Anda di halaman 1dari 6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.8. Kerangka Konsep Penelitian


Berdasarkan kajian teori, kestabilan lereng dipengaruhi oleh variabel
struktur geologi, hidrogeologi, geoteknik, morfologi, dan getaran tanah. Variabel -
variabel tersebut perlu dianalisis untuk mengetahui faktor keamanan suatu lereng.
Apabila faktor keamanan suatu lereng lebih dari 1,5 maka lereng tersebut dapat
dikatakan stabil atau aman, apabila faktor keamanan suatu lereng sama dengan 1
maka lereng tersebut dapat dikatakan kritis sedangkan apabila faktor keamanan
suatu lereng kurang dari 1 maka lereng tersebut tidak stabil. Lereng yang tidak
stabil perlu diantisipasi dengan melakukan upaya stabilisasi agar lereng tersebut
tidak longsor.
Berdasarkan uraian di atas, disusunlah kerangka konsep penelitian
sebagaimana ditunjukkan dalam Gambar 2.15.

4
5

Gambar 2.15. Bagan Alir Kerangka Konsep Penelitian

2.9. State of The Art dan Posisi Penelitian


Secara garis besar, analisis kestabilan lereng dengan berbagai tipe bidang
longsoran dan analisis kestabilan lereng akibat beban gempa di berbagai lokasi
6

seperti di tambang, pemukiman, dan bendungan telah dilakukan oleh beberapa


peneliti sebelumnya.
Violetta Gabriella dkk. (2014) melakukan analisis kestabilan lereng
menggunakan metode Fellenius karena lereng berpotensi longsor dengan bidang
longsoran berbentuk lingkaran sedangkan Turangan A. E. dan Alva N. Sarajar
(2014)melakukan analisis kestabilan lereng menggunakan metode Janbu karena
lereng berpotensi longsor dengan bidang longsoran berbentuk translasional.
Analisis kestabilan lereng dapat diperluas dengan memasukkan variabel
getaran tanah yang diakibatkan oleh gempa bumi karena gempa bumi dapat
memberikan gaya tambahan yang dapat mempengaruhi kestabilan suatu lereng. Di
dalam analisis kestabilan lereng akibat gempa bumi khususnya metode
pseudostatik perlu ditentukan koefisien seismik terlebih dahulu karena koefisien
seismik menggambarkan nilai gempa bumi yang dihasilkan. Berbagai nilai
koefisien seismik untuk analisis kestabilan lereng telah diteliti oleh beberapa
peneliti sebelumnya seperti Terzaghi (1950), Seed (1979), Corps of Engineer
(1982), Marcuson (1983), dan Hynes-Griffin (1984). Hasil penelitian Cristian
Melo dan Shunil Sharma (2004) menemukan bahwa nilai koefisien seismik yang
sebaiknya digunakan untuk analisis kestabilan lereng berkisar antara 40 % - 50 %
dari percepatan tanah puncak getaran tanah.
Hasil penelitian Arif R. Darana dkk.(2015) menunjukkan adanya pengaruh
nilai percepatan tanah puncak (peak ground acceleration/PGA) akibat gempa
bumi terhadap nilai faktor keamanan lereng di Gunung Tigo, Padang Pariaman,
Sumatera Barat dimana semakin besar nilai PGA maka semakin kecil pula nilai
faktor keamanan lereng. Demikian juga dengan hasil penelitian Md. Mahmud
Sazzad dkk. (2015) menunjukkan bahwa koefisien seismik horizontalmemiliki
pengaruh yangkuat terhadap ketidakstabilan lereng dibandingkan koefisien
seismik vertikal ataupun kombinasi antara keduanya. Hasil penelitian Lian Heng
Zhao (2016) menemukan bahwa untuk lereng homogen yang memiliki rekahan,
pengaruh gaya seismik akibat gempa bumi terhadap kestabilan lereng akan
meningkat seiring dengan meningkatnya sudut geser suatu tanah atau batuan.
7

Berdasarkan hal - hal di atas, penelitian ini memandang perlu untuk meneliti
hal - hal yang belum diteliti oleh para peneliti sebelumnya dengan memperluas
analisis kestabilan lereng dengan mempertimbangkan variabel getaran tanah
akibat gempa dan lalu lintas kereta api serta melakukan simulasi getaran tanah di
lokasi tambang untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi nilai
getaran tanah. Kemutakhiran dan posisi penelitian ditunjukkan pada Gambar 2.16.

Lingkup Penelitian Bidang di teliti Kemutakhiran


8

Analisis kestabilan lereng dengan metode Fellenius (Violetta Gabrielladkk., 2014)


Telah dilakukan analisis kestabilan lereng metode kesetimbangan
Analisis
Metode kestabilan
analisis lereng
kestabilan dengan metode janbu (Turangan A. E. dan Alva N. Sarajar, 2014)
lereng

abilistik bencana seismik untuk Sumatra, Indonesia, dan Semenajung Selatan Malaysia (Mark D. Petersendkk
cak getaran tanah berdasarkanProbabilistic Seismic Hazard Analysis (PSHA) sedangkan penentuan koefisien
smik untuk analisis lereng pseudostatik (Cristian Melo dan Shunil Sharma, 2004)

bilan untuk analisis kestabilan lereng pseudostatik (R. Baker dkk., 2006)
percepatan puncak getaran tanah dan koefisien seismik

bat aktivitas gempa di Gunung Tigo,Padang Pariaman, Sumatera Barat (Arif R. Daranadkk.,2015)

Metode
eismik menggunakan metode kesetimbangan batas yang
(Md. ada mempertimbangkan
Mahmud gaya seismik
Sazzad, Swapon Mazumder, yangMoni
dan Md. ber

Belum mempertimbangkan
eismik dengan rekahan (Lian Heng Zhao, Xiao Cheng, gaya
Yinbin Zhang, Liang Li, danseismik
De Jiandari sumber yang la
Li, 2016)
h getaran tanah terhadap faktor keamanan lereng

tabilan lereng dengan mempertimbangkan variabel getaran tanah akibat gempa dan lalu lintas kereta api.
POSISI
PENELITIAN
aran tanah di lokasi tambang untuk mengetahui variabel-variabel yang mempengaruhi nilai getaran tanah.

Gambar 2.16. State of The Art dan Posisi Penelitian


2.10. Hipotesis
9

Berdasarkan teori yang telah dikemukakan sebelumnya, longsoran


dipengaruhi oleh beberapa variabel, antara lain variabel geologi, hidrogeologi/
hidrologi, geoteknik, getaran tanah, dan tata guna lahan di sekitar lokasi
longsoran. Rangkuman hipotesis dari beberapa variabel yang mempengaruhi
longsoran tanah di mulut terowongan ditampilkan pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2. Faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Longsoran


No. Variabel Berpengaruh 1924 - 2015 2016 Keterangan
1 Geologi Tetap
2 Geoteknik Tetap
Perubahan Meningkat (run off&
3 Hidrogeologi/ Hidrologi Normal
Iklim tekanan air pori)
Getaran Tanah (Lalu
4 Kecil Besar Meningkat (rekahan)
Lintas KA, Gempa bumi)
5 Kapasitas KA Kecil Besar Meningkat (rekahan)
6 Bantalan Rel KA Kayu Beton Meningkat (rekahan)
Kebun/Ladang
7 Tata Guna Lahan Alami Run Off tinggi
& Pemukiman