Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT), adalah perusahaan pertambangan
Tembaga-Emas dibagian Barat Daya Pulau Sumbawa, Kabupaten Sumbawa
Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Pada tahun 1990, PT NNT
menemukan cabakan tembaga porpiri dalam jumlah besar di daerah tersebut, yang
kemudian diberi nama Batu Hijau. Pada aktivitas penggalian bijih tembaga dan
emas dilakukan dari Pit di tambang terbuka. Penambangan batuan, baik bijih
maupun batuan kadar rendah dari proyek Batu Hijau mencapai lebih dari 600.000
ton per hari. Bijih yang ditambang rata-rata mengandung 0,53 % Cu dan 0,4
gram/ton Au. PT. NNT mengolah rata-rata 120.000 ton bijih tembaga-emas
perhari hingga menjadi konsentrat.
Penambangan dimulai dengan pemboran dan peledakan batuan di lubang
Pit. Batuan bijih kemudian diangkut menggunakan haul truck ke primary crusher
dan stockpile yang terletak di pinggir Pit. Penghancuran di primary crusher
menghasilkan batuan dengan ukuran maks 15 cm. Dari sini batuan dikirim ke
pabrik pengolahan (concentrator) dengan menggunakan conveyor sepanjang 5,4
km. Di concentrator batuan bijih digiling menggunakan SAG Mills dan Ball Mills
dengan campuran air laut/tawar untuk memperoleh batuan dengan ukuran 200
micron. Bijih halus ini kemudian dikirim ke tangki flotasi untuk proses pemisahan
konsentrat dengan tailing melalui proses fisika dengan bantuan reagents. Tailing
dikirim ke teluk senunu melalui jaringan pipa untuk penempatan bawah laut pada
kedalaman 120 m. Konsentrat slurry kemudian dialirkan ke tangki CCD untuk
pembersihan akibat campuran air laut. Setelah itu konsentrat ini dikirim ke benete
melalui pipa sepanjang 17.6 km untuk pengeringan hingga 90% di Filter Plant
sebelum ditempatkan di gudang pengapalan.
1.2. Tujuan dan Maksud
Tujuan dari penulisan laporan ini menggambarkan bagaimana pengelolaan
dan pengendalian lingkungan yang diterapkan PT. Newmont Nusa Tenggara di
Site Batu Hijau dalam memenimalkan pencemaran terhadap lingkungan,
pemantauan dan pemanfaatan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan.
Maksud dari penulisan laporan ini menganalisis program pengelolaan dan
pengendalian lingkungan PT. Newmont Nusa Tenggara di site Batu Hijau.

1.3. Waktu dan Tempat


Waktu Pelaksanaan kegiatan ekskursi ini berlangsung selama 2 hari dari
tanggal 23-24 Mei 2016. Kegiatan ekskursi ini berjumlah 11 orang dan
didampingi pembimbing 1 orang. Tempat pelaksanaan kegiatan Ekskursi
Mahasiswa Magister Teknik Pertambangan Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta berlokasi di area penambangan PT. Newmont Nusa
Tenggara, Nusa Tenggara Barat, Site Batu Hijau.

1.4. Status Kepemilikan Saham PT. NNT


Saham PT. NNT dimiliki oleh empat grup yaitu, Nusa Tenggara Partnership
B.V (NTP), PT. Multi Daerah Bersaing (PT MDB), PT Pukuafu Indah (PT. PI)
dan PT. Indonesia Masbaga Investama. Saat ini, sebesar 7% saham asing yang
dimiliki Nusa Tenggara Partnership tengah ditawarkan untuk proses divestasi.

Gambar 1.1. Status Kepemilikan Saham PT. NNT


BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah


Proyek Batu Hijau terletak tepatnya di Kecamatan Maluk, Jereweh dan
Sekongkang, Kabupaten Sumbawa Barat. Pulau Sumbawa adalah bagian dari
pulau sebelah selatan kepulauan Indonesia, disebelah timur Pulau Lombok dan
Samudera Hindia di sebelah selatan. Di lepas pantai selatan Sumbawa, dasar laut
menurun curam dan berakhir di Cekungan Lombok (>4.000 m di bawah
permukaan laut), sekitar 70 km dari garis pantai. Selain kondisi topografi yang
curam Pulau Sumbawa ditandai oleh medan perbukitan, daerah aktivitas gempa
dan iklim tropis (rata-rata curah hujan sebesar 2.500 mm/th).
Secara geografis daerah ini terletak pada 116o240 BT - 116o330 BT dan
8o300 LS - 9o30 LS. Untuk dapat mencapai lokasi penambangan dapat
ditempuh melalui perjalanan darat dari kota Mataram selama dua jam dengan
menggunakan angkutan darat menuju pelabuhan Kayangan, Lombok Timur.

