Anda di halaman 1dari 36

1

NAMA : FUAD AFANDI


NIM : 096012424
PRODI : PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTA : AGAMA ISLAM
S
JUDUL : UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM
PEMBINAAN PERILAKU KEAGAMAAN SISWA DI
MA HUSNUL KHATIMAH ROWOSARI
TEMBALANG SEMARANG TAHUN AJARAAN
2016/2017

PROPOSAL

A. Latar Belakang Masalah


Perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern telah membuka era baru dalam perkembangan
pendidikan, budaya dan peradaban umat manusia yang dikenal
dengan era globalisasi, ditandai dengan adanya tingkat
kecanggihan teknologi informasi dan komunikasi. Hal tersebut
terjadi di beberapa negara termasuk Indonesia. Realitas
semacam itu akan mempengaruhi nilai, sikap atau perilaku
kehidupan individu dan masyarakat. Perubahan-perubahan juga
akan terjadi secara cepat dan hal ini akan mengakibatkan
pergeseran-pergeseran nilai yang berdampak kurang
menguntungkan bagi manusia.
Kemerosotan moral yang melanda masyarakat kita saat ini,
terutama dikalangan generasi muda sangat memprihatinkan. Hal
ini adalah dampak dari perkembangan yang tidak diimbangi
dengan kesiapan mental dalam mengkonsumsi dan
memanfaatkan teknologi modern. Secara garis besar penyebab
2

utamanya ialah merebaknya teknologi modern di masyarakat


yang semakin sulit dikontrol penggunanya. Padahal, sebenarnya
kemajuan teknologi seharusnya diimbangi dengan pembinaan
iman dan taqwa yang lebih intensif, terutama terhadap para
pelajar kita sebagai penerus bangsa.
Dalam realitas semacam ini agama sangat dibutuhkan
untuk menuntun laju modernisasi dan IPTEK sebagai petunjuk.
Agama dapat menjadi pegangan hidup karena ajaran agama
merupakan nilai-nilai mendasar untuk kehidupan manusia yaitu
akhlaq, iman dan taqwa. Sebagaimana tujuan pendidikan agama
adalah menanamkan taqwa dan akhlaq serta menegakkan
kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang
berkepribadian dan berbudi luhur menurut ajaran agama Islam.
Namun kita melihat bahwa sampai sekarang ini masih
banyak pelajar yang terbawa perubahan-perubahan yang tidak
dapat mengendalikan dirinya, hal ini dilihat dari kenyataannya
bahwa saat ini banyak terjadi kemerosotan moral ditengah
kemajuan pembangunan nasional. Masalah yang timbul saat ini
yaitu banyaknya problem yang dialami para pelajar, tidak sedikit
mereka terperosok kedalam kehidupan yang jauh dari nilai-nilai
agama seperti perkelahian, mengganggu ketenangan orang lain
bahkan menggunakan obatobat terlarang, masalah-masalah
seperti ini tidak hanya terjadi di lingkungan perkotaan tetapi juga
terjadi di lingkungan pedesaan karena banyaknya pengaruh
media massa dan media elektronik yang semakin meluas.
Untuk merealisasikan tugas, peranan dan tanggung jawab
pelajar sebagai generasi penerus, maka perlu diadakan
pembinaan nilai-nilai keagamaan khususnya dalam perilaku
3

keagamaan, agar mereka senantiasa menjalankan tugas,


peranan dan tanggung jawabnya sebagai pelajar dengan selalu
dijiwai keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT dan tidak
menyimpang dari nilai-nilai ajaran agama (berperilaku sesuai
dengan ajaran agama) serta dibentengi dari hal-hal yang
merusak moral dirinya. Upaya pembinaan pelajar tersebut
menjadi tanggung jawab bersama baik orang tua, keluarga
maupun guru.
Dalam hal ini guru Pendidikan Agama Islam mempunyai
tugas dan tanggung jawab yang sangat besar di sekolah yakni
bagaimana membina dan mendidik siswanya melalui Pendidikan
Agama Islam agar dapat membina akhlak dan perilaku beragama
pada siswa dan dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Tugas
tersebut memang berat sekali karena tanggung jawab mendidik
dan membina anak bukan ditanggung mutlak oleh guru, akan
tetapi juga oleh keluarga dan masyarakat. Jika keluarga dan
masyarakat tidak mendukung dan bertanggug jawab serta
bekerja sama dalam mendidik anak, maka pembinaan akhlak
sulit sekali dicapai dengan baik.1
Peranan guru dalam proses belajar mengajar dirasakan
sangatlah besar pengaruhnya terhadap tingkah laku anak didik.
Untuk dapat mengubah tingkah laku anak didik sesuai dengan
yang diharapkan maka perlu seorang guru yang professional
yaitu guru yang mampu menggunakan seluruh komponen

1 Nana Syaodih Sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung:


PT. Remaja
Rosda Karya, 2005, h. 85
4

pendidikan sehingga proses belajar mengajar tersebut berjalan


dengan baik.2
Guru sebaiknya menyadari bahwa kesusilaan bukan hanya
berarti tingkah laku yang sopan santun, bertindak dengan lemah
lembut, taat dan berbakti kepada orang tua saja tetapi juga cinta
bangsa dan sesama manusia, mengabdi kepada rakyat dan
Negara, termasuk norma-norma kesusilaan yang harus
dikembangkan dan ditanamkan dalam hati sanubari anak didik.3
Belakangan ini banyak terdengar keluhan orang tua, ahli
didik, dan orang-orang yang berkecimpung dalam bidang agama
dan sosial, berkenaan dengan ulah perilaku remaja yang sukar
dikendalikan, nakal, keras kepala, berbuat keonaran, maksiat,
tawuran, mabuk-mabukan, pesta obat-obatan terlarang,
bergaya hidup seperti hippies di Eropa dan Amerika, bahkan
melakukan pembajakan, pemerkosaan, pembunuhan, dan
tingkah laku penyimpangan lainnya.4
Di lingkungan MA Husnul Khatimah Semarang ternyata
masih ditemukan kurangnya kesadaran siswa dalam hal
keagamaan. Seperti halnya ketika waktu sholat telah tiba masih
ditemukannya siswa yang tidak segera melakukan sholat tetapi

