Anda di halaman 1dari 20

HEALTH METRICS NETWORK (HMN) SYSTEM

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Sistem Informasi Kesehatan

Dosen Pengampu :

dr. Mahalul Azam M.Kes

Disusun Oleh :

Sri Nur Oktafia Ningsih (6411414039)

Yoga Reynastu (6411414040)

Joana Prawesty Fazhya (6411414041)

Diah Wahyu Nofianti (6411414042)

Khamilatur Rizqi (6411414043)

Rombel :2

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2016
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada era globalisasi saat ini kebutuhan akan data dan informasi yang tepat,
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sangat dibutuhkan keberadaannya karena
merupakan sumber utama dalam pengambilan kebijakan untuk mewujudkan tujuan
pembangunan nasional. Berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi
merupakan kondisi positif yang akan sangat mendukung berkembangnya sistem
informasi kesehatan.

Sistem informasi kesehatan dikatakan efektif apabila memberikan dukungan


informasi sebagai proses pengambilan keputusan di segala jenjang. Di Indonesia sistem
informasi kesehatan dapat ditemukan dalam segal bidang. Sistem Informasi Kesehatan
juga terbagi menjadi beberapa tingkatan, seperti tingkat pelayanan kesehatan dasar,
kabupaten/kota dan nasional. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia telah
mengeluarkan sebuah Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374/MEKES/SK/V/2009
tentang Sistem Kesehatan Nasional, mengingat pentingnya sebuah sistem informasi.

Evaluasi mengenai sistem informasi kesehatan bisa dilakukan dengan


menggunakan perangkat Health Metrics Network (HMN) yang dibuat oleh Network-
World Health Organization (WHO). HMN meliputi 6 komponen utama SIK yaitu
sumber daya, indikator, manajemen data, sumber data, produk informasi, dan disemnasi
dan penggunaan informasi.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pengertian dan tujuan dari Health Metrics Network (HMN) ?

2. Bagaimana kerangka teori Health Metrics Network (HMN) ?

3. Bagaimana fase sistem informasi kesehatan ?

4. Bagaimana penerapan dari Health Metrics Network (HMN) ?


1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dan tujuan dari Health Metrics Network

(HMN) ?

2. Untuk mengetahui kerangka teori Health Metrics Network (HMN) ?

3. Untuk mengetahui fase sistem informasi kesehatan ?

4. Untuk mengetahui penerapan dari Health Metrics Network (HMN)


BAB II

ISI

2.1 Pengertian dan Tujuan Health Metrics Network (HMN)

Salah satu standar penilaian sistem informasi kesehatan adalah Health Metrics
Network (HMN). Health Metrics Network (HMN) merupakan upaya pertama untuk
mengembangkan penyatuan kerangka yang memfasilitasi efisiensi koordinasi dan aksi
bersama dari semua subsistem dalam sistem informasi kesehatan. Health Metrics
Network (HMN) akan mencapai tiga tujuan, yaitu:

1. Untuk mengembangkan harmonisasi dan kerangka Health Metrics Network


(HMN) untuk mengembangkan sistem informasi kesehatan dari sebuah negara.

2. Untuk mendukung Negara berkembang dalam mengadaptasi dan


mengaplikasikan rekomendasi dan standar yang terkandung dalam kerangka
Health Metrics Network (HMN) untuk meningkatkan sistem informasi
kesehatan dan meyediakan dukungan teknis dan sebagai percepatan dalam
pengamanan pendanaan sampai akhir.

3. Untuk meningkatkan kualitas, nilai dan kegunaan dari informasi kesehatan


dengan mengembangkan kebijakan dan menawarkan intensif untuk
meningkatkan penyebaran dan penggunaan data dengan konsentrasi pada tingkat
lokal, regional dan global.

