Anda di halaman 1dari 21

KESADARAN, KEBUTUHAN DAN KESULITAN DALAM

PEMBELAJARAN BIOLOGI

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Problematika Pembelajaran Biologi
yang dibina oleh Dr. Istamar Syamsuri, M.Pd. dan Dr. Ibrohim, M.Si.

Oleh:
Saparuddin
160341801190

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
Februari 2017
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan
dan kemampuan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan makalah yang
berjudul Kesadaran, Kebutuhan dan Kesulitan dalam Pembelajaran Biologi
dengan tujuan untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah Problematika
Pendidikan Biologi pada Program Studi Pascasarjana Pendidikan Biologi
Universitas Negeri Malang.
Harapan penulis, makalah ini dapat bermanfaat dan dapat menjadi
tambahan referensi bagi penulis terutama dan bagi pembaca khususnya bagi
mahasiswa pascasarjana dalam menganalisis permasalahan yang terjadi dalam
pendidikan khususnnya dalam pembelajaran biologi.
Selanjutnya, kepada dosen pembimbing Dr.Istamar Syamsuri, M.Pd dan
Dr. Ibrohim, M.Si., penulis ucapkan terima kasih atas bimbingan dan masukannya
selama penulisan dan selama presentasi makalah ini berlangsung.
Akhirnya, masukan dan kritikan yang membangun demi menyempurnakan
makalah ini sangat diharapkan dari semua pihak. Semoga buah pikir dalam bentuk
makalah ini dapat memberikan kontribusi dan bermanfaat bagi yang
membutuhkan khususnya dalam dunia pendidikan.

Malang, Februari 2017

Penulis
3

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK...i
KATA PENGANTAR....ii
DAFTAR ISI.iii

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah...............................................................................2
C. Tujuan.................................................................................................2

BAB II. PEMBAHASAN


A. Permasalahan Kesadaran dalam Pembelajaran Biologi...................3
B. Permasalahan Kebutuhan dalam Pembelajaran Biologi...................6
C. Kesulitan dalam Pembelajaran Biologi
8
D. Solusi Pemasalahan mengenai Kesadaran, Kebutuhan dan
Kesulitan dalam Pembelajaran Biologi 10

BAB III. PENUTUP


A. Kesimpulan....................................................................................12
B. Saran...............................................................................................12

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................13
4
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Biologi adalah cabang dari sains yang tumbuh dan
berkembang dengan berbagai observasi dan eksperimen. Hal itu
dapat terjadi sebab, mempelajari biologi berarti mempelajari
tentang struktur dan fungsi alat-alat tubuh manusia dan alam
dengan segala keingintahuannya. Mempelajari hal-hal tersebut
dilakukan sekitar lingkunganya menjadikan komponen-komponen
yang berkaitan dengan sistem akan ikut dipelajari sebagai
penunjang agar keseluruhan dapat berlangsung. Proses
pengajaran biologi yang merupakan cabang dari ilmu
pengetahuan atau sains, disinilah peran guru sebagai icon yang
paling intelektual di kelas teruji untuk menyampaikan materi
dengan jelas.
Permasalahan timbul ketika materi yang telah disampaikan
guru tidak mampu dipahami siswa. Permasalahan tersebut sudah
pasti mengganggu kredibilitas guru, guru dianggap tidak
kompeten dalam mengajar. Karakter siswa ada yang menyukai
pelajaran tertentu dan kurang menyukai pelajaran lain. Hal ini
sudah pasti dikarenakan tingkat kesulitan suatu mata pelajaran,
sudah tentu pula kesulitan mata pelajaran biologi berbeda
dengan mata pelajaran lain. Jika sejak awal siswa tidak menyukai
mata pelajaran biologi maka akan mempengaruhi kegiatan belajar siswa.
Terhadap pelajaran yang disukai, siswa akan mempelajari dengan senang
hati. Sebaliknya, pelajaran yang kurang disukai jarang dipelajari oleh siswa,
sehingga tidak heran bila isi dari pelajaran itu kurang dikuasai. Siswa yang tidak
mampu memahami isi pelajaran yang disampaikan guru, siswa tersebut tidak akan
memperhatikan pelajaran itu. Siswa cenderung memperlihatkan sikap acuh tak
acuh atas apa yang disampaikan guru. Sementara guru memberikan pelajaran,
2

