Anda di halaman 1dari 66

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum Lokasi Penelitian


Kabupaten Agam memiliki luas wilayah administrasi sebesar 2 212.19
km2 atau 5.24 persen dari luas wilayah Propinsi Sumatera Barat yang mencapai
42 229.04 km2, dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:
1. Bagian Barat (Kecamatan Tanjung Mutiara, Lubuk Basung, dan Ampek
Nagari),
2. Bagian Tengah (Kecamatan Tanjung Raya, Palembayan, Matur, Palupuh, dan
Ampek Koto),
3. Bagian Timur (Kecamatan Tilatang Kamang, Kamang Magek, Baso, Ampek
Angkek Canduang, Candung, Banuhampu, dan Sungai Puar).
Secara administrasi Kabupaten Agam (Gambar 4) berbatasan:
- Sebelah utara dengan Kabupaten Pasaman
- Sebelah selatan dengan Kabupaten Padang Pariaman dan Tanah Datar
- Sebelah timur dengan Kabupaten 50 Kota dan Kota Bukittinggi
- Sebelah barat dengan Samudera Indonesia

-
Gambar 4 Peta Administrasi Kabupaten Agam
57
Kabupaten Agam memiliki 15 (lima belas) kecamatan dengan 73 (tujuh
puluh tiga) nagari. Pembagian wilayah administrasi Kabupaten Agam dapat
di lihat pada Lampiran 4.

Kondisi Fisik Wilayah


Kabupaten Agam memiliki dua buah gunung, yaitu Gunung Marapi
di Kecamatan Banuhampu dan Sungai Puar dengan Ketinggian 2 891 meter dan
Gunung Singgalang di Kecamatan Ampek Koto dengan ketinggian 2 877 meter,
serta terdapat 1 (satu) buah danau yaitu Danau Maninjau di Kecamatan Tanjung
Raya dengan luas 9 950 Ha dengan kedalaman mencapai 157 meter dan keliling
sepanjang 66 km.
Temperatur udara terbagi dalam dua bagian, yaitu di daerah dataran dengan
temperatur minimum 250C dan maksimum 300C (Lubuk Basung), sedangkan
di daerah tinggi yaitu minimum 200C dan maksimum 290C (Tilatang Kamang).
Kelembaban udara rata-rata 88 persen, kecepatan angin antara 4-20 km/jam dan
penyinaran matahari rata-rata 58 persen.
Berdasarkan database Kabupaten Agam (2005) wilayah Kabupaten Agam
memiliki 4 (empat) kelas curah hujan, yaitu:
1. Daerah dengan curah hujan > 4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah
dengan iklim Tipe A), berada di sekitar lereng gunung Marapi-Singgalang
meliputi sebagian wilayah Kecamatan Ampek Koto dan Sungai Pua;
2. Daerah dengan curah hujan 3500-4500 mm/tahun tanpa bulan kering (daerah
dengan tipe A1) mencakup sebagian wilayah Kecamatan Tilatang Kamang,
Baso, dan Ampek Angkek Canduang;
3. Daerah dengan curah hujan 3500-4000 mm/tahun dengan bulan kering selama
1-2 bulan berturut-turut meliputi sebagian Kecamatan Palembayan, Palupuh,
dan Ampek Koto.
Daerah dengan curah hujan 2500-3500 mm/tahun dengan bulan kering
selama 1-2 bulan berturut- turut, meliputi sebagian wilayah Kecamatan Lubuk
Basung dan Tanjung Raya. Zona iklim yang terdapat di Kabupaten Agam
berdasarkan klasifikasi Oldeman, dimana sepanjang pantai barat tergolong zona A
dengan luas mencapai 38 270 ha. Daerah lereng timur Bukit Barisan yang
merupakan daerah bayang hujan tergolong zona B1 dengan luas 61 440 ha, tipe
58
B2 seluas 43 498 ha dan tipe C1 dengan luas 43 091 ha, tipe D1 seluas 24 772 ha,
tipe D2 dengan luas 9 069 ha dan 1 077 ha termasuk tipe E2. Pembagian zona
iklim di Kabupaten Agam terlihat pada Gambar 5 berikut:

Gambar 5 Peta Iklim Kabupaten Agam Berdasarkan Zona Oldeman.


Formasi batuan yang dijumpai di Kabupaten Agam dapat digolongkan
kedalam pra tersier, tersier dan kuarter yang terdiri dari batuan endapan
permukaan, sedimen, metamofik, vulkanik dan intrusi. Wilayah Kabupaten Agam
yang ditutupi oleh jenis batuan beku ekstrusif dengan reaksi intermediet (andesit
dari Gunung Marapi, Singgalang-Tandikat, Gunung Maninjau dan Gunung
Talamau) seluas 68 555.10 ha (2.43 persen), batuan beku ektrusif dengan reaksi
masam (pumis tuff) seluas 55 867 ha (26.43), batuan sedimen dengan jenis batu
kapur seluas 8 011.80 ha (3.79 persen), endapan alluvium mencapai luas 48 189
ha (22.79 persen) dan batuan beku intrusif masam dari golongan granit, dasit
profiri dan dari golongan ultrbasa dalam jumlah yang kecil.
Ketinggian permukaan wilayah Kabupaten Agam sangat bervariasi, mulai
dari dataran rendah sampai ketinggian lebih dari 2 500 mdpl. Luas areal yang
memiliki ketingian 0 100 mdpl meliputi 62 307 ha yang tersebar di bagian barat
59
Kabupaten agam. Untuk daerah dengan ketinggian 100 500 mdpl mencapai
luasan 31 067 ha lebih dominan terletak pada bagian tengah Kabupaten Agam.
Wilayah dengan ketinggian 500 1 000 mdpl seluas 69 775 ha dan daerah
kabupaten dengan ketinggian 1 000 1 500 mdpl seluas 41 802 ha berada pada
bagian tengah Kabupaten Agam, sedangkan untuk ketinggian 1 500 2 000 mdpl
seluas 10 620 ha dan wilayah dengan ketinggian > 2 000 mdpl seluas 5 648 ha
berada pada bagian timur Kabupaten Agam. Peta ketinggian dapat dilihat pada
Gambar 6.

Gambar 6 Peta Ketinggian Wilayah Kabupaten Agam (mdpl)


Kemiringan tanah/lahan atau kelerengan tanah menggambarkan bentuk
kedudukan tanah terhadap bidang datar yang dinyatakan dalam persen (%). Peta
kemiringan lahan di Kabupaten Agam dibagi kedalam 6 (enam) kelas yaitu :
a. Daerah tergolong datar dengan lereng 0 3 %,
b. Daerah landai dengan lereng 3 8 %,
c. Daerah berombak dengan lereng 8 15 %,
d. Daerah bergelombang dengan lereng 15 25 %,
60
e. Daerah berbukit dengan lereng 25 45 %,
f. Daerah bergunung sangat terjal dengan lereng > 45 %.

Gambar 7 Peta Kemiringan Lahan Kabupaten Agam


Berdasarkan Gambar 7 diatas, kemiringan tanah/lahan di Kabupaten Agam
didominasi oleh daerah dengan porsentase kemiringan 8 15 %, pada umumnya
terletak di bagian tengah dan bagian barat Kabupaten Agam dengan luasan 79
705 ha. Untuk daerah dengan kemiringan 0 3 % (57 277 ha) terletak pada bagian
timur kabupaten. Selanjutnya untuk daerah dengan kemiringan 3 8 % lebih
banyak terletak di bagian tengah kabupaten seluas 14 678 ha. Daerah dengan
kemiringan 15 25 % (19 942 ha) dan kemiringan 25 45 % (29 704 ha) terletak
pada bagian tengah dan bagian timur kabupaten. Untuk daerah dengan kemiringan
> 45 % berada pada jajaran Bukit Barisan dengan puncak-puncaknya Gunung
Marapi dan Gunung Singgalang yang terletak di selatan dan tenggara Kabupaten
Agam, dengan luasan mencapai 10 008 ha.
Jenis tanah yang ada pada Kabupaten Agam berdasarkan klasifikasi
Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999) pada tingkat tertinggi terdiri dari
ordo: Entisols (adapun klasifikasi pada tingkat lebih rendah/Great Group
61
Udipsamments) seluas 4 579 ha, Inceptisols (dengan great group: Tropaquepts,
Eutropepts, Dystropepts) seluas 106 518.78 ha, Andisols (Hydrudands dan
Hapludans) mencapai 53 753.58 ha, dan Histosols (Haplosaprists) 18 470 ha.
Terkait jenis tanah tersebut, umumnya di Kabupaten Agam diusahakan
berbagai macam komoditi pertanian baik itu tanaman pangan, palawija,
hortikultura, tahunan ataupun perkebunan. Komoditas agro unggulan daerah ini
yang bernilai ekonomis dan potensial untuk dikembangkan antara lain tembakau,
karet, kayu manis, kopi, kelapa dan kakao.
Berdasarkan kelas kemampuan tanah, maka wilayah Kabupaten Agam
memiliki kelas kemampuan tanah jenis A1aT paling besar yakni 40.5 persen, hal
ini menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah ini memiliki klasifikasi
kemampuan tanah dengan kedalaman efektif lebih dari 90 cm, tekstur tanah
sedang, drainase tidak pernah tergenang dan tidak ada erosi. Kelas kemampuan
tanah ini terdapat di seluruh kecamatan di Kabupaten Agam, dan untuk daerah
yang paling luas adalah pada Kecamatan Lubuk Basung yaitu 16 924.375 ha,
sedangkan Kecamatan Sungai Pua hanya 1 320. 717 ha dan merupakan daerah
yang paling kecil.

Hidrologi
Berdasarkan Daerah Aliran Sungai (DAS), Kabupaten Agam dilalui oleh
empat buah DAS yaitu DAS Gasan Gadang, Kinara, Kuantan dan Manggung.
Kabupaten Agam juga dilalui oleh tiga buah Sub-DAS yaitu Sub-DAS Masang
Kanan, Masang Kiri, dan Batang Antokan. Sungai yang melintasi daerah ini
terdiri dari sungai besar dan sungai kecil yang berpola dendritik, dengan total
jumlah keseluruhan 45 sungai. Sungai-sungai tersebut berupa sungai permanen
yang selalu mengalir setiap tahunnya. Sungai Batang Antokan yang berada
di wilayah timur Kabupaten Agam, selain dipergunakan sebagai sumber air untuk
pertanian juga dipakai untuk salah satu sarana pariwisata di bidang olahraga yaitu
arung jeram. Sumber air lainnya yang terdapat di Kabupaten Agam adalah sebuah
danau di bagian Tengah Agam, yaitu danau Maninjau. Kondisi hidrologi kawasan
Danau Maninjau ini secara umum dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu air
permukaan dan air tanah. Kedua faktor ini sangat dipengaruhi oleh iklim dan
curah hujan di kawasan tersebut.
62

Gambar 8 Peta Pembagian Wilayah Kabupaten Agam berdasarkan DAS


Berdasarkan gambaran diatas, maka Kabupaten Agam dapat dikatakan kaya
akan potensi, karena memiliki potensi kekayaan alam yang sangat beragam, mulai
dari daratan, bukit, pegunungan hingga danau. Kondisi wilayah yang beragam ini
memungkinkan berkembangnya berbagai jenis komoditas pertanian, perkebunan,
kehutanan, pertambangan, perikanan, pariwisata dan industri. Sektor-sektor
tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi yang signifikan bagi sosial
budaya masyarakat.
Beberapa potensi kekayaan alam yang sedang diupayakan
pengembangannya adalah 1) galian pasir gunung di Kecamatan Matur dan
Palupuh, 2) batuan ultra basa di Kecamatan Palembayan, 3) dolomit
di Kecamatan Palupuh; 4) pasir besi (logam) di Kecamatan Tanjung Mutiara;
5) granit (industri) di Kecamatan Ampek Koto, 6) trass/tufa (industri)
di Kecamatan Matur, Palupuh, Baso, Palembayan, Ampek Koto, Tilatang
Kamang; 7) marmer di Kecamatan Kamang Magek, Matur dan Palupuh;
8) obsidian (industri) di Kecamatan Lubuk Basung dan Tanjung Raya; 9) andesit
(industri) di Kecamatan Lubuk Basung, Baso, dan Palupuh; 10) dunit (industri)
63
di Kecamatan Palembayan; 11) fosphat (industri) di Kecamatan Canduang;
12) kalsit (industri) di Kecamatan Baso; 13) batu di Kecamatan Baso dan
Ampek Angkek Canduang; 14) besi di Kecamatan Lubuk Basung; 15) tanah liat
(industri) di Kecamatan Lubuk Basung dan Matur, 16) toseki (industri)
di Kecamatan Palembayan dan Palupuh; 17) penggemukan sapi potong
di Kecamatan Lubuk Basung, Tanjung Raya dan Ampek Angkek Canduang
(BKPPMD, 2007).

Kependudukan
Berdasarkan hasil registrasi penduduk akhir tahun 2006, jumlah penduduk
di Kabupaten Agam tercatat sebanyak 439 611 jiwa yang terdiri dari 213 085 laki-
laki dan 226 526 perempuan, dengan luas wilayah sebesar 2 212.19 Km2. Dengan
demikian, kepadatan penduduk Kabupaten Agam adalah 199 jiwa/Km2. Untuk
konsentrasi penduduk, umumnya penduduk di wilayah ini bertempat tinggal di
Kecamatan Lubuk Basung yaitu sebesar 14 persen dari total jumlah penduduk
Kabupaten Agam, diikuti Kecamatan Ampek Angkek Candung (9 persen). Jumlah
dan distribusi penduduk di Kabupaten Agam menurut kecamatan dapat dilihat
pada Tabel 10.

Tabel 10 Jumlah dan Distribusi Penduduk Kabupaten Agam per Kecamatan


Tahun 2006
R.Tangga Penduduk Luas Kepadatan
Kecamatan
(KK) (jiwa) (km2) jiwa/ km2 Distribusi (%)
Tanjung Mutiara 5 403 26 139 205.73 127 6
Lubuk Basung 13 323 62 384 358.55 174 14
Ampek Nagari 4 182 21 125 188.54 112 5
Tanjung Raya 7 082 30 890 244.03 127 7
Matur 4 462 18 405 93.69 196 4
Ampek Koto 8 420 33 523 173.21 194 8
Banuhampu 7 283 32 834 33.06 993 7
Sungai Puar 5 177 22 676 39.68 571 5
Ampek Angkek Candung 8 484 38 479 42.11 914 9
Canduang 5 302 22 873 40.84 560 5
Baso 7 510 33 085 70.3 471 8
Tilatang Kamang 7 623 32 408 91.61 354 7
Kamang Magek 5 038 20 395 64.06 318 5
Palembayan 7 522 30 538 349.81 87 7
Palupuh 2 825 13 857 237.08 58 3
Total 99 638 439 611 2 212.19 199 100
Sumber : Agam Dalam Angka tahun 2006
64
Sekaitan dengan Tabel 10, penduduk Kabupaten Agam ternyata masih
terkosentrasi di beberapa wilayah seperti Kecamatan Lubuk Basung dan Ampek
Angkek Canduang. Keduanya mewakili Agam Barat dan Timur, dimana
Kecamatan Lubuk Basung berada di wilayah Agam Barat sedangkan Kecamatan
Ampek Angkek Canduang berada di Agam Timur. Komposisi penduduk
didominasi usia produktif dengan jumlah penduduk perempuan lebih banyak
dibandingkan dengan laki-laki. Kondisi ini sesuai dengan kebiasaan umumnya
penduduk Sumatera Barat yang lebih suka merantau ke daerah lain dibandingkan
memilih menetap di daerahnya sendiri. Penduduk yang masih menetap tersebut
sebagian besar memiliki pekerjaan sebagi petani. Dengan demikian, sektor
pertanian masih menjadi pilihan utama bagi masyarakat Kabupaten Agam.

Tabel 11 Prosentase Mata Pencaharian Penduduk Kabupaten Agam per


Kecamatan Tahun 2005
Prosentase terhadap Total Tenaga Kerja Kabupaten
Kecamatan PNS/ Buruh Buruh Lain-
Petani Pedagang Pengrajin Total
ABRI Tani Swasta lain

Tanjung Mutiara 4.30 0.64 0.39 0.79 0.31 0.18 0.19 6.80
Lubuk Basung 9.40 1.10 0.86 0.09 1,10 0.10 8.40 21.05
Ampek Nagari 1.40 0.29 0.83 0.09 0.97 0.02 0.03 3.63
Tanjung Raya 2.70 0.17 0.21 0.07 0.05 0.02 0.23 3.45
Matur 1.20 0.12 0.04 0.13 0.03 0.07 0.09 1.68
IV Koto 2.30 2.30 0.28 0.34 0.13 0.50 1.67 7.52
Banuhampu 4.00 0.72 0.40 0.53 0.56 0.40 0.84 7.45
Sungai Puar 1.20 0.42 0.14 0.71 0.50 0.09 0.90 3.96
Ampek Angkek Canduang 4.60 0.34 0.36 0.14 0.02 0.35 0.46 6.27
Canduang 4.70 0.00 2.12 0.74 0.04 0.28 0.06 7.94
Baso 9.20 0.79 0.35 0.51 0.29 0.15 1.90 13.19
Tilatang Kamang 3.60 0.65 0.70 0.08 0.19 0.67 0.06 5.95
Kamang Magek 0.70 0.04 0.11 0.01 0.00 0.00 0.04 0.90
Palembayan 5.60 0.15 0.32 0.84 0.17 0.13 0.72 7.93
Palupuh 1.20 0.00 0.07 0.13 0.12 0.02 0.08 1.62
Total 56.10 7.73 7.18 5.20 4.48 2.98 15.67 100
Sumber : Dinas KB, Capil dan Kependudukan Kabupaten Agam Tahun 2006

Berdasarkan Tabel 11 menunjukkan mata pencaharian sebagai petani masih


paling banyak menyerap tenaga kerja, yaitu sekitar 56.10 persen dari total tenaga
kerja Kabupaten Agam, diikuti mata pencaharian lain lain (15.67 persen),
pedagang (7.73 persen), PNS/ABRI (7.18 persen), dan yang paling rendah adalah
pengrajin (2.98 persen). Terkait dengan hal tersebut maka pekerjaan penduduk
65
Kabupaten Agam masih terkonsentrasi pada lapangan usaha di sektor primer.
Sektor primer menurut pendapat Tushar dan Mishra (2000) meliputi usaha di
bidang pertanian, budidaya dan produksi hutan, perikanan, serta proses bahan
baku menjadi bahan setengah jadi.

