Anda di halaman 1dari 26

Referat

RUPTUR ACL
(Anterior Ligament Cruciate)

Oleh:
Octavia Ukhti Prakarsi, S.Ked 04084821618192
M. Tata Suharta, S.Ked 04084821618193

Pembimbing:
dr. Ismail Bastomi, SpOT

DEPARTEMEN ILMU BEDAH RSMH/


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG
2016

1
HALAMAN PENGESAHAN

Referat

Judul: Ruptur ACL (Anterior Cruiate Ligament)

Disusun oleh :
Octavia Ukhti Prakarsi 04084821618192
M. Tata Suharta 04084821618193

Telah diterima sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di
Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/RSUP dr.
Mohammad Hoesin Palembang.

Palembang, Januari 2017


Pembimbing

dr. Ismail Bastomi, SpOT

2
KATA PENGANTAR

Pujian syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan referat dengan judul Ruptur
ACL (Anterior Cruciate Ligaement) untuk memenuhi tugas referat yang
merupakan bagian dari sistem pembelajaran kepaniteraan klinik, khususnya
Bagian Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada dr.
Ismail Bastomi, SpOT selaku pembimbing yang telah membantu memberikan
ajaran dan masukan sehingga referat ini dapat terselesaikan.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan telaah
kasus ini disebabkan keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan demi
perbaikan di masa yang akan datang. Mudah-mudahan laporan ini dapat memberi
manfaat bagi kita semua.

Palembang, Januari 2017

Penulis

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................1
HALAMAN PENGESAHAN..........................................................................2
KATA PENGANTAR.......................................................................................3
DAFTAR ISI.....................................................................................................4
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA.......................................................................6
2.1 Definisi............................................................................................6
2.2 Anatomi...........................................................................................6
2.3 Fisiologi............................................................................................13
2.4 Epidemiologi....................................................................................14
2.5 Etiologi............................................................................................14
2.6 Mekanisme Ruptur...........................................................................15
2.7 Klasifikasi........................................................................................16
2.8 Manifestasi Klinis...........................................................................16
2.9 Diagnosis Banding..........................................................................17
2.10 Diagnosis.......................................................................................17
2.11 Penatalaksaan..................................................................................19
2.12 Komplikasi......................................................................................22
BAB III PENUTUP..........................................................................................24
3.1. Kesimpulan.....................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................25

4
BAB I
PENDAHULUAN

Anterior cruciate ligament (ACL) adalah ligamen yang menjaga kestabilan


sendi lutut. Cedera ACL sering terjadi pada olah raga high-impact, seperti sepak
bola, futsal, tenis, badminton, bola basket dan olah raga bela diri.1,2
ACL adalah ligamen yang paling sering mengalami cedera pada lutut.
Penyebab utama terjadinya ACL adalah aktifitas olah raga berat. Olah raga yang
sering menyebabkan cedera adalah olah raga dengan fisis foot terfiksir dan badan
berubah arah dengan cepat, misalnya pada pemain sepak bola atau basket dengan
70% kejadiannya disebabkan oleh mekanisme non-kontak.2
Insidensi cedera ACL berdasarkan AFL injury report tahun 2006 adalah
0.9 cedera baru/tim/musim dan cedera ini menyebabkan para pemain sepak bola
melewatkan 15.3 permainan/tim/musim. Setiap tahun di Amerika Serikat terjadi
250.000 cedera ACL, atau sekitar 1 dari 3000 populasi. Sekitar sepertiga dari
pasien yang mengalami cedera ACL memerlukan pembedahan untuk
mengembalikan fungsi gerak dari ligamen ACL. Tindakan pembedahan dilakukan
dengan mempertimbangkan usia dan level aktivitas pasien.
Diagnosis ruptur ACL dapat ditegakkan dengan anamnesis yang baik
mencakup riwayat kejadian dari trauma, beberapa tes (tes lachman, pivot shift test,
dan drawer test) yang dilakukan pada pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang radiologi.
Ruptur ACL tidak dapat disembuhkan tanpa tindakan operasi. Akan tetapi
pada orang yang lebih tua, tindakan operasi tidak harus dilakukan karena tingkat
aktivitasnya tidak terlalu tinggi. Sedangkan pada pasien yang lebih muda,
terutama dengan profesi atlet, dipertimbangkan tindakan pembedahan untuk
mengembalikan fungsi gerak dari ekstremitas. Tindakan rehabilitasi perlu
dilakukan pasca operasi untuk membantu proses penyembuhan pada pasien.

BAB II

5
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Cedera ACL (anterior cruciate ligament) atau ACL rupture adalah
robekan di salah satu ligamen lutut yang menghubungkan tulang kaki atas dengan
tulang kaki bagian bawah. ACL berfungsi menjaga kestabilan lutut.