Gambar 2.1. Lokasi Project Area Batu Hijau


Lokasi pertambangan berada pada pedalaman pulau sekitar 450 km di atas
permukaan laut, 15 km dari pelabuhan khusus PT. NNT di Teluk Benete dan
sekitar 10 km dari Pesisir Selatan Sumbawa. Seluruh kegiatan penambangan dan
pengeloaan mineral serta saran dan prasarana tambang site Batu Hijau bertempat
pada satu lokasi dengan luas 400 km persegi.
Bijih yang ditambang oleh PT. NNT rata-rata mengandung 0,53% tembaga
dan 0,4 gram per ton emas. Penambangan batuan, baik bijih maupun batuan yang
berkadar rendah, rata-rata mencapai 600.000 ton/hari. Bijih tembaga-emas yang
diolah melalui proses pengolahan konsentrat, rata-rata mencapai 120.000 ton/hari.

2.2. Kondisi Geologi


Kondisi geologi di site Batu Hijau PT Newmont Nusa Tenggara terdari dari
beberapa kondisi geologi A, B, C, D, E, F dan G. dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Kondsi A Lithology (Jenis Batuan)
Volcanic fine grain (Vjg), porfiritik,
berbutir halus-sedang, angular-sub
rounded, finokris, felspar, dan
hornblende tertanam dalam massa
dasar halus. Alteration (ubahan) dari
mineral mafik terubah menjadi biotit
sekunder, klorite dan magnetit (biotit
alteration).
Mineralisasi dapat berupa Kalkopyrite, bornit, dan pyrit tersebar
diseminated dan mengisi urat-urat kuarsa. Au (emas) 1,24 gr/ton, Cu
(Tembaga) 0,61 %, Ag (Perak) 1.60 gr/ton.
2. Kondisi B Lithology (Jenis Batuan)
Equigragnular quartz diorite (Qde),
porfiritik, berbutir halus-sedang, sub
rounded, terdiri atas kuarsa, feldspas
dan mineral mafik. Alteration (ubahan)
terubuh kuat, mineral mafik dan
feldspar terubah menjadi klorit dan serisit (pale green mica alteration).
Mineralisasi berupa kalkopyrite, bornite tersebar disseminated dan mengisi
urat-urat kuarsa. Au (Emas) 1,82 gr/ton, Cu (Tembaga) 1.93 %, Ag (Perak)
3,70 gr/ton.
3. Kondisi C Lithology (Jenis Batuan)
Intermediate tonalite (Ti), porfiritik,
berbutir halus-sedang, sub rounded
terdiri atas kuarsa, feldspar dan mineral
mafik. Alteration (ubahan) mineral
mafik dan feldspar terubah menjadi
biotit sekunder, klorit dan magnetit
(biotit alteration-pole green mica).
Mineralisasi Kalkopyirite, bornit tersebar disseminated dan mengisi urat-
urat kuarsa. Au (Emas) 2,87 gr/ton, Cu (Tembaga) 1,48 %, Ag (Perak) 5.10
gr/ton.
4. Kondisi D Lithology (Jenis Batuan)
Intermediate tonalite (Ti), porfiritik,
berbutir halus-sedang, sub rounded
terdiri atas kuarsa, feldspar dan mineral
mafik. Alteration (ubahan) mineral
mafik dan feldspar terubahn menjadi
biotit sekunder, klorit dan serisit.
Mineralisasi berupa kalkopyirite, bornit tersebar disseminated dan mengisi
urat-urat kuarsa. Au (Emas) 2,46 gr/ton, Cu (Tembaga) 1,10%, Ag (Perak)
4,30 gr/ton
5. Kondisi E Lithology (Jenis Batuan)
Volcanic fine grain (Vjg), porfiritik,
berbutir halus-sedang, angular-sub
rounded fenokris feldspar dan
horblende tertanam dalam massa dasar
halus.
Alteration (ubahan) mineral mafik terubah menjadi klorit dan serisit (Pale
green mica alteration. Mineralisasi Kalkopyirite, bornitem dan pyrite
tersebar disminated dan mengisi urat-urat kuarsa. Au (Emas) 0,01 gr/ton, Cu
(Tembaga) 0,06%, Perak (Ag) 0,2 gr/ton.

