Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH CBL & VDL

Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Mata Kuliah


Teknik Pemboran Pada Semester IV

Disusun Oleh:

Nama : Dwi Warsasi

NPM : 1403070

Dosen Pengajar : Diky Pranondo, ST

PROGRAM STUDI TEKNIK EKSPLORASI PRODUKSI MIGAS

POLITEKNIK AKAMIGAS PALEMBANG

2016
CEMENT BOND LOG & VELOCITY DENSITY LOG

A. CEMENT BOND LOG (CBL)


Prinsip kerja Log CBL adalah mengukur amplitudo dari gelombang
akustik (sonic yang berfrekuansi 20 kHz) antara transmitter dan receiver (3 ft
receiver). Hasil pengukuran log CBL berupa amplitudo E1 yang diukur dalam
satuan mV. Amplitudo yang tinggi menunjukkan kualitas semen yang jelek
sedangkan amplitudo yang rendah menunjukkan sebaliknya
Log VDL (Variable Density Log) menampilkan keseluruhan gelombang
yang diterima oleh receiver. Log VDL mencerminkan kualitas ikatan semen ke
formasi. Log VDL dapat digunakan untuk mendeteksi adanya alur (channel) dan
intrusi gas pada semen. Tool VDL biasnya menjadi satu dengan tool CBL dimana
pada tool CBL-VDL tersebut, penerima gelombang VDL terletak 5 ft dari
pemancar sedangkan penerima gelombang CBL terletak 5 ft dari pemancar
Sebab-sebab jeleknya kualitas semen dibelakang casing secara umum
adalah :
1. Masalah aliran semen pada saat penyemenan yang disebabkan oleh :
- Pembesaran lubang (washed out)
- Centralizer casing yang kurang pada sumur miring
- Preflush yang kurang (preflush merupakan larutan pendorong lumpur bor,
dipompakan terlebih dahulu sebelum memompakan semen)
- Flow regime yang tidak sesuai (laminar vs radial flow)
2. Masalah degradasi semen selama waktu pengerasan. Jika tekanan pori semen
lebih rendah dibandingkan tekanan formasi menyebabkan semen
terkontaminasi oleh fluida atau gas dari formasi sehingga membentuk alur-alur
(channel) pada semen.

INTERPRETASI CEMENT BOND LOG

CBL hasil pengukuran utama log CBL. Kurva diatas mencerminkan


kondisi semen dibelakang casing. Jika ada semen dibelakang casing nilai
amplitudo akan rendah, jika tidak ada semen atau hanya fluida formasi maka
amplitudo akan tinggi. Amplitudo maksimum tergantung ukuran casing. VDL
(Variable Density Log) menampilkan gambaran bentuk gelombang yang
diterima oleh receiver. Pada casing yang freepipe (tidak tersemen) signal yang
ditankap ditampilkan sebagai gelombang dengan amplitudo yang tinggi, kontras
antara peak dan through nampak jelas sebagai garis hitam dan putih. Pada casing
yang tersemen bagus, VDL menampilkan gambaran yang abu-abu seragam

Prinsip Kerja CBL

Sinyal akustik merambat dari transmitter ke receiver melalui casing


Sinyal mengalami pelemahan (attenuasi) selama perambatan
Jika ada semen dibelakang casing, energi dari sinyal akan bocor dari
casing ke semen sehingga sinyal yang ditangkap oleh receiver menjadi
lemah (amplitudo rendah)
ika tidak ada semen dibelakang casing hanya sedikit energi sinyal yang
bocor sehingga sinyal yang ditangkap receiver tetap tinggi (amplitudo
tinggi)

