Anda di halaman 1dari 12

Bahan UAS geomorfologi dan penginderaan jauh 2015-2016

By Denny Hermawan Saputra / 270110150014


1. Skema dan ruang lingkuppenelitian geomorfologi-geologi-gepgrafi dan fisiografi
dipermukaan bumi.
Ruang Lingkup dan Hubungannya dengan Ilmu-Ilmu Lain
Atas dasar definisi dan
pengertian Geomorfologi seperti
yang dikemukakan pada bagian
terdahulu, maka beriktut ini
disajikan tentang ruang lingkup
geomorfologi serta hubungannya
dengan ilmu-ilmu lain seperti dalam
Gambar 1-1

Dari Gambar 1, nampak jelas


bahwa fisiografi merupakan studi
tentang daratan, lautan, dan
atmosfir. Lautan dipelajari dalam
Oseanografi, atmosfir menjadi studi
Meteorologi, sedangkan daratan
merupakan obyek kajian
Geomorfologi. Dengan demikian jelaslah studi Geomorfologi merupakan salah satu
cabang dari Fisiografi yaitu tentang daratan yang menitik beratkan pada bentuklahan
penyusun konfigurasi permukaan bumi.
Berbicara mengenai hubungan antara Geomorfologi dengan Geologi W.M. Davis
dalam Sudardja (1977: 4) menggunakan istilah geomorphogeny dan
geomorphography, karena adanya perbedaan penekanan dalam mempelajarinya.
Dimana, geomorphogeny tekanan dalam mempelajarinya mengutamakan bentuk-
bentuk muka bumi masa lampau, yang erat hubungannya dengan geologi, sedangkan
geomorphography lebih menekankan mempelajari bentuk-bentuk muka bumi yada
ada pada masa sekarang, sehingga hubunganya dengan geografi sangat erat. Obyek
kajian Geomorfologi seperti yang tersurat dalam definisi-definisi yang dikemukakan
pada bagian terdahulu adalah bentuklahan. Zakrezewska dalam Sutikno (1990: 2),
mengatakan bahwa Geomorfologi itu mencakaup aspek lingkungan dan aspek
spasial/keruangan termasuk ke dalam aliran geomorfologi-geografis. Aliran
Geomorfologi yang lain adalah geomorfologi-geologis. Geomorfologi-geografis
cakupannya terletak pada penterapan konsep trilogi proses, meterial, dan morfologi,
sedangkan dalam aliran geomorfologi-geologis menggunakan cakupannya terletak
pada penterapan konsep bahwa aspek dari semua bentuklahan ditentukan oleh
struktur, proses, dan stadium (Sutikno, 1990: 4). Dengan demikian aspek dari
bentuklahan yang mendapat sorotan meliputi morfografi, morfometri, proses-proses
geomorfologi, morfogenesis, morfokronologi serta mempelajari ekologi bentang
lahannya yang tersusun atas batuan, bentuklahan, tanah, vegetasi, penggunaan
lahan, dan lain-lain. Dengan demikian bahwa dalam mempelajari Geomorfologi terkait
pada geologi, fisiografi, dan proses
geomorfologi yang menjadi faktor yang tidak
dapat diabaikan dalam perubahan
bentuklahan.
Atas dasar keterangan yang telah
diuraikan di atas, maka berikut ini disajikan
mengenai hubungan antara geologi,
fisiografi, dan proses geomorfologi. Adapun
hubungan tersebut dapat dilihat pada
Gambar 2 pada halaman berikut.

