks.
e. Tanda Piskacek.
Pembesaran uterus yang tidak simetris. Terjadi karena ovum
berimplantasi pada daerah dekat dengan kornu sehingga daerah
tersebut berkembang lebih dulu.
f. Kontraksi Braxton Hicks.
Peregangan sel-sel otot uterus, akibat meningkatnya actomycin di
dalam otot uterus. Kontraksi ini tidak beritmik, sporadis, tidak nyeri,
biasanya timbul pada kehamilan 8 minggu.
g. Teraba Ballotement.
Ketukan yang mendadak pada uterus menyebabkan janin bergerak
dalam cairan ketuban yang dapat dirasakan oleh tangan pemeriksa.
h. Pemeriksaan tes biolgis kehamilan (planotest) positif.
Pemeriksaan ini adalah untuk mendeteksi adanya hCG yang
diproduksi oleh sinsitotrofoblas sel selama kehamilan. Hormon ini
disekresi diperedaran darah ibu (pada plasma darah), dan diekskresi
pada urine ibu.

2.3.3 Tanda Pasti (Positive Sign)


Menurut Marjati et al tahun 2010, ada empat tanda pasti hamil yaitu :
a. Gerakan janin dalam rahim. Gerakan janin ini harus dapat diraba dengan jelas
oleh pemeriksa. Gerakan ini baru dapat dirasakan pada usia kehamilan sekitar
20 minggu.
b. Denyut jantung janin. Dapat didengar pada usia 12 minggu dengan
menggunakan alat fetal electrocardiograf ( misalnya doppler)
c. Bagian bagian janin. Bagian besar janin (kepala dan bokong) serta bagian
kecil janin (lengan dan kaki) dapat diraba dengan jelas pada usia kehamilan
lebih tua (trimester akhir)
d. Kerangka janin. Kerangka janin dapat dilihat dengan foto rontgen maupun
USG

2.4 Standar Pelayanan Ante Natal Care ( ANC ) 14T


2.4.1 Ukur Berat badan dan Tinggi Badan (T1).
Dalam keadaan normal kenaikan berat badan ibu dari sebelu hamil
dihitung dari TM I sampai TM III yang berkisar anatar 7-12 kg dan
kenaikan berat badan setiap minggu yang tergolong normal adalah
0,4-0,5 kg tiap minggu mulai TM II. Pengukuran tinggi badan ibu
hamil dilakukan untuk mendeteksi faktor resiko terhadap kehamilan
yang sering berhubungan dengan keadaan rongga panggul.
2.4.2 Ukur Tekanan Darah (T2).
Tekanan darah yang normal 110/80 140/90 mmHg, bila melebihi
140/90 mmHg perlu diwaspadai adanya Preeklampsi.

2.4.3 Ukur Tinggi Fundus Uteri ( T3 )


Tujuan pemeriksaan TFU menggunakan tehnik Mc. Donald adalah
menentukan umur kehamilan berdasarkan minggu dan hasilnya bisa di
bandingkan dengan hasil anamnesis hari pertama haid terakhir
(HPHT) dan kapan gerakan janin mulai dirasakan. TFU yang normal
harus sama dengan UK dalam minggu yang dicantumkan dalam
HPHT.
Ukuran Fundus Uteri sesuai Usia Kehamilan
Usia Kehamilan sesuai minggu Jarak dari simfisis
22 28 Minggu 24-25 cm
28 Minggu 26,7 cm
30 Minggu 29,5 30 cm
32 Minggu 31 cm
34 Minggu 32 cm
36 Minggu 33 cm
40 Minggu 37,7 cm

2.4.4 Pemberian Tablet Fe sebanyak 90 tablet selama kehamilan


( T4 )
2.4.5 Pemberian Imunisasi TT ( T5 )
Imunisasi Tetanus Toxoid harus segera di berikan pada saat seorang
wanita hamil melakukan kunjungan yang pertama dan dilakukan pada
minggu ke-4.
Interval dan Lama Perlindungan Tetanus Toxoid
Imunisasi TT Selang Waktu minimal Lama Perlindungan
pemberian Imunisasi TT
TT1 Langkah awal pembentukan
kekebalan tubuh terhadap
penyakit Tetanus
TT2 1 bulan setelah TT1 3 Tahun
TT3 6 bulan setelah TT2 6 Tahun
TT4 12 Bulan setelah TT3 10 Tahun
TT5 12 Bulan setelah TT4 25 Tahun