Objek Wisata di Kabupaten Agam


Keberadaan sarana akomodasi yang berfungsi sebagai penunjang pariwisata
di Kabupaten Agam pada saat ini masih terkonsentrasi di sekitar kawasan Danau
Maninjau. Hal ini salah satu implikasi dari program pemerintah daerah yang
memprioritaskan pembangunan kepariwisataan di daerah Maninjau. Total
keseluruhan obyek wisata yang ada di Kabupaten Agam berjumlah 94 obyek
wisata yang tersebar di 14 (empat belas) kecamatan.
Obyek wisata di kabupaten Agam berdasarkan jenis dan daya tarik obyek
wisata dibagi menjadi 3 bagian yaitu:
1. Wisata Alam
Wisata alam yang menyajikan keindahan alam dengan jumlah 39 obyek wisata
di Kabupaten Agam terbagi atas wisata pantai sebanyak 4 obyek yang terdapat
di Kecamatan Tanjung Mutiara, wisata danau, air terjun dan pemandian
sebanyak 16 obyek, wisata gunung/perbukitan sebanyak 11 obyek, wisata
goa/ngalau sebanyak 5 obyek dan wisata flora dan fauna sebanyak 3 obyek
wisata.
2. Wisata Budaya dan Sejarah
Wisata budaya dan sejarah di Kabupaten Agam berjumlah 51 obyek wisata
dengan rincian wisata tugu perjuangan dan benteng perang sebanyak 9 obyek,
mesjid/surau tua sebanyak 21 obyek, museum/rumah adat sebanyak 5 obyek,
makam pahlawan 15 obyek dan wisata candi 1 obyek.
3. Wisata Minat Khusus (Olahraga)
Wisata minat khusus/wisata olahraga berjumlah 4 jenis yaitu wisata olahraga
paralayang di Puncak Lawang, wisata arung jeram di aliran sungai Batang
Antokan, wisata perahu naga di Danau Maninjau dan wisata buru babi
di Kecamatan Palupuh.
66

Gambar 9 Peta Sebaran Obyek Wisata di Kabupaten Agam


Kondisi alam yang kaya dengan keindahan tersebut, maka Kabupaten Agam
berupaya mengembangkan wilayahnya dengan menempatkan sektor pariwisata
sebagai sektor andalan setelah komoditas pertanian. Harapannya adalah
perkembangan wilayah di Kabupaten Agam dapat didorong dengan tumbuhnya
aktivitas ekonomi dari sektor ini.
Jumlah obyek wisata di Kabupaten Agam pada saat ini yang dikelola secara
intensif oleh pemerintah daerah Kabupaten Agam sebanyak 5 buah obyek. Obyek
tersebut yaitu wisata pantai Bandar Mutiara di Kecamatan Tanjung Mutiara,
wisata Muko-muko Danau Maninjau di Kecamatan Tanjung Raya, wisata Puncak
Lawang di Kecamatan Matur, Wisata Ambun Pagi di Kecamatan Matur, dan
wisata Ikan Sakti di Kecamatan Baso. Sedangkan untuk obyek-obyek wisata
lainnya belum dikelola secara maksimal oleh pemerintah daerah dan masih
terabaikan. Dilihat dari potensi biofisik dan budaya obyek-obyek tersebut, masih
cukup memungkinkan untuk mendatangkan wisatawan ke Kabupaten Agam baik
wisatawan nusantara maupun mancanegara.
67
Struktur Ekonomi

Kegiatan ekonomi merupakan usaha yang bertujuan mendatangkan


pendapatan atau meningkatkan taraf hidup pelakunya. Oleh karena itu
pembangunan ekonomi merupakan serangkaian usaha segenap masyarakat yang
tidak terlepas dari peran serta pemerintah dan swasta untuk meningkatkan taraf
hidup, memeratakan pembagian pendapatan masyarakat, memperluas lapangan
kerja dan meningkatkan hubungan ekonomi regional. Dengan kata lain, arah
pembangunan ekonomi adalah meningkatkan dan meratakan pendapatan
masyarakat secara keseluruhan.
Tabel 12 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Berlaku
(ADH) menurut Lapangan Usaha dari tahun 2001 - 2005 (Jutaan
Rupiah)
Lapangan Usaha 2001 2002 2003 2004 2005
1. Pertanian 643.786,52 729.899,59 829.851,50 953.522,05 1.230.982,18
a. Tanaman pangan 389.565,96 420.541,77 450.077,73 486.049,06 669.968,55
b. Perkebunan 142.080,78 183.866,07 234.331,85 297.744,88 361.673,67
c. Peternakan 61.383,91 70.822,32 84.133,70 97.439,31 112.699,40
d. Kehutanan 15.307,44 17.331,62 19.130,96 23.258,88 25.308,75
e. Perikanan 35.448,43 37.337,81 42.177,26 49.029,92 61.331,81
2. Pertambangan 84.066,28 101.956,38 113.150,03 131.919,30 148.991,21
3. Industri Pengolahan 310.085,32 339.924,85 364.249,07 391.691,54 432.553,56
4. Listrik, gas, dan air 16.721,67 22.614,02 28.379,10 31.921,42 36.115,97
a. Listrik 15.751,16 21.322,97 26.955,68 30.332,16 34.334,46
b. Air minum 970,51 1.291,05 1.423,42 1.589,26 1.781,51
5. Bangunan 100.760,41 113.004,61 125.013,88 141.163,16 167.339,59
6. Perdagangan, hotel, dan restoran 349.347,86 390.768,06 432.340,27 480.770,58 538.188,59
a. Perdagangan 334.845,88 373.660,99 411.894,00 457.404,95 511.272,86
b. Hotel 5.812,75 7.478,33 9.852,89 11.985,89 14.141,95
c. Restoran 8.689,23 9.628,74 10.593,38 11.379,74 12.773,78
7. Pengangkutan dan Komunikasi 91.591,36 111.811,15 126.332,87 144.527,34 171.948,27
a. Angkutan darat 85.833,96 104.284,85 117.452,77 133.945,95 160.034,50
b. Angkutan jalan raya 84.757,00 102.973,30 115.993,54 132.115,15 157.849,98
c. Angkutan air 263,41 315,51 364,42 421,70 507,16
d. Jasa penunjang 813,55 996,04 1.094,81 1.409,10 1.677,36
e. Komunikasi 5.757,40 7.526,30 8.880,10 10.581,39 11.913,77
8. Keuangan, persewaan, bangunan, 71.600,73 88.359,07 102.080,43 118.682,53 136.872,63
dan jasa penunjang kegiatan
a. Bank 18.793,24 20.481,91 22.545,64 24.845,07 28.068,76
b. Lembaga keuangan 8.791,52 10.831,12 12.820,79 15.197,91 17.887,06
non bank
c. Sewa bangunan 43.739,62 56.733,57 66.370,11 78.240,48 90.452,69
d. Jasa perusahaan 276,35 312,47 343,89 399,07 464,12
9. Jasa-jasa 352.496,99 398.246,13 434.316,32 473.680,89 514.965,22
a. Pemerintahan dan hankam 308.468,41 348.512,92 377.849,18 409.547,47 443.574,78
b. Swasta 44.028,58 49.733,21 56.467,14 64.133,42 71.390,44
Total PDRB 2.020.457,14 2.296.583,86 2.555.713,47 2.867.878,81 3.377.957,22
Sumber: BPS, ADA Tahun 2006

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah jumlah keseluruhan dari


nilai tambah bruto yang berhasil diciptakan oleh seluruh kegiatan ekonomi yang
berada pada suatu wilayah selama periode waktu tertentu, dalam hal ini waktu
yang digunakan adalah satu tahun. PDRB ini dapat digunakan untuk mengetahui
indikator makro ekonomi suatu daerah, seperti pertumbuhan ekonomi, tingkat
68
kemakmuran penduduk, perubahan harga barang dan jasa, struktur perekonomian,
elastiisitas kesempatan kerja, dan produkktiivitas sektoral.
Perkembangan struktur perekonomian Kabupaten Agam pada periode 2001-
2005 mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Seperti terlihat pada Tabel
12, PDRB Kabupaten Agam menurut lapangan usaha atas dasar harga berlaku
tumbuh dari 2.020 trilyun rupiah pada tahun 2001 menjadi 3.377 trilyun rupiah
pada tahun 2005. Struktur perekonomian didominasi oleh tiga sektor utama yaitu
sektor pertanian, perdagangan, hotel dan restoran serta jasa. Ketiga sektor ini
memiliki share lebih dari 60 persen sementara sektor lainnya kurang dari 40
persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir dan tidak terjadi perubahan struktur
perekonomian yang signifikan.
Bila dikaji lebih lanjut, dari tahun ke tahun share dari sektor pertanian tetap
mendominasi dan selalu mengalami peningkatan. Sub sektor tanaman pangan,
perkebunan dan peternakan merupakan sub sektor yang memberikan kontribusi
terbesar terhadap sektor pertanian. Sektor perdagangan, hotel dan restoran lebih
banyak ditopang oleh sub sektor perdagangan dibandingkan oleh restoran.
Sedangkan sektor jasa masih digerakkan oleh sub sektor jasa pemerintahan dan
hankam. Selanjutnya, sub sektor dan sektor yang masih sangat rendah
kontribusinya masing-masing adalah sub sektor jasa perusahaan dan sektor
pertambangan.

Pertumbuhan Ekonomi

Secara sektoral (Tabel 13) pertumbuhan ekonomi Kabupaten Agam dalam


kurun waktu 2001 dan 2005 tumbuh sebesar 4.38 persen dan 4.71 persen.
Pertumbuhan terbesar terjadi pada sektor pertanian sebesar 15.13 persen dan 9.72
persen, diikuti sektor bangunan dan komunikasi ( 6.22 persen dan 5.15 %) serta
pengangkutan dan komunikasi masing-masing 5.73 dan 6.41 persen. Begitu juga
dengan distribusi masing-masing sektor, dimana distribusi terbesar berasal dari
sektor pertanian yakni sebesar 31.53 persen dan 32.05 persen untuk kurun waktu
2001 dan 2005. Dengan demikian, sektor pertanian merupakan sektor penyusun
struktur perekonomian wilayah yang memiliki laju pertumbuhan yang cukup pesat
pada tahun 2005. Hal ini sesuai dengan kondisi geografis Kabupaten Agam,
sektor pertanian merupakan sektor yang mendominasi struktur perekonomian dan
69
berkaitan dengan kebijakan pemerintah daerah yang masih mendorong
perkembangan sektor pertanian sebagai basis perekonomiannya.
Perkembangan PDRB menurut kelompok sektor ini didasarkan atas input
dan output serta asal jadinya proses produksi untuk masing-masing produsen.
Kelompok sektor tersebut meliputi kelompok sektor primer, sekunder dan tersier.
Kelompok sektor primer meliputi kegiatan yang outputnya masih merupakan
output proses tingkat dasar yaitu sektor pertanian dan sektor pertambangan dan
penggalian. Kelompok sektor sekunder meliputi sektor industri pengolahan,
listrik, gas dan air minum serta sektor bangunan. Sedangkan sektor tersier
meliputi sektor Perdagangan, Hotel dan restoran, sektor Pengangkutan dan
Komunikasi, sektor keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan serta sektor jasa-
jasa.
Tabel 13 Laju Pertumbuhan PDRB Kabupaten Agam Menurut Lapangan Usaha
Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) tahun 2001 dan 2005 (persen)
No Lapangan usaha Pertumbuhan Distribusi
2001 2005 2001 2005
1. Sektor Pertanian 15,13 9,72 31,53 32,05
2. Sektor Pertambangan dan Penggalian 2,74 2,31 4,42 4,45
3. Sektor Industri Pengolahan 3,11 2,80 14,75 14,30
4. Sektor Listrik, Gas dan Air Minum 5,66 7,22 1,29 1,40
5. Sektor Bangunan/Konstruksi 6,22 5,15 4,91 4,92
6. Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 3,49 3,53 17,15 16,81
7. Sektor Pengangkutan dan Komunikasi 5,73 6,41 4,68 4,83
8. Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 2,83 2,29 3,88 4,05
9. Jasa-jasa 3,14 3,38 17,39 17,18
Produk Domestik Regional Bruto 4,38 4,71 100,00 100,00
Sumber: BPS Kabupaten Agam, 2006

Analisis Hirarki Wilayah


Menurut Rustiadi et al. (2006), konsep wilayah nodal didasarkan atas
asumsi bahwa suatu wilayah diumpamakan sebagai suatu sel hidup yang
mempunyai plasma dan inti. Inti (pusat simpul) adalah pusat-pusat
pelayanan/permukiman sedangkan plasma adalah daerah belakang (hinterland)
yang mempunyai sifat-sifat tertentu dan mempunyai hubungan fungsional. Pusat
wilayah berfungsi sebagai: (1) tempat terkosentrasinya penduduk (permukiman);
(2) pasar bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri; (3) pusat pelayanan
terhadap daerah hinterland; dan (4) lokasi pemusatan industri manufaktur, yang
70
diartikan sebagai kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk
menghasilkan output tertentu. Sedangkan hinterland berfungsi sebagai: (1)
pemasok (produsen) bahan-bahan mentah atau bahan baku; (2) pemasok tenaga
kerja melalui proses urbanisasi; (3) daerah pemasaran barang dan jasa industri
manufaktur umumnya terdapat suatu interdepedensi antara inti dan plasma.
Secara historis, pertumbuhan pusat-pusat atau kota ditunjang oleh hinterland yang
baik. Misalnya, walaupun Solo dan Jogjakarta relatif lebih dulu berkembang
namun Jakarta, Bandung, dan Medan terbukti lebih pesat perkembangannya
karena sangat ditunjang oleh hinterland yang mendukung; (4) penjaga fungsi-
fungsi keseimbangan ekologis.

Setiap pemusatan akan menghasilkan pengaruh positif dan negatif. Adanya


pemusatan yang berlebihan pada daerah-daerah tertentu, disamping akan
menimbulkan masalah sosial ekonomi dan lingkungan hidup juga akan
menyebabkan dana dan sumber daya untuk pembangunan wilayah menjadi
terbatas. Apalagi dengan adanya aktivitas lembaga pemerintahan yang berhirarki
lebih tinggi di suatu wilayah, maka perhatian pemerintah terhadap wilayah
cenderung lebih besar dibandingkan terhadap wilayah lainnya (Tarigan, 2002).
Analisis hirarki wilayah dengan metode skalogram pada penelitian ini
digunakan untuk membuktikan ada tidaknya hirarki di Kabupaten Agam.
Berdasarkan hasil analisis seperti yang terlihat pada Tabel 14 dan 15, kabupaten
ini terbagi dalam lima hirarki yakni: hirarki I, II, III, IV, dan V. Nagari Lubuk
Basung Kecamatan Lubuk Basung memiliki nilai tertinggi pada hirarki I
berdasarkan jumlah jenis dan fasilitas. Hal ini sesuai dengan kondisi riil di
lapangan dimana nagari ini merupakan pusat aktivitas pelayanan pemerintahan
karena merupakan Ibukota Kabupaten agam.

Berdasarkan jenis fasilitas yang tersedia, terlihat bahwa fasilitas kantor


nagari, restoran/rumah makan/warung/kedai makanan dan minuman, sekolah
dasar (SD), serta masjid/surau, hampir terdapat di semua nagari. Fasilitas tertentu
seperti supermarket/swalayan, perbankan, KUD dan non KUD, hotel, puskesmas,
SMP dan SMA, kios saprodi pertanian, listrik, pasar, lembaga pendidikan
ketrampilan, dan industri hanya terdapat di wilayah tertentu saja, terutama di
wilayah pusat aktivitas yaitu di Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung
71
dan Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang. Nagari-nagari tersebut
termasuk hirarki I.
Tabel 14 Hirarki Nagari dalam Kabupaten Agam Berdasarkan Jumlah Jenis
Fasilitas Pelayanan
No Nagari Jumlah Jenis Hirarki No Nagari Jumlah Jenis Hirarki
Fasilitas Fasilitas
1 Lubuk Basung 30 I 37 Ampek Koto Palembayan 17 III
2 Koto Tangah 26 I 38 Padang Lua 16 III
3 Kubang Putih 23 II 39 Balai Gurah 16 III
4 Manggopoh 23 II 40 Batu Taba 16 III
5 Duo Koto 23 II 41 Sitalang 16 III
6 Gadut 23 II 42 Nan Tujuah 16 III
7 Biaro Gadang 22 II 43 Batu Kambing 16 III
8 Tigo Koto 22 II 44 Sungai Batang 16 III
9 Magek 22 II 45 Maninjau 16 III
10 Matua Mudiak 22 II 46 Tiku V Jorong 15 III
11 Selaras Aia 22 II 47 Lawang 15 III
12 Pakan Sinayan 21 II 48 Panampung 15 IV
13 Pasie Laweh 21 II 49 Sungai Landia 15 IV
14 Tiku Selatan 21 II 50 Sungai Pua 15 IV
15 Padang Tarok 20 II 51 Sariak 15 IV
16 Kamang Hilia 20 II 52 Bayur 15 IV
17 Kapau 20 II 53 Canduang Koto Laweh 14 IV
18 Lambah 19 III 54 Pasie 14 IV
19 Kamang Mudiak 19 III 55 Ampang Gadang 14 IV
20 Kampung Pinang 19 III 56 Garagahan 14 IV
21 Matua Hilia 19 III 57 Koto Rantang 14 IV
22 Panta Pauh 19 III 58 Batu Palano 14 IV
23 Padang Laweh 19 III 59 Batagak 14 IV
24 Tabek Panjang 18 III 60 Tiku Utara 14 IV
25 Bukit Batabuah 18 III 61 Koto Kaciak 14 IV
26 Lasi 18 III 62 Simarasok 13 IV
27 Koto Gadang 18 III 63 Malalak 13 IV
28 Baringin 18 III 64 Koto Tuo 12 IV
29 Tanjung Sani 18 III 65 Koto Tinggi 12 IV
30 Cingkariang 17 III 66 Bungo Koto Tuo 12 IV
31 Ladang Lawas 17 III 67 Sipinang 12 IV
32 Koto Panjang 17 III 68 Pagadih 12 IV
33 Sianok 17 III 69 Taluk 11 V
34 Guguk Tabek Sarajo 17 III 70 Tiga Balai 11 V
35 Balingka 17 III 71 Tigo Koto Silungkang 11 V
36 Kampung Tangah 17 III 72 Parit Panjang 9 V
73 Sungai Puar 8 V
Sumber: data hasil olahan

Berdasar level kabupaten, maka wilayah Nagari Lubuk Basung dan Koto
Tangah merupakan wilayah inti sedangkan nagari-nagari lainnya menjadi
hinterland. Secara konseptual antara wilayah inti dan hinterland merupakan suatu
wilayah yang saling terkait secara sinergis. Wilayah inti berfungsi mendorong
dan memfasilitasi perkembangan wilayah hinterland dengan menyediakan
fasilitas pelayanan yang dibutuhkan, sedangkan wilayah hinterland lebih
berfungsi sebagai kawasan produksi yang bisa menjadi suplai bagi wilayah inti.
72
Namun, karena pemahaman tentang keterkaitan antara wilayah inti dan hinterland
masih lemah, maka program pembangunan yang seharusnya ditujukan untuk
mendorong keterkaitan antar wilayah, seolah-olah lepas dari dinamika keterkaitan
sosial ekonomi yang sudah ada. Terkait konsep diatas, seharusnya fasilitas
pelayanan yang ada di Nagari Lubuk Basung dikembangkan dan diarahkan untuk
memfasilitasi perkembangan wilayah hinterlandnya.

