Anda di halaman 1dari 87

Angkatan Pujangga Baru (Angkatan 30-an)

1. Cirinya adalah
1) Bahasa yang dipakai adalah bahasa Indonesia modern,
2) Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang
kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya,
3) Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari
bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris,
4) Pengaruh barat terasa sekali, terutama dari Angkatan 80 Belanda,
5) Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan
6) Setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

2. Bentuk karya sastra angkatan pujangga baru yaitu:


a. Puisi
Ciri-ciri puisi pada angkatan pujangga baru yaitu :
1) Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi,
2) Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun
rima,
3) Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan utama,
4) Bahasa kiasan utama ialah perbandingan,
5) Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah,
6) Hubungan antara kalimat jelas dan hampir tidak ada kata-kata yang ambigu,
7) Mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan tentram.
Puisi baru berdasarkan isinya yaitu :
1) Balada adalah puisi berisi kisah/cerita.
2) Himne adalah puisi pujaan untuk tuhan, tanah air, atau pahlawan.
3) Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa.
4) Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup.
5) Romance adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih.
6) Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan.
7) Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik.
b. Prosa
Ciri-ciri puisi pada angkatan pujangga baru yaitu :
1) Berbentuk prosa baru yang bersifat dinamis (senantiasa berubah sesuai dengan perkembangan
masyarakat),
2) Masalah yang diangkat adalah masalah kehidupan masyarakat sehari-hari,
3) Alurnya lurus,
4) Tidak banyak sisipan-sisipan cerita sehingga alurnya menjadi lebih erat,
5) Teknik perwatakannya tidak menggunakan analisis langsung. Deskripsi fisik sudah sedikit,
6) Pusat pengisahannya menggunakan metode orang ketiga,
7) Gaya bahasanya sudah tidak menggunakan perumpamaan, pepatah, dan peribahasa,
8) Bentuknya roman, cerpen, novel, kisah, drama. Berjejak di dunia yang nyata, berdasarkan
kebenaran dan kenyataan,
9) Terutama dipengaruhi oleh kesusastraan Barat
10) Dipengaruhi siapa pengarangnya karena dinyatakan dengan jelas, dan
11) Tertulis
Prosa baru berdasarkan isinya yaitu :
1) Roman adalah cerita yang mengisahkan pelaku utama dari kecil sampai mati, mengungkap
adat/aspek kehidupan suatu masyarakat secara mendetail/menyeluruh, alur bercabang-cabang,
banyak digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi kehidupan
pelaku dalam cerita tersebut. Contoh: karangan Sutan Takdir Alisjahbana: Kalah dan Manang,
Grota Azzura, Layar Terkembang, dan Dian yang Tak Kunjung Padam
2) Riwayat adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-pengalaman hidup pengarang
sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman hidup orang sejak kecil hingga dewasa atau
bahkan sampai meninggal dunia. Contoh: Soeharto Anak Desa atau Prof. Dr. B.I Habibie atau Ki
hajar Dewantara.
3) Otobiografi adalah karya yang berisi daftar riwayat diri sendiri.
4) Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya terplih beberapa orang. Contoh Laut Biru
Langit Biru karya Ayip Rosyidi
5) Kisah adalah riwayat perjalanan seseorang yang berarti cerita rentetan kejadian kemudian
mendapat perluasan makna sehingga dapat juga berarti cerita. Contoh: Melawat ke Jabar
Adinegoro, Catatan di Sumatera M. Rajab.
6) Cerpen adalah suatu karangan prosa yang berisi sebuah peristiwa kehidupan manusia, pelaku,
tokoh dalam cerita tersebut. Contoh: Tamasya dengan Perahu Bugis karangan Usman. Corat-
coret di Bawah Tanah karangan Idrus.
7) Novel adalah suatu karangan prosa yang bersifat cerita yang menceritakan suatu kejadian
yang luar biasa dan kehidupan orang-orang. Contoh: Roromendut karangan YB. Mangunwijaya.
8) Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu hasil karya dengan
memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria tertentu yangs ifatnya objektif dan
menghakimi.
9) Resensi adalah pembicaraan/pertimbangan/ulasan suatu karya (buku, film, drama, dll.). Isinya
bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya tersebut dari ebrbagai aspek seperti tema,
alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu
tidaknya karya tersebut dibaca atau dinikmati.
10) Esei adalah ulasan/kupasan suatu masalah secara sepintas lalu berdasarkan pandangan
pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup, tanggapan, renungan, ataupun komentar
tentang budaya, seni, fenomena sosial, politik, pementasan drama, film, dll. menurut selera
pribadi penulis sehingga bersifat sangat subjektif atau sangat pribadi.

3. Pengarang dan karya sastra yang terkenal dalam angkatan tersebut adalah :
1) Sutan Takdir Ali Syhabana (roman Layar Terkembang (1948), Tebaran Mega (1963), Dian Tak
Kunjung Padam, Kalah dan Manang, Grota Azzura)
2) Amir Hamzah (kumpulan puisi Nyanyian Sunyi (1954), Buah Rindu (1950), Setanggi Timur
(1939))
3) Armin Pane (novel Belenggu (1654), Jiwa Berjiwa, kumpulan sajak Gamelan Jiwa (1960),
drama Jinak-Jinak Merpati (1950))
4) Sanusi Pane (drama Manusia Baru, Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1971), Madah
Kelana (1931/1970), Sandhyakala Ning Majapahit (1971), Kertadjaja (1971))
5) M. Yamin (drama Ken Arok dan Ken Dedes (1951), Indonesia Tumpah Darahku (1928), Kalau
Dewi Tara Sudah Berkata, Tanah Air)
6) Rustam Efendi (drama Bebasari (1953), Pertjikan Permenungan (1957))
7) Y.E. Tatengkeng (kumpulan puisi Rindu Dendam (1934)
8) Hamka (roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck)

4. Pelopor Angkatan Pujangga Baru adalah Sutan Takdir Ali Syahbana, Armjin Pane, dan Amir
Hamzah.

PERIODE ANGKATAN PUJANGGA BARU SANUSI PANE, STRUKTUR DAN


MAKNA PUISI TERATAI
PERIODE ANGKATAN PUJANGGA BARU

1930-1945

2.1 Latar Belakang

Buku Pujangga Baru, Prosa dan Puisi yang disusun oleh H.B Jasin adalah
sebuah bunga rampai (antologia) dari para pengarang dan penyair yang oleh
penyusunnya digolongkan ke dalam Angkatan Pujangga Baru. Seperti diketahui,
oleh para ahli dan para penyusun buku-buku pelajaran sastra Indonesia,
perkembangan sastra Indonesia dibagi-bagi menjadi angkatan-angkatan. Angkatan
Pujangga Baru biasanya ditempatkan sebagai angkatan kedua, yaitu setelah
angkatan Balai Pustaka dan mendahului kelahiran angkatan 45. Tetapi kita lihat
pembagian sejarah sastra Indonesia dalam angkatan-angkatan ini, tidaklah disertai
dengan alasan-alasan yang bisa kita terima. Tidak sedikit pula para sastrawan yang
menolak atau tidak mau dimasukan dalam sesuatu angkatan, mereka memilih
masuk angkatan yang disukainya. Misalnya Achdiat K. Mihardja pernah menyatakan
bahwa ia lebih suka digolongkan kepada angkatan Pujangga Baru, padahal para ahli
telah menggolongkannya kepada angkatan 45.

Di masa kolonialisme, pengaruh itu tampak dalam karya sastra, baik yang
memiliki semangat antikolonialisme di zaman Belanda maupun berkembangnya
simbolisme di zaman Jepang akibat situasi yang sangat represif. Di masa
pemerintahan Soekarno, perbedaan ideologi yang demikian tajam nasionalisme,
agama, komunisme juga berdampak langsung terhadap perkembangan sastra
Indonesia, yakni dengan merasuknya ideologi dalam diri sastrawan maupun dalam
karya sastra yang dihasilkannya.

Sutan Takdir Alisjahbana, yang pada 1935 berusia 27 tahun, menghentak


kalangan intelektual Indonesia dengan pemikirannya yang radikal melalui sebuah
artikel berjudul Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru yang dimuat di majalah
yang didirikan dan dipimpinnya sendiri, Pujangga Baru. Dalam tulisannya itu, Sutan
Takdir Alisjahbana membedakan kebudayaan praIndonesia (yang berlangsung
hingga akhir abad ke-19) dan kebudayaan Indonesia (yang dimuali pada awal abad
ke-20).

Menurut Sutan Takdir Alisjahbana, perjuangan Pangeran Diponegoro, Teuku


Umar, Imam Bonjol, dan lain-lain bukanlah untuk Indonesia. Demikian pula dengan
pembuatan Candi Borobudur dan Prambanan yang tidak ada kaitannya dengan
Indonesia. Semuanya itu termasuk dalam kebudayaan praIndonesia. Kebudayaan
Indonesia, menurut Sutan Takdir Alisjahbana, bukanlah sambungan kerajaan
Mataram, Sriwijaya, atau Majapahit. Kebudayaan Indonesia yang dimaksud Sutan
Takdir Alisjahbana adalah kebudayaan yang terlepas dari kebudayaan praIndonesia
dan harus berorientasi ke Barat. Karena, masyarakat Indonesia yang statis harus
diubah menjadi dinamis. Untuk itu, kita harus mencontoh negara-negara yang
dinamis, yakni negara-negara Barat. Dan, sejatinya, kaum terpelajar Indonesia
generasi pertama dapat berorganisasi, berpolitik, mendirikan Budi Utomo pun
karena pendidikan Barat. Semangat muda yang dipancarkan Sutan Takdir
Alisjahbana itu sebenarnya mengikuti jejak pendahulunya yang menggelar kongres
pemuda pada 28 Oktober 1928.

Beliau mencetuskan idenya yang kemudian disebut sebagai Polemik


Kebudayaan yang ujungnya adalah menganjurkan rakyat untuk memikirkan masa
depan dunia, karena Indonesia adalah bagian daripada dunia. Ide ini secara
gamblang diilustrasikan dalam novelnya yang berjudul Layar Terkembang, dimana
tema yang ditonjolkan adalah pelepasan diri dari ikatan budaya tradisional dan
kemasyarakatan lama serta menderap bersama budaya dan masyarakat modern.
Oleh sebab itu, kemudian Sutan Takdir Alisjahbana dituduh kebarat-baratan dan
dianggap mengingkari budaya bangsa sendiri. Lalu ada juga Salah Asuhan karya
Abdul Moeis yang menceritakan perubahan paradigma seorang anak Melayu yang
berenang dalam pendidikan Belanda.

Gagasan yang dilontarkan Sutan Takdir Alisjahbana di atas mendapat reaksi


dari rekan dan seniornya. Sanusi Pane, yang saat itu berusia 30 tahun, tidak
sependapat dengan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia tidak setuju dengan pembagian
sejarah semacam itu. Menurut Sanusi Pane, pada zaman Majapahit, Pengeran
Diponegoro, Borobudur, dan ain-lain sudah mempunyai ciri keindonesiaan, yang
belum ada hanyalah ciri natie atau nation (bangsa) Indonesia. Zaman sekarang,
kata Sanusi Pane, merupakan terusan dari zaman dahulu. Ia juga menyarankan agar
kebudayaan Indonesia menyatukan Faust yang didominasi pemikiran, akal (Barat)
dan Arjuna yang didominasi perasaan, nurani (Timur).

Peradaban yang telah dibangun secara perlahan oleh nenek moyang kita
menjadi runtuh dan tak berarti apa-apa jika kita mengikuti pola pikir Sutan Takdir
Alisjahbana. Dengan memutuskan mata rantai sejarah, Sutan Takdir Alisjahbana
seolah-olah menafikan kekayaan rohani dan kekayaan batin bangsa kita yang
terekam dan tercatat dengan baik dalam karya sastra klasik yang diciptakan sejak
abad ketujuh masehi. Meskipun demikian, kita wajib bersyukur dengan adanya
pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana seperti itu, yang menjadi shock therapy bagi
bangsa Indonesia untuk lebih serius memikirkan masa depan kebudayaannya.

2.2 Sejarah

Pada mulanya, Pujangga baru adalah nama majalah sastra dan


kebudayaan yang terbit antara tahun 1933 sampai dengan adanya pelarangan
oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di Indonesia. Adapun
pengasuhnya antara lain Sultan Takdir Alisjahbana, Armein Pane , Amir Hamzah dan
Sanusi Pane. Jadi, Pujangga Baru bukanlah suatu konsepsi ataupun aliran.
Namun demikian, orang-orang atau para pengarang yang hasil karyanya pernah
dimuat dalam majalah itu, dinilai memiliki bobot dan cita-cita kesenian yang baru
dan mengarah kedepan.

Barangkali, hanya untuk memudahkan ingatan adanya angkatan baru itulah


maka dipakai istilah Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orang-orang
yang tulisan-tulisannya pernah dimuat didalam majalah tersebut. Adapun majalah
itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang memang mempunyai
perhatian terhadap masalah-masalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung
diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh
pemerintah Jepang dengan alasan karena kebarat-baratan. Namun setelah
Indonesia merdeka, majalah ini diterbitkan lagi (hidup 1948 s/d 1953), dengan
pemimpin Redaksi Sutan Takdir Alisjahbana dan beberapa tokoh-tokoh angkatan 45
seperti Asrul Sani, Rivai Apin dan S. Rukiah. Mengingat masa hidup Pujangga Baru
( I ) itu antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang , maka diperkirakan para
penyumbang karangan itu paling tidak kelahiran tahun 1915-an dan sebelumnya.
Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru adalah generasi lama.
Sedangkan angkatan 45 yang kemudian menyusulnya merupakan angkatan bar
yang jauh lebih bebas dalam mengekspresikan gagasan-gagasan dan kata hatinya.

Ketika sastra Indonesia dikuasai oleh angkatan Pujangga Baru, masa-masa


tersebut lebih dikenal sebagai Masa Angkatan Pujangga Baru. Masa ini dimulai
dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada Mei 1933. Majalah inilah yang
merupakan terompet serta penyambung lidah para pujangga baru. Penerbitan
majalah tersebut dipimpin oleh tiga serangkai pujangga baru, yaitu Amir Hamzah,
Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam manivestasi pujangga baru
dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan itu, selain melukiskan atau menggambarkan
tinggi rendahnya suatu bangsa, juga mendorong bangsa tersebut ke arah
kemajuan.

Sebenarnya para pujangga baru serta beberapa orang pujangga Siti Nurbaya
sangat dipengaruhi oleh para pujangga Belanda angkatan 1880 (De Tachtigers). Hal
ini tak mengherankan sebab pada jaman itu banyak para pemuda Indonesia yang
berpendidikan barat, bukan saja mengenal, bahkan mendalami bahasa serta
kesusastraan Belanda. Di antara para pujangga Belanda angkatan 80-an, dapat kita
sebut misalnya Willem Kloos dan Jacques Perk. J.E. Tatengkeng, seorang pujangga
baru kelahiran Sangihe yang beragama Protestan dan merupakan penyair religius
sangat dipengaruhi oleh Willem Kloos.

Lain halnya dengan Hamka. Ia pengarang prosa religius yang bernafaskan


Islam, lebih dipengaruhi oleh pujangga Mesir yang kenamaan, yaitu Al-Manfaluthi,
sedangkan Sanusi Pane lebih banyak dipengaruhi oleh India daripada oleh Barat,
sehingga ia dikenal sebagai seorang pengarang mistikus ke-Timuran.

Pujangga religius Islam yang terkenal dengan sebutan Raja Penyair Pujangga Baru
adalah Amir Hamzah. Ia sangat dipengaruhi agama Islam serta adat istiadat
Melayu. Jiwa Barat itu rupanya jelas sekali terlihat pada diri Sutan Takdir
Alisyahbana. Lebih jelas lagi tampak pada Armijn Pane, yang boleh kita anggap
sebagai perintis kesusastraan modern. Pada Armijn Pane rupanya pengaruh Barat
itu menguasai dirinya secara lahir batin. Masih banyak lagi para pujangga baru
lainnya seperti Rustam Effendi, A.M. Daeng Myala, Adinegoro, A. Hasjemi, Mozasa,
Aoh Kartahadimadja, dan Karim Halim. Mereka datang dari segala penjuru tanah air
dengan segala corak ragam gaya dan bentuk jiwa serta seninya.

Mereka berlomba-lomba, namun tetap satu dalam cita-cita dan semangat mereka,
yaitu semangat membangun kebudayaan Indonesia yang baru dan maju. Itulah
sebabnya mereka dapat bekerjasama, misalnya saja dalam memelihara dan
memajukan penerbitan majalah Pujangga Baru.

2.3 Karakteristik Karya Angkatan Pujangga Baru

1. Dinamis
2. Bercorak romantik/idealistis, masih secorak dengan angkatan sebelumnya, hanya
saja kalau romantik angkatan Siti Nurbaya bersifat fasip, sedangkan angkatan
Pujangga Baru aktif romantik. Hal ini berarti bahwa cita-cita atau ide baru dapat
mengalahkan atau menggantikan apa yang sudah dianggap tidak berlaku lagi.
3. Angkatan Pujangga Baru menggunakan bahasa Melayu modern dan sudah
meninggalkan bahasa klise. Mereka berusaha membuat ungkapan dan gaya bahasa
sendiri. Pilihan kata, Penggabungan ungkapan serta irama sangat dipentingkan oleh
Pujangga Baru sehingga dianggap terlalu dicari-cari
4. Ditilik bentuknya, karya angkatan Pujangga Baru mempunyai ciri-ciri:
a. Bentuk puisi yang memegang peranan penting adalah soneta, disamping itu
ikatan-ikatan lain seperti quatrain dan quint pun banyak dipergunakan. Sajak
jumlah suku kata dan syarat-syarat puisi lainnya sudah tidak mengikat lagi, kadang-
kadang para Pujangga Baru mengubah sajak atau puisi yang pendek-pendek, cukup
beberapa bait saja. Sajak-sajak yang agak panjang hanya ada beberapa buah,
misalnya Batu Belah dan Hang Tuah karya Amir Hamjah.
b. Tema dalam karya prosa (roman) bukan lagi pertentangan faham kaum muda
dengan adat lama seperti angkatan Siti Nurbaya, melainkan perjuangan
kemerdekaan dan pergerakan kebangsaan, misalnya pada roman Layar
Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana
c. Bentuk karya drama pun banyak dihasilkan pada masa Pujangga Baru dengan
tema kesadaran nasional. Bahannya ada yang diambil dari sejarah dan ada pula
yang semata-mata pantasi pengarang sendiri yang menggambarkan jiwa dinamis.

Genre prosa Angkatan 33 (Pujangga Baru) berupa:

a. ROMAN

Roman pada angkatan 33 ini banyak menggunakan bahasa


individual, pengarang membiarkan pembaca mengambil simpulan sendiri, pelaku-
pelaku hidup/ bergerak, pembaca seolah-olah diseret ke dalam suasana pikiran
pelaku- pelakunya, mengutamakan jalan pikiran dan kehidupan pelaku-
pelakunya. Dengan kata lain, hampir semua buku roman angkatan ini
mengutamakan psikologi.