siswa juga melakukan kegiatan lain yang terlepas dari masalah pelajaran. Guru
mengajar sendiri, siswa juga sibuk sendiri dengan kegiatan yang mereka anggap
lebih menarik ketimbang memperhatikan pelajaran, akibatnya keberhasilan
belajar sulit tercapai.
Apabila guru memahami faktor yang menjadi masalah siswa dalam
memahami pelajaran biologi, tentunya guru akan lebih baik dalam menentukan
situasi pembelajaran pada KBM selanjutnya. Guru yang mengetahui masalah
belajar siswanya dapat menentukan strategi-strategi dan penggunaan metode
dalam pembelajaran selanjutnya karena sudah mengetahui pokok permasalahan
yang dihadapi siswanya, pembelajaran yang dilakukan pun jadi terarah dan
efektif. Metode pengajaran adalah cara yang ditempuh guru dalam menyampaikan
bahan ajar kepada siswa secara tepat dan cepat.

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diajukan berdasarkan latar belakang
di atas adalah:
1. Apakah permasalahan kesadaran dalam pembelajaran
biologi?
2. Apakah kebutuhan-kebutuhan dalam pembelajaran biologi?
3. Apakah kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran biologi?
4. Solusi apasajakah yang dapat dilakukan dalam
permasalahan mengenai kesadaran, kebutuhan dan
kesulitan dalam pembelajaran biologi?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui dan
menganalisis mengenai:
1. Permasalahan kesadaran dalam pembelajaran biologi.
2. Permasalahan kebutuhan-kebutuhan dalam pembelajaran
biologi.
3. Permasalahan kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran
biologi.
4. Solusi permasalahan mengenai kesadaran, kebutuhan dan
kesulitan dalam pembelajaran biologi.
3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Permasalahan Kesadaran dalam Pembelajaran Biologi


Pembahasan tentang kesadaran dalam pembelajaran
khususnya dalam pembelajaran biologi haruslah dikaitkan
terlebih dahulu dengan tujuan yang akan dicapai dalam
pembelajaran biologi itu sendiri. Tujuan pembelajaran biologi
SMA yang tercantum dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan
salah satunya adalah untuk mengembangkan kemampuan
berpikir dan metakognitif dengan menggunakan konsep dan
prinsip biologi untuk memecahkan permasalahan pada
kehidupan nyata sehari-hari.
Tujuan pembelajaran biologi yang dikutip dalam Rustaman
(2002) adalah:
a. Menumbuhkan kebiasaan membaca literasi ilmiah dan
bahasa
b. Menumbuhkan kebiasaan untuk berpikir kritis dan ilmiah
c. Menumbuhkan sikap ilmiah dan kerja ilmiah
d. Meningkatkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa
e. Pendidikan biologi sebagai bekal hidup.
Penelitian yang dilakukan oleh Kaya dkk., (2015)
mengungkapkan bahwa terdapat hubungan antara kesadaran
guru dalam pelaksanaan pembelajaran yang berpusat pada
siswa dengan praktik yang dilakukan oleh guru tersebut di kelas.
4

