Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH TERMODINAMIKA

PEMICU - 1

SIFAT PVT DARI SEBUAH SENYAWA MURNI

Disusun Oleh:
Kelompok 1

Bella Novia (1506673214)

Kevin Julian (1506730262)

M. Novaldy Sangadji (1506673151)

Musthofa Kamal (1606932381)

Natasya Mareta (1506673385)

Syafiq Rayza (1306370606)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA

Depok, Februari 2017


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena akhirnya tim penulis dapat
menyelesaikan laporan termodinamika pemicu satu mengenai sifat pvt dari sebuah senyama
murni.

Sebagai calon insinyur teknik kimia sudah semestinya untuk mahasiswa mempelajari
berbagai hal yang berhubungan dengan termodinamika. Hal tersebut dipandang sangat penting
dan sebuah core competence, untuk menjadi dasar sebagai awal untuk mempelajari proses
pada teknik kimia nantinya.

Walaupun banyak kendala yang dihadapi sepanjang pembuatan laporan ini, tim penulis
tetap bertekad untuk menyelesaikan laporan ini sebagai komitmen dan tanggungjawab demi
memenuhi tugas mata kuliah termodinamika. Untuk itu, penulis mengucapkan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan laporan ini.

Tim penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, tim penulis mengharapkan adanya kritik serta saran agar laporan ini lebih baik lagi untuk
kedepannya.

Tim penulis berharap agar laporan ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan dapat
menambah wawasan kami khususnya mahasiswa teknik kimia.

Depok, Februari 2017

Tim penulis

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................. ii

BAB I: PENDAHULUAN ....................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1

1.2 Definisi Masalah ............................................................................................ 1

1.3 Tujuan Pembelajaran ...................................................................................... 1

BAB II: PEMBAHASAN ........................................................................................ 7

2.1 Soal Pertama................................................................................................... 2


2.2 Soal Kedua ..................................................................................................... 4
2.3 Soal Ketiga ..................................................................................................... 7
2.4 Soal Keempat.11
2.5 Soal Kelima....12
2.6 Soal Keenam..13
2.7 Soal Ketujuh..15
2.8 Soal Kedeplapan....16
2.9 Soal Kesembilan21
2.10 Soal Kesepuluh....23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Ilmu teknik kimia khususnya termodinamika pada dasarnya menyangkut penentuan
komposisi kimiawi suatu senyawa murni, proses proses reaksi, serta fisika energi, paans,
kerja dan masih banyak lagi. Hal hal tersebut adalah merupakan dasar ilmu utama
insinyur teknik kimia.
Pemicu satu mengenai sifat Pressure, Temprature, dan Volume dari sebuah senyawa
murni bertujuan untuk mempelajari dasar termodinamika dari sebuah senyawa murni.
Pemicu satu tidak hanya memuat ilmu fundamental tentang dasar dasar sifat senyawa
namun memuat studi kasus mengenai senyawa dipengaruhi oleh Pressure, Temprature,
dan Volume dan juga mengaplikasikan pada kehidupan keseharian.
Pemicu satu juga mempelajari tentang persamaan terkait dengan senyawa murni seperti
persamaan Gibbs Free Energy dan Accentric Factor serta mempelajari halayak faktor
kompresibilitas dan sebagainya. Seluruh ilmu yang digunakan pada pemicu satu akan
menjadi dasar yang menjadi sebuah landasan untu mempelajjari termodinamika.

1.2 Definisi Masalah


Masalah yang di pelajari adalah sebuah pemicu satu yang diberikan oleh dosen yang
menjadi pemicu untuk mempelajari sebuah sifat PVT dari senyawa murni, serta masalah
tersebut meliputi studi kasus dan ilmu ilmu dasar dari termodinamika dan sifat senyawa.

1.3 Tujuan Pembelajaran


Tujuan pembelajaran adalah untuk mengetahui ilmu dasar termodinamika, mengetahui
sifat PVT dari sebuah senyawa murni, serta dapat menjawab soal yang ada pada pemicu
satu agar dapat memiliki pengetahuan yang komprehensif terkait pemicu satu serta dapat
mengisi sks pada mata ajar termodinamika.

1
BAB II
PEMBAHASAN

Soal Pertama
Berikut adalah beberapa pertanyaan dari Mimi dalam bahasa Inggris untuk anda jawab.
Explain the following (1) a substance; (2) saturated condition (3) phase equilibrium between
phases; (4) intensive and extensive variables; (5) degree of freedom obtained using Gibbs phase
rule; (6) why the degree of freedom of the surfaces of one (S/L/V), two (S-L, S-V, L-V) and three
stable phases (triple line) are two, one and zero, respectively. Note: S=Solid, L=Liquid and
V=Vapor

Jawaban:
(1) Substance
Bahan atau zat kimia adalah bentuk materi yang memiliki kedua komposisi yang pasti dan
sifat yang berbeda. Sebuah zat murni tidak dapat dipisahkan menjadi komponen yang lebih
sederhana tanpa perubahan kimiawi. perubahan fisik dapat mengubah keadaan materi tetapi tidak
identitas kimia zat murni. Substansi berbeda dari campuran. Campuran mengandung lebih dari satu
zat kimia, dan mereka tidak memiliki komposisi tetap. Pada prinsipnya, mereka dapat dipisahkan
menjadi zat komponen dengan proses mekanis murni. Sebuah contoh umum dari zat kimia adalah air
murni; memiliki sifat yang sama dan rasio yang sama hidrogen oksigen apakah itu terisolasi dari
sungai atau dibuat di laboratorium. Mentega, tanah dan kayu adalah contoh umum dari campuran.
zat kimia bisa menjadi elemen kimia atau senyawa kimia. unsur kimia adalah bentuk paling
sederhana dari materi, yang berarti mereka tidak dapat dipecah menjadi komponen yang lebih kecil
secara fisik atau kimia. Semua unsur-unsur kimia yang tercantum pada tabel periodik, dan
setidaknya ada 118 dari mereka. Contoh unsur kimia termasuk karbon (C), hidrogen (H), oksigen
(O), dan natrium (Na). senyawa kimia, di sisi lain, terdiri dari dua atau lebih elemen yang
diselenggarakan bersama oleh ikatan kimia dan berfungsi sebagai unit. Sementara senyawa kimia
juga zat kimia, mereka berbeda dari unsur-unsur kimia karena senyawa kimia dapat dipecah menjadi
komponen kimia sederhana (unsur kimia yang membentuk senyawa kimia). Beberapa contoh
senyawa kimia karbon dioksida (CO2), karat (Fe2O3), dan garam meja (NaCl).

