Anda di halaman 1dari 35

ALL ABOUT BLUE DEVIL FISH

LTERATURE TO COMPLETE THE PROPOSAL FOR MAGANG

ikan blue devil

1. pendahuluan
Ikan Blue Devil memiliki nama latin Chrysiptera cyanea atau juga di kenal dengan nama
lain seperti dameselfish blue. Ikan ini termasuk jenis ikan ganas, agresif tetapi juga tahan
banting. Anda pasti tak menganggap dengan warnanya dominan biru yang demikian indah,
tetapi ikan ini menaruh keagresifan yang tinggi, oleh karenanya disematkan nama devil atau
iblis untuk melukiskan keganasannya.
Selain terkenal rakus dan tahan dalam beragam keadaan lingkungan pada tempat mereka
tinggal. Ikan ini juga terkenal dengan harganya yang relatif cukup terjangkau, jika anda
seorang pemula dalam memelihara ikan hias, ikan blue devil ini dapat jadi pilihan untuk uji
coba mengisi akuarium air laut anda. Dan yang perlu anda ketahui, ikan ini merupakan jenis
ikan hias yang paling laku di negara paman sam atau Amerika. Untuk ukuran dewasanya,
ikan ini memiliki ukuran 7 cm, yang diukur dari ujung mulut hingga ujung ekornya.
Ikan Blue Devil memiliki struktur tubuh yang hampir serupa dengan ikan mujair, ikan ini
mempunyai warna yang sangatlah dominan yakni biru dengan titik putih yang umumnya
menghiasi badannya serta titik hitam yang terdapat umumnya di pangkal siripnya. Namun
ketika terancam, serta dalam kondisi yang beresiko, ikan ini bisa berubah
1. pendahuluan
Ikan Blue Devil memiliki nama latin Chrysiptera cyanea atau juga di kenal dengan nama
lain seperti dameselfish blue. Ikan ini termasuk jenis ikan ganas, agresif tetapi juga tahan
banting. Anda pasti tak menganggap dengan warnanya dominan biru yang demikian indah,
tetapi ikan ini menaruh keagresifan yang tinggi, oleh karenanya disematkan nama devil atau
iblis untuk melukiskan keganasannya.
Selain terkenal rakus dan tahan dalam beragam keadaan lingkungan pada tempat mereka
tinggal. Ikan ini juga terkenal dengan harganya yang relatif cukup terjangkau, jika anda
seorang pemula dalam memelihara ikan hias, ikan blue devil ini dapat jadi pilihan untuk uji
coba mengisi akuarium air laut anda. Dan yang perlu anda ketahui, ikan ini merupakan jenis
ikan hias yang paling laku di negara paman sam atau Amerika. Untuk ukuran dewasanya,
ikan ini memiliki ukuran 7 cm, yang diukur dari ujung mulut hingga ujung ekornya.
Ikan Blue Devil memiliki struktur tubuh yang hampir serupa dengan ikan mujair, ikan ini
mempunyai warna yang sangatlah dominan yakni biru dengan titik putih yang umumnya
menghiasi badannya serta titik hitam yang terdapat umumnya di pangkal siripnya. Namun
ketika terancam, serta dalam kondisi yang beresiko, ikan ini bisa berubah warna dengan
dalam waktu relatif cepat, sungguh sungguh mengagumkan. Ikan Blue Devil ini bisa
berenang dengan amat cepat saat mengejar mangsanya. Sebenarnya ikan ini tak sukai
mengganggu, namun ikan ini akan berubah jadi agresif jika ada yang mengganggu
sarangnnya.
Ikan Blue Devil senang tinggal di daerah daerah karang berpasir, yang membedakan pada
jantan serta betina dari ikan ini yaitu bentuk badannya, umumnya ikan jantan tampak semakin
besar serta memanjang, sedang betinanya lebih kecil serta membulat.
Demikian ulasan kami tentang Ikan Blue Devil. Semoga ulasan yang sangat singkat ini
dapat memberikan tambahan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi anda semua.
2. klasifikasi
Klasifikasi dan Morfologi Blue Devil (Chrysiptera cyanea)
Blue devil merupakan hewan vertebrate (bertulang belakang) yang termasuk dalam filum
Chodata.
Kingdom : Animalia
Fhylum : Chodata
Class : Actinopterygii
Family : Fomacentridae
Genus : Chrysiptera
Speciaes : C. cyanea

3. pemijahan
a. Persiapan Bak Induk
Wadah yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan kaporit dan dibilas sampai bersih,
kemudia dipasangkan beberapa titi aerasi sebagai pensuplai oksigen kedalam air. Pada bagian
dasar bak diberikan beberapa buah selter berupah potongan pipa yang berfungsi sebagai
sarang bagi induk atau tempat peletakan telur lalu diisi air laut dengan sistim sirkulasi Setelah
semuanya terpenuhi baru dimasukkan 120 ekor ikan blue devil dengan perbandingan 40
jantan dan 80 betina atau 1:2.
b. Seleksi induk
Gambar: seblah atas jantan dan seblah bawah betina
Induk yang digunakan sebaiknya diseleksi terlebih dahulu baik dari segi kesehatan, ukuran,
warna maupun bentuk tubuhnya yang harus lengkap dan tidak cacat. Untuk jantan sebaiknya
berukuran 6 7cm dan betina berukuran 4,5 5,5 cm, adapun cirri-ciri sebagai berikut:
Jantan ukurannya lebih besar dari betina, bentuk memanjang, biru menyalah dan bagian dada
dan sirip ekor berwarna orange sedangkan betina ukurannya lebih kecil, agak bulat dan biru
polos.
c. Penanganan Induk
Dalam menangani induk perlu ketekunan dan ketelitian terutama dalam pemberian pakan dan
pegontrolan terhadap kesehatannya. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan, ikan rucah
maupun pakan hidup berupa artemia, udang renik, jentik nyamuk atau pakan hidup lainnya
yang sesuai dengan bukaan mulutnya. Frekwensi pemberian pakan sebaiknya 3 kali sehari
dan diberikan sampai kenyang. Tingkat Pembuahan (Fertilisasi)
Pembuahan atau fertilisasi merupakan asosiasi gamet, dimana asosiasi ini merupakan mata
rantai awal dan sangat penting pada proses fertilisasi. Rasio pembuahan sering digunakan
sebagai parameter untuk mendeteksi kualitas telur. Penggabungan gamet biasanya disertai
dengan pengaktifan telur. Selama fertilisasi dan pengaktifan, telur-telur ikan teleostei
mengalami reaksi kortikal. Kortikal alveoli melebur, melepaskan cairan koloids, dan
selanjutnya memulai pembentukan ruang periviteline. Kjorsvik et al, (1990) dalam Utiah,
(2006). Kortikal alveoli muncul setelah terjadinya fertilisasi dan reaksi kortikal yang tidak
lengkap menunjukkan kualitas telur yang jelek. Beberapa hal yang mempengaruhi
pembuahan adalah berat telur ketika terjadi pembengkakan oleh air, pH cairan ovari, dan
konsentrasi protein (Lahnsteiner et al., 2001).
d. fertilisasi
Fertilisasai adalah peleburan dua gamet yang berupa nukleus atau sel-sel bernukleus untuk
membetuk sel tunggal (zigot) atau peleburan nukleus. Biasanya melibatkan penggabungan
sitoplasma (plasmogami) dan penyatuan bahan nukleus (kariogami). Dengan meiosis, zigot
itu membentuk ciri fundamental dari kebanyakan siklus seksual eukariota, dan pada dasarnya
gamet- gamet yang melebur adalah haploid. Bilamana keduanya motil maka fertilisasi itu
disebut isogami, bilamana berbeda dalam ukuran tetapi serupa dalam bentuk maka disebut
anisogami, bila satu tidak motil (dan biasanya lebih besar) dinamkan oogami (Huttner, 1980)
Pemijahan Induk Blue Devil (C. cyanea) dilakukan secara alami, pembuahan dilakukan
diluar tubuh,. Induk betina yang akan memijah mempunyai ciri-ciri perut buncit dan genital
papilanya menonjol, sedangkan yang jantan agresif bergerak mengejar betina. Induk Blue
Devil mulai membersihkan sarang (Selter Paralon) untuk menempelkan telurnya. Proses
pembersihan substrat dilakukan dengan cara menggerakkan badan mereka seolah-olah seperti
sapu. Proses ini dilakukan agar substrat benar-benar bersih. Proses pemijahan biasanya
berlasung sore antara pukul 18.30- 20.00 dan pagi hari antara pukul 04.00-05.00.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan sepasang induk dapat memijah secara terus-
menerus dengan selang waktu 4-5 hari sekali. Induk blue devil (Chrysiptera cyanea)
memelihara telurnya selama 4 hari dan telur menetas pada hari ke 4 Sore yaitu antara pukul
19.00 19.30. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi antara 900-3.500 butir. Telur yang
telah ditempelkan pada substrat akan dipelihara atau dijaga oleh induk jantan setiap saat
keluar masuk sarang untuk menghalau ikan yang lain yang mencoba mendekati sarang dan
membersihkan telur dari jamur dan parasit.
Telur yang terbuahi pada hari I berwarna putih, pada hari ke II berwarna putih krem, hari
ke III warna krem lebih dominan seiring dengan perkembangan embrio, dan pada hari ke IV
telur berwarna krem dengan tanda hitam. Warna hitam tersebut diakibatkan pada embrio
sudah terbentuk kromatopore sempurna pada mata, badan maupun ekor, sedangkan yang
tidak terbuahi berwarna putih.
e. Panen larva
Larva yang menetas pada malam hari maka panenpun dilakukan pada malam hari, karena
jika tidak segera dipanen larva tersebut habis dimakan oleh induk pada saat matahari terbit.
Metode panen yang dilakukan adalah menyedot langsung larva yang terkumpul oleh cahaya
lampu dengan menggunakan selang ke bak larva pada malam hari. selama 2 sampai 4 malam
panen dalam setiap bak larva tergantung kepadatan larva yang dihasilkan di bak induk.
f. Pemeliharaan larva
Keberhasilan dalam pemeliharaan larva sangat tergantung dari penanganannya dan hal-
hal yang perlu diperhatikan adalah; 1.) menjaga kestabilan suhu dalam wadah pemeliharaan
dengan memberikan penutup berupa plastic transparan pada bagian atas bak pemeliharaan,
2.) Pengaturan jumlah dan tekanan arasi yang merupakan pensuplai oksigen kedalam air
dimana tekanan aerasi harus disesuaikan dengan kebutuhan oksigen dan daya gerak larva, 3.)
pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhannya baik dari segi kualitas, ukuran
pakan, frekwensi pemberian pakan, dosis pakan, jenis pakan yang intinya dapat
meningkatkan SR dan pertumbuhan namun tidak merusak kualitas air dalam wadah
pemeliharaan.
g. Pemberian pakan pada larva
Larva yang berumur 1 hari diberikan pakan alami berupa Clorella sp sebanyak 5 sampai 7 %
dari volume air dalam bak dan rotifer dengan kepadatan 10 sel per milli liter sampai larva
berumur 20 hari. Setelah larva berumur 15 hari baru diberikan naupli artemia dengan
kepadatan 2 sampai 5 ekor per milli liter air dalam bak, tergantung kepadatan larva dalam
bak, khusus pakan pellet (pakan buatan) diberikan pada larva yang berumur 1 hari sampai
larva dipanen dan ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Untuk menjaga agar
kualitas air dalam wadak pemeliharaan tetap stabil maka dilakukan penyiponan pada saat
larva berumur 20 hari guna membersihkan kotoran yang mengendap didasar. Setelah larva
berumur 30 40 hari maka akan berubah warna dari hitam menjadi biru dan siap dipindahkan
ke wadah pembesaran
h. Budidaya ( Pembesaran)
Benih yang keluar dari bak larva dibesarkan di bak fiber yang bervolume 2 sampai 3 ton
dengan menggunakan sistim air mengalir selama 24 jam. Pakan diberikan 3 kali sehari yaitu
pagi, siang dan sore hari berupa pakan artemia dan pakan pellet. Pakan harus disesuaikan
dengan bukaan mulut ikan yang dipelihara dan untuk membersihkan kotoran yang ada di
dasar bak maka penyiponan dilakukan setiap selesai pemberian pakan. Panen dilakukan
setelah ikan berumur 5 sampai 6 bulan, untuk masalah ukuran dan jumlah disesuaikan dengan
permintaan pasar.
DAFTAR PUSTAKA

