Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN

KOASISTENSI PRAKTEK KERJA LAPANGAN


DI DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN
KABUPATEN KLUNGKUNG
29 NOVEMBER 25 DESEMBER 2016

Oleh
Kelompok IX N

1) Sholichah 1209006022
2) Arif Syaifuddin 1209006071

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016

1
2

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
Laporan Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana yang berjudul Koasistensi Praktek Kerja Lapangan di
Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung.
Laporan ini disusun untuk melengkapi salah satu tugas Koasistensi Praktek
Kerja Lapangan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Selain itu,
laporan ini diharapkan juga dapat berfungsi sebagai bahan pengetahuan bagi
Penulis, sehingga mampu menambah wawasan ilmu dan keterampilan dibidang
kesehatan veteriner.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan
kepada Bapak drh. I Gusti Ngurah Badiwangsa selaku Kepala Dinas Peternakan,
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung dan Bapak/ Ibu dokter hewan dan
paramedik veteriner Puskeswan atas segala arahan, bimbingan, kesabaran, pikiran,
waktu, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan yang diajarkan selama proses
kegiatan dan penyusunan laporan ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan laporan
ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik
dari materi maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan
pengalaman penulis. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat
penulis harapkan. Akhir kata dengan segala kerendahan hati semoga laporan ini
bermanfaat untuk semua pihak yang membutuhkan.

Klungkung, 26 Desember 2016

Penulis
3

DAFTAR ISI

Halaman Sampul.......................................................................................................i
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi.................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
1.1 Latar Belakang Kegiatan............................................................................1
1.2 Tujuan Kegiatan..........................................................................................3
1.3 Manfaat Kegiatan........................................................................................4
1.4 Tempat dan Waktu Kegiatan......................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................5
2.1 Letak Geografis Kabupaten Klungkung...................................................5
2.2 Profil Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kab. Klungkung.....6
2.3 Visi dan Misi................................................................................................6
2.4 Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Kebijakan.................................................7
2.5 Tugas Pokok dan Fungsi.............................................................................8
2.6 Struktur Organisasi.....................................................................................9
2.7 Tugas Pokok Bidang Kesehatan Hewan.................................................10
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................14
3.1 Hasil Kegiatan...........................................................................................14
3.2 Pembahasan Kasus dan Kegiatan............................................................19
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN.....................................................................33
4.1 Simpulan........................................................................................................33
4.2 Saran...............................................................................................................34
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................35
LAMPIRAN...........................................................................................................38

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kegiatan


4

Praktek Kerja Lapangan Memiliki dua unsur, yaitu pendidikan dan riset.
Kegiatan pendidikan dicapai dengan cara memperkenalkan mahasiswa dengan
dunia kerja atau perkantoran dengan nyata. Karena pada saat ini persaingan dalam
bidang tenaga kerja setiap orang harus bisa menyesuaikan diri dengan situasi dan
kondisi dimanapun orang bekerja. Dengan demikian mahasiswa dapat mengenal
atau pekerjaan yang dilaksanakannya dalam perkantoran atau badan usaha secara
langsung dari orang yang lebih berpengalaman.
Praktek Kerja Lapangan merupakan kegiatan yang dilakukan mahasiswa/I
dan merupakan bagian dari kurikulum yang diselengarakan oleh Pendidikan
Profesi Dokter Hewan (PPDH) Universitas Udayana. Praktek Kerja Lapangan
sebagai cara untuk melatih mahasiswa/I untuk menghadapi dunia kerja sehingga
menjadi manusia yang handal dan terampil dalam menyelesaikan tugas-tugasnya,
dapat menempatkan diri dalam situasi dan lingkungan kerja yang sebenarnya
sehingga menjadi pribadi yang mendiri dalam menyelesaikan pekerjaan, sebagai
bekal untuk bekerja dan menyesuaikan diri dengan dunia kerja yang akan dihadapi
nantinya, sebagai media evaluasi kemampuan mahasiswa/I sampai sejauh mana
telah menguasai materi yang selama ini telah dipelajri dan melatih mental penulis
untuk siap menghadapi masalah yang akan dihadapi dunia kerja nantinya.
Untuk membantu semua mahasiswa/I dalam menghadapi dunia kerja yang
akan dihadapinya maka PPDH Universitas Udayana memberikan kesempatan
kepada mahasiswa/i untuk belajar kerja secara nyata dengan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) pada instansi pemerintah maupun perusahaan.
Dalam rangka itulah maka lembaga program PPDH Universitas Udayana
mewajibkan untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan, sehingga mahasiswa/i
dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diproleh dibangku perkuliahan kedalam
lingkungan kerja yang sebenarnya.
Selain itu, dunia kesehatan saat ini tengah menghadapi tantangan yang
berat mengingat semakin maraknya penyebaran penyakit-penyakit menular yang
baru muncul (emerging disease) atau muncul kembali (re-emerging disease).
Tercatat bahwa dari 1.415 spesies organisme patogen pada manusia, 868 atau
61,3% diantaranya diklasifikasikan sebagai zoonosis, yaitu jenis penyakit yang
5

dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Sementara sejumlah 175
dari 1.415 atau sekitar 12,4% spesies terkait emerging disease dan 75% dari
sejumlah 175 tersebut merupakan spesies organisme patogen yang bersifat
zoonotic (emerging zoonoses).
Tantangan kesehatan dan penyakit menular merupakan suatu keterkaitan
antara kesehatan manusia (human health), hewan (animal health), dan lingkungan
(ecosystem health). Sehingga diperlukan adanya kerjasama lintas sektoral yang
terpadu antara sektor kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan
lingkungan dalam suatu mekanisme koordinasi dan sinergi yang kuat serta dapat
bergerak dengan cepat dalam mengatasi situasi darurat. Konsep one health banyak
digunakan dalam usaha memecahkan kasus-kasus emerging dan re-emerging
disease yang beberapa tahun terakhir marak terjadi, seperti flu burung, TBC,
rabies, dan penyakit zoonosis lainnya (Ervana, 2014).
Kabupaten Klungkung merupakan salah satu daerah potensial ternak di
Bali. Masyarakat di daerah ini masih mengandalkan pertanian sebagai pendapatan
utama. Banyak petani memanfaatkan ternak sebagai usaha tambahan dalam
pemenuhan kebutuhan hidup karena hasil dari lahan pertanian belum mencukupi.
Sebagai suatu daerah dengan potensi bidang peternakan, maka kondisi hewan
menjadi perhatian prioritas. Kondisi hewan yang sehat dan produktif dapat
diperoleh melalui sistem pemeliharaan intensif. Namun, kondisi hewan yang sakit
dapat menurunkan produktivitas, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi bagi
pemilik.
Pengembangan suatu wilayah potensial ternak dapat dikembangkan
dengan adanya bantuan dari tenaga-tenaga ahli dalam bidang peternakan dan
kesehatan hewan seperti dokter hewan. Campur tangan pemerintah sangat
diperlukan dalam pengembangan wilayah potensial peternakan dalam hal
penyediaan tenaga ahli membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Bidang
pemerintahan yang menangani permasalahan dibidang peternakan di wilayah
Kabupaten Klungkung terhimpun dalam Dinas Peternakan, Perikanan, dan
Kelautan Kabupaten Klungkung.
6

Pembangunan Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) merupakan salah satu


upaya penguatan kelembagaan kesehatan hewan dalam rangka pengendalian dan
pemberantasan penyakit zoonosis dan penyakit hewan lainnya. Kegiatan
pelayanan Puskeswan dilakukan secara aktif, semi-aktif, dan pasif, mengingat
potensi peternakan yang ada di Kabupaten Klungkung sangat bervariasi.
Pelayanan aktif dilaksanakan sesuai dengan program kerja yang telah disusun
setiap tahunnya seperti pemeriksaan cacing, pemberian obat cacing, vitamin,
vaksinasi dan pembinaan kelompok ternak. Pelayanan semi-aktif dilakukan
apabila ada laporan dari peternak kemudian petugas mendatangi lokasi untuk
melakukan penanganan terhadap unggas dan ternak besar. Sementara, pelayanan
pasif dilakukan di Puskeswan terhadap hewan kesayangan.
Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut di atas, maka sangat
perlu dilakukan kegiatan Koasistensi Praktek Kerja Lapangan Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Kegiatan ini diharapkan dapat
memberikan pendidikan bagi dokter hewan muda dengan kompetensi yang
komprehensif, terampil dan profesional dalam mewujudkan ketahanan pangan,
kesehatan nasional dan kesejahteraan manusia melalui kesejahteraan hewan.