2
Ngalim Purwanto, Psikologi Pindidikan, Bandung : Remaja Rosda Karya,
1999, h 60.

3
S. Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif,
Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2000, h 30

4
Abuddin Nata, Manajemen Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2007 , hal. 197
5

malah asyik mengunjungi kantin dan menunggu perintah dari


guru. Selain itu adanya pelanggaran kewajiban siswa dalam
mematuhi peraturan yang sudah ditetapkan seperti halnya
ketika ada pembiasaan membaca Al-Quran sebelum
dimulainya pelajaran yang itu sudah menjadi kewajiban bagi
semua siswa di madrasah tersebut, dan kenyataannya masih
ditemukan siswa yang masih meremehkan dan tidak mengikuti
pembiasaan tersebut. Selain itu juga ditemukan anak yang
meremehkan dan tidak menghargai guru-guru yang masih muda,
suka menyakiti teman lainnya, dan berperilaku kurang sopan
terhadap guru maupun sesama.
Berdasarkan fenomena-fenomena diatas, maka peneliti
tertarik untuk mengangkat permasalahan tersebut melalui
pendekatan teoritis dan empiris. Dalam hal ini peneliti terdorong
untuk mengkaji dan mengamati penelitian tentangUpaya Guru
Aqidah Akhlak Dalam Pembinaan Perilaku Keagamaan Siswa Di
MA Khusnul Khatimah Semarang.

B. Alasan Pemilihan Judul


1. Perilaku Keagamaan bagi semua manusia umumnya dan bagi para siswa
khususnya adalah sangat penting, karena dengan perilaku keagamaan yang
baik maka akan membangun negara yang baik pula.
2. Aqidah Akhlak merupakan salah satu pelajaran yang ada di MA Husnul
Khatimah dan sangat penting sekali dalam menata akhlak siswa dalam
kehidupan sehari-hari.
3. Belum adanya penelitian yang menyeluruh tentang upaya guru Akidah dalam
pembinaan perilaku keagamaan di MA Husnul Khatimah.

C. Telaah Pustaka
6

Penjelasan mengenai telaah pustaka dilakukan untuk


mengetahui keaslian suatu karya ilmiah serta posisinya di antara
karya-karya sejenis dengan tema ataupun pendekatan yang
serupa. Penelitian yang mencakup upaya guru Aqidah Akhlak
sampai saat ini dalam penulisan karya ilmiah masih jarang
dilakukan, meskipun ada penelitian yang sejenis, namun cara
pengungkapan dan analisisnya berbeda-beda. Berdaasarkan
faktor tersebut, dapat dijadikan sebagai dasar penelitian ini.
Berkenaan dengan hal itu, beberapa penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya.
Pertama, skripsi dari Tri Endah Pramularsih, Jurusan Pendidikan Agama
Islam, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan
judul Pengembangan Pembinaan Akhlak Siswa di SLTP N 3
Tempel Sleman 2006. Rumusan masalahnya adalah bagaimana bentuk
pengembangan,pembinaan akhlak siswa di SLTP N 3 Tempel Sleman? Hasilnya
adalah pembinaan akhlak dilakukan secara bertahap sebelum memiliki musholla
pembinaan dilakukan dengan pesantren kilat, hari raya qurban, sholat jamaah, ekstra
baca tulis Al-Quran dan pengadaan buku panduan pembinaan akhlak. 5 5

Berdasarkan telaah pustaka di atas, maka persamaan


dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu sama-sama
mengimplementasikan metode upaya yang dilakukan oleh
seorang guru. Sedangkan perbedaannya terletak pada obyek
penelitian. Disini peneliti menggunakan MA Khusnul Khatimah
Semarang sebagai obyek penelitian.

5
Tri endah pramularsih Pengembangan Pembinaan Akhlak Siswa Di SLTPN
3 tempel sleman, Skripsi, fakultas tarbiyah, UIN sunan kalijaga
yogyakarta, 2006, hal 5
7

Skipsi yang kedua disusun oleh Rini Dwi Astuti jurusan


Pendidikan Agama Islam, fakultas tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta dengan Judul Upaya Guru Agama Islam Dalam
Meningkatkan Motif Belajar Siswa Terhadap bidang Studi
Pendidikan Agama Islam Di SMA 2 Klaten. 6 Skripsi tersebut
membahasa tentang berbagai upaya yang dilakukan guru Agama
Islam dalam Memotifasi belajar Pendidikan Agama Islam, juga
berbagai kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh guru dalam
meningkatkan motif belajar khususnya belajar Pendidikan Agama
Islam dan disertai dengan cara mengantisipasinya.
Berdasarkan telaah pustaka di atas, maka persamaan
dengan penelitian yang akan dilaksanakan yaitu sama-sama
berlatar belakang pendidikan agama islam. Sedangkan letak
perbedaan penelitian yang akan dilaksanakan dengan penelitian
sebelumnya terletak pada bidang mata pelajaran yang
digunakan, yaitu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Berbeda halnya dalam skripsi ini yang akan menitik beratkan
pada bidang study Aqidah Akhlak dan lebih mengfokuskan pada
perilaku keagamaan para siswa.
Skripsi yang ketiga disusun oleh Zulaika Sri Hardanik,
Jurusan Pendidikan Agama Islama, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan
Kalijaga Yogyakarta dengan judul Usaha Guru Aqidah Akhlaq
Dalam Menumbuhkan Motivasi Belajar Bidang Study Aqidah
Akhlaq Pada Siswa MTs Negeri Borobudur Magelang.7 Sekripsi
tersebut membahas tentang usaha-usaha yang dilakukan oleh
6
Rini Dwi Astuti , Upaya Guru Agama Islam Dalam MEningkatkan Motif
Belajar Siswa Terhadap bidang Studi Pendidikan Agama Islam Di SMA 2
Klaten, Skripsi, Fakultas TArbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004
8

