Anda di halaman 1dari 23

Adapun ruang lingkup kajian Ilmu Tauhid dibagi menjadi 4 bagian

1. Tauhid Uluhiyyah
Dengan kata lain Tauhid Uluhiyah ialah percaya sepenuhnya, bahwa Allah-lah yang
berhak menerima semua peribadatan makhluk, dan hanya Allah sajalah yang
sebenarnya dan yang harus disembah.

Lalu Tauhid Uluhiyyah mencakup akan bahasan :


A. Tentang Dzat Allah
B. Tentang Nama-Nama Allah
C. Tentang Sifat-Sifat Allah
D. Tentang Perbuatan Allah

2. Tauhid An-Nubuwwah
Tauhid An-Nubuwwah adalah diambil dari kata Nabi. Jadi dalam tauhid Nubuwah disini
mengkajia akan segala hal yang mengenai tentang rasul atau nabi. Dan sebagaimana bahasan
dalam tauhid Nubuwah adalah:
A. Tentang Rasul
B. Tentang Nama-Nama Rasul
C. Tentang Sifat Rasul

3. Tauhid Ar-Ruhaniyyah
Tauhid Ar0Ruhaniyyah berasal dari kata Ruhhun yang mana disini mengkaji akan segala hal
yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak kasap mata. Maka dari itu disini dibahas akan beberapa
hal yaitu:
A. Tentang Malaikat
B. Tentang Jin
C. Tentang Syaithon
D. Tentang Iblis

Tauhid As-Samiyyat

yakni apa yang didengar dan diberitakan oleh Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Quran
dan As-Sunnah

Hal yang menyangkut samiyyat ini banyak sekali diantaranya adanya para
Malaikat, kitab kitab yang diturunkan kepada para nabi, adanya qadha dan qadar,
adanya mukjizat mukjizat yang diberikan kepada para nabi, menyakini bahwa nabi
Muhammad saw itu adalah nabi terakhir dan nabi yang paling sempurna, adanya
hari kiamat, siksa kubur, pahala dan dosa, hari kebangkitan, hari dikumpulkan
manusia di padang mahsyar, syafaat Nabi saw, hari perhitungan, hari
pertimbangan, telaga, jembatan (shirat), surga dan neraka, Arsy, Kursi, Lauhul
Mahfudh, penarikan Al-Quran, Isra Miraj, kehidupan para syuhada dalam kubur,
dan lain lainnya.
2. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim
Nabi Adam adalah nenek moyang manusia yang pertama. Setelah ia beranak cucu
banyak, ia ditugaskan Allah menjadi Nabi kepada anak cucunya. Adam mengajarkan
tauhid kepada anak cucunya secara murni sehingga merekapun taat dan tunduk
kepada ajaran Adam yang meng-Esakan Allah SWT.

Karena fitrah manusia yang suka dipimpin dan diatur, jika pemimpinya sudah tidak ada
lagi atau wafat. Maka kehilangan pemimpin itu mengakibatkan penyimpangan-
penyimpangan dari ajaran yang lurus menjadi keadaan yang tidak teratur dan tidak
terkendali. Sehingga Allah membangkitkan atau mengutus kembali Nabi-nabi setelah
Nabi Adam wafat untuk menuntun dan memimpin umat manusia.

Seperti halnya umat Nabi Adam, setelah wafat olehnya maka umatnya kocar kacir tidak
berketentuan, porak-poranda sepeninggal beliau. Maka Allah mengutus Nabi Nuh
sebagai pengatur dan pemimpin umat manusia setelah nabi Adam. Sehingga Nabi Nuh
disebut sebagai bapak atau nenek moyang kedua.
Kemudian sepeninggal Nabi Nuh, umat kehilangan pemimpin lagi dan kacaulah kembali. Hingga
Allah mengutus Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim selain mengajarkan tauhid juga mengajarkan
syariah, yang diantaranya disyariatkan dalam agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad sebagai
bukti adanya hubungan yang erat antara syariah Ibrahim dan syariah Muhammad. Diantara Nabi
Ibrahim dan Muhammad. Allah juga mengutus banyak Nabi yang dinataranya adalah Nabi Musa
dan Isa AS.

3. Sejarah Ilmu Tauhid zaman Rasulullah


Kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah ditugaskan untuk mengembalikan dan memimpin umat
kepada tauhid, mengakui ke-Esaan Allah SWT dengan ikhlas dan semurni-murninya, seperti apa
yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Ibrahim dahulu. Agama yang sebenarnya tidak asing lagi
bagi bangsa Arab. Tauhid yang diajarkan oleh Nabi Muhammad itu seperti apa yang telah
digariskan dalam al Qur'an dan Hadits.

Segala sifat-sifat Allah sudah terkandung dalam al Qur'an sehingga di masa Rasul tidak ada
orang yang menanyakannya. Karena mereka sudah jelas dalam hal tersebut. Mereka hanya
menanyakan masalah-masalah yang berhubungan dengan ibadah seperti shalat, puasa, zakat,
amal shaleh, dan lain-lain. Mereka semua sepakat menetapkan bahwa sifat-sifat Allah itu Azali,
yaitu : Qudrat, Iradah, Ilmu, Hayyat, Sama', Bashar, Kalam, dan lain-lain.

Dalam masa nabi belum terjadi berbedaan yang mendalam karena masyarakat pada waktu itu
masih di persatukan dan semua di kemblikan kepada nabi sebagai utusan Allah. Mengenai tauhid
yang berkembang pada saat itu masih bersifat murni dan belum terobang-abang oleh masalah
kekuasaan dan politik yang memicu perpecaah umat islam.

4. Perkembangan Ilmu Tauhid setelah Rasulullah wafat

Di masa sahabat, ketauhidan tidak ada bedanya dengan zaman rasul. Sampai akhir abad pertama
hijriah, barulah ada kegoncangan-kegoncangan setelah munculnya seseorang bernama Jaham
Ibnu Shafwan di negeri Persi yang tidak mengakui adanya sifat-sifat Allah yang Azali itu,
banyak di antara kaum muslimin yang terpengaruh oleh ajaran itu, bahkan ada yang menguatkan
keyakinannya.

Adapun kaum muslimin yang tetap murni ketauhidannya menentang pendapat Jaham dengan
menyatakan bahwa pendapat itu "sesat". Akan tetapi, di kala ulama-ulama sibuk membicarakan
dalil untuk menolak pendapat Jaham itu, tiba-tiba timbul pula suatu aliran yang bernama
Mu'tazilah yang dietuskan oleh Washil ibnu Atha'. Ia membenarkan pendapat Jaham : yang
menafikan sifat-sifat Allah.

Kemudian muncul pula seorang yang bernama Muhammad bin Koram Abu Abdullah As
Sijistany, pemimpin golongan Karamiyah yang menentang golongan Mu'tazilah dengan
menetapkan sifat-sifat Allah. Tetapi cara mereka menentang terlalu berlebihan sehingga
menyerupai Allah sebagai yang berjisim. Semenjak itu dikenal dengan paham Karamiah atau
Mujassimah.

Perseteruan paham ini berlangsung hingga Khalifah Makmun (Daulah Abbassiyah), hingga
tampil seorang yang terkenal dengan nama Abu Hasan Ali Al As'ary yang melahirkan jalan
tengah antara kedua pendapat yang bertentangan tersebut. Beliau mengemukakan alasannya
dengan dalil aqli dan naqli, sehingga banyaklah para ulama yang tertarik serta ikut
menyebarkannya.

Sejarah tauhid
Maka tersebar ajaran ini keseluruh Iraq yang kemudian ke Syam. Dan setelah
Shalahudin al Ayyubi menguasai Mesir, selain madzhab Syafi'I i menyiarkan madzhab
ini, sehingga akhirnya rakyat Mesir menganut madzhab Asy'ariyah dalam tauhid dan
madzhab Syafi'iyyah dalam fiqh. Madzhab As'ariyah juga berkembang pula di negeri
mahrabi yaitu sebelah utara Afrika, yang dipelopori oleh salah satu murid Imam Ghazali
yang akhirnya mereka namakan juga madzhab ini dengan madzhab Muwahhidin, yang
kemudian negaranya pun bernama kerajaan Muwahhidin.