1.2 Tujuan Kegiatan


Tujuan pelaksanaan kegiatan koasistensi Paktek Kerja Lapangan
mahasiswa/i Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran
Hewan Universitas Udayana di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Klungkung antara lain:
1) Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang pembangunan peternakan
melalui upaya pencegahan, penanganan dan pengendalian penyakit strategis
dan zoonosis.
2) Meningkatkan kemampuan dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan
ilmu kedokteran hewan yang telah diperoleh dibangku kuliah.
3) Mengetahui cara kerja di lapangan dalam menangani berbagai penyakit
hewan.
7

4) Mengetahui struktur organisasi kepegawaian, tugas pegawai, serta


koordinasi tugas di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Klungkung.

1.3 Manfaat Kegiatan


Manfaat pelaksanaan kegiatan koasistensi Praktek Kerja Lapangan
mahasiswa/i Pendidikan Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten
Klungkung antara lain:
1) Mahasiswa mampu menghubungkan antara pengetahuan akademik dengan
pengetahuan praktek di lapangan.
2) Meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang
komprehensif dalam menghadapi permasalahan peternakan dan
penanggulangan penyakit pada hewan.
3) Meningkatkan kerja sama antara instansi pemerintah dengan instansi
akademis dibidang peternakan dan kesehatan.

1.4 Tempat dan Waktu Kegiatan


Kegiatan koasistensi Praktek Kerja Lapangan mahasiswa/i Pendidikan
Profesi Dokter Hewan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
dilaksanakan di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung
dibidang kesehatan hewan meliputi: Puskeswan Kec. Banjarangkan, Puskeswan
Kec. Klungkung, Puskeswan Kec. Dawan dan Puskeswan Kec. Nusa Penida yang
dilaksanakan mulai tanggal 31 Oktober - 25 November 2016.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Letak Geografis Kabupaten Klungkung


8

Kabupaten Klungkung merupakan Kabupaten yang paling kecil dari 9


(sembilan) Kabupaten dan Kodya di Bali, terletak diantara 115 27 ' - 37 '' 8 49 '
00 ''. Lintang Selatan dengan batas-batas disebelah utara Kabupaten Bangli.
Sebelah Timur Kabupaten Karangasem, sebelah Barat Kabupaten Gianyar, dan
sebelah Selatan Samudra India, dengan luas : 315 Km .
Wilayah Kabupaten Klungkung sepertiganya (112,16 Km) terletak
diantara pulau Bali dan dua pertiganya (202,84 Km) lagi merupakan kepulauan
yaitu Nusa Penida, Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan. Menurut penggunaan
lahan di Kabupaten Klungkung terdiri dari lahan sawah 4.013 hektar, lahan kering
9.631 hektar, hutan negara 202 hektar, perkebunan 10.060 hektar dan lain-lain
7.594 hektar.
Kabupaten Klungkung merupakan dataran pantai sehingga potensi
perikanan laut.Panjang pantainya sekitar 90 Km yang terdapat di Klungkung
daratan 20 Km dan Kepulauan Nusa Penida 70 Km. Permukaan tanah pada
umumnya tidak rata, bergelombang bahkan sebagian besar berupa bukit-bukit
terjal yang kering dan tandus. Hanya sebagian kecil saja merupakan dataran
rendah.Tingkat kemiringan tanah diatas 40 % (terjal) adalah seluas 16,47 Km2
atau 5,32 % dari Kabupaten Klungkung.
Bukit dan gunung tertinggi bernama Gunung Mundi yang terletak di
Kecamatan Nusa Penida. Sumber air adalah mata air dan sungai hanya terdapat di
wilayah daratan Kabupaten Klungkung yang mengalir sepanjang tahun.
Sedangkan di Kecamatan Nusa Penida sama sekali tidak ada sungai. Sumber air di
Kecamatan Nusa Penida adalah mata air da air hujan yang ditampung dalam
cubang oleh penduduk setempat. Kabupaten Klungkung termasuk beriklim
tropis .Bulan-bulan basah dan bulan-bulan kering antara Kecamatan Nusa Penida
dan Kabupaten Klungkung daratan sangat berbeda.

2.2 Profil Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten


Klungkung
Pengembangan dan pembangunan Peternakan, Perikanan dan Kelautan di
Kabupaten Klungkung telah direncanakan dan disusun dalam Renstra SKPD
9

(Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah). Renstra SKPD merupakan


dokumen perencanaan yang memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan,
program dan kegiatan untuk periode lima tahun kedepan, agar sasaran/ tujuan
pembangunan dan pengembangan disektor peternakan, perikanan dan kelautan
dapat tercapai. Pengembangan Peternakan, Perikanan dan Kelautan di Kabupaten
Klungkung diarahkan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat
(peternak, petani dan nelayan), penyerapan tenaga kerja dan pemenuhan konsumsi
dari produk hewani. Peningkatan kebutuhan pangan dan gizi dari segi kualitas
dan kuantitas menuntut upaya pembangunan yang lebih terencana, terarah dan
terpadu agar menghasilkan produk yang memenuhi kebutuhan masyarakat dan
pasar.

2.3 Visi dan Misi


Visi : Terwujudnya masyarakat Peternakan Perikanan dan Kelautan yang
maju, tangguh dan berwawasan agribisnis berbasis sumber daya lokal menuju
Klungkung yang unggul dan sejahtera.
Misi :
1) Meningkatkan produktivitas dan produksi peternakan perikanan dan
kelautan.
2) Mengembangkan komoditas andalan, unggulan dan rintisan di bidang
peternakan perikanan dan kelautan
3) Memanfaatkan dan melestarikan sumber daya alam pendukung peternakan.
4) Meningkatkan pengelolaan sumber daya ikan serta ekosistem perairan,
pesisir, daratan dan pulau-pulau kecil untuk mewujudkankesejahteraan
masyarakat.
5) Meningkatkan jaminan keamanan pangan hewani yang aman, sehat, utuh
dan halal (ASUH).
6) Meningkatkan ketersediaan dan konsumsi pangan asal hewan.
7) Memberdayakan Sumber daya manusia peternakan perikanan dan kelautan
serta mengembangkan teknologi tepat guna.
10

2.4 Tujuan, Sasaran, Strategi, dan Kebijakan


Tujuan :
1) Meningkatkan pendapatan peternak, nelayan, pembudidaya ikan dan rumput
laut, pengolah perikanan dan masyarakat pesisir lainnya untuk kesejahteraan
keluarganya dan masyarakat yang dimaksud.
2) Terwujudnya pemenuhan akan bibit, ternak dan benih ikan
3) Terwujudnya peningkatan jaminan keamanan bagi masyarakat konsumen
terhadap produk hasil hewan yang ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal)
4) Meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan kesempatan berusaha
5) Meningkatnya populasi dan produksi peternakan, perikanan dan kelautan
untuk pemenuhan bibit ternak dan benih ikan untuk di daerah.

Sasaran : Peternak, pembudidaya ikan, nelayan, pengolah ikan dan


masyarakat pesisir lainnya untuk kesejahteraan keluarganya dan masyarakat.
Penjabaran dan Penetapan Visi dan Misi yang lebih realistis akan tampak
pada pada perumusan Tujuan dan Sasaran. Adapun tujuan yang akan dicapai
dalam penyusunan Renja SKPD Dinas Peternakan Perikanan dan
KelautanKabupaten Klungkung adalah Meningkatkan hasil produksi dan
produktivitas peternakan, perikanan dan kelautan, Mengembangkan kualitas dan
kuantitas komoditas unggulan (sapi bali), andalan(rumput laut) dan rintisan (lele
dan karper), memberikan perlindungan terhadap plasma nutfah sapi bali yang
sekaligus sebagai komoditas unggulan kabupaten klungkung serta kelangsungan
usaha peternakan, Menggali potensi sumberdaya ikan, ekosistem perairan, pesisir,
daratan dan pulau-pulau kecil serta mengupayakan pengelolaan dan
pemeliharaannya secara optimal, Melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan
jaminan keamanan/kesehatan ternak sebagai sumber pangan asal hewan,
Meningkatkan produksi hasil peternakan dan konsumsi pangan asal hewanserta
Memberdayakan sumberdaya manusia bidang peternakan, perikanan dan kelautan
dengan meningkatkan kemampuan ilmu dan teknologi baik secara individu
maupun kelompok.
11

Sedangkan sasaran yang akan dicapai oleh Dinas Peternakan Perikanan


dan KelautanKabupaten Klungkung dapat dijabarkan antara lain :
1) Tercapainya peningkatan populasi ternak, daging, rumput laut, ikan air
tawar, hasil penangkapan ikan dan produksi olahan hasil perikanan
2) Tersedianya pakan ternak yang memadaidan terwujudnya kelestarian plasma
nutfah sapi
3) Terwujudnya pengembangan lele dan karper, pengembangan sapi bali dan
pengembangan rumput laut
4) Terpeliharanya potensi sumberdaya ikan, ekosistem perairan, pesisir, daratan
dan pulau-pulau kecil
5) Tersedianya bahan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh dan halal
6) Terwujudnya peningkatan produksi hasil peternakan dan konsumsi pangan
asal hewan
7) Terserapnya tenaga kerja bidang peternakan, perikanan dan kelautandan
tercapainya peningkatan pendapatan petani ternak dan nelayan.

