Anda di halaman 1dari 9

A.

Faktor Risiko
1. Tungau debu rumah
Asma bronkiale disebabkan oleh masuknya suatu alergen misalnya tungau
debu rumah yang masuk ke dalam saluran nafas seseorang sehingga
merangsang terjadinya reaksi hipersentitivitas Tipe I. Tungau debu rumah
ukurannya 0,1 - 0,3 m dan lebar 0,2 m, terdapat di tempat-tempat atau
benda-benda yang banyak mengandung debu. Misalnya debu yang berasal
dari karpet dan jok kursi, terutama yang berbulu tebal dan lama tidak
dibersihkan, juga dari tumpukan koran-koran, buku-buku, pakaian lama.
2. Jenis kelamin
Jumlah kejadian asma pada anak laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan
perempuan. Perbedaan jenis kelamin pada kekerapan asma bervariasi,
tergantung usia dan mungkin disebabkan oleh perbedaan karakter biologi.
Penyakit asma 2 kali lebih sering terjadi pada anak laki-laki usia 2-5 tahun
dibandingkan perempuan sedangkan pada usia 14 tahun risiko asma anak
laki- laki 4 kali lebih sering dan kunjungan ke rumah sakit 3 kali lebih sering
dibanding anak perempuan pada usia tersebut, tetapi pada usia 20 tahun
kekerapan asma pada laki-laki merupakan kebalikan dari insiden
ini.Peningkatan risiko pada anak laki-laki mungkin disebabkan semakin
sempitnya saluran pernapasan, peningkatan pita suara, dan mungkin terjadi
peningkatan IgE pada laki-laki yang cenderung membatasi respon bernapas.
Predisposisi asma pada laki-laki lebih tinggi dari pada anak perempuan, akan
tatapi prevalensi asma pada anak perempuan lebih tinggi dari pada laki-laki.
Aspirin lebih sering menyebabkan asma pada perempuan.
3. Binatang peliharaan
Binatang peliharaan yang berbulu seperti anjing, kucing, hamster, burung
dapat menjadi sumber alergen inhalan. Sumber penyebab asma adalah
alergen protein yang ditemukan pada bulu binatang di bagian muka dan
ekskresi. Alergen tersebut memiliki ukuran yang sangat kecil (sekitar 3-4
mikron) dan dapat terbang di udara sehingga menyebabkan serangan asma,
terutama dari burung dan hewan menyusui.
4. Perubahan cuaca
Kondisi cuaca yang berlawanan seperti temperatur dingin, tingginya
kelembaban dapat menyebabkan asma lebih parah, epidemik yang dapat
membuat asma menjadi lebih parah berhubungan dengan badai dan
meningkatnya konsentrasi partikel alergenik. Dimana partikel tersebut dapat
menyapu pollen sehingga terbawa oleh air dan udara. Perubahan tekanan
atmosfer dan suhu memperburuk asma sesak nafas dan pengeluaran lendir
yang berlebihan. Ini umum terjadi ketika kelembaban tinggi, hujan, badai
selama musim dingin. Udara yang kering dan dingin menyebabkan sesak di
saluran pernafasan.
5. Riwayat penyakit keluarga (Genetik)
Risiko orang tua dengan asma mempunyai anak dengan asma adalah tiga
kali lipat lebih tinggi jika riwayat keluarga dengan asma disertai dengan salah
satu atopi. Predisposisi keluarga untuk mendapatkan penyakit asma yaitu
kalau anak dengan satu orangtua yang terkena mempunyai risiko menderita
asma 25%, risiko bertambah menjadi sekitar 50% jika kedua orang tua
asmatik. Asma tidak selalu ada pada kembar monozigot, labilitas
bronkokontriksi pada olahraga ada pada kembar identik, tetapi tidak pada
kembar dizigot. Faktor ibu ternyata lebih kuat menurunkan asma dibanding
