Anda di halaman 1dari 24

BAB 5

KONSEP-KONSEP GEODESI UNTUK DATA SPASIAL


Setiap data spasial (baik yang analog maupun yang dijital) pasti mengandung
properties penting yang inherent di dalamnya; "metadata".
pengguna data spasial akan dihadapkan pada pilihan format data; analog, vektor,
atau raster, sistem koordinatnya global atau lokal? Sistem proyeksi petanya? Datum
dan ellipsoidnya? Bagaimana jika datumnya berbeda, apa perlu transformasi?
5.1 Pendahuluan
Objek atau entitas terutama objek-objek fisik seperti halnya "jalan", "sungai", (batas-
batas) "pulau", "danau", "administrasi", dan lain sejenisnya, sering disebut unsur
spasial, dalam SIG perlu memiliki referensi geografis.
Hal ini juga diperkuat beberapa pengertian atau definisi SIG yang secara eksplisit
telah mensyaratkan bahwa data spasial (grafis) SIG harus bereferensi geografis.
5.2 Geodesi
Historis mengenai bentuk bumi, ellipsoid, datum geodesi, sistem koordinat, dan
proyeksi peta sama sekali tidak dapat dipisahkan dari ilmu geodesi.
Menurut definisi klasik dari F.R. Helmert,
geodesi adalah "sains pengukuran dan pemetaan permukaan bumi" (pustaka
[TorgeSo]). Oleh karena itu, disiplin ilmu geodesi termasuk ke dalam bidang
geosciences; selain bisa juga dimasukkan ke dalam kelompok engineering sciences.
Sedangkan menurut sumber pustaka [Umar86],
geodesi merupakan salah satu cabang ilmu matematika terpakai yang bermaksud
menentukan bentuk dan ukuran bumi, menentukan posisi (koordinat) titik-titik,
panjang dan arah garis di permukaan bumi, dan mempelajari medan gayaberat bumi.
Secara umum, ilmu geodesi dapat dibagi ke dalam dua bagian;
(i) "geodesi geometris" yang membahas masalah bentuk dan ukuran bumi,
penentuan posisi titik, panjang, dan arah garis,
(ii) "geodesi fisik" yang membahas masalah medan gayaberat bumi (yang
akhirnya bisa juga menentukan bentuk bumi).
5.3 Bentuk Bumi
Terminologi datum geodesi, proyeksi peta, dan sistem referensi koordinat yang telah
dikembangkan digunakan untuk mendeskripsikan bentuk permukaan bumi beserta
posisi atau lokasi geografis unsur permukaan bumi yang menarik perhatian manusia.
Deskripsi ini sangat diperlukan mendukung aktivitas seperti survei, pemetaan, dan
navigasi.

5.3.1 Model-Model Geometrik Bentuk Bumi


Bentuk bumi hasil evolusi tersebut antara lain adalah:
a) Tiram/oyster atau cakram datar yang terapung di permukaan laut (menurut
bangsa Babilon yang berkembang di sekitar 2500 tahun SM).
a) Lempeng datar (Hecateus, bangsa Yunani kuno pada 500 SM).
b) Kotak persegi panjang (anggapan para Geograf Yunani kuno pada 500 SM
hingga awal 400 SM).
c) Piringan lingkaran atau cakram (bangsa Romawi).
d) Bola (Yunani kuno: Pythagoras ( 495 SM), Aristoteles membuktikan bentuk
bola bumi dengan 6 argumennya ( 340 SM), Archimedes ( 250 SM),
Erastosthenesi ( 250 SM).
e) Buah jeruk asam / lemon (J. Cassini (1683 - 1718)).
f) Buah jeruk manis/orange (ahli fisika: Huygens (1629 - 1695) dan Isac Newton
(1643 -- 1727)).
g) Ellips putar (french academy of sciences [didirikan pada 1666]).
Dengan adanya pegepengan pada kedua kutubnya menyebabkan jari-jari ke
arah ekuator lebih panjang dari pada yang ke arah kutub, nilai perbedaan nilai
(panjang) sekitar 20 km (selisih antara nilai setengah sumbu panjang (a) dengan
setengah sumbu pendek (b) ellipsoid referensi).
Hasil-hasil pengamatan yang terakhir membuktikan bahwa model geometrik yang
paling tepat untuk merepresentasikan bentuk bumi adalah ellipsoid (ellips putar);
Model bentuk bumi ellipsoid ini sangat diperlukan untuk hitungan jarak dan arah
yang akurat dengan jangkauan yang sangat jauh. (Arah kadang beberapa pihak
menyebutnya sebagai: sudut jurusan, azimuth, bearing, atau heading)
Receivers GPS untuk memenuhi kebutuhan navigasi menggunakan model bumi ellipsoid
dalam menentukan posisi pengguna atau target yang kemudian ditentukan.
Model bentuk bumi sebagai bidang datar, masih digunakan untuk kebutuhan praktis
jarak jarak (alat ukur dan target) pengukuran yang cukup pendek (kurang dari 10 km),
kelengkungan bumi dapat diabaikan [Earth2o].
Model bentuk bumi bulat atau bola terkadang masih digunakan untuk memenuhi
kebutuhan navigasi dengan jarak pendek; (sebagai bentuk pendekatan karena
sebenarnya model bumi bola juga masih belum berhasil memodelkan bentuk bumi
secara penuh (realitas)).

5.3.2 Ellipsoid Referensi


Salah satu tugas terkait bidang "geodesi geometris" adalah menentukan
koordinat titik-titik, jarak, dan arah unsur unsur spasial di permukaan bumi
untuk memenuhi berbagai kebutuhan praktis dan ilmiah, sehingga diperlukan
kehadiran suatu bidang sebagai referensi hitungan yang harus memenuhi
keteraturan tertentu dan juga konsisten.
Pada kenyataannya, permukaan bumi fisik merupakan permukaan yang sangat
tidak teratur. Permukaan bumi fisik (realitas) tidak dapat digunakan sebagai bidang
(referensi) hitungan geodesi.
Untuk memenuhi kebutuhan (referensi) hitungan-hitungan terkait ke-geodesi-an,
maka permukaan fisik bumi didekati dengan bentuk dan ukuran yang sangat
mendekati bumi, Permukaan yang dipilih adalah bidang permukaan yang mendekati
bentuk dan ukuran geoid.
Permukaan geoid memiliki bentuk yang sangat mendekati geometri ellips-putar
dengan sumbu pendek sebagai sumbu putar yang berimpit dengan sumbu putar
bumi.
Geometri ellipsoid ini digunakan sebagai referensi hitungan terkait ilmu geodesi,
akhirnya disebut ellipsoid referensi (permukaan referensi geometrik).

Gambar 5.1a: Contoh Tampilan Ellipsoid Referensi


Geometri ellipsoid referensi didefinisikan oleh nilai jari-jari ekuator (a) dan
pegepengan (f) ellips putarnya. Setengah sumbu pendek (b), eksentrisitas (e), dan
lain sejenisnya dapat dihitung dengan menggunakan ke dua nilai parameter pertama
di atas.
Dengan memperhatikan kondisi terkait, fisik-lokal permukaan bumi (bentuk geoid)
beserta faktor lainnya, tidak semua negara di dunia ini menggunakan ellipsoid
(referensi) yang sama.
Jika ellipsoid referensi dipilih hanya berdasarkan kesesuaiannya (sedekat mungkin)
dengan bentuk permukaan geoid lokalnya (wilayah yang bersangkutan saja dan relatif
tidak luas), maka ellipsoid referensi tersebut dapat disebut juga sebagai ellipsoid
lokal.
Jika ellipsoid referensi yang digunakan sesuai dengan bentuk geoid untuk daerah yang
relatif luas (tingkat regional), maka ellipsoid referensi tersebut dikenal sebagai
ellipsoid regional.
Jika ellipsoid referensi yang dipilih mendekati bentuk geoid untuk keseluruhan
permukaan bumi, maka ellipsoidnya juga disebut sebagai ellipsoid global.
Ilustrasi,
Indonesia tahun 1860 menggunakan ellipsoid Bessel 1841 (a = 6,377,397 meter; l/f =
299.15), tetapi tahun 1971 Indonesia juga menggunakan ellipsoid GRS-67 (a =
6,378,160 meter; l/f = 298.247) yang kemudian disebut sebagai speroid nasional
Indonesia (SNI).
Sejak sekitar tahun 1996, Indonesia mengadopsi Ellipsoid referensi (global) GRS'80
(yang digunakan oleh datum WGS84 dan sangat terkait dengan aplikasi satelit GPS).
Kemudian, Indonesia memberi nama datum terkait ellipsoid referensi global yang
berparameter a=6,378,l37; l/f= 298.257223563 ini sebagai DGN-95.
Untuk mendukung kebutuhan pekerjaan praktis seputar geodesi, permukaan bidang
datar maupun permukaan bola masih digunakan.
ilustrasi,
untuk pekerjaan geodesi yang dilakukan di dalam wilayah maksimal 100 km 2,
permukaan ellipsoid dapat dianggap sebagai permukaan bola. Sedangkan jika
pekerjaan tersebut dilakukan di dalam wilayah maksimal 55 km 2, permukaan ellipsoid
yang bersangkutan dapat dianggap sebagai permukaan bidang datar.
Dengan demikian, permukaan dengan geometri bola maupun permukaan bidang
datar dapat pula disebut sebagai bidang (permukaan) referensi (lihat pustaka
[Umar86]).

Gbr 5.1b
Keterangan
N adalah undulasi, geoid H adalah tinggi, ortometrik h adalah tinggi geometrik

5.4 Datum Geodesi


Diperlukan suatu datum yang dapat mendefinisikan sistem koordinat.
Datum secara umum, diartikan sebagai besaran-besaran atau konstanta-konstanta
(quantities) yang dapat bertindak sebagai referensi atau dasar untuk proses hitungan
besaran-besaran yang lain.
Di lain pihak, datum geodesi diartikan sebagai sekumpulan konstanta yang digunakan
untuk mendefinisikan sistem koordinat yang kemudian difungsikan sebagai kontrol
geodesi (penentuan dan hitungan koordinat-koordinat titik-titik yang terdapat di
permukaan bumi).
Untuk mendefinisikan suatu datum geodesi yang lengkap, paling sedikit diperlukan
delapan besaran:
o tiga konstanta (Xo, Yo, Zo) untuk mendefinisikan titik awal (origin) sistem
koordinat,
o tiga besaran untuk menentukan arah (ke sumbu X, Y, Z) sistem koordinat, dan
o dua besaran lainnya (nilai setengah sumbu panjang [a], dan nilai pegepengan [f])
untuk mendefinisikan dimensi ellipsoid referensi yang digunakannya.
Sebelumnya datum geodesi didefinisikan oleh lima besaran saja:
o koordinat titik awal (bujur dan lintang),
o sudut azimuth dari titik awal (a), dan
o dua besaran yang mendefinisikan ellipsoid referensi yang digunakan (nilai
setengah sumbu panjang [a], dan pegepengan [f] ellipsoid) (lihat pustaka
[Rockville86]).
5.4.1 Datum Lokal
Datum lokal adalah datum geodesi di mana ellipsoid referensinya dipilih sedekat
mungkin dengan bentuk permukaan geoid lokalnya (datumnya menggunakan ellipsoid
lokal).
Pada masa yang telah lalu (tahun 1862-1880), beberapa geodetic engineer Indonesia
pernah melakukan pekerjaan penentuan posisi di pulau Jawa dengan metode
triangulasi.
Penentuan posisi ini menggunakan ellipsoid Bessel 1841 sebagai ellipsoid referensi,
meridian Jakarta (Batavia) sebagai meridian nol (relatif atau semu), dan titik awal
(lintang) beserta sudut azimuthnya diambil dari titik triangulasi di puncak Gunung
Genoek. Oleh sebab itu, datum geodesi ini, di kemudian hari, dikenal sebagai datum
"Genoek".
Tahun 1911, pengukuran jaring triangulasi juga mulai dikerjakan di pulau Sulawesi.
Ellipsoid referensi yang digunakan adalah Bessel 1841, meridian yang melalui kota
Makasar dianggap sebagai meridian nol, dan titik awal beserta sudut azimuthnya
ditentukan di titik triangulasi di gunung Moncong Lowe; oleh karena itu, di kemudian
hari, datum ini dikenal sebagai datum "Makasar" ("Celebes" atau "Moncong Lowe").
Pada awal tahun 1970-an, untuk memenuhi keperluan pemetaan rupa bumi pulau
Sumatra, BAKOSURTANAL menggunakan datum baru; Datum "Indonesia 1974" (atau
"Padang"). Datum ini menggunakan ellipsoid referensi GRS-67 (a=6,378,l6o;
1/1=298.247) yang diberi nama SNI (Speroid Nasional Indonesia).
Untuk menentukan orientasi SNI di dalam ruang, telah ditetapkan suatu datum relatif
dengan eksentris (stasiun Doppler) BP-A (1884) di Padang sebagai titik datum SNI
(lihat pustaka [Subarya95]). Sejalan dengan perjalanan waktu dan oleh sebab faktor-
faktor: (l) datum di atas memiliki ketelitian yang belum homogen jika digunakan untuk
survei dan pemetaan, (2) teknologi penentuan posisi dengan bantuan satelit telah
terbuka untuk pengembangan kerangka dasar geodesi tunggal, dan (3) adanya
kebutuhan datum geodesi yang baru sebagai acuan untuk semua kegiatan survei dan
pemetaan di wilayah Indonesia, maka (pada tahun 1996) ditetapkan penggunaan
datum baru, "DGN-95", untuk memenuhi kebutuhan seluruh aktivitas survei dan
pemetaan di wilayah Republik Indonesia.
Ketetapan ini telah dituangkan di dalam surat keputusan (SK) Ketua Badan Koordinasi
Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL) dengan nomor HK.02.04/II/KA/96
(lihat pustaka [Bako96]).
Datum "DGN-95", memiliki parameter-parameter ellipsoid referensi a=6,378,l37 dan
1/f=298.257223563. Sementara itu, realisasi kerangka dasarnya di lapangan diwakili
oleh Jaring Kontrol Geodesi Nasional (JKGN) Orde Nol beserta kerangka perapatannya.
Datum Geodesi Nasional 1995.
Sebagai informasi, beberapa datum lokal lainnya yang pernah digunakan di Indonesia
antara lain adalah datum "Bukit Rimpah" (untuk survei & pemetaan di Kepulauan
Bangka, Belitung, dan sekitarnya) dan datum "Gunung Segara" (untuk survei &
pemetaan di pulau Kalimantan dan sekitarnya).
Sedangkan beberapa datum lokal yang pernah digunakan di negara lain antara lain
adalah "Kertau 1948" (Malaysia bagian barat dan Singapura), "Hutzushan" (Taiwan),
"Luzon" (Filipina), "Indian" (India, Nepal, dan Bangladesh).

5.4.2 Datum Regional


Datum regional adalah datum geodesi di mana pemilihan ellipsoid referensinya
didasarkan pada bentuknya yang sedekat mungkin dengan bentuk geoid yang
merepresentasikan area lokal yang relatif luas (tingkat regional);
Datumnya menggunakan ellipsoid regional.
Datum ini dapat digunakan bersama mulai dari beberapa negara yang berdekatan
hingga beberapa negara yang terletak di dalam sebuah benua.
"Indian" adalah nama salah satu datum regional yang masih digunakan bersama oleh
tiga negara. datum "Amerika Utara 1983" (atau "NAD83") yang masih digunakan
bersama oleh beberapa negara yang terletak di benua Amerika bagian utara,
"European Datum 1989" (atau "ED89") yang digunakan secara bersama oleh
beberapa negara yang terietak di benua Eropa, dan "Australian Geodetic Datum
1998" (atau "AAGD98") yang digunakan bersama oleh negara-negara yang terletak di
benua Australia.
Pemilihan datum, bagi suatu negara, adalah bersifat bebas, tidak mengikat, dan tidak
bergantung pada negara-negara yang lain.
Perbedaan datum yang digunakan oleh beberapa negara yang bersebelahan sering
kali menghasilkan hitungan-hitungan posisi-posisi titik-titik batas (baik wilayah
perairan maupun daratan) yang berbeda. Hal ini sangat berpotensi untuk
menimbulkan perbedaan-perbedaan interpretasi yang mengarah pada suatu konflik
kepentingan.
Teknologi survei, pemetaan, dan penentuan posisi (dan navigasi) yang selalu
berkembang dan menjadi trend (satelit GPS, Glonass, dan Galileo) juga menggunakan
datum yang cenderung bersifat global (selalu mengakomodasikan kepentingan
negara-negara yang menjadi pengembang teknologi terkait).
Dengan memperhatikan potensi konflik kepentingan antarnegara (atau pihak-pihak
yang berseberangan) dan penggunaan datum default yang digunakan oleh teknologi
survei dan pemetaan yang menjadi trend saat ini, akhirnya juga harus menggunakan
datum global. globalisasi datum.

5.4.3 Datum Global


Datum global adalah datum geodesi di mana ellipsoid referensinya dipilih berdasarkan
kesesuaian bentuknya dengan bentuk permukaan geoid bagi seluruh permukaan
bumi; oleh sebab itu, datumnya menggunakan ellipsoid (referensi) global.
Datum global pertama yang pernah digunakan negara-negara di dunia adalah
"WGS60", "WGS66", dan "WGS72". Meskipun beberapa datum global ini masih dapat
dipakai pihak pengembangnya (dalam hal ini Departemen Pertahanan Amerika Serikat
[DoD]), datum global ini dipandang masih memiliki beberapa kelemahan yang dapat
menghalangi kelangsungan penggunaannya secara penuh.
Awal tahun 1984. DoD mempublikasikan penggantian penggunaan datum "WGS72"
dengan datum "WGS84".
Datum "WGS84" yang juga dikembangkan oleh DMA (Defense Mapping Agency) ini
merepresentasikan pemodelan bumi dari
o standpoint gravitasional (gaya berat bumi yang bersifat fisis),
o geodetik, dan geometrik dengan menggunakan data-data, teknik, dan teknologi
yang ada pada saat itu.
Datum ini juga merupakan sistem terestrial konvensional (CTS).
Dengan memodifikasi sistem satelit navigasi milik angkatan laut Amerika Serikat
(NNSS), atau sistem TRANSIT, reference frame11 milik Doppler (NSWC 9Z-2) untuk
titik awal (origin) dan skala. Meridian referensinya (nol) diimpitkan dengan meridian
nol BIH12 (Bureau International de I'Heure) pada saat itu (lihat pustaka [Dma93]).
Beberapa parameter atau konstanta yang terdapat pada datum global "WGS84" ini
diperoleh dengan cara mengadopsi konstanta-konstanta yang sudah ada pada
ellipsoid referensi "GRS'So".

yaitu BIPM (International Bureau of Weights and Measures) dan IERS (international
earth rotation and reference systems services).
Dari tahun 1956 hingga 1987, BIH merupakan bagian dari Federation of Astronomical
and Geophysical Data Analysis Services (FAGS).
Keterangan gambar:
a) Sumbu Z: sumbu ini mengarah ke kutub utara CTP (convensional terrestrial
pole) sebagaimana telah didefinisikan oleh (institusi) BIH (Bureau International
de I'Heure).
b) Sumbu X: sumbu ini merupakan garis perpotongan antara bidang meridian
referensi datum "WGS84" dengan bidang ekuator CTP. Bidang meridian nol
derajat didefinisikan oleh BIH.
c) Sumbu Y: karena sistem koordinat ini juga merupakan sistem right-handed,
ECEF (earth centered earth fixed), dan sistem koordinat ortogonal, maka sumbu
Y-nya adalah sumbu X yang diputar sejauh 90 (derajat) ke arah timur di bidang
ekuator CTP.
Demikian pentingnya datum global "WGS'84" ini hingga sistem satelit GPS-pun
menggunakannya sebagai datum (default) untuk menentukan posisi tiga dimensi dari
target-target yang ditentukan.

5.4.4 Transformasi Datum


Dari gambar 5.4 (di bawah) bentuk permukaan ellipsoid lokal (datum lokal) mendekati
bentuk geoid hanya di daerah (area) survei yang relatif sempit.
Jika ellipsoid-nya diganti dengan yang lebih besar dan bentuk permukaannya
mendekati geoid bersama untuk daerah yang lebih luas hingga dapat mencakup
beberapa negara atau bahkan hingga satu benua, maka datum tersebut disebut
sebagai datum regional (regional datum).
Jika ellipsoidnya sangat mendekati bentuk geoid secara keseluruhan permukaan bumi,
maka ellipsoidnya disebut sebagai ellipsoid global (dan datumnya disebut datum
global).
Dengan banyaknya datum (lokal atau regional) yang digunakan, maka koordinat-
koordinat (bujur [] dan lintang []) yang dihasilkannya akan berbeda pula, suatu titik
akan memiliki koordinat-koordinat yang berbeda jika dihitung dengan menggunakan
datum-datum yang berbeda. Perbedaan ini dapat mencapai hingga ratusan meter jika
dikonversikan ke satuan panjang.
Untuk mencegah munculnya kesalahan interpretasi mengenai koordinat-koordinat
yang digunakan, para pengguna data spasial seharusnya mengetahui datum atau
sistem koordinat yang menjadi basis representasi koordinat (lintang dan bujur) yang
digunakannya.

Untuk memenuhi keperluan survei geodesi yang lebih luas dan detail, seperti halnya
penentuan batas-batas wilayah yang terletak di antara negara-negara yang
bersebelahan, maka diperlukan datum bersama (global).
Prinsip transformasi datum adalah pengamatan pada titik-titik yang sama (titik
sekutu).
Dari hasil pengukuran, titik-titik sekutu ini akan memiliki koordinat (yang berbeda)
dalam berbagai datum. Dari perbedaan koordinat-koordinat ini dapat diketahui
hubungan matematis di antara datum-datum yang bersangkutan.
Hubungan matematis antar datum ini dapat dinyatakan dengan 7 (tujuh) parameter
transformasi seperti berikut:
o translasi titik asal (origin) dx, dy, dz (atau sering dituliskan sebagai Xo, Yo, Zo);
o rotasi sumbu koordinat rx, ry, rz; dan skala S. Selanjutnya,
o titik-titik yang lain (titik-titik bukan sekutu) dapat ditransformasikan dengan
menggunakan tujuh parameter di atas ke dalam rumus Bursa-Wolf berikut.

transformasi datum juga dapat dilakukan dengan menggunakan rumus-rumus


transformasi datum Molodensky standard (lihat pustaka [Dma93] halaman 7-8).

5.4.5 Datum Horizontal


Ellipsoid referensi paling sering digunakan sebagai bidang (permukaan) referensi
untuk penentuan posisi horizontal (bujur dan lintang). datumnya sering pula disebut
sebagai datum horizontal.
Koordinat posisi horizontal ini (,) beserta tingginya di atas permukaan ellipsoid
dapat dikonversikan ke sistem koordinat kartesian 3D yang mengacu pada sumbu-
sumbu ellipsoid yang bersangkutan.
Pada masa lalu, tidak mudah untuk merealisasikan sistem geosentrik (mengacu pada
pusat bumi) hingga kecenderungan berada pada penggunaan datum lokal atau
regional, pada saat ini, dengan teknologi yang maju, kecenderungan berada pada
penggunaan datum horizontal geosentrik yang global seperti WGS84 di atas sebagai
pengganti datum lokal atau regional.
5.4.6 Datum Vertikal
Untuk merepresentasikan informasi ketinggian permukaan tanah atau kedalaman
dasar sungai/danau/laut, tidak jarang digunakan datum (vertikal) yang berbeda.
Sebagai misal, peta laut pada umumnya menggunakan suatu bidang permukaan air
rendah (chart datum) sebagai bidang permukaan referensi sehingga nilai-nilai
kedalaman yang direpresentasikan oleh peta jenis ini mengacu pada pusat rendah
atau low tide (lihat pustaka [Djunar2o]),
Saat ini terdapat lebih dari satu bidang vertikal yang dapat dijadikan sebagai chart
datum15 di atas:
o MLLW (mean lower low water),
o LLWLT (lower low water large tide),
o LLWST (lowest low water spring tide), dan
o LAT (lowest astronomical tide).
Perbedaan bidang-bidang (referensi) vertikal yang digunakan sebagai chart datum ini
akan menyebabkan perbedaan nilai-nilai yang direpresentasikan oleh peta laut yang
bersangkutan, sehingga akan berpengaruh pada penentuan atau penarikan batas
(horizontal) perairan negara-negara yang bersebelahan.

5.5 Sistem Referensi Geodesi


Agar hasil-hasil pengamatan di bidang geodesi dapat saling dibandingkan secara
proporsional, dikaitkan, digunakan, atau bahkan mendukung hasil pengamatan di
bidang atau disiplin ilmu lainnya (terutama astronomi dan geofisika), maka dibuatlah
suatu sistem referensi geodesi (Geodetic Reference System GRS) atas rekomendasi
organisasi IUGG (International Union Geodesy and Geophysics) [TorgeSo].
Di Madrid (Spanyol), pada tahun 1924, sidang umum IUGG telah memutuskan bahwa
ellipsoid Hayford (1909) dijadikan sebagai ellipsoid internasional (a=6378388 m,
f=l/297.o). Kemudian, pada sidang umum berikutnya, pada tahun 1930, di Stockholm
(Swedia), IUGG juga mengadopsi rumus-rumus gaya berat internasional (rumus 5.2
berikut yang telah dikembangkan oleh G. Cassini) sebagai rumus-rumus model gaya
berat normal ellipsoid ini.
0 = 9.78049(1 + 0.0052884 sin2 - 0.0000059 sin2 2)ms-2.. (5.2)
Nilai-nilai parameter geometrik di atas, seperti halnya setengah sumbu panjang (a)
dan pegepengan ellipsoid (f), dihitung oleh Hayford dengan menggunakan materi
pengamatan astro-geodesy di Amerika Serikat.
Sistem referensi internasional tahun 1924/1930 ini didefinisikan oleh empat
parameter (a, f, a gayaberat di ekuator, kecepatan rotasi bumi). Hal ini masih tidak
memadai untuk merepresentasikan pendekatan terhadap ellipsoid bumi rata-rata
untuk memenuhi beberapa kebutuhan ilmiah.
Pada tahun 1967, di Luzern (Swiss), sidang umum IUGG memutuskan untuk
mengganti sistem referensi tahun 1924/1930 di atas dengan sistem referensi geodesi
tahun 1967 (GRS'67).
GRS ini memiliki konstanta-konstanta tambahan a=6378l6o m, =1/298.247,
GM=3986o3xl09 m3s-2, J2=lo82.7x10-6, dan 0=7.2921151467x10-5 rad s-1. Selain itu,
GRS'67 ini juga memiliki beberapa ketentuan berikut16:
o Sumbu putar ellipsoid referensinya berposisi paralel (sejajar) dengan arah sumbu
rotasi sebagaimana telah didefinisikan oleh CIO (convensional international origin)
untuk masalah gerakan kutub.
o Meridian referensinya berposisi paralel terhadap meridian nol sebagaimana
diadopsi oleh BIH untuk koordinat bujur (meridian menengah Greenwich).
Puncaknya terjadi di Canberra (Australia), Desember tahun 1979, pada sidang umum
ke XVII IUGG yang memutuskan penggantian GRS'67 oleh GRS'80 (lihat pustaka
[Moritzoi]). Dengan karakteristik-karakteristik berikut:
a) Jari-jari ekuator a=6378l37 m, konstanta gaya berat geosentrik GM=398605xl0 8
m3s-2, faktor bentuk dinamis J2=108263xl0-8, dan kecepatan sudut bumi,
=7292ll5xl0-ll rad s-1
b) Sumbu putar ellipsoid referensi berposisi paralel terhadap arah yang didefinisikan
oleh CIO, dan meridian utamanya juga berposisi paralel dengan meridian nol bujur
yang diadopsi oleh BIH.
Karena konstanta-konstanta model bumi yang dimiliki oleh GRS'80 masih sangat
relevan dan memadai untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan aplikasi pada saat
datum global WGS'84 dipublikasikan, maka konstanta-konstanta GRS'80 tersebut
akhirnya juga diadopsi sebagai bagian dari konstanta-konstanta datum WGS'84.

5.6 Sistem Proyeksi Peta


Hasil (utama) suatu proses survei dan pemetaan adalah peta itu sendiri.
Peta merupakan suatu representasi konvensional (miniatur) dari unsur-unsur fisik dari
sebagian atau keseluruhan permukaan bumi di atas media bidang datar dengan skala
tertentu (dicuplik dari pustaka [Rockville86]).
Permukaan bumi ini secara keseluruhan merupakan permukaan yang memiliki bentuk
melengkung hingga sama sekali tidak memungkinkan untuk dapat dibentangkan
menjadi bidang datar sempurna tanpa mengalami perubahan atau kerusakan (robek).
Hasil-hasil survei & pemetaan di permukaan bumi yang luas dan melengkung ini juga
tidak dapat dipetakan pada bidang datar tanpa mengalami distorsi atau perubahan
dari bentuk aslinya.
Pada kondisi (asumsi) tertentu, kita masih dapat mengusahakan pembuatan peta
yang 'ideal' dengan memenuhi beberapa persyaratan geometriknya.
Adapun persyaratan-persyaratan geometrik yang harus dipenuhi oleh suatu peta
sehingga menjadi peta yang ideal adalah (lihat pustaka [Umar86a]):
1) Jarak-jarak antara titik-titik yang terletak di atas peta harus sesuai dengan jarak-
jarak realitasnya (aslinya di permukaan bumi dengan memperhatikan faktor skala
peta).
2) Luas area (atau wilayah) suatu unsur yang direpresentasikan di atas peta harus
sesuai dengan luas yang sebenarnya (juga dengan mempertimbangkan skalanya).
3) Sudut atau arah suatu garis yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai
dengan arah yang sebenarnya (seperti di permukaan bumi).
4) Bentuk suatu unsur yang direpresentasikan di atas peta harus sesuai dengan
bentuk yang sebenarnya (juga dengan mempertimbangkan faktor skalanya).
Oleh karena itu, dengan kondisi permukaan bumi yang melengkung ini, untuk
membuat suatu peta yang memenuhi syarat-syarat tersebut jelas tidak mungkin.
Pembuatan suatu peta untuk daerah yang relatif kecil, permukaan bumi dapat
diasumsikan sebagai bidang datar sederhana, apabila peta untuk daerah yang sempit
ini tidak dikaitkan atau disambungkan dengan peta-peta lain yang letaknya
bersebelahan, maka peta ini dapat berdiri sendiri sehingga dapat dianggap sebagai
miniatur yang sebenarnya dari daerah yang bersangkutan. Untuk peta daerah sempit
seperti ini, persyaratan-persyaratan geometris peta (keempat butir di atas) secara
praktis dapat dipenuhi.
Masalahnya adalah bagaimana jika survei dan pemetaan dilakukan pada wilayah yang
relatif luas. Prosesnya permukaan bumi harus diperhitungkan sebagai permukaan
yang melengkung. Untuk memecahkan masalah ini, dikembangkanlah metode-
metode proyeksi peta.
Dengan metode proyeksi peta ini, suatu peta bisa saja memenuhi beberapa (sebagian
dari empat butir di atas) syarat geometrik, tetapi pasti ada (minimal satu) syarat lain
yang tidak terpenuhi demikian pula sebaliknya.
Dengan menggunakan metode proyeksi peta, luas suatu wilayah (area) dapat
dipetakan sesuai (sama) dengan aslinya, tetapi bentuknya akan mengalami
perubahan; demikian pula sebaliknya, di dalam sistem proyeksi peta, perubahan-
perubahan ini dapat diusahakan sekecil mungkin.
Secara umum, proyeksi peta merupakan suatu fungsi yang merelasikan koordinat
titik-titik yang terletak di atas permukaan suatu kurva (biasanya berupa ellipsoid atau
bola) ke koordinat titik-titik yang terletak di atas bidang datar [Rockville86].
Metode proyeksi peta bertujuan untuk 'memindahkan' pola-pola atau unsur-unsur
yang terdapat di atas suatu permukaan ke permukaan yang lain dengan
menggunakan rumus-rumus matematis tertentu sehingga tercapai kondisi yang
diinginkan.
Di bidang geodesi (pemetaan), secara khusus, proyeksi peta bertujuan untuk
memindahkan unsur-unsur titik, garis, dan sudut dan permukaan bumi (ellipsoid) ke
suatu bidang datar dengan menggunakan rumus-rumus proyeksi peta sehingga
tercapai kondisi yang diinginkan.
Kondisi yang dimaksud adalah meliputi ciri-ciri unsur-unsur asli yang ingin tetap
dipertahankan:
1. jarak-jarak di atas peta akan tetap sama dengan jarak-jarak sebagaimana di
permukaan bumi (dengan memperhitungkan faktor skala peta), proyeksi ini
disebut sebagai proyeksi ekuidistan;
2. sudut atau arah (bentuk unsur) di atas peta akan tetap sama dengan sudut atau
arah (bentuk unsur) sebagaimana di permukaan bumi, proyeksi ini disebut
sebagai proyeksi konform;
3. luas unsur di atas peta akan tetap sama dengan luas unsur sebagaimana di
permukaan bumi (juga dengan memperhitungkan faktor skala peta), proyeksi ini
disebut sebagai proyeksi ekuivalen.

5.6.1 Jenis Proyeksi Peta


Hingga saat ini, sudah banyak proyeksi peta yang pernah dibuat, proyeksi-proyeksi
peta ini dapat dikelompokkan menurut jenis-jenis berikut:
1) Menurut bidang proyeksi yang digunakan:
o Proyeksi azimuthal, menggunakan bidang datar sebagai bidang proyeksi.
o Proyeksi kerucut (conic), menggunakan bidang kerucut (dapat didatarkan
tanpa mengalami perubahan dan kerusakan) sebagai bidang proyeksi.
o Proyeksi selinder (cylindrical), menggunakan bidang selinder (dapat
didatarkan tanpa mengalami perubahan dan kerusakan) sebagai bidang
proyeksi.
2) Menurut kedudukan garis karakteristik atau kedudukan bidang proyeksi terhadap
bidang datum yang digunakan:
o Proyeksi normal, garis karakteristik berimpit dengan sumbu bumi.
o Proyeksi miring, garis karakteristik membentuk sudut terhadap sumbu bumi.
o Proyeksi transversal atau ekuatorial, garis karakteristik tegak lurus
terhadap sumbu bumi.
3) Menurut ciri-ciri asli yang tetap dipertahankan:
o Proyeksi ekuidistan (jarak di atas peta sama dengan jarak di permukaan
bumi).
o Proyeksi konform (sudut dan arah di atas peta sama dengan sudut dan arah
di permukaan bumi).
o Proyeksi ekuivalen (luas di atas peta) sama dengan luas di permukaan bumi.
4) Menurut karakteristik singgungan antara bidang proyeksi dengan bidang
datumnya:
o Proyeksi menyinggung.
o Proyeksi memotong.
o Proyeksi baik yang tidak menyinggung maupun tidak memotong (hampir tidak
pernah ada

Dengan adanya ketiga jenis bidang proyeksi ini (bidang datar, kerucut, dan selinder),
tiga jenis kedudukan bidang proyeksi, tiga jenis karakteristik yang tetap
dipertahankan, dan dua jenis karakteristik singgungan (jenis yang ketiga [tidak
menyinggung dan tidak memotong] hampir tidak pernah dibuat), maka secara umum
terdapat 3x3x3x2 =54 jenis proyeksi yang berbeda.

5.6.2 Pemilihan Proyeksi Peta


Dari 54 macam pemilihan di atas, beberapa faktor yang dapat dipertimbangkan atau
dapat dijadikan petunjuk di dalam pemilihan ini proyeksi peta, terutama untuk
kebutuhan peta topografi (lihat pustaka [Umar86a]):
o Tujuan penggunaan dan ketelitian peta yang diinginkan.
o Lokasi geografis, bentuk, dan luas wilayah yang akan dipetakan.
o Ciri-ciri atau karakteristik asli yang ingin tetap dipertahankan.
Sebagai contoh, pemetaan topografi yang memiliki wilayah dengan bentangan searah
barat-timur pada umumnya dipetakan dengan menggunakan sistem proyeksi kerucut,
normal, konform, dan menyinggung di titik tengah wilayah yang dipetakan. Proyeksi
seperti ini dikenal sebagai proyeksi LAMBERT.
Sedangkan untuk survei dan pemetaan dengan wilayah yang membentang searah
utara-selatan pada umumnya dipetakan dengan dengan menggunakan proyeksi
selinder, transversal, konform, dan menyinggung meridian yang berada tepat di
tengah wilayah pemetaan tersebut. Proyeksi ini dikenal sebagai proyeksi transverse
mercator atau universal transverse konform.
Dan untuk pemetaan wilayah di sekitar kutub pada umumnya digunakan proyeksi
azimuthal (bidang datar), normal, konform. Proyeksi ini dikenal sebagai proyeksi
stereografis.
Berkaitan dengan masalah proyeksi peta, data spasial kemungkinan besar terdiri dari
beberapa peta yang kemudian salah satunya dijadikan sebagai peta dasar sementara
beberapa peta yang lain mengandung tema-tema yang berbeda (peta tematik).
Layer-layer peta ini kemungkinan memiliki status-status (institusi pembuat, tahun
pembuatan, skala, proyeksi peta, dan lain sejenisnya) yang berbeda pula.
Dalam konteks ini, selain skala, untuk mencegah kesalahan interpretasi terhadap
koordinat-koordinat yang digunakan, jenis-jenis sistem proyeksi peta-peta yang
digunakan juga harus diketahui, jenis-jenis sistem proyeksi peta-peta tematik ini juga
harus disamakan dengan jenis sistem proyeksi yang menjadi peta dasarnya.
Dengan demikian, diperlukan proses transformasi koordinat dari suatu sistem proyeksi
ke sistem proyeksi peta yang lain (dalam hal ini peta dasar) atau dari suatu bagian
derajat ke bagian derajat yang lain (dalam hal ini bagian derajat peta dasar).

5.6.3 Universal Transverse Mercator (UTM)


Salah satu sistem proyeksi peta yang terkenal dan sering digunakan adalah UTM.
Posisi horizontal dua dimensi (x,y) utm didefinisikan dengan menggunakan bidang
proyeksi selinder, tranversal, dan konform yang memotong bumi pada dua meridian
standard. Meridian standard ini diproyeksikan secara ekuidistan. Pada sistem
koordinat proyeksi ini, secara horizontal, seluruh permukaan bumi dibagi menjadi 60
bagian yang disebut sebagai zone UTM. Setiap zone ini dibatasi oleh dua meridian
selebar 6 dan memiliki meridian tengah sendiri.
Sebagai contoh, zone l dimulai dari 180 BB hingga 174 BB, zone 2 dari 174 BB
hingga 168 BB, terus ke arah timur hingga zone 60 yang dimulai dari 174 BT hingga
180 BT.
Batas nilai koordinat lintang pada sistem koordinat proyeksi ini adalah 80 LS hingga
84 LU. Setiap bagian derajat memiliki lebar (ke arah vertikal) 8 yang pembagiannya
dimulai dari 80 LS ke arah utara.
Bagian derajat dari bawah (LS) notasinya dimulai dari C, D, E, F, hingga X (tetapi huruf
I dan 0 tidak digunakan). Oleh sebab itu, bagian derajat (blad) 80 LS hingga 72 LS
diberi notasi C, 72 LS hingga 64 LS diberi notasi D, 64 LS hingga 56 LS diberi
notasi E, dan seterusnya.
Setiap zone UTM memiliki sistem koordinat sendiri dengan titik nol sejati pada
perpotongan antara meridian sentralnya dengan ekuator. Dan, untuk menghindari
nilai koordinat yang negatif, maka meridian tengahnya diberi nilai awal absis (x)
500,000 meter.
Sementara untuk zone yang terletak di bagian selatan ekuator (LS), juga untuk
menghindari nilai koordinat yang negatif, bidang ekuator diberi nilai awal ordinat (y)
10,000,000 meter.
Zone-zone yang terletak di bagian utara ekuator, nilai ordinatnya apa adanya (tidak
diberi offset nilai koordinat semu).

Wilayah Indonesia terbagi dalam 9 zone UTM, mulai dari meridian 90 BT hingga
meridian 144 BT dengan batas paralel (lintang) 11 LS hingga 6 LU. Dengan
demikian, wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 (meridian sentral 93 BT) hingga
zone 54 (meridian sentral 141 BT).
5.6.4 Polyeder
Polyeder adalah sistem proyeksi peta yang menggunakan bidang permukan kerucut,
normal, dan konform, setiap wilayah dibatasi oleh dua garis paralel dan dua garis
meridian yang masing-masing berjarak 20 menit.
Diantara ke dua garis paralel tersebut terdapat garis paralel tengah 19 yang merupakan
rata-ratanya. Demikian pula di antara ke dua garis meridian juga terdapat garis
meridian tengah. Setiap titik potong antara garis meridian tengah dengan garis
paralel tengah disebut sebagai "titik nol" koordinat bagian derajat (lembar peta) yang
bersangkutan. Titik nol bagian derajat ini memiliki posisi yang dinyatakan dalam
koordinat geodetik (geografis): lintang ((o), dan bujur o).
Setiap bagian derajat proyeksi polyeder diberi nomor yang terdiri dari dua jenis.
Pertama adalah penomoran yang menggunakan bilangan romawi yang menunjukkan
nomor dari lintang paralel tengahnya (o). Sedangkan yang kedua adalah penomoran
yang menggunakan bilangan biasa yang menunjukkan nomor dari bujur meridian
tangahnya (o).

Khusus untuk wilayah Indonesia, penomoran bagian derajat proyeksi peta


polyeder dimulai dari I sampai LI - nilai lintangnya mulai dari (o =650' LU sampai
(o =lo50' LS. Sementara penomoran untuk bujur meridian tengahnya dimulai
dari angka 1 hingga 96 - mulai dari o =ll50' sebelah barat meridian Jakarta
(jakarta=l0648'27.79" BT) sampai o =l950' sebelah timur meridian Jakarta.

5.6.5 Sistem Proyeksi Lainnya


Sistem proyeksi lain yang sering digunakan adalah Mercator, Transverse Mercator, TM-
3, dan sebagainya.
Yang cukup sering menjadi masalah, dalam konteks SIG, adalah bagaimana
menyatukan semua peta tematik (layer) yang diperlukan ke dalam (sebuah) sistem
proyeksi peta yang sama sesuai dengan datum, sistem proyeksi, dan skala yang
dijadikan sebagai peta dasarnya. Oleh sebab itu, sering kali dilakukan transformasi
sistem koordinat dari suatu sistem proyeksi ke sistem proyeksi lainnya.
Kemudian, setelah sistem proyeksinya disamakan, jika lembar petanya berlainan,
maka masih harus dilakukan transformasi koordinat dari suatu bagian derajat ke
bagian derajat yang lain. Atau, dapat juga dilakukan transformasi koordinat dari suatu
bagian derajat ke bagian derajat lainnya, kemudian setelah peta-peta yang
bersangkutan telah tersambung (edge-matched), baru dilakukan transformasi
koordinat ke sistem koordinat proyeksi lainnya.
Pekerjaan ini cukup rumit dan penuh dengan rumus matematis. Oleh karena itu,
pustaka-pustaka [Dana99], [Dana99a], [Deetz69], [Umar86], dan [Umar86a] dapat
dilihat untuk memberikan keterangan lebih lanjut dan detail mengenai sistem
proyeksi peta berikut transformasinya.

5.7 Sistem Koordinat


Sistem koordinat adalah sekumpulan aturan yang menentukan bagaimana
koordinat-koordinat yang bersangkutan merepresentasikan unsur titik-titiknya.
Aturan ini biasanya mencakup pendefinisian titik asal (origin) beserta beberapa
sumbu-sumbu koordinat-koordinat yang digunakan untuk mengukur jarak dan sudut
untuk menghasilkan koordinat-koordinat (untuk detailnya bisa dilihat pustaka
[Rockville86]).
Sistem koordinat dapat dikelompokkan menurut:
(a) lokasi titik awal ditempatkan (geocentric20, topocentric21, heliocentric22, dan
lain sejenisnya.),
(b) jenis permukaan yang digunakan sebagai referensi (bidang datar, bola,
ellipsoid), dan
(c) arah sumbu-sumbunya (horizontal dan ekuatorial).
5.7.1 Sistem Koordinat Dasar
Pada saat ini sudah banyak sistem koordinat yang dikenal. Sistem-sistem ini dapat
merepresentasikan koordinat-koordinat unsur-unsur titik baik di dalam ruang dua
maupun tiga dimensi. Sistem koordinat 2D & 3D ini sering dirujuk sebagai sistem
koordinat kartesian.
l) Sistem koordinat bidang datar (2D)
o Sistem koordinat Kartesian (absis dan ordinat)
o Sistem Koordinat Polar (jarak dan sudut)
5.7.2 Sistem Koordinat Global
Pada era globalisasi ini, untuk kemudahan berbagai kebutuhan, diperlukan sesuatu
yang global; compatible dengan yang sejenis di negara lainnya. Sehubungan dengan
hal ini, sistem koordinat pun demikian.
Untuk memudahkan komunikasi, penyamaan persepsi, dan mengindari proses
konversi atau bahkan transformasi, pada saat banyak digunakan sistem koordinat
global yang dinyatakan dalam sistem koordinat bujur, lintang, dan tinggi yang bisa
mencakup area keseluruhan permukaan bumi.
Bersama dengan kemajuan teknologi satelit penentuan posisi, sistem koordinat global
juga sering dinyatakan dalam sistem koordinat kartesian 3 dimensi (ECEF) x, y, z.

5.7.2.1 Bujur, Lintang, dan Ketinggian


Sistem koordinat yang paling umum digunakan pada saat ini adalah
sistem global lintang (),
bujur (), dan
ketinggian (di mana h tinggi di atas ellipsoid) [Dana99a].
Pada sistem koordinat ini, meridian utama dan ekuator merupakan bidang-bidang
referensi yang digunakan untuk mendefinisikan koordinat bujur () dan lintang ().
Lintang geodetik () suatu titik adalah sudut yang dibentuk oleh bidang ekuator (
=o) dengan garis normalnya terhadap ellipsoid referensi.
Bujur geodetik () suatu titik adalah sudut yang dibentuk oleh bidang referensi
(bidang yang melalui meridian utama, =o prime meridian) dengan bidang meridian
yang melalui titik yang bersangkutan (titik lokal yang sedang diamati).
Tinggi geodetik (h) adalah jarak titik yang bersangkutan (dalam hal ini titik lokal P) ke
ellipsoid referensi pada arah garis normal terhadap ellipsoid referensi. Dengan
demikian, posisi suatu titik di dalam sistem koordinat global ini dapat dinyatakan
dengan koordinat geodetik23 P(,,h).

Pada gambar 5.16 ini nampak bahwa sudut L adalah lintang geodetik (), dan h (jarak
dari titik P ke permukaan ellipsoid referensi [titik A]) adalah tinggi geodetik.
Sudut AOT adalah lintang geosentrik (), dan AOT adalah lintang reduksi (). Dari
gambar 5.16 juga nampak bahwa sudut B adalah bujur geodetik (). Keterangan, 0
adalah titik pusat masa bumi.

5.7.2.2 ECEF X.Y.Z


koordinat geodetik juga dapat dinyatakan dengan sistem koordinat kartesian ECEF
(earth centered, earth fixed) x,y,z.
Sumbu Z sistem koordinat bernilai positif dari pusat masa bumi (ellipsoid referensi) ke
arah kutub utara,
sumbu X adalah garis perpotongan antara bidang meridian utama dengan bidang
ekuator, sedangkan
sumbu Y adalah garis perpotongan antara bidang ekuator dengan bidang meridian
yang berjarak 90 ke timur dari bidang meridian utama.

Dari gambar 5.17 ini diketahui bahwa posisi suatu titik (target) di dalam sistem
koordinat global dapat dinyatakan sebagai koordinat kartesian ECEF 24 P(x,y,z).
Hubungan matematis (fungsional) antara koordinat-koordinat kartesian dengan
koordinat-koordinat geodetik P(,,h) di atas dapat dinyatakan sebagai berikut
[Collins92]:
Keterangan:
o Untuk mendapatkan nilai lintang ((p) gunakan rumus-rumus (5.5) hingga (5.9) di
atas. Kemudian lakukan iterasi pada rumus-rumus (5.7) sampai (5.9) hingga nilai
lintangnya ((p) konstan.
o a adalah jari-jari ekuator.
o b adalah setengah sumbu pendek ellipsoid referensi.
o e adalah eksentrisitas pertama dari ellipsoid referensinya.
o ,,h adalah koordinat geodetik (bujur, lintang, tinggi geometrik).
o N adalah jari-jari lengkung normal utama.
o x,y,z adalah koordinat dalam sistem kartesian ECEF (absis, ordinat, tinggi).

5.7.2.3 Sistem Koordinat Global Lainnya


Selain sistem koordinat global yang telah disinggung di atas, masih ada beberapa
sistem koordinat global yang lainnya. Sistem koordinat tersebut antara lain adalah:
o Sistem referensi grid militer (military grid reference system MGRS) yang
merupakan sistem koordinat global hasil perluasan dari sistem koordinat proyeksi
UTM (informasi lebih lanjut dapat dilihat pada pustaka [Dana99a]). Sistem ini juga
menggunakan sistem penomoran zone yang sama dengan sistem proyeksi UTM.
o Sistem referensi geografis dunia (world geographic reference system GEOREF)
yang merupakan sistem koordinat yang digunakan untuk memenuhi keperluan
navigasi (pesawat) udara. Sistem koordinat ini direpresentasikan dalam koordinat
lintang () dan bujur (). Pada sistem GEOREF, keseluruhan permukaan bumi
dibagi menjadi 12 band lintang dan 24 zone bujur yang masing-masing memiliki
lebar 15.

5.7.3 Sistem Koordinat Regional


Pada beberapa negara-negara yang berdekatan, bertetangga dan memiliki hubungan
yang sangat baik, maka untuk memudahkan koordinasi di bidang survei dan
pemetaan, biasanya mereka juga memiliki sistem koordinat (grid) bersama yang
digunakan secara regional.
Sistem koordinat ini digunakan di dalam wilayah yang cukup luas hingga meliputi
beberapa negara atau bahkan sebagian benua. Pada umumnya, sistem koordinat ini
disebut sebagai sistem koordinat regional.
Contoh-contoh sistem koordinat regional yang ada:
o Sistem koordinat grid transverse mercator yang dapat mencakup wilayah teritorial
beberapa negara. Sistem ini digunakan sebagai dasar sistem koordinat grid lokal
(negara) Inggris Raya, Irlandia, Australia, dan lainnya.
o Sistem koordinat proyeksi Universal Polar Stereographic (UPS) yang didefiniskan
atau digunakan bersama untuk wilayah teritorial negara-negara yang memiliki
batas di atas 84 LU hingga kutub utara, dan 80 LS hingga kutub selatan (di
sekitar kutub utara dan selatan).
o Sistem koordinat SPC (state plane coordinate) yang dikembangkan untuk
melengkapi sistem-sistem referensi lokal yang terikat oleh datum lokal (nasional).
Di Amerika Serikat, telah dikembangkan sistem state plane 1927 pada tahun 1930-
an dengan dasar datum Amerika Utara 1927 (NAD27). Sistem koordinat ini
direpresentasikan dengan sistem satuan Inggris (feet). Kemudian, dibuatkan pula
sistem state plane 1983 dengan dasar datum Amerika Utara 1983 (NAD83) dan
dengan sistem satuan metrik (internasional).
o Sistem koordinat regional yang lain. Selain yang telah disebutkan di atas, masih
ada beberapa sistem koordinat yang patut disebutkan di sini. Di antaranya adalah
USPLS (US public land surveys) yang telah digunakan sejak tahun 1790-an untuk
mengidentifikasi tanah-tanah milik publik di Amerika Serikat, dan sistem koordinat
"Metes and Bounds" yang digunakan untuk mengidentifikasi batas-batas persil-
persil tanah dengan cara mendeskripsikan panjang dan arah garis-garis yang
membentuk batas-batas tanah milik yang bersangkutan.

5.7.4 Sistem Koordinat Nasional (Lokal)


Banyak negara di dunia yang memiliki sistem koordinat sendiri yang hanya mencakup
wilayah teritorial negara yang bersangkutan. Australia, Belgia, Inggris, Finlandia,
Irlandia, Itali, Belanda, Selandia Baru, dan Swedia adalah contoh negara-negara yang
telah mendefinisikan sistem koordinat (grid) sendiri (lokal).
beberapa contoh sistem koordinat nasional:
o Inggris membuat grid nasional (British national grid BNG) yang didasarkan pada
sistem grid nasional England, yang dikendalikan oleh lembaga sejenis dinas
topografi militernya. Sistem grid ini dibuat berdasarkan proyeksi transverse
mercator sejak tahun 1920-an. Meskipun demikian, institusi BNG yang modern
akhirnya menggunakan datum Inggris Raya 1936 (dengan ellipsoid Airy) yang
merupakan hasil pengamatan dinas topografi militernya. Posisi titik awalnya
(origin) adalah 49 LU dan 02 BB.
o Irlandia juga telah mendefinisikan grid nasional (Irish national grid -- ING). Sistem
grid ini dikelola dan dipelihara oleh dinas topografi Irlandia dan dibuat berdasarkan
sistem proyeksi transverse mercator sejak tahun 1920-an. Walaupun demikian,
lembaga ING yang baru ini akhirnya juga menggunakan datum Inggris Raya 1936
(dengan ellipsoid Airy) atau datum 1965. Posisi titik awalnya (origin) adalah 5330'
LU dan 08 BB.
o Australia juga telah memiliki sistem koordinat grid nasional (Australian Map Grid
AMG). Sistem grid ini merupakan turunan dari proyeksi universal transverse
mercator (UTM) lintang dan bujur pada datum geodetik Australia (Australian
Geodetic Datum AGD). Nomor zone awalnya adalah 31 dengan meridian tengah
awalnya 3, lebar zone 6 faktor skala di titik pusat grid 0.9996, nilai awal absis
semu (x) adalah 500,000 meter dan nilai awal ordinat semu (y) adalah 10,000,000
meter.