Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH INSTRUMENTASI MEDIK

ELEKTROTERAPI

Disusun oleh :

Nama : NISA AKMALIA THORI


NIM : 011400392
Jurusan : TKN
Semester : VI
Dosen Pembimbing : Suyatno , M.Eng.

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR


BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Terapi elektrik atau disebut juga dengan elektroterapi merupakan metode terapi suatu
penyakit atau gangguan kesehatan dengan menggunakan sinyal elektrik sebagai sarana
pengobatan. Saat ini elektroterapi sedang berkembang di dalam dunia medis dengan
berkembangnya metode Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS), Microcurrent
Stimulation (MCS), Galvanic stimulation, iontophoresis, electroacupuncture, dan sebagainya.
Penggunaan terapi elektrik dalam pengobatan alternatif sebenarnya sudah berlangsung lama
tetapi tidak berkembang akibat kurangnya penelitian ilmiah. Dalam dunia kedokteran,
mayoritas penggunaan elektroterapi baru sebagai metode terapi pendukung.
Keberadaan metode terapi elektrik saat ini berkembang dengan menggunakan ilmu-
ilmu medis modern yang telah membangun dasar bahwa terdapat medan elektrik yang luas
pada kerja tubuh.
Stimulasi elektrik arus mikro menggunakan impuls elektrik untuk menghilangkan rasa
sakit, mengurangi kejang dan edema, mengeluarkan titik picu (trigger point) otot,
menguatkan otot yang lemah dan membantu proses penyembuhan melalui regenerasi jaringan
lunak. Arus bioelektrik di dalam tubuh biasanya ditemukan dalam rentang mikroampere.
Terapi elektrik arus mikro adalah stimulasi mikroampere pulsa tegangan rendah. Ini
didasarkan pada hipotesis bahwa arus mikroampere lebih dekat kesamaannya dengan arus
bioelektrik yang terjadi secara
alami di dalam tubuh, dan karena itu lebih efektif dalam meningkatkan perbaikan dan
penyembuhan jaringan tubuh. Studi juga menunjukkan bahwa jaringan manusia sembuh lebih
cepat dengan penerapan arus mikro. Hal ini karena sinyal elektrik arus mikro membuat proses
metabolisme dan transport membran sel menjadi lebih efisien.
Lebih jauh saat ini berbagai penelitian sedang mengarah pada pengembangan metode
stimulasi arus mikro untuk mengobati berbagai macam penyakit.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah yang dimaksud dengan electrotherapy
2. Apa saja metode pada elektroterapi
3. Bagaimanakah mekanisme kerja berbagai macam metode elektroterpi
1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui tentang elektroterapi dan manfaatnya
2. Untuk mengetahui mekanisme dari berbagai macam metode elektroterapi
BAB II

ISI

Listrik telah digunakan untuk mengobati rasa sakit selama lebih dari 100 tahun.
Penelitian ilmiah telah membuktikan listrik dapat mengurangi baik nyeri akut dan kronis.

Arus listrik dapat dideskripsikan menurut frekuensinya :

- Arus dengan frekuensi rendah hingga 1000 Hz


- Asrus dengan frekuensi menengah dari 1000 hingga 10000 Hz
- Arus dengan frekuensi tinggi melebihin 10000 Hz
- Setiap pulsa pada modalitas Stimulasi elektrik tersedia pada arus konstan ataupun
tegangan konstan. Hal ini tergantung pada resitansi internal sirkuit dari mesin itu
sendiri. Arus dan tegangan konstan dapat juga digunakan untuk membedakan
perubahan pulsa elektrik dan perubaan dari resitansi eksternal.
- Arus konstan biasanya digunakan pada elektroda fix atau statis, sedangkan tegangan
konstan digunakan ketika salah satu elektroda dipindahkan selama perawatan
(aplikasi dinamik) , untuk mencegah densitas arus dari keadaan tinggi jika area pada
pad dalam kontak dengan jaringan yang akan dikurangi rasa sakitnya.
- Arus searah (DC):
- Aliran arus searah terus menerus dari partikel bermuatan ini dikenal sebagai arus
searah (DC). Arus Galvanic (durasi pulsa> 10ms). Arus Faradic (durasi pulsa
<10ms).
Stimulasi listrik dapat diterapkan untuk tubuh dalam berbagai cara. Ada stimulator
yang ditanamkan dalam tubuh seperti alat pacu jantung, ada stimulator eksternal yang dapat
digunakan untuk menyampaikan arus ke permukaan elektroda implan atau eksternal
transkutan.