Selanjutnya pada abad kedelapan hijriyah, seoarang yang bernama Taqiuddin Abul
Abbas bin Taimiyah Al Harry dari Syam, muncul menyokong dan ingin mempertahankan
madzhab salaf yang tadi. Dia memusatkan dan menumpahkan kegiatannya untuk
mempertahankan salaf dan menentang As'ariyah. Pendirian Ibnu Taimiyyah ini masih
agak asing dan tidak mendapat tanah yang subur karena telah mendalamnya faham-
faham yang diajarikan oleh madzhab As'ariyah. Dan keadaan seperti hal tersebut juga
di negara-negara islam lainnya.

Semenjak Rasulullah wafat, pemerintahan dipegang oleh khulafaurrasyidin yang


kemudian dipimpin oleh khalifah Umawiyah dan setelah itu oleh daulah Abbasyiah.
Sejak akhir pemerintahan Umawiyah, dunia islam mulai kemasukan kebudayaan-
kebudayaan asing yang datang dari persi, Yunani, India, dan sebagainya. Di kala
pemerintahan Abbassiyah, yaitu ketika khalifah Makmun, umat islam telah sampai pada
puncak kemajuan ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang tinggi.
Dari sejak masuknya kebudayaan asing (falsafah dari agama lain) itu, maka lahirlah
perbedaan pandangan dalam ilmu Tauhid. Di masa itu timbul golongan-golongan
seperti Jahamiah, Mu'tazilah, Khawarij, dan sebagainya yang saling berdebat satu
sama lain, saling kafir-mengkafirkan. Terutama ahli Sunnah yang sangat banyak
musuhnya, semua ribak (musuh) menjadi lawannya.

Akan tetapi di zaman khalifah Makmun semua aliran itu dapat dikatakan lenyap atau
tidak berpengaruh lagi, kecuali Mu'tazilah yang masih subur karena mendapat
lindungan dan sokongan dari khalifah Makmun. Sehingga setelah wafatnya khalifah,
Mu'tazilah tidak mendapat perlindungan lagi bahkan mereka mendapat serangan dan
mengalami kemunduran akibat dari semua aliran-aliran yang dahulu tumbuh kembali.

Golongan Mu'tazilah terus menerus mengalami kemunduran sehingga muncul seorang


pemimpin golongan ahli sunnah yang bernama imam as'ary. Di zaman ini, semua
madzhab dikatakan lumpuh tak berdaya apalagi setelah tumbuh musuh baru yang lebih
kuat, yaitu golongan ahli falsafah. Yang kemudian ahli falsafa h ini dihancurkan oleh
seorang pendekar islam yang bernama Imam Ghazali. Beliau tidak melarang orang
berfalsafah, tetapi janganlah orang mencampurkan falsafah dengan agama, terutama
ketauhidan. Dan supaya falsafah itu jangan dipengaruhi agama, apalagi falsafah yang
mungkin bertentangan dengan agama.

Yang menentang pencampuradukan falsafah dengan agama itu bukan Imam Ghazali
saja, melainkan banyak tokoh-tokoh di belakangnya yang hendak membendung
gelombang falsafah terhadap agama. Seperti Fakhrudin Ar Razi dan Ibnu Taimiyah dan
lain-lain. Agar keyakinan terhadap Allah SWT selalu terjaga dan tanpa harus
menjatuhkan atau bersifat fanatik terhadap golongan yang lain karena berbeda
penafsiran.

Pengertian Khawarij
Secara etimologi ( [1]) kata Khawarij berasal dari bahasa Arab yaitu kharaja yang berarti
1

keluar, muncul, timbul atau memberontak. Sedangkan menurut terminologi ilmu kalam adalah
suatu sekte/kelompok/aliran pengikut Ali bin Abi Thalib yang keluar meninggalkan barisan
karena ketidaksepakatan terhadap keputusan Ali yang menerima arbitrase, dalam perang Siffin
pada tahun 37 H/648M, dengan kubu Muawiyah bin Abi Sufyan perihal persengketaan khalifah.
Sebab-sebab munculnya Khawarij
Perundingan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah ternyata tidak berhasil menyelesaikan
pertentangan diantara mereka. Hal ini membuat kaum khawarij bertambah marah dan kecewa
terhadap Ali bin Abi Thalib. Dalam hal ini sebenrnya kaum khawarij tidak konsisten, karena
sebagaimana pendukung Ali yang lain mereka semula juga mendorong Ali agar menerima baik
1
usul penyelesaian sengketa dengan Muawiyah melalui arbitrase akan tetapi mereka menyalahkan
Ali bin Ai Thalib karena menerima perundingan pemberontak. Padahal Ali adalah Imam atau
khalifah yang telah mendapat baiat rakyat maka tidak benar menerima atau tunduk kepada
pemberontak.2[2]
Dalam pengalaman menuju Kufah, kaum Khawarij yang terdiri dari dua belas ribu orang
sudah tidak bergabung lagi dengan kelompok Ali yang setia. Mereka menuju Harura, sebuah
desa yang menjadi markas perlawanan mereka terhadap Ali. Di sini mereka mengangka Ali dan
sebagai pemimpin perlawanan terhadap Ali, Muawiyah, Amr bin Ash dan Abu Musa Al-Asyari
serta mereka yang mendukung terlaksananya arbitrase. Selanjutnya nama Harura digunakan
untuk menyebut kelompok ini.
Di samping diberi nama Harura, mereka disebut juga Asy-Syurah sebagai pernyataan
mereka yang berarti berjuang. Khawarij memandang bahwa Ali bin Abi Thalib, Muawiyah,
Amr bin Ash, Abu Musa Al-Asy;arid an lain-lain yang menerima arbitrase adalah kafir, karena
al-Quran mengatakan: Barangsiapa yang tidak menentukan hukum dengan apa yang telah
ditentukan Allah, adalah kafir (QS. Al-Maidah: 44).
Dari ayat inilah mereka mengambil semboyan la hukma illa Allah, karena keempat pemuka
Islam di atas telah dipandang kafir dalam arti bahwa merea telah keluar dari Islam, mereka mesti
dibunuh, maka kaum khawarij mengambil keputusan untuk membunuh mereka berempat, tetapi
hanya Ali bin Abi Thalib-lah yang berhasil dibunuh oleh orang Khawarij yang bernama
Abdurahman Ibn Muljam.

3. Ajaran Pokok Khawarij


Secara umum ajaran-ajaran pokok Khawarij adalah orang Islam yang melakukan dosa besar
adalah kafir, orang-orang yang terlibat pada perang Jamal (perang antara Aisyah, Thalhah dan
Zubair dengan Ali bin Abi Thalib) dan para pelaku tahkim (termasuk yang menerima dan
membenarkannya) dihukumkan kafir dan khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat.
Begitu pula dengan doktrin-doktrin pokok yang ditanamkan antara lain: [ [3]]
3

1) Khalifah atau Imam harus dipilih secara bebas oleh seluruh ummat Islam.

3
2) Khalifah tidak harus berasal dari keturunan Arab, setiap orang muslim berhak menjadi khalifah
bila memenuhi syarat.
3) seseorang harus menghindar dari pimpinan yang menyeleweng.
4) Seseorang yang berdosa besar tidak lagi disebut muslim sehingga harus dibunuh.
5) Setiap muslim harus berhijrah dan bergabung dengan golongan mereka bila tidak maka ia wajib
di bunuh.
6) Adanya waad dan waid.
7) Amar makruf nahi munkar.
8) Memalingkan ayat-ayat Al-quran yang mutasyabihat.
9) Manusia bebas memutuskan perbuatannya bukan dari Tuhan

Dari doktrin di atas dapat kita simpulkan bahwa doktrin kaum Khawarij dapat dikategorikan
dalam tiga kategori yaitu :
a. Doktrin politik, dimana membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan kenegaraan khususnya
tentang kepala negara atau khalifah.
b. Doktrin teologi, dimana membicarakan tentang dosa besar. Doktrin teologi Khawarij yang
radikal pada dasarnya merupakan imbas dari doktrin sentralnya yaitu doktrin politik. Radikalitas
itu sangat dipengaruhi oleh sisi budaya mereka yang juga radikal serta asal usul mereka yang
berasal dari masyarakat badawi dan pengembara padang pasir yang tandus.
c. Doktrin sosial, dimana doktrin ini memperlihatkan kesalehan asli kelompok Khawarij.