Sesuai dokumen rencana tata ruang wilayah (RTRW) Provinsi Sumatera


Barat bahwa Kabupaten Agam merupakan hinterlandnya Kota Bukittinggi.
Kondisi ini sesuai dengan fakta di lapangan bahwa perkembangan wilayah Kota
Bukittinggi lebih cepat dibandingkan dengan Kabupaten Agam. Upaya kedepan
yang sedang disusun kedua wilayah tersebut adalah menciptakan pertumbuhan
wilayah yang saling memperkokoh keterkaitan dan sinergis. Kabupaten Agam
dengan basis perekonomiannya pada sektor pertanian diharapkan dapat
meningkatkan produksi, produktivitas, dan daya saing, sedangkan Kota
Bukittinggi dengan basis perekonomiannya pada sektor perdagangan dapat
membangun fasilitas pelayanan untuk menampung produksi baik lokal maupun
wilayah sekitarnya.
Kota Bukittinggi merupakan kota kedua di Sumatera Barat, setelah Padang.
Bukittinggi telah berkembang menjadi pusat perdagangan konveksi untuk
kawasan Sumatera, sehingga disebut sebagai Tanah Abang kedua. Selain itu dan
yang selalu melekat padanya adalah sebagai kota wisata karena keelokan
pemandangan alamnya dan kesejukan udaranya. Kota ini merupakan sebuah kota
dataran tinggi yang strategis, mempunyai pemandangan alam yang indah. Faktor
alam ini telah menjadi pendukung bagi pertumbuhan dan perkembangan kota
Bukittinggi, sehingga menjadi kota terpenting di Sumatera Barat. Secara
geografis, wilayah ini dapat dijangkau dalam waktu yang relatif singkat dari
daerah-daerah dataran tinggi lainnya dan tidak mengherankan kalau Bukittinggi
sepanjang sejarahnya memainkan peranan yang penting, baik sebagai pusat
pemerintahan maupun pusat perdagangan dan pendidikan sejak masa Pemerintah
Hindia Belanda. Pada sisi lain, faktor alam itu pun menjadi penghambat
perkembangan keruangan kotanya, kecuali ke arah Selatan yang daerahnya relatif
datar. Daerah Selatan dapat disebut menjadi daerah yang terbuka karena didukung
73
pula oleh posisinya yang mengarah ke Padang, ibukota Provinsi Sumatera Barat.
Berdasarkan hal tersebut, perkembangan pembangunan di kota ini lebih cepat
dibandingkan daerah lain seperti Kabupaten Agam. Disamping itu, karena
posisinya sangat dekat dengan Kabupaten Agam dan pertumbuhan ekonominya
didorong oleh sektor perdagangan maka wilayah ini merupakan wilayah inti yang
dapat berfungsi sebagai pasar bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri
dari Kabupaten Agam sebagai hinterlandnya.
Tabel 15 Hirarki Nagari dalam Kabupaten Agam Berdasarkan Jumlah Fasilitas
Pelayanan
No Nagari Jumlah Hirarki No Nagari Jumlah Hirarki
Fasilitas Fasilitas
1 Lubuk Basung 840 I 37 Garagahan 136 V
2 Koto Tangah 779 I 38 Lawang 132 V
3 Kapau 529 II 39 Tiku V Jorong 131 V
4 Magek 527 II 40 Padang Tarok 124 V
5 Gadut 521 II 41 Tigo Koto Silungkang 124 V
6 Kamang Mudiak 509 II 42 Matua Hilia 117 V
7 Guguk Tabek Sarajo 504 II 43 Panampung 116 V
8 Koto Gadang 465 III 44 Lasi 115 V
9 Padang Laweh 406 III 45 Matua Mudiak 114 V
10 Selaras Aia 397 III 46 Canduang Koto Laweh 112 V
11 Batu Taba 356 III 47 Ampang Gadang 110 V
12 Duo Koto 341 III 48 Siltalang 110 V
13 Pakan Sinayan 322 IV 49 Simarasok 109 V
14 Lambah 320 IV 50 Cingkariang 107 V
15 Kamang Hilia 314 IV 51 Padang Lua 105 V
16 Kubang Putih 312 IV 52 Bukit Batabuah 100 V
17 Manggopoh 250 IV 53 Sipinang 100 V
18 Baringin 238 IV 54 Koto Tinggi 97 V
19 Tanjung Sani 214 IV 55 Sianok 90 V
20 Biaro Gadang 212 IV 56 Nan Tujuah 87 V
21 Kampung Pinang 196 IV 57 Koto Kaciak 87 V
22 Maninjau 190 IV 58 Koto Panjang 85 V
23 Tabek Panjang 187 IV 59 Malalak 81 V
24 Pasie 186 IV 60 Bungo Koto Tuo 79 V
25 Balingka 182 IV 61 Taluk 77 V
26 Panta Pauh 171 V 62 Koto Tuo 74 V
27 Tigo Koto 166 V 63 Batagak 61 V
28 Tiku Utara 164 V 64 Sungai Landia 56 V
29 Tiku Selatan 160 V 65 Batu Palano 56 V
30 Ampek Koto Palembayan 154 V 66 Sariak 55 V
31 Bayur 152 V 67 Batu Kambing 55 V
32 Sungai Batang 150 V 68 Tiga Balai 48 V
33 Balai Gurah 147 V 69 Sungai Pua 47 V
34 Kampung Tangah 146 V 70 Koto Rantang 44 V
35 Pasie Laweh 141 V 71 Pagadih 37 V
36 Ladang Lawas 137 V 72 Sungai Puar 30 V
73 Parit Panjang 26 V
Sumber: data hasil olahan
Hasil analisis skalogram berdasarkan indeks perkembangan nagari (IPN)
seperti Tabel 16, juga menunjukan bahwa Nagari Lubuk Basung dan Nagari Koto
Tangah berada pada hirarki I. Karena itu, dapat dikatakan bahwa Lubuk Basung
74
dan Koto Tangah secara realitas telah menjadi pusat bagi berbagai aktivitas
seperti pemerintahan, perdagangan, kesehatan, pendidikan, permukiman, dan
sebagainya.
Tabel 16 Hirarki Nagari dalam Kabupaten Agam Berdasarkan Indeks
Perkembangan Nagari (IPN)
No Nagari IPN Hirarki No Nagari IPN Hirarki
1 Lubuk Basung 80,90 I 37 Bukit Batabuah 17,43 V
2 Koto Tangah 68,63 I 38 Nan Tujuah 17,05 V
3 Kapau 65,70 II 39 Lawang 16,79 V
4 Gadut 61,03 II 40 Garagahan 16,09 V
5 Selaras Aia 42,68 III 41 Panampung 16,02 V
6 Manggopoh 41,60 III 42 Siltalang 15,61 V
7 Tiku Selatan 41,21 III 43 Kampung Pinang 15,44 V
8 Duo Koto 40,14 III 44 Malalak 15,27 V
9 Pakan Sinayan 37,89 III 45 Kampung Tangah 15,23 V
10 Kamang Hilia 36,68 III 46 Padang Lua 13,42 V
11 Padang Laweh 34,06 III 47 Koto Kaciak 12,76 V
12 Panta Pauh 32,87 IV 48 Ampang Gadang 12,55 V
13 Biaro Gadang 32,56 IV 49 Pagadih 12,49 V
14 Magek 31,77 IV 50 Batu Taba 12,41 V
15 Tigo Koto 30,80 IV 51 Cingkariang 12,12 V
16 Kamang Mudiak 29,98 IV 52 Balai Gurah 11,76 V
17 Matua Mudiak 28,53 IV 53 Bayur 11,61 V
18 Tanjung Sani 27,93 IV 54 Koto Panjang 11,57 V
19 Ampek Koto Palembayan 27,82 IV 55 Sianok 11,56 V
20 Lambah 27,39 IV 56 Sungai Landia 11,01 V
21 Kubang Putih 25,73 IV 57 Maninjau 10,91 V
22 Sungai Batang 25,04 IV 58 Koto Tinggi 10,24 V
23 Canduang Koto Laweh 23,42 IV 59 Koto Rantang 9,88 V
24 Baringin 23,10 IV 60 Batagak 9,25 V
25 Tabek Panjang 23,04 IV 61 Simarasok 9,16 V
26 Pasie Laweh 21,53 IV 62 Koto Tuo 8,81 V
27 Padang Tarok 21,21 IV 63 Batu Palano 8,05 V
28 Lasi 20,95 IV 64 Batu Kambing 8,05 V
29 Tigo Koto Silungkang 20,73 IV 65 Pasie 8,04 V
30 Tiku Utara 19,91 IV 66 Sariak 7,94 V
31 Ladang Lawas 19,58 IV 67 Bungo Koto Tuo 7,91 V
32 Matua Hilia 19,26 IV 68 Sipinang 7,75 V
33 Tiku V Jorong 18,95 IV 69 Sungai Pua 7,35 V
34 Koto Gadang 18,35 IV 70 Tiga Balai 7,15 V
35 Balingka 18,31 IV 71 Taluk 4,78 V
36 Guguk Tabek Sarajo 17,77 IV 72 Sungai Puar 3,23 V
73 Parit Panjang 1,84 V
Sumber: Data hasil olahan

Lubuk Basung dan Koto Tangah memiliki fasilitas industri dan pendidikan
yang lebih banyak dibandingkan nagari-nagari lainnya. Selain itu, fasilitas-
fasilitas lainnya yang cukup berkembang seperti toko, warung, pasar, bank,
hotel/penginapan, lembaga pendidikan ketrampilan, wartel, praktek dokter/bidan,
dan fasilitas kesehatan lainnya.
Pola spasial keterkaitan antar hirarki pusat-pusat aktivitas dan jalan yang
menghubungkannya mempunyai peran yang sangat penting dalam mewujudkan
75
keberimbangan antar wilayah dan membangun interaksi antar wilayah yang saling
memperkuat. Menurut Smith (1976), terdapat tiga jenis pola spasial yang
mengakibatkan suatu wilayah selalu berada dalam kondisi tertinggal, yaitu:
1) dendritic system, pola yang akan mendorong kearah terjadinya eksploitasi
sumberdaya perdesaan; 2) solar system, posisi tawar dari wilayah perdesaan
menjadi semakin lemah sehingga kehidupan masyarakat desa tidak banyak
mengalami peningkatan; dan 3) network system, berbeda dengan kedua sistem
sebelumnya yaitu membuat posisi tawar wilayah perdesaan semakin kuat karena
jalan-jalan yang dibangun harus bisa menghubungkan pusat produksi yang satu
dengan pusat produksi lain atau antara wilayah yang satu dengan wilayah yang
lain agar interaksi antar masyarakat di pusat produksi yang berbeda bisa
mendorong munculnya kelembagaan masyarakat yang memiliki posisi tawar yang
kuat. Sistem ini juga mengharuskan untuk membangun jalan-jalan yang bisa
menghubungkan pusat produksi dengan beberapa pusat pasar yang umumnya
berhirarki lebih tinggi.
Berikutnya, menurut Smith (1976), pola spasial yang bisa mendorong
pembangunan wilayah adalah pola spasial yang berhirarki di wilayah perdesaan-
kota kecil kota menengah kota besar, dan polanya tidak dendritik. Untuk
menghilangkan kontrol dari hirarki wilayah yang lebih tinggi, harus dibangun
jalan yang bisa menghubungi wilayah yang berhirarki lebih rendah dengan
beberapa wilayah lain yang berhirarki lebih tinggi. Wilayah yang berhirarki
rendah ini akan bisa memilih untuk melakukan transaksi dengan wilayah yang
berhirarki tinggi yang mampu menawarkan harga yang lebih kompetitif. Selain
itu juga akan terjadi kompetisi diantara wilayah yang berhirarki sama untuk
menyediakan pelayanan yang lebih baik. Selanjutnya, jalan-jalan antar desa juga
perlu dibangun untuk mendorong terjadinya transaksi antar desa, atau terjadinya
transaksi antar wilayah yang berhirarki sama. Kondisi ini akan mendorong
terbentuknya sistem cluster di perdesaan dan diharpkan mampu memperkuat
economic of scale, economic of scope, dan posisi tawar dari aktivitas ekonomi
wilayah tersebut. Semua ini membutuhkan suatu proses, karena investasi untuk
membangun jaringan jalan dan mengembangkan kota-kota kecil menengah juga
juga sangat mahal. Mengacu uraian diatas, maka pola spasial keterkaitan antara
76
hirarki pusat-pusat aktivitas dan keberadaan jalur jalan di Kabupaten Agam dapat
dianalisis sebagai dasar untuk membangun pola spasial yang lebih mendorong
perkembangan wilayah dimasa yang akan datang.
Berdasarkan hasil analisis, dimana posisi masing-masing hirarki dipetakan
melalui centroidnya, maka baik wilayah inti maupun hinterland terlihat ada yang
tepat berada di dekat fasilitas jalan dan ada yang jauh dari fasilitas jalan (Gambar
10,11, dan 12). Nagari-nagari yang berada jauh dari fasilitas jalan umumnya
wilayah yang termasuk hirarki III, IV, dan V. Wilayah yang memiliki fasilitas
pelayanan yang jauh dari jalan tersebut, umumnya yang terdapat di Agam bagian
barat dan tengah, sedangkan di bagian timur rata-rata berada di dekat fasilitas
jalan. Dengan demikian, perkembangan wilayah di bagian timur relatif
dipengaruhi fasilitas jalan. Hal ini dipengaruhi oleh perkembangan Kota
Bukittinggi sebagai kota wisata dan perdagangan. Kondisi ini menggambarkan
bahwa perkembangan Kota Bukittinggi sangat mempengaruhi perkembangan
fasilitas pelayanan terutama fasilitas perdagangan, sedangkan di tengah dan barat
aktivitas pembangunan di Kabupaten Agam relatif belum memberikan pengaruh
besar terhadap wilayah sekitarnya karena terkendala faktor fisik wilayah sehingga
fasilitas jalan tidak mempengaruhi secara langsung tumbuhnya fasilitas pelayanan
lainnya, akan tetapi polanya juga mendekati perkembangan fasilitas wilayah yang
ada di sekitar Kota Bukittinggi.
Untuk Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung dan Koto Tangah
Kecamatan Koto Tangah, dimana keduanya merupakan wilayah berhirarki I
ternyata tidak berada di sepanjang jalan nasional, akan tetapi berada di dekat jalan
kabupaten. Meskipun tidak berada dekat jalan nasional, tetapi mutu jalan
provinsi dan kabupaten yang baik, maka sangat menunjang bagi perkembangan
kedua wilayah tersebut.
77

Gambar 10 Hirarki Fasilitas Pelayanan di Kabupaten Berdasarkan Jumlah Jenis


Fasilitas

Gambar 11 Hirarki Fasilitas Pelayanan di Kabupaten Berdasarkan Jumlah


Fasilitas
78

Gambar 12 Hirarki Fasilitas Pelayanan di Kabupaten Agam Berdasarkan Indeks


Perkembangan Nagari (IPN)
Apabila pola spasial tersebut dikaitkan dengan upaya pengembangan
wilayah perdesaan, akan terlihat bahwa aliran sumber daya dari desa ke kota lebih
memberikan nilai tambah bagi masyarakat wilayah perkotaan daripada
masyarakat desa. Jaringan jalan yang ada menunjukkan suatu pola yang bisa
mendorong terjadinya pengurasan sumber daya perdesaan.

Pola jaringan jalan yang berkembang di Kabupaten Agam adalah pola


dendritic, yaitu jalan-jalan kabupaten yang dibangun pada akhirnya bermuara
pada jalan nasional, yang kemudian kemudian langsung berhubungan dengan kota
besar tanpa adanya perantara kota-kota kecil dan menengah, kalaupun ada kota-
kota kecil menengah yang dilewatinya, perannya justru lebih ditujukan sebagai
pusat pemerintahan, daripada pusat pelayanan untuk memfasilitasi kepentingan
masyarakat perdesaan (Smith, 1976).

Analisis Tipologi Wilayah


Analisis tipologi wilayah digunakan untuk mengidentifikasi karakteristik
wilayah. Proses analisis tipologi terhadap nagari di wilayah penelitian yang
didasarkan pada data Potensi Desa (Podes) tahun 2006 yang dikeluarkan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) dan data sekunder lainnya yang berasal dari Pemda
79
Kabupaten Agam tahun 2006. Pada mulanya peubah/variabel yang digunakan
adalah 123 (seratus dua puluh tiga) variabel penjelas yang selanjutnya
disederhanakan menjadi 53 (lima puluh tiga variabel penjelas) dengan asumsi
berkaitan secara nyata dengan pembangunan wilayah dan masalah kesenjangan.
Analisis dilakukan terhadap 73 (tujuh puluh tiga) nagari yang ada di Kabupaten
Agam, karena salah satu tujuan dari penelitian ini adalah membuat tipologi
wilayah Kabupaten Agam berdasarkan data-data spasial dan data sosial-ekonomi.

a. Analisis Komponen Utama (Principal Component Analysis/PCA)


Tujuan analisis komponen utama adalah untuk mendapatkan variabel baru
yang jauh lebih sedikit dari variabel asalnya, namun kandungan informasinya
relatif tidak berubah. Dalam proses analisis ini mula-mula dilakukan seleksi
variabel berdasarkan pertimbangan kelengkapan data dan kemampuan variabel
tersebut dalam menjelaskan keragaman karakteristik wilayah, yang dalam hal ini
unit wilayah adalah nagari. Seleksi variabel atau peubah dilakukan melalui teknik
analisis komponen utama (Principal Component Analysis/PCA). Melalui analisis
ini dapat dikelompokkan peubah-peubah penting untuk menduga fenomena,
sekaligus memahami struktur dan melihat hubungan antar variabel di wilayah
studi.
Tabel 17 Eigenvalue Komponen-Komponen Utama
% Total Cumulative Cumulative
Faktor Eigenvalue variance Eigenvalue %

1. Kapasitas penunjang pariwisata 2.454330 16.36220 2.45433 16.3622


2. Tingkat kesejahteraan 1.867324 12.44882 4.32165 28.8110
3. Derajat kesehatan 1.623905 10.82603 5.94556 39.6371
4. Laju pertumbuhan penduduk 1.468364 9.78909 7.41392 49.4261
5. Kapasitas fasilitas keuangan 1.317482 8.78322 8.73140 58.2094
6. Kapasitas fasilitas dagangan 1.101347 7.34232 9.83275 65.5517
7. Kapasitas sarana pertanian 1.025904 6.83936 10.85866 72.3910
Sumber: Data hasil olahan

Proses analisis komponen utama terhadap nagari-nagari di Kabupaten Agam


menghasilkan 7 (tujuh) faktor yang merupakan komponen utama yang
berpengaruh secara signifikan terhadap perkembangan wilayah dan masalah
kesenjangan karena nilai eigenvaluenya diatas 1 (satu) dan sudah saling ortogonal.
Nilai kumulatif eigenvalue atau akar ciri dari komponen utama yang dihasilkan
adalah sebesar 72.39 persen seperti yang tertera pada Tabel 17 di atas. Angka ini
80
menunjukkan suatu deskripsi yang baik karena nilai akar ciri tersebut berada di
atas 70%. Nilai ini sudah memenuhi syarat proporsi keragaman yang dapat
dijelaskan.
Berdasarkan hasil analisis komponen utama ini seperti yang tercantum pada
Lampiran 9, variasi pembangunan wilayah di 73 (tujuh puluh tiga) nagari dapat
dapat dipresentasikan melalui faktor utama sebanyak 7 (tujuh) faktor dengan
uraian sebagai berikut:
1. Faktor utama 1, ada dua variabel asal yaitu rasio hotel/penginapan dan rasio
objek wisata. Faktor 1 merepresentasikan variasi kapasitas penunjang
pariwisata antar daerah. Semakin besar skor suatu daerah pada faktor ini,
semakin tinggi kapasitasnya sebagai penunjang pariwisata. Faktor ini positif
kaitannya dengan rasio hotel/penginapan dan rasio objek wisata. Nilai
keragaman data yang dapat dijelaskan oleh faktor 1 adalah 16.36 persen;
2. Faktor utama 2, ada dua variabel asal yaitu pangsa industri besar dan rasio
jumlah keluarga yang tinggal ditepi sungai. Faktor 2 merepresentasikan
variasi tingkat kesejahteraan antar daerah. Semakin besar skor daerah pada
faktor ini, semakin renadah tingkat kesejahteraannya. Nilai keragaman data
yang dapat dijelaskan sebesar 12.45 persen;
3. Faktor utama 3 terdiri dari dua variabel asal yaitu, pangsa tempat kegiatan
usaha jasa dan rasio tempat praktek dokter/bidan. Faktor 3 merepresentasikan
variasi derajat kesehatan masyarakat antar daerah. Semakin besar skor daerah
pada faktor ini, semakin rendah derajat kesehatan masyarakatnya. Nilai
keragaman data yang dapat dijelaskan sebesar 10.83 persen;
4. Faktor utama 4 terdiri dari dua variabel asal yaitu, kepadatan penduduk dan
luas lahan bukan sawah. Faktor 4 merepresentasikan variasi laju pertumbuhan
penduduk. Semakin besar skor daerah pada faktor ini, semakin tinggi laju
pertumbuhan penduduknya. Faktor ini positif kaitannya dengan kepadatan
penduduk dan luas lahan bukan sawah. Nilai keragaman data yang dapat
dijelaskan sebesar 9.79 persen;
5. Faktor utama 5 terdiri dari satu variabel asal yaitu, pangsa KUD. Faktor 5
merepresentasikan variasi kapasitas fasilitas keuangan. Semakin besar skor
81
daerah pada faktor ini, semakin rendah kapasitas fasilitas keuangan suatu
daerah. Nilai keragaman data yang dapat dijelaskan sebesar 8.78 persen;
6. Faktor utama 6 terdiri dari satu variabel asal yaitu, rasio swalayan. Faktor 6
merepresentasikan variasi kapasitas fasilitas perdagangan. Semakin besar skor
daerah pada faktor ini, semakin rendah kapasitas fasilitas perdagangan suatu
daerah. Nilai keragaman data yang dapat dijelaskan sebesar 7.34 persen;
7. Faktor utama 7 terdiri dari satu variabel asal yaitu, rasio kios saprodi pertanian
milik KUD dan non KUD. Faktor 7 merepresentasikan variasi kapasitas sarana
pertanian. Semakin besar skor daerah pada faktor ini, semakin rendah
kapasitas sarana pertanian suatu daerah. Nilai keragaman data yang dapat
dijelaskan sebesar 6.84 persen;
Terkait hal di atas, maka pembangunan wilayah dan permasalahan
kesenjangan di Kabupaten Agam ternyata direpresentasikan dengan faktor yang
berbeda antara kapasitas penunjang pariwisata, tingkat kesejahteraan, derajat
kesehatan, laju pertumbuhan penduduk, kapasitas fasilitas keuangan, kapasitas
fasilitas perdagangan, dan kapasitas sarana pertanian dan relatif tidak ada
kaitannya satu sama lain (independen). Namun demikian, variabel rasio
hotel/penginapan dan rasio objek wisata (faktor 1) dan variabel kepadatan
penduduk dan rasio luas lahan bukan sawah (faktor 4) relatif memiliki faktor
loading yang cukup besar.

b. Analisis Gerombol (Cluster Analysis)


Analisis gerombol dipergunakan untuk mendeskripsikan wilayah kedalam
kelompok wilayah yang lebih kecil dengan ciri-ciri yang spesifik dari nilai
variabel tersebut. Analisis ini merupakan analisis lanjutan dengan metode K-
Means. Berdasarkan tujuh faktor utama yang diperoleh dari analisis komponen
utama didapatkan 3 (tiga) kelompok besar nagari di Kabupaten Agam yakni
Kluster I, II, dan III.