Gani abdul.2013.teknologi budidaya ikan hias blue devil(chrysiptera cyanea). kementrian kelautan
dan perikanan. Ambon
Setiawan rosid.2015.ikan blue devil(chrysiptera cyanea).
http://artikelikanhias.blogspot.co.id/2015/10/ikan-blue-devil.html. diakses pada tanggal 04
mei 2016.
Suharno, Abdul Gani dan Akhmad Sururi.2013. Efektifitas pemijahan ikan blue devil (chrysiptera
cyanea) dengan perbandingan jumlah pasangan jantan betina yang berbeda.kementrian
kelautan dan perikanan.Ambon.
TEKNOLOGI BUDIDAYA IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea)

TEKNOLOGI BUDIDAYA

IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea)

Oleh:

Abdul Gani

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERIKANAN BUDIDAYA

BALAI BUDIDAYA LAUT AMBON

2012

BUDIDAYA IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea)


Abstrak

Blue devil Chrysiptera cyanea yang juga dikenal sebagai damselfish blue merupakn ikan
hias air laut yang sangat digemari oleh masyarakat karena warnanya begitu cantik,
agresif dan termasuk ikan rakus serta tahan terhadap perubahan lingkungan dan
harganya relative terjangkau sehingga ikan ini biasanya dijadikan sebagai ikan pemula
dalam pemeliharaan diaquarium air laut bahkan, ikan ini merupakan ikan hias yang
terlaris di Amerika Serikat. Walaupun ikan ini masih banyak ditemui di daerah karang
namun lambat laun akan punah akibat penangkapan yang biasanya menggunakan
potasium, untuk mengantisipasi hal ini perlu adanya pengembangan teknologi
pembenihan dan budidaya ikan tersebut disamping itu ikan hias dari hasil budidaya
mempunyai ketahanan yang cukup bagus ketimbang hasil tangkapan alam. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk mendapatkan dan memberikan informasi tentang teknologi
budidaya ikan hias blue devil Chrysiptera cyanea sedangkan sasaran yang ingin dicapai
adalah untuk menciptakan lapangan kerja, menjaga kelestarian ikan hias blue devil dan
terumbu karang. Ikan ini dapat dibudidayakan secara massal dan mampu menghasilkan
ribuan telur dan benih setiap hari.

Kata kunci : blue devil, pemeliharaan benih, SR

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Blue devil Chrysiptera cyanea yang juga dikenal sebagai damselfish blue. Ikan ini
sangat agresif dan tahan banting, ukurannya biasa mencapai 7 cm. Blue devil merupakn
ikan hias air laut yang sangat digemari oleh masyarakat karena warnanya begitu cantik,
agresif dan termasuk ikan rakus serta tahan terhadap perubahan lingkungan dan harganya
relatif terjangkau, sehingga ikan ini biasanya dijadikan sebagai ikan pemula dalam
pemeliharaan diaquarium air laut bahkan ikan ini merupakan ikan hias yang terlaris di
Amerika Serikat. Blue devil ikan yang berbadan langsing, struktur badannya hampir mirip
badan seekor ikan mujair. Seluruh tubuh ikan ini berwarna dominan biru cerah, terkadang
disertai titik-titik putih. Pada ujung sirip punggung biasanya terdapat titik berwarna hitam
letaknya dipangkal siripnya.

Sesuai dengan namanya ikan ini dapat merubah warnanya dalam seketika disaat ikan ini
merasa terancam, seringkali ikan ini terlihat berenang dengan cepat mengejar makanan
atau hanya bermain-main dengan kawanannya. Meskipun bergerak amat gesit, umumnya
ikan ini cenderung jarang mengganggu ikan ikan lain kecuali ada yang mendekati
sarangnya. Blue devil ditemui hampir disemua daerah karang berpasir, perbedaan jantan
dan betina dapat dilihat dari postur tubuh, warna dan ukuran. Jantan kelihatan memanjang,
bagian sirip ekor dan dada berwarna orange dan ukurannya lebih besar sedangkan betina
kelihatan pendek dan agak bulat, bagian sirip ekor dan dada teransparan dan lebih kecil.

1.2. Tujuan

Memberikan informasi tentang teknologi budidaya ikan hias blue devil (Chrysiptera
cyanea)

1.2. Sasaran yang ingin dicapai

Menciptakan lapangan kerja, menjaga kelestarian ikan hias blue devil dan terumbu
karang

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi dan Morfologi Blue Devil (Chrysiptera cyanea)

Blue devil merupakan hewan vertebrate (bertulang belakang) yang termasuk dalam filum
Chodata.

Kingdom : Animalia

Fhylum : Chodata

Class : Actinopterygii

Family : Fomacentridae

Genus : Chrysiptera

Speciaes : C. cyanea

Blue Devil ikan yang berbadan langsing, struktur badannya hampir mirip badan seekor ikan
mujair. Seluruh tubuh ikan ini berwarna dominan biru cerah, terkadang di sertai titik- titik
putih. Blue devil Chrysiptera cyanea yang juga dikenal sebagai damselfish blue. Ikan ini
sangat agresif dan tahan banting, ukurannya biasa sampai 7 cm. Damselfish (Keluarga
famili Pomacentridae) terkenal di seluruh dunia, spesies yang terdaftar sudah mencapai 320
dan masih tumbuh (Allen, 1991), tetapi setiap tahun beberapa spesies baru telah
ditambahkan ke dalam daftar, dan sekarang spesies yang valid sudah mencapai 370 nomor,
termasuk yang undescribed (John Randall, pers comm.., 2005). Ada begitu banyak
damselfish berbadan biru dan beberapa diantaranya masi diidentifikasi dalam literatur
populer baru-baru ini, tetapi iblis biru cukup jelas diwarnai dengan warna biru kehitaman,
biru metalik. Kecerahan warna tergantung pada kekuatan cahaya. Habitat ikan blue devil
atau iblis biru banyak ditemui di darah karang berpasir dan biasanya berkelompok.

III. METODE

a. Persiapan Bak Induk

Wadah yang akan digunakan dicuci dengan menggunakan kaporit dan dibilas sampai
bersih, kemudia dipasangkan beberapa titi aerasi sebagai pensuplai oksigen kedalam air.
Pada bagian dasar bak diberikan beberapa buah selter berupah potongan pipa yang
berfungsi sebagai sarang bagi induk atau tempat peletakan telur lalu diisi air laut dengan
sistim sirkulasi Setelah semuanya terpenuhi baru dimasukkan 120 ekor ikan blue devil
dengan perbandingan 40 jantan dan 80 betina atau 1:2.

b. Seleksi induk

Gambar: seblah atas


jantan dan seblah
bawah betina

Induk yang digunakan sebaiknya diseleksi terlebih dahulu baik dari segi kesehatan, ukuran,
warna maupun bentuk tubuhnya yang harus lengkap dan tidak cacat. Untuk jantan
sebaiknya berukuran 6 7cm dan betina berukuran 4,5 5,5 cm, adapun cirri-ciri sebagai
berikut: Jantan ukurannya lebih besar dari betina, bentuk memanjang, biru menyalah dan
bagian dada dan sirip ekor berwarna orange sedangkan betina ukurannya lebih kecil, agak
bulat dan biru polos.

c. Penanganan Induk
Dalam menangani induk perlu ketekunan dan ketelitian terutama dalam pemberian pakan
dan pegontrolan terhadap kesehatannya. Pakan yang diberikan adalah pakan buatan, ikan
rucah maupun pakan hidup berupa artemia, udang renik, jentik nyamuk atau pakan hidup
lainnya yang sesuai dengan bukaan mulutnya. Frekwensi pemberian pakan sebaiknya 3 kali
sehari dan diberikan sampai kenyang.

d. Panen larva

Larva yang menetas pada malam hari maka panenpun dilakukan pada malam hari, karena
jika tidak segera dipanen larva tersebut habis dimakan oleh induk pada saat matahari terbit.
Metode panen yang dilakukan adalah menyedot langsung larva yang terkumpul oleh cahaya
lampu dengan menggunakan selang ke bak larva pada malam hari. selama 2 sampai 4
malam panen dalam setiap bak larva tergantung kepadatan larva yang dihasilkan di bak
induk.