2.2 Anatomi
Secara anatomis knee joint dibentuk oleh tibia bagian proximal, femur
bagian distal dan patella. Knee joint terdiri dari tiga bagian persendian; medial dan
lateral antara condyle femur dan tibia serta persendian intermediate antara patela
dan femur. Femur distal terdiri dari medial condyle dan lateral condyle, femoral
trochlear groove dan intercondylar notcth. Ligamen tersebut melewati anterior,
medial dan distal sendi dari femur ke tibia. Ligamen berputar membentuk spiral
yang sedikit mengarah ke luar (lateral), melewati bawah ligamentum transverse
meniscal di ujung tibialisnya. Beberapa fasikula mungkin menyatu dengan
perlekatan anterior dengan meniskus lateral. Ikatan tibialis lebih lebar dan lebih
kuat dari perlekatan femoralis.1

6
2.2.1 Ligamentum Intra Capsular
Ligamentum cruciata adalah dua ligamentum intra capsular yang
sangat kuat, saling menyilang didalam rongga sendi. Ligamentum ini terdiri
dari dua bagian yaitu posterior dan anterior sesuai dengan perlekatannya pada
tibia. Ligamentum ini penting karena merupakan pengikat utama antara femur
dan tibiae. 1

a. Anterior Cruciate Ligament

7
ACL istilah cruciate berasal dari kata crux yang artinya (menyilang)
dan crucial (sangat penting). Cruciate ligament saling bersilangan satu sama
yang lain. Menyerupai huruf X. ACL adalah stabilizer untuk knee joint pada
aktivitas pivot. ACL berkembang pada minggu ke 14 usia gestasi, berukuran
sebesar jari kita dan panjangnya rata-rata 38 mm dan lebar rata-rata 10 mm,
dan dapat menahan tekanan seberat 500 pon sekitar 226 kg.
Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan
berjalan ke arah atas, ke belakang dan lateral untuk melekat pada bagian
posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan
mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan
sempurna. Ini tidak hanya mencegah anterior translasi dari tibia pada femur
tetapi juga memungkinkan untuk helicoid biasa tindakan lutut, sehingga
mencegah kemungkinan terjadinya patologi meniscal. Ligamen ini terdiri
dari dua bundel, sebuah bundel anteromedial yang ketat di fleksi, dan bundel
posterolateral, yang lebih cembung dan ketat dalam ekstensi.
Suplai vaskuler ACL berasal dari arteri geniculate middle, serta dari
difusi melalui sheath sinovial nya. Persarafan dari ACL terdiri dari
mechanoreceptors yang berasal dari saraf tibialis dan memberikan
kontribusi untuk proprioseptifnya, serabut rasa nyeri dalam ACL hampir
tidak ada, ini menjelaskan mengapa ada rasa sakit yang minimal setelah
ruptur ACL akut sebelum terjadinya hemarthrosis yang menyakitkan.

b. Posterior Cruciate Ligament


Ligamentum cruciatum posterior melekat pada area intercondylaris
posterior dan berjalan kearah atas , depan dan medial, untuk dilekatkan pada
bagian anterior permukaan lateral condylus medialis femoris. Serat-serat
anterior akan mengendur bila lutut sedang ekstensi, namun akan menjadi
tegang bila sendi lutut dalam keadaan fleksi. Serat-serat posterior akan
menjadi tegang dalam keadaan ekstensi. Ligamentum cruciatum posterior
berfungsi untuk mencegah femur ke anterior terhadap tibiae. Bila sendi lutut

8
dalam keadaan fleksi , ligamentum cruciatum posterior akan mencegah
tibiae tertarik ke posterior.

2.2.2 Ligamentum Extracapsular:1


a. Ligamentum Patellae
Melekat (diatas) pada tepi bawah patella dan pada bagian bawah
melekat pada tuberositas tibiae. Ligamentum patellae ini sebenarnya
merupakan lanjutan dari bagian pusat tendon bersama m. quadriceps
femoris. Dipisahkan dari membran synovial sendi oleh bantalan lemak intra
patella dan dipisahkan dari tibia oleh sebuah bursa yang kecil. Bursa infra
patellaris superficialis memisahkan ligamentum ini dari kulit.

b. Ligamentum Collaterale Fibulare


Ligamentum ini menyerupai tali dan melekat di bagian atas pada
condylus lateralis dan dibagian bawah melekat pada capitulum fibulae.
Ligamentum ini dipisahkan dari capsul sendi melalui jaringan lemak dan
tendon m. popliteus. Dan juga dipisahkan dari meniscus lateralis melalui
bursa m. poplitei.

c. Ligamentum Collaterale Tibiae


Ligamentum ini berbentuk seperti pita pipih yang melebar dan
melekat dibagian atas pada condylus medialis femoris dan pada bagian
bawah melekat pada margo infraglenoidalis tibiae. Ligamentum ini
menembus dinding capsul sendi dan sebagian melekat pada meniscus
medialis. Di bagian bawah pada margo infraglenoidalis, ligamentum ini
menutupi tendon m. semimembranosus dan a. inferior medialis genu .

d. Ligamentum Popliteum Obliquum


Merupakan ligamentum yang kuat, terletak pada bagian posterior
dari sendi lutut, letaknya membentang secara oblique ke medial dan bawah.
Sebagian dari ligamentum ini berjalan menurun pada dinding capsul dan

9
fascia m. popliteus dan sebagian lagi membelok ke atas menutupi tendon m.
semimembranosus.

e. Ligamentum Transversum Genu


Ligamentum ini terletak membentang paling depan pada dua
meniscus, terdiri dari jaringan connective, kadang- kadang ligamentum ini
tertinggal dalam perkembangannya, sehingga sering tidak dijumpai pada
sebagian orang.