(2) Saturated condition


Kondisi jenuh adalah kondisi ketika suhu sistem tidak berubah sampai fasa dari sebuah
substance dalam sistem berubah. Dalam hal ini, energi yang digunakan untuk mengkonversi fase
substance. kondisi jenuh terletak di garis batas (dalam diagram 2D) atau daerah batas (dalam
diagram 3D)antarafase.

2
Gambar 1. 3D PvT Diagram

Source: Hyperphysics Thermodynamics, http://hyperphysics.phy-


astr.gsu.edu/hbase/thermo/pvtsur.html, date unknown.

(3) Phase equilibrium or equilibrium between phase


Fase adalah kuantitas materi yang homogen di seluruh di kedua komposisi kimia dan
struktur fisik. Fase kesetimbangan adalah keadaan ekuilibrium antara fase molekul. Keadaan
ekuilibrium dari sistem tertutup adalah bahwa negara yang total energi Gibbs adalah minimum atau
nol dan potensi kimia setiap spesies adalah sama dalam semua tahap sehubungan dengan semua
perubahan mungkin pada T dan P yang diberikan:

| , = 0

= = = (1)

(4) Intensive and Extensive Variables


Sifat termodinamika dapat dibagi menjadi dua kelas umum, sifat intensif dan
ekstensif, sesuai dengan bagaimana perubahan properti ketika ukuran (atau batas) dari
perubahan sistem. Properti intensif, yang dikenal sebagai properti massal, adalah properti
fisik dari sistem yang tidak tergantung pada ukuran sistem atau jumlah bahan dalam sistem.
Misalnya, suhu, kepadatan, dan tekanan dari sistem homogen; jika sistem dibagi dua, massa
dan perubahan volume dalam rasio yang sama dan kepadatan, suhu, dan tekanan tetap tidak
berubah. Contoh lain dari properti intensif gravitasi spesifik, kecepatan, kekentalan, warna,
volume yang spesifik, potensial kimia, titik leleh, titik didih, dan molalitas. Properti yang
luas adalah properti fisik yang nilainya adalah aditif untuk subsistem. Nilai properti aditif
seperti sebanding dengan ukuran sistem itu menjelaskan, atau kuantitas materi dalam sistem.
Misalnya, jumlah panas yang dibutuhkan untuk melelehkan es pada suhu dan tekanan
konstan adalah properti yang luas, yang dikenal sebagai entalpi fusi. Jumlah panas yang
dibutuhkan untuk melelehkan satu ice cube akan jauh lebih sedikit daripada jumlah panas
yang dibutuhkan untuk melelehkan gunung es, sehingga sangat tergantung pada kuantitas.
3
Contoh lain dari properti yang luas adalah energi, massa, volume, jumlah zat. Entropi,
kapasitas panas dan sebagainya menjadi perhitung
(5) Degree of freedom obtained using the Gibbs phase rule
Derajat kebebasan adalah jumlah properti intensif independen dari suatu sistem.
Derajat kebebasan dapat ditentukan dengan menggunakan aturan fase Gibbs. fase Gibbs
juga dapat memprediksi jumlah fase stabil yang mungkin ada dalam kesetimbangan untuk
sistem tertentu. Aturan fase Gibbs berlaku untuk non-reaktif multi-komponen sistem
heterogen dalam kesetimbangan termodinamika. Gibbs Tahap Rule dinyatakan oleh
rumusan sederhana: F = C + 2 - P, di mana P adalah jumlah fase dalam sistem, C adalah
jumlah minimum komponen kimia yang diperlukan untuk membentuk semua fase dalam
sistem, dan F adalah jumlah derajat kebebasan dalam sistem atau varians dari sistem. Itu
rumus sederhana dihasilkan melalui menggabungkan dua aspek; variabel intensif yang dapat
diubah secara independen dalam sistem (PT negara postulat (nomor 2) dan C-1 komposisi
untuk tahap P (CP-P)) dan termodinamika relasi yang berhubungan dengan orang-orang
variabel intensif (P yang 1 ekuilibrium hubungan untuk komponen C untuk memenuhi
Hukum Raoult (CP-C))
(6) Why the degree of freedom of the surfaces of one (S/L/V), two (S-L, S-V, L-V), and three
phases (S-L-V) are two, one, and zero, respectively
Derajat kebebasan satu, dua, dan tiga fase dua, satu, dan nol mungkin karena sistem
hanya berisi satu komponen (dapat diperoleh dengan menggunakan aturan fase Gibbs: F = C
+ 2 - P). Jika sistem memiliki dua derajat kebebasan, itu dikatakan bivariat. Untuk sistem
ini, nilai-nilai P dan T dapat disesuaikan secara independen tanpa perubahan jumlah fase ini.
Sebuah sistem bivariat dari fase yang berbeda karena itu mungkin tetap pada kesetimbangan
selama rentang nilai suhu dan tekanan. Jika sistem memiliki satu derajat kebebasan, itu
dikatakan univariat. Untuk sistem univariat, nilai satu properti (P atau T) dapat disesuaikan
tanpa mengubah jumlah fase. Namun, nilai-nilai semua properti lain kemudian menjadi
tetap. Misalnya, jika suhu sistem univariat disesuaikan, maka nilai-nilai dari tekanan,
volume dan komposisi harus berubah dalam cara tertentu jika jumlah fase ini adalah untuk
tetap sama. Jika sistem memiliki nol derajat kebebasan, itu dikatakan invarian. Untuk sistem
ini, tidak P atau T dapat diubah. Karena mengubah nilai P atau T yang mendefinisikan
keadaan sistem invarian, akan mengakibatkan perubahan dalam jumlah fase ini.

