Anda di halaman 1dari 3

REALISASI PENDAPATAN DAERAH

A. Perbandingan Anggaran dan Realisasi


Pendapatan Daerah
Pada Tahun Anggaran 2012 realisasi pendapatan daerah secara nasional
mengalami peningkatan Rp65,55 triliun atau sebesar 11,70% dibandingkan
anggarannya. Pelampauan pendapatan daerah pada tahun 2012 ini sedikit lebih
rendah dibandingkan pelampauan pendapatan pada tahun 2011 yang mencapai
Rp66,94 triliun. Pelampauan pendapatan daerah yang terbesar pada tahun 2012 berasal dari
komponen Lain-Lain Pendapatan Yang Sah yaitu sebesar Rp20,78 triliun atau
terealisasi sebesar 131,23% (pagu anggaran Rp66,37 triliun sedangkan realisasinya
Rp87,10 triliun), diikuti oleh pelampauan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp19,31
triliun atau terealisasi sebesar 117,13% (pagu anggaran Rp112,75 triliun sedangkan
realisasi Rp132,06 triliun), dan pelampauan Dana Perimbangan Rp25,5 triliun atau
terealisasi sebesar 106,70% (pagu anggaran Rp380,98 triliun sedangkan realisasi
Rp406,49 triliu
Sedangkan komponen PAD masih didominasi oleh pelampauan Pajak Daerah dan
Lain-Lain PAD Yang Sah. Peningkatan realisasi pajak daerah pada tahun 2012
mencapai Rp13,4 triliun. Terjadinya pelampauan pendapatan dari pajak daerah
ini menunjukkan adanya kemungkinan pemerintah daerah masih menargetkan
penerimaan pajaknya secara pesimis sehingga selalu terjadi pelampauan
penerimaan dari tahun ke tahun. Hal ini tentunya akan berpotensi pada terbentuknya
SiLPA di akhir tahun anggaran, karena pendapatan daerah tidak dapat dialokasikan
pada belanja secara optimal. Pos Lain-Lain PAD ternyata juga mengalami
peningkatan yang cukup signifikan yaitu sebesar Rp4,4 triliun, lebih tinggi dari
pendapatan Retribusi yang hanya mengalami peningkatan sebesar R p1,5 triliunn).

d. Ra sio Pajak Daerah Terhadap Total Pendapatan


Daerah
Rasio pendapatan pajak daerah terhadap total pendapatan daerah menggambarkan
perbandingan antara jumlah penerimaan pajak di daerah terhadap total pendapatan
daerah selama satu periode anggaran. Rasio ini menunjukkan bagaimana komposisi
penerimaan dari sektor pajak daerah terhadap pendapatan yang dapat dihasilkan
oleh daerah. UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah
dengan pendekatan closed list memberikan kewenangan yang luas kepada daerah
untuk memberdayakan potensi yang dimiliki dengan kebijakan diskresi penetapan
tarif pajak yang d
iSelain itu, salah satu kebijakan baru dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 adalah adanya
pengalihan kewenangan pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan Perkotaan dan
Pedesaan (PBB-P2) dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB)
dari pusat ke daerah. Dengan kebijakan yang diberikan pada UU Nomor 28 Tahun
2009 tersebut diharapkan agar daerah dapat melakukan pemungutan pajaknya
dengan lebih optimal.miliki pemerintah daerah.

REALISASI SURPLUS/DEFISIT DAN


PEMBIAYAAN DAERAH
a. Surplus/Defisit
Model penganggaran surplus/defisit dalam APBD memungkinkan realisasi
pendapatan anggaran pemerintah daerah dapat lebih tinggi atau lebih rendah
dari realisasi belanjanya. Defisit terjadi apabila belanja daerah lebih besar dari
pendapatannya, sedangkan jika pendapatan daerah lebih besar dari belanja
daerah maka kondisi ini disebut dengan surplus. Secara nasional mayoritas
daerah cenderung menganggarkan defisit dalam APBD-nya, di mana salah satu
penyebabnya adalah adanya belanja daerah yang didanai oleh pembiayaan daerah,

Perbedaan defisit/surplus dalam anggaran dengan realisasi memberikan gambaran


tingkat akurasi perencanaan daerah dalam penganggaran pendapatan dan belanja
daerah, baik di sisi pendapatan atau belanja. Semakin besar gap anggaran dan
realisasi surplus/defisit maka hal itu menggambarkan perencanaan anggaran
pendapatan dan belanja daerah yang kurang tersusun dengan baik. Grafik 4.1
menyajikan pergerakan gap antara surplus/defisit antara anggaran dengan realisasi
yang semakin besar. Tahun 2009 APBD dianggarkan defisit sebesar Rp47,96
triliun dan realisasi APBD juga terjadi defisit sebesar Rp11,46 triliun, dengan
kata lain terdapat gap atau selisih sebesar Rp36,50 trliun. Secara visual selisih
tersebut terlihat semakin besar, hingga di tahun 2012 gap tersebut mencapai

