Anda di halaman 1dari 18

Analisis Kualitatif dan Kuantitatif Bahan Baku Amoxicillin

Maura Syafa Islami

260110150163

Jurusan Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Jatinangor,


Sumedang

Abstrak

Telah dilakukan analisis terhadap bahan baku Amoxicillin secara kualitatif dan
kuantitatif. Uji kualitatif yang dilakukan meliputi uji organoleptik, reaksi
pembakaran, uji warna, serta uji kelarutan. Pada pengujian kuantitatif dengan
metode iodometri, diketahui kadar bahan baku Amoxicillin rata-rata adalah
5,2067% (5,9762% terhadap anhidrat), yang di mana hasil tersebut tidak sesuai
dengan standar bahan baku Amoxicillin dalam Farmakope Indonesia.

Kata kunci: Amoxicillin, iodometri, reaksi warna, reaksi pembakaran, uji


kelarutan, uji organoleptik

Qualitative and Quantitative Analysis of Raw Materials


Amoxicillin

Abstract

Qualitative and quantitative analysis of Amoxicillin raw material have been done.
The qualitative tests were organoleptic tests, combustion reaction, color test, and
solubility test. In quantitative analysis by using iodometric method, average
concentration of Amoxicillin raw material was 5.2067% (5.9762% as anhydrous).
on the anhydrous substance.

Keyword: Amoxicillin, iodometric, color test, combustion reaction, solubility


test, organoleptic test
PENDAHULUAN Banyak dan tipe degradasi
produk dari beta-laktam ditentukan
Amoxicillin merupakan
(antibiotik) sering kali bergantung
antibiotik berspektrum luas dan
pada beberapa faktor yang berbeda
merupakan turunan dari Penicillin
(solven, konsentrasi dari substitusi
semi sintetik (Wishart, et.al, 2006).
dan ion hidrogen, suhu, dll), yang
Obat ini merupakan drug of choice di
menyebabkan terpengaruhnya
kelasnya karena dapat dengan mudah
stabilitas beta-laktam di dalam
terabsorbsi pada saluran pencernaan
larutan (Cielecka, et.al, 2013).
dan stabil di dalam suasana lambung
(Siswandono, 2000). Amoxicillin Salah satu metode tercepat dan
dapat berpenetrasi lebih jauh termudah untuk pengukuran
daripada Ampicillin dan golongan integritas cincin beta laktam dari
Penicillin lainnya terhadap dinding kelompok antibiotik ini adalah
sel dan lebih efektif melawan bakteri berdasarkan reduksi iodin oleh
gram negatif (Florey, 1978). substrat yang terhidrolisis (Salois,
et.al, 2015). Reduksi didefinisikan
Amoxicillin berbentuk serbuk
sebagai proses penerimaan elektron,
hablur, putih, praktis tidak berbau;
sedangkan oksidasi merupakan
sukar larut dalam air dan metanol.
proses pelepasan elektron (Sunarya,
Mengandung tidak kurang dari 900
2012).
g dan tidak lebih dari 1050 g per
mg, C16H19N3O5S.3H2O, dihitung Adapun prinsip-prinsip untuk
terhadap zat anhidrat (Depkes RI, melakukan analisis kualtatif
1995). Amoxicillin adalah (1) Kompleksasi,
ialah proses pembentukan kompleks
Mengetahui kadar antibiotik pada
yang biasanya terjadi antara logam
suatu sediaan termasuk dalam faktor-
dengan ligan (Gaillard, 2017); (2)
faktor yang harus dipertimbangkan
Fluoresensi yaitu suatu bentuk dari
pada penggunaan antibiotik (BPOM
fotoluminesensi, seperti fotoresensi
RI, 2011).
(Day dan Underwood, 2002); (3)
Like dissolve like, di mana senyawa Uji organoleptik dilakukan
polar akan terlarut pada senyawa dengan mengamati bentuk, bau
polar lain, namun tidak terlalu baik warna, dan rasa dari Amoxicillin
di senyawa non polar, begitu pun kemudian hasil tersebut
sebaliknya (Smith, 2016). dibandingkan dengan pemerian pada
Farmakope.
Uji warna yang dilakukan
METODE meliputi uji warna dengan FeCl3 3%
dan dengan H2SO4 yang
a. Alat
difluoresensi. Pertama, Amoxicillin
Alat yang digunakan dalam diletakkan ke atas plat tetes
praktikum antara lain beaker glass, secukupnya, kemudian diteteskan
buret, erlenmeyer, gelas ukur, kertas larutan FeCl3 3% dan diamati
saring, neraca analitik, perkamen, perubahan warna yang terjadi.
pipet, plat tetes, spatel, dan spirtus. Sedangkan untuk uji warna dengan