4. Sekte-sekte Khawarij
Perkembangan khawarij telah menjadikan imamah-khalifah(politik) sebagai dioktrin sentral
yang memicu adanya doktrin-doktrin teologis. Radikalitas yang melekat pada watak dan
perbuatan kelompok khawarij menyebabkan kelompok mereka sangat rentan akan terjadinya
perpecahan-perpecahan, baik secara internal kaum khawarij sendiri , maupun secara eksternal
dengan sesama kelompok islam lainnya.[ [4]]
4

Sekte- Sekte Yang Muncul Yaitu:

1. Almuhakkimah

4
Terdiri dari pengikut Ali , kaum khawarij asli. Prinsip utamanya adalah soal arbitrase. Ali,
Muawiyah, Amru Bin Ash Abu Musa Al Asyary dan semua yang menyetujui adanya arbitrase
adalah dianggap dosa besar dan kafir

2. Azzariqoh
Yaitu generasi khawarij yang terbesar setelah Muhakkiamah mengalami kahancuran. Golongan
ini dipimpin oleh Ibnu Al Azraq. Maka nama pemimpi itu kemudian dijadikan sebutan golongan
ini yaitu Azzariqoh. Belar pemimpin mereka adalah ( Nafi Bin al Azraq ).disebut amirul
mukminin. Wilayah kekuasaannya yaitu antara Iraq-Iran. Nafi meninggal pada tahun 686 M
da;lam pertampuran di Iraq. Pemikiran dari Azzariqoh radikal. Kecenderungan persoalan yang
dilontarkan adalah masalah Musyrik. Ada beberapa kriteria yang disepakati digolongkan
musyrik. Yaitu :
a. Semua orang islam yang tak sepaham dengan golongannya.
b. Sepaham tapi tidak mau berhijrah.
c. Golongan yang tidak mau hidup di lingkungan mereka.
Proses masuk golongan ini yaitu dengan dihadapkan dengan seorang tawanan, maka jika
tawanan ini dia bunuh maka dia akan diterima. Namun jika tawanan itu tidak dibunuh maka ia
tidak diterima. Dan sebaliknya, maka ia malah harus dibunuh dengan dipenggal kepalanya.
3. Najdat
Paham Azzariqoh berkembang, tetapi karena pendapatnya yang terlalu ekstreem, maka timbullah
golongan lain , Najdat. Golongan ini tidak setuju atas faham Azzariqoh yang menyatakan bahwa
orang-orang azraqi yqang tidak mau berhijrah masuk lingkungannya adalah kafir.
Golongan ini dipimpin oleh Najdah Ibnu Amir Al Hanafi dari Yamamah.
Pokok-pokok pendapat mereka :
a. Pelaku dosa besar bukan kafir dan tidak kekal di neraka. Bila golongannya melakukan dosa
besar maka akan mendapat siksa yang kemudian akan ke surga.
b. Dosa kecil akan bisa berubah menjadi dosa besar bila dilakukan secara terus menerus dan
pelakunya bisa menjadi Musyrik.
c. Tiap muslim wajib marifatullah dan marifaturrosul, dan segala yang diwahyukan kepadanya.
Orang yang tidak mengetahui tidak diampuni.
d. Seorang yang mengerjakan hal haram dan tidak mengetahui keharamannya, maka dapat di
mafu.
e. Muslim harus mengetahui haramnya membunuh muslim lainnya.
f. Faham taqiyah merahasiakan dan tifak menyatakan keyakinan untuk keamanan diri seseorang
. bentuk taqiyah yaitu dengan [erkataan dan perbuatan. Missal bila seseorang secara lahiriyahnya
bukan islam ,tetapi selama hakikinya ia tetap mengesakan Allah maka ia tetap islam.
Perpecahan Najdah.
Sebab perpecahan :
Dosa kecil bisa berubah menjadi dosa besar.
Dosa besar tidak membuat pengikutnya menjadi kafir.
Pembagian gonimah (rampasan perang).
Najdah bersikap lunak terhadap kholifah Abdul Malik Bin Marwan dari dinasti Umayyah.
Karenanya para pendukung Najdah (semula ) menjadi musuhnya. Abu Fudaik dan Rosyid
melawan Najdah. Dan Najdah erpenggal lehernya .dan Atiyah pergi melarikan diri menuju ke
sajistan di Iraq.

4. Ajjaridah
Didirikan oleh Abdul Karim bin Ajrad. Menurut syahrasti ia adalah teman dari Atiyah
al Hanafi.Beberapa pemikirannya :
a. Berhijrah bukan suatu kewajiban , tetapi suatu kebajikan.
b. Kaum Ajjaridah tidak wajib hidup di lingkungannya.
c. Harta rampasan yang boleh diambil adalah harta orang yang mati terbunuh.
d. Tidak ada dosa turun remurun dari seorang ayah yang musyrik kepada seorang anak.
e. Surat Yusuf bukan bagian dari Al Quran, karena berisi/ membawakan masalah percintaaan. Dan
menurutnya Al Qur an tidak mungkin membawakannya.
Ajjaridah pecah menjadi 2 golongan, yaitu :
1. Maimuniyah
Mereka berpendapat bahwa baik dan buruknya amal perbuatan manusia timbul dari kemauan dan
kekuasaan manusia sendiri.
2. Asy-Syuaibiyah
Mereka berpendapat bahwa Allah adalah sumber dari segala perbuatan manusia. Dengan
demikian, manusia hanya menjalankan kehendak Allah saja, dan mereka tidak bisa menolak
sama sekali.

5. Surfiyah
Dipimpin oleh Ziad Ibnu Al Asfar. Golongan ini mirip dengan golongan Azzariqoh yang terkenal
dengan ke-ekstriman-nya. Namun mereka tidak se-ekstrim Azzariqoh.
Pendapat paham Surfiyah :
a. Tidak setuju bila anak-anak kaum musyrik dibunuh.
b. Kaum mumin yang tidak hijrah tidaklah digolongkan kafir.
c. Daerah islam di luar Surfiyah bukan daerah yang harus diperangi. Namun yang boleh diperangi
adalah daerah kampung pemerintah.
d. Dalam peperangan anak-anak dan wanita tidak boleh dijadikan tawanan.
e. Orang yang berdosa besar tidak musyrik.
f. Dosa besar dibagi menjadi 2 bagian :
Dengan sangsi di dunia dan tidak ada sanksinya seperti zina, mencuri,membunuh.
Dengan sanksi di akhirat seperti puasa,zakat, salat..
6. Ibadiyah
Dipimpin oleh Abdullah ibnu Ibad dan termasuk aaliran paling moderat disbanding golongan
khawarij lainnya. Golonmgan ini muncul setelah memisahkan diri dari Azzariqoh. Abdullah Ibnu
Ibad tidak mau membantu memerangi pemerintah bani Umayyah atas ajakan Azzariqoh. Bahkan
hubungannya dengan Umayyah ( Khalifah Abdul Mlik Bin Marwan ) sangat baik. Kelanjutannya
dari hubungan baik ini sampai
generasi Ibadiyah berikutnya.
Ajaran-Ajaran Ibadiyah:
a. Muslim yang tidak sepaham tidak mukmin dan tidak pula musyrik, tetapi kafir. Membunuhnya
haram dan syahadatnya dapat diterima.
b. Daerah tauhid yaitu daerah yang mengesakan Allah tidak boleh diperangi, walaupun daerah itu
ditempati oleh muslim yang tidak sepaham. Daerah kafit yang harus diperangi yaitu daerah
pemerintah.
c. Muslim yang berdosa besar dan masih mengesakan Allah bukan mukmin. Bila kafir maka hanya
kafir nimah, bukan kafir millah(Agama) maka tidak keluar dari islam.
d. Harta rampasan perang hanyalah kuda dan senjata.
Paham ibadiyah di atas menunjukkan kemoderatannya dibanding lainnya. Sifat inilah yang
membuatnya mampu bertahan lebih lama. Sampai sekarang masih mampu dibuktikan /
ditemukan di daerah Afrika Utara, Arabia Selatan dan sebagainya.

