Anda di halaman 1dari 7

Pengaruh Sains dan Teknologi dalam Kehidupan

I. PENDAHULUAN

Kemajuan sains dan teknologi membawa kejayaan dan kebahagiaan umat


manusia. Kenikmatan dan kemudahan hidup serta berbagai hiburan
didapat sebagai hasil sains dan teknologi. Kekurangan tanah pertanian
telah dapat diatasi dengan mengubah gurun-gurun pasir serta daerah
tertutup salju menjadi areal pertanian yang subur. Jarak perjalanan, yang
dulu mesti ditempuh berbulan-bulan, saat ini hanya berbilang jam, bahkan
tak lama lagi bisa sekian detik saja. Mobil yang dijalankan dengan battery
dan energi surya pun mulai dipakai.

Ilmu kedokteran pun kian mengagumkan. Ginjal, paru-paru, jantung dan


alat tubuh penting lainnya telah dibuat dan diperdagangkan sebagaimana
layaknya onderdil-onderdil mesin. Orang tua yang dulu dianggap bakal tak
punya anak, kini, simsalabim, lahirlah si Upik atau si Buyung. Dengan
teknik-teknik termaju seleksi gen, bersamaan dengan diagnosa janin dan
perawatan yang cermat terbuka harapan yang memungkinkan
“mengendalikan kualitas” keturunan kita.

Banyak, banyak sekali kalau kita sebutkan satu per satu. Belum lagi
metode memperlambat ketuaan, darmawisata ke ruang angkasa atau ke
tepi alam semesta ini (?). Begitu juga perkembangan komputer dan
teknologi komunikasi yang kian canggih dan sempurna yang akan dapat
memberi kita solusi di berbagai bidang kehidupan. Robot pun kian banyak
mengambil alih tugas manusia. Teaching machine, yang jauh lebih efisien,
telah menggantikan fungsi guru. Untuk menumbal kekurangan tidur
digunakan pula sleep machine. Pendeknya manusia akan dapat hidup
enak dan sepuas mungkin. Semua berkat sains dan teknologi !

Akibatnya timbul anggapan pada sebagian kalangan: sains adalah segala-


galanya. Sains dapat membuat sorga di dunia ini. Peradaban seperti ini
oleh Prof. Jaques Barzun dalam bukunya Science, The Glorious
Entertaintment disebut sebagai Scientific Culture -peradaban sains-
manusia lebih percaya pada sains dan teknologi. Manusia dipimpin
semata-mata oleh ratio, akal sehat dan inteleknya saja.

Kendatipun demikian masih ada ahli pikir yang cemas melihat


perkembangan masyarakat dan cara pikir seperti itu, terlalu tunduk pada
otoritas sains belaka. Keagamaan, ketuhanan, susila dan nilai-nilai etis
lainnya ditanggalkan. Secara kualitatif hidup bergelimangan alam benda
yang berlimpah-limpah dan tunduk hanya pada kekuasaan intelek saja
pada hakekatnya miskin! Semu belaka. Sebab yang menjadi daya
dorongnya adalah keuntungan atau laba. Inilah yang jadi ciri khas utama
masyarakat peradaban sains itu.

II. PEMBAHASAN

Saingan yang tajam dalam kehidupan manusia, kurangnya rasa


kegotongroyongan, tak pernah puas dengan segala yang ada, padahal
hidup serba ada, menyebabkan timbulnya kebingungan, kegelisahan batin
dan kerisauan hati dalam masyarakat. Manusia hidup dicekam stress dan
ketegangan terus menerus. Lalu terjadilah peningkatan penjualan obat
tidur, obat bius dan penenang saraf. Hal semacam itu takkan terjadi kalau
manusia yang hidup dalam peradaban sains itu memperoleh kebahagiaan
dan ketenangan batin. Hingga para ahli pikir Barat pun sampai bertanya-
tanya, “Kalau dunia jadi demikian, adakah juga gunanya orang berumur
panjang?”