Soal Kedua
Mimi adalah mahasiswi teknik kimia pada sebuah perguruan tinggi di kota
Padepokan. Mimi berhasil menyelesaikan permasalahan termodinamika yang
diberikan dosennya dan sekarang dia menantang anda untuk dapat menyelesaikan
masalah tersebut secara bersama-sama dalam kelompok. Berikut adalah
permasalahannya
Gambar 2 menunjukkan botol berisi air dan uap air di atasnya. Massa tak dapat
masuk dan keluar dari botol tersebut karena adanya gabus yang memiliki massa 20
gram. Suhu air maupun botol sama dengan suhu ruang di Depok yaitu 25oC. Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut :
4
Jawaban:
(7) Berapakah derajat kebebasan fluida di dalam botol? Jelaskan.

Fasa adalah bagian sistem dengan komposisi kimia dan sifat sifat fisik seragam,
yang terpisah dari bagian sistem lain oleh suatu bidang batas. Secara umum telah dikenal
tiga kelompok fasa yaitu; fasa gas, fasa cair dan fasa padat. Sifat suatu fasa dinyatakan
dengan properti-properti intensif yang terdiri dari temperatur, tekanan, dan konsentrasi.
Banyaknya properti intensif yang harus ditetapkan atau harus dinyatakan agar keadaan
setimbang dapat dihitung dengan menggunakan aturan fasa (Phase Rule). Aturan fasa untuk
pertama kali diperkenalkan oleh J. Willard Gibbs (tahun 1875), tetapi baru dipublikasikan
20 tahun kemudian.

Untuk sistem satu komponen, persamaan Clausius dan Clausisus Clapeyron


menghubungkan perubahan tekanan kesetimbangan dengan perubahan suhu. Sedangkan,
pada sistem dua komponen, larutan ideal mengikuti hukum Raoult. Larutan non elektrolit
nyata (real) akan mengikuti hukum Henry.
Aturan Fasa Gibbs :
F = C p + 2..(2)
Keterangan :
F = derajat kebebasan
C = jumlah komponen
p = jumlah fasa
= jumlah besaran intensif yang mempengaruhi sistem (P, T) = 2

Derajat kebebasan adalah bilangan terkecil yang menunjukkan jumlah variabel bebas
(suhu, tekanan, konsentrasi komponen komponen) yang harus diketahui untuk
menggambarkan keadaan sistem. Untuk zat murni, diperlukan hanya dua variabel untuk
menyatakan keadaan, yaitu P dan T, atau P dan V, atau T dan V. Variabel ketiga dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan gas ideal. Sehingga, sistem yang terdiri dari
satu gas atau cairan ideal mempunyai derajat kebebasan dua (F = 2).

Banyaknya fasa dalam sistem diberi notasi P. Dalam hal ini, gas atau campuran gas
termasuk ke dalam fasa tunggal. Selain itu, kristal adalah fasa tunggal dan dua cairan yang
dapat tercampur secara total juga dapat membentuk fasa tunggal. Es adalah fasa tunggal
(P = 1), walaupun es dapat dipotong-potong menjadi bagian-bagian kecil. Akan tetapi,
campuran es dan air adalah sistem dua fasa (P = 2), walaupun sulit untuk menentukan batas
antara fasa-fasanya.

Banyaknya komponen dalam sisetm diberi notasi C, yaitu jumlah minimum


spesises bebas yang diperlukan untuk menentukan komposisi semua fasa yang terdapat
dalam sistem. Definisi berlaku jika spesies atau zat yang terdapat dalam sistem tidak
bereaksi, sehingga kita hanya menghitung banyaknya. Misalnya, air murni adalah sistem
dua komponen (C = 1) dan campuran etanol dan air adalah sistem dua komponen (C = 2).
5
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa air dan uap air merupakan
sistem dua fasa, namun termasuk sistem satu komponen. Sehingga jika dimasukkan ke
dalam persamaan Aturan Fasa Gibbs, didapatkan jumlah derajat kebebasannya sebesar 1.

F=12+2=1

(8) Berapa tekanan di dalam botol?

Dari soal, diketahui bahwa suhu botol sebesar 25oC yang berguna untuk mengetahui
tekanan di dalam botolnya dengan melihat data Saturated Water pada Steam Table.

Tabel 1. Steam Tables of Saturated Water and Steam


Source: ASME Steam Tables, Compact Edition

Berdasarkan data yang diperoleh dari Steam Tables, diketahui bahwa tekanan pada
suhu 25oC sebesar 0.00317 MPa atau sama dengan 0.03128546755 atm.

(9) Jika volum botol adalah 2 L dan air mengisi 40% ruang dalam botol, hitunglah jumlah
molekul uap air yang ada pada uap air diatasnya!

Diketahui :
V = 2 liter
Vair = 40% x 2 liter = 0.8 liter
Vuap air = 60% x 2 liter = 1.2 liter
T = 25oC = 278 K
6
P = 0.03128546755 atm
Ditanya : Jumlah molekul uap air?

Jawab :
Pertama, dari data yang sudah diketahui harus dicari mol nya terlebih dahulu menggunakan
rumus persamaan gas ideal yaitu :
PVuap air = nRT..(3)

0.03128546755 atm x 1.2 liter = n x 0.082 L.atm/K.mol x 278 K


0.03128546755 atm x 1.2 liter
n= 0.082 L.atm/K.mol x 278 K

n = 0.00165 mol

Setelah mendapatkan nilai mol, maka dapat diketahui jumlah molekul uap airnya dengan
mengalikan mol dengan bilangan Avogadro.
Jumlah molekul uap air = n x bilangan Avogadro(4)
Jumlah molekul uap air = 0.00165 x 6.02 x 1023
= 9.9143 x 1020

(10) Jika botol dan air dipanaskan, tentukanlah pada suhu berapa sumbat akan terlepas dari
mulut botol dengan asumsi bahwa tak ada gaya friksi antara sumbat dengan botol dan botol
tidak pecah?