7. Assalabiyah
Semua aliran yang bersifat radikal, pada perkembangan lebih lanjut dikatagorikan sebagai aliran
khawarij, selama didalamnya terdapat indikasi doktrin yang identik dengan aliran ini.
Berkenaan dengan persoalan ini Harun Nasution megidentifikasikan beberapa indikasi aliran
yang dapat dikategorikan sebagai aliran Khawarij, yaitu sebagai berikut :
a. Mudah mengkafirkan orang yang tidak segolongan dengan golongannya, walaupun orang itu
adalah penganut agama islam.
b. Islam yang benar yaitu islam yang mereka fahami dan amalkan, sedangkan islam sebagaimana
yang difahami dan diamalkan golongan lain adalah tidak benar.
c. Orang-orang islam yang tersesat dan menjadi kafir perlu dibawa kembali ke Islam yang
sebenarnya, yaitu islam yang mereka fahami dan mereka amalkan.
d. Karena pemerintah dan ulama yang tidak sefaham dengan mereka adalah sesat, maka mereka
memilih imam dari golongan mereka sendiri. Yakni imam dalam arti pemuka agama dan pemuka
pemerintah.
e. Mereka bersifat fanatic dan tidak segan-segan menggunakan kekerasan dan membunuh untuk
mencapai tuuan mereka.
5. Tokoh-tokoh Aliran Khawarij
Diantara tokoh-tokoh khawarij yang terpenting adalah :
Abdullah bin Wahab al-Rasyidi, pimpinan rombongan sewaktu mereka berkumpul di Harura
(pimpinan Khawarij pertama)
1. Urwah bin Hudair

2. Mustarid bin saad

3. Hausarah al-Asadi

4. Quraib bin Maruah

5. Nafi bin al-azraq (pimpinan al-Azariqah)

6. Abdullah bin Basyir

7. Zubair bin Ali

8. Qathari bin Fujaah

9. Abd al-Rabih

10. Abd al Karim bin ajrad

11. Zaid bin Asfar

12. Abdullah bin ibad

1. Pengertian Murjiah
Nama Murjiah diambil dari kata irja atau arjaa yang bermakna penundaan, pengangguhan
dan pengharapan. Kata arjaa mengandung pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan
kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.
Selain itu, arjaa berarti pula meletakkan dibelakang/mengemudikan, yaitu orang yang
mengemudikan amal dari iman. Oleh karena itu, Murjiah artinya orang yang menunda penjelasan
kedudukan seseorang yang bersengketa, yakni Ali dan Muawiyah serta pasukannya masing-
masing ke hari kiamat kelak.[ [1]]
5

5
2. Asal-Usul (sebab-sebab) munculnya Murjiah
Ada beberapa teori yang berkembang mengenai asal-usul kemunculan Murjiah,
diantaranya :
1. Teori Pertama
Mengatakan bahwa gagasan irja atau arja dikembangkan oleh sebagian sahabat dengan tujuan
menjamin persatuan dan kesatuan umat Islam ketika terjadi pertikaian politik dan juga bertujuan
untuk menghindari sektarianisme.
Murjiah, baik sebagai kelompok politik maupun teologis, diperkirakan lahir bersamaan dengan
munculnya Syiah dan Khawarij. Kelompok ini merupakan musuh berat Khawarij.[ [2]] 6

2. Teori Kedua
Mengatakan bahwa gagasan irja, yang merupakan basis doktrin murjiah. Muncul pertama kali
sebagai gerakan politik yang diperlihatkan oleh cucu Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan bin
Muhammad Al-Hanafiyah, sekitar tahun 695 M.
3. Teori Ketiga
Mengatakan bahwa ketika terjadi perseteruan antara Ali dan Muawiyah dilakukanlah tahkim atau
arbitrase. Kelompok Ali terpecah menjadi 2 kubu yang pro dan yang kontra. Kelompok kontra
akhirnya menyatakan keluar dari Ali yakni Kubu Khawarij. Kemudian pendapat ini ditentang
sekelompok sahabat yang kemudian disebut kelompok Murjiah.
Yang menyatakan pembuat dosa besar tetap mukmin, tidak kafir, sementara dosanya diserahkan
kepada Allah SWT

3. Ajaran Pokok Murjiah


Ajaran pokok Murjiah pada dasarnya bersumber dari gagasan atau doktrin irja/arjaa yang
diaplikasikan dalam banyak persoalan, baik persoalan politik maupun teologis. Di bidang politik,
doktrin irja diimplementasikan dengan sikap politik netral atau nonblok, yang hampir selalu
diekspresikan dengan sikap diam. Itualah sebabnya kelompok murjiah dikenal sebagai The
Queietist (kelompok bungkam).[ [3]] Sikap ini akhirnya berimplikasi begitu jauh hingga membuat
7

murjiah selalu diam dalam persoalan politik.


Adapun dibidang teologi, doktrin irja dikembangkan murjiah, ketika menghadapi persoalan-
persoalan teologis yang muncul saat itu. Pada perkemabgan berikutnya, persoalan-persoalan
yang ditanggapinya menjadi semakin kompleks sehingga mencakup iman, kufur, dosa besar dan
6

7
ringan (mortal and venial sains), tauhid, tafsir Al-Quran, eskatologi, pengampunan atas dosa
besar, kemaksuman nabi (the impeccability of the profhet), hukuman atas dosa (punishment of
sins), ada yang kafir (infidel) dikalangan generasi awal Islam, tobat (redress of wrongs), hakikat
Al-Quran, nama dan sifat Allah, serta ketentuan Tuhan (predestination).[ [4]]
8

Berkaitan dengan doktrin teologi murjiah, W. Montgomery Watt merincinya sebagai berikut :
9
[ [5]]

a. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Muawiyah hingga Allah memutuskannya diakhirat
kelak.
b. Penangguhan Ali unutuk menduduki ranking keempat dalam peringkat Al-Khalifah Ar-Rasyidin.
c. Pemberian harapan (giring of hope) terhadap orang muslim yang berdosa besar untuk
memperoleh Ampunan dan rahmat dari Allah.
d. Doktrin-doktrin Murjiah menyerupai pengajaran (madzhab) para Skeptis dan Empiris dari
kalangan Helenis
Masih berkaitan dengan doktrin, teologi Murjiah, Harun, Nasution menyebutkan Empat
ajaran pokoknya, yaitu :[ 10
[6]]

1. Menunda hukuman atas Ali, Muawiyah, Amr bin Ash, dan Abu Musa Al-Asyari yang terlibat
tahkim dan menyerahannya kepada Allah di hari kiamat kelak.
2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
3. Meletakkan (pentingnya) iman daripada amal
4. Memberikan pengharapan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan
rahmat dari Allah.
Sementara itu, Abu Ala Al-Mauludi menyebutkan dua doktrin pokok ajaran Murjiah, yaitu :
[11[7]]

1. Iman adalah percaya kepada Allah dan Rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak
merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seseorang tetap dianggap
mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yang difardlukan dan melakukan dosa besar.
8

10

11
2. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman di hati, setiap maksiat tidak
dapat mendatangkan mudarat ataupun gangguan atas seseorang. Untuk mendapatkan
pengampunan, manusia cukup hanya dengan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan
akidah tauhid.