Gambar 2.2. Alterasi (Ubahan) Mineral


6. Kondisi F Lithology (Jenis Batuan)
Equigranular quartz diorite (Qde),
porfiritik, berbutir halus-sedang,
sub rounded terdiri atas kuarsa,
feldspar dan mineral mafik.
Alteration berupa mineral mafik
dan feldspar terubah menjadi klorit
dan serisit.
Mineralisasi dapat berupa kalkopyrite, bornit tersebar disseminated dan
mengisi urat-urat kuarsa. Au (Emas) 0,01 gr/ton, Cu (Tembaga) 0,05%,
Ag (Perak) 0,3 gr/ton.
7. Kondisi G Lithology (Jenis Batuan)
Intermediate tonalite (Ti),
profiritik, berbutir halus-sedang,
sub rounded terdiri atas kuasa,
feldspar dan mineral mafik.
Alteration dapat berupa mineral
mafik dan feldspar terubah menjadi
biotit sekunder, klorite dan
magnetit (secondary biotit
alteration).
Mineralisasi dapat berupa urat kuarsa hadir intensif tetapi tidak disertai
mineralisasi (barren ore). Au (Emas) 0,08 gr/ton, Cu (Tembaga) 0,05%,
Ag (Perak) 0,3 gr/ton.
8. Kondisi H Lithology (Jenis Batuan)
Young tonalite (Ty) porfiritik,
berbutir sedang-kasar, sub rounded
terdiri atas kuarsa, feldspar dan
mineral mafik. Alteration dapat
berupa mineral mafik dan feldspar
(sebagai terubah menjadi biotit sekunder, klorite dan magnetit (partian
biotite alteration). Au (Emas) 0,09 gr/ton, Cu (Tembaga) 0,05 %, Ag
(Perak) 0,4 gr/ton. Mineralisasi pada umumnya rekahan-rekahan halus
urat-urat kuarsa.
Gambar 2.1. Kondisi Geologi Site Batu Hijau

Gambar 2.2. Mineralization Au (Emas)


Gambar 2.3. Mineralization Cu (Tembaga)
BAB III
KEGIATAN PERTAMBANGAN

3.1. Kegiatan Penambangan


Kegiatan penambangan PT Newmont Nusa Tenggara, (PT. NNT) dilakukan
dengan metode tambang terbuka (open pit mine) (Gambar 3.1). Pada saat pit
digali baik batuan yang mengandung mineral maupun batuan limbah harus
diambil. Proses penambangan di Batu Hijau diawali dengan kegiatan pengeboran
dan peledakan batuan dilubang Pit. Pemberian batas dilapangan dilakukan untuk
membedakan bijih dan batuan sisa sebelum dilakukan pengangkutan. Bahan
galian diangkut ke beberapa lokasi yang telah disiapkan sesuai dengan
klasifikasinya. Batuan bijih yang ditambang kemudian diangkut menggunakan
haul truck ke primary crusher dan stockpile yang terletak dipinggir Pit.

Gambar 3.1. Open Pit Mining PT Newmont Nusa Tenggara

Penghancuran di primary crusher menghasilkan batuan dengan ukuran


maks 15 cm. dari sini batuan dikirim ke pabrik pengolahan (concentrator) dengan
menggunakan conveyor sepanjang 5,4 km. Batuan yang dikirim oleh conveyor
menuju concentrator digiling menggunakan SAG Mills dan Ball Mills dengan
campuran air laut/tawar untuk memperoleh batuan dengan ukuran 200 micron.
Bijih halus hasil pengolahan SAG Mills dan Ball Mills kemudian dikirim ke
tangki flotasi untuk memperoleh pemisahan konsentrat dengan tailing melalui
proses fisika dengan bantuan reagents. Tailing hasil pengolahan tersebut dikirim
ke Teluk Senunu melalui jaringan pipa untuk penempatan bawah laut pada
kedalaman 125 m. Konsentrat slurry kemudian dikirim ke tangki CCD untuk
pembersihan akibat campuran air laut. Setelah itu konsentrat ini dikirim ke Benete
sebelum ditempatkan di gudang pengapalan. Dari semua proses penambangan dan
alur produksi ini terdapat sisa batuan halus menyerupai lumpur yang disebut
tailing.

