Anda di halaman 1dari 16

A.

KONSEP HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA

Pengertian Hak Asasi Manusia (HAM)

HAM adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia,tanpa hak-hak itu
manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia.Menurut John Locke HAM adalah hak-hak
yang diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati. Dalam
pasal 1 Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM disebutkan bahwa Hak Asasi
Manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada hakekat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah dan setiap orang, demi
kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

Ruang lingkup HAM meliputi:

a. Hak pribadi: hak-hak persamaan hidup, kebebasan, keamanan, dan lain-lain;

b. Hak milik pribadi dan kelompok sosial tempat seseorang berada;

c. Kebebasan sipil dan politik untuk dapat ikut serta dalam pemerintahan; serta

d. Hak-hak berkenaan dengan masalah ekonomi dan sosial.

Hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga keselamatan
eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan perseorangan
dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan menjunjung
tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara individu,
pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer),dan negara.

Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan
tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :

a. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis.

b. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama,
etnis, pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.

c. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau
melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara
membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.
2.2 Hak Asasi Manusia (HAM) pada tataran Global

Sebelum konsep HAM diritifikasi PBB, terdapat beberapa konsep utama mengenai HAM
,yaitu:

a. HAM menurut konsep Negara-negara Barat

1) Ingin meninggalkan konsep Negara yang mutlak.

2) Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas.

3) Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.

4) Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan Negara.

b. HAM menurut konsep sosialis;

1) Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat

2) Hak asasi tidak ada sebelum Negara ada.

3) Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.

c. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika:

1.Tidak boleh bertentangan ajaran agama sesuai dengan kodratnya.

2.Masyarakat sebagai keluarga besar, artinya penghormatan utama terhadap


kepala keluarga

3.Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban sebagai anggota
masyarakat.

d. HAM menurut konsep PBB;

Konsep HAM ini dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Elenor
Roosevelt dan secara resmi disebut Universal Decralation of Human Rights.

Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang mempunyai:

Hak untuk hidup

Kemerdekaan dan keamanan badan

Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum

Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana

Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara


Hak untuk mendapat hak milik atas benda

Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan

Hak untuk bebas memeluk agama

Hak untuk mendapat pekerjaan

Hak untuk berdagang

Hak untuk mendapatkan pendidikan

Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat

Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

B. SUBSTANSI HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA DALAM PANCASILA

Konsep dan Arti Penting Perlindungan dan Penegakan Hukum

Menurut Andi Hamzah sebagaimana dikutip oleh Soemardi dalam


artikelnya yang berjudul Hukum dan Penegakan
Hukum (2007), perlindungan hukum dimaknai sebagai daya upaya
yang dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga
pemerintah, swasta yang bertujuan mengusahakan pengamanan,
penguasaan dan pemenuhan kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hak
asasi yang ada.
Makna tersebut tidak terlepas dari fungsi hukum itu sendiri, yaitu untuk
melindungi kepentingan manusia. Dengan kata lain hukum memberikan
perlindungan kepada manusia dalam memenuhi berbagai macam
kepentingannya, dengan syarat manusia juga harus melindungi
kepentingan orang lain.
Dengan demikian, suatu perlindungan dapat dikatakan sebagai
perlindungan hukum apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
Adanya perlindungan dari pemerintah kepada warganya.

Jaminan kepastian hukum.

Berkaitan dengan hak-hak warganegara.

Adanya sanksi hukuman bagi pihak yang melanggarnya.


Pada hakikatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari
hukum. Oleh karena itu, terdapat banyak macam perlindungan hukum.
Dari sekian banyak jenis dan macam perlindungan hukum, terdapat
beberapa diantaranya yang cukup populer antara lain :
1. Perlindungan hukum terhadap konsumen. Perlindungan hukum
terhadap konsumen ini telah diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
yang pengaturannya mencakup segala hal yang menjadi hak dan
kewajiban antara produsen dan konsumen.