b. Bahan menggunakan asam sulfat, plat tetes


difluoresensi dengan sinar ultraviolet
Bahan-bahan yang digunakan
setelah ditetesi dengan reagen
adalah Amoxicillin, aquades, amilum
tersebut. Adapun perubahan warna
1%, iodin 0,1N, kalium dikromat
positif pada FeCl3 adalah biru, hijau,
(K2Cr2O7) 0,1N, natrium hidroksida
merah, ungu tua, atau hitam;
(NaOH) 1N, kalium iodida (KI)
sedangkan untuk H2SO4, sampel akan
10%, natrium tiosulfat (Na2S2O3),
berwarna kuning kehijauan di bawah
hidroklorida (HCl) 1N, metanol,
sinar ultraviolet.
FeCl3 3%, asam, dan asam sulfat Reaksi pembakaran
(H2SO4). Amoxicillin dilakukan dengan
memasukkan sedikit sampel
c. Prosedur
Untuk analisis secara Amoxicillin ke dalam tabung reaksi,
kualitatif, dilakukan beberapa kemudian dipanaskan/dibakar
metode seperti organoleptik, uji dengan spirtus. Diamati perubahan
warna, reaksi pembakaran, serta uji bau yang terjadi.
kelarutan.
Uji kelarutan Amoxicillin hingga larutan dalam erlenmeyer
dilakukan dengan melarutkan 100mg berubah warna menjadi putih susu.
sampel dengan 10mL aquades dalam Titrasi dihentikan dan volume
beaker glass yang dimana akan natrium tiosulfat yang digunakan
ditambahkan sedikit demi sedikit dihitung totalnya.
Selain titrasi sampel uji,
hingga sampel larut sepenuhnya.
dilakukan pula titrasi blanko.
Kemudian volume aquades yang
Prosedur untuk titrasi ini adalah 5mL
digunakan untuk melarutkan sampel
larutan Amoxicillin yang sama
Amoxicillin dijumlahkan. Hal yang
(dengan titrasi iodometri)
sama dilakukan juga pada uji dengan
ditambahkan dengan 1mL larutan
metanol.
Kadar Amoxicillin ditentukan iodin 0,1N, kemudian didiamkan
dengan menggunakan titrasi selama 20 menit dalam keadaan
iodometri. Prosedur yang dilakukan terlindung dari cahaya. Larutan
adalah 50mg Amoxicillin dilarutkan tersebut kemudian dititrasi dengan
dengan 100mL aquades kemudian menggunakan baku natrium tiosulfat
5mL larutan tersebut ditambahkan 0,01N hingga coklat tua berubah
1mL NaOH 1N di dalam erlenmeyer. menjadi kuning kehijauan. Amilum
Campuran larutan Amoxicillin dan 1% ditambahkan sebanyak 3 (tiga)
NaOH didiamkan selama 20 menit, tetes hingga sampel berwarna biru
lalu ditambahkan 1mL HCl 1N dn tua dan titrasi dilanjutkan kembali
1mL iodin 0,1N. Larutan uji tersebut hingga larutan berwarna putih susu.
kembali didiamkan selama 20 menit Setelah itu volume natrium tiosulfat
dan terlindung dari cahaya. Sampel dihitung.
Untuk menunjang metode
kemudian dititrasi dengan larutan
titrasi iodometri di atas, maka dibuat
baku natrium tiosulfat 0,01N hingga
beberapa reagen. Larutan NaOH 1N
terjadi perubahan warna coklat tua
dibuat dengan menlarutkan 800mg
menjadi kuning kehijauan. Larutan
pelet NaOH dengan 20mL aquades.
amilum 1% ditambahkan sebanyak 3
Larutan HCl 1N didapatkan dengan
(tiga) tetes hingga larutan menjadi
melarutkan 730mg HCl ke dalam
biru tua. Titrasi dilanjutkan kembali
20mL aquades. Pembuatan larutan
KI 10% dilakukan dengan untuk titrasi. Prosedur yang
melarutkan 10gram kalium iodida dilakukan adalah 10mL larutan
dengan 100mL; dan pembuatan kalium dikromat 0,1N di dalam
larutan iodium 0,1N dilakukan erlenmeyer ditambahkan dengan
dengan melarutkan 12,69gram I2 ke 5mL HCl dan 5mL larutan KI 10%.
dalam larutan KI yang telah dibuat, Larutan campuran tersebut
kemudian diencerkan dngan aquades didiamkan selama 1-2 menit dalam
hingga 1000mL. Larutan kalium keadaan tertutup rapat. Setelah itu,
dikromat 0,1N dibuat dengan dialakukan titrasi dengan
melarutkan padatannya sebanyak menggunakan larutan natrium
0,4908 dengan 100mL aquades. tiosulfat hingga sampel berwarna
Indikator amilum 1% dapat dibuat kuning, kemudian ditambahkan
dengan melarutkan 100mg amilum amilum 1% sebanyak 3 tetes dan
dalam 10mL aquades, kemudian dititrasi hingga sampel berwarna
dipanaskan dan disaring dengan biru. Volume natrium tiosulfat dicatat
kertas saring. dan ditotalkan.
Ada pun natrium tiosulfat
perlu dibakukan sebelum digunakan

