Anda di halaman 1dari 26

TINJAUAN PUSTAKA KASUS

BAB I
PENDAHULUAN

Fingertip injury (FTI) adalah cedera pada jari yang terletak pada area sebelah distal
dari insersi tendon flexor dan ekstensor, merupakan kasus yang tersering terjadi pada cedera
tangan. Fingertip merupakan suatu organ peraba yang sangat penting sebagai salah satu
fungsi tangan. Dalam penanganan FTI, tidak ada satupun teknik yang tepat untuk semua
kasus, masing-masing teknik memiliki indikasi yang spesifik pada tipe cedera tertentu.

Mengingat pentingnya fingertip yang mempunyai permukaan untuk sensasi raba


maka FTI dapat menyebabkan hilangnya beberapa kemampuan dari ujung jari. Pulp pada
ujung jari biasanya diselubungi oleh tough, kulit dengan persarafan yang banyak, menempel
pada phalanx melalui septa fibrous. Bagian dorsum fingertip dibentuk oleh kuku dan
bantalan kuku.

Tujuan penanganan FTI adalah untuk mengembalikan sensasi yang adekuat, nyeri
yang minimal, pergerakan sendi yang maksimal dan kosmetik yang baik. Dalam mencapai
tujuan tersebut, perlu diperhatikan juga usaha untuk mempertahankan ukuran dari ujung jari.1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi kuku & ujung jari

Memahami anatomi jari membantu dalam perawatan optimal pada cedera. Kuku adalah
fitur yang paling menonjol dari jari. Hal ini memenuhi baik dalam peran estetika dan peran
fungsional, yang memungkinkan peningkatan persepsi sensorik jari.2

I. Kuku

Keadaan kuku seperti halnya keadaan kulit, dapat menentukan kesehatan umum dari
badan. Kuku yang sehat normal adalah kuat, kenyal, dan memperlihatkan warna kemerah-
merahan, dan permukaan licin, melengkung dan bersih tanpa terdapat lubang atau ombak di
bagian tepinya. Kuku sebagai tambahan dari kulit, merupakan lempeng tanduk yang bertugas
melindungi ujung-ujung jari tangan dan kaki. Kuku terbentuk dari keratin yang mengandung
asam amino. Unsur-unsur kimia pada kuku terdiri atas.2

1. Carbon 51%
2. Hidrogen 6%
3. Nitrogen 17%
4. Oxyangen 21%
5. Sulfur 5%

Kuku adalah bagian terminal lapisan tanduk yang menebal. Bagian kuku terdiri dari:

Matriks kuku : merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru

Dinding kuku (nail wall): merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi bagian pinggir
dan atas
Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku

Alur kuku (nail grove): merupakan celah antar dinding dan dasar kuku

Akar kuku (nail root): merupakan bagian proksimal kuku

Lempeng kuku (nail plate): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingidinding kuku

Lunula: merupakan bagian lempeng kuku yang berwarna putih didekat akar kuku
berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit

Eponikium (kutikula): merupakan dinding kuku bagian proksimal, kulit arinya menutupi
bagian permukaan lempeng kuku

Hiponikium: merupakan dasar kuku, kulit ari dibawah kuku yang bebas (freeedge)
menebal

Lempeng kuku (LK) berbentuk empat persegi panjang, keras, cembung ke arah lateral
dan dorsal, transparan, terletak di dorsal falang distal. Sebagian besar kuku terlihat
berwarna merah muda disebabkan transmisi warna pembuluh darah dasar kuku. Lempeng
kuku bertindak sebagai perisai pelindung, melindungi jaringan halus dari bed nail
mendasarinya.

Lempeng kuku terbuat dari bahan tanduk yang tidak mengalami deskuamasi tetapi
tumbuh ke arah distal untuk waktu yang tidak terbatas. Kecepatan tumbuh kuku jari tangan
0,1 mm/hari, sedangkan kuku jari kaki 1/31/2 kecepatan kuku jari tangan. Pertumbuhan
keseluruhan kuku dalam waktu satu bulan adalah sekitar 3mm. Tebal kuku jari tangan
bervariasi 0,5mm- 0,75 mm, sedang tebal kuku jari kaki dapat mencapai 1,0 mm. Pada
orang tua kuku tumbuh lebih lambat dan lebih tebal. Dikatakan bahwa trauma kecil dapat
merangsang pertumbuhan, sedangkan imobilisasi dapat memperlambat pertumbuhan kuku.
Lempeng kuku dibentuk oleh pendataran sel basal matriks, fragmentasi inti dan kondensasi
sitoplasma untuk membentuk sel tanduk datar yang saling melekat satu sama lain.
Matriks sebenarnya adalah akar kuku. Matriks menghasilkan sel keratin yang
membentuk lempeng kuku. sel keratin yang di produksi jika semakin banyak maka akan
mendorong yang lebih tua ke arah luar dan diratakan, dan menjadi bagian dari lempeng
kuku. Selain memproduksi sel-sel keratin yang membentuk lempeng kuku, matriks juga
menentukan bentuk dan ketebalan kuku. Panjang keseluruhan dari matriks akan
menentukan ketebalan kuku, maka semakin lama matriks tebal kuku.