dengan bapak. Orang tua asma kemungkinan 8-16 kali menurunkan asma
dibandingkan dengan orang tua yang tidak asma, terlebih lagi bila anak
alergi terhadap tungau debu rumah.
6. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami
stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
7. Olah raga atau aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktifitas jasmani atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktifitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.
8. Asap rokok
Pembakaran tembakau sebagai sumber zat iritan dalam rumah yang
menghasilkan campuran gas yang komplek dan partikel-partikel berbahaya.
Lebih dari 4500 jenis kontaminan telah dideteksi dalam tembakau,
diantaranya hidrokarbon polisiklik, karbon monoksida, karbon dioksida, nitrit
oksida, nikotin, dan akrolein.
9. Perokok pasif
Paparan asap tembakau pasif berakibat lebih berbahaya gejala penyakit
saluran nafas bawah (batuk, lendir dan mengi) dan naiknya risiko asma dan
serangan asma. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa risiko munculnya
asma meningkat pada anak yang terpapar sebagai perokok pasif.
10. Perokok aktif
Merokok dapat menaikkan risiko berkembangnya asma karena pekerjaan
pada pekerja yang terpapar dengan beberapa sensitisasi di tempat bekerja.
Namun hanya sedikit bukti-bukti bahwa merokok aktif merupakan faktor
risiko berkembangnya asma secara umum.
11. Jenis makanan
Beberapa makanan penyebab alergi makanan seperti susu sapi, ikan laut,
kacang, berbagai buah-buahan seperti tomat, strawberry, mangga, durian
berperan menjadi penyebab asma. Makanan produk industri dengan
pewarna buatan (misal: tartazine), pengawet (metabisulfit), vetsin
(monosodum glutamat-MSG) juga bisa memicu asma. Penderita asma
berisiko mengalami reaksi anafilaksis akibat alergi makanan fatal yang dapat
mengancam jiwa. Makanan yang terutama sering mengakibatkan reaksi
yang fatal tersebut adalah kacang, ikan laut dan telur. Alergi makanan
seringkali tidak terdiagnosis sebagai salah satu pencetus asma meskipun
penelitian membuktikan alergi makanan sebagai pencetus bronkokontriksi
pada 2% - 5% anak dengan asma.Meskipun hubungan antara sensitivitas
terhadap makanan tertentu dan perkembangan asma masih diperdebatkan,
tetapi bayi yang sensitif terhadap makanan tertentu akan mudah menderita
asma kemudian, anak-anak yang menderita enteropathy atau colitis karena
alergi makanan tertentu akan cenderung menderita asma. Alergi makanan
lebih kuat hubungannya dengan penyakit alergi secara umum dibanding
asma.
Asma merupakan gangguan kompleks yang melibatkan faktor autonom, imunologis,
infeksi, endokrin dan psikologis dalam berbagai tingkat pada berbagai individu.
Aktivitas bronkokontriktor neural diperantarai oleh bagian kolinergik sistem saraf
otonom. Ujung sensoris vagus pada epitel jalan nafas, disebut reseptor batuk atau
iritan, tergantung pada lokasinya, mencetuskan refleks arkus cabang aferens, yang
pada ujung eferens merangsang kontraksi otot polos bronkus. Neurotransmisi
peptida intestinal vasoaktif (PIV) memulai relaksasi otot polos bronkus.
Neurotramnisi peptida vasoaktif merupakan suatu neuropeptida dominan yang
dilibatkan pada terbukanya jalan nafas (Sundaru, 2006).