HASIL

a. Uji kualitatif

G
N a
o Perlakuan Hasil m
. ba
r
1 Organoleptis
. - Sampel diamati dengan Serbuk
panca indra. berwar
na
putih
kekunin
gan,
berbau
khas,
rasa
pahit.
2 Reaksi Warna
. 1. Reaksi FeCl3
- Sample dimasukkan ke
Saat
dalam plat tetes
ditamba
kemudian diteteskan
hkan
FeCl3.
FeCl3,
2. Reaksi H2SO4
- Sample dimasukkan ke sampel
dalam plat tetes berubah
kemudian diteteskan warna
H2SO4 10%. menjadi
- Dilakukan fluoresensi
hitam.
dengan sinar UV

Saat
ditamba
hkan
H2SO4,
sampel
berubah
warna
menjadi
kuning
dan
berfluor
esensi
dengan
sinar
UV
3 Reaksi Pembakaran
. - Amoksisilin dimasukkan - Sampel di dalam tabung
ke dalam tabung reaksi. reaksi.
- Sampel di bakar di atas - Sampel mengeluarkan
spirtus. bau seperti karet.

4 Uji Kelarutan
. 1. Kelarutan dalam air
- Sebanyak 100 mg
Dibutu
amoksisilin dilarutkan
hkan
dalam aquades.
136 ml
2. Kelarutan dalam
aquades
metanol
- Sebanyak 100 mg (kelarut
amoksisilin dilarutkan an:
dalam metanol. 1gram
dalam
1360m
L)

Dibutu
hkan
180 ml
metanol
(kelarut
an:
1gram
dalam
1800m
L)