2.2 Kerangka Teori Health Metrics Network (HMN)

WHO telah mengeluarkan sebah kerangka teori sebagai pedoman khususnya


bagi negara berkembang untuk dapat meningkatkan pelaksanaan sistem informasi
kesehatan. Bagian dari kerangka Health Metrics Network (HMN) menggambarkan
enam komponen sistem informasi kesehatan dan setiap standar yang dibutuhkan. Nilai
yang jelas mendefinisikan bagaimana peraturan sistem informasi kesehatan dan
bagaimana komponen dalam sistem tersebut berinteraksi antara satu dengan yang
lainnya untuk dapat menghasilkan informasi yang lebih baik untuk kesehatan yang lebih
baik.

Dalam enam komponen itu, sistem informasi kesehatan terbagi lagi menjadi
input, proses dan output. Input menunjukkan pada sumber daya dimana proses
berhubungan pada bagaimana indikator dan sumber data dipilih dan dikumpulkan dan
mengelola. Output berhubungan dengan produksi, diseminasi, dan penggunaan
informasi. Berikut ini adalah enam komponen dari sistem informasi kesehatan:

a. Input

1. Sumber daya sistem informasi kesehatan, dalam hal ini termasuk undang-
undang, peraturan dan kerangka kerja perencanaan yang diperlukan untuk
memastikan informasi kesehatan yang berfungsi secara menyeluruh, dan sumber
daya yang merupakan prasyarat untuk suatu sistem sehingga sistem dapat
berfungsi. Sumber daya tersebut meliputi personil, pembiayaan, dukungan
logistik, informasi dan teknologi komunikasi (ICT), dan mekanisme koordinasi
di dalam dan antar enam komponen.

b. Proses

2. Indikator, merupakan basis dari perencanaan da strategi informasi kesehatan.


Indikator meliputi pengaruh dari kesehatan, input sistem kesehatan, output dan
dampak dan status kesehatan.

3. Sumber data, terbagi menjadi dua kategori utama:

a. Data berbasis populasi (sensus, pencatata sipil, dan survei populasi)

b. Data berbasis lembaga (catatan individu, catatan layanan dan catatan sumber
daya). Perlu dicatat bahwa sejumlah pendekatan pengumpulan data dan
sumber lainnya ada yang tidak cocok dengan salah satu kategori utama
diatas, tetapi dapat memberikan informasi penting yang mungkin tidak
tersedia di tempat lain. Dalam hal ini termasuk survei kesehatan, penelitian,
dan informasi yang dihasilkan oleh organisasi berbasis masyarakat.
4. Manajemen data, ini mencakup semua aspek penanganan data dari
pengumpulan, penyimpanan, jaminan kualitas dan aliran, untuk pengolahan,
kompilasi dan analisis. Persyaratan spesifik ditentukan untuk perioditas dan
ketepatan waktu seperti dalam kasus surveilans penyakit.

c. Output

5. Produk informasi, data harus diubah menjadi informasi yang akan menjadi bukti
dasar dan pengetahuan untuk membentuk aksi kesehatan.

6. Penyebaran dan penggunaan, nilai informasi kesehatan dapat mempermudah


para pengambil keputusan dalam membuat kebijakan.

Kerangka teori secara detail dapat dilihat sebagai berikut:

Komponen dan Standar Sistem Penguatan Sistem


Informasi Kesehatan Informasi Kesehatan

Sumber Daya Prinsip

Indikator Proses: (a) Kepemimpinan,


Koordinasi dan Penilaian, (b)
Penetapan Prioritas dan
Perncanaan, (c) Pelaksanaan
Sumber Data Sistem Informasi Kesehatan

Manajemen Data Peralatan

Produk Informasi

Tujuan HMN:
Diseminasi dan
Penggunaan Informasi Meningkatkan ketersediaan,
aksebilitas, kualitas dan penggunaan
informasi kesehatan untuk
pengambilan keputusan di tingkat
negara dan global.
Dalam kerangka tersebut, sistem informasi memiliki enam komponen
diantaranya adalah sumber daya, indikator, manajemen data, sumber data, produk
informasi, dan disemnasi dan penggunaan informasi. Untuk dapat meningkatkan kinerja
sistem informasi kesehatan maka harus melewati beberapa proses diantaranya adalah
kepemimpinan, koordinasi dan penilaian, penetapan prioritas dan perencanaan dan
pelaksanaan sistem informasi kesehatan.