Isi roman angkatan ini tentang segala persoalan yang menjadi cita-cita
sesuai dengan semangat kebangunan bangsa Indonesia pada waktu itu, seperti
politik, ekonomi, sosial, filsafat, agama, kebudayaan.Di sisi lain, corak
lukisannya bersifat romantis idealistis.

Contoh roman pada angkatan ini, yaitu Belenggu karya Armyn Pane
(1940) danLayar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Di samping itu,
ada karya roman lainnya, diantaranya Hulubalang Raja (Nur Sutan Iskandar,
1934), Katak Hendak Menjadi Lembu (Nur Sutan Iskandar, 1935), Kehilangan
Mestika (Hamidah, 1935), Ni Rawit (I Gusti Nyoman, 1935), Sukreni Gadis Bali
(Panji Tisna, 1935), Di Bawah Lindungan Kabah (Hamka, 1936), I Swasta Setahun
di Bendahulu (I Gusti Nyoman dan Panji Tisna, 1938), Andang
Teruna (Soetomo Djauhar Arifin, 1941), Pahlawan Minahasa (M.R.Dajoh, 1941).

b. NOVEL/CERPEN

Kalangan Pujangga Baru (angkatan 33) tidak banyak


menghasilkan novel/cerpen. Beberapa pengarang tersebut, antara lain:

(1). Armyn Pane dengan cerpennya Barang Tiada Berharga dan Lupa.
Cerpen itu dikumpulkan dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Kisah Antara
Manusia (1953).

(2). Sutan Takdir Alisyahbana dengan cerpennya Panji Pustaka.

c. E S S A Y DAN K R I T I K

Sesuai dengan persatuan dan timbulnya kesadaran nasional, maka essay


pada masa angkatan ini mengupas soal bahasa, kesusastraan, kebudayaan,
pengaruh barat, soal-soal masyarakat umumnya.Semua itu menuju keindonesiaan.
Essayist yang paling produktif di kalangan Pujangga Baru adalah STA.Selain
itu, pengarang essay lainnya adalah Sanusi Pane dengan essai Persatuan Indonesia,
Armyn Pane dengan essaiMengapa Pengarang Modern Suka Mematikan, Sutan
Syahrir dengan essaiKesusasteraan dengan Rakyat, Dr. M. Amir dengan
essai Sampai di Mana KemajuanKita.

d. DRAMA

Angkatan 33 menghasilkan drama berdasarkan kejadian yang


menunjukkankebesaran dalam sejarah Indonesia. Hal ini merupakan perwujudan
tentang anjuran mempelajari sejarah kebudayaan dan bahasa sendiri untuk
menanam rasakebangsaan. Drama angkatan 33 ini mengandung semangat
romantik dan idealisme, lari dari realita kehidupan masa penjjahan tapi bercita-cita
hendak melahirkan yang baru.

Contoh:

Sandhyakala ning Majapahit karya Sanusi Pane (1933)

Ken Arok dan Ken Dedes karya Moh. Yamin (1934)

Nyai Lenggang Kencana karya Arymne Pane (1936)

Lukisan Masa karya Arymne Pane (1937)

Manusia Baru karya Sanusi Pane (1940)


Airlangga karya Moh. Yamin (1943)

e. PUISI

Puisi Pujangga Baru adalah awal puisi Indonesia modern. Untuk memahami
puisi Indonesia modern sesudahnya dan puisi Indonesia secara keseluruhan,
penelitian puisi Pujangga Baru penting dilakukan. Hal ini disebabkan karya sastra,
termasuk puisi, tidak lahir dalam kekosongan budaya (Teeuw, 1980:11), termasuk
karya sastra. Di samping itu, karya sastra itu merupakan response (jawaban)
terhadap karya sastra.

Karya sastra, termasuk puisi, dicipta sastrawan. Sastrawan sebagai anggota


masyarakat tidak terlepas dari latar sosialbudaya dan kesejarahan masyarakatnya.
Begitu juga, penyair Pujangga Baru tidak lepas dari latar sosial-budaya dan
kesejarahan bangsa Indonesia. Puisi Pujangga Baru (1920-1942) itu lahir dan
berkembang pada saat bangsa Indonesia menuntut kemerdekaan dari penjajahan
Belanda. Oleh karena itu, perlu diteliti wujud perjuangannya, di samping wujud latar
sosial-budayanya.

Untuk memahami puisi secara mendalam, juga puisi Pujangga Baru, perlu
diteliti secara ilmiah keseluruhan puisi itu, baik secara struktur estetik maupun
muatan yang terkandung di dalamnya. Akan tetapi, sampai sekarang belum ada
penelitian puisi Pujangga Baru yang tuntas, sistematik, dan mendalam. Sifatnya
penelitian yang sudah ada itu impresionistik, yaitu penelaahan hanya mengenai
pokok-pokoknya, tanpa analisis yang terperinci, serta diuraikan secara ringkas.
Puisi merupakan struktur yang kompleks. Oleh karena itu, dalam penelitian puisi
Pujangga Baru digunakan teori dan metode struktural semiotik. Kesusastraan
merupakan struktur ketandaan yang bermakna dan kompleks, antarunsurnya terjadi
hubungan yang erat (koheren). Tiap unsur karya sastra mempunyai makna dalam
hubungannya dengan unsur lain dalam struktur itu dan keseluruhannya Akan tetapi,
strukturalisme murni yang hanya terbatas pada struktur dalam (inner structure)
karya sastra itu mengasingkan relevansi kesejarahannya dan sosial budayanya.
Oleh karena itu, untuk dapat memahami puisi dengan baik serta untuk
mendapatkan makna yang lebih penuh, dalam menganalisis sajak dipergunakan
strukturalisme dinamik , yaitu analisis struktural dalam kerangka semiotik. Karya
sastra sebagai tanda terikat kepada konvensi masyarakatnya. Oleh karena itu,
karya sastra tidak terlepas dari jalinan sejarah dan latar sosial budaya masyarakat
yang menghasilkannya, seperti telah terurai di atas.

Di samping itu, untuk memahami struktur puisi Pujangga Baru, perlu juga
diketahui struktur puisi sebelumnya, yaitu puisi Melayu lama yang direspons oleh
puisi Pujangga Baru.

2.4 Angkatan Pujangga Baru dan Karyanya

1. Sutan Takdir Alisjahbana

Orang besar ini dilahirkan di Natal (Tapanuli) pada 11-02-1908. Setelah

menamatkan HIS di Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian


HKS di Bandung. Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar
pada Sekolah Hakim Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan
pada Fakultas sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya
serta cita-cita dan keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang
bermacam-macam pula pada dirinya. Karangannya mempunyai bahasa yang
sederhana tetapi tepat. Karya-karyanya antara lain:

a. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)


b. Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
c. Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
d. Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
e. Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
f. Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
g. Puisi Lama (1942)
h. Puisi Baru (1946)

2. Amir Hamzah

Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28-2-1911 di
Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan
bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah
keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di
Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada
Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi
sehingga mendapat sebutan Raja Penyair Pujangga Baru. Karya-karyanya antara
lain:

a. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)

b. Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)

c. Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)


d. Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

3. Sanusi Pane

Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14-11-1905. Ia mengunjungi SR di Padang


Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang, dan
melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya pada
Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia pergi
ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India.
Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru
pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala
pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang
menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada
Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta.

Karya-karyanya antara lain:

a. Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)


b. Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
c. Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
d. Kertajaya (sandiwara, 1932)
e. Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
f. Manusia Baru (Sandiwara, 1940)

4. Muhamad Yamin, SH.


Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus
1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi
sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian
menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah
Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin
beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, ia memegang
jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober
1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi.

Karya-karyanya antara lain:

a. Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)


b. Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)

c. Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)

d. Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath


Tagore)
e. Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
f. Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
g. Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
h. Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
i. 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
j. Tan Malaka (1945)
k. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)

5. J.E. Tatengkeng

Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD


kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen
di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya
bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal.
Karyanya antara lain Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).

6. Hamka
Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di
Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim
Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern
dan tokoh yang ingin membersihkan agama Islam dari khurafat dan bidah.
Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan
madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto.
Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang
produktif.

Karyanya antara lain:

a. Di Bawah Lindungan Kabah (1938)


b. Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
c. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
d. Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
e. Ayahku (biografi)
f. Karena Fitnah (roman, 1938)
g. Merantau ke Deli (kisah;1939)
h. Tuan Direktur (1939)
i. Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)

j. Keadilan Illhi

k. Lembaga Budi
l. Lembaga Hidup
m. Revolusi Agama

7. M.R. Dajoh

Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909. Ia

berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus di Malang. Pada
masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di kantor Pusat Kebudayaan.
Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam karya Prosanya sering menggambarkan
pahlawanpahlawan

yang berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan masyarakat.

Karyanya antara lain:


a. Pahlawan Minahasa (roman; 1935)
b. Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman, 1931)
c. Syair Untuk Aih (sajaka, 1935)

8. Ipih

Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di Talo,

Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS Bengkulu, Mulo Jakarta,


Bandung serta Mulo Taman Siswa Bandung. Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir.
Soekarno di Endeh. Setelah menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah
memimpin harian Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat
gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya antara lain:

a. Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941)


b. Sajak-sajak dalam majalah

9. Armijn Pane

Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Lahir di Muarasipongi, Tapanuli
Selatan, 18 Agustus 1908. Ia berpendidikan HIS, ELS, Stofia Jakarta pada tahun
1923, dan pindah ke Nias, Surabaya, dan menamatkan di Solo. Kemudian menjadi
guru bahasa dan sejarah di Kediri dan Jakarta serta pada tahun 1936 bekerja di
Balai Pustaka. Pada masa pendudukan Jepang menjadi Kepala Bagian Kesusastraan
di Kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, serta memimpin majalah Kebudayaan Timur.

Karyanya antara lain:

a. Belenggu (roman jiwa, 1940)


b. Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953)

c. Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)

d. Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939)


e. Ratna (sandiwara, 1943)
f. Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
g. Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat R.A Kartini, 1938)
10. Rustam Effendi

Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta pernah

menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai Komunis. Dalam
karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya, juga sering mencari istilah-
istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta. Karyanya antara lain:

a. Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922)


b. Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)

11. A. Hasjmy

A. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di


Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah Pendidkan
Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeun.

Karya-karyanya antara lain:

a. Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936)


b. Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)

12. Imam Supardi

Karya-karyanya antara lain:

a. Kintamani (roman)
b. Wishnu Wardhana (drama, 1937)

Sastrawan dan penyair lainnya dari angkatan Pujangga Baru:

13. Mozasa, singkatan dari Mohamad Zain Saidi

14. Yogi, nama samaran A. Rivai, kumpulan sajaknya Puspa Aneka


15. A.M. DG. Myala, nama sebenarnya A.M Tahir

16. Intojo alias Rhamedin Or Mandank


Sanusi Pane

LATAR BELAKANG KELUARGA:


Kakak kandung Armijn Pane ini dilahirkan di Muara Sipongi, Tapanuli Selatan
pada tanggal 14 November 1905, tiga tahun lebih tua dari adiknya.

Kalau kita tilik latar belakang kehidupan Sanusi Pane akan kita peroleh
jawaban mengapa dia tampak tidak bisa dipisahkan dengan alam. Dalam
polemiknya dengan Sutan Takdir Alisyahbana (Pujangga Baru. April 1937) dia
mengatakan bahwa di dunia Barat orang harus bekerja keras untuk menaklukkan
alam. Orang harus berusaha mempertahankan diri untuk mengusai alam itu.
Akibatnya, orang lebih mengutamakan jasmani sehingga timbul materialisme dan
individualisme. Tidak demikian halnya dengan di Timur. Orang tidak usah bersusah
payah berupaya untuk menaklukkan alam karena alam di Timur tidak sekeras di
Barat. Di Timur manusia sudah merasa satu dengan alam sekelilingnya.
Intelektualisme dan individualisme tidak begitu penting. Orang Timur tidak
mementingkan segi jasmani. Hal ini bukan berarti bahwa derajat bangsa yang
setinggi-tingginya itu dapat dicapai oleh lapisan yang berpusatkan kenyataan:
manusia bersatu dengan alam harus meniadakan keinginan jasmaninya dan
membersihkan jiwanya." Pandangan hidup Sanusi Pane seperti itulah yang
mencoraki hampir semua karyanya.

Kehidupan Sanusi Pane sehari-hari memperlihatkan betapa kuatnya


pendiriannya itu mewarnai sikapnya terhadap hal-hal yang bersifat jasmani. Oleh
karena sikapnya yang demikian itu pengarang ini tidak pernah membanggakan apa
yang telah ia perbuat. Dia selalu bersifat merendah, meskipun sebenarnya hasil
karyanya itu patut untuk dibanggakan. Ketika J.U. Nasution ingin menulis buku
tentang karyakarya Sanusi Pane Ia tidak berhasil mewawancarainya. meskipun
Nasution telah berulang-ulang mencobanya, Sanusi Pane selalu mengatakan. Saya
bukan apa-apa... ... saya bukan apa-apa... " ..." Itulah jawaban yang diberikan oleh
Sanusi Pane (Nasution. 1963). Jawaban itu menggambarkan bahwa Sanusi Pane
merasa dirinya belum berbuat sesuatu yang patut dihargai.
Menurut istri Sanusi Pane pada waktu presiden Soekamo akan memberikan
Satya Lencana Kebudayaan kepada suaminya, Sanusi Pane menolak. Tentu saja
sang istri terkejut bukan kepalang. Sanusi Pane memberikan jawaban sebagai
berikut:

"Indonesia telah memberikan segala-galanya bagiku. Akan tetapi, aku merasa


belum pernah menyumbangkan sesuatu yang berharga baginya. Aku tidak berhak
menerima tanda jasa apa pun untuk apa-apa yang sudah kukerjakan. Karena itu
adalah semata-mata kewajibanku sebagai putera bangsa."

Penghargaan semacam itu adalah kebanggaan yang bersifat jasmani yang


justru harus dihindari dalam upaya mencapai manusia tingkat tinggi. Dengan kata
lain, jika manusia tidak mampu melepaskan diri dari hal-hal yang bersifat dumawi
dia tidak akan dapat mencapai kebahagiaan yang sejati dalam alam baka nanti.
Keyakinan semacam itu sebenarnya adalah keyakinan orang Hindu. Sehagaimana
petikan di atas telah diuraikan bahwa dunia ini hanyalah maya belaka. Bahkan,
secara ekstrim dikatakan bahwa dunia ini jahat. Oleh karena itu. manusia harus
berjuang untuk keluar dari belenggu itu. Tampaknya agama Hindu sudah merasuk
ke dalam sanubari Sanusi Pane meskipun dia dilahirkan dari keluarga yang
beragama Islam bahkan adiknya, Prof. Drs. Lafran Pane, adalah pendiri Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI). Ketika Sanusi Pane akan meninggal dia berpesan agar
jenazahnya diperabukan sebagai pujangga-pujangga Hindu yang telah terdahulu.
Sudah tentu permintaan itu tidak dikabulkan oleh keluarganya karena menyalahi
ajaran agama Islam.

Selama kurang lebih dua tahun inilah Sanusi Pane menemukan jalan
hidupnya untuk mencapai kebahagiaan sejati. Dia menyaksikan hahkan mengalami
sendiri kehidupan tanah asal agama Hindu itu. Dia hidup di tanah mulia". menurut
Sanui Pane, penuh kedamaian sehingga ajaran Hindu benar-benar merasuk ke
dalam hatinya. Tidak heran kalau dia pernah pantang makan daging karena agama
Hindu mengajarkan untuk menyayangi sesama makhluk, termasuk binatang. Kalau
orang menyayangi binatang sebagai konsekuensinya harus pantang makan
dagingnya. Hal ini benar-benar diamalkan Sanusi Pane dalam kehidupan sehari-hari.
Ajaran agama Hindu itu begitu lekatnya dengan kehidupan Sanusi Pane
sehingga masalah keduniaan tidak begitu ia perhatikan.

LATAR BELAKANG PENDIDIKAN:

Sanusi pane mengawali pendidikannya di Hollands Inlandse School (HIS) di


Padang Sidempuan dan Tanjungbalai. Setelah itu. ia melanjutkan ke Europeesche
Lager School (ELS) di Sibolga dan kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager
Onderwijs (MULO) di Padang dan di Jakarta. Ia tamat dari MULO pada tahun 1922.
Selanjutnya, dia belajar di Kweekschool Sekolah Pendidikan Guru' Gunung Sahari.
Jakarta sampai tamat tahun 1925 dan langsung diangkat menjadi guru di sekolah
itu sampai tahun 1931. Pernah pula Ia mengikuti kuliah di Rechtshogeschool
Sekolah Tinggi Kehakiman selama satu tahun. Pada tahun 1929--1930 dia melawat
ke India untuk memperdalam kebudayaan Hindu (Nasution. 1963).

Sebagaimana telah disebut di muka, begitu lulus dari Kweekschool Sekolah


Pendidikan Guru pada tahun 1925. Sanusi langsung diangkat menjadi guru di
sekolah tersebut. Pekerjaan mengajar itu dijalaninya selama lebih kurang enam
tahun (1925--1931).

LATAR BELAKANG PEKERJAAN:

Pada waktu dia bekerja di Balai Pustaka dia menolak untuk diantarjemput. Dia
memilih berjalan kaki saja. Segala tawaran yang berkaitan dengan kariernya
dibiarkan begitu saja tanpa jawaban. Sering dia membiarkan jatah berasnya
membusuk di gudang tanpa diambil. Bahkan, selama bekerja dia tidak pernah
mengurus kenaikan pangkatnya sehingga tetap berada dalam pangkat yang sama
sampai pensiun. Pada suatu ketika istrinya merasa cemas dengan kehidupan Sanusi
Pane yang harus membiayai enam orang anak. Istrinya mencoba menyadarkan
Sanusi Pane agar memikirkan nasib anaknya pada masa datang. Sanusi Pane selalu
menjawab, Kita toh belum kelaparan. kita toh belum jadi gelandangan, kita toh
masih bisa berpakaian.
Sanusi Pane tampak tenang dalam kehidupan sehari-hari tidak mudah
terpengaruh oleh kesibukan dunia sekelilingnya.

LATAR BELAKANG KESASTRAAN / KEBAHASAAN:

Selain itu. Sanusi juga dikenal sebagai salah seorang pendiri majalah
Pudjangga Baroe. Di majalah tersebut, ia duduk sebagai pembantu utama. Di
samping itu, ia pun pernah bekerja di Balai Pustaka.

Sebagai seorang sastrawan sebelum perang. tokoh Sanusi Pane memang


tidak setenar adiknya, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisyahbana. Nama Armijn
Pane cukup terkenal lantaran romannya Be!enggu; Sutan Takdir Alisyabbana
namanya harum karena Layar Terkembang. Meskipun tidak setaraf dengan kedua
pengarang itu, Sanusi Pane sebagai penulis drama, menurut J.U. Nasution. adalah
penulis terbesar pada masa sebelum perang atau masa Angkatan Pujangga Baru.
Selain penulis drama, Sanusi Pane juga dikenal sebagai penulis puisi meskipun tidak
setenar Amir Hamzah. Amir Hamzah mendapat julukan Raja Penyair, tidak demikian
halnya dengan Sanusi Pane.

