Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

Bayi yang lahir dari ibu positif HIV, yang terinfeksi atau hanya terpapar
memiliki resiko tinggi untuk terinfeksi dan angka mortalitas serta morbiditas yang
lebih tinggi dibandingkan dengan bayi yang lahir dari ibu yang tidak memiliki
riwayat terinfeksi HIV.

Di Indonesia, infeksi HIV merupakan salah satu masalah kesehatan utama dan
salah satu penyakit menular yang dapat mempengaruhi kematian ibu dan anak.
Human Immunodeficiency Virus (HIV) telah ada di Indonesia sejak kasus pertama
ditemukan yaitu pada tahun 1987. Lebih dari 90% kasus anak terinfeksi HIV,
ditularkan melalui proses penularan dari ibu ke anak atau Mother To Child Hiv
Transmission (MTCT). Virus HIV dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi HIV
kepada anaknya selama kehamilan, saat persalinan dan saat menyusui. Penularan HIV
dari ibu yang terinfeksi HIV ke bayinya cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah perempuan HIV positif.

Imunisasi merupakan upaya untuk memberikan kekebalan pada bayi dan anak
terhadap penyakit tertentu. Pada bayi yang terpapar atau bahkan terinfeksi HIV dari
ibunya maka terdapat beberapa perbedaan dalam pemberian imunisasi dibandingkan
dengan bayi yang tidak terpapar HIV. Perbedaan tersebut melihat adanya kondisi
imunosupresi pada HIV yang akan meningkatkan kemungkinan komplikasi pada
pemberian imunisasi terutama vaksin yang hidup.

Bayi yang terinfeksi HIV pada awal kehidupannya memiliki sistem imun yang
normal namun dengan terapi yang tidak adekuat atau bahkan tidak diberikan terapi
HIV maka akan berakibat imunodefisiensi yang progresif, sehingga sebaiknya
imunisasi pada bayi dengan ibu HIV diberikan sedini mungkin.

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Imunisasi

1.1 Definisi

Imunisasi adalah upaya yang dilakukan dengan sengaja memberikan


kekebalan (imunitas) pada bayi atau anak sehingga terhindar dari penyakit1.

Tujuan Imunisasi

Imunisasi bertujuan utnuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada


seseorang dan menghilangkan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat atau
bahkan menghilangkan penyakit tertentu.

1.2 Jenis Imunisasi

Imunisasi Aktif

Imunisasi aktif adalah tubuh anak sendiri membuat zat anti yang akan
bertahan selama bertahun-tahun.

Imunisasi Pasif

Imunisasi pasif adalah pemberian antibodi kepada resipien untuk memberikan


imunitas secara langsung tanpa harus memproduksi sendiri zat aktif tersebut untuk
kekebalan tubuhnya. Imunisasi pasif dapat terjadi secara alami saat ibu hamil
memberikan antibody tertentu ke janinnya melalui plasenta dan ASI. Sedangkan
transfer imunitas pasif didapatkan saat menerima plasma atau serum yang
mengandung antibody tertentu untuk menunjang kekebalan tubuh. Kekebalan tubuh

2
pasif tidak berlangsung lama, sebab zat anti yang meningkat dalam tubuh bukan
sebagai hasil produksi tubuh sendiri.

1.2 Jenis Vaksin

Secara garis besar vaksin dapat dibagi menjadi dua kelompok jenis vaksin, yaitu
vaksin dari mikroba hidup dilemahkan (vaksin hidup) dan vaksin mikroba yang
diinaktivasi (vaksin inaktivasi). Selain kedua jenis vaksin tersebut dikenal juga vaksin
rekombinan.

a. Vaksin Hidup.
Vaksin hidup dibuat dengan memodifikasi virus atau bakteri pathogen di
laboratorium. Vaksin hidup bersifat labil dan mudah rusak oleh paparaan suhu
panas dan cahaya menjadi tidak efektif, karena itu vaksin hidup harus dibawa
dan disimpan dengan cara yang aman dari penyebab kerusakan.
Virus atau bakteri dalam vaksin hidup diharapkan dapat bereplikasi dalam
tubuh penerima vaksin sehingga cukup diberikan dalam dosis relative kecil.
Contoh vaksin hidup adalah campak, polio oral, BCG,dll.1

