Anda di halaman 1dari 4

Nama : Ronna Meila Leswana

Kelas : VII F
Cerpen : Butir-butir yang terlupakan
Namaku Elis. Setidaknya, itulah yang ku ingat. Sejak kejadian itu, aku tak mampu
mengingat apa pun kecuali namaku. Aku bahkan tak tahu dari mana aku berasal, siapa
orangtuaku, dan bagaimana caranya aku dapat sampai di tempat ini, pulau kosong tak
berpenghuni. Sudah tiga hari aku di sini, dan aku masih belum menemukan seorang
pun. Aku begitu lapar, aku tak menemukan apa pun untuk dimakan. Sekalipun aku
menemukan sesuatu, aku tak akan tahu apakah itu dapat dimakan atau tidak.

Setiap hari aku berjalan menyusuri pantai itu. Pantai itu awalnya nampak seperti pantai
biasa, pantai dengan pasir putih, laut yang luas, udara yang menyejukkan, dan
sebagainya. Namun suatu hari ketika aku berjalan masuk agak ke dalam, aku
menemukan suatu keanehan tumpukan tulang belulang. Aku bergidik ngeri, siapakah
gerangan yang dapat menghabiskan makanan sebanyak itu? Sesaat kemudian aku
mencium suatu aroma, aroma khas yang begitu familiar di ingatanku. Aroma itu
membuat perutku yang telah berbunyi sejak tadi semakin meraung, semakin kencang,
hingga aku pun terkejut olehnya.

Tanpa ku sadari, kakiku melangkah maju menuju sumber aroma itu. Aku tak sadar
berapa lama aku berjalan, mungkin 5 menit, mungkin 10 menit, atau mungkin lebih.
Begitu aku sadar, aku telah berdiri di belakang semak-semak, semak-semak yang
tingginya bahkan melebihi diriku. Tak pernah aku melihat semak-semak setinggi itu,
namun hal itu tidaklah penting saat ini. Yang terpenting adalah, apakah yang sedang
mereka lakukan di sana? Apa arti teriakan-teriakan itu? Mengapa kedengarannya
mereka sedang berpesta? Apa yang membuat mereka begitu bahagia? Tanpa sengaja,
aku menginjak sesuatu di bawah kakiku. Tunggu, apa ini? Aaaaa!!! Tanpa ku sadari aku
berteriak begitu kencang. Sebenarnya aku tak begitu mengerti apa yang sedang terjadi,
namun satu hal yang pasti: tubuhku terjaring dan tergantung di atas pohon. Teriakanku
nampaknya cukup kencang, orang-orang yang tadinya sedang berpesta itu segera
berbondong-bondong mendekatiku.

Aku begitu takut. Sangat takut. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku berusaha
untuk tetap berpikir positif. Aku terus mengulang-ulang kalimat itu dalam benakku.
Mereka hanyalah penduduk di pulau ini. Mereka pasti mengira aku hewan liar yang baru
saja terperangkap. Ketika mereka tahu aku ini manusia seperti mereka, mereka akan
melepaskanku. Ya, pasti begitu. Setidaknya itulah yang ku pikirkan selama beberapa
saat. Kalimat-kalimat yang terus berputar dalam benakku tersebut langsung pecah
begitu saja ketika aku melihat orang-orang yang menghampiriku itu. Sebentar, apakah
orang memiliki rambut tebal di sekujur tubuhnya, kulit hitam, dan tinggi lebih dari 7
kaki? Lalu, apakah mereka ini?