2.3 Fase Sistem Infomasi Kesehatan

Peningkatan kualitas sistem informasi di sebuah Negara menjadi sebuah hal


yang dibutuhkan untuk menghasilkan informasi yang baik. Oleh karena itu WHO
membuat sebuah kerangka atau fase untuk dapat meningkatkan sistem informasi di
sebuah Negara. Berikut ini fase dalam peningkatan fase sistem informasi di sebuah
negara:

1. Fase 1, Kepemimpinan, Koordinasi, Dan Penilaian, merupakan


langkah pertama dalam melaksanakan penguatan sistem informasi
kesehatan melalui menjamin keterlibatan dan mendukung oleh berbagai
stakeholders. Proses penilaian memberikan kesempatan kepada
stakeholders untuk berkolaborasi antar disiplin dalam memberikan
pemahaman bersama pada konsep, keuntungan dan kapasitas khusus
pada sistem informasi kesehatan di sebuah Negara.

2. Fase 2, Membuat Prioritas Dan Rencana. Membangun alat


perencanaan dengan melibatkan stakeholders yang mempunyai visi
untuk membuat perencanaan dan keputusan berbasis fakta.

3. Fase 3, Implementasi Dari Kegiatan Penguatan Sistem Informasi


Kesehatan Termasuk Membahas Kemampuan Teknologi Informasi
Dalam Kebijakan, sumber daya manusia dan proses yang membuat
akses dapat ditindaklanjuti dalam sistem informasi kesehatan sebuah
Negara.

Dari ketiga fase tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa apabila ingin
meningkatkan sistem informasi kesehatan di sebuah Negara maka harus dilakukan
penilaian terlebih dahulu terhadap sistem informasi kesehatan yang sedang berjalan
sebagai dasar dalam tindakan selanjutnya.

2.4 Penerapan Dari Health Metrics Network (HMN)


Salah satu standar penilaian system informasi kesehatan adalah HMN yang
dikeluarkan oleh WHO, penilaian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi
Selatan dengan melakukan survei kebutuhan SIK dilapangan serta wawancara kepada
setiap tim data dan informasi kesehatan kabupaten/kota di Sulawesi Selatan dengan
menggunakan metode penilaian Health Metric Network (HMN). Tujuan dari survei
tersebut yaitu untuk menganalisis kebutuhan pengembangan SIKDA secara
komprehensif dari segi potensi, infrastruktur, penerapan, serta berbagai komponen
subsistem SIKDA di Provinsi Sulawesi Selatan.
Hasil yang diperoleh yaitu, sebagai berikut:

Gbr. 1 Gambaran Umum SIK di Sulawesi Selatan Tahun 2010

Komponen SIK Sulawesi Selatan yang dinilai HMN, yaitu 1)sumber daya yang
terdiri dari kebijakan, perencanaan, unit pengelola, SDM, infrastruktur dan pembiayaan
SIK dengan nilai (ada tapi tidak memadai); 2)Indikator yang mencakup semua kategori
indikator determinan kesehatan, input, output, outcome dari sistem kesehatan dan status
kesehatan dengan nilai (cukup memadai); 3)Sumber data yang terdiri dari statistik vital,
pencatatan kesehatan dan penyakit, pencatatan pelayanan kesehatan, dan pencatatan
administrasi dengan nilai (ada tetapi belum memadai); 4)Data manajemen yang memuat
data warehouse dan kodefikasi dengan nilai cukup memadai; 5)Produk informasi yang
memuat data kunjungan dan data cakupan dengan nilai belum memadai; 6)Diseminasi
dan pemanfaatan cukup memadai. Kondisi SIK Sulawesi Selatan secara menyeluruh
dapat dilihat pada gambar 1, yaitu:

1. Sumber Daya
Komponen sumber daya SIK di Sulawesi Selatan secara umum mendapat nilai
57% (cukup memadai). Hal ini didukung oleh sub komponen ketersedian infrastruktur
(82%) yang hampir sudah merata dengan bantuan pembiayaan dari proyek DHS2 antara
tahun 2006-2009, namun pada sub komponen institusi pengelola, SDM dan pembiayaan
mendapat nilai hanya 48% (tidak memadai, sedang nilai terendah pada sub komponen
kebijakan yaitu hanya 27%. Hal tersebut terjadi karena belum adanya dokumen rencana
induk pengembangan SIK secara terpadu dan berkesinambungan di kabupaten/ kota,
hasil penilaian secara rinci dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1

Hasil Penilaian Komponen Sumber Daya Sistem Informasi Kesehatan di Sulawesi


Selatan Tahun 2010

a. Kebijakan dan Perencanaan


Pengembangan SIK semestinya mengacu pada dokumen rencana induk
pengembangan (master plan) SIK, tetapi di Provinsi Sulawesi Selatan hanya 9% Dinas
Kesehatan Kab/kota yang memiliki dokumen rencana induk pengembangan SIK,
sedangkan 91% lainnya belum memiliki dokumen rencana induk pengembangan SIK.
Rata-rata responden menjawab bahwa pelaksanaan pengembangan SIKDA itu
terlaksana, namun tidak memiliki dokumen rencana induk pengembangan.
Sebesar 9% responden menjawab bahwa kebijakan SIK secara tertulis
merupakan rencana strategis SIK untuk mempromosikan penggunaan data/ informasi di
semua sistem kesehatan, 64% responden mengatakan tidak ada kebijakan dalam
mempromosikan budaya menggunakan data/informasi, namun ada diskusi-diskusi
tentang hal ini, sedangkan 27 % lainnya mengatakan tidak ada kebijakan atau diskusi-
diskusi dalam hal promosi budaya menggunakan data/informasi.

b. Unit Pengelola, SDM dan Pembiayaan SIK


Unit pengelola SIK pada Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan berada di
bawah Subag Program, yang berfungsi sebagai sekretariat data dan informasi yang
mengkoordinasikan Kelompok Kerja (POKJA) data dan informasi kesehatan yang ada
pada seluruh seksi dan UPTD. Sedangkan pada tingkat kabupaten/ kota di Provinsi
Sulawesi Selatan hanya 9% yang mempunyai unit struktural dengan sumber daya yang
memadai, 18% yang memiliki unit struktur tapi sumber daya yang memadai, 18 %
yang memiliki unit struktural yang menjalankan fungsi terbatas, namun tetap
menjalankan fungsi penguatan SIK, dan 45% yang tidak memiliki unit struktural.

Kondisi ketersediaan tenaga pengelola SIK di Provinsi Sulawesi Selatan pada


umumnya belum fokus karena pada umumnya memiliki tugas rangkap. Sedangkan dari
dari kualitas masih belum memadai karena masih minimnya tenaga yang berlatar
belakang pendidikan yang terkait dengan sistem informasi. Hal ini terkait dengan biaya
pengembangan tenaga yang sangat terbatas.

c. Infrastruktur SIK
Ketersedian infrastruktur khusus untuk pengelolaan SIK di Sulawesi Selatan
pada umumnya sudah merata, namun ditinjau dari segi jumlah yang dibutuhkan masih
belum sesuai dengan kebutuhan.

Di tingkat provinsi, pada sekretariat data dan informasi kesehatan dilengkapi


dengan server bank data yang dihubungkan dengan komputer workstation pada masing-
masing bidang di lingkup Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Selain itu
dilengkapi dengan fasilitas wifi. Sedangkan di tingkat kabupaten/ kota, rata-rata
dilengkapi satu sampai dua komputer untuk pengelolaan SIK. Rata-rata puskesmas telah
dilengkapi dengan fasilitas komputer, tetapi puskesmas yang memiliki 5 komputer
dilengkapi dengan jaringan (LAN) sebanyak 39 puskesmas dari 413 puskesmas yang
ada.