guru Aqidah Akhlaq dalam menumbuhkan motivasi belajar bidang


studi Aqidah Akhlaq pada peserta didiknya seperti upaya
menumbuhkan motivasi belajar dalam mengkhadapi perbedaan
latar belakang lingkungan keluarga dan pendidikan. Upaya yang
ditempuh oleh guru Aqidah Akhlaq dengan cara memantau
pelaksanaan ibadah siswanya serta melihat baik atau buruknya
perilaku siswa tersebut. Selain itu skripsi ini menggambarkan
bagaimana proses belajar mengajar bidang study aqidah Akhlaq
dikelas I MTs Negeri Borobudur, serta hasil yang dicapai oleh guru
dalam upaya menumbuhkan motivasi belajar siswanya.
Berdasarkan penelitian yang digunakan sebagai telaah
pustaka di atas, maka persamaan dengan penelitian yang akan
dilaksanakan yaitu sama-sama mendiskripsikan usaha guru
pendidikan agama dalam menumbuhkan kepribadian siswa yang
sesuai dengan harapan masyarakat. Sedangkan letak perbedaan
penelitian yang akan dilaksanakan dengan penelitian-penelitian
sebelumnya terletak pada bidang mata pelajaran yang
digunakan, bidang studi yang difokuskan adalah bidang studi
Aqidah Akhlak. Berbeda halnya dalam skripsi ini yang akan
menitik beratkan pada bidang study Aqidah Akhlak dan lebih
mengfokuskan pada perilaku keagamaan para siswa.
Melihat dari penelitian-penelitian mengenai metode
upaya seorang guru ini menunjukkan bahwa masih sedikit
penelitian mengenai metode-motode dalam meningkatkan

7
Zulaika Sri Hardanik, Usaha Guru Aqidah Akhlaq Dalam Menumbuhkan
Motivasi Belajar Bidang Study Aqidah Akhlaq Pada Siswa MTs Negeri
Borobudur Magelang, Skripsi, Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta, 2005
9

motivasi dan prestasi siswa dalam belajar. Berdasarkan hal


tersebut, peneliti mencoba mengamati upaya apa saja yang
digunakan oleh guru Aqidah Akhlak untuk membina perilaku
keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah Rowosari Semarang
Tahun Ajaran 2016/2017

D. Penegasan Istilah
Penegasan istilah berfungsi untuk menghindari
kesalahpahaman dalam penafsiran judul diatas serta
mempermudah maksud dan tujuan istilah yang ada, maka
terlebih dahulu perlu dijelaskan istilah-istilah dan batasan-
batasan yang ada pada judul proposal penelitian yang penulis
susun. Adapun istilah yang dimaksud adalah:
10

1. Upaya
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia arti kata upaya adalah
usaha, akal, ikhtiar (untuk mencapai suatu maksut,
memecahkan persoalan).8
2. Guru
Guru atau pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung
jawab memberi pertolongan jasmani dan rohani, agar mencapai
kedewasaan, maupun berdiri sendiri memenuhi tugasnya
sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan sebagai individu
atau pribadi.9
3. Aqidah Akhlak
Aqidah Akhlak merupakan salah satu bagian dari mata
pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diarahkan untuk
menyiapkan peserta didik agar lebih mengenal, menghayati,
dan mengimani Allah SWT, serta merealisasikan dalam perilaku
akhlak mulia dalam pengamalan dan pembiasaan.10
4. Pembinaan
Pembinaan adalah perbaikan, atau tindakan dan kegiatan yang
dilakukan secara berdaya guna serta berhasil dalam
memperoleh hasil yang lebih baik.11
5. Perilaku

8
Haryanto,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta:PT.Gramedia,2000, H
60

9
Soejono,Ilmu Pendidikan Umum, Bandung: CV Ilmu,1980 h 60

10
Departemen Agama RI, Kurikulum 2004 Standar Kompetensi, Jakarta: Direktorat Jendral
Kelembagaan Agama Islam, 2004, h.17
11

Perilaku berarti tanggapan atau reaksi individu terhadap


rangsangan atau lingkungan.12
6. Keagamaan
Kata keagamaan berasal dari kata dasar agama yang berarti
sistem, prinsip kepercayaan kepada tuhan dengan ajaran
kebaktian dan kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan
itu. Kata keagamaan sendiri sudah mendapat awalan ke dan
akhiran an yang mempunyai arti sesuatu atau segala tindakan
yang berhubungan dengan agama.13
7. MA Husnul Khatimah Tahun Ajaran 2016/2017
MA husnul Khatimah merupakan madarasah tingkat atas yang
berlokasi di kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota
Semarang.
Dari paparan istilah diatas dapat ditegaskan bahwa
maksud judul skripsi ini adalah upaya yang dilakukan oleh guru
Aqidah Akhlak terhadap para siswa. Hal ini dimaksudkan dengan
upaya yang dilakukan oleh guru Aqidah Akhlak maka para siswa
akan tertanam dalam dirinya untuk selalu memperbaiki diri dan
berperilaku sesuai dengan kaidah islam dan berlandaskan akan
hukum seperti yang telah diajarkan oleh guru Aqidah Akhlak.

11
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1988, h 177

12
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1988, h 755

13
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia,
Jakarta: Balai Pustaka, 1988, h 11
12

E. Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka masalah pokok
yang akan diteliti dalam penelitian ini antara lain adalah;
1. Bagaimana perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah Rowosari
Tembalang Semarang?
2. Bagaimana upaya guru Aqidah Akhlak dalam pembinaan perilaku keagamaan
siswa di MA Husnul Khatimah Rowosari Tembalang Semarang?
3. Apa saja faktor pendukung dan penghambat yang dihadapi guru Aqidah
Akhlak dalam pembinaan perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah
Rowosari Tembalang Semarang?
F. Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah di atas, maka penelitian ini
bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui perilaku keagamaan siswa MA Husnul
Khatimah Rowosari Tembalang Semarang Tahun Ajaran
2016/2017.
2. Mengetahui upaya apa saja yang dilakukan guru Aqidah Akhlak
dalam membina perilaku keagamaan siswa di MA Husnul
Khatimah Rowosari tembalang Semarang Tahun Ajaran
2016/2017
3. Mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan faktor-faktor
yang menghambat guru Aqidah Akhlak dalam upayanya
membina perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah
Rowosari Tembalang semarang Tahun Ajaran 2016/2017

G. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan
konstribusi dalam upaya peningkatan pemahaman dari hasil
belajar pada seluruh mata pelajaran. Adapun manfaat penelitian
ini adalah untuk:
13

1. Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan sebagai bahan pengembangan keilmuan bagi
peneliti, pembaca maupun guru dalam memberi pengetahuan tentang berbagai
upaya yang harus dilakukan oleh guru. Diharapkan agar hasil penelitian dapat
menambah wawasan dan dapat dijadikan acuan dalam pengembangan
pengelolaan kelas khususnya pendidikan ilmu Aqidah Akhlak.
2. Secara Praktis
a. Lembaga
Bagi sekolah hasil Penelitian ini sangat bermanfaat
dalam rangka perbaikan sistem pembelajaran. Sedangkan
bagi guru yang lain, hasil penelitian dapat digunakan
sebagai referensi dalam memilih dan menerapkan suatu
strategi, metode, atau media yang sesuai dengan tujuan
pembelajaran.
14

b. Guru
Dengan dilaksanakan penelitian maka penelitian ini bisa
digunakan sebagai panduan tentang pentingnya upaya yang
dilakukan oleh guru Aqidah Akhlak dalam pembinaan
perilaku keagamaan para siswa.
c. Siswa
Dengan dilaksanakannya PTK akan sangat membantu
siswa yang berperilaku buruk. Dengan adanya tindakan dan
upaya dari guru akan memungkinkan siswa terlibat secara
aktif dalam kegiatan keagamaan ang berlangsung di sekolah
sehingga siswa menjadi terbiasa dengan perilaku
keagamaan tersebut.
d. Peneliti
Dengan mengamati upaya yang dilakukan guru Aqidah
Akhlak diharapkan menambah wawasan pengetahuan
penulis sebagai bahan untuk memperluas peneliti dalam
mempersiapkan diri sebagai calon tenaga pendidik.

H. Landasan Teori
1. Upaya Guru Aqidah Akhlak
a. Pengertian Upaya Guru Aqidah Akhlak
Upaya Guru Aqidah Akhlak adalah segala usaha yang
bersifat keagamaan yang dilakukan oleh guru Aqidah Akhlak
untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam, yaitu untuk
mengembangkan potensi keagamaan siswa menjadi
manusia yang baik, berbudi pekerti.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan oleh guru Aqidah
Akhlak dalam membina perilaku keagamaan siswa-siswinya
adalah:
15

1) Menanamkan pengetahuan tentang perilaku keagamaan


kepada siswa
2) Memelihara pengetahuan tentang perilaku keagamaan
kepada siswa
3) Meningkatkan/mengembangkan pengetahuan tentang
perilaku keagamaan kepada siswa
4) Menekankan dan memotivasi siswa agar mampu
mengamalkan perilaku keagamaan yang baik.
5) Memberikan tauladan kepada siswanya dengan perilaku
keagamaan yang baik
Selain beberapa hal di atas, ada beberapa hal lain yang
efektif dilaksanakan dalam rangka membina akhlak siswa,
yakni:
1) Penegakkan disiplin di sekolah
Penegakan disiplin di sekolah merupakan hal yang
paling ditakuti di sekolah bagi anak-anak yang kurang
disiplin. Sebab dengan adanya disiplin membuat siswa
merasa dikontrol, diatur dan lain sebagainya. Sehingga
akibat dari ketidak disiplinan itu siswa akan
mendapatkan hukuman sesuai dengan apa yang ia
langgar dari disiplin itu. Misalnya datang terlambat, tidak
masuk sekolah dan lain-lain.
2) Ritual keagamaan
Ritual atau sering disebut dengan kegiatan
keagamaan yang diadakan dalam lingkungan sekolah,
banyak mendatangkan nilai-nilai positif bagi siswa-siswi
itu sendiri dan bagi seluruh keluarga besar sekolah
tersebut. Kegiatan keagamaan memancarkan sinar-sinar
keagamaan dan menghidupkan sendi-sendi kehidupan,
sebab dengan adanya kegiatan keagamaan, lingkungan
16

akan menjadi damai, tentram dan teratur. Beberapa


ritual itu misalnya, mengadakan shalat berjamaah bagi
yang siswa yang sudah dinggap mampu,membaca Al-
Quran dan ceramah-ceramah umum, sehingga dari sini
guru dapat menyelipkan pesan-pesan moral kepada
siswa, supaya akhlak benar-benar terjaga baik di
lingkungan sekolah, keluarga lebih-lebih dalam
lingkungan bermasyarakat.
3) Penugasan/Pengawasan
Guru memiliki keterbatasan waktu dan tempat
untuk senantiasa membina siswa-siswinya. Maka untuk
membina siswa secara terus menerus dan membiasakan
siswa ke arah perbuatan baik, maka perlu adanya
penugasan kepada siswa berupa lembaran-lembaran
yang menjadi kontrol, misalnya kartu shalat, menasehati
anak agar setiap masuk dan keluar rumah mengucapkan
salam, membantu orang tua di rumah dan lain
sebagainya.
Terdapat beberapa etika yang harus dilakukan oleh
seorang guru dalam melaksanakan tugasnya di lingkungan
sekolah, diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Guru harus menjadi teladan bagi muridnya.
2) Guru harus meningkatkan kompetensi keilmuannya
dengan senantiasa bermuthalaah.
3) Guru harus memperhatikan murid dengan penuh
dedikasi, mengajarkan dengan baik, mendidik dengan
akhlak, serta mendoakan keberhasilan, dan keselamatan
murid-muridnya.
17