Nama Sanusi Pane tetap terukir dalam sastra Indonesia, khususnya pada
masa sebelum Perang Dunia II, baik sebagai penulis puisi maupun penulis drama. Di
samping itu, dia termasuk salah seorang tokoh pendiri Angkatan Pujangga Baru.
Kalau Armijn Pane menjabat Sekretaris majalah Pujangga Baru, Sanusi Pane adalah
sebagai salah seorang pembantu utamanya.

Pada masa gerakan Pujangga Baru pandangan orang terhadap kebudayaan


Indonesia pada umumnya ada perubahan yang cukup mencolok dibandingkan
dengan angkatan sebelumnya. Perbedaan pandangan terhadap kebudayaan itu
menimbulkan polemik yang cukup seru. Polemik itu melibatkan tokoh-tokoh
kenamaan seperti Ki Hadjar Dewantara, Purbatjaraka, Sutomo, M. Amir, Adinegoro,
Sutan Takdir Alisyahbana, dan tidak ketinggalan Sanusi Pane, Karangan yang
muncul dalam polemik para ahli kebudayaan itu dikumpulkan oleh Achdiat Karta
Mihardja (1977) menjadi sebuah buku yang berjudul Polemik Kebudayaan.
Dalam banyak hal Sanusi Pane bertentangan dengan Sutan Takdir
Alisyahbana. Takdir yang lebih banyak condong ke Barat mempunyai semboyan
bahwa hidup harus selalu berjuang. hidup harus bekerja keras. Tanpa menyadari
dan melaksanakan hal itu orang tidak akan maju, tidak akan bisa menjadi manusia
yang modern. Sanusi Pane lehih mengutamakan ketenangan dan kedamaian. Justru
hal inilah oleh Takdir dianggap hal yang melembekkan. Semboyan tenang dan
damai membelenggu orang menjadi tidak maju.
Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu dalam diri Sanusi Pane. Orang Hindu
beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Untuk apa orang harus
berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka. Mereka
beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh yang
universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah kebahagiaan
itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-hal yang
bersifat materi.

Semboyan Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan


kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang
berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya dia dikenal sebagai pengarang
romantik. Dia merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau.
Dia merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar. Alam tidak hanya
sebagai lambang, tetapi juga sebagai objek pengubahan sajak-sajaknya yang
mendendangkan alam, misalnya, Sawah, Teja, Menumbuk Padi.

Keindahan sawah menyentuh kalbu sang pujangga. Padi yang sedang


menguning melambai-lambai; suara seruling petani sejuk terdengar mendamaikan
hati. Sekelompok anak bercanda-ria, berkejarkejaran karena kegirangan mandi di
sungai yang jernih. Langit cerah berwarna biru menawarkan ketenangan dan
kedamaian. Di kejauhan tampak seekor burung elang melayang-layang di udara
menikmati alam nan permai. Suara berdesik dari dedaunan berbisik merdu karena
terbuai angin nan lembut. Sayup-sayup terdengar suara kokok ayam menambah
kedamaian jiwa yang mendengarnya.
Sanusi Pane melihat alam dengan penuh gembira. Alam yang merupakan
sumber yang tak kering-keringnya untuk dinikmati secara terus-menerus. Terkadang
jiwa Sanusi Pane mengembara jauh ke masa silam; dia mendambakan kejayaan
masa lampau yang gemilang.

Paham romantik masih tetap mengalir dalam jiwa Sanusi Pane. Dalam buku
kumpulan sajaknya yang kedua berjudul Madah Kelana, jiwa keromantikan itu masih
tetap mewarnainya. Banyak kita jumpai sajak-sajak percintaan yang cukup
romantis, Angin, Rindu, Bagi kekasih, Kemuning, dan Bercinta. Sajak yang
terbesar yang terdapat dalam Madah Kelana yakni Syiwa Nataraja adalah sajak
yang melukiskan keinginan pengarang untuk bersatu dalam alam. Tampaknya
ketika dia menciptakan sajak ini dia mengeluarkan segala kekuatannya sehingga
menghasilkan sajak yang sebesar itu. Di samping itu, masib banyak lagi kita jumpai
sajak-sajaknya yang senafas dengan itu. misalnya, Awan, Penyanyi. Pagi,
Damai", dan Bersila. Hal ini membuktikan keyakinan Sanusi Pane bahwa manusia
harus bersatu dengan alam. Hal ini masih tetap mewarnai karya-kanya puisinya
yang terkumpul dalam Madah Kelana ini.

Sanusi Pane di samping sebagai penyair juga sebagai penulis drama. Sebagai
penulis drama dia adalah penulis terbesar pada masa sebelum perang,
sebagaimana telah diuraikan di atas. Dia telah menulis dua drama dalam bahasa
Belanda yang berjudul Air Langga dan Enzame Garoedavlucht dan tiga buah
dramanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Kertajaya, Sandyakala Ning
Majapahit. serta Manusia Baru.

Drama Sanusi Pane. yang berjudul Kertajaya merupakan cerita tragedi yang
mengingatkan kita pada cerita Romeo and Juliet karya pujangga Inggris
Shakespeare. Dalam kesusastraan Jawa kita jumpai tragedi semacam itu pula yakni
cerita Pranacitra dan Rana Mendut, di Bali kita jumpai cerita Jayaprana dan
Layonsari. Drama itu ditutup dengan matinya dua tokoh utama, Dandang Gendis
(Kertajaya) dan Dewi Amisani dengan cara bunuh diri. Suatu penyelesaian yang
sangat berbeda kalau kita bandingkan dengan fakta sejarah. Memang, ada pula
perbedaan fakta yang dikemukakan oleh ahli sejarah tentang nasib Kertajaya
sebagai raja Kediri. Stutterheim, misalnya. menyatakan bahwa Kertajaya
mengasmgkan diri sebagai petapa. Lain halnya dengan Krom, dia mengatakan,
setelah Kertajaya kalah dalam pertempuran di Garner dia hilang, tidak jelas ke
mana, mungkin mati atau melarikan diri.

Sastrawan mempunyai kebebasan dalam menafsirkan suatu peristiwa.


Sastrawan bukan pencatat peristiwa-peristiwa sejarah. Sebagaimana sastrawan
Sanusi Pane memberi tafsiran yang berbeda dengan kedua ahli sejarah di atas. Dia
memilih jalan sendiri untuk mengakhiri cerita itu dengan mematikan tokoh
utamanya. Kedua tokoh utama dalam cerita itu mati dengan cana bunuh diri. Apa
yang diceritakan oleh Sanusi Pane dapat kita maklumi karena dia adalah pengarang
yang berjiwa romantik. Fantasi romantiknya yang mendorong pengarang untuk
mengakhiri ceritanya dengan tetesan air mata. Hal yang sama dilakukannya pula
dalam dramanya yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit.

Adegan pertama dalam drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya sudah
menunjukkan kekhasan Sanusi sebagai pengarang romantik. Dialog-dialog antara
kedua tokoh utama cerita itu merupakan wujud lahir jiwa romantik sang pengarang.
Pengambilan latar di lereng gunung Wilis, dihiasi kicauan bunung, suara angin yang
berhembus, ayam yang berkokok sangat mendukung suasana romantis yang
diingini pengarang. Dari jawaban Dandang Gendis (Kertajaya) atas pertanyaan Dewi
Amisani itu kita ketahui bahwa lukisan tentang cinta seperti itu terlalu dilebih-
lebihkan pengarang. Orang bersusah payah mencari nirwana melalui buku atau
guru yang sampai mati pun sering tidak menemukannya. Akan tetapi, Dandang
Gendis menemukan nirwana itu di mata kekasihnya, Dewi Amisani. Dandang Gendis
menyamakan nirwana dengan kekaksihnya. Meskipun drama itu ditulis tahun 1938
(drama ini dimuat pertama kali pada majalah Poedjangga Baroe, tahun VI, No. 3,
bulan Desember 1938) lukisan semacam itu tetap terasa berlebihan. Hal ini justru
membuktikan pengaruh romantik sangat kuat dalam diri Sanusi Pane.

Dorongan hati untuk menciptakan cerita yang mengharukan. yang dapat


mencucurkan air mata bagi pembaca atau penonton masih terlihat dalam drama
Sanusi Pane yang berjudul Sandyakala Ning Majapahit. Akhir cerita drama ini lain
sama sekali dengan buku yang dijadikan dasar pembuatan cerita itu yakni Serat
Damarwulan. Sanusi Pane mengatakan bahwa sebagai dasar pembuatan drama
Sandyakala Ning Majapahit adalah Serat Damarwulan dan cerita Raden Gajah yang
terdapat dalam Pararaton.

Cerita Damar Wulan diakhiri dengan happy ending. Keberhasilan Damar


Wulan membawa kepala Menak Jingga ke Majapahit menyebabkan dia menduduki
tahta kerajaan serta dinikahkan dengan sang ratu. Damar Wulan bergelar Prabu
Brawijaya serta hidup dengan kejayaannya. Sebaliknya, Sandyakala Ning Majapahir
diakhiri dengan peristiwa yang tragis. Di samping Damar Wulan tidak dinikahkan
dengan ratu Majapahit dia juga dituduh sebagai pengkhianat. Tuduhan itu begitu
hebatnya sehingga hukuman mati bagi Damar Wulan tak terelakkan lagi.
Sepeninggal Damar Wulan kerajaan Majapahit diporakporandakan balatentara dari
kerajaan Bintara.

Drama Sanusi Pane yang terakhir berjudul Manusia Baru. Drama ini dibuat
pertama kali dalam majalah Poedjangga Baroe, tahun VIII, No. 5. November 1940.
Tujuh tahun setelah dramanya yang berjudul Sandhyakala Ning Majapahit, Sanusi
Pane menghasilkan dramanya Manusia Baru itu. Masa kurang lebih tujuh tahun
sudah cukup bagi Sanusi Pane untuk menghasilkan ide-ide baru yang berbeda
dengan ide-ide yang dituangkannya dalam puisi maupun drama sebelumnya. Dalam
kurun waktu itu pula dia berhasil mengungkapkan konsep manusia barunya"-nya.
Manusia yang dapat mencapai kebahagiaan lahir batm, kebahagiaan dunia akhirat
atau insan kamil".

Manusia semacam itu, menurut Sanusi Pane, tidak hanya mementingkan hal-
hal yang bersifat rohani belaka. Dunia tidak lagi dianggap jahat yang perlu dijauhi
dan dihindari, sebab menghindari dunia, hidup tidak bisa dipertahankan. Manusia
hidup pada zaman modern ini harus bekerja keras dan mau menaklukkan dunia
seperti tokoh Faust ciptaan Gothe. Akan tetapi, manusia modern harus tetap
memiliki budi yang luhur, religius, dan cinta sesama manusia sebagaimana dimiliki
oleh Arjuna ciptaan Empu Kanwa. Jika manusia belum dapat memadukan dua
pribadi itu dalam dirinya dia bukan manusia modern yang diidealkan Sanusi Pane.
Di dalam Manusia Baru Sanusi Pane tidak lagi tenggelam ke dalam kejayaan
dan kemegahan pada masa silam. Dia tidak lagi mengagungkan apa yang telah
dicapai oleh nenek moyang sementara dirinya tidak berprestasi. Hal ini bukan
berarti mengabaikan dan tidak mencintai karya agung warisan leluhur kita. Yang
lama tetap agung dan berharga. Akan tetapi, manusia sekarang harus hidup pada
masa sekarang serta mampu memandang kehidupan jauh ke depan. Dari yang lama
manusia sekarang dapat mengambil manfaatnya selama dapat dimanfaatkan.
Manusia sekarang harus pandai menyaring pengaruhpengaruh dari warisan lama
termasuk budaya dari asing. Inilah Manusia baru yang diidealkan oleh Sanusi
Pane dalam dramanya yang berjudul Manusia Baru. Tokoh Rama atau Rama Rao
adalah simbol seniman pada umumnya masih terpesona keagungan masa silam.
Dia berhasil disadarkan oleh Das atau Surendranath Das untuk bangkit sebagai
manusia baru, seniman baru yang harus hidup penuh semangat memandang jauh
ke masa depan. Seniman yang masih terikat oleh masa silam akan menghasilkan
karya yang layu, beku, kabur, mati, dan tidak berjiwa.

Ide manusia yang ditampilkan Sanusi Pane dalam drama ini mencakup pula
emansipasi wanita. Emansipasi ini tampak pada akhir ceritanya. Tokoh Saraswati
atau Saraswati Wadia anak ketua Perkumpulan Industri Tenun Madras bangkit dari
kungkungan adat lama. Adat lama mengatur bahwa anak gadis harus ditunangkan
sejak kecil. Demikian juga Saraswati, dia ditunangkan sejak masih balita, sejak
masih berumur empat tahun, peristiwa yang sama sekali tidak dikehendaki oleh
Saraswati. Dia tidak mau hidup bagaikan dalam sangkar, sebentar dilepaskan
kemudian dimasukkan kembali. Dia memberontak semua itu. Pertemuan antara
Saraswati dengan seorang penganjur pemogokan kaum buruh, Surendranath Das,
menyadarkan jiwanya untuk ikut bangkit sebagai manusia baru. Saraswati
mengagumi watak dan pemikiran Surendranath Das. Bahkan, dia mencintai Das dan
harus meninggalkan tunangan lamanya. Sudah barang tentu keluarganya tidak
menyetujui hubungan itu, karena dalam peristiwa pemogokan kaum buruh itu Das
adalah musuh keluarga Saraswati. Ketika Das akan pergi meninggalkan Madras,
Sarswati bertekat akan tetap mengikuti ke mana Das pergi. Dia meningalkan adat
lama; dia meninggalkan keluanga. ayah dan ibunya tersayang. Dia lakukan semua
itu demi cintanya kepada Das, demi kemajuan bangsanya, demi kemajuan manusia,
manusia baru.

Menarik sekali kisah cinta Sarswati dan Das yang ditampilkan Sanusi Pane
dalam dramanya Manusia Baru ini karena kisah cinta kedua tokoh itu sangat mirip
dengan kisah cinta sang pengarang. Ketika Sanusi Pane melamar sang bidadari
pujaan hatinya, pihak keluarga perempuan meminta boli (mahar) sebesar tiga ribu
gulden. Permintaan itu terlalu besar sehingga tidak terbayar oleh Sanusi Pane.
Sebenarnya permintaan boli sebesar itu adalah penolakan secara halus. Apa reaksi
Sanusi Pane atas permintaan itu? Sanusi Pane mengajak kekasihnya untuk
melakukan marlojong (kawin lari). Kesepakatan telah dicapai: niat akan
dilaksanakan sang mertua mengetahui tekad kedua anak manusia itu. Boli sebesar
tiga nibu gulden pun dibatalkan dan hanya diminta membayar boli sebesar tiga
ratus gulden. Perkawinan dilaksanakan dengan boli sebesar tiga ratus gulden
walaupun akhirnya diketahui bahwa uang sebesar itu hasil Sanusi Pane meminjam.
Sang mertualah yang pada akhirnya pula membayar hutang menantunya itu.

Dari keseluruhan karyanya dapat disimpulkan bahwa Sanusi Pane tidak hanya
menganut satu aliran. Karya-karyanya, sebelum Manusia Baru, terwarnai alinan
romantik yang sangat kuat. Dramanya yang berjudul Manusia Baru ini sudah
mencerminkan sifat realistis pengarang. Pengarang benar-benar telah menemukan
dirinya sebagai manusia baru, yang harus hidup pada masa sekanang. Untuk
menemukan manusia baru itu diperlukan perenungan yang cukup panjang. Seperti
pengakuan dalam esai tentang Timur dan Barat sebagai berikut. Pengembaraan
kami dalam berbagai-bagai kebudayaan membentuk semangat yang tertentu dalam
diri kami. Semangat itu minta bahasa dan kesusastraan bam untuk wujudnya."

Sanusi Pane telah tiada. Ketika fajar mulai menyingsing tanggal 2 Januari
1968 sang Pujangga dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Dia pergi penuh kedamaian;
telah banyak yang dilakukannya untuk kemaslahatan manusia. Dia mengabdikan
dirinya dengan tulus ikhlas untuk kemanusian. Semoga dia dapat mencapai
kebahagiaan petala nirwana. Sanusi Pane meninggalkan seorang istri dan enam
orang anak tanpa meninggalkan kekayaan yang berupa materi sedikit pun, bahkan
rumahpun tak dimilikinya.

KARYA:

Karya Sanusi Pane, antara lain:


a. Prosa Lirik
(1) Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926).

b. Puisi

(1) Puspa Mega (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka, 1927.


(2) Madah Kelana (kumpulan), Jakarta: Balai Pustaka I, 1931, 111950, Proyek
Penerbitan Buku Bacaan Sastra Indonesia dan Daerah, 1978.

c. Drama

(1) Airlangga (berbahasa Belanda), 1928.


(2) Eenzame Garoedavlucht (berbahasa Belanda), 1929
(3) Kertajaya, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Pustaka Jaya I 1971, IV 1987.
(4) Sandyakala Ning Majapahir, Jakarta: Balai Pustaka, 1933, dan Pustaka Jaya 1974
(5) Manusia Baru, Jakarta: Balai Pustaka, 1940.

d. Terjemahan

Arjuna Wiwaha. Jakarta: Balai Puistaka I, 1940, II 1949 dan Proyek Penerbitan Buku
Bacaan Sastra Indonesia dan daerah, 1978.
e. Bunga Rampai
Bunga Rampai dari Hikayat Lama. 1946. Jakarta: Balai Pustaka

f. Sejarah

(1) Sejarah Indonesia. 1942, 4 jilid.


(2) Sejarah Indonesia Sepanjang Masa, 1952.

http://pusatbahasa.depdiknas.go.id/lamanv4/?q=detail_tokoh/1122

STRUKTUR DAN MAKNA PUISI TERATAI

TERATAI

Kepada Ki Hajar Dewantoro

Dalam kebun di tanah airku

Tumbuh sekuntum bunga teratai

Tersembunyi kembang indah permai

Tidak terlihat orang yang lalu

Akarnya tumbuh di hati dunia

Daun berseri Laksmi mengarang

Biarpun dia diabaikan orang

Seroja kembang gemilang mulia

Teruslah O Teratai Bahagia

Berseri di kebun Indonesia


Biar sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat

Engkau pun turut menjaga zaman

Dari: Madah Kelana

Karya sastra yang beraliran impresionisme pada umumnya terdapat pada


masa angkatan Pujangga Baru, masa Jepang, yang pada masa itu kebebasan
berekspresi tentang cita-cita, harapan, ide belum dapat disalurkan secara terbuka.
Semua idealisme disalurkan melalui bentuk yang halus yang maknanya
terselubung. Pengarang Indonesia yang karyanya bersifat impresif antara lain ialah
Sanusi Pane, dengan puisi-puisinya Candi, Teratai, Sungai, Abdul Hadi W.M., dan W.S
Rendra. Impresionisme berarti aliran dalam bidang seni yang lebih mengutamakan
kesan tentang suatu objek yang diamati dari pada wujud objek itu sendiri. Aliran ini
bermula di Perancis pada akhir abad ke-l9.. Di dalam seni sastra, aliran
impresionisme tidak berbeda dengan aliran realisme, hanya pada impresionisme
yang dipentingkan adalah kesan yang diperoleh tentang objek yang diamati penulis.
Selanjutnya, kesan awal yang diperoleh pengarang diolah dan dideskripsikan
menjadi visi pengarang yang sesuai dengan situasi dan kondisi tertentu.

