Anda di halaman 1dari 4

BAB V

PENUTUP

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan tanda dan gejala, disertai anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, seorang bayi perempuan usia 20 hari, didiagnosa dengan
Tetralogi of Fallot, Sepsis Neonatorum, Pneumonia Aspirasi pada Neonatal Cukup
Bulan sesuai masa kehamilan. Dimana pasien memiliki tanda dan gejala sesak
saat menyusu, dan sianosis.Sesak muncul saat pasien sedang menyusu
menunjukkan khas jantung yang tidak dapat berkompensasi pada aktivitas ringan
atau aktivitas berat. Semakin meningkat aktivitas pada bayi yaitu menyusu
semakin meningkat pula kerja jantung. Kebiruan terjadi karena darah yang kaya
oksigen dari ventrikel kiri bercampur dengan darah yang miskin oksigen dari
ventrikel kanan.
Penatalaksanaan pasien dibagi atas farmakologi, non farmakologi, dan
operatif. Non farmakologi dengan mempertahankan suhu lingkungan yang netral
dengan pasien ditempatkan dalam inkubator pada bayi, untuk mengurangi
kebutuhan oksigen, memberikan cairan parenteral dan mengatasi gangguan asam
basa dengan infus, memberikan oksigen untuk menurunkan resistensi vaskuler
paru sehingga dapat menambah aliran darah ke paru. Antibiotik untuk mengobati
infeksi pada pasien.
Prognosis pada pasien adalah dubia ad malam, penatalaksanaan pada
kasus ini sebenarnya untuk tahap awal sudah ditangani dengan pengobatan yang
baik, dan menunjukkan klinis yang mulai membaik. Tetapi meskipun sianosis
tidak sejak lahir, sianosis yang dialami pasien cukup berat. Bermanifestasi di usia
20 hari, CTR pasien >60%. Pada pasien juga kemungkinan terjadi gagal jantung.
Sehingga meninggalnya pasien ini kemungkinan bisa karena terjadi gagal jantung,
ataupun kematian sel-sel otak akibat tidak adanya suplai oksigen yang cukup ke
organ-organ vital tubuh dan disertai sepsis neonatorum karena infeksi pascanatal
akibat kontaminasi alat dan perawatan yang tidak steril dan disebabkan oleh
terjadinya endokarditis bakterial.

43
DAFTAR PUSTAKA

1. Ashley EA, Niebauer J. Adult congenital heart disease. In: Cardiology


explained. UK: Remedica, 2004: 203-13.

2. Ridianto, L. I., Baraas, F., Karo-Karo, S., Roebiono, P. S., Buku


AjarKardiologi. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
UniversitasIndonesia, 1996, Bab II; Anatomi Jantung dan Pembuluh Darah,
hal. 7-13.Bab IV; Spel Sianotik, hal. 103-104. BAB XII; Tetralogy Fallot, hal.
236-237.2.

3. Madiyono, B.,Rahayuningsih, S. E., Sukardi, R.,Penanganan


Penyakit Jantung Pada Bayi dan Anak . Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
KedokteranUniversitas Indonesia, 2005, hal. 25-36.

4. Centers for Disease Control and Prevention. 2011. Facts about Tetralogy
of Fallot. Diakses dari:
http://www.cdc.gov/ncbddd/birthdefects/TetralogyOfFallot.html [2 Februari
2017].

5. National Heart, Lung, and Blood Institute. 2009.Tetralogy of Fallot. Diakses


dari:http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/tof/tof_causes.html [1
Februari 2017].

6. Bhimji S., 2010.Tetralogy of Fallot. Diakses dari :


http://emedicine.medscape.com/article/163628-overview#a0199 [2 Juli 2011].

7. Sudoyo, A, W.,et al. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam, 2009; Penyakit Jantung Kongenital.
hal.1779-1789.

8. Sherwood, L., Fisiologi Manusia. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran


EGC.2001, BAB 9; Fisiologi Jantung, hal. 260-261.

9. Silbernalg, S., Lang, Florian.Colour Atlas Of Pathophysiology. New York,


2000, p; 212.

44
10. Gray HH, Dawkins KD, Morgan JM, Simpson IA. Lectures note, kardiologi
edisi 4. Jakarta: Erlangga, 2002: 258-70.

11. Rahman M. Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan pada Neonatus. Surabaya:
Divisi kardiologi Ilmu Kesehatan Anak. 2000: 772-5.

12. Staff IDAI. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia Edisi I.
Jakarta: IDAI. 2009. Halaman 319-322.

13. Irmalita,et al. Standar Pelayanan Medik Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh
Darah Harapan Kita. Jakarta: Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah
Harapan Kita, 2009, BAB IV;Tetralogy of Fallot, halaman 101-103.

14. Manjoer A, Suprohaita. Kapita Selekta Kedokteran Edisi ketiga. Jakarta:


Media Aesculapius, 2000: Halaman 495.

15. Ashley EA, Niebauer J. Adult congenital heart disease. In: Cardiology
explained. UK: Remedica, 2004: Halaman 203-13.

16. Behrman RE, Kliegman RM, and Jenson HB, 2004. Nelson Textbook of
Pediatrics. 17th ed. Philadelphia, PA: Saunders. Halaman 327.

17. Bernstein D. Congenital heart disease. In: Kliegman RM, Behrman RE,
Jenson HB, editors. Nelson: Textbook of Pediatrics (Nineteenth Edition).
New York: Elsevier, 2010; halaman 1499-520.
18. National Heart, Lung, and Blood Institute. 2009. Tetralogy of Fallot. Diakses
dari: http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/tof/tof_what.html [2
Februari 2017].

19. National Heart, Lung, and Blood Institute. 2009. Tetralogy of Fallot.
Diaksesdari:http://www.nhlbi.nih.gov/health/dci/Diseases/tof/tof_causes.html
[2 Februari 2017].

20. Bernstein D., Nelson Textbook of Pediatrics.Tetralogy of Fallot . Ed. 19th.


p;1524-1528.

45
21. Carlo W. Assisted ventilation. Dalam: Klaus M, Fanaroff A, penyunting. Care
of the high-risk neonate.Edisi 5. Philadelphia: Saunders; 2001. h. 277-300.

22. Mathai S, Raju C, Kanitkar C. Management of respiratory distress in the


newborn.MJAFI. 2007;63(269-72).

23. Puspanegoro T.S. Sepsis Pada Neonatus (Sepsis Neonatal). Sari Pediatri.
Volume 2. Jakarta. 2000. Halaman 98.

24. Kosim MS, Yunanto A, Dewi R, Sarosa GI, Usman A. Buku Ajar
Neonatalogi. Jakarta: IDAI; 2008.

25. Nova R. Penyulit pada Penyakit Jantung Bawaan Sianotik. Palembang:


Subbagian Kardiologi IKA FK Unsri; 2010.

46