Anda di halaman 1dari 19

HUBUNGAN POLA MAKAN

DENGAN KEJADIAN
OBESITAS PADA REMAJA
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah
Gizi Kesehatan Masyarakat
Dosen pengampu: Prof. Dr. dr. Oktia Woro Kasmini Handayani, M.Kes.

Oleh

1. Aris Sandi (6411414017)


2. Aryantika Devi Octavia (6411414019)
3. Siti Fatimah (6411414020)
Rombel 1

JURUSAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2016

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

DAFTAR ISI ii

1
2

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang 1

1.2 Rumusan Masalah 3

1.3 Tujuan 3

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pola Makan Remaja 4

2.2 Obesitas Pada Remaja 6

2.3 Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Obesitas Pada Remaja 11

2.4 Program Atau Kebijakan Yang Terkait Dalam Obesitas 13

BAB III PENUTUP

3.1 Simpulan 14

DAFTAR PUSTAKA
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau
tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas
lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik (Hurlock,
1992). Menurut Sri Rumini & Siti Sundari (2004: 53) masa remaja adalah
peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami
perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa
remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi
wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria, sedangkan pengertian
remaja menurut Zakiah Darajat (1990: 23) adalah : Masa peralihan diantara
masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa
pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan
psikisnya.

Peningkatan tingkat kemakmuran di Indonesia diikuti oleh perubahan


gaya hidup dan kebiasaan makan dari masyarakat baik dalam keluarga
maupun diluar rumah. Pola makan terutama di kota kota besar, bergeser dari
pola makan tradisional ke pola makan barat yang dapat menimbulkan mutu
gizi tidak seimbang seperti fast food (makanan siap saji). Pola makan tersebut
merupakan jenis-jenis makanan yang bermanfaat, akan tetapi secara potensial
mudah menyebabkan kelebihan masukan kalori jika tidak dikonsumsi secara
seimbang. Kelebihan kalori yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi,
terutama makanan yang banyak mengandung lemak, protein karbohidrat
dapat menyebabkan terjadinya kelebihan berat badan atau obesitas.

Obesitas adalah suatu penyakit serius yang dapat mengakibatkan


masalah emosional dan sosial. Seorang dikatakan obesitas bila berat
2

badannya 10% sampai dengan 20% berat badan normal, sedangkan


seseorang disebut obesitas apabila kelebihan berat badan mencapai lebih 20%
dari berat normal. Obesitas saat ini menjadi permasalahan dunia bahkan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendeklarasikan sebagai epidemic
global. Di Indonesia terutama di kota-kota besar, dengan adanya perubahan
gaya hidup yang menjurus ke westernisasi berakibat pada pola makan atau
konsumsi masyarakat yang menjurus pada pola makan tinggi kalori, tinggi
lemak dan kolesterol, terutama terhadap penawaran makanan siap saji (fast
food) yang berdampak meningkatkan obesitas. Obesitas sebagai suatu
masalah global, data yang dikumpulkan dari seluruh dunia memperlihatkan
bahwa terjadi peningkatan prevalensi obesitas pada 10 15 tahun terakhir.
Saat ini diperkirakan sebanyak lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita
obesitas dan angka ini masih akan terus meningkat dengan cepat, jika
keadaan ini terus berlanjut, pada tahun 2230 diperkirakan 100% penduduk
Amerika Serikat akan menjadi obesitas.

Prevalensi obesitas menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013


meningkat jika dibandingkan dengan Riskesdas 2010. Angka obesitas pria
pada 2010 sekitar 15 persen dan sekarang menjadi 20 persen. Pada wanita
persentasenya dari 26 persen menjadi 35 persen.