Pada embrio usia 20 minggu sel-sel matriks mengalami pembelahan, diferensiasi dan
keratinisasi. Pada saat ini lempeng kuku mulai terbentuk dan bergerak ke arah distal. Pada
embrio usia 36 minggu, lempeng kuku terbentuk sempurna dan mencapai ujung jari.2,3

Lempeng kuku terdiri dari 3 lapis horisontal yang masing- masing adalah :

Lapisan dorsal tipis yang dibentuk oleh matriks bagian proksimal (1/3 bagian).

Lapisan intermediate yang dibentuk oleh matriks bagian distal. Lapisan ini lebih tebal
dari lapisan dorsal (2/3 bagian).

Lapisan ventral yang dibentuk oleh lapisan tanduk dasar kuku dan hiponikium yang
mengandung keratin lunak.

Lapisan dorsal mempunyai sel yang lebih kecil dan lebih datar dari pada sel lapisan
intermediate (inferior). Membran sel lapisan dorsal (superior) berlekuk-lekuk,
sedangkan pada lapisan inferior mempunyai membran sel yang beralur.

Pala saat sel matriks berdiferensiasi dan kemudian menuju lempeng kuku banyak sel yang
masih mempunyai inti. Sel-sel ini paling banyak ditemukan di lempeng kuku proksimal dan
kemudian menghilang di bagian distal. Hal ini menunjukkan bahwa proses maturasi temp
berkembang di lempeng kuku.

Lunula atau bulan sabit terletak di proksimal lempeng kuku . Lunula merupakan ujung
akhir matriks kuku. Warna putih lunula disebabkan epitel yang lebih tebal dari epitel dasar kuku
dan kurang melekatnya epitel di bawahnya sehingga transmisi warna pembuluh darah kurang
dipancarkan. Lunula biasanya lebih menonjol pada ibu jari. Bentuk lunula menentukan bentuk
tepi bebas / tepi distal. Lempeng kuku tumbuh dan melekat sepanjang dasar kuku ke arah distal.

Bagian ujung distal lempeng kuku tidak melekat pada jaringan di bawahnya; daerah di
bawah lempeng kuku bebas ini disebut hiponikium. Alur kuku dan lipat kuku merupakan batas
dan pelindung kuku. Lipat kuku proksimal merupakan perluasan epidermis dorsum kuku yang
melindungi matriks kuku. Produk akhirnya adalah kutikel.2,3

Pada matriks kuku didapatkan sel melanosit. Pada bagian distal matriks ditemukan
melanosit yang lebih banyak dibanding pada bagian proksimal. Lempeng kuku mengandung
sejumlah fosfolipid terutama di lapisan intermediate dan dorsal, hal ini menambah kelenturan
kuku. Kuku mengandung kalsium 10 kali lebih besar dari rambut, tetapi kadar ini tidak bermakna
menambah kerasnya kuku. Kekerasan kuku dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu perlekatan
dan orientasi protein keratin, rendahnya kandungan air pada lempeng kuku, kadar sulfur protein
matriks, hubungan interselular. Dengan penetapan secara kolorimetri didapatkan konsentrasi
asam amino yang paling tinggi adalah sistein, asam glutamat, arginin dan leusin.

Sirkulasi darah ke kuku berasal dari arteri digitalis yang berjalan di lateral jari dan
mengeluarkan cabang dorsal dan ventral sebelum dan sewaktu mencapai pulpa falang terminal.
Pada permukaan lempeng kuku alur longitudinal yang berjalan sejajar tampak lebih nyata pada
orang tua.

Dasar kuku merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku, yaitu dari batas lunula sampai ke
hiponichium. Sebagian sel epidermis dasar kuku menyatu dengan lempeng kuku, yaitu bagian
ventral lempeng kuku. Pada dasar kuku yang matur tidak terdapat granula keratohialin, tetapi
pada beberapa keadaan patologis dasar kuku menunjukkan lapisan granular, dan terdapat
produksi stratum korneum yang sama dengan epidermis normal. Produksi sel-sel tanduk dalam
keadaan seperti ini dapat mendorong lempeng kuku ke atas.

Lipat kuku proksimal dan lateral merupakan batas dan pelindung struktur dan menolong
arah pertumbuhan kuku. Lipat kuku proksimal merupakan perluasan dari epidermis pada dorsum
kuku yang melindungi matriks dan kutikula adalah produk keratinnya. Struktur ini sangat
panting, karena penyakit kuku yang terbanyak, paronikia kronik, terutama mengenai daerah ini.
Lipat kuku terdiri dari dua lapis epidermis yaitu bagian dorsal, yang membentuk dorsal
epidermis jari dan bagian ventral yang menutupi lempeng kuku yang baru dibentuk. Proses
keratinisasi tidak berbeda dengan epidermis di tempat lain. Lapisan tanduk bagian ventral
menjadi melekat dengan permukaan lempeng kuku yang baru dibentuk dan bergerak ke distal
untuk jarak pendek. Lapisan tanduk ini disebut kutikula. Penyakit yang mengenai lipat kuku
proksimal mempengaruhi lempeng kuku yang baru dibentuk.