b. Uji kuantitatif

G
N a
o Perlakuan Hasil m
. b
ar
1 Pembakuan Natrium
. Tiosulfat
- Dipipet 5 ml kalium - Larutan kalium
dikromat 0,1 N, dikromat dalam
dimasukkan ke dalam erlenmeyer.
erlenmeyer.
- Ditambahkan 2,5 ml
- Suasana menjadi
HCl 1 N.
asam.
- Ditambahkan 2,5 ml KI
10%, didiamkan dan
ditutup.
- Dititrasi secara duplo
dengan natrium tiosulfat - Analit menjadi
hingga menjadi kuning. berwarna kuning
- Ditambahkan indikator
jerami.
amilum.
- Dititrasi lanjut hingga
berwarna biru.
- Analit menjadi
berwarna biru.
- V1 = 5 ml, V2 = 5,2
ml, Vrata-rata = 5,1 ml.
2 Titrasi Iodometri
. - Ditimbang 50 mg - Amoksisilin 0,05 mg
amoksisilin dan dalam 100 ml
dilarutkan dalam 100 aquades.
ml aquades.
- Cincin -laktam
- Dipipet 3x5 ml larutan
terhidrolisis.
amoksisilin dan
ditambahkan 3x1 ml
NaOH, lalu didiamkan
selama 20 menit.
- Ditambahkan 3x1 ml - Suasana menjadi
HCl 1 N dan 3x1 ml asam dan terjadi
iodin 0,1 N, lalu reaksi redoks.
didiamkan selama 20
menit dalam keadaan
- Warna analit menjadi
terlindung dari cahaya.
- Dititrasi dengan natrium kuning jerami.
- Totolan berwarna
tiosulfat 0,1 N.
- Analit ditotolkan pada biru/ungu.
amilum yang sudah - Analit menjadi
berada di plat tetes. bening.
- Titrasi dilanjutkan - V1 = 0,4 ml, V2 = 0,6
hingga analit bening. ml, V3 = 0,6 ml.
- Dihitung kadar Vrata-rata = 0,53 ml
amoksisilin.
3 Tirtasi Blanko
. - Dipipet 3x5 ml larutan - Tidak terjadi reaksi
amoksisilin yang sudah apapun.
dibuat, ditambahkan
3x1 ml larutan iodin 0,1
N lalu didiamkan
selama 20 menit dengan
kondisi terlindung dari
cahaya. - Analit berwarna
- Dititrasi dengan natrium
kuning jerami.
tiosulfat 0,1. - Totolan berwarna
- Analit ditotolkan ke
biru/ungu.
amilum yang sudah
berada di plat tetes.
- Analit menjadi
- Titrasi dilanjutkan
bening.
hingga analit menjadi
bening - V1 = 1,5 ml, V2 = 0,7
- Dihitung kadar
ml, V3 = 0,5 ml
amoksisilin.
Vrata-rata = 0,9 ml

Pembuatan Reagen

G
N a
o Perlakuan Hasil m
. b
ar
1 NaOH
. - Ditimbang 800 mg Larutan
NaOH. reagen
- Dilarutkan ke dalam 20
NaOH
ml aquades.
2 HCl
. - Ditimbang 730 mg HCl. Larutan
- Dilarutkan ke dalam 20
reagen
ml aquades.
HCl
3 KI 10%
. - Ditimbang 10 g kalium Larutan
iodida. reagen
- Dilarutkan dalam 100 ml
KI 10%
aquades, diaduk hingga
homogen.
4 Larutan Iodium 0,1 N
. - Ditimbang 12,69 g I2. Larutan
- Dilarutkan dalam KI
reagen
yang telah dibuat.
I 0,1 N
- Diencerkan dengan 2
aquades hingga 1000 ml.
5 Kalium dikromat 0,1 N
. - Ditimbang 0,49 g kalium Larutan
dikromat kering. reagen
- Dilarutkan dalam 100 ml
kalium
aquades dalam labu ukur
dikrom
100 ml, dikocok hingga
at 0,1 N
homogen.
6 Amilum 1%
. - Ditimbang 100 mg Larutan
amilum. reagen
- Dilarutkan dalam 10 ml
amilum
aquades.
1%
- Larutan dipanaskan
diatas penangas air.
c. Perhitungan
Pembakuan Natrium Tiosulfat
Na2S2O3 = K2Cr2O3
V1 . N1 = V2 . N2
5,1 . N1 = 0,1 . 5
N1 = 0,5/5,1
= 0,098 N = 4,26 %
%kadarIII =((0,9-
Kadar Amoksisilin 0,6)790,098)/54,5100%
% kadar I = ((0,9- = 4,26 %
0,4)790,098)/54,5100% % kadar rata-rata =
= 7,1 % (7,1+4,26+4,26)/3
%kadarII = ((0,9- = 5,2 %
0,6)790,098)/54,5100%

PEMBAHASAN Farmakope Indonesia, di mana


sampel yang diuji berupa serbuk
Telah dilakukan analisis
berwarna kuning sedangkan
terhadap bahan baku Amoxicillin
seharusnya adalah berwarna
secara kualitatif dan kuantitatif.
putih. Hal ini mungkin saja
Pengujian secara kualitatif terjadi karena bahan baku sudah
dimaksudkan untuk memastikan terkontaminasi atau sudah
identitas bahan baku, dilihat dari disimpan terlalu lama, sehingga
kesesuaian sampel uji dengan terjadi degradasi pada struktur
monografi dalam farmakope dan kimianya.
karakteristik lainnya dalam
Pembakaran Amoxicillin
literatur lain. Sedangkan uji
menghasilkan bau seperti karet
kuantitatif umumnya bertujuan
terbakar yang sangat kuat, hal ini
untuk mengetahui kadar persen
mungkin terjadi karena
analit di dalam cuplikan.
Amoxicillin melepas senyawa-
Uji kualitatif yang dilakukan senyawa gas yang terdiri dari
adalah uji organoleptik, reaksi atom karbon, nitrogen, dan
warna, reaksi pembakaran, serta hidrogen yang menimbulkan bau
uji kelarutan. khas tersebut.