2. Perlindungan hukum yang diberikan kepada Hak atas


Kekayaan Intelektual (HaKI). Pengaturan mengenai hak atas
kekayaan intelektual meliputi, hak cipta dan hak atas kekayaan
industri. Pengaturan mengenai hak atas kekayaan intelektual
tersebut telah dituangkan dalam sejumlah peraturan perundang-
undangan, seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten, Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan
Varietas Tanaman, dan lain sebagainya.

3. Perlindungan hukum terhadap tersangka diberikan berkaitan


dengan hak-hak tersangka yang harus dipenuhi agar sesuai dengan
prosedur pemeriksaan sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangundangan.

Hukum dapat secara efektif menjalankan fungsinya untuk


melindungi kepentingan manusia, apabila ditegakkan. Dengan kata
lain perlindungan hukum dapat terwujud apabila proses penegakan
hukum dilaksanakan. Proses penegakan hukum merupakan salah
satu upaya untuk menjadikan hukum sebagai pedoman dalam
setiap perilaku masyarakat maupun aparat atau lembaga penegak
hukum. Dengan kata lain, penegakan hukum merupakan upaya
untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum dalam berbagai
macam bidang kehidupan.
Penegakan hukum merupakan syarat terwujudnya perlindungan
hukum. Kepentingan setiap orang akan terlindungi apabila hukum
yang mengaturnya dilaksanakan baik oleh masyarakat ataupun
aparat penegak hukum. Misalnya, perlindungan hukum konsumen
akan terwujud, apabila undang-undang perlindungan konsumen
dilaksanakan, hak cipta yang dimiliki oleh seseorang juga akan
terlindungi apabila ketentuan mengenai hak cipta juga
dilaksanakan. Begitu pula dengan kehidupan di sekolah, keluarga
dan masyarakat akan tertib, aman dan tenteram apabila norma-
norma berlaku di lingkungan tersebut dilaksanakan.

C. KASUS-KASUS PELANGGARAN HAM

1. Terjadinya penganiayaan pada praja STPDN oleh seniornya dengan dalih pembinaan
yang menyebabkan meninggalnya Klip Muntu pada tahun 2003.
2. Dosen yang malas masuk kelas atau malas memberikan penjelasan pada suatu mata
kuliah kepada mahasiswa merupakan pelanggaran HAM ringan kepada setiap
mahasiswa.
3. Para pedagang yang berjualan di trotoar merupakan pelanggaran HAM terhadap para
pejalan kaki, sehingga menyebabkan para pejalan kaki berjalan di pinggir jalan
sehingga sangat rentan terjadi kecelakaan.
4. Orang tua yang memaksakan kehendaknya agar anaknya masuk pada suatu jurusan
tertentu dalam kuliahnya merupakan pelanggaran HAM terhadap anak, sehingga
seorang anak tidak bisa memilih jurusan yang sesuai dengan minat dan bakatnya.
5. Kasus Babe yang telah membunuh anak-anak yang berusia di atas 12 tahun, yang
artinya hak untuk hidup anak-anak tersebut pun hilang
6. Masyarakat kelas bawah mendapat perlakuan hukum kurang adil, bukti nya jika
masyarakat bawah membuat suatu kesalahan misalkan mencuri sendal proses hukum
nya sangat cepat, akan tetapi jika masyarakat kelas atas melakukan kesalahan
misalkan korupsi, proses hukum nya sangatlah lama
7. Kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang bekerja di luar negeri mendapat
penganiayaan dari majikannya
8. Kasus pengguran anak yang banyak dilakukan oleh kalangan muda mudi yang kawin
diluar nikah
D. UPAYA PENEGAKAN HAM

Sejalan dengan amanat Konstitusi, Indonesia berpandangan bahwa pemajuan dan


perlindungan HAM harus didasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi,
sosial budaya, dan hak pembangunan merupakan satu kesatuanyang tidak dapat di pisahkan,
baik dalam penerapan, pemantauan, maupun dalam pelaksanaannya. Sesuai dengan pasal 1
(3), pasal 55, dan 56 Piagam PBB upaya pemajuan dan perlindungan HAM harus dilakukan
melalui sutu konsep kerja sama internasional yang berdasarkan pada prinsip saling
menghormati, kesederajatan, dan hubungan antar negaraserta hukum internasional yang
berlaku.