Berdasarkan Tabel 18, terdapat 49 nagari (67 persen) termasuk kluster I,


kluster II sebanyak 8 nagari (11 persen) dan sisanya 16 nagari (22 persen) adalah
82
kluster III. Memperhatikan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa wilayah
Kabupaten Agam masih berada di kluster I.
Tabel 18 Hasil Analisis Gerombol per Nagari
NO Nagari KLUSTER NO Nagari KLUSTER
1 Cingkariang 1 37 Koto Rantang 1
2 Kubang Putih 1 38 Pasie Laweh 1
3 Padang Lua 1 39 Pagadih 1
4 Ladang Lawas 1 40 Nan Tujuah 1
5 Pakan Sinayan 1 41 Batu Palano 1
6 Koto Tinggi 1 42 Batagak 1
7 Tabek Panjang 1 43 Sungai Pua 1
8 Padang Tarok 1 44 S ariak 1
9 Bungo Koto Tuo 1 45 Duo Koto 1
10 Canduang Koto Laweh 1 46 Koto Kaciak 1
11 Bukit Batabuah 1 47 Gadut 1
12 Balai Gurah 1 48 Koto Tangah 1
13 Batu Taba 1 49 Kapau 1
14 Pasie 1 50 Kampung Tangah 2
15 Panampung 1 51 Kampung Pinang 2
16 Biaro Gadang 1 52 Parit Panjang 2
17 Ampang Gadang 1 53 Padang Laweh 2
18 Lambah 1 54 Tiku Selatan 2
19 Sianok 1 55 Tiku Utara 2
20 Guguk Tabek Sarajo 1 56 Tiku V Jorong 2
21 Sungai Landia 1 57 Maninjau 2
22 Magek 1 58 Taluk 3
23 Kamang Hilia 1 59 Simarasok 3
24 Kamang Mudiak 1 60 Lasi 3
25 Garagahan 1 61 Koto Tuo 3
26 Manggopoh 1 62 Koto Panjang 3
27 Lubuk Basung 1 63 Koto Gadang 3
28 Tiga Balai 1 64 Balingka 3
29 Matua Hilia 1 65 Malalak 3
30 Lawang 1 66 Siltalang 3
31 Panta Pauh 1 67 Ampek Koto 3
32 Tigo Koto Silungkang 1 68 Matua Mudiak 3
33 Sungai Puar 1 69 Selaras Aia 3
34 Ampek Koto Palembayan 1 70 Tigo Koto 3
35 Baringin 1 71 Sungai Batang 3
36 Sipinang 1 72 Tanjung Sani 3
73 Bayur 3
Sumber: Data hasil olahan
Terkait Tabel 19, 20 dan Gambar 13, untuk mengetahui faktor penciri
masing-masing kluster maka nilai rataan masing-masing faktor dibandingkan
dengan nilai jarak eucledian (0.70 dan -0.70), sehingga faktor-faktor yang berada
di bawah 0.70 dan di atas -0.70 termasuk kategori sedang, nilai faktor yang di atas
0.70 kategori tinggi dan nilai faktor dibawah -0.70 kategori rendah. Nilai rataan
tersebut dapat mempresentasekan faktor yang dominan mempengaruhi
perkembangan wilayah.

Berdasarkan pedoman di atas, karena nilai rataan seluruh faktor pada kluster
I berada di bawah 0.7 dan di atas -0.7, maka wilayah yang termasuk kategori ini
relatif memiliki faktor penciri sedang untuk semua faktor. Artinya, semua faktor
merepresentasikan perkembangan wilayah ini termasuk kategori sedang.
83
Tabel 19 Karakteristik Kluster Wilayah di Kabupaten Agam
Variabel Kluster 1 Kluster 2 Kluster 3
1. Kapasitas penunjang pariwisata -0.168870 0.69731 0.168508

2. Tingkat kesejahteraan 0.183636 -1.01390 -0.055434

3. Derajat kesehatan -0.330413 0.41367 0.805056

4. Laju pertumbuhan penduduk -0.181063 1.72458 -0.307782

5. Kapasitas fasilitas keuangan -0.269993 -0.51684 1.085275

6. Kapasitas fasilitas perdagangan 0.043902 -0.92777 0.329438

7. Kapasitas sarana pertanian -0.144641 -0.18001 0.532966


Sumber: Data hasil olahan

Tabel 20 Nilai Rataan Hasil Analisis Gerombol


Variabel Kluster 1 Kluster 2 Kluster 3
1. Kapasitas penunjang pariwisata Sedang Sedang Sedang

2. Tingkat kesejahteraan Sedang Rendah Sedang

3. Derajat kesehatan Sedang Sedang Tinggi

4. Laju pertumbuhan penduduk Sedang Tinggi Sedang

5. Kapasitas fasilitas keuangan Sedang Sedang Tinggi

6. Kapasitas fasilitas perdagangan Sedang Rendah Sedang

7. Kapasitas sarana pertanian Sedang Sedang Sedang


Sumber: Data hasil olahan

Plot of Means for Each Cluster


2.5

2.0

1.5

1.0 Tinggi

0.5

0.0 Sedang

-0.5

-1.0

-1.5 Rendah

-2.0 Cluster 1
Faktor 1 Faktor 3 Faktor 5 Faktor 7
Cluster 2
Faktor 2 Faktor 4 Faktor 6
Cluster 3
Variabel-variabel

Gambar 13 Grafik Nilai Tengah Kelompok Variabel-Variabel Analisis Gerombol


pada Masing-Masing Nagari di Kabupaten Agam
Kluster II memiliki nilai rata-rata tertinggi pada laju pertumbuhan penduduk
(1.72458) namun rendah pada kapasitas sarana perdagangan (-0.92777) dan
tingkat kesejahteraan (-1.01390). Wilayah yang termasuk kluster ini digambarkan
84
dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk tetapi kapasitas sarana perdagangan
masih belum mampu mempengaruhi perkembangan wilayah apalagi
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa
wilayah ini memiliki tingkat perkembangan rendah.
Sedangkan kluster III dicirikan dengan nilai rata-rata tertinggi pada faktor
derajat kesehatan (0.805056) dan kapasitas fasilitas keuangan (1.085275) dan
faktor lainnya memiliki nilai rata-rata sedang. Wilayah yang termasuk kategori
ini digambarkan dengan tingginya kapasitas fasilitas keuangan dalam menunjang
perkembangan wilayah dan telah mampu meningkatkan kesejahteraan
masyarakatnya. Dengan demikian, wilayah nagari dengan karakteristik ini
memiliki tingkat perkembangan yang tinggi.

Berdasarkan lokasinya (Gambar 14), sebagian besar nagari yang berada


di Kabupaten Agam bagian tengah dan beberapa nagari di bagian barat dan timur
termasuk kluster I. Wilayah yang termasuk kluster II meliputi beberapa nagari
di bagian barat, dan sedikit di tengah dan timur, sedangkan kluster III meliputi
beberapa nagari di bagian barat, tengah dan sedikit di timur. Dengan demikian,
wilayah bagian tengah memiliki tingkat perkembangan wilayah yang relatif belum
berkembang, bagian barat dan timur relatif cukup berkembang hingga tinggi.

Kajian selanjutnya, Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung dan


Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang berdasarkan analisis gerombol
berada di kluster I (cukup berkembang), akan tetapi hasil analisis hirarki wilayah
dengan metode skalogram baik berdasarkan jumlah jenis fasilitas, jumlah fasilitas,
dan indeks perkembangan nagari (IPN) termasuk hirarki I (pusat aktivitas).
Kondisi ini tidak sesuai dengan konsep wilayah nodal bahwa pusat aktivitas
cenderung memiliki tingkat perkembangan wilayah tinggi karena pusat wilayah
berfungsi sebagai: (1) tempat terkosentrasinya penduduk (permukiman); (2) pasar
bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri; (3) pusat pelayanan terhadap
daerah hinterland; dan (4) lokasi pemusatan industri manufaktur, yang diartikan
sebagai kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan
output tertentu. Sedangkan faktanya menunjukkan bahwa Nagari Lubuk Basung
Kecamatan Lubuk Basung saat ini merupakan pusat pemerintahan Kabupaten
Agam sedangkan Nagari Koto Tangah merupakan wilayah yang dipengaruhi oleh
85
perkembangan Kota Bukittinggi sebagai kota perdagangan. Untuk itu,
pengelompokkan wilayah dengan pendekatan yang berbeda ini masih perlu
dilanjutkan dengan analisis lanjutan yakni analisis diskriminan sehingga dapat
diketahui secara jelas faktor penciri dari masing-masing kelompok.

Gambar 14 Peta Kluster Wilayah Kabupaten Agam

c. Analisis Fungsi Diskriminansi (Diskriminant Function Analysis/DFA)


Analisis faktorial diskriminan dilakukan setelah analisis gerombol
(kelompok). Analisis ini berfungsi untuk memilih faktor-faktor yang paling
mencirikan tipologi wilayah yang didapat dari hasil analisis kelompok, artinya
faktor-faktor mana saja yang menjadi penciri atau yang paling berpengaruh
terhadap tipologi wilayah masing-masing.
Berdasarkan Tabel 21 dan 22 diperoleh gambaran bahwa analisis fungsi
diskriminan ini memiliki ketepatan pengelompokan untuk tipologi I sebesar 100
persen dengan jumlah anggota sebanyak 51 nagari (70 persen). Begitupula pada
tipologi II dan III masing-masing mempunyai ketepatan pengelompokkan sebesar
100 persen juga dengan jumlah anggota masing-masing 8 nagari (11 persen) dan
14 nagari (19 persen). Artinya, hasil analisis diskriminan telah tepat
mengelompokkan wilayah nagari berdasarkan variabel penciri yang ada dan
sebagian besar wilayah Kabupaten Agam termasuk tipologi I.
86
Tabel 21 Matriks Tipologi Nagari Hasil Analisis Fungsi Diskriminan (DFA)
No. Tipologi Ketepatan Tipologi I Tipologi II Tipologi III
Pengelompokkan (persen) p= 0.69863 p=0.10959 (p=0.19178)
1 I 100.0000 51 0 0
2 II 100.0000 0 8 0
3 III 100.0000 0 0 14
Total 100.0000

Tabel 22 Hasil Analisis Diskriminan Masing-Masing Nagari


No. Nagari Tipologi No. Nagari Tipologi
1 Cingkariang 1 37 Kapau 1
2 Kubang Putih 1 38 Kampung Pinang 1
3 Padang Lua 1 39 Parit Panjang 1
4 Ladang Lawas 1 40 Padang Laweh 1
5 Pakan Sinayan 1 41 Tiku Selatan 1
6 Koto Tinggi 1 42 Tiku Utara 1
7 Tabek Panjang 1 43 Maninjau 1
8 Padang Tarok 1 44 Taluk 1
9 Canduang Koto Laweh 1 45 Simarasok 1
10 Bukit Batabuah 1 46 Lasi 1
11 Balai Gurah 1 47 Balingka 1
12 Batu Taba 1 48 Tigo Koto 1
13 Panampung 1 49 Sungai Batang 1
14 Biaro Gadang 1 50 Tanjung Sani 1
15 Ampang Gadang 1 51 Bayur 1
16 Lambah 1 52 Sipinang 2
17 Sianok 1 53 Pasie Laweh 2
18 Guguk Tabek Sarajo 1 54 Batu Palano 2
19 Sungai Landia 1 55 Tiku V Jorong 2
20 Kamang Hilia 1 56 Koto Tuo 2
21 Kamang Mudiak 1 57 Koto Panjang 2
22 Garagahan 1 58 Koto Gadang 2
23 Matua Hilia 1 59 Selaras Aia 2
24 Tigo Koto Silungkang 1 60 Bungo Koto Tuo 3
25 Sungai Puar 1 61 Pasie 3
26 Ampek Koto Palembayan 1 62 Magek 3
27 Baringin 1 63 Manggopoh 3
28 Koto Rantang 1 64 Lubuk Basung 3
29 Pagadih 1 65 Tiga Balai 3
30 Nan Tujuah 1 66 Lawang 3
31 Batagak 1 67 Panta Pauh 3
32 Sungai Pua 1 68 S ariak 3
33 Duo Koto 1 69 Kampung Tangah 3
34 Koto Kaciak 1 70 Malalak 3
35 Gadut 1 71 Siltalang 3
36 Koto Tangah 1 72 Tigo Koto 3
73 Matua Mudiak 3
Sumber: Data hasil olahan

Wilayah yang termasuk tipologi I, II dan III (Tabel 23 dan 24) dicirikan
dengan nilai rataan masing-masing faktor penciri utama yang dibandingkan
dengan nilai jarak eucledian yaitu 0.70 dan -0.70. Tipologi I digambarkan dengan
nilai rataan faktor-faktor tersebut dibawah 0.70 dan di atas -0.70 dari nilai jarak
eucledian sehingga termasuk kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa
karakteristik wilayah yang termasuk tipologi ini relatif sedang berkembang.

Tipologi II, ada enam penciri kelompok yang paling berpengaruh yakni:
kapasitas penunjang pariwisata (2.4819), laju pertumbuhan penduduk (7.1372),
87
tingkat kesejahteraan (-3.7168), kapasitas fasilitas keuangan (-3.9489), kapasitas
fasilitas perdagangan (-4.0879), dan kapasitas sarana pertanian (-1.4638). Faktor
kapasitas penunjang pariwisata dan laju pertumbuhan penduduk adalah positif.
Artinya, pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini telah meningkatkan
kapasitas penunjang pariwisata dan laju pertumbuhan penduduk. Namun
demikian belum mampu meningkatkan kesejahteraan, kapasitas fasilitas
keuangan, kapasitas fasilitas perdagangan, dan kapasitas sarana pertanian, maka
tipologi ini memiliki ciri pembangunan wilayah dengan kapasitas penunjang
pariwisata dan laju pertumbuhan yang tinggi, namun masih belum mampu
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, Dengan demikian, wilayah yang
termasuk tipologi II relatif kurang berkembang.
Tabel 23 Fungsi Klasifikasi/Pengelompokkan Analisis Fungsi Diskriminan
No Variabel Tipologi I Tipologi II Tipologi III
p= .69863 p=.10959 p=.19178
1 Kapasitas penunjang pariwisata) -0.302593 2.4819 -0.31591
2 Tingkat kesejahteraan 0.397003 -3.7168 0.67766
3 Derajat kesehatan -0.647557 0.2946 2.19062
4 Laju pertumbuhan penduduk -0.351289 7.1372 -2.79871
5 Kapasitas fasilitas keuangan -0.614025 -3.9489 4.49333
6 Kapasitas fasilitas perdagangan 0.090331 -4.0879 2.00686
7 Kapasitas sarana pertanian -0.249014 -1.4638 1.74358
Constant -0.632611 -14.2244 -6.69354
Sumber: Data hasil olahan
Tabel 24 Nilai Rataan Hasil Analisis Diskriminan
Variabel Tipologi 1 Tipologi 2 Tipologi 3
1. Kapasitas penunjang pariwisata Sedang Tinggi Sedang
2. Tingkat kesejahteraan Sedang Rendah Sedang
3. Derajat kesehatan Sedang Sedang Tinggi
4. Laju pertumbuhan penduduk Sedang Tinggi Rendah
5. Kapasitas fasilitas keuangan Sedang Rendah Tinggi
6. Kapasitas fasilitas perdagangan Sedang Rendah Tinggi
7. Kapasitas sarana pertanian Sedang Rendah Tinggi
Sumber: Data hasil olahan
Tipologi III, ada lima penciri kelompok yang paling berpengaruh yakni:
derajat kesehatan (2.19062), laju pertumbuhan penduduk (-2.79871), kapasitas
fasilitas keuangan (4.49333), kapasitas fasilitas perdagangan (2.00686), dan
kapasitas sarana pertanian (1.74358. Faktor derajat kesehatan, kapasitas fasilitas
keuangan, kapasitas fasilitas perdagangan, dan kapasitas sarana pertanian adalah
88
positif. Artinya, pembangunan yang telah dilaksanakan selama ini telah
meningkatkan derajat kesehatan, kapasitas fasilitas keuangan, kapasitas fasilitas
perdagangan, dan kapasitas sarana pertanian, dan hanya memperlihatkan laju
pertumbuhan penduduk yang rendah maka tipologi ini memiliki ciri pembangunan
yang relatif tinggi dibandingkan tipologi lainnya.

Gambar 15 Peta Tipologi Wilayah Kabupaten Agam

Berdasarkan lokasinya (Gambar 15), sebagian besar nagari yang berada


di Kabupaten Agam bagian tengah dan timur termasuk tipologi I. Wilayah yang
termasuk tipologi II meliputi beberapa nagari di bagian barat dan tengah serta
sedikit di timur, sedangkan tipologi III meliputi beberapa nagari di bagian barat,
sedikit ditengah dan timur. Dengan demikian, wilayah bagian tengah memiliki
tingkat perkembangan wilayah yang relatif belum berkembang, bagian barat dan
timur relatif cukup berkembang hingga tinggi.

Kajian selanjutnya, Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung


berdasarkan analisis diskriminan ternyata berada di tipologi III (paling
berkembang), hal ini telah sesuai dengan hasil analisis hirarki wilayah dengan
metode skalogram baik berdasarkan jumlah jenis fasilitas, jumlah fasilitas, dan
indeks perkembangan nagari (IPN) termasuk hirarki I (pusat aktivitas). Kondisi
ini telah sesuai juga dengan konsep wilayah nodal bahwa pusat aktivitas
89
cenderung memiliki tingkat perkembangan wilayah tinggi karena pusat wilayah
berfungsi sebagai: (1) tempat terkosentrasinya penduduk (permukiman); (2) pasar
bagi komoditi-komoditi pertanian maupun industri; (3) pusat pelayanan terhadap
daerah hinterland; dan (4) lokasi pemusatan industri manufaktur, yang diartikan
sebagai kegiatan mengorganisasikan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan
output tertentu. Faktanya dilapangan juga menunjukkan bahwa Nagari Lubuk
Basung Kecamatan Lubuk Basung saat ini merupakan pusat pemerintahan
Kabupaten Agam.
Dalam rangka pengembangan wilayah, maka wilayah yang termasuk
tipologi I merupakan lokasi investasi yang sangat menarik karena sarana dan
prasarana ekonomi yang relatif lengkap, sarana perhubungan yang sudah baik,
serta sarana kesehatan yang memadai.