Guru yang menunjukkan kesadaran melaksanakan pembelajaran


berpusat pada siswa cenderung akan melaksanakan
pembelajaran yang berpusat pada siswa setelah dilakukan
observasi. Sebaliknya, guru yang menunjukkan kurangnya
kesadaran akan pentingnya pembelajaran yang berpusat pada
siswa cenderung melaksanakan pembelajaran yang berpusat
pada guru.
Blumenfeld dkk., (1994) menjelaskan bahwa terdapat
kesenjangan antara kesadaran guru terhadap pelaksanaan
pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan aktivitas
pembelajaran yang dilakukannya di kelas. Penelitian
menunjukkan bahwa guru lebih fokus terhadap manajemen kelas
dan keterlibatan siswa daripada mengintegrasikan teori dan
praktik dalam pembelajaran. Oleh karena itu pembelajaran
berbasis student-centre learning, active learning, kontekstual
dan melalui pendekatan saintifik harus dilakukan oleh guru
biologi dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan
membelajarkan siswa.
Permasalahan kesadaran guru pada aspek professional dan
pedagogik juga berkaitan dengan pelaksanaan penilaian dan
tindak lanjut dalam pembelajaran. Pembelajaran Biologi mejadi
bermakna bila menggunakan asesmen yang tepat yaitu asesmen
autentik karena tidak cukup memahami pengatahuan biologi saja
tetapi dituntut dapat memecahkan masalah dalam kehidupan
sehar-hari (Pantiwati, 2014). Penelitian yang dilakukan oleh
Hariyatmi dan Riani (2014) menunjukkan bahwa masih
rendahnya kemampuan guru biologi dalam menyusun penilaian
autentik. Hal ini ditunjukkan pada kesesuaian penyusunan
penilaian autentik dengan kriteria yang telah distandarkan pada
pembelajaran biologi masih tergolong rendah.
5

Permasalahan kesadaran guru biologi juga berkaitan


dengan bagaimana hubungan antara guru dan siswa. Hubungan
sosial antara guru dan siswa serta bagaimana guru memahami
psikologis siswa juga berdampak pada perhatian siswa terhadap
pembelajaran. Studi kasus yang dilakukan oleh Gablinske (2014)
menjelaskan bahwa lingkungan belajar siswa yang didukung
dengan adanya hubungan interaktif antara siswa dan guru akan
meningkatkan pengalaman belajar siswa yang selanjutnya akan
meningkatkan minat siswa terhadap pembelajaran.
Berbicara mengenai kesadaran guru dalam pembelajaran
juga tidak terlepas dari ketauladanan seorang guru sebagai
individu pendidik di lingkungan sekolah dan masyarakat. Terlebih
lagi dalam pembelajaran biologi yang seharusnya banyak
menanamkan konsep hidup kepada siswa. Ketauladanan secara
personal dari guru akan meningkatkan sikap siswa baik terhadap
lingkungannya maupun terhadap pembelajarannya.
Berdasarkan tujuan pembelajaran biologi dan paparan
beberapa permasalahan yang yang telah dikemukakan di atas,
maka dapat diketahui permasalahan yang berkaitan dengan
kesadaran baik siswa maupun guru dalam pembelajaran biologi
yaitu antara lain:
a. Rendahnya pengetahuan dan penguasaan ilmu dipengaruhi
oleh kebiasaan membaca dan menguasai bahasa. Habits of
reading dan habits of mind memberikan kontribusi penting
dalam pengembangan diri dan pengembangan ilmu
selanjutnya.
b. Pembelajaran biologi bisa memotivasi siswa untuk berpikir
kritis dan memaksimalkan fungsi otak untuk memahami ilmu
yang dipelajari. Strategi pembelajaran yang kurang
mengarahkan siswa dalam berpikir kritis dan ilmiah tidak akan
6