Struktur subkutan dermis pada apendiks kuku dibatasi oleh falang di bawahnya, dan tidak
terdapat jaringan subkutis. Dermis dan epidermis dasar kuku bersatu dengan gambaran tongue in
groove. Daerah dermis ini mengandung banyak kapiler yang memberi wama pink, serta badan
glomus.2,3

Darah dialirkan dari arteri digitalis yang mempunyai banyak cabang dorsal, ventral dan
cabang untuk lipat kuku proksimal. Bagian distal membentuk ranting-ranting proksimal dan
distal yang memberi makan pulpa, dasar kuku dan hiponikium. Jalannya saraf sesuai dengan
pembuluh darah.

Eponychium adalah jaringan lunak pada permukaan dorsal superior kuku, membentang
dari kulit jari dorsal. Paronychium adalah lipatan pada setiap aspek kurva lateral kuku ke ujung
jari . Hyponychium adalah sumbatan dari bahan keratinous yang terletak di bawah tepi distal dari
kuku (yaitu dimana kuku memenuhi kulit). Lipatan kuku terdiri dari lantai dorsal dan ventral.
Lipatan punggung kuku bertanggung jawab dalam bersinarnya kuku. Kuku terdiri matriks steril
dan germinal. Matriks germinal bertanggung jawab atas 90 % dari pertumbuhan kuku, dan
matriks steril di mana kuku melekat pada dasar kuku. Busur putih
pada kuku disebut lunula, dan itu membatasi matriks steril dari matriks germinal di bawahnya.
Kuku itu sendiri terdiri dari onchyn, yang merupakan bahan keratinous yang diproduksi oleh
kematian sel-sel germinal karena mereka ditekan ke atas.

Anatomi Ujung Jari

Pulpa terdiri dari beberapa trabekulasi berserat timbul dari periosteum ke epidermis yang
membagi pulp menjadi bagian-bagian dari septum kompartemen terpisah yang mengandung
lemak. Inti dari ujung jari berisi tulang phalang distal. Hal ini dekat dengan kuku. Ekstensor
tendon menempel ke dasar distal phalanx , dan terletak sekitar 2 mm dari ujung proksimal
matriks germinal. Fleksor digitorum profunda tendon menempel pada aspek volar falang distal.2,3

Masing-masing dua saraf digital memecah hanya pada bagian proksimal ke dasar lipatan
kuku, memberikan satu cabang ke pulpa dan cabang lain ke dasar kuku. Ada beberapa variasi
pasokan saraf di ujung jari. Dalam ujung jari tangan merupakan struktur unik yang disebut badan
glomus. Mereka adalah bola terjalin saraf halus dan pembuluh yang mengatur aliran darah ke
ujung jari. Setiap arteri digital menyelam ke pulp di tingkat falang distal , dan memberikan off
cabang paralel untuk paronychium tersebut . Hal ini kemudian menjadi bagian-bagian kecil,
cabang halus masuk ke kuku sebagai pembuluh darah melintasi distal . Vena kecil ujung jari
tidak mengikuti arteri tetapi kemajuan proksimal secara acak.2,3

B. Jenis-jenis Cedera Umum

Cedera kuku dan dasar kuku


Cedera umum meliputi luka hancur ujung jari dengan (hematoma subungual, laserasi kuku,
amputasi ujung jari sebagian atau lengkap, amputasi pulp dan fraktur phalang distal), mallet
finger, avulsi fleksor digitorum profunda (FDP), dan dislokasi sendi interphalangeal.4

a. Subungual hematoma (Pendarahan bawah kuku)


1. Definisi Subungual hematoma
Sebuah hematoma subungual adalah kumpulan darah (hematoma) di bawah sebuah
kuku. Walaupun hal ini bukan sesuatu penyakit yang serius, tapi kadang kala pasien
mengalami rasa yang sangat sakit. Tempat yang terdapat subungual hematoma berwarna ke
unguan. Apabila subungual hematoma tidak ditanggulangi dapat menyebabkan kuku
terkelupas.

Gambar 2. Subungual Hematoma

2. Ciri Khas Subungual hematoma


Darah di bawah kuku baik jari atau kaki adalah hematoma subungual.
Memiliki perubahan warna merah, merah, atau warna gelap di bawah kuku setelah
cedera.
Yang paling umum gejala adalah rasa sakit.
Tekanan yang dihasilkan antara kuku dan nailbed, di mana darah mengumpulkan,
menyebabkan rasa sakit ini.
Rasa sakit juga dapat disebabkan oleh cedera lain seperti fraktur ke tulang yang
mendasari, atau memar pada jari atau jari kaki sendiri.