Analisis Interaksi Spasial


Interaksi spasial adalah istilah umum mengenai pergerakan spasial dan
aktifitas-aktifitas manusia, dua prinsip pokok interaksi spasial adalah :
1. Mesin penggerak dari pergerakan dan kekuatan dorong/tarik dari supply-
demand;
2. Penghambat pergerakan dan pengaruh friction dan distance.
Interaksi spasial antara dua tempat dipengaruhi oleh produksi yang
dihasilkan oleh masyarakat di dua tempat tersebut dan besarnya pengaruh jarak
antara dua tempat tersebut. Interaksi spasial merupakan suatu mekanisme yang
menggambarkan dinamika yang terjadi di suatu wilayah karena adanya intervensi
yang dilakukan oleh sumber daya manusia di dalam wilayah tersebut, ini
mencakup mobilitas kerja, migrasi, arus informasi, arus komoditas, pemanfaatan
fasilitas pribadi dan fasilitas umum.
Analisis Interaksi Spasial mempelajari hubungan yang berupa pergerakan
komoditi, barang-barang, orang, informasi, dan lainnya antara titik-titik dalam
ruang. Analisis ini menekankan pada saling ketergantungan dari tempat dan area.
Interaksi spasial semakin menurun karena jarak. Analisis ini digunakan untuk
mengetahui tingkat interaksi wilayah dengan menggunaan metode gravitasi
model. Variabel-variabel yang dipergunakan adalah pergerakan orang dan barang
90
serta jarak. Variabel dimaksud merupakan data yang berasal dari sektor
transportasi.

Sektor transportasi dikenal sebagai salah satu mata rantai jaringan distribusi
barang dan penumpang telah berkembang sangat dinamis serta berperan di dalam
menunjang pembangunan politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan
keamanan. Pertumbuhan sektor ini akan mencerminkan pertumbuhan ekonomi
secara langsung sehingga transportasi mempunyai peranan yang penting dan
strategis. Keberhasilan sektor transportasi dapat dilihat dari kemampuannya dalam
menunjang serta mendorong peningkatan ekonomi nasional, regional dan lokal,
stabilitas politik termasuk mewujudkan nilai-nilai sosial dan budaya yang
diindikasikan melalui berbagai indikator transportasi antara lain: kapasitas,
kualitas pelayanan, aksesibilitas keterjangkauan, beban publik dan utilisasi.

Model sistem transportasi jalan untuk suatu wilayah studi terdiri dari dua
elemen model yakni sistem zona dan sistem jaringan jalan. Sistem zona terdiri
dari zona-zona yang membagi daerah studi ke dalam beberapa bagian sebagai
tingkat agregrasi terkecil pembangkit dan penarik perjalanan. Umumnya zona
dilengkapi dengan pusat zona atau centroid yang diasumsikan sebagai titik awal
atau akhir perjalanan. Jaringan jalan terdiri dari ruas jalan atau link yang
umumnya diberi atribut panjang, kapasitas, dan kecepatan operasinya. Pertemuan
antar ruas jalan disebut dengan simpul atau node yang dapat berupa persimpangan
jalan (dengan atau tanpa lampu pengatur lalu lintas), sedangkan untuk studi
jaringan transportasi regional antar kota simpul dapat berupa kota. Untuk kajian
transportasi multi moda simpul dapat berarti juga terminal (bus, kereta api, bandar
udara, pelabuhan) sebagai awal dan akhir perjalanan dengan menggunakan moda
angkutan umum atau angkutan yang tidak berbasis operasi di jalan.
Dari hasil analisis model interaksi spasial diperoleh hasil seperti pada Tabel
15 dan dapat dijelaskan bahwa secara spasial pola interaksi melalui pergerakan
orang dan barang berdasarkan hasil estimasi yang dibangun dari 2 model pada
Bab III, menunjukkan signifikansi parameter interaksi spasial pergerakan
orang/barang nyata mempengaruhi pola interaksi antar wilayah. Hal ini berarti
bahwa untuk pola pergerakan barang/orang secara umum memiliki hubungan
yang saling memperkuat antar wilayah, bila diamati secara langsung kondisi
91
pergerakan orang/barang di Provinsi Sumatera Barat cenderung menunjukkan hal
diatas, dimana Kota Padang sebagai pusat pelayanan tingkat propinsi karena
merupakan ibukota Provinsi Sumatera Barat, kemudian menyebar ke beberapa
wilayah kabupaten/kota lainnya.

Dari 2 (dua) model yang dibangun memperlihatkan bahwa koefisien


determinasinya rata-rata 40 50 % (R2 0.40). R2 merupakan indeks
kemampuan prediksi suatu model atau untuk mengukur kekuatan hubungan antar
masing-masing variabel (Steve & Pierre, 2002). Variabel-variabel dependen yang
ditetapkan hanya mampu menerangkan sebagian model yang dibangun dari sistem
tersebut yaitu model transportasi trip pergerakan orang/barang dari wilayah asal
ke wilayah tujuan (T1ij/T2ij) dengan kendala jarak tempuh (d1ij).
Tabel 25 Hasil Pendugaan Parameter Interaksi Spasial Pergerakan Orang dan
Barang
No. Bentuk Model Gravitasi G R2
Konstanta Elastisitas Elastisitas Elastisitas Koefisien
Gravitasi Variabel Variabel Kendala Determinasi
Jumlah Jumlah Spasial
Peduduk Penduduk
Daerah Asal Daerah
Tujuan

1 -3.827 0.6245 0.5202 -0.9268*) 0.4847


T 1ij = G1 .Pi .Pj .d1ij

2 -16.066 1.0210 0.9524 -1.2222*) 0.3956


T 2 ij = G1 .Pi .Pj .d 2 ij
Sumber: Data hasil analisis
Keterangan:
1. *)Nyata pada pada (0.05 dan 0.01)
2. T 1ij = G1 .Pi .Pj .d1ij = pergerakan orang
3. T 2 ij = G1 .Pi .Pj .d 2 ij = pergerakan barang

Namun demikian hasil analisis seperti tercantum pada Tabel 25 diatas,


secara nyata interaksi spasial melalui sistem transportasi dalam hal ini transportasi
darat sangat ditentukan oleh faktor jarak. Semakin jauh jarak tempuh maka pola
interaksi spasial antar zona di Provinsi Sumatera Barat akan semakin menurun.
Hal ini terjadi karena meskipun infrastruktur jaringan jalan sudah baik tetapi
kondisi fisik wilayah yang bergelombang akan mempengaruhi waktu tempuh
sehingga dapat mengurangi interaksi antar wilayah.
92
Tabel 26 Pergerakan Orang dan Barang di Kabupaten Agam dan sekitarnya
No Zona Asal Zona Tujuan Pergerakan Orang Pergerakan Barang
1 Agam Agam 27,809 5,778
2 Agam Bukittinggi 1,088 61
3 Bukittinggi Agam 1,778 57
4 Bukittinggi Bukittinggi 41,714 8,667
Berdasarkan Tabel 26, jumlah pergerakan orang baik dalam wilayah
Kabupaten Agam, dalam wilayah Kota Bukittinggi, dari Kota Bukittinggi ke
Kabupaten Agam dan sebaliknya lebih besar dibanding pergerakan barang.
Kondisi ini menunjukkan bahwa penduduk di kedua wilayah tersebut lebih
mobile bila dibandingkan dengan produk-produk wilayah. Hal ini sesuai
dengan hasil survey Tatrawil (2006) bahwa jumlah pergerakan orang
di Sumatera Barat lebih banyak untuk kepentingan keluarga dibandingkan
dengan bekerja, belanja, sosial, dan kepentingan lainnya.

60.000

50.000
Bangkitan Tarikan
40.000

30.000

20.000

10.000

-
t i
ng m an m an rat) ur
) n r g
ara ama Kota Data n jan lunto wl/s
jj l ok ya tan se
l ulu mb i au mu
t
da ia ia ( Ba ( Tim n B So asr a S ela Pes engk p J a op R S u
Pa Par Par a as 50 ah Pa a h b
S b Pr p
ng ot a gam gam s am ab P Kab Tan ang Saw Ka Ka har m ol ok Kab op B Pro Pro
da K A A Pa K b Pa
d D S Pr
Pa Ka
b b
Ka Kab Ka Ka
b
Ka
b
b
Ka

Gambar 16 Jumlah Bangkitan dan Tarikan Menggunakan Angkutan Umum

Gambar 16 dan 17 dapat dilihat bahwa bangkitan perjalanan baik dengan


menggunakan angkutan umum di Agam Barat lebih rendah dibanding tarikan
sedangkan di Agam Timur terjadi kebalikannya. Akan tetapi bangkitan perjalanan
dengan menggunakan kendaraan pribadi baik di Agam Barat maupun Agam
Timur sama-sama lebih tinggi dibandingkan tarikannya. Dengan demikian, Agam
Barat (Lubuk Basung) memiliki daya tarik wilayah yang cukup signifikan
dibanding daya dorong wilayah. Hal ini disebabkan adanya pusat pemerintahan
dan perekonomian di Lubuk Basung.
93

50.000

45.000

40.000
Bangkitan Tarikan
35.000

30.000

25.000

20.000

15.000

10.000

5.000

-
i
ng an n
m iam a a ra
t) ur
) rat an ta tar ng nto l/s
jj k a
ol o sray elata
n
ss
el ku
lu
mb i au mu
t
da im n B a s am 0 Ko h Da an ja ng J a op R Su
Pa ria
Pa a Pa
r (B (T a a 5 P h lu Sw b S a S Pe
Be op
am gam s am ab P Kab an
a
ng wa Kab Ka harm ol ok Ka
b
Pr Pr op
ng o t g T a Sa r op Pr
da K A A Pa K b Pa
d D S P
Pa Ka
b b
Ka Kab Ka Ka
b
Ka
b
b
Ka

Gambar 17 Jumlah Bangkitan dan Tarikan Perjalanan Menggunakan


Kendaraan Pribadi
Secara umum Provinsi Sumatera Barat mempunyai prasarana dan sarana
perhubungan yang relatif baik, pada tahun 2000 memiliki panjang jalan sekitar
1.961,36 km, yang terdiri dari jalan provinsi 1.089,41 km dan jalan negara
sepanjang 871,95 km. Sistem jaringan jalan di bagian tengah diarahkan pada pola
jaringan jalan yang memperkuat keterkaitan antara Kota Padang, Pariaman,
Bukittinggi, Padang Panjang, Payakumbuh, dan Batusangkar serta provinsi
sekitarnya, sehingga akan diperoleh pola melingkar. Sistem ini akan terkait
dengan pola linier yang dapat menghubungkan Kota Lubuk Sikaping dan
Provinsi Sumatera Utara di bagian selatan, Solok, Lubuk Gadang dan Provinsi
Jambi bagian selatan. Begitu juga di dalam Kota Lubuk Basung akan dibangun
jalan lingkar untuk meningkatkan interaksi antar wilayah dalam lingkup Agam
Barat, Tengah dan sekitarnya.
Dalam pembangunan wilayah ada dua dimensi spasial yang harus
diperhatikan, yaitu spatial specifity dan spatial interaction. Spatial specifity
menunjukkan bahwa setiap wilayah mempunyai kekhasan. Sementara spatial
interaction menunjukkan bahwa karena setiap wilayah mempunyai kekhasan,
maka timbul interaksi antar wilayah sebagai upaya memenuhi kebutuhan.
Kedua dimensi tersebut, terjadi karena tiga faktor, yaitu: 1) sumber daya
disuatu lokasi tidak bisa dipindah-pindahkan, ataupun kalau bisa dipindahkan
biayanya akan sangat mahal (imperfect factor mobility), 2) keberadaan sumber
daya di suatu lokasi terkait dengan sumberdaya lain yang ada di lokasi tersebut
94
sehingga sukar untuk memisahkannya (imperfect divisibility), 3) sumber daya
di suatu wilayah tidak mudah dipindahkan karena biaya transportasi yang mahal
(imperfect mobility of goods an services).
Berdasarkan dimensi kekhasan wilayah, Kabupaten Agam memiliki
potensi pengembangan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit, kelapa,
tembakau, karet, kayu manis, kopi dan kako. Hal ini mendorong dibangunnya
fasilitas pendukung seperti pabrik pengolahan hasil perkebunan. Terdapatnya
Danau Maninjau di tengah-tengah wilayah ini juga mendorong didirikannya
pembangkit listrik dan fasilitas lainnya seperti hotel dan penginapan. Dengan
demikian, potensi wilayah dimaksud memberikan nilai tambah bagi
perkembangan perekonomian wilayah apabila dimanfaatkan dengan baik.
Adanya kekhasan wilayah di Kabupaten Agam, diharapkan terjadi interaksi
spasial dalam bentuk transaksi perdagangan dengan wilayah lain. Produk yang
dihasilkan akan dipasarkan di pasar lokal, regional, nasional, maupun
internasional guna memenuhi demand yang semakin lama semakin meningkat.
Sementara bagi wilayah demand, pasokan suatu komoditas sangat penting untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut. Interaksi spasial dalam
bentuk transaksi perdagangan ini menjadi penting sebagai informasi dasar untuk
melakukan perencanaan pembangunan wilayah yang mampu meningkatkan nilai
tambah bagi suatu kawasan. Interaksi yang terjadi di wilayah Kabupaten Agam
dapat berorientasi antar nagari yang berada pada hirarki yang sama, maupun
dengan nagari lain yang memiliki hirarki yang berbeda. Pada tingkatan yang lebih
luas, interaksi dapat terjadi dengan pusat aktivitas yang lebih besar dan global
seperti dengan Kota Bukittinggi, Kota Padang, Medan, serta Malaysia, Singapura,
Thailand yang merupakan bagian dari segitiga pertumbuhan Indonesia-Malaysia-
Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Analisis Kesenjangan
a. Analisis Tingkat Kesenjangan
Pembangunan selalu menimbulkan dampak baik positif maupun negatif.
Oleh karena itu diperlukan indikator sebagai tolak ukur terjadinya pembangunan.
Pembangunan yang dimaksud disini adalah pembangunan wilayah seperti yang
didefinisikan oleh Anwar (2005) merupakan proses/tahapan kegiatan
95
pembangunan disuatu wilayah tertentu yang dalam perwujudannya melibatkan
interaksi antara sumberdaya manusia dengan sumberdaya lain termasuk
sumberdaya alam dan lingkungan melalui kegiatan investasi pembangunan.
Kesenjangan wilayah adalah suatu proses yang akan terjadi dan tidak
dapat dihindari seiring dengan kemajuan dalam pembangunan sosial
ekonomi negara, sampai kemudian menurun kembali dengan sendirinya
setelah mencapai titik balik (polarization reversal). Hubungan
antara kesenjangan wilayah dengan pendapatan per kapita pada suatu
negara misalnya, sering dilukiskan sebagai kurva genta (bell curve).
Khusus bagi negara-negara berkembang, kesenjangan pembangunan wilayah
tidak jelas kapan akan terjadinya titik balik
tersebut, karena paradigma kurva genta adalah cermin sejarah negara-
negara yang telah berkembang pada abad ke sembilan belas sampai dengan
pertengahan abad ini.
Analisis tingkat kesenjangan digunakan untuk melihat tingkat kesenjangan
antar wilayah sebagai dampak pelaksanaan pembangunan. Untuk kasus yang
sedang diteliti, variabel yang digunakan untuk menganalisis tingkat kesenjangan
ini menggunakan variabel pendapatan asli daerah (PAD) perkapita. Variabel ini
dianalisis menggunakan rumus Indeks Williamson.
Sekaitan dengan hasil analisis kesenjangan seperti tercantum dalam Tabel
27, dimana unit analisisnya adalah kawasan maka baik kawasan barat, tengah dan
timur memiliki tingkat kesenjangan rendah. Hal ini karena Kabupaten Agam
meskipun memiliki karakteristik wilayah yang sangat beragam namun sektor
utamanya masih pertanian.
Tabel 27 Nilai Indeks Kesenjangan Williamson dan Tingkatannya Berdasarkan
Wilayah Kawasan
No. Kawasan Indeks Williamson (Vw) Tingkat Kesenjangan
1 Barat 0,17 rendah
2 Tengah 0,19 rendah
3 Timur 0,23 rendah
Sumber: Data hasil olahan
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Evi et al, (2005) tentang kesenjangan
di Sumatera Barat bahwa Kabupaten Agam merupakan daerah dengan klasifikasi I
yaitu daerah yang memiliki potensi pembangunan yang sangat besar yang
96
dicirikan dengan pertumbuhan PDRB rata-rata dan pendapatan per kapita lebih
tinggi dari daerah tingkat II di Sumatera Barat dan sektor perkonomian
dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Disamping itu berdasarkan indeks
Williamson di Propinsi Sumatera Barat dari tahun 1985-2003, bahwa
pembangunan ekonomi di Sumatera Barat terdistribusi ke seluruh kabupaten
dengan merata begitu juga di Kabupaten Agam. Menurut Rustiadi et al. (2006),
tingkat kesenjangan berdasarkan Indeks Williamson di Sumatera Barat pada tahun
2000 baik menggunakan indikator Migas dan non migas cenderung rendah yakni
0.44 dan 0.44.
Provinsi Sumatera Barat umumnya dan Kabupaten Agam khususnya
sebagian besar wilayahnya berada di Pantai Barat Sumatera. Sejak Pantai Barat
Sumatera mendapatkan pesaing berat, yakni pantai timur Sumatera dan ada
kaitannya dengan kedatangan Inggris, terjadinya revolusi industri, dan dibukanya
Terusan Suez maka para saudagar yang bertindak selaku investor juga mulai
beralih ke Pantai Timur. Klimaksnya terjadi migrasi besar-besaran penduduk
pantai barat Sumatera ke Semenanjung Malaysia, termasuk dua suku bangsa
besar, Batak dan Minangkabau. Dengan demikian, aktivitas ekonomi di pantai
barat Sumatera menurun tajam. Hal inilah yang merupakan salah satu faktor
penyebab wilayah ini perkembangannya cenderung lambat dibandingkan dengan
wilayah yang berada dekat pantai Timur. Hal ini pulalah yang menyebabkan
wilayah ini sangat berhati-hati dalam melaksanakan pembangunan (Anonimous.
2007).
Berdasarkan unit analisis wilayah administrasi kecamatan seperti tercantum
pada Tabel 28 dapat dijelaskan bahwa terdapat 1 kecamatan yang berada pada
tingkat kesenjangan tinggi yaitu Kecamatan Lubuk Basung. Kecamatan yang
berada pada tingkat kesenjangan sedang ada 9 kecamatan yaitu Kecamatan
Banuhampu, Baso, Candung, Empat Angkat Candung, IV Koto, Matur,
Palembayan, Tanjung Raya, dan Tilatang Kamang. Sedangkan yang termasuk
wilayah kecamatan yang beraada pada tingkat kesenjangan rendah ada
5 kecamatan yaitu: Kecamatan Ampek Nagari, Kamang Magek, Palupuh, Sungai
Pua dan Tanjung Mutiara.
97
Tabel 28 Nilai Indeks Kesenjangan Williamson dan Tingkatannya Berdasarkan
Wilayah Administrasi Kecamatan
No. Nama Kecamatan Indeks Kesenjangan (Vw) Tingkat Kesenjangan
1 Banuhampu 0,55 sedang
2 Baso 0,54 sedang
3 Candung 0,46 sedang
4 Empat Angkat Candung 0,56 sedang
5 IV Koto 0,56 sedang
6 IV Nagari 0,48 rendah
7 Kamang Magek 0,43 rendah
8 Lubuk Basung 0,74 tinggi
9 Matur 0,41 sedang
10 Palembayan 0,60 sedang
11 Palupuh 0,36 rendah
12 Sungai Pua 0,46 rendah
13 Tanjung Mutiara 0,49 rendah
14 Tanjung Raya 0,52 sedang
15 Tilatang Kamang 0,55 sedang
Sumber: Data hasil olahan
Tingkat kesenjangan yang tinggi di Kecamatan Lubuk Basung disebabkan
nagari-nagari di kecamatan ini memiliki fasilitas pelayanan yang belum merata
dan memiliki tingkat perkembangan wilayah yang berbeda. Hal ini ditunjukkan
dengan hasil analisis hirarki wilayah, hanya satu nagari yaitu Nagari Lubuk
Basung yang merupakan hirarki I sedangkan yang lainnya termasuk hiraki III, IV,
dan V. Tingkat perkembangan wilayah di Kecamatan Lubuk Basung berdasarkan
analisis gerombol, Nagari Lubuk Basung termasuk kluster I (sedang berkembang),
sedangkan nagari-nagari lainnya memiliki tingkat perkembangan rendah (kluster
II). Begitu juga dengan hasil analisis diskrimanan, Nagari Lubuk Basung
memiliki tingkat perkembangan lebih tinggi dibandingkan dengan nagari-nagari
lainnya. Terkait perbedaan tersebut, maka kecamatan yang memiliki nagari
dengan fasilitas pelayanan dan tingkat perkembangan yang berbeda memacu
terjadinya kesenjangan wilayah.
Wilayah yang belum berkembang dengan ciri utama, kondisi masyarakat
yang tertinggal, standar hidup rendah, efisiensi rendah, konsumsi rendah,
tabungan rendah, investasi rendah, dan pengangguran meningkat. Sebaliknya di
wilayah yang maju, masyarakat maju, standar hidup tinggi, pendapatan semakin
tinggi, tabungan semakin banyak yang pada akhirnya masyarakat semakin maju;
98
Kedua kondisi yang berbeda tersebut menyebabkan kesenjangan yang tidak
rendah (Murty, 2000).
Tingkat kesenjangan yang rendah di Kecamatan Palupuh, Sungai Pua, dan
Tanjung Mutiara disebabkan nagari-nagari di Kecamatan ini memiliki fasilitas
pelayanan yang lebih merata dan tingkat perkembanganya relatif sama. Hal ini
ditunjukkan dengan hasil analisis hirarki wilayah bahwa nagari-nagari yang
berada di Kecamatan Tanjung Mutiara termasuk hirarki V berdasarkan jumlah
fasilitas dan sebagian besar termasuk kluster II (kurang berkembang) dan tipologi
II (kurang berkembang) berdasarkan analisis gerombol dan diskriminan. Terkait
hal tersebut, wilayah yang memiliki kesenjangan rendah relatif memiliki fasilitas
pelayanan yang merata dan tingkat perkembangannya relatif kurang berkembang.

b. Analisis Faktor-Faktor Penyebab Kesenjangan


Analisis faktor-faktor penyebab kesenjangan digunakan untuk menduga
faktor penyebab kesenjangan dan melihat hubungan antar faktor-faktor tersebut.
Berdasarkan analisis PCA yang menghasilkan 7 (tujuh) factor score maka
variabel-variabel yang berpengaruh nyata terhadap karakteristik wilayah tersebut
selanjutnya dijadikan variabel bebas/prediktor pada analisis faktor-faktor
penyebab kesenjangan dengan menggunakan uji Regresi Berganda dengan hasil
seperti tercantum dalam Tabel 29.