Program penegakan hukum dan HAM meliputi pemberantasan korupsi, antitrorisme, serta
pembasmian penyalahgunaan narkotika dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan
hukum dan HAM harus dilakukan secara tegas, tidak diskriminatif dan konsisten.

Kegiatan-kegiatan pokok penegakan hukum dan HAM meliputi hal-hal berikut:

1. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari 2004-2009
sebagai gerakan nasional
2. Peningkatan efektifitas dan penguatan lembaga / institusi hukum ataupun lembaga
yang fungsi dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia
3. Peningkatan upaya penghormatan persamaan terhadap setiap warga Negara di depan
hukum melalui keteladanan kepala Negara beserta pimpinan lainnya untuk memetuhi/
menaati hukum dan hak asasi manusia secara konsisten serta konsekuen
4. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hukum dan hak asasi manusia
dalam rangka menyelenggarakan ketertiban sosial agar dinamika masyarakat dapat
berjalan sewajarnya.
5. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan Rencana, Aksi
Nasional Pemberantasan Korupsi.
6. Peningkatan penegakan hukum terhadao pemberantasan tindak pidana terorisme dan
penyalahgunaan narkotika serta obat lainnya.
7. Penyelamatan barang bukti kinerja berupa dokumen atau arsip/lembaga Negara serta
badan pemerintahan untuk mendukung penegakan hukum dan HAM.
8. Peningkatan koordinasi dan kerja sama yang menjamin efektifitas penegakan hukum
dan HAM.
9. Pengembangan system manajemen kelembagaan hukum yang transparan.
10. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan
proses hukum yang kebih sederhana, cepat, dan tepat serta dengan biaya yang
terjangkau oleh semua lapisan masyarakat.

Proses Perlindungan dan Penegakkan


Hukum di Indonesia

Januari 18, 2015

Perlindungan hukum dimaknai dengan daya upaya yang dilakukan secara


sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintah dan swasta yang
bertujuan mengusahakan pengamanan, penguasaan dan pemenuhan
kesejahteraan hidup sesuai dengan hak asasi yang berlaku. Fungsi hukum
yaitu untuk melindungi kepentinagan manusia. Hukum memberikan
perlindungan kepada manusia dalam memenuhi kepentingannya dengan
syarat manusia harus dapat melindungi kepentinagn manusian lainnya.

Suatu perlindungan dapat dikatakan sebagai perlindungan hukum apabila


mengandung unsur unsur :

1. Adanya perlindungan pemerintah terhadap warganya.


2. Jaminan kepastian hukum.

3. Berkaitan dengan hak hak warganegara.

4. Adanya sanksi hukuman terhadap pelanggar.

Hukum dapat secara efektif menjalankan fungsinya untuk melindungi


kepentingan manusia apabila proses penegakkan hukum ditegakkan. Karena
penegakkan hukum merupakan salah satu upaya menjadikan hukum sebagai
pedoman dalam berperilaku.
Perlindungan dan penegakkan hukum sangat penting, karena dapat
mewujudkan tegaknya supremasi hukum, tegaknya keadilan, dan
perdamaian dalam kehidupan. Semua ini dapat terwujud apabila
direalisasikan oleh semua pihak. Sedangkan factor pendorong keberhasilan
proses perlindungan dan penegakkan hukum adalah hukumnya, penegak
hukum, masyarakat, sarana atau fasilitas pendukung penegakkan hukum,
dan kebudayaan.