2.2.3 Cartilago Semilunaris (Meniscus)1


Cartilago semilunaris adalah lamella fibrocartilago berbentuk C, yang pada
potongan melintang berbentuk segitiga. Batas perifernya tebal dan cembung,
melekat pada bursa. Batas dalamnya cekung dan membentuk tepian bebas .
Permukaan atasnya cekung dan berhubungan langsung dengan condylus femoris.
Fungsi meniscus ini adalah memperdalam fascies articularis condylus
tibialis untuk menerima condylus femoris yang cekung.

a. Cartilago Semilunaris Medialis

Bentuknya hampir semi sirkular dan bagian belakang jauh lebih lebar
daripada bagian depannya. Cornu anterior melekat pada area intercondylaris
anterior tibiae dan berhubungan dengan cartilago semilunaris lateralis
melalui beberapa serat yang disebut ligamentum transversum. Cornu
posterior melekat pada area intercondylaris posterior tibiae. Batas bagian
perifernya melekat pada simpai dan ligamentum collaterale sendi. Dan
karena perlekatan inilah cartilago semilunaris relatif tetap.

b. Cartilago Semilunaris Lateralis


Bentuknya hampir sirkular dan melebar secara merata. Cornu
anterior melekat pada area intercondylaris anterior, tepat di depan eminentia
intercondylaris. Cornu posterior melekat pada area intercondylaris posterior,
tepat di belakang eminentia intercondylaris. Seberkas jaringan fibrosa

10
biasanya keluar dari cornu posterior dan mengikuti ligamentum cruciatum
posterior ke condylus medialis femoris. Batas perifer cartilago dipisahkan
dari ligamentum collaterale laterale oleh tendon m. popliteus, sebagian kecil
dari tendon melekat pada cartilago ini. Akibat susunan yang demikian ini
cartilago semilunaris lateralis kurang terfiksasi pada tempatnya bila di
bandingkan dengan cartilago semilunaris medialis.

2.2.4 Capsula Articularis1


Capsula articularis terletak pada permukaan posterior dari tendon m.
quadriceps femoris dan didepan menutupi patella menuju permukan anterior dari
femur diatas tubrositas sendi. Kemudian capsula ini berlanjut sebagai loose
membran yang dipisahkan oleh jaringan lemak yang tebal dari ligamentum
patellae dan dari bagian tengah dari retinacula patellae menuju bagian atas tepi
dari dua meniscus dan ke bawah melekat pada ligamentum cruciatum anterior.
Selanjutnya capsula articularis ini menutupi kedua ligamentun cruciatum pada
sendi lutut sebagai suatu lembaran dan melintasi tepi posterior ligamentum
cruciatum posterior. Dari tepi medial dan lateral dari fascies articularis
membentuk dua tonjolan , lipatan synovial, plica alares yang terkumpul pada
bagian bawah. Kesemuanya hal ini membentuk suatu synovial villi.
Plica synovialis patellaris, membentang pada bagian belakang yang
mengarah pada bidang sagital menuju cavum sendi dan melekat pada bagian
paling bawah dari tepi fossa intercondyloidea femoris. Plica ini merupakan lipatan
sagital yang lebar pada synovial membran.
Lipatan ini membagi cavum sendi menjadi dua bagian ,
berhubungan dengan dua pasang condylus femoris dan tibiae. Lipatan capsul
sendi pada bagian samping berjalan dekat pinggir tulang rawan. Sehingga
regio epicondylus tetap bebas. Kapsul sendi kemudian menutupi
permukaan cartilago, dan bagian permukaan anterior dari femur tidak
ditutupi oleh cartilago. Pada tibia capsul sendi ini melekat mengelilingi
margo infraglenoidalis, sedikit bagian bawah dari permukaan cartilago,
selanjutnya berjalan kebawah tepi dari masing-masing meniscus.

11
Bursa Anterior
1. Bursa supra patellaris terletak di bawah m. quadriceps femoris dan
berhubungan erat dengan rongga sendi.
2. Bursa Prepatellaris terletak pada jaringan subcutan diantara kulit
dan bagian depan belahan bawah patella dan bagian atas
ligamentum patellae.
3. Bursa infrapatellaris superficialis terletak pada jaringan subcutan
diantara kulit dan bagian depan belahan bawah ligamentum patellae
4. Bursa Infapatellaris Profunda terletak di antara permukaan posterior
dari ligamentum patellae dan permukaan anterior tibiae. Bursa ini
terpisah dari cavum sendi melalui jaringan lemak dan hubungan
antara keduanya ini jarang terjadi.

Bursa Posterior
1. Recessus Subpopliteus ditemukan berhubungan dengan tendon m.
popliteus dan berhubungan dengan rongga sendi.
2. Bursa M. Semimembranosus ditemukan berhubungan dengan
insertio m. semimembranosus dan sering berhubungan dengan rongga
sendi.
3. Empat bursa lainnya ditemukan berhubungan dengan:
a) tendon insertio m. biceps femoris.

b) tendon m. sartorius , m. gracilis dan m. semitendinosus sewaktu


berjalan ke insertionya pada tibia.

c) di bawah caput lateral origo m. Gastrocnemius.

d) di bawah caput medial origo m. Gastrocnemius.