Pada peristiwa sumbat terlepas dari mulut botol, salah satunya dapat dipengaruhi
oleh tekanan. Dalam hal ini, tekanan di dalam botol harus lebih besar dari tekanan di luar
botol yang diasumsikan sebesar 1 atm. Kemudian, pada suhu berapa sumbat akan terlepas
dari mulut botol dapat dilihat dari Steam Tables dengan asumsi tekanannya sebesar 1 atm,
sehingga dapat diketahui bahwa suhu yang diperlukan sebesar 100oC.

(11) Jika botol didinginkan di dalam lemari es, apakah membuka tutup botol menjadi lebih
mudah atau lebih sukar? Jelaskan!

Pembukaan tutup botol yang didinginkan di dalam lemari es akan menjadi lebih
sukar karena saar suhu mengecil, berbanding lurus dengan tekanannya sehingga tekanannya
pun akan mengecil. Sehingga, perbedaan tekanan di dalam dan di luar botol akan membesar
dan hal tersebut yang menyebabkan sukarnya membuka tutup botol. Selain itu, jika botol
tersebut terbuat dari kaca, maka botol akan mengalami penyusutan dan hal tersebut juga
akan mempengaruhi sukarnya membuka tutup botol.

Soal Ketiga
It is nice to be able to understand phase diagrams and use them to explain real-life
phenomena. Please refer to gambar 1. Use PT and/or PV diagram as you think
7
appropriate to explain why: (12) the solid phase is very steep compared to the surfaces of
the other two phases in terms of the distances and the interaction between water
molecules in each phases; (13) skaters could glide easily across ice wearing an ice-skating
shoes; (14) it takes longer to boil eggs in Bandung that it is in Jakarta using exactly the
same cooking utensils, amount of the water, eggs, and heating conditions.

Jawaban:

(12) Curamnya fasa padat pada diagram PVT

Interaksi antarmolekul penyuzun zat merupakan sifat yang dapat membedakan


sebuah senyawa dalam bentuknya dan wujudnya. Zat yang berwujud padat memilki sifat
molekul tarik menarik dan compact, interaksi antarmolekul membuat posisi molekul-
molekul penyusunnya tetap dalam koordinat dimensi ruang. Pada zat cair, interaksi tarik-
menarik antarmolekul relatif lebih lemah sehingga memudahkan bentuk dari zat cair dapat
berubah ubah dan tidak tetap. Sedangkan dalam gas, nyaris tidak terjadi interaksi
antarmolekul yang membuat wujudnya tidak beraturan dan tidak memiliki bentuk sehingga
membuat volume dan bentuknya tidak dapat dipertahankan.
Jika kita amati grafik PVT, PV dan PT untuk air, pada daerah fasa padat grafiknya
sangat curam dibandingkan daerah fasa cair dan gas. Hal tersebut berkaitan dengan ikatan
antarmolekul air, di mana pada saat berfasa padat, molekul air saling berikatan dan salah
satu ikatan kuat yang terjadi adalah ikatan hidrogen. Ikatan hidrogen pada atom H dan O
cukup kuat, sehingga jika tekanan yang diberikan untuk mengubah fasa haruslah tekanan
yang sangat besar. Interaksi Tarik-menarik yang kuat membuat volume spesifik air
cenderung tetap sehingga menghasilkan sifat incompressible pada fasa padatnya.

Gambar 3. Diagram PVT, PV dan PT untuk Air


(Sumber:http://www.mae.wvu.edu/~smirnov/mae320/notes.html )
8
(13) Fenomena skaters dalam Ice skating

Fenomena ice skater yang dapat meluncur diatas es dapat dijelaskan melalui konsep
triple point pada air. Tekanan badan skater bertumpukan pada permukaan sepatu ice skating
yang lancip dan menaikkan tekanan pada es. Seperti yang dapat dilihat dari gambar
disamping, gambar tersebut merupakan perbesaran saat pisau sepatu ice skater melintasi
permukaan es. Dapat diamati bahwa terbentuk lapisan air diantara ujung pisau sepatu ice
skater dengan es dibawahnya. Prinsip dasar fase Gibbs menyatakan bahwa ketika tekanan
bertambah, maka akan terbentuk suatu fasa yang lebih
padat, pada kasus ini terbentuk air. Lapisan air antara
permukaan sepatu ice skating dan es adalah permukaan
yang dilalui skater saat berskating.
Hal ini yang menyebabkan mengapa sepatu ice
skating dirancang seperti itu dan jika terdapat dua pisau
pada permukaan sepatu ice skating tersebut, maka akan
lebih susah untuk meluncur diatas es.
Seperti dapat dilihat pada diagram dibawah ini, suhu
triple point air adalah 0.01oC, dan tekanannya 4.56 mm Hg
(0.006 atm). Suhu triple point yang mendekati titik beku
airlah yang menyebabkan berat badan seseorang dapat
Gambar 4. Ilustrasi Sepatu Skating
(Sumber: en.wikibooks.org)

bertumpu pada sebilah pisau dipermukaan sepatu ice-skating tanpa menyebabkan es


tersebut mencair/rusak.
Tekanan yang dihasilkan pada permukaan es akan semakin besar karena luas
permukaan yang ditimbulkan dari sepatu tersebut kecil. Tekanan besar yang dihasilkan akan
merubah fasa dari lapisan es menjadi cairan, sehingga lapisan es tersebut mencair. Es yang
mencair mempengaruhi gaya gesek antara lapisan es dengan pisau pada sepatu sehingga
gaya geseknya menjadi kecil dan permukaan yang bersifat licin mempermudah pergerakan
pemain ice-skating.