Contoh lembaga penegak hukum dalam proses perlindungan dan penegakkan


hukum adalah Polri. Polri lembaga Negara yang berperan dalam memelihara
keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka
terpeliharanya keamanan dalam negeri. Polri juga sebagai penyidik utama dalam
menangani setiap kejahatan secara umum. Selanjutnya adalah lembaga kejaksaan.
Jaksa memiliki kekuasaan di bidang penuntutan. Pelaku pelanggaran pidana akan
dituntut apabila telah terbukti bersalah, dan terdapat saksinya. Kejaksaan sebagai
lembaga yang melaksanakan penuntutan harus melaksanakan tugas, fungsi, dan
wewenangnya secara merdeka tanpa adanya pengaruh dari luar. Selain itu juga ada
hakim yang merupakan pejabat yang melaksanakan kekuasaan untuk mengadili.
Dalam mengadili, hakim melakukan beerapa tindakkan, seperti menerima
memeriksa dan memutuskan perkara berdasrkan asas bebas, jujur, dan tidak
memihak. Keudian juga terdapat advokat atau penasihat hukum yang diberi kuasa
untuk memberi bantuan di bidang hukum.

Namun, dalam melakukan proses perlindungan dan penegakkan hukum pasti


terdapat kendala yang disebabkan oleh pelanggaran hukum. Pelanggaran hukum
adalah sikap atau perbuatan melawan hukum dan merupakan bentuk tidak patuh
terhadap hukum. Penyebab pelanggaran hukum bisa karena kebiasaan melanggar
hukum, kebutuhan yang mendesak, atau karena hukum yang sudah tidak sesuai
dengan tuntutan hidup. Oleh karena itulah dibutuhkan sanksi sanksi untuk
mengurangi dan mencegah adanya pelanggaran. Sanksi harus dilaksanakan secara
tegas dan nyata, tidak hanya tercantum dalam tulisan tulisan saja, namun harus
diterapkan sehingga hukum lebih mudah untuk ditegakkan.
Untuk itulah dibutuhkan partisipasi masyarakat sebagai penunjang keberhasilan
dalam proses perlindungan dan penegakkan hukum. Wujud dari partisipasi adalah
dengan ketaatan dan kepatuhan terhadap hukum di berbagai lingkungan kehidupan.

Sumber : Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMA kelas XI semester 1


Sumber : https://lathifahirbah.wordpress.com/2015/01/18/proses-perlindungan-
dan-penegakkan-hukum-di-indonesia/

Dasar Hukum Perlindungan dan


Penegakan Hukum
Di posting ini baru terdapat 5 landasan hukum. Jika kamu tahu lebih
banyak tentang landasan hukum yang lain, kamu bisa
menuliskannya di kolom komentar.

N Dasar Hukum Perlindungan dan Penegakan


o Hukum
1 Pasal 27 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi Segala warga
negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan
itu dengan tidak ada kecualinya.

2 Pasal 28 D ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi Setiap orang


berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian
hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan
hukum.

3 Pasal 28 ayat (5) UUD 1945 yang berbunyi Untuk menegakkan


dan melindungi Hak Asasi Manusia sesuai dengan prinsip
negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan Hak Asasi
Manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan
perundang-undangan.

4 Pasal 30 ayat (4) UUD 1945 yang berbunyi Kepolisian Negara


Republik Indonesia sebagai alat negara yang menjaga
keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi,
mengayomi, melayani masyarakat, serta menegakkan hukum.

5 Pasal 24 ayat (1) UUD 1945 yang berbunyi Kekuasaan


kehakiman merupakan kekuasaan yang merdeka untuk
menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan
keadilan

Sumber : http://rakaraperz.blogspot.co.id/2014/11/dasar-hukum-perlindungan-dan-
penegakan-hukum_15.html
KONSEP PERLINDUNGAN DAN PENEGAKAN
HUKUM

