Anda di halaman 1dari 13

Tugas keperawatan Sistem Imun dan Hematologi

Patofisiologi dan Biokimia System Imun dan Hematologic


Psikoneuroimunologi System Imun dan Hematologi

Dosen Pembimbing:
dr. Djumhana , Sp. M

DISUSUN OLEH :
Ailsa Budi Khairany 141.0004

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HANG TUAH SURABAYA


PRODI S-1 KEPERAWATAN
TAHUN 2017-2018
Jl. Gadung No. 1 Telp (031) 8411721, 8404248, 8404200 Fax 8411721 Surabaya
Website :www.stikeshangtuah-sby.ac.id
Kondisi individu yang terproteksi dari patogen atau berbagai molekul asing (Goldsby, 2000
dalam Putra, 2005)
Imunitas = hasil respon imun adaptif (humoral dan seluler), imun alami (anatomis,
fisiologis, inflamasi dan fagositosis)

BIOKIMIA SISTEM IMUN

Sistem Imun

- Serangkaian kerjasama dari organ, jaringan dan sel untuk menyerang benda yang masuk
dalam tubuh (foreign invaders) mikrobia atau sel asing (tumor)

- Tubuh sangat kaya akan nutrient (Karbohidrat, Lemak & Protein dll) yang dibutuhkan
oleh mikrobia ex. bakteri, jamur, parasit, virus

- Sel tubuh juga dapat berubah sifat karena oksidan & mutasi dll respon imun

Konsep Kerja Sistem Imun

1. Mampu membedakan antara komponen asing (non-self) dari komponen diri sendiri
(self).

2. Mampu menyerang/merusak komponen benda asing (non Self)

3. Tidak mampu untuk menyerang diri sendiri (self)

SISTEM IMUN

1. Bawaan dari lahir/alamiah (the innate immune system) respon imun non spesifik

2. Diperoleh dari paparan/adaptif (the adaptive/acquired immune system) respon imun


spesifik

SISTEM IMUN NON SPESIFIK

1. Merespon semua agent yang masuk atau ancaman yang datang.

2. Merusak agent yang masuk, berlangsung cepat dan spontan

3. Sistem pertahanan non spesifik telah ada sejak lahir (innate)

4. Terdiri dari
a. Fisik/mekanik ; kulit, selaput lendir, silia, batuk, bersin dll

b. Sekret ; asam lambung, saliva, sekret vagina, sekresi saluran pernapasan, dll

Humoral (dlm darah) : Complement, interferon, CRP dll

c. Selular ; Retikuloendothelial : Limpa

- fagosis : Leukosit (neutofil, Eosinofil< Monosit, Makrofag)

- Natural Killer

- Mediator ; basofil, Mastosit, trombosit

d. Respon Imfamasi

e. Nutrisi

Pertahanan Non-specifik

1. Pertahanan Fisik/Kimiawi

a.Barrier fisik : kulit, rambut, silia

b.Sekresi: keringat, mukus, asam lambung, enzim dll

2. Pertahanan selular

a. Phagocytes (cell eating)

menghilangkan debris pathogens/cellular dengan memakannya (engulfing)

* Microphages (small eaters)

- secara khusus terdapat pada sistem sirkulasi

- dapat meninggalkan pembuluh darah dan masuk dalam jaringan yang rusak/infeksi

* Macrophages (large eaters)

- berasal dari sel darah putih dan disebut monocytes


b. Lymphocytes = Natural Killer Cells

- terlibat dalam sistem pertahanan tubuh secara menyeluruh

- sel NK mensekresikan protein untuk membunuh sel abnormal

c. Interferons (IFNs)

- merupakan senyawa glikoprotein

- respons utama untuk infeksi virus

- mekanisme kerja sbb ;

a. Apabila sel terinfeksi virus, maka gene interferon akan aktif sintesis protein interferon

b. Interferon akan meninduksi sel tetangga untuk mengaktifkan gene protein antivirus

c. Protein anti virus akan menghambat replikasi virus berikutnya

d. Complement

1. Sekelompok protein (C1 s/d C9) dalam darah yang complements / supplements untuk
meningkatkan Fagositosis melalui 3 cara

a. membantu merusak membran sel bakteri meningkatkan permiebilitas membran cairan


masuk ke sel bakteri bengkak lisis

b. Melepaskan khemotaksis menarik makrofag mendekati

c. Opsonisasi Memudahkan Mafrofag mengenali, melekat dan memakan bakteri

e. CRP (C-reactive Protein )

1. protein reaktif yang kadar meningkat pada infeksi akut atau kerusakan jaringan.