2.4.6 Pemeriksaan Hb ( T6 )
Pemeriksaan Hb pada Bumil harus dilakukan pada kunjungan pertama
dan minggu ke 28. bila kadar Hb < 11 gr% Bumil dinyatakan Anemia,
maka harus diberi suplemen 60 mg Fe dan 0,5 mg As. Folat hingga
Hb menjadi 11 gr% atau lebih.
2.4.7 Pemeriksaan VDRL ( Veneral Disease Research Lab.) ( T7 )
Pemeriksaan dilakukan pada saat Bumil datang pertama kali daambil
spesimen darah vena kurang lebih 2 cc. apabila hasil test positif maka
dilakukan pengobatan dan rujukan.
2.4.8 Pemeriksaan Protein urine ( T8 )
Dilakukan untuk mengetahui apakah pada urine mengandung protein
atau tidak untuk mendeteksi gejala Preeklampsi.
2.4.9 Pemeriksaan Urine Reduksi ( T9 )
Untuk Bumil dengan riwayat DM. bila hasil positif maka perlu diikuti
pemeriksaan gula darah untuk memastikan adanya DMG.
2.4.10 Perawatan Payudara ( T10 )
Senam payudara atau perawatan payudara untuk Bumil, dilakukan 2
kali sehari sebelum mandi dimulai pada usia kehamilan 6 Minggu.
2.4.11 Senam Hamil ( T11 )
2.4.12 Pemberian Obat Malaria ( T12 )
Diberikan kepada Bumil pendatang dari daerah malaria juga kepada
bumil dengan gejala malaria yakni panas tinggi disertai mengigil dan
hasil apusan darah yang positif.
2.4.13 Pemberian Kapsul Minyak Yodium ( T13 )
Diberikan pada kasus gangguan akibat kekurangan Yodium di daerah
endemis yang dapat berefek buruk terhadap Tumbuh kembang
Manusia.
2.4.14 Temu wicara / Konseling ( T14 )

2.5 Pemeriksaan kehamilan


a. Bila HPHT tidak diketahui, usia kehamilan ditentukan dengan cara :
1) TFU (Cm x 7/8 = Usia dalam minggu)
2) Terabanya ballotement di simpisis 12 mgg
3) DJJ (+) dg Dopller 10-12 mgg
4) DJJ (+) dg fetoscop 20 mgg
5) Quickening 20 mgg
b. Perhitungan Taksiran Partus (Naegle)
1) Hari + 7
2) Bulan (1-3) + 9, B (4-12) 3
3) Tahun (1-3) + 0, T (4-12) + 1
c. Perhitungan Taksiran Berat Janin
1) TFU (11 belum masuk PAP) X 155 = .gr
2) TFU (13 sudah masuk PAP) X 155 = .gr

2.6 Patway

Kehamilan

Peningkatan Payudara besar Rahim membesar


progesterone
Prolaktin
Tonus otot meningkat meningkat Vesika Diafagma
urinaria tertekan
HCL menurun Sensitif tertekan
peristaltic menurun meningkat
Kapasitas VU Ekspansi
menurun paru
Mual, muntah Gangguan rasa
nyaman
Sekresi urin
Perubahan Risiko Perubahan pola menurun Pola napas
nutrisi kurang defisit seksualitas tidak efektif
dari kebutuhan volume Risiko
cairan infeksi
Risti konstipasi

2.7 Komplikasi
Macam-macam komplikasi:
2.7.1 Komplikasi Obstetrik Langsung, meliputi :
a. Perdarahan
b. Pre-eklampsia/eklampsia
c. Kelainan Letak (Letak Lintang/Letak Sungsang)
d. Hidramnion
e. Ketuban Pecah Dini
2.7.2 Komplikasi Obstetrik Tidak Langsung:
a. Penyakit Jantung
b. Tuberculosis
c. Anemia
d. Malaria
2.7.3 Komplikasi yang Tidak Berhubungan Dengan Obstetrik
misalnya komplikasi akibat kecelakaan (kendaraan,
keracunan, kebakaran)

