Anda di halaman 1dari 8

HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN KEJADIAN

INSOMNIA PADA MAHASISWI PSIK SEMESTER


VII YANG SEDANG MENYUSUN SKRIPSI
DI UNIVERSITAS ASIYIYAH
YOGYAKARTA

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah Yogyakarta


Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana S-1 Keperawatam

Disusun Oleh:

Putri Diani Mustikawati

201410201046

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYIYAH
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tidur adalah suatu proses yang sangat penting bagi manusia,

karena dalam tidur terjadi proses pemulihan. Proses ini bermanfaat

untuk mengembalikan kondisi tubuh dimana tubuh yang tadinya

mengalami kelelahan akan menjadi segar kembali. Proses pemulihan

yang terhambat dapat menyebabkan organ tubuh tidak bisa bekerja

dengan maksimal, akibatnya orang yang kurang tidur akan cepat

mengalami kelelahan dan penurunan konsentrasi. Otak memiliki

sejumlah fungsi, struktur dan pusat-pusat tidur yang akan mengatur

siklus tidur dan terjaga. Tubuh pada saat yang sama menghasilkan

substansi yang ketika dilepaskan ke dalam aliran darah akan

menimbulkan rasa kantuk. Proses tersebut jika ditambah dengan

keadaan stres, cemas, dan sakit fisik dapat menimbulkan insomnia

(Sinergi Fitness, 2011).

Gangguan tidur (insomnia) mengakibatkan perubahan kognitif,

presepsi, perhatian, suasana hati dan peningkatan resiko kecelakaan

(Cabrera & Schub, 2011). insomnia juga berdampak terhadap proses

belajar, seperti penurunan konsentrasi, motivasi belajar, kesehatan

fisik, kemampuan berfikir kritis, kemampuan berinteraksi dengan

individu atau lingkungan di kampus dan penurunan menyelesaikan

tugas. (Gaultney, 2010)


Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental

Disorder-IV (DSM-IV), sekitar 20-49% populasi dewasa di dunia

Serikat pernah mengalami insomnia dan 20% di antaranya mengalami

insomnia kronis. Data yang disimpulkan juga menyimpulkan bahwa

wanita memiliki resiko 1,5 kali lebih tinggi untuk mengalami

insominia dibandingkan dengan pria (Pigeon WR, 2014)

Prevelensi insomnia di Indonesia sekitar 10%. Artinya kurang

lebih 28 juta dari total 238 juta penduduk indonesia menderita

insomnia. Jumlah ini hanya mereka yang terdata dalam data statistik.

Selain itu, masih banyak jumlah penderita insomnia yang belum

terdeteksi (Siregar, 2011).

Menurut National Safety Council (2004), stres adalah

ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik,

emosional dan spiritual yang pada suatu saat dapat mempengaruhi

kesehatan fisik manusia tersebut. Stres normal merupakan reaksi

alamiah yang berguna, karena stres akan mendorong kemampuan

seseorang untuk mengatasi kesulitan kehidupan. Persaingan yang

banyak tuntutan dan tantangan di era modern ini akan menjadi tekanan

dan beban stres. Tekanan stres yang besar hingga melampui daya tahan

individu, maka akan menimbulkan gejala-gejala seperti sakit kepala,

mudah marah dan kesulitan untuk tidur. Stres yang berlangsung lama,

maka tubuh akan berusaha menyesuaikannya sehingga timbul

perubahan patologis bagi penderitanya (Hartono, 2011). Stres dapat

terjadi pada orang yang mengalami tekanan berat misalnya pada

mahasiswi tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi mereka.


Mahasiswa tingkat akhir biasanya dibebankan pada skripsi sebagai

syarat memperoleh gelar sarjana. Skripsi merupakan bukti kemampuan

akademik mahasiswa dalam penelitian yang berhubungan dengan

masalah yang dibahas. Student Health and Welfare (2004) menyatakan

bahwa jika seseorang sedang mengalami kesal atau tertarik terhadap

suatu hal, atau mengalami keadaan stress mungkin akan mengalami

kesulitan untuk tidur.

Tingkat kecemasan dan tekanan yang dialami mahasiswa juga

dapat menyebabkan keadaan tidak dapat tidur pada malam hari. Hal ini

membuat universitas sebagai tempat untuk berkembangnya insomnia

disaat mahasiswa harus menunggu dosen, jadwal kuliah yang padat

dan memikirkan tugas akhir. Mengerjakan sebuah skripsi telah

menjadikan kebanyakan mahasiswi stres, takut, bahkan sampai

frustasi. Telah banyak contoh kasus mahasiswa yang menjadi lama

dalam penyelesaian studinya karena terganjal dengan masalah tugas

akhirnya, karena adanya pemikiran pembuatan tugas akhir susah dan

berat maka akhirnya banyak mahasiswa yang menyerahkan pembuatan

skripsi ini ke orang lain atau semacam biro jasa pembuatan skripsi,

atau membeli skripsi orang lain untuk ditiru (Subekti, 2009).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tanggal 14

maret 2017 pada mahasiswi Semester VII S1 Ilmu Keperawatan di

Universitas Aisyiyah Yogyakarta 8 dari 10 mahasiswa mengalami

insomnia karena jadwal kuliah yang padat dan skripsi belum

terselesaikan.
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas didapatkan rumusan masalah

yaitu: Apakah ada hubungan tingkat stres dengan kejadian insomnia

pada mahasiswi PSIK semseter VII yang sedang mengerjakan skripsi

di Universitas Aisyiyah Yogyakarta?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat stres

dengan kejadian insomnia pada mahasiswi PSIK semester VII

yang sedang mengerjakan skripsi di Universitas Aisyiyah

Yogyakarta.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui tingkat kecemasan
b. Derajat insomnia