12
2.2.5 Persarafan Sendi Lutut3
Persarafan pada sendi lutut adalah melalui cabang - cabang dari
nervus yang mensarafi otot-otot di sekitar sendi dan befungsi untuk
mengatur pergerakan pada sendi lutut. Sehingga sendi lutut disarafi oleh :
a. N. Femoralis
b. N. Obturatorius
c. N. Peroneus communis
d. N. Tibialis

2.2.6 Suplai Darah3


Suplai darah pada sendi lutut berasal dari anastomose pembuluh
darah disekitar sendi ini. Dimana sendi lutut menerima darah dari descending
genicular arteri femoralis, cabang-cabang genicular arteri popliteal dan
cabang descending arteri circumflexia femoralis dan cabang ascending arteri
tibialis anterior. Aliran vena pada sendi lutut mengikuti perjalanan arteri
untuk kemudian akan memasuki vena femoralis.

2.2.7 Sistem Limfe3


Sistem limfe pada sendi lutut terutama terdapat pada perbatasan fascia
subcutaneous. Kemudian selanjutnya akan bergabung dengan lymph node sub
inguinal superficialis. Sebagian lagi aliran limfe ini akan memasuki lymph
node popliteal, dimana aliran limfe berjalan sepanjang vena femoralis menuju
deep inguinal lymph node.

2.3 Fisiologi2,3
Dari ligamen lutut, cruciates adalah yang paling penting dalam
menyediakan pengekangan pasif untuk anterior / posterior gerakan lutut. Jika
salah satu atau kedua cruciates terganggu, biomekanik selama kegiatan jalan
mungkin terganggu. Fungsi utama dari ACL adalah untuk mencegah
translasi anterior dari tibia, dalam ekstensi penuh, ACL menyerap 75%
muatan anterior dan 85% antara 30 dan 90 fleksi. Selain itu, fungsi

13
lain ACL termasuk melawan rotasi internal tibia dan varus / valgus angulasi
dari tibia dengan adanya cedera ligamen kolateral, hilangnya ACL
menyebabkan penurunan magnitude pada coupled rotasi selama fleksi,
dan lutut yang tidak stabil. Kekuatan tarik ACL sekitar 2200 N tetapi berubah
dengan usia dan beban berulang.

2.4 Epidemiologi
Prevalensi kejadian cedera ACL yang lebih besar ditemukan pada
wanita dibandingkan dengan laki-laki. Sekitar 50% pasien dengan cedera
ACL juga didapati ruptur pada meniskus. Pada cedera ACL akut, meniscus
lateralis lebih sering robek; pada ACL kronis, meniscus medial lebih sering robek.
Pada penelitian prevalensi mengenai cedera ACL pada populasi umum, didapati
bahwa 1 kasus dijumpai dalam 3500 orang, memperkirakan 95.000 ruptur ACL
per tahun.
Sekitar 200.000 ACL terkait cedera terjadi setiap tahun di Amerika Serikat,
dengan sekitar 95.000 ruptur ACL. Sekitar 100.000 ACL rekonstruksi dilakukan
setiap tahun. Insiden cedera ACL lebih tinggi pada orang yang berpartisipasi
dalam olahraga yang berisiko tinggi seperti basket, bola sepak, ski. Pada
tanggapan frekuensi partisipasi, prevalensi cedera ACL yang lebih
tinggi diamati lebih pada wanita dari laki-laki, pada tingkat 2,4-9,7 kali lebih
besar pada wanita.4

2.5 Etiologi ruptur ACL

Diperkirakan bahwa 70 persen dari cedera ACL terjadi melalui


mekanisme non kontak sementara 30 persen adalah hasil dari kontak langsung
dengan pemain lain atau object. Mekanisme cedera sering dikaitkan dengan
perlambatan diikuti dengan pemotongan, berputar atau side stepping manuver,
pendaratan canggung atau "out of control play".
Beberapa studi telah menunjukkan bahwa atlet wanita memiliki insiden
yang lebih tinggi cedera acl dari atlet laki-laki di olahraga tertentu, telah
diusulkan bahwa ini adalah karena perbedaan kondisi fisik, kekuatan otot, dan

14
kontrol neuromuskular. Penyebab lain dari hipotesis ini adalah perbedaan kelamin
yang berkaitan dengan tingkat cedera acl yang termasuk keselarasan pelvis
dan ekstremitas bawah (kaki), peningkatan kelemahan ligamen, dan efek estrogen
pada sifat ligamen.
Jatuh dari tangga atau hilang satu langkah di tangga adalah
kemungkinan penyebab lainnya. Seperti bagian tubuh lain, ACL menjadi
lemah dengan usia. Jadi robekan terjadi lebih mudah pada orang tua dari usia 40.