2.8 Prognosis
Setelah dilakukan anamnesa dan pemeriksaan kehamilan dapat
diambil kesimpulan akhir tentang kehamilan yang dapat digolongkan
kedalam :
2.8.1 Kehamilan resiko rendah dan dapat bersalin setempat atau lahir
spontan.
2.8.2 Kehamilan resiko meragukan dan resiko tinggi sehingga perlu
bersalin di RS dengan fasilitas lengkap sehingga tercapai well
born baby dan well health mother

3. Rencana Asuhan Klien Dengan Antenatal Care


3.1 Pengkajian
3.1.1 Tahapan pengkajian antenatal care
Dimulai dari biodata umum seperti nama, usia, agama, pendidikan,
pekerjaan, alamat dan penghasilan.
Alasan datang
Untuk mengetahui alasan pasien datang apakah untuk kontrol atau
kunjungan ulang ataupun ada keluhan.
Tinggi badan
Tinggi badan kurang dari rata-rata merupakan faktor resiko untuk
ibu hamil atau ibu bersalin. Jika tinggi badan kurang dari 145 cm
dimungkinkan sang ibu memiliki panggul sempit.
Berat badan
Pertumbuhan berat badan selama kehamilan rata-rata -0,3-0,5 kg
perminggu. Bila dikaitkan dengan usia kehamilan, kenaikan berat
badan selama hamil muda 5 kg. Selanjutnya tiap trimester (2 dan 3)
masing-masing bertambah 5 kg. Pada akhir kehamilan pertambahan
berat badan total adalah 9,12 kg. Bila terdapat berat badan yang
berlebihan perlu dipikirkan adanya resiko bengkak, kehamilan
kembar, hidroamnion dan anak besar.
Lingkar lengan atas (LILA)
LILA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat untuk status
gizi yang kurang/buruk. Ibu beresiko untuk melahirkan anak
dengan BBLR.
Keluhan utama
Mengetahui keadaan ibu saat datang, keluhan yang sering terjadi.
Pada saat hamil adalah sering buang air kecil (trimester 1 dan 3),
hemoroid (trimester 2 dan 3), keputihan (trimester 1,2 dan 3),
sembelit (trimester 2 dan 3), keram pada kaki (trimester 2 dan 3),
nafas sesak (trimester 2 dan 3, nyeri ligamentum rotundum
(trimester 2 dan 3), pusing (trimester 2 dan 3), mual muntah
(trimester 1) dan sakit punggung (trimester 2 dan 3).
Pola nutrisi
Energi 2300 kkal, protein 65 gram, kalsium 1,5 gram/hari (trimester
3 membutuhkan 30-40 gram/hari), zat besi rata-rata 3,5 mg/hari,
fosfor 2gr/hari dan vitamin A 50 gram. Dapat diperoleh dari 3 kali
makan dengan komposisi 1 centong nasi, satu potong
daging/telur/tahu/tempe, satu mangkuk sayuran dan satu gelas susu
dan buah.
Pola istirahat
Ibu hamil membutuhkan istirahat yang cukup baik siang maupun
malam untuk menjaga kondisi kesehatan ibu dan bayinya,
kebutuhan istirahat ibu hamil malam kurang lebih 8-10 jam/hari,
siang kurang lebih 1-2 jam/hari.
Pola eliminasi
BAB pada trimester 2 mulai terganggu, relaksasi umum otot polos
dan kompresi usus bawah oleh uterus yang membesar. Sedangkan
untuk BAK ibu trimester 3 mengalami ketidaknyamanan yaitu
sering kencing.
Pola aktivitas
Ibu hamil dapat melakukan aktivitas sehari-hari namun tidak terlalu
lelah dan berat karena dikhawatirkan mengganggu kehamilannya,
ibu hamil utamanya trisemester 1 dan 2 membutuhkan bantuan
dalam melakukan aktivitas sehari-hari agar tidak terlalu lelah.
Kelelahan dalam beraktifitas akan banyak menyebabkan
komplikasi pada setiap ibu hamil misalnya perdarahan dan abortus.
Pola seksual
Trimester 1 tidak boleh terlalu sering karena dapat menyebabkan
abprtus. Trimester 2 boleh melakukan tetapi harus hati-hati karena
perut ibu yang mulai membesar. Trimester 3 tidak boleh terlalu
sering dan hati-hati karena dapat menyebabkan ketuban pecah dini
dan persalinan prematur.
Riwayat psikososial
Faktor-faktor situasi, latar belakang budaya, status ekonomi sosial,
persepsi tentang hamil, apakah kehamilannya
direncanakan/diinginkan. Bagaimana dukungan keluarga. Adanya
respon positif dari keluarga terhadap kehamilannya akan
mempercepat proses adaptasi ibu dalam menerima kehamilannya.
3.1.2 Pemeriksaan fisik
3.1.2.1 Inspeksi
Rambut : bersih/kotor, warna hitam/merah jagung, mudah
rontok/tidak.
Muka : bengkak/edem tanda eklampsi, terdapat cloasma
gravidarum sebagai tanda kehamilan. Muka pucat tanda
anemia, perhatikan ekspresi ibu (kesakitan atau meringis).
Mata : konjungtiva pucat menandakan anemia pada ibu yang
akan mempengaruhi kehamilan dan persalinan yaitu
perdarahan.
Hidung : simetris, adakah sekret, ada kelainan lain.
Mulut dan gigi : bibir pucat tanda ibu anemia, bibir kering
tanda dehidrasi, sariawan tanda ibu kekurangan vitamin c,
caries gigi menandakan ibu kekurangan kalsium.
Leher : adanya pembesaran kelenjar tyroid menandakan ibu
kekurangan iodium sehingga dapat menyebabkan terjadinya
kretinisme pada bayi dan bendungan vena jugularis/tidak.
Dada : bagaimana kebersihannya. Terlihat hiperpigmentasi
pada areola mammae tanda kehamilan, puting susu datar atau
tenggelam membutuhkan perawatan payudara untuk
persiapan menyusi.
Genitalia : Bersih/tidak. Varises/tindak. Ada condiloma/tidak.
Ada keputihan/tidak.
Ekstremitas : adanya oedem pada ekstremitas atas atayu
bawah dapat dicurigai adanya hipertensi hingga preeklampsi
dan diabetes mellitus, varises/tidak, kaki sama panjang/tidak
mempengaruhi jalannya persalinan.