Pola makan adalah tingkah laku manusia atau sekelompok manusia


dalam memenuhi kebutuhan akan makan yang meliputi sikap, kepercayaan
dan pilihan makanan, yang terbentuk sebagai hasil dari pengaruh fisiologis,
psikologis, budaya, dan sosial. Secara umum faktor yang mempengaruhi
terbentuknya pola makan dalah faktor ekonomi, sosial budaya, agama,
pendidikan, dan lingkungan. (Haryani Sulistyoningsih, 2011). Pola makan
merupakan cara seseorang atau sekelompok orang untuk memilih makanan
dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh-pengaruh fisiologis,
psikologis, budaya dan sosial.
3

Banyak remaja dilingkungan sekitar kami yang menderita obesitas


dikarenakan pola makan yang salah. Dilingkungan sekitar kami merupakan
lingkungan banyak remaja, yang mereka tidak terlalu memikirkan pola
makannya. Dikarenakan remaja terlalu sibuk dengan kegiatannya, terlalu
tidak memperdulikan kesehatannya, mengikuti tren masa kini yang lebih
memilih makanan cepat saji, tidak pernah beraktifitas fisik, dan kurangnya
biaya untuk mendapatkan makanan yang sehat. Dari faktor-faktor diatas
dalam lingkungan remaja pola makan tidak menjadi kepentingan utama. Pola
makan menjadi tidak terkontrol dan menjadi suatu kebiasaan pada remaja
sehingga menyebabkan status gizi yang berlebihan. Maka dari itu kami
mengangkat judul makalah hubungan pola makan dengan kejadian obesitas
pada remaja.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana pola makan pada remaja?


2. Bagaimana terjadinya obesitas pada remaja?
3. Bagaimana hubungan pola makan dengan kejadian obesitas pada remaja?
4. Bagaimana program atau kebijakan yang terkait dengan kejadian obesitas
pada remaja?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pola makan pada remaja.


2. Untuk mengetahui terjadinya obesitas pada remaja.
3. Untuk mengetahui hubungan pola makan dengan kejadian obesitas pada
remaja.
4. Untuk mengetahui program atau kebijakan yang terkait dengan kejadian
obesitas pada remaja.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pola Makan Remaja


5

2.1.1 Pengertian Pola Makan


Pola makan atau pola konsumsi pangan merupakan susunan jenis
dan jumlah pangan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada
waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati. dkk, 2004 : 69). Santosa dan Ranti
(2004 : 89) mengungkapkan bahwa pola makan merupakan berbagai
informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan
makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas
untuk suatu kelompok masyarakat tertentu. Pendapat dua pakar yang
berbeda-beda dapat diartikan secara umum bahwa pola makan adalah cara
atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam
memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap
hari yang meliputi jenis makanan, jumlahmakanan dan frekuensi makan
yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup.
Pola makan adalah tingkah laku manusia atau kelompok manusia
dalam memenuhi kebutuhannya akan makan yang meliputi sikap,
kepercayaan dan pemilihan makanan. Sikap orang terhadap makanan dapat
bersifat positif dan negatif. Sikap positif atau negatif terhadap makanan
bersumber pada nilai-nilai affective yang berasal dari lingkungan (alam,
budaya, sosial dan ekonomi) dimana manusia atau kelompok manusia itu
tumbuh. Demikian jugahalnya dengan kepercayaan terhadap makanan
yang berkaitan dengan nilai-nilai cognitiveyaitu kualitas baik atau buruk,
menarik atau tidak menarik. Pemilihan adalah proses psychomotoruntuk
memilih makanan sesuai dengan sikap dan kepercayaannya (Khumaidi,
1994). Pola makan dapat didefinisikan sebagai cara seseorang atau
sekelompok orang dalam memilih makanan dan mengkonsumsi sebagai
tanggapan pengaruh psikologi, fisiologi, budaya, dan sosial (Soehardjo,
1996).
2.1.2 Pengertian Remaja

WHO memberikan definisi tentang remaja yang lebih bersifat


konseptual. Definisi tersebut dikemukakan dalam 3 kriteria, yaitu :
6

biologis, psikologis dan sosial ekonomi, sehingga secara lengkap definisi


tersebut berbunyi remaja adalah suatu masa dimana :

a) Individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-


tanda seks sekundernya sampai ia mencapai matang seksual.
b) Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi
dari anak menjadi dewasa.
c) Terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh
kepada keadaan yang relatif lebih mandiri.

WHO menetapkan batas usia 10-20 tahun sebagai batasan usia


remaja. Walaupun batasan tersebut didasarkan pada usia kesuburan
(fertilitas) wanita, batasan ini berlaku juga untuk remaja pria dan WHO
membagi kurun usia tersebut dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-14
tahun dan remaja akhir 15-20 tahun.