Rp69,5 triliun. Gap tahun 2012 sebagian besar berasal dari pelampauan realisasi
pendapatan yang lebih besar dari anggaran sebesar Rp65,5 triliun, yang secara
terperinci angka tersebut 29,5% berasal dari pelampuan PAD dan sebesar 67,5%
berasal dari pendapatan dana bagi hasil dan dana penyesuaian yang lebih tinggi
dari yang dianggarkan daerah serta sisanya berasal dari pendapatan lainnya.
Sehingga dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa sebenarnya penyebab utama
terjadinya selisih surplus/defisit anggaran dan realisasi berasal dari faktor eksternal
di luar kewenangan Pemerintah Daerah, karena alokasi DBH dan dana penyesuaian
dianggarkan oleh Pemerintah Pusat.
Dengan melihat indikator tersebut perlu kiranya dilakukan perbaikan dalam
hal tahapan dan proses penganggaran DBH dan dana penyesuaian agar lebih
memberi kepastian kepada pemda dalam hal informasi terkait besaran alokasi
dan waktu penyalurannya kepada daerah, sehingga proses perencanaan
penganggaran APBD dapat menjadi lebih baik dan tepat waktu. Hal ini berguna
dalam mendukung belanja daerah yang sudah relatif baik dalam hal penyerapan,
yang dapat dilihat dari semakin kecilnya persentase dana anggaran belanja daerah
yang tidak terserap. Jumlah daerah yang mempunyai realisasi surplus/defisit dapat
memberikan gambaran terkait distribusi surplus atau defisit yang terjadi, apakah
peningkatan besaran surplus dibarengi dengan peningkatan jumlah daerah yang
mempunyai realisasi APBD surplus atau tidak. Berikut disajikan pergerakan jumlah
daerah yang mengalami realisasi APBD surplus dan defisit secara terpisah antara
kabupaten/kota dan provinsi.

b. Pembiayaan Daerah
Realisasi pembiayaan daerah lebih didominasi penerimaan pembiayaan dibanding
dengan pengeluaran pembiayaan. Penerimaan pembiayaan terdiri dari beberapa
jenis, yaitu Sisa Lebih Penggunaan Anggaran tahun sebelumnya (SiLPA tahun
sebelumnya), pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan yang
dipisahkan, penerimaan pinjaman dan penerimaan kembali pemberian pinjaman.
Dari beberapa jenis penerimaan pembiayaan, maka SiLPA tahun sebelumnya
merupakan sumber penerimaan pembiayaan yang paling dominan (96,6% total
penerimaan pembiayaan), sedangkan penerimaan pembiayaan yang mempunyai
resiko/kewajiban mengembalikan yaitu penerimaan pembiayaan dalam bentuk
pinjaman hanya mempunyai kontribusi sebesar 1,1% total penerimaan pembiayaan.
Grafik 4.4 memperlihatkan rincian penerimaan pembiayaan serta perbandingan
antara anggaran dengan realisasi.

c. SiLPA
Dalam realisasi APBD terdapat dua jenis SiLPA. Pertama, SiLPA tahun sebelumnya
yang merupakan sisa penggunaan anggaran tahun sebelumnya dan merupakan
bagian dari penerimaan pembiayaan. Kedua, SiLPA tahun berkenaan yang
merupakan sisa penggunaan anggaran pada tahun berjalan dan akan menjadi
salah satu penerimaan pembiayaan di tahun berikutnya. Dalam anggaran, SiLPA
tahun sebelumnya cenderung dianggarkan lebih rendah dari realisasi di mana
perbandingan tersebut dapat dilihat dalam grafik 4.6 berikut.

Selisih anggaran dengan realisasi dapat dijadikan indikator untuk menunjukkan


tingkat akurasi pemerintah daerah dalam hal perencanaan dan realisasi APBD,
semakin kecil selisih menunjukkan pemerintah daerah dapat memperkirakan
penerimaan dengan tepat dan penyerapan belanja yang baik. Sedangkan semakin
besar selisih akan menunjukkan kondisi yang sebaliknya, yaitu dari segi penerimaan
pendanaan pemda kurang dapat memperkirakan secara tepat dan/atau dari segi
belanja penyerapannya kurang baikSiLPA tahun berkenaan hanya dapat dilihat dalam realisasi
APBD, karena pada
umumnya dalam menyusun APBD pemerintah daerah cenderung menganggarkan
berimbang antara surplus/defisit dengan pembiayaan sehingga nilainya akan nol.