Anda di halaman 1dari 5

ANALISIS POLA TIGA PADA MAMOLO

LAPORAN

laporan penelitian pada artefak untuk memenuhi tugas


Mata Kuliah Filsafat Ilmu

oleh

Desi Wulandari
NIM 1602909

JURUSAN PENDIDIKAN SENI


SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2016
Tanggal Penelitian : 28 Oktober 2016
Tempat Penelitian : Perpustakaan Masjid Pusdai Jawa Barat dan
Museum Sribaduga Bandung
Objek yang Diteliti : Mamolo

A. DESKRIPSI BENDA
Mamolo dalam bahasa Sunda artinya mastaka atau kepala. Mamolo
melambangkan meru atau gunung sehingga dengan adanya makna perlambangan
ini, Mamolo pada masa Hindu dipasang pada puncak bangunan suci. Setelah
Islam berkembang, Mamolo masih tetap digunakan tanpa adanya perubahan
bentuk. Pada masa Islam, Mamolo tetap digunakan sebagai pengunci atau hiasan
pada puncak (atap) bangunan suci yaitu masjid.
Mamolo yang terdapat di museum Sribaduga merupakan Mamolo
peninggalan pada masa Hindu. Mamolo ini berasal dari Majalengka dan Banten.
Dari segi visual, kedua Mamolo ini pada dasarnya memiliki pola yang sama yaitu
pola tiga. Perbedaannya terletak pada penggunaan hiasan, yang satu menggunakan
hiasan flora dan yang satu lagi menggunakan hiasan fauna. Sedangkan Mamolo
yang terdapat di perpustakaan masjid Pusdai Jawa barat merupakan Mamolo yang
dibuat berdasarkan karya manuskrip Al-Quran Mushaf Sundawi pada tahun
1995. Meskipun dibuat pada zaman modern, tetapi pada prinsipnya tetap memiliki
bentuk yang sama tanpa adanya pengurangan atau penambahan bentuk.

Gambar 1 Gambar 2
Mamolo di Perpustakaan Masjid Mamolo di Museum Sribaduga
Pusdai jawa Barat Bandung
Sumber : Dokumentasi Pribadi Sumber : Dokumentasi Pribadi
B. ANALISIS POLA TIGA
Jika melihat ketiga Mamolo di atas, pada prinsipnya bentuk tersebut
merupakan hasil dari pola tiga yaitu pola yang menyatukan dua hal yang
bertentangan sehingga menghasilkan sesuatu yang baru dan saling melengkapi.
Berdasarkan dari kesamaan pola tersebut, maka analisis dilakukan dan diambil
dari salah satu bentuk Mamolo di atas, yaitu Mamolo pada zaman Hindu dengan
ornamen flora.
Pola tiga merupakan budaya kaum peladang. Budaya ini berkembang
dengan pandangan adanya tiga dunia, yaitu dunia bawah, dunia atas dan dunia
tengah. Mamolo ditempatkan di atas atap bangunan atau rumah suci. Rumah bagi
kaum peladang sering disebut sebagai gambar manusia sehingga atap rumah
dipandang sebagai kepala, rumah sebagai badan dan kolong sebagai kaki. Atap
dimaknai pula sebagai simbol kerohanian atau ketuhanan. Oleh karena itu,
penempatan Mamolo tidak semata-mata sebagai hiasan atau pengunci, tetapi juga
merupakan simbol dari kesucian kepala. Maka dari itu, Mamolo sering disebut
juga sebagai mahkota.
Mamolo juga memiliki bagian-bagian yang merupakan simbolisasi dari
ketiga dunia tersebut. Pola ini membuktikan bahwa Mamolo dibuat oleh kaum
peladang yang berpandangan bahwa kehidupan muncul karena adanya penyatuan
dari dua hal yang saling bertentangan sehingga melahirkan dunia baru. Untuk
lebih jelasnya, lihat gambar di bawah ini.

Gambar 3 Gambar 4
Mamolo pada Zaman Hindu Pola pada Mamolo
Sumber : Dokumentasi Pribadi Sumber : Dokumentasi Pribadi
Bagian A bentuk dasarnya adalah lingkaran, memiliki kesan lembut, tidak
ada awal dan tidak ada akhir sehingga melambangkan perempuan yang dimaknai
oleh kaum peladang sebagai dunia atas. Sesuai dengan kebudayaan pola tiga pada
masyarakat sunda, maka bagian atas ini merupakan bagian yang sangat dihormati
dan menjadi fokus tritunggal meskipun tidak memiliki kekuasaan. Oleh karena
itu, bentuk Mamolo ini juga menempatkan asas perempuan di bagian paling atas.
Bagian B bentuk dasarnya adalah persegi, memiliki kesan keras, kaku, ada
awal dan ada akhir sehingga melambangkan laki-laki yang dimaknai dengan dunia
bawah. Dunia bawah ini memberikan kekuatan kepada dunia atas, seperti halnya
bumi (dunia bawah) yang memberikan kekuatan kepada langit supaya turun
hujan. Dalam hal ini, bentuk dunia bawah pada Mamolo yang lebih lebar dan
besar menjadi sebuah penyangga atau penahan yang memberi kekuatan kepada
dunia atas.
Bagian C merupakan penyambung yang menyatukan antara dunia atas
dan dunia bawah. Dunia ini merupakan dunia paradoks. Pada dasarnya, dunia atas
dan dunia bawah merupakan dua hal yang saling bertentangan sehingga perlu
perantara yang menyambungkan antara keduanya. Seperti seorang perempuan dan
laki-laki, jika ada perkawinan antara keduanya maka akan menghasilkan
kehidupan baru, yaitu anak. Inilah prinsip dari adanya perantara, yaitu untuk
menyatukan dua hal yang bertentangan. Untuk lebih jelasnya, dibawah ini
merupakan simbol dan konsep dari penyatuan dua hal tersebut yang sudah
dijelaskan di atas.

x
Dunia
Atas

Dunia Dunia
Tengah Bawah
h

Gambar 5 Gambar 6
Struktur hubungan antar dunia Penyatuan antara perempuan dan laki-laki
Sumber : Dokumentasi Pribadi Sumber : Dokumentasi Pribadi
Dari ketiga bentuk di atas yang melambangkan tiga dunia, jika disatukan
maka akan terbentuk sebuah mahkota yang diletakkan secara simbolis di atas
kepala (atap) sebuah bangunan (rumah) suci. Mamolo memiliki struktur vertikal,
yaitu struktur yang melambangkan kosmologi. Hal ini berbanding terbalik dengan
struktur horizontal yang melambangkan duniawi-manusiawi.
Maka, dari uraian analisis di atas, terdapat ketersambungan antara Mamolo
dan atap rumah. Tetapi Mamolo pada masa sekarang sudah kehilangan fungsinya
sebagai sebuah mahkota bagi kepala (atap rumah) karena sudah ditinggalkannya
budaya ini dan diganti dengan budaya modern sehingga Mamolo pada saat ini
sulit ditemukan dalam keadaan utuh (berada di posisi asalnya). Hal ini secara
otomatis menghilangkan fungsi dan simbol Mamolo karena adanya pemindahan
tempat.

C. REFERENSI

Sumardjo, J. (2013). Akar budaya masyarakat Indonesia: Masyarakat peramu.


Bandung: Indonesia.

Sumardjo, J. (2010). Estetika paradoks. Bandung: Sunan Ambu Press.