Ode adalah Puisi yang berisi pujaan terhadap seseorang, sesuatu hal, sesuatu
keadaan. Yang banyak ditulis adalah pemujaan terhadap tokoh-tokoh yang
dikagumi. Teratai Sanusi Pane, Diponegoro Chairil Anwar, dan Ode Buat
Proklamator Leon Agusta merupakan contoh ode yang bagus.

PARAFRASE

TERATAI
Kepada Ki Hajar Dewantoro

Satu untuk Semua, tetapi Semua untuk Satu Juga"

ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

("di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang


mendukung")

Dalam kebun di tanah airku

Kebun merupakan sebidang tanah yg ditanami beraneka ragam pohon atau tanah
luas yg ditanami kopi, karet, dan hal yang berubungan dengan tumbuhan yang
menghasilkan serta berdaya guna. Kebun diidentikkan dengan Indonesia yang
subur, dihuni oleh berbagai jenis karakter, jiwa, manusia,suku, seni, budaya, bahasa
suatu bangsa.

Tumbuh sekuntum bunga teratai

Telah lahir bunga indah sebagai lambang ketulusan, kejujuran, ketulusan. Teratai
yang tumbuh di air yang sangat berlumpur (kotor, coklat), warna bunganya lebih
cemerlang. bunga teratai tersebut tetap menawan dan suci tidak kena pengaruh
oleh lumpur. Demikian juga orang bijaksana akan bekerja apapun sebagai darma di
dunia.

Tersembunyi kembang indah permai

Keindahan yang tidak disombongkan dan tidak dinampakkan. Suatu kebaikan yang
tidak ditinjilkan, tapi biarlah orang lain yang menilai kebaikan tersebut.

Tidak terlihat orang yang lalu


Kebaikan, keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan yang tidak
akan dapat dirasakan, dimengerti jika tidak menyelami lebih dalam terhadap diri
dan pribadi Ki Hajar Dewantara sebagai tulus dan suci adalah persembahan kepada
Tuhan guna menyelamatkan alam beserta isinya.

Akarnya tumbuh di hati dunia

Hasil kerja, usaha, dan jerih payah Ki Hajar telah mendunia, tidak hanya di tanah
airnya saja. Dalam studinya di negeri Belanda, Soewardi terpikat pada ide-ide
sejumlah tokoh pendidikan Barat, seperti Froebel dan Montessori, serta pergerakan
pendidikan India, Santiniketan, oleh keluarga Tagore. Pengaruh-pengaruh inilah
yang mendasarinya dalam mengembangkan sistem pendidikannya sendiri.

Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta


kemerdekaan dinegeri yang kita sendiri telah merampas kemerdekaannya. Sejajar
dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk
menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Pikiran
untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang
kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku
seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan
sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut
mengkongsi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingan sedikitpun.

Pikiran untuk menyelenggarakan perayaan itu saja sudah menghina mereka dan
sekarang kita garuk pula kantongnya. Ayo teruskan penghinaan lahir dan batin itu!
Kalau aku seorang Belanda. Apa yang menyinggung perasaanku dan kawan-kawan
sebangsaku terutama ialah kenyataan bahwa bangsa inlander diharuskan ikut
mengongkosi suatu pekerjaan yang ia sendiri tidak ada kepentingannya sedikitpun".

Daun berseri Laksmi mengarang

Dewi Lakshmi digambarkan sebagai suatu Ibu jujur, dengan empat lengan,
berpakaian bagus dan permata-permata mahal, menganugerahkan koin-koin dari
kemakmuran dan diapit oleh gajah-gajah menandakan kuasa. Fitur paling mencolok
dari ilmu arca dari Lakshmi adalah bunga teratai. Arti dari bunga teratai dalam
hubungan dengan Shri Lakshmi mengacu pada kemurnian dan kuasa rohani. Dewi
Laksmi dilukiskan sebagai perempuan yang cantik berkulit keemasan, dengan
empat tangan, duduk atau berdiri di atas bunga teratai yang sedang mekar dan
memegang setangkai bunga teratai, yang bermakna kecantikan, kesuburan dan
kemurnian.

Duduk dalam lumpur tetapi bunga di atas air, dengan sepenuhnya tidak terjangkit
oleh lumpur, bunga teratai mewakili kesempurnaan upacara agama dan otoritas
yang naik di atas pencemaran duniawi. Dewi Laksmi disebut juga Dewi Uang. Ia
juga disebut "Widya", yang berarti pengetahuan.

Biarpun dia diabaikan orang

Diabaikan dalam baris ini adalah kekuatan dan pengaruh Ki Hajar Dewantara
mensosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama
Jawa) mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan
bernegara. Oleh sebab itu, Ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal
Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka dan bersama kedua rekannya, DD
dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan
ke Belanda (1913). Dengan demikian, ia seakan terabaikan oleh masyarakat
Indonesia saat itu.

Seroja kembang gemilang mulia

Seroja = teratai. Ia harum namanya berkat pandangan beliau dari muda sampai
konsep tut wuri handayani. Semboyan ini berasal dari ungkapan aslinya Ing
Ngarsa Sung Tulada, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Hanya
ungkapan tut wuri handayani saja yang banyak dikenal dalam masyarakat umum.
Arti dari semboyan ini secara lengkap adalah: tut wuri handayani (dari belakang
seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun
karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide),
dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan
atau contoh tindakan baik). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia
pendidikan.
Teruslah O Teratai Bahagia

Berseri di kebun Indonesia

Nama Ki Hajar Dewantara akan tetap harum dan dikenang oleh setiap masyarakat
Indonesia dari anak-anak sekolah sampai Profesor, Doktor, mentri bahkan presiden
sekalipun. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia dan wajahnya bisa
dilihat pada uang kertas pecahan Rp20.000. Nama beliau diabadikan sebagai salah
sebuah nama kapal perang Indonesia, KRI Ki Hajar Dewantara. Selain itu, sampai
saat ini perguruan Taman Siswa yang beliau dirikan masih ada dan telah memiliki
sekolah dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Ia diangkat menjadi
Menteri Pengajaran Indonesia yang pertama. Pada tahun 1957 ia mendapat gelar
doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari universitas tertua Indonesia,
Universitas Gadjah Mada. Atas jasa-jasanya dalam merintis pendidikan umum, ia
dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya
dijadikan Hari Pendidikan Nasional

Biar sedikit penjaga taman

Biarpun engkau tidak dilihat

Biarpun engkau tidak diminat

Diabaikannya nilai luhur bangsa seperti budi pekerti menjadikan sistem pendidikan
di Indonesia tidak mengajarkan anak didik mampu menghargai atau menghormati
orang lain, atau bersikap tenggang rasa. Anak sekolah cenderung mendapat contoh
atau teladan buruk tidak saja dari lingkungannya, tetapi juga dari guru sendiri.
Ibarat guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Bagaimana guru bisa melarang
murid tidak merokok kalau dia sendiri secara sembunyi-sembunyi keluar dari ruang
kelas untuk merokok?"

Pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu
dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang
dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar atau
pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk
meluruskannya.

Engkau pun turut menjaga zaman

Ia memajukan kaum pribumi dengan belajar ilmu pendidikan hingga memperoleh


Europeesche Akte, suatu ijazah pendidikan yang bergengsi yang kelak menjadi
pijakan dalam mendirikan lembaga pendidikan yang didirikannya. Belajar bukan
sekedar teori dan praktik disekolah, tetapi juga belajar menghadapi realitas dunia.
Sekolah dan Dunia menurut konsep ini berarti tidak terpisah. Dengan itu,
diharapkan para guru mengajarkan ilmu teori serta praktek di dunia dan juga
kepada siswa jika tidak sungkan-sungkan menanyakan apa saja hal yang tidak
diketahuinya tentang dunia kepada guru mereka masing-masing. Tujuan dari konsep
ini, agar para lulusan sekolah dapat mampu hidup dan bisa berbuat banyak setelah
lulus dari sekolah.

Budi pekerti merupakan nilai-nilai luhur budaya kita sendiri yang sudah diajarkann
jauh-jauh hari oleh bapak pendidikan kita Ki Hajar Dewantara dan para pendiri
bangsa ini.

PEMBAHASAN

Sajak Sanusi Pane Teratai menyimbolkan Ki Hajar Dewantara yang menjaga


bumi Indonesia dengan ajarannya yang bersifat kebangsaan, dengan semangat
keindonesiaan asli. Adapun bagi Sanusi Pane, Indonesia itu datang dari dalam diri
(melalui sejarah) karena sang budayawan berpandangan bahwa Indonesia adalah
sambungan sejarah Nusantara yang terus berdialektika semenjak jaman Sriwijaya
dan Majapahit. Puisi ini memuja Ki Hajar Dewantara sebagai tokoh yang pantas
untuk diteladani. Ia dibandingkan dengan bunga teratai yang tidak menonjolkan diri
namun namanya termasyur di seluruh penjuru dunia. Kekaguman penyair kepada Ki
Hajar Dewantara lebih nyata dengan baris terakhir "Engkau turut menjaga zaman".
Puisi sering-sering mengungkapakan cerita yang isinya dimaksudkan untuk
memberikan nasihat tentang budi pekerti dan agama. Jenis alegori yang terkenal
adalah parable yang juga disebut dongeng perumpamaan. Dalam kitab suci banyak
kita jumpai dongeng-dongeng perumpamaan yang maknanya dapat kita cari dibalik
yang tersurat. Puisi "Teratai" karya Sanusi Pane boleh dikatakan sebagai puisi
alegori, karena kisah bunga teratai itu digunakan untuk mengisahkan tokoh
pendidikan. Kisah tokoh pendidikan yang dilukiskan sebagai teratai itu digunakan
untuk memberi nasihat kepada generasi muda agar mencontoh teladan 'teratai' itu.

Teratai merupakan tanaman air yang unik. Teratai yang tumbuh di air yang
sangat berlumpur (kotor, coklat), warna bunganya lebih cemerlang. Warna bunga
bila putih lebih putih, bila merah lebih merah, bila merah muda makin terang dan
indah warnanya. Betatapun kotornya tempat dia hidup, tapi keindahannya tetap
terjaga dengan baik. Bahkan lingkungannya yang ingin merusak dirinya, bunga
teratai tetap tumbuh tanpa merusak lingkungannya. Kehidupan juga ibaratkan
bunga teratai yang hidup di lingkungan yang terkadang dan bahkan tidak
bersahabat. Alam sekitar memaksa untuk menerima dan menyesuaikan dengan
lingkungannya. Begitu juga manusia, manusia dilahirkan sebagai makhluk dengan
keindahan dan kesempurnaan yang akan membawa kebaikan bagi lingkungan dan
alam sekitarnya. Keindahan manusia akan terlihat dari seberapa besar pengaruh
lingkungan terhadap dirinya. Banyak orang yang tidak menyadari, bahwa dirinya
yang indah dipengaruhi oleh lingkungan yang menjadikannya tidak lagi indah dan
bersahaja. Banyak orang yang tadinya merupakan panutan bagi orang lain, tapi
menjadi parasit kemudian.

Bunga teratai (padma) yang berhelai delapan tepat pula sebagai simbol
delapan kemahakuasaan Sanghyang Widhi Wasa sebagai Bhatara Siwa yang disebut
Asta-Aiswarya. Asta-Aiswarya ini juga menguasai delapan penjuru mata angin.
Keistimewaan bunga padma adalah: puncak atau mahkotanya bulat, daun
bunganya delapan, tangkainya lurus, dan tumbuh hidup di tiga lapisan: lumpur, air,
dan udara. Hal-hal ini memenuhi simbol unsur-unsur filsafat Ketuhanan atau Widhi
Tattwa, yakni keyakinan, kejujuran, kesucian, keharuman, dan ketulusan.

Tetapi bunga teratai tersebut tetap menawan dan suci tidak kena pengaruh oleh
lumpur. Demikian juga orang bijaksana akan bekerja apapun sebagai swadharma,
serta tidak terikat akan hasilnya. Orang yang terikat oleh hasil kerja sesungguhnya
adalah penderitaan dan dikatakan budak dari pekerjaan tersebut.
Hukum kerja mengatakan, setiap pekerjaan akan mendapatkan pahala karma, besar
dan kecilnya tergantung dari kerja tersebut. Tidak ada perbuatan yang tidak
mendatangkan hasil. Dalam kehidupan sekarang banyak orang mengingkari makna
kerja, bahkan mengedepankan hasil dari pada melaksanakan tugas dan fungsinya,
orang yang melalaikan kerja sesungguhnya menyia-nyiakan kehidupan. Kerja yang
tulus dan suci sesungguhnya adalah persembahan kepada Brahman/Tuhan, guna
menyelamatkan alam beserta isinya. Dalam filsafat Hindu dinyatakan seperti bunga
teratai yang tumbuh dalam air dan lumpur.

Tampaknya aliran pikiran Hindu menyatu dalam diri pribadi Sanusi Pane. Hal
ini terbukti bahwa ia sebagai penganut paham Orang Hindu meskipin beragama
Islam yang beranggapan bahwa dunia ini adalah maya, kosong belaka. Orang tidak
harus berlomba-lomba menguasai dunia yang sebenarnya hanya semu belaka.
Mereka beranggapan bahwa ruh manusia di dunia ini diciptakan dari ruh dunia, ruh
yang universal. Dia akan meresap kembali dengan ruh dunia itu. Di sanalah
kebahagiaan itu akan dicapai manusia jika ia berhasil memisahkan diri dengan hal-
hal yang bersifat materi.

Semboyan Sanusi Pane yang lebih mengutamakan ketenangan dan


kedamaian itu tampaknya terjelma pada hampir semua hasil karyanya, baik yang
berupa puisi maupun drama. Itulah sebabnya dia dikenal sebagai pengarang
romantik. Dia merenungi kejayaan dan kemegahan serta kedamaian masa lampau.
Dia merenungi kedamaian yang didendangkan alam sekitar.

Citraan adalah efek yang ditimbulkan oleh kata atau susunan kata dalam
puisi terhadap pancaindera manusia. Jika kata-kata dalam puisi itu. Citraan adalah
gambaran angan yang muncul di benak pembaca puisi. Lebih lengkapnya, citraan
adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya..
Citraan yang terdapat dalam Teratai adalah hanya pada citraan penglihatan saja.

Citraan penglihatan :

a. tersembunyi kembang indah permai


b. tidak terlihat oleh yang lalu
c. biarpun engkau tidak terlihat
Majas/gaya bahasa

Pemajasan (figure of thought) merupakan teknik pengungkapan bahasa,


penggayabahasaan, yang maknanya tidak menunjuk pada makna harafiah kata-
kata yang mendukungnya melainkan pada makna yang ditambahkan, makna yang
tersirat. Gaya bahasa adalah bahasa indah yang dipergunakan untuk meningkatkan
efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal
tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.

1. Majas personifikasi, Personifikasi merupakan penggambaran dari sebuah ide, objek


atau binatang yang seolah-olah berlaku seperti manusia. personifiaksi menyatakan
sebuah bentuk dari perbandingan dan membuat penyair mampu untuk
menggambarkan dengan tenaga dan vitalitas dari yang semestinya tidak hidup.
Personifikasi adalah semacam gaya bahasa kiasan yang menggambarkan benda
mati atau barang yang tak bernyawa seolah-olah dapat bertingkah laku seperti
manusia.

- Akarnya tumbuh di hati dunia

- Daun berseri

- Berseri di kebun

2. Metafora, gaya bahasa perbandingan yang sifatnya tidak langsung dan implisit.
analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi dalam bentuk yang
singkat dengan kias perwujudan. Hubungan antara sesuatu yang dinyatakan
pertama dengan yang kedua hanya bersifat sugesti, tidak ada kata-kata petunjuk
perbandingan eksplisit.

- Engkau pun turut menjaga zaman

3. Repetisi bentuk gaya pengulangan dengan menampilkan pengulangan kata atau


kelompok kata yang sama. Kata atau kelompok kata yang diulang ke dalam repetisi
bisa terdapat dalam satu kalimat atau lebih, dan berada pada posisi awal, tengah,
atau di tempat lain.
- Biarpun engkau tidak dilihat

- Biarpun engkau tidak diminat

4. Aliterasi, gaya bahasa dengan menggunakan pengulangan konsonan. Diksi yang


dipilih adalah kata-kata yang memiliki wujud fisik hampir mirip, beberapa konsonan
sama, memiliki makna seiring yang bisa dipadukan satu sama lain sehingga
menimbulkan arti yang dalam dan suara yang indah. Diksi aliterasi mengedepankan
bentuk dan fonologi untuk mendapatkan efek estetis.

- Seroja kembang gemilang mulia

- Tumbuh sekuntum bunga teratai

- Teruslah O Teratai Bahagia

5. Sinekdoke, adalah menyebutkan sebagian untuk maksud keseluruhan (pars pro


toto) atau menyebutkan keseluruhan untuk sebagian (totem pro parte).
- Berseri di kebun Indonesia

- Dalam kebun di tanah airku

Posted by Andri Wicaksono, M.Pd. at 00.02

Reaction
s:

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Labels: SASTRA

7 komentar:

1.

Anonim11 Maret 2012 10.38

terima kasih s
Ciri-ciri Angkatan Pujangga Baru dalam Novel Belanggu karya Armijn
Pane.
MAKALAH

ANALISIS CIRICIRI ANGKATAN PUJANGGA BARU (19331942)


DALAMNOVEL/ROMANBELENGGUKARYAARMIJNPANE

Oleh:

KelompokIII(Tiga)

DISKACINTIA

JUSMIDAR

MAYSISKADEBORA

MERIHARTINI

OKTAFIADEFIANGGRAINI

RIANHIDAYAT

SELLYOKTAPINI

KelasII/A
DosenPembimbing:

DR.SUDIRMANSHOMARY,M.A

ProgramStudiBahasadanSastraIndonesia

JurusanBahasadanSeni

FakultasKeguruandanIlmuPendidikan

UniversitasIslamRiau

Pekanbaru

2013

KATAPENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas limpahan rahmatNya sehingga
penyusundapatmenyelesaikanmakalahyangberjudulCiriciriAngkatanPujanggaBarudalamNovel
BelanggukaryaArmijnPane.