3.1.2.2 Palpasi
Tujuannya untuk mengetahui umur kehamilan, untuk
mengetahui bagian-bagian janin, untuk mengetahui letak janin,
janin tunggal atau tidak, sampai dimana bagian terdepan janin
masuk kedalam rongga panggul, adakah keseimbangan antara
ukuran kepala dan janin.
Dada : adanya benjolan pada payudara waspadai adanya
kanker payudara dan menghambat laktasi. Kolostrum mulai
diproduksi pada usia kehamilan 12 minggu tapi mulai keluar
pada usia 20 minggu.
Abdomen :
- Leopold 1 : untuk menentukan usia kehamilan berdasarkan
TFU dan bagian yang teraba di fundus uteri. Pengukuran
tinggi fundus uteri :
Sebelum bulan 3 tinggi fundus uteri belum bisa diraba
12 minggu TFU 1-2 jari diatas symphisis
16 minggu TFU pertengahan antara syimphisis dan
pusat
20 minggu TFU 3 jari dibawah pusat
24 minggu TFU setinggi pusat
28 minggu TFU 3 jari diatas pusat
32 minggu TFU pertengahan antara pusat dan procesus
xyphoideus
40 minggu TFU pertengahan antara pusat dan procesus
xyphoideus
Tanda kepala: keras, bundar, melenting
Tanda bokong: lunak, kurang bundar, kurang melenting.
- Leopold 2 : menentukan letak punggung janin pada letak
memanjang dan menentukan letak kepala pada letak
lintang.
- Leopold 3 : menentukan bagian terbawah janin dan apakah
bagian terbawah sudah masuk PAP atau belum.
- Leopold 4 : seberapa jauh bagian terbawah masuk PAP.
Ekstremitas : adanya pitting oedem pada ekstremitas atas atau
bawah dapat dicurigai adanya hipertensi hingga preeklampsi
dan diabetes mellitus.