Guru yang terlatih dengan baik akan mempersiapkan


empat bidang kompetensi guru yang efektif dalam mencapai
hasil belajar yang diharapkan. Empat kompetensi yang
dimaksudkan adalah sebagai berikut:
1) Memiliki pengetahuan tentang teori belajar dan tingkah
laku manusia.
2) Menunjukkan sikap dalam membantu siswa belajar dan
memupuk hubungan dengan manusia lain secara tulus.
3) Menguasai mata pelajaran yang diajarkan.
4) Mengontrol keterampilan teknik mengajar sehingga
memudahkan siswa dalam belajar.
Dalam pendidikan Islam, pendidik memiliki arti dan
peranan sangat penting. Hal ini disebabkan ia memiliki
tanggung jawab dan menentukan arah pendidikan. Itulah
sebabnya Islam sangat menghargai dan menghormati
orang-orang yang berilmu pengetahuan dan bertugas
sebagai pendidik. Islam mengangkat derajat mereka dan
memuliakannya melebihi orang Islam lainnya yang tiada
berilmu dan bukan pendidik.
Guru agama termasuk guru Aqidah Akhlak adalah
penopang perkembangan religiusitas anak, karena itu
dituntut untuk memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Kepribadian yang mantap (akhlak mulia) seperti jujur,
bertanggung jawab, berkomitmen terhadap tugas,
disiplin dalam bekerja, kreatif terhadap siswa.
2) Menguasai disiplin ilmu dalam bidang studi
pendidikan agama Islam. Guru agama memiliki
pemahaman yang memadai tentang bidang studi
18

yang diajarkan, minimal materi-materi yang


terkandung dalam kurikulum.
3) Memahami ilmu-ilmu lain yang relevan atau
menunjang kemampuannya dalam mengelola proses
belajar-mengajar seperti psikologi pendidikan,
bimbingan dan konseling, metodologi pengajaran,
administrasi pendidikan, teknik evaluasi dan psikologi
agama.

2. Pembinaan Perilaku Keagamaan


Pembinaan merupakan penataan kembali hal-hal yang
pernah dipelajari untuk membangun dan memantapkan diri
dalam rangka menjadi lebih baik.
3. Perilaku Keagamaan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, antara kata
laku, perilaku, dan tingkah laku ketiganya mempunyai
pengertian yang sama (sinonim). Karena itu, dalam hal ini
penulis cenderung menyamakan pengertian antara
ketiganya. Sehingga perilaku atau tingkah laku disini
mempunyai pengertian yaitu, perilaku atau tingkah laku
yaitu perbuatan, gerak gerik, tindakan, cara menjalankan
atau berbuat. Sedangkan Mahfudz Shalahuddin secara luas
mengartikan perilaku atau tingkah laku adalah kegiatan
yang tidak hanya mencakup hal-hal motorik saja, seperti
berbicara, berjalan, berlari-lari, berolah raga, bergerak, dan
lain-lain, akan tetapi juga membahas macam-macam fungsi
seperti melihat, mendengar, mengingat, berfikir, fantasi,
19

pengenalan kembali emosi-emosi dalam bentuk tangis atau


senyum dan seterusnya.14
Sementara keagamaan itu sendiri berasal dari kata
agama (Al-Din, religi Menurut Harun Nasution yang dikutip
oleh Jalaluddin pengertian agama berdasarkan asal kata
yaitu ad-Din, religi (relegere, religare), dan agama. ad-Din
(Semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian
dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai,
menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan
dari kata religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan
dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun
kata agama terdiri dari kata a= tidak; gam= pergi
mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau diwarisi
turun temurun.15
Agama menurut D. Hendropuspito, agama ialah
suatu jenis sistem yang dibuat oleh penganut-penganutnya
yang berporos pada kekuatan-kekuatan non empiri yang
dipercayainya dan yang didayagunakan untuk mencapai
keselamatan bagi mereka. Agama sebagai jenis sistem
sosial karena ia bersifat fenomenal, berangkat dari berbagai
peristiwa kemasyarakatan, dapat dianalisis dan terdiri atas
kaidah-kaidah yang kompleks serta memuat peratuan-

14
Shalahuddin Mahfudz, Pengantar Psikologi Umum, Surabaya: PT. Bina
Ilmu, 1986, h 54

15
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010, h
11.
20

peraturan yang saling berkaitan dan mengarahkan pada


satu tujuan tertentu.
Sedangkan agama berporos pada kekuatan-kekuatan
nonempiris adalah menunjukkan bahwa agama itu khas
berurusan dan berkaitan dengan kekuatan-kekuatan dari
dunia luar yang dimiliki oleh kekuatan yang Maha Tinggi
lebih tinggi dari kekuatan manusia, dan yang dipercayai
sebagai arwah, roh-roh dan roh tertinggi.16
Cliffort Geertz mengistilahkan agama sebagai (1)
sebuah sistem simbol-simbol yang berlaku untuk (2)
menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat,
yang meresapi dan yang tahan lama dalam diri manusia
dengan (3) merumuskan konsep-konsep mengenai suatu
tatanan umum eksistensi dan (4) membungkus konsep-
konsep ini dengan semacam pancaran faktualitas, sehingga
(5) suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak
realistis.17
Sedangkan definisi keagamaan itu sendiri, menurut
Djamaluddin Ancok adalah pengalaman atau konsekuensi
yang mengacu kepada identifikasi akibat-akibat keyakinan
keagamaan, praktek, pengalaman dan pengetahuan
seseorang dari hari kehari.18
Jadi keagamaan mempunyai pengertian yaitu,
sesuatu yang didasarkan pada ajaran agama atau
sesuatu yang berhubungan dengan agama dan sesuai