Pada uji organoleptik terdapat Amoxicillin dapat bereaksi


perbedaan antara warna sampel menghasilkan warna kehitaman
dengan yang tertera di dengan reagen FeCl3 dikarenakan
reagen ini dapat mendeteksi sukar larut (1000-10000 bagian),
adanya gugus hidroksi yang sedangkan kelarutan Amoxicillin
terikat pada inti aromatik, salah yang seharusnya adalah (100-1000
satunya gugus fenol yang bagian atau sukar larut). Hal ini
terdapat dalam Amoxicillin. dapat terjadi akibat banyaknya
Reaksi FeCl3 dengan gugus fenol kontaminan atau pengotor di dalam
umumnya menghasilkan warna sampel yang dapat menurunkan
merah intens, biru, ungu, atau kelarutan.
hijau karena terbentuknya
Uji kuantitatif Amoxicillin
kompleks fenol degan ion Fe.
dilakukan dengan metode titrasi
iodometri, yang didasari oleh prinsip
reduksi oksidasi. Menurut Gandjar
dan Rohman (2012), titrasi iodometri
atau titrasi tidak langsung dilakukan
ketika senyawa sampel memiliki
Gambar 1. Struktur Amoxicillin potensial oksidasi yang lebih besar
dari sistem iodium-iodida atau
senyawa-senyawa yang bersifat
oksidator. Sehingga pada iodometri,

Gambar 2. Reaksi Fenol dengan ion Fe sampel yang bersifat oksidator akan
direduksi dengan kalium iodida
Dibutuhkan 136mL aquades
berlebih dan akan menghasilkan
untuk melarutkan secara sempurna
iodium yang selanjutnya dititrasi
100mg sampel Amoxicillin dan
dengan natrium tiosulfat sebagai
180mL metanol. Jika dikonversikan
titran. Banyaknya volume natrium
ke dalam 1gram/mL, maka diketahui
tiosulfat yang digunakan sebagai
kelarutan sampel adalah 1g/1360mL
titran setara dengan banyaknya
dalam aquades dan 1g/1800mL
iodium yang dihasilkan dan setara
dalam metanol. Dalam rentang
dengan banyaknya sampel.
kelarutan Farmakope Indonesia,
sampel berati memiliki sifat sangat
Sampel dengan cincin beta- bisa didapat dengan mudah dan
laktam yang utuh tidak dapat tersedia di laboratorium.
bereaksi dengan iodium. Senyawa
Larutan sampel kemudian
basa (OH-) dapat menghidrolisis
didiamkan beberapa saat agar dapat
cincin beta laktam sehingga terbuka
terhidrolisis sempurna. Penambahan
dan menghasilkan asam penisiloat.
HCl dilakukan setelahnya untuk
Pada praktikum kali ini senyawa
menetralkan kembali suasana basa
yang digunakan adalah NaOH karena
yang terbentuk dengan penambahan
NaOH tadi.

G
ambar 4. Reaksi antara beta-laktam dengan
iodium
Gambar 3. Reaksi hidrolisis cincin beta-
Ketika semua I2 sudah
laktam
bereaksi dengan Amoxicillin, maka
Menurut Salois (2015), setiap larutan yang memiliki I2 berlebih
satu mol cincin beta-laktam yang akan bereaksi dengan natrium
terbuka akan bereaksi dengan 8 tiosulfat sesuai dengan reaksi:
ekuivalen iodium seperti gambar di
2S2O32- + I2 S4O62- + I-
bawah:
(Gandjar dan Rohman, 2012).