Ketika hukum tidak dipatuhi atau dilaksanakan maka yang akan terjadi adalah
kekacauan di semua bidang kehidupan. Setiap orang akan berbuat seenaknya atau
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya, sehingga keamanan,
ketentraman dan ketertiban sulit terwujud. Nah, supaya hal-hal yang dikemukakan
tadi tidak terjadi, maka harus diupayakan dilakukannya proses perlindungan dan
penegakan hukum. Apa sebenarnya perlindungan hukum itu? Menurut Andi Hamzah
sebagaimana dikutip oleh Soemardi dalam artikelnya yang berjudul Hukum dan
Penegakan Hukum (2007), perlindungan hukum dimaknai sebagai daya upaya yang
dilakukan secara sadar oleh setiap orang maupun lembaga pemerintah, swasta
yang bertujuan mengusahakan pengamanan, penguasaan dan pemenuhan
kesejahteraan hidup sesuai dengan hak-hak asasi yang ada. Makna tersebut tidak
terlepas dari fungsi hukum itu sendiri, yaitu untuk melindungi kepentingan manusia.
Dengan kata lain hukum memberikan perlindungan kepada manusia dalam
memenuhi berbagai macam kepentingannya, dengan syarat manusia juga harus
melindungi kepentingan orang lain. Di sisi lain, Simanjuntak dalam artikelnya yang
berjudul Tinjauan Umum tentang Perlindungan Hukum dan Kontrak Franchise
(2011), mengartikan perlindungan hukum sebagai segala upaya pemerintah untuk
menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada warganya
agar hak-haknya sebagai seorang warga negara tidak dilanggar, dan bagi yang
melanggarnya akan dapat dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku. Dengan
demikian, suatu perlindungan dapat dikatakan sebagai perlindungan hukum apabila
mengandung unsur-unsur sebagai berikut : a. Adanya perlindungan dari pemerintah
kepada warganya. b. Jaminan kepastian hukum. c. Berkaitan dengan hak-hak
warganegara. d. Adanya sanksi hukuman bagi pihak yang melanggarnya. Pada
hakikatnya setiap orang berhak mendapatkan perlindungan dari hukum. Oleh karena
itu, terdapat banyak macam perlindungan hukum. Dari sekian banyak jenis dan
macam perlindungan hukum, terdapat beberapa diantaranya yang cukup populer
dan telah akrab di telinga kalian, seperti perlindungan hukum terhadap konsumen.
Perlindungan hukum terhadap konsumen ini telah diatur dalam Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen yang
pengaturannya mencakup segala hal yang menjadi hak dan kewajiban antara
produsen dan konsumen.

Selain itu, terdapat juga perlindungan hukum yang diberikan kepada Hak atas
Kekayaan Intelektual (HaKI). Pengaturan mengenai hak atas kekayaan intelektual
meliputi, hak cipta dan hak atas kekayaan industri. Pengaturan mengenai hak atas
kekayaan intelektual tersebut telah dituangkan dalam sejumlah peraturan
perundang-undangan, seperti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2002 tentang Hak Cipta, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001
tentang Merek, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 tentang
Paten, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2000 tentang
Perlindungan Varietas Tanaman, dan lain sebagainya. Tersangka sebagai pihak
yang diduga telah melakukan perbuatan hukum juga memiliki hak atas perlindungan
hukum. Perlindungan hukum terhadap tersangka diberikan berkaitan dengan hak-
hak tersangka yang harus dipenuhi agar sesuai dengan prosedur pemeriksaan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundang- undangan. Hukum dapat secara
efektif menjalankan fungsinya untuk melindungi kepentingan manusia, apabila
ditegakkan. Dengan kata lain perlindungan hukum dapat terwujud apabila proses
penegakan hukum dilaksanakan. Proses penegakan hukum merupakan salah satu
upaya untuk menjadikan hukum sebagai pedoman dalam setiap perilaku masyarakat
maupun aparat atau lembaga penegak hukum. Dengan kata lain, penegakan hukum
merupakan upaya untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan hukum dalam berbagai
macam bidang kehidupan. Penegakan hukum merupakan syarat terwujudnya
perlindungan hukum. Kepentingan setiap orang akan terlindungi apabila hukum yang
mengaturnya dilaksanakan baik oleh masyarakat ataupun aparat penegak hukum.
Misalnya, perlindungan hukum konsumen akan terwujud, apabila undang-undang
perlindungan konsumen dilaksanakan, hak cipta yang dimiliki oleh seseorang juga
akan terlindungi apabila ketentuan mengenai hak cipta juga dilaksanakan. Begitu
pula dengan kehidupan di sekolah, keluarga dan masyarakat akan tertib, aman dan
tenteram apabila norma-norma berlaku di lingkungan tersebut dilaksanakan.