2. Tipe Pelapukan dan contohnya!

Jenis-Jenis Pelapukan

a. Pelapukan Mekanik

Batuan yang membentuk kulit bumi, tersusun dari berbagai mineral. Tiap mineral
memiliki koefisien pemuaian yang berbeda-beda. Artinya ada mineral batuan yang
cepat memuai bila kena panas, dan ada mineral batuan yang sulit memuai bila kena
panas.
Mineral batuan yang mudah memuai bila kena panas juga mudah menyusut bila
bila mengalami pendinginan. Pada siang hari ketika batuan terkena sinar matahari,
mineral yang mudah menyerap panas akan lebih cepat memuai dari pada mineral lain
yang sulit menyerap panas. Memuai berarti volumenya bertambah besar. Akibatnya
mineral yang volumenya bertambah besar akan mendesak mineral-mineral lain
sehingga batuan tersebut akan retak-retak. Pada malam hari suhu udara turun dan
batuan mengalami pendinginan sehingga volumenya menyusut (mengecil). Akibatnya
batuan mengalami retak-retak. Proses ini berlangsung terus menerus setiap hari,
sehingga lama kelamaan batuan yang keras, akan retak-retak dan lepas selapis demi
selapis, yang dimulai dari bagian luar batuan. Akhirnya batuan yang besar tersebut
akan hancur menjadi batu kecil,
dan batu kecil akan hancur
menjadi kerikil, dan kerikil akan
hancur menjadi pasir dan pasir
akan hancur menjadi debu-debu
yang halus. Proses semacam ini
disebut pelapukan mekanik.
Pada siang hari, mineral
batuan yang berwarna gelap
umumnya cepat memuai,
volumenya bertambah besar
(kelabu hitam), sedang pada
malam hari volumenya mengecil
(putih). Bila hal ini berlangsung
terus menerus maka lama-
kelamaan mineral akan retak-retak
(hitam tebal), dan akhirnya pecah
dan
terlepas dari batuan induknya.
Di daerah empat musim, pori-pori batuan yang terisi air di musim panas bisa
pecah atau retak karena air dalam pori-pori batuan membeku di musim dingin. Air
yang membeku volumenya bertambah besar
sehingga batuan menjadi retak atau pecah.
Proses yang demikian juga termasuk
pelapukan
mekanik.

b Pelapukan kimiawi

Pelapukan batuan juga dapat disebabkan


oleh proses kimiawi. Contoh: batu yang keras
dapat ditembus oleh akar tumbuh-
tumbuhan, karena tudung akar
mengeluarkan zat kimia yang dapat melapukkan batuan.

Contoh lain adalah batu kapur yang retak kemudian disusupi air hujan yang
mengandung CO2. Air hujan yang mengandung CO2.. akan melarutkan batu kapur
yang dilaluinya. Lama kelamaan retakan

batu kapur akan bertambah lebar dan besar sehingga akhirnya terbentuk goa-goa
kapur. Larutan kapur yang mengendap dan menempel di langit-langit goa akan
membentuk stalagtit dan bila mengendap dan menempel di dasar goa akan
membentuk stalagmite. Kadang-kadang dalam goa kapur terdapat sungai bawah
tanah. Di Gunung Kidul (DIY) air sungai bawah tanah dijadikan sumber air bersih.

c Pelapukan Biologis atau Pelapukan Organis


Pelapukan biologis atau pelapukan organis adalah lapuknya batuan yang
disebabkan oleh makhluk hidup, baik oleh tumbuh-tumbuhan, hewan maupun
manusia. Akar tumbuh-tumbuhan yang makin membesar dapat menyebabkan retak
atau hancurnya batuan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Ujung akar yang
mengeluarkan cairan dapat menembus batuan melalui pelapukan kimia. Demikian
pula berbagai jenis jamur, lumut, dan bakteri yang melekat pada permukaan batuan
Demikian juga berbagai jenis hewan seperti semut, cacing, anai-anai, tikus, dapat
membuat lubang pada batuan dan melapukkan batuan.

Menurut proses terjadinya pelapukan dapat digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:


- pelapukan fisik atau mekanik
- pelapukan organis
- pelapukan kimiawi

Penjelasan ketiga jenis tersebut adalah:


a. Pelapukan fisik dan mekanik.
Pada proses ini batuan akan mengalami perubahan fisik baik bentuk maupun
ukuranya.
Batuan yang besar menjadi kecil dan yang kecil menjadi halus. Pelapukan ini di
sebut juga pelapukan mekanik sebab prosesnya berlangsung secara mekanik.
Penyebab terjadinya pelapukan mekanik yaitu:
a. Adanya perbedaan temperatur yang tinggi.
Peristiwa ini terutama terjadi di daerah yang beriklim kontinental atau
beriklim Gurun di daerah gurun temperatur pada siang hari dapat
mencapai 50 Celcius. Pada siang hari bersuhu tinggi atau panas. Batuan
menjadi mengembang, pada malam hari saat udara menjadi dingin,
batuan mengerut. Apabila hal itu terjadi secara terus menerus dapat
mengakibatkan batuan pecah atau retak-retak.
Perhatikan gambar !
b. Adapun pembekuan air di dalam batuan
Jika air membeku maka volumenya akan mengembang. Pengembangan ini
menimbulkan tekanan, karena tekanan ini batu- batuan menjadi rusak
atau pecah pecah. Pelapukan ini terjadi di daerah yang beriklim sedang
dengan pembekuan hebat.
c. berubahnya air garam menjadi kristal.
Jika air tanah mengandung garam, maka pada siang hari airnya
menguapdan garam akan mengkristal. Kristal garam ini tajam sekali dan
dapat merusak batuan pegunungan di sekitarnya, terutama batuan
karang di daerah pantai.