Mereka berteriak dan bersorak-sorai dengan sangat gembira saat melihat diriku. Di saat
yang bersamaan, mereka menatapku dengan tajam. Aku merasakan sesuatu yang aneh
dengan tatapan itu. Tatapan itu nampak seperti ingin membunuh, bagaikan seekor
predator yang sedang menatap mangsanya. Lalu, apakah aku ini mangsanya? Pikiran
yang terlintas di benakku itu langsung membuatku bergidik ngeri. Mmm.. Apa yang
sedang kalian lakukan? Kalian akan membawaku ke mana? Aku terus bertanya, namun
mereka tak menjawab sepatah kata pun untukku. Mereka kemudian mengangkatku dan
membawaku masuk ke dalam pelosok pulau yang gelap. Setelah beberapa saat, mereka
menghempaskan tubuhku dengan kencang ke tanah. Tubuhku seakan remuk, rasa sakit
yang membuatku sesak, begitu sakit bagaikan dilemparkan dari atas tebing yang
curam. Aku semakin takut, sangat takut. Kini aku cukup yakin bahwa mereka telah
menganggapku sebagai mangsa. Tolong aku!!! Tolong! Apa yang kalian lakukan?!
Lepaskan aku!!! Aku berteriak. Aku menangis. Aku meraung-raung ketakutan.

Hingga pada akhirnya, aku menyadari bahwa yang ku lakukan itu hanyalah sia-sia
belaka. Pada akhirnya, aku hanya diam dan pasrah. Aku sadar, apa pun yang ku lakukan
tak akan membuahkan hasil. Mereka meninggalkanku selama beberapa saat, meski
masih ada beberapa yang menjagaku. Tak lama kemudian, mereka kembali. Kini mereka
kembali dengan membawa sesuatu. Tangan mereka menggenggam sesuatu dengan erat
pisau dan tombak. Saat itu juga, aku yakin betul bahwa akulah mangsa mereka.
Mereka semakin mendekatiku. Pisau-pisau dan tombak-tombak itu mereka angkat
tinggi-tinggi, siap untuk menusukku. Aku sudah siap, aku tak peduli lagi. Toh, aku juga
tak tahu bagaimana caranya untuk kembali.

Aku memejamkan mataku, menunggu ajal menjemput. Tak lama kemudian, aku
mendengar suara auman, auman itu entah mengapa terdengar familiar. Kemudian aku
membuka mataku secara perlahan. Aku begitu terkejut dengan kejadian yang berada di
depan mataku. Seekor harimau besar berwarna oranye dengan loreng-loreng cokelat di
sekujur tubuhnya sedang mengejar dan mencakar orang-orang yang tadi membawaku
ke sini. Aku tak tahu, apakah harimau itu berusaha menyelamatkanku, atau ia sedang
kelaparan dan berusaha mencari makanan di sini? Dengan perlahan, ku coba
melepaskan diri dari jaring yang sedari tadi membelenggu tubuhku. Ketika jaring itu
hampir lepas, harimau itu berjalan ke arahku.
Tidak, tidak, jangan mangsa aku. Tolong.. Aku memejamkan mataku dengan erat,
tubuhku terpaku di tempat. Meski kelopak mataku tertutup, aku dapat merasakan bahwa
harimau itu masih berada dekat denganku. Jaring yang awalnya membelenggu tubuhku
kini terlepas. Tunggu, harimau itukah yang melakukannya? gumamku dalam hati.
Harimau itu menatapku dalam-dalam. Namun tatapan itu tidak membuatku takut.
Sebaliknya, tatapan itu memberiku kehangatan. Harimau itu seakan berkata,
Tenanglah, kau aman di sini. Setelah menatapku sebentar, harimau itu kembali
menerkam orang-orang yang berada di dekatku.

Tiba-tiba, berbagai macam adegan seperti potongan-potongan memori terputarkan di


dalam pikiranku. Aku seakan-akan melihat seekor harimau yang sedang terperangkap.
Harimau oranye berloreng cokelat itu meraung kesakitan. Aku berjalan mendekatinya,
saat itu ku dapati bahwa kaki depannya telah tergores luka yang cukup dalam. Aku
berusaha untuk menyentuhnya, namun jaring itu menembus melewati tanganku dan
harimau itu seakan-akan tidak menyadari kehadiranku. Tak lama, ada seorang
perempuan yang berusaha melepaskan harimau itu dari jeratan jaringnya. Wanita itu,
nampaknya ia seseorang yang ku kenal. Ia nampak seperti.. diriku?