9
Grafik 1. Grafik Triple Point Air
Sumber: PVTproperties.edu/mwav.com (diakses pada 14 Februari 22.50 WIB)

(14) Merebus telur di Bandung memakan waktu yang lama dibandingkan di Jakarta

Tinggi dataran suatu wilayah akan mempengaruhi tekanan udara dari wilayah
tersebut dan seluruh elemen yang ada di daerah tersebut. Semakin tinggi suatu wilayah
maka tekanan udaranya akan semakin rendah. Pada titik didih juga dipengaruhi oleh tekanan
udara permukaan zat cair. Titik didih air akan semakin rendah semakin rendah tekanan
udaranya.
Ketinggian dataran Bandung lebih tinggi dibandingkan Jakarta. Peristiwa mendidih
terjadi karena tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfernya. Ketika berada di
pegunungan, air akan mendidih dengan suhu yang lebih rendah dibandingkan ketika berada
di pantai. Hal ini terjadi, ketika berada di pegunungan tekanan atmosfernya rendah sehingga
menyebabkan titik didihnya rendah sehingga lebih cepat mendidih.
Titik didih normal air pada tekanan 76 cmHg adalah 100 . Bila tekanannya
berkurang maka air akan mendidih pada suhu kurang dari 100 . Titik didih akan
mengalami pengurangan sebesar 1 setiap kenaikan 300 m dari permukaan air laut. . Saat
telur direbus di Bandung, air untuk merebus telur mendidih pada suhu tertentu di bawah 100
dan suhunya akan konstan pada angka tersebut sampai seluruh air menguap. Dapat
dibuktikan oleh karena hal tersebut, merebus telur di Bandung lebih membutuhkan waktu
dibandingkan di Jakarta karena suhu air mendidihnya lebih lama.

Grafik 2. Grafik Suhu Ambien, Ketinggian, dan Temperatur Air


Sumber: newton.ex.ac.uk
1
0
Grafik 3. Grafik Waktu yang
diperlukan terhadap ketinggian
Sumber: newton.ex.ac.uk

Soal keempat
Akan sangat baik jika kita dapat membaca steam table dan memahami setiap variable
yang ada di dalamnya. Temukanlah pada steam table :
(15) Tekanan, volume, dan suhu pada titik kritis dan titik triple dari air.

Steam table yang digunakan sebagai referensi penyelesaian soal adalah


steam table yang diterbitkan ASME. Pada steam table ini, diketahui bahwa reference
state yang digunakan untuk nilai entropi tepat 0 adalah pada titik triple air. Oleh sebab
itu, dapat dicari data pada steam table dimana nilai entropi bernilai 0, kemudian
didapatkan nilai tekanan, volum spesifik, dan temperature dari air pada titik triple. Dari
steam table yang digunakan , diperoleh nilai tempratur 0.001 Derajat Celcius,
tekanan 0.006117 MPa dan volume spesifik untuk fasa cair dan uap berturut-turut
0.00100002 m3/kg dan 206.00 m3/kg.
Pada kondisi kritis, diketahui bahwa densitas fasa cair dan uap adalah sama,
sehingga dapat dicari nilai volume spesifik yang sama antara fasa cair dan uap dan
dari sana didapatkan pula nilai tekanan dan suhu pada kondisi superkritis. Dari steam
table yang digunakan, diperoleh nilai temperatur 373.946 C dan tekanan 22.064 MPa
dengan volume spesifik 0.003106 m3/kg baik untuk fasa cair maupun uap.

(16) Massa jenis es, air, dan uap air pada suhu 25 0C

Untuk densitas berbagai fasa dari air pada kondisi ambient, fasa padat tidak
dapat ditemukan pada kondisi ambient karena fasa padat akan mencair pada kondisi
tersebut. Untuk fasa cair, pada temperatur 25 0C, volum spesifik dari air adalah
0.001003 m3/kg untuk tekanan jenuh yaitu 0.00317 MPa.
Perbedaan tekanan ini dengan tekanan ambient 1 atm relatif kecil (<1 bar),
maka dapat diasumsikan bahwa volum spesifik dari air tersebut akan mendekati nilai
1
1
0.001003 m3/kg sehingga dapat diperoleh nilai densitas air sebesar 997.009 kg/m3.
Pada kondisi ambient, uap air akan memiliki tekanan parsial sebesar 0.00317 MPa.
Pada kondisi ini, volum spesifik dari uap air bernilai 43.341 m3/kg. Dari nilai tersebut
dapat diperoleh densitas uap air sebesar 0.023073 kg/m3.

(17) Fasa pada titik A (5 bar, 151,9 0C), titik B (5 bar, 200 0C), titik C (2,5 MPa, 200
0C)

Untuk mengestimasi fasa air pada kondisi T,P tertentu, dapat ditinjau steam table untuk
melihat perbandingan antara temperature dan pressure dari kondisi yang ingin diketahui fasanya
dengan kondisi saturated. Untuk titik pertama, tekanan sebesar 5 bar dan temperature sebesar
151.9 C.
Pada kondisi jenuh dengna tekanan yang sama, temperatur jenuhnya sebesar 151.9 0C.
Samanya suhu antara kondisi yang ingin diketahui dengan kondisi jenuh menunjukkan bahwa air
tersebut berada pada kondisi jenuh yang terdiri dari 2 fasa yaitu cari dan uap. Pada kondisi kedua
dengan tekanan sebesar 5 bar dan temperatur sebesar 200 0C, temperature air berada diatas
temperatur jenuhnya yang menunjukkan bahwa air tersebut berada pada kondisi superheated
steam. Pada kondisi ketiga dengan tekanan 2.5 MPa dan temperature 200 0C, tekanan pada
kondisi tersebut lebih tinggi dari nilai tekanan pada kondisi jenuh yaitu sebesar 15,54 bar yang
menunjukkan bahwa air tersebut berada pada kondisi compressed

Soal kelima
Given the following two dimensional PT diagram obtained from the three dimensional PVT
diagram given above, do you think the relative position (read: the p-T coordinate) of the three
phases make sense? Explain

Gambar 5. Diagram PT (Sumber: Pemicu 1 Termodinamika)


1
2
Jawaban:
Pada saat suatu zat berada pada tekanan maksimum dan suhu minimum maka zat tersebut
akan berada pada fasa padat atau solid

pada saat zat yang berada pada fasa solid suhunya terus dinaikan maka fasanya akan berubah.
Apabila tekananya di atas tekanan triple point maka zat tersebut fasanya akan berubah
menjadi liquid, sementara bila tekananya di bawah tekanan pada triple point maka fasanya
akan berubah menjadi vapor

zat pada fasa liquid bila tekananya diturunkan maka fasanya akan berubah menjadi vapor

zat pada fasa liquid bila suhunya dinaikan maka akan berubah menjadi vapor bila tekananya
di bawah titik kritis dan menjadi supercriticalfluid apabila tekananya di atas tekana kritis

zat pada fasa vapornya bila terus dipanaskan hingga suhunya melebihi suhu titik kritisnya
maka fasanya akan berubah menjadi gas

Dari pernyataan di atas maka dapat disimpulkan bahwa diagram yang diberikan masuk akal
selama zat tersebut bukan zat yang mengembang saat dibekukan seperti air karena slope garis
fasa cair-padatnya pada air slopenya negatif.

