Anda di halaman 1dari 4

Obesitas dan Risko Terhadap Melanoma Malignant dan

Kanker Kulit Non-Melanoma : Hasil Studi Kohort Prospektif


pada Populasi Denmark

J
umlah penderita obesitas di negara barat meningkat drastis dalam beberapa
dekade terakhir dan merupakan faktor risiko untuk beberapa jenis kanker
(World Cancer Research Fund, 2007; Lahmann et al., 2010). Namun, belum
ada cukup bukti yang dapat ditegaskan sehubungan dengan obesitas dan
melanoma maligna (MM) dan non-melanoma skin cancer (NMSC). Baru-baru ini, hasil
dari studi meta-analisis besar menunjukkan bahwa pria dengan indeks massa tubuh
(BMI) yang tinggi memiliki risiko tinggi terhadap MM, sedangkan pada wanita tidak
ditemukan adanya hubungan antara BMI dan risiko terhadap MM (Sergentanis et al.,
2013). Beberapa studi telah membahas hubungan antara BMI dan risiko NMSC dan
hasilnya bertentangan (Gerstenblith et al, 2012.; Nagel et al, 2012.; Pothiawala et al.,
2012). Namun pada sebagian besar penelitian hanya menggunakan BMI sebagai alat
ukur untuk obesitas, meskipun sekarang ini lingkar pinggul (HC) juga dapat digunakan
sebagai alat ukur, lingkar pinggang (WC), dan pinggang: hip ratio (WHR) lebih akurat
mencerminkan distribusi lemak tubuh seseorang (Pischon et al., 2008).
Di sini kami menunjukkan hubungan antara obesitas, diukur dengan
menggunakan BMI, WC, HC, dan WHR, dan risiko terhadap MM dan NMSC, dengan
menggunakan data dari Prospective Danish Diet, Cancer, and Health Cohort dengan
peserta sebanyak 57.053 sepanjang tahun 1993-1997. Sebuah penjelasan lebih rinci
tentang kohort telah disediakan di tempat lain (Tjonneland et al., 2007). Pada saat awal
penelitian, yaitu pada informasi awal tentang langkah-langkah antropometrik dilakukan
oleh tenaga kesehatan profesional terlatih yang mengukur tinggi badan, berat, WC, dan
HC sesuai dengan prosedur standar (Rinaldi et al., 2012). Informasi pada responden
potensial yang diperoleh dari kuesioner, termasuk reaksi kulit terhadap sinar matahari
dan sejumlah freckle dan tahi lalat pada lengan, sedangkan informasi mengenai status
vital dan migrasi diperoleh dari Central Population Register. Kasus MM yang
terdiagnosis pada kohort selama masa studi diidentifikasi dengan bekerjasama dengan
Danish Cancer Registry, sedangkan semua kasus NMSC diidentifikasi melalui
kerjasama dengan Database NMSC (Birch-Johansen et al., 2010), yang berisi semua
kasus insidensi karsinoma sel basal (BCC) dan karsinoma sel skuamosa (SCC) yang
didiagnosis di Denmark dan terdaftar baik dalam Danish Cancer Registry atau dalam
Danish Registry of Pathology. Insiden kanker kulit dari Danish Cancer Registry
diklasifikasikan menurut International Classification of Diseases, edisi 10 (ICD-10),
kode C43 (MM) dan C44 (NMSC) dan International Classification of Diseases
Oncology 3rd edition (ICD-O-3), sebagai (Kode morfologi M-872-879) MM, BCC (M-
809), atau SCC (M-807). Data pada kasus NMSC yang tercatat pada Danish Registry
of Pathology diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Danish SNOMED kode topografi
T01 dan T02 dan Kode morfologi yang relevan baik sebagai BCC (M-809) atau SCC
(M-807). Dari kedua register, hanya kanker invasif yang dimasukkan dalam klasifikasi
(kode morfologi dengan '3' sebagai digit terakhir). Setiap kelompok anggota cohort
diikuti dari tanggal entri kohort sampai didapatkan diagnosis MM, BCC dan/atau SCC,
tanggal kematian/emigrasi, atau akhir tindak lanjut pada tanggal 31 Desember 2010.
Dalam model hazard proporsional Cox, kami meneliti hubungan antara berbagai
pengukuran antropometrik dan jenis kelamin pada MM, BCC, dan SCC. Kami
menggunakan usia sebagai sumbu waktu yang mendasari untuk memastikan bahwa
semua analisis didasarkan pada perbandingan anggota kohort pada usia yang sama.
Waktu yang digunakan selama penelitian termasuk sebagai variabel time dependent dan
dimodelkan dengan menggunakan linear spline. Confidence Interval (CI) dua sisi
(95%) yang digunakan untuk memperkirakan rasio hazard (HR) dihitung dengan uji
Wald parameter regresi Cox.
Dari kesemuanya, 26.685 pria dan 29.243 wanita memenuhi syarat untuk
dilakukan analisis. Sebanyak 357 anggota kelompok mendapatkan diagnosis MM, 3465
terdiagnosis BCC, dan 341 terdiagnosis SCC dalam jangka waktu tindak lanjut rata-rata
14,4 tahun. Tabel 1 menunjukkan distribusi menurut kuartil BMI peserta penelitian.
Secara umum, pria lebih banyak terdiagnosis WC dan WHR dibandingkan dengan
perempuan, sedangkan perempuan memiliki HC yang lebih tinggi dibandingkan dengan
laki-laki.
Tidak ada hubungan meyakinkan yang ditemukan antara pengukuran
antropometri dan risiko MM. Wanita dengan BMI dengan kuartil tertinggi memiliki