MakalahinidisusununtukmemenuhiinstruksidariDosenPembimbingDR.SudirmanShomary,
M.AdanuntukmemenuhitugasdalammatakuliahSejarahSatradenganmaksudagarmampumemahami
ciriciriangkatanpujanggabarudalamnovelBelanggukaryaArmijnPane.

Bahanbahanpembahasandalammakalahinidiperolehdaribeberapasumberbukudaninternet.
Makalah ini tidak dapat terwujud tanpa bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada
kesempataninipenyusunmenyampaikanterimakasihyangsebesarbesarnyakepadasemuapihakyang
telahmembantudalamprosespenyelesaianmakalahini.

Penyusunmenyadaribahwamakalahinimasihjauhuntukdikatakansempurna.Olehkarenaitu,
penyusunsangatmengharapkankritikatausaranyangkonstruktifuntukperbaikanpadamasayangakan
datang.Terlepasdarisegalakekurangan,penyusunberharapsemogamakalahinidapatbermanfaatdari
pihakpihakyangmemerlukan.

Pekanbaru,April2012

Penyusun

DAFTARISI

KATAPENGANTAR....................................................................... i

DAFTARISI...................................................................................... ii

BABIPENDAHULUAN................................................................ 1

1
A.LatarBelakang.....................................................................
B.SejarahPujanggaBaru.........................................................
C.BiografiArmijnPane........................................................... 1

BABIIKARYAYANGDIANALISIS............................................ 6

SonopsisNovelBelenggu........................................................ 6

BABIIIPEMBAHASAN................................................................ 10

CiriciriAngkatanPujanggaBarudalamNovelBelenggukaryaArmijn 10
Pane....................................................................

BABIVPENUTUP..........................................................................

Kesimpulan...............................................................................

DAFTARPUSTAKA.......................................................................

BABI

PENDAHULUAN

A.LatarBelakang

Pujangga baru adalah majalah kesusastraan yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1933 di
Jakarta(waktuituBatavia).ParapendirinyaadalahSutanTakdirAlisjahbana,AmirHamzahdanArmijn
Pane.PenerbitanmajalahiniberhentipadasaatinvasiJepangkeHindiaBelandapadatahun1942.

AngkatanPujanggaBarumunculsebagaireaksiatasbanyaknyasensoryangdilakukanolehBalai
Pustaka terhadap karya tulis sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang
menyangkutrasanasionalismedankesadarankebangsaan.SastraPujanggaBaruadalahsastraintelektual,
nasionalistikdanelitismenjadi"bapak"sastramodernIndonesia.

Padamulanya,Pujanggabaruadalahnamamajalahsastradankebudayaanyangterbitantaratahun
1933 sampai dengan adanya pelarangan oleh pemerintah Jepang setelah tentara Jepang berkuasa di
Indonesia.AdapunpengasuhnyaantaralainSultanTakdirAlisjahbana,ArmeinPane,AmirHamzahdan
SanusiPane.
JadiPujanggaBarubukanlahsuatukonsepsiataupunaliran.Namundemikian,orangorangatau
parapengarangyanghasilkaryanyapernahdimuatdalammajalahitu,dinilaimemilikibobotdancitacita
kesenianyangbarudanmengarahkedepan.

B.SejarahPujanggaBaru

Barangkali,hanyauntukmemudahkaningatanadanyaangkatanbaruitulahmakadipakaiistilah
Angkatan Pujangga Baru, yang tak lain adalah orangorang yang tulisantulisannya pernah dimuat
didalam majalah tersebut. Adapun majalah itu, diterbitkan oleh Pustaka Rakyat, Suatu badan yang
memang mempunyai perhatian terhadap masalahmasalah kesenian. Tetapi seperti telah disinggung
diatas, pada zaman pendudukan Jepang majalah Pujangga Baru ini dilarang oleh pemerintah Jepang
denganalasankarenakebaratbaratan.NamunsetelahIndonesiamerdeka,majalahiniditerbitkanlagi
(hidup1948s/d1953),denganpemimpinRedaksiSutanTakdirAlisjahbanadanbeberapatokohtokoh
angkatan45sepertiAsrulSani,RivaiApindanS.Rukiah.MengingatmasahidupPujanggaBaru(I)itu
antara tahun 1933 sampai dengan zaman Jepang, maka diperkirakan para penyumbang karangan itu
palingtidakkelahirantahun1915andansebelumnya.

Dengan demikian, boleh dikatan generasi Pujangga Baru adalah generasi lama. Sedangkan
angkatan 45 yang kemudian menyusulnya merupakan angkatan baru yang jauh lebih bebas dalam
mengekspresikan gagasangagasan dan kata hatinya. Ketika sastra Indonesia dikuasai oleh angkatan
Pujangga Baru, masamasa tersebut lebih dikenal sebagai Masa Angkatan Pujangga Baru. Masa ini
dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada Mei 1933. Majalah inilah yang merupakan
terompetsertapenyambunglidahparapujanggabaru.Penerbitanmajalahtersebutdipimpinolehtiga
serangkai pujangga baru, yaitu Amir Hamzah, Armijn Pane, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Dalam
manivestasi pujangga baru dinyatakan bahwa fungsi kesusastraan itu, selain melukiskan atau
menggambarkantinggirendahnyasuatubangsa,jugamendorongbangsatersebutkearahkemajuan.

SebenarnyaparaPujanggaBarusertabeberapaorangpujanggaSitiNurbayasangatdipengaruhi
olehparapujanggaBelandaangkatan1880(DeTachtigers).Halinitakmengherankansebabpadajaman
itubanyakparapemudaIndonesiayangberpendidikanbarat,bukansajamengenal,bahkanmendalami
bahasasertakesusastraanBelanda.DiantaraparapujanggaBelandaangkatan80an,dapatkitasebut
misalnya Willem Kloosdan Jacques Perk. J.E. Tatengkeng, seorang pujangga baru kelahiran Sangi
heyangberagamaProtestandanmerupakanpenyairreligioussangatdipengaruhiolehWillemKloos.
LainhalnyadenganHamka.IapengarangprosareligiusyangbernafaskanIslam,lebihdipengaruhi
oleh pujangga Mesir yang kenamaan, yaitu AlManfaluthi, sedangkan Sanusi Pane lebih banyak
dipengaruhiolehIndiadaripadaolehBarat,sehinggaiadikenalsebagaiseorangpengarangmistikuske
Timuran.

PujanggareligiusIslamyangterkenaldengansebutanRajaPenyairPujanggaBaruadalahAmir
Hamzah.IasangatdipengaruhiagamaIslamsertaadatistiadatMelayu.JiwaBaratiturupanyajelassekali
terlihatpadadiriSutanTakdirAlisyahbana.LebihjelaslagitampakpadaArmijnPane,yangbolehkita
anggapsebagaiperintiskesusastraanmodern.PadaArmijnPanerupanyapengaruhBaratitumenguasai
dirinyasecaralahirbatin.MasihbanyaklagiparapujanggabarulainnyasepertiRustamEffendi,A.M.
DaengMyala,Adinegoro,A.Hasjemi,Mozasa,AohKartahadimadja,danKarimHalim.Merekadating
darisegalapenjurutanahairdengansegalacorakragamgayadanbentukjiwasertaseninya.

Merekaberlombalomba,namuntetapsatudalamcitacitadansemangatmereka,yaitusemangat
membangunkebudayaanIndonesiayangbarudanmaju.Itulahsebabnyamerekadapatbekerjasama,
misalnyasajadalammemeliharadanmemajukanpenerbitanmajalahPujanggaBaru.

C.BiografiArmijnPane

Armijn Pane, lahir di Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatera Utara, 18 Agustus 1908
meninggaldiJakarta,16Februari1970padaumur61tahun,adalahseorangSastrawanIndonesia.Pada
tahun1933bersama SutanTakdirAlisjahbana dan AmirHamzah mendirikanmajalah PujanggaBaru
yangmampumengumpulkanpenulispenulisdanpendukunglainnyadariseluruhpenjuruHindiaBelanda
untukmemulaisebuahpergerakan modernisme sastra.Salahsatukaryasastranyayangpalingterkenal
ialahnovelBelenggu(1940).

SetelahlulusELSdiBukittinggi,ArmijnPanemelanjutkanpendidikannyadi STOVIA,Jakarta
(1923)dan NIAS,Surabaya(1927)(STOVIAdanNIASadalahsekolahdokter),kemudianpindahke
AMSA di Solo (lulus pada 1931). Di AMS A1 (Algemene Middelbare School), ia belajar tentang
kesusastraandanmenulis,lulusdarijurusansastrabarat.

SebagaipelajardiSolo,iabergabungdenganorganisasipemudanasionalyakniIndonesiaMuda,
namunpolitiktampaknyakurangmenarikminatnyadaripadakesusasteraan.Saatituiamemulaikarirnya
sebagaipenulisdenganmenerbitkanbeberapapuisinasionalis,danduatahunkemudianmenjadisalah
seorangpendirimajalah
PujanggaBaru.
ArmijnPanepernahmenjadiwartawansuratkabarSoearaOemoemdiSurabaya(1932),mingguan
Penindjauan (1934),suratkabar BintangTimoer (1953),danmenjadi wartawan lepas.Iapunpernah
menjadigurudiTamanSiswadiberbagaikotadiJawaTimur.MenjelangkedatangantentaraJepang,ia
duduk sebagai redaktur Balai Pustaka. Pada zaman Jepang, Armijn bersama kakaknya Sanusi Pane,
bekerjadiKantorPusatKebudayaan(KeiminBunkaShidosho)danmenjadikepalabagianKesusasteraan
IndonesiaModern. Sesudah kemerdekaan, ia aktif dalam bidang organisasi kebudayaan. Ia pun aktif
dalamkongreskongreskebudayaandanpernahmenjadianggotapengurusharian BadanMusyawarah
Kebudayaan Nasional (BMKN) (19501955). Ia juga duduk sebagai pegawai tinggi Kementerian
PendidikandanKebudayaan(BagianBahasa)hinggapensiun.

Tahun1969ArmijnPanemenerimaAnugerahSenidaripemerintahRIkarenakaryadanjasanya
dalambidangsastra.PadabulanFebruari1970,beberapabulansetelahmenerimapenghargaantersebut,
iameninggal.

Selainmenulis puisi dan novel,ArmijnPanejugamenuliskritiksastra.Tulisantulisannyayang


terbitpadaPujanggaBaru,terutamadiedisiedisiawalmenunjukkanwawasannyayangsangatluasdan,
dibandingkandenganbeberapakontributorlainnyasepertiSutanTakdirAlisjahbanadansaudaralakilaki
Armijn, Sanusi Pane, kemampuan menilai dan menimbang yang adil dan tidak terlalu terpengaruhi
suasanapergerakan nasionalisme yangterutamadiperiodaakhirPujanggaBarumenjadisangatpolitis
dandikotomis.
BABII
KARYAYANGDIANALISIS

SinopsisNovelBelenggu

DokterSukartonodenganseorangperempuanberparasayu,pintar,sertalincah.Perempuanitu
bernamaSumartini ataupanggilannya Tini. Sebenarnya Dokter Sukartono atauTonotidakmencintai
Sumartini.Demikianpulasebaliknya,TinijugatidakmencintaiDokterSukartono.

Mereka berdua menikah dengan alasan masingmasing. Dokter Sukartono menikahi Sumartini
karena kecantian, kecerdasan, serta mendampinginya sebagai seorang dokter adalah Sumartini.
SedangkanSumartinimenikahiDokterSukartonokarenahendakmelupakanmasasilamnya.Menurutnya
denganmenikahiseorangdokter,makabesarkemungkinanbagidirinyauntukmelupakanmasalalunya
yangkelam.Jadi,keduanyatidaksalingmencintai.

Karenakeduanyatidaksalingmencintai,merekatidakpernahakur.Merekatidaksalingberbicara
dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak pernah dipecahkan bersamasama
sebagaimana layaknya suami istri. Masingmasing memecahkan masalahnya sendirisendiri. Itulah
sebabnyakeluargamerekatampakhambardantidakharmonis.Merekaseringsalahpahamdansuka
bertengakar.

KetidakharmonisankeluargamerekasemakinmenjadikarenaDokterSukartonosangatmencintai
danbertanggungjawabpenuhterhadappekerjaannya.Diabekerjatanpakenalwaktu.Jamberapasajaada
pasien yang membutuhkannya, dia dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan
kehidupanrumahtangganyasendiri.Daiseringmeninggalkannyaistrinyasendiriandirumah.Idabetul
betultidakmempunyaiwaktulagibagiistrinya,Tini.

DokterSukartonosangatdicintaiolehpasiennya.Diatidakhanyasukamenolongkapanpunpasien
yangmembutuhkanpertolongan,tetapiiajugaridakmemintabayarankepadapasienyangtakmampu.
Itulahsebabnya,diadikenalsebagidokteryangsangatdermawan.

KesibukanDokterSukartonoyangtakkenalwaktutersebutsemakinmemicupercekcokandalam
rumahtangga.MenurutSuamrtini,DokterSukartonosangategois.Sumartinimerasatelahdisepelekan
danmerasabosankarenaselaluditinggalkansuaminyayangselalusibukmenolongpasienpasiennya.Dia
merasadirinyatelahdilupakandanmerasabahwaderajatnyasebagaiseorangperempuantelahdiinjak
injaksebagaiseorangistri.Karenasuaminyatidakmampumemenuhihaksebagaiseorangistri.Karena
suaminyatidakmampumemenuhihaktersebut,makaSumartiniseringbertengkar.Hampirsetiaphari
merekabertengkar.Masingmasingtidakmaumengalahdanmerasapalingbenar.

Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang mengaku dirinya
sedangsakitkeras.WanitaitumemintaDokterSukartonodatangkehoteltempatdiamenginap.Dokter
Sukartono pun datang ke hotel tersebut. Setibanya di hotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang
memanggilnya adalah Yah atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih
bersekolahdiSekolahRakyat,Yahadalahtemansekelasnya.

PadasaatituYahsudahmenjadijanda.Diakorbankawinpaksa.Karenatidaktahanhidupdengan
suamipilihanorangtuanya,diamelarikandirikeJakartadiaterjunkedunianistadanmenjadiwanita
panggilan. Yah sebenarnya secara diamdiam sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering
menghayalkan Dokter Suartono sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter
Sukartono.Setelahmenemukannya,diamenghubungiDokterSukartonodenganberpurapurasakit.

KarenasangatmerindukanDokterSukartono,padasaatitujuga,Yahmenggodanya.Diasangat
mahirdalamhalmerayulakilakikarenapekerjaanitulahyangdilakukannyaselamadiJakarta.Pada
awalanyaDokterSukartonotidaktergodaakanrayuannya,namunkarenaYahseringmemintadiauntuk
mengobatinya, lama kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah
seringmemintadiauntukmengobatinya,lamakelamaanDokterSukartonomulaitergoda.Yahdapat
memberikanbanyakkasihsayangyangsangatdibutuhkanolehDokterSukartonoyangselamainitidak
diperolehdariistrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu bertengkar dengan
istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel tempat Yah menginap sebagai
rumahnyayangkedua.LamakelamaanhubunganYahdenganTonodiketahuiolehSumartini.Betapa
panas hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah. Dia ingin
melabrakwanitatersebut.SecaradiamdiamSumartinipergikehoteltempatYahmenginap.Diaberniat
hendakmemakiYahsebabtelahmengambildandanmenggangusuaminya.Akantetapi,setelahbertatap
mukadenganYah,perasaandendamnyamenjadiluluh.Kebenciandannafsuamarahnyatibatibalenyap.
Yahyangsebelumnyadianggapsebagaiwanitajalang,ternyatamerupakanseorangwanitayanglembut
danramah.TinimerasamalupadaYah.Diamerasabahwaselamainidiabersalahpadasuaminya.Dia
tidakdapatberlakusepertiYahyangsangatdidambakanolehsuaminya.

SepulangdaripertemuandenganYah,Tinimulaiberintropeksiterhadapdirinya.Diamerasamalu
danbersalahkepadasuaminya.Diamerasadirinyabelumpernahmemberikasihsayangyangtuluspada
suaminya.Selamainidiaselalukasarpadasuaminya.DiamerasatelahgagalmenjadiIstri.Akhirnya,dia
mutuskanuntukberpisahdenganSuaminya.

PermintaantersebutdenganberathatidipenuhiolehDokterSukartono.Bagaimanapun,diatidak
mengharapkanterjadinyaperceraian.DokterSukartonomemintamaafpadaistrinyadanberjanjiuntuk
mengubahsikapnya.Namun,keputusanistrinyasudahbulat.DokterSukartonotakmampumenahannya.
Akhirnyamerekabercerai.

BetapasedihhatiDokterSukartonoakibatperceraiantersebut.HatinyabertambahsedihsaatYah
juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang mengabarkan jika dia mencintai Dokter
Sukartono.DiaakanmeninggalkantanahairselamalamanyadanpergikeCalidonia.

Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke Surabaya. Dia
mengabdipadasebuahpantiasuhanyatimpiatu,sedangkanYahpergikenegeriCalidonia.
BABIII

PEMBAHASAN

CiriCiriAngkatanPujanggaBaru(19331942)

1.MenggunakanBahasaMelayukuat
a. Ketika mobil berhenti disisi tangga, seorang yang berpakaian uniform berdiri disisi mobil, sambil
mengangguk.
Ininomor45?tanyaAbdul,lalukeluar.
benar,nyonyaEnisudahmenunggu.(halaman20)
a.WaktumasihmenuntutpelajarandisekolahGeneeskundigeHoogeSchooldiBetawi,tiadasedikitkawan
kawandokterSukartonoyangmemastikan,diatiadaakansampaikeujianpenghabisan.Diatidakcakap
jadidokter,terlalusukaakanlagu,akanseni:pikirannyaterlalaubanyakterlalai,(halaman24)
b. NyonyaEni berhenti di hadapankamarnya,sambil hendakmasuk diamenolehkatanya:alangkah
sedapnyaTurenkePeriok?
c.Ya,benar,pikirSukartono,teringatakanwaktudahuluketikadiamasihsudent.(halaman30)
d. janganlahmerengut.Janganlahsusahkanpikiranmu:kalaudatangkesinitanggalkanlahpikiranmu.Di
luarmasihbanyakyangmestiengkaupikirkan.
benarYah,kalauakaudisini,dirumahmuini....
bukan,rumahkita......
.....yarumahkitaini,akutenang,hilangpikiranku,tapientahtimbuljugapikirankuyangsatuitujuga.
Dimanakahengkaukulihatdahulu?dipegangnyamukaYahdengankeduabelahtangannya.(halaman
37)
e.airmatayangmembendunghatikutelahmengalir......tidakkahengkauingatRohayah?
Kartonobangunberdirikarenaherannya:Rohayah,Rohayah!katanyaberulangulangseolaholah
menghapalkannamanegeri,hendakmengingatkanbarangapayangsudahdipelajarinyatentangnegeri
itu.
engkauRohayah?Rohayahkawankudahulu?(halaman51)
f. PuteriAminahberolokolok:Ah,rajinbenar,laluNyonyaRusdiodanTinidiberinyasalam,katanya
tersenyum:janganterlalurajin,Tini,nantikartonomarah.(halaman55)
g. Kataorangdahulumerekasepasang,sejodohbenarbenar,serasa.Kata,kataorang!Kataorangjuga
tiadabenar,asalberkatasaja,melihatdiluarnyasaja.(halaman71)
h.KepalaTonotunduk,terkulai,badannyatiadabergaya,sebagaianaktundukdihadapanbapaknya,yang
lagi marah. Lengan kemejanya tergulung, tangannya seolaholah patah disisi badannya. Matanya
memandangmandang,mulanyakelantai....asalsajajanganmelihatbadankecilyangtiadalagiberjiwa
diatastempattiduranakanak,pikirannuyaserasarasahendakmenutuptelinganyajanganmendengar
tangisibuyangmasihmuda,menelungkupdiatastubuhyangtelentangitu.(halaman76)
i. Kemudiandiasenangdapatkesempatanpergi.Diaditelefondimintadatang,adaorangsakit.Sehabis
menerimatelefonitudiamenghampirinyonyaSumarjo,hendakmintadiri.memangmenjadidokter
tidakenak,katanyamenyindir,seolaholahmenyambungpercakapantadinya,lagienakenakdengar
mainanistrisendiriterpaksapergi.(halaman93)
j. KarenaitudengangirangdisambutnyatawaranMardani,untukmemberiHartonomenumpangdulu
dirumahnya.(halaman103)
k. Tinimasuk......sudahditengahtengahruangtengah,diapunterkejutterpandangkepadaorangyang
duduk mengerjakapkanmata itu. Dada Tini turunnaik dengan keras, badannyaseolaholahhendak
jatuh,dipegangnyasandarankerosimejamakandenganduabelahtangannya,kemudianditekannya,
sebagaihendakmencarisandaranpadahatinyadiatunduk,mengamatamatiorangyangdudukitu,
sebagai..... anganangan, bayangbayang orang dalam anganangan. Sekejap kemudian, dia
memalingkan mata, lalau dipupusnya keningnya sebagai hendak menghapuskan pikiran yang
mengganggu,dipandangnyalagi,masihadajuga.Dihampirinyabeberapalangkah.(halaman117118)

2.UnsurIntrinsikNovelBelenggu

a.Tema
TemadalamnovelBelengguiniadalahkritiksosialdanpolitiktentangproblematikacintasegita.

b.Amanat

Dalamsebuahhubunganpercintaankitadituntutuntuksalingmenghormatidalamperselisihandanperang
kata,kitaharusbisalebihmenahandiridaripasangankita.

BagiIsterihormatidanlayanilahSuamidengantulusdanikhlasjanganterpaksadanlebihmengedepankan
ego.

Tidakpantaslahjikaseorangisteripergisesukahatitanpaizindansepengetahuansuami.

Tolongmenolongdansalingberbagidengansesamaharusdikedepankanuntukkerukunanbersama.

Sikapsalingpercaya,sabar,dansalingmenghargaibisamenjadipencegahperselingkuhan.

Seorangisteritidakbolehmelupakantugasutamanyadalamkeluargadanselalusibukdenganpekerjaan
luarnya, begitu juga seorang suami harus selalu mengedepankan kepentingan keluarga di banding
kepentinganpekerjaanataukepentinganlainnya.

Seorangperempuanharusbisamenjagadiridantidakterbawaarusglobalisasiyangsemakinpesat.

Sebaiknyajangansukamenggunjingapalagimasalahrumahtanggaoranglain.

Seharusnyadalamkehidupanberumahtanggaharusdidasarirasacintaantarpasangan

c.Alur

Alurpadanovelinimenggunakanalurmaju.

TahapPerkenalan

Tahapperkenalandimulaidenganpengenalantokohtokohnya.DokterSukartono,seorangdokteryang
sangatmencintaipekerjaannyasebagaidokteryangprofessionalkarenagiatdalambekerjadanramah
kepadapasienpasiennya.Diamenikahdenganseoranggadiscantikbernama(Sumartini).Tetapirumah
tangganya tidak harmonis karena sering beradu mulut.Dokter Sukartono sibuk dengan pekerjaannya,
sementara Sumartini hanya menjaga telpon dan menulis blocnote jika ada pasien yang meminta
pertolongansuaminya.DiperkenalkanpulaRohayahseorangwanitakorbankawinpaksadandiamenjadi
wanitapanggilan.(Belenggu,2006:1718)

TahapPerumitan/AwalMasalah
Dimulai saat Rohayah berpurapura sakit. Pada awalnya Rohayah terkenal dengan sebutan Ny. Eni,
karena ingin bertemu dengan Tono, dia berpurapura sakit dan meminta Dr. Sukartono untuk
memeriksanya. Saat itu dia tinggal disebuah hotel.
RohayahdanSukartonosemakinakrab,sehinggatimbuhlahperasaancintapadadiriSukartono.Rohayah
sebenarnyasudahlamamengenalSukartono,karenaSukartonoadalahtetangganyawaktumasihtinggal
diBandungdulu.Akhirnya,Yahmemberitahukanhalitu.Hubunganmerekasemakindekat,Tonosering
mengajakRohayahjalanjalan.PadawaktuitupulahubunganTonodanTinimulairenggang.Tonojarang
dirumah,Tinitakmengertimengapasuaminyaberubahsecepatitu.(Belenggu,2006:1878)

TahapKlimaks

Tahap ini dimulai ketika Tono semakin yakin Rohayah bisa memberikan kasih sayang yang
sesungguhnyadanselama ini belum didapatkannya dari isterinya. Tonomerasa tidak tentram berada
dirumahnya,dialebihmerasanyamandirumahYahdandiamenganggapRumahYahsebagairumah
keduanya. Hubungan gelap ini diketahui Tini. Sumartini merasa sangat marah mengetahui hubungan
mereka. Sumartini pun berangkat mencari kediaman Rohayah bermaksud memaki Rohayah dan
meluapkansemuakekesalannya.(Belenggu,2006:130)

TahapPeleraian

PeleraiandimulaiketikaTinisudahbertatapmukalangsungdenganRohayah.Diamerasasudahgagal
menjadiseorangisteri.(Belenggu,2006:133136)

TahapPenyelesaian

Tahap akhirnya ketika Sumartini merasa mantap untuk berpisah dengan Sukartono. Pada awalnya
Sukartonotidakmaumengabulkannya,karenaapapunyangterjadiTonotidakmauadaperceraiandalam
rumahtangganya.NamunTinitetapbersikeras.Akhirnyanerekasepakatuntukbercerai.HatiSumartono
sangat sakit karena perceraian tersebut. Hatinya semakin sakit setelah mengetahu Rohayah juga
meninggalkannya.TonodanTiniberpisah,merekatidakdapatmempertahankankehidupanrumahtangga
mereka, dan Yah pun pergi ke Kaledonia Baru meninggalkan Tono, orang yang dicintainya itu.
(Belenggu,2006:136150)

d.Sudutpandang
SudutpandangpadanovelBelenggu,sipenulisyaituArmijnPanetidakmenceritakantentangdirinya,
melainkan dia menceritakan orang lain. Bisa kita katakan, penulis berperan sebagai orang ketiga.
Pengarangtidakterlibatbaiksecaralangsungmaupuntidaklangsungdidalamceritaitu.

e.TokohdanKarakter

a.Tokohutama:

Sukartono: baik, sangat mencintai pekerjaannya, penyayang, sabar, dan penyuka lagu keroncong
terutamalaguyangdinyanyikanSitiHayati.

Sumartini:wanitamodern,mandiri,memilikiegoyangtinggi,dancepatgusar.

Rohayah:wanitayanglemahlembut,cerminanisteriidamanSukartono,danpenuhperhatian.

b.Tokohpendukung:

Karno,Aminah, NyonyaRusdio,Nyonya Sumarjo, Husin,Nyonya Padma, Mardani,Marlinah,Tuan


Sumardi,Kartini,Darusman,TuanAbdulKahar,Hartono,Abdul,Mangunsucipto

f.Latar

DalamromanBelengguyangtelahpenulisanalisis,terdapat3lataryaitu:
a.Lataralam,peristiwatempatkejadiannyaberadadiKotaJakarta.
b.Latarwaktu,peristiwaklimaksnyaterjadipadamalamhari.
c.Latarsosial,tempatperistiwaterjadinyaberadadilingkungankaumcendikiawanyakniseorangdokter.
d.Latarruang,tempatperistiwaterjadinyaberadadiruangtengahrumahTonodanTini.
3.UnsurEkstrinsikNovelBelenggu

a.Moral

Terdapat pesan moral yaitu dalam hubungan suami istri harus Saling merhormati dan menghargai
pasanganmasingmasing,janganpernahberkhianatterhadaporangyangtelahmemberikankasihsayang
yang tulus apalagi sudah diikat dengan sebuah pernikahan, karena dapat mengakibakan perselisihan,
perselingkuhan,kehancurandalamrumahtanggatersebut.

b.Agama

Seorangperempuan yang telahmenikah, itu harus bisa menjadikan suaminya sebagai pemimpin dan
imam dalam rumah tangga dan istri diharuskan menjalankan kodratnya sebagai ibu rumah tangga
meskipundiajuga bekerja, suami pun harus bisa membawa istrinya kejalanyang benar, tidak harus
bekerjaterusmenerus,danmeneguristridikaladiaberbuatsalah,jangandibiarkankarenaitupunbisa
menyebabkankehancuran,karenadidalamislamAllahtidaksukadenganperceraian.

c.Sosial

Pembelajarantentangkehidupanbermasyarakatdanberumahtangga.Karenaseseoranghanyamenilai
darikecantikantidakmelihattingkahlakunyaitu,karenaituasalmulatidakadarasakasihsayangyang
seberanya, sehingga akan memicu ketidak harmonisan di dalam rumah tangga tersebut, adanya rasa
percayasatusamalainsehinggatidakadahalyangditutupiantarasatusamalain,karenaakanmembuat
masalah besar. karena itu rasa memiliki dan perilaku sosial dengan orang lain itu akan membuat
komuniksaiantarasuamiistiribisaselalubaikdantakakanadamembuatrumahtanggatersebuthancur.

d.Adat

Jika suami pulang kerja, hendaknya istri menyambutnya, mempersilakan duduk, menganggalkan
sepatunya.

e.Etika

Kartono,seorangdokteryangselaluramahkepadasetiappasiennya.

4.Tema/Topik

Nasionalisme:

Sukartonosangatmencintaidanbertanggungjawabpenuhterhadappekerjaannyasebagaiseorangdokter.

SumartinitelahpergikeSurabaya.Diamengabdipadasebuahpantiasuhanyatimpiatu

5.PengaruhPengarangDunia

Menurut Bakri Siregar, seorang kritikus sastra Indonesia sosialis yang aktif dengan Lekra, Armijn
dipengaruhiteori SigmundFreud akan psikoanalisis;diamenulisbahwahalinipalingmenonjoldalam
tokoh Sumartini. Dua karya Armijn yang ditulis sebelumnya, "Barang Tiada Berharga" (1935) dan
"Lupa"(1936),mempunyaiaspekplotyangmiripdenganBelenggu.
BABIV

PENUTUP
Kesimpulan

SatuhalpengaruhdarimembacaRomanBelengguiniakanmelahirkansebuahopinidimasyarakat,
bahwaapabilasebuahkehidupanrumahtanggayanglahirdibangundaritiadanyarasasalingcintaantara
suamiistri,makakeluargatersebuttidakharmonisdanbahkanbisaterjadiperceraian.

Peristiwa bersejarah yang melatarbelakangi karyakarya sastra Angkatan Pujangga Baru adalah
SumpahPemuda.PeristiwainimerupakanhasilKongresPemudaIIyangdilaksanakandiJakarta,tanggal
2628 Okteber 1928. Sumpah pemuda yang menyatakan tekan kesatuan tanah air dan bangsa yaitu
Indonesia, serta menjungjung bahasa persatuan yaitu bahasa Indonesia. Secara tidak langsung juga
menghendaki kesatuan lain yaitu kesatuan kebudayaan nasional Indonesia. Sebagai konsekuensi dari
Sumpah Pemuda, sejumlah cendekiawan dan budayawan Indonesia terlibat dalam suatu polemik
mengenai bagaimana bentuk masyarakat Indonesia yang merdeka, kebudayaannya dan cara
menumbuhkannya.

PadamasakolonialBelanda,BalaiPustakabanyakmelakukansensoryangkerasterhadapkarya
karyaintelektualsastrawankita.BanyaktulisandankaryayangditolakolehredaksiBalaiPustakadan
tidakbolehditerbitkan.SalahsatukorbanyaadalahnovelBelenggukaryaArmijnPane.Noveltersebut
baruditerbitkansetelahmunculnyamajalahPujanggaBaru(1933).

SetelahkitamembacaRomanBelenggu,karanganArmijnPaneini,akandiperolehpengalaman
pengalamanyangakanberdampakbagikejiwaanseseorangdandapatsebagaibahanpembelajaranbagi
PembacaKaryaSastraini.

Halinilahyangditakutkandalamkehidupansesorang,manakalamembangunrumahtanggatanpa
didasari cinta antara suami isteri.
Karenatidaksalingmencintai,merekatidakpernahakur,tidaksalingberbicaradanbertukarpikiran.
Masalahyangmerekahadapitidakpernahdipecahkanbersamasamasebagaimanalayaknyasuamiistri.
Masingmasingmemecahkanmasalahnyasendirisendiri,seringsalahpahamdansukarbertengkar.

Itulahsebabnya,banyakdimasyarakatuntukmenghidarikawinpaksa,kawinkarenadijodohkan
dankawintanpadasarcinta.Karenakalauperkawinantanpadasarcintaakanmembentukkeluargayang
tidakharmonisdantidakbahagia.Danorangakanmenghindarihalinisejauhjauhnya.
DAFTARPUSTAKA

Shomary,Sudirman.2012,SejarahSastraIndonesia,IlmuSastradanPeriodesasiSastra.Pekanbaru:Universitas
IslamRiauPers.

http://loekmanalhakim.blogspot.com/2012/12/analisisstilistikanovelbelenggu.html

http://seketsaburam.wordpress.com/2012/02/03/novelbelenggu/

http://ishakirei.blog

PERIODE TAHUN 30 ANGKATAN PUJANGGA BARU

I.LATAR BELAKANG

Nama Pujangga Baru mempunyai dua pengertian,yang satu dan yang lain erat
hubungannya.dua pengertian itu adalah:

1.Pujangga Baru sebagai ama majalah dan

2.sebagai nama angkatan dalam Sastra Indonesia.

Pujangga Baru sebagai nama majalah mengalami dua periode penerbitan,yaitu:

1.Pujangga Baru sebelum perang (Juli 1933-Maret 1942) dan

2.Pujangga Baru sesudah perang (Maret 1948-Maret 1953).


Majalah Pujangga Baru terbitan pertam (Juli 1933) dipimpin oleh Armijn Pane
dan Sutan Takdir Alisjahbana.Pada terbitan nomor-nomor berikutnya Sutan Takdir
Alisjahbana selalu duduk dalam pimpinan,sedangkan beberrapa pengarang yang
pernah duduk sebagai sekretaris redaksinya yang penting ialah Armijn Pane,W.J.S
Purwadarminta,dan H.B. Jassin.

Majalah Pujangga Baru,terutama periode sebelum perang adalah pembawa


suara dan semangat dari Angkatan Pujangga Baru.Cita-cita,konsepsi,dan pikiran-
pikiran yang berkembang pada angkatan itu sebagian besar tercermin pada
majalah Pujangga Baru.Untuk mendapatkan gambaran perkembangan majalah itu
dan persoalan pokok yang menjadi perhatian angkatan Pujangga Baru dapat dilihat
dari subjudul majalah tersebut.

Tahun pertama :Majalah kesusastraan dan bahasa sastra kebudayaan umum.

Tahun kedua :Majalah bulanan kesusastraaan dan bahasa serta seni dan kebudayaan.

hun ketiga :Pembawa semangat baru dalam kesusastraan, seni kebudayaan ,dan persoalan
umum.

Dari perkembangan perubahan subjudul itu jelas bahwa sifat dan perhatian majalah
itu sebagai pembawa suara Angkatan Pujangga Baru makin luas dan makin tegas.
Subjudul pada majalah periode sesudah perang cukup singkat, yaitu majalah
kebudayaan; karena memang majalah itu tidak lagi berperan sebagai pembawa
suatu angkatan.

II.KARAKTERISTIK ANGKATAN PUJANGGA BARU

1.Tema pokok cerita pada umumnya bukan lagi berkisar pada masalah kawin paksa
atau masalah adat yang hidup di daerah-daerah,melainkan masalah kehidupan kota
atau kehidupan masyarakat modern,misalnya masalah perubahan (Manusia Baru
Sanusi Pane); masalah wanita (Layar terkembang Sutan T.Alisjahbana) masalah
kedudukan suami istri dalam hidup berumah tangga (Belenggu Armijn Pane); dan
sebagainya.

2.Sudah jelas mengandung napas kebangsaan atau unsure nasionalitas,baik


karangan yang berbentuk prosa maupun yang berbentuk puisi.

3.Memiliki kebebasan dalam menentukan bentuk pengucapan sesuai dengan


pribadinya. Angkatan Pujangga Baru melepaskan diri dari ikatan bentuk-bentuk
tradisi lama dan juga merasa tidak terikat oleh syarat-syarat yang ditentukan oleh
pihak penguasa.

4.Bahasa sastra Pujangga Baru sudah menggunakan bahasa Indonesia.


5.Baik prosa maupun puisinya sebagian besar mengandung suasana
romantic,bahkan sering dikatakan romantic idealistic.

6.Mulai dipengaruhi sastra lain,terutama dari angkatan 80 di negeri Belanda.