Seperti yang telah diungkapkan dalam batasan penelitian bahwa dalam


penelitian ini, fokus utama yang dibahas adalah melihat seberapa jauh pengaruh
aspek spasial, sosial dan ekonomi sebagai penyebab kesenjangan di Kabupaten
Agam terhadap indeks Williamson, maka diperoleh R-sq dan R-sq (Adj) masing-
masing sebesar 45 persen dan 12 persen. Penyebab ketimpangan yang terjadi di
Kabupaten Agam sebesar 12 persen dipengaruhi oleh 11 sebelas variabel diatas
sedangkan sisanya yaitu sebesar 82 persen disebabkan oleh variabel lain atau
faktor lain seperti kebijakan pemerintah yang bersifat sentralistik, politik, dan
administrasi.
Berdasarkan hasil analisis ini, juga diperoleh persamaan regresi yaitu :Log
IW = 0.612 + 0.348457 Log Kapasitas sarana pertanian. Artinya, variabel yang
paling berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat kesenjangan Williamson
adalah variabel kapasitas sarana pertanian yang berasal dari variabel rasio kios
99
saprodi pertanian milik KUD dan non KUD. Tingkat kesenjangan wilayah akan
mengalami kenaikan sejalan dengan naiknya jumlah kios saprodi pertanian milik
KUD dan non KUD.
Hasil kajian ini memperkuat hasil analisis sebelumnya bahwa daerah yang
memiliki tipe perkembangan tinggi yang dicirikan dengan tingginya kapasitas
sarana pertanian memacu wilayah memiliki tingkat kesenjangan yang tinggi.
Contohnya, Nagari Lubuk Basung Kecamatan Lubuk Basung merupakan pusat
pemerintahan Kabupaten Agam, termasuk ordo sangat tinggi (hirarki I), termasuk
tipologi III (tingkat perkembangan tinggi) ternyata menimbulkan tingkat
kesenjangan tinggi di Kecamatan Lubuk Basung. Sedangkan Nagari Koto Tangah
Kecamatan Koto Tangah meskipun merupakan ordo sangat tinggi (hirarki I), akan
tetapi berdasarkan tingkat perkembangan wilayah termasuk kluster I dan tipologi I
tidak menimbulkan tingkat kesenjangan di kecamatan ini tinggi.
Tabel 29 Hasil Uji Regresi Berganda
Prediktor Beta Std.Err. B Std.Err. t(65) p-level
of Beta of B
Intercept 0.612458 0.019012 32.21496 0.000000
Kapasitas penunjang pariwisata) -0.177437 0.110410 -0.030765 0.019143 -1.60708 0.112884
Tingkat kesejahteraan -0.199895 0.110410 -0.034659 0.019143 -1.81049 0.074842
Derajat kesehatan -0.093962 0.110410 -0.016291 0.019143 -0.85103 0.397877
Laju pertumbuhan penduduk 0.060396 0.110410 0.010472 0.019143 0.54702 0.586242
Kapasitas fasilitas keuangan 0.047393 0.110410 0.008217 0.019143 0.42925 0.669161
Kapasitas fasilitas perdagangan 0.006786 0.110410 0.001177 0.019143 0.06146 0.951178
Kapasitas sarana pertanian 0.348457 0.110410 0.060417 0.019143 3.15604 0.002424
Multiple R 0.455668
Multiple R 0.207633
Adjusted R 0.122301
F(7,65) 2.433244
p 0.028088
Std.Err. of Estimate 0.162435
Pada taraf 0.05 & 0.01
Sumber: Data hasil olahan
Kapasitas sarana pertanian berdasarkan hasil uji regresi berganda (Tabel 29)
hanya memberikan kontribusi sebesar 12 persen sebagai penyebab kesenjangan
wilayah, akan tetapi kalau nilai rataanya menjadi lebih besar akan mempengaruhi
tingkat kesenjangan wilayah. Kontribusi ini akan lebih mempertajam tingkat
kesenjangan apabila faktor lain seperti kebijakan pembangunan hanya bertumpu
pada pusat-pusat pertumbuhan.
100
Kesenjangan antar wilayah akan mendorong terjadinya sentralisasi.
Wilayah berkembang mempunyai kapasitas untuk menarik investasi, industri, dan
institusi-institusi perekonomian baru, sedangkan wilayah-wilayah yang tertinggal
tidak mempunyai kapasitas tersebut. Akhirnya, permasalahan sentralisasi akan
semakin berkembang. Sentralisasi di bidang ekonomi sendiri sebenarnya tidak
menjadi masalah, tetapi kondisi ini kenyataannya mengakibatkan berbagai
masalah yang lebih pelik seperti lokalisasi, urbanisasi, internal konflik dan
sebagainya. Lokalisasi dan urbanisasi pada akhirnya menimbulkan berbagai
masalah seperti kepadatan, kemacetan, kebisingan, polusi, masalah permukiman
dan sebagainya. Sebagai akibatnya biaya hidup akan menjadi semakin tinggi, dan
mengakibatkan timbulnya kemiskinan perkotaan (Murty, 2000).

Analisis Keberagaman Aktivitas


Perkembangan suatu sistem dapat dipahami dari semakin meningkatnya
jumlah komponen sistem serta penyebaran (jangkauan spasial) komponen sistem
tersebut. Kedua hal tersebut pada dasarnya bermakna peningkatan kualitas
komponen serta perluasan hubungan spasial dari komponen didalam sistem
maupun dengan sistem luar. Artinya suatu sistem dikatakan berkembang jika
jumlah dari komponen/aktivitas sistem tersebut bertambah atau aktifitas dari
komponen sistem tersebar lebih luas. Perluasan jumlah komponen aktifitas ini
dapat dianalisis dengan menghitung indeks diversifikasi dengan konsep entropi.
Prinsip pengertian indeks entropi ini adalah semakin beragam aktifitas atau
semakin luas jangkauan spasial, maka semakin tinggi entropi wilayah. Artinya
wilayah tersebut makin berkembang.
Tujuan analisis ini adalah untuk menghitung tingkat keberagaman aktivitas
(diversifikasi). Hasil analisis keberagaman aktifitas dengan menggunakan analisis
entropi seperti tercantum dalam Tabel 30 dapat dijelaskan bahwa secara umum
tingkat perkembangan wilayah Kabupaten Agam termasuk sedang berdasarkan
selang potensi perkembangan wilayah (Tabel 8) karena semua kecamatan
memiliki nilai indeks diversifikasi mulai dari 0.4 0.5. Nilai indeks entropi
tertinggi terdapat di Kecamatan Lubuk Basung dan Kamang Magek sedangkan
terendah pada Kecamatan Palupuh yakni masing-masing 0.52 dan 0.42. Hal ini
sesuai dengan kondisi faktual di Kecamatan Palupuh yang secara fisik wilayah
101
berada pada kemiringan 15 25 % dan ketinggian antara 1000 1.500 mdpl.
Posisi wilayah tersebut sangat jauh dari pusat pemerintahan dan perekonomian
sehingga mengalami perkembangan yang relatif lambat.
Berdasarkan nilai indeks untuk masing-masing kecamatan (Tabel 30), maka
indeks industri dan kerajinan tertinggi di Kecamatan Lubuk Basung (0.4) dan
terendah di Kecamatan Candung (0.1) dan Sungai Pua (0.1). Kondisi ini
menunjukkan bahwa Kecamatan Lubuk Basung memiliki tingkat perkembangan
wilayah sedang, sedangkan Kecamatan Candung dan Sungai Pua memiliki tingkat
perkembangan wilayah sangat rendah. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil
analisis gerombol, dimana Kecamatan Lubuk Basung termasuk wilayah dengan
tingkat perkembangan sedang (kluster I). Namun demikian, hasil ini berbeda
dengan hasil analisis diskriminan yang menempatkan kecamatan ini sebagai
wilayah yang memiliki tingkat perkembangan tinggi. Perbedaan ini terjadi karena
analisis keberagaman aktivitas hanya menggunakan data fasilitas untuk mewakili
perkembangan wilayah sedangkan analisis diskriminan menggunakan variabel
yang sangat banyak, sehingga hasilnya lebih tajam dibanding analisis lainnya.
Tabel 30 Hasil Analisis Keberagaman Aktifitas Berdasarkan Kecamatan
Kecamatan Indeks Inds Indeks Perdag Indeks Indeks Indeks Total Skor
&
Kerajinan & Jasa Lemb. Pddk Faskes L.Lahan Sawah

Banuhampu 0.2 0.3 0.6 0.6 0.5 2.2 0.44

Baso 0.2 0.4 0.6 0.5 0.7 2.4 0.48

Candung 0.1 0.2 0.7 0.6 0.7 2.3 0.46

Empat Angkat Candung 0.2 0.3 0.6 0.6 0.7 2.4 0.48

IV Koto 0.3 0.3 0.5 0.5 0.6 2.2 0.44

IV Nagari 0.2 0.2 0.6 0.5 0.6 2.1 0.42

Kamang Magek 0.3 0.4 0.7 0.6 0.6 2.6 0.52

Lubuk Basung 0.4 0.2 0.6 0.7 0.7 2.6 0.52

Matur 0.2 0.2 0.7 0.6 0.8 2.5 0.50

Palembayan 0.3 0.3 0.6 0.5 0.7 2.4 0.48

Palupuh 0.2 0.3 0.5 0.4 0.7 2.1 0.42

Sungai Pua 0.1 0.2 0.6 0.6 0.5 2.0 0.40

Tanjung Mutiara 0.2 0.2 0.7 0.6 0.8 2.5 0.50

Tanjung Raya 0.2 0.4 0.7 0.5 0.7 2.5 0.50

Tilatang Kamang 0.3 0.3 0.8 0.6 0.5 2.5 0.50


Sumber: Data hasil olahan
102
Kecamatan Lubuk Basung menurut hasil analisis kesenjangan termasuk
wilayah dengan tingkat kesenjangan tinggi dan hasil analisis keberagaman
menempatkan kecamatan ini termasuk wilayah dengan tingkat perkembangan
sedang. Kecamatan Palupuh termasuk wilayah dengan tingkat kesenjangan
rendah dan hasil analisis keberagaman akktivitas menempatkan wilayah ini juga
termasuk perkembangan sedang. Terkait kasus tersebut, memperkuat alasan
bahwa yang mempengaruhi tingkat kesenjangan hanyalah faktor kapasitas sarana
pertanian dan tingkat keberagaman aktivitas di suatu wilayah tidak mempengaruhi
tingkat kesenjangan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat keberagaman
aktivitas dapat mengurangi tingkat kesenjangan dalam suatu wilayah.
Indeks fasilitas kesehatan merupakan satu-satunya nilai indeks keberagaman
aktivitas yang relatif merata untuk seluruh kecamatan. Kondisi ini
mengindikasikan bahwa semua kecamatan memiliki fasilitas ini. Hasil ini sesuai
dengan kajian Bappeda (2006), fasilitas kesehatan di Kabupaten Agam relatif
sudah lebih merata di masing-masing kecataman, sehingga memiliki tingkat
kesenjangan yang rendah.
Berdasar Tabel 31 dan Gambar 18, kawasan bagian barat dan timur
memiliki nilai indeks keberagaman aktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan
kawasan tengah. Dengan demikian, kawasan barat dan timur merupakan wilayah
yang paling berkembang dibanding dengan kawasan tengah. Hal ini sesuai dengan
hasil analisis tipologi yang mempergunakan analisis gerombol dan diskriminan
yang menjelaskan bahwa bagian tengah umumnya memiliki tingkat
perkembangan sedang (kluster I dan tipologi I).
Tabel 31 Hasil analisis keberagaman aktifitas berdasarkan kawasan
Indeks Indeks Indeks Indeks Indeks
No Kawasan Industri dan Perdag dan Lembaga Fasilitas Luas Lahan Total Skor
Kerajinan Jasa Pendidikan Kesehatan Sawah

1 Barat 0.40 0.40 0.60 0.70 0.68 2.78 0.56

2 Tengah 0.40 0.30 0.60 0.50 0.67 2.47 0.49

3 Timur 0.50 0.35 0.70 0.60 0.60 2.75 0.55


Sumber: Data hasil olahan
103

Gambar 18 Peta Keberagaman Aktivitas di Kabupaten Agam

Produktivitas per kapita sektor pertanian di Indonesia sangat rendah karena


terlalu banyak penduduk yang bekerja di sektor ini. Melalui pembangunan
wilayah yang berimbang, sektor-sektor non pertanian juga akan berkembang di
daerah hinterland, sehingga lapangan kerja di sektor pertanian juga akan
berkembang. Fakta empiris ini terjadi juga di Kabupaten Agam, dimana sektor
pertanian masih menjadi tumpuan pembangun struktur perekonomian wilayah.
Mengacu hasil analisis diatas, untuk mencapai keberimbangan wilayah maka
diperlukan upaya meningkatkan keberagaman aktivitas di suatu wilayah, tentunya
dengan menggerakkan sektor pariwisata dan jasa menjadi bagian terpenting dalam
meningkatkan kualitas pembangunan. Salah satu strategi yang harus dibangun
adalah dengan membentuk kawasan pengembangan ekonomi terpadu (KAPET).
Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) Batu Licin yang
dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden No.11 Tahun 1998 tanggal 19 Januari
1998 terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Kotabaru dengan sektor unggulan:
perkebunan, kehutanan, pertambangan dan industri, dimana masing-masing sektor
mempunyai komoditas unggulan: kelapa sawit, hutan tanaman industri tanaman
akasia, batubara, dan semen. Keempat komoditas andalan tersebut apabila
dikembangkan dapat meningkatkan nilai tambah untuk kesejahteraan masyarakat
104
di kawasan, dan diharapkan dapat mendorong kegiatan ekonomi sektor-sektor
lainnya (Suhandoyo et al, 2000).