2.1.3 Pola Makan Remaja


Pola makan yang sering terjadi pada remaja adalah
ketidakseimbangan antar konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang
dianjurkan. Remaja biasanya porsi untuk sarapan hanya sedikit, bahkan
tidak sarapan dan lebih banyak makan pada waktu siang dan malam.
Remaja lebih mudah terbawa tren sekarang yang lebih suka dengan
makanan cepat saji yang dinilai lebih gaul dan modern.

Pola makan yang dimiliki oleh remaja diperoleh melalui proses yang
menghasilkan kebiasaan makan yang terjadi sejak dini sampai dewasa
dengan berbagai pengarahan dan bimbingan dari orang tua tentang
makanan yang harus dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan asupan
makanan. Namun pola makan yang tidak sesuai akan menyebabkan asupan
makanan yang berlebihan atau sebaliknya kekurangan.

Berdasarkan hasil penelitian Frank Gc yang dikutip oleh Moehyi


(1992), mengatakan bahwa ada hubungan antara kebiasaan makan anak
dengan ukuran tubuhnya. Makan siang dan makan malam remaja
7

menyediakan 60% dari intake kalori, sementara makanan jajanan


menyediakan kalori 25%. Anak obes ternyata akan sedikit makan pada
waktu pagi dan lebih banyak makan pada waktu siang dibandingkan
dengan anak kurus pada umur yang sama. Anak sekolah terutama pada
masa remaja tergolong pada masa pertumbuhan dan perkembangan baik
fisik maupun mental serta peka terhadap rangsangan dari luar. Konsumsi
makanan merupakan salah satu factor penting yang turut menentukan
potensi pertumbuhan dan perkembangan remaja.

2.2 Obesitas Pada Remaja


2.2.1 Pengertian Obesitas
Obesitas atau kegemukan adalah ketidakseimbangan
jumlah makanan yang masuk dibanding dengan
pengeluaran energi oleh tubuh. Obesitas juga sering
didefinisikan sebagai kondisi abnormal atau kelebihan
lemak yang serius dalam jaringan adiposa sehingga
menganggu kesehatan (Bray. 2004; dalam Oetomo,
2011:2). Obesitas merupakan gangguan metabolik
komplek yang disebabkan oleh banyak faktor termasuk
genetik dan faktor lingkungan, dimana kejadian obesitas
merupakan kombinasi dari kedua faktor tersebut (James, et
al., 2011: dalam Oetomo, 2011; 5).
Secara patofisiologi, obesitas merupakan proses
penimbunan triasilgliserol berlebihan pada jaringan adiposa
karena imbance (ketidakseimbangan antara asupan energi
dengan penggunaannya), (Bays et al, 2008; dalam Oetomo
2011; 3). Obesitas merupakan keadaan patologis sebagai
akibat dari konsumsi makanan yang jauh melebihi
kebutuhannya (psychobiological cues for eating) sehingga
terjadi penimbunan lemak yang berlebihan dari yang
diperlukan untuk fungsi tubuh (Tumbuh Kembang Remaja
dan Permasalahannya, 2004; 77).
8

Obesitas terjadi bila asupan energi melebihi


penggunaanya sebagai akibat perubahan genetik maupun
lingkungan. Proses Biokomiawi dalam tubuh menentukan
rasa kenyang dan lapar, termasuk pemilihan macam
makanan, selera dan frekuensi makan seseorang. Kondisi
dan aktifitas menyimpanan kelebihan energi dijaringan
adiposit dikomunikasikan ke sistem saraf sentral melalui
mediator leptin dan sinyal-sinyal lain (Oetomo, 2011; 5).
Kegemukan (Obesitas) sebenarnya tidak identik
dengan kelebihan berat badan, melainkan terkait dengan
komposisi tubuh di mana terjadi kelebihan lemak.
Kelebihan tubuh lemak inilah yanh berkaitan dengan
kejadian metabolic syndrome, yang merupakan resiko
gangguan kesehatan pada obesitas. Telah diketahui bahwa
obesitas terkait dengan metabolic syndrome yang
merupakan awal terjadinya penyakit degenerasi seperti
hypertensi, diabetes mellitus dyslipidemia, jantung koroner,
stroke, kanker, dan lain-lain.
Patophysiologi dasar dari obesitas merupakan
gangguan keseimbangan (imbalance) antara
asupan (intake) dengan kebutuhan energi (energy
expenditure). Asupan dipengaruhi oleh berbagai faktor
dalam tubuh yang merupakan sistem yang komplek.
Keseimbangan antara rasa lapar (hunger & appetite) dan
rasa kenyang (satiety) menentukan asupan/ intake nutrient
seseorang yang berujung pada status gizi seseorang
(obese, gizi kurang/undernourished dan normal).
Karbohidrat (KH) merupakan sumber ebergi utama, dimana
dalam keadaan normal KH merupakan sumber energi
utama, dimana dalam keadaan normal KH merupakan
sumber energi dalam sistem saraf termasuk otak.
9