mencapai tujuan pembelajaran biologi seperti yang


diharapkan.
c. Sejumlah sikap ilmiah yang dikemukakan sangat penting
untuk pembentukan karakter anak bangsa. Sikap yang
dimaksud adalah rasa ingin tahu (curiosity), sikap untuk
senantiasa mendahulukan bukti (respect for evidence), luwes
terhadap gagasan baru (fllexibility), merenung secara kritis
(critical reflection), dan yang paling penting adalah
peka/peduli terhadap makhluk hidup dan lingkungan
(sensitivity to living things and environment). Sikap ilmiah
tersebut dikembangkan melalui pembelajaran sains pada
pendidikan dasar dan menengah. Seorang pendidik harus
mengintegrasikan sikap dan kerja ilmiah dalam pembelajaran
biologi yang sangat potensial untuk membekali
pengembangan karakter mereka. Strategi pembelajaran yang
tidak mengembangkan kerja ilmiah juga tidak akan
mengembangkan sikap ilmiah siswa sehingga siswa akan
kurang bahkan tidak termotivasi dalam pembelajaran biologi.
d. Setiap kurikulum sains, sikap mencintai dan menghargai
kebesaran Tuhan Yang Maha Esa menjadi rujukan perumusan
tujuan atau kompetensi. Dengan kata lain selain sikap ilmiah,
diharapkan dikembangkan juga pengembangan nilai-nilai
dalam pembelajaran sains, baik berupa nilai religius, nilai
praktis (manfaat), maupun nilai intelektual. Nilai-nilai religius
dalam pembelajaran biologi seharusnya telah menjadi bagian
yang tidak bisa dipisahkan dalam pembelajaran. Guru harus
mengarahkan dan memberi penekanan bagaimana nilai
religius dalam pembelajaran sehingga terbentuk karakter
menghargai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa dan bersyukur
kepada-Nya.
7

e. Tidak kalah pentingnya adalah penggunaan pengetahuan dan


pandangan biologi dalam mempersiapkan generasi yang akan
datang. Pengetahuan tentang gizi, perkembangan janin dalam
rahim, replikasi DNA beserta kerusakan dan perbaikannya,
sintesis protein dan masih banyak lagi yang lainnya
diperlukan untuk mendidik manusia yang bermoral atau
beretika dan saleh. Rekayasa genetik dan bioteknologi
termasuk teknologi perbaikan perlu didampingi dengan
bioetika. Biologi sering dianggap kurang mengembangkan
proses berpikir. Temuan dalam biologi masih belum banyak
diterapkan dalam dunia pendidikan. Penerapan bioetika dalam
pendidikan sains sudah merupakan suatu keharusan.

B. Permasalahan Kebutuhan dalam Pembelajaran Biologi


Proses pembelajaran interaksi antara kebutuhan peserta
didik dengan pendidik saling mempengaruhi dengan
keberhasilan proses pembelajaran. Oleh karena itu pendidik
harus memperhatikan berbagai faktor baik internal maupun
eksternal sehingga situasi yang kondusif bagi terjadinya proses
belajar agar pendidik dapat terjadi. Untuk menciptakan
lingkungan yang kondusif maka pendidik hendaknya menyusun
langkahlangkah ataupun tahap pembelajaran sehingga proses
belajar akan lebih sistematis sehingga mudah dikontrol.
Permasalahan kebutuhan pada pembelajaran khususnya
pembelajaran biologi ditinjau dari tingkatan sekolah dan guru
adalah kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung,
kurangnya kualitas pendidik dalam melaksanakan pembelajaran
dan bimbingan dalam pengembangan kurikulum serta kurangnya
sumber belajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran
biologi.
8

Yuleawati (2000) mengemukakan bahwa rendahnya kinerja


guru disebabkan karena faktor laboratorium belum memadai,
ada laboratorium dengan peralatan mahal tetapi belum
dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan
guru mengoperasikan alat. Aspek manajerial juga menjadi
permasalahan dalam pengadaan sarana dan prasarana
pembelajaran. Kurangnya perhatian pimpinan terhadap sarana
dan prasarana sains (laboratorium dan media) serta sulitnya
guru meminta pengadaan alat dan bahan laboratorium.
Permasalahan mengenai kebutuhan pendidik yang
professional dikemukakan oleh Syamsuri (2010) bahwa tidak
semua pendidik sains yang ada saat ini dihasilkan dari lulusan
LPTK berkualitas, padahal populasi guru yang belum professional
lebih banyak daripada guru professional alumni LPTK berkualitas.
Banyak LPTK yang begitu mudahnya merekrut calon pendidik
dengan jumlah yang banyak sementara sarana, prasarana serta
dosennya tidak memadai.
Syamsuri (2010) juga memaparkan temuan hasil survey
yang dilakukan di Kota Malang mengenai hubungan antara
keterlaksanaan pelatihan pengembangan kurikulum dengan
praktik di lapangan pada saat proses pembelajaran. Secara
normative pelatihan yang telah dilaksanakan dengan baik tidak
serta merta menjadikan guru menerapkan apa yang
didapatkannya. Umumnya guru belum bisa menyusun perangkat
pembelajaran dengan baik dan melaksanakan perangkat
pembelajaran tersebut sehingga pembelajaran masih dilakukan
secara konvensional.
Pemerataan kebutuhan sumber belajar seperti buku, media
serta laboratorium merupakan permasalahan yang pasti
ditemukan pada beberapa sekolah. Permasalahan yang terjadi
9