Gambar 3.2. Diagram Alir Proses Penambangan

3.2. Kegiatan Pengolahan


Bijih diremukkan di dalam 2 buah gyratory crusher primer dan kemudian
ditimbun di stockpile antara (surge pile). Dari surge pile, bijih diumpan oleh
apron feeder ke ban berjalan sepanjang 5,6 km menuju tempat penimbunan di
area mill yang disebut coarse ore stockpile. Lalu bijih diumpankan oleh belt
feeder menuju ke dua jalur sirkuit penggilingan di sirkuit konsentrator. Dari
sirkuit ini bijih di olah sebagai slurry (lumpur) dengan menggunakan air laut
sebagai air proses dan juga memanfaatkan air tambang pada kolam Santong 3
sebanyank 25% kebutuhan air proses. Masing-masing sirkuit terdiri dari 1 mesin
penggilingan semi autogenous atau SAG mill dan 2 mesin Ball mill yang
dioperasikan pada sirkuit tertutup. Konsentrat akhir dari proses pengolahan
selanjutnya dicuci dan dikentalkan dalam sirkuit CCD (counter current
decantation), pencucian ini dilakukan untuk menurunkan kandungan klorida
dalam slurry, sedangkan pengentalan dilakukan untuk memperkecil volume slurry
konsentrat. Setelah konsentrat dikentalkan kemudian dipompa melalui saluran
pemipaan ke filtration plant yang beralokasi dekat dengan pelabuhan. Tujuan
utama dari proses pengolahan bijih adalah memisahkan mineral berharga dari
bijih dengan menggunakan proses fisika, bukan kimia.

Gambar 3.2. Gyratory Crusher

Adapun 4 tahapan utama dalam proses pengolahan bijih meliputi crushing


(peremukan), griding (penggerusan), flotation (pengapungan) untuk memisahkan
mineral dengan batuan sisa dan penempatan tailing.
3.2.1. Crushing (Peremukan)
Bijih dari lokasi penambangan dikirim melalui truk pengangkut ke dua buah
kantung curah (dump pocket) yang masing-masing berkapasitas 500 ton, 2 mesin
hydraulic rock breaker dipasang di dinding dalam dump pocket untuk
memperkecil ukuran menjadi butiran bijih bergaris tengah 15 cm. Setelah itu bijih
akan dimasukkan ke dalam sirkuit grinding.

Gambar 3.3. SAG Mill (Kiri) Ball Mill (Kanan)


3.2.2. Grinding (Penggerusan)
Bijih yang dimasukkan kedalam sirkuit grinding yang di dalamnya terdapat
Semi Autogenous Grinding (SAG) Mill dan Ball Mill. Air laut dan/atau air tawar
kemudian ditambahkan untuk memudahkan penghancuran bijih. Bola-bola besi
yang terdapat di dalam SAG Mill dan Ball Mill yang berputar berfungsi untuk
menumbuk dan menggerus bijih hingga ukuran tidak lebih besar dari butiran pasir.
Partikel bijih halus yang bercampur dengan air membentuk slurry atau lumpur
yang kemudian dipompakan ke tangka flotasi pengapungan.
3.2.3. Flotation (Pengapungan)
Pada tahap flotasi, reagen organic dalam dosis rendah ditambahkan bersama
kapur ke dalam slurry untuk membantu proses perolehan mineral berharga.
Reagen secara reaktif bereaksi dengan permukaan mineral berharga sehingga
menjadikan bersifat menolak air (hydrophobic). Mineral berharga yang
mengandung tembaga, emas dan perak tersebut kemudian melekat pada
gelembung udara yang terbentuk di dalam tangki pengapungan dan selanjutnya
gelembung udara tersebut mengangkut mineral berharga bergerak dari dasar
tangka dan mengapung di bagian atas tangka flotasi menjauhi air.

Tabel 3.1. Jenis Reagen Yang Digunakan Dalam Proses Pengapungan PT


NNT
Jenis Reagen Volume/Dosis per 1 ton Pemakaian
bijih
Kapur 1.5 -2.5 kg Untuk mengontral kadar
pH sampai 8,5
Pengumpul Utama (MBT 3 4 gram Proses Pengapungan
mercaptobenzothiazole +
DTP dthiophosphate)
Pengumpul Sekunder 5 - 10 gram Proses Pengapungan
(amylxanthate)
Frother (campuran dari 15 20 gram Stabilize air bubbles in
ikatan alcohol dan glycol flotation cells
methyl ether)

Mineral ini diambil sebagai konsentrat yang selanjutnya dikeringkan dan


dikapalkan ke sejumlah smelter (pabrik peleburan) dalam bentuk pasir hitam.
Partikel halus seperti pasir bercampur air yang tersisa di dalam tangki tersebut
diambil yang disebut tailing.