Elektroterapi adalah penggunaan energi elektrik sebagai perawatan medik. Dalam


pengobatan, elektroterapi dapat diaplikasikan ke berbagai macam perawatan, termasuk
penggunaan alat elektronik, seperti stimulator otak untuk penyakit neurologi. Elektroterapi
juga dapat digunakan dengan arus untuk mempercepat penyembuhan luka.

Elektroterapi menggunakan sinyal elektrik untuk meninterferensi transmisi sinyal rasa


sakit ke otak. Elektroterapi secara perlahan mengganggu aliran dari saraf ke otak.

Di bidang pengobatan kanker, elektroterapi arus DC menunjukkan kemampuannya


dalam penyembuhan kanker. Ketika sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science
melaporkan kehancuran total tumor di 60% dari subyek, yang sangat penting untuk studi
awal. Pada tahun 1985, jurnal Cancer Research yang dipublikasikan studi tersebut yang
paling luar biasa, melaporkan 98% penyusutan tumor di mata hewan di dirawat dengan
elektroterapi DC hanya lima jam selama lima hari. Mekanisme untuk efektivitas elektroterapi
DC pada pengobatan kanker disarankan dalam artikel yang diterbitkan pada tahun 1997.
Elektron yang tidak berpasangan, menyebabkan radikal bebas yang mengandung aktif-situs
enzim ribonucleotide Reductase, RnR-yang mengontrol langkah tingkat-membatasi dalam
sintesis DNA-dapat dinonaktifkan oleh aliran elektron yang lewat.
Berdasarkan American Physical Therapy Association, berikut ini manfaat elektroterapi secara
modern:

1. Mereduksi rasa sakit

a. Memperluas range dari pergerakan sendi

2. Perawatan disfungsi neuromuscular

a. Meningkatkan kekuatan

b. Meningkatkan kontrol motorik

c. Memperlambat artropi otot


d. Memperlancar aliran darah lokal

3. Mengimporvisasi mobilitas sendi

4. Perbaikan jaringan

a. Menambah mikrosirkulasi dan sintesis protein untuk menyembuhkan luka

b. Meningkatkan aliran darah ke jaringan yang terluka

5. Edema akut dan kronis

a. Mempercepat laju penyerapan

b. Memberikan efek pada permeabilitas jaringan darah

c. Meningkatkan mobilitas dari protein, sel darah merah dan aliran limpa

6. Aliran darah periferal

a. Meniduksi arteri, vena dan aliran limpatik


7. Iontophoresis
8. Pengeringan limpa
a. menstimulasi sistem limpa untuk mengurangi edema.

2.1 METODE ELEKTROTERAPI

1. TRANSCUTANEOUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (TENS)

2. INFERENTIAL CURRENT THERAPY (IFC)

3. MICRO CURRENT ELECTROTHERAPY (MET)


4. PERCUTANEOUS ELECTRICAL NERVE STIMULATION (PENS)
5. FUNCTIONAL ELECTRIC STIMULATION (FES)

Karakteristik umum stimulasi elektroterapi TENS, IFC, dan GS adalah


melakukan stimulasi listrik ke saraf dan otot melalui lapisan perekat yang diletakkan
pada kulit. Perangkat ini didukung oleh baterai, dan beberapa unit yang memiliki
adapter yang memungkinkan powering dari stop kontak.
Efek samping sitmulasi elektrik jarang terjadi, namun iritasi kulit alergi
bawah bantalan perekat dan rasa sakit sementara dari muatan listrik sering dialami.
Mekanisme umum elektroterapi

1.

