Anda di halaman 1dari 26

UJIAN TENGAH SEMESTER PIRANTI

LUNAK TELEKOMUNIKASI

UNIVERSITAS UDAYANA
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO DAN KOMPUTER
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-NYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga
mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan
makalah ini.

Penyusun,
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Modulasi merupakan proses perubahan (varying) suatu gelombang
periodik sehingga menjadikan suatu sinyal mampu membawa suatu informasi.
Dengan proses modulasi, suatu informasi (biasanya berfrekeunsi rendah) bisa
dimasukkan ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa gelombang
sinus berfrekuensi tinggi. Terdapat tiga parameter kunci pada suatu gelombang
sinusiuodal yaitu : amplitudo, fase dan frekuensi.
Matlab merupakan bahasa pemrograman level tinggi yang dikhususkan
untuk kebutuhan komputasi teknis, visualisasi dan pemrograman seperti komputasi
matematik, analisis data, pengembangan algoritma, simulasi dan pemodelan dan
grafik-grafik perhitungan.
Modulasi digital dibagi menjadi modulasi Amplitude Shift Keying (ASK),
Frequency Shift Keying (FSK), Phase Shift Keying (PSK) dan Quadrature
Amplitudo Modulation (QAM). Berdasarkan jenis-jenis modulasi tersebut dapat
diketahui perbedaan-perbedaannya dan mengimplementasikannya menggunakan
matlab. Selain itu dapat mencari random binary data stream, modulasi
menggunakan 16-QAM, AWGN, membuat sebuah scatter plot, demodulasi
menggunakan 16-QAM, menghitung sistem BER.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah yang dimaksud dengan modulasi dan jenis-jenisnya ?
2. Bagaimanakah mencari random binary data stream ?
3. Bagaimanakah sistem modulasi menggunakan 16 QAM ?
4. Bagaimanakah mengimplementasikan scatter plot ?
5. Bagaimanakah sistem demodulasi menggunakan 16 QAM ?
6. Bagaimanakah menghitung sistem BER (Bit Error Rate)?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui apa dimaksud dengan modulasi dan jenis-jenisnya
2. Mengetahui bagaimana mencari random binary data stream
3. Mengetahui bagaimana sistem modulasi menggunakan 16 QAM
4. Mengetahui bagaimana mengimplementasikan scatter plot
5. Mengetahui bagaimana sistem demodulasi menggunakan 16 QAM
6. Mengetahui bagaimana menghitung sistem BER (Bit Error Rate)

1.4 Manfaat
1. Manfaat Teoritis
Hasil dari makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
modulasi, jenis-jenis modulasi, noise (AWGN).
2. Manfaat Praktis
Memberikan pengetahian tentang implementasi modulasi dan noise ke
dalam Matlab.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Dasar Teori
1.1 Definisi Modulasi

Modulasi adalah proses perubahan (varying) suatu gelombang periodik


sehingga menjadikan suatu sinyal mampu membawa suatu informasi. Dengan
proses modulasi, suatu informasi (biasanya berfrekeunsi rendah) bisa dimasukkan
ke dalam suatu gelombang pembawa, biasanya berupa gelombang sinus
berfrekuensi tinggi. Terdapat tiga parameter kunci pada suatu gelombang
sinusiuodal yaitu : amplitudo, fase dan frekuensi. Ketiga parameter tersebut dapat
dimodifikasi sesuai dengan sinyal informasi (berfrekuensi rendah) untuk
membentuk sinyal yang termodulasi.
Pada sisi receiver sinyal modulasi yang diterima dikonversikan kembali
kebentuk asalnya, proses ini disebut dengan demodulasi. Rangkaian yang
digunakan untuk proses modulasi disebut dengan modulator, sedangkan rangkaian
yang digunakan untuk proses demodulasi disebut demodulator. Modulasi terbagi
menjadi dua yaitu modulasi analog dan modulasi digital :
1.2 Modulasi Digital
Modulasi digital adalah teknik pengkodean sinyal dari sinyal analog ke
dalam sinyal digital (bit-bit pengkodean). Pada teknik ini, sinyal informasi digital
yang akan dikirimkan dipakai untuk mengubah frekuensi dari sinyal pembawa.
Dalam komunikasi digital, sinyal informasi dinyatakan dalam bentuk digital
berupa biner 1 dan 0, sedangkan gelombang pembawa berbentuk
sinusoidal yang termodulasi disebut juga modulasi digital. Adapun yang termasuk
kedalam modulasi digital adalah sebagai berikut:
1.2.1 Modulasi Amplitude Shift Keying (ASK)
Modulasi digital Amplitude Shift Keying (ASK) adalah pengiriman sinyal
digital berdasarkan pergeseran amplitudo. Sistem modulasi ini merupakan sistem
modulasi yang menyatakan sinyal digital 1 sebagai suatu nilai tegangan dan sinyal
digital 0 sebagai suatu nilai tegangan yang bernilai 0 volt. Sehingga dapat
diketahui bahwa didalam sistem modulasi ASK, kemunculan frekuensi gelombang
pembawa
tergantung pada ada tidaknya sinyal informasi digital. Adapun bentuk dari sinyal
modulasi digital Amplitude Shift Keying (ASK) adalah sebagai berikut:

Gambar 1.1 Sinyal Modulasi digital Amplitude Shift Keying (ASK)

1.2.2 Modulasi Frequency Shift Keying (FSK)


Modulasi digital Frequency Shift Keying (FSK) merupakan sejenis
Frequency Modulation (FM), dimana sinyal pemodulasinya (sinyal digital)
menggeser outputnya antara dua frekuensi yang telah ditentukan sebelumnya,
yang biasa diistilahkan frekuensi mark dan space. Modulasi digital dengan FSK
juga menggeser frekuensi carrier menjadi beberapa frekuensi yang berbeda
didalam band-nya sesuai dengan keadaan digit yang dilewatkannya. Jenis
modulasi ini tidak mengubah amplitudo dari signal carrier yang berubah hanya
frekuensi. Teknik FSK banyak digunakan untuk informasi pengiriman jarak jauh
atau teletype. Standar FSK untuk teletype sudah dikembangkan selama
bertahun-tahun, yaitu untuk frekuensi 1270 Hz merepresentasikan mark atau 1,
dan 1070 Hz merepresentasikan space atau 0. Adapun bentuk dari sinyal modulasi
digital Frequency Shift Keying (FSK) adalah sebagai berikut:
Gambar 1.2 Sinyal Modulasi digital Frequency Shift Keying (FSK)

1.2.3 Modulasi Phase Shift Keying (PSK)


Modulasi digital Phase Shift Keying (PSK) merupakan modulasi yang
menyatakan pengiriman sinyal digital berdasarkan pergeseran fasa. Biner 0
diwakilkan dengan mengirim suatu sinyal dengan fasa yang sama terhadap sinyal
yang dikirim sebelumnya dan biner 1 diwakilkan dengan mengirim suatu sinyal
dengan fasa berlawanan dengan sinyal dengan sinyal yang dikirim sebelumnya.
Dalam proses modulasi ini, fasa dari frekuensi gelombang pembawa berubah-
ubah sesuai dengan perubahan status sinyal informasi digital. Adapun bentuk dari
sinyal modulasi digital Phase Shift Keying (PSK) adalah sebagai berikut:
Dengan metode ini fase perubah pembawa (carrier) antara fase yang berbeda
ditentukan oleh gerbang logika input stream bit. Ada beberapa jenis Phase Shift
Key (PSK) pada modulator, yaitu :
Two-phase (2 PSK)
Four-phase (4 PSK)
Eight-phase (8 PSK)
Sixteen-phase (16 PSK)
Two Phase Shift Key Modulation
Dalam modulasi ini pembawa (carrier) diasumsikan satu dari dua fase. Logika 1
tidak menghasilkan perubahan fasa dan logika 0 menghasilkan perubahan fasa
180. Gelombang keluaran modulator ini ditunjukkan pada gambar berikut.