Faktor imunologi penderita asma ekstrinsik atau alergi, terjadi setelah pemaparan
terhadap faktor lingkungan seperti debu rumah, tepung sari dan ketombe. Bentuk
asma inilah yang paling sering ditemukan pada usia 2 tahun pertama dan pada
orang dewasa (asma yang timbul lambat), disebut intrinsik (Sundaru, 2006).

Faktor endokrin menyebabkan asma lebih buruk dalam hubungannya dengan


kehamilan dan mentruasi atau pada saat wanita menopause, dan asma membaik
pada beberapa anak saat pubertas. Faktor psikologis emosi dapat memicu gejala-
gejala pada beberapa anak dan dewasa yang berpenyakit asma, tetapi emosional
atau sifat-sifat perilaku yang dijumpai pada anak asma lebih sering dari pada anak
dengan penyakit kronis lainnya (Sundaru, 2006).

Klasifikasi Asma berdasarkan etiologi di bagi menjadi 2 yaitu


1. Asma Bronkhial Tipe Atopik ( Ekstrinsik )
a. Hiperreaktivitas bronchus merupakan bronchus yang mudah sekali
mengerut ( konstriksi ) bila terpapar dengan bahan/factor dengan kadar
yang rendah yang pada kebanyakan orang tidak menimbulkan reaksi apa-
apa misalnya aleryen ( inhalan dan kontaktan), polusi,asap rokok, bau-
bauan yang tajam, dan lainnya baik yang berupa iritan maupun iritan.
Saat ini telah diketahui bahwa hiperrektivitas bronchus disebabkan oleh
inflamasi bronchus yang kronis. Sel-sel inflamasi terutama eosinofil
ditemukan dalam jumlah besar pada cairan bilas yang kronis. Sel-sel
inflamasi terutama eosinofil ditemukan dalam jumlah besar pada cairan
bilas bronchus klien dengan asma bronchial sebagai bronchitis kronis
eosinofilik. Hiperreaktivitas berhubungan dengan beratnya derajat
penyakit. Secara klinis, adanya hiperreaktivitas bronchus dapat dibuktikan
dengan dilakukan uji provokasi yang menggunakan metakolin atau
histamine.
b. Mukosa dan dinding bronchus pada klien dengan asma akan terjadi
edama. Terjadi infiltrasi pada sel radang terutama eosinofil dan
terlepasnya sel silia menyebabkan adanya getaran silia dan mucus di
atasnya. Hal ini membuat salah satu daya pertahanan saluran
pernapasan menjadi tidak berfungsi lagi. Pada kilen dengan asma
bronchial juga ditemukan adanya penyumbatan saluran pernapasan oleh
mucus terutama pada cabang-cabang bronchus.
c. Akibat dari bronkhospasme, edema mukosa dan dinding bronchus, serta
hipersekresi mucus menyebabkan terjadinya penyempitan pada bronchus
dan percabangannya, sehingga akan menimbulkan rasa sesak, napas
berbunyi ( wheezing), dan bantu yang produktif.
d. Adanya stressor baik fisik maupun psikologis.
Akan menyebabkan suatu keadaan stress yang akan merangsang aksis
HPA. Aksis HPA yang terangsang akan meningkatkan adenocorticotropic
hormone ( ACTH ) dan kadar kortisol dalam darah. Penigkatan kortisol
dalam darah akan menyupresi imunoglobin A ( IgA ). Penurunan Ig A
menyebabkan kemampuan untuk melisiskan sel radang menurun, reaksi
tersebut direspos oleh tubuh sebagai suatu bentuk inflamasi pada
bronchus sehingga menimbulkan asma bronchial.
Berdasarkan pada hal-hal tersebut, pada saat ini penyakit asma secara klinis
dianggap sebagai penyaki bronkhospasme yang reversible. Secara patofisiologi, asma
juga dianggap sebagai suatu hiperreaksi bronchus dan secara patologi sebagai suatu
peradangan saluran pernapasan.
2. Asma Bronkhial Tipe Non-Atoik ( Intrinsik )
Asma nonalergenik ( Asma Intrinsik ) terjadi bukan karena penapasan alergen
tetapi terjadi akibat beberapa factor pencetus seperti infeksi saluran pernapasan
bagian atas, olahraga atau kegiatan jasmani yang berat dan, tekanan jiwa atau
stress psikologis.
Faktor Pencetus Serangan Asma Bronkhil
Factor-faktor yang menimbulkan serangan asma bronchial atau sering disebut
dengan factor pencetus adalah :

