Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM ILMU TEKNIK KIMIA I

NAMA PERCOBAAN : ALAT PENUKAR PANAS PIPA


SEPUSAT
HARI/ TANGGAL PERCOBAAN : SABTU/ 19 NOVEMBER 2016
KELOMPOK : XI (SEBELAS)
NAMA/ NIM : 1. EDWIN/ 140405069
2. AYU ARIMPI/ 140405081

LABORATORIUM OPERASI TEKNIK KIMIA


DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perpindahan kalor adalah ilmu yang mempelajari berpindahnya suatu energi
(berupa kalor) dari suatu sistem ke sistem lain karena adanya perbedaan temperatur.
Perpindahan kalor tidak akan terjadi pada sistem yang memiliki temperatur sama.
Perbedaan temperatur menjadi daya penggerak untuk terjadinya perpindahan kalor.
Alat penukar kalor memiliki tujuan untuk mengontrol suatu sistem
(temperatur) dengan menambahkan atau menghilangkan energi termal dari suatu
fluida ke fluida lainnya. Walaupun ada banyak perbedaan ukuran, tingkat
kesempurnaan, dan perbedaan jenis alat penukar kalor, semua alat penukar kalor
menggunakan elemenelemen konduksi termal yang pada umumnya berupa tabung
tube atau plat untuk memisahkan dua fluida. Salah satu dari elemen tersebut,
memindahkan energi kalor ke elemen yang lainnya (Bizzy dan Setiadi, 2013).
Penerapan prinsip-prinsip perpindahan panas untuk merancang peralatan agar
mencapai suatu tujuan teknik sangatlah penting, karena dalam menerapkan prinsip ke
dalam rancanganlah, seseorang bekerja ke arah pencapaian tujuan untuk
mengembangkan produk yang memberikan manfaat ekonomi (Holman, 1994).
Alat penukar panas adalah perangkat mekanis yang digunakan untuk tujuan
pertukaran panas antara dua fluida dengan temperatur yang berbeda. Ada berbagai
jenis alat penukar panas yang tersedia di industri, namun alat penukar panas jenis
shell dan tube mungkin adalah salah satu jenis dari klasifikasi alat penukar panas
yang paling sering digunakan. Alat penukar panas digunakan paling banyak di
berbagai bidang seperti kilang minyak, pembangkit listrik termal, industri kimia dan
masih banyak lagi. Tingkat penerimaan yang tinggi dikarenakan rasio yang relatif
besar dari daerah perpindahan panas dengan volume dan berat, metode pembersihan
yang mudah, bagian yang mudah diganti, dan lain-lain (Dubey, dkk., 2014).
Heat exchanger paling sederhana adalah heat exchanger yang terdiri dari dua
pipa sepusat, dimana satu fluida mengalir melalui pipa kecil dan pipa yang lain
mengalir disekitar pipa satunya. Aliran itu terdiri dari dua fluida yang berbeda,
satunya memiliki temperatur lebih tinggi disebut fluida panas, dan yang satunya lagi
memiliki temperatur yang lebih rendah disebut fluida dingin, dan bisa pada arah
searah atau berlawanan arah (Jadhav, dkk., 2014).
Berdasarkan uraian di atas, diperlukan pelaksanaan praktikum alat penukar
panas untuk lebih memahami prinsip perpindahan panas dan cara pengoperasian alat
penukar panas sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan industri
kimia.

1.2 Perumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam percobaan ini adalah melihat pengaruh dari
variasi suhu aliran dan laju aliran pada proses pertukaran panas dengan
pengoperasian alat penukar panas baik secara searah (co-current) maupun
berlawanan arah (counter-current).

1.3 Tujuan Percobaan


Tujuan dari dilakukannya percobaan ini adalah:
1. Melaksanakan percobaan pertukaran panas dengan mengoperasikan alat
penukar panas secara searah dan berlawanan arah.
2. Melaksanakan percobaan pertukaran panas dengan memvariasikan suhu aliran.
3. Melaksanakan percobaan pertukaran panas dengan memvariasikan laju aliran.