3. Etiologi Subungual hematoma


Cedera trauma
Infeksi bagian bawah kuku

4. Patofisiologi Subungual hematoma


Trauma pada kuku perdarahan darah tidak keluar dari kuku, menumpuk di bawah
kuku warna kuku menjadi ungu dan nyeri

5. Diagnosis Subungual haematoma

Semakin parah cedera semakin besar kemungkinan pasien akan mengalami luka
yang lebih kompleks untuk jari. Dalam hal ini, fraktur falang harus dipertimbangkan. X -
ray dilakukan setelah proses pemeriksaan fisik jari tangan dan kaki hematoma subungual
yang merupakan hasil dari cedera.4

6. Pengobatan
Hematoma subungual yang tidak terkomplikasi. Pengobatan untuk ukuran
minimal, tanpa rasa sakit hematoma subungual biasanya observasi saja. Dalam banyak
kasus hematoma kecil akan hilang dengan sendirinya tanpa intervensi . Namun, jika
akumulasi darah di bawah kuku yang menyebabkan sakit parah itu harus dievakuasi .
Dekompresi dari hematoma subungual (menghilangkan rasa sakit) dapat dilakukan dalam
berbagai metode. Metode ini termasuk baik penggunaan panas untuk mencairkan lubang
(dipanaskan penjepit kertas atau perangkat listrik) atau alat tajam untuk mengebor lubang
(pisau bedah nomor 11 atau jarum gauge 18) di kuku untuk tujuan memungkinkan darah
untuk mengalir . Dalam kasus hematoma menempati seluruh kuku (nail bed) dan
meregangkan kuku (plate), dengan anestesi yang tepat , pisau bedah dapat digunakan
untuk menoreh kulit hyponychium tersebut.4

b. Crush-injury/Nail Bed Laserasi / Tuft fraktur


Mekanisme cedera untuk kuku laserasi cukup tinggi , misalnya , cedera dengan
mesin press atau kecepatan tinggi misalnya , cedera dengan gergaji rotary. Radiografi
yang dianjurkan karena patah tulang bagian distal sering menyertai kuku luka.

1. Diagnosis
Evaluasi X - ray mengungkapkan fraktur Seikat ( fraktur falang distal ) dan di
hematoma subungeal juga akan menunjukkan terdapat fraktur terbuka . Ada juga korelasi
yang kuat dengan kuku laserasi terkait dengan fraktur.

2. Penatalaksanaan
Jika hal ini terjadi maka, lempeng kuku harus dihapus dan laserasi kulit yang
mendasari diperbaiki. Kuku harus disimpan dan longgar dijahit di atas kuku - tempat
laserasi untuk melindungi kulit penyembuhan. Pasien harus dimulai pada cakupan
antibiotik oral selama 7-10 hari. Menindak lanjuti dalam waktu 3-5 hari untuk fraktur
terbuka dianjurkan. Manajemen nyeri pasca - prosedural berikut trephination,
penghapusan kuku - piring dan atau perbaikan laserasi dapat melibatkan kombinasi
OAINS, Cryotherapy dan analgetik narkotik. Pertumbuhan kuku baru dapat terjadi pada
6-8 minggu dan biasanya menghasilkan kuku tampak normal. Namun, selalu ada
kemungkinan bahwa baru kuku - plate akan memiliki beberapa kelainan seperti itu
bertumbuh kembali.4,5

c. Laserasisasi
Laserasi sederhana melalui matriks steril dapat dijahit dalam pengaturan rawat jalan
dengan 6 / 0 benang diserap. Benang yang tidak bisa diserap dihindari. Torniket digital
yang diterapkan setelah blok digital yang diberikan akan membantu meringankan
perbaikan dengan membuat perdarahan berkurang.

Laserasi yang melalui lipatan kuku , matriks germinal atau atap dorsal juga harus
diperbaiki secara akurat. Pemotongan kembali di dua sudut lipatan kuku proksimal dapat
memungkinkan seseorang untuk memvisualisasikan matriks dan dorsal atap germinal
untuk tujuan ini. Lapisan kuku dihapus biasanya dijahit kembali untuk tindakan sebagai
bidai, menjaga atap dorsal dan germinal matriks menyatu satu sama lain. Tiruan kuku,
atau foil perak dari paket jahitan dipotong menjadi bentuk yang digunakan sebagai bidai
ketika kuku pasien sendiri yang hilang, terlalu rusak atau terlalu kotor untuk digunakan.
Bidai untuk mencegah atap dorsal dari kuku melekat sebelum kuku baru tumbuh. Balutan
non-adherent digunakan untuk melindungi perbaikan. Risiko kelainan kuku permanen
lebih tinggi jika matriks germinal yang terlibat dalam cedera.