2.7 Mekanisme ruptur


Seperti semua ligamen lain, ACL terdiri dari kolagen tipe
I. Ultrastruktur ligamennya sangat mirip dengan tendon, tetapi serat di dalam
ligamen lebih bervariasi dan memiliki kandungan elastin yang lebih
tinggi. Ligamen menerima suplai darah dari lokasi insersinya. Masing-masing
ligamen berisi mechanoreceptors dan ujung saraf bebas yang diduga membantu
dalam menstabilkan sendi. Avulsi ligamen pada umumnya terjadi diantara lapisan
fibrocartilage yang tidak bermineral dan yang bermineral. Rupture ACL yang
paling umum, adalah ruptur midsubstan. Jenis ruptur ini terjadi terutama sewaktu
ligamentum ditranseksi oleh kondilus femoral lateral yang berputar. ACL kaya
akan suplai darah, terutama dari arteri geniculate medial, sewaktu

15
ACL pecah, haemarthrosis biasanya berkembang dengan cepat. Namun,
meskipun lokasinya di intra-artikular, ACL sebenarnya di berada extrasynovial.7
2.6 Klasifikasi

Tingkat keparahan cedera ligamen dinilai sebagai:8


GRADE I - Sebuah hamparan ringan, dengan nyeri ringan dan
bengkak tetapi tidak ada perpanjangan permanen atau kerusakan
pada ligamen.
GRADE II - Ligamentum tertarik keluar (seperti gula-gula) dan
diperpanjang. Ada rasa sakit umumnya lebih dan bengkaka dan
sering memar. Ligament biasanya akan sembuh tanpa operasi.
Ligament akan memiliki beberapa kelemahan (yaitu member atau
membuka) dibandingkan dengan normal tetapi sendi akan sembuh
dan biasanya dapat berfungsi normal dengan sedikit ketidakstabilan.
GRADE III - Liganmentum tertarik jauh sehingga robek menjadi
dua. Sering kali ada rasa sakit yang relative sedikit. Namun, sendi
sangat tidak stabil, dan menahan seringkali sangat sulit bahkan
dengan tongkat sekalipun. Lutut akan terlepas atau buckle. Sering
memar disekitar lutut, operasi seringkali diperlukan untuk perbaikan.

2.7 Manifestasi klinis


Pasien selalu merasa atau mendengar bunyi "pop" di lutut pada
saat cedera. Hal ini sering terjadi saat mengganti arah, pemotongan,
atau pendaratan pada saat melompat (biasanya kombinasi hiperekstensi /poros).
Ketidakstabilan mendadak di lutut. Lutut terasa goyah yang dapat
terjadi setelah lompatan atau perubahan arah atau setelah pukulan langsung ke
sisi lutut. Nyeri di bagian luar dan belakang lutut. 5
Lutut bengkak dalam beberapa jam pertama dari cedera. Ini mungkin
merupakan tanda perdarahan dalam sendi. Pembengkakan yang terjadi tiba-
tiba biasanya merupakan tanda cedera lutut serius. Gerakan lutut
terbatas karena pembengkakan dan / atau rasa sakit.4

16
Kebanyakan cedera pada ACL dapat didiagnosis melalui anamnesis yang
cermat menekankan mekanisme kejadian cedera ditambah dengan
pemeriksaan fisik yang sesuai. Pastikan anamnesis mencakup mekanisme
kejadian cedera sekarang dan kejadian sebelumnya jika ada.4,5

2.8 Diagnosis Banding

a. Dislokasi patellar

b. Ruptur meniscus perifer

c. Fraktur osteochondral.

2.9 Diagnosis
Ketika seorang pasien datang dengan cedera ACL pada awalnya untuk
evaluasi di klinik, yang harus ditanyakan adalah proses kejadiannya. Dua pertiga
dari cedera adalah hasil dari cedera non kontak (deselerasi atau berputar) dan
sering dikaitkan dengan bunyi "pop" dan bengkak, yang biasanya terlihat dalam
waktu cedera 4-12 jam. (Cedera lutut lain yang terkait dengan hemarthrosis yang
meliputi robekan cruciatum posterior, robekan meniskus perifer, fraktur
osteochondral, cedera kapsuler, dan dislokasi patella. 6,7
Cedera kontak langsung sering menimbulkan stres hiperekstensi atau
valgus pada lutut yang mengarah ke cedera cruciatum. Pertanyaan lainnya
termasuk kemampuan untuk menanggung berat badan. Apakah pasien terus
bermain apakah ada gejala ketidakstabilan pada persendian lutut? faktor lain yang
perlu dipertimbangkan termasuk sebelum cedera yaitu tingkat aktivitas, kegiatan
kerja, dan rencana masa depan, karena informasi ini akan membantu dalam
pengambilan keputusan. Pasien harus ditanya jika ada riwayat trauma di tempat
yang sama sebelumya. Dokter harus melakukan rontgen untuk mencari
setiap fraktur yang mungkin terjadi.
Pemeriksaan fisik harus segera dilakukan setelah cedera. Hasilnya
biasanya lebih akurat dibandingkan setelah timbulnya pembengkakan, rasa sakit,