Soal keenam
In both PT and PV diagram of water show the path of the following process: (18) water initially at
a higher pressure than its saturation pressure (compressed liquid) is brought 30 psia at constant
temperature until the water just begins to form vapor (path 1-2); then it was heated at a constant
pressure until its enthalpy is six times the enthalpy of saturated water at 30 psia (path 2-3); (19)
mixture of water and water vapor equilibrium having quality of 50% is heated at a temperature of
130 0C until its specific volume reached 3.2 times the specific volume of the mixture at initial
state.

Jawaban
(18) Kondisi a

Tabel 2. Steam Table Properties


Dengan menggunakan steam table dan interpolasi pada tekanan 30 psia maka didapatkan
hL = 509,225 kJ/kg
hV = 2707,79 kJ/kg
h = 6hL
dengan menggunakan rumus, berikut,
= + ( ) 6 = + ()(5)

6 (509,225 kJ/kg) = 509,225 kJ/kg + (2707,79 kJ/kg 509,225


kJ/kg)

= 1,158

1
3
Dari kalkulasi tersebut diketahui bahwa nilai fraksi (x) melebihi 1 yang menandakan kondisi ini
terdapat pada fasa uap (superheated steam)

Grafik 4. Kondisi flow process pada kondisi A

(19) Kondisi B

Tabel 3. Steam Table Properties


maka diperoleh nilai volume spesifiknya sebagai berikut

0 = +0()
0 = 0,0010697 + 0,5(0,66808 0,0010697)
0 = 0,3345
Pada kondisi akhir, nilai V = 3,2V0
=+()

=
()

x = 1,6035

1
4
Karena nilai fraksi (x) melebihi 1, maka air tidak berada dalam 2 fasa.
= 3,20 = 1,0704
Karena V > VV, maka fasa air adalah gas (uap)

Grafik 5. Kondisi flow process pada kondisi B


Soal ketujuh
If you use the following equation to represent vapor pressure as a function of temperature
And you know that the equation is valid as thelower and the upper limit of temperature
(triple and critical temperature, respectively); How could you determine the values of
parameter a and b (hint: use excell)
Equation:
ln( ) = +

Jawaban:

Psat(Kpa) T(K) ln(Psat)


0.611 273.16 -0.49266
101.325 373.15 4.618333
998.48 452.82 6.906234
5496.82 543.08 8.611925
22064 647.07 10.0017

10
Grafik 6. Water's phase diagram from
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0079678615000035

Data tersebut diregresi linear dengan ln(Psat) sebagai y dan T sebagai x


Maka didapat hasil ln(Psat)=a+bT

() = 6.5046667 + 0.0271565

Soal kedelapan
Natural gas transportation over long distance could be done efficiently if gas is shipped
either as liquefied natural gas (LNG) or compressed natural gas (CNG). If the ship cargo
capacity is 2500 m3, determine which mode of transportation could accommodate more
natural gas each trip? Assume the following storage condition: 1 bar and -162 C for LNG
and 125 bar and room temperature for CNG. To do the calculations, use the
compressibility factor that could be download from internet (Savidge : compressibility of
natural gas). Compare your results with the values calculated using the generalized
correlation for z proposed by Pitzer, employing the acentric factor. Assume natural gas to
10
be pure methane and report the difference in percent values. Explain the difference
between two parameter and three parameter generalized correlation. Define the acentric
factor using your own words.

Jawaban:
Diketahui
Gas alam murni berisi senyawa metana
Vkapal = 2500 m3
Kondisi LNG: P = 1 bar,T = -162C = 111 K
Kondisi CNG: P = 125 bar, T= 25C = 298 K

Pada Apendix B di buku Introduction of Chemical Engineering Thermodynamics 6th


Edition oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M. Abbott, didapatkan sifat dari senyawa
metana murni, yaitu:
= 0,012
Tc = 190,6 K
Pc = 45,99 bar
vc = 98,6 cm3/mol

Mencari mol LNG


111
= = = 0,582
190,6
1
= = = 0,022
45,99


= =

Nilai r didapatkan dari Grafik 3.17 Generalized Density Correlation for Liquid di buku
Introduction of Chemical Engineering Thermodynamics 6th Edition oleh J.M. Smith, H. C
Van Ness, M. M. Abbott. Nilai r untuk Tr = 0,582 dan Pr = 0,022 adalah sekitar 2,75.

10
Gambar 6. Generalized Density Correlation for Liquid
3
98,6 3
= = = 35,854
2,75
Jumlah mol zat didapatkan dengan membagi volume kapasitas kapal dengan volume molar
yang didapatkan dari hasil perhitungan.
2500 106 3
= = 3
35, 854

= 6,97 107

Mencari jumlah mol CNG


298
= = = 1,563
190,6
125
= = = 2,718
45,99

Nilai Z0 dapat dicari dengean tabel hasil Z0 pada appendix E di buku Introduction of
Chemical Engineering Thermodynamics 6th Edition oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M.
Abbott, atau dengan menggunakan metode savidge Compressibility of Natural Gas.
Dengan menggunakan grafik dibawah ini

10
Gambar 7. Methane Compressibility Factor untuk rentang tekanan rendah hingga menengah
Dari grafik diatas didapatkan nilai Z sebesar 0,85.