4. Sekte-sekte Murjiah
Kemunculan sekte-sekte dalam kelompok Murjiah tampaknya dipicu oleh perbedaan
pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) di kalangan para pendukung Murjiah sendiri.
Dalam hal ini, terdapat problem yang cukup mendasar ketika para pengamat mengklasifikasikan
sekte-sekte Murjiah. Kesulitannya antara lain adalah ada beberapa tokoh aliran pemikiran
tertentu yang diklaim oleh seorang pengamat sebagai pengikut Murjiah, tetapi tidak diklaim
oleh pengamat lain. Tokoh yang dimaksud adalah Washil bin Atha dari Mutazilah dan Abu
Hanifah dari Ahli Sunnah.[ 12
[8]] Oleh karena itulah Ash-Syahrastani, seperti dikutip oleh Watt
menyebutkan sekte-sekte Murjiah sebagai berikut :[ 13
[9]]

a. Murjiah-Khawarij
b. Murjiah-Qadariyah
c. Murjiah-Jabariyah
d. Murjiah Murni
e. Murjiah Sunni (tokohnya adalah Abu Hanifah).
Sementara itu, Muhammad Imarah menyebutkan 12 sekte Murjiah yaitu : [ 14
[10]]

a. Al-Jamiyah, pengikut Jahm bin Shufwan


b. Ash-Shalihiyah, pengikut Abu Musa Ash-Shalahi
c. Al-Yunushiyah, pengikut Yunus As-Samary
d. As-Samriyah, pengikut Abu Samr dan Yunus
e. Asy-Syaubaniyah, pengikut Abu Syauban

12

13

14
f. Al-Ghailaniyah, pengikut Abu Marwan Al-Ghailan bin Marwan Dimsaqy
g. An-Najariyah, pengikut Al-Husain bin Muhammad An-Najt
h. Al-Hanafiyah, pengikut Abu Haifah An-Numan
i. Asy-Syabibiyah, pengikut Muhammad bin Syabib
j. Al-Muaziyah, pengikut Muadz Ath-Thaumi
k. Al-Murisiyah, pengikut Basr Al-Murisy
l. Al-Karamiyah, pengikut Muhammad bin Karam As-Sijistany
Harun Nasution secara garis besar mengklasifikasikan Murjiah menjadi dua sekte, yaitu
golongan moderat dan golongan ekstrim. Murjiah moderat berpendirian bahwa pendosa besar
tetap mukmin, tidak kafir, tidak pula kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sebsar dosanya, dan
bila diampuni oleh Allah sehingga tidak masuk neraka sama sekali. Iman adalah pengetahuan
tentang Tuhan dan rasul-rasul-Nya serta apa saja yang datang dari-Nya secara keseluruhan
namun dalam garis besar. Iman ini tidak bertambah dan tidak pula berkurang. Tak ada perbedaan
manusia dalam hal ini. Penggagas pendirian ini adalah Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin
Thalib, Abu Hanifah, Abu Yusuf, dan beberapa ahli Hadits.
Adapun yang termasuk kelompok ekstrim adalah Al-Jahmiyah, Ash-Shalihiyah, Al-
Yunusiyah, Al-Ubaidiyah, dan Al-Hasaniyah, Pandangan tiap-tiap kelompok itu dapat dijelaskan
seperti berikut : [ 15
[11]]

a. Jahmiyah, kelompok Jahm bin Shafwan dan para pengikutnya, berpandangan bahwa orang yang
percaya kepada Tuhan kemudian menyatakan kekufurannya secara lisan, tidaklah menjadi kafir
karena iman dan kufur itu bertempat di dalam hati bukan pada bagian lain dalam tubuh manusia.
b. Shalihiyah, kelompok Abu Hasan Ash-Shalihi, berpendapat bahwa iman adalah mengetahui
Tuhan, sedangkan kufur adalah tidak tahu Tuhan. Salat bukan merupakan ibadah kepada Allah.
Yang disebut ibadah adalah iman kepada-Nya dalam arti mengetahui Tuhan. Begitu pula zakat,
puasa dan haji bukanlah ibadah, melainkan sekedar menggambarkan kepatuhan.
c. Yunusriyah dan Ubaidiyah melontarkan pernyataan bahwa melakukan maksiat atau perbuatan
jahat tidaklah merusak iman seseorang. Mati dalam iman, dosa-dosa dan perbuatan-perbuatan
jahat yang dikerjakan tidaklah merugikan orang yang bersangkutan. Dalam hal ini, Muqatil bin
Sulaiman berpendapat bahwa perbuatan jahat, banyak atau sedikit, tidak merusak iman seseorang
sebagai musyrik (politheist).
15
d. Hasaniyah menyebutkan bahwa jika seorang mengatakan, Saya tahu Tuhan melarang makan
babi, tetapi saya tidak tahu apakah babi yang diharamkan itu adalah kambing ini, maka orang
tersebut tetap mukmin, bukan kafir. Begitu pula orang mengatakan Saya tahu Tuhan
mewajibkan naik haji ke Kabah, tetapi saya tidak tahu apakah Kabah di India atau tempat
lain.
Pengertian dan latar belakang munculnya
Asyariyah adalah sebuah aliran yang menganut iktikad yang diajarkan oleh nabi
Muhammad SAW dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya. Aliran ini dinisbatkan kepada pendirinya
yaitu Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al-Asyari, keturunan Abu Musa al-Asyari, seorang
tahkim dalam peristiwa Perang Siffin dari pihak Ali. Dia lahir di kota Bashrah tahun 260 H (873
M) dan meninggal tahun 324 H (935 M) di Baghdad[1]. Pada awalnya ia berguru kepada seorang
pendekar Mutazilah waktu itu bernama Abu Ali al-Jubai. Memang dahulunya al-Asyari ini
merupakan penganut paham Mutazilah, namun terasa baginya sesuatu yang tidak cocok dengan
Mutazilah yang pada akhirnya condong kepada ahli fiqih dan ahli hadits.
Setelah lama-lama berpikir dan merenungkan antara ajaran-ajaran Mutazilah dengan
paham ahli-ahli fiqih dan hadits, maka ketika dia sudah berumur 40 tahun dia bersembunyi di
dalam rumahnya selama 15 hari untuk memikirkan hal tersebut. Tepat pada hari jumat, dia
berdiri di atas mimbar mesjid Bashrah dan secara resmi menyatakan keluar dari Mutazilah.
Kata al-Asyari tersebut adalah:
Wahai masyarakat, barangsiapa mengenal aku, sungguh dia telah mengenalku. Barangsiapa
yang tidak mengenalku maka aku mengenalnya sendiri. Aku adalah Fulan bin Fulan. Dahulu
aku berpendapat bahwa al-Quran adalah makhluk, bahwasanya allah tidak melihat dengan
mata, bahwasanya perbuatan-perbuatan yang jelek aku sendiri yang memperbuatnya. Aku
bertaubat mencabut dan menolak paham-paham mutazilah dan keluar darinya.
Adapun sebab terpenting Asyari meninggalkan Mutazilah adalah karena adanya
perpecahan yang dialami kaum muslimin yang bisa menghancurkan mereka sendiri, kalau
seandainya tidak diakhiri. Dia mendambagakan kesatuan umat, dia sangat khawatir kalau al-
Quran dan Hadits menjadi korban dari paham-paham Mutazilah yang dianggapnya semakin
menyimpang dan menyesatkan masyarakat karena Mutazilah lebih mementingkan akal fikiran.