2. Di produksi oleh sel hati (hepatosit) polypeptida pentamer

3. Fungsinya untuk melapisi bakteri (Opsonisasi) mudah dikenali dan dimakan oleh
makrofag fogositosis
4. Respon Inflamasi

1. Kerusakan jaringan ikat (connective) mengakibatkan mast cell melepaskan


histamin dan heparin ke dalam cairan interstitial sehingga terjadilah inflammasi2.

2. Histamin meningkatkan permiabelitas membran kapiler darah plasma darah keluar


ke cairan interstesial Bengkak kemerahan, panas dan nyeri (Swelling, redness, heat, pain)

5. Demam (Fever)

Suhu tubuh lebih dari 37oC akan memacu aktivitas system imun

Respon Spesifik

Terdiri dari 2 cellular systems (lymphocytes)

1 humoral atau circulating antiBody system - B cells

2 cell mediaTed immunity - T cells

2 Immunitas sel T

1. Sel T Cytotoxic = menyerang sel-sel asing


2. Sel T-memory = pengingat

Jika tubuh dimasuki antigen yang sama dengan yang terdahulu, sel memory langsung
membuat respon spesifik dengan cepat

3. Sel T Suppressor = menekan respons sel T dan B

Bersifat sebagai rem atau penghenti imun respons

4. Sel T Helper orchestra immune response

Melepaskan berbagai senyawa yang disebut cytokine


Cytokine

1. Mengatur baik pertahanan spesifik maupun non-spesifik

2. Merangsang terbentuknya sel T yang lebih banyak


3. Merangsang terbentuknya antibodi oleh sel B

Imunitas sel B

Aktivasi sel B terjadi sebagai respon pemaparan terhadap antigen asing yang spesific
Sel T Helper mensekresikan suatu zat kimia yang disebut dengan interleukin
Sel B terbagi atas :

1. Plasma cells = mensintesis dan mensekresikan sejumlah besar antibodi dengan antigen
target yang sama

2. Sel Memory = menyimpan memory jika dimasa akan datang mendapat antigen yang
sama langsung terbentuk respon imu

Antibody

1. Jika pathogen masuk ke dalam tubuh akan merangsang limfosit B untuk membuat
antibody
Antibodi adalah protein dengan bentuk spesific dan akan melekat pada antigen
spesifik pathogen
Setelah terbentuk kompleks antibody -antigen, maka akan mudah dirusak oleh
macrophages

Mekanisme Kerja Antibody

Antibodi = kompleks protein yang mempunyai 2 rantai berat (heavy chain) dan 2 rantai
ringan (light chain):

Constant region ((biru tua dan merah tua) = sama pada semua antibodi
Variable region (biru mudah & merah mudah) = bersifat khusus untuk setiap

antibodi

Imunoglobulin (Ig)

Ada 5 Jenis:

1. Ig M berperan sbg reseptor permukaan sel B & disekresi pd tahap awal respons sel
plasma

2. Ig G Ig terbanyak di darah, diproduksi jika tubuh berespons thd antigen yg sama


Ig M & IgG berperan jika tjd invasi bakteri & virus serta aktivasi komplemen
3. Ig E melindungi tubuh dr infeksi parasit & mrp mediator pd reaksi alergi; melepaskan
histamin dari basofil & sel mast

4. Ig A ditemukan pd sekresi sistem perncernaan, pernapasan, & perkemihan (cth: pd


airmata & ASI)

5. Ig D terdapat pada banyak permukaan sel B; mengenali antigen pd sel B

Gangguan pada system immune

1. Lack of response (respon kurang)

-imunodefisiensi
- Ex. AIDS, leukemia

2. Incorrect response (respon imun salah)

-autoimun
- ex. DM tipe I, multiple sclerosis, lupus dll.