Sehingga untuk mengetahui jumlah


iodium yang bereaksi dengan analit
diperlukan titrasi blanko. Selisih
volume larutan baku tiosulfat blanko
dengan volume tiosulfat awal setara dikonversikan sebagai anhidrat
dengan jumlah iodium yang bereaksi adalah 5,9762% (Mr Amoxicillin
dengan Amoxicillin. anhidrat/ Mr Amoxicillin x persen
hasil). Hasil ini cukup jauh dari hasil
Selanjutnya, perubahan
yang seharusnya, yaitu 900 g dan
warna biru terjadi dengan
tidak lebih dari 1050 g per mg,
penambahan amilum sebanyak 3
Amoxicillin, dihitung terhadap zat
tetes. Amilum 1% merupakan
anhidrat, atau sekitar 90-105%. Hal
indikator yang digunakan untuk
ini dapat terjadi karena adanya
menentukan titik akhir titrasi pada
pengotor di dalam bahan baku (dapat
titrasi iodometri. Hal ini disebabkan
dikorelasikan dengan kelarutannya
iodium dapat mengubah bentuk
yang menurun saat pengujian),
rantai molekul amilosa pada amilum
ataupun terdegradasinya bahan baku
yang pada mulanya terdiri dari
tersebut akibat masa penyimpanan
untaian tunggal molekul glukosa,
yang terlalu lama.
menjadi beta-amilosa dan
menyebabkan iodine terjebak di
antara kumparan amilosa kemudian
KESIMPULAN
menghasilkan transfer muatan antara
iodine dengan amilum. Akibatnya, Analisis kualitatif dan

terjadi perubahan susunan elektron kuantitatif bahan baku Amoxicillin

dan jarak tingkat energi. Perubahan dapat dilakukan. Dari hasil

ini dapat menyerap sinar tampak percobaan, sampel memiliki bentuk

yang berbeda sehingga menghasilkan serbuk, berwarna kekuningan, berbau

warna biru tua. Amilum yang khas dan sedikit pahit. Uji warna

digunakan sebagai indikator harus dengan FeCl3 menghasilkan warna

dibuat segar karena amilum mudah kehitaman, dan dengan H2SO4 di

terurai oleh bakteri. bawah sinar UV menghasilkan


fluoresensi kuning kehijauan. Reaksi
Hasil konsentrasi Amoxicillin
pembakaran memberikan bau khas
yang didapat dari titrasi tersebut
Amoxicillin, yaitu seperti karet
adalah 5,2067%, atau jika
terbakar, serta pada uji kelarutan
menunjukkan hasil bahan baku
bersifat sangat sukar larut (1000-
10000 bagian) dalam air dan
metanol. Uji kualitatif dengan
metode titrasi iodometri atau titrasi
tidak langsung, memberikan hasil
5,2067% terhadap kadar Amoxicillin
sampel.
DAFTAR PUSTAKA Gandjar, I.G., dan A. Rohman. 2012.
Kimia Farmasi Analisis.
Cielecka-Piontek, J., Paczkowska,
Yogyakarta: Pustaka Pelajar
M., Lewandowska, K.,
Barszcz, B., Zalewski, P. and Salois, A., I. Perez, E. Palma, E.
Garbacki, P. (2013) SolidState Goolish, Y. Griko. 2015.
Stability Study of Meropenem- Evaluation of the Chemical
Solutions Based on Integrity of Beta-Lactam
Spectrophotometric Analysis. Antibiotics by Iodine-Based
Chemistry Central Journal, 7, Assay. Journal od biosciences
98. and Medicines, 91-99.

Day, R. A., dan A. L. Underwood. Siswandono. 2000. Kimia Medisinal.


2002. Analisis Kimia Surabaya: UNAIR Press.
Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Smith, M. B. 2016. Organic
Depkes RI. 2014. Farmakope Chemistry: An Acid-Base
Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Approach. 2nd Ed. US. CRC
Depkes RI Press

Depkes RI. 2014. Farmakope Sunarya, Y. Kimia Dasar 2.


Indonesia. Edisi V. Jakarta: Bandung: Yrama Widya
Depkes RI
Wishart, D. S., et.a.. 2006. Drug
Florey, K. 1978. Analytical Profile of Bank: A Comprehensive
Drugs Substances. Vol 7. Resource for in Silico Drug
California: Academic Press. Discovery and Exploration.
Database issue: D668-
Gaillard, J. F. 2017. Complexation
72.16381955.
Reactions. Tersedia online di
http://www.civil.northwestern.e
du/EHE/COURSES/CE-
367/Chapters/Chap5.pdf
[diakses pada]