B. Tokoh-tokoh Asyariyah
Setelah meninggalnya Abu Hasan al-Asyari maka aliran Asyariyah ini mengalami
kemunduran atau kesurutan. Maka pada saat itu juga muncul pihak-pihak yang yang menentang
aliran asyariyah tersebut, seperti pengikut mazhab Hambali. Ketika itu muncullah seorang
menteri dari Bani Saljuk yang bernama Nidhomul Muluk (m. 485 H/1092 M)[2], mendirikan dua
buah madrasah yang terkenal yaitu, Nidhomiyah di Naisabur dan di Baghdad.
Kemudian tokoh-tokoh ulama terkenal yang berperan dalam kemajuan aliran Asyariyah
tersebut adalah:
a. Abu Bakar bin Tayyib al- Baqillany (m. 403 H/1013 M), lahir di kota Bashrah. Kitab
karangannya yang terkenal ialah at-Tamhid, berisi antara lain tentang atom, sifat dan cara
pembuktian.
b. Abu al- Maaly bin Abdillah al- Juwainy (419-478 H/1028-1085M), lahir di kota Naisabur,
kemudian pindah ke kota Muaskar dan akhirnya sampai di Baghdad. Dia mengikuti ajaran-
ajaran al- Baqillany dan al- Asyari. Kitab karangannya dibidang tauhid yang terkenal antara
lain:
- Qawalidu Aqaidu yang menguraikan tentang prinsip-prinsip akidah.
- Al Burhan fie Ashuli Fiqhi menerangkan tentang masalah iman dan ilmu yang digali
berdasarkan sumber-sumber makrifat dan obyeknya.
- Al Irsyad fie Qowathii I-llah fie Ushuli i-Aqaid menerangkan tentang pokok-pokok
kepercayaan dan kewajiban pertama seorang muslim dewasa terhadap agama.
- Masailul Imam Abdul Haqqi ash Shaqati wa Ajwibatihi lil Imam Abil Maati, kitab ini berisi
jawaban masalah-masalah yang dipertanyakan orang seperti alam itu baru, isra miraj, dll.
- Nihayatul Mathlub fie Dirayatil Mazhab, kitab ini adalah pandangan fiqihnya menurut mazhab
Syafii.
c. Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad al-Qazali (450-505 H/1059-1111M) lahir di kota
Thus, negeri Khurasan. Gurunya adalah Imam Juwainy. Kitabnya yang terkenal adalah Bidayatul
Hidayah suatu kitab pengantar ilmu tasauf dan Ihya Ulumudddin yang berisi tentang cara-cara
menghidupkan kembali jiwa beragama yang waktu itu mulai luntur.
d. Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf as Sanusi, lahir di kota Tilimsan Aljazair (833-895H/1427-
1490M). Diantara kitab karangannya adalah: Aqidah Ahli Tauhid, berisi pandangan-pandangan
tauhid dan Ummul Barahin berisi pembagian sifat-sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan
Rasul-Nya.
e. Imam Abu Abdillah Muhammad at-Taimi al Kubro ibnu Khatib Fahruddin ar Razi. Lahir di
Persia 543H. Dia menulis kitab ilmu kalam, fiqih, tafsir dan lain-lain.
f. Abdul Fattah Muhammad Abdul Karim ibnu Abi Bakar Ahmad asy Syahrastani. Lahir di
Khurasan (479-574H/1086-1153M). kitab karangannya yang terkenal al Milal Wan Nihal.
Menerangkan golongan-golongan dalam Islam dan berbagai paham keagamaan dan falsafat.
Kitab ini terdiri dari 3 juz dalam satu jilid.

C. Ajaran-ajaran atau pokok-pokok pemikiran Asyariyah


1. Sifat-sifat Tuhan. Menurut aliran ini, Tuhan mempunyai sifat-sifat sebagaimana disebutkan di
dalam al-Quran. Allah mengetahui dengan ilm (ilmu), berkuasa dengan qudrah, hidup dengan
hayah, berkehendak dengan iradah, berkata dengan kalam, mendengar dengan sama, melihat
dengan bashar, dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut adalah azali, qadim, dan berdiri di atas zat
Tuhan. Sifat itu bukan zat Tuhan, bukan pula selain dari zat-Nya.[3]
2. Al-Quran menurut mereka adalah qadim, bukan makhluk. Dasarnya adalah ayat an-Nahl ayat
40;
y $


Sesungguhnya perkataan kami terhadap sesuatu apabila kami menghendakinya, kami Hanya
mengatakan kepadanya: "kun (jadilah)", Maka jadilah ia.
3. Melihat Tuhan bisa dengan mata kepala sendiri di akhirat. Dasarnya adalah firman Allah dalam
surat al-Qiyamah ayat 22-23;


Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada
Tuhannyalah mereka Melihat
4. Perbuatan manusia diciptakan tuhan bukan diciptakan oleh manusia itu
sendiri. Dasarnya adalah surat as-Saffat ayat 96;


Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
5. Tuhan bertahta di Arsy, mempunyai muka, tangan, mata, dan sebagainya.
Tetapi tidak sama dengan yang ada pada makhluk.
6. Keadilan Tuhan, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun. Tuhan tidak
wajib memasukkan orang jahat ke neraka dan juga sebaliknya, namun
semua itu hanya kehendak mutlak dari Tuhan karena Dia Maha Kuasa atas
segala-galanya.
7. Muslim yang berdosa besar menurut aliran ini apabila melakukan dosa besar
dan meninggal dunia sebelum bertobat, tetap menjadi mukmin, tidak kafir,
tidak pula berada antara keduanya sebagaimana pendapat Mutazilah.

unculnya golongan atau kelompok Mutazilah

Sejarah munculnya aliran mutazilah oleh para kelompok pemuja dan aliran mutazilah tersebut
muncul di kota Bashrah (Iraq) pada abad ke 2 Hijriyah, tahun 105 110 H, tepatnya pada masa
pemerintahan khalifah Abdul Malik Bin Marwan dan khalifah Hisyam Bin Abdul Malik.
Pelopornya adalah seorang penduduk Bashrah mantan murid Al-Hasan Al-Bashri yang bernama
Washil bin Atha Al-Makhzumi Al-Ghozzal, kemunculan ini adalah karena Wasil bin Atha
berpendapat bahwa muslim berdosa besar bukan mukmin dan bukan kafir yang berarti ia fasik.
Imam Hasan al-Bashri berpendapat mukmin berdosa besar masih berstatus mukmin. Inilah awal
kemunculan paham ini dikarenakan perselisihan tersebut antar murid dan Guru, dan akhirnya
golongan mutazilah pun dinisbahkan kepadanya. Sehingga kelompok Mutazilah semakin
berkembang dengan sekian banyak sektenya. kemudian para dedengkot mereka mendalami
buku-buku filsafat yang banyak tersebar di masa khalifah Al-Makmun. Maka sejak saat itulah
manhaj mereka benar-benar diwarnai oleh manhaj ahli kalam (yang berorientasi pada akal dan
mencampakkan dalil-dalil dari Al Quran dan As Sunnah).

Secara harfiah kata Mutazilah berasal dari Itazala yang berarti berisah atau memisahkan diri,
yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri secara teknis, istilah Mutazilah menunjuk ada
dua golongan.

Golongan pertama, (disebut Mutazilah I) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini
tumbuh sebahai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani
pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawan-lawannya, terutama Muawiyah, Aisyah, dan
Abdullah bin Zubair. Menurut penulis, golongan inilah yang mula-mula disebut kaum Mutazilah
karena mereka menjauhkan diri dari pertikaian masalah khilafah. Kelompok ini bersifat netral
politik tanpa stigma teologis seperti yang ada pada kaum Mutazilah yang tumbuh dikemudian
hari.

Golongan kedua, (disebut Mutazilah II) muncul sebagai respon persoalan teologis yang
berkembang di kalangan Khawarij dan Murjiah akibat adanya peristiwa tahkim. Golongan ini
muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murjiah tentang
pemberian status kafir kepada yang berbuat dosa besar. Mutazilah II inilah yang akan dikaji
dalam bab ini yang sejarah kemunculannya memiliki banyak ver

Ajaran yang Diajarkan oleh Golongan Mutazilah

Ada beberapa ajaran yang di ajarkan oleh golongan Mutazilah yaitu misalnya: Al adl
(Keadilan). Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu
datang dari Allah, sedangkan. Dalilnya kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak
(masyiah) Allah adalah firman Allah : Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan. (Al-Baqarah:
205) Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya. (Az-Zumar:7) Menurut mereka
kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila
Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi
(mentaqdirkannya) oleh karena itu merekan menamakan diri mereka dengan nama Ahlul Adl
atau Al Adliyyah. Al-Wadu Wal-Waid. Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah
bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wad) bagi pelaku kebaikan agar
dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-waid) bagi pelaku dosa
besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya,
dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan
Waidiyyah.