Salah satu bentuk bumi yang mengalami proses pelapukan mekanik


b. Pelapukan organic
Penyebabnya adalah proses organisme yaitu binatang tumbuhan dan
manusia, binatang yang dapat melakukan pelapukan antara lain cacing tanah,
serangga. Dibatu-batu karang daerah pantai sering terdapat lubang-lubang
yang dibuat oleh binatang. Pengaruh yang disebabkan oleh tumbuh tumbuhan
ini dapat bersifat mekanik atau kimiawi. Pengaruh sifat mekanik yaitu
berkembangnya akar tumbuh-tumbuhan di dalam tanah yang dapat merusak
tanah disekitarnya. Pengaruh zat kimiawi yaitu berupa zat asam yang
dikeluarkan oleh akar- akar serat makanan menghisap garam makanan. Zat
asam ini merusak batuan sehingga garam-garaman mudah diserap oleh akar.
Manusia juga berperan dalam pelapukan melalui aktifitas penebangan pohon,
pembangunan maupun penambangan.
c. Pelapukan kimiawi
Pada pelapukan ini batu batuan mengalami perubahan kimiawi yang
umumnya berupa pelarutan. Pelapukan kimiawi tampak jelas terjadi pada
pegunungan kapur (Karst). Pelapukan ini berlangsung dengan batuan air dan
suhu yang tinggi. Air yang banyak mengandung CO2 (Zat asam arang) dapat
dengan mudah melarutkan batu kapur (CACO2). Peristiwa ini merupakan
pelarutan dan dapat menimbulkan gejala karst.
Di Indonesia pelapukan yang banyak terjadi adalah pelapukan kimiawi. Hal ini
karena di Indonesia banyak turun hujan. Air hujan inilah yang memudahkan
terjadinya pelapukan kimiawi.
3. Jenis pengangkutan bahan akibat proses alam dan erosi jenis dan prosesnya
Erosi seperti pelapukan adalah tenaga perombak (pengkikisan). Tapi yang
membedakan erosi dengan pelapukan adalah erosi adalah pengkikisan oleh
media yang bergerak, seperti air sungai, angin, gelombang laut, atau gletser.
Erosi dibedakan oleh jenis tenaga perombaknya yaitu :Erosi air, Erosi angin
(deflasi), Erosi gelombang laut (abarasi / erosi marin ), Erosi gletser (glasial)
Tahapan dalam Erosi Air
Proses pengkikisan oleh air yang mengalir terjadi dalam empat tingkatan yang
berbeda sesuai dengan kerusakan tanah atau batuan yang terkena erosi,
sebagai berikut:
1. Erosi percik, yaitu proses pengkikisan oleh percikan air hujan yang jatuh ke
bumi.
2. Erosi lembar, yaitu proses pengkikisan lapisan tanah paling atas sehingga
kesuburannya berkurang. Pengkikisan lembar ditandai oleh : coklat,warna air
yang terkikis menjadi lebih pucat, kesuburan tanah berkurang
3. Erosi alur, adalah lanjutan dari erosi lembar. Ciri khas erosi alur adalah
adanya alur-alur pada tanah sebsgai tempat mengalirnya air.
4. Erosi parit, adalah terbentuknya parit-parit atau lembah akibat pengkikisan
aliran air. Bila erosi parit terus berlanjut, maka luas lahan kritis dapat meluas,
dan pada tingkat ini tanah sudah rusak.