Gambar 3.4. Alur Pengolahan


3.3. Pengelolaan dan Pengendalian Lingkungan
3.3.1. Pengelolaan dan Pengendalian Tailing
Tailing adalah sisa batuan yang telah digiling/digerus halus, setelah
konsentrat yang sebagian besar terdiri dari tembaga, emas dan perak di dalamnya
diambil. Konsentrat ini dikapalkan ke pabrik peleburan untuk pemrosesan akhir
dan produksi logam. Tailing dihasilkan oleh instalasi pengolahan bijih dalam
bentuk slurry setelah bercampur dengan air proses. Proses pengolahan batuan
bijih di PT. NNT tidak menggunakan merkuri ataupun sianida melainkan
menggunakan bahan kimia berbasis alkohol organik yang terurai dengan mudah
dan cepat.
Tailing berbentuk lumpur (slurry) dan mengandung 20-45% partikel padat
bercampur air laut dan/atau air tawar yang digunakan dalam proses pengolahan
bijih. Proses pengolahan bijih PT. NNT tidak menggunakan merkuri ataupun
sianida melainkan menggunakan bahan kimia berbasis alkohol yang akan terurai
dengan cepat.
Untuk memisahkan mineral berharga dari bijih, PT. NNT menggunakan
proses fisika standard untuk memisahkan mineral berharga dari bijih. Empat
tahapan utama dalam proses pengolahan bijih meliputi peremukan (crushing),
penggerusan (grinding), pengapungan (flotation) untuk pemisahan mineral dan
penanganan konsentrat. Tailing yang dihasilkan merupakan produk sampingan
(sisa) dari proses pengapungan. Sirkuit peremukan memperkecil ukuran bijih
(yang berupa batuan yang mengandung mineral bernilai ekonomis yang dapat
diambil), yang dikirim dari kegiatan penambangan terbuka menjadi butiran bijih
bergaris tengah kurang dari 15 cm. Dari peremukan bijih masuk ke sirkuit
penggerusan, di mana ditambahkan air laut dan/atau air larian. Sirkuit
penggerusan ini menggunakan Semi Autogenous Grinding (SAG) Mill dan ball
mill atau bola-bola besi yang berfungsi untuk memperkecil ukuran batuan yang
telah diremukkan itu hingga seukuran butiran pasir. Partikel bijih halus yang
dicampur dengan air di sirkuit penggerusan ini disebut slurry atau lumpur, yang
kemudian dipompakan ke proses flotasi/pengapungan. Di bagian flotasi ini,
reagen organik dan kapur ditambahkan bersama kapur untuk proses perolehan
mineral berharga dari bijih. Reagen secara selektif bereaksi dengan permukaan
mineral berharga yang telah digerus harus tersebut dan menjadikannya bersifat
hydrophobic (menolak air). Fraksi mineral dari bijih yang mengandung tembaga,
emas dan perak melekat pada gelembung udara yang terbentuk dan mengapung ke
permukaan tangki. Selanjutnya gelembung udara mengangkut mineral berharga
bergerak dari dasar tangki ke permukaan tangki flotasi. Mineral yang
"mengapung" ini kemudian dipisahkan dari sisa batuan yang telah digerus halus
dan diambil sebagai "konsentrat". Konsentrat berisi tembaga, emas dan perak
dengan persentase lebih tinggi dari bijih yang mula-mula masuk fasilitas
pengolahan. Selanjutnya konsentrat dikapalkan dan diangkut ke sejumlah smelter
(pabrik peleburan) di seluruh dunia dalam bentuk pasir hitam untuk pengambilan
