Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

PINDAH PANAS

PINDAH PANAS MELALUI DINDING BERLAPIS

Oleh :
Ipung Saraswati
NIM : A1H014059

KEMENTERIAN RISET, TEKNOOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2015
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perpindahan panas (heat transfer) ialah ilmu untuk meramalkan perpindahan

energi yang terjadi karena adanya perbedaan suhu diantara benda atau material.

Dari termodinamika telah diketahui bahwa energi yang pindah itu dinamakan

kalor (Holman, 1986). Kalor dapat berpindah dari tempat dengan temperatur yang

lebih tinggi ke tempat dengan temperatur yang lebih rendah. Soegijantoc(1999)

menyatakan bahwa bangunan akan mendapatkan perolehan panas dan

mengeluarkan atau kehilangan panas dapat terjadi melalui peristiwa perpndahan

panas. Proses pindah panas yaitu pindah panas radiasi, pindah panas konduksi,

pindah panas konveksi.

Kalor dari suhu bagian benda bertemperatur lebih tinggi akan mengalir

melalui zat benda itu kebagian lainnya yang bertemperatur lebih rendah. Zat atau

partikel zat dari benda yang dilalui kalor ini sendiri tidak mengalir sehingga

tenaga kalor berpindah dari satu partikel ke partikel laindan mencapai bagian yang

dituju. Perpindahan ini disebut konduksi, arus panasnya adalah arus kalor

konduksi dan zatnya itu mempunyai sifat konduksi kalor. Konveksi kalor terjadi

karena partikel zat bertemperatur lebih tinggi berpindah tempat secara mengalir

sehingga dengan sendirinya terjadi perpindahan kalor melalui perpindahan massa.

Aliran zat atau fluida, dapat berlangsung sendiri sebagai akibat pebedaan massa

jenis karena perbedaan temperatur, dan dapat juga sebagai akibat paksaan (Halli,
2012). Mode ketiga dari transmisi kalor disebabkan oleh perambatan gelombang

elektromagnetik, yang dapat terjadi baik di dalam vakum total maupun di dalam

medium. Bukti eksperimental mengindikasikan bahwa perpindahan kalor radian

adalah proporsional terhadap pangkat keempat dari temperatur absolut, sementara

konduksi dan konveksi proporsional terhadap selisih temperatur linier (Pitts dan

Sissom, 2008).

Konduksi merupakan proses perpindahan panas yang merambat dari

material satu material yang lain atau merambat dari satu partikel ke partikel yang

lain. Pindah panas konduksi biasanya terjadi pada daerah latai dan lapisan

dinding. Persamaan besarnya perpindahan panas karena koduksi digambarkan

oleh persamaan berikut ( Tiwari dan Goyal, 1998) :

KA (T 1T 2)
Q=
S

Keterangan :

Q = pindah panas konduksi (joule) S = ketebalan material (m)

T = suhu (K) T 1 = suhu fluida (K)

K = konduktifitas termal (W/m.K) T 2 = suhu material (K)

A. Tujuan

1. Memahami karakteristik pindah panas secara konduksi pada dinding datar

2. Menghitung laju pindah panas konduksi pada dinding datar.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Perpindahan panas adalah salah satu faktor yang sangat menentukan

operasional suatu pabrik kimia. Perpindahan ka1or dari suatu zat ke zat lain

seringkali terjadi dalam industri proses. Perpindahan panas selalu terjadi dalam

kombinasi dengan unit operasi lain seperti: destilasi, evaporasi dan drying.

Pada kebanyakan pengerjaan, diperlukan pemasukan atau pengeluaran

ka1or, untuk mencapai dan mempertahankan keadaan yang dibutuhkan sewaktu

proses berlangsung. Kondisi pertama yaitu mencapai keadaan yang dibutuhkan

untuk pengerjaan, terjadi umpamanya bila pengerjaan harus berlangsung pada

suhu tertentu dan suhu ini harus dicapai dengan ja1an pemasukan atau

pengeluaran kalor. Kondisi kedua yaitu mempertahankan keadaan yang

dibutuhkan untuk operasi proses, terdapat pada pengerjaan eksoterm dan

endoterm. Disamping perubahan secara kimia, keadaan ini dapat juga merupakan

pengerjaan secara a1ami. Dengan demikian. pada pengembunan dan penghabluran

(krista1isasi) ka1or harus dikeluarkan. Pada penguapan dan pada umumnya juga

pada pelarutan, ka1or harus dimasukkan. Adalah hukum alam bahwa kalor itu

suatu bentuk energi.