Pencatatan rekam medis dengan menggunakan software (yang aktif) sekitar 21


puskesmas. Satu puskesmas menggunakan software versi Kab. Ngawi, 5 Puskesmas
menggunakan software versi Sisfomedika (UGM), 14 Puskesmas menggunakan
software versi Simpus (UNHAS), dan 3 puskesmas menggunakan software versi
Infokes, selebihnya menggunakan pencatatan manual dengan menggunakan excel.

d. Pembiayaan SIK
Pembiayaan SIK di tingkat provinsi masih banyak mengharapkan dari APBN.
Proporsi pembiayaan SIK pertahun 75% dari APBN, 12,5% dari APBD dan 12,5% dari
BLN atau 0,8% dari anggaran bidang kesehatan pada Dinas Kesehatan Provinsi
Sulawesi Selatan. Sedangkan pembiayaan SIK di kabupaten/ kota di Sulawesi Selatan
masih sangat rendah. Berdasarkan hasil survey kebutuhan SIK, hanya 18% kabupaten/
kota yang selalu menganggarkan untuk pengelolaan SIK, dan 82% kabupaten/kota
lainnya tidak menganggarkan secara rutin untuk kegiatan pengelolaan SIK.

2. Indikator SIK
Indikator minimal telah ditentukan untuk daerah mencakup semua kategori
indikator (determinan kesehatan; input, output, outcome dari sistem kesehatan; dan
status kesehatan) secara umum nilainya 71% (sudah memadai). Penilaian secara terinci
sebanyak 45% indikator minimal telah ditentukan untuk daerah yang mencakup semua
kategori, 36% indikator minimal telah ditentukan untuk daerah tetapi belum mencakup
semua kategori, dan 18% diskusi sedang berjalan untuk menentukan indikator minimal
di daerah. Hasil secara umum dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel.2

Hasil Penilaian Indikator SIK di Sulawesi Selatan tahun 2010


3. Sumber Data
Sumber data kesehatan dapat diperoleh dari statistik vital, pencatatan kesehatan
dan penyakit, pencatatan pelayanan kesehatan, dan pencatatan administrasi. Sedangkan
metode sensus dan survey data dasar penduduk tidak dilakukan di bidang kesehatan,
secara detail dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3

Hasil Penilaian Sumber Data di Sulawesi Selatan Tahun 2010

a. Statistik Vital
Informasi dari statistik vital (VR)/sistem registrasi sampel (SRS)/sistem
surveilans kependudukan (DSS) mengenai (1) angka kematian dan (2) penyebab
kematian ada tetapi tidak memadai karena tidak dilaksanakan secara menyeluruh,
melainkan hanya dilaksanakan berdasarkan fasilitas base.

b. Pencatatan Kesehatan dan Penyakit


Pencatatan kesehatan dan penyakit sudah cukup memadai, yaitu kapasitas dan
pelaksanaan sangat memadai, tetapi isinya belum sesuai yang diharapkan serta
diseminasi, integrasi dan pemanfaatan data ada tetapi tidak memadai.

c. Pencatatan Pelayanan Kesehatan


Pencatatan pelayanan kesehatan sudah cukup memadai, yaitu kapasitas dan
pelaksanaan, serta isi, integrasi dan pemanfaatan data sudah memadai, serta diseminasi
yang sudah sangat memadai.
d. Pencatatan Administrasi
Pencatatan administrasi mencakup database/ pemetaan infrastruktur pelayanan
kesehatan, database mengenai sumber daya manusia, informasi pembiayaan di bidang
pelayanan kesehatan, dan database peralatan, persediaan dan komoditi. Sub komponen
ini berdasarkan tool HMN dapat dikatakan bahwa pencatatn administrasi SIK di
Sulawesi Selatan ada tetapi tidak memadai.

Hasil penilaian sumber data berdasarkan sub komponen statistik vital,


pencatatan penyakit, pencatatan pelayanan kesehatan, serta administrasi dapat dilihat
pada gambar 2 berikut.