Dalam sebuah batrei, terdapat muatan positif dan muatan negativ. Jika kedua arus
tersebut saling dihubungkan, maka elektron akan mengalir ke muatan positf
2.

jika hal tersebut diterapkan dalam tubuh manusia, misalnya diterapkan pada tangan,
muatan positif dihubungkan ke tangan menggunakan elektroda positif dan muatan
negatif dihubungkan menggunakan elektroda negativ, sehingga elektron dari elektroda
negative akan menuju ke elektroda positif. Maka elektroda positif akan mengalami
depolarisasi di area tersebut. Jika elektroda diletakkan dengan benar, maka arus
tersebut dapat menggerakkan otot.

Dan berikut ini adalah hal hal yang mempengaruhi elektroterapi


1. Jumlah elektroda
2. Penempatan elektroda
3. Ukuran elektroda
4. Intensitas yang diberikan

1. Jumlah elektroda
Ada 2 jenis konfigurasi dalam hal ini, yaitu bipolar configuration dan quardipolar
configuration.
Pada konfigurasi bipolar, hanya digunakan 2 elektroda, elektroda positif dan
negatif dan diantaranya adalah jaringan yang dituju. Sehingga, elektron bergerak
melalui area yang dituju. Bipolar configuration ini digunakan dalam TENS
Sedangkan konfigurasi quardipolar, menggunakan 4 elektroda dan 2 channel. Dua
channel diletakkan saling bersilangan satu sama lain, kemudian jaringan yang
ditargetkan berada diantara keempat channel tersebut.
Konfigurasi ini akan digunakan dalam IFC
2. Penempatan elektroda
Dalam penempatan elektroda, ada yang dinamakan dengan smoke over fire.
Penempatan elektroda kali ini, misalnya adalah elektroda positif filetakkan di area
di dekat tangan (distal) , dan elektroda negative diletakkan di dekat siku (close to
elbow) kedua tempat ini disebut sebagai smoke over fire.
3. Ukuran elektroda
Ukuran elektroda akan mempengaruhi intensitas. Semakin kecil elektroda,
intensitasnya semakin besar, karena arus semakin terkonsentrasi
Dalam hal ini jarak antar elektroda juga mempengaruhi terharap efektivitas
treatment.
Jika antara elektroda + dan diletakkan berjauhan, maka arusnya akan menempuh
kedalaman yang lebih dalam. Sedangkan dengan jarak yang dekat, kedalaman
yang akan ditempuh semakin dangakal.
4. Intensitas arus
Semakin banyak intensitas yang diberikan, akan semakin baik untuk treatement.
Akan tetapi, akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan pada pasien.

2.2 ANATOMI GELOMBANG ELEKTROTERAPI

Sebuah osiloskop dapat digunakan untuk memvisualisasikan bentuk arus


listrik dalam rangka memahami dan mendiskusikan sifat mereka. Istilah berikut ini
digunakan untuk menentukan bentuk dan komponen. TENS unit memanfaatkan baik
monophasic atau gelombang biphasic asimetris.

Terapi umum dimanfaatkan dalam bentuk gelombang Elektro-medicin

Monophasic langsung atau arus galvanik adalah konstan tegangan dan arus kontinu yang
digunakan untuk iontophoresis (pengiriman dengan elektrik, obat langsung ke dalam jaringan
target) dan penyembuhan luka. stimulasi Micro current jugaa memanfaatkan jenis sinyal.

Contoh galvanik berdenyut monophasic atau DC terputus saat digunakan untuk stimulator
otot powered, pengurangan edema, stimulasi mikro-saat ini (dimana durasi pulsa dapat
berlangsung selama beberapa menit sampai jam) dan penyembuhan luka.

Contoh arus AC gelombang sinusoidal biphasic simetris dan persegi ni digunakan untuk
mengendalikan nyeri dan / atau bertenaga stimulasi otot.