Kini aku mengingat kembali jati diriku. Aku adalah seorang peneliti. Aku datang ke pulau
ini karena diberi misi untuk meneliti perilaku hewan-hewan liar khususnya harimau di
alam bebas. Sebenarnya aku datang bersama teman-teman penelitiku dan akan kembali
bersama mereka juga. Namun, tidak lama setelah kami berlayar pulang, badai mulai
berkecamuk dengan kerasnya dan mengguncang kapal yang kami tumpangi. Ombak-
ombak kian meninggi, kapal kami mulai goyah, hingga akhirnya kapal kami terbelah
dua. Saat ini, aku tidak tahu bagaimana nasib rekan-rekanku.

Setelah kejadian itu, aku tak sadarkan diri. Mungkin aku terombang-ambing di atas
sebuah kayu dan akhirnya terhempaskan kembali ke pulau ini, sehingga aku dapat
selamat. Setelah orang-orang itu berlari ketakutan, harimau tersebut kembali
mendekatiku, dan kini ia duduk di sampingku. Dengan ragu, aku mengangkat tanganku
lalu meletakkannya di atas tubuh harimau tersebut. Aku sedikit tersentak ketika
menyadari goresan luka di kedua kaki depannya. Aku semakin yakin bahwa ingatan yang
tadi terputarkan di kepalaku itu benar. Tak lama kemudian, aku mendengar suara bising
dari atas langit. Ketika aku menengadah ke atas langit, aku mendapati sebuah helikopter
yang sedang terbang tepat di atasku.

Tolong, tolong aku!!! secara insting aku berteriak dengan kencang meski pada akhirnya
aku sadar bahwa teriakanku itu tidak cukup kencang sehingga dapat terdengar dari atas
sana. Aku kemudian mencari-mencari apa pun yang dapat ku gunakan agar mereka
dapat menyadari keberadaanku. Aku terus berlari, hingga tanpa sadar aku menendang
sesuatu. Benda itu nampak seperti sebuah keong raksasa. Aku kemudian
mengangkatnya, mengamatinya, dan meletakkan benda itu pada mulutku. Aku meniup
benda itu sekencang-kencangnya. Benda itu kemudian mengeluarkan bunyi yang sangat
kencang dan melengking. Aku terus meniupnya semakin lama semakin kencang lagi.
Pada akhirnya, helikopter tersebut menyadari keberadaanku dan kemudian turun secara
perlahan.

Harimau yang sedari tadi berada di sampingku kemudian mendekatiku. Ia


menghampiriku, menggosok-gosok badannya ke tubuhku dan menatapku untuk terakhir
kalinya. Tak sempat aku memeluknya, harimau itu pergi dan berjalan ke arah hutan
lebat di seberangku tanpa berpaling kembali. Helikopter itu menurunkan tangga kurang
lebih 10 meter jauhnya dariku. Aku berjalan setengah berlari ke helikopter itu, namun
karena kakiku yang begitu lemas, aku terjatuh karena tak mampu menopang tubuhku
lagi. Dari atas helikopter, turun seorang pria paruh baya yang wajahnya tak asing
bagiku. Sesaat setelah orang itu melihatku, matanya seakan berbinar dan ia pun
langsung memanggilku dengan penuh rindu, ELIS!! Ia berlari dengan sigap ke arahku
dan langsung memelukku. Pecahan-pecahan memoriku kembali menunjukkan sesuatu
padaku. Ya, muka orang ini. Dia adalah rekan kerjaku sekaligus kekasihku yang
ditugaskan ke pulau lain.

Rai!! Aku pun memeluknya kembali dengan erat. Kehangatan yang begitu ku rindukan
membuatku menitikkan air mataku.
Ayo kita pergi dari sini. katanya padaku sambil mengusap air mata di pipiku. Ia pun
mengecup keningku dan menopangku untuk bangun. Entah kelelahan entah terlalu
bahagia, aku kehilangan kesadaran setelah kejadian itu. Saat aku bangun, aku telah
berada di suatu ranjang putih dengan jarum infus di tangan kananku. Aku menoleh ke
sisi kiriku dan mendapati Rai yang sedang duduk terlelap di sampingku. Wajah itu, wajah
yang sama yang tak akan pernah ku lupakan. Aku mengusap rambut di keningnya
sambil berbisik, Terima kasih untuk segalanya.

Cerpen Karangan: Jesslyn