17
dan selanjutnya. Dari observasi, ketidakselarasan dapat dianggap suatu fraktur.
Pembengkakan biasanya muncul dalam 4 jam.7
Tes khusus yang sering dilakukan adalah tes lachman untuk melihat
apakah ACL masih utuh. Pada tes lachman, pasien pada posisi supine, lutut
difleksikan 30 derajat. Femur distabilasikan dengan satu tangan dan satu tangan
mengerakkan tibia ke anterior. Positif jika end point dari translasi anterior tibia
tidak jelas dan infrapatellar slope menghilang, yaitu
jika ACL robek, pemeriksa akan merasakan gerakan ke depan dari tibia
meningkat (ke atas atau anterior) dengan hubungannya dengan tulang paha (jika
dibandingkan dengan kaki normal) dan gerakan lembut pada end point,
(karena ACL robek) saat ini gerakan berakhir.
Tes lain untuk cedera ACL adalah pivot shift test. Pada pivot shift test
pasien pada posisi supine, lutut difleksi 5 derajat dan valgus stres diberikan sambil
memberi gaya internal rotasi pada tibia, lutut kemudian difleksi 30 - 40 derajat,
tes positif jika lutut tereduksi ke posterior. Jika acl robek, tibia akan
mulai maju ketika lutut sepenuhnya lurus dan kemudian akan bergeser kembali ke
posisi yang benar dalam hubungannya dengan tulang paha ketika
lutut dibengkokkan lebih 30 derajat.9,10
Selain itu, ada juga tes drawer, dimana pasien dalam posisi supine, lutut
fleksi 90 derajat, kaki distabilasikan oleh pemeriksa dan tibia ditarik kearah
anterior. Tes positif apabila terdapat translasi lebih dari 6mm atau apabila tibia
didorong ke posterior akan terjadi translasi jauh ke posterior berarti positif.
Arthroscopi juga dapat dilakukan. Selama artroskopi, alat
bedah akan dimasukkan melalui satu atau lebih potongan kecil (sayatan) pada
lutut untuk melihat bagian dalam lutut. Ini adalah prosedur yang digunakan untuk
memeriksa bagian dalam sendi dengan memasukkan tabung tipis (arthroscope)
yang berisi kamera dan cahaya melalui sayatan kecil di
dekat sendi. Kamera mengirimkan gambar close-up video dari sendi ke monitor,
di mana dokter dapat melihat bagian dalam sendi.9,10
Arthroscopi dapat digunakan untuk mendiagnosa penyakit sendi dan
cedera sendi dan untuk mengobati beberapa masalah bersama. Instrumen bedah

18
juga dapat dimasukkan melalui arthroscope untuk mengambil sampel jaringan
atau untuk memperbaiki luka atau kerusakan pada sendi. Secara
umum, pemulihan setelah operasi arthroscopic lebih cepat dan lebih mudah
daripada setelah operasi tradisional yang menggunakan sayatan yang lebih besar.
Kebanyakan orang bisa pulang dari rumah sakit hari yang sama.
Magnetic resonance imaging (MRI) scan juga bisa dilakukan untuk
mengevaluasi ACL dan untuk memeriksa tanda cedera pada ligamen lutut
yang lain, serta meniskus tulang rawan, atau tulang rawan artikular.9,10

2.10 Penatalaksanaan
Tatalaksana ruptur ACL tergantung pada keperluan pasien. Sebagai
contoh, atlet muda yang terlibat dalam aktivitas olahraga perlu dioperasi supaya
fungsi dapat kembali normal. Bagi individu yang lebih tua, dengan aktivitas yang
lebih sederhana biasanya tidak perlu dioperasi.11
Setelah 1-2 hari setelah cedera, pasien dapat berjalan seperti biasa.
Keadaan ini bukan berarti ACL sudah sembuh.Pada perkembangannya pasien
akan merasakan lututnya tidak stabil, gampang 'goyang' dan sering timbul nyeri.
Dengan cedera ACL pasien akan sulit sekali untuk melakukan aktifitas high-
impact sports, seperti main bola, futsal, basket atau badminton. Sebagian besar
cedera ACL memerlukan tindakkan operasi Arthroscopy agar pasien dapat pulih
seperti sedia kala. Standar operasi Arthroscopy ACL Reconstruction yang dipakai
adalah Arthroscopic ACL Double Bundle Reconstruction. Tehnik ini telah
dilakukan lebih dari 200 kali sejak tahun 2007. Tehnik operasi ini sangat populer
di USA, Eropa dan Jepang karena dengan tehnik ini, hasilnya sangat memuaskan
pasien.11
Setelah luka bedah sembuh, selanjutnya dilakukan fisioterapi. Tujuan
awal utamanya adalah untuk mengurangi pembengkakan dan untuk mencegah
pembentukan jaringan parut. Tujuan berikutnya adalah untuk mengembalikan
fungsi gerak, sekaligus memperkuat otot-otot yang mendukung sendi lutut.
Dengan berbagai peningkatan gerak dan kekuatan. Rehabilitasi dilakukan dengan