Sama seperti bentuk lain dari energi, jumlah kalor juga dinyatakan da1am

suatu gaya kali suatu jarak yaitu Newton ka1i meter atau Nm. 1 Nm dinamakan 1

Joule.

Kalor mengalir dengan sendirinya dari suhu yang tinggi ke suhu yang

rendah. Akan tetapi, gaya dorong untuk aliran ini ada1ah perbedaan suhu. Bila
sesuatu benda ingin dipanaskan, maka harus dimiliki sesuatu benda lain yang

lebih panas, demikian pula halnya jika ingin mendinginkan sesuatu, diperlukan

benda lain yang lebih dingin.

Gambar 1. Perpindahan panas dari temperatur tinggi ke rendah

Hukum kekekalan energi menyatakan bahwa energi tidak musnah yaitu

seperti hukum asas yang lain, contohnya hukum kekekalan masa dan momentum,

ini artinya kalor tidak hilang. Energi hanya berubah bentuk dari bentuk yang

pertama ke bentuk yang ke dua. Bila diperhatikan misalnya jumlah energi kalor

api unggun kayu yang ditumpukkan, semua ini .menyimpan sejum1ah energi

dalam yang ditandai dengan kuantitas yang lazim disebut muatan kalor bahan.

Apabila api dinyalakan, energi terma yang tersimpan di dalam bahan tadi

akan bertukar menjadi energi kalor yang dapat kita rasakan. Energi kalor ini

mengalir jika terdapat suatu perbedaan suhu. Bila diperhatikan sebatang logam

yang dicelupkan ke dalam suatu tangki yang berisi air kalor. Karena suhu awal

logam ialah T1 dan suhu air ialah T2, dengan T2 >> T1, maka logam dikatakan

lebih dingin daripada air. Ha1 yang penting dalam sistem yang terdiri dari air dan

logam ialah adanya suatu perbedaan suhu yang nyata yaitu (T2- T1).

Kalor dapat diangkut dengan tiga macam cara yaitu:

1. Hantaran, sering juga disebut konduksi.


2. Aliran, sering juga disebut konveksi

3. Pancaran, sering juga dinamakan radiasi.

Konduksi (Hantaran)

Konduksi adalah perpindahan panas dari suatu bagian bahan dari

temperatur tinggi menuju bagian dengan temperatur rendah melalui suatu medium

tanpa diikuti dengan adanya aliran material medium tersebut. Yang dimaksud

dengan hantaran ialah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga

perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman

karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Jika salah satu

ujung logam memiliki temperatur rendah, maka akan terjadi transfer energi dari

bagian dengan temperatur tinggi menuju bagian dengan temperatur rendah. Untuk

perpindahan panas yang terjadi antara dua permukaan, misalnya melalui dinding

atau material padat lainnya, maka laju perpindahan panas konduksi dirumuskan

dengan menggunakan persamaan (1)

Gambar 2. Perpindahan panas secara konduksi

Q kA (T 2T 1)
= ................................................................ ( 1 )
t L
dengan :

Q = laju perpindahan panas (joule/detik)

k = konduktivitas termal bahan (barrier)

A = luas permukaan perpindahan panas (m2)

T1,2 = temperatur dingin dan temperatur panas (K)

L = ketebalan atau panjang barrier (m)

Gambar 3. Perpindahan panas konduksi dan difusi energi akibat aktivitas


molekul

Pada konduksi terjadi tumbukan antara atom dan molekul dari medium yang

digunakan serta diikuti dengan transfer energi kinetik namun tidak diikuti dengan

perpindahan material medium tersebut.

Pada perpindahan panas secara konduksi, kalor/panas mengalir tanpa

disertai gerakan zat, tetapi melaui satu jenis zat. Arah aliran energi kalor dari titik

bersuhu tinggi ke titik bersuh rendah. Tidak semua bahan dapat menghantar kalor

sama sempurnanya. Konduktor merupakan bahan yang dapat menghantar kalor

dengan baik sedangkan isolator: penghantar kalor yang buruk.