e. Pemeliharaan larva

Keberhasilan dalam pemeliharaan larva sangat tergantung dari penanganannya dan hal-hal
yang perlu diperhatikan adalah; 1.) menjaga kestabilan suhu dalam wadah pemeliharaan
dengan memberikan penutup berupa plastic transparan pada bagian atas bak
pemeliharaan, 2.) Pengaturan jumlah dan tekanan arasi yang merupakan pensuplai oksigen
kedalam air dimana tekanan aerasi harus disesuaikan dengan kebutuhan oksigen dan daya
gerak larva, 3.) pakan yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhannya baik dari segi
kualitas, ukuran pakan, frekwensi pemberian pakan, dosis pakan, jenis pakan yang intinya
dapat meningkatkan SR dan pertumbuhan namun tidak merusak kualitas air dalam wadah
pemeliharaan.

f. Pemberian pakan pada larva


Larva yang berumur 1 hari diberikan pakan alami berupa Clorella sp sebanyak 5 sampai 7 %
dari volume air dalam bak dan rotifer dengan kepadatan 10 sel per milli liter sampai larva
berumur 20 hari. Setelah larva berumur 15 hari baru diberikan naupli artemia dengan
kepadatan 2 sampai 5 ekor per milli liter air dalam bak, tergantung kepadatan larva dalam
bak, khusus pakan pellet (pakan buatan) diberikan pada larva yang berumur 1 hari sampai
larva dipanen dan ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut larva. Untuk menjaga agar
kualitas air dalam wadak pemeliharaan tetap stabil maka dilakukan penyiponan pada saat
larva berumur 20 hari guna membersihkan kotoran yang mengendap didasar. Setelah larva
berumur 30 40 hari maka akan berubah warna dari hitam menjadi biru dan siap
dipindahkan ke wadah pembesaran

g. Budidaya ( Pembesaran)

Benih yang keluar dari bak larva dibesarkan di bak fiber yang bervolume 2 sampai 3 ton
dengan menggunakan sistim air mengalir selama 24 jam. Pakan diberikan 3 kali sehari yaitu
pagi, siang dan sore hari berupa pakan artemia dan pakan pellet. Pakan harus disesuaikan
dengan bukaan mulut ikan yang dipelihara dan untuk membersihkan kotoran yang ada di
dasar bak maka penyiponan dilakukan setiap selesai pemberian pakan. Panen dilakukan
setelah ikan berumur 5 sampai 6 bulan, untuk masalah ukuran dan jumlah disesuaikan
dengan permintaan pasar.

h. Gambar hasil Kegiatan

Bak induk yang


dilenkapi
dengan lampu
untuk panen
larva
Gambar telur
di mikroskop

Benih umur 3 bulan

Gambar larva di
mikroskop
IV. KEISIMPULAN

4.1. Kesimpulan

Budidaya ikan hias blue devil dapat dilakukan secara massal dengan perbandingan induk 1:2
( 1 jantan dan 2 betina)

Dengan induk 120 ekor dapat menghasilkan larva hamper setia malam

Masa pmeliharaan larva berkisar 40 hari

Untuk mencapai ukuran pasar dapat ditempuh dengan lama pemeliharaan yaitu 5-6 bulan

4.2. Saran

Teknologi budidaya ikan hias blue devil pelrlu ditingkatkan dan dipublikasikan guna membuka
lapangan kerja sehingga hasil budidaya dapat menyaingi hasil tangkapan alam.

DAFTAR PUSTAKA

Burgess, W. et all., 1990. Atlas of Marine Aquarium Fishes, Second Edition. TFH Publication.
Sidney-Australia
Emmens, C.W., 1988. Marine Fishes and Invertebrates in Your Own Home. TFH
Publications. Sydney-Australia

Richard, B., Rickajzen, S., Barker, J. 2007. Ocean, Revealing The Secrets of The Deep.
Atlantic Publishing. UK. Pg 210

www.freshmarine.com

www.wikipedia.com
THE BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) HATCHERY TECHNIQUE AT THE BALAI BESAR
PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea) DI BALAI BESAR
PERIKANAN BUDIDAYA LAUT LAMPUNG

Diah Ayu Puspitarini 1, Sapto Andriyono2

1Undergraduate Student of Industrial Technology of Fisheries, Faculty of Fisheries and Marine,


Universitas Airlangga, Kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo, Surabaya 60115 2Department of Marine,
Faculty of Fisheries and Marine, Universitas Airlangga, Kampus C UNAIR Jl. Mulyorejo, Surabaya
60115

Abstract

Blue devil (Chrysiptera cyanea) is a group of marine ornamental fish (damsel fish groups) which have
a bright blue color, slim and very agile. The fish is marine ornamental fish are economically
important. Because of this, these fish hatchery activities is done. Field Work Activities of the fish
hatchery is done with descriptive method. The writer have done and observe any measures regarding
ornamental fish hatchery techniques blue devil (Chrysiptera cyanea) at the Balai Besar Perikanan
Budidaya Laut Lampung on 12nd January to 12nd February 2015. The result from this field practice
can be know that fish hatchery blue devil (Chrysiptera cyanea) at the Balai Besar Perikanan Budidaya
Laut Lampung carried out in the laboratory of ornamental fish is used as many as 110 broodstock
which has 7.5 cm long for males and 5.3 cm long for females. Naturally spawning was conducted.
Larvae was feed given in the form of natural feed that was adapted to the mouth opening. Water
quality is the most crucial affected to the blue devil fish larvae survival rate. Blue devil fish have FR
and HR values reached 100%, but on survival rate is 0% due to the high ammonia content at the 18
day larvae rearing.

Keywords : Hatchery, Ornamental fish blue devil, Survival Rate

Abstrak

Blue devil (Chrysiptera cyanea) merupakan ikan hias laut dari kelompok damsel fish yang memiliki
warna biru cerah, berbadan ramping dan sangat gesit. Ikan tersebut merupakan ikan hias air laut yang
ekonomis penting. Karena hal tersebut, kegiatan pembenihan ikan ini mujlai dilakukan. Kegiatan PKL
tentang pembenihan ini dilakukan dengan metode deskriptif. Dalam hal ini telah dilakukan dan
diamati segala bentuk kegiatan mengenai teknik pembenihan ikan hias blue devil (Chrysiptera
cyanea) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung pada tanggal 12 Januari - 12 Februari
2015. Dari hasil Praktek Kerja Lapang yang telah dilakukan, diketahui bahwa pembenihan ikan hias
blue devil (Chrysiptera cyanea) di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung dilakukan dalam
laboratorium ikan hias dengan jumlah indukan 110 ekor yang mempunyai panjang rata-rata 7,5 cm
untuk jantan dan 5,3 cm untuk betina. Pemijahan dilakukan secara alami. Pakan yang diberikan pada
larva berupa pakan alami yang disesuaikan dengan bukaan mulut. Kualitas air berpengaruh terhadap
nilai SR dari larva ikan blue devil. Ikan blue devil mempunyai nilai FR dan HR mencapai 100%
dengan nilai SR sampai 0% akibat kandungan amoniak yang tinggi setelah 18 hari pemeliharaan
larva.

Kata kunci: Pembenihan, Ikan hias blue devil, Survival Rate


PENDAHULUAN

Perkembangan bisnis produk perikanan non-konsumsi termasuk komoditas ikan hias di Indonesia
mengalami perkembangan yang cukup pesat dan memiliki prospek yang menjanjikan secara ekonomi.
Sejak tahun 2011 nilai perdagangan ikan non-konsumsi melebihi target yang telah ditetapkan yaitu

mencapai Rp 565 miliar dari target sebesar Rp 350 miliar. (Kementerian Kelautan dan Perikanan,
2013). Potensi ikan hias air laut perlu di gali secara optimal untuk meningkatkan volume dan nilai
ekspor ikan hias Indonesia. Berdasarkan data statistik perikanan budidaya, volume produksi ikan hias
selama periode 2010-2013 mengalami

peningkatan rata-rata sebesar 18,9% pertahun yaitu 605 juta ekor pada tahun 2010 dan mencapai
1,137 milyar ekor pada tahun 2013 (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2014). Ikan hias
merupakan salah satu komoditas perikanan yang menjadi komoditas perdagangan yang potensial di
dalam maupun di luar negeri. Ikan hias dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan devisa bagi
negara. Ikan hias memiliki daya tarik tersendiri untuk menarik minat para pecinta ikan hias (hobiis)
dan juga kini banyak para pengusaha ikan konsumsi yang beralih pada usaha ikan hias. Kelebihan dari
usaha ikan hias adalah dapat diusahakan dalam skala besar maupun kecil ataupun skala rumah tangga,
selain itu perputaran modal pada usaha ini relatif cepat (Sihombing, 2013). Blue devil (Chrysiptera
cyanea) yang juga dikenal sebagai damsel fish blue merupakan ikan hias air laut yang sangat digemari
oleh masyarakat karena warnanya begitu cantik, agresif dan termasuk ikan rakus serta tahan terhadap
perubahan lingkungan dan harganya relative terjangkau sehingga ikan ini biasanya dijadikan sebagai
ikan pemula dalam pemeliharaan diaquarium air laut bahkan, ikan ini merupakan ikan hias yang
terlaris di Amerika Serikat (Gani, 2012).

METODOLOGI

Praktek Kerja Lapang ini telah dilaksanakan di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL)
Lampung pada tanggal 12 Januari-12 Februari 2015. Metode yang digunakan dalam kegiatan Praktek
Kerja Lapang ini adalah metode deskriptif. Dalam hal ini telah dilakukan dan diamati segala bentuk
kegiatan mengenai teknik pembenihan ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) di Balai Besar
Perikanan Budidaya Laut Lampung sehingga diperoleh data diantaranya data sarana prasarana, data
kualitas air (pengukuran pH, suhu dan salintas), data induk (jenis, ukuran dan jumlah induk), data
pakan (jenis dan frekuensi pakan), serta data telur (jumlah telur fertile, Fertilization Rate, nilai
Hatching Rate, Survival Rate dan Mortalitas).