sekarang bukan lagi mengenai kuantitas sumber belajar


tersebut, akan tetapi bagaimana kualitas sumber belajar dalam
mendukung proses pembelajaran biologi. Adisendjaja (2010)
melakukan penelitian terhadap buku ajar biologi kelas X.
Penyusunan materi pendidikan sains sebagai bahan ajar
hendaknya merupakan akumulasi dari pengetahuan sains,
penyelidikan hakikat sains, sains sebagai cara berpikir, dan
interaksi sains, teknologi dan masyarakat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa tema literasi sains yang paling banyak
muncul pada buku ajar yang dianalisis adalah pengetahuan sains
yakni sebesar 82%, penyelidikan hakikat sains sebesar 2%, sains
sebagai cara berpikir sebesar 8% dan interaksi sains, teknologi
dan masyarakat sebesar 8%. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa buku ajar biologi yang dianalisis lebih
menekankan pada pengetahuan sains, yakni menyajikan fakta,
konsep, prinsip, hukum, hipotesis, teori, model dan pertanyaan-
pertanyaan yang meminta siswa untuk mengingat pengetahuan
atau informasi dan sedikit sekali memberi peluang untuk
pengembangan kemampuan berpikir siswa.
Kebutuhan belajar dari setiap siswa didik berbeda-beda.
Hal tersebut terkait erat dengan faktor eksternal maupun internal
mereka. Pujaningsih (2011) menjelaskan bahwa kasus yang
paling banyak ditemui adalah kesibukan orang tua untuk mencari
nafkah sehingga perkembangan belajar siswa kurang terkontrol
dan akhirnya memicu permasalahan-permasalahan akademik
seringkali ditemui. Hal tersebut terjadi pada tingkat sosial
ekonomi bawah, menengah maupun atas. Gaya belajar dan
potensi belajar yang beragam adalah contoh kasus lainnya yang
mengarah pada pencapaian hasil yang beragam, namun hal
tersebut seringkali dipungkiri seiring ditemukannya banyak fakta
10

pemberian materi pelajaran yang sama untuk semua siswa didik.


Pada siswa berbakat, mereka kurang mendapat materi secara
mendalam sementara bagi siswa yang mempunyai hambatan
belajar akan mudah tertinggal. Situasi ini menunjukkan
keberagaman siswa didik di dalam kelas menjadi tantangan bagi
profesionalisme guru dan secara tidak langsung menjadi
cerminan kualitas pendidikan yang sampai saat ini memerlukan
dukungan dari berbagai pihak.
Guru sebagai pendidik harus mampu mengerti kebutuhan
dari anak didiknya agar mampu menjalin komunikasi yang baik
dengan siswanya dan sebaliknya. Untuk dapat mengerti hal itu
Guru perlu mendekati siswa secara lebih mendalam dengan
pendekatan psikologi pendidikan salah satunya adalah dengan
mengadakan pendidikan non-formal diluar jam sekolah. Ini
penting agar lebih memacu siswa dalam mengembangkan jati
diri dan kreativitasnya agar tidak terfokus pada mata pelajaran
yang ada disekolah.
Untuk dapat melaksanakan hal ini maka guru perlu
melakukan pendekatan personal maupun nonpersonal.
Contohnya jika ada siswa yang bermasalah dalam hal pendidikan
formal maka seorang guru harus bisa membantu menyelesaikan
masalah tersebut dengan pendekatan personal seperti
memanggilnya ke ruang guru untuk mendiskusikannya.