Bentuk Permukaan Bumi Akibat Erosi


Pengkikisan oleh air dapat mengakibatkan :
1. tebing sungai semakin dalam
2. lembah semakin curam
3. pembentukan gua
4. memperbesar badan sungai
Erosi angin biasanya terjadi di gurun. Bentuk permukaan bumi yang
terbentuk antara lain :
1. Batu jamur
2. Ngarai
Abrasi biasanya terjadi di pantai, membentuk :
1. Dinding pantai yang curam
2. relung ( lekukan pada dinding tebing)
3. gua pantai
4. batu layar

5. Tipe gerakan tanah dan bagaimanacara pengklasifikasiannya

Gerakan tanah

Menurut Sharpe (1938) berdasarkan tipe gerakannya, gerakan tanah dibagi


menjadi 4 kelompok utama yaitu :

1. Slow Flowage (pengaliran perlahan-lahan)


Adalah gerakan massa tanah atau batuan yang umumnya sangat lambat sehingga
tidak teramati kecuali dalam waktu yang lama. Macam dari slow flowage adalah :
Soil creep (rayapan tanah )
Talus creep ( rayapan bahan rombakan berupa tanah dan bongkah batuan )
Rock creep ( rayapan batuan )
Solifuction
Rock glacier creep ( rayapan batuan gletser )

2. Rapid Flowage ( pengaliran cepat )


Adalah gerakan massa tanah atau batuan yang kandungan airnya bertambah
sehingga gerakannya lebih cepat. Macam rapid flowage adalah :
Earthflow ( aliran tanah )
Mudflow ( aliran lumpur )
Debris avalance ( semacam aliran bahan rombakan
berupa tanah dan bongkahan batuan )

3. Landslide ( longsoran )
Adalah perpindahan massa tanah, batuan, atau campuran keduanya yang relative
kering dan teramati. Macam dari landslide adalah :
Slump ( nendatan )
Debris slide ( luncuran bahan rombakan )
Debris fall ( jatuhan bahan rombakan )
Rock slide ( luncuran batuan )
Rock fall ( jatuhan batuan )
Earthslip and subsidence caused by underground erosion ( luncuran tanah dan
amblesan yang disebabkan erosi di bawah permukaan )

4. Subsidence ( amblesan )
Adalah gerakan ke bawah yang relative tegak lurus yang menyangkut material
permukaan tanah atau batuan tanpa gerakan mendatar dan tidak ada sisi bebas.

6. Pola pengaliran sungai, jenis dan keterkaitannya dengan geologi apa?

Klasifikasi Jenis-jenis Sungai

a. Berdasarkan struktur batuan yang dilalui


1. Sungai anteseden Merupakan sungai yang dapat mengimbangi pengangkatan
lapisan batuan yang dilaluinya.Contoh : sungai Oya di Jogjakarta
2. Sungai epigenesa Merupakan sungai yang terus menerus mengikis batuan yang
dilaluinya sehingga mencapai batuan induk. Contoh : sungai Colorado
3. Sungai superimposed adalah sungai yang mengalir di atas batuan kristalin pada
batuan sedimen yang datar atau di atas formasi aluvial.

4. Sungai epirogenesa adalah sungai yang terus-menerus mengikis batuan yang


dilaluinya sehingga mencapai batuan induk daerah yang dilalui.

b. Berdasarkan arah aliran


a. Sungai konsekuen Merupakan sungai yang arah alirannya sesuai kemiringan
batuan.
b. Sungai subsekuen Merupakan sungai yang arah alirannya tegak lurus sungai
konsekuen.
c. Sungai obsekuen Merupakan anak sungai subsekuen yang arah alirannya
berlawanan kemiringan batuan.
d. Sungai resekuen Merupakan anak sungai subsekuen yang arah alirannya
searah kemiringan batuan.
e. Sungai insekuen Merupakan sungai yang arah alirannya teratur dan tidak
terikat lapisan batuan yang dilaluinya.
f. Sungai anaklinal adalah sungai anteseden
yang mengalir di permukaan, kemudian
diangkat miring berlawanan dengan arah
alirannya.
g. Sungai reserved adalah sungai anaklinal yang
sudah berubah arah alirannya untuk
mendapatkan kondisi semula.

c. Berdasarkan keadaan arah aliran airnya


a. Sungai periodic (intermiten) Merupakan sungai
yang hanya berair pada musim penghujan saja.
b. Sungai episodic (parenial) Merupakan sungai yang selalu mengalir airnya.