Pembakaran lemak menurun bilamana tersedia cukup


glukosa bagi sumber energi sel tubuh. Kelebihan KH akan
dipergunakan untuk de novo lipogenesis. Sebaliknya
kekurangan KH akan menghambat lipolysis.
Makanan yang mengandung karbohidrat dengan
glycemic index (GI) tinggi, menyebabkan resiko terjadinya
postprandial hyperinsulinemia & hyperglicemia. Hal
tersebut beresiko meningkatnya penimbunan lemak tubuh
(fat stores) dan peningkatan penggunaan karbohidrat
sebagai sumber energi dengan risiko penggunaan dan
pembakaran lemak. (Miller, JCB; 2002). Hal tersebut
didukung oleh hasil penelitian Pawlak, D.B (2004) dimana
asupan karbohidrat dengan GI tinggi pada binatang
percobaan akan meningkatkan lemak tubuh, peningkatan
gula darah, dan lain-lain.
2.2.2 Tipe-Tipe Obesitas

Obesitas biasanya didefinisikan sebagai kelebihan


berat lebih dari 120% dari berat badan ideal (BBI) atau
berat badan yang diinginkan. Ada 3 derajat obesitas yaitu:
a) Ringan 120% - 140% BBI
b) Sedang 141% - 200% BBI
c) Berat/Abnormal >200% BBI
Tipe pada obesitas dapat dibedakan menjadi 2
klasifikasi, yaitu Tipe obesitas berdasarkan bentuk tubuh
danTipe obesitas berdasarkan keadaan sel lemak.
a) Tipe obesitas berdasarkan bentuk tubuh
Obesitas tipe buah apel (Apple Shape)
Type seperti ini biasanya terdapat pada pria. Dimana
lemak tertumpuk di sekitar perut. Resiko kesehatan
pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan tipe
buah pear (Gynoid).
Obesitas tipe buah pear (Gynoid)
10

Tipe ini cenderung dimiliki oleh wanita, lemak yang


ada disimpan di sekitar pinggul dan bokong. Resiko
terhadap penyakit padati pegynoid umumnya kecil.
Tipe Ovid (Bentuk Kotak Buah)
Ciri dari tipe ini adalah "besar di seluruh bagian
badan". Tipe Ovid umumnya terdapat pada orang-
orang yang gemuk secara genetik.
b) Tipe obesitas berdasarkan keadaan sel lemak
Obesitas Tipe Hyperplastik
Obesitas terjadi karena jumlah sel lemak yang lebih
banyak dibandingkan keadaan normal.
Obesitas Tipe Hypertropik
Obesitas terjadi karena ukuran sel lemak menjadi
lebih besar dibandingkan keadaan normal, tetapi
jumlah sel tidak bertambah banyak dari normal.
Obesitas Tipe Hyperplastik Dan Hypertropik
Obesitas terjadi karena jumlah dan ukuran sel lemak
melebihi normal Pembentukan sel lemak baru terjadi
segera setelah derajat hypertropi mencapai maksimal
dengan perantaraan suatu sinyal yang dikeluarkan
oleh sel lemak yang mengalami hypertropik.
2.2.3 Gejala-Gejala Terjadinya Obesitas
Penimbunan lemak yang berlebihan dibawah
diafragma dan di dalam dinding dada bisa menekan paru-
paru, sehingga timbul gangguan pernafasan dan sesak
nafas, meskipun penderita hanya melakukan aktivitas yang
ringan. Gangguan pernafasan bias terjadi pada saat tidur
dan menyebabkan terhentinya pernafasan untuk
sementara waktu (tidurapneu), sehingga pada siang hari
penderita sering merasa ngantuk.
Obesitas bisa menyebabkan berbagai masalah
ortopedik, termasuk nyeri punggung bawah dan
memperburuk osteoartritis (terutama di daerah pinggul,
lutut dan pergelangan kaki). Juga kadang sering ditemukan
11