2.5 Tugas Pokok dan Fungsi


Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung
mempunyai tugas pokok yaitu menyelenggarakan sebagian urusan rumah tangga
daerah dibidang peternakan, perikanan dan kelautan serta menjalankan tugas
yang diberikan oleh pemerintah daerah atau pemerintah propinsi Bali di bidang
peternakan, perikanan dan kelautan.
Untuk menyelenggarakan tugas pokok tersebut, maka Dinas Peternakan,
Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung mempunyai fungsi sebagai
berikut:
1 Perencanaan yang merupakan segala usaha dan kegiatan pengumpulan,
pengolahan, penilaian data dan menyusun rencana sesuai dengan
kebijaksanaan Bupati Kepala Daerah untuk melaksanakan tugas pokok.
2 Pelaksanaan yang merupakan segala usaha dan kegiatan melaksanakan
rencana yang ditetapkan meliputi perizinan, penelitian yang meliputi
teknologi serta pengamanan teknis dibidang peternakan, perikanan dan
12

kelautan untuk melaksanakan tugas pokok sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3 Pelaksanaan pembinaan umum dan teknis berdasarkan kebijakan yang
ditetapkan oleh Bupati Kepala Daerah dan/atau Gubernur.
4 Administrasi yang merupakan segala usaha dan kegiatan dibidang
ketatausahaan, kepegawaian, keuangan dan umum.
5 Koordinasi yang merupakan segala usaha untuk mengadakan hubungan dan
kerjasama atas dasar hubungan fungsional dengan instansi atau unit kerja
terkait guna kelancaran pelaksanaan tugas.
Pengawasan yang merupakan segala usaha dan kegiatan untuk
melaksanakan pengamanan dan pengendalian atas pelaksanaan tugas pokok sesuai
dengan perencanaan dan ketentuan perundangundangan yang berlaku.

2.6 Struktur Organisasi


Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung
merupakan bagian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Klungkung yang
bertanggung jawab dibidang peternakan, perikanan dan kelautan ke Bupati
Kabupaten Klungkung. Struktur organisasi Dinas Peternakan, Perikanan dan
Kelautan Kabupaten Klungkung dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah
Daerah Kabupaten Klungkung Nomor 8 Tahun 2008, tentang Organisasi dan Tata
Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Klungkung.
Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung
dipimpin oleh seorang Kepala Dinas sebagai koordinator seluruh kegiatan yang
dibantu oleh Sekretaris yang membawahi Sub Bagian Kepegawaian, Sub Bagian
Penyusunan Program, dan Sub Bagian Keuangan. Selain itu, Kepala Dinas juga
membawahi 5 bidang dan UPT Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
Kecamatan Klungkung.
1 Bidang Peternakan
a) Seksi Perbibitan
b) Seksi Teknologi dan Pakan Ternak
c) Seksi Penyebaran dan Pengembangan Kawasan Ternak
13

2 Bidang Perikanan
a) Seksi Budidaya
b) Seksi Penangkapan
c) Seksi Sarana dan Prasarana
3 Bidang Kelautan dan Pulau-pulau Kecil
a) Seksi Konservasi
b) Seksi Pengawasan dan Pengendalian Sumber Daya Kelautan
c) Seksi Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
4 Bidang Kesehatan Hewan
a) Seksi Pengamatan Penyakit
b) Seksi Pencegahan Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan
c) Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner
5 Bidang Bina Usaha
a) Seksi Pelayanan Usaha
b) Seksi Pengolahan dan Pemasaran Hasil
c) Seksi Pengendalian dan Pencemaran Lingkungan

2.7 Tugas Pokok Bidang Kesehatan Hewan


1 Menyusun rencana kegiatan tahunan di bidang kesehatan hewan
berdasarkan kegiatan tahun sebelumnya dan data yang ada sebagai
bahan untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2 Merumuskan program operasional bidang kesehatan hewan.
3 Merumuskan sasaran kegiatan di bidang kesehatan hewan.
4 Membagi tugas kepada kepala seksi sesuai dengan pedoman kerja agar
tugas-tugas terbagi habis.
5 Memimpin bawahan dalam menyelenggarakan tugasnya agar berjalan
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6 Mengkoordinir bahawan dalam pelaksanaan tugasnya agar terjalin
hubungan kerja yang harmonis.
14

7 Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis kepada para bawahan agar


pelaksanaan tugas sesuai dengan apa yang diharapkan.
8 Menilai hasil kerja bawahan sebagai bahan pengembangan karir.
9 Menginvetarisasi permasalahan bidang kesehatan hewan serta
mengupayakan alternatif pemecahannya.
10 Mengevaluasi kegiatan secara keseluruhan.
11 Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan atasan.
12 Membuat laporan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan informasi
dan pertanggungjawaban.

a) Seksi Pengamatan Penyakit


1 Menyusun rencana tahunan di seksi pengamat penyakit hewan
berdasarkan kegiatan tahun sebelumnya dan data yang ada sebagai
bahan untuk melaksanakan kegiatan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2 Melaksanakan kegiatan pengamat penyakit hewan.
3 Merumuskan sasaran kegiatan di seksi pengamat penyakit hewan.
4 Membagi tugas kepada bawahan sesuai dengan pedoman kerja agar
tugas-tugas terbagi habis.
5 Memimpin bawahan dalam menyelenggarakan tugasnya agar
berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
6 Mengkordinir bawahan dalam pelaksanaan tugasnya agar terjalin
hubungan kerja yang harmonis.
7 Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis kepada pada bawahan
agar pelaksanaan tugas sesuai dengan yang diharapkan.
8 Menilai hasil kerja bawahan sebagai bahan pengembangan karir.
9 Menginventarisasi permasalahan seksi pengamat penyakit hewan
serta mengupayakan alternatif pemecahannya.
10 Mengevaluasi kegiatan keseluruhan.
11 Melaksanakan tuga kedinasan lainnya yang diberikan atasan.
15

12 Membuat laporan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan


informasi dan pertanggungjawaban.

b) Seksi Pencegahan Pemberantasan dan Pengobatan Penyakit Hewan


1 Menyusun rencana kegiatan tahunan di bidang seksi pencegahan,
pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan berdasarkan
kegiatan tahun sebelumnya dan data yang ada sebagai bahan untuk
melaksanakan kegiatan sesuai dengan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
2 Melaksanakan kegiatan pencegahan, pemberantasan dan pengobatan
penyakit hewan.
3 Merumuskan program operasional di bidang seksi pencegahan,
pemberantasan, dan pengobatan penyakit hewan.
4 Merumuskan sasaran kegiatan di bidang kesehatan hewan.
5 Membagi tugas kepada kepala seksi sesuai dengan pedoman kerja
agar tugas-tugas terbagi habis.
6 Memimpin bawahan dalam menyelenggarakan tugasnya agar
berjalan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
7 Mengkoordinir bahawan dalam pelaksanaan tugasnya agar terjalin
hubungan kerja yang harmonis.
8 Memberikan petunjuk dan bimbingan teknis kepada para bawahan
agar pelaksanaan tugas sesuai dengan apa yang diharapkan.
9 Menilai hasil kerja bawahan sebagai bahan pengembangan karir.
10 Menginvetarisasi permasalahan seksi pencegahan, pemberantasan
dan pengobatan penyakit hewan serta mengupayakan alternatif
pemecahannya.
11 Mengevaluasi kegiatan secara keseluruhan.
12 Melaksanakan tugas kedinasan lainnya yang diberikan atasan.
13 Membuat laporan hasil kegiatan kepada atasan sebagai bahan
informasi dan pertanggungjawaban.
16

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil Kegiatan


Kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Udayana dilaksanakan di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Klungkung pada Bidang Kesehatan Hewan. Kegiatan Praktek Kerja
Lapangan (PKL) ini dilaksanakan selama 4 minggu dimulai dari tanggal 21
November sampai 25 Desember 2016. Selama kegiatan kami diberikan
kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai pelayanan kesehatan hewan di
Kecamatan Banjarangkan, Kecamatan Klungkung, Kecamatan Dawan, dan
Kecamatan Nusa Penida. Kegiatan penanganan kasus kesehatan hewan dilakukan
dibawah bimbingan dokter hewan dan paramedik veteriner di masing-masing
Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) yang ada di Kabupaten Klungkung.
Program yang dilaksanakan oleh Dinas Peternakan, Perikanan, dan
Kelautan Kabupaten Klungkung yakni program sosialisasi, vaksinasi dan
eliminasi hewan penular rabies (HPR). Dokter hewan dan paramedik veteriner
setiap Puskeswan rutin melakukan pemantauan (surveilans) dan pencatatan
(recording) terhadap berbagai kasus penyakit. Kasus yang sering ditemukan di
peternakan sapi antara lain Toxocariosis dan Schistosomiosis, selain itu pada sapi
sering terjadi kasus Bovine Ephemeral Fever (BEF). Pada hewan kesayangan
anjing sering ditemukan kasus parasit (kutu, gatal-gatal, infeksi luar).
Selama pelaksanaan PKL, kelompok terdiri dari 2 mahasiswa bertugas
untuk membantu kegiatan harian di tiga puskeswan yang ada di Klungkung untuk
tiga minggu pertama. Sedangkan pada minggu keempat semua mahasiswa PKL
ditugaskan ke UPT. DPPK Kecamatan Nusa Penida. Mahasiswa diajak untuk
membantu dan turut menangani kasus penyakit baik di Puskeswan maupun di
lapangan sesuai panggilan peternak. Mahasiswa juga diajarkan untuk memahami
proses administratif kedinassan baik pendataan dan evaluasi kasus penyakit sesuai
ilmu epidemiologi maupun prosedur pengambilan dan penanganan sampel hewan
17

terduga rabies yang akan dilakukan pemeriksaan lanjutan di Balai Besar Veteriner
(BBVet) Denpasar.