Sekarang telah ditemukan juga teknik inseminasi buatan (artificial


insemination/AI) dengan air mani donor (orang lain), jika sang suami
mandul, atau berpenyakit turunan parah seperti Hutington. Seorang
suami, kini, bisa menyimpan air maninya dalam cryobank (bank tabungan
air mani) sebelum dirinya disterilkan, atau memungkinkan sang istri
punya anak dari suami yang udah mati! Dengan sistem “kloning” -inti
sebuah telur “dibuahi” dengan inti sel somatik (badan) lalu dicangkokkan
kembali ke rahim sehingga berkembang seperti biasa– ada kemungkinan
nantinya seseorang bisa melahirkan anak monyet, kalau rela! Ada lagi
cara fusi telur (penggabungan telur), yang akan melenyapkan perlunya
sperma pria dan akan selalu menghasilkan/melahirkan bayi wanita! (lelaki
makin tak laku?) Bahkan, kedua telur itu, bisa diperoleh dari satu wanita
yang sama!

Kekhawatiran ini tercermin dari pendapat banyak ahli pikir Barat sendiri.
Hampir semua filosof besar mengatakan, “Kelam telah menyelimuti dunia
barat dan satelitnya”. Oswald Spengler, Nikolai Danilevski, Arnold J.
Toynbee, P. A. Sorokin, Walter Schubart, N. Berdyev, dan lainnya
melukiskan zaman sekarang ini sebagai suatu masa transisi teramat besar
dari peradaban lama menuju peradaban baru. Sistem peradaban lama,
secara berangsur-angsur tapi pasti mulai melemah dan akhirnya padam
sama sekali, lenyap dari permukaan bumi.

Seorang sastrawan modern besar, T. S. Elliot, menuangkan


kekhawatirannya:

“Semua ilmu pengetahuan kita membawa kita makin dekat kepada


kebodohan
semua kebodohan kita membawa kita makin dekat pada kematian

tapi… makin dekat pada kematian

bukan makin dekat pada tuhan…

mana lagi hayat kita yang telah hilang dalam kehidupan

mana lagi kebijaksanaan kita yang telah hilang dalam ilmu pengetahuan

mana lagi pengetahuan kita yang telah hilang dalam penerangan

perputaran semesta alam dalam dua puluh abad membawa kita

terjauh dari Tuhan… dan kian dekat pada kehancuran…”

• Islam Sinar Kehidupan Mutakhir

Bila mendung kerusakan harus disibakkan, jika penderitaan harus


dihapuskan dari dahi manusia, maka cahaya Din haruslah terbit sebagai
fajar membawa suasana baru nan tenteram. Kalau kita bertanya dari
mana sinar cahaya itu, jawabannya semakin jelas: hanya dari Quran dan
Sunnah Rasul!

Islam merupakan suatu kemasyarakatan, pedoman hidup yang amat


sempurna, tatanan jiwa dan sekaligus kekuatan kebudayaan. Hanya Islam
agama yang diridhoi Allah (QS. 3: 19) dan yang hanya yang dibenarkan
oleh Allah (QS. 3: 85).

Pokok-pokok ajarannya sama modernnya dengan hari esok. Islam pun


sanggup di hari ini mendengungkan era baru dalam hidup umat manusia.
Ia dapat menampilkan pada manusia peradaban baru dari hidup dan
kehidupan di dunia ini. Dia menampilkan kebenaran dan keadilan. Pesan-
pesannya menembus jantung dan menggetarkan jiwa. Dia sanggup
membebaskan manusia dari kurungan besi tuhan-tuhan palsu yang selalu
membelenggu, dan selanjutnya mengantarkannya ke zaman damai lagi
makmur sesuai cita-cita seluruh manusia.