Dalam kasus dengan kehilangan kuku sebagian atau lengkap, rekonstruksi kuku dan dasar
kuku mungkin dibutuhkan. Anak-anak dengan cedera dasar kuku harus dirujuk karena
mereka biasanya membutuhkan anestesi umum untuk setiap perbaikan atau debridement
yang akan dilakukan , karena tidak dikerjakan dengan pengobatan di bawah anestesi
lokal.6,7

Gambar 2. Laserasi

d. Amputasi Ujung Jari


Dalam penatalaksanaan FTI, pemeriksaan dan klasifikasi FTI merupakan langkah utama
yang terpenting untuk menentukan rencana tindakan bedah. Terdapat 3 hal utama yang
harus diperhatikan, yaitu :8,9

1. Nail Bed Injury,

2. Bone exposure

3. Angle of Injury
Gambar 3. Angle of injury

Oleh Allen (1980), klasifikasi amputasi pada ujung jari dibagi mejadi 4 tipe :
Tipe 1: Distal dari ujung kuku
Tipe 2: Distal dari ujung phalanx distal (meliputi nail bed)

Tipe 3: Distal dari Mid-phalanx distal

Tipe 4: Distal dari sendi DIP (seluruh phalanx distal)

Gambar 4. Klasifikasi Allen

PENATALAKSANAAN

PRIMARY REPAIR

Diindikasikan pada cedera yang tidak disertai hilangnya kulit. Bila disertai Nail Bed
Injury, dilakukan re-aproksimasi menggunakan catgut 7-0 dan membuang nail plate yang
terlepas. Fiksasi fraktur yang spesifik tidak dibutuhkan bila terdapat fraktur phalanx distal, yang
tidak menyertakan permukaan sendi dengan jaringan lunak yang utuh. Kulit dijahit dengan non-
absorbable 6-0.

SECONDARY INTENTION (Perawatan terbuka)

Metode ini diterapkan berdasarkan proses epitelisasi dan kontraksi luka hingga
memungkinkan penutupan luka. Pilihan ini baik digunakan pada defek luka yg kecil (6-8 mm)
tanpa bone exposure. Penutupan defek biasanya terjadi dengan jaringan parut dan menghasilkan
ujung jari yang keras. Sehingga dalam pemilihan metode ini , perlu dipertimbangkan riwayat
pekerjaan pasien. Teknik ini perlu dihindari pada orang-orang dengan pekerjaan yang sering
menggunakan ujung jari (pengguna komputer, pemain piano).

Dalam kondisi ideal, penutupan defek yang stabil biasanaya terjadi dalam 2-4 minggu.
Pada 40 % kasus dengan metode ini, terjadi intoleransi dingin.

SKIN GRAFT

Pada FTI dengan defek kulit yang cukup luas, diindikasikan teknik Skin Graft. Walaupun
secara umum keberhasilan STSG lebih tinggi dibandingkan FTSG, pada kasus FTI, FTSG lebih
disukai karena lebih baik secara kosmetik, sensibilitas dan durabilitas. Lokasi donor dapat
diambil dari berbagai tempat, namun donor lokal atau regional lebih baik dalam mencegah
hiperpigmentasi. Dalam hal ini, donor dari palmar crease, karena dapat dipreparasi secara
bersamaan dan dapat menghasilkan donor hingga 2x6 cm. Sebagian ahli juga menyarankan
pengambilan donor dari area hipothenar, namun menutupan area donor sering meninggalkan skar
yang kurang baik secara kosmetik ataupun tension yang berlebih saat aproksimasi.5,6,7

LOCAL FLAP

Untuk kehilangan ujung jari yang cukup luas, seringkali flap diindikasikan.
Dibandingkan dengan skin graft, flap memiliki keuntungan antara lain, dapat digunakan pada
defek dengan bone exposure, dan memiliki sensibilitas dan durabilitas yang lebih baik. Pilihan
flap lokal pada FTI yaitu :
V-Y advancement flap

Dipopulerkan oleh Atasoy, flap tipe ini sangat berguna pada kasus FTI dengan oblique
dorsal. Teknik ini sulit diterapkan pada angulasi transversal, dan dikontraindikasikan pada
oblique palmar. Keuntungan V-Y flap yaitu dapat diterapkan pada semua umur, warna yang
sesuai dengan jaringan sekitarnya, sensibilitas yang baik dan tidak membutuhkan
imobilisasi..

Desain flap sangat menetukan dalam menghasilkan flap yang baik. Apex insisi V dibuat
pada skin crease midpalmar DIP joint. Ujung insisi V harus selebar tepi luka. Setelah insisi,
sangat penting untuk membuka septum fibrosus, sambil melakukan traksi pada flap yang
dilepaskan. Undermining yang berlebihan harus dihindari, Karena pedikel flap ini hanya
mengandalkan jaringan subkutan.6,7,8

Gambar 5. V-Y advancement flap

Bilateral V-Y Kutler Flap

Memiliki konsep yang sama dengan Atasoy V-Y Flap, namun memiliki 2 buah flap yang
diambil dari arah lateral, sehingga cocok diaplikasikan pada FTI dengan potongan
transversal. Memiliki kekurangan dalam luas flap dan banyaknya skar yang terjadi.
Penelitian Freiberg dan Manktelow mengatakan bahwa pasien yang dilakukan Bilateral V-Y
Kutler flap merasakan adanya hipersensitivitas (30%), dan baal (30%).6,7,8

Gambar 6. Bilateral Kutler V-Y flap

Palmar advancement Flap (Moberg)

Dipublikasikan oleh moberg 1964, palmar advanvement flap membutuhkan mobilisasi


jaringan lunak subkutan yang ekstensif melalui insisi midaxial.