III.PARA PENGARANG dan KARYANYA

1.Sutan Takdir Alisjahbana

Lahir di Natal (Tapanuli) tanggal 11 Februari 1908. Setelah menamatkan HIS di


Bengkulu ia memasuki Kweekschool di Bukitinggi dan kemudian HKS di Bandung.
Setelah itu ia belajar untuk Hoof Dacte di Jakarta dan juga belajar pada Sekolah
Hakim Tinggi. Selain itu belajar pula tentang filsafat dan kebudayaan pada Fakultas
sastra. Pendidikan yang beraneka ragam yang pernah dialaminya serta cita-cita dan
keinginan yang keras itu, menyebabkan keahlian yang bermacam-macam pula pada
dirinya. Karangannya mempunyai bahasa yang sederhana tetapi tepat. Karya-
karyanya antara lain:

a. Tak Putus Dirundung Malang (roman, 1929)


b. Dian Tak Kunjung Padam (roman, 1932)
c. Anak Perawan Disarang Penyamun (roman, 1941)
d. Layar Terkembang (roman tendenz, 1936)
e. Tebaran Mega (kumpulan puisi/prosa lirik, 1936)
f. Melawat Ke Tanah Sriwijaya (kisah, 1931/1952)
g. Puisi Lama (1942)
h. Puisi Baru (1946)
i. Nelayan Lautan Utara (terjemahan dari Pecheurs dInslande)
j. Nyanyi Hidup (terjemahan dari The Song Of Life)

2. Amir Hamzah

Amir Hamzah yang bergelar Pangeran Indera Putra, lahir pada 28 Februari
1911 di Tanjungpura (Langkat), dan meninggal pada bulan Maret 1946. Ia keturunan
bangsawan, kemenakan dan menantu Sultan Langkat, serta hidup ditengah-tengah
keluarga yang taat beragama Islam. Ia mengunjungi HIS di Tanjungpura, Mulo di
Medan, dan Jakarta AMS, AI (bagian Sastra Timur) di Solo. Ia menuntut ilmu pada
Sekolah Hakim Tinggi sampai kandidat. Amir Hamzah lebih banyak mengubah puisi
sehingga mendapat sebutan Raja Penyair Pujangga Baru. Karya-karyanya antara
lain:

a. Nyanyi Sunyi (kumpulan sajak, 1937)


b. Buah Rindu (kumpulan sajak, 1941)

c. Setanggi Timur (kumpulan sajak, 1939)


d. Bhagawad Gita (terjemahan salah satu bagian mahabarata)

3. Sanusi Pane

Sanusi Pane lahir di Muara Sipongi, 14 November 1905. Ia mengunjungi SR di


Padang Sidempuan, Sibolga, dan Tanjungbalai, kemudian HIS Adabiyah di Padang,
dan melanjutkan pelajarannya ke Mulo Padang dan Jakarta, serta pendidikannya
pada Kweekschool Gunung Sahari Jakarata pada tahun 1925. Pada tahun 1928, ia
pergi ke India untuk memperdalam pengetahuannya tentang kebudayaan India.
Sekembalinya dari India ia memimpin majalah Timbul. Di samping sebagai guru
pada Perguruan Jakarta, ia menjabat pemimpin surat kabar Kebangunan dan kepala
pengarang Balai Pustaka sampai tahun 1941. Pada jaman pendududkan Jepang
menjadi pegawai tinggi Pusat Kebudayaan Jakarta dan kemudian bekerja pada
Jawatan Pendidikan Masyarakat di Jakarta. Karya-karyanya antara lain:

a. Pancaran Cinta (kumpulan prosa lirik, 1926)


b. Puspa Mega (kumpulan puisi, 1927)
c. Madah Kelana (kumpulan puisi, 1931)
d. Kertajaya (sandiwara, 1932)
e. Sandyakalaning Majapahit (sandiwara, 1933)
f. Manusia Baru (Sandiwara, 1940)

4. Muhamad Yamin, SH.

Prof. Muhammad Yamin, SH. dilahirkan di Sawahlunto, Sumbar, 23 agustus


1905. Setelah menamatkan Volkschool, HIS dan Normaalschool, ia mengunjungi
sekolah-sekolah vak seperti sekolah pertanian dan peternakan di Bogor. Kemudian
menamatkan AMS di Jogyakarta pada tahun 1927. Akhirnya ia memasuki Sekolah
Hakim di Jakarta hingga bergelar pada tahun 1932. Pekerjaan dan keahlian Yamin
beraneka ragam, lebih-lebih setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, ia memegang
jabatan-jabatan penting dalam kenegaraan hingga akhir hayatnya (26 Oktober
1962). Ia pun tidak pernah absen dalam revolusi.

Karya-karyanya antara lain:


a. Tanah Air (kumpulan puisi, 1922)
b. Indonesia Tumpah Darahku (kumpulan puisi, 1928)

c. Menanti Surat dari Raja (sandiwara, terjemahan Rabindranath Tagore)

d. Di Dalam dan Di Luar Lingkungan Rumah Tangga (Terjemahan dari Rabindranath


Tagore)
e. Ken Arok dan Ken Dedes (sandiwara, 1934)
f. Gajah Mada (roman sejarah, 1934)
g. Dipenogoro (roman sejarah, 1950)
h. Julius Caesar (terjemahan dari karya Shakespeare)
i. 6000 Tahun Sang Merah Putih (1954)
j. Tan Malaka (1945)
k. Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (sandiwara, 1957)

5. J.E. Tatengkeng

Lahir di Kalongan, Sangihe, 19 Oktober 1907. Pendidikannya dimulai dari SD


kemudian pindah ke HIS Tahuna. Kemudian pindah ke Bandung, lalu ke KHS Kristen
di Solo. Ia pernah menjadi kepala NS Tahuna pada tahun 1947. Karya-karyanya
bercorak religius. Dia juga sering melukiskan Tuhan yang bersifat Universal.
Karyanya antara lain Rindu Dendam (kumpulan sajak, 1934).

6. Hamka

Hamka adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Ia lahir di
Maninjau, Sumatera Barat, 16 Februari 1908. Dia putera Dr. H. Abdul Karim
Amrullah, seorang teolog Islam serta pelopor pergerakan berhaluan Islam modern
dan tokoh yang ingin membersihkan agama Islam dari khurafat dan bidah.
Pendidikan Hamka hanya sampai kelas dua SD, kemudian mengaji di langgar dan
madsrasah. Ia pernah mendapat didikan dan bimbingan dari H.O.S Tjokroaminoto.
Prosa Hamka bernafaskan religius menurut konsepsi Islam. Ia pujangga Islam yang
produktif.

Karyanya antara lain:

a. Di Bawah Lindungan Kabah (1938)


b. Di Dalam Lembah kehidupan (kumpulan cerpen, 1941)
c. Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (roman, 1939)
d. Kenang-Kenangan Hidup (autobiografi, 1951)
e. Ayahku (biografi)
f. Karena Fitnah (roman, 1938)
g. Merantau ke Deli (kisah;1939)
h. Tuan Direktur (1939)
i. Menunggu Beduk Berbunyi (roman, 1950)

j. Keadilan Illhi

k. Lembaga Budi
l. Lembaga Hidup
m. Revolusi Agama

7. Armijn Pane

Armijn Pane adalah adik dari Sanusi Pane. Lahir di Muarasipongi, Tapanuli
Selatan, 18 Agustus 1908. Ia berpendidikan HIS, ELS, Stofia Jakarta pada tahun
1923, dan pindah ke Nias, Surabaya, dan menamatkan di Solo. Kemudian menjadi
guru bahasa dan sejarah di Kediri dan Jakarta serta pada tahun 1936 bekerja di
Balai Pustaka. Pada masa pendudukan Jepang menjadi Kepala Bagian Kesusastraan
di Kantor Pusat Kebudayaan Jakarta, serta memimpin majalah Kebudayaan Timur.

Karyanya antara lain:

a. Belenggu (roman jiwa, 1940)


b. Kisah Antara Manusia (kumpulan cerita pendek, 1953)

c. Nyai Lenggang Kencana (sandiwara, 1937)

d. Jiwa Berjiwa (kumpulan sajak, 1939)


e. Ratna (sandiwara, 1943)
f. Lukisan Masa (sandiwara, 1957)
g. Habis Gelap Terbitlah Terang (uraian dan terjemahan surat-surat R.A Kartini, 1938)

8.Rustam Effendi

Lahir di Padang, 18 Mei 1905. Dia aktif dalam bidang politik serta pernah

menjadi anggota Majelis Perwakilan Belanda sebagai utusan Partai Komunis. Dalam
karyanya banyak dipengaruhi oleh bahasa daerahnya, juga sering mencari istilah-
istilah dari Bahasa Arab dan Sansakerta. Karyanya antara lain:

a. Percikan Permenungan (kumpulan sajak, 1922)


b. Bebasari (sandiwara bersajak, 1922)

9. Hasjmy

A. Hasjmy nama sebenarnya adalah Muhammad Ali Hasjmy. Lahir di


Seulimeun, Aceh, 28 Maret 1912. Ia berpendidikan SR dan Madrasah Pendidkan
Islam. Pada tahun 1936 menjadi guru di Perguruan Islam Seulimeun.

Karya-karyanya antara lain:

a. Kisah Seorang Pengembara (kumpulan sajak, 1936)


b. Dewan Sajak (kumpulan sajak, 1940)

10. Imam Supardi

Karya-karyanya antara lain:

a. Kintamani (roman)
b. Wishnu Wardhana (drama, 1937)

11.M.R. Dajoh
Marius Ramis Dajoh lahir di Airmadidi, Minahasa, 2 November 1909. Ia

berpendidikan SR, HIS Sirmadidi, HKS Bandung, dan Normaalcursus di Malang. Pada
masa Jepang menjabatat kepala bagian sandiwara di kantor Pusat Kebudayaan.
Kemudian pindah ke Radio Makasar. Dalam karya Prosanya sering menggambarkan
pahlawanpahlawan

yang berani, sedang dalam puisinya sering meratapi kesengsaraan masyarakat.

Karyanya antara lain:

a. Pahlawan Minahasa (roman; 1935)


b. Peperangan Orang Minahasa dengan Orang Spanyol (roman, 1931)
c. Syair Untuk Aih (sajaka, 1935)

12. Ipih

Ipih atau H.R. adalah nama samaran dari Asmara Hadi. Dia lahir di Talo,

Bengkulu, tanggal 5 September 1914. Pendidikannya di HIS Bengkulu, Mulo Jakarta,


Bandung serta Mulo Taman Siswa Bandung. Lebih dari setahun ia ikut dengan Ir.
Soekarno di Endeh. Setelah menjadi guru, ia menjadi wartawan dan pernah
memimpin harian Pikiran Rakyat di Bandung. Dalam karyanya terbayang semangat
gembira dengan napas kebangsaan dan perjuangan. Karya-karyanya antara lain:

a. Di Dalam Lingkungan Kawat Berduri (catatan, 1941)


b. Sajak-sajak dalam majalah

Sastrawan dan penyair lainnya dari angkatan Pujangga Baru:

13. Mozasa, singkatan dari Mohamad Zain Saidi

14. Yogi, nama samaran A. Rivai, kumpulan sajaknya Puspa Aneka

15. A.M. DG. Myala, nama sebenarnya A.M Tahir

16. Intojo alias Rhamedin Or Mandank

IV.ANALISIS KARAKTERISTIK KARYA SASTRA

A. Novel Belenggu karya Armijn Pane


1.Sudah menggunakan bahasa Indonesia (Belenggu-Armijn Pane)

Bukti:

Ingatanya melayang lagi ke rumah yang baru dikunjunginya. Perempuan


tambun,tegap sikapnya,di kepalanya seolah-olah kembang melati putih,karena
rambutnya yang sudah beruban itu. Dia ramah tamah. Sudah dua kali dokter
Sukartono ke sana akan melihat cucunya yang sedang sakit. Kedua-dua kalinya ia
disambut orang tua itu dengan ramahnya.

Tenang dan damai rasa hati dokter Sukartono disambut oleh orang tua itu. Sehabis
memeriksa orang sakit.dokter Sukartono biasa duduk sebentar bercakap-
cakap.tetapi di rumah orang tua itu dia duduk sebentar,bukan saja karena hendak
menyenangkan hati keluarga serumah,melainkan karena senang duduk berdekatan
dengan orang tua itu,mendengar cakapnya.(hal.16)

2. Mengandung unsur romantisme (akibat pengaruh angkatan 80


an)

Bukti:

Kartono terlalu kasih akan daku,dia tiada dapat marah, katanya menembakkan
panahnya. Sehabis mengucapkan kalimat itu ia menyesal,terlintas sekejap daam
hatinya, dijelingnya muka Aminah,hendak tahu adakah dia mengerti. Senang juga
hatinya melihat Aminah kena panah sindirannya, yang sambil memanah hatinya
sendiri, tetapi tiada diketahui oleh Aminah,tiada maklum panah itu bertimbal balik.
(hal.52)

3.Mengandung unsur nasionalisme

Bukti :

Orang yang tajam tiliknya, kalau berkenalan dengan Mangunsucipto, tentulah


merasa, bagi Mangunsucipto berhenti,sejarah seolah-olah berhenti,sedang sejarah
dan zaman terus berjalan,tapi dia tiada sadar akan hal itu. Mangunsucipto turunan
bangsawan, mendapat pelajaran di sekolah H.B.S sampai tamat pada waktu itu
belum banyak anak Indonesia keluaran H.B.S. Di masa mudanya Mangunsucipto
menjadi anggota Budi Utomo yang terkemuka juga. Dalam tahun 1917 Budi Utomo
menetapkan program politik lalu turut dengan pemilihan volksraad. Didalam zaman
itu semangat rusuh, lambat laun kedalam Budi Utomo masuk semangat kiri. Lain
dari pada itu macam anggota berubah. Dulu anggota Budi Utomo kaum bangsawan
belaka, kaum ning ningrat, tapi sejak tahun 1919 anggotanya banyak dari lapisan
bawah. Hal yang demikian menyolok mata kaum intelek dan kaum ningrat. Lagi
pula mereka suka, kalau tujuan perhimpunan itu tetap kerjawaan, demikian juga
dalam pengajaran. (hal.123)

4.Temanya pokok cerita pada umumnya bukan lagi berkisar pada


masalah kawin paksa/adat yang hidup di daerah,melainkan masalah
kehidupan kota atau masyarakat modern.

Tema Novel Belenggu : mengangkat tema yang pada saat itu terbilang tabu,
yakni masalah perselingkuhan dalam keluarga.

Bukti :

Pada ketika yang demikian,tangan kartono mengapus-apus kepala Yah,tahulah


kartono,dia tiada akan meninggalkan Yah,tiada akan sampai hatinya meninggalkan
dia sebatang kara,di lautan kehidupan yang banyak bencana ini,membiarkan dia
lagi mengalami yang sudah di alaminya yang rupanya sangat membekas dalam
hatinya.

Analisis intrinsik Novel Belenggu

Tokoh dan penokohan:

1.Dokter Sukartono (Tono):

seorang dokter yang sangat mencintai pekerjaannya dan memiliki kepedulian


kemanusiaan yang cukup tinggi,tetapi dia tega menelantarkan istrinya.
Bukti :

Patient patient selamanya patient,istrinya terlantar,tidak malu engkau istrimu


sendirian pulang? (hal : 35).

2.Sumartini (Tini):

Dia merasa di telantarkan bertubuh cantik dan pandai memakai sembarang


pakaian.

Bukti :

Terbit nafsunya menghampiri istrinya,hendak di ciumnya seperti dahulu,tapi


tampak olehnya Tini diam saja,tiada tanda mengajak sedikit jua,dia tiada perduli.Di
amatinya sebentar badan yang terlentang itu molek,karena suka sport
dahulu.Sambil menuju ke kursinya dia berpikir : Badannya masih cantik. Memang
Tini cantik,pandai memakai sembarang pakaian.(hal : 57).

3.Nyonya Eni, alias Siti Rohayah (Yah), alias Siti Hayati.

Teman Tono yang diam=diam mencintinya.

Bukti :

Yah tersenyum : Dalam mimpiku,dalam anganku,sudah ku gambarkan pertemuan


yang begini.Percayalah,Tono ku cinta.