Info Kewarganegaraan Suatu ketentuan hukum mempunyai tugas untuk:


1. Menjamin kepastian hukum bagi setiap orang di dalam masyarakat.
2. Menjamin ketertiban, ketentraman, kedamaian, keadilan, kemakmuran,
kebahagian dan kebenaran.
3. Menjaga jangan sampai terjadi perbuatan main hakim sendiri dalam pergaulan
masyarakat

Sumber : http://myfriendsan.blogspot.co.id/2015/02/makalah-perlindungan-dan-
penegakan.html

a. Perlindungan Hukum
Dalam kamus besar Bahas Indonesia Perlindungan berasal dari kata lindung yang memiliki
arti mengayomi, mencegah, mempertahankan, dan membentengi. Sedangkan Perlindungan
berarti konservasi, pemeliharaan, penjagaan, asilun, dan bunker. Pengertian perlindungan
dalam ilmu hukum adalah suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat
penegak hukum atau aparat keamanan untuk memberikan rasa aman, baik fisik maupun
mental, kepada korban dan sanksi dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak
manapun yang diberikan pada tahap penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atas
pemeriksaan di sidang pengadilan.
Perlindugan hukum adalah segala upaya pemerintah untuk menjamin adanya kepastian
hukum sebagai segala upaya pemerintah untuk menjamin adanya kepastian hukum untuk
memberi kepastian hukum untuk memberi perlindungan kepada warganya agar hak-haknya
sebagai seorang warga negara tidak dilanggar, dan bagi yang melanggarnya akan dapat
dikenakan sanksi sesuai peraturan yang berlaku.
Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah zoon politicon, makhluk social atau
makhluk bermasyarakat, oleh karena tiap anggota masyarakat mempunyai hubungan antara
satu dengan yang lain. Sebagai makhluk sosial maka sadar atau tidak sadar manusia selalu
melakukan perbuatan hukum (rechtshandeling) dan hubungan hukum (rechtsbetrekkingen).
Tiap hubungan hukum tentu menimbulkan hak dan kewajiban, selain itu masingmasing
anggota masyarakat tentu mempunyai hubungan kepentingan yang berbeda-beda dan saling
berhadapan atau berlawanan, untuk mengurangi ketegangan dan konflik maka tampil hukum
yang mengatur dan melindungi kepentingan tersebut yang dinamakan perlindungan hukum.
Perlindungan hukum adalah suatu perlindungan yang diberikan terhadap subyek hukum
dalam bentuk perangkat hukum baik, yang bersifat preventif maupun yang bersifat represif,
baik yang tertulis maupun tidak tertulis.
Dengan kata lain perlindungan hokum sebagai suatu gambaran dari fungsi hokum. Yaitu
konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan
dan kedamaian. Dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 adalah segala upaya yang
ditujukan untuk memberikan rasa aman kepada korban yang dilakukan oleh pihak keluarga,
advokat, lembaga sosial, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, atau pihak lainnya baik
sementara maupun berdasarkan penetapan pengadilan.

Sedangkan perlindungan yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah No.2 Tahun 2002 adalah
suatu bentuk pelayanan yang wajib dilaksanakan oleh aparat penegak hukum atau aparat
keamanan untuk memberikan rasa aman baik fisik maupun mental, kepada korban dan saksi,
dari ancaman, gangguan, teror, dan kekerasan dari pihak manapun, yang diberikan pada tahap
penyelidikan, penyidikan, penuntutan, dan atau pemeriksaan di sidang pengadilan.