1. Alergen
Allergen adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dinamakan dapat
menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah,tengau debu rumah
(Dermatophagoides pteronissynus), spora jamur,bulu kucing,bulu
binatang,beberapa makanan laut,dan sebagainya.
2. Infeksi saluran pernafasan
Inspeksi saluran pernafasan disebabkan oleh virus. Virus Influenza merupakan
salah satu factor pencetus yang paling sering menimbulkan asma bronchial.
Diperkirakan,dua pertiga penderita asma dewasa serangan asmanya ditimbuklan
oleh infeksi saluran pernafasan (Sundaru,1991)
3. Tekanan jiwa
Tekanan jiwa bukan penyebab asma tetapi pencetus asma,karena banyak orang
yang mendapat tekanan jiwa tetapi tidak menjadi penderita asma bronchial,
factor ini berperan mencetus serangan asma terutama pada orang yang agak
labil kepribadian. Hal ini lebih menonjol pada wanita dan anak-anak
(Yunus,1994)
4. Olahraga/ kegiatan jasmani yang berat
Sebagai penderita asma bronchial akan mendapatkan serangan asma bila
melakukan olahraga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan
bersepeda adalah duan jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan
asma, Serangan asma kerena kegiatan jasmani (exercise induced asma-EIA)
terjadi setelah olahraga atau aktivitas fisik yang cukup berat dan jarang serangan
timbul beberapa jam setelah olahraga.
5. Obat-obatan
Beberapa klien dengan asma bronchial sensitive atau alergi terhadap obat
tertentu seperti penisilin,salisilat,beta blocker,kodien, dan sebagainya.
6. Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabri/kendaraan,asap
rokok,asap yang mengandung hasil pembakaran dan oksida fotokemikal, serta
bau yang tajam.
7. Lingkungan kerja
Lingkungan kerja diperkirakan merupakan pencetus yang menyumbang 2-15%
klien dengan asma bronchial (sundaru,1991).
Serangan awal asma dapat terjadi pada masa kanak-kanak atau dewasa, episode
asma akut, yang disebut sebagai serangan asma dapat dicetuskan oleh stress,
olahraga berat, infeksi, atau pemajanan terhadap allergen atau iritan lain seperti debu
dan sebagainya. Banyak klien asma dalam keluarganya mempunyai riwayat alergi.
Dispnea adalah gejala utama asma, tetapi hiperventilasi, sakit kepala, kebas, dan mual
juga dapat terjadi.
Serangan asmatik terjadi akibat beberapa perubahan fisiologi termasuk perubahan
dalam respons imunologi, resistensi jalan udara yang meningkat, komplians paru yang
meningkat, fungsi mukosilaris yang mengalami kerusakan, dan pertukaran oksigen-
karbon dioksida yang berubah.
Asma imunologis adalah akibat dari reaksi antigen-antibodi yang melepaskan
mediator kimiawi, dimana mediator tersebut menyebabkan 3 reaksi utama; (1) konstriksi
otot polos baik pada jalan nafas yang kecil maupun yang besar, yang mengakibatkan
spasme bronkus; (2) peningkatan permeabilitas yang mengakibatkan edema mukosa
yang lebih jauh lagi menyempitkan jalan udara; (3) peningkatan sekresi kelenjer
mukosa dan meningkatkan pembentukan lendir. Sebagai akibat, individu dengan
serangan asma berjuang untuk bernapas melalui jalan nafas yang telah menyempit dan
dalam keadaan spasme. Asih, Niluh Gede Yasmin : 2004
Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala
klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam, gelisah,
duduk dengan menyangga kedepan, serta tanpa otot-otot bantu pernfasan bekerja
dengan keras. Gejala klasik dari asma bronchial ini adalah sesak nafas, batuk, dan
pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri dada. Gejala-gejala yang timbul makin
banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi dada
tachicardi dan pernafasan cepat dangkal. Serangan asma bronchial seringkali terjadi
pada malam hari.
Dispnea yang bermakna.
Batuk, terutama dimalam hari.
Pernapasan yang dangkal dan cepat.
Mengi yang dapat terdengar pada auskultasi paru. Biasanya mengi terdengar
hanya saat ekspirasi, kecuali kondisi pasien parah.
Peningkatan usaha bernafas, ditandai dengan retraksi dada, disertai perburukan
kondisi, napas cuping hidung.
Kecemasan, yang berhubungan dengan ketidakmampuan mendapat udara yang
cukup.
Udara terperangkap karena obstruksi aliran darah, terutama terlihat selama
ekspirasi pada pasien asma. Kondisi ini terlihat dengan memanjangnya waktu
ekspirasi.
Diantara serangan asmatik, individu biasanya asimtomatik. Akan tetapi, dalam
pemeriksaan perubahan fungsi paru mungkin terlihat bahkan diantara serangan
pada pasien yang memiliki asma persisten. Corwin, Elizabeth j: 2009