kelainan kulit.Seseorang yang menderita obesitas memiliki


permukaan tubuh yang relatif lebih sempit dibandingkan
dengan berat badannya, sehingga panas tubuh tidak dapat
dibuang secara efisien dan mengeluarkan keringat yang
lebih banyak. Sering ditemukan edema (pembengkakan
akibat penimbunan sejumlah cairan) di daerah tungkai dan
pergelangan kaki.

2.2.4 Dampak yang Timbul Akibat Obesitas


Overweight dan Obesitas adalah suatu kondisi kronik
yang sangat erat hubungannya dengan peningkatan resiko
sejumlah penyakit Degeneratif. Penyakit Degeneratif
adalah suatu kondisi penyakit yang muncul akibat proses
kemunduran fungsi sel-sel tubuh yaitu dari keadaan normal
menjadi lebih buruk dan berlangsung secara kronis.
Penyakit yang termasuk dalam kelompok ini adalah
Diabetes Melitus Type II, Stroke, Hipertensi, Penyakit
Kardiovaskular, Dislipidemia, dsb. Penyakit Degeneratif
yang paling sering menyertai Obesitas adalah Diabetes
melitus Type II, Hipertensi dan Hiperkolesterolemia
(Dislipidemia). Sebuah data dari NHANES (National Health
and Nutrition Examination Survey, US) tahun 1994
memperlihatkan bahwa dua per tiga pasien Overweight
dan Obesitas dewasa mengidap paling sedikit satu dari
penyakit kronis tersebut dan sebanyak 27 % dari mereka
mengidap dua atau lebih penyakit.
Resiko Kesehatan yang berhubungan dengan Obesitas

N Hal/Tipe Masalah Simtom


O
1 Kardiovaskuler Hipertensi: Jantung Koroner, vena
varicose, sindrom pickwickian
12

2 Endokrin dan Non-DM (tergantung insulin),


reproduktif Amenore, Infertilitas, Pre-Eklampsia
3 Gastrointestinal Kolesistitis dan Kolelitiasis, Fatty
Liver
4 Psikiatri dan Sosial Diskriminasi
5 Muskuloskeletal & Osteoarthritis, iritasi, infeksi (lipatan
Dermis kulit, striae)
6 Keganasan Kanker Kolon, Rectum, Prostat,
empedu, Buah dada, Uterus,
Ovarium

2.2.5 Obesitas Pada Remaja


Masalah obesitas banyak dialami oleh beberapa
golongan masyarakat salah satunya remaja. Obesitas ini
disebabkan karena aktivitas fisik yang kurang, disamping
masukan makanan padat energi yang berlebihan. Obesitas
pada remaja meningkatkan risiko penyakit kardiovaskuler
pada saat dewasa karena kaitannya dengan sindroma
metabolik yang terdiri dari resistensi
insulin/hiperinsulinemi, intoleransi glukosa/diabetes
melitus, dislipidemia, hiperurisemia, gangguan fibrinolisis,
dan hipertensi.
Obesitaas merupakan suatu keadaan dimana
seseorang mengalami kelebihan berat badan sebagai
akibat dari penimbunan lemak tubuh yang berlebihan yang
ditandai dengan berat badan di atas rata-rata indeks
massa tubuhnya (Body Mass Index). Tubuh menjadi gemuk
karena energi yang masuk berbentuk kalori dalam
makanan lebih banyak dari pada yang dikeluarkan dalam
bentuk aktivitas.