Meskipun palmar advancement Flap sangat berguna dalam menutup defek FTI hingga 1 cm,
menghasilkan flap yang stabil dan innervasi yang baik, namun komplikasi kontraktur sendi
sering terjadi akibat imobilisasi setelah tindakan. Sebagian besar penulis menyarankan
teknik ini hanya digunakan pada FTI ibu jari, karena jaringan lunak pada ibu jari memiliki
mobilitas lebih baik dibanding jari yang lain.

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adanya nekrosis dorsal. Hal ini bila neurovascular
bundle dorsal ikut terpotong saat insisi midaxial.6,7,8
Gambar 7. Plamar advancement flap (Moberg)

REGIONAL FLAP

Thenar Flap

Digunakan terutama pada FTI jari ke 2, 3 dan 5.dengan potongan oblique palmar dan
transverse. Dapat memberikan donor hingga seluas 2x4 cm. Fleksi kontraktur dapat terjadi,
akibat imobilisasi jari resipien dalam posisi fleksi selama 6-8 minggu. Teknik ini
dikontraindikasikan pada pasien diatas usia 50 tahun, atau pasien dengan kecenderungan
stiffness pada sendi-sendi kecil. Pemilihan teknik ini didasarkan untuk mempertahankan
fungsi okupasi dan alasan kosmetik.

Arah flap dapat dibuat dari proksimal, distal, dan lateral. Flap dijahit setinggi mungkin dari
eminensia thenar. Hal yang perlu diperhatikan pada flap ini, yaitu saraf digitalis pada ibu jari
harus dapat diidentifikasi untuk mencegah cedera. Untuk meminimalisasi fleksi kontraktur,
maka saat imobilisasi ibu jari diposisikan pada abduksi palmar, sendi MCP & DIP
diposisikan fleksi maksimal, sehingga PIP berada dalam posisi fleksi yang seminimal
mungkin.

Lokasi donor dapat ditutup secara primer ataupun dengan Skin graft. Pada hari 10-14, flap
dapat dipisahkan dari donornya dan mobilisasi aktif dapat segera dimulai. Pada jangka
panjang, fungsi sensorik pada flap ini lebih baik dibandingkan dengan skin graft.6,7,8
Gambar 8. Thenar flap

Cross-Finger Flap

Diindikasikan pada FTI dengan defek di darah palmar, dan tidak dianjurkan pada pasien
dengan dengan penyakit Buerger, Raynaud, ataupun penyakit vaskular lainnya. Juga
dikontraindikasikan pada pasien dengan kecenderungan joint stiffness. Flap memiliki
ketahanan dan sensibililitas yang baik, bebas nyeri, namun sebagian besar kasus memiliki
komplikasi intoleransi dingin.

Vaskularisasi flap yang diambil berasal dari neurovascular bundle palmar dan cabang
dorsalnya. Flap dielevasikan pada bidang diatas paratenon ekstensor setinggi phalanx media
atau proksimal, Lalu dapat diimobilisasi baik dengan plaster splint ataupun fiksasi eksterna
berukuran kecil. Pada hari 10-14, flap dipisahkan dari donornya, dan mobilisasi aktif dimulai
sesegera mungkin.6,7,8
Gambar 9. Cross finger flap

Kite Flap

Dikembangkan oleh Holevitch dan Foucher, pedikel yang digunakan berasal dari arteri MC I
bagian dorsal. Defek pada donor ditutup dengan FTSG.

AMPUTATION REVISION

Dilakukan pada defek matrix yang cukup luas, juga pada usia lanjut atau dengan penyakit
sistemik yang tidak memungkinkan dilakukan tindakan flap. Sisa dari matriks kuku diablasi, bila
insersi tendon fleksor atau ekstensor tidak dapat dipertahankan, maka dapat dilakukan
disartikulasi.

e. Fraktur phalangeal Distal


Tidak ada fiksasi biasanya diperlukan untuk fraktur. Pasien harus diberikan analgesia
dan belat pelindung selama beberapa minggu sampai resolve nyeri. Mereka juga haru
menasihati bahwa nyeri pulpa pada tekanan dapat bertahan sampai untuk dua sampai tiga
bulan sebagai tulang penyembuhan. Fraktur terbuka dengan pulp atau kuku yang signifikan,
fraktur tidak stabil, dan patah tulang pada anak-anak harus dirujuk ke ahli bedah untuk
tindakan selanjutnya.