3.1.1 Profil dan Kegiatan di Puskeswan Kec. Banjarangkan


Jumlah petugas di Puskeswan Banjarangkan adalah 3 orang yang
terdiri dari dua dokter hewan dan satu orang paramedis. Wilayah kerja dari
Puskeswan Banjarangkan meliputi:
1. Desa Tohpati
2. Desa Bumbungan
3. Desa Nyalian
4. Desa Bakas
5. Desa Tusan
6. Desa Banjarangkan
7. Desa Negari
8. Desa Takmung
9. Desa Tihingan
10. Desa Getakan
11. Desa Aan
12. Desa Timuhun
13. Desa Nyanglan

Beberapa kegiatan yang secara umum dilakukan di Puskeswan


Banjarankan.
No Kegiatan Lokasi
1 Pengenalan obat-obatan Puskeswan
2 Vaksinasi rabies pada anjing Puskeswan
3 Eliminasi anjing suspect rabies Desa Banjarangkan
4 Penanganan kasus parasite pada anjing Puskeswan
5 Penanganan kasus birahi pada anjing Puskeswan
6 Peanganan kasus suspect BEF Desa Bakas
18

3.1.2 Profil dan Kegiatan di Puskeswan Minggir Kec. Klungkung


Puskeswan Klungkung memiliki 4 orang petugas terdiri atas 2 orang
dokter hewan dan 2 orang staf. Petugas juga bertanggungjawab atas
pelaksanaan pemotongan ternak di rumah potong hewan. Wilayah kerjanya
meliputi:
1. Desa Jumpai
2. Desa Tangkas
3. Desa Gelgel
4. Desa Kampung Gelgel
5. Desa Kamasan
6. Desa Tojan
7. Desa Satra
8. Desa Semarapura Kelod
9. Desa Semarapura Kelod Kangin
10. Desa Semarapura Kangin
11. Desa Semarapura Tengah
12. Desa Semarapura Kauh
13. Desa Semarapura Kaja
14. Desa Manduang
15. Desa Akah
16. Desa Selisihan
17. Desa Tegak
18. Desa Selat

Beberapa kegiatan yang secara umum dilakukan di Puskeswan


Minggir.
N
Kegiatan Lokasi
o
1 Pengenalan obat-obatan yang digunakan Puskeswan
2 Menanggapi pelaporan kasus gigitan Puskeswan
anjing rabies dari dinas kesehatan
19

setempat
Eliminasi dan pengambilan sampel otak
3 Desa Satra
pada anjing terduga rabies
4 Vaksinasi rabies pada anjing Puskeswan
5 Penanganan kasus luka pada anjing Puskeswan
6 Terapi kasus ektoparasit pada anjing Puskeswan
7 Pengambilan sampel feses sapi Desa Tangkas
8 Pemeriksaan sampel feses sapi Puskeswan
Spraying ungags pengendalian agen Pasar ungags
9
infeksi Klungkung
10 Menanggapi keluhan peternak sapi Desa Jumpai
11 Penanganan miasis pada anjing Puskeswan

3.1.3 Profil dan Kegiatan di Puskeswan Kec. Dawan


Puskeswan Dawan memiliki 3 orang petugas, yang terdiri atas 2
orang dokter hewan dan 1 orang staf . Wilayah kerjanya meliputi :

1. Desa Paksa Bali

2. Desa Sampalan Tengah

3. Desa Sampalan Kelod

4. Desa Gunaksa

5. Desa Dawan Kelod

6. Desa Dawan Kaja

7. Desa Besan

8. Desa Pikat

9. Desa Pesinggahan

10. Desa Kusamba

11. Desa Sulang


20

12. Desa Kampung Kusamba


Beberapa kegiatan yang secara umum dilakukan di Puskeswan
Dawan.
No Kegiatan Lokasi
1 Pengenalan obat-obatan yang digunakan Puskeswan
Pemeriksaan stok barang dan kadaluarsa
2 Puskeswan
obat
3 Sosialisasi kepada peternak Desa Pesinggahan
4 Eliminasi anjing suspect rabies Desa Gunaksa
Pengambilan sampel otak pada anjing
5 Desa Gunaksa
terduga rabies
6 Kastrasi pada babi Desa Pikat

3.1.4 Profil dan Kegiatan di Puskeswan Kec. Nusa Penida


Puskeswan Nusa Penida memiliki 4 orang petugas terdiri atas 2
orang dokter hewan dan 2 orang staf. Wilayah kerjanya meliputi:
1. Desa Sekar Taji
2. Desa Batu Kandik
3. Desa Tanglad
4. Desa Pejukutan
5. Desa Suana
6. Desa Batu Nunggul
7. Desa Kutampi Atas
8. Desa Kutampi Kaler
9. Desa Ped
10. Desa Toya Pakeh
11. Desa Sakti
12. Desa Klumpu
13. Desa Batu Madeg
14. Desa Bunga Mekar
15. Desa Jungut Batu
21

Beberapa kegiatan yang dilakukan di Puskeswan Kecamatan Nusa


Penida:
No Kegiatan Lokasi
1 Pengenalan obat-obatan yang digunakan Puskewan
Desa Ped dan Bunga
2 Peanganan kasus suspect BEF
Mekar
3 Pembagian kartu asuransi nelayan Puskeswan
4 Penanganan kasus suspect artritis pada sapi Desa Kutampi
5 Eliminasi anjing liar Puskeswan

3.2 Pembahasan Kasus dan Kegiatan

3.2.1 Pengenalan Obat-obatan yang Digunakan di Puskeswan


Dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional, pembangunan
di bidang peternakan mempunyai peranan yang cukup penting sebagai salah
satu usaha menyediakan sumber protein hewani di bidang pangan. Untuk
dapat menyediakan sumber protein hewani yang baik dari segi jumlah
maupun mutu diperlukan usaha peningkatan produksi peternakan. Usaha
peningkatan produksi peternakan tidak dapat dipisahkan dari usaha
peningkatan kesehatan hewan. Disamping ketergantungan pada
faktor-faktor lain, penyediaan obat hewan yang memadai baik ditinjau dari
segi jumlah dan mutu merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan
di bidang kesehatan hewan.
Obat hewan adalah sediaan yang dapat digunakan untuk mengobati
hewan, membebaskan gejala, atau memodifikasi proses kimia dalam tubuh
yang meliputi sediaan biologik, farmakoseutika, premix, dan sediaan alami.
Dalam pembuatanya proses kegiatan pengolahandilakukan dengan
pencampuran dan pengubahan bentuk bahan baku obat hewan menjadi obat
hewan. Obat hewan yang telah jadi kemudian di distribusikan
22

kemasyarakatan melalui pelaku kesehatan hewan seperti materi hewan


doktor hewan dan inseminator.proses kegiatan pengadaan obat-obatan badan
usaha milik Negara atau milik daerah, swasta atau koperasi. Semua ini
dilakukan untuk mengoptimalkan kemampuan hewan untuk berproduksi dan
berkembang biak.
Klasifikasi obat hewan cukup banyak, dalam perundang-undangan
obat hewan di digolongkan dalam sediaan biologik, farmasetik dan premix
dan alami.

1) Sediaan biologik terdiri antara lain vaksin, serta (anti sera) dan bahan
diagnostika biologik.

2) Sediaan farmasetik meliputi vitamin, hormon, antibiotika dan


kemoterapetika lainnya, obat antihistaminika, antipiretika, anestetika
yang dipakai berdasarkan daya kerja farmakologi.