3.1.2.3 Auskultasi
Tujuan menentukan hamil atau tidak, anak hidup atau mati,
membantu menentukan habitus, kedudukan punggung anak,
presentasi anak tunggal/kembar yaitu terdengar pada dua tempat
dengan perbedaan 10 detik.
Dada : adanya ronkhi atau wheezing perlu dicurigai adanya
asma atau TBC yang dapat memperberat kehamilan.
Abdomen : DJJ (-) normal 120-160x/menit, teratur dan
reguler.

3.1.2.4 Perkusi
Reflek patella negatif menandakan ibu kekurangan vitamin B1

3.1.3 Riwayat penyakit sekarang, dahulu dan keluarga


3.1.3.1 Riwayat kesehatan
Selama hamil ibu dan janin dipengaruhi oleh kondisi medis
atau sebaliknya. Kondisi medis dapat dipengaruhi oleh
kehamilan. Bila tidak diatasi dapat berakibat serius bagi ibu.
Riwayat kesehatan yang dapat berpengaruh pada kehamilan
antara lain:
Anemia (kurang darah). Bahaya jika HB <6 gram % yaitu
kematian janin dalam kandungan, persalinan prematur,
persalinan lama dan perdarahan postpartum.
TB Paru. Janin akan tertular setelah lahir. Bila TBC berat
akan menurunkan kondisi ibu hamil, tenaga bahkan juga
ASI akan berkurang. Dapat terjadi abortus, bayi lahir
prematur, persalinan lama dan perdarahan postpartum.
Jantung. Bahayanya yaitu payah jantung bertambah berat,
kelahiran prematur/lahir mati.
Diabetes mellitus. Bahayanya yaitu dapat terjadi
persalinan prematur, hydraamnion, kelainan bawaan, BBL
besar dan kematian janin dalam kandungan.
HIV/AIDS. Bahayanya pada bayi dapat terjadi penularan
melalui ASI dan ibu mudah terinfeksi.

3.1.2.1 Riwayat kesehatan keluarga


Jika didalam keluarga ibu terdapat riwayat penyakit hipertensi,
TBC, jantung, DM, asma akan berpotensi menurun kepada ibu
dan akan berdampak pada kehamilan.

3.1.2.2 Riwayat haid


Anamnese haid memberikan kesan tentang faal alat
reprosuksi/kandungan meliputi hal-hal seperti umur menarche
(pada wanita indonesia umumnya sekitar 12-16 tahun),
lamanya (frekuensi haid bervariasi 7 hari atau lebih), siklus
haid (lebih awal atau lebih lambat dari siklus normal 28 hari),
banyaknya darah, HPHT (membantu penetapan tanggal
perkiraan kelahiran), keluhan saat haid (keluhan yang
disampaikan dapat menunjukkan diagnosa tertentu seperti sakit
kepala sampai pingsan atau jumlah darah banyak.

3.1.2.3 Riwayat pernikahan


Ditanyakan menikah atau tidak, berapa kali menikah, usia
pertama menikah dan berapa lama menikah. Jika hamil diluar
nikah dan kehamilan tersebut tidak diharapkan maka secara
otomatis ibu akan sangat membenci kehamilannya.

3.1.2.4 Riwayat kehamilan sekarang


Tentang antenatal care dimana dan berapa kali, keluhan selama
hamil muda, obat yang dikonsumsi, serta KIE yang didapat.
Sudah atau belum merasakan gerakan janin, usia berapa
merasakan gerakan janin (gerakan pertama fetus pada
primigravida dirasakan pada usia 18 minggu dan pada
multigravida 16 minggu) serta imunisasi yang didapat.