Tingkat pelemahan/attenuasi dari gelombang yang telah dipancarkan transmiter


tergantung dari :
1. Compressive strength dari semen
2. Diameter dan ketebalan casing
3. Tingkat pengikatan semen disekeliling casing (circumfence bounded sering
juga disebut sebagai Bond Index)
Flex-joint : bagian alat yang lentur yang berfungsi mengkondisikan posisi
transmitter dan receiver agar berada tepat di tengah-tengah sumur.
Upper centralizer : berupa perangkat keras yang digunakan untuk menahan
dan menempatkan agar alat utama CBL tidak bergerak ke kiri dan kekanan
Lower Centralizer : berupa perangkat keras yang digunakan untuk menahan
dan menempatkan agar alat utama CBL berada di tengah.
OUTPUT DARI TOOL CBL
Output standar dari tool CBL :
Amplitudo dalam milivolts (mV) biasanya ditampilkan pada skala 0 s/d 50 atau 0
s/d 100 mV.Transit time dalam microsecond (usec) ditampilkan pada skala 200 s/d
400 usec . Variable Density Log dalam milisecond ditampilkan pada skala 200 s/d
1200

KALIBRASI PENGUKURAN

Untuk mendapatkan hasil pengukuran yang valid harus dilakukan kalibrasi


terlebih dahulu sebelum dilakukan pengukuran. Kalibrasi dilakukan pada bagian
casing yang tidak tersemen (freepipe). Hasil pengukuran pada freepipe
dicocokkan dengan angka standar amplitudo pada masing-masing jenis casing dan
fluid komplesi/lumpur didalam sumur

KETERBATASAN LOG CBL

Tool CBL harus mengukur pada posisi ditengah casing (centrelized), jika
tool tidak pada posisi centrelized amplitudo sinyal akan berkurang dan transit time
juga akTransmitter dan receiver sensitif terhadap suhu dan tekanan serta umur
alat.
Fluid komplesi / lumpur bor dalam sumur berpengaruh pada hasil
pembacaan, hasil pembacaan jika menggunakan fluid komplesi dari larutan garam
yang berat akan berbeda dibandingkan jika menggunakan fluida komplesi dari air.
Aturan Intrepretasi Semen

- Aturan 1: Amplitud (mV) yang rendah > Semen baik

- Aturan 2: Atenuasi (dB/ft atau dB/m) yang tinggi > Semen baik

- Aturan 3: Bond Index (%) yang tinggi > Semen baik

Rumus Bond Index

Bond Index=Atten./ATTMAX
Keterangan:
Atten. = atenuasi sinyal (pelemahan sinyal) pada depth tertentu, dalam
satuan dB/ft atau dB/m
ATTMAX = atenuasi sinyal maksimum artinya amplitud sinyalnya paling
minimum, diambil pada depth dimana amplitud sinyalnya paling kecil,
juga dalam satuan dB/ft atau dB/m
Untuk mendapatkan nilai atenuasi (dB/ft) dari pengukuran mentah mV
pergunakan chart intrepretasi sebagai berikut.
Untuk mendapatkan nilai atenuasi dari milliVolts diperlukan informasi O.D.casing
Sebagai contoh perhatikan chart dimana :
a. tegangan 3.5 mV dengan
b. casing dengan O.D. 7 inci dan berat 29 ppf.

Maka bergerak dari kiri ke kanan : ambil titik 3.5 mV yaitu antara 3 mV
dan 4 mV, tarik garis sejajar dengan garis-garis paralel yang akan memotong garis
vertikal casing O.D. 7 inci. Lalu tarik garis horizontal dari titik perpotongan 3.5
mV dan casing O.D. 7 inci tadi hingga bertemu di garis vertikal skala dB/ft di titik
kurang lebih 9 dB/ft. Artinya adalah pengukuran 3.5 mV pada casing 7 inci
memberikan nilai atenuasi sebesar 9 dB/ft.
Lebih lanjut lagi dalam chart, dengan mengetahui ketebalan casing (casing
thickness) maka dengan menarik garis dari titik 9dB/ft menuju nilai ketebalan
casing 0.41 (7 inci, 29 ppf) diperoleh bacaan kekuatan kompresif semen sebesar
kurang lebih 2,200 psi.