akhir kandungan tembaga, emas dan peraknya. Partikel halus seperti pasir
bercampur air (slurry) yang tersisa di dalam tangki flotasi setelah mineral
berharga dalam bentuk konsentrat tersebut diambil, itulah yang disebut tailing.
Tailing mengandung sejumlah kecil mineral sisa yang tidak dapat diambil oleh
proses flotasi.
Partikel tailing memiliki sifat atau karateristik yang mirip dengan pasir yang
banyak ditemukan di Pulau Sumbawa. Hasil uji toksisitas oleh P2O-LIPI (Pusat
Penelitian Oseonografi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) maupun pengujian
TCLP secara berkala telah membuktikan bahwa tailing tidak menunjukkan adanya
unsur/elemen yang signifikan untuk digolongkan sebagai bahan beracun.
PT NNT pada tahun 1999 telah melakukan kajian mengenai pembuangan
tailing yaitu kajian pembuangan tailing di darat dan dilaut. Dari kajian tersebut
berdasarkan berbagai pertimbangan dipilih alternatif pembuangan tailing dilaut.
Pembuangan tailing dilaut lebih dikenal dengan metode Sub-marine Tailing
Disposal (STD). Perusahaan PT NNT menerapkan metode STD dinilai lebih
efesien dari segi biaya dalam pengelolaan lingkungan di darat. Dimana asumsi
pembuangan limbah tailing dibawah laut terdapat lapisan termoklin (lapisan yang
membagi 2 massa air di perairan sebagai lapisan pembatas antara air yang
berada dipermukaan dan yang berada dibawahnya, yang pada umumnya
memiliki fluktuasi suhu yang sangat tajam dibandingkan dengan lapisan air
lainnya) yang dapat menahan tailling agar tetap mengendap dan tidak naik ke
permukaan dan mengkontaminasi ikan (biota laut).
1. Penempatan Tailing di Dasar Laut
PT. NNT menerapkan system penempatan tailing di dasar laut yang telah
dirancang-bangun dengan baik dan dikelola serta dipantau secara
berkesinambungan untuk memastikan system tersebut beroperasi dengan
benar. Beberapa faktor utama yang dipertimbangkan atas penempatan
tailing di dasar laut pada saat melakukan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Proyek Batu Hijau.
1. Penempatan tailing di darat akan menimbulkan dampat terhadap lebih
dari 2.310 hektar hutan dan tanah pertanian produktif.
2. Tingkat curah hujan tahunan yang melebihi 2500 mm/th akan
menyebabkan air di dalam dam penampung tailing di darat sangat
sulit dikelola.
3. Dam penampung tailing yang dibangun di daerah yang dirawan
gempa dapat mengancam keselamatan masyarakat yang tinggal di
sekitarnya.
4. Tailing yang ditempatkan di bawah zona photic laut yang produktif
akan meminimalkan dampat terhadap lingkungan.
2. Sistem Kerja Penempatan di Dasar Laut
Tailing yang berbentuk slurry (campuran air dan sisa gilingan batuan)
mengalir secara gravitasi melalui pipa dari pabrik pengolahan bijih menuju
ke tepi Ngarai Laut Senanu. Ujung pipa ini berada pada 125 meter di
bawah permukaan laut dan berjarak 3,2 km dari tepi pantai, sehingga
tailing akan tenggelam dan mengalir menuruni dinding curam Ngarai Laut
Senunu layaknya sungai dibawah laut, sehingga mencapai cekungan
Lombok pada kedalaman 4000 m.