3) Sediaan premiks meliputi imbuhan makanan hewan dan pelengkap


makanan hewan yang dicampurkan pada makanan hewan atau minuman
hewan. Yang dimaksud pelengkap makanan hewan (feed supplement)
adalah suatu zat yang secara alami sudah terkandung dalam makanan
hewan tetapi jumlahnya perlu ditingkatkan melalui pemberian bersama
makanan hewan, misalnya vitamin, mineral dan asam amino. Yang
dimaksud imbuhan makanan hewan (feed additive) adalah suatu zat
yang secara alami tidak terdapat pada makanan hewan dan tujuan
pemakaiannya terutama sebagai pemacu pertumbuhan. Suatu zat baru
dapat dipergunakan sebagai feed additive setelah melalui pengkajian
ilmiah, misalnya antibiotika tertentu, antara lain basitrasina,
virginiamisina dan flavomisina.

4) Sediaan alami adalah golongan obat alami meliputi obat asli Indonesia
(dalam negeri) maupun obat asli dari negara lain untuk hewan yang
tidak mengandung zat kimia sintesis dan belum ada data klinis serta
23

tidak termasuk narkotika atau obat keras dan khasiat serta kegunaannya
diketahui secara empiris (hasil pengalaman atau percobaan sendiri).

3.2.2 Pengambilan dan pemeriksaan Feses Sapi


Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam
membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga
memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak
yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada
persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup
maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan yang akan di periksa tergantung
dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang
akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan
dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis.
Pemeriksaan feses (tinja) adalah salah satu pemeriksaan
laboratorium yang telah lama dikenal untuk membantu klinisi menegakkan
diagnosis suatu penyakit. Meskipun saat ini telah berkembang berbagai
pemeriksaan laboratorium yang modern , dalam beberapa kasus
pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat digantikan oleh
pemeriksaan lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang
memerlukan pemeriksaan feses, cara pengumpulan sampel yang benar serta
pemeriksan dan interpretasi yang benar akan menentukan ketepatan
diagnosis yang dilakukan oleh klinisi. Berdasarkan gejala klinis dan dari
pemerikcsaan umum dan khusus. Dilakukan juga pemeriksaan feses dan
pemeriksaan darah untuk mendukung hasil diagnosis. Pemeriksaan feses
dapat dilakukan dengan metode natif, metode sentrifuse, metode Parfitt and
Banks, atau metode McMaster
Dari hasil pemeriksaan dari 12 ekor sapi, ada 5 sapi positif
toxsocara sp, dan 3 ekor sapi positif schystosoma sp.
24

3.2.3 Kasus Birahi Pada Anjing


Populasi anjing yang tidak terkontrol menjadi suatu masalah yang
harus dipecahakan. Isu kesejahteraan hewan pun menjadi layak diangkat
untuk mecapai prinsip kesejahteraan hewan. Penyakit dari anjing yang
bersifat zoonosis juga menjadi perhatian khusus untuk keselamatan
manusia. Karena hal tersebut kontrol populasi menjadi penting untuk
dilakukan. Beberapa metode untuk mencegah kebuntingan pada anjing telah
banyak berkembang, diantaranya dengan Immunokontrasepsi dengan
protein zona pellucida pada hewan betina, operasi untuk dilakukan
sterilisasi pada hewan jantan maupun betina, vaksin antifertilitas dengan
imun aktif terhadap luteinizing hormone-releasing hormone (LHRH) pada
hewan jantan, penggunaan kontrasepsi kimia, dan penggunaan preparat
hormonal. Semua metode tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan yang
beragam. Pilihan metode terbaik tentu sangat bergantung dengan kebutuhan.
Namun tentunya metode yang terbaik ialah yang memiliki efek samping
paling sedikit, murah, mudah, dan lebih efektif.
Pada kasus ini yang digunakan adalah dengan pemberin preparat
hormonal, yaitu prolaktin. Pemeberian ijeksi prolaktin merupakan salah satu
metode yang dapat digunakan sebagai alat kontrasepsi pada anjing. Pada
sebuah penelitian pada anjing jantan, injeksi prolaktin diberikan dengan
dosis 600g/kg tiap minggu selama 6 bulan. 3 bulan setelah pemberian
prolaktin hasilnya menunjukan jumlah sperma menurun (azoosperma),
penurunan motilitas spermatozoa, dan peningkatan sperma yang abnormal.
Biopsy testis menunjukan adanya degenerasi pada tubulus seminiferus.
Anjing-anjing yang telah diberikan injeksi prolaktin tersebut dikawinkan
dengan anjing betina, namun tidak ada satupun anjing betina yang bunting.
Tiga bulan setelah penghentian injeksi prolaktin, jumlah sperma terlihat
normal dan anjing mampu mengawini anjing betina hingga bunting.
Keturunan dari anjing-anjing tersebut tidak ada kelainan. Sehingga prolaktin
merupakan kontrasepsi yang bersifat reversible pada anjing jantan (Shafik,
1994).
25

3.2.4 Spraying Unggas


Salah satu cara mengaplikasikan desinfektansia adalah dengan cara
spraying. Desinfeksi adalah suatu kegiatan untuk mematikan atau
menghentikan pertumbuhan hama penyakit pathogen yang terdapat pada
bermacam-macam permukaan (Benda hidup dan benda mati) dengan
mengunakan desinfektansia.
Desinfektansia adalah zat-zat kimiawi yang digunakan untuk
mendesinfeksi. Desinfektansia untuk desinfeksi pada benda-benda mati
seperti alat pemeriksaan, alat injeksi, alat bedah, alat transportasi, lantai, air
minum adalah dengan mengunakan zat kimiawi yang bersifat germicides
(germ = hama pathogen) yang meliputi zat-zat yang bersifat bakterisida,
fungisida, sporosida, dan amubasid. Contohnya adalah klor, karbol, lisol dan
formalin.

3.2.5 Kasus Suspect Artritis Pada Sapi


Artritis Reumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi
sistemik kronik yang manifestasi utamanya adalah poliartritis yang progesif.
Penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Terlibatnya sendi pada
pasien AR terjadi setelah penyakit ini berkembang lebih lanjut sesuai
dengan sifat progesifitasnya. Pada umumnya selain gejala artikular, AR
dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum,
cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya. Artritis Reumatoid
adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya
dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang
mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut. AR
juga diartikan sebagai gangguan autoimun kronik yang menyebabkan
proses inflamasi pada sendi.
26

Obat yang dapat di aplikasikan pada penyakit ini adalah obat-obatan


yang membantu mengurangi gejala arthritis, seperti nyeri sendi, kekakuan,
dan pembengkakan, antara lain:
Obat anti-inflamasi penghilang rasa sakit, seperti aspirin, ibuprofen, atau
naproxen
Penghilang rasa sakit topikal (dioleskan langsung ke kulit)
Kortikosteroid, seperti prednison
Obat penghilang rasa sakit golongan narkotika

3.2.6 Pemberian Kartu Asuransi untuk Nelayanan


Aktivitas menangkap ikan merupakan keseharian yang beresiko
tinggi bagi nelayan, dan tidak menutup kemungkinan terjadinya
kecelakaan. Untuk meningkatkan pemberdayaan nelayan dengan skala kecil
serta peningkatan perlindungan terhadap nelayan, Kementerian Kelautan
dan Perikanan RI melalui Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kota
Denpasar memberikan program Bantuan Premi Asuransi bagi Nelayan
(BPAN).
Adapun kreteria nelayan penerima BPAN meliputi, memiliki kartu
nelayan, berusia maksimal 65 tahun, tidak pernah mendapatkan bantuan
program asuransi dari pemerintah atau pernah mendapatkan program
asuransi dari pemerintah namun polis asuransinya sudah berakhir masa
berlakunya atau jenis resiko yang dijamin berbeda. Kemudian tidak
menggunakan alat penangkapan ikan yang dilarang berdasarkan peraturan
perundang-undangan, menggunakan kapal berukuran paling besar 10 GT.
Selain itu resiko yang dijamin adalah kematian, cacat tetap, cacat
sebagian, biaya perawatan atau pengobatan dan biaya lainnya yang secara
langsung disebabkan oleh kejadian kecelakaan.
Nilai pertanggungan ada dua, pertama santunan kecelakaan akibat
melakukan aktivitas penangkapan ikan, meliputi kematian Rp 200 juta,
27

cacat tetap Rp 100 juta (max) dan biaya pengobatan Rp 20 juta (max).
Kedua, santunan kecelakaan akibat selain melakukan aktivitas penangkapan
ikan, meliputi kematian (termasuk kematian akibat selain
kecelakaan/kematian alami) Rp 160 juta, cacat tetap Rp 100 juta (max), dan
biaya pengobatan Rp 20 juta (max).