2.3 Hubungan Pola Makan Dengan Kejadian Obesitas


Pada Remaja
13

Menurut analisa pola makan berlebihan merupakan


faktor terjadinya obesitas. Obesitas terjadi jika sesorang
mengonsumsi kalori melebihi jumlah kalori yang dibakar.
Pada hakikatnya, tubuh memerlukan asupan kalori untuk
kelangsungan hidup dan aktivitas fisik. Pola makan berlebih
juga berperan dalam peningkatan resiko terjadinya obesitas
pada remaja. Saat ini remaja lebih sering mengonsumsi
makanan cepat saji. Makanan cepat saji pada umumnya
memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, dan rendah serat.
Pola makan yang dimiliki oleh remaja diperoleh melalui
proses yang menghasilkan kebiasaan makan yang terjadi
sejak dini sampai dewasa dengan berbagai pengarahan dan
bimbingan dari orang tua tentang makanan yang harus
dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan asupan makanan.
Namun pola makan yang tidak sesuai akan menyebabkan
asupan makanan yang berlebihan atau sebaliknya
kekurangan. Asupan makanan yang kurang dari kebutuhan
akan menyebabkan tubuh menjadi kurus, sedangkan asupan
makanan yang lebih dari kebutuhan akan menyebabkan
kelebihan berat badan atau obesitas.
Orang dengan obesitas akan makan ketika ada
keinginan untuk makan, bukan pada saat ia merasa lapar. Hal
inilah yang menyebabkan mereka akan sulit keluar dari
masalah obesitas. Ditambah lagi jika orang tersebut tidak
memiliki komitmen, motivasi, dan control diri untuk
menurunkan berat badannya. Dapat disimpulkan pola makan
yang buruk dapat menimbulkan obesitas yang berdampak
bahaya bagi tubuh, dan sebaliknya pola makan yang baik
akan terhindar dari obesitas.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Nurfatimah (2013) diketahui bahwa responden dengan pola
14

makan berlebihan mengalami obesitas. Pola makan


berlebihan yang menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya
obesitas pada sebagian besar remaja adalah pola makan
yang tidak sehat dimana tidak ada keseimbangan dalam
pemenuhan menu dan gizi yang dimakannya. Hal tersebut
dapat dilihat dari banyaknya remaja yang sering makan
snack lebih dari 2 waktu dalam sehari, selalu makan
nasi/jagung/ubi/roti/mie (karbohidrat) sebagai makanan pokok
setiap hari, dan sering mengkonsumsi kue-kue jajanan serta
sering makan makanan junk food seperti hamburger,
spaghetty, kentucky (ayam goreng tepung) atau friedfries
(kentang goreng instant) dalam 1 minggu. Pola makan
tersebut merupakan jenis-jenis makanan yang bermanfaat,
akan tetapi secara potensial mudah menyebabkan kelebihan
masukan kalori. Pola makan remaja jaman sekarang yang
cenderung mengkonsumsi jenis-jenis makanan cepat saji dan
jajanan yang tidak terkontrol kadar gizinya menjadikan
mereka mudah menderita obesitas.
Pola makan merupakan faktor risiko yang paling
berpengaruh terhadap obesitas pada remaja. Kehidupan
remaja mempunyai kebiasaan mengkonsumsi makanan tinggi
karbohidrat, lemak, gula serta kebiasaan mengkonsumsi
makanan siap saji. Masalah gizi atau pola makan yang sering
terjadi pada remaja adalah ketidakseimbangan antar
konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan.
Remaja sering mengkonsumsi makanan yang mengandung
tinggi karbohidrat seperti nasi dan umbi-umbian serta lemak
yang berasal dari gorengan yang pada dasarnya merupakan
makanan yang digemari remaja pada umumnya, konsumsi
makanan siap saji juga merupakan faktor yang berpengaruh
15

pada penumpukan lemak tubuh karena jumlah kalori yang


terdapat pada makanan siap saji dalam sekali makan
melebihi angka kecukupan kalori harian.

2.4 Program Atau Kebijakan Yang Terkait Dalam Obesitas

Kebijakan Pemerintah:

Titik berat Pembangunan Nasional yang telah


dicanangkan oleh Presiden RI pada tanggal 1 Maret 1999
yaitu Pembangunan Nasional Berwawasan Kesehatan yang
artinya setiap sektor harus mempertimbangkan aspek
kesehatan dalam setiap program pembangunan. Hal ini
berarti pula kesehatan merupakan bagian integral dari
program pembangunan nasional (Propenas) yang juga telah
ditetapkan melalui Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000.

Program Lanjutan:

Pembatasan konsumsi fastfood, makanan tinggi lemak


dan garam, serta minuman bergula dikantin sekolah dan jajan
sembarangan di luar sekolah atau kampus.