3. Overactive response (rspon berlebihan)

-hipersensitivitas)
- ex. alergy

Imunodeficiency HIV/AIDS

virus (HIV) menyerang sel limfosit

virus mentransfer RNA ke sel limfosit reverse transkripsi

menjadi DNA

DNA virus menyisip ke dalam DNA limfosit limfosit yang terinfek

berubah sifat kehilangan kemampuan fungsi imunitasnya


Autoimmun

- System imun menyerang jaringan tubuh sendiri self

1. Multiple sclerosis (MS) adalah penyakit autoimun yang mengakibatkan rusaknya sel
syaraf, selubung myelin. Sehingga berakibat pada rusaknya sitem penglihatan dan
koordinasi. Individu dengan DR2 variant of MHC genes peka terhadap penyakit ini.

2. Rheumatoid arthritis (RA) menyerang sendi perifer dan dapat mengakibatkan


perusakan kartilago dan tulang. Kebanyakan penyakit ini menyerang individu yang
memiliki DR4 variant of MHC genes.

Allergy

Alergy adalah malfungsi sistem imun di mana tubuh seseorang hypersensitif untuk
berreaksi terhadap substansi non-pathogen
Type I hypersensitif ditandai dengan aktivasi berlebihan mast cells (produksi histamine
berlebihan) mengakibatkan respon inflammasi systemik pada sistem pernapasan yang
dapat mengakibatkan shock anafilaksis kematian.

Agent Penyebab allergy

Polen/serbuk sari
Kacang-kacangan
Debu, serpihan kulit
Kutu
Logam
Kosmetik
Telur
Seafood
Dingin dll
Respons allergy

Symtoms Lokal

Hidung : pembengkakan pada mukosa hidung (allergic rhinitis)


Mata : merah dan gatal pada conjunctiva (allergic conjunctivitis)
Jalan napas : bronchokonstriksi, bersin, asma
Telinga : terasa penuh, berdengung, kadang nyeri, pendengaran berkurang
Kulit: gatal, meraj seperti eksim, contact dermatitis.
Kepala : sakit dan pusing .

Respon Systemic

Disebut juga anafilaksis


Tergantung pada tingkat keparahan, dapat menyebabkan reaksi kutaneus,
bronchokonstriksi, edema, hypotensi, koma sampai meninggal
Allergen merangsang sel sistem imun memproduksi antibodi dan signal kimiawi
lainnya (ex. histamine) inflamasi

Respons pertama

vasodilatasi
gangguan vascular
kram otot polos

Reaksi lanjutan

Oedema mucosal

Sekresi mukus

Infiltasi leukocyte

Kerusakan epithelial

bronchospasm

Diagnosis allergy
Skin test

allergen di injeksi intradermal atau ke dalam goresan kecil di kulit pasien

Jika pasien alergy maka timbul respon inflamasi dalam waktu 30 menit

Respons yang timbul dari sedikit kemerahan sampai bengkak pada pasien yang
hypersensitif

Problems:

Pada beberapa orang menunjukkan delayed-type hypersensitivity (DTH), reaksi baru timbul
6 sampai 24 jam kemudian. Menyebabkan tidak terditeksi atau area yang rusak meluas

Treatment allergy

Immunotherapy

Hyposensitization = bentuk immunotherapy di mana pasien secara bertahap


diberikan allergen.
Dapat dilakukan dengan injeksi allergen, atau sublingual immunotherapy, allergy
drops pada lidah.

Chemotherapy

Sejumlah obat antagonis yang digunakan untuk memblokir mediator alergik,


mencegah aktivasi sel dan proses degranulasi.
Contoh : antihistamines, cortisone dl

Merupakan ilmu yang mempelajari imunoregulasi (alami-adaptif) bukan otonom


(dipengaruhi kinerja otak) Putra, 2005
Psikoneuroimunologi berkonsep stress Cell
Secara morfofungsi, sel terdiri atas 2 bagian yaitu inti dan sitoplasma beserta berbagai
organela yang menunjang kinerja dalam menjalankan tugas dan
eksistensinya.