Kaum mutazilah adalah golongan yang membawa persoalan-persoalan teologi yang lebih
mendalam dan bersifat filosofis daripada persoalan-persoalan yang dibawa kaum khawarij dan
murjiah. dalam pembahasan , mereka banyak memakai akal sehingga mereka mendapat nama
kaum rasionalis Islam.

Aliran mutazilah merupakan aliran teologi Islam yang terbesar dan tertua, aliran ini telah
memainkan peranan penting dalam sejarah pemikiran dunia Islam. Orang yang ingin
mempelajari filsafat Islam sesungguhnya dan yang berhubungan dengan agama dan sejarah
Islam, haruslah menggali buku-buku yang dikarang oleh orang-orang mutazilah, bukan oleh
mereka yang lazim disebut filosof-filosof Islam.

Aliran Mutazilah lahir kurang lebih pada permulaan abad pertama hijrah di kota Basrah (Irak),
pusat ilmu dan peradaan dikala itu, tempat peraduaan aneka kebudayaan asing dan pertemuan
bermacam-macam agama. Pada waktu itu banyak orang-orang yang menghancurkan Islam dari
segi aqidah, baik mereka yang menamakan dirinya Islam maupun tidak.
B. Ide-Ide Pokok Aliran Mutazilah
1. Al-Ushul Al-Khamsah
Dalam perkembangan pemikirannya, para penganut aliran Mutazilah tidaklah selalu
berada dalam satu garis yang sama, juga sering terjadi perbedaan pendapat di antara mereka,
perbedaan ini misalnya bisa dilihat pada buku Maqalat al-Islamiyin karangan Abu al-Hasan al-
Asyari, dimana terdapat silang pendapat panjang antara tokoh-tokoh Mutazilah tentang sifat
Allah SWT al-Alim. Namun perbedaan-perbedan itu semua bagi mereka masih dalam ruang
lingkup masalah furu.
Ada banyak hal yang disepakati Mutazilah dalam ide-ide teologinya , namun
semuanya akan bermuara pada 5 hal pokok yang disebut al-Ushul al-Khamsah, yaitu:
a. Al-Tauhid (Tauhid)
b. Al-Adl (Keadilan)
c. Al-Wad wa al-Waid (Janji dan Ancaman)
d. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat)
e. Al-Amru bi al-Maruf wa al-Nahyu an al-Munkar (Menyuruh Kebaikan dan Melarang
Keburukan)
Lima hal pokok itu merupakan standar bagi kemutazilahan seseorang, dengan artian
seseorang baru dikatakan Mutazilah jika dia menganut dan mengakui kelima hal tersebut,
namun jika dia tidak mengakui salah satunya atau menambahkan padanya satu hal saja, maka
orang ini tidak pantas menyandang nama Mutazilah.
Terbentuknya al-Ushul al-Khamsah terjadi setelah melalui sebuah proses. Pada masa
Washil baru terbentuk 4 dasar:
a. Al-Tauhid wa al-Tanzih (Tauhid dan Pensucian)
b. Manusia mampu berbuat dan menciptakan perbuatannya sendiri (al-Qadr)
c. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat)
d. Meyakini bahwa pasti ada salah satu pihak yang salah dalam pertikaian antara Utsman r.a dan
lawan-lawannya, dan Ali r.a dan lawan-lawannya, namun tidak bisa dijelaskan pihak mana yang
salah itu.
Kemudian empat hal ini pada gilirannya berkembang sesuai dengan perkembangan
pemikiran di kalangan Mutazilah, sehingga menjadi lima, sebagaimana di atas, ketika
kepemimpinan Mutazilah beralih ke tangan Abu al-Hudzail al-Allaf (w. 235 H) dan Ibrahim bin
Sayyar al-Nazhzham (w. 231 H).
Sebagian kalangan mengatakan al-Ushul al-Khamsah ini adalah rukun iman mereka,
atau mereka mengatakan bahwa Mutazilah menambah atau merubah rukun iman dengan lima
hal ini. Penulis menilai pandangan ini terlalu berlebihan, dan penulis lebih cenderung
mengatakan lima hal ini adalah sebuah usaha Mutazilah untuk menjelaskan konsep ushul (hal
prinsipil) dalam teologi Islam dalam pandangan mereka.16[7]
Imam al-Asyari dalam bukunya Maqalat al-Islamiyyin menggambarkan konsep
Tauhid yang diberikan oleh aliran Mutazilah sebagai berikut:
Allah, Yang Maha Esa (wahid ahad), tidak ada sesuatu yang menyamai-Nya (laysa kamitslihi
syai), bukan jism (bentuk tubuh/benda), syabah, shurah (bentuk gambaran), daging atau darah,
bukan syakhsh (pribadi), jauhar, atau aradh. Tidak berwarna (dzi laun), berasa (tham), berbau
(raihah) dan tidak bisa diraba (mujassah), tidak memiliki sifat panas (dzi hararah), dingin
(burudah), lembab (ruthubah) atau kering (yabusah).Tidak bisa diukur, tidak juga berpindah-

16
pindah (dzahab fi jihat), tidak bisa dibatasi..Sesuatu yang tidak seperti segala sesuatu. Dia sendiri
yang Qadim (Terdahulu), tidak ada yang Qadim selain-Nya, tidak ada Tuhan (Ilah) selain-Nya,
tidak ada sekutu (syarik) dan pembantu (wazir) dalam kekuasaan-Nya.Tidak memiliki sedikitpun
sifat lemah (ajz) dan kurang (naqsh), Maha Suci dari sentuhan wanita, beristri dan beranak.

Dari kutipan tersebut di atas, A. Hanafi M.A berkesimpulan:


a. Aliran Mutazilah mengenal pikiran-pikiran filsafat yang ada pada masanya, serta memakai
beberapa istilahnya, seperti Syakhsh, Jauhar, Aradh, Hulul, Qadim dan sebagainya.
b. Dengan perkataan Laysa Kamitslihi Syai (Tidak ada yang menyamai-Nya) mereka menolak
pikiran-pikiran golongan Mujassimah (Anthromorpis) dan membuka luas pintu takwil terhadap
ayat-ayat al-Quran yang menyifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia dengan takwil majazi.
c. Dengan Tauhid yang mutlak, aliran Mutazilah menolak konsepsi agama dualisme dan trinitas
tentang Tuhan.
d. Dengan perkataan Tidak beranak (ayah/ibu), dan tidak dilahirkan (anak), mereka menolak
kepercayaan orang Nasrani, bahwa al-Masih anak Tuhan yang dilahirkan dari Tuhan Bapa
sebelum masa dan jauharnya juga sama.
e. Dengan perkataan Tidak ada yang membantu-Nya ketika Dia menjadikan dan menciptakan
sesuatupun, tidak menciptakan sesuatu dengan cara mencontoh yang sudah pernah ada (lam
yakhluq al-khalq ala mitsal sabiq), mereka menolak teori Idea (contoh) dari Plato dan
Demiurge, juga teori Emanasi (limpahan) atau Triads yang dianggap menguasai alam semesta ini
oleh aliran Neo-Platonisme, yaitu Tuhan (Yang Pertama), Logos, dan Jiwa Dunia (Worldsouls)17
[8].
Disamping kesimpulan tersebut, penulis juga ingin menegaskan sebuah kesimpulah bahwa

pada intinya Mutazilah ingin mengatakan bahwa Allah SWT itu Qadim dan yang selain-Nya

hadits (baru), Dia Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Sempurna yang tidak ada tandingan-Nya

serta tidak pantas disamakan dengan sesuatu apapun, itu saja bagi mereka cukup untuk

menerangkan tentang Allah itu.