16
D. Hendropuspito, Sosiologi Agama, Yogyakarta: Kanisius, 1983, h 34

17
Cliffort Geertz, Kebudayaan dan Agama, Jogyakarta: Kanisius:1992, h 5
21

dengan prinsip-prinsip suatu agama tertentu. Perilaku itu


dapat bermacam-macam bentuk misalnya aktivitas
keagamaan, shalat dan lain-lain. Keberagamaan atau
religiusitas dapat diwujudkan dalam berbagai sisi kehidupan
manusia. Aktivitas beragama tidak hanya terjadi ketika
melakukan perilaku ritual (beribadah), tetapi juga ketika
melakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan
supranatural. Aktivitas itu tidak hanya meliputi aktivitas
yang tampak dan dapat dilihat dengan mata, tetapi juga
aktivitas yang tidak tampak dan terjadi dalam hati
seseorang.19 Menurut Jalaluddin, perilaku keagamaan
adalah suatu tingkah laku manusia dalam hubungannya
dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang
diautnya.20
Dari berbagai penjelasan diatas, maka dapat ditarik
kesimpulan bahwa perilaku keagamaan adalah segala
aktivitas individu atau kelompok yang berorientasi atas
kesadaran tentang adanya Tuhan Yang Maha Esa dan
melaksanakan ajaran sesuai dengan agamanya masing-
masing, misalnya seperti sholat, puasa, zakat, sedekah,

18
Djamaluddin Ancok, Psikologi Islami, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994, h
78

19
Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya Mengefektifkan PAI di
Sekolah,Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002, h. 293

20
Jalaludin, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000, h 11.
22

membaca Al-Quran, akhlaq dan semata-mata hanya


mengharapkan ridho-Nya.
Dari prinsip-prinsip umum di atas, menunjukkan bahwa peranan
guru Agama dalam mengajar Pendidikan Agama Islam dapat dikatakan
sangat dominan, begitu pula dalam pembinaan perilaku keagamaan dimana
guru Aqidah Akhlak memegang peranan yang angat penting yang dapat
membuat siswa termotivasi untuk selalu berperilaku baik sesuai dengan
yang sudah diupayakan oleh guru Aqidah Akhlak.

I. Metode Penelitian
1. Subjek dan Obyek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa semester I tahun pelajaran 2016/2017.
Obyek penelitian ini adalah siswa semester I Tahun Ajaran 2016/2017 mata
pelajaran Aqidah Akhlak.

2. Lokasi Penelitian
Penelitian diadakan di MA Husnul Khatimah Tembalang
Semarang, tepatnya di desa Rowosari Kecamatan Tembalang Kota
Semarang. Adapun pemilihan MA Husnul Khatimah sebagai objek
penelitian adalah karena perilaku

3. Metode penelitian
Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang hasilnya berupa data
deskriptif melalui pengumpulan fakta-fakta dari kondisi alami sebagai sumber
langsung dengan instrumen dari peneliti sendiri. Menurut Bogdan dan Taylor
mendefinisikan Metode Kualitatif sebagai prosedur penelitian yang
menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-
23

orang dan perilaku yang dapat diamati. 21


Nana Syaodih Sukmadinata menjelaskan penelitian kualitatif (qualitative
research) sebagai suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan
menganalisis fenomena, peristiwa, aktifitas social, sikap, kepercayaan,
persepsi, pemikiran orang secara individual maupun kelompok. Beberapa
deskripsi tersebut digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan
yang menuju pada kesimpulan. 22
Peneliti menggunakan metode kualitatif karena ada beberapa
pertimbangan antara lain, pertama menyesuaikan metode kualitatif lebih
mudah apabila berhadapan dengan kenyataan jamak. Kedua, metode ini
menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden.
Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan
banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.
Menurut Bogdan dan biklen yang dikutip Sugiono dalam bukunya
Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D menyatakan
karakteristik penelitian kualitatif adalah sebagai berikut:
a. Dilakukan pada kondisi yang alamiah, langsung ke sumber data, dan
peneliti adalah instrument kunci.
b. Penelitian kualitatif lebih bersifat deskriptif, data yang terkumpul
berbentuk kata-kata atau gambar, jadi tidak menekankan kepada angka.
c. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses daripada produk atau
outcome.
d. Penelitian kualitatif melakukan analisis data secara induktif

21
Lexy Moeloeng, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2006, h 4.

22
Nana Syaodih Sukmadinata, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung:
PT. Remaja Rosda Karya, 2005, h 60.
24

e. Penelitian kualitatif lebih menekankan makna.23

4. Jenis dan Sumber Data


Dalam penelitian ini, terdapat 2 sumber data yang penulis kemukakan,
antara lain :
a. Data Primer

Data primer adalah data yang langsung dikumpulkan oleh peneliti

(atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.24

Dalam penelitian ini data primer akan diperoleh dari guru, tentang

pelaksanaan variasi metode mengajar guru. Data primer ini bersumber dari

guru dan siswa.

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang sifatnya sebagai penunjang. 25

Data sekunder ini berkaitan dengan sekolah, data sekunder ini diantaranya :

sejarah berdiri, letak geografis, dan struktur organisasi, serta keadaan guru

23
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, Bandung:
Alfabeta, 2009, h. 13.

24
Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Edisi.1 Jakarta : PT.
RajaGrafindo Persada, 2006, h. 39.

25
Suharsini Arikunto, Prosedur Suatu Pendekatan Praktik, Edisi revisi., Cet.
14, Yogyakarta : PT.Rineka Cipta, 2010, h. 174.
25

dan siswa. Data sekunder ini bersumber dari kepala sekolah MA Husnul

Khatimah kota Semarang dan karyawan.

5. Teknik Pengumpulan Data


Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini penulis menggunakan
beberapa metode antara lain :
a.Metode Observasi

Metode observasi yaitu pengamatan dan pencatatan dengan

sistemaris atas fenomena-fenomena yang diteliti.26

Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang pelaksanaan

variasi metode mengajar guru Pendidikan agama Islam di MA Husnul

Khatimah Rowosari Tembalang Kota Semarang.

b. Metode Wawancara

Metode interview atau wawancara yaitu sebuah dialog yang

dilakukan oleh pewawancara (interviewer) untuk memperoleh informasi

dari terwawancara (interviewee).27 Pengumpulan datanya dilakukan

dengan tanya jawab kepada kepala sekolah, dan guru.