f. Cedera Mallet
1. Definisi Mallet Finger
Baseball finger (Mallet finger) merupakan fraktur dari basis falang distal pada
insersio dari tendon ekstensor. Ujung jari yang dalam keadaan ekstensi tiba-tiba fleksi pasif
pada sendi interfalang distal karena trauma, sehingga terjadi avulsi fragmen tulang basis
falang distal padainsersi tendon ekstensor jari. Mallet finger adalah cedera pada ujung jari
yang disebabkan oleh mekanisme ekstensor dari sendi jari dibawah phalanx distal atau bisa
dihubungkan langsung dengan suatu fraktur sehingga jari tidak bisa diluruskan. Sendi yang
terkena adalah Distal Interphalanx joint (DIP). Umumnya cedera atletik, Mallet Finger
terjadi ketika sendi terluar dari jari terluka. Pemain basket dan baseball secara rutin
mengalami jammed finger, tapi cedera dapat terjadi karena crush accident pada pekerjaan
atau bahkan karena jari terpotong saat bekerja di dapur.7,8
2. Epidemiologi
Kebanyakan mallet finger terjadi pada orang yang melakukan aktivitas atletik seperti
pemain basket, baseball, atau pemain voli. Mallet finger umumnya banyak terjadi pada pria
usia 29 tahun dibandingkan dengan wanita. Mallet finger kebanyak terjadi pada jari ke-2
ulnar, berbagai cedera yang berbeda dapat terjadi di interphalang . Cedera yang paling
sering terjadi adalah sprain (keseleo) pada sendi interphalang proksimal

3. Etiologi
Secara umum, atletik cedera di mana pemain basket dan baseball pengalaman secara
rutin macet jari, tetapi cedera dapat terjadi karena kecelakaan yang berhubungan dengan
pekerjaan, atau bahkan jari terluka saat bekerja di dapur. Namun, mallet finger bisa
disebabkan oleh:1,8

Cedera yang disebabkan oleh rupture tendon DIP sehingga ujung jari tidak bisa
digerakkan
Tekanan kecil pada ujung jari tempat tendon melekat. Sehingga menyebabkan tendon
tidak bisa meluruskan ujung jari
Fraktur distal interphalang

Gambar 10. Trauma pada Mallet fnger


4. Klasifikasi Mallet Finger
Menurut Niechavej , klasifikasi Mallet Finger berdasarkan patomekanismenya dibagi
menjadi 5, yaitu:6,7,8
Tipe A: Mallet finger yang disebabkan oleh rupture tendon

Gambar 11.1. Mallet Finger Tipe A

Tipe B: mallet finger yang disebabkan oleh fraktur kecil dibawah dari distal phalang

Gambar 11.2. Mallet Finger Tipe B

Tipe C: Mallet Finger yang disebabkan oleh fraktur avulse tanpa disertai dislokasi yang
disebabkan oleh fragmen fraktur
Gambar 11.3. Mallet Finger Tipe C

Tipe D: Mallet Finger yang disebabkan oleh fraktur dengan disertai dislokasi

Gambar 11.4. Mallet Finger Tipe D

Tipe E : Mallet Finger yang disebabkan oleh fraktur dengan disertai dislokasi dan
subluksasi di distal phalang

Gambar 11.5. Mallet Finger Tipe E

5. Manifestasi Klinis Mallet Finger6,7,8


Manifestasi klinik yang dijumpai pada pasien dengan Mallet Finger antara lain:
Pasien tidak dapat melakukan gerakan ekstensi penuh pada ujung distal falang.
Ujung distal falang selalu dalam posisi fleksi pada sendi interfalang distal terdapat
hematoma pada dorsum sendi tersebut.
Pasien juga bisa merasa adanya nyeri di sendi jari yang terkena dan terdapat
kemerahan disekitar ujung distal phalang.
Cedera Mallet finger dapat menimbulkan beberapa kondisi dibawah ini :
Kerurasakan tendon tanpa fraktur
Rupture tendon dengan fraktur kecil akibat kekuatan cedera
Rupture tendon dengan fraktur besar
Mallet Finger biasanya lebih sering tertutup dibandingkan terbuka.

Mekanisme cedera tertutup biasanya tiba-tiba, terjadi flexi yang kuat dari sendi DIP pada
jari yang ekstensi. Hal ini menyebabkan rupture tendon ekstensor atau avulse tendon sering
dengan fragmen tulang dari tempat insersinya pada phalang distal. Terdapat 4 tipe cedera dari
Mallet Finger , yaitu :

Tipe I : cedera tertutup dengan hilangnya kontinuitas tendon dengan atau tanpa fraktur avulse
Tipe II : laserasi pada atau proksimal ke sendi DIP dengan hilangnya kontinuitas tendon
Tipe III : Abrasi dalam dengan hilangnya kulit subkutaneus dan inti tendon
Tipe IV :
a. Fraktur bidang trans epifisis pada anak
b. Cedera hiperekstensi dengan fraktur permukaan artikular
c. Cedera hiperekstensi dengan fraktur permukaan artikular biasanya >50% dengan
subluksasi volar phalang distal yang terlalu dini atau terlambat.