19
control grekan neuromuskular fungsional yang sesuai dengan kebutuhan sehari-
hari pasien.12,13
Keberhasilan rekonstruksi ACL dipengaruhi oleh beberapa faktor,
termasuk di dalamnya adalah teknik operasi, rehabilitasi pasca bedah dan
ketidakstabilan sekunder pada saat menghubungkan ligamen. Rekonstruksi ACL
biasanya dilakukan dengan bantuan arthroscopic. Graft mungkin diambil dari
bagian lain dari ekstremitas pasien (autograft), dari mayat (allograft) atau
mungkin sintetis.8
Prosedur rekonstruksi ACL biasanya tidak dilakukan saat luka belum pulih
Selama prosedur, pasien dibius dengan anestesi umum atau tulang
belakang/epidural .11 Pada proses penyembuhan, pasien disarankan untuk
beristirahat selama 3 atau 4 hari pertama, usaha ini ditunjukan untuk
meminimalisasi pembengkakan dan mengembalikan kembali fungsi quadriceps.
Dilakukan elevasi lutut serta penekanan pada kaki dan pergelangan kaki utuk
menambah aliran darah balik dari ekstremitas (e.g. pompa pergelangan kaki).
Dibiasakan berjalan dengan menggunakan tongkat. Menggunakan sepatu yang
nyaman.
International Knee Documentation Committee:
Level I : loncatan, berputar, dan lompat tinggi
Level II : kerja berat, olahraga berat
Level III : perkerjaan keras, olahraga ringan
Level IV : aktivitas yang tak banyak bergerak dan tanpa olahraga4
Pengobatan tanpa operasi mungkin dapat dipertimbangkan bagi pasien
yang memiliki aktivitas pada level III & IV. Atlet muda harus dipertimbangkan
untuk operasi untuk mencegah ketidakstabilan yang berulang..

2.10.1 Terapi Operasi


Pembentukan ligament. Kebanyakan ACL yang robek tidak boleh di jahit
dan disambung seperti semula. Reparasi ACL yang diperbolehkan untuk restorasi
stabilitas lutut adalah rekonstruksi ligamen. Ligamen tersebut akan diganti dengan

20
graft jaringan ligament. Graft tersebut akan menjadi dasar untuk ligament yang
baru yang akan tumbuh.
Graft diambil dari beberapa sumber. Biasanya dari tendon patella, yang
merupakan sambungan kneecap dan shinbone. Tendon hamstring pada
posterior juga sering digunakan. Kadang tendon kuadrisep yang insersinya dari
kneecap ke paha dapat digunakan. Graft dari kadever (allograft) juga dapat
digunakan. Setelah terjadi penyembuhan dibutuhkan waktu sekurang-kurangnya 6
bulan sebelum atlet dapat berolahraga.
Tindakan operasi untuk rekonstruktif ACL dapat dilakukan menggunakan
artroscopi dengan insisi yang kecil. Kelebihan dari artroskopi adalah
tindakkannya yang kurang invasif, minimal nyeri, masa rawat inap lebih pendek
dan penyembuhan lebih cepat.
Rekonstruktif ACL adalah terapi tidak selalu harus dilakukan segera. Hal
ini tujuannya adalah untuk memberi waktu pada proses inflamasi yang berjalan,
dan memberi kelonggaran bagi pergerakan sebelum dilakukan operasi.
Rekonstruktif ACL yang terlalu dini dapat meningkatkan resiko artofibrosis atau
pembentukan jaringan parut pada sendi dan bisa meningkatkan resiko kehilangan
fungsi gerak.

2.10.2 Terapi tanpa Operasi


Ruptur ACL tidak akan sembuh sendiri dan harus dioperasi. Namun, terapi
tanpa operasi efektif kepada pasien yang sudah tua dengan aktivitas kehidupan
yang sederhana. Jika stabilitas pada lutut intak, indikasinya adalah tanpa operasi.12
Bracing dapat dapat digunakan untuk memproteksi lutut dari
ketidakstabilan. Selanjutnya bisa diteruskan dengan pemakaian tongkat yang
dapat mengurangi beban pada kaki.13,14
Terapi Fisikal dapat dilakukan jika oedem berkurang, rehabilitasi dapat
dimulai. Olahraga yang spesifik dapat mengembangkan fungsi lutut dan
menguatkan otot kaki.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi nyeri dan
pembengkakan serta untuk mempercepat proses penyembuhan diantaranya adalah:

21
a. Memulai fisioterapi satu atau dua minggu setelah operasi. Proses
rehabilitasi akan disesuaikan dengan kerusakan yang dan dipengaruhi
oleh beberapa faktor, diantaranya adalah usia pasien, besarnya
kerusakan serta tipe operasi, etos kerja selama rehabilitasi, seni terapis
dan perhatian terhadap detail, dan secara keseluruhan kesehatan dan
kondisi pasien.
b. Jogging ringan sekitar empat bulan setelah operasi dengan kekuatan
dan mobilitas yang belum sepenuhnya pulih sampai sekitar enam
sampai sembilan bulan setelah operasi. Kebanyakan dokter
menyarankan pasien tidak kembali ke aktivitas fisik sebelum
setidaknya 90% kekuatan kakinya kembali. 13

2.10.3 Rehabilitasi
Penggunaan olahraga closed-chain ditunjukkan untuk membantu
mengembalikan fungsi pergerakan dan mempertahankan dalam jangka waktu
yang lama. Protokol terapi dibagi empat menurut Shelbourne and Nitz.14
a. Fase I : titik sebelum operasi sampai memenuhi
ROM yang maksimal.
b. Fase II (0-2 minggu) : targetnya adalah mencapai ektensi penuh,
kontrol tendon kuadrisep dan mengurangi bengkak dan target flexi
hingga 90 derajat.
c. Fase III (3-5 minggu) : mempertahankan ektensi penuh dan
meninggkatkan flexi ROM yang maksimal. Menaiki tangga dan
sepeda bisa digunakan.
d. Fase IV (6 minggu) : menambah kekuatan dan kelincahan,
progresif sampai kembali berolahraga.