Koefisien konduksi termal, (k) :


sifat bahan yang digunakan untuk menyatakan bahwa bahan tersebut

merupakan suatu isolator atau konduktor

menunjukkan berapa sepat kalor mengalir dalam suatu bahan

kkonduktor>kisolator

Konduksi panas mengikuti Hukum Fourier yang dapat dinyatakan dengan

persamaan yang berikut:

dT
q=kA
dx

dimana:

q = laju perpindahan panas (Watt)

dT/dx = gradien suhu ke arah perpindahan panas (m)

Untuk menentukan mudah tidaknya suatu medium menghantarkan panas,

maka digunakan konduktivitas termal dan biasa dikenal dengan konstanta

konduktivitas atau koefisien konduksi, k. Konstanta konduktivitas (k) ini

tergantung pada sifat material digunakan seperti fasa medium, temperatur,

densitas, dan ikatan molekular medium.

Logam misalnya tembaga biasanya merupakan konduktor panas yang baik.

Hal ini disebabkan adanya logam kimia yang lebih kuat dari ikatan kovalen dan

ikatan ionik serta memiliki elektron bebas dan berasal dari struktual kristal.

Sedangkan fluida (liquid dan gas) merupakan konduktor yang buruk. Hal ini

disebabkan karena jarak antar atom pada gas sangat jarang sehingga dengan
adanya tumbukan beberapa atom dapat menurunkan konduksi dan densitas fluida

menurun jika konduksi terjadi.

Dengan demikian persamaan konduksi panas mendefinisikan tahanan

terhadap konduksi panas k adalah konduktiviti panas suatu zat, yang besarnya

tergantung pada temperatur zat itu. Biasanya perubahan k dapat diperkirakan

cukup dengan fungsi liniar.

1. Konduksi Keadaan Steady (Tunak)

Analisa satu dimensi arah sumbu x ditunjukkan sebagai berikut:

a. Konduksi Linear pada Dinding Berlapis

Sistem dengan lebih dari satu macam bahan, seperti dinding lapis

rangkap, analisisnya akan menjadi seperti berikut:

Gambar 4. Konduksi Linear pada Dinding Berlapis


sehingga analisisnya akan menjadi seperti berikut:

T 1T 4 x
q= dimana R=
R 1+ R 2 + R 3 kA

R adalah tahanan perpindahan panas.

b. Konduksi Radial pada Silinder

Gambar 5. Konduksi Radial pada Silinder

Suatu silinder, dimana:

r1= jari-jari dalam (m)

r0=jari-jari luar (m)

L=panjang (m)

Ti-To=beda suhu (K)

Kasus aliran panas radial dengan cara konduksi melalui silinder berlubang

merupakan fenomena konduksi pada ruang. Contoh yang khas adalah konduksi

melalui pipa dan melalui isolasi pipa, jika silinder itu homogen dan cukup panjang

sehingga pengaruh ujung- ujungnya dapat diabaikan dan suhu permukaan

dalamnya kostan pada Ti sedangkan suhu luar dipertahankan seragam pada To

maka persamaan untuk laju konduksi panasnya adalah menjadi :


dT
q=kA
dr

Dimana dT/dr adalah gradien suhu arah radial. Untuk silinder berlubang,

luasnya merupakan fungsi jari-jari, A = 2 rl dimana r adalah jari-jari dan l

panjang selinder. Maka aliran panas dengan cara konduksi dapat dinyatakan

sebagai

dT
q=k 2 r l
dr
III. METDOLOGI

A. Alat dan Bahan

1. Bak air multilapis

2. Hybrid recorder dan termokopel/thermometer

3. Kompor

4. Heater

5. Panci

6. Air

B. Prosedur Kerja

1. Mengukur suhu awal air dan dinding observasi

2. Menuangkan air yang telah dipanaskan pada suhu 100C ke dalam bak air

multilapis, mempertahankan suhu air tersebut sampai pengukuran selesai

3. Mengukur perubahan suhu yang terjadi pada setiap titik observasi dengan

interval waktu 2 menit selama 30 menit

4. Mencatat hasil pengukuran

Logam
Suhu Waktu ke. (Menit)
2 4 6 8 10
A
B
C
D
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel pengamatan