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi PKL Balai Budidaya Laut ditetapkan berdasarkan KEPRES RI No. 23
Tahun 1982 yang pelaksanaannya tertuang dalam Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor
437/Kpts/Um/7/1982 tanggal 8 Juli 1982 yang menyebutkan tentang penetapan lokasi budidaya,
teknik budidaya dan izin usaha. Keberadaan Balai Budidaya Laut ditetapkan

secara resmi berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 347/Kpts/OT.210/8/1986 tanggal
5 Agustus 1986, Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 347/Kpts/OT.210/5/1994 tanggal 6 Mei
1994 dan disempurnakan dengan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
KEP.26F/MEN/2001. Pada tahun 2014 berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan
Nomor 6/PERMEN-KP/2014 tanggal 3 Februari 2014 berubah menjadi Balai Besar Perikanan
Budidaya Laut. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung mempunyai tugas melaksanakan uji
terap teknik dan kerjasama, pengelolaan produksi, pengujian laboratorium, mutu pakan, residu,
kesehatan ikan dan lingkungan, serta bimbingan teknis perikanan budidaya laut.

Fasilitas Pembenihan Ikan Hias Blue devil Pembenihan blue devil merupakan salah satu kegiatan
pembenihan yang dilakukan di BBPBL Lampung sejak tahun 2011. Kegiatan pembenihan meliputi
pemeliharaan induk, pemijahan, penanganan telur, pemeliharaan larva, pengelolaan kualitas air,
pencegahan hama dan penyakit, dan pemeliharaan benih dan panen. Teknik yang digunakan dalam
pembenihan blue devil adalah pemijahan alami dengan memanipulasi lingkungan (BBPBL Lampung,
2013).

Gambar 1. Chrysiptera cyanea a.betina; b.jantan

Sarana dan prasarana pembenihan ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) yang dibutuhkan untuk
menunjang dan mempermudah kegiatan sehingga tujuan pembenihan dapat tercapai diantaranya
laboratorium ikan hias, wadah pemeliharaan, dan bak pakan alami. Laboratorium ikan hias merupakan
tempat diadakannya pembenihan ikan hias

blue devil. Fasilitas ini digunakan untuk menunjang kegiatan pembenihan. Laboratorium ikan hias
terletak diantara Laboratorium kuda laut dan bangsal pendederan. Wadah pemeliharaan meliputi bak
pemelliharaan induk, bak pemeliharaan larva dan bak pemeliharaan benih. Bak pemeliharaan induk
berupa bak fiber persegi volume 500 liter yang dilengkapi dengan pipa inlet dan outlet dan satu buah
aerator serta beberapa paralon dan cangkang mutiara yang berfungsi sebagai substrat tempat
menempelnya telur. Bak pemeliharaan induk juga digunakan sebagai bak pemijahan. Bak penampung
larva yang terbuat dari bak ember dengan volume 20 liter yang pada bagian atasnya dilubangi
sehingga air yang mengalir dapat terbuang. Bak pemeliharaan larva berupa bak fiber silinder dengan
volume 500 liter yang dilengkapi dengan pipa outlet dan inlet, aerator dan termometer. Bak
pemeliharan benih berupa akuarium kaca dengan volume 100 liter dan bak beton ukuran 1000 liter
yang dilengkapi dengan aerator dan pipa outlet dan inlet untuk mengurangi dan menambah pasokan
air pada bak pemeliharaan benih serta pipa paralon yang digunakan sebagai tempat persembunyian
benih. Bak pakan alami terdiri dari bak fitoplankton dan bak zooplankton. Jenis fitoplankton yang
digunakan pada pembenihan ikan hias blue devil ini adalah Nannochloropsis. Nannochloropsis yang
digunakan berasal dari laboratorium fitoplankton yang dialirkan ke laboratorium ikan hias
menggunakan pipa. Nannochloropsis yang dialirkan ditampung pada bak volume 20 liter dilengkapi
dengan aerator dan pipa inlet. Zooplankton yang digunakan pada pembenihan adalah Artemia dan
Branchionus plicatilis yang ditampung pada bak plastik ukuran 20 liter. Pada kultur Artemia bak yang
digunakan sama dengan bak penampungan Artemia dan bak penampungan Branchionus plicatilis. Bak
penampungan Artemia dan Branchionus plicatilis dilengkapi dengan satu aerator pada masing-masing
bak, sedangkan untuk bak bak kultur Artemia diberi empat buah aerator, ini bertujuan untuk
menghindari kekurangan oksigen pada proses penetasan Artemia.

Pemeliharaan Induk Pemeliharaan induk blue devil pada proses pembenihan di BBPBL Lampung
dilakukan secara massal. Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung memiliki induk Chrysiptera
cyanea sebanyak 110 ekor

yang terdiri dari 16 ekor yang berasal dari alam enam jantan dan 10 betina, dan 94 ekor induk
keturunan pertama 44 jantan dan 50 betina yang memiliki panjang rata-rata 7,5 cm untuk induk jantan
dan rata-rata 5,3 cm untuk induk betina. Induk-induk blue devil di pelihara dalam bak fiber volume
500 liter. Gani (2012) menyatakan bahwa ciri-ciri induk ikan blue devil yang baik yaitu ukuran tubuh
induk jantan yang lebih besar dari induk betina yaitu berukuran 6-7 cm dan dibagian ekor terdapat
warna kuning yang menambah keindahan ikan blue devil. Induk betina berukuran lebih kecil dari
pada induk jantan yaitu berkisar 4,5-5,5 cm dan terdapat bercak putih pada sirip. Induk yang
digunakan dalam budidaya ikan blue devil di BBPBL Lampung dapat berasal dari hasil tangkapan di
alam. Kriteria dalam pemilihan calon induk yang akan digunakan dalam pemijahan hampir sama
dengan jenis ikan-ikan lainnya yaitu sehat, tidak cacat, gesit, mempunyai warna yang cerah serta siap
memijah. Induk blue devil yang siap memijah berumur 8-9 bulan, untuk jantan berukuran 7-8 cm dan
betina 5-6 cm. Pada blue devil induk jantan lebih besar ukurannya dibandingkan dengan induk betina.
Suharno (2013) mengatakan bahwa induk betina yang akan memijah mempunyai ciri-ciri perut buncit
dan genital papilanya menonjol, sedangkan induk yang jantan agresif bergerak mengejar induk betina.
Pakan yang diberikan untuk induk Chrysiptera cyanea adalah pakan pellet sedangkan pakan
hidup/beku yang diberikan yakni cacing darah dan jentik nyamuk. Pakan beku diberikan setelah
selang satu jam pemberian pakan pellet. Pellet yang biasa diberikan pada induk ikan blue devil
(Chrysiptera cyanea) adalah pellet dengan merk dagang Love Larva 6 (LL6) yang tertera pada
kemasan pakan memiliki ukuran 15001700 m. Frekuensi pemberian pakan (feeding frequency)
induk Chrysiptera cyanea yakni dua kali dalam sehari. Pemberian pakan pertama pada kisaran pukul
07.30 dan pemberian pakan kedua pada kisaran pukul 14:00. Dipertegas Kusumawati dan Setiawati
(2010) bahwa pemberian pakan dilakukan dengan frekuensi dua kali sehari secara adlibitium.

Pemindahan larva Telur-telur induk blue devil yang menetas setelah masa inkubasi selama empat hari
ditampung pada bak penampungan larva yang telah dilengkapi dengan saringan yang akan menyaring
telur agar tidak terbawa oleh air. Bak penampungan larva dipasang pada

sore hari karena telur blue devil menetas pada malam hari, larva yang menetas terbawa air yang terus
mengalir kemudian keluar melalui pipa outlet dan tersaring masuk pada bak penampungan larva.
Larva blue devil pada bak penampungan larva akan dipindahkan pada bak pemeliharaan larva dengan
cara sangat berhati-hati karena larva blue devil sangat sensitif dan mudah sekali mati. Larva beserta
bak penampungan larva dimasukkan pada bak pemeliharan larva dan kemudian larva digiring untuk
keluar dari bak penampungan.

Tabel 1. Hasil Penghitugan Telur dan larva pada kegiatan pembenihan

Pada saat praktikum lapang terdapat 6 cangkang mutiara yang ditempeli oleh telur indukan blue devil
dengan masa inkubasi yang berbeda. Jumlah keseluruhan telur adalah 6768 butir dengan FR dan HR
mencapai 100%. Menurut Suharno (2013) telur blue devil dapat melakukan pemijahan dengan nilai
FR dan HR mencapai diatas 99%. Penghitungan telur dilakukan dengan membagi satu cangkang
mutiara menjadi empat bagian kemudian satu bagian dari empat bagian yang dibagi dihitung secara
manual. Didapat hasil bahwa pada satu bagian tersebut terdapat telur berjumlah 282 kemudian
dikalikan empat yang merupakan jumlah telur pada satu cangkang yaitu sebanyak 1128 butir telur
pada satu cangkang.

Pemeliharaan Larva Larva blue devil dipelihara pada bak fiber dengan volume 500 liter dilengkapi
dengan saluran pemasukan dan pengeluaran air menggunakan pipa paralon ukuran inch serta
dilengkapi pula dengan dua buah titik aerasi untuk mensuplai oksigen. Pada bak pemeliharaan larva
sebelum dilakukan pemindahan larva telah diberi pakan alami berupa Nannochloropsis sebanyak dua
liter sebagai pakan bagi larva. Menurut Setiawati dan Gunawan (2013) pada bak pemeliharan larva
dilengkapi dengan aerasi yang diatur dengan ukuran sedang dan pemberian pakan alami untuk larva
D0 berupa plankton dengan kepadatan 1-3x105 sel/ml.