3.2.7 Miasis Pada Anjing


Miasis merupakan infeksi pada daerah luka yang terbuka karena
disebabkan infestasi larva lalat (belatung) yang hidup dan berkembang di
daerah luka. Jika tidak segera diobati, belatung lalat akan merusak jaringan
(luka menjadi lebih parah) dan bisa mengakibatkan kematian.
Gejala klinis miasis meliputi luka terbuka dan membengkak serta
dihinggapi lalat, jika luka ditekan banyak didapati belatung yang hidup di
daerah luka, kenaikan suhu tubuh, dan nafsu makan menurun.
Pencegahan terhadap miasis Antara lain, luka yang terbuka sesegera
mungkin dibersihkan dan ditutup dengan perban, hindarkan anjing dari
kandang dan lingkungan yang kotor.
Pengobatan dan terapi yang dapat dilakukan meliputi :

1 Bersihkan daerah luka dengan antiseptic (alcohol, iodium)

2 Semprot daerah luka dengan menggunakan antiektoparasit (gusanex,


butox)

3 Untuk mempercepat proses pengeluaran belatung digunakan alat bantu


berupa pinset untuk mengambil belatung

4 Suntik atau taburi luka dengan antibiotic untuk mempercepat


penyembuhan
28

3.2.8 Sosialisasi, Vaksinasi dan Eliminasi HPR


Rabies merupakan penyakit virus yang disebabkan oleh genus
Lyssavirus dari famili Rhabdoviridae bersifat akut, sangat berbahaya dan
mengakibatkan kematian (Andriani et al., 2016). Di Indonesia rabies telah
menjangkiti 26 propinsi dari seluruh propinsi yang ada. Rabies dilaporkan
muncul pertama kali di Bali pada akhir 2008 (Supartika et al., 2009). Sejak
korban manusia pertama jatuh di Desa Ungasan, Kuta Selatan, Badung,
korban lainnya terus berjatuhan dan tersebar ke seluruh Bali. Rabies di Bali
tidak saja mematikan ribuan anjing, tapi merenggut begitu banyak korban
manusia. Korban kebanyakan berumur antara 41-50 tahun (Iffandi et al.,
2013). Korban pun terus berjatuhan walau intensitasnya menurun dan pada
Juli 2015 tercatat korban ke-160 tewas dengan diagnosis rabies, berasal dari
Desa Landih, Bangli, Bali (Ays, 2015).
Problem penyakit zoonosis yang sedang marak terjadi di Provinsi
Bali adalah Rabies. Rabies masih ditetapkan sebagai penyakit bersifat
endemis di provinsi ini. Bali merupakan propinsi terbaru yang tertular rabies
di Indonesia dan Bali dinyatakan tertular secara resmi berdasarkan
Keputusan Menteri Pertanian No:1637.1/2008 tertanggal 1 Desember 2008.
Secara laboratorium rabies pada anjing di Bali didiagnosis pertama kali
pada tanggal 27 Nopember 2008 yaitu pada satu ekor anjing asal Kelurahan
Kedonganan. Kurang dari delapan tahun kasus ini merebak dan sampai saat
ini masih menjadi ancaman terbesar bagi masyarat dilihat dari tinggkat
penyebab motalitasnya yang tinggi. Tidak terkecuali Kabupaten Klungkung
yang dalam laporannya juga pernah terjadi kasus rabies dan menyebabkan
kematian pada masyarakatnya.
Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Klungkung
masing mengutamakan tindakan pencegahan dan pengobatan terhadap
penyakit ini. Dokter hewan dan paramedik yang ditempatkan di masing-
masing Puskeswan kecamatan dibantu oleh mahasiswa PKL FKH- UNUD
secara terprogram juga mengadakan kegiatan ke lapangan maupun
menerima pasien vaksinasi yang datang langsung ke Klinik Puskeswan
29

setempat. Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan juga bekerja sama


dengan Dinas Kesehatan, dalam tugasnya kedua instansi ini saling
berkoordinasi apabila terjadi kasus gigitan HPR di lapangan.
Vaksinasi masal sebagai metode untuk mengendalikan rabies telah
dikenal sejak tahun 1920-an (Knobel et al., 2007). Lembo et al., (2010) dan
Wunner dan Briggs (2010) menyatakan bahwa vaksinasi rabies merupakan
pendekatan yang paling efektif dalam pengendalian rabies baik pada hewan
maupun manusia. Hasil penelitian Dibia et al., (2015) menunjukkan bahwa
status vaksinasi berasosiasi sangat kuat dengan kejadian rabies pada anjing
di Bali. Anjing yang tidak divaksin di Bali berisiko terinfeksi rabies 19,13
kali lebih besar dibandingkan dengan anjing yang divaksinasi rabies. Hasil
penelitian ini sejalan dengan kajian yang dilakukan di Kabupaten Agam,
Provinsi Sumatra Barat, oleh Kamil et al., (2004) yang melaporkan bahwa
risiko infeksi rabies meningkat 121 kali pada anjing yang tidak divaksinasi.
Kajian tersebut memberikan gambaran bahwa anjing-anjing yang tidak
divaksin merupakan anjing-anjing yang sangat rentan terhadap infeksi
rabies, karena tidak memiliki antibodi terhadap tantangan virus rabies
lapangan.
Kegiatan eliminasi hanya dilakukan apabila menemukan anjing liar
yang tidak berpemilik dan apabila adanya laporan kasus positif rabies
berdasarkan kirimin sampel otak ke Balai Basar Veteriner Denpasar. Daerah
terduga positif rabies secara langsung akan dilakukan vaksinasi dan
eliminasi gratis oleh petugas setempat. Ini merupakan upaya yang dirasa
penting dalam menekan kasus gigitan Hewan Penular rabies (HPR).

3.2.9 Kastrasi Pada Babi


Kastrasi atau yang lebih populer dan dikenal dengan istilah
pengebirian adalah salah satu aspek penting dalam tatalaksana
pemeliharaan dan perawatan ternak potong. Kastrasi adalah usaha untuk
menghilangkan fungsi reproduksi ternak jantan sebagai pejantan atau
30

pemacak, dengan cara menghambat proses pembentukan dan pengeluaran


sperma. Kastrasi dapat dilakukan dengan jalan mengikat, mengoperasi
maupun memasukan cairan tertentu kedalam organ tubuh tertentu.
Ternak yang akan dikastrasi adalah ternak yang tidak akan dijadikan
bibit, oleh karena itu waktu terbaik melakukan kastrasi yaitu setelah
program seleksi selesai dilaksanakan sehingga ternak yang tidak mencapai
standar seleksi dikastrasi untuk menghasilkan daging. Umumnya umur
ternak yang akan dikastrasi haruslah yang berumur muda karena
mengkastrasi ternak tua membawa resiko yang lebih berat dan akan
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan ternak selanjutnya yang
dipersiapkan sebagai ternak potong. Pada babi perlakuan kastrasi dapat
berpengaruh terhadap pertumbuhan, koefesien konversi makanan, kualitas
karkas, juga pada kecepatan metabolisme dan pertumbuhan tulang.
Tujuan dilakukannya kastrasi adalah :
1. Agar kualitas daging lebih baik. Mengurangi tingkat agresifitas ternak.
2. Mencegah terjadinya perkawinan ternak yang tidak diinginkan atau
ternak yang tidak lolos seleksi sesuai standar produksi yang
ditargetkan.
3. Untuk penggemukan ternak jantan.
4. Memenuhi permintaan pemilik untuk tujuan tertentu.
Manfaat Kastrasi adalah
1. Mengurangi biaya produksi atau pemborosan biaya yang tidak
diinginkan.
2. Mendapatkan ternak yang bertempramen lebih jinak sehingga
memudahkan dalam menghandel ternak tersebut.
3. Ternak yang jinak lebih cenderung sedikit aktivitas geraknya sehingga
energinya bisa dihemat untuk pembentukan daging.
Berdasarkan cara melakukan kastrasi dikenal dua bentuk, yaitu
kastrasi tertutup dan kastrasi terbuka, pada babi dilakukan kastrasi terbuka
kelaminnya menempel atau dekat dengan tubuhnya. Sedangkan kastrasi
tertutup biasanya dilakukan terhadap ternak yang memilki alat kelamin
31

menggantung dan menjauh dari tubuh misalnya seperti pada ternak kambing
dan sapi.

3.2.10 Pengambilan Sampel Otak Anjing


Pengambilan Sampel anjing rabies dilakukan dengan cara
mengambil sampel otaknya (hipocampus, cortex cerebri dan cerebellum)
dan dimasukkan ke tabung khusus. Sampel otak tersebut lalu dibawa untuk
diperiksa di laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar.
Diagnosis rabies yang dilakukan biasanya dengan cara melihat temuan
secara mikroskopic benda inklusi Negri Bodies. Pemeriksaan akurat
lainya dengan cara teknik PCR.