C. Kesulitan dalam Pembelajaran Biologi


Ketidakberhasilan dalam proses belajar mengajar untuk
mencapai ketuntasan pembelajaran tidak dapat disebabkan oleh
satu faktor, tetapi pada beberapa faktor yang terlibat dalam
proses pembelajaran. Faktor tersebut adalah siswa yang belajar,
kesulitan yang dialami siswa dan kesulitan yang dialami dalam
proses. Proses diagnosis kesulitan belajar yang paling penting
11

dilakukan adalah menemukan letak kesulitan dan jenis kesulitan


belajar sehingga pengajaran perbaikan yang dilaksanakan dapat
efektif (Mulyadi, 2008).
Kesulitan belajar biologi dapat dibagi mejadi dua aspek
yaitu kesulitan siswa dalam mempelajari proses-proses biologi
dan mempelajari produk biologi yang berupa konsep, prinsip dan
generalisasi. Kesulitan dalam mempelajari proses biologi meliputi
kesulitan dalam melakukan observasi, klasifikasi, menggunakan
dan memanipulasi angka, berkomunikasi, melakukan prediksi,
menarik kesimpulan, mengontrol variabel, menginterpretasi data,
merumuskan hipotesis, melakukan eksperimen. Kesulitan yang
selalu dihadapi siswa dalam mempelajari produk biologi antara
lain kesulitan memahami konsep-konsep biologi, kesulitan dalam
membaca kalimat dan istilah asing dan kesulitan dalam
menggunakan/melaksanakan praktikum biologi.
Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa kelas
X pada materi pembelajaran Monera menunjukkan bahwa (1) ragam kesulitan
belajar siswa dalam mempelajari materi Archaebacteria dan Eubacteria yaitu
kesulitan dalam memahami terminologi, memahami konsep, dan menuliskan
nama ilmiah. (2) Ragam kesulitan belajar siswa yang dominan yaitu pada
menuliskan nama ilmiah (Hidayatussaadah dkk., 2016) dan konsep biologi yang
abstrak (Nafisah, 2011).
Penelitian mengenai kesulitan guru biologi dalam pembelajaran biologi
SMA memaparkan 1) kesulitan pada tahap perencanaan yaitu guru biologi,
kesulitan yang terdapat pada penyusunan RPP yaitu apek perangkat awal, alokasi
waktu, metode, sumber belajar, dan penilaian (rubrik); 2) Kesulitan pada tahap
proses pembelajaran, pada aspek kegiatan pendahuluan guru sulit membuat
peserta didik untuk berkonsentrasi dalam proses pembelajaran, guru sulit untuk
menyampaikan tujuan pembelajaran. Aspek kegiatan inti diantaranya guru sulit
untuk menerapan pendekatan scientific, guru masih mengalami kesulitan dalam
pendekatan berbasis sainstifik (5M), guru masih kesulitan menggunakan metode
12

pembelajaran, guru kurang aktif dalam proses pembelajaran. Aspek kegiatan


penutup meliputi guru sulit untuk membimbing siswa untuk menyimpulkan
pembelajaran, guru jarang memberikan umpan balik terhadap proses pembelajaran
dan hasil pembelajaran serta guru sulit untuk menilai proses pembelajaran (Aeni
dkk., 2016).
Sementara pada tingkat SMP penelitian yang dilakukan oleh
Sukmasari, V.P. dan Wibawa, W.C. (2013) menunjukkan kesulitan
yang terdapat dalam pembelajaran biologi pada terdiri atas
kesulitan mengajak siswa menalar, melakukan penilaian otentik,
kesulitan siswa membaca data hasil pengamatan untuk
dirumuskan menjadi kesimpulan, munculnya kekhawatiran guru
dengan pola ujian nasional yang berorientasi produk mengingat
mindset dan kegiatan belajar IPA ditekankan pada proses dengan
scientific, keterbatasan kemampuan guru dalam memadukan
materi IPA (kimia, fisika, biologi) karena factor penguasaan guru
yang tidak relevan dengan latar belakang keilmuannya,
keterbatasan anak menggali informasi dari sumber buku lain
ketika isi buku siswa lebih mengajak siswa untuk mengamati,
berfikir, menganalisis (scientific), kesulitan dalam menilai sikap
dan proses dengan rubric yang banyak, kesulitan
mengembangkan aspek kreatifitas serta kesulitan dalam
mengembangkan berpikir kritis.