Gambar 3.5. Penempatan Tailing di Dasar Laut

3. Program Pemantauan
Sitem penempatan tailing di dasar laut PT. NNT dipantau secara ekstensif
untuk memastikan agar system bekerja sesuai rancang-bangun guna
meminimalkan potensi dampak terhadap lingkungan. Pada 2004 dan
2009, para ahli dari Centre for Environmental Contaminants Research,
Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO)
Australia bersama tim pengkaji dari Indonesia secara independen meneliti
dan mengkaji data pemantauan PTNNT terkait mutu air, sedimen, dan ikan
di sekitar daerah penempatan tailing sampai ke perairan Lombok dan Selat
Alas. Penelitian itu menemukan bahwa tailing tidak menyebar ke arah
lingkungan pesisir Sumbawa, atau mengarah ke Selat Alas dan Lombok,
ataupun ke air permukaan. Kadar logam di jaringan tubuh ikan yang
diambil dari Ngarai Senunu berada dalam kisaran normal, sama dengan
kadar yang ditemukan pada tubuh ikan yang diambil dari lokasi kontrol
maupun dari pasar-pasar ikan yang ada di Kabupaten Sumbawa Barat
(KSB) dan Lombok. Hasil studi tersebut menegaskan bahwa kandungan
logam terlarut di semua lokasi dan semua kedalaman berada di bawah
ketentuan baku mutu yang ditetapkan. Hasil penelitian independen ini
menegaskan hasil pemantauan PTNNT dan bahwa tailing tidak mencemari
air laut di area tersebut. Pada 2003 dan 2009, Pusat Penelitian
Oseanongrafi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2O-LIPI)
melakukan penelitian di laut dalam untuk memetakan tapak tailing dan
dampak penempatan tailing di dasar laut terhadap ekosistem laut termasuk
mutu air dan komunitas bentos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tailing mengalir dari Ngarai Laut Senunu ke arah Cekungan Lombok
sebagaimana diprediksi dalam ANDAL PTNNT dan dampak terhadap
mutu air hanya terbatas pada air di dasar Ngarai Senunu. Mutu air di luar
area campuran tailing berada pada tingkat konsentrasi awal dan mematuhi
baku air laut yang ditetapkan Pemerintah Indonesia.
Tabel 3.3 Program Pengelolaan dan Pemantauan Sistem Penempatan Tailing
4. Pencegahan Tumpahan Tailing
Prosedur pengawasan jaminan dan kendali mutu diterapkan untuk
memastikan keutuhan jaringan pipa tailing darat dan pipa lepas pantai. Di
darat, PTNNT menempatkan jaringan pipa tailing pada sebuah ruang
(koridor) terbatas, sehingga bilamana terjadi kerusakan jaringan pipa,
tumpahan akan langsung tertampung dalam koridor dan dibersihkan.
PTNNT memiliki dua jalur pipa tailing laut, satu pipa digunakan untuk
operasi dan satu lagi digunakan sebagai cadangan. Jika terjadi kebocoran
jaringan pipa laut, pabrik langsung dihentikan dan lumpur tailing dialihkan
ke pipa cadangan. Meski demikian, strategi pengoperasian yang diterapkan
tidak menunggu hingga pipa laut mulai bocor sebelum lumpur tailing
dialihkan ke jaringan pipa laut kedua. Pemeriksaan bagian dalam jaringan
pipa darat dan laut dilakukan dua kali setahun selama jadwal penghentian
pabrik pengolahan secara keseluruhan. Jika hasil pemeriksaan
memperkirakan jaringan pipa laut yang beroperasi akan mencapai
ketebalan minimum dinding pipa sebelum jadwal penghentian pabrik
berikutnya, jaringan pipa kedua akan dioperasikan operasi sementara
jaringan pipa yang sebelumnya diganti seluruhnya dengan yang baru dan
menjadi pipa cadangan. Strategi ini telah meminimalkan kemungkinan
bocornya pipa laut.
3.3.2. Pengendalian Pencemaran Air
Pengelolaan air limbah di areal penambangan PT NNT dilakukan dengan
melakukan kajian pola aliran permukaan yang masuk ke areal tambang. Kajian ini
dimaksudkan untuk menetapkan titik penaatan air limbah yang akan dibuang ke
lingkungan. Pengelolaan air tambang Batu Hijau dapat dilakukan dengan
meminimalkan area yang berpotensi menghasilkan run off (air permukaan) yang
bersifat asam, memaksimalkan pemisahan air permukaan dari hutan di hulu
daerah lubang tambang dan air dari daerah penimbunan batuan, mengumpulkan
air yang berpotensi terkena dampak kegiatan penambangan, memanfaatkan air
yang terkumpul untuk keperluan pabrik (re use) atau dilepas ke badan sungai
apabila dalam kondisi normal dengan mengikuti ketentuan perundangan yang
berlaku, mengumpulkan air rembesan dari daerah timbunan bijih batuan
sementara untuk proses di instalasi pengolahan air.
Air permukaan yang berasal dari hulu (hutan) yang menuju ke daerah
penambangan sedapat mungkin dialirkan dan ditangkap melalui saluran atau pipa.
Air di hulu diupayakan tidak terpengaruh oleh kegiatan tambang dan sekaligus
menguragi air asam tambang. Air asam tambang yang terbentuk pada kegiatan
penambangan dapat dilakukan dengan pengelolaan yang dimulai dari pembuatan
kolam-kolam penampung sedimen, sistem drainase, pompanisasi dan sistem
pengolahan air. Pada akhirnya sistem air tambang berujung pada santong, air akan
dipompa dan dialirkan ke pabrik untuk dapat dimanfaatkan kembali
Gambar 3.6. Sistem Pengololan Air Tambang Santong

3.3.3. Pengendalian Pencemaran Udara


Pengendalian pencemaran udara dilakukan untuk mengurangi pencemaran
dari aktivitas penambangan maupun aktivitas penunjang kegiatan penambangan
yang dilakukan dengan penyiraman jalan-jalan tambang untuk mengurangi polusi
debu. Sedangkan untuk kegiatan penunjang operasional telah dilengkapi dengan
sarana dan prasarana sampling agar memenuhi baku mutu emisi yang sesuai
dengan peraturan.