1.4 Manfaat Percobaan


Manfaat dari percobaan ini adalah:
1. Praktikan dapat mengoperasikan alat penukar panas secara searah dan
berlawanan arah.
2. Praktikan dapat melakukan percobaan pertukaran panas dengan variasi suhu
aliran.
3. Praktikan dapat melakukan percobaan pertukaran panas dengan variasi laju
aliran.
1.5 Ruang Lingkup Percobaan
Praktikum Ilmu Teknik Kimia I dengan modul Alat Penukar Panas Pipa
Sepusat ini dilaksanakan di Laboratorium Operasi Teknik Kimia, Departemen Teknik
Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.
Tekanan Udara : 760 mmHg
Suhu Ruangan : 30 oC
Peralatan utama yang digunakan adalah Concentric Tube Heat Exchanger,
dengan aliran co-current dan counter-current berdasarkan variasi suhu dan laju
aliran.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpindahan Panas
Perpindahan panas merupakan ilmu untuk meramalkan perpindahan energi
dalam bentuk panas yang terjadi karena adanya perbedaan suhu di antara benda atau
material. Dalam proses perpindahan energi tersebut tentu ada kecepatan perpindahan
panas yang terjadi, atau yang lebih dikenal dengan laju perpindahan panas. Maka
ilmu perpindahan panas juga merupakan ilmu untuk meramalkan laju perpindahan
panas yang terjadi pada kondisi-kondisi tertentu. Perpindahan kalor dapat
didefinisikan sebagai suatu proses berpindahnya suatu energi (kalor) dari satu daerah
ke daerah lain akibat adanya perbedaan temperatur pada daerah tersebut. Ada tiga
bentuk mekanisme perpindahan panas yang diketahui, yaitu konduksi, konveksi, dan
radiasi (Muttaqin, 2012).

2.2 Mekanisme Perpindahan Panas


2.2.1 Perpindahan Panas secara Konduksi
Suatu material bahan yang mempunyai gradient, maka kalor akan mengalir
tanpa disertai oelh suatu gerakan zat. Aliran kalor seperti ini disebut konduksi atau
hantaran. Konduksi termal pada logam-logam padat terjadi akibat gerakan elektron
yang terikat dan konduksi termal mempunyai hubungan dengan konduktivitas listrik.
Pemanasan pada logam berarti pengaktifan gerakan molekul, sedangkan pendinginan
berarti pengurangan gerakan molekul (Syaichurrozi, dkk., 2014).

Gambar 2.1. Perpindahan Panas Konduksi Pada Dinding


(Muttaqin, 2012)
Laju perpindahan panas yang terjadi pada perpindahan panas konduksi adalah
berbanding dengan gradien suhu normal sesuai dengan persamaan berikut:
dT
q k kA
dX (Syaichurrozi, dkk., 2014)
Keterangan:
q = Laju Perpindahan Panas (kj/det,W)
k = Konduktifitas Termal (W/m.C)
A = Luas Penampang (m)
dT = Perbedaan Temperatur (C, F)
dX = Perbedaan Jarak (m/det)
Konstanta positif k disebut konduktifitas atau kehantaran termal benda itu,
sedangkan tanda minus disisipkan agar memenuhi hukum kedua termodinamika,
yaitu bahwa kalor mengalir ketempat yang lebih rendah dalam skala temperatur.
Hubungan dasar aliran panas melalui konduksi adalah perbandingan antara laju
aliran panas yang melintas permukaan isotermal dan gradien yang terdapat pada
permukaan tersebut berlaku pada setiap titik dalam suatu benda pada setiap titik
dalam suatu benda pada setiap waktu yang dikenal dengan Hukum Fourier. Dalam
penerapan Hukum Fourier pada suatu dinding datar, jika persamaan tersebut
diintegrasikan maka akan didapatkan :
kA
qk (T2 T1 ) (Muttaqin, 2012)
dT
Bilamana konduktivitas termal (thermal conductivity) dianggap tetap. Tebal
dinding adalah x, sedangkan T1 dan T2 adalah temperatur muka dinding (Muttaqin,
2012).