3.2.11 Ektoparasit pada Anjing


Ektoparasit yang menyerang anjing pada umumnya disebabkan jenis
Tungau yang dimana dapat menyebabkan penyakit Demodex spp. dan
Scabies spp. Kedua jenis ini sering ditemukan menyerang hewan
kesayangan dan bahkan bisa menular atau zoonosis kepada manusia. Gejala
klinis yang tampak adalah ternak mengalami kegatalan, lecet, luka dan
kurus, umumnya kerusakan kulit pada moncong, telinga, dada bagian
bawah, abdomen, pangkal ekor, leher, sepanjang punggung dan kaki.
Terlihat kulit berkerak-kerak, menebal dan melipat-lipat. Pada tempat-
tempat tersebut bulu sudah lepas sehingga kulit kelihatan gundul.
Peradangan dan gigitan akarid tersebut akan menimbulkan kerusakan pada
kulit, kehilangan berat badan, dermatitis dan diakhiri dengan kematian.
Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan memperhatikan
perkandangan yang baik misalnya ventilasi kandang, lantai kandang, juga
kontak dengan ternak yang sakit. Pengobatan dapat dilakukan dengan dua
metode yakni pengobatan dengan obat dalam dengan injeksi obat ivomec
dengan kandungan Ivermectin sesuai dosis yang telah ditentukan oleh
dokter hewan, selain itu metode kedua berupa pengobatan dengan obat luar
32

dengan tiga cara yaitu Dipping (dimandikan dengan Amitras), Brushing


(Pengerokan pada area luka), dan Spraying (penyemprotan pada daerah
luka). Penanganan diatas dilakukan langsung dibawah pengawasan dokter
hewan di puskeswan setempat.

3.2.12 Vulnus pada Anjing


Vulnus (luka) adalah kerusakan, robek, atau pemisahan jaringan
pada kulit yang disebabkan karena trauma mekanis, termis, atau kimiawi
dengan atau tanpa disertai perdarahan. Vulnus (luka terbuka) sering terjadi
pada kuda karena kuda memiliki aktivitas motorik yang tinggi apalagi jika
berada pada lingkungan kandang yang tidak terawat dengan baik. Vulnus
biasanya disebabkan oleh trauma benda tajam (paku, sisa pohon, kawat
pagar dan sebagainya) atau benda tumpul (batu, batang pohon, tali pelana
dan sebagainya).
Vulnus dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya antara lain:
saddle druck (luka dipunggung akibat pemasangan pelana yang tidak
sempurna), strackle (luka di bagian medial kaki), vulnus punctio (luka
akibat tusukan benda tajam), vulnus serrativa (luka akibat goresan kawat),
vulnus incisiva (luka akibat tusukan benda tajam), vulnus traumatica (luka
akibat hantaman benda tajam). Luka adalah rusaknya kesatuan/komponen
jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau
hilang. Ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul : hilangnya seluruh
atau sebagian fungsi organ, respon stres simpatis, perdarahan dan
pembekuan darah, kontaminasi bakteri, kematian sel.
Menurut Archibald dan Blakely (1974), vulnus laceratum terjadi
akibat kekerasan benda tumpul, goresan, jatuh, kecelakaan sehingga
kontinuitas jaringan terputus. Pada umumnya respon tubuh terhadap trauma
akan terjadi proses peradangan atau inflamasi. Reaksi peradangan akan
terjadi apabila jaringan terputus. Keadaan ini menimbulkan adanya infeksi
yang sangat hebat. Nyeri timbul karena kulit mengalami luka infeksi
33

sehingga terjadi kerusakan jaringan. Sel-sel yang rusak akan membentuk zat
kimia sehingga akan menurunkan ambang stimulus terhadap reseptor
mekanik sensitif dan hernosensitif. Apabila nyeri di atas terjadi dapat
mengakibatkan gangguan rasa nyaman.

3.2.13 Anoreksia pada hewan (Anjing dan Sapi)


Langkah pertama yang harus Anda lakukan saat hewan peliharaan
anda tidak nafsu makan adalah menyelidiki penyebab dari munculnya gejala
tersebut. Perlu anda ketahui, penurunan napsu makan secara temporer bisa
dianggap normal. Jadi, anda tidak perlu panik berlebihan jika mendapati
tempat makan hewan anda masih tersisa, karena beberapa faktor alamiah
dapat membuat hewan tidak mau makan untuk sementara waktu. Namun,
jika hewan menolak makan selama lebih dari 48 jam, Anda patut curiga. Hal
ini bisa dianggap sebagai penanda akan adanya sesuatu yang tidak beres
pada tubuh hewan anda.
Penyebab utama hewan tidak mau makan adalah karena ia stress.
Pemicunya bisa bermacam-macam, namun biasanya karena adanya
perubahan pada diri atau lingkungannya yang membuatnya tidak nafsu
makan. Misalnya, karena baru saja pindah ke tempat baru, ditinggal
majikannya pergi, memiliki majikan baru. Selain itu, Faktor lain yang bisa
memicu penurunan napsu makan pada anjing adalah gangguan kesehatan.
Infeksi, penyakit autoimun, pernafasan, pencernaan, tulang, endokrin dan
neurologis dapat menyebabkan anjing tidak napsu makan. Gangguan pada
organ perut juga bisa menyebabkan ia tidak napsu makan, misalnya
peradangan di perut, yang menyebabkan terbatasnya jumlah makanan yang
bisa ia konsumsi, karena umumnya akan timbul rasa sakit jika ia makan
terlalu banyak.
Penaganannya berupa menjaga kondisi psikologi dan mengawasi
lingkungan bermain bagi anjing agar tidak ada gangguan dari luar yang
membuat terjadinya perubahan nafsu makan. Tindakan pengobatanya bisa
34

dilakukan berupa pemberian vitamin, selain itu apabila ditemukan gejala


alergi bisa diberikan obat alergi berupa aspirin, injeksi bakteri pada organ
pencernaan dapat diberikan antibiotik.

3.2.14 Bovine Ephemeral Fever (BEF) pada Sapi


Bovine Ephemeral Fever (BEF) adalah salah satu penyakit virus
arbo pada ruminansia terutama sapi dan kerbau, yang penularannya melalui
vektor nyamuk. Tumbuh kembang nyamuk sebagai vektor sangat
dipengaruhi oleh perubahan iklim dan lingkungannya, dan akan berkembang
pesat pada saat terjadinya kenaikan suhu lingkungan. Penyakit ini banyak
ditemukan di daerah tropis, dan subtropis, seperti Asia, Afrika dan Australia.
Gejala klinis penyakit ini berupa demam dan kelumpuhan dapat
menyebabkan kerugian ekonomis bagi peternak karena produktivitas ternak
menurun, meskipun mortalitasnya rendah. Penyakit BEF sering juga disebut
`three days sickness', stiff sickness, dengue fever of cattle, bovine epizootic
fever dan lazy man's disease. Penyakit ini ditandai dengan demam selama
tiga hari, kekakuan dan kelumpuhan, namun demikian dapat sembuh
spontan dalam waktu tiga hari (Sendow, 2013).
Semakin tinggi kenaikan suhu maka banyak populasi nyamuk
vektor BEF, makin tinggi peluang untuk menginfeksi BEF pada host/induk
semangnya. Kondisi tersebut menggambarkan bahwa penyebaran BEF
dapat terjadi apabila terdapat beberapa faktor diantaranya populasi vektor
meningkat, induk semang tersedia, tempat perkembang biakan vektor
nyamuk terfasilitasi, kondisi iklim dan ekologi yang mendukung (Sendow,
2013).
BEF (Bovine Ephemeral Fever) atau penyakit demam 3 hari adalah
penyakit pada sapi yang bersifat akut, disertai demam dengan tingkat
kesakitan yang tinggi tetapi mempunyai angka kematian yang rendah.
Penyakit ini disebabkan oleh rhabdovirus dan ditularkan oleh serangga
seperti nyamuk Culex spp. dan lalat Culicoides sp. Gejala klinis yang
35

ditimbulkan adalah demam tinggi (41oC) yang berlangsung selama 3 hari,


lesu, depresi, nafsu makan menurun, persendian kaki bengkak, dan disertai
kekakuan otot sehingga menyebabkan kepincangan, dan keluar cairan dari
hidung dan mulut. Pengobatan dapat dilakukan dengan memberikan
antibiotik, antipiretik, dan vitamin untuk menambah nafsu makan.
36