Gambar 3.7. Kegiatan Penyiraman Debu

3.3.4. Pengelolaan Limbah B3


PT NNT, dalam operasionalnya menghasilkan beberapa jenis limbah baik
itu limbah domestik maupun limbah berbahaya dan beracun (B3). Limbah B3
dominan yang dihasilkan diantaranya adalah tailing, pelumas bekas, fly ash dan
bottom ash. Khusus untuk tailing perusahaan melakukan pengelolaan dengan
metode dumping/penempatan tailing di dasar laut teluk senunu. Kegiatan ini telah
memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup berupa KepMen LH No. 92
Tahun 2011.
Sebagai sebuah perusahaan tambang terintergrasi PT.NNT melakukan
beberapa kegiatan pengelolaan limbah B3:
1. Penyimpanan sementara limbah B3 Limbah B3 yang dihasilkan disimpan
terlebih dahulu sebelum dilakukan pengelolaan lanjutan, terdapat 18
shelter penyimpanan sementara limbah B3 sebagai titik awal limbah
dihasilkan sebelum limbah ditransfer ke Gudang penyimpanan utama yang
berlokasi di Benete dengan izin Keputusan Bupati Sumbawa Barat No.
171 Tahun 2013
2. Pemanfaatan minyak pelumas bekas dan abu batubara PT. NNT melakukan
pemanfaatan limbah B3sebagai perwujudan dari metode 3R (reuse recycle
rcovery). Limbah yang dimanfaatkan antara lain minyak pelumas bekas
sebagai bahan substitusi solar dalam peledakan (ANFO) serta sebagai
bahan bakar di PLTU. Sebagian abu batubara (fly ash dan bottom ash) dari
PLTU juga dimanfaatkan sebagai bahan campuran pembuatan beton dan
paving block. Kegiatan pemanfaataan tersebut telah dilengkapi dengan
izin: KepMen LH No. 489 Tahun 2009 (izin ANFO), Kep Men LH No. 36
Tahun 2011 (Izin Pemanfaatan pelumas bekas di PLTU Benete) Kep Men
LH No. 179 Tahun 2010 (izin pemanfaatan abu batubara). Dalam upaya
melakukan 3R PT.NNT juga melakukan inovasi untuk memperpanjang
masa pakai pelumas bekas dengan melakukan penyaringan menggunakan
alat bernama kidney loop
3. Penimbunan abu batubara Fly ash dan Bottom ash yang dihasilkan dari
PLTU ditimbun di area penimbunan khusus kategori II (Secure Landfill
Single Liner) yang memiliki izin dari KLH Kep Men LH No. 110 Tahun
2010
4. Pengolahan limbah B3 medical di insinerator PT.NNT dalam operasional
di site memiliki rumah sakit yang menghasilkan limbah medis yang
dikelola dengan metode thermal menggunakan insinerator yang juga
memiliki izin Kep Men LH No. 127 Tahun 2009 5. Pembuangan/dumping
tailing. Tailing merupakan limbah dari pengolahan bijih di pabrik
pengolahan. Tailing tersebut dialirkan dari pabrik dengan menggunakan
pipa khusus (pipa darat) sepanjang 7 km ke bibir pantai dan selanjutnya
disambung dengan pipa laut sepanjang 2 km ke teluk senunu.

BAB IV
KEGIATAN REKLAMASI

4.1. Pelaksanaan Kegiatan Reklamasi


Proses reklamasi Batu Hijau dilakukan segera setelah lahan bekas tambang
siap atau daerah timbunan batuan sisa selesai timbung. Kegiatan reklamasi
dimulai dari penyiapan dan pelapisan tanah bawah, tanah pucuk, persiapan lahan
hingga penanaman pohon, perawatan sampai dengan pemantauan.

Gambar 4.1. Kegiatan Pemadatan Area Rencana Reklamasi


Gambar 4.2. Soil Placement Design

Penyiapan lahan dilakukan dengan re-contouring bekas tambang atau re


sloping permukaan timbunan dengan sudut muka lereng 2H:1V dan kemiringan
timbunan keseluruhan minimum (kemiringan inter ramp) 2,5 H:1V untuk
mencapai kestabilan dari timbunan kemudian dilakukan penempatan tanah dan
dilanjutkan dengan revegatasi yang bertujuan untuk membantu menstabilkan
permukaan timbunan batuan penutup dan mengurangi erosi.

Gambar 4.2. Jaring Pada Lereng Reklamasi