Gambar 2. Grafik Hasil Penilaian Sub Komponen Sumber Data di Sulawesi


Selatan Tahun 2010

4. Manajemen Data
Manajemen data yang dinilai yaitu pengelolaan data di kabupaten/ kota terutama
mengenai data warehouse (data yang terhimpun di suatu bank data) yang memiliki
fasilitas pelaporan yang dapat diakses oleh berbagai kalangan, serta tersedianya
kodefikasi untuk fasilitas kesehatan.
Hasil penilaian yang dapat dikeluarkan dari tool HMN yaitu manajemen data di
kabupaten/ kota sudah memadai, 36% terdapat data warehouse di daerah yang memiliki
fasilitas pelaporan yang mudah digunakan dan dapat diakses oleh propinsi dan
kab/kota, 18% terdapat data warehouse di daerah, namun hanya memiliki fasilitas
pelaporan yang terbatas, 9% terdapat data warehouse di daerah, namun tidak memiliki
fasilitas pelaporan, namun masih ada 36% yang tidak ada data warehouse di daerah.
Secara umum tentang penilaian manajemen data yang dikeluarkan dengan
menggunakan tool HMN dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4

Hasil Penilaian Manajemen Data di Sulawesi Selatan Tahun 2010

5. Produk Informasi
Komponen produk informasi yang termasuk dinilai pada tool HMN antara lain
tentang metode yang digunakan dalam pengumpulan dan validasi data, ketepatan waktu,
konsistensi waktu pelaporan, data terkini yang mencakup data fasilitas pemerintah dan
swasta, keterwakilan/kesesuaian, rekapan, dan metode estimasi. Hasil penilaian produk
informasi elemen yang digunakan untuk menilai indikator, dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Grafik Hasil penilaian produk informasi berdasarkan elemen untuk


menilai produk informasi kesehatan di Sulawesi Selatan Tahun 2010.
Pada gambar 3 dapat dijelaskan bahwa produk informasi berdasarkan elemen
untuk menilai indikator, antara lain metode pengumpulan data, ketepatan waktu, waktu
pelaporan, data terkini yang mencakup data fasilitas pemerintah dan swasta,
keterwakilan/kesesuaian dan rekapan data pada posisi nilai ada tetapi tidak memadai
(artinya metode pengumpulan data belum tepat, data belum tepat waktu, masa pelaporan
yang terlambat setahun dan data belum up to date). Berbeda pada elemen konsisten
waktu dan estimasi dengan nilai tidak memadai, artinya waktu pelaporan tidak konsisten
serta estimasi tidak dilakukan.

Berdasarkan gambar 4 dapat dijelaskan produk informasi pada indikator


kelahiran dan faktor kesehatan yang berisiko sudah memadai. Hal ini dapat tercapai
karena banyak berhubungan dengan keterlibatan pelayanan oleh tenaga kesehatan.
Sedangkan pada indikator kematian dan sistem kesehatan masih belum memadai. Pada
indikator kematian yang tersajikan hanya terlaporkan pada fasilitas kesehatan,
begitupun produk yang berhubungan dengan sistem kesehatan, banyak kehilangan
informasi dari sektor terkait termasuk swasta.

Gambar 4. Grafik hasil penilaian produk informasi berdasarkan indikator yang


dinilai di Sulawesi Selatan Tahun 2010
Penilaian produk informasi secara keseluruhan berdasarkan hubungan antara
elemen yang digunakan untuk menilai indikator dengan indikator yang dinilai masih
mendapat nilai belum memadai. Untuk lebih rinci tentang elemen untuk menilai
indikator dan indikatornya sendiri dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 5

Hasil Penilaian Produk Informasi di Sulawesi Selatan Tahun 2010

6. Diseminasi Dan Penggunaan


Diseminasi dan penggunaan informasi untuk analisis dan penggunaan informasi,
untuk pengambilan kebijakan dan advokasi, untuk alokasi sumber daya dan
implementasi sudah cukup memadai, hanya untuk perencanaan dan skala prioritas yang
masih belum memadai karena terkait dengan masa berlakunya informasi yang disajikan.
Secara jelas dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6

Hasil Penilaian Diseminasi dan Penggunaan Data di Sulawesi Selatan Tahun 2010
Jadi diketahui manfaat penilaian sistem informasi kesehatan dengan
menggunakan HMN di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan yaitu dapat
mengetahui permasalahan dan rencana tindak lanjut untuk memperbaiki permasalahan
sistem informasi kesehatan di Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. Rencana
tindak lanjut pengembangan SIKDA seperti berikut :