Memory Cell, sel B yang sudah mengalami inisiasi oleh epitop dan imunogen learning
process stress response kemampuan sel B memproduksi imunoglobulin
Konsep stres Selye aktivasi, eustres, distres limfosit

PSIKONEUROIMUNOLOGI

Martin (1938) mengemukakan ide dasar konsep psikoneuroimunologi yaitu (1). status
emosi menentukan fungsi sistem kekebalan, dan (2). stres dapat meningkatkan kerentanan
tubuh terhadap infeksi dan karsinoma. Dikatakan lebih lanjut bahwa karakter, perilaku, pola
coping dan status emosi berperan pada modulasi sistem imun

Holden (1980) dan Ader (1981) mengenalkan istilah psikoneuroimunologi; yaitu


kajian yang melibatkan berbagai segi keilmuan, neurologi, psikiatri, patobiologi dan
imunologi. Selanjutnya konsep ini banyak digunakan pada penelitian dan banyak temuan
memperkuat keterkaitan stres terhadap berbagai patogenesis penyakit termasuk infeksi dan
neoplasma

Interaksi antara stres dengan sistem Imun

Stresor pertama kali ditampung oleh pancaindera dan diteruskan ke pusat emosi yang
terletak di sistem saraf pusat. Dari sini, stres akan dialirkan ke organ tubuh melalui saraf
otonom. Organ yang antara lain dialiri stres adalah kelenjar hormon dan terjadilah perubahan
keseimbangan hormon, yang selanjutnya akan menimbulkan perubahan fungsional berbagai
organ target. Beberapa peneliti membuktikan stres telah menyebabkan perubahan
neurotransmitter neurohormonal melalui berbagai aksis seperti HPA (Hypothalamic-Pituitary
Adrenal Axis), HPT (Hypothalamic-Pituitary-Thyroid Axis) dan HPO (Hypothalamic-
Pituitary-Ovarial Axis). HPA merupakan teori mekanisme yang paling banyak diteliti

Pada kondisi stres kronis, kinerja HPA axis akan meningkat dan sebagai dampak,
kadar glukokortikoid menjadi tinggi. Pada beberapa penelitian imunologis, glukokortikoid
memberikan dampak pada keseimbangan sel-sel imun. Hal ini dikarenakan pada permukaan
sel-sel imun (sebagai contoh, limfosit) terdapat reseptor glukokortikoid. Glukokortikoid yang
berikatan dengan reseptor pada sel limfosit akan menghambat aktivasi dari gen sehingga akan
mengganggu produksi sitokin yang dihasilkan sel limfosit. Sitokin adalah protein yang dibuat
oleh sel-sel yang mempengaruhi sel-sel lain. Dapat dikatakan sitokin merupakan mediator
komunikasi pengatur imunitas. Terganggunya produksi sitokin sel limfosit mengakibatkan
kekacauan sistem imun. Memang mekanisme ini belum jelas benar sehingga masih terjadi
kontroversi mengenai pengaruh hormon glukokortikoid ini. Namun glukokortikoid diketahui
menghambat IL-2, IF-, dan IL-12. (Gunawan, 2007; Wardhana, 2012)

Daftar Pustaka
Perssons J. Stress and pulmonary immune functions in the rat (dissertation). Free University,
Amsterdam. 1995. 6. Baldwin A. Physiological basis of Psychoneuroimmunology [Lecture
XXXX]. 2004

Gunawan, Bambang dan Sumadiono. 2007. Stres dan Sistem Imun Tubuh: Suatu Pendekatan
Psikoneuroimunologi, Jurnal Pendidikan Profesi FK UGM Yogyakarta
Wardhana, Made. 2012. Psikoneuroimunologi di Bidang Dermatologi, Jurnal Bagian Ilmu
Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNUD Denpasar