d. Berdasarkan sumber airnya


a. Sungai hujan Merupakan sungai yang airnya berasal dari hujan.
b. Sungai gletser Merupakan sungai yang airnya berasal dari salju yang mencair
(gletser).
c. Sungai campuran Merupakan sungai yang airnya berasal dari air hujan maupun
gletser.
e. Berdasarkan pola aliran
a. Sungai radial adalah Sungai yang mengalir ke segala arah menuju atau
meninggalkan pusat. Biasanya terdapat pada daerah cekungan maupun dome.
i. Radial sentrifugal : arah aliran meninggalkan pusat
ii. Radial sentripetal : arah aliran menuju pusat
b. Sungai dendritic adalah Sungai yang alirannya bercabang tidak teratur dengan
arah dan sudut yang beragam. Biasanya terdapat di daerah pantai atau plato
dengan batuan homogen.
c. Sungai trellis adalah Percabagan sungai utama dengan anak sungai hampir
tegak lurus. Biasanya terdapat pada pegunungan lipatan.
d. Sungai rectangular adalah Pola percabangan aliran sungai yang berbentuk siku-
siku atau hampir siku-siku. Biasanya terdapat pada daerah patahan.
e. Sungai parallel adalah Pola aliran dengan anak sungai yang sejajar atau hampir
sejajar dengan anak sungai lain yang bermuara pada sungai utama atau
langsung bermuara ke laut. Biasanya terdapat pada daerah dekat pantai.
f. Pinante adalah pola aliran sungai yang muara anak sungainya berbentuk sudut
lancip.
g. Anular adalah pola aliran sungai semula radial sentrifugal, kemudian timbul
sungai-sungai subsekuen yang sejajar kontur. Biasanya terdapat di daerah
dome stadium dewasa.

7. Apa yang dimaksud DAS berikan gambarannya serta manfaatnya dalam


bidang ilmu lain?

Suatu daerah aliran sungai atau DAS adalah sebidang lahan yang menampung air
hujuan dan mengalirkannya menuju parit, sungai,dan akhirnya bermuara ke danau
atau laut. istilah yang juga umum digunakan untuk DAS adalah daerah tangkapan air
karena air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah sepanjang
lereng,maka garis batas sebuah DAS adalah punggung bukit sekeliling sebuah sungai.
Garis batas DAS tersebut merupakan garis khayal yang tidak bias dilihat, tetapi dapat
di gambarkan pada peta.
DAS dapat di bagi ke dalam 3 komponen yaitu bagian hulu, tengah, dan hilir.
Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur aliran.
Ekosistem tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air, sedangkan ekosistem
hilir merupakan pemakai air. Hubungan antara ekosistem-ekosistem ini menjadikan
DAS sebagai satu kesatuan hidrologis.

DAS terdiri dari air permukaan danau, sungai, waduk, dan lahan basah dan semua
air tanah yang mendasari. DAS yang lebih besar mengandung banyak DAS yang lebih
kecil. Dari namanya, DAS menggambarkan bahwa sungai atau air merupakan faktor
yang sangat penting dalam pengelolaan DAS karena air menunjang kehidupan
berbagai makhluk hidup di dalamnya.

Berikut adalah tujuan pengelolaan DAS.

1. Mengonservasi tanah pada lahan pertanian.

2. Memanen/ menyimpan kelebihan air pada musim hujan dan memanfaatkannya


pada musim kemarau.

3. Memacu usaha tani berkelanjutan dan menstabilkan hasil panen melalui


perbaikan pengelolaan sistem pertanian.

4. Memperbaiki keseimbangan ekologi (hubungan tata air hulu dengan hilir,


kualitas air, kualitas dan kemampuan lahan, serta keanekaragaman hayati).