26
Sutrisno Hadi, Metodologi Research,Edisi.II,. Yogyakarta : Yayasan Penerbit
Fakultas Psikologi UGM, 2004, h. 151.

27
Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi
Revisi V ., Cet. 12 Jakarta : PT Rineka Cipta, 2002, h. 132.
26

Metode ini dilakukan untuk mengetahui keadaan siswa dan guru

yang berhubungan dengan metode mengajar guru Aqidah Akhlak MA

Husnul Khatimah Rowosari Tembalang Kota Semarang.

c.Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu suatu cara pengumpulan data dengan

jalan mencatat keputusan-keputusan hasil kegiatan atau dokumen lampiran

yang dipandang perlu serta ada hubungannya dengan masalah

penelitian.28

Metode ini digunakan untuk diperoleh nama-nama guru dan siswa,

struktur organisasi, sejarah singkat MA Husnul Khatimah Rowosari

Tembalang Kota Semarang, letak geografis dan sarana fisik.

6. Metode Analisis Data


Moleong mengatakan Analisis Data Kualitatif (Bogdan & Biklen) adalah

upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data,

mengorganisasikan data, memilah-milah menjadi satuan yang dapat

dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa

yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat

diceritakan kepada orang lain.

Di pihak lain, Analisis Data Kualitatif (Seiddel) prosesnya berjalan

sebagai berikut:
28
Muhammad Ali, Penelitian Pendidikan Prosedur dan Strategi, Bandung :
PT. Angkasa, 1982, h. 41-42.
27

a. Mencatat yang menghasilkan catatan lapangan, dengan hal itu diberi kode
agar sumber datanya tetap dapat ditelusuri.
b. Mengumpulkan, memilah-milah, mengklasifikasikan, mensistensikan,
membuat ikhtisar, dan membuat indeksnya.
c. Berpikir, dengan jalan membuat agar katageri data itu mempunyai makna,
mencari dan menemukan pola dan hubungan-hubungan, dan membuat
temuan- temuan umum.29
Dalam menganalisis data yang peneliti peroleh dari observasi, wawancara

dan dokumentasi, penulis menggunakan teknik analisa deskriptif kualitatif.

Teknis analisis deskriptif penulis gunakan untuk menentukan, menafsirkan

serta menguraikan data yang bersifat kualitatif.

Proses analisis data yang dilakukan oleh peneliti ialah melalui tahap-

tahap sebagai berikut: 1) Pengumpulan data, tahap ini peneliti mengumpulkan

data sebanyak-banyaknya dari berbagai sumber, baik melalui wawancara,

observasi dan dokumentasi, 2) proses pemilihan transformasi data, atau data

kasus yang muncul dari catatan lapangan, 3) kesimpulan, ini merupakan proses

yang mampu menggambarkan suatu pola tentang peristiwa-peristiwa yang

terjadi.

7. Sistematika Penulisan Skripsi

29
Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Edisi Revisi, Bandung:
Remaja Rosda Karya: 2005, h 248
28

Untuk mengetahui secara keseluruhan isi atau materi-

materi skripsi ini secara global, maka penulis perlu

merumuskan skripsi ini yang meliputi tiga bagian:

a. Bagian Muka
Pada bagian muka ini memuat tentang halaman
judul, halaman nota persetujuan pembimbing, halaman
pengesahan, halaman motto, halaman persembahan,
halaman kata pengantar, halaman dafata isi, dan daftar
tabel.
b. Bagian Isi
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah,
B. Alasan Pemilihan Judul,
C. Telaah Pustaka,
D. Rumusan Masalah,
E. Penegasan Istilah,
F. Tujuan Penelitian
G. Manfaatan Penelitian,
H. Hipotesis Tindakan,
I. Metode Penelitian
1. Subjek dan obyek penelitian,
2. Lokasi penelitian,
3. Desain Penelitinan,
4. Faktor yang Diteliti,
5. Rencana tindakan,
6. Metode Pengumpulan Data,
7. Metode Analisis Data.
8. Indikator Keberhasila
J. Sistematika PenulisanSkripsi.

BAB II : PERAN MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK


DALAM PEMBINAAN PERILAKU KEAGAMAAN
A. Upaya Guru Aqidah Akhlak
1. Pengertian upaya guru Aqidah Akhlak
2. Upaya yang dilakukan oleh guru
B. Pembinaan
29

1. Pengertian pembinaan
2. Tujuan pembinaan
3. Fungsi pembinaan
C. Perilaku keagamaan
1. Pengertian perilaku
2. Pengertian keagamaan
3. Pengertian perilaku keagamaan

BAB III : LAPORAN HASIL PENELITIAN UPAYA GURU


AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA PERILAKU
KEAGAMAAN SISWA DI MA HUSNUL KHATIMAH
TAHUN AJARAN 2016/2017
A. Keadaan umum MA Husnul Khatimah
1. Tinjauan historis,
2. Visi dan Misi,
3. Letak Geografis,
4. Struktur Organisasi,
5. Keadaan Guru,
6. Karyawan dan siswa,
7. Keadaan Sarana dan Prasarana, dan
8. Kurikulum.
B. Data penelitian tentang Upaya Guru Aqidah
Akhlak Dalam Membina Perilaku Keagamaan Siswa
Di MA Husnul Khatimah Tahun Ajaran 2016/2017

BAB IV : ANALISIS HASIL PENELITIAN TENTANG UPAYA


GURU AQIDAH AKHLAK DALAM MEMBINA
PERILAKU KEAGAMAAN SISWA DI MA HUSNUL
KHATIMAH TAHUN AJARAN 2016/2017
A. Perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah
Rowosari Tembalang Semarang
B. Upaya guru Aqidah Akhlak dalam pembinaan
perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah
Rowosari Tembalang Semarang
30

C. Faktor pendukung dan penghambat yang


dihadapi guru Aqidah Akhlak dalam pembinaan
perilaku keagamaan siswa di MA Husnul Khatimah
Rowosari Tembalang Semarang
31

BAB V :PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran-saran
C. Penutup.

c. Bagian Akhir
Dibagian akhir ini terdiri dari daftar pustaka,
lampiran-lampiran, dan daftar riwayat hidup penulis.

Semarang, Juli 2016


Peneliti

Fuad Afandi
NIM : 096012424
32

DAFTAR PUSTAKA

Al-Hafidz, Ahsin W., Kamus Ilmu Al Quran, Jakarta: Amzah,


2008.