b. Vaksin Inaktivasi
Vaksin inaktivasi dapat berupa virus dan bakteri utuh (whole cell) atau fraksi
pathogen, atu gabungan keduanya. Vaksin fraksional dapat berbasis protein
atau polisakarida. Vaksin berbasis protein dapat berupa toksoid (toksin bakteri
inaktif), dan produk subunit atau subvirion. Vaksin berbasis polisakarida
umumnya terbuat dari polisakarida murni dinding sel bakteri. Vaksin
polisakarida dapat dikonjugasikan secara kimiawi dengan protein sehingga
bersifat antigenic vaksin polisakarida tersebut menjadi lebih poten.
Vaksin inaktif tidak mengandung mikroba hidup, tidak bereplikasi dan tidak
berpotensi menimbulkan penyakit. Vaksin inaktif diberikan melalui suntikan,
selalu dengan dosis multiple, dan umumnya tidak dipengaruhi oleh antibody
sirkulasi. Vaksin inaktif juga memerlukan dosis penguatan karena antibody

3
yang terbentuk akan menurun seiring dengan perjalanan waktu. Respons imun
yang terbentuk sebagian besar bersifat humoral dan hanya sedikit merangsang
respons imun selular.
Contoh vaksin inaktif sel utuh adalah vaksin influenza, rabies, hepatitis A,
polio (suntikan), pertussis, kolera. Vaksin inaktif fraksional dan subunit
misalnya vaksin hepatitis B, toksoid, dll.1

c. Vaksin Rekombinan
Vaksin rekombinan dibentuk dengan rekayasa genetic. Contohnya ialah
vaksin rekombinan Hepatitis B rekombinan yang dibuat dengan insersi
segmen DNA hepatitis ke dalam sel ragi, sehingga sel ragi tersebut akan
menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni.

1.3 Imunisasi pada Bayi dengan Ibu HIV


Pada bayi dengan ibu HIV sebagian besar tidak terinfeksi oleh HIV
atau belum menunjukkan gejala maka dapat diberikan imunisasi yang sama
dengan bayi normal lainnya, karena sistem imun pada saat awal kelahiran
belum terdapat defisiensi imun sehingga respons imun terhadap vaksinasi
baik. Sedangkan pada bayi yang terinfeksi HIV dan telah menunjukkan gejala
tidak boleh diberikan vaksin hidup karena akan meningkatkan komplikasi.
Dan untuk respons terhadap pembentukan antibody pada bayi yang terinfeksi
lebih rendah dibandingkan dengan bayi normal, jika dapat terbentuk titer
antibody maka membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan bayi yang
memiliki sistem imun baik. Pembentukan antibody berhubungan dengan
jumlah limfosit CD4+.5
Pemberian vaksin mati diperbolehkan dengan dosis dan jadwal yang
sama dengan bayi yang tidak terpapar oleh HIV, semakin cepat pemberian
vaksin maka semakin baik karena sistem imun masih berjalan dengan baik
dan belum terdapat imunosupresi.

4
Beberapa vaksin bahkan diberikan dengan dosis tambahan, seperti
campak yang diberikan dosis tambahan pada usia 6 bulan agar pembentukan
antibody protektif lebih cepat.

1.3.1 Imunisasi Dasar

1. Hepatitis B
Pemberian vaksin hepatitis B dilakukan secara intramuscular dalam, pada
neonatus dan bayi diberikan di anterolateral paha. Dosis yang diberikan 0,5cc
dengan pemberian pertama pada saat lahir, pemberian kedua saat usia 2 bulan
dan pemberian pada usia 6 bulan. Pemberian ketiga dosis vaksin Hepatitis B
dengan jumlah dosis yang sesuai rekomendasi akan menyebabkan
terbentuknya respons protektif. 1
Pada bayi dengan ibu HIV vaksinasi hepatitis B dilakukan sama seperti bayi
normal, yaitu tetap dberikan pada saat bayi lahir atau sebelum keluar rumah
sakit. Apabila semula status HbsAg ibu tidak diketahui dan ternyata kemudian
diketahui positif maka ditambahkan HBIG 0,5 mL sebelum umur 7 hari. Jika
ibu bayi dengan HBsAg positif maka pemberian HBIG sebelum 12 jam
setelah lahir. 1,2
Respons serologis hepatitis B pada bayi yang terinfeksi lebih rendah
dibandingkan bayi yang tidak terinfeksi dengan usia yang sama. Menurut
beberapa penelitian hanya 25-50% bayi yang terinfeksi HIV yang dapat
membentuk antibody protektif.5
2. BCG (Bacille Calmette-Guerin)
Vaksin BCG diberikan secara intradermal dengan dosis 0,05 mL, pada bayi
umur kurang dari 3 bulan atau pada anak dengan uji mantoux negative.1
Pada bayi dengan ibu HIV tidak diberikan vaksin BCG, karena vaksin BCG
termasuk dalam vaksin hidup sehingga beresiko tinggi jika diberikan pada
bayi yang terinfeksi atau dicurigai terinfeksi HIV, karena dapat meningkatkan
angka terjadinya komplikasi dari pemberian vaksin. 3