Oleh sebab itulah sebagian besar mereka mengatakan:

Allah Mengetahui dengan Dzat-Nya, bukan dengan Ilmu-Nya, Berkuasa dengan Dzat-Nya

bukan dengan Kuasa-Nya, dan Berkehendak dengan Dzat-Nya bukan dengan Kehendak-Nya.

Tapi ketika berbicara tentang Kalam (Firman Allah), mereka seolah-olah tidak lagi

berpegang pada kesimpulan di atas. Mereka mengatakan bahwa Kalam tidak mungkin disamakan

17
dengan sifat Ilmu dan Qudrah (Kuasa), sebab hakikat Kalam menurut Mutazilah adalah huruf-

huruf yang teratur dan bunyi-bunyi yang jelas dan pasti, baik nyata maupun ghaib .Kalam

bukanlah sesuatu yang memiliki hakikat logis, namun dia hanyalah sebuah istilah, yang tidak

mungkin ada/terwujud kecuali melalui lidah.Dan Allah SWT sebagai Mutakallim (Yang

Berfirman) menciptakan Kalam itu.

Inti kekacauan itu dapat dilihat ketika mereka berhadapan dengan firman Allah QS Al-

Nisa ayat 164:

dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung

Jadi Mutazilah mengatakan al-Quran makhluk adalah sebagai hasil nalar mereka bahwa

perkataan (kalam) bukanlah salah satu sifat Allah yang Qadim seperti ilmu dan sebagainya, tapi

kalam itu berupa kumpulan huruf yang teratur dan suara yang jelas, baik nyata atau ghaib.18[9]

Mutazilah memandang bahwa pendapat yang mengatakan Allah dapat dilihat dengan mata

telanjang di akhirat (baca: di sorga), membawa pada ide yang sangat bertentangan dengan Tauhid

yaitu tasybih, menyamakan Allah SWT dengan makhluk.

ahwa kata ( )di sana tidak berarti melihat ( )malainkan menunggu ( )dan kata (

)bukanlah huruf jar melainkan musytaq (pecahan kata) dari kata ( )(yang berarti nikmat,

sehingga maksud ayat adalah: Wajah-wajah itu menanti nikmat dari Tuhannya.

Ini sejalan dengan penjelasan mereka tentang kesempurnaan Allah SWT, yaitu: Bukan

yang memiliki batasan (dzi jihat) kanan, kiri, depan, belakang, atas maupun belakang dan tidak

dibatasi oleh tempat. Karena dengan menetapkan atau membatasi jihah bagi-Nya berarti

menetapkan atau membatasi Allah pada suatu tempat dan tubuh (jism).

18
Demikian juga halnya dengan semua ayat yang mengesankan bahwa Allah juga memiliki

anggota tubuh seperti anggota tubuh manusia. Mereka mentakwil Wajah Allah dengan Dzat

Allah itu sendiri, Tangan Allah dengan Kekuasaan, Kekuatan dan Nikmat Allah dan lain

sebagainya. Tujuannya tetap satu, yaitu Tanzih.

2. Al-Adl (Keadilan)
Secara etimologi, al-adl ( )merupakan bentuk mashdar dari adalah ( )yadilu
( )yang berarti berbuat adil, bisa digunakan dengan makna perbuatan (baca: berbuat adil),
bisa juga digunakan dengan makna pelaku (baca: orang yang adil). Konsep keadilan Tuhan ini
juga berlandaskan pada konsep mereka tentang prinsip kebebasan (hurriyah), usaha (ikhtiyar),
dan pengingkaran mereka terhadap prinsip paksaan (jabr), dengan arti kata semua ini
berlandarkan pada konsep teologis tentang Qadar.
Kelanjutan dari prinsip-prinsip di atas melahirkan beberapa ide-ide khas Mutazilah :
a. Allah menciptakan makhluk atas dasar tujuan dan hikmat kebijksanaan, ini selanjutnya
merupakan salah satu inti sari dari pendapat Mutazilah bahwa semua perbuatan Allah ada sebab
dan tujuannya (afalullah muallalah).
b. Allah tidak menghendaki keburukan dan tidak pula memerintahkannya, ini merupakan salah satu
isi konsep al-Shalih wa al-Ashlah (yang baik dan yang terbaik) dalam teologis Mutazilah.
c. Manusia mempunyai kemampuan (qudrah) untuk mewujudkan/menciptakan perbuatannya,
sebab dengan cara demikian, dapat dipahami adanya perintah-perintah Allah, janji dan ancaman-
Nya, dosa dan pahala, sorga dan neraka, ujian dan musibah yang diberikan-Nya, pengutusan
Rasul-Rasul, dan tidak ada kezaliman pada Allah.
d. Allah harus (mesti) mengerjakan yang baik dan yang terbaik. Karena itu, menjadi kewajiban
Allah untuk menciptakan manusia, memerintahkan manusia dan membangkitkannya kembali, ini
juga bagian dari konsep al-Shalih wa al-Ashlah, dan juga berkaitan dengan konsep Luthf (rahmat
Allah).
e. Sebagai salah satu bukti keadilan Allah dan kebebasan manusia dalam mewujudkan
perbuatannya, Allah SWT menciptakan akal bagi manusia, yang bisa membedakan baik dan
buruk. Imam al-Ghazali di dalam bukunya al-Mustashfa, sebagaimana dikutip oleh Zuhdi
Jarullah, menjelaskan bahwa Mutazilah membagi perbuatan kepada dua jenis: baik dan buruk,
dan mereka berpandangan bahwa manusia mampu membedakan perbuatan baik dan buruk
dengan akalnya, sebelum datangnya Syariat (wahyu).
Dr. Yahya Jaya membantah hal itu dalam bukunya Teologi Agama Islam Klasik dengan
menyatakan bahwa sifat kerasionalan Mutazilah tetap terikat kepada al-Quran dan Hadits
Mutawatir (nash qathi), dan jika tidak ada al-Quran atau Hadits yang mengikat (qathi), baru
mereka bebas brfikir dalam masalah agama.
Dengan kata lain mereka juga memerlukan wahyu, karena akal manusia terbatas untuk
mengetahui mana yang sebenarnya baik dan buruk serta bagaimana caranya beribadat kepada
Allah. Antara akal dan wahyu terdapat penyesuaian dan apa yang dibawa wahyu pasti benar
sesuai pemikiran rasional. Fungsi wahyu adalah untuk memperkuat yang telah diketahui akal.19
[10]

19
Sejalan dengan itu maka yang terjadi sebenarnya adalah Mutazilah bukannya
mendahulukan akal dari wahyu melainkan memberikan porsi yang lebih banyak kepada akal
dalam memahami teks-teks wahyu dan masalah-masalah agama.
3. Al-Wad wa al-Waid (Janji dan Ancaman)
Mutazilah meyakini bahwa janji dan ancaman Allah benar-benar ada dan terjadi,
maka janji-Nya akan memberikan pahala dan ganjaran baik kepada orang yang berbuat baik pasti
terjadi, demikian juga ancaman-Nya dalam bentuk hukuman dan siksaan bagi orang yang
melakukan kesalahan dan keburukan juga pasti terjadi.
4. Al-Manzilah baina al-Manzilatain (Tempat di Antara Dua Tempat).
Ali Mushtafa al-Gharabi memaparkan bahwa iman dalam pandangan Mutazilah
memiliki tiga rukun: qaul, marifah, dan amal. Qaul (ucapan) harus benar-benar bisa
menjelaskan apa yang ada di hati, dan tidak mungkin bisa membedakan antara mukmin dan yang
tidak mukmin kecuali dengan ucapan lisan.

5. Al-Amru bil Maruf wa al-Nahyu an al-Munkar (Menyuruh Kepada Kebaikan dan Melarang
Keburukan)
Ajaran ini dapat pula menjadi bukti bahwa Mutazilah amat menekankan pentingnya
pendidikan akhlak, sebagai bukti konsep Iman dalam pandangan Mutazilah tidak cukup hanya
dengan tashdiq (pembenaran) di hati, melainkan harus diikuti dengan amalan, dan iman
bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan melakukan maksiat.20[11]

20