Bahan Suhu ( 2 Panjang Lebar Tebal

menit)
Triplek 35 C 19,7 cm 6 cm 0,135 mm
Gypsum 33,9 C 19,7 cm 4,9 cm 0,335 mm
PVC 32,1 C 19,7 cm 3,7 cm 1,42 mm
Besi 32 C 19,7 cm 2,1 cm 2,36 mm

Perhitungan

Tawal = 28 C

T mendidih = 95 C

C = 4200 kJ/ kgC

= 1000 kg / m
3
volume air = 100 ml = 10 m

massa = . V
3
= 1000. 10

= 1 kg

Q = m. C. T

= 1. 4200 (95 C 28 C)

= 281,4 k
Q
Q = t

281,4
= 120

= 2,345

Perhitungan konduktivitas termal

a. K Triplek

T 2T 1
Q = K xAx S

3528
2,345 = Ktrip x 118,2 x 10-4 x 135 x 106

2,345 = Ktrip x 118,2 x 10-4 x 0,052 x 106

2,345 = Ktrip x 6,15 x 102

2,345
Ktrip = 6,15 x 102

= 3,83 x 10-3 J/mC

b. K Gypsum

T 2T 1
Q = K xAx S

33,928
2,345 = (KGy + 3,83 x 10-3 ) x 97,51 x 10-4 x 335 x 106

2,345 = (KGy + 3,83 x 10-3 ) x 97,51 x 10-4 x 17611,94

2,345 = (KGy + 3,83 x 10-3 ) x 171,73

2,345
-3
171,73 = (KGy + 3,83 x 10 )
KGy = 9,82 x 10-3 J/mC

c. K PVC

T 2T 1
Q = K xAx S

32,128
2,345 = (KPVC + 9,82 x 10-3 + 3,83 x 10-3 ) x 72,89 x 10-4 x 142 x 105

2,345
72,89 x 104 = (KPVC + 13,65 x 10-3 ) x 2887,32

2,345
2887,32 = KPVC + 3,83 x 10-3

11,33 x 10-3= KPVC + 13,65 x 10-3

KPVC =11,33 x 10-3 - 13,65 x 10-3

= -2,32 x 10-3 J/mC

d. K Besi

T 2T 1
Q = K xAx S

2,345 = (Kbesi - 2,32 x 10-3 + 9,82 x 10-3 + 3,83 x 10-3 ) x 41,79 x 10-4 x

3228
236 x 105

2,345 = (Kbesi - 2,32 x 10-3 + 9,82 x 10-3 + 3,83 x 10-3 ) x 41,79 x 10-4 x

1694,91

2,345 = (Kbesi + 11,33 x 10-3) x 7,083

2,345
7,083 = (Kbesi + 11,33 x 10-3 )
331 x 10-3 = Kbesi + 11,33 x 10-3

Kbesi = 331 x 10-3 - 11,33 x 10-3

319,67 x 10-3 J/mC

A. Pembahasan

Perpindahan secara konduksi adalah perpindahan kalor atau panas melalui

perantara, di mana zat perantaranya tidak ikut berpindah. Dalam arti lain,

konduksi atau hantaran yaitu perpindahan kalor pada suatu zat tanpa disertai

dengan perpindahan partikel-partikelnya. (Samsudin). Perpindahan panas secara

konduksi ialah perpindahan panas secara hantaran yaitu perpindahan panas tanpa

memindahkan zat perantaranya. Pada peristiwa perpindahan panas secara

konduksi yang berpindah hanya energi kalornya saja. Umumnya perpindahan

panas secara konduksi terjadi pada zat padat. (Seputar Pendidikan). Dalam

konduksi yang berpindah hanyalah energi saja yaitu berupa panas. Saat kita

mengaduk teh panas dengan sendok, maka lama kelamaan tangan kita terasa

panas dari ujung sendok yang kita pegang. Atau saat kita membuat kue

menggunakan wadah berupa aluminium yang disimpan di oven jua termasuk

proses konduksi yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. (4muda)

Alat yang memiliki prinsip kerja pindah panas secara konduksi dalam

keteknikan pertanian antara lain :


1. Pengering baki (tray dryer) disebut juga pengering rak atau pengering kabinet,

dapat digunakan untuk mengeringkan padatan bergumpal atau pasta, yang

ditebarkan pada baki logam dengan ketebalan 10-100 mm. Pengeringan jenis

baki atau wadah adalah dengan meletakkan material yang akan dikeringkan

pada baki yang lansung berhubungan dengan media pengering.