8. Manfaat dan kegunaan serta yang didapat dari dari interpretasi foto udara.
9. Jelaskan tentang Karst
Karst adalah sebuah bentukan di permukaan bumi yang pada umumnya
dicirikan dengan adanya depresi tertutup (closed depression), drainase
permukaan , dan gua. Bentang alam atau morfologi karst terbentuk akibat
proses karstifikasi dan proses pelarutan kimia yang diakibatkan oleh aliran
permukaan. Karst yang baik harus mengandung potensi mineral kalsit
sekitar70-90% hal ini dimaksudkan dengan kegiatan pelarutan yang ada. Suatu
kawasan karst mempunyai karakteristik yang khas, baik wilayah permukaan
(eksokarst) dan bawah permukaan (endokarst).
Karst hanya dijumpai di tempat-tempat tertentu. Pada awalnya pengertian
karst merujuk pada nama bentang alam karst ditimur kota Trieste,
Slovenia. Karena kekhasannya istilah karst kemudian dipakai untuk
menyebut semua kawasan batu gamping yang telah mengalami suatu proses
kelarutan. Karst merupakan suatu wilayah batu gamping yang ditandai oleh
adanya cekungan, lereng terjal, tonjolan bukit berbatu gamping tak
beraturan, gua, mempunyai system aliran air bawah tanah.
Ciri-Ciri Karst
Penciri karst sangat beraneka ragam secara garis besar dilihat dari mayor dan
minornya:
1. Untuk minor bisa berupa lapis, karst split, parit karst, palung karst,
speleothem dan fitokasrt.
2. Untuk mayor bisa berupa surupan, uvale, polje, jendela karst, palung karst,
gua, terowongan alam.
2. Proses Pembentukan Karst
Proses pembentukan karst melibatkan apa yang disebut sebagai Karbon
dioksida kebawah. Hujan turun melalui atmosfer dengan membawa
karbon dioksida terlarut dalam tetesan. Ketika hujan sampai ditanah, ia
terperkolasi melalui tanah dan menggunakan lebih banyak karbon
dioksida. Infiltrasi air secara terus - menerus secara alami membentuk
retakan - retakan dan lubang pada batuan. Dalam periode waktu yang
lama, dengan suplai karbon dioksida terus - menerus yang kaya air,
lapisan karbonat mulai melarut.
Bentuk-bentuk Sisa Pelarutan :
a. Kerucut Karst
Bukit Kars yang berbentuk kerucut dan berlereng terjal dan dikelilingi oleh
depresi/bintang (Bloom, 1979).
b. Menara Karst
Bukit sisa pelarutan dan erosi berbentuk menara dengan lereng yang
terjal, tegak atau menggantung, terpisah satu dengan yang lain dan
dikelilingi oleh dataran alluvial.
c. Mogote
Bukit terjal yang merupakan sisa pelarutan dan erosi, umumnya dikelilingi
oleh dataran alluvial yang hampir rata (Flat).
d. Vaucluse
Gejala karst yang berbentuk lubang tempat keluarnya aliran air tanah.
e. Turm Karst
Lingkungan karst yang berupa bukit-bukit kars (Kerucut kars) yang saling
berhubungan antara satu dengan yang lain.
Bentuk Lahan Karst
Bentuk lahan yang terjadi pada daerah karst dapat dikelompokkan menjadi 2
bagian, yaitu bentuk lahan negative dan bentuklahan positif.
1. Bentuk lahan Negatif
Bentuk lahan negative dimaksudkan bentuk lahan yang berada dibawah rata-rata
permukaan setempat sebagai akibat proses pelarutan, runtuhan maupun terban.
Bentuk lahan - bentuk lahan tersebut antara lain terdiri atas doline, uvala, polye,
cockpit, blind valley.
A. Doline
Doline merupakan bentuk lahan yang paling banyak dijumpai di kawasan karst.
Bahkan di daerah beriklim sedang, karstifikasi selalu diawali dengan terbentuknya
doline tunggal akibat dari proses pelarutan yang terkonsentrasi. Tempat konsentrasi
pelarutan merupakan tempat konsentrasi kekar, tempat konsentrasi mineral yang
paling mudah larut, perpotongan kekar, dan bidang perlapisan batuan miring. Doline-
doline tungal akan berkembang lebih luas dan akhirnya dapat saling menyatu. Secara
singkat dapat dikatakan bahwa karstifikasi (khususnya di daerah iklim sedang)
merupakan proses pembentukan doline dan goa-goa bawah tanah, sedangkan bukit-
bukit karst merupakan bentukan sisa/residual dari perkembangan doline.
Doline merupakan suatu istilah yang mempunyai banyak sinonim antara lain,