Trifasik persegi simetris atau asimetris sinusoidal polyphasic dan variasi banyak digunakan
untuk mengontrol edema dan rasa sakit
Sebuah contoh dari gelombang sinusoidal asimetris miring biphasic digunakan untuk
mengendalikan nyeri dan stimulasi otot bertenaga. Interval fase tidak sama namun muatan
bersih adalah nol.

BEST teredam, biphasic, asimetris tegangan sinyal AC sinusoidal tinggi yang digunakan
untuk mengontrol nyeri, rangsangan otot, penyembuhan luka, fleksibilitas tinggi dan
ketahanan yang luar biasa untuk akomodasi saraf dan pembiasaan karena modulasi
impedansi.

BEST teredam, biphasic, asimetris, sinusoidal, pulsa AC tegangan tinggi pulsa intens dengan
interval antar-cluster panjang dan siklus tugas pendek pendek
BEST teredam, biphasic, asimetris, sinusoidal, AC tegangan tinggi sinyal cluster ke cluster
yang relatif sempit pulsa intens dengan interval antar-cluster panjang dan siklus tugas pendek
pendek.

2.3 METODE TERAPI

Perekat karet kecil, datar, dengan cakram perekat karet (elektroda ) yang diterapkan
pada kulit di area yang ditentukan untuk diperlakukan. Kadang-kadang, cangkir hisap karet
(disebut perangkat vasopneumatic) dapat diterapkan pada kulit. Elektroda dihubungkan ke
komputer dengan program dosis pengobatan yang tepat diperlukan. Frekuensi tinggi, bolak
arus listrik (sekitar 4.000 pulsa per detik) diterapkan melalui elektroda. Arus bergerak
melalui kulit dengan cepat menimbulkan sedikit ketidaknyamanan.
Selama pengobatan, respons Anda terhadap rangsangan listrik dipantau. Hal ini
memungkinkan terapis Anda untuk menyesuaikan rangsangan listrik yang diterapkan, sesuai
kebutuhan. Waktu perawatan sebenarnya adalah sekitar 20 menit.

2.3.1 Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)

Merupakan salah satu alat yang sering digunakan oleh para Fisioterapis di Indonesia.
TENS merupakan suatu cara penggunaan energi listrik yang berguna untuk merangsang
sistem saraf melalui permukaan kulit yang telah terbukti efektif untuk menghilangkan nyeri.

TENS digunakan di berbagai macam negara untuk berbagai macam penyakit seperti:

1. Arthritis
2. Sakit tulang belakang
3. Penyakit yang berhubungan dengan syaraf.

TENS mampu mengaktivasi baik serabut saraf berdiameter besar maupun


berdiameter kecil yang akan menyampaikan berbagai informasi sensoris ke sistem
saraf pusat.

TENS merangsang saraf sensorik untuk memblokir sinyal rasa sakit, juga merangsang
produksi endorphin untuk membantu menormalkan fungsi saraf simpatik

TENS dengan mesin kecil bertenaga baterai seukuran radio saku, menghubungkan
dua elektroda kekulit. Elektroda sering ditempatkan pada area yang sakit atau pada titik
tekanan, menciptakan rangkaian impuls listrik yang bergerak sepanjang serabut saraf. Ketika
arus disalurkan, pasien dengan rasa sakit akan berkurang rasa sakitnya. Hal in iterjadi karena
listrik dari elektroda merangsang saraf saraf di daerah yang terkena dampak (terluka) dan
mengirimkan sinyal ke otak yang menghalangi atau "merebut" sinyal rasa sakit yang normal.

Teori lain adalah bahwa rangsangan listrik dari saraf dapat membantu tubuh untuk
memproduksi obat penghilang rasa sakit alami yang disebut endorfin dan Encephalins, yang
dapat menghalangi persepsi nyeri pada otak.