Pakan yang diberikan selama proses pemeliharaan larva ialah pakan alami, yaitu berupa
Nannochloropsis, Rotifera dan Artemia. Nannochloropsis diberikan pada larva D1 dan tetap diberikan
sampai panen berdampingan dengan pemberian pakan alami lainnya. Nannochloropsis selain
berfungsi sebagai pakan bagi larva maupun rotifera juga berfungsi sebagai grend water system. Pada
D4 Rotifera sudah mulai diberikan sebagai pakan bersamaan dengan Nannochloropsis dan pada larva
D18 Artemia mulai diberikan. Pemberian pada larva diberikan sesuai dengan ukuran bukaan mulut
dari larva. Pada pakan Artemia dilakukan pengkayaan pakan dengan menambahkan probiotik pada
Artemia yang akan diberikan pada ikan. Pakan yang diberikan pada larva cukup bervariasi tergantung
umur dan disesuaikan dengan bukaan mulut. Larva yang berumur satu hari diberikan pakan alami
berupa Chlorella sp. sebanyak 5-7% dari volume air dalam bak dan rotifer dengan kepadatan 10
sel/ml sampai larva berumur 20 hari. Setelah larva berumur 15 hari baru diberikan naupli Artemia
dengan kepadatan dua sampai lima ekor per ml air dalam bak, tergantung kepadatan larva dalam bak,
khusus pakan pellet (pakan buatan) diberikan pada larva yang berumur satu hari sampai larva dipanen
dan ukurannya disesuaikan dengan bukaan mulut larva (Gani, 2012). Tabel 2. Pemberian Pakan Pada
Larva Blue devil

*) belum sempat diberikan pada larva Blue devil

Pengelolaan Kualitas Air Air merupakan sarana terpenting yang menunjang kehidupan ikan hias di
dalam akuarium atau kolam. Kualitas air merupakan salah satu faktor penting dalam pembenihan ikan
blue devil. Kualits air yang diukur selama kegiatan adalah pH, DO, suhu, salinitas, nitrit dan amoniak.
Data pengukuran kualitas air selama pembenihan ikan hias blue devil menunjukkan bahwa seluruh
parameter masih dalam batas yang mampu ditoleransi untuk kehidupan ikan, kecuali pada parameter
nitrit dan amoniak yang melebihi baku mutu untuk kehidupan ikan laut. Lesmana (2002) mengatakan
bahwa sebagai media hidup ikan hias, kualitas air yang baik memegang peranan dalam upaya
meningkatkan kualitas warna ikan hias. Salah satu kriteria kualitas air yang baik adalah sesuai dengan
kebutuhan

masing-masing jenis ikan. Ikan akan hidup sehat dan berpenampilan prima dilingkungan dengan
kualitas air yang sesuai. Thoyibah (2012) menyatakan bahwa kualitas air merupakan salah satu faktor
pembatas baik langsung maupun tidak langsung. Dalam usaha budi daya ikan, kualitas air yang
terkendali sangat baik dalam mendukung kelangsungan hidup ikan dalam meningkatkan
pertumbuhannya. Pada pengukuran yang dilakukan pada media pemeliharaan bak induk maupun pada
bak pemeliharaan larva mendapatkan nilai pH sebesar 7,98. Nilai DO yang terukur adalah 4,68 pada
bak induk dan 4,34 pada bak pemeliharaan larva. Nilai ini masih diatas baku mutu untuk kehidupan
ikan yang mensyaratkan harus diatas nilai empat ppm. Salinitas pada pada bak induk maupun pada
bak pemeliharaan larva masih dalam kisaran 30-34 ppt yaitu 32-33 ppt. Nilai yang melebihi baku
mutu adalah nitrit dan amoniak. Pada bak-bak induk dan pada bak pemeliharaan larva terukur 0,054
dan 0,231 ppm. Pada bak pemeliharaan larva sangat tinggi jika dibandingkan baku mutu yang
mensyaratkan nilai nitrit dibawah nilai 0,05 ppm. Pada nilai amoniak, pada bak induk maupun dan
bak pemeliharaan larva menunjukkan nilai yang cukup berbeda. Pada bak induk nilai amoniak masih
dibawah baku mutu yaitu sebesar 0,07 ppm, sedangkan pada bak pemeliharaan larva sangat tinggi
hingga mencapai nilai amoniak sebesar 1,056 ppm atau melampau batas baku mutu pada nilai 0,3
ppm.Tingginya kandungan amonia dalam bak pemeliharaan larva dikarenakan adanya sisa-sisa
metabolisme dan sisa pakan dalam jumlah yang tinggi serta karena tidak dilakukannya penyiponan
untuk membuang sisa-sisa pakan yang ada dan tidak dilakukannya penyiponan selama pemeliharan.
Pemberian pakan yang terlalu banyak akan berpengaruh pada meningkatnya kandungan amoniak,
sehingga berbahaya bagi komunitas akuarium (Kuncoro, 2004). Boyd (1982) menyatakan bahwa
amoniak dapat bersifat racun apabila kensentrasinya antara 0,2-2,0 ppm. Tabel 3. Hasil Penghitungan
Nilai Survival Rate dan Mortalitas larva ikan
Dari hasil penghitungan nilai SR dan Mortalitas dari pembenihan ikan hias blue devil (Tabel 3)
didapat nilai SR 0% dan nilai

Mortalitasnya 100% dari awal pemindahan sampai pada D18. Terjadi kematian total pada D18 hal ini
dimungkinkan karena kandungan amonia yang tinggi pada bak pemeliharaan larva berdasarkan hasil
uji kualitas air yang telah dilakukan. Tingginya kandungan amoniak dalam kolam pemeliharaan larva
ini disebabkan karena tidak dilakukannya penyiponan selama proses pemeliharaan. Pengelolaan
kualitas air pada pemeliharaan induk meliputi penyiponan dan pergantian air. Menurut Subiyanto,
dkk. (2015) mengatakan bahwa penyiponan dilakukan bertujuan untuk membersihkan sisa-sisa
kotoran yang mengendap di dasar bak sehingga kebersihan bak tetap terjaga.

Pencegahan Hama dan Penyakit Pencegahan hama dan penyakit pada proses pembenihan ikan hias
blue devil di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung adalah diantaranya dengan melakukan
pencucian semua peralatan yang akan digunakan maupun telah digunakan menggunakan air tawar.
Pemberian antibiotik dengan dosis 0,25 ml/liter air atau tergantung pada kepadatan ikan sebagai anti
bakterial, juga dilakukan sebagai upaya pencegahan penyakit menyerang biota yang dibudidayakan.
Penyiponan dilakukan setiap hari untuk menghilangkan sisa-sisa pakan yang dapat menimbulkan
penyakit non infeksius pada ikan karena menurunnya kualitas air pada media pemeliharaan. Penyakit
non infeksius juga dapat disebabkan oleh faktor genetis dan malnutrisi. Faktor lingkungan yang buruk
seperti pH yang tidak sesuai, kesadahan air yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dan kurangnya
kandungan oksigen terlarut, merupakan faktor utama yang sering mengakibatkan timbulnya penyakit
non infeksius pada ikan hias (Sitanggang, 2001).

KESIMPULAN

Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja Lapangan yang telah dilaksanakan maka dapat disimpulkan
bahwa teknik pembenihan ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) di Balai Besar Perikanan
Budidaya Laut Lampung adalah tradisional atau alami yang meliputi pemeliharaan induk dan
pemeliharaan larva. Jumlah indukan ikan hias blue devil sebanyak 110 ekor dengan perbandingan
jantan dan betina 5:6. Pakan yang diberikan pada larva berupa Nannochloropsis oculata, Rotifera dan
Artemia. Kualitas air yang diukur selama proses pemeliharaan yaitu suhu dengan kisaran 27-29oC,
pH 8, salinitas 32-33 ppt, DO 4-5 ppm, nitrit 0,03-0,2 ppm dan amoniak 0,07-1 ppm. Nilai FR dan
HR

mencapai 100%, begitu pula dengan mortalitasnya yang mencapai 100% pada D18. Saran yang dapat
diberikan penulis yaitu perlu adanya kajian lebih lanjut berkaitan dengan rendahnya nilai
kelulushidupan larva ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) sehingga kematian yang sering terjadi
pada larva ikan hias blue devil (Chrysiptera cyanea) dapat diminimalkan.
DAFTAR PUSTAKA

Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut. 2014. Pangeran Biru Blue Devil (Chrysiptera cyanea).
http://bbpbl.djpb.kkp.go.id.15/11/2014. Boyd, C.E. 1982. Water quality management in aquaculture
and fisheries science. Elvesier. Scientific publishing company. Amsterdam. Gani, A. 2012. Teknologi
Budidaya Ikan Hias Laut (Chrysiptera cyanea). Balai Besar Laut Ambon.
http://abganfish.blogspot.com.15/11/2014. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2013. KKP
Mendorong Diversifikasi Ekspor Ikan Hias ke Timur Tengah. http://www.p2hp.kkp.go.id.
8/12/2014. Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2014. Perikanan Budidaya Tingkatkan Produksi
Ikan Hias Berkualitas Menuju Pasar Bebas.http:// www.djpb.kkp.go.id. /8/12/2014 Kuncoro, E.B.
2014. Akuarium Laut. Kanisius. Yogyakarta. 221 hal Kusumawati, D dan K. M. Setiawati. 2010.
Profil Pemijahan dan Perkembangan Morfologi Larva dan Yuwana Ikan Clown

Hitam (Amphiprion percula). Jurnal Riset Akuakultur, 5 (1) : 59-67 hal. Lesmana, D.S. 2002. Agar
Ikan Hias Cemerlang. Penebar Swadaya. Jakarta. 80 hal. Setiawati, K. H dan Gunawan. 2013.
Pemeliharaan Larva Ikan Hias Balong Padang (Premnas beaculeatus) Dengan Pengkayaan Pakan
Alami. Jurnal Ilmu Teknologi Kelautan. 5(1). 47-53 hal. Sihombing, F., N. W. Artini dan R. K. Dewi.
2013. Kontribusi Pendapatan Nelayan Ikan Hias Terhadap Pendapatan Total Rumah Tangga di Desa
Serangan. EJurnal Agribisnis dan Agrowisata Universitas Udayana. 2(4).13 hal. Sitanggang, M. 2001.
Mengatasi Penyakit dan Hama Pada Ikan Hias. Agromedia Pustaka. Jakarta. 52 hal. Subiyanto. R., N.
Ely, Hariyano dan L. Darto. 2015. Pemeliharaan Benih Ikan Hias Mandarin (Synchiropus splendidus)
dengan Warna Wadah Yang Berbeda. Balai Budidaya Laut Ambon. 6 hal. Suharno, A. Gani dan A. S.
2013. Efektivitas Pemijahan Ikan Blue Devil (Chrysiptera cyanea) dengan jumlah pasangan jantan
betina yang berbeda. Balai Besar Laut Ambon. http://abganfish.blogspot.com. 20/2/2015 Thoyibah Z.
2012. Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Ikan Betok (Anabas testudineus) yang Dipelihara pada
Salinitas Berbeda. Jurnal Ikan Betok 9 (2). 1-8 hal.
SUMBER: JURNAL TEKNOLOGI BUDIDAYA LAUT
BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT AMBON

PENGARUH WARNA KOLEKTOR TERHADAP JUMLAH TELUR


IKAN HIAS BLUE DEVIL (Chrysiptera cyanea)