2.2.2 Perpindahan Panas secara Konveksi


Konveksi merupakan proses perlindungan kalor dengan media atau benda yang
menghantarkan kalor juga turut berpindah, seolah-olah kalor dibawa oleh media
tersebut. Proses perpindahan kalor ini umumnya terjadi dari benda padat ke fluida
baik cair maupun gas. Kalor yang dipindahkan secara konveksi dinyatakan dengan
persamaan Newton.
Gambar 2.2 Perpindahan Panas Secara Konveksi
(Muttaqin, 2012)
Proses pemanasan atau pendinginan fluida yang mengalir didalam saluran tertutup
seperti pada gambar 2.2 merupakan contoh proses perpindahan panas. Laju
perpindahan panas pada beda suhu tertentu dapat dihitung dengan persamaan:
q = - h .A .d T (Syaichurrozi, dkk., 2014)
Keterangan:
Q = Laju Perpindahan Panas (kJ/det atau W)
h = Koefisien perpindahan Panas Konveksi (W/ m2.oC )
A = Luas Bidang Permukaan Perpindahaan Panas (ft2, m2)
dT = Perbedaan Temperatur (C, F)
Tanda minus (-) digunakan untuk memenuhi hukum II termodinamika,
sedangkan panas yang dipindahkan selalu mempunyai tanda positif (+)
(Syaichurrozi, dkk., 2014).

2.2.3 Perpindahan Panas secara Radiasi


Pada proses radiasi, panas diubah menjadi gelombang elektromagnetik yang
merambat tanpa melalui ruang media penghantar. Jika gelombang tersebut mengenai
suatu benda, maka gelombang dapat mengalami transisi (diteruskan), refleksi
(dipantulkan) dan absorpsi (diserap) dan menjadi kalor. Hal itu tergantung pada jenis
benda. Menurut hukum Stefan Boltzman tentang radiasi panas dan berlaku hanya
untuk benda hitam, bahwa kalor yang (dari benda hitam) dengan laju yang sebanding
dengan pangkat empat temperatur absolut benda itu dan berbanding lurus dengan
permukaan benda (Syaichurrozi, dkk., 2014).
Gambar 2.3 Perpindahan Panas Secara Radiasi
(Muttaqin, 2012)
Besarnya energi dirumuskan sebagai:
Q = AT4 Q= A T 4 (Syaichurrozi,
dkk., 2014)
Dimana:
Q = laju perpindahan panas (W)
= konstanta boltzman (5,669.10-8 W/m2.K4 )
A = luas permukaan benda (m2 )
T = suhu absolut benda (oC )

2.3 Alat Penukar Panas (Heat exchanger)


2.3.1 Prinsip Kerja
Alat penukar kalor yang dipergunakan di berbagai instalasi proses produksi
pada dasarnya merupakan tempat pertukaran energi dalam bentuk panas atau kalor
dari sebuah sumber atau fluida ke sumber yang lain. Komponen ini merupakan
peralatan yang vital karena tanpa menggunakan komponen ini kebanyakan proses
industri tidak dapat dioperasikan. Dalam proses perancangan penukar kalor shell and
tube tujuan utamanya adalah menentukan dimensi dan geometri alat tersebut sesuai
dengan spesifikasi bahan dan proses yang telah ditentukan. Prosesnya terdiri dari
beberapa tahap, di mana yang pertama biasanya adalah pendefinisian aliran fluida
kerja yang akan dilewatkan pada bagian shell and tube. Pada tahap yang kedua
dilakukan pemilihan dimensi dan geometri shell and tube nya, seperti diameter shell
minimum dan maksimum ukuran dan bahan pipa serta susunan dan tata letaknya,
sesuai standar yang ada. Tahap selanjutnya adalah menetapkan harga maksimum
yang diijinkan bagi bagi kerugian tekanan di sisi shell maupun di sisi pipa, serta
menetapkan type dan ukuran buffle. Setelah itu proses tersebut dilalui maka kita
sampai kepada perhitungan perancangan yang akan memprediksi parameter
performance seperti luas permukaan perpindahan panas dan kerugian tekanan baik di
sisi shell maupun di sisi tube. Pada akhir perhitungan, apabila diperoleh harga yang
tidak sesuai dengan yang telah ditetapkan sebelumnya maka prosesnya harus
diulangi dengan cara memodifikasi variabel tertentu (Handoyo dan Ahsan, 2012).
Heat exchanger banyak digunakan pada refrigasi, pendingin udara, pemanas
ruangan, dan aplikasi teknik kimia. Heat exchanger tabung dengan dua tabung
banyak digunakan pada pendingin udara dan sistem refrigasi untuk menghemat
tenaga kipas dan redam suara. Heat exchanger konvensional, seperti tipe plat,
beroperasi dengan prinsip perbedaan temperatur antara dua medium dan
menghasilkan perpindahan panas yang efisien antara dua fluida (Date dan Khond,
2013).