Katoda akan mengalami depolarisasi, kemudian impuls saraf akan berjalan di kedua
arah di bawah akson. Dalam anoda akan terjadi hiperloparisasi, dimana hiperpolarisasi ini
akan memadamkan impuls saraf rasa sakit.
2.3.1.1 Spesifikasi TENS :

- TENS unit saat ini menghasilkan arus 1-80 amp mikro (mA)
- Tegangan rata rata 9 V
- Frekuensi dari 2 sampai 1000 Hz, dengan lebar pulsa 250-400 mikrodetik (mS).
Beberapa memungkinkan untuk mengatur pada stimulasi frekuensi tinggi (60-200 Hz)
atau stimulasi frekuensi rendah (<10 Hz).

2.3.1.2 Manfaat TENS :

- Megobati otot, sendi, masalah atau tulang yang terjadi dengan penyakit seperti
osteoarthritis atau fibromyalgia, atau untuk kondisi seperti nyeri pinggang, sakit leher,
tendinitis, atau bursitis.
- Mengobati nyeri akut yang datang tiba tiba seperti nyeri persalinan dan nyeri yang
bertahan lama dan kronis seperti nyeri kanker.
- Sangat efektif mengurangi rasa sakit dan mengurangi pengobatan analgesik pasca
operasi bedah sesar, ortopedi dan toraks serta prosedur bedah campuran (AHCPR
1992).
- Bermanfaat untuk mereka yang menderita nyeri muskuloskeletal akut (Long 1991).

2.3.1.3 Penempatan elektroda pada TENS:

- Elektroda pada TENS ditempatkan di tempat sakit, seringkali salah satu elektroda
ditempatkan pada tempat dimana rasa sakit yang paling intens dirasakan.
- Elektroda juga dapat ditempatkan pada kulit/dermatom yang sama , melalui axis
panjang dermatome, yang dapat melewatkan arus.
- Elektroda juga dapat di pacu atau dengan titik titik akupuntur.
- Elektroda ditempatkan pada saraf periperal pada garis garis saaf
- Juga ditempatkan pada akar spinal nerve dekat dengan kolom vertebral.

2.3.1.4 Variasi jenis TENS berdasarkan Parameter arus

1. TENS Konvensional
Tujuan dari TENS konvensional ini adalah mengaktivasi secara selektif A afferent untuk
memproduksi anagelsi segmental.
Dengan Pulsa pendek pada 50 microns pada 40 -150 Hz

Merupakan frekuensi tinggi dengan stimulasi intensitas rendah.

Intensitas berubah secara gradual melalui prickling atau sensasi tingling yang dirasakan.
Hal ini tidak menyakitkan dan menyebabkan kontraksi otot.

2. TENS Serupa Akupuntur (Intensitas tinggi Frekuensi rendah)


3. TENS BURST
Adalah series pulsa, yang berulang 1 5 kali setiap detik, biasanya selama dua kali.
Setiap train atau

frekuensi Burst berkisar 40 150 Hz dengan intensitas tinggi.


Modus Burst mengacu pada serangkaian pulsa disampaikan dalam paket atau
"amplop" sebagai pulsa tunggal. Burst pada umumnya disampaikan dengan arus
frekuensi dan durasi. Durasi Burst adalah waktu dari awal sampai akhir peledakan
tersebut. Interburst interval adalah Waktu antara semburan.

4. BRIEF, Intens TENS


Melibatkan durasi yang lebih panjang, sekitar 0.2 ms, frekuensi dan pulsa
tinggi sekitar 100 Hz pada intensitas tinggi yang dapat ditoleransi. Aplikasi yang
dibuat tidak lebih dari 15 menit. Disarankan untuk kondisi lokal pain. (Marmheimer
dan Lampe, 1984)

Tujuan dari intense TENS ini adalah mengaktifasi secara selektif A afferents yang
memimpin angalgesi ekstrasegmental. A afferent akan juga diaktifasi untuk
memproduksi analgesi segmental.