Hariyano dan Abdul Gani

I. PENDAHULUAN
Saat ini budidaya ikan hias air laut sudah mulai dikembangkan namun baru beberapa
spesies saja padahal jika dilihat dari segi ekonomisnya, ikan hias air laut tidak kalah
pentingnya dengan ikan hias air tawar bahkan pasarnya rata-rata ke mancanegara. Kebutuhan
ikan hias air laur semakin hari semakin meningkat namun ketersediaan di alam semakin
menurun, oleh karena itu perlu adanya pengembangan teknologi dalam pembenihan dan
budidayanya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih ikan yang layak untuk
dibudidayakan diantaranya adalah harga bagus, permintaan cukup tinggi dan mudah
dipelihara. Salah satu diantaranya adalah ikan hias Blue devil (Chrysiptera cyanea) yang
juga dikenal sebagai blue damselfish. Ikan ini sangat agresif dan tahan banting, ukurannya
biasa sampai 7 cm (Allen, 1991).
Ikan Hias Blue Devil merupakan ikan yang berbadan langsing, struktur badannya
hampir mirip badan seekor ikan mujair. Seluruh tubuh ikan ini berwarna dominan biru cerah,
terkadang di sertai titik titik putih. Pada ujung sirip punggung biasanya terdapat titik
berwarna hitam, letaknya dipangkal siripnya. Sesuai dengan namanya, ikan ini adalah ikan
yang sangat aktif. Seringkali ikan ini terlihat berenang dengan cepat mengejar makanan atau
hanya bermain main dengan kawanannya. Meskipun bergerak amat gesit, umumnya ikan
ini cenderung jarang mengganggu ikan lain, mungkin karena ukurannya yang kecil, ikan ini
sangat cocok di pelihara bagi pemula ataupun aquaris yang ingin mencoba kualitas air laut,
karena selain harganya yang relatif sangat murah, ikan ini juga memliki daya tahan hidup
yang luar biasa.
Keindahan bentuk tubuh dan warnanya menyebabkan ikan blue devil, sangat digemari
sebagai ikan hias sehingga memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Hal ini menyebabkan
eksploitasinya berlangsung terus-menerus dan dikhawatirkan akan mengancam
kelestariannya. Untuk menjaga populasinya di alam dan pada waktu yang bersamaan
memenuhi permintaan pasar maka perlu dilakukan usaha pengembangan budidaya jenis ikan
ini.
Sesuai dengan namanya ikan ini dapat merubah warnanya dalam seketika di saat ikan
ini merasa terancam. Meskipun bergerak amat gesit, umumnya ikan ini jarang mengganggu
ikan ikan lain kecuali ada yang mendekati sarangnya. Ikan ini banyak ditemui hampir di
semua daerah karang berpasir, perbedaan jantan dan betina dapat dilihat dari postur tubuh,
warna dan ukuran. Jantan kelihatan memanjang, bagian sirip ekor dan dada berwarna orange
dan ukurannya lebih besar sedangkan betina kelihatan pendek dan agak bulat, bagian sirip
ekor dan dada teransparan dan lebih kecil.
Aneka warna-warni yang dimiliki oleh ikan hias laut merupakan cerminan dari
habitat yang didiaminya akibat dari kemampuan adaptasi terhadap lingkungannya. Disamping
itu ikan memiliki kemampuan untuk membedakan warna. Kemampuan ini dimiliki karena
adanya pigmen pada mata ikan. Absorbansi pigmen utama pada ikan adalah pada panjang
gelombang cahaya biru, biru hijau dengan panjang gelombang 440 500 nm. Blue devil
cukup jelas diwarnai dengan warna biru kehitaman, biru metalik tergantung pada kekuatan
cahaya. Pola pewarnaan dapat berubah tergantung dari tingkat pencahayaan. Makin kuat
cahaya yang diterima warnanya makin cerah dan cenderung kewarna biru kehijauan dan
apabila intensitas cahaya makin lemah maka warna birunya menjadi sangat tua mendekati
kehitaman. Bertolak dari latar belakang diatas telah dilakukan kegiatan perekayasaan dengan
menggunakan kolektor warna-warni terhadap respon induk blue devil dalam meletakkan
telurnya.
Adapun tujuan dilakukan kegiatan ini adalah menganalisa jumlah telur yang
dihasilkan oleh induk blue devil pada berbagai warna kolekor telur yang berbeda.
II. MATERIAL DAN METODE
2.1. Waktu dan Tempat
Kegiatan penggunaan warna kolektor yang berbeda terhadap jumlah telur ikan hias
blue devil ini, dilakukan di Outdoor Hatchery Ikan Hias Balai Buiddaya Laut Ambon, dari
dari bulan Nopember 2011 sampai dengan Januari 2012.
2.2. Alat dan Bahan
Peralatan yang digunakan untuk kegiatan ini meliputi bak fiber kapasitas 2 ton beserta
instalasi air dan aerasi sebagai wadah pemeliharaan induk ikan hias blue devil. Potongan
pipa dengan diameter 2 inch dengan panjang 20 cm sebanyak 12 buah sebagai tempat
meletakan kolektor telur. Kolektor telur berwarna merah, biru, kuning dan hijau sebagai
tempat mengoleksi telur ikan hias blue devil. Kaca pembesar untuk mengamati dan
menghitung jumlah telur.
Bahan yang digunakan pada kegiatan ini adalah induk ikan hias blue devil berjumlah
50 ekor dengan rasio jantan dan betina 1 : 4.
2.3. Metode
Bak fiber kapasitas 2 ton sebelum digunakan dibersihkan terlebih dulu, kemudian diisi
dengan air sebanyak 1,5 ton. Pada potongan-potongan pipa yang akan digunakan di
masukkan kolektor-kolektor telur yang terbuat dari plastik berukuran 20 x 20 cm. Untuk
mempermudah penghitungan jumlah telur pada kolektor tersebut digambar kotak-kotak
berukuran 1 x 1 cm. Jumlah kolektor seluruhnya 12 buah dengan warna merah, biru, kuning
dan hijau dimana masing-masing 3 buah. Setelah semuanya siap masukkan induk-induk ikan
hias blue devil.
2.4. Analisa Data
Dalam kegiatan ini data yang diamati meliputi jumlah telur, diameter telur, dan
lamanya telur berada di kolektor sebelum menetas. Semua data yang ada kemudian dianalisa
menggunakan One-Way ANOVA untuk melihat tingkat signifikannya menggunakan program
Microsoft Excel.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


Sehari setelah diletakkannya kolektor, ikan blue devil sudah meletakkan telur pada
kolektor tersebut. Dari hasil pengamatan terhadap 4 jenis warna kolektor yang digunakan,
telur hanya dijumpai pada kolektor warna hijau dan warna biru dengan jumlah 80 butir di
kolektor hijau dan 40 butir dikolektor biru, sedangkan kolektor warna kuning dan merah
belum terlihat adanya telur (Tabel 1). Pada hari kedua telur sudah terlihat pada kolektor
kuning dan merah dengan jumlah 30 butir untuk kolektor kuning dan 25 butir kolektor merah,
sedangkan pada kolektor hijau sudah menjadi 165 butir dan kolektor biru menjadi 75 butir.
Penambahan jumlah telur terus bertambah sampai hari ketiga, dan mulai berkurang pada hari
keempat dan kelima.
Tabel 1. Jumlah Telur pada Kolektor-kolektor yang Dipasang
Hari Warna Kolektor Keteranga
Hijau Biru Kuning Merah n
I 80 40 - -
II 165 75 30 25
III 320 180 80 65
IV 190 130 150 140
V 80 80 130 120
VI - - 40 30
VII - -

Berkaitan dengan ditemukannya telur pada kolektor hijau dan biru di hari pertama, ini
mungkin disebabkan oleh warna hijau dan biru lebih baik dalam merangsang ikan hias blue
devil untuk meletakkan telurnya di kolektor tersebut, disamping itu pantulan warna hijau dan
biru menimbulkan nuansa kecerahan dalam perairan sekitar dengan kata lain pantulan warna
hijau dan biru jelas diterima oleh induk ikan hias blue devil sebagai tempat untuk meletakkan
telurnya. Vernberg and Vernberg (1972) dalam Fujaya (1996) menyatakan bahwa warna
cahaya mempengaruhi mekanisme fisiologis melalui rangsangan panjang gelombang yang
diterima oleh reseptor cahaya pada mata. Pola rangsangan tersebut selanjutnya diteruskan ke
sistem syaraf pusat yang kemudian memerintahkan untuk mempolarisasi cahaya menurut
perbedaan rangsangannya. Perbedaan tingkat rangsangan ini mempunyai pengaruh yang
berbeda secara biologis antara lain terhadap aktivitas pergerakkan dan reproduksi.
Selanjutnya Waterman (1961), menyatakan bahwa hewan yang bersifat fototaksis positif
cenderung mengumpul pada panjang gelombang cahaya hijau (520 nm) sampai dengan
panjang gelombang hijau kekuning-kuningan (560 nm). Lebih lanjutnya Aquacop (1977)
dalam Husni (2002) menyatakan bahwa warna hijau cenderung mengakibatkan ikan lebih
mampu melihat keadaan sekitar. Sulistyaningrum (2006) dalam penelitiannya tentang
pengaruh warna wadah percobaan terhadap sintasan dan pertumbuhan kuda laut juga
menemukan bahwa pada warna hijau dan biru mempunyai pertumbuhan pola pertumbuhan
yang baik akibat dari kejelasan kuda laut dalam melihat mangsanya pada wadah tersebut.
Disamping jumlah telur yang dilihat, pada kegiatan ini juga dilihat diameter dari telur
ikan hias blue devil tersebut. Dari hasil pengamatan yang dilakukan ditemukan bahwa
walupun jenis warna kolektor telur memberikan hasil jumlah telur yang berbeda namun
diameter dari telur-telur tersebut cenderung sama dengan kisaran ukuran 0,5 1 mm. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh penggunaan induk-induk yang mempunyai tingkat
kematangan gonad yang sama dan ukuran telur ini tidak terpengaruh oleh jenis-jenis warna
kolektor telur yang ada. Hasil ini juga tidak berbeda dengan dengan masa penetasan telur
ikan hias blue devil dimana, telur-telur tersebut menetas pada hari ke-4 dan ke-5 untuk semua
jenis kolektor. Keadaan ini diduga oleh masa penetasan telur memang berkisar seperti itu
sehingga warna kolektor tidak mempengaruhi waktu penetasan telur. Suharno (2011) dalam
penelitiannya tentang efektivitas pemijahan ikan blue devil dengan perbandingan jumlah
pasangan jantan betina yang berbeda menemukan bahwa waktu yang diperlukan dari
peletakan telur sampai menetas adalah 72 jam atau 4 hari.
Untuk melihat signifikannya data yang diperoleh maka data-data tersebut dianalisa
lebih lanjut dengan menggunakan analisa One-Way ANOVA. Dan hasil analisa one way
ANOVA menunjukkan bahwa warna kolektor berpengaruh siginfikan terhadap jumlah telur
yang dihasilkan (Fhitung = 7,070 > Ftabel = 3, 098).
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil kegiatan dan analisa data dari kegiatan ini, maka dapat disimpulkan
sebagai berikut :
Jumlah telur pada kolektor warna hijau lebih banyak dari kolektor warna biru,
merah dan kuning
Diameter telur berkisar antara 0,5 1mm dengan masa penetasan telur 4 5
hari.
Analisa one way ANOVA menunjukkan bahwa warna kolektor berpengaruh
siginfikan terhadap jumlah telur yang dihasilkan (Fhitung = 7,070 > Ftabel = 3,
098).
Perlu kegiatan lanjutan dengan melihat perkembangan larva dari jenis-jenis warna
kolektor yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Fujaya, Y. 1996. Pengaruh Spektrum Cahaya Terhadap Perkembangan Ovarium Kepiting Bakau
(Scylla serrata, Forskal). Thesis Fakultas Pasca Sarjana IPB Bogor.
Halsey, W. D., L. Shores, R. H. Blackurn and F. Francis, 1974. Colliers Encyclopedia. Mac Millan
Education Corporation. USA. 738 p.
Husni, A. St. A., 2002. Pengaruh Perbedaan Warna Wadah Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan
Hidup Udang Galah (Macrobrachium rosenbergii de Man). Skripsi Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan Institut Pertania Bogor.
Suharno, 2011. Efektifitas Pemijahan Ikan Hias Blue Devil (Chrysiptera cyanea) Dengan
Perbandingan Jumlah Pasangan Jantan Betina yang Berbeda. Thesis Fakultas Pasca Sarjana
Universitas Pattimura.
Sulistyaningrum W., 2006. Pengaruh Warna Percobaan Terhadap Sintasan dan Pertumbuhan Kuda
Laut. Skripsi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Pertania Bogor