= =

3 .
(0,85) (83,14 ) (298 ) 3
.
= = = 168,48
125
Jumlah mol zat didapatkan dengan membagi volume kapasitas kapal dengan volume molar
yang didapatkan dari hasil perhitungan.
2500 106 3
= = 3
168,48

= 1,48 107
Perbandingan dengan korelasi umum Z oleh Pitzer

Dalam kasus ini, hanya CNG yang memiliki nilai Z. Maka dari itu nilai Z yang
dibandingkan adalah nilai Z dari hasil perhitungan CNG

Persamaan korelasi umum Pitzer


= 0 + 1
Pada persamaan tersebut, Pitzer menambahkan faktor asentrik dan nilai Z1 untuk menambah
keakuratan hasil Z yang didapatkan. Nilai Z1 dapat dicari dengean tabel hasil Z1 pada
appendix E di buku Introduction of Chemical Engineering Thermodynamics 6th Edition
oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M. Abbott dengan menginterpolasi nilai Tr dan Pr. Dari
hasil interpolasi tersebut didapatkanlah nilai Z1 = 0,222.

10
= 0 + 1 = 0,832 + (0,012)(0,222) = 0,835

Volume molar CNG dengan Z hasil korelasi Pitzer


3 .
(0,835) (83,14 ) (298 ) 3
.
= = = 165,5
125
Jumlah mol zat didapatkan dengan membagi volume kapasitas kapal dengan volume molar
yang didapatkan dari hasil perhitungan.
2500 106 3
= = 3
165,5

= 1,51 107
Perbedaan antara menggunakan metode Savidge dengan menggunakan korelasi Pitzer
1,51 107 1,48 107
| |=| | = 0,02 %
1,51 107
Perbedaannya tidak lebih dari 1%, sehingga korelasi Pitzer dengan faktor asentrik sering
kali diabaikan penggunaannya.
Perbandingan jumlah mol LNG dan CNG
6,97 107 > 1,48 107
>

Terlihat dari hasil perbandingan mol, gas alam yang diangkut dalam bentuk LNG
membawa lebih banyak gas alam daripada bentuk CNG dalam kapasitas volume kapal yang
sama. Maka dapat disimpulkan bentuk LNG lebih efektif untuk diangkut dan membawa
lebih banyak gas alam daripada CNG.
Perbedaan antara persamaan 2 parameter dan persamaan 3 parameter yaitu bila
menggunakan persamaan dengan 2 parameter maka variabel yang digunakan untuk mencari
nilai Z adalah Z0 saja yaitu Z = Z0 dan nilai Z0 didapatkan dari tabel appendix dengan
terlebih dahulu menghitung nilai Pr dan Tr. Sehingga, Z menjadi fungsi dari Tr dan Pr saja.
Kemudian dalam tabel appendix mencari nilai hubungan antara Tr dan Pr sehingga
menghasilkan nilai Z0 sedangkan persamaan 3 parameter tidak saja hanya menggunakan Z0
namun juga Z1 yaitu dengan menggunakan perhitungan dengan faktor aksentrik, dimana Z =
Z0+Z1. Sehingga, nilai Z yang didapatkan dengan menggunakan persamaan 3 parameter
akan lebih teliti.
Teori persamaan keadaan dengan 2 parameter digunakan untuk semua fluida
sederhana. Jika diperbandingkan pada Tr dan Pr yang sama akan memiliki faktor
10
kompresibiltas (Z) yang hampir sama dan semua penyimpangan dari perilaku gas ideal juga
hampir sama. Itu benar untuk fluida sederhana (Ar, Kr, Xe) tetapi untuk fuida yang lebih
kompleks, ada penyimpangan sistematik, sehingga Pitzer mengusulkan adanya parameter ke
3, yaitu faktor aksentrik sehingga pada persamaan keadaan pada 3 parameter merupakan
fungsi dari Tr, Pr dan .
Faktor asentrik merupakan faktor yang dibuat untuk menggambarkan besar
penyimpangan suatu fluida dengan fluida yang sederhana (seperti argon, kripton, xenon).
Faktor ini dibuat karena teorema dua parameter hanya bisa berlaku akurat pada fluida
sederhana. Maka dari itu, perlu dikembangkan parameter ketiga yang mencakup
karakteristik dari struktur molekul fluida tersebut, yaitu berupa faktor asentrik. Nilai faktor
asentrik dicari dengan melihat perbedaan tekanan uap tereduksi dari suatu fluida kompleks
dengan fluida sederhana pada temperatur tereduksi (Tr) = 0,7, yaitu temperatur yang selalu
dilewati oleh kurva fluida sederhana.
= 1,0 log( ) =0,7
Rumus tersebut membuta nilai = 0 untuk fluida argon, krypton, dan xenon, sehingga
menjadi parameter tetap untuk faktor asentrik.

Soal kesembilan
You want to know whether the following gases could be considered as ideal gasses: (a)
steam at 60 bar and 200, (b) air at 1 bar and 25, (c) n-butane at 10 atm and 400 K.
What could you do without doing any experiments in lab? Define ideal gas condition
using your own words!
Jawaban:
Steam at 60 bar and 200
473
= = = 0,731
647,1
60
= = = 0,272
220,55
Lalu kita mencari nilai Z0 dan Z1 dari Appendix E di buku Introduction of Chemical
Engineering Thermodynamics 6th Edition oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M. Abbott
dengan menginterpolasi nilai Tr dan Pr. Dari hasil interpolasi tersebut didapatkanlah nilai Z0
= 0,046 dan Z1 = -0,0196.
Lalu dengan faktor aksentrik () yang diperoleh dari Appendix B.1 senilai 0,345 kita
substitusi ke dalam persamaan Pitzer (3.54 hal. 100 dalam buku thermodinamics Van Ness
edisi ke-6)
10
= 0 + 1

= 0,046 + (0,345)(0,0196) = 0,046 0,00676

= 0,0393

Nilai z jauh dari 1 (tidak mendekati 1) sehingga gas ini tidak dapat dikatakan ideal.