5. Modulasi TENS
2.3.2 Interferential Current Therapy

Interferential current therapy adalah bentuk yang lebih dalam


dari simulasi elektrik. Interferensial current therapy menggunakan
frekuensi pembawa sebesar 4000 Hz yang kemudian akan melewati
2 generator yang berbeda, untuk saling berinterferensi satu sama
lain dan menghasilkan frekuensi perawatan yang diinginkan oleh
tubuh.
Misal: frekuensi 4000 Hz bersilangan dengan frekuensi 4100 Hz,
maka akan terbentuk 100 Hz dalam tubuh kita.

Frekuensi pembawa akan lebih mudah mengatasi resistansi


kulit dan menembus kulit lebih dalam dibandingkan dengan
stimulator elektrik reguler, dengan sedikit ketidaknyamanan untuk
tingkat stimulasi yang diberikan.

Jauh di dalam jaringan, tubuh akan dapat melihat perbedaan antara frekuensi
pembawa yang merupakan frekuensi penyembuhan, yang akan menghasilkan
stimulasi elektrik dalam jaringan, dibandingkan hanya di stimulasi yang terjadi di
bawah elektroda (dalam tens), yang sebenarnya hanya merupakan efek mati rasa.

Manfaat IFS yang telah dicobada adalah sangat efektif dalam mengurangi

1. nyeri dan penggunaan obat nyeri,


2. edema dan peradangan,
3. mempercepat waktu penyembuhan,
4. serta dalam meningkatkan berbagai gerak aktivitas, dan kualitas hidup.

2.3.2.1 EFEK PSIKOLOGI dari IFC

1. Melancarkan aliran darah


2. Tergantung pada parameter yang dipilih, dapat terjadi stimulasi dari sel-sel saraf lokal
yang
dapat mengurasi rasa sakit karena potensi menghalangi transmisi sinyal rasa saki atau
dengan merangsang pelepasan nyeri dengan mengurangi endorfin (opiod
mekanisme)
3. Mengatasi beberapa penghambatan otot yang sering disebabkan oleh luka dan edema.

Arus elektrik diberikan pada area yang ingin dikenai menggunakan 4 elektroda dari 2
jenis stimulator. Elektroda diletakkan sedemikian rupa sehingga 2 jenis stimulator
akan saling bersilangan di daerah yang dikenainya.
Untuk contoh, jika ada cidera pada lutut yang akan disembuhkan, 2 jenis stimulator
akan diterapkan, kemudian kedua jenis stimulator itu akan saling bersilangan di dalam sendi
lutut tersebut. Ketika kedua arus dari kedua jenis stimulator itu bertemu, mereka akan saling
berinteferensi satu sama lain.
Selama terapi,
1. Pasien tidak akan merasakan ketidaknyamanan dari arus interferensial
2. Elektroda biasanya terbuat dari elektroda karbon yang diletakkan dengan spons
diantara elektroda dan kulit pasien.
3. Selama proses treatment, pasien akan merasakan seperti kesemutan pada area yang
dikontak dengan elektroda dan juga pada area yang sedang di treatment.
4. Semakin tinggi intensitas yang diberikan, akan semakin baik untuk penyembuhan,
akan tetapi intensitas yang terlalu tinggi akan menimbulkan ketidaknyamanan pada
pasien
5. Tidak boleh digunakan di sekitar jantung