Waterman, T. H., 1961. Light Sensitivity and Vision. In T. H. Waterman (ed): The Physiology of
Crustacea. Vol. II. Academic Press. New York. p:1-64
The Blue Devil Damselfish Chrysiptera cyanea is an enduring favorite of saltwater aquarists.
A lively fish sparkling with a rich sapphire blue coloring and a bold personality, it brings the
aquarium to life. It only grows to about 3 1/3 inches (8.5 cm) in length, but many folks like
the purity and beauty of this brightly colored fish. It is one of the most popular of the
damselfishes.

This species is dichromatic, with distinct color differences between the adult male and
female. Those available in a pet store may often be juveniles that have not yet come into their
adult coloration. As they mature, males originating from across most of their natural habitat,
develop yellow-orange tail colors and sometimes yellow on the nose. Those males originating
from Japan and the Philippines, however, are all blue with dark margins on the fins. Females
are similar, being the same bright blue, but they gain a black spot at the base of the hindmost
dorsal ray and the fins are clear. These fish are known by a number of descriptive common
names that reflect both their color and behavior including Blue Damselfish, Blue Devil,
Sapphire Devil, Sky-blue Damsel, Blue Demoiselle, and Orangetail Damselfish.

This is one of several bright blue damselfish found in the Chrysiptera genus. One close
relative that has a similar coloration, and is also known as a "devil," is the Fiji Blue Devil
Damselfish Chrysiptera taupou. The biggest difference between the two is really in name
only. The Fiji Blue Devil has a band of yellow color extending along the entire lower portion
of its body, which is absent on the Blue Devil. However the Fiji Blue Devil is much more
aggressive. In fact it is the most aggressive damselfish in the entire genus, so you really don't
want to get them mixed up.

The Blue Damselfish are inexpensive and very hardy, making them a great choice for both
the beginning aquarist or the more advanced. They make a beautiful addition to a fish only
aquarium and they are also a nice additon to a reef tank. As they mature, damselfish in
generally are noted for becoming rather aggressive. The juveniles and females of this species
are usually not overly aggressive but larger males can be very belligerent, especially with
more peaceful fish like gobies, blennies, cardinalfish, firefish, and the like. They are great for
a reef aquarium as they won't bother any coral or invertebrates, but a large male will limit the
types of other fish that can be kept.

These fish can be kept singly or as a pair in a 30 gallon tank, but they are best not kept with
smaller or overly passive tank mates. They can be kept in a group if you are careful to have a
good male to female ratio and keep a close eye out for trouble. One male with several females
can work in a medium or large tank, as long as there are lots of hiding places. Providing a
rock or coral decor that has many nooks and crannies for hiding and retreat will help avert
aggression
Description

The Blue Damselfish is a rather elongated, deep bodied fish. These damselfishare moderately
small in size, reaching up to about 3 1/3 inches (8.5 cm) in length. Similar to other
damselfish, their life span in the wild is likely 2 to 6 years and they probably live the typical
15 years in captivity.

Blue Devil Damselfish, female Photo Animal-World: Courtesy David Brough

The body of the Blue Devil is a bright sapphire blue and there is a dark stripe running through
the eye and across the nose. The females will develop a black spot at the base of the hindmost
dorsal ray and their fins are transparent.

This species is dichromatic, with distinct color differences between the adult male and
female. There are also two distinct color morphs:

Blue Devils that originate from across most of their natural range are also known as
the Orangetail Damselfish. The males develop yellow-orange tail colors as they
mature, and some individuals will also have a yellow-orange snout.
The amount of color on the male's tail can increase or decrease depending how
successful the male is at spawning. Those that attract the most females and have the
most number of eggs in their nest tend to get more colorful tails while those that are
less successful will have less color in the tail.

Blue Devil males that come from Japan and the Philippines are all blue with the males
having dark margins on the fins.

This species is sometimes confused with its close relative, the Fiji Blue Devil Damselfish
Chrysiptera taupou, because of their similar names. Great care should be taken not to mistake
these two, however, as the Fiji species is extremely aggressive and will cause havoc in a tank
that is planned for a Blue Damselfish. They are easy to distinguish by looks. Both have the
beautiful blue body color, but the Fiji Blue Devil has a yellow band running along the lower
portion of the body, which the Blue Devil does not.

Size of fish - inches: 3.4 inches (8.51 cm)

Lifespan: 15 years - Damselfish generally live up to 6 years in the wild and up to 15


years in captivity.
Fish Keeping Difficulty

The Blue Devil Damselfish are among the easiest of all marine fish to keep. They are very
easy to care for, making them great for beginning saltwater hobbyists or any other marine
aquarist. These beautiful Demoiselles adapt very easily to the aquarium without special
care and will do well in either a reef environment or a fish only aquarium. They are extremely
hardy and will take a variety of foods.

They tolerate a wide range of non-fluctuating temperatures, but even though they are quite
durable, they can still fall ill if exposed to poor water conditions for too long. The tank needs
to be 30 gallons for a single fish or a pair, so make sure water changes are frequent in such a
small tank. Doing normal water changes, feeding them a variety of foods several times a day,
and having proper tank mates will keep this damselfish happy and healthy.

Aquarium Hardiness: Very Hardy

Aquarist Experience Level: Beginner - They are suitable for the beginner, but
tankmates must be selected with care.

Foods and Feeding

The Blue Damselfish are omnivores. In the wild they feed on filamentous algae along with
tiny crustaceans, such as planktonic copepods and amphipods, and planktonic fish eggs. In
the aquarium provide variety in their diet that includes both meaty and vegetable foods.

Offer meaty foods like mysis shrimp, vitamin-enriched brine shrimp, cyclops, finely shredded
frozen seafoods and preparations for omnivores. Also offer flakes and other preparations for
herbivores. Color enhancing foods can help maintain their bright coloring. These foods can
be offered as freeze dried, frozen, pellets, flakes or fresh.

It is best to feed small amounts of food several times a day. Feeding them more often helps to
dissipate any possible aggression within a tank. If feeding pellets, make sure they are wet
before adding them to the tank so air will not get into their digestive tract, which can cause
issues.

Diet Type: Omnivore

Flake Food: Yes

Tablet / Pellet: Yes - Make sure the pellets are wetted down with tank water before
adding to prevent air from getting trapped in their digestive tract.

Live foods (fishes, shrimps, worms): Some of Diet - Only needed if you want to offer
a treat or condition them to spawn.

Vegetable Food: Half of Diet

Meaty Food: Half of Diet


Feeding Frequency: Several feedings per day - Feed several times a day, this also
helps to counter any possible aggression.

Aquarium Care

These damselfish are hardy and easy to keep in a well maintained tank. The suggested
minimum tank size is 30 gallons when keeping this as a single fish or a pair, although in this
small of a tank water changes need to be frequent. Regular water changes done bi-weekly
will help replace the trace elements that the fish and corals use up. Guidelines for water
changes with different types and sizes of aquariums are:

Fish only tanks:

o Nano/Small tanks up to 40 gallons, perform 10% water changes bi-weekly or


20% monthly.

o Medium sized up to 90 gallons, perform 15% bi-weekly.

o Large Tanks 100 gallons and over, once water is aged and stable, can be
changed 10% bi-weekly to 20% monthly, depending on bioload.

Reef tanks:

o Nano/Small tanks up to 40 gallons, perform 15% water changes bi-weekly.

o Medium sized up to 90 gallons, perform 20% to 30% monthly depending on


bioload.

o Large Tanks 100 gallons and over, once water is aged and stable, can be
changed 20% to 30% every 6 weeks depending on bioload.

For more information on maintaining a saltwater aquarium see: Saltwater Aquarium Basics:
Maintenance. A reef tank will require specialized filtration and lighting equipment. Learn
more about reef keeping see: Mini Reef Aquarium Basics.

Water Changes: Bi-weekly - Do bi-weekly water changes of 15% in a reef setting or


20% monthly in a fish only tank.