Air at 1 bar and 25

298
= = = 2,254
132,2
1
= = = 0,0267
37,45
Lalu kita mencari nilai Z0 dan Z1 dari Appendix E di buku Introduction of Chemical
Engineering Thermodynamics 6th Edition oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M. Abbott
dengan menginterpolasi nilai Tr dan Pr. Dari hasil interpolasi tersebut didapatkanlah nilai Z0
= 0,999 dan Z1 = 0,002.
Lalu dengan faktor aksentrik () yang diperoleh dari Appendix B.1 senilai 0,035 kita
substitusi ke dalam persamaan Pitzer (3.54 hal. 100 dalam buku thermodinamics Van Ness
edisi ke-6)

= 0 + 1

= 0,999 + (0,035)(0,002)

= 0,999

Nilai z mendekati 1, maka udara pada suhu 25 dan 1 bar dapat dikatakan sebagai gas ideal

n-butane at 10 atm and 400 K

400
= = = 0,94095
425,1

10,1325
= = = 0,26693
37,96

Lalu kita mencari nilai Z0 dan Z1 dari Appendix E di buku Introduction of Chemical
Engineering Thermodynamics 6th Edition oleh J.M. Smith, H. C Van Ness, M. M. Abbott

10
dengan menginterpolasi nilai Tr dan Pr. Dari hasil interpolasi tersebut didapatkanlah nilai Z0
= 0,881 dan Z1 = -0,0417
Lalu dengan faktor aksentrik () yang diperoleh dari Appendix B.1 senilai 0,2 kita
substitusi ke dalam persamaan Pitzer (3.54 hal. 100 dalam buku thermodinamics Van Ness
edisi ke-6)

= 0 + 1

= 0,881 + (0,2)(0,0417) = 0,881 0,008

= 0,873

Nilai z mendekati 1, maka n-butana pada suhu 400 K dan 10 atm dapat dikatakan sebagai
gas ideal

Gas ideal ditandai dengan tekanannya mendekati nol. Semakin kecil tekanan maka
semakin kecil gaya antar molekul yang terjadi karena molekul-molekul gas tidak
bertumbukan. Untuk gas ideal, gaya antar molekul dianggap tidak ada.

Energi dalam yang merupakan fungsi suhu dan tekanan,untuk kondisi gas ideal
energi dalam hanya merupakan fungsi suhu. Penyimpangan-penyimpangan perilaku gas
nyata terhadap gas ideal memunculkan faktor kompressibel dan faktor aksentrik, untuk gas
ideal Z = 1. Semakin ideal suatu gas, nilai z akan semakin mendekati 1. Sedangkan faktor
aksentrik dijelaskan dengan penyimpangan slope pada grafik yang berbanding lurus dengan
penyimpangan perilaku gas nyata.

Jika tidak dapat melakukan eksperimen kita dapat menghitung faktor kompressi
suatu gas dengan Pitzer correlation dan menggunakan tabel data gas tersebut untuk
mengetahui sifat atau variabel yang dibutuhkan. Untuk kasus-kasus diatas kita dapat
menghitung z dengan interpolasi yaitu interpolasi liner dan interpolasi linier ganda.

Soal Kesepuluh
Kara asked Kemi to study phase diagram of a substance other than water. Find out the reasons
why dry ice (solid CO2) is used to keep ice cream stays cold and not melt? Use the following p-T
diagram of CO2.

10
Gambar 8. PT Diagram CO2
(Sumber: Pemicu 1 Termodinamika)

Jawaban:

Berdasarkan diagram fasa dari CO2 diatas, CO2 umumnya berupa fasa gas pada kondisi
normal ruangan (sekitar 1 bar dan 300 K). CO2 berubah fasa menjadi solid pada tekanan 1 bar
dengan menurunkan temperatur hingga dibawah 200 K. Itulah sebabnya, pada tekanan 1 bar ice
cream tidak mencair ketika didinginkan dengan CO2, tetapi pada temperatur tertentu CO2 akan
berubaha fasa dari solid menjadi gas (menyublim).

Perubahan fasa CO2 menjadi liquid dapat terjadi ketika mencapai triple point seperti yang
ditunjukkan pada diagram fasa di atas. Liquid tidak akan terbentuk di bawah triple point, tetapi solid
menyublim langsung menjadi gas tanpa pembentukan liquid. Triple point dari suatu zat adalah nilai
dari temperatur dan tekanan yang memungkinkan fasa solid, liquid dan gas berada pada
kesetimbangan. Pada triple point, sublime, melting dan boiling terjadi secara simultan. Pada diagram
fasa, triple point adalah ketika garis ekuilibrium solid-liquid, liquid-gas, dan solid-gas saling
berpotongan. Berdasarkan triple point tersebut, CO2 dapat berupa fasa liquid pada temperatur sekitar
220 K dengan cara menaikkan tekanan dari CO2 (lebih dari 7 bar). Kondisi tersebut tidak dapat
terjadi pada keadaan normal.

10
DAFTAR PUSTAKA

Himmelblau, David Mautner. 1996. Basic Principles and Calculations in Chemical


Engineering 3th ed. New Jersey : Prentice Hall PTR.
Moran, Michael J., Howard N. Shapiro. 2010. Fundamentals of Engineering Thermodynamics
3th ed. Asia : John Wiley & Sons Pte Ltd.
Smith, J.M.,H.C.van Ness, and Abbott, M.M., "Introduction to Chemical Engineering
Thermodynamics", 5th ed., McGraw-Hill, 1996.
Anonim. 2012. Boiling an Egg dalam http://newton.ex.ac.uk (Diakses 14 Februari 2017, pukul
00.57)
Anonim. 2012. Penerapan Proses Isobarik, Isotermal, Isokorik, dan Adiabatis dalam
http://budisma.web.id. (Diakses 18 Februari 2017, pukul 01.15)
Anonim. 2012. Waters Triple Point dalam http://www.sv.vt.edu. (Diakses 12 Februari 2017,
pukul 02.20)
Nurpialawati, Ira. 2014. Kesetimbangan Fasa. [ONLINE] Available at
https://www.academia.edu/6968441/kesetimbangan_fasa diakses pada 12 Februari 2017
https://thekicker96.wordpress.com/kesetimbangan-fasa/

Unknown. Pengertian Menurut para Ahli. [ONLINE] Available at


http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-intensif-dan-ekstensif/ diakses pada 12
Februari 2017

Abbot, M.M., Smith, J.M., Van Ness, H.C.. 2001. Introduction To Chemical Engineering
Thermodynamics Sixth Edition in SI Units. McGraw-Hill Education (Asia). Singapore.

Moran, M.J. et al. 2011. Fundamentals of Engineering Thermodynamics Seventh Edition. John
Wiley & Sons, Inc.. United States of America.

25
26