2.3.3 MICROCURRENT ELECTROTHERAPY


Merupakan terapi bioelektrik untuk meringankan rasa sakit rheumatoid arthritis.
Dilakukan dengan pengiriman dosis yang tepat (arus bioelektrik yang tepat) melalui elektroda
yang diletakkan pada kulit. Arus yang dikirimkan tersebut, dapat mengganggu sinyal rasa
sakit arthritis ke otak. Dalam MET, arus yang dialirkan kurang dari 1 mA, 100 kali kurang
dari TENS
Sama halnya seperti TENS dan IFC, MET mengurasi rasa sakit dengan cara
memblokir sinyal rasa sakit ke otak. Dengan melewatkan sejumlah arus melalui bagian tubuh
yang akan distimulasi, sehingga arus akan meniru sinyal elektrik dari otak.
Contohnya, ketika jari kita terluka, saraf rasa nyeri pada jari akan mengirimkan pesan ke
sumsum tulang belakang dan otak. Sinyal yang dikirim adalah sinyal rasa sakit, yang akan
ditafsirkan oleh sumsum tulang belakang, untuk segara mengobati rasa sakit tersebut. Ada sel
sel tertentu di sumsum tulang belakang yang berindak sebagai gerbang yang mengatur lalu
lintas impuls rasa sakit.
Konsep dari MET in adalah bahwa impuls rasa sakit yang dibawa, sehingga
menyebabkan kemacetan pada lalu lintas impuls rasa sakit dari sel sel sumsum tulang
belakang, sehingga, impuls rasa sakit ini tidak dapat mencapai otak.
MET juga dapat mendorong tubuh untuk menghasilkan bahan kimia yang
menghalangi rasa sakit (endorphin), sehingga mengurasi rasa sakit. Endorphine, bersama
dengan bahan kimia lainnya yang mengubah impuls saraf, memblokir sinyal rasa sakit yang
akan dikirimkan ke otak.
Bioelectric terapi dapat digunakan untuk mengobati sejumlah kondisi diketahui
menyebabkan rasa sakit, termasuk:

1. Sindrom nyeri regional kompleks (juga dikenal sebagai distrofi refleks simpatis
atau RSD)
2. Sakit punggung
3. Nyeri otot
4. Sakit kepala dan migrain
5. Gangguan aliran darah pada tungkai atas dan bawah
6. Arthirits
7. Gangguan sistem saraf, seperti kerusakan perifer
8. Scleroderma
2.3.3.1Manfaat MET :

1. Efektif meningkatkan aliran darah,


2. Menurunkan pembengkakan, dan nyeri mengurangi arthritis.
Efektif dalam memberikan kontrol nyeri sementara, tetapi hanya bagian dari
program manajemen nyeri total. Ketika digunakan bersama dengan konvensional
obat penghilang rasa sakit, pengobatan bioelectric dapat mengurangi dosis yang
dibutuhkan dari beberapa penghilang rasa sakit-hingga 50%.

2.3.4 PEMICU SARAF PERCUTANEOUS LISTRIK/PERCUTANEOUS


ELECTRICAL NERVE STIMULATION (PENS)

METODE KOMBINASI Electro acupuncture Dan Transcutaneous Nerve


Stimulator (TENS) yaitu PENS menggunakan akupuntur metode seperti jarum sebagai
elektroda, yang ditempatkan pada dermatomal levels. PENS melewatkan resistansi kulit
lokal /bypass the local skin resistance dan memberikan arus yang sesuai untuk ujung ujung
sel saraf. Pemicu Saraf Percutaneous listrik (juga dikenal sebagai neuromodulation
percutaneous) menggunakan jarum seperti akupunktur sebagai elektroda. Jarum ini
ditempatkan dalam jaringan lunak atau otot pada tingkat dermatomal sesuai dengan patologi
lokal (jarum biasanya dimasukkan di atas dan di bawah dan ke daerah pusat rasa sakit).

Lokasi jarum dari PENS , dengan Terapi PENS, setiap lima bipolar stimulasi elektrik
dipasagnkan pada sepasang jarum, merubah positif dan negative posisi seperti yang
digambarkan di atas.

Sistem ini menggunakan frekuensi 5-Hz dengan lebar pulsa 0.5 mS. Jika tujuan penghilang
nyeri tidak dicapai dalam waktu 15 menit, frekuensi dapat diturunkan menjadi 1 Hz.
Keuntungan utama dibandingkan PENS atas TENS adalah bahwa sistem ini melewati
resistansi kulit lokal dan memberikan rangsangan listrik pada tingkat yang diinginkan tepat di
dekat ujung saraf yang terletak di jaringan lunak, otot, atau periosteum dari dermatom yang
terlibat.

Kegunaan stimulasi ini adalah :

-Pengobatan nyeri leher, namun masih belum cukup bukti untuk mendukung indikasi ini.