1. Sumber Daya SIK


a. Menyusun dan menfasilitasi rencana induk pengembangan
SIKDA di tingkat provinsi dan kabupaten/kota
b. Rakoor rutin capaian data per bulan
c. Sertifikasi SDM pengelola SIKDA di provinsi dan
kabupaten/kota dengan mengajukan usulan anggaran pada GTZ
d. Pengembangan kabupaten binaan pada kabupaten/ kota
2. Sumber Data
a. Survey data kematian dan penyakit penyebabnya melalui peran
bidan desa
b. Pengembangan software generik yang dikembangkan oleh
Pusdasure, GTZ dan UGM di kabupaten/ kota.
c. Pengembangan integrasi pencatatan pelayanan kesehatan ke
semua unit kesehatan dan sektor terkait
3. Manajemen Data
a. Melakukan pembinaan dalam rangka peningkatan pengelolaan
data warehouse di kabupaten kota.
b. Melakukan pemutakhiran data
c. Penyesuaian standarisasi dan kodefikasi dari pusat, provinsi dan
kabupaten/kota
4. Produk Informasi
a. Merobah metode pengumpulan data dari manual menjadi
elektronik individu record.
b. Peningkatan kualitas dan kuantitas publikasi informasi
kesehatan
c. Meningkatkan aliran informasi pada seluruh bidang kesehatan
dan LS terkait.
5. Diseminasi dan Penggunaan
a. Workshop desain penyajian informasi
b. Diseminasi informasi ke LP/LS
c. Mendesain pojok informasi pada pintu masuk Dinkes Prov.
Sulsel.
d. Sosialisasi pojok informasi ke Dinkes kabupaten/ kota.
e. Workshop pemanfaataan data dalam penyusunan perencanaan
dan pengambilan kebijakan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Health Metrics Network (HMN) merupakan upaya pertama untuk
mengembangkan penyatuan kerangka yang memfasilitasi efisiensi koordinasi dan aksi
bersama dari semua subsistem dalam sistem informasi kesehatan. Tujuan HMN yaitu
meningkatkan ketersediaan, aksebilitas, kualitas dan penggunaan informasi kesehatan
untuk pengambilan keputusan di tingkat negara dan global.

Sistem informasi memiliki enam komponen diantaranya adalah sumber daya,


indikator, manajemen data, sumber data, produk informasi, dan disemnasi dan
penggunaan informasi. Untuk dapat meningkatkan kinerja sistem informasi kesehatan
maka harus melewati beberapa proses diantaranya adalah kepemimpinan, koordinasi
dan penilaian, penetapan prioritas dan perencanaan dan pelaksanaan sistem informasi
kesehatan.

Terdapat tiga fase untuk dapat meningkatkan sistem informasi di sebuah Negara.
Fase 1 yaitu kepemimpinan, koordinasi, dan penilaian. Fase 2 yaitu membuat prioritas
dan rencana. Dan fase 3 yaitu implementasi dari kegiatan penguatan sistem informasi
kesehatan termasuk membahas kemampuan teknologi informasi dalam kebijakan.
REFERENSI

Bawardi, Fuad. 2012. Pengembangan Sistem Informasi Program Kesehatan Lanjut


Usia Di Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara Tahun 2012. Tesis. UI

Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan. 2010. Laporan Hasil Need Assessment
Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan Daerah Di Provinsi Sulawesi
Selatan. Provinsi Sulawesi Selatan: Makasar

Nurmansyah, Mochamad Iqbal. 2013. Analisis Pelaksanaan Sistem Informasi Gizi Di


Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan Tahun 2013. Skripsi. Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumariani, Endang Sri. 2015. Analisis Kebutuhan Perencanaan Sistem Informasi


Kesehatan Pada Bidang Pelayanan Dinas Kesehatan Kabupaten Boyolali.
Skripsi. UMS

World Health Organization. 2006. Health Metrics Network Stengthrning Country


Health Information Systems: Assesment And Monitoring Tool Version 1.96.
WHO: Geneva