D. Manfaat Penelitian
Dengan penelitian ini, diharapkan berbagai manfaat dapat diambil

yaitu:
1. Manfaat bagi mahasiswa keperawatan
Menambah pengetahuan mengenai insomnia dan upaya-

upaya dalam menjaga kualitas tidur.


2. Manfaat bagi masyarakat
Sebagai edukasi dan informasi akan pentingnya menjaga

kualitas tidur.
3. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan sebagai pedoman dalam meneliti

insomnia terhadap tingkat stres untuk selanjutnya.


4. Manfaat praktis
Hasil penelitian ini dapat melengkapi penelitian

sebelumnya, khususnya pada kasus insomnia.


E. Ruang Lingkup Penelitian
F. Lingkup Materi
Lingkup penelitian ini mengambil materi tentang hubungan

tingkat stress pada mahasiswi yang sedang menyusun skripsi

dengan terjadinya gangguan pola tidur (insomnia).


G. Lingkup Responden
Responden yang akan diteliti adalah mahasiswi PSIK semester

7 di Universitas Aisyiyah Yogyakarta yang sedang menyusun

skripsi dan mengalami gangguan pola tidur (insomdengan

alasan dari hasil studi pendahuluan pada mahasiswi PSIK

Semester 7 di Universitas Aisyiyah Yogyakarta terdapat 8 dari

10 mahasiswa mengalami insomnia karena jadwal kuliah yang

padat dan skripsi belum terselesaikan.

H. Lingkup Waktu
Penelitian di lakukan pada bulan Maret 2017 sampai dengan

bulan Juli 2017. Dimulai dari studi pendahuluan, penyusunan

proposal sampai laporan hasil penelitian (Time Schedule

terlampir).

I. Keaslian Penelitian
1. Penelitian oleh Nahsori,F.R dan Diana,R,R. (2005) dengan judul

Perbedaan Kualitas Tidur dan Kualitas Mimpi pada Mahasiswa

Perempuan dan Laki-laki. Hasil menunjukkan bahwa tingkat

kesiapan tidur berkualitas sebagian besar subjek penelitian

tergolong sedang (69,3%) dan tinggi (27,9%). Sisanya dan tinggi

(30,4%). Sisanya sangat tinggi (0,6%), rendah (4,1%), dan sangat

rendah (0,3%). Sementara analisis uji beda terhadap kualitas tidur

dan kualitas mimpi pada mahasiswa laki-laki dan mahasiswa


perempuan menunjukkan hasil sebagai berikut: a. Ada perbedaan

kualitas tidur antara mahasiswa putra dan mahasiswa putri

Universitas Islam Indonesia. Mahasiswa putri memiliki kualitas

tidur yang lebih tinggi dibanding mahasiswa putra (F =1.400, t = -

3.486, p = 0.001/p < 0.01). Adapun rata-rata skor kualitas tidur

mahasiswa putri (N = 163) adalah 78.15 dan mahasiswa putra (N =

156) adalah 74.66. b. Tidak ada perbedaan kualitas mimpi antara

mahasiswa putra dan mahasiswa putri Universitas Islam Indonesia.

(F = 4.115, t = 0.151, p = 0.880/p > 0.05). Adapun rata-rata skor

kualitas mimpi mahasiswa putri (N = 163) adalah 78.95 dan

mahasiswa putra (N = 156) adalah 79.14.


2. Penelitian oleh Dewi,S,K.(2008) dengan judul Faktor-faktor yang

Berkaitan dengan Pravalensi Kurang Tidur Kronis pada Mahasiswa

di daerah Istimewa Jogyakarta Berdasarkan hasil yang diperoleh,

dari 104 responden terdapat 47 orang (45,19%) yang didiagnosis

menderita kurang tidur kronis dari angka prevalensi sebesar

45,19% ini sebanyak 26 orang (25%) adalah laki-laki dan 21 orang

lainnya (20,19%) adalah perempuan.


3. Penelitian oleh Rizqiea,N,S dan Hartati, E.(2012) dengan judul

Pengalaman Mahasiswa yang Mengalami Insomnia Selama

Mengerjakan Tugas akhir Hasil wawancara yang dilakukan oleh

peneliti kepada 25 mahasiswa didapatkan data awal, yaitu 10

mahasiswa menyatakan bahwa mengalami insomnia selama

mengerjakan tugas akhir. Lima orang termasuk dalam transient

insomnia karena menyatakan cemas hanya ketika mengerjakan

tugas akhir, tiga orang termasuk dalam short term insomnia karena
menyatakan depresi akibat dari judul yang diajukan selalu ditolak,

dan dua orang lainnya termasuk dalam long term insomnia karena

menyatakan mengalami ketakutan berlebih terhadap tugas akhir.