Anda di halaman 1dari 2

MORAL

OLEH : AMELIA FROLITA PURBA


NIM : 1313005

Moral adalah keterikatan spiritual pada norma-norma yang telah ditetapkan, baik yang
bersumber pada ajaran agama, budaya masyarakat, atau berasal dari tradisi berfikir secara ilmiah.
Keterikatan spiritual tersebut akan mempengaruhi keterikatan sikapnya terhadap nilai-nilai
kehidupan(norma) yang akan menjadi pijakan utama dalam menetapkan suatu pilihan,
pengembangan perasaan dan dalam menetapkan suatu tindakan.
Keterikatan pada norma-norma religius akan membentuk sikap tertentu dalam menyikapi
segala persoalan. Moral yang dikembangkan atas pijakan agama, maka pertimbangan-
pertimbangan moralnya akan lebih berorientasi pada kewajiban beragama. Sedangakan sumber-
sumber moral lainnya hanya dibenarkan manakala dianggap sesuai dengan ajaran agama. Segala
tindakan moral yang didasari ketentuan agama muncul karena rasa tanggung jawab kepada
Tuhan. Segala tindakan yang akan diambil dirasakan sebagai keharusan Rabbani. Sedangkan
motif memilih tindakan tersebut semata-mata karena ingin mendapatkan keridhaan Tuhan. Oleh
karena itu internal control pada moral berorientasi pada agama akan jauh lebih dominan untuk
melakukan suatu tindakan moral daripada eksternal control. Inilah yang membedakan orientasi
moral religius dengan orientasi moral yang hanya sekedar didasarkan atas hasil pemikiran
manusia.
Sikap religius yang terbentuk dari keterikatan yang kuat pada norma-norma yang
diterapkan oleh agama akan menjadikan seseorang dapat mengukur kebenaran suatu hal dari
sudut pandang agama. Sebagai orientasi moral, sikap religius bermakna keterikatan spiritual
pada norma-norma ajaran agama yang akan menjadi acuan pertama ukuran-ukuran moral.
(Alim,2006:9)
Menurut sejumlah ulama seperti Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim Al-Jauziah, apa yang
disebut tasawuf tak lebih dari etika islam. Oleh karena itu, tasawuf cukup diberi label sebagai
moralitas islam saja. Dengan demikian, tujuan tasawuf dalam hal ini adalah sama dengan tugas
Nabi Muhammad Saw., Tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang
luhur.
Sebenarnya, cakupan makna tasawuf bukan sekadar etika, melainkan estetika,keindahan.
Tasawuf tidak hanya bicara soal baik buruk, tapi juga sesuatu yang indah. Ia selalu terkait dengan
jiwa, ruh dan intuisi. Ia tidak hanya membangun dunia yang bermoral, tapi juga sebuah dunia
yang indah dan penuh makna. Tasawuf tidak hanya berusaha menciptakan manusia yang hidup
dengan benar, rajin beribadah, berakhlakul karimah, tapi juga bisa merasakan indahnya hidup
dan nikmatnya ibadah. Tasawuf juga berupaya menjawab persoalan esensial mengapa manusia
harus berakhlaku karimah. Apabila etika dapat melahirkan semangat keadilan dan kemampuan
merespons segala sesuatu dengan tepat, tasawuf dapat menumbuhkan makna dan nilai, serta
menjadikan tindakan dan hidup manusia lebih luas dan kaya.
Kata moral sering diidentikan dengan budi pekerti, adab, etika, tata karma, dan sopan
santun. Istilah tersebut dalam kosakata bahasa Arab sering disebut dengan akhlak, bentuk plural
dari khuluq- artinya budi pekerti atau moralitas. Al-Quran menyebut kata ini sebanyak dua kali,
yaitu dalam surah Al-Syuara(26): 137 dan surah Al-Qalam(68): 4. Pada mulanya diproyeksikan
sebagai sandingan kata khalq, artinya ciptaan.
Pengertian akhlak yang esensial itu merujuk pada sifat-sifat substansial yang melekat
dalam diri manusia. Sebagaimana dimaklumi, manusia terdiri dari tubuh dan jiwa. Kedua unsur
ini menyatu pada sehingga manusia bisa hidup, bergerak, bernapas, berpikir dan merenung. Oleh
karena itu, dalam proses bertindak manusia harus selaras dengan penciptaan yang telah
dititahkan kepadanya oleh Allah Swt. Maka, berakhlak yang baik berarti kesadaran untuk
mewujudkan kesesuaian langkah dengan hakikat penciptaan. Sebaliknya, berakhlak yang buruk
berarti melanggar hakikat penciptaan, menerobos batas-batas hukum Tuhan. Jelaskan berakhlak
adalah keselarasan dengan hakikat penciptaan ilahiah.
Dalam konteks moral, kehadiran agama telah memberikan petunjuk praktis dalam
kerangka penyempurnaan moralitas manusia. Akal mudah berpaling dan diombang-ambingkan
oleh unsur-unsur lain dalam diri manusia, terutama apa yang disebut nafsu dan syahwat.
Persoalan moral boleh dikatakan sangat lembut, yang acap kali bisa mengaburkan pandangan
manusia.
Tasawuf lebih dari sekadar perbincangan soal moralitas. Jika moralitas terpotret dari
wujud perilaku manusia secara fisik,tasawuf menekankan hakikat moralitas itu sendiri. Dunia
lahiriah mungkin cukup dengan suatu tindakan konkret yang selaras dengan etika formal-yang
kemudian secara yuridis dianggap sah. ( Siroj,2006:36)