2. Rotary dryer, pengering putar ini dipanaskan dengan kontak langsung gas

dengan zat padat atau dengan gas panas yang mengalir melalui mantel luar,

atau dengan uap yang kondensasi di dalam seperangkat tabung longitudinal

yang dipasangkan pada permukaan dalam selongsong.

3. Frees Driyer merupakan suatu alat pengeringan yang termasuk kedalam

Conduction Dryer/ Indirect Dryer karena proses perpindahan terjadi secara

tidak langsung yaitu antara bahan yang akan dikeringkan (bahan basah) dan

media pemanas terdapat dinding pembatas sehingga air dalam bahan basah /

lembab yang menguap tidak terbawa bersama media pemanas

Konduksi adalah perpindahan panas melalui zat perantara. Namun, zat terse

but tidak ikut berpindah ataupun bergerak. Contoh dalam kehidupan sehari hari

yakni :

a. Memasak air menggunakan panci logam

Dalam kehidupan seharihari, peristiwa konduksi dapat diamati misalnya pad

saat memasak air menggunakan panci logam di atas api kompor. Aliran panas dari

apiakan merambat melalui atomatom dalam logam. Logam kemudian meneruskan

panas yang diterimanya dari api ke molekul


molekul air. Logam merupakan konduktor panas yang baik sehingga panas dari ap

i akan cepat di hantarkan dan menyebabkan air segera mendidih.

b. Membuat kopi atau minuman panas

Ketika kita membuat kopi atau minuman panas, lalu kita mencelupkan send

ok untuk mengaduk gulanya. Biarkan beberapa menit, maka sendok tersebut akan

ikut panas. Panas dari air mengalir ke seluruh bagian sendok.

c. Membakar besi logam dan sejenisnya

Saat kita membakar besi logam dan sejenisnya. Walau hanya salah satu ujun

g dari besi logam tersebut yang dipanaskan, namun panasnya akan menyebar ke s

eluruh bagian logam sampai ke ujung logam yang tidak ikut dipanasi. Hal ini men

unjukkan panas berpindah dengan perantara besi logam tersebut.

d. Solder

Untuk melekatkan komponen elektronika ke papan rangkaian kita mengguna

kan cairan timah dengan menyoldernya. Solder listrik akan menerima panas dari k

onversi energy listrik. Panas dari energy listrik ini akan diterukan ke ujung logam

pada solder yang di sentuhkan ke timah yang diposisikan di kaki-kaki komponen e

lektronika yang akan di lekatkan. Setelah beberapa saat, timah akan meleleh dan p

ada saat itu solder kita angkat. Timah akan segera mendingin dan membeku, mele

katkan kaki komponen elektronika tadi ke papan rangkaian dengan kuat.

e. Setrika listrik

Untuk merapikan dan mensterilkan pakaian, kita memerlukan sesuatu yang

panas namun tidak merusak. Karena itulah kita perlu konduktor untuk menstransf

er panas dari sumber panas tertentu ke pakaian kita. Kita memerlukan sebuah setri
ka. Setrika akan menstransfer panas dari sumber panas (mislya panas dari konvers

i energi istrik) ke pakaian. Panas di bagian logam pada setrika bertahan cukup lam

a sehingga memungkinkan kita menggunakannya untuk merapikan pakaian kita.

Dari keempat plat yang diujikan, yang mempunyai nilai konduktivitas tinggi

adalah besi. Karena konduktivitas termal pada bahan logam besi dalam percobaan

ini merupakan kontribusi dari konduktivitas termal getaran kisi (fonon) dan

konduktivitas termal electron bebas (k=kfonon+kelektron) dimana dalam bahan

logam besi ketika dipanaskan akan terjadi peningkatan energi getaran kisi (fonon)

atom atom penyusun nya. Atom atom pada material logam aluminium secara

konstan bergetar pada frekuensi tinggi dengan amplitudo yang relative kecil.