Taqwa pada Allah serta berpegang teguh pada nilai-nilai moral adalah
senjata utama yang sanggup mencegah hancurnya nilai-nilai
kemanusiaan. Dan hanya wahyu Allah yang sanggup jadi kendali utama
nafsu manusia serta dapat menuntun langkah-langkahnya (QS. 45: 23).
Lembaran-lembaran sejarah jadi saksi akan kenyataan ini.

• Tergantung Generasi Muda

A. N. Whitehead dalam bukunya Science and The Modern World menulis,


“Bila kita ingat betapa pentingnya agama bagi umat manusia, begitu juga
ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebih-lebihan bila dikatakan bahwa
sejarah kita masa mendatang tergantung pada putusan generasi kini
mengenai hubungan antara keduanya”.

Hal inilah yang mesti disadari oleh segenap generasi muda Islam. Dalam
situasi yang amat khas ini terbuka kesempatan emas yang sangat
menentukan sekali. Generasi muda satu-satunya harapan.

Maka peran aktif dan kerjasama yang harmonis berbagai komponen


masyarakat amat diharapkan. Pengajaran agama dan kerohanian harus
diefektifkan, disamping juga sains dan teknologi. Kontroversi agama dan
ilmu pengetahuan harus disingkirkan, sebab keduanya selaras dan tak
dapat dipisahkan.
Bagi kaum intelektual lebih penting mengetahui apa hakekat yang tersirat
daripada yang tersurat dalam ayat-ayat Allah. Mementingkan yang
tersurat –dengan tafsir-tafsir yang dogmatis yang tak memberi peluang
untuk bertanya dan memberi tafsir lain akan menanam pada penganutnya
jiwa tertutup, menurut saja dan taqlid buta, dan ini dilarang Allah. Akan
timbul fanatisme dan intoleransi pada pandangan lain.

III. KESIMPULAN

Inilah yang jadi sebab utama timbulnya pertentangan antara ilmu dan
agama, padahal keduanya itu satu padu tak teruraikan. Karenanya para
filosof, para ulama dan saintis harus bekerjasama dalam pendidikan
rohani ini. Mereka hendaknya, tanpa prasangka, bertemu dalam satu
kehendak membangun dunia baru yang aman dan damai, dimana seluruh
umat manusia berkoeksistensi dengan penuh toleransi dan pengertian.

Pengajaran seperti itu dititikberatkan pada kaum muda sebagai


penyambut tongkat estafet generasi sebelumnya. Perlu disiapkan dan
disuburkan generasi “ulama yang intelek dan intelek yang ulama”. Dunia
sekarang ini dan dunia masa depan sangat membutuhkan. Mereka tidak
hanya ahli dalam bidang-bidang kemasyarakatan, sains dan teknologi,
tapi disamping itu juga seorang ulama. Siang hari mereka betebaran
mencari dan menggali karunia Allah, mengamalkan ilmunya demi
kemaslahatan manusia, bukan menghancurkannya, malam hari mereka
tunduk dan zikrullah, menghambakan dirinya pada Allah, Pencipta dan
pemeliharanya. Inilah umat yang dinanti-nantikan. Inilah yang disebut
oleh Allah dalam Al Quran sebagai “ulil albab” itu.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, serta silih bergantinya
malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-
orang yang berakal (ulil albab). Yaitu orang-orang yang senantiasa ingat
Allah sambil berdiri dan duduk, dalam keadaan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau ciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha
suci Engkau, sebab itu peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran
190-191).

IV. DAFTAR PUSTAKA

1. Prof. Dr. Garnadi Prawirosudirjo, MSc. Integrasi Ilmu dan Iman, Jakarta,
Penerbit Bulan Bintang, 1975

2. Abul A’la Al Maududi, Islam Dewasa Ini.

3. Aku Tahu, No. 26 tahun III, Maret 1985

4. Sukmadjaja Asyarie-Rosy Yusuf, Index Al Quran, Bandung, Penerbit


Pustaka, 1984

5. http://nilnaiqbal.wordpress.com/2007/07/24/kultus-sains/