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 Simpulan
Berdasarkan hasil kegiatan Praktek Kegiatan Lapangan yang telah
dilakukan di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung,
maka dapat disimpulkan beberapa hal yaitu:
1) Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung terutama
bidang Kesehatan Hewan merupakan tempat yang sangat tepat sebagai wadah
pelaksanaan progam PKL karena memberikan akses yang luas bagi mahasiswa
PKL untuk belajar dan menerapkan ilmu kedokteran hewan dibawah
bimbingan dokter hewan yang bertugas.
2) Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung mempunyai
peranan penting dalam melakukan pelayanan kesehatan hewan bagi para
peternak, pencegahan penyakit, serta dapat berkonsultasi dalam peningkatan
manajemen pemeliharaan ternak
3) Dinas Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung mempunyai
peranan penting dalam mengembangkan SIMANTRI sebagai usaha ternak
milik warga khususnya dalam pencegahan penyakit ternak , peningkatan
populasi dan produksi ternak, konsultasi manajemen pemeliharaan
4) Usaha pencegahan penyakit rabies di Kabupaten Klungkung sudah cukup baik
namun persepsi akan bahaya penyakit rabies yang diterima masyarakat masih
belum sama dengan persepsi yang dimiliki oleh Dinas Peternakan Perikanan
dan Kelautan Kabupaten Klungkung. Hal ini dapat disimpulkan dari masih
banyaknya masyarakat yang meliarkan anjing peliharaannya.
37

4.2 Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan setelah program PKL di Dinas
Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung antara lain:
1) Untuk mendukung keberhasilan pemerintah dalam menangani penyakit rabies
di Kabupaten Klungkung, diperlukan persamaan persepsi antara pihak dinas
dan masyarakat. Diperlukan pendekatan lain yang mungkin akan lebih
dipahami oleh masyarakat untuk memahami betapa berbahayanya penyakit
rabies ini. Jika penyamaan persepsi antara pihak dinas dan masyarakat tidak
mendapatkan titik temu, akan lebih baik jika pihak pemerintah melalui Dinas
Peternakan Perikanan dan Kelautan Kabupaten Klungkung menegaskan
peraturan dan konsekuensi tentang pemeliharaan anjing di wilayah Kabupaten
Klungkung, dimana anjing yang diliarkan akan dieliminasi secara legal
menurut peraturan yang berlaku.
2) Diperlukan peningkatan kerja, penataan sarana dan prasarana kantor dinas,
serta pencatatan inventaris yang baik, guna menunjang kerja pegawai dinas yag
optimal.
3) Berdasarkan pengamatan lapangan di Kecamatan Nusa Penida yang
dicanangkan sebagai sentra pembibitan sapi bali masih banyak ditemukan
petani/ peternak yang memelihara hewan ternak secara sangat tradisional
sehingga sangat rentan terhadap penularan penyakit. Oleh sebab itu, sebaiknya
seluruh stakeholder di Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan segera mulai
memberikan solusi terhadap kondisi tersebut melalui pemerataan pembentukan
SIMANTRI sampai ditingkat Banjar, pembuatan lahan hijauan pakan ternak di
setiap desa sebagai sumber pakan yang bergizi bagi ternak peliharaan.
38

DAFTAR PUSTAKA

Andriani F, Batan IW, Kardena IM. 2016. Penyebaran Rabies dan Analisis
Korelasi Kejadiannya pada Anjing dengan Manusia di Kabupaten Bangli
Tahun 2009-2014. Indonesia Medicus Veterinus 5(1):79-88.

Archibald J, Blakely CL. 1974. Healing and repair, dalam K. Mayer (ed), Canine
surgery, 4th ed. American Veterinary Pub. Easton. Illinois: 189-197.

Ays. 2015. Serangan rabies, satu korban terduga di Bali meninggal. Kompas. 29
Juli 2015. Hlm. 23.

Batan IW. 2003. Buku Ajar Sapi Bali dan Penyakitnya. Penerbit Universitas
Udayana, Denpasar.

Chapman HD, Jeffers TK,Williams RB. 2010. Forty years of monensin for the
control of coccidiosis in poultry. Poult Sci 89(9): 1788-801.

Dewi K, Nugraha RTP. 2007. Endoparasit pada Feses Babi Kutil (Sus verrucosus)
dan Prevalensinya yang Berada di Kebun Binatang Surabaya. Zoo
Indonesia 16(1): 13-19.

Dibia IN, Sumiarto B, Susetya H, Putra AAGP, Scott-Orr H. 2015. Faktor-faktor


Risiko Rabies pada Anjing di Bali. J Veteriner 16(3):389-398.

Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Klungkung. 2015.


Laporan Tahunan. Klungkung.

Ervana MA. 2014. Mimpi Kepemimpinan Profesi Dokter Hewan. Mozaik Indie
Publisher. Malang.

Iffandi C, Widyastuti SK, Batan IW. 2013. Sebaran umur korban gigitan anjing
diduga rabies pada manusia di Bali. Indonesia Medicus Veterinus 3(1):126-
131.

Kamil M, Sumiarto B, Budhiarta S. 2004.Kajian kasus kontrol rabies pada anjing


di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Agrosains 17(3): 313-320.

Knobel DL, Kaare M, Fevre E, Cleaveland S. 2007. Dog Rabies and its Control.In
Jackson AC, Wunner WH (Ed).Rabies. 2nd ed. USA: Elsevier Inc. Pp 573-
594.

Lembo T, Hampson K, Kaare MT, Ernest E, Knobel D, Kazwala RR, Haydon D T,


Cleaveland S. 2010. The Feasibility of Canine Rabies Elimination in
39

Africa: Dispelling Doubts with Data. PloS Negl Trop Dis 4(2): e626.
doi:10.1371/journal.pntd.0000626.

Mahalaya S. 2009. Poverty alleviation and food security through improving the
sweetpotato-pig systems in Papua, Indonesia. ACIAR ABN 34 864 955
427.

Priadani A, Natalia L. 2000. Patogenesis SE pada Sapi Bali dan Kerbau. Gejala
Klinis, Perubahan Patologis, Reisolasi, Deteksi P. multocida, dengan
Median Kultur dan PCR. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 5 (1): 65-71.

Sendow I. 2013. Bovine Emphemeral Fever, Penyakit Hewan Menular yang


Terkait dengan Perubahan Lingkungan. Buletin Ilmu Peternakan dan
Kesehatan Hewan Indonesia 23: 2.

Shafik, A. 1994. Prolactin injection, a new contraceptive method: experimental


study. Epub Contraception. 50(2):191-9.

Subronto. 2003. Ilmu Penyakit Ternak I. Gadjah Mada University Press.


Yogyakarta.

Supartika IKE, Setiaji G, Wirata K, Hartawan DH, Putra AAG, Dharma DMN
Soegiarto, Djusa ER. 2009. Kasus Rabies Pertama Kali di Provinsi Bali.
Buletin Veteriner BPPH IV Denpasar 21(74):7-12.

Tabbu CR. 2004. Penyakit Ayam dan Penanggulangan: Volume 1. Kanisius:


Yogyakarta.

Tarigan S, Bahri S, Sarosa A. 1997. Hog Cholera pada Babi. Wartazoa 6(1).

Wunner WH, Briggs DJ. 2010. Rabies in the 21st century. Plos Negl Trop Dis
4(3): e591. doi 10.1371/journal.pntd.000591.

Yasa IMR, Wirawan K, Suyasa IW. 2010. Prevalensi Infeksi Parasit Cacing dan
Eimeria spp pada Babi Bali Desa Sanggalangit Kecamatan Gerokgak
Buleleng Bali. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Bali. Denpasar.
40

LAMPIRAN
41

DOKUMENTASI KEGIATAN
PRAKTIK KERJA LAPANGAN MAHASISWA PPDH FKH UNUD
DINAS PETERNAKAN, PERIKANAN DAN KELAUTAN
KABUPATEN KLUNGKUNG
29 NOVEMBER 25 DESEMBER 2016

Menanggapi laporan masyarakat atas kejadian gigitan anjing terduga ra

da makanan anjing untuk melakukan eliminasi anjing liar terduga rabies (kiri) dan sampel otak anjin
42

Kastrasi anak babi usia 2 minggu di desa Pikat Kec. Dawan

bilan feses sapi (simantri) di desa Tangkas dan pemeriksaan parasit pada feses sapi di Puskeswan Ke

nganan kasus BEF di desa Bakas (kiri) dan Artritis di desa Kutampi (kanan) pada sapi bali di Kec. Nu
43

Pembagian kartu asuransi jiwa untuk para nelayan di Puskewan


Kec. Nusa Penida

n obat di Puskeswan Kec. Banjarangkan (atas) dan pengenalan obat-obatan yang digunakan di Pusk
44

Penanganan birahi pada anjing (KB) dengan injeksi hormonal di Puskeswan Kec. Banjarangkan

Tindakan bioscurity berupa spraying di Pasar Unggas Kec. Klungkung

Penanganan kasus parasit dan vaksin rabies pada anjing di Puskeswan Kec.K
45

Foto bersama petugas Dinas PPK Klungkung


(Arif Syaifuddin, I Made Sidar,S.P., Nyoman Sanging,S.P., Sholicah

(drh. I Kadek Widada Asmara, I Made Sidar,S.P., Nyoman Sanging,S.P., Sholichah