5
Namun, pemberian vaksin BCG dapat dipertimbangkan apabila bayi yang
lahir dari ibu HIV tidak memiliki gejala apapun atau asimptomatik dan berada
di daerah endemic tuberculosis.5
3. Polio.
Imunisasi polio dapat diberikan dengan cara suntikan IPV (Inactivated
Poliovirus Vaccine) atau meneteskan OPV (Oral Poliovirus Vaccine). IPV
merupakan vaksin berisi virus inaktif atau mati yang dibuat dengan
memanaskan formaldehid. Sedangkan OPV adalah virus hidup yang
dilemahkan (attenuated) dengan membiakan di dalam sel non-manusia
sehingga masih mempunyai kemampuan enterovirulen, tetapi tidak bersifat
pathogen karena sifat neurovirulensi sudah hilang.
Pada bayi dengan ibu HIV, pemberian vaksin polio hanya IPV, tidak diberikan
OPV karena untuk menghindari peningkatan resiko terjadinya vaccine-
associated paralytic poliomyelitis, yaitu kelumpuhan setelah vaksinasi OPV.4

4. DTP (Diphtheria-Tetanus-Pertussis Vaccine)


Pemberian vaksin DTP dilakukan secara intramuscular dengan dosis 0,5 mL.
jadwal pemberian imunisasi dasar DTP diberikan tiga kali sejak umur 2 bulan
(DTP tidak boleh diberikan sebelum umur 6 minggu) dengan interval 4-8
minggu (interval terbaik 8 minggu), jadi DTP-1 diberikan pada umur 2 bulan,
DTP-2 pada umur 4 bulan dan DTP-3 pada umur 6 bulan. Pemberian booster
DTP selanjutnya diberikan satu tahun setelah pemberian DTP-3 yaitu pada
umur 18-24 bulan, dan DTP-5 pada usia 5 tahun.
Imunisasi DTP pada bayi dengan ibu HIV tetap dilakukan sama seperti bayi
yang tidak terpapar HIV, dengan tidak ada perbedaan pada respons serologis
setelah imunisasi.

5. Hib
Pemberian vaksinasi Hib secara intramuscular dengan dosis 0,5 mL. vaksinasi
dimulai sejak umur 2 bulan, diberikan sebanyak 3 kali dengan jarak waktu
selama 2 bulan. Jika awal vaksinasi dilakukan pada usia 6 bulan-1 tahun maka
dilakukan sebanyak 2 kali vaksinasi agar menghasilkan titer protektif, namun

6
apabila diberikan setelah usia 1 tahun maka cukup 1 kali suntikan tanpa
booster sudah menghasilkan titer proktektif. Vaksin Hib dapat diberikan pada
bayi terinfeksi HIV yang asimptomatik atau simptomatik, namun bayi yang
mengalami immunocompromised yang berat akan tidak memberikan respon
imun sebaik bayi yang normal.5

6. Campak
Pemberian vaksin campak rutin dimulai pada usia 9 bulan, pemberian kedua
saat usia 2 tahun, dan diulang saat usia masuk sekolah. Vaksin campak tidak
diberikan pada bayi yang terinfeksi HIV dengan persentase limfosit CD4
kurang dari 15% atau nilai limfosit CD4 absolut kurang dari nilai normal
berdasarkan usia, serta simptomatik HIV karena hal-hal tersebut menunjukan
supresi imun yang berat. 5
Menurut WHO bayi yang terinfeksi HIV diberikan dosis tambahan vaksin
campak pada usia 6 bulan untuk proteksi lebih dini dan meningkatkan
proteksi dalam melawan virus campak.5
Pada bayi dengan kondisi imunosupresi berat yang terpapar virus campak
maka diberikan immunoglobulin dengan dosis 0,5mL/KgBB maksimal 15
mL.1,5