Alasan:

Kelompok kami memilih kebijakan tersebut karena


menurut kami kebijakan/ program tersebut yang lebih efektif
dalam menanggulangi kasus obesitas pada remaja. Hal ini
disebabkan karena penyebab obesitas pada remaja salah
satunya diakibatkan oleh pola makan yang tidak sehat karena
terlalu banyak mengkonsumsi fast food, makanan tinggi
lemak dan garam, serta minuman bergula secara berlebih
yang biasa dibeli dikantin sekolah atau kampus.
16

Fenomena ini terjadi akibat adanya beberapa aspek yang perlu


diperhatikan, diantaranya kurangnya pengetahuan tentang obesitas akibat pola
makan yang kurang baik, tidak adanya pengawasan dalam mengkonsumsi
makanan di kantin dan juga kurangnya kesadaran menjaga menu serta pola
makannya.

Selain jajan di sekolah atau kampus, remaja biasanya tergoda dengan


ajakan teman yang suka jajan fastfood seperti hamburger, pizza, dan lain
sebagainya. Padahal sebenarnya makanan tersebutlah yang menjadi penyebab
utama terjadinya obesitas pada remaja. Sehingga hal itu perlu perhatian yang
lebih serta pengawasan yang lebih dari petugas kesehatan agar kasus obesitas
dapat tertanggulangi dengan baik.

BAB III

PENUTUP

3.1 Simpulan
Dapat disimpulkan bahwa pola makan yang tidak sesuai akan
menyebabkan asupan makanan yang berlebihan atau sebaliknya kekurangan,
Asupan makanan yang kurang dari kebutuhan akan menyebabkan tubuh
menjadi kurus, sedangkan asupan makanan yang lebih dari kebutuhan akan
menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas. Obesitas terjadi juga
karena kurangnya pengontrolan dalam pola makannya. Overweight yang
dialami mahasiswa merupakan akibat dari pola makan yang berlebih. Hal ini
bila lama terjadi dalam kurun waktu yang relatif lama dapat berakibat terjadi
penumpukan lemak dibawah kulit yang akhirnya terjadi berat badan lebih
bahkan bisa teradi obesitas.
Pola makan berlebihan yang menjadi salah satu faktor pemicu
terjadinya obesitas pada sebagian besar remaja adalah pola makan yang tidak
sehat dimana tidak ada keseimbangan dalam pemenuhan menu dan gizi yang
dimakannya. Remaja sering mengkonsumsi makanan yang mengandung
15

tinggi karbohidrat seperti nasi dan umbi-umbian serta lemak yang berasal dari
gorengan yang pada dasarnya merupakan makanan yang digemari remaja
pada umumnya, konsumsi makanan siap saji juga merupakan faktor yang
berpengaruh pada penumpukan lemak tubuh, hal ini yang berpengaruh
dengan obesitas yang terjadi pada remaja.
3.2 Saran
Dari uraian diatas, diharapkan remaja harus bisa membiasakan diri
mengatur pola makan dan hidup sehat, serta mengurangi jajan sembarangan
ketika di sekolah/kampus. Selain itu, perhatian pemerintah untuk membuat
kebijakan mengenai pola makan atau jajanan yang bersifat Fastfood di
kantin sekolah ataupun kampus obesitas juga sangat diperlukan untuk
menurunkan angka obesitas pada remaja.
16

DAFTAR PUSTAKA

Efendy, Y. H. 1992. Tinjauan Sekilas Tentang Obesitas. Jurnal Jurusan Gizi


dan Masyarakat dan Sumber Daya Masyarakat. Vol 1 (1).
Hendra, Christine, dkk. 2016. Faktor-Faktor Risiko Terhadap Obesitas pada
Remaja di Kota Bitung. Jurnal e-Biomedik. Vol 4 (1)
Siregar, Renince. 2013. Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Overweight
pada Mahasiswa di Stikes Medistra Indonesia Tahun 2013.
Yulaeni, Rizki, dkk. Hubungan antara Pola Makan dengan Kejadian Obesitas
pada Anak Usia 7-12 Tahun di SD Mardi Rahayu Ungaran Kabupaten
Semarang

Anda mungkin juga menyukai