Kembali berolahrag mungkin dapat dilakukan dalam waktu 6-9 bulan dan
sebaiknya dipantau oleh ahli bedah dan terapis fisik.14

2.11 Komplikasi

22
Komplikasi yang dapat terjadi diantaranya adalah resiko kegagalan graft
karena luka yang kambuh, hematom, serta risiko terjadinya infeksi pada luka.
Operasi dapat menyebabkan terjadinya radang sendi, lemah otot dan penurunan
fungsi gerakan (ROM). Jika nyeri bertambah karena inflamasi, drainase atau
peningkatan pendarahan pada lutut, segera konsul dengan spesialis.7,15

23
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Cedera ACL (anterior cruciate ligament) atau ACL rupture adalah
robekan di salah satu ligamen lutut yang menghubungkan tulang kaki
atas dengan tulang kaki bagian bawah dengan 70% angka kejadiannya
dipengaruhi oleh mekanisme non-kontak.
Ruptur ACL dapat didiagnosis melalui anamnesis, pemeriksaan fisik
(tes lachman, pivot shift test, dan drawer test) serta pemeriksaan dengan
menggunakan arthroscopi, dan penunjang radiologi berupa rongent dan
MRI.
Berdasarkan tingkat keparahannya, rupture ACL dapat diklasifikasikan
menjadi grade I, II, dan III.
Penatalaksaan pada kasus dapat dilakukan dengan tindakan operatif dan
non-operatif yang disesuaikan dengan usia dan derajat aktivitas pasien.
Dengan perawatan yang tepat dan rehabilitasi, prognosis ruptur ACL baik
(ad bonam).

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Jon C. Thompson, Anatomy of Leg/knee, Netters concise orthopaedic


anatomy, 2010; 9: 297-303.

2. Smith BA, Livesay GA, Woo SL. Biology and biomechanics of the
anterior

cruciate ligament. Clin Sports Med 1993; 12:637670.

3. Kennedy JC, Alexander IJ, Hayes KC. Nerve supply of the human knee
and its functional importance. Am J Sports Med 1982; 10:329335.

4. Maguire J., 2012Anterior Cruciate Ligament Pathology. Townsville


Orthopaedics and Sports Surgery, Australia. Medscape. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/307161-overview#showall

5. Healthwise Incorporated. 2011. Anterior Cruciate Ligament (ACL)


Injuries. Webmed. Available from: http://www.webmd.com/a-to-z-
guides/anterior-cruciate-ligament-acl-injuries-topic-overview

6. American Academy of Orthopaedic Surgeons, 2009. ACL Injury: Does It


Require Surgery. Available from: http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm/
topic=A00297

7. Klaud Miller , 2000. Acute Knee And Chronic Ligament Injuries.


Available from: http://www.jockdoc.ws/subs/kneeligament.htm

8. Souryal T.O. ACL Injury, ACL Tear, ACL Surgery. Texas Sports Medicine
And Orthopaedic Group. Available from:
http://www.txsportsmed.com/emedicineacl.php

9. Garrick, J. G. (Ed.). 2004. Orthopaedic Knowledge Update: Sports


Medicine (3rd ed.). Rosemont, IL: American Academy of Orthopaedic

25
Surgeons. Available from: http://www.orthopaedia.com/display/
Main/Anterior+cruciate+ligament+injuries+of+the+knee

10. DeLee, Jesse C., David Drez Jr., and Mark D. Miller, eds. DeLee & Drez's,
2010.orthopaedic sports medicine principles and practice. 3rd ed. Vol. 2.
Philadelphia: Saunders/Elsevier.Available from:
http://www.orthopaedia.com/display/Main/Anterior+cruciate+ligament+inj
uries+of+the+knee

11. Canale,. Beaty. Campbell's Operative Orthopaedics, 11th ed,2007;145-147


12. Finalli. G C.The Multiple Ligament Injured Knee, A Practical Guide To
Management, 2003;2-15
13. Duquin TR, Wind WM, Fineberg MS, Smolinski RJ, Buyea CM. Current
trends in anterior cruciate ligament reconstruction. J Knee Surg. Jan
2009;22(1):7-12
14. Kennedy JC, Alexander IJ, Hayes KC. Nerve supply of the human knee
and its functional importance. Am J Sports Med. Nov-Dec 1982;10(6):329-
35
15. Lyon, Daniel. The Complete Book of Pilates for Men. Harper Collins
(2005)

26

Anda mungkin juga menyukai