1.3.2 Imunisasi tambahan

1. Pneumokokus
Terdapat 2 jenus vaksin pneumokokus yaitu PPV (Pneumococcus
Polysaccharide Vaccine) dan Vaksin PCV (Pneumococcus Conjugate
Vaccine). PPV tidak dapat merangsang respons imunologikpada anak usia
muda sehingga tidak mampu menghasilkan respon booster. Maka itu untuk
meningkatkan imunogenositas pada bayi dikembangkan menjadi PCV. Vaksin
PCV diberikan pada bayi umur 2,4,6 bulan dan kemudian diulang pada umur
12-15 bulan. Vaksin PCV diberikan secara intramuscular dengan dosis 0,5
mL. PCV dapat diberikan pada bayi yang terinfeksi HIV dengan cara
pemberian dan dosis yang sama dengan bayi yang tidak terpapar HIV.5

7
2. Rotavirus
Terdapat 2 jenis vaksin rotavirus yang digunakan yaitu Monovalen dan
Pentavalen. Vaksin rotavirus monovalent merupakan vaksin hidup yang
mengandung 1 jenis rotavirus (G1P[8]) . Vaksin pentavalen ialah vaksin oral
yang mengandung 5 galur rotavirus (G1,G2,G3,G4,G9). Vaksin ini
dikembangkan dari serum bovine memiliki efektifitas tinggi dalam mencegah
keparahan akibat rotavirus.
Vaksin monovalent diberikan dalam 2 dosis (106CFU/mL/dosis) dengan
interval waktu 8 minggu setiap pemberian vaksin. Dosis pertama diberikan
pada rentang usia 6-14 minggu dan dosis kedua pada umur 24 minggu.1
Vaksin pentavalen diberikan secara oral dan dilakukan dalam 3 dosis. Dosis
pertama diberikan saat usia 2 bulan, dosis kedua saat usia 4 bulan, dan dosis
ketiga saat usia 6 bulan. Interval waktu pemberian antar dosis minimal 1
bulan sejak pemberian dosis pertama.1
Pemberian vaksin rotavirus pada bayi dengan ibu HIV harus dipertimbangkan
keuntungan dan resikonya. Tidak banyak data mengenai keamanan dan
efisiensi dari pemberian vaksin rotavirus pada berpotensi mengalami
imunosupresi. Namun beberapa pertimbangan yang mendukung pemberian
vaksin rotavirus adalah (1) bayi yang lahir dari ibu HIV belum terdiagnosis
terinfeksi sebelum waktu pemberian dosis pertama vaksin rotavirus, (2) strain
vaksin rotavirus telah sangat dilemahkan.4,5

8
Gambar 1. Imunisasi pada Bayi yang
terinfeksi HIV

2. HIV (Human Immunodeficiency Virus)

2.1 Definisi

HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus RNA dari subfamili


retrovirus. Infeksi HIV dapat menimbulkan defisiensi kekebalan tubuh sehingga
menimbulkan gejala berat yang disebut dengan AIDS (acquired immunodeficiency
syndrome).

9
AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) adalah suatu penyakit yang
ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV (Human
Immunodeficiency Virus) didalam tubuh manusia, yang mana virus ini menyerang sel
darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh.
Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat penderita mudah sekali
terjangkit berbagai macam penyakit termasuk penyakit ringan sekalipun.7,8

2.2 Cara penularan HIV

Transmisi HIV secara umum dapat terjadi melalui empat jalur, yaitu8 :

1. Kontak seksual:

HIV terdapat pada cairan mani dan sekret vagina yang akan ditularkan virus ke
sel,baik pada pasangan homoseksual atau heteroseksual.

2. Tranfusi:

HIV ditularkan melalui tranfusi darah balk itu tranfusi whole blood, plasma,
trombosit,

atau fraksi sel darah Iainnya.

3. Jarum yang terkontaminasi:

Transmisi dapat terjadi karena tusukan jarum yang terinfeksi atau bertukar pakai
jarum

di antara sesama pengguna obat-obatan psikotropika.

4. Transmisi vertikal (MTCT)

Transmisi vertical terjadi pada 25-30% kehamilan. transmisi intrauterine terjadi


karena plasenta tidak impermeable terhadap pathogen maternal. Transmisi vertical
didukung oleh (1) kurangnya ekspresi dari HLA kelas 1 oleh sinktitiotrofoblas, (2)

10
banyaknya jalur trasnportasi vesicular dan immunoglobulin, (3) adanya defek pada
lapisan trofoblas.9

Transmisi vertical terjadi baik intrauterine, melalui plasenta, selama persalinan


melalui pemaparan dengan darah atau secret jalan lahir, maupun yang terjadi setelah
lahir (pasca natal) yaitu melalui air susu ibu (ASI).

11