3.1.2.5 Riwayat KB
Apakah selama ini ibu menggunakan KB, jika iya ibu
menggunakan KB jenis apa, sudah berhenti berapa lama,
keluhan selama ikut KB dan rencana penggunaan KB setelah
melahirkan. Hal ini untuk mengetahui apakah kehamilan ini
karena faktor gagal KB atau tidak.

3.1.2.6 Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu.


Kehamilan
Pengkajian mengenai masalah gangguan saat kehamilan
seperti hyperemesis, perdarahan pervaginam, pusing hebat,
pandangan kabur dan bengkak-bengkak ditangan dan wajah.
Persalinan
Cara kelahiran spontan atau buatan, prematur, perdarahan
dan ditolong oleh siapa. Jika wanita pada kelahiran
terdahulu melahirkan pervaginam. Keputusan ini tergantung
pada lokasi insisi di uterus, jika insisi uterus berada
dibagian bawah melintang, nukan vertikal maka bayi
diupayakan untuk dikeluarkan pervaginam.
Nifas
Adakah panas, perdarahan, kejang-kejang dan laktasi.
Kesehatan fisik dan esmosi ibu harus diperhatikan.

3.1.4 Pemeriksaan penunjang


Menurut Marjati et al tahun 2010 ada beberapa pemeriksaan penunjang
selama kehamilan yaitu:
a. Pemeriksaan laboratorium
Wanita hamil diperiksa urinnya untuk mengetahui kadar protein
glukosanya, diperiksa darah untuk mengetahui faktor rhesus,
golongan darah, Hb dan penyakit rubella
Tes Lab Nilai Normal Nilai Tidak Normal Diagnosis Masalah Terkait

Hemoglobin 10,5-14,0 <10,5 Anemia


Protein Urin Terlacak/negatif - Protein urine
Bening/negatif
Glukosa dalam Warna hijau Kuning, orange, Diabetes
urin coklat
VDRL/RPR Negatif Positif Syphilis
Faktor rhesus Rh + Rh- Rh sensitization
Golongan Darah A B O AB Ketidakcocokan ABO
HIV + AIDS
Rubella Negatif Positif Anomali pada janin jika ibu
terinfeksi
Feses untuk Negatif Positif Anemia akibat cacing
ova/telur cacing
dan parasit

b. Pemeriksaan Rontgen
Dilakukan pada kehamilan yang sudah agak lanjut karena sebelum
buan ke IV rangka janin belum tampak. Pemeriksaan rontgen
dilakukan pada kondisi :
Diperlukan tanda pasti hamil
Letak anak tidak dapat ditentukan dengan jelas dengan palpasi
Mencari sebab dari hidraamnion
Untuk menentukan kelainan anak
c. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan ini berguna untuk :
Diagnosis dan konfirmasi awal kehamilan
Penentuan umur gestasi dan penafsiran ukuran fetal
Mengetahui posisi plasenta
Mengetahui adanya IUFD
Mengetahui pergerakan janin dan detak jantung janin.
3.2 Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
Diagnosa 1 ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3.2.1 Definisi
Intake nutrisi tidak cukup untuk keperluan metabolisme tubuh
3.2.2 Batasan karakteristik :
a. Dilaporkan adanya intake makanan yang kurang dari RDA
(Recomended Daily Allowance)
b. Membran mukosa dan konjungtiva pucat
c. Dilaporkan atau fakta adanya kekurangan makanan
d. Kehilangan BB dengan makanan cukup
e. Keengganan untuk makan
f. Kram pada abdomen
g. Nyeri abdominal dengan atau tanpa patologi
h. Kurang berminat terhadap makanan
3.2.3 Faktor yang berhubungan :
Ketidakmampuan pemasukan atau mencerna makanan
atau mengabsorpsi zat-zat gizi berhubungan dengan
faktor biologis, psikologis atau ekonomi.