2.3.2 Macam-macam Alat Penukar Panas


Berdasarkan bentuknya, jenis heat exchanger antara lain:
1. Penukar Panas Pipa Rangkap
Salah satu jenis penukar panas adalah susunan pipa ganda. Dalam jenis
penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan
cairan lainnya dalam pipa. Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa
logam standart yang dikedua ujungnya dilas menjadi satu atau dihubungkan dengan
kotak penyekat. Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua
mengalir di dalam ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar
panas jenis ini dapat digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi
yang tinggi
2. Alat Penukar Panas Plate dan Frame
Alat penukar panas pelat dan bingkai terdiri dari paket pelat pelat tegak lurus,
bergelombang, atau profil lain. Pemisah antara pelat tegak lurus dipasang penyekat
lunak (biasanya terbuat dari karet). Pelat-pelat dan sekat disatukan oleh suatu
perangkat penekan yang pada setiap sudut pelat 10 (kebanyakan segi empat)
terdapat lubang pengalir fluida. Melalui dua dari lubang ini, fluida dialirkan masuk
dan keluar pada sisi yang lain, sedangkan fluida yang lain mengalir melalui lubang
dan ruang pada sisi sebelahnya karena ada sekat
Tipe tabung plat banyak digunakan pada pesawat, mobil, dan plant proses
teknik kimia. Plat ini memberikan banyak keunggulan seperti berat yang ringan,
efisiensi tinggi, dan kemampuan menahan banyak aliran sekaligus (Mishra, 2004).
3. Alat Penukar Panas tipe Spiral
Penukar kalor tipe spiral arah aliran fluida menelusuri pipa spiral dari luar
menuju pusat spiral atau sebaliknya dari pusat spiral menuju ke luar. Permukaan
perpindahan kalor efektif adalah sama dengan dinding spiral sehingga sangat
tergantung pada lebar spiral dan diameter serta berapa jumlah spiral yang ada dari
pusat hingga diameter terluar
4. Tipe Tabung dan Pipa
Jenis ini terdiri dari suatu tabung dengan diameter cukup besar yang di
dalamnya berisi seberkas pipa dengan diameter relatif kecil. Alat penukar panas ini
terdiri atas suatu bundel pipa yang dihubungkan secara paralel dan ditempatkan
dalam sebuah pipa mantel (cangkang). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel
pipa, sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama,
berlawanan, atau bersilangan. Untuk meningkatkan effisiensi pertukaran panas,
biasanya pada alat penukar panas cangkang dan butuh dipasang sekat (baffle). Ini
bertujuan untuk membuat turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal
(residence time), namun pemasangan sekat akan memperbesar pressure drop
operasi dan menambah beban kerja pompa, sehingga laju alir fluida yang
dipertukarkan panasnya harus diatur
(Prastiyo, 2014).
Heat exchanger ini umum digunakan pada pengilangan minyak dan proses
industri kimia besar lainnya, dan cocok digunakan pada aplikasi tekanan tinggi
(Gawande, dkk., 2012).