D. Solusi Permasalahan mengenai Kesadaran, Kebutuhan


dan Kesulitan dalam Pembelajaran Biologi
Beberapa solusi yang dapat diajukan dalam menjawab
permasalah tentang kesadaran dalam pembelajaran biologi
antara lain sebagai berikut.
1. Memperbaiki mutu calon guru dan mutu LPTK.
2. Pelaksanaan pengembangan professional guru secara
berkelanjutan dan terevaluasi secara berkesinambungan
13

melalui pelatihan dan supervisi pembelajaran baik dari


pihak dinas pendidikan daerah maupun kepala sekolah.
3. Melakukan dampingan/pelatihan yang terhadap guru baik
dari segi pengembangan kurikulum, pembelajaran maupun
dalam hal pemakaian dan pengembangan alat-alat atau
media pembelajaran (Sari, 2012).
4. Pembentukan komunitas belajar antara guru baik antar
guru biologi maupun lintas mata pelajaran melalui kegiatan
kolaboratif. Salah satu bentuk komunitas belajar guru
secara kolaboratif ini adalah melalui kegiatan MGMP baik di
tingkat antar sekolah maupun pada satu sekolah yang
dapat diintegrasikan dengan pelaksanaan lesson study.
5. Dukungan administratif dan penyediaan sumber belajar
baik bagi siswa dan guru.
6. Menciptakan lingkungan sekolah dan lingkungan belajar
yang kondusif berdasarkan visi dan misi sekolah.
7. Menumbuhkan budaya literasi sekolah melalui gerakan
literasi sekolah (GLS).
8. Pengelolaan administrasi laboratoium yang baik sehingga
diketahui kebutuhan yang belum dimiliki oleh sekolah
sehingga pengajuan penyediaan dapat dilaksanakan.
9. Permasalahan keberagaman siswa dapat dilakukan dengan
pembentukan kerjasama antara guru, orang tua serta
masyarakat (sistem mitra sekolah) (Pujaningsih, 2011).
14

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Permasalahan kesadaran dalam pembelajaran biologi
dapat dilihat dari kurangnya penerapan dari 4 ranah
kompetensi guru serta permasalahan mengenai
kesenjangan pembelajaran dengan tujuan/hakikat
pembelajaran biologi.
2. Permasalahan kebutuhan dalam pembelajaran biologi
terjadi dikarenakan kesenjangan antara kebutuhan siswa
dan guru dalam pembelajaran.
3. Kesulitan dalam pembelajaran biologi dapat dibagi menjadi
kesulitan dalam memahami proses biologi dan produk
biologi. Kesulitan dalam pembelajaran biologi dapat dibagi
menjadi kesulitan dalam perencanaan, pelaksanaan
pembelajaran dengan menerapkan pendekatan saintifik
dan evaluasi.
4. Solusi yang dapat dilakukan mengenai permasalahan
kesadaran, kebutuhan dan kesulitan dalam pembelajaran
biologi dapat dikategorikan menjadi solusi bagi
peningkatan professional guru, pemenuhan sarana dan
prasarana pendukung pembelajaran, menciptakan
lingkungan belajar sekolah yang kondusif serta
penanganan keberagaman siswa melalui sistem mitra
sekolah.

B. Saran
Penelaahan dan penelitian pada setiap sekolah yang dilakukan
oleh guru ataupun peneliti diharapkan dapat terus dilakukan
15

untuk mengetahui permasalahan kesadaran, kebutuhan dan


kesulitan belajar siswa sehingga tindakan perbaikan juga dapat
terus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Adisendjaja, Yusuf Hilmi. 2010. Analisis Buku Ajar Biologi SMA
Kelas X di KotaBandung Berdasarkan Literasi Sains.
(Online), (http://yusuf-hilmi.blogspot.com) diakses 1 Maret
2017).