penurunan risiko untuk BCC 0,67 (95% CI: 0,54-0,82) dibandingkan dengan wanita
dengan BMI di kuartil terendah, sedangkan tidak ada hubungan ditemukan antara BMI
yang lebih tinggi dan risiko untuk BCC pada pria. Pada kelompok perempuan, setiap 2
kg m-2 peningkatan BMI dikaitkan dengan penurunan risiko BCC sebesar 0,90 (95%
CI: 0,86-0,94). Hubungan Inversed linear dengan respon dosis dapat diamati bahwa
terjadi peningkatann WC dan WHR dan risiko BCC di kedua jenis kelamin dan antara
peningkatan HC dan risiko BCC pada wanita, namun tidak pada kelompok laki-laki
(Tabel 2). Tidak ada hubungan antara pengukuran antropometri dan risiko SCC pada
laki-laki. Pada perempuan, WC, HC, dan WHR tidak mempengaruhi risiko terjadinya
SCC, tapi setiap 2 kg/m2 peningkatan BMI dikaitkan dengan penurunan risiko hingga
mencapai 0,80 (95% CI: 0,68-0,94).
Temuan "null" pada MM sesuai dengan hasil dari studi meta-analisis yang
dilakukan oleh Olsen et al. (2008). Hasil dari dua meta-analisis lainnya (Renehan et al.,
2012; Sergentanis et al., 2013), menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko MM
pada laki-laki dengan BMI yang tinggi tetapi hal ini tidak ditemukan pada kelompok
perempuan.
Sejalan dengan hasil pada studi yang kami lakukan, studi-studi sebelumnya juga
mengamati hubungan terbalik antara BMI dan risiko BCC. Pada salah satu studi kohort
terbesar hingga saat ini, Pothiawala et al. (2012) mengamati bahwa kelompok obesitas
dengan BMI > 30 kg /m 2 memiliki risiko 19% lebih rendah untuk BCC dibandingkan
dengan peserta dengan BMI < 25 kg/m 2. Satu-satunya studi terdahulu yang meneliti
hubungan antara pengukuran obesitas selain dengan ukuran BMI dan risiko BCC tidak
ditemukan hubungan yang pasti antara WC dan WHR dan risiko BCC (Olsen et al.,
2006). Dua penelitian kohort sebelumnya menyelidiki hubungan antara BMI dan SCC:
Dengan menyepakati perjanjian dengan studi kami, Pothiawala et al. (2012)
menemukan bahwa peningkatan BMI dikaitkan dengan sebuah penurunan risiko SCC
pada kalangan wanita tapi tidak pada pria, sedangkan Nagel et al. (2012) tidak
menemukan hubungan BMI maupun jenis kelamin terhadap insidensi SCC.
Oleh karena itu, meskipun ditemukan sejumlah fakta tentang mekanisme
biologis yang menghubungkan obesitas dengan risiko kanker (Calle dan Kaaks, 2004),
hasil dari studi kami yang mana sesuai dengan mayoritas penelitian lain,
mengindikasikan hubungan terbalik antara obesitas dan risiko NMSC bahkan setelah
penyesuaian untuk faktor pembaur terkait radiasi UV (UVR) kerentanan individu.
Namun, keterbatasan utama dari studi kami adalah bahwa studi kami tidak dapat
menyesuaikan untuk paparan UVR langsung yang didapat pada setiap individu karena
studi kami tidak memiliki informasi tentang perilaku berjemur maupun penggunaan
tanning bed. Seperti yang telah diajukan bahwa orang obesitas memiliki perilaku
"pencarian UVR" yang berbeda dibandingkan dengan orang kurus (misalnya, orang
obesitas cenderung menghabiskan waktu di luar rumah lebih sedikit dan menghindari
berjemur) (Gerstenblith et al., 2012), hubungan terbalik yang dapat diamati antara
obesitas dan risiko NMSC mungkin sebagian dipengaruhi oleh faktor lain yang tak
terukur oleh paparan UVR.
Beberapa kekuatan dari penelitian ini sangatlah penting. Pertama, sebagian besar
studi sebelumnya hanya melibatkan BMI, sedangkan studi kami membahas hubungan
antara pengukuran antropometri lain dan risiko untuk kanker kulit. Namun, kami tidak
menemukan adanya pola yang mencolok dari hubungan antara pengukuran
antropometri yang berbeda dan risiko kanker kulit, kami juga tidak dapat menarik
kesimpulan pasti tentang apakah obesitas general, perut, atau gluteofemoral adalah
ukuran terbaik untuk menganalisis hubungan potensial kanker kulit. Kelebihan lain dari
penelitian kami adalah bahwa pengukuran antropometri yang diperoleh secara
prospektif oleh tenaga kesehatan profesional menggunakan metode standar, sehingga
dapat meminimalkan kemungkinan bias perbedaan daya ingat. Populasi penelitian
dipilih secara acak dari berbagai macam latar belakang, dan hampir tidak ada "loss"
pada follow up karena terdapat hubungan yang tepat antara studi kohort dan berbagai
register dari Danish Health.
Kesimpulan berdasarkan studi ini adalah hasil dari penelitian kohort berdasarkan
populasi besar menunjukkan tidak adanya hubungan yang meyakinkan antara obesitas
dan risiko MM, sedangkan hubungan terbalik ditemukan pada berbagai pengukuran
antropometri, dan risiko BCC pada kedua jenis kelamin dan untuk SCC hanya kalangan
wanita saja. Diperlukan beberapa studi tambahan dengan data yang lebih akurat
terhadap paparan UVR untuk menyelidiki peran obesitas pada patogenesis kanker kulit.