2.4 Aplikasi dalam Industri


2.4.1 Pengaruh Kecepatan Aliran terhadap Efektivitas Shell and Tube Heat
exchanger
Heat exchanger merupakan peralatan yang digunakan untuk perpindahan panas
antara dua atau lebih fluida. Banyak jenis heat exchanger yang dibuat dan digunakan
dalam pusat pembangkit tenaga, unit pendingin, unit pengkondisi udara, proses di
industri, sistem turbin gas, dll. Dalam heat exchanger tidak terjadi pencampuran
seperti halnya dalam suatu mixing chamber. Dalam radiator mobil misalnya, panas
berpindah dari air yang panas yang mengalir dalam pipa radiator ke udara yang
mengalir dengan bantuan fan.
Besar kecepatan aliran menentukan jenis aliran, yaitu aliran laminar atau
turbulen. Turbulensi yang terjadi dalam aliran akibat tingginya kecepatan aliran dapat
memperbesar bilangan Reynold dan bilangan Nusselt yang kemudian meningkatkan
perpindahan panas secara konveksi. Namun, semakin tinggi kecepatan aliran berarti
waktu kontak kedua fluida semakin singkat. Berangkat dari kondisi ini, disusun
hipotesa bahwa kenaikan kecepatan aliran akan meningkatkan efektivitas suatu heat
exchanger hingga pada suatu harga tertentu, dan kemudian efektivitas tidak naik lagi
melainkan turun.
Heat exchanger yang diuji adalah tipe shell-and-tube dengan konstruksi
dengan batasan:
One pass shell dan one pass tube (ada 7 tube).
Spesifikasi tube:
Jumlah 7 tube, dengan jarak pitch 17,5 mm.
Bahan tembaga dengan diameter dalam 8,1 mm, diameter luar 9,5 mm.
Spesifikasi shell:
Bahan besi dengan diameter dalam 70 mm, diameter luar 75 mm.
Spesifikasi isolator panas:
Bahan glasswool dengan tebal 2,5 cm.
Mengingat udara panas dan udara dingin direncanakan mengalir dengan laju
aliran massa yang sama, maka dengan menaikkan kecepatan udara yang mengalir
dalam tube berarti menaikkan pula kecepatan udara dalam shell. Dari hasil
penelitian, terlihat bahwa temperatur keluar udara panas dan udara dingin maupun
efektivitas heat exchanger naik dengan kenaikan kecepatan aliran udara di tube dan
di shell. Namun, kenaikan ini tidak berlangsung terus, setelah mencapai harga
maksimum, efektivitas dan temperatur keduanya turun. Hal ini menunjukkan bahwa
besar perpindahan panas dari udara panas ke udara dingin juga dipengaruhi oleh
waktu kontak antara keduanya selain dipengaruhi oleh turbulensi aliran. Semakin
tinggi kecepatan berarti turbulensi aliran meningkat tetapi waktu kontak berkurang
(Handoyo, 2000).

Gambar 2.4 Flowchart Pengaruh Kecepatan Aliran terhadap Efektivitas Shell and
Tube Heat Exchanger
(Handoyo, 2000)

2.4.2 Pengaruh Penggunaan Baffle pada Shell and Tube Heat Exchanger
Dalam suatu shell and tube heat exchanger, fluida yang satu mengalir dalam
pipa-pipa kecil (tube) dan fluida yang lain mengalir melalui selongsong (shell).
Perpindahan panas dapat terjadi di antara kedua fluida, dimana panas akan mengalir
dari fluida bersuhu lebih tinggi ke fluida bersuhu lebih rendah.
Umumnya, aliran fluida dalam shell and tube heat exchanger adalah paralel
atau berlawanan. Untuk membuat aliran fluida dalam shell-and-tube heat exchanger
menjadi cross flow biasanya ditambahkan penyekat atau baffle. Aliran cross flow
yang didapat dengan menambahkan baffle akan membuat luas kontak fluida dalam
shell dengan dinding tube makin besar, sehingga perpindahan panas di antara kedua
fluida meningkat. Selain untuk mengarahkan aliran agar menjadi cross flow, baffle
juga berguna untuk menjaga supaya tube tidak melengkung (berfungsi sebagai
penyangga) dan mengurangi kemungkinan adanya vibrasi atau getaran oleh aliran
fluida.
Secara teoritis, baffle yang dipasang terlalu berdekatan akan meningkatkan
perpindahan panas yang terjadi di antara kedua fluida, namun hambatan yang terjadi
pada aliran yang melalui celah antar baffle menjadi besar sehingga penurunan
tekanan menjadi besar. Sedang jika baffle dipasang terlalu berjauhan penurunan
tekanan yang terjadi akan kecil, namun perpindahan panas yang terjadi kurang baik
dan timbul bahaya kerusakan pipa-pipa karena melengkung atau vibrasi. Hal ini
menunjukkan bahwa jarak antar baffle tidak boleh terlalu dekat ataupun terlalu jauh,
ada jarak tertentu yang optimal untuk heat exchanger tertentu.
Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa Baffle dapat meningkatkan
efektifitas heat exchanger. Dalam penelitian ini, efektifitas pemanasan maksimum
tercapai saat jarak antar baffle 7.5 cm dan laju aliran udara 0.00235 kg/s (Handoyo,
2001).