Diagnosa 2: Perubahan pola seksualitas


3.2.1 Definisi
Ekspresi kekhawatiran tentang seksualitas individu
3.2.2 Batasan karakteristik
a. Perubahan dala mencapai persepsi peran seks
b. Perubahan pada hubungan dengan orang terdekat
c. Konflik yang melibatkan nilai
d. Melaporkan perubahan pada aktivitas atau perilakuk seksual
e. Melaporkan kesulitan pada aktivitas atau perilaku seksual
f. Melaporkan keterbatan pada aktivitas atau perilaku seksual
3.2.3 Faktor yang berhubungan
a. Konflik dengan orientasi seksual
b. Takut hamil atau terkena penyakit menular seksual
c. Kerusakan hubungan dengan orang terdekat
d. Ketidak efektifan atau ketiadaann model peran
e. Defisit pengetahuan atau keterampilan tentang respon alternatif
terhadap perubahan terkait kondisi kesehatan, perubahan struktur
atau fungsi tubuh, penyakit atau terapi
f. Kurang privasi
g. Tidak memiliki orang terdekat

Diagnosa 3 :Risti konstipasi


3.2.1 Definisi
Berisiko mengalami penurunan frekuensi normal defekasi disertai
kesulitan atau pengeluaran feses tidak tuntas, atau pengeluaran feses
yang sangat keras dan kering

3.2.2 Faktor Risiko


a. Farmakologis
Kelemahan otot abdomen, kebiasaan menahan dan mengabaikan
desakan untuk defekasi, aktifitas fisik tidak mencukupi, perubahan
lingkungan yang baru terjadi
b. Psikologis
Depresi, stres emosi, konfusi mental
c. Fisiologis
Perubahan kebiasaan makanan, dan pola makan, penuruan
motilitas saluran gastroentestinal, dehidrasi, asupan serat yang
tidak mencukupi, asupan cairan yang tidak mencukupi pola makan
buruk
d. Farmakologis
Antasida, antikolargenik, antikonvulsan, antidepresan, agens
antilipemik, garam bismuth, kalsium karbonat, penyekat saluran
kalsium, diuretik, garam besi, penggunaan laksatif berlebihan,
opiat, sedatif, sompatomimeetik
e. Mekanis
Ketidak seimbangan elektrolit, hemoroid, gangguan neurologis,
obesitas, kehamilan, tumor, prolaps rektal.

3.3 Perencanaan
Diagnosa 1 ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh
3.3.1 Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nutrisi kurang
dapat teratasi
3.3.2 Kriteria hasil :
Nutritional status: Adequacy of nutrient
Nutritional Status : food and Fluid Intake
Weight Control
3.3.3 Intervensi dan rasional
Intervensi Rasional
Kaji adanya alergi Alergi terhadap makanan
makanan dapat mempengaruhi diet
yang diberikan kepada pasien
Kolaborasi dengan ahli Jumlah kalori dan nutrisi yang
gizi untuk menentukan sesuai dengan kebutuhkan
jumlah kalori dan nutrisi pasien dapat mengatasi
yang dibutuhkan pasien kekurangan nutrisi yang
dialami pasien
Yakinkan diet yang Konstipasi yang mungkin
dimakan mengandung terjadi pada pasien dapat
tinggi serat untuk memperparah keadaan
mencegah konstipasi pasien.
Ajarkan pasien catatan makanan harian
bagaimana membuat dapat membantu pasien
catatan makanan harian. memantau diet yang sedang
diterapkan.
Monitor adanya Penurunan BB yang ekstrim
penurunan BB dan gula merupakan salah satu ciri
darah kekurangan nutrisi
Monitor lingkungan Lingkungan yang tidak
selama makan kondusif (bau, kotor dan lain-
lain) dapat mempengaruhi
nafsu makan pasien
Jadwalkan pengobatan Dapat mengganggu pasien
dan tindakan tidak saat makan
selama jam makan
Monitor turgor kulit Turgor yang baik menandakan
nutrisi pasien baik.
Monitor mual dan muntah Mual dan muntah dapat
mengakibatkan penurunan
nafsu makan yang akan
berdampak pada nutrisi
pasien
Monitor pucat, pucat, kemerahan, dan
kemerahan, dan kekeringan jaringan
kekeringan jaringan konjungtiva dapat dijadikan
konjungtiva tolak ukur keparahan
kekurangan nutrisi.
Monitor intake nuntrisi Menghitung kesesuaian
antara kebutuhan dan nutrisi
yang sudah didapat
Informasikan pada klien Pengetahuan pasien yang
dan keluarga tentang baik tentang manfaat nutrisi
manfaat nutrisi dapat memotivasi pasien
untuk memperbaiki
nutrisinya.
Kolaborasi dengan dokter Cara pemenuhan cairan dan
tentang kebutuhan nutrisi bagi pasien yang tidak
suplemen makanan dapat memenuhi nutrisi
seperti NGT/ TPN peroral.
sehingga intake cairan
yang adekuat dapat
dipertahankan.