Gambar 12. Mallet Finger

6. Diagnosis Mallet Finger


Diagnosis Mallet Finger bisa ditentukan melalui gejala yang dialami pasien berupa
ujung jari bengkok , bisa disertai dengan rasa nyeri dan tertekan pada jari yang terkena. X-
ray mungkin menunjukkan fraktur avulsion kecil dari lempeng dorsal yang sesuai dengan
penyisipan tendon atau adanya kelainan tendon. MRI atau USG dapat menunjukkan pecah
tendon dan hematoma. Pada pemeriksaan x-ray posterior anterior dan lateral x-ray ditengah
dari Distal Interphalang dapat digunakan untuk membedakan antara bony injury dengan
tendennous mallet injury dan juga gambaran fraktur distal phalang.4,6,7,8

Gambar 13. X-ray pada Mallet finger

7. Penatalaksanaan Mallet Finger


Mallet finger dapat diobati dengan belat (splint) sederhana. Belat Stack adalah jenis
termudah untuk menggunakan belat untuk cedera ini. Sejak belat Stack biasanya dipakai selama
68 minggu.6,7,8

Gambar 14. Terapi Splint pada mallet Finger


Gambar 15. Hasil Terapi Splint pada distal Phalang

Sekarang diakui bahwa mallet finger yang tidak segera ditangani dapat memiliki
kemungkinan untuk beberapa derajat gangguan fungsional, sering berupa rasa nyeri dan
kekakuan, sehingga dapat disimpulkan bahwa:

Pengobatan konservatif dengan menggunakan splint eksternal adalah pengobatan pilihan


dan efektif untuk mnegatasi Mallet Finger
Perhatian terhadap edukasi terhadap pasien yang tepat diperlukan untuk memaksimalkan
pengobatan konservatif dari Mallet Finger
Berbagai teknik bedah dilakukan untuk Mallet Finger kronik dan berulang

Ada beberapa situasi yang mungkin memerlukan pengobatan tambahan. Mallet finger
Kebanyakan cedera pada tendon itu sendiri, tetapi dalam beberapa kasus, tendon mungkin
menarik dari sebuah fragmen kecil tulang dari tulang jari. Jika fragmen cukup besar, mungkin
memerlukan perawatan bedah. Pembedahan mungkin juga diperlukan dalam situasi di mana
cedera ini tidak diobati selama lebih dari 4 sampai 6 minggu. Pada pasien ini, koreksi bedah dari
cedera tendon mungkin diperlukan. Jika jari palu yang tidak diobati, deformitas jari dapat
memperburuk. Pasien yang meninggalkan jari palu yang tidak diobati dapat mengembangkan
deformitas dari sendi jari disebut "cacat leher angsa." sebagian ahli bedah memilih tindakan
operasi untuk Mallet finger yang diikuti dengan subluksasi volar phalang distal, karena dapat
mengembalikan keutuhan sendi dan keseimbangan antara kekuatan fleksor dan ekstensor
sehingga mendapatkan hasil yang adekuat. Terapi pembedahan pada mallet Finger dengan
menggunakan teknik fiksasi yaitu : Intramedullary fixation, umbrella Handle Kirschner wire
fixation, external fixation, Screw Fixation, Mini External Fixators, Hook Plate fixation.6,7,8
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

FTI merupakan cedera pada tangan yang tersering, pada banyak kasus, tindakan bedah
dapat dilakukan di UGD. Terdiri atas beberapa pilihan terapi, dan tidak ada satu teknik pun yang
dapat digunakan secara luas pada semua tipe FTI. Masing-masing teknik memiliki indikasi
tertentu yang spesifik. Bila terdapat lebih dari satu pilihan terapi, keputusan diserahkan kepada
pertimbangan pasien.

Masing-masing pilihan terapi harus mempertimbangkan prinsip-prinsip untuk


mendapatkan : sensibilitas yang baik, nyeri minimal, mempertahankan ukuran jari semaksimal
mungkin, normal ROM, dan baik secara kosmetik.
DAFTAR PUSTAKA

1. Novia, Rien. 2012. Jurnal Mallet Finger. SMF Bedah RSUD Tasikmalaya. 6 Januari
2014

2. Thompson Jon C MD. Netters Concise Atlas of Orthopaedic Anatomy. Saunders


Elsevier. 2002:129

3. Moore KL, Dalley AF. Clinically Oriented Anatomy. Fourth Edition. Lippincott Williams
and Wilkins. 1999:674-676,745-746,749

4. Skinner Harry B MD, PhD. Fingertip Injuries. In : Current Diagnosis and Treatment in
Orthopaedics. Fourth14 Edition. The McGraw-Hill Companies. 2003:581-582

5. Canale S Terry MD. Campbells Operative Orthopaedics. Tenth Edition. Mosby Inc. 2003

6. Chapman Michael W MD. Fingertip Injuries. In : Operative Orthopaedic. Second Edition.


J B Lippincott. 1993:1109-1116

7. Green David P MD, Hotchkiss Robert N MD, Pederson William C MD. Greens
Operative Hand Surgery. Fourth Edition. Churchill Livingstone. 1999

8. SJ, Sebasitian. 2010. Fingertip injurie. Singapore medical jurnal Volume(1): 78-87. 5
Januari 2014

9. http://www.emedicine.com/emerg/byname/fingertip-injuries.htm