Analisis Deskriptif

Metoda analisis deskriptif ini difokuskan pada pengaruh perkembangan


kelembagaan nagari yang merupakan local spesific institusional terhadap
perkembangan wilayah di Sumatera Barat umumnya dan Kabupaten Agam
khususnya.
Untuk melihat seberapa jauh kemungkinan pengaruh kelembagaan nagari di
lokasi penelitian alangkah baiknya di jelaskan secara ringkas perkembangan
kondisi nagari dari zaman pra intervensi perundang-undangan hingga saat ini.
Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Provinsi
Sumatera Barat tahun 2006-2010 bagian Agenda 7 tentang memberdayakan nagari
sebagai basis pembangunan dapat dijelaskan perkembangan nagari berikut:
Kondisi nagari masa lalu
a. Nagari pra Intervensi Perundang-undangan
Sejak dulu di Sumatera Barat, nagari merupakan sebuah wilayah sebuah
wilayah kesatuan adat, yang asal mulanya dari taratak (suatu perkampungan kecil
yang dihuni beberapa keluarga). Taratak kemudian berkembang menjadi dusun
(unit-unit keluarga yang sudah menjalin hubungan dalam aturan-aturan yang
disepakati bersama). Dusun kemudian berkembang lagi menjadi sebuah koto
(sebuah perkampungan yang telah menjadi tempat berkumpulnya beberapa suku).
Koto inilah yang akhirnya menjadi sebuah nagari (suatu wilayah kesatuan hukum
adat yang sudah punya pimpinan dan aturan sendiri).
Berdirinya sebuah nagari di Minangkabau harus memenuhi syarat sebagai
berikut: 1) memiliki balai adat (aula tempat berkumpulnya para penghulu
mengadakan rapat); 2) memiliki tempat ibadah (masjid setelah islam masuk);
3) memiliki labuah (jalan raya dalam kampung) dan 4) memiliki tapian (tempat
pemandian serta 4 (empat) buah suku (kelompok seketurunan garis ibu) dalam
nagari.
Setiap suku dipimpin oleh seorang penghulu pucuk. Penghulu pucuk
memiliki beberapa penghulu pendukung (panungkek) yang mengepalai kehidupan
di Rumah Gadang, sebagai tempat berhimpunnya beberapa keluarga batih.
105
Tiap nagari mempunyai pemerintahan sendiri dan Pemerintahan Nagari ini
dulunya berjalan sangat baik, demokratis dan tidak dapat disalahgunakan oleh
pejabat nagari. Kesempatan untuk menyeleweng sedikit sekali. Ini disebabkan
kontrol langsung oleh rakyat melalui penghulu-penghulu mereka.
Struktur sosial masyarakat nagari Minangkabau ditata berdasarkan prinsip-
prinsip sistem matrilinial. Masing-masing kelompok materinial dipimpin oleh
oleh penghulu suku, penghulu kaum, dan kepala perlengkapan (tungganai).
Pemimpin-pemimpin ini merupakan manager dari harta komunal. Jadi hakekatnya
tanah pusaka kaum secara defakto dikuasai oleh para wanita yang telah berumah
tangga. Laki-laki dalam sebuah kaum materinial bertugas memelihara harta kaum
dan diharapkan akan terus memperbesar harta tersebut.
Potensi nagari yang paling dominan adalah tanah. Tanah adalah tanda dari
eksistensi sosial dan keanggotaannya dalam komunitas nagari. Memiliki tanah
berarti menjadi anggota komunitas nagari. Di Minangkabau, orang yang tidak
mempunyai tanah dapat dikategorikan sebagai bukan asli di nagari yang
bersangkutan.
Masyarakat Minangkabau sebagai masyarakat komunal dan bukan bersifat
individual, maka menurut hukum adat, tanah ulayat adalah kepunyaan bersama
bukan kepunyaan pribadi yang disebut dengan hak ulayat masyarakat hukum adat.
Tanah ulayat tidak boleh dipindah tangankan kepada pihak lain karena tanah
ulayat bukan saja milik generasi yang sekarang tetapi juga hak generasi yang akan
datang, yaitu generasi yang belum lahir. Hal ini sesuai dengan filosofi tentang
sistem pemanfaatan tanah dan pengelolaan lahan secara lestari dan berkelanjutan:
Peruntukan tanah harus disesuaikan dengan kondisi lahan yang bersangkutan,
sehingga tidak satu jengkal tanahpun di nagari tidak termanfaatkan
Pengelolaan tanah ulayat menurut ajaran adat harus melalui prosedur yang
ditentukan adat yaitu harus atas kesepakatan seluruh anggota kaum bagi tanah
ulayat suku dan kesepakatan penghulu-penghulu di nagari bagi tanah ulayat nagari
atau ulayat rajo.
b. Nagari dalam Perspektif Perundang-undangan
Bangsa Barat pada umumnya dan Belanda pada khususnya membangun
basis kekuatan politik dan pemerintahan anak nagari hingga akhir dekade kedua
106
Abad ke 19 di kawasan pesisir Minangkabau. Kawasan yang dikuasai tersebut
meliputi Padang, Padang Pariaman dan Indrapura. Salah satu bukti kekuasaanya
telah diangkat seorang pemuka Minangkabau sebagai panglima di Padang dengan
sejumlah aturan tentang penyelenggaraan pemerintah. Lembaga pemerintahan
dibawahnya dinamakan kampung (Wijk), jadi bukan nagari seperti di daerah
Darek atau Luhak nan Tigo sebagai daerah inti Minangkabau.
Pemimpin Kampung disebut Penghulu yang diangkat oleh VOC lebih
didasarkan pada peran ekonomi mereka, karena itu penghulu pada hakekatnya
adalah seorang saudagar.
Melalui resolusi Gubernur Jenderal (GG) Nomor 23 Tanggal 30 April 1822,
VOC membuat 2 lembaga pemerintahan yakni Distrik (kelarasan) dan nagari.
Wilayah teritorial kelarasan terdiri dari beberapa nagari dan pemimpinnya
diangkat oleh pemerintah. Keberadaan kelarasan lebih diutamakan untuk
menjalankan kepentingan Pemerintah Belanda dalam hal mengumpulkan dana
(pajak) dari masyarakat dan mendapatkan biji kopi dari daerah yang telah dikuasai
serta mengefektifkan pengawasan terhadap nagari.
Pada tanggal 4 Nopember 1823 dengan Resolutie Vandent GG Nomor 18
ditetapkan keputusan mengenai Pengaturan Pemerintahan Tradisional di
Minangkabau. Pada tingkat tertinggi di Minangkabau dibagi dua yaitu
Hoofdafdeelingen di Padang dan Tanah Datar. Di Padang diberi gelar Tuanku
Panglima sedangkan di Tanah Datar Raja Alam Minangkabau.
Lemabaga-lembaga yang ada dibawah Hoofdafdeelingen adalah
keresidenan yang dipimpin oleh resident, kelarasan dipimpin tuanku laras, dan
nagari dipimpin oleh kepala nagari. Hoofdafdeelingen dan resident diangkat oleh
Gubernur Jenderal. Tuanku Laras diangkat oleh resident atas persetujuan GG dan
Kepala nagari disahkan oleh resident setelah dipilih dan diusulkan oleh penduduk
nagari.
Resolusi GG Nomor 18 tersebut merupakan campurtangan pemerintah
secara nyata bagi kehidupan nagari. Resolusi ini telah menjadikan nagari secara
resmi sebagai bagian dari negara kolonial. Keberadaan nagari telah diformat
untuk membantu penyelenggaraan pemerintahan kolonial.
107
Pada tahun 1842, A.V. Michiels yang menjabat sebagai resident melakukan
perombakan terhadap pemerintahan nagari. Kepala nagari namanya dirobah
penjadi penghulu kepala, tidak dipilih langsung oleh masyarakat tapi diangkat
oleh pemerintah, digaji oleh pemerintah, sebagai alat pemerintah dan harus tunduk
serta setia kepada pemerintah yang mengangkat dan menyumpahnya.
Pada era pendudukan jepang, pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan
kemasyarakatan adat di nagari tetap berjalan sebagaimana biasa, dengan
melakukan penyesuaian sebagaimana diamanatkan dalam maklumat Ordonansi
Kampo Nomor 1 Tahun 1942 sebagai berikut:
1). Mensahkan semua ketatanegaraan sebagaimana sebelum Jepang berkuasa;
2). Alat kekuasaan yang ada tunduk kepada pemerintah militer Jepang;
3). Perobahan yang mungkin dilakukan menurut Kampo Nomor 1 Tahun 1942
dilakukan oleh Polisi Militer Pusat.
Berdasarkan uraian diatas, baik pada masa kolonial Belanda maupun
pendudukan Jepang, bahwa dari segi nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum
adat tidak pernah dilakukan intervensi oleh penguasa, yang diintervensi adalah
nagari sebagai tata pemerintahan.
Melalui Undang-undang Nomor 1 Tahun 1945 tentang Kedudukan Desa
dan Kekuasaan Komite Nasional Daerah merupakan kebijakan desntralisasi
pertama.
Melalui rapat pleno Komite Nasional Keresidenan Sumatera Barat tanggal
18 Maret 1946 ditetapkan maklumat Dokumen Resident Sumatera Barat Nomor
20 dan 21 Tanggal 21 Mei 1946 yang menetapkan perubahan dalam susunan
kelembagaan nagari sebagai berikut: Wali Nagari, Dewan Perwakilan Nagari
(DPN) dan Dewan Harian Nagari (DHN). Dengan demikian posisi Wali Nagari
menjadi sangat kuat karena sekaligus sebagai Ketua DPN dan DHN.
Setelah pemulihan kedaulatan Negara RI, menyusul dibubarkannya Negara
RIS, nagari di Minangkabau ikut mengalami perubahan. Melalui Peraturan
Daerah Propinsi Sumatera Tengah Nomor 50/G.P/1950, pemerintahan Nagari
dihapuskan dan diganti dengan sistem pemerintahan wilayah.
108
Adapun sistem pemerintahan wilayah tersebut:
1). Kepala Wilayah disebut Wali Wilayah;
2). Fungsi eksekutifnya didampingi oleh 3 5 orang anggota DPR wilayah;
3). Terbentuknya otonomi wilayah dan DPN dan DHN dihapus.
Dengan adanya desakan dari hasil konferensi Ninik Mamak Pemangku Adat
se Sumatera Tengah pada tanggal 16 19 Desember 1953 di Bukittinggi maka
Perda Provinsi Sumatera Tengah Nomor 50/G.P/1950 dicabut dengan terbitnya
Keppres tanggal 15 Januari 1954 yang menghapuskan sistem wilayah berotonomi
dan menghidupkan kembali sistem nagari yang berotonomi.
Periode 1956-1961, merupakan masa-masa sulit bagi perkembangan sistem
nagari setelah berhasil keluar dari sistem otonomi wilayah karena waktu itu
Pemerintah RI memekarkan Provinsi Sumatera Tengah menjadi tiga yaitu
Sumatera Barat, Riau dan Jambi. Terjadinya pergolakan PRRI Tahun 1958 yang
menyebabkan banyak jabatan Wali Nagari kosong karena banyak Wali Nagari
yang terlibat PRRI.
Untuk mengisi kekosongan tersebut, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat
mengeluarkan Keputusan Gubernur Nomor GSB/1/KN/58 tanggal 31 Agustus
1958 tentang Pemilihan Penunjukkan, Pemberhentian dan Pemilihan Kepala
Nagari dalam Daerah Sumatera Barat. Selanjutnya dikeluarkan petunjuk untuk
membentuk Kerapatan Nagari melalui Perda Nomor 32/Desa/GSB/1959 tentang
Susunan Kerapatan Nagari dan cara pembentukannya. Menurut peraturan daerah
ini Kerapatan Nagari terdiri dari Penghulu-penghulu serta sejumlah Alim Ulama
dan Cerdik Pandai sesuai dengan yang ditentukan oleh rapat-rapat orang
terkemuka dalam nagari.
Setelah berakhirnya PRRI Tahun 1961, untuk penertiban pemerintahan
nagari dikeluarkan Peperda Nomor Prt-Peperda/01/4/62 tanggal 7 April 1962
tentang Penertiban Pemerintahan Nagari. Kemudian disusul dengan Keputusan
Gubernur Sumatera Barat Nomor 02/Desa/GSB-Prt/63 tanggal 30 Mei 1963
tentang Nagari dan Pemerintahan Nagari dalam Provinsi Sumatera Barat, dimana
susunan Pemerintahan Nagari menurut Keputusan ini terdiri dari Kepala Nagari,
Badan Musyawarah Nagari (BMN), Musyawarah Gabungan dan alat-alat
perlengkapan Nagari (Pamong Nagari, Panitera Nagari, dan Pegawai Nagari).
109
Pada masa orde baru, melalui Keputusan Gubernur Kepala Daerah Propinsi
Sumatera Barat Nomor 015/GSB/1968 tentang Pokok-pokok Pemerintahan nagari
yang menjelaskan bahwa susunan pemerintahan Nagari adalah Wali Nagari dan
Dewan Perwakilan Rakyat Nagari (DPRN). Sedangkan alat perlengkapan nagari
lainnya adalah Kerapatan Nagari yang merupakan Badan Peradilan Agama dan
Adat serta penasehat Pemerintahan Nagari. Tiga perlengkapan nagari inilah yang
disebut dengan Pemerintahan Nagari. Dalam keputusan ini juga memperkenalkan
isitilah baru yaitu rapat nagari. Rapat Nagari adalah pertemuan antara
Pemerintahan Nagari dengan penduduk nagari secara langsung yang diadakan
sekali dalam setahun dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik
Indonesia (HUT RI).
Dalam menyikapi perkembangan yang terjadi sejak dimulainya
Pembangunan Lima Tahun (Pelita), maka Gubernur Sumatera Barat
mengeluarkan tiga keputusan tentang Nagari pada tanggal 24 Desember 1974,
yaitu:
1). Nomor 155/GSB/1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari
2). Nomor 156/GSB/1974 tentang Kerapatan Nagari
3). Nomor 157/GSB/1974 tentant Tata cara Pemilihan Nagari
Ketiga keputusan tersebut merupakan keputusan terakhir yang mengatur tentang
nagari sebelum lahirnya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang
Pemerintahan Desa.
Berdasarkan uraian diatas, hampir semua peraturan yang menyangkut
pemerintahan terendah di Sumatera Barat selalu menjadikan nagari tradisional
sebagai unit dasar sistem pemerintahan. Semua kekuasaan mengakui nagari
sebagai kesatuan sosial organis yang sukar dipecahkan dan memiliki dasar
otonomi yang kuat. Satu-satunya keputusan yang tidak menghormati hak asal-
usul nagari adalah Perda Provinsi Sumatera Tengah Nomor 50/G.P/1950 tanggal
14 Juli 1950 yang menghapus Pemerintahan Nagari dan Kerapatan Adat Nagari
(KAN)
Pada periode 1979-2000, ada beberapa hal yang sangat menjadi perhatian,
setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 yakni terjadinya
sentralisasi kekuasaan melalui jabatan Kepala Desa sebagai penguasa tunggal
110
karena merangkap jabatan sebagai Ketua Lembaga Musyawarah Desa (LMD) dan
Ketua Umum Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD).
Menindaklanjuti undang-undang tersebut Pemerintah Provinsi Dati I
Sumatera Barat menetapkan: 1)Perda Nomor 7 Tahun 1981 tentang Pembentukan,
pemecahan, penyatuan dan penghapusan desa dalam Provinsi Sumatera Barat,
2)untuk melaksanakan Perda Nomor 7 Tahun 1981 ditetapkan Keputusan
Gubernur Sumatera Barat Nomor 162/GSB/1983 tanggal 1 September 1983
tentang Penetapan jorong yang merupakan bagian dari nagari sebagai desa;
3)untuk menjamin eksistensi nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat,
ditetapkan Perda Nomor 13 Tahun 1983 tentang Nagari sebagai kesatuan
masyarakat hukum adat dalam Provinsi Sumatera Barat.
Dalam rangka mempercepat laju pembangunan yang cenderung lamban
karena minimnya jumlah penduduk desa yang mengakibatkan pula minimnya
partisipasi masyarakat desa dan renggangnya ikatan emosional perantau terhadap
desa serta terpeliharanya kesatuan masyarakat hukum adat di nagari maka
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menetapkan Intruksi Gubernur Nomor 11
Tahun 1988 tanggal 22 Desember 1988 tentang Petunjuk Penataan kembali
wilayah Pemerintahan Desa. Prinsipnya adalah melakukan penggabungan desa
yang berada dalam wilayah nagari yang sama menjadi desa baru. Mulai tahun
1988 sampai dengan tahun 1994 berkurang jumlah desa di Sumatera Barat dari 3
156 desa menjadi 1 749 desa.
Dalam rangka peningkatan pelaksanaan pembangunan pedesaan secara lebih
terarah, menyeluruh dan berkesinambungan, pada tanggal 23 Agustus 1990
ditetapkan Keputusan Gubernur Sumatera Barat Nomor 17 A Tahun 1990 tentang
Konsepsi dan Strategi Pembangunan PedesaanManunggal Sakato di Sumatera
Barat.
Menyadari bahwa potensi nagari sangat kecil dibandingkan dengan desa,
maka ditingkat nagari diadakan kegiatan perencanaan pembangunan dalam suatu
musyawarah pembangunan (Musbang) nagari berdasarkan Instruksi Gubernur
Sumatera Barat Nomor 12/Inst/GSB/1991 tentang Pelaksanaan Musyawarah
Pembangunan Nagari di daerah Provinsi Sumatera Barat, yang berfungsi sebagai
rapat koordinasi pembangunan terendah di Sumatera Barat.
111
Kondisi nagari saat ini
Sesuai dengan tuntutan reformasi dan demokratisasi di bidang
pemerintahan, maka Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 diganti dengan
Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 yang sekarang juga sudah disempurnakan
lagi dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Berkaitan dengan penggantian perundang-undangan tersebut, Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat melakukan serangkaian kegiatan baik melalui lokakarya,
pengujian pandangan elit dan tokoh masyarakat, kajian lapangan, dan pertemuan
dengan Komisi II Bidang Pemerintahan DPR-RI berhasil menetapkan Perda
Nomor 9 Tahun 2000 tentang Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari yang
pelaksanaannya dilakukan berdasarkan Perda Kabupaten yang bersangkutan.
Ada beberapa hal penting setelah ditetapkannya Perda Nomor 9 Tahun 2000
bagi Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat, diantaranya:
a. Memberi semangat atas pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999
yang memberi peluang kepada daerah mengatur dan mengurus rumah
tangganya sendiri;
b. Merupakan konsekwensi logis dan manifestasi dari kondisi-kondisi budaya
masyarakat Sumatera Barat;
c. Telah terbentuk 519 Pemerintahan Nagari yang tersebar pada 11 kabupaten di
Sumatera Barat. Khusus Kabupaten Agam ada 73 nagari.
Namun demikian persoalan baru timbul manakala Undang-undang Nomor
22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang selama kurun waktu tersebut
dijadikan pedoman diganti dengan Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan
diberlakukannya Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa, dan
tersebut diantaranya:
a. Masih lemahnya pengetahuan dan ketrampilan aparat Pemerintahan Nagari;
b. Masih minimnya daya dukung bagi perangkat pemerintahan nagari dalam
memecahkan permasalahan pembangunan nagari;
c. Masih belum jelasnya otonomisasi nagari, seperti hak untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan adat isitiadat yang
berlaku;
112
d. Belum adanya sharing kekuasaan yang jelas antara Pemerintah daerah dengan
Pemerintah nagari;
e. Melemahnya fungsi dan peranan Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai
lembaga permusyawaratan dan permufakatan Ninik Mamak Pemangku Adat
dalam pembinaan masyarakat dan pembangunan nagari sebagai mitra kerja
Pemerintah Nagari;
f. Distribusi sarana dan prasarana kesehatan yang tidak memadai;
g. Distribusi SDM yang tidak seimbang;
h. Kemampuan mengelola dan memanfaatlan potensi SDA yang belum merata
sedangkan daya rekat para perantau dengan asal-usulnya semakin berkurang;
i. Sumber penerimaan seperti PAD belum dikelola secara optimal.
Upaya kedepan yang telah diupayakan adalah:
a. Melakukan revisi Perda Nomor 9 Tahun 1990 dan menetapkan Perda Nomor
2 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari;
b. Meningkatkan kualitas SDM dalam sektor publik di nagari;
c. Melakukan reformasi pada tingkat organisasi dengan cara penguatan dan
pengembangan kelembagaan;
d. Peningkatan penyediaan infrastruktur nagari.
Berdasarkan uraian diatas, nagari memang merupakan salah satu identitas
Minangkabau. Nagari telah menjadi simbol perwujudan berbagai tatanan serta
sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya orang Minang. Nagari merupakan
tempat utama menjalankan kesatuan masyarakat dan keunggulan yang terlingkar
dalam kesucian agama dan diemban oleh Kerapatan Adat Nagari.
Perjalanan sejarah nagari tidak selamanya menyenangkan karena nagari
selaras dengan perjalanan perjuangan masyarakatnya. Perjalanan nagari semenjak
berabad silam menunjukkan dinamikanya yang khas dan mengalami pasang surut
yang sangat kuat dan ditandai dengan tekanan dan pengaruh dari kepentingan dari
pihak luar, kekuatan politik kolonial, perjuangan memperoleh kemerdekaan dan
sampai dengan perjuangan politik bangsa di negeri sendiri. Kebijakan politik
nasional yang menyeragamkan sistem pemerintahan terendah di Indonesia melalui
Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa telah
menenggelamkan Pemerintahan Nagari di Sumatera Barat.
113
Penyelenggaraan Pemerintah Desa yang berjalan sekitar 20 tahun hingga
diundangkannya Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan
Daerah junto Undang-undang Nomor 32 tahun 2004, telah mampu merubah
orientasi hidup dan sikap mental dari warga masyarakat di nagari, yang tadinya
egaliter dan mandiri menjadi hirarki, tergantung dan berorientasi ke pemerintahan
tingkat atas. Lembaga-lembaga tradisionil yang tadinya berperan aktif dalam
msyarakat menjadi menurun aktifitasnya. Semangat gotong royong yang bersifat
komunal, spontan, sekarang berubah menjadi gotong royong yang dimobilisasi
dan diakomodasikan dari atas. Akibat dari kesemua itu, rakyat jadi terbiasa
menjadi penurut dan tidak kreatif. Daya rekat dan daya dorong masyarakat
perantau pun mulai menurun baik berkaitan dengan aktifitas pembangunan
maupun kegiatan lainnya.
Kondisi nagari yang diharapkan
Dalam rangka mencapai bentuk kelembagaan yang diharapkan dapat
dijadikan basis pembangunan maka Perda Nomor 9 Tahun 2000 tentang
Ketentuan Pokok Pemerintahan Nagari telah direvisi menjadi Perda Nomor
2 Tahun 2007 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Nagari. Perubahan mendasar
dari Perda tersebut berkaitan dengan: (1) reformasi organisasi dengan
menekankan pada struktur mikro yang memfokuskan diri pada sistem manajemen
modern untuk memperbaiki kinerja dari pelaksanaan fungsi dan tugas spesifik
dalam menunjang penyelenggaraan pemerintahan nagari selaku pemerintahan
formal yang sekaligus bercirikan dukungan pemerintahan non formal.
Pemerintahan nagari yang mendapat dukungan lokal (anak nagari yang berada
dalam kesatuan masyarakat adat baik yang ada di kampung maupun diperantauan)
atau setidak-tidaknya dalam penerapan kebijakan manajemen modern ditingkat
nagari, dengan tidak mengabaikan kearifan, keunikan dan tradisi budaya lokal
yang spesifik; (2) reformasi institusional, sistem institusinya ditetapkan rule of the
game bagi nagari. Perubahan kebijakan dan hukum yang dimainkan oleh
Kerapatan Adat Nagari (KAN) dalam penyelesaian sengketa sako dan pusako
bercirikan dan berlandaskan ketentuan sepanjang hukum adat; (3) memberikan
ruang publik bagi masyarakat/anak nagari untuk mengetahui persoalan-persoalan
pelayanan publik dan terhadap pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh
114
pemerintahan nagari, dan sebagai sarana bagi anak nagari berpartisipasi aktif
dalam merencanakan dan melaksanakan pembangunan nagari; (3) memberikan
ruang gerak kepada kelembagaan masyarakat untuk aktif memperjuangkan
kepentingan publik, melakukan kontrol atas penyelenggaraan pemerintahan nagari
dan memperjuangkan demokrasi.
Sebagai tindak lanjut dari reformasi kelembagaan tersebut masing-masing
daerah kabupaten/kota menindaklanjutinya dengan menetapkan Perda sebagai
petunjuk teknis dan pelaksanaanya. Untuk kasus ini, hingga saat penelitian
Pemerintah Kabupaten masih mempedomani Perda No.31 tahun 2001 tanggal 13
Agustus 2001 tentang Pemerintahan Nagari dan Perda Nomor 10 Tahun 2003
tanggal 19 Mei 2003 tentang Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Nagari.
Apabila dikaitkan dengan hasil analisis komponen utama (PCA) dimana
dalam analisis tersebut memasukkan variabel kerapatan kelembagaan yang ada di
masing-masing nagari dan ternyata variabel-variabel tersebut tidak termasuk
dalam faktor score sehingga tidak signifikan mempengaruhi karakteristik wilayah.
Hal ini mungkin disebabkan dari segi kerapatan kelembagaan tidak
mempengaruhi perkembangan wilayah tapi yang berpengaruh adalah aktivitas dari
kelembagaan yang ada.
Apabila dikaitkan dengan dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)
tahun 2004 2014 dinyatakan bahwa konspep matrilineal (sistem kekerabatan
garis ibu) yang dicirikan dengan: (1) keturunan melalui nasab perempuan, satu
kumpulan keturunan bersatu dibawah penghulu lelaki; (2) pola tempat tinggal
bercorak matrilokal atau tepatnya dwilokal; dan (3) kekuasaan satu kumpulan
terletak ditangan mamak. Pengaruh konsep ini terhadap penggunaan lahan
terutama dalam hal pola menetap (bermukim, dimana keluarga cenderung
berkumpul dekat dengan keluarga ibu (seperti membentuk koloni), sehingga
akhirnya konsentrasi permukiman akan kurang menyebar.
Konsentrasi permukiman yang kurang menyebar ini digambarkan seperti
data pada Tabel 8 dimana jumlah penduduk paling padat berada di wilayah Agam
bagian timur yaitu 201 093 jiwa dan yang paling jarang pada wilayah Agam
bagian tengah 108 371 jiwa. Perbedaan jumlah penduduk antara dua wilayah ini
115
diasumsikan bisa partisipasi masyarakat anak nagari dalam memperkuat
kelembagaan.
Masalah pokok yang dihadapi sekarang adalah bukan ada atau
tidak ada kesenjangan wilayah, namun bagaimana pembangunan wilayah
dapat dikonsepsikan dalam perspektif jangka panjang. Dalam konteks
perkembangan sosial ekonomi dunia dewasa ini, maka arah yang dituju
dalam pembangunan wilayah jangka panjang adalah wilayah harus
mandiri dan cukup memiliki daya saing sehingga mampu berintegrasi ke
dalam sistem perekonomian nasional maupun global. Salah satu upaya
yang sangat strategis adalah memobilisasi seluruh kelembagan
pembangunan di wilayah serta menciptakan interaksi yang erat
melalui networking di antara kelembagaan tersebut dengan tujuan
menciptakan kemampuan dan kemandirian ekonomi wilayah (lokal).
Unsur-unsur strategis dalam networking untuk pembangunan
ekonomi wilayah meliputi perguruan tinggi setempat, asosiasi
industri, lembaga penelitian, pengusaha menengah dan kecil, lembaga
keuangan dan perbankan, serta tentu saja pemerintah daerah sendiri.
Kegiatan riset terapan dalam teknologi untuk meningkatkan kualitas
industri dan produk jasa unggulan, serta hasilnya harus terbuka
bagi para pengusaha lokal (Firman, 1995).
Pengalaman keberhasilan negara lain, seperti Itali dan Spanyol
dalam melakukan program networking bagi tujuan pengembangan wilayah
dan ekonomi lokal patut dipelajari. Mereka cukup berhasil dalam
mempertahankan dan mengembangkan industri-industri tradisionalnya
seperti kulit dan keramik misalnya yang mengalami persaingan ketat
dari negara-negara berkembang. Program ini pada gilirannya telah
berhasil menciptakan distrik-distrik industri (industrial district)
yang didalamnya terjadi interaksi yang solid antar pelaku-pelaku
pengembangan industri. Contoh yang lebih menonjol lagi adalah perkembangan
technopoles di negara-negara yang lebih maju, seperti Jerman,
Jepang, Perancis dan Amerika Serikat, yang pada hakekatnya adalah
pusat-pusat industri dengan elemen-elemen penunjangnya, seperti
116
perguruan tinggi, lembaga riset iptek, perbankan, yang terintegrasi
dan beroperasi dengan inovatif (M. Castells dan P. Hall, 1994 diacu dalam
Firman 1995). Konsep technopoles tersebut pada hakikatnya adalah motor
utama penggerak pembangunan wilayah pada negara-negara tersebut.