Gambar 1.3 Sinyal Modulasi Phase Shift Keying (FSK) , Binary Phase Shift Keying (BPSK)

Four Phase Shift Key Modulation


Dengan 4 PSK dan QPSK, 2 bit diproses untuk menghasilkan perubahan fase
tunggal. Dalam hal ini masing-masing simbol terdiri dari 2 bit. Fase aktual yang
diproduksi oleh modulasi 4 PSK ditunjukkan pada tabel berikut :

Tabel 1. Bits dan Phase untuk modulasi 4 PSK


Bits Phase
00 45o
01 135o
10 315o
11 225o
Dari Tabel 1, s diagram ruang sinyal atau sinyal konstelasi dapat ditarik seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.4. Perhatikan dari Gambar. 1.4 bahwa dari setiap dua
bit urutan paling dekat, hanya ada satu perubahan bit. Hal ini disebut Skema Gray
Kode .Sebagai contoh, urutan bit '00' memiliki satu perubahan bit untuk bit urutan
terdekatnya '01' dan '10'.

Gambar 1.4 Konstelasi 4 PSK

Eight Phase Shift Key Modulation


Dengan modulator ini 3 bit diproses untuk menghasilkan perubahan single-fase.
Ini berarti bahwa setiap simbol terdiri dari 3 bit. Gambar 1.5 menunjukkan
konstelasi dan pemetaan urutan 3 bit ke sudut fase yang tepat.

Gambar 1.5 Sinyal Konstelasi 8 PSK


Higer Order PSK Modulation Schemes
Skema modulasi seperti 16 PSK, 32 BPSK dan yang lebih tinggi juga dapat
dirancang dan ditampilkan pada diagram ruang sinyal.

1.2.4 Quadrature Amplitudo Modulation (QAM)


QAM adalah metode untuk mengirimkan dua saluran informasi yang
terpisah. Carrier digeser untuk membuat dua carrier yaitu versi sinus dan cosinus.
Output dari kedua modulator yang aljabar dijumlahkan dan hasil yang merupakan
sinyal tunggal untuk ditransmisikan, yang berisi In-fase (I) dan Quadrature (Q)
informasi. Set kemungkinan kombinasi amplitudo, seperti yang ditunjukkan pada
x-y plot, sebagai pola titik-titik yang dikenal sebagai konstelasi QAM.
Mempertimbangkan skema modulasi 16 QAM. Dengan modulasi ini, 4 bit
diproses untuk menghasilkan vektor tunggal. Konstelasi yang dihasilkan terdiri
dari empat amplitudo yang berbeda didistribusikan di 12 fase yang berbeda seperti
ditunjukkan pada Gambar 1.6

Gambar 1.6 Konstelasi QAM


1.3 QAM Modulation dan MATLAB
Untuk memodulasi sinyal menggunakan modulasi digital dengan alfabet
memiliki simbol M, mulai dengan sinyal pesan nyata yang nilainya adalah
bilangan bulat antara 0 dan M. Mewakili sinyal dengan daftar nilai dalam vektor,
x. Atau, matriks dapat digunakan untuk mewakili sinyal multichannel, di mana
setiap kolom dari matriks merupakan satu saluran. Sebagai contoh, jika modulasi
menggunakan alfabet dengan 8 simbol, maka vektor [1 2 3 1 0 4 4 2 5] adalah
valid single-channel input ke modulator. Sebagai contoh multichannel, matriks
dua kolom
[2 3;
3 3;
7 3;
0 3;]
mendefinisikan sinyal dua channel di mana saluran kedua memiliki nilai konstan 3.

1.4 AWGN (Additive White Gaussian Noise)


Noise AWGN merupakan noise yang pasti terjadi dalam jaringan nirkabel
manapun, memiliki sifat-sifat additive, white, dan gaussian. Sifat additive artinya
noise ini dijumlahkan dengan sinyal, sifat white artinya noise tidak bergantung
pada frekuensi sistem operasi dan memiliki rapat daya yang konstan, dan sifat
gaussian artinya besarnya tegangan noise memiliki rapat peluang terdistribusi
gaussian. Biasanya white noise dihasilkan dalam simulasi dengan fungsi rand,
sedangkan Gaussian noise dihasilkan dengan fungsi randn pada MATLAB.
AWGN ini adalah noise alami, yang selalu ada di setiap perangkat. Jadi pada
setiap perhitungan komunikasi yang melalui kanal maka harus ditambahkan
AWGN.
Kanal AWGN (Channel AWGN)
= + , .........................................................

(3.1)
dimana y adalah sinyal yang diterima, x adalah sinyal yang dikirimkan, h adalah
kanal, dan n adalah AWGN atau biasa disebut noise.
Kanal AWGN adalah kanal dengan nilai h=1, artinya kita ingin mengetes
efek dari noise atau AWGN saja, sehingga nilai kanal diset 1.
1.5 Scatter Plot
Scatter plot adalah sebuah grafik yang biasa digunakan untuk melihat suatu
pola hubungan antara 2 variabel. Untuk bisa menggunakan scatter plot, skala data
yang digunakan haruslah skala interval dan rasio.

1.6 Parameter Eb/No


Eb/No(energy per bit to noise power spectral density ratio) adalah
parameter yang biasa digunakan dalam komunikasi digital. Hal ini sangat berguna
saatmembandingkan performa bit error rate (BER) untuk modulasi digital yang
berbeda-beda tanpa menyertakan parameter pita frekuensi.Parameter lain yang
sering digunakan adalah Es/No (energy per symbol to noise power spectral density
ratio).

1.7 BER (Bit Error Rate)


Dalam telekomunikasi, rasio error adalah rasio jumlah bit, elemen,
karakter, atau blok yang diterima dengan salah dibanding jumlah total bit, elemen,
karakter, ataupun blok yang dikirim sepanjang interval waktu tertentu. Rasio
yang paling sering ditemui adalah bit error ratio (BER). Contoh BER adalah
jumlah kesalahan bit yang diterima dibagi dengan jumlah total bit yang
dikirimkan. Biasanya kurva BER digambarkan dalam hubungan BER (dB)
dengan SNR (dB) atau BER (dB) dengan E/N (dB)
2. Langkah Kerja
Definisi Permasalahan : simulasi harus dikerjakan untuk aliran data biner
yang harus dikirimkan melalui saluran yang dikenal sebagai Additive White
Gaussian Noise (AWGN) Channel menggunakan skema 16-QAM.
Tabel 2 Tabel Kata Kunci Setiap Permasalahan
Task Function
Generate a random binary data stream randint
Modulate using 16-QAM dmodec
Add while Gaussian Noise awgn
Create a scatter plot scatterplot
Demodulate using 16-QAM ddemodce
Compute the systems BER biterr

2.1 Menghasilkan Random Binary Data Stream


Gunakan fungsi randint untuk membuat vektor kolom yang berisi daftar
nilai-nilai yang berurutan dari aliran data biner. Mengatur panjang dari aliran data
biner ke 30.000.
Kode di bawah menciptakan plot batang sebagian dari aliran data,
menunjukkan biner nilai-nilai. Gambar dibawah menunjukkan plot batang input
stream data.

%% Setup
% Define parameters.
M = 16; % Size of signal constellation k =
log2(M); % Number of bits per symbol n = 3e4;
% Number of bits to process = 30,000 nSamp = 1;
% Oversampling rate
%% Signal Source
% Create a binary data stream as a column vector. x
= randi([0 1],n,1); % Random binary data stream
% Plot first 40 bits in a stem plot.
stem(x(1:40),'filled');
title('Random Bits'); xlabel('Bit
Index'); ylabel('Binary Value');

Gambar 7. Plot Binary Data Stream

2.2 Persiapan untuk Modulasi


Setiap 4-tupel dari nilai-nilai dari x diatur di deretan matriks,
menggunakan membentuk kembali yang fungsi dalam MATLAB, dan kemudian
fungsi bi2de diterapkan untuk mengubah setiap 4-tupel ke bilangan bulat yang
sesuai.

%% Bit-to-Symbol Mapping
% Convert the bits in x into k-bit symbols.
xsym = bi2de(reshape(x,k,length(x)/k).','left-msb');
%% Stem Plot of Symbols
% Plot first 10 symbols in a stem
plot. figure; % Create new figure
window. stem(xsym(1:10));
title('Random Symbols');
xlabel('Symbol Index');
ylabel('Integer Value');
Gambar 8. Random Simbol

2.3 Memodulasi Menggunakan 16-QAM


Fungsi dmodce menerapkan modulator 16-QAM. xsym dari atas adalah
kolom vektor yang mengandung bilangan bulat antara 0 dan 15. Fungsi dmodce
sekarang dapat digunakan untuk memodulasi xsym menggunakan representasi
baseband. Perhatikan bahwa M adalah 16, ukuran alphabet

%% Create Modulator and Demodulator hMod = modem.qammod(M);


% Create a 16-QAM modulator hMod.InputType = 'Bit'; %
Accept bits as inputs hDemod = modem.qamdemod(hMod); %
Create a 16-QAM based on the modulator
%% Modulation %
Modulate using 16-QAM.
y = modulate(hMod,x);

2.4 Add White Gaussian Noise (AWGN) Channel


Menerapkan fungsi awgn untuk sinyal termodulasi menambahkan white
noise Gaussian . Rasio energi untuk noise power spectral density, Eb/No
ditetapkan pada 10 dB. Itu digunakan untuk mengkonversi nilai dengan rasio
signal-to-noise (SNR) yang sesuai k, jumlah bit per simbol (4 untuk 16-QAM),
dan nsamp, faktor oversampling (dalam contoh ini terdapat 1). Faktor k digunakan
untuk mengkonversi Eb / No untuk yang ekuivalen dengan Es/No yang mana
merupakan
rasio energi untuk noise power spectral density. Faktor nsamp digunakan untuk
mengkonversi Es /No di bandwidth simbol rate ke SNR di sampling Bandwidth.

%% Transmitted Signal yTx


= y;
%% Channel
% Send signal over an AWGN channel.
EbNo = 10; % In dB
SNR = EbNo + 10*log10(k) - 10*log10(nSamp); yNoisy
= awgn(yTx,SNR,'measured');
%% Received Signal
yRx = yNoisy;

2.5 Membuat Scatter Plot


Fungsi scatterplot diterapkan untuk pengirim dan penerima sinyal. Ini
menunjukkan bagaimana sinyal konstelasi dan bagaimana noise mendistorsi
sinyal. Dalam plot, sumbu horizontal adalah komponen dalam fase (I) dari sinyal
dan sumbu vertikal adalah Quadrature (Q) komponen.

%% Scatter Plot
% Create scatter plot of noisy signal and ideal constellation
points
hScatter = commscope.ScatterPlot; % Create a scatter
plot scope
hScatter.Constellation = hMod.Constellation; % Set expected
constellation
hScatter.SamplesPerSymbol = nSamp; % Set oversampling
rate
hScatter.PlotSettings.Constellation = 'on'; % Display ideal
constellation
update(hScatter, yRx(1:5e3)) % Send
received signal to the scope title('Received Signal');
Gambar 9. Received Signal

2.6 Demodulasi menggunakan 16-QAM


Demodulasi dari penerima sinyal 16-QAM adalah dengan fungsi
ddemodce Hasilnya adalah vektor kolom yang berisi bilangan bulat antara 0 dan
15.

%% Demodulation
% Demodulate signal using 16-QAM. z
= demodulate(hDemod,yRx);

2.7 Mengkonversi Integer-Valued Signal ke Binary Signal


Langkah sebelumnya membuat szym, vektor bilangan bulat. Untuk
mendapatkan biner yang ekuivalen sinyal, gunakan fungsi de2bi untuk mengubah
setiap integer ke biner 4-tupel yang sesuai sepanjang deretan matriks. Kemudian
gunakan fungsi membentuk kembali untuk mengatur semua bit dalam satu vektor
kolom daripada matriks empat kolom.
%% Symbol-to-Bit Mapping
% Undo the bit-to-symbol mapping performed earlier.
z = de2bi(z,'left-msb'); % Convert integers to bits.
% Convert z from a matrix to a vector. z
= reshape(z.',prod(size(z)),1);

2.8 Menghitung Sistem BER


Fungsi bitter diterapkan pada vektor biner asli dan vektor biner dari
langkah demodulation di atas. Ini menghasilkan jumlah kesalahan bit dan tingkat
kesalahan bit.

%% BER Computation
% Compare x and z to obtain the number of errors and
% the bit error rate.
[number_of_errors,bit_error_rate] = biterr(x,z)

Statistik muncul di MATLAB Command Window. Hasil mungkin


bervariasi karena contoh menggunakan nomor acak.
number_of_errors =
61
bit_error_rate =
0.0020

2.9 Plotting Signal Constellation


Untuk merencanakan konstelasi sinyal terkait dengan proses modulasi,
ikuti langkah berikut:
1. Jika ukuran alfabet untuk proses modulasi M, kemudian membuat sinyal
[0: M-1]. Sinyal ini mewakili semua masukan yang mungkin untuk
modulator.
2. Gunakan fungsi modulasi untuk memodulasi sinyal ini. Jika diinginkan,
skala output. Hasilnya adalah himpunan semua titik dari konstelasi sinyal.
3. Terapkan fungsi scatterplot ke output termodulasi untuk membuat plot.
Constellation untuk 16-PSK:

%% Scatter Plot Mathlab 2013a % Create a scatter plot


scatterPlot = commscope.ScatterPlot('SamplesPerSymbol',1,...
'Constellation',hMod.Constellation);
% Show constellation
scatterPlot.PlotSettings.Constellation = 'on';
scatterPlot.PlotSettings.ConstellationStyle = 'rd';
% Add symbol labels hold on; k=log2(hMod.M); for
jj=1:hMod.M
text(real(hMod.Constellation(jj))-0.15,...,
imag(hMod.Constellation(jj))+0.15,...
dec2base(hMod.SymbolMapping(jj),2,k)); end
hold off;

Gambar 10. Scatter Plot


3. Coding dan Penjelasan
3.1 Menghasilkan Random Binary Data Stream
%% Setup
% Define parameters.
M = 16; % Size of signal constellation
k = log2(M); % Number of bits per symbol
n = 3e4; % Number of bits to process = 30,000
Fd=1;Fs=1; %Input message sampling frequency, output message
sampling frequency
nsamp = 1; % Oversampling rate

%% Signal Source
% Create a binary data stream as a column vector.
x = randint(n,1); % Random binary data stream

% Plot first 40 bits in a stem plot.


stem(x(1:40),'filled');
title('Random Bits');
xlabel('Bit Index'); ylabel('Binary Value');

Gambar 11. Random Bits

Berdasarkan gambar diatas diketahui bahwa sinyal bernilai 0 dan 1 dengan


rentang bit index 1:40. Pada gambar diatas, dihasilkan denga syntax mathlab
sebagai berikut :stem(x(1:40),'filled');
dimana, x merupakan bilangan integer random dengan rentang 1-40 pada sumbu x.
Hasil gambar akan selalu berbeda ketika di running karena menggunakan random
binary data rate
3.2 Persiapan untuk Modulasi
%% Bit-to-Symbol Mapping
% Convert the bits in x into k-bit symbols.
xsym = bi2de(reshape(x,k,length(x)/k).','left-msb');
%a = [xsym];

%% Stem Plot of Symbols


% Plot first 10 symbols in a stem plot.
figure; % Create new figure window.
stem(xsym(1:10));
title('Random Symbols');
xlabel('Symbol Index'); ylabel('Integer Value');

Gambar 12. Random Simbol


Pada gambar diatas dapat dilihat perubahan bit menjadi symbol yang
memiliki nilai-nilai tertentu dengan mengunakan syntax mathlab sebagai berikut :
xsym = bi2de(reshape(x,k,length(x)/k).','left-msb')
Nilai integer yang diperoleh merupakan nilai biner yang diperoleh dari
random bits.
3.3 Modulasi Menggunakan 16-QAM, Add White Gaussian Noise (AWGN)
Channel
% Memodulasi Menggunakan 16-QAM
% Modulation
% Modulate using 16-QAM.
%y = dmodce(xsym,Fd,Fs,'qask',M);
hMod = comm.RectangularQAMModulator('ModulationOrder',M);
y = step(hMod,xsym);

% Add White Gaussian Noise (AWGN)


%% Transmitted Signal
ytx = y;

%% Channel
% Send signal over an AWGN channel.
EbNo = 10; % In dB
snr = EbNo + 10*log10(k) - 10*log10(nsamp);
ynoisy = awgn(ytx,snr,'measured');