Aminoto, Nur, Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif


Tipe Jigsaw untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika
tentang Barisan dan Deret Bilangan bagi Siswa Kelas IX SMP
Negeri 2 Bulu Tahun Pelajaran 2008/2009, JURNAL PENDIDIKAN.
Junal ilmiah SMP Negeri 2 Bulu Temanggung, WIDYATAMA, Vol. 6.
No. 3 ( September 2009).

Anwar, Syahrul, Ilmu Fiqih dan Ushul fiqih, Bogor: Galia


Indonesia, 2010.

Arifin, M., Ilmu Pendidikan Islam : Suatu Tinjauan Teoritis


Dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdispliner, Jakarta: Bumi
Aksara, 1993.

Arikunto, Suharsimi, et.all.,Penelitian Tindakan Kelas,


Jakarta, Bumi Aksara, 2008.
Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian : Suatu
Pendekatan Praktik, Jakarata: Rienika Cipta, 2010.

Azwar, Syaifudin, Metodologi PenelIan, Yogyakarta: Pustaka


Pelajar, 2011.

Depertemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahan, Bandung:


Al-Jumanatul Ali, 2005.

Djaali, Psikologi Pendidikan, Jakarta: Bumi Aksara, 2011.

Fathurrohman, Pupuh, dan Sobry Sutikno, Strategi Belajar


Mengajar: Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam,
Bandung: Refika Aditama, 2010.

Hamalik, Oemar, Proses Belajar Mengajar, Jakarta: Bumi


Aksara, 2009.

Hamalik, Oemar, Psikologi Belajar dan Mengajar, Bandung :


Sinar baru, 1992.
33

Handoko, Martin, Motivasi Daya Pnggerak Tingkah Laku,


Yogyakarta: tp, 1992.

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung:


Rosda Karya, 2009.

Mudjahit, et., all, Materi Pokok I, BUKU 1, Jakarta: DJPKAI,


2000.

Muslich, Mansur, Melaksanakan PTK itu Mudah, Jakarta, PT


Bumi Aksara, 2009.

Nasution, S., Metode Research, Bandung: JEMMARS, 1998.

Nasution, S., Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jakarta: Bumi


Aksara, 2010.

Nata, Abuddin, Perspektif Islam Tentang Strategi


Pembelajaran, Jakarta: Kencana, 2009.

Nurdin, Muhammad, Kiat Menjadi Guru Professional,


Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010.
Nurhadi, et.all. Pembelajaran Kontekstual (Contextual
Teaching and Learning/CTL) dan Penerapannya dalam KBK,
Malang: UM Press, 2004.

Purwanto, Ngalim, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT


Remaja Rosdakarya, 2000.

Rusman, Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan


Profesionalisme Guru, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011.

Rusyan, Tabrani, et. all,. Pendekatan Dalam Proses Belajar


Mengajar, Bandung: Remaja Karya, 1989.

Sapuri, Rafy, Psikologi Islam, Jakarta: Raja Grafindo Persada,


2009.

Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta:


CV Rajawali 1990.
34

Silberman M., Active Learning 101 strategies to Teach Any


Subject, Bandung: Nusa Media, 2004.

Silberman, Melvin L., Active Learning, 101 Strategi


Pembelajaran Aktif, Hidayat Komaruddin, Yogyakarta: YAPENDIS,
1996.

Slavin, Robert E., Cooperative Learning: Teori, Riset Dan


Praktik, Zubaedi, Bandung: Nusa Media, 2010.

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R &


D, Bandung: Alfabeta, 2009.

Sukarni, Sri, Pengaruh Pembelajaran Inovatif Model Jigsaw


Terhadap Penguasaan Materi Pelajaran PAI Siswa Kelas IV, V, dan
VI SD 3 Undaan Tengah kabupaten Kudus (Skripsi), Semarang:
Fakultas Agama Islam Unwahas, 2010.

Suprijono, Agus, Cooperative Learning : Teori & Aplikasi


Paikem, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Suryasubroto, Proses Belajar Mengajar di Sekolah , Jakarta:


Rineka Cipta, 1997.

Suyanto, Pedoman Penelitian Tindakan Kelas (PTK),


Yogyakarta: Dirgen PT dan Dekdikbud, 1997.
Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, Sidoarjo:
Masmedia Buana Pustaka, 2009.

Tafsir, Metodologi Pengajaran Pendidikan Islam, Bandung:


Rosdakarya, 1993.

Thontowi, Ahmad, Psikologi Pendidikan, Bandung: Angkasa,


1989.

Trianto, Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Prigresif,


Jakarta: Kencana Prenada Nedia Group, 2009.

Wahid Murni, Penelitian Tindakan Kelas dari Teori Menuju


Praktik, Malang: UM Press, 2008.
35

Wijayanti, Titis, Implementasi Metode Jigsaw dalam


Meningkatkan Prestasi Belajar (Mata Pelajaran Quran Hadits)
Kelas VII F MTs Al-Maarif 01 Singosari, (Skripsi), Malang: Fakultas
Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, 2012.

Yoni, Acep, S.S, et. All., Menyususn Penelitian Tindakan


Kelas, Yogyakarta: Familia, 2010.

Yudiana, Eka Marlia, Penerapan Multi Metode dalam


Meningkatkan Motivasi dan Prestasi belajar Mata Pelajaran
Ekonomi Siswa Kelas VI G SMPN 4 Malang, (Skripsi), Malang:
Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim,
2010.
36

LEMBAR PENGESAHAN

A. JUDUL : UPAYA GURU AQIDAH AKHLAK DALAM


PEMBINAAN PERILAKU KEAGAMAAN
SISWA DI MA HUSNUL KHATIMAH
ROWOSARI TEMBALANG SEMARANG
TAHUN 2016/2017
B. PENELITI
1.Nama : Fuad Afandi
2.NIM : 09601242
3.Progdi : Pendidikan Agama Islam (PAI)
4.Fakultas : Agama Islam

Semarang,
Mengetahui,
Pembimbing I Pembimbing I