Aquarium Setup

The Blue Damselfish can be happily kept in a reef setting as well as in a fish only community
tank. They are moderately small in size, typically growing to 3 1/3 inches (8.5 cm) in length,
and swim in the mid to lower areas of the tank. The minimum suggested tank size is 30
gallons when keeping just this fish or a mated pair. If keeping them in a group the tank should
be at least 40 to 55 gallons with many hiding places in the decor. Large males are aggressive,
so other tank mates should be chosen wisely.

Provide a decor of rockwork or coral that offers plenty of hiding places in nooks and
crannies. Having many places to hide will reduce aggression between them and other fish in
the tank. Any substrate, water movement and light is fine unless housed with corals, then
these factors need to be considered for the needs of the coral. They tolerate normal water
temperatures of 72F to 84F (22 - 28C), with pH from 8.1 to 8.4. Similar to clownfish,
optimal spawning production occurs between 79F to 83F (26C to 28C).

Minimum Tank Size: 30 gal (114 L) - A 30 gallon tank is suggested for keeping a
single fish or a male/female pair. A larger tank of 40-55 gallons or more is suggest
when keeping them in a community with other fish.

Suitable for Nano Tank: No

Live Rock Requirement: Typical Plus Hiding Places - Provide places for them to hide
within rockwork or coral.

Substrate Type: Any

Lighting Needs: Any - It has no special lighting requirements, though if kept with live
coral the coral may need strong lighting.

Temperature: 72.0 to 84.0 F (22.2 to 28.9 C)

Breeding Temperature: 79.0 F - The optimal temperature for good quality eggs and
larvae occurs with temperatures of 79 F to 82 F (26 - 28C).

Specific gravity: 1.023-1.025 SG

Range ph: 8.1-8.4

Brackish: No

Water Movement: Any

Water Region: Bottom - They mostly inhabit the mid to lower areas of the tank. Being
active swimmers they spend a good deal of time darting in and out of the crevices in
the decor.

Social Behaviors

Like all damsels, the Blue Devil Damselfish can become territorial and aggressive as they get
older. Juveniles and females are not overly aggressive, but large males are extremely
territorial and belligerent. When kept as pairs they are also more aggressive than when alone.
They can also be kept in groups as long as close attention is paid to the male/female ratio.
Keeping one male with several females and/or juveniles can work in a medium or large tank
as long as there are lots of hiding places. In this situation it is best to keep a close eye out for
trouble.

In a community this fish is best kept with more aggressive tankmates. They will get along
with moderately aggressive fish or much larger fish but will go after smaller, less aggressive
fish. Fish that could be at risk include small juveniles of butterflyfish and Centropyge
angelfish, as well as the more peaceful fish like gobies, blennies, cardinalfish, and firefish.

If attempting to keep them with semi-aggressive fish like dwarf angelfish, the tank should be
at least 100 gallons with plenty of hiding place for the other fish. They do well with
triggerfish, large angelfish, dottybacks, puffers and others that can hold their own. Do not
house them with fish who can swallow them whole. It may be wise to avoid housing with any
predatory fish, even if they are not big enough to eat the Blue Damselfish, as predators may
keep them from coming out and eating.

Blue Damselfish can do very well in a reef setting. They make a great addition to a reef
because they pose no threat to coral. They won't bother any large or small invertebrates,
though they may eat a copepod or two. Due to their aggression towards more peaceful fish
tankmates should be chosen with care.

Venomous: No

Temperament: Aggressive

Compatible with:

o Same species - conspecifics: Yes - May be kept as a male/female pair, or in


groups of one male with several females and/or juveniles in a medium sized
tank that has plenty of places to hide within the decor.

o Peaceful fish (gobies, dartfish, assessors, fairy wrasses): Monitor - These fish
will be harassed in smaller tanks, but may be okay in tanks over 100 gallons.

o Semi-Aggressive (anthias, clownfish, dwarf angels): Monitor - Only safe in


larger tanks as they may be harassed by your damsel. If housing with dwarf
angelfish or the more aggressive clownfish, the tank should be 100 gallons or
more with many hiding places within the rock/coral decor.

o Aggressive (dottybacks, 6-line & 8-line wrasse, damselfish): Safe

o Large Semi-Aggressive (tangs, large angels, large wrasses): Safe

o Large Aggressive, Predatory (lionfish, groupers, soapfish): Threat - Even a


smaller predatory fish that cannot swallow them whole would make these
damselfish too afraid to come out and feed.

o Slow Swimmers & Eaters (seahorses, pipefish, mandarins): Threat - Blue


Damselfish are too aggressive for these types fish.

o Anemones: Safe

o Mushroom Anemones - Corallimorphs: Safe

o LPS corals: Safe


o SPS corals: Safe

o Gorgonians, Sea Fans: Safe

o Leather Corals: Safe

o Soft Corals (xenias, tree corals): Safe

o Star Polyps, Organ Pipe Coral: Safe

o Zoanthids - Button Polyps, Sea Mats: Safe

o Sponges, Tunicates: Safe

o Shrimps, Crabs, Snails: Safe

o Starfish: Safe

o Feather Dusters, Bristle Worms, Flatworms: Safe

o Clams, Scallops, Oysters: Safe

o Copepods, Amphipods, Mini Brittle Stars: Safe - May eat some copepods but
should not decimate populations.

Sex: Sexual differences

Blue Damselfish are sexually dimorphic. The females are entirely blue without any yellow or
orange coloration, some females from different localities have a black ocellus on the lower
posterior part of the dorsal fin. Also they have nearly translucent fins, versus totally blue fins
on males. See more information by author Hiroyuki Tanaka in, "The Devils We Should
Love."

Breeding / Reproduction

All damsel species are similar to clownfish and follow the general breeding pattern of
clownfish. Successful breeding requires perfect water parameters and a large, non-predatory
aquarium system. Just as with clownfish, optimal spawns occur in temperatures between
79F to 83F (26C to 28C). If breeding in captivity note that brittle stars, serpent stars,
wrasses and crabs will eat the eggs of damselfish. The eggs and larvae are much smaller than
clownfish eggs, and the fry are difficult to rear.

The Blue Devil Damselfish will readily spawn in captivity. Each male has its own territory,
which is near a nesting site. This site has rubble or half shell from a clam near the entrance.
The day before spawning a female will visit the males in her colony, including any males she
has spawned with in the past. When she chooses a fit and healthy male she will stop
swimming, and facing upward, will flash a light ring around each eye.
Once the female has solicited a male whose nest she wants to inspect, the male starts a
courting performance with hopes of impressing her. After she evaluates his display the female
will follow the male to his nest to see how many eggs he has. She will stay up to 20 minutes
inspecting his crib and then move on to the next male. She is not ready to lay her eggs
during this evaluation and she is very picky. She will review a lot of potential mates, even
traveling up to 325 feet (100 m) in distance from nest site to nest site.

At dawn of the next day, the female immediately spawns with the male who is largest, put on
the best dance, and has the most eggs. If there is another female who has decided on the
same male, she will wait her turn at the entrance of the nest. Up to 4 females have been seen
at one nest site to spawn one at a time, one after the other, with the same male.

These nests can have almost 10,000 eggs donated from several different females. Males know
that the more eggs they have in their nest, the better the chance the female will spawn with
them. They have even been known to abandon their small egg clutch to take over a larger
abandoned egg clutch of another male. The male will stay and protect his eggs (and the eggs
of the missing male if needed) until they have hatched, which can take 4 days. The larval
stage for Chrysiptera species can last between 10 to 50 days. Also see general breeding
techniques under Clownfish on the Marine Fish Breeding page.

Ease of Breeding: Difficult - Though they will readily spawn, the eggs and larvae are
quite small and the fry are difficult to rear.

Fish Diseases

Demoiselles of the Chrysiptera genus are very durable damsels once acclimated. The most
dangerous time in their lives is the shipping stress they deal with. Overall they are tough and
do not often fall ill, but it has been documented that there seems to be an unexplained
sudden death that damselfish can fall victim to. There are no signs, the fish is just dead one
day. They can contract any normal disease that other saltwater fish are susceptible to. But it is
pretty rare unless they are captured with an illness already in motion, so a quarantine period
is a good idea.

Damselfish are susceptible to Marine Ich Cryptocaryon irritans, also called White Spot
Disease or Crypt, Marine Velvet or Velvet Disease Oodinium ocellatum (Syns:
Amyloodinium ocellatum, Branchiophilus maris), and Uronema disease Uronema marinum.
All of these are parasites.

The most easily cured of these is Crypt (salt water Ich), but they are all treatable if caught in a
timely manner. Marine Velvet is a parasitic skin flagellate and one of the most common
maladies experienced in the marine aquarium. It is a fast moving that primarily it infects the
gills. Uronema disease, which is typically a secondary infection, is very deadly and will
attack your damsel quickly and lethally.The first symptom is lack of appetite. It is most often
contracted when the aquarist lowers the salinity to treat another type of illness, but doesn't
lower it far enough. This parasite thrives in mid-level brackish water salinity, which is a
specific gravity of around 1.013 to 1.020.

Treat your new damselfish as gingerly as you would any other saltwater fish, and they will
respond well. Anything you add to your tank that has not been properly cleaned or
quarantined, including live rock, corals and fish can introduce disease. The best prevention is
to properly clean or quarantine anything you want to add to the tank. For information about
saltwater fish diseases and illnesses, see Aquarium Fish Diseases and Treatments.

Availability

The Blue Devil Damselfish are readily available from pet stores and online, and are
inexpensive.

References

Animal-World References: Marine and Reef

Chrysiptera cyanea (Quoy & Gaimard, 1825) Sapphire devil, Fishbase

Scott W. Michael , Damselfishes & Anemonefishes, TFH Publications, 2008

Scott W. Michael, The 101 Best Saltwater Fishes, TFH Publications, 2007

Scott W. Michael, Reef Aquarium Fishes: 500+ Essential-to-Know Species,


Microcosm Ltd, 2006

H. Debelius and R. H. Kuiter, World Atlas of Marine Fishes, (in German) Hollywood
Import & Export, Inc., 2006

Dr. Gerald R. Allen, Damselfishes Of The World, Aquarium Systems, 1991

Burgess, Axelrod, Hunziker III, Dr. Burgess's Atlas of Marine Aquarium Fishes, T.F.H
Publications inc., 1990

Beri Nilai