(hal ; 38)
LAMPIRAN I

SINOPSIS NOVEL BELENGGU KARYA ARMIJN PANE

Dokter Sukartono dengan seorang perempuan berparas ayu, pintar, serta lincah.
Perempuan itu bernama Sumartini atau panggilannya Tini. Sebenarnya Dokter
Sukartono atau Tono tidak mencintai Sumartini. Demikian pula sebaliknya, Tini juga
tidak mencintai Dokter Sukartono.
Mereka berdua menikah dengan alasan masing-masing. Dokter Sukartono menikahi
Sumartini karena kecantikan, kecerdasan, serta mendampinginya, sebagai seorang
dokter adalah Sumartini. Sedangkan Sumartini menikahi Dokter Sukartono karena
hendak melupakan masa silamnya. Menurutnya dengan menikahi seorang dokter,
maka besar kemungkinan bagi dirinya untuk melupakan masa lalunya yang kelam.
Jadi, keduanya tidak saling mencintai.
Karena keduanya tidak saling mencintai, mereka tidak pernah akur. Mereka tidak
saling berbicara dan saling bertukar pikiran. Masalah yang mereka hadapi tidak
pernah dipecahkan bersama-sama sebagaimana layaknya suami istri. Masing-
masing memecahkan masalahnya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya keluarga mereka
tampak hambar dan tidak harmonis. Mereka sering salah paham dan suka
bertengakar.
Ketidakharmonisan keluarga mereka semakin menjadi karena Dokter Sukartono
sangat mencintai dan bertanggung jawab penuh terhadap pekerjaannya. Dia
bekerja tanpa kenal waktu. Jam berapa saja ada pasien yang membutuhkannya, dia
dengan sigap berusaha membantunya. Akibatnya, dia melupakan kehidupan rumah
tangganya sendiri. Dai sering meninggalkannya istrinya sendirian dirumah. Ida
betul-betul tidak mempunyai waktu lagi bagi istrinya, Tini.
Dokter Sukartono sangat dicintai oleh pasiennya. Dia tidak hanya suka menolong
kapan pun pasien yang membutuhkan pertolongan, tetapi ia juga ridak meminta
bayaran kepada pasien yang tak mampu. Itulah sebabnya, dia dikenal sebagi dokter
yang sangat dermawan.
Kesibukan Dokter Sukartono yang tak kenal waktu tersebut semakin memicu
percekcokan dalam rumah tangga. Menurut Suamrtini, Dokter Sukartono sangat
egois. Sumartini merasa telah disepelekan dan merasa bosan karena selalu
ditinggalkan suaminya yang selalu sibuk menolong pasien-pasiennya. Dia merasa
dirinya telah dilupakan dan merasa bahwa derajatnya sebagai seorang perempuan
telah diinjak-injak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi
hak sebagai seorang istri. Karena suaminya tidak mampu memenuhi hak tersebut,
maka Sumartini sering bertengkat. Hampir setiap hari mereka bertengkat. Masing-
masing tidak mau mengalah dan merasa paling benar.
Suatu hari Dokter Sukartono mendapat panggilan dari seorang wanita yang
mengaku dirinya sedang sakit keras. Wanita itu meminta Dokter Sukartono datang
kehotel tempat dia menginap. Dokter Sukartono pun datang ke hotel tersebut.
Setibanya dihotel, dia merasa terkejut sebab pasien yang memanggilnya adalah Yah
atau Rohayah, wanita yang telah dikenalnya sejak kecil. Sewaktu masih bersekolah
di Sekolah Rakyat, Yah adalah teman sekelasnya.
Pada saat itu Yah sudah menjadi janda. Dia korban kawin paksa. Karena tidak tahan
hidup dengan suami pilihan orang tuanya, dia melarikan diri ke Jakarta dia terjun
kedunia nista dan menjadi wanita panggilan. Yah sebenarnya secara diam-diam
sudah lama mencintai Dokter Sukartono. Dia sering menghayalkan Dokter Suartono
sebagai suaminya. Itulah sebabnya, dia mencari alamat Dokter Sukartono. Setelah
menemukannya, dia menghubungi Dokter Sukartono dengan berpura-pura sakit.
Karena sangat merindukan Dokter Sukartono, pada saat itu juga, Yah menggodanya.
Dia sangat mahr dalam hal merayu laki-laki karena pekerjaan itulah yang
dilakukannya selama di Jakarta. Pada awalanya Dokter Sukartono tidak tergoda
akan rayuannya, namun karena Yah sering meminta dia untuk mengobatinya, lama
kelamaan Dokter Sukartono mulai tergoda akan rayuannya, namun karena Yah
sering meminta dia untuk mengobatinya, lama-kelamaan Dokter Sukartono mulai
tergoda. Yah dapat memberikan banyak kasih sayang yang sangat dibutuhkan oleh
Dokter Sukartono yang selama ini tidak diperoleh dari istrinya.
Karena Dokter Sukartono tidak pernah merasakan ketentraman dan selalu
bertengkar dengan istrinya, dia sering mengunjungi Yah. Dia mulai merasakan hotel
tempat Yah menginap sebagai rumahnya yang kedua.
Lama-kelamaan hubungan Yah dengan Tono diketahui oleh Sumartini. Betapa panas
hatinya ketika mengethui hubungan gelap suaminya dengan wanita bernama Yah.
Dia ingin melabrak wanita tersebut. Secara diam-diam Sumartini pergi kehotel
tempat Yah menginap. Dia berniat hendak memaki Yah sebab telah mengambil dan
dan menggangu suaminya. Akan tetapi, setelah bertatap muka dengan Yah,
perasaan dendamnya menjadi luluh. Kebencian dan nafsu amarahnya tiba-tiba
lenyap. Yah yang sebelumnya dianggap sebagai wanita jalang, ternyata merupakan
seorang wanita yang lembut dan ramah. Tini merasa malu pada Yah. Dia merasa
bahwa selama ini dia bersalah pada suaminya. Dia tidak dapat berlaku seperti Yah
yang sangat didambakan oleh suaminya.
Sepulang dari pertemuan dengan Yah, Tini mulai berintropeksi terhadap dirinya. Dia
merasa malu dan bersalah kepada suaminya. Dia merasa dirinya belum pernah
memberi kasih sayang yang tulus pada suaminya. Selama ini dia selalu kasar pada
suaminya. Dia merasa telah gagal menjadi Istri. Akhirnya, dia mutuskan untuk
berpisah dengan Suaminya.
Permintaan tersebut dengan berat hati dipenuhi oleh Dokter Sukartono.
Bagaimanapun, dia tidak mengharapkan terjadinya perceraian. Dokter Sukartono
meminta maaf pada istrinya dan berjanji untuk mengubah sikapnya. Namun,
keputusan istrinya sudah bulat. Dokter Sukartono tak mampu menahannya.
Akhirnya mereka bercerai.
Betapa sedih hati Dokter Sukartono akibat perceraian tersebut. Hatinya bertambah
sedih saat Yah juga pergi. Yah hanya meninggalkan sepucuk surat yang
mengabarkan jika dia mencintai Dokter Sukartono. Dia akan meninggalkan tanah air
selama-lamanya dan pergi ke Calidonia.
Dokter Sukartono merasa sedih dalam kesendiriannya. Sumartini telah pergi ke
Surabaya. Dia mengabdi pada sebuah panti asuhan yatim piatu, sedangkan Yah
pergi ke negeri Calidonia.
ANALISIS PUISI KERANA KASIHMU dan TETAPI AKU KARYA AMIR HAMZAH

1.Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi

Bukti:

KERANA KASIHMU

Kerana kasihmu

Engkau tentukan

sehari lima kali kita bertemu

Aku inginkan rupamu

kulebihi sekali

sebelum cuaca menali sutera

2.Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah
baris, suku kata, maupun rima

Bukti :

Kerana kasihmu

Engkau tentukan

sehari lima kali kita bertemu


Aku inginkan rupamu

kulebihi sekali

sebelum cuaca menali sutera

Berulang-ulang kuintai-intai

terus menerus kurasa-rasakan

sampai sekarang tiada tercapai

hasrat sukma idaman badan

Pujiku dikau laguan kawi

datang turun dari datukku

di hujung lidah engkau letakkan

piatu teruna di tengah gembala

Sunyi sepi pitunang poyang

tidak merentak dendang dambaku

layang lagu tiada melangsing

haram gemercing genta rebana

3. Persajakan (rima) merupakan salah satu sarana kepuitisan


utama,
TETEPI AKU (Amir Hamzah)

Tersapu sutera pigura

dengan nilam hitam kelam

berpadaman lentera alit

beratus ribu di atas langit

Seketika sekejap mata

segala ada menekan dada

nafas nipis berlindung guring

mati suara dunia cahaya

Gugur badanku lemah

mati api di dalam hati

terhenti dawai pesawat diriku

Tersungkum sujud mencium tanah

4.Pilihan kata-katanya diwarnai dengan kata-kata yang indah

Bukti:

(KERANA KASIHMU)

Pujiku dikau laguan kawi

datang turun dari datukku


di hujung lidah engkau letakkan

piatu teruna di tengah gembala

Sunyi sepi pitunang poyang

tidak merentak dendang dambaku

layang lagu tiada melangsing

haram gemercing genta rebana

Hatiku, hatiku

hatiku sayang tiada bahagia

hatiku kecil berduka raya

hilang ia yang dilihatnya.

LAMPIRAN 2

PUISI KARYA AMIR HAMZAH

KERANA KASIHMU

Kerana kasihmu

Engkau tentukan

sehari lima kali kita bertemu


Aku inginkan rupamu

kulebihi sekali

sebelum cuaca menali sutera

Berulang-ulang kuintai-intai

terus menerus kurasa-rasakan

sampai sekarang tiada tercapai

hasrat sukma idaman badan

Pujiku dikau laguan kawi

datang turun dari datukku

di hujung lidah engkau letakkan

piatu teruna di tengah gembala

Sunyi sepi pitunang poyang

tidak merentak dendang dambaku

layang lagu tiada melangsing

haram gemercing genta rebana

Hatiku, hatiku

hatiku sayang tiada bahagia

hatiku kecil berduka raya

hilang ia yang dilihatnya.


Amir Hamzah

TETEPI AKU

Tersapu sutera pigura

dengan nilam hitam kelam

berpadaman lentera alit

beratus ribu di atas langit

Seketika sekejap mata

segala ada menekan dada

nafas nipis berlindung guring

mati suara dunia cahaya

Gugur badanku lemah

mati api di dalam hati

terhenti dawai pesawat diriku

Tersungkum sujud mencium tanah

Cahaya suci riwarna pelangi


harum sekuntum bunga rahsia

menyinggung daku terhantar sunyi

seperti hauri dengan kapaknya

Rupanya ia mutiara jiwaku

yang kuselami di lautan rasa

Gewang canggainya menyentuh rindu

tetapi aku tiada merasa...

Amir hamzah
LAMPIRAN 3

DRAMA ANGKATAN 30 an

Damarwulan

Posted on September 4, 2010 by galery80

Sandhyakala ning Majapahit oleh Sanoesi Pane

Sandhyakala ning Majapahit merupakan sebuah drama yang ditulis berdasarkan


cerita karya sejarah (tentang Kerajaan Majapahit) . Pada bagian awal, yaitu bagian
Kata Bermula diungkapkan bahwa cerita tersebut ditulis berdasarkan berita dalam
Serat Kanda, Damar Wulan, Pararaton, dan Nagarakrtagama. diterbitkan untuk
pertama kalinya oleh Pustaka Jaya, Yayasan Jaya Raya, tahun 1971.
Cerita drama SNM ini terdiri atas pengantar cerita (Kata Bermula) dan lima bagian
(babak).
Kata bermula berisi tentang doa kepada Syiwabudha, agar lakon yang
dipersembahkan itu berjalan dengan selamat. Selain itu, diceritakan pula asal
(sumber) cerita, siapa tokoh Damar Wulan itu, dan harapan pujangga kepada
generasi berikutnya untuk membuat naskah drama yang lebih baik.

Drama ini berkisah tentang tokoh Damar Wulan yang bergelar Raden Gajah,
seorang pahlawan di Kerajaan Majapahit, yang kemudian dihukum mati karena
dituduh ingin menguasai kerajaan. Ia adalah putra dari Patih Udara dan Nawangsasi,
dan keponakan dari Patih Majapahit. Di dalam diri Damar Wulan mengalir dua bakat,
yaitu bakat seorang pendita dan bakat seorang kesatria. Kedua bakat itulah yang
membuat tokoh utama dalam SNM ini menjadi seakan berputus asa, seakan
menjadi seorang yang bimbang. Kedua bakat itu pula, akhirnya, membawa Damar
Wulan pada situasi yang sulit dan membingungkan, ketika Majapahit membutuhkan
tenaganya untuk menghadapi Adipati Wirabumi, Menak Jingga, yang berkhianat
kepada kerajaan. Dia berada dalam dilema antara kewajiban menjadi seorang
kesatria dan keinginan untuk menjadi seorang pendita. Kedua pilihan tersebut
sama-sama sulit atau tidak menguntungkan untuk saat itu di Majapahit. Namun
kemudian, dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran yang sulit serta berkat
dorongan kekasihnya, Anjasmara, dia memutuskan untuk berangkat ke Wirabumi
sebagai kesatria, guna menjatuhkan Menak Jingga.

Sebagai seorang keturunan kesatria, sejak kecil Damar Wulan telah dipersiapkan
untuk menjadi seorang kesatria. Ke-kesatria-an ini telah dibuktikannya dengan ikut
membantu Adipati Tuban berperang melawan Menak Jingga, di Wirabumi. Dalam
perang itu, Damar Wulan memperlihatkan kehandalannya sebagai prajurit perang.
Oleh karena itu pula, dia direkomendasi oleh Adipati Tuban untuk mengantikannya
sebagai pemimpin pasukan perang ke Wirabumi. Hanya saja, setelah kembali ke
Paluh Amba, setelah ikut berperang membantu Adipati Amba, dia menjadi bimbang.
Dia menyadari, bahwa ketika perang masih berlaku hanya kuingat maju ke muka,
memusnahkan segala yang menghambat daku . Akan tetapi, setelah itu, dia
senantiasa teringat orang yang telah dibunuhnya. Dia tidak sampai hati melihat
anak dan ibunya menunggu bapak dan suaminya di pintu gerbang. Tangisan anak
dan ibu tadi sangat memilukan hatinya dan membuat jiwanya menderita, dan
perasaan berdosa selalu membebaninya.

Sementara itu, Damar Wulan juga melihat dan berpikir bahwa Majapahit tidak perlu
ditolong lagi. Sebenarnya, tanpa serangan Menak Jingga pun, Majapahit telah
runtuh. Hal itu disebabkan oleh bobroknya moral para pendita dan para
bangsawan. Agama tidak lagi diperlukan untuk meninggikan budi, tetapi diperlukan
untuk memperkukuh kekuasaan. Pendita hanya berguna untuk menambah
kebodohan, karena agama dijadikan takhyul dan arca disembah seperti dewa. Para
kesatria sudah berlaku sebagai perampok, sementara rakyat semakin kurus dan
sengsara.

Kedua kondisi di atas mendorong Damar Wulan untuk berpikir memilih menjadi
seorang pendita. Oleh karena itu pula, dia cukup lama berdiam diri dan tidak
menghiraukan Majapahit yang nyaris dikuasai oleh Menak Jingga. Barangkali, hal
itu dilakukan oleh Damar Wulan adalah untuk menebus perasaan berdosanya tadi.
Dengan demikian, dia juga berharap akan dapat menyadarkan para pendita dan
para bangsawan dan mengembalikan agama kepada fungsi dan posisinya yang
semula. Akan tetapi, jauh dilubuk hatinya, Damar Wulan merasakan panggilan yang
sangat kuat untuk menjadi seorang kesatria. Di samping itu, dia sadar betul bahwa
Majapahit berada dalam kondisi yang sangat menjemaskan. Tentu saja,
keinginannya itu menjadi tidak tepat untuk kondisi negara yang seperti itu. Dalam
keadaan negara yang kacau, dia tidak akan dapat melakukan perbaikan di bidang
agama dan moral tadi. Itulah dilema yang dihadapi oleh Damar Wulan. Namun,
akhirnya, dia memutuskan untuk pergi berperang melawan Menak Jingga ke
Wirabumi.

Pilihan akhir dari Damar Wulan membuat keinginannya menjadi kenyataan. Dia
menang melawan Menak Jingga dan diangkat menjadi Ratu Angabaya. Dia berhasil
mengembalikan moral dan agama pada posisinya semula di kalangan rakyat, tetapi
dia dimusuhi oleh para pendita dan para bangsawan, yang takut kekuasaannya
akan menjadi hilang. Akhirnya, Damar Wulan dihukum mati, karena dituduh akan
merebut kekuasaan Majapahit oleh kedua kaum tadi. Meskipun, Damar Wulan mati,
namun dia telah berhasil menyadarkan rakyatnya. Hal itu dibuktikan oleh
kemarahan rakyat mendengar Damar Wulan dihukum mati. Mereka menyerang
Majapahit dan untuk kemudian Majapahit runtuh dan digantikan oleh Kerajaan
Islam.
LAMPIRAN 4

Sinopsis Cerpen Mencari Pencuri Anak Perawan karya soeman Hs

Ini bukan judul buku sastra karya Suman Hs yang diterbitkan Balai Pustaka (1932),
tapi kelakuan Jonsir, 60, warga Medan. Selama 10 tahun dia melarikan gadis
Yusnita, 25. Keluarga si gadis setengah mati mencarinya bertahun-tahun, baru
kemarin dulu Jonsir ditangkap sedang jualan obat di Polonia.
Mencintai makhluk lawan jenis, memang sudah menjadi hak semua anak bangsa.
Tapi meski hak, harusnya yang masuklah di otak. Masak lelaki usia 50 tahun macam
Jonsir, naksir gadis ABG usia 15 tahun. Ini sama saja kan mengawini gadis sepantar
anaknya. Apa tega juga menyantapnya? Tapi begitulah jikalau kakek sedang kebelet
kawin, gadis ingusan pun diuber-uber bak jago mengejar babon (induk ayam).
Sepuluh tahun lalu, dalam usia 50 tahun yang demikian enerjik, Jonsir harus
menyandang status duda karena ditinggalkan istri. Mati pergi ke alam baka, atau
bercerai, tidaklah jelas. Yang pasti, lama tanpa istri menjadikan Jonsir demikian
tersiksa sepanjang hari. Bayangkan, biasanya ketika kedinginan di tengah malam,
selelau tersedia selimut hidup. Tapi kini, hanya cukup mendekap guling dan bantal
yang tiada makna.
Warga Belawan ini mencari solusi dengan mencari istri pengganti. Didekatinya gadis
Merlina, putri Maruli, warga Cinta Karya, Polonia. Tapi gadis usia 20-an tahun
tersebut menolak. Di samping usia sangat terpaut jauh, duda kebelet kawin ini tak
memiliki karier dan harta yang bisa dibanggakan. Karenanya nama Jonsir langsung
dicoret dari daftar pencalonan. Kakek kasmaran ini tereleminasi pada kesempatan
pertama.
Bahwa hatinya sangat kecewa, itu sudahlah jelas. Tapi Jonsir bukan tipe lelaki
gampang menyerah. Burung gagak bintik-bintik bulunya, ditolak kakak tok masih
ada adiknya. Begitulah yang terjadi. Merlina menolak aspirasinya, si kakek gantian
mendekati Yusnita yang kala itu masih duduk di bangku SMA. Sama seperti sang
kakak, sang ABG juga tak sudi bersuamikan kakek-kakek.
Tapi kakek Jonsir tak mau kalah. Dalam sebuah kesempatan, Yusnita berhasil
diculiknya dari sekolah dan dilarikannya. Dibawa ke mana tidaklah jelas. Yang pasti,
di gadis ABG yang semula sangat antipati pada Jonsir, kini menjadi empati. Dia
pada akhirnya berhasil dinikahi, dan menjadi bagian keluarga Jonsir. Tanpa terasa
perkawinan paksa itu telah berjalan sepuluh tahun.
Pekerjaan sehari-hari Jonsir menjadi penjual obat di kaki lima. Dianggapnya situasi
sudah aman secara mantap terkendali, belakangan dia berani berdagang obat
sampai daerah Polonia tempat tinggal keluarga istri colongannya. Ini kan sama saja
kutuk marani sunduk kata orang Jawa di Deli. Dan benar juga rupanya, sekali waktu
keluarga Maruli melihat lelaki cecunguk itu jualan di Polonia. Segera saja polisi
dihubungi dan kakek pencuri anak perawan itupun ditangkap.
Dalam pemeriksaan, sikakek yang sudah berusia 60 tahun itu mengakui segala
perbuatannya. Dulu naksir kakaknya, tapi kemudian terpaksa mencuri adiknya.
Tapi mau dibilang apa, Yusnita pun kini sudah dilarikan orang entah ke mana, kata
si kakek. Benar atau bohong-bohongan, kini polisi Belawan masih melacaknya.
Karena Yusnita memang tidak lagi di tangan Jonsir, polisi pun dapat tambahan
pekerjaan baru untuk melacaknya.
Jonsir juga bisa dituduh menghilangkan barang bukti, loh. (SE/Gunarso TS)
V.PENUTUP

Karya sastra tidak dapat pisahkan dari peristiwa lahirnya karya


tersebut.Pada tahun 30 an asas seni Armijn Pane mengatakan pendapatnya
tentang seni,dalam keterangan tersebut penciptaan seni tidak semata mengabdi
pada keindahan.Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa Armijn Pane
memandang isi lebih penting daripada bentuk.

Pada tahun 30-an masih jarang novel yang memberi sudut pandang cerita
yang rumit.Contoh novel Hamka yang berjudul Tenggelamnya kapal Van der
Wijck. Novel ini terbit pada tahun 1938 dan ternyata pada tahun 1969 telah
mengalami cetak ulang yang ke 9,namun di tengah bebasnya berkarya pada masa
sekarang berbanding terbalik dengan semangat penerus dalam berkarya.
DAFTAR PUSTAKA

Sarwadi,2004.Sejarah sastra Indonesia Modern.Yogyakarta: Gama Media

Cybersastra.com

Duniasastra.com

Pusatbahasa.depdiknas.go.id

http://daudp65.byethost4.com/ssastra/ssastra4.htm
http://ilmuwanmuda.wordpress.com/perkembangan-berbagai-bentuk-sastra-
indonesia/id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia

http://muliaita.wordpress.com/angkatan-pujangga-baru-angkatan-30-an

http://ramlannarie.wordpress.com/2011/05/02/periodisasi-sastra-indonesia

wikipedia.org/wiki/Sastra_Indonesia