Berikut flowchart Pengaruh Penggunaan Baffle pada Shell and Tube Heat
Exchanger:
Mulai

Diatur jarak antar baffle yang


diinginkan

Diukur temperatur udara yang keluar dari elemen


o
pemanas
Diatur AC(165 C) dengan
regulator pada menggunakan termokopel.
tegangan tertentu sehingga
elemen pemanas menghasilkan panas dan udara panas
yang keluar dari elemen pemanas adalah 165oC
Setelah temperatur udara yang keluar dari elemen
pemanas konstan 165oC, blower dihubungkan dengan
heat exchanger.

Diatur DC regulator 2 pada tegangan yang sama dengan


tegangan DC regulator 1.

Menunggu sampai temperatur udara panas dan udara


dingin yang keluar dari heat exchanger menjadi
konstan.
Diatur DC regulator
Apakah ada
1 pada
variasi
Ategangan
jarak bafflle? Ya
tertentu kemudian B
dihubungkan ke blower yang dihubungkan dengan
elemen pemanas, sehingga blower menghasilkan udara
dengan kecepatan (laju aliran massa) yang dikehendaki
Tidak

Selesai
Mencatat temperatur udara panas dan dingin yang
keluarPengaruh
Gambar 2.5 Flowchart dari heat Penggunaan
exchanger dan penurunan
Baffle tekanan
pada Shell and Tube Heat
dengan mencatat beda tinggi air pada manometer U.
Exchanger
(Handoyo, 2001)
A B

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Peralatan
Dalam percobaan ini digunakan alat penukar panas jenis pipa konsentrik
(concentric tube heat exchanger) dengan spesifikasi sebagai berikut:
1. Tube outer diameter : 15 x 0,7 mm wall
2. Shell outer diameter : 22 x 0,9 mm wall
3. Insulation thickness : 20 mm wall
4. Heat transmission length : 1,5 m
5. Heat transmission area : 0,067 m2
Adapun alat tersebut terdiri dari:
1. Pompa fluida panas
Fungsi: untuk memompa fluida panas pada heat exchanger.
2. Pompa fluida dingin
Fungsi: untuk memompa fluida dingin pada heat exchanger.
3. Heater
Fungsi: untuk memanaskan fluida pada reservoir.
4. Reservoir
Fungsi: tempat penampungan fluida/ air yang akan dipanaskan.
5. Termometer
Fungsi: untuk mengukur suhu pada setiap titik (Thi, Thm, Tho, Tci, Tcm, Tco).
6. Hot fluid flowmeter
Fungsi: untuk mengatur laju alir fluida panas.
7. Cold fluid flowmeter
Fungsi: untuk mengatur laju alir fluida dingin.

3.2 Prosedur Kerja


Berikut ini merupakan prosedur percobaan alat penukar panas pipa sepusat:
1. Diisi air pada tangki air panas dan air dingin.
2. Dihidupkan pemanas (heater) yang diletakkan pada tangki air panas.
3. Diatur aliran fluida, co-current atau counter current.
4. Dihidupkan pompa.
5. Ditunggu sampai suhu fluida panas masuk (Thi) yang diinginkan tercapai
(variasi Thi = 36 oC dan 39 oC).
6. Diatur laju alir fluida panas.
7. Diatur laju alir fluida dingin
8. Dicatat suhu pada semua temperatur dicatat (Thi, Thm, Tho, Tci, Tcm, Tco) pada
waktu t = 4,5 menit.
9. Diulangi prosedur 4 sampai 8 diulangi sesuai penugasan.

3.3 Flowchart Percobaan


Berikut Flowchart percobaan Alat Penukar Panas Pipa Sepusat:

Mulai
Diisi air pada tangki air panas dan air dingin

Dihidupkan pemanas (heater) pada tangki air panas

Dihidupkan pompa air panas

Diatur aliran fluida co-current atau counter current

Apakah suhu fluida masuk sudah tercapai ?

Ya
Diatur laju alir fluida panas dan fluida dingin

Dicatat Thi, Thm, Tho, Tci, Tcm, Tco


pada t = 4,5 menit

Apakah ada variasi aliran fluida yang lain ?


Ya

Tidak

Selesai

Gambar 3.1 Flowchart Prosedur Percobaan