Anda di halaman 1dari 40

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

A. Pendahuluan

Di dalam suatu penelitian ilmiah, agar data yang kita kumpulkan menjadi
valid, maka kita harus mengetahui bagaimana cara-cara pengumpulan data dalam
research itu, sehingga data yang kita peroleh dapat menjadi pendukung terhadap
kebenaran suatu konsep tertentu. Instrumen itu alat, sehingga instrumen penelitian
itu alat yang digunakan dalam penelusuran terhadap gejala-gejala yang ada dalam
suatu research guna membuktikan kebenaran atau menyanggah suatu hipotesa-
hipotesa tertentu.

Menyusun instrumen merupakan suatu proses dalam penyusunan alat


evaluasi karena dengan mengevaluasi kita akan memperoleh data tentang objek
yang diteliti.

Oleh karena itu, menyusun instrumen merupakan langkah penting dalam


prosedur penelitian yang tak dapat dipisahkan antara yang satu terhadap yang
lainnya.

Hal ini dilakukan karena untuk menjaga kesinambungan data yang


dikumpulkan dengan pokok permasalahan yang dibuat dalam rangka pengujian
terhadap hipotesis-hipotesis yang dibuat.

Atas dasar itu, penulis dapat menemukan problematika pokok dalam


pembahasan makalah ini, yaitu :

1. Apakah definisi instrumen pengumpulan data itu ?

2. Jenis instrumen apa sajakah yang dipergunakan dalam suatu penelitian ?

3. Bagaimana cara menyusun instrumen penelitian itu ?

4. Teknik apa yang digunakan dalam pengumpulan data?

B. Pembahasan
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada relevansinya dengan
instrumen penelitian, dapat saya kemukakan beberapa hal sebagai berikut :

1. Definisi Instrumen Pengumpulan Data

Menurut Sumadi Suryabrata ( 2008 : 52 ) mendefisikan bahwa Instrumen


Pengumpulan data adalah alat yang digunakan untuk merekam pada umumnya
secara kuantitatif[1].

Menurut Suharsimi Arikunto (2000:134) mendefinisikan bahwa Instrumen


Pengumpulan Data adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti
dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan
dipermudah olehnya[2]. Yang disebut sistem, menurut Prajudio Atmosudirdjo
sebagaimana dikutif oleh Aceng Muhataram Mirfani ( 2011 : 167 ) adalah
seperangkat komponen yang terdiri dari dua atau lebih, yang saling berhubungan
dan saling ketergantungan satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama[3].

Sedangkan menurut Ibnu Hajar (1996 : 160 ), Instrumen Pengumpulan


Data adalah merupakan alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan informasi
kuantitatif tentang variabel yang karakteristik dan objektif[4].

Dari uraian beberapa pakar di atas, dapat penulis ambil suatu generalisasi
bahwa Instrumen Pengumpulan data adalah alat bantu yang digunakan dalam
sebuah research untuk mengumpulkan aneka ragam informasi yang diolah secara
kuantitatif dan disusun secara sistematis.

2. Jenis Instrumen Pengumpulan data

Instrumen yang dipergunakan dalam upaya pengumpulan data suatu


penelitian itu harus memperhatikan validitas dan reliabelitas, karena
sesungguhnya data yang baik adalah data yang valid dan reliable.

Menurut Sukidin, dkk (2010:100) berpendapat bahwa Instrumen Valid adalah


instrumen yang mampu mengukur apa yang seharusnya diukur misalnya bahwa
penggaris adalah alat yang valid untuk mengukur panjang, bukan untuk mengukur
berat. Sedangkan instrumen reliable adalah instrumen yang konsisten
(tepat/akurat) dalam mengukur yang seharusnya diukur[5].

Menurut Sutrisno Hadi, bahwa yang menjadi instrumen yang valid itu memenuhi
persyaratan sebagai berikut : (1) pengukuran dengan alat pengukur yang lain
sebagi prediktor, (2) adanya standisasi group tertentu untuk mengadakan observasi
sebagai sebuah kriterium, (3) diselidiki ada atau tidaknya kecocokan antara hasil
prediktor dengan hasil kriterium[6].

Menurut Prof. DR. Punaji Setyosari, M.Ed (2012 : 205) berpendapat bahwa
validitas terbagi menjadi 2 (dua) yaitu : (1) validitas logis, yakni diperoleh dengan
usaha yang sangat hati-hati sehingga secara logika instrumen itu dicapai menurut
validitas yang dikehendaki, (2) validitas empiris, yaitu validitas yang diperoleh
berdasarkan pengalaman[7].

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, dapat dikatakan bahwa di dalam


penyusunan instrumen pengumpulan data suatu penelitian, data yang dihasilkan
nanti harus mempunyai kebenaran yang dapat diukur serta mempunyai konsistensi
kebenaran terhadap suatu objek sehingga adanya relevansi antara hipotesa dan
kenyataan yang diperoleh melalui pengalaman secara optimal yang dengannya
kesahihan penelitian dapat diterima secara logis oleh akal.

Jenis instrumen pengumpulan data, disebut juga alat evaluasi. Menurut Mulyasa,
secara garis besar terbagi menjadi dua macam, yaitu : (1)Instrumen Tes, (2)
Instrumen Non Tes[8].

Instrumen tes merupakan serentetan pertanyaan, lembar kