Anda di halaman 1dari 14

Teori Psikolinguistik

Psikolinguistik terbentuk dari kata psikologi dan kata linguistic, yakni dua bidang
ilmu yang berbeda, yang masing masing berdiri sendiri, dengan prosedur dan
metode yang berlainan. Namun, keduanya sama sama meneliti bahasa sebagai
objek formalnya. Hanya materinya yang berbeda, linguistik mengkaji struktur
bahasa, sedangkan psikologi mengkaji perilaku berbahasa atau proses berbahasa.
Dengan demikian cara dan tujuannya juga berbeda.

Meskipun cara dan tujuan berbeda, tetapi banyak juga bagian bagian objeknya
yang dikaji dengan cara yang sama dan dengan tujuan yang sama, tetapi dengan
teori yang berlainan. Hasil kajian kedua disiplin ini pun banyak yang sama,
meskipun tidak sedikit yang berlainan. Oleh karena itulah, telah lama dirasakan
perlu adanya kerja sama di antara kedua disiplin ini untuk mengkaji bahasa dan
hakikat bahasa. Dengan kerja sama kedua disiplin itu diharapkan akan diperoleh
hasil kajian yang lebih baik dan lebih bermanfaat.

Sebagai hasil kerjasama yang baik, lebih terarah, dan lebih sistematis diantara
kedua ilmu itu, lahirlah satu disiplin ilmu baru yang disebut psikolinguistik, sebagai
ilmu antardisiplin antara psikologi dan linguistik. Istilah psikolinguistik itu sendiri
baru lahir tahun 1945, yakni tahun terbitnya buku psycholinguistics : A Survey of
Theory and Reserch Problems yang disunting oleh Charles E. Osgood dan Thomas A.
sebeok, di Bloomington, Amerika Serikat.

Psikolinguistik mencoba menguraikan proses proses psikologi yang berlangsung


jika seseorang mengucapkan kalimat kalimat yang didengarnya pada waktu
berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh oleh manusia
(Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973). Maka secara teoteris tujuan
utama psikolinguistik adalah mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa
diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan
pemeerolehannya. Dengan kata lain, psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat
struktur bahasa, dan bagaimana struktur ini diperoleh, digunakan pada waktu
bertutur, dan pada

waktu memahami kalimat kalimat dalam pertuturan itu. Dalam prakteknya


psikolinguistik mencoba menerapkan pengetahuan linguistik dan psikologi pada
masalah masalah seperti pengajaran dan pembelajaran bahasa, pengajaran
membaca permulaan dan membaca lanjut, kedwibahasaan dan kemultibahasaan,
penyakit bertutur seperti afasia, gagap, dan sebagainya; serta masalah masalah
sosial lain yang menyangkut bahasa, seperti bahasa dan pendidikan,

bahasa dan pembangunan nusa dan bangsa.

Sejarah Perkembangan Psikolnguistik


Istilah psikolinguistik baru muncul pada tahun 1954 dalam buku Thomas A. Sebeok
dan Charles E. Osgood yang berjudul Pshycolinguiatics: A Survey of Theory and
Research Problems, namun sebenarnya sejak zaman panini, ahli bahasa dari India,
dan Sokrates ahli filsafat dari Yunani, pengkajian bahasa telah dilakukan orang.
Kajian mereka tidak terlepas dari paham/aliran filsafat yang mereka anut, karena
filsafat merupakan induk dari semua disiplin ilmu.

Pada abad yang lalu terdapat dua aliran filsafat yang saling bertentangan dan saling
memengaruhi perkembangan linguistik dan psikologi. Yang pertama adalah aliran
empirisme yang erat kaitannya dengan psikologi asosiasi. Aliran empirisme
melakukan kajian terhadap data empiris atau objek yang dapat diobservasi dengan
cara menganalisis unsur unsur pembentukannya sampai yang sekecil kecilnya.
Oleh karena itu, aliran ini disebut bersifat atomistik, dan lazim dikaitkan dengan
asosianisme dan positivisme.

Aliran kedua dikenal dengan nama rasionalisme. Aliran ini mengkaji akal sebagai
satu keseluruhan dan menyatakan bahwa faktor faktor yang ada dalam akal inilah
yang patut diteliti untuk bisa memahami perilaku manusia itu. Oleh karena itu,
aliran ini disebut bersifat holistik, dan biasa dikaitkan dengan paham nativisme,
idealisme, dan mentalisme.

Psikolinguistik bermula dari adanya pakar linguistik yang berminat pada psikologi,
dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Dilanjutkan
dengan adanya kerjasama antara pakar linguistik dan pakar psikologi, dan
kemudian muncullah pakar pakar psikolinguistik sebagai disiplin mandiri.

a. Psikologi dalam Linguistik

Dalam sejarah linguistik ada sejumlah pakar linguistik yang menaruh perhatian
besar pada psikologi. Von Humboldt (1767-1835), pakar linguistik berkebangsaan
Jerman telah mencoba mengkaji hubungan antara bahasa (linguistik) dengan
pemikiran manusia (psikologi). Caranya, dengan membandingkan tata bahasa dari
bahasa bahasa yang berlainan dengan tabiat tabiat bangsa bangsa penutur
itu. Von Humboldt sangat dipengaruhi oleh aliran rasionalisme. Dia menganggap
bahasa bukanlah sesuatu yang sudah siap untuk dipotong potong dan
diklasifikasikan seperti aliran empirisme. Menurut Von Humboldt bahasa itu
merupakan satu kegiatan yang memiliki prinsip prinsip sendiri.

Ferdinand de Saussure (1858-1913), pakar linguistik berkembangsaan Swiss, telah


berusaha menerangkan apa sebenarnya bahassa itu (linguistik) dan bagaimana
keadaan bahasa itu dalam otak (psikologi). Beliau memperkenalkan tiga istilah
tentang bahasa yaitu langage (bahasa pada umumnya yang bersifat abstrak),
langue (bahasa tertentu yang bersifat abstrak), dan parole (bahasa sebagai tuturan
yang bersifat konkret). Dia menegaskan objek kajian linguistik adalah langue.,
sedangkan objek kajian psikologi adalah parole. Ini berarti, kalau ingin mengkaji
bahasa secara lengkap, maka kedua disiplin, yakni linguistik dan psikologi harus
digunakan. Hal ini dikatakannya karena dia menganggap segala sesuatu yang ada
dalam bahasa itu pada dasarnya bersifat psikologis.

Edward Sapir (1884-1939), pakar linguistik dan antropologi bangsa Amerika, telah
mengikutsertakan psikologi dalam pengkajian bahasa. Menurut Sapir, psikologi
dapat memberikan dasar ilmiah yang kuat dalam pengkajian bahasa. Beliau juga
mencoba mengkaji hubungan bahasa (linguistik) dengan pemikiran (psikologi). Dari
kajian itu beliau berkesimpulan bahwa bahasa, terutama strukturnya, merupakan
unsur yang menentukan struktur pemikiran manusia. Beliau juga menekankan
bahwa linguistik dapat memberikan sumbangan yang penting kepada psikologi
Gestalt, dan sebaliknya psikologi Gestalt dapat membantu disiplin linguistik.

b. Linguistik dalam Psikologi

Dalam sejarah perkembangan psikologi ada sejumlah pakar psikologi yang menaruh
perhatian pada linguistik. John Dewey (1859-1952), pakar psikologi berkebangsaan
Amerika, seorang empirisme murni. Beliau telah mengkaji bahasa dan
perkembangannya dengan cara menafsirkan analisis linguistik bahasa kanak
kanak berdasarkan prinsip prinsip psikologi. Umpamanya, beliau menyarankan
agar penggolongan psikologi akan kata kata yang diucapkan kanak kanak
dilakukan berdasarkan makna seperti yang dipahami kanak kanak, dan bukan
seperti yang dipahami orang dewasa dengan bentuk bentuk tata bahasa orang
dewasa. Dengan cara ini, maka berdassarkan prinsip prinsip psikologi akan dapat
ditentukan hubungan antara kata kata berkelas adverbia dan preposisi disatu
pihak dengan kata kata berkelas nomina dan adjektiva dipihak lain. Jadi, dengan
pengkajian kelas kata berdasarkan pemahaman kanak kanak kita akan dapat
menentukan kecenderungan akal (mental) kanak kanak yang dihubungkan
dengan perbedaan perbedaan linguistik. Pengkajian seperti ini, menurut Dewey,
akan memberi bantuan yang besar kepaada psikologi bahasa pada umumnya.

Watson (1878-1958), ahli psikologi behaviorisme berkebangsaan Amerika. Beliau


menempatkan perilaku atau kegiatan berbahasa sama dengan perilaku atau
kegiatan lainnya, seperti makan, berjalan, dan melompat. Pada mulanya Watson
hanya menghubungkan perilaku berbahasa yang implisit, yakni yang terjadi
didalam pikiran, dengan yang eksplisit, yakni yang berupa tuturan. Namun,
kemudian dia menyamakan perilaku berbahasa itu dengan teori stimulus-respons
yang dikembangkan oleh Povlov. Maka, penyamaan ini memperlakukan kata kata
sama dengan benda benda lain sebagai respons dari suatu stimulus.

Weiss, ahli psikolodi behaviorisme Amerika. Beliau mengakui adanya aspek


mental dalm bahasa. Namun, karena wujudnya tidak memiliki kekuatan bentuk fisik,
maka wujudnya itu sukar dikaji atau ditunjukkan. Oleh karena itu, Weiss lebih
cenderung mengatakan bahwa bahasa itu sebagai satu bentuk perilaku apabila
seseorang menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosialnya. Weiss adalah salah
seorang tokoh yang terkemuka yang telah merintis jalan kearah lahirnya
psikolinguistik. Karena dialah yang telah berhasil mengubah Bloomfield dari
penganut aliran mentalistik menjadi penganut aliran behaviorisme. Weiss juga telah
mengemukakan sejumlah masalah yang harus dipecahkan oleh linguistik dan
psikologi yang dilihat dari sudut behaviorisme. Di antara masalah masalah itu
adalah sebagai berikut :

Bahasa merupakan satu kumpulan respons yang jumlahnya tidak terbatas terhadap
suatu stimulus.

Pada dasarnya perilaku bahasa menyatukan anggota suatu masyarakat ke alam


organisasi gerak saraf.

Perilaku bahasa adalah sebuah alat untuk mengubah dan meragam-ragamkan


kegiatan seseorang sebagai hasil warisan dan hasil perolehan.

Bahasa dapat merupakan stimulus terhadap satu respons, atau merupakan satu
respons terhadap satu stimulus.

Respons bahasa sebagai satu stimul pengganti untuk benda dan keadaan yang
sebenarnya memungkinkan kita untuk memunculksn kembali suatu hal yang pernah
terjadi, dan menganalisis kejadian ini dalam bagian bagiannya.

c. Kerjasama Psikologi dan Linguistik

Kerjasama secara langsung antara linguistik dan psikologi sebanarnya sudah


dimulai sejak 1860 yaitu, oleh Heyman Steintthal, seorang ahli psikologi yang
beralih menjadi ahli linguistik, dan Moriz Lazarus seorang ahli linguistik yang beralih
menjadi ahli psikologi dengan menrbitkan sebuah jurnal yang khusus
membicarakan masalh psikologi bahasa dari sudut linguistik dan psikologi.

Dasar dasar psikolinguistik menurut beberapa pakar didalam buku yang disunting
oleh Osgood dan Sebeok diatas adalah berikut ini :

Psikolinguistik adalah satu teori linguistik berdasarkan bahasa yang dianggap


sebagai sebuah sistem elemen yang saling berhubungan erat.

Psokolinguistik adalah satu teori pembelajaran (menurut teori behaviorisme)


berdasarkan bahasa yang dianggapnsebagainsatu sistem tabiat dan kemampuan
yang menghubungkan isyarat dengan perilaku.

Psikolinguistik adalah satu teori informasi yang menganggap bahasa sebagai


sebuah alat untuk menyampaikan suatu benda.

d. Tiga Generasi dalam Psikolinguistik


1. Psikolinguistik Generasi pertama

Psikolinguistik generasi pertama adalah psikolinguistik dengan para pakar yang


menulis artikel dalam kumpulan karangan berjudul psycholinguistics: A Survey of
Theory and Reserch Problems yang disunting oleh Charles E. Osgood dan Thomas A.
Sebeok. Titik pandang Osgood dan Sebeok berkaitan erat dengan aliran
behaviorisme (aliran perilaku) atau lebih tepat lagi aliran neobehaviorisme. Teori
teori ini mengidentifikasikan bahasa sebagai stu sistem respon yang langsung dan
tidak langsung terhadap stimulus verbal dan nonverbal. Orientasi stimulus respons
ini adalah orientasi psikologi.

Tokoh lain dari generasi pertama ini adalah L. Bloomfield. Beliau adalah tokoh
linguistik Amerika yang menerima dan menerapkan teori teori behaviorisme
dalam analisis bahaa. Teknik analisis bahasa dan pandangannya tentang hakikat
bahasa sama dengan pandangan dan teori psikolinguistik perilaku.

Manusia yang normal sejak lahir telah dilengkapi dengan kemampuan belajar. Oleh
sebab itu, kemampuan berbahasa didapat atau dicapai melalui proses belajar. Hal
ini menunjukkan bahwa itu harus dipelajari. Dengan kata lain, kemampuan
berbahasa adalah satu kemampuan hasil belajar, dan bukan sebagai sesuatu yang
diwarisi.

Tokoh lain dari psikolinguistik generasi pertama, dan yang dianggap sebagai tokoh
utama adalah B. F. Skonner. Beliau menjadi tokoh yang kemudian ditentang oleh
Noam Chomsky yang menganut aliran kognitif dalam proses berbahasa. Namun,
teori teori Skinner inilah yang dianut oleh teori teori linguistik aliran Bloomfield.

2. Psikolinguistik Generasi Kedua

Karena pada psikolinguiatik generasi pertama tidak menjawab banyak


masalah proses berbahasa, dan teori teori itu kekurangan daya penjelas, maka
diperlukan teori yang lain dalam psikolinguistik. Lahirlah teori teori psikolinguiatik
generasi kedua, dengan dua tokoh utamanya yakni Noam Chomsky dan George
Miller.

Menurut Mehler dan Noizet, psikolinguistik generasi kedua telah dapat mengatasi
ciri ciri atomistik dari psikolinguistik Osgood-Sebeok. Psikolinguistik generasi
kedua berpendapat bahwa dalam proses berbahasa bukanlah butir butir bahasa
yang diperoleh, melainkan kaidah dan sistem kaidahlah yang diperoleh.

3. Psikolinguistik Generasi Ketiga


Kelahiran psikolinguistik generasi ketiga ini oleh G. Werstch dalam bukunya Two
Problems for the New Psycholinguistics diberi nama New Psycholinguistics. Ciri ciri
psikolinguistik generasi ketiga ini adalah sebagai berikut :

Pertama, orientasi mereka kepada psikologi, tetapi bukan psikologi perilaku.


Mereka berorientasi kepada psikologi seperti yang dikemukakan oleh Fresse dan Al
Vallon dari perancis, dan mungkin juga kepada psikologi aktivitas dari Uni Sovyet
atau seperti ditekankan oleh G. Werstch bahwa terjadi proses yang serempak dari
informasi linguistik dan psikologi.

Kedua, keterlepasan mereka dari kerangka psikolinguistik kalimat dan


keterlibatan dalam psikolinguistik yang berdasarkan situasi dan konteks. Ini berarti,
analisis psikolinguistik bbukan lagi menentukan kalimat hubungan antara struktur
gramatikal dan kaidah semantik model Noam Chomsky dengan teori generatif
transformasinya, tetapi hubungan ini diperluas dengan memperhitungkan situasi
dan konteks.

Ketiga, adanya satu pergeseran dari analisis mengenai proses ujaran yang
abstrak ke satu analisis psikologis mengenai komunikasi dan pikiran. Pergeseran
dari ujaran yang abstrak ke komunikasi dan pikiran ini dikemukakan oleh J. S.
Bruner dalam artikelnya berjudul Frol Communication to Language yang dimuat
dalam Cognition tahun 1974-5.

Ketiga ciri utama dari psikolinguistik generasi ketiga ini menunjukkan telah
terjadinya satu peningkatan kualitatif dalam perkembangan psikolinguistik di
negara negara Barat. Namun, menurut Leontive (1981) dibandingkan dengan
perkembangan linguistik di Eropa, maka osikolinguistik di Rusia sudah lebih dulu
berkembang karena sejak awal psikolinguistik di Rusia telah memperhitungkan jurus
komunikasi dan pikiran dalam analisas psikolinguistik.

Aliran-aliran Psikolinguistik

1) Aliran Behavioristik

Teori Behavioristik pertama kali dimunculkan oleh Jhon B.Watson (1878-1958). Dia
adalah seorang ahli psikologi berkebangsaan amerika. Dia mengembangkan teori
Stimulus-Respons Bond (S R Bond) yang telah diperkenalkan oleh Ivan P.Pavlov.
Menurut teori ini tujuan utama psikologi adalah membuat prediksi dan pengendalian
terhadap prilaku, dan sedikitpun tidak ada hubungannya dengan kesadaran. Yang
dikaji adalah benda-benda atau hal-hal yang diamati secara langsung, yaitu
rangsangan (stimulus) dan gerak balas(respons) [1][1][1].

Eksperimen yang dilakukan oleh Watson dalam membuktikan kebenaran teori


behaviorismenya terhadap manusia adalah percobaan terhadap bayi yang bernama
albert berusia 11 tahun dan tikus putih. Dimana kesimpulan akhirnya adalah
pelaziman dapat merubah prilaku seseorang secara nyata.

Dalam pembelajaran yang didasarkan pada hubungan stimulus respon, Watson


mengemukakan dua hal penting:

1. Recency Principle (prinsip kebaruan)

Yaitu Jika suatu stimulus baru saja menimbulkan respons, maka kemungkinan
stimulus itu untuk menimbulkan respons yang sama apabila diberikan umpan lagi
akan lebih besar daripada kalau stimulus itu diberikan umpan setelah lama
berselang.

2. Frequency Principle (prinsip frekuensi)

Menurut prinsip ini apabila suatu stimulus dibuat lebih sering menimbulkan satu
respons, maka kemungkinan stimulus itu akan menimbulkan respons yang sama
pada waktu yang lain akan lebih besar.

Selain itu. Watson mengatakan bahwa keyakinan pada adanya kesadaran berkaitan
dengan keyakinan masa-masa nenek moyang mengenai tahayul. Magis-magis
senantiasa hidup. Konsep-konsep warisan masa praberadab ini telah membuat
kebangkitan dan pertumbuhan psikologis ilmiah menjadi sangat sulit. Kriteria
Watson dalam menentukan apakah sesuatu itu ada atau tidak ada adalah
berdasarkan apakah hal tersebut dapat diamati atau tidak dapat diamati.

Selanjutnya Bell (1981: 24) mengungkapkan pandangan aliran behaviorisme yang


dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan bagaimanakah sesungguhnya manusia
memelajari bahasa, yaitu:

1. Dalam upaya menemukan penjelasan atas proses pembelajaran manusia,


hendaknya para ahli psikologi memiliki pandangan bahwa hal-hal yang dapat
diamati saja yang akan dijelaskan, sedangkan hal-hal yang tidak dapat diamati
hendaknya tidak diberikan penjelasan maupun membentuk bagian dari penjelasan.

2. Pembelajaran itu terdiri dari pemerolehan kebiasaan, yang diawali dengan


peniruan.

3. Respon yang dianggap baik menghasilkan imbalan yang baik pula.

4. Kebiasaan diperkuat dengan cara mengulang-ulang stimuli dengan begitu sering


sehingga respon yang diberikan pun menjadi sesuatu yang bersifat otomatis.

2) Aliran Kognitif
Menurut teori ini bahasa bukanlah suatu ciri ilmiah yang terpisah, melainkan salah
satu diantara beberapa kemampuan yang berasal dari kematangan kognitif. Bahasa
di instruksikan oleh nalar. Perkembangan bahasa harus berlandaskan pada
percobaan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi urutan-
urutan perkembnagan kognitif menentukan perkembangan bahasaMenurut teori
kognitif yang utama sekali harus dicapai adalah perkembangan kognitif, barulah
pengetahuan dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa semenjak lahir
sampai umur 18 bulan bahasa belum ada, si anak memahami dunia melalui
indranya.

Adapun tokoh yang terkenal dengan teori kognitif ini adalah Noam Chomsky
menyatakan bahwa manusia dilahirkan dengan akal yang berisi pengetahuan batin
yang berkait dengan sejumlah bidang yang berbeda-beda. Salah satu dari
pengetahuan tersebut berkait dengan bahasa. Chomsky menyebut pengetahuan
batin yang berkait dengan bahasa ini sebagai Language Acquisition Device atau
yang lebih populer sebagai LAD, yang dalam modul disebut sebagai Alat
Pemerolehan Bahasa atau APB. Chomsky berpendapat bahwa daya-daya dalam
bidang yang berbeda yang disebut di atas, relatif mandiri satu sama lain. Artinya
tidak saling berkait. Bahkan dalam kaitan dengan pemerolehan bahasa, Chomsky
berpendapat bahwa bagi pemerolehan bahasa, pengetahuan batin saja sudah
cukup dan pengetahuan matematis serta pengetahuan logika tidak diperlukan
dalam kegiatan ini.

Masih menurut Chomsky behaviorisme (S-R), sangat tidak memadai untuk


menerangkan proses pemerolejhan bahasa. Sebab masukan data linguistiknya
sangat sedikit untuk membangkitkan rumus-rumus linguistic. pada bagian akhir
subpokok bahasan diketengahkan argumen-argumen yang dikemukakan Chomsky
dalam mempertahankan APB yang tertuang dalam bentuk empat argumen, yakni
(1) keunikan tata bahasa, (2) data masukan yang tidak sempurna, (3)
ketidakselarasan intelegensi, dan (4) kemudahan dan kecepatan pemerolehan
bahasa anak.

3) Aliran Mentalistik

Pada subpokok bahasan ini, kita telah membahas sejumlah konsep pendapat-
pendapat para teorisi mengenai bagaimana seseorang memahami dan merespons
terhadap apa-apa yang ada di alam semesta ini. Kita telah berbicara mengenai
pandangan-pandangan kaum mentalis dan kaum bahavioris, terutama dalam kaitan
dengan keterhubungan antara bahasa, ujaran dan pikiran. Menurut kaum mentalis,
seorang manusia dipandang memiliki sebuah akal (mind) yang berbeda dari badan
(body) orang tersebut. Artinya bahwa badan dan akal dianggap sebagai dua hal
yang berinteraksi satu sama lain, yang salah sati di antaranya mungkin
menyebabkan atau mungkin mengontrol peristiwa-peristiwa yang terjadi pada
bagian lainnya. Dalam kaitan dengan perilaku secara keseluruhan, pandangan ini
berpendapat bahwa seseorang berperilaku seperti yang mereka lakukan itu bisa
merupakan hasil perilaku badan secara tersendiri, seperti bernapas atau bisa pula
merupakan hasil interaksi antara badan dan pikiran. Mentalisme dapat dibagi
menjadi dua, yakni empirisme dan rasionalisme.

Kedua pendapat ini pun memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dalam


memahami persoalan gagasan-gagasan batin atau pengetahuan. Semua kaum
mentalis bersepakat mengenai adanya akal dan bahwa manusia memiliki
pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Meskipun demikian, mereka tidak
bersepakat dalam hal bagaimana gagasan-gagasan tersebut bisa ada di dalam akal.
Apakah gagasan-gagasan tersebut seluruhnya diperoleh dari pengalaman
(pendapat kaum empiris) atau gagasan-gagasan tersebut sudah ada di dalam akal
sejak lahir (gagasan kaum rasional). Bahkan di dalam kedua aliran ini pun, terdapat
perbedaan pendapat yang rinciannya akan kita bahas nanti.

Kemudian, diketengahkan pembahasan mengenai empirisme. Dalam kaitan ini telah


dibahas kenyataan bahwa kata empiris dan empirisme telah berkembang menjadi
dua istilah yang memiliki dua makna yang berbeda. Setelah itu, dibahas pula isu
lain yang mengelompokkan kaum empiris, yakni isu yang berkenaan dengan
pertanyaan apakah gagasan-gagasan di dalam akal manusia yang membentuk
pengetahuan bersifat universal atau umum di samping juga bersifat fisik.

1 Pengertian Psikolinguistik

Psikolinguistik mempelajari faktor-faktor psikologis dan neurobiologis yang


memungkinkan manusia mendapatkan, menggunakan, dan memahami bahasa
(wikipedia). Selain itu, Garnham (1985:1) menyatakan bahwa psikolinguistik adalah
kajian tentang mekanisme- mekanisme mental yang menjadikan manusia
menggunakan bahasa. Di sisi lain, Aitchison(1998:1) berpendapat psikolinguistik
adalah studi tentang bahasa dan minda. Tidak hanya itu, Harley (2001:1) menyebut
psikolinguistik sebagai suatu studi tentang proses-proses mental dalam pemakaian
bahasa. Dilanjutkan dengan pernyataan Clark dan Clark (1977:4) yang menyatakan
psikolinguistik berkaitan dengan tiga hal utama yaitu komprehensi, produksi dan
pemerolehan bahasa. Kemudian, psikolinguistik juga dapat dikatakan sebagai
proses-proses psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimat-
kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan
bahasa itu diperoleh oleh manusia (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu,
1973). Levelt (Marat, 1983: 1) mengemukakan bahwa Psikolinguistik adalah suatu
studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia. Seirama dengan
hal itu, Aitchison (Dardjowidojo, 2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah
studi tentang bahasa dan minda. Sejalan dengan pendapat di atas, Field (2003: 2)
mengemukakan psycholinguistics explores the relationship between the human
mind and language psikolinguistik membahas hubungan antara otak manusia
dengan bahasa. Kridalaksana (1982:140) pun berpendapat sama dengan
menyatakan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara
bahasa dengan perilaku dan akal budi manusia serta kemampuan berbahasa dapat
diperoleh. Jadi, dapat disimpulkan psikolinguistik adalah suatu cabang ilmu
linguistik interdisipliner yang mengkaji proses-proses mental manusia dikaitkan
dengan perilaku bahasa seseorang.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Teori Psikolinguistik Ferdinand De Saussure

Ferdinand De Saussure (1858-1913) adalah seorang linguis Swiss yang sering


disebut dengan Bapak atau Pelopor Linguistik Modern. Bukunya yang terkenal
Course de Linguistique generale (1916) diterbitkan oleh murid-muridnya, Bally dan
Schehaye, berdasarkan catatan kuliah, setelah beliau meninggal.

De Saussure disebut sebagai Bapak Linguistk Modern karena pandangan-


pandangannya yang baru mengenai studi bahasa yang dimuat dalam bukunya itu.
Pandangan-pandangannya itu antara lain:

Telaah sinkronik dan diakronik dalam studi bahasa.

Perbedaan langue dan parole.

Perbedaan signifiant dan signifie, sebagai pembentuk signe linguistique.

Hubungan sintakmatik dan hubungan asosiatif atau paradigmatik.


De Saussure membedakan antara parole, langue, dan langage. Ketiganya dapat
dipadankan dengan kata bahasa dalam bahasa Indonesia, tetapi dengan
pengertian yang sangat berbeda. Parole adalah bahasa yang konkret yang keluar
dari mulut pembicara. Jadi, sifatnya yang konkret itu maka parole itu bisa didengar.
Sedangkan langue adalah bahasa tertentu sebagai satu sistem tertentu seperti
bahasa Inggris atau bahasa Jawa (Simanjuntak (1987) menggunakan istilah
bahasa). Jadi, sifatnya yang abstrak; hanya ada dalam otak penutur bahasa yang
bersangkutan. Sedangkan langage adalah bahasa pada umumnya sebagai alat
interaksi manusia seperti tampak dalam kalimat manusia punya bahasa, binatang
tidak. Jadi, langage ini juga bersifat abstrak.

Menurut De Saussure linguistik murni mengkaji langue, bukan parole maupun


langage. Adapun alasan De Saussure mengkaji langue adalah sebagai berikut:

a. Langue bersifat sosial sedangkan parole bersifat individual. Kedua sifat ini
saling bertentangan. langue berada dalam otak.belajar langue bersifat sosial dalam
pengertian sinkronik, sedangkan parole bersifat idio sinkronik karena ditentukan
secara perseorangan.

b. Langue bersifat abstrak dan tersembunyi di dalam otak, sedangkan parole


selalu bergantung pada kemauan penutur dan bersifat intelaktual.

c. Langue adalah pasif, sedangkan parole adalah aktif.

Jadi, menurut De Saussure linguistik haruslah mengkaji langue karena langue


adalah fakta sosial, sedangkan parole merupakan perlakuan individual, dan hanya
merupakan embrio dari langage. Dengan kata lain, apa yang keluar dari mulut
penutur dalam bentuk kalimat-kalimat selalu berubah-ubah dan bersifat
idiosinkretis. Sedangkan langue menurut definisi De Saussure adalah satu sistem
tanda atau lambang yang arbitrer, dan digunakan untuk menyatakan ide-ide, serta
mempunyai aturan-aturan. Dengan kata lain, langue merupakan satu sistem nilai
murni yang terdiri dari pikiran yang tersusun yang digabungkan dengan bunyi.

Yang paling penting pada teori linguistik De Saussure adalah mengenai signe
linguistique atau tanda linguistik karena bahasa merupakan sebuah sistem tanda.
Menurut De Saussure tanda linguistik adalah sebuah maujud psikologis yang
berunsur dua yaitu signifie atau konsep atau petanda, dan signifiant atau imaji
bunyi atau penanda (istilah petanda dan penanda dari Kridalaksan, 1989). Kedua
unsur ini terikat erat sehingga yang satu selalu mengikat yanng lain, atau
sebaliknya. Ada beberapa ciri dari signe linguistique ini yaitu sebagai berikut:

a. Tanda linguistik bersifat arbitrer, maksudnya adalah hubungan antara satu


petanda atau konsep dengan satu penanda atau imaji bunyi bersifat kebetulan.
Namun, tanda linguistik itu tidak dapat diubah, tetapi sistem bahasa dapat berubah.
b. Penanda (signifiant) dari suatu signe linguistique itu merupakan satu
bentangan (span) yang dapat diukur dalam satu dimensi atau merupakan satu
garis, satu perpanjangan. Ini berarti bahwa bahasa dapat dianggap sebagai satu
deretan atau urutan (sequence).

c. Mempunyai pergandaan yang tidak dapat dihitung. Dengan kata lain tanda
linguistik jumlahnya tidak terbatas.

2.2Teori Psikolinguistik Leonard Bloomfield

Menurut Bloomfield bahasa merupakan sekumpulan ujaran yang muncul dalam


suatu masyarakat tutur (speech community). Ujaran inilah yang harus dikaji untuk
mengetahui bagian-bagiannya. Lalu, bagi Bloomfield bahasa adalah sekumpulan
data yang mungkin muncul dalam suatu masyarakat. Data ini merupakan ujaran-
ujaran yang terdiri clan potonganpotongan perilaku (tabiat) yang disusun secara
linear.

Teori linguistik Bloomfield didasarkan pada andaian-andaian dan definisi-definisi


karena kita tidak mungkin mendengar semua ujaran di dalam suatu masyarakat
tutur. Jadi, tidak mungkin kita dapat menujukkan bahwa pola-pola yang kita temui
dalam beberapa bahasa berlaku juga pada bahasa-bahasa lain. Ini harus diterima
sebagai satu andaian. Kita tidak mungkin menunjukkan bahwa lambang-lambang
ujaran dihubungkan dengan makna karena tidak mungkin mengenal satu per satu
makna itu dalam data.

Menurut Bloomfield bahasa itu terdiri dari sejumlah isyarat atau tanda berupa
unsur-unsur vokal (bunyi) yang dinamai bentuk-bentuk linguistik. Setiap bentuk
adalah sebuah kesatuan isyarat yang dibentuk oleh fonem-fonem (Bloomfield,
1933;158). Umpamanya:

Pukul adalah bentuk ujaran.

Pemukul adalah bentuk ujaran

Pe- adalah bentuk bukan ujaran

Pukul terdiri dari empat fonem, yaitu : /p/, /u/, /k/, dan /l/. Di sini fonem /u/
digunakan dua kali.

Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa setiap ujaran adalah bentuk, tetapi tidak
semua bentuk adalah ujaran. Menurut Bloomfield ada dua macam bentuk, yaitu:

a. Bentuk bebas (Free Form), yakni bentuk yang dapat diujarkan sendirian
seperti bentuk amat, jalan, dan kaki dalam kalimat Amat jalan kaki,
b. Bentuk terikat (Bound Farm) yakni bentuk linguistik yang tidak dapat diujarkan
sendirian seperti bentuk pe- pada kata pemukul; dan bentuk -an seperti pada kata
pukulan.

Dalam teori linguistik Bloomfield ada beberapa istilah/term yang perlu dikenal, yaitu
berikut ini.

a. Fonem adalah : Satuan bunyi terkecil dan distingtif dalam leksikon suatu
bahasa, Seperti bunyi [u] pada kata bahasa Indonesia /bakul/ karena bunyi itu
merupakan bunyi distingtif dengan kata /bakal/. Di sini kita lihat kedua kata itu,
/bakul/ dan /bakal/, memiliki makna yang berbeda karena berbedanya bunyi [u] dari
bunyi [a].

b. Morfem adalah : Satuan atau unit terkecil yang mempunyai makna dari
bentuk leksikon. Umpamanya dalam kalimat Amat menerima hadiah terdapat
morfem : Amat, me-, terima, dan hadiah.

c. Frarse adalah : Unit yang tidak minimum yang terdiri dari dua bentuk bebas
atau lebih. Umpamanya dalam kalimat Adik saya sudah mandi terdapat dua buah
frase, yaitu frase adik saya dan frase sudah mandi.

d. Kata adalah : Bentuk bebas yang minimum yang terdiri dari satu bentuk
bebas dan ditambah bentuk-bentuk yang tidak bebas. Misalnya, pukul, pemukul,
dan pukulan adalah kata, sedangkan pe-, dan -an bukan kata; tetapi semuanya pe-,
-an, dan pukul adalah morfem.

e. Kalimat adalah ujaran yang tidak merupakan bagian dart ujaran lain dan
merupakan satu ujaran yang maksimum. Misalnya Amat duduk di kursi, Amat
melihat gambar, clan Ibu dosen itu cantik.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Psikolinguistik merupakan sebuah ilmu bagaimana manusia memahami bahasa,


memproduksi bahasa dan bagaimana mereka memperoleh kedua kemampuan
tersebut. Pemahaman dapat didefinisikan dalam dua sudut pandang: dalam arti
sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit pemahaman berarti proses mental
untuk menangkap bunyi-bunyi yang diujarkan seorang penutur untuk membangun
sebuah interpretasi mengenai apa yang dia anggap dimaksudkan oleh si penutur,
sedangkan dalam arti luas, hasil interpretasi tersebut digunakan untuk melakukan
tindakan-tindakan yang relevan