- Rehabilitasi dalam perbaikan pada pinggang, lutut, leher, dan nyeri bahu. (Harris dan
Susman (2002) tentang Panel Philadelphia).
Contoh produk yang ada dipasaran :
2.3.5 STIMULASI LISTRIK FUNGSIONAL (FES)

Stimulasi ini bermanfaat untuk :

1. Mencoba mencegah atau membalikkan atrofi otot dan demineralisasi tulang dengan
merangsang tubuh bagian bawah yang lumpuh untuk melakukan latihan diam atau
berdiri dan berjalan.
2. Stimulasi listrik Fungsional juga telah diteliti sebagai cara untuk meningkatkan gangguan
gaya berjalan pasien hemiplegic. Meskipun beberapa paraplegics bisa berjalan dengan
jarak yang diperpanjang menggunakan stimulator listrik fungsional, teknologi ini tidak
dimaksudkan sebagai pengganti kursi roda. (Hayes, 2003)
3. Stimulasi listrik Fungsional (FES), suatu bentuk rangsangan listrik neuromuskuler,
dianggap medis diperlukan untuk rehabilitasi tungkai bawah lumpuh pada orang dengan
cedera tulang belakang (SCI) dengan beberapa kondisi tertentu.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
1. Elektroterapi adalah penggunaan energi elektrik sebagai perawatan medik
2. Ada berbagai macam jenis elektroterapi, beberapa diantaranya adalah
a. Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS)
b. Inferential Current Therapy (IFC)
c. Micro Current Electrotherapy (MET)
d. Percutaneous Electrical Nerve Stimulation (PENS)
e. Functional Electric Stimulation (FES)
3. Mekanisme dari elektroterapi pada umumnya

Dalam sebuah batrei, terdapat muatan positif dan muatan negativ. Jika kedua arus
tersebut saling dihubungkan, maka elektron akan mengalir ke muatan positif. Jika hal
tersebut diterapkan dalam tubuh manusia, misalnya diterapkan pada tangan, muatan
positif dihubungkan ke tangan menggunakan elektroda positif dan muatan negatif
dihubungkan menggunakan elektroda negativ, sehingga elektron dari elektroda
negative akan menuju ke elektroda positif. Maka elektroda positif akan mengalami
depolarisasi di area tersebut. Jika elektroda diletakkan dengan benar, maka arus
tersebut dapat menggerakkan otot.

4. Berdasarkan American Physical Therapy Association, berikut ini manfaat


elektroterapi secara modern:

a. Mereduksi rasa sakit


b. Perawatan disfungsi neuromuscular

c. Mengimporvisasi mobilitas sendi

d. Perbaikan jaringan

e. Edema akut dan kronis

f. Aliran darah periferal

g. Iontophoresis

h. Pengeringan limpa

IV. DAFTAR PUSTAKA


https://www.google.com/search?
q=1.%09HIGH+VOLTAGE+PULSE+GALVANIC+STIMULATION+&ie=utf-
8&oe=utf-8&client=firefox-b
https://www.scribd.com/document_downloads/direct/40537823?
extension=doc&ft=1489463782&lt=1489467392&user_id=315244725&uahk=PEZlJ
0UFQYPzsQvA3hHz3PPRR/c
https://www.youtube.com/watch?v=2NaR74DCOi4
http://www.pusatinfoelektronik.com/search/macam-macam-alat-elektroterapi-pada-
fisioterapi
http://www.rssantoyusup.com/tens-sebagai-salah-satu-metode-untuk-mengurangi-
nyeri-pasca-operasi/
https://id.scribd.com/doc/40537823/Stimulasi-Elektrik-Penghilang-Nyeri
https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/3319/9.%20TOTOK
%20BUDI%20SANTOSA.pdf?sequence=1
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Course-944-5.Modul%20elektroterapi.pdf
Siti Julaiha Grbner/Pasca Sarjana Teknologi Biomedis/stimulasi
penghilang rasa sakit.