Diagnosa 2: Perubahan pola seksualitas berhubungan dengan perubahan


struktur tubuh dan ketidaknyamanan
3.3.1 Tujuan
Seksualitas terpenuhi tanpa mengganggu kehamilan
3.3.2 Kriteria Hasil :
(1) Mendiskusikan perubahan dalam hasrat seksual
(2) Identifikasi langkah mengatasi situasi
(3) Melaporkan adaptasi perubahan dan modifikasi situasi selama
kehamilan

3.3.3 Intervensi :
No Aktivitas Kperawatan Rasional
1 Kaji pola aktivitas seksual pasangan Mengidentifikasi aktivitas
seksual selama kehamilan
2 Kaji dampak kehamilan terhadap Mengetahui perubahan
Seksualitas seksualitas selama
kehamilan
3 Anjurkan pilihan posisi koitus selama Menganjurkan pemilihan
kehamilan posisi yang nyaman dalam
seksualitas selam hamil
yang tidak mengganggu
kehamilan
4 Informasikan tindakan yang dapat Pada TM I kontraksi uterus
Meningkatkan kontraksi (stimulasi yang berlebihan dapat
puting susu, orgasme pd wanita, sperma) menyebabkan abortus

Diagnosa 3: Risti konstipasi b.d penurunan peristaltik, penekanan uterus


3.3.1 Tujuan :
Konstipasi tidak terjadi
3.3.2 Kriteria Hasil :
(1) Mempertahankan pola fungsi usus normal
(2) Mengidentifikasi perilaku beresiko
(3) Melaporkan tindakan untuk meningkatka eliminasi
3.3.3 Intervensi :
No Aktivitas Kperawatan Rasional
1 Tentukan kebiasaan eliminasi sebelum Mengidentifikasi adakah
hamil & perhatikan perubahan selama perubahan eliminasi BAB
hamil sebelum dan selama hamil
2 Kaji adanya haemoroid Konstipasi dapat
menyebabkan adanya
haemoroid
3 Informasikan diet : buah, sayur, serat & Diet tinggi serat dapat
intake cairan adekuat memperlancar BAB dan
menjadikan feses lebih lunak
4 Anjurkan latihan ringan Latihan dapat membantu
pergerakan peristaltik usus
lebih cepat dan membantu
merangsang terjadai BAB
5 Kolaborasi : berikan pelunak feces bila Mencegah terjadi konstipasi
diet tak efektif berlanjut

Daftar Pustaka
Manuaba, Ida Bagus Gde.2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC

Asuhan kebidanan I, 2010,ika pantikawati,S.Si.T and saryono, S.Kp.,M.Kes)


Carpenito, L.J. 2001. Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta : EGC

Doenges, Marylinn E 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman untuk


perencanaan dan dokumentasi perawatan klien. Jakarta : EGC
Hamilton, Persis. (1995). Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas. Edisi 6. EGC:
Jakarta.

Hidayati, Ratna. (2009). Asuhan Keperawatan Pada Kehamilan Fisiologis dan


Patologis. Jakarta : Salemba Medika.

Judith M. Wilkinson, Nancy R. Ahern (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan.


Alih bahasa Esti W. EGC: Jakarta

Mochtar, Rustam. (1998). Synopsis Obstetri: Obstetri Fisiologi, Obstetri patologi.


EGC: Jakarta.

Rusari. (2008). Asuhan Keperawatan. http://askep.blog.rusari.com/

Banjarmasin, 6 Maret 2017

Presptor akademik, Preseptor klinik

() ()