Pergetaran atom atom ini seolah olah menciptakan bentuk gelombang kisi (fonon)

yang berjalan sehingga energi termal dapat dihantarkan ke ujung logam lainnya

melalui gelombang getaran kisi (fonon) ini. Selain itu dalam bahan logam besi,

energi termal juga dihantarkan oleh electron bebas yang saling menumbuk

elektron-elektron didekatnya sehingga terjadi transfer energi dalam bentuk kalor

hingga kalor mencapai ujung logam lainnya.

Pada praktikum acara pindah panas pada dinding berlapis dengan jenis

bahan triplek, gypsum, pvc, dan besi ini memperoleh hasil data sebagai berikut :

Air panas dituangkan pada kotak dinding berlapis, setelah didiamkan 2 menit

.memperoleh suhu sebagai berikut pada triplek 35, Gypsum 33,9, PVC 32,1,

Besi 32. D an memperoleh luasan pada masing masing bahan diantaranya

Triplek sebesar 118,2 x 10-4 m, Gypsum sebesar 97,51 x 10-4 m, PVC sebesar

72,89 x 10-4 m dan Besi sebesar 41,79 x 10-4 m. dengan Q yang sudah diketahui
besarnya maka setelah itu dapat dihitung konduktivitas termal pada masing

masing bahan, dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Q = K x A x

T 2T 1
S . pada lapisan pertama yaitu triplek, memperoleh nilai konduktivitas

termal sebesar 3,83 x 10-3 J/mC, pada lapisan kedua yaitu gypsum nilai

konduktivitas gypsum ditambah dengan nilai konduktivitas triplek diperoleh

sebesar 9,82 x 10-3 J/mC, pada lapisan ketiga yaitu PVC, nilai konduktivitas PVC

ditambah dengan nilai konduktivitas triplek dan gypsum maka diperoleh hasil

-2,32 x 10-3 J /mC dan yang teraakhir pada lapisan keempat, yaitu lapisan besi.

Nilai konduktivitas besi ditambah dengan nilai konduktivitas triplek, gypsum dan

PVC yang mendapatkan hasil sebesar 319,67 x 10-3 J /mC. maka dapat terlihat

hasil konduktivitas termal terbesar adalah pada lapisan besi kemudian disusul

dengan nilai konduktivitas gypsum, triplek dan pvc. Pada literature disebutkan

bahwa nilai konduktivitas pada besi tinggi karena merupakan bahan konduktor.

Kendala pada saat praktikum acara ini mungkin karena alat yang terbatas

sehingga harus dipakai secara bersama. Kemudian sedikit kesulitan dalam

perhitungan nilai konduktivitasnya.


I. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Perpindahan secara konduksi adalah perpindahan kalor atau panas melalui

perantara, di mana zat perantaranya tidak ikut berpindah.

2. Alat yang memiliki prinsip kerja pindah panas secara konduksi : Pengering

baki (tray dryer), Rotary dryer, Frees Driyer

3. Contoh pindah panas secara konduksi dalam kehidupan sehari hari : solder,

membakar besi atau logam, membuat kopi dan lain-lain

4. Pada praktikum kali ini dapat disimpulkan konduktivitas terbesar adalah besi.

B. Saran

Sebaiknya praktikum selanjutnya alangkah baiknya apabila jumlah dari

alat di tambah lagi agar semua praktikan dapat melakukan praktikum dengan

maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

4muda. 2013. Perpindahan Kalor: Konduksi, Konveksi dan Radiasi. (On-Line)


http://4muda.com/perpindahan-kalor-konduksi-konveksi-dan-radiasi diakses
29 Desember 2015

Paramita. 2014. Laporan Konduksi. (On-Line)

http://www.academia.edu/14479301/laporan_konduksi diakses 28
Desember 2015

Samsudin. 2015. Pengertian dan Contoh Perpindahan Panas secara Konduksi,


Konveksi, dan Radiasi. (On-Line) http://www.ilmupengetahuanalam.com
diakses 27 Desember 2015

Sucitro. 2014. Heat Conduction. (On-Line)


http://rumahdukasi.blogspot.co.id/2014/03/heat-conduction.html
diakses tanggal 31 Desember 2015

Tim Asisten. 2015. Pedoman Praktikum Pindah Panas. Fakultas Pertanian:


Universitas Jendral Soedirman.