%% Received Signal
yrx = ynoisy;

%% Scatter Plot
% Create scatter plot of noisy signal and transmitted
% signal on the same axes.
h = scatterplot(yrx(1:nsamp*5e3),nsamp,0,'g.');
hold on;
scatterplot(ytx(1:5e3),1,0,'k*',h);
title('Received Signal');
legend('Received Signal','Signal Constellation');
axis([-5 5 -5 5]); % Set axis ranges.
hold off;
Gambar 13. Received Sinyal
Pada gambar diatas menunjukan sinyal yang terkena noise setelah
melewati kanal AWGN. Diperoleh 16 Signal Konselasi dari phase -5 sampai 5.

3.4 Demodulasi menggunakan 16-QAM, Mengkonversi Integer-Valued


Signal ke Binary Signal, Mengkonversi Integer-Valued Signal ke
Binary Signal, Menghitung Sistem BER, Plotting Signal Constellation
%% Demodulation
% Demodulate signal using 16-QAM.
%zsym = ddemodce(yrx,Fd,Fs, 'qask', M);
hDemod = comm.RectangularQAMDemodulator('ModulationOrder',M);
zsym = step(hDemod,ynoisy);

%% Symbol-to-Bit Mapping
% Undo the bit-to-symbol mapping performed earlier.
z = de2bi(zsym,'left-msb'); % Convert integers to bits.
% Convert z from a matrix to a vector.
z = reshape(z.',prod(size(z)),1);
%% BER Computation
% Compare x and z to obtain the number of errors and
% the bit error rate.
[number_of_errors,bit_error_rate] = biterr(x,z)

hMod = comm.PSKModulator(16,0,'SymbolMapping','binary');
constellation(hMod)
Gambar 14. Konstelasi
Diagram konstelasi adalah sebuah penggambaran vektor yang
merepresentasikan proyeksi komplek dari sinyal berupa amplitudo dan fasa sinyal
yang ditransmisikan oleh modulator pada arah sumbu tegak lurus. Pada umumnya
sumbu horizontal digunakan untuk menunjukkan komponen sinyal cos(2ft),
sedangkan sumbu vertikal digunakan untuk menunjukkan komponen sinyal
sin(2ft).

Hasil pada command window


>> demodulation_using_16_QAM
number_of_errors =
14930
bit_error_rate =
0.4977
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Hasil gambar akan selalu berbeda ketika di running karena menggunakan
random binary data rate (randit).
2. Nilai integer yang diperoleh merupakan nilai biner yang diperoleh dari
random bits, sehingga nilai random biner tersebut mempengaruhi besar
kecilnya nilai integer.
3. Pada diagram konstelasi pada 16-PSK diperoleh 16 ukuran sinyal
konstelasi.
4. BER adalah jumlah kesalahan bit yang diterima dibagi dengan jumlah total
bit yang dikiri
DAFTAR PUSTAKA

Wijaya. W. 2016. Penjelasan Tentang Scatter Plot


https://www.academia.edu/18789782/Penjelasan_tentang_Scatter_plot.
Diakses pada 8 November 2016.

Prasetyo. 2009. Penjelasan Tentang Scatter Plot.


http://www.prasetyowijaya.com/2009/02/scatter-plot.html
Diakses pada 8 November 2016.

Isa Fahrin. 2012 . Jaringan Komputer (Bit Error Rate).


http://fahrin-isa-ansari.blogspot.co.id/2012/04/bit-error-rate-ber-ber-bit-
error-rate.html. Diakses pada 8 November 2016.

Suwoko. 2014. Additive White Gaussian Noise (AWGN), Kanal Rayleigh, SNR,
dan Eb/N0.
https://rezakahar.wordpress.com/teknik-telekomunikasi/common-question-
faq-pertanyaan-yang-sering-diajukan/awgn/
Diakses pada 8 November 2016.

Frengki. 2010. AWGN (Additive White Gausian Noise)


http://pemogramanbascom.blogspot.co.id/2010/04/awgn-additive-white-
gausian-noise.html
Diakses pada 8 November 2016.