sink, sinkhole, cockpit, blue hole, swallow hole, ataupun canote. Doline itu sendiri
telah diartikan oleh Monroe (1970) sebagai suatu ledokan atau lobang yang berbentuk
corong pada batu gamping dengan diameter dari beberapa meter hingga 1 km dan
kedalamannya dari beberapa meter hingga ratusan meter. Karena bentuknya cekung,
doline sering terisi oleh air hujan, sehingga menjadi suatu genangan yang disebut
danau doline.
Berdasarkan genesisnya, doline dapat dibedakan menjadi 4 yaitu, doline solusi,
doline terban, dan doline alluvial dan doline reruntuhan. (Faniran dan Jeje, 1983)
1. Doline reruntuhan
Doline reruntuhan ini terjadi sebagai akibat dari proses pelarutan yang ada di
bawah permukaan yang menghasilkan rongga bawah tanah. Rongga bawah tanah
tersebut atapnya runtuh, hingga mengasilkan cekungan atau depresi dipermukaan.
Doline seprti ini mempunyai lereng yang cukup curam-curam terdiri dari lapisan
batuan yang keras dan menurun secara tiba-tiba.
2. Doline Solusi
Doline solusi terjadi karena telah berlangsungnya proses solusi/pelarutan tanpa
mendapat gangguan lain terhadap batuan. Doline seperti ini terjadi secara perlahan-
lahan akibat larutnya batuangamping ke dalam tanah oleh air yang meresap melalui
joint atau rekahan-rekahan pada daerah batugamping.
3. Doline Terban
4. Doline Alluvial
Doline aluvial ini terjadi sebagai akibat karena pelarutan oleh air yang mengalir
yang kemudian menghilang ke dalam tanah. Adanya proses tersebut terbentuk doline
aluvial.
B. Uvala
Uvala adalah cekungan tertutup yang luas yang terbentuk oleh gabungan dari
beberapa danau doline. Uvala memiliki dasar yang tak teratur yang mencerminkan
ketinggian sebelumnya dan karakteristik dari lereng doline yang telah mengalami
degradasi serta lantai dasarnya tidak serata polje (Whittow, 1984)
C. Polje
Polje adalah ledokan tertutup yang luas dan
memanjang yang terbentuk akibat runtuhnya dari beberapa
goa, dan biasanya dasarnya tertutup oleh alluvium.
D. Blind Valley
Blind Valley adalah satu lembah yang mendadak
berakhir/ buntu dan sungai yang terdapat pada lembah
tersebut menjadi lenyap dibawah tanah.
2. Bentuklahan Positif
Pada prinsipnya ada 2 macam bentuklahan karst yang positif yaitu kygelkarst
dan turmkarst
A. Kygelkarst
Kygelkarst merupakan satu bentuklahan karst tropic yang didirikan oleh
sejumlah bukit berbentuk kerucut, yang kadang-kadang dipisahkan oleh cockpit.
Cockpit - cockpit inisialing berhubungan satu sama lain dan terjadi pada suatu garis
yang mengikuti pola kekar.
B. Turmkarst
Turmkarst merupakan istilah yang berpadanan dengan menara karst,
mogotewill, pepinohill atau pinnacle karst. Turmkarst merupakan bentukan positif
yang merupakan sisa proses solusional. Menara karst/ tumkarst terdiri atas perbukitan
belerang curam atau vertical yang menjulang tersendiri diantara dataran alluvial.
C. Stalaktit Dan Stalakmit
Stalaktit adalah bentukan meruncing yang menghadap kebawah dan menempel
pada langit-langit goa yang terbentuk akibat akumulasi batuan karbonat yang larut
akibat adanya banjir. Stalakmit hamper mirip dengan stalaktit namun berada di
bawah lantai dan menghadap keatas.
10. Jelaskan dan gambarkan sketsa :
a. Questa, Hogback, messa, Butte dan Flat Iron
i. Cuesta : Bentuklahan struktural dengan kemiringan antara kedua sisi
lerengnya tidak simetri dengan sudut lereng yang searah perlapisan
batuan kurang dari 30 derajat (Tjia, 1987).
ii. Hogback : Sudut antara kedua sisinya relatif sama, dengan sudut lereng yang
searah perlapisan batuan lebih dari 30 derajat (Tjia, 1987). Hogback memiliki
kelerengan scarp slope dan dip slope yang hampir sama sehingga terlihat simetri.
iii. Sedangkan bila kedudukan lapisan itu mendatar, bukit yang demikian
dinamakan messa.
iv. Messa yang berukuran kecil disebut butte.
b. Geomorphic Agent
c. Fault Scarp
d. Triangular facet
e. Horst dan Graben
f. Oxbow Lake
g. Hanging Wall dan Footwall
h. Kerucut Intrusi
i. Strato Volcano
j. Subsidence