Strategi Pengembangan Wilayah


Berdasarkan Fisik Wilayah dan Hasil Analisis
Strategi adalah sebuah konsepsi untuk mencapai tujuan dan sasaran. Oleh
karena itu akan lebih tepat apabila dalam menyusun strategi ada sinergi dan
keterkaitan dengan pelaksanaan. Strategi yang menekankan pada penggunaan
teknologi, inovasi dan pertumbuhan ekonomi akan lebih mengarah pada
perubahan kearah komersial (Danson et al., 1980).
Menurut Rustiadi (2001), pembangunan regional yang berimbang
merupakan sebuah pertumbuhan yang merata dari wilayah yang berbeda untuk
meningkatkan pengembangan kapabilitas dan kebutuhan mereka. Hal ini tidak
selalu berarti bahwa semua wilayah harus mempunyai perkembangan yang sama,
atau mempunyai tingkat industrialisasi yang sama atau mempunyai pola ekonomi
yang sama, atau mempunyai kebutuhan pembangunan yang sama. Akan tetapi
yang lebih penting adalah adanya "pertumbuhan yang seoptimal mungkin dari
potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah sesuai dengan kapasitasnya". Dengan
demikian diharapkan keuntungan dari pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan
merupakan hasil dari sumbangan interaksi yang saling memperkuat diantara
semua wilayah yang terlibat.
Strategi pembangunan berimbang bisa diartikan sebagai pembangunan
berbagai jenis industri secara berbarengan sehingga industri tersebut saling
menciptakan pasar bagi yang lain. Selain itu, strategi pembangunan berimbang ini
dapat juga diartikan sebagai keseimbangan pembangunan di berbagai sektor.
Misalnya antara sektor industri dan sektor pertanian, sektor luar negeri dan sektor
dometik, dan antara sektor produktif dan sektor prasarana. Singkatnya, strategi
pembangunan berimbang ini mengharuskan adanya pembangunan yang serentak
dan harmonis di berbagai sektor ekonomi sehingga semua sektor tumbuh bersama
(Arsyad, 2004).
117
Berdasarkan hasil perhitungan/analisis maka strategi untuk pengembangan
wilayah Kabupaten Agam menuju tercapainya keberimbangan wilayah dapat
ditempuh melalui dua tahap:
1. Menggerakkan potensi unggulan masing-masing wilayah
Karakteristik wilayah di Kabupaten Agam sangat bervariasi baik dari segi
fisik, sosial dan ekonomi. Berdasarkan fisik wilayah, daerah ini kaya akan
potensi sehingga memungkinkan investor melakukan investasi untuk
pengembangan wilayah. Sektor-sektor yang berpotensi untuk pengembangan
wilayah adalah sektor pertanian, pariwisata, jasa dan pertambangan.
Berdasarkan hasil analisis tipologi wilayah, daerah yang memiliki daya tarik
paling besar untuk investasi adalah nagari-nagari yang termasuk kluster III
dan tipologi III (perkembangan tinggi). Wilayah tersebut memiliki
keunggulan berupa telah tersedianya lembaga keuangan, perdagangan, sarana
perhubungan, sarana pertanian, fasilitas penunjang pariwisata, fasilitas
pelayanan masyarakat yang relatif telah memadai. Namun demikian, untuk
menjaga keseimbangan pembangunan antar daerah, wilayah yang termasuk
kluster II dan tipologi II ( belum berkembang) juga perlu didorong untuk
meningkatkan aktivitasnya sesuai dengan kapasitasnya seperti menyediakan
tenaga kerja yang memiliki sumber daya yang berkualitas dan meningkatkan
kapasitas sarana perdagangan.
Upaya menggerakkan potensi unggulan masing-masing wilayah juga dapat
dilakukan dengan cara mendorong tumbuhnya aktivitas yang beragam dari
suatu wilayah karena dengan aktivitas yang cenderung beragam
memungkinkan terjadi peningkatan perkembangan wilayah yang simultan.
Perkembangan wilayah yang simultan ini nantinya akan mendorong
berkurangnya kesenjangan pembangunan.
2. Memperkuat interaksi antar wilayah
Wilayah yang termasuk hirarki I seperti Nagari Lubuk Basung Kecamatan
Lubuk Basung dan Nagari Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang dengan
wilayah yang memiliki hirarki dibawahnya diharapkan dapat saling
memperkuat dengan mendorong masuknya investasi untuk pembangunan
fasilitas jalan. Pembangunan jalan yang menghubungkan hirarki-hirarki
118
tersebut harus menitikberatkan pada fungsinya sebagai wilayah inti dan
hinterland. Pembangunan jalan tersebut hendaknya tidak mengakibatkan
aliran sumber daya dan tenaga kerja yang potensial dari wilayah berhirarki
rendah ke tinggi, namun memberikan pengaruh yang saling menguntungkan
dengan cara meningkatkan kekhasan masing-masing wilayah sehingga antar
wilayah menjadi saling membutuhkan.
Pola spasial yang dibangun untuk memperkuat interaksi adalah network
system yakni membuat posisi tawar wilayah hinterland semakin kuat karena
jalan-jalan yang dibangun bisa menghubungkan pusat produksi yang satu
dengan pusat produksi lain atau antara wilayah yang satu dengan wilayah
yang lain agar interaksi antar masyarakat di pusat produksi yang berbeda bisa
mendorong munculnya kelembagaan masyarakat yang memiliki posisi tawar
yang kuat. Sistem ini juga mengharuskan untuk membangun jalan-jalan yang
bisa menghubungkan pusat produksi dengan beberapa pusat pasar yang
umumnya berhirarki lebih tinggi.
Disamping interaksi antar wilayah juga perlu dibangun adalah interaksi antar
sektor, dimana wilayah hinterland yang umumnya berfungsi sebagai pemasok
bahan baku dan tenaga kerja diharapkan dapat meningkatkan produksi dan
sumber daya untuk menunjang kelangsungan aktivitas industri dan
perdagangan di wilayah inti. Sektor pertanian yang masih merupakan
andalan diharapkan dapat meningkatkan daya saing produknya untuk
menyuplai kebutuhan sektor industri dan perdagangan sebagai sektor
sekunder. Begitu juga dengan sektor sekunder diharapkan mampu menjaga
kelangsungan produksinya untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru pada
sektor tersier. Hasil aktivitas sektor tersier dan sekunder hendaknya dapat
menggerakkan kembali sektor primer dalam menjaga kelangsungan
keterkaitan. Keterkaitan yang dimaksud diatas adalah keterkaitan generatif
yaitu keterkaitan yang sinergis dalam artian dapat mendorong perkembangan
secara berimbang baik antara inti dan hinterland, perdesaan maupun
perkotaan. Salah satu hal yang memungkinkan terjadinya hubungan generatif
adalah adanya aliran surplus dari wilayah inti ke hinterland atau sebaliknya.
119
Untuk mendapatkan strategi pengembangan wilayah berdasarkan wilayah
pembangunan, maka perlu melakukan identifikasi mengenai potensi dan
permasalahan yang dimiliki berdasarkan kondisi umum wilayah dan hasil analisis
dengan cara melakukan sintesa. Untuk memudahkan sintesa tersebut, hasil
identifikasi ditampilkan dalam Tabel 32.
Tabel 32 Hasil Identifikasi Potensi, Kendala, Permasalahan dan Strategi
Pembangunan Wilayah di Agam Bagian Barat
Potensi
1. Penggunaan lahan saat ini berupa kebun kelapa, kelapa sawit, hutan rawa air tawar,
hutan rawa gambut, sebagian pertanian dan hutan alami,
2. Kegiatan yang diarahkan meliputi: pengembangan perkebunan kelapa sawit, kelapa,
permukiman, kebun campuran, tanaman pangan lahan basah, tanaman pangan lahan
kering, hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan perikanan laut,
3. Sebagian besar merupakan dataran rendah,
4. Memiliki klasifikasi kemampuan tanah dengan kedalaman efektif lebih dari 90 cm,
tekstur tanah sedang, drainase tidak pernah tergenang dan tidak ada erosi,
5. Komposisi mata pencaharian penduduk secara berurutan sebagai berikut: petani,
pedagang, PNS/ABRI, buruh tani, buruh/swasta, dan lain-lain.
6. Memiliki kepadatan penduduk 144.77/km2 (sedang)
7. Memiliki satu nagari yang merupakan pusat hirarki
8. Sebagian besar merupakan wilayah dengan kategori tipologi I (sedang) dan ada satu
nagari masuk tipologi III (perkembangan tinggi)
9. Merupakan pusat pergerakan lokal
10. Merupakan wilayah paling berkembang berdasarkan indeks keberagaman aktivitas

Kendala dan permasalahan


1. Ada yang merupakan dataran tinggi
2. Kemiringan lahan 8 15 % (berombak)
3. Dilalui oleh dua buah DAS yaitu DAS Gasan Gadang dan Kinara. Wilayah ini juga
dilalui oleh dua buah Sub-DAS yaitu Sub-DAS Masang Kanan dan Masang Kiri. Sungai
yang melintasi daerah ini terdiri dari sungai besar dan sungai kecil yang berpola
dendritik,
4. Sebagian besar termasuk hirarki III, IV dan V
5. Ada satu kecamatan yang memiliki tingkat kesenjangan tinggi yaitu Kecamatan Lubuk
Basung
Strategi
1. Menetapkan kawasan budidaya dan kawasan lindung
2. Menetapkan sub sektor perkebunan seperti kelapa dan kelapa sawit sebagai komoditi
unggulan untuk mendukung sektor pertanian dalam menyusun struktur perekonomian
sekaligus menurunkan beban sektor ini dalam menyediakan lapangan pekerjaan
3. Mengarahkan lokasi permukiman penduduk dekat dengan pusat produksi
4. Membangun fasilitas pelayanan yang lebih merata, terutama fasilitas yang dapat
memperbesar tingkat kesenjangan seperti sarana pertanian
5. Memperkokoh interaksi wilayah melalui keterkaitan fisik dengan cara membangun jalan
untuk menghubungkan antara wilayah dengan hirarki I dengan wilayah hinterlandnya
dan politik melalui pemberdayaan masyarakat
120
Tabel 33 Hasil Identifikasi Potensi, Permasalahan, dan Strategi Pembangunan
Wilayah Pembangunan di Agam Bagian Tengah
Potensi
1. Penggunaan lahan saat ini adalah hutan alam dan kebun campuran
2. Kegiatan yang diarahkan untuk kelapa sawit, kelapa, hutan lindung, hutan
suaka alam, hutan produksi terbatas, agroforestry, kebun campuran, dan
tanaman pangan lahan basah, dan perikanan darat
3. Memiliki klasifikasi kemampuan tanah dengan kedalaman efektif lebih dari
90 cm, tekstur tanah sedang, drainase tidak pernah tergenang dan tidak ada
erosi
4. Komposisi mata pencaharian penduduk wilayah ini secara berurutan sebagai
berikut: petani, pedagang, buruh tani, PNS/ABRI, lain-lain, dan pengrajin
5. Kepadatan penduduk paling rendah (113/km2)
6. Sebagian besar merupakan wilayah dengan kategori kluster I dan tipologi I
(sedang berkembang) serta ada juga yang termasuk kluster III dan tipologi
III (perkembangan tinggi)
7. Tingkat kesenjangan relatif rendah

Kendala dan permasalahan


1. Sebagian besar merupakan daerah perbukitan dan ada beberapa merupakan
pegunungan
2. Memiliki kemiringan lahan, 3-8 % (landai), 8-15 % (berombak), 15-25%
(berbukit), dan > 45 % (gunung berlereng terjal)
3. Dilalui oleh dua buah DAS yaitu DAS Kinara dan Manggung. Wilayah ini
juga dilalui oleh dua buah Sub-DAS yaitu Sub-DAS Masang Kiri dan
Batang Antokan. Sungai yang melintasi daerah ini terdiri dari sungai besar
dan sungai kecil yang berpola dendritik,
4. Sebagian besar merupakan wilayah dengan ordo sangat rendah (hirarki V)
5. Merupakan wilayah yang belum berkembang berdasarkan indeks
keberagaman aktivitas
Strategi
1. Menetapkan kawasan kawasan lindung untuk mengamankan wilayah
resapan air
2. Mengarahkan kawasan budidaya dengan fungsi ganda yaitu produksi dan
lindung
3. Mendorong perkembangan wilayah dengan meningkatkan kapasitas
penunjang pariwisata sebagai sub sektor unggulan
4. Memperkokoh interaksi wilayah melalui keterkaitan ekonomi dengan cara
membangun keterkaitan generatif dan mendorong pemberdayaan
masyarakat dan kelembagaan nagari
121
Tabel 35 Identifikasi Potensi dan Permasalahan Wilayah Pembangunan Agam
Timur
Potensi
1. Penggunaan lahan saat ini untuk pertanian (sawah), permukiman, kebun
campuran dan hutan alam
2. Kegiatan yang diarahkan untuk tanaman pangan lahan basah, tanaman
pangan lahan kering, permukiman, hutan suaka alam dan wisata, hutan
produksi terbatas, agroforestry, dan hutan lindung
3. Memiliki kemiringan lahan 0-3 % (datar)
4. Memiliki klasifikasi kemampuan tanah dengan kedalaman efektif lebih dari
90 cm, tekstur tanah sedang, drainase tidak pernah tergenang dan tidak ada
erosi
5. Komposisi mata pencaharian penduduk secara berurutan sebagai berikut:
petani, lain-lain, pedagang, buruh tani, pengrajin, dan buruh/swasta
6. Memiliki jumlah penduduk paling padat yaitu 542.33/km2
7. Memiliki semua ordo hirarki yaitu dari hirarki I sampai dengan V
8. Sebagian besar termasuk Kluster I dan Tipologi I (tingkat perkembangan
sedang)
9. Merupakan wilayah dengan tingkat perkembangan sedang berdasarkan
analisis keberagaman aktivitas

Kendala dan permasalahan


1. Sebagian besar merupakan daerah pegunungan, perbukitan dan sebagian
kecil merupakan dataran rendah
2. Memiliki kemiringan lahan 15-45 % (bergelombang)
3. Dilalui oleh DAS Manggung dan Sub-DAS Masang Kanan. Sungai yang
melintasi daerah ini terdiri dari sungai besar dan sungai kecil yang berpola
dendritik,
Strategi
1. Menetapkan kawasan budidaya dan kawasan lindung
2. Mendorong peningkatan produksi dan produktivitas tanaman pangan (sawah
dan ladang)
3. Menekan laju konversi lahan pertanian untuk kegiatan non pertanian
4. Membangun fasilitas pelayanan yang lebih merata
5. Memperkokoh interaksi wilayah melalui keterkaitan fisik, ekonomi,
pelayanan, pergerakan penduduk, dan politik