Aeni, Usfatul., Chandra, Edy., Muspiroh, Novianti. 2016.


Identifikasi Kesulitan Guru Biologi dalam Melaksanakan
Pembelajaran Kurikulum 2013 di SMA Negeri 1
Susukancirebon. Scientiae Educatia: Jurnal Sains dan
Pendidikan Sains, 5(2): 165-174.

Blumenfeld, P. C., Krajcik, J. S., Marx, R. W., & Soloway, E. 1994.


Lessons learned: How collaboration helped middle grade
science teachers learn Project based instruction. The
Elementary School Journal, 94(5): 539-551.

Gablinske, Patricia Brady. 2014. A Case Study of Student and


Teacher Relationships and the Effect on Student Learning.
Disertation. Rhode Island: University of Rhode Island.

Hariyatmi, Hevi Al Azizah Riani. 2014. Kemampuan Guru Biologi


SMA dalam Penyusunan Penilaian Autentik (Authentic
Assesment) sebagai Evaluasi Pembelajaran. Makalah
disajikan dalam Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi
FKIP UNS, Surakarta.

Hidayatussaadah, Rulis., Hidayati, Sukarni., Umniyatie, Siti. 2016.


Identifikasi Kesulitan Belajar Siswa pada Materi
Archaebacteria dan Eubacteria di SMA Negeri 1 Muntilan.
Jurnal Pendidikan Biologi. 585(7).

Kaya, S., Kablan, Z., Akaydin, B.B., Demir, N. 2015. Teachers


Awareness and Perceived Effectiveness of Instructional
16

Activities in Relation to the Allocation of Time in the


Classroom. Science Education International, 26(3): 344-
357.

Mulyadi. 2008. Diagnostik Kesulitan Belajar dan Bimbingan


terhadap Kesulitan Belajar Khusus. Yogyakarta: Nusa Litera.

Nafisah, Durrotun. 2011. Identifikasi Kesulitan Belajar Biologi


Kelas IX SMPN 5 Ungaran. Skripsi Jurusan Biologi.
Semarang: FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Pantiwati, Yuni. 2014. Hakekat Asesmen Autentik dan


Penerapannya dalam Pembelajaran Biologi. Jurnal Edukasi
Matematika dan Sains, 1(1).

Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi


Pendidikan.

Pujaningsih. 2011. Pemenuhan Kebutuhan Siswa yang Beragam


melalui Jalinan Kemitraan Sekolah. Makalah Jurusan
Pendidikan Luar Biasa FIP. Yogyakarta: UNY.

Rustaman. 2002. Pendidikan Biologi dan Trend Penelitiannya.


Bandung: FPMIPA UPI.

Sari, Milya. 2012. Usaha Mengatasi Problematika Pendidikan


Sains di Sekolah dan Perguruan Tinggi. Jurnal Al-Talim,1(1):
74-86.

Sukmasari, V.P. dan Wibawa, W.C. (2013). Studi Kasus


Pedagogical Content Knowledge Guru IPA SMP Kelas VII
dalam Implementasi Kurikulum 2013. Yogyakarta:
Pendidikan IPA Universitas Negeri Yogyakarta.

Syamsuri, Istamar. 2010. Peningkatan Kompetensi Guru Untuk


Meningkatkan Minat Siswa Pada Bidang MIPA. Makalah
disajikan dalam Lokakarya MIPAnet 2010, The Indonesian
Network Of Higher Educations Of Mathematics And Nanutal
Sciences, IPB Bogor, 26-27 Juli 2010.

Yulaelawati, Ella. 2000. Science Education For Contemporary


Society: Problems, Issues and Dilemas. Final Report of The
Internatinal Workshop on The Reform in The Teaching of
Science and Technology at Primary and Seconderary Level
17

in Asia: Comparative References to Europe. Beijing, 27 31


March 2000.

Anda mungkin juga menyukai