b. Penegakan Hukum
Penegakan hukum adalah proses dilaksanakannya upaya untuk memfungsikan norma hukum
secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam bermasyarakat dan bernegara. Penegakan
Hukum (Law Nforcement) dalam arti luas mencakup kegiatan untuk melaksanakan dan
menerapkan hukum serta melakukan tindakan hukum terhadap setiap pelanggaran atau
penyimpangan hukum yang dilakukan oleh subjek hukum, baik melalui prosedur peradilan
ataupun melalui prosedur arbitrase dan mekanisme penyelesaian sengketa lainnya
(Alternative Desputes or Conflicts Resolution).
Bahkan, dalam pengertian yang lebih luas lagi, kegiatan penegakan hukum mencakup pula
segala aktifitas yang dimaksudkan agar hukum sebagai perangkat kaidah normatif yang
mengatur dan mengikat para subjek hukum dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat dan
bernegara benar-benar ditaati dan sungguh-sungguh dijalankan sebagaimana mestinya. Dalam
arti sempit, penegakan hukum itu menyangkut kegiatan penindakan terhadap setiap
pelanggaran atau penyimpangan terhadap peraturan perundang-undangan, khususnya yang
lebih sempit lagi melalui proses peradilan pidana yang melibatkan peran aparat kepolisian,
kejaksaan, advokat atau pengacara, dan badan-badan peradilan.
Karena itu, dalam arti sempit aktor-aktor utama yang peranannya sangat menonjol dalam
proses penegakan hukum itu adalah polisi, jaksa, pengacara dan hakim. Para penegak hukum
ini dapat dilihat pertama tama sebagai orang atau unsur manusia dengan kualitas, kualifikasi,
dan kultur kerjanya masing-masing. Dalam pengertian demikian persoalan penegakan hukum
tergantung aktor, pelaku, pejabat atau aparat penegak hukum itu sendiri. Kedua, penegak
hukum dapat pula dilihat sebagai institusi, badan atau organisasi dengan kualitas birokrasinya
sendiri-sendiri.

Dalam kaitan itu kita melihat penegakan hukum dari kacamata kelembagaan yang pada
kenyataannya, belum terinstitusionalisasikan secara rasional dan impersonal
(Institutionalized). Namun, kedua perspektif tersebut perlu dipahami secara komprehensif
dengan melihat pula keterkaitannya satu sama lain serta keterkaitannya dengan berbagai
faktor dan elemen yang terkait dengan hukum itu sendiri sebagai suatu sistem yang rasional.
Profesi hukum perlu ditata kembali dan ditingkatkan mutu dan kesejahteraannya. Para
profesional hukum itu antara lain meliputi :
a. Legislator (Politisi)
b. Perancang hukum (Legal drafter)
c. Konsultan hukum
d. Advokat
e. Notaris
f. Pejabat pembuat akta tanah
g. Polisi
h. Jaksa
i. Panitera
j. Hakim
k. Arbiter atau wasit
Untuk meningkatkan kualitas profesionalisme masing-masing profesi tersebut, diperlukan
system sertifikasi nasional dan standarisasi, termasuk berkenaan dengan system
kesejahteraannya. Disamping itu juga diperlukan program pendidikan dan pelatihan terpadu
yang dapat terus menerus membina sikap mental, meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan professional aparat hukum tersebut.
Agenda pengembangan kualitas professional dikalangan profesi hukum ini perlu dipisahkan
dari program pembinaan pegawai administrasi di lingkungan lembaga-lembaga hukum
tersebut, seperti di pengadilan ataupun di lembaga perwakilan rakyat. Dengan demikian,
orientasi peningkatan mutu aparat hukum ini dapat benar-benar dikembangkan secara terarah
dan berkesinambungan. Di samping itu, pembinaan kualitas profesional aparat hukum ini
dapat pula dilakukan melalui peningkatan keberdayaan organisasi profesinya masing-masing,
seperti Ikatan Hakim Indonesia, Ikatan Notaris Indonesia, dan sebagainya.

Dengan demikian, kualitas hakim dapat ditingkatkan melalui peranan Mahkamah Agung
disatu pihak dan melalui peranan Ikatan Hakim Indonesia dilain pihak. Disamping itu, agenda
penegakan hukum juga memerlukan kepemimpinan dalam semua tingkatan yang memenuhi
dua syarat. Pertama, kepemimpinan diharapkan dapat menjadi penggerak yang efektif untuk
tindakan-tindakan penegakan hukum yang pasti. Kedua, kepemimpinan tersebut diharapkan
dapat menjadi teladan bagi lingkungan yang dipimpinnya masing-masing mengenai integritas
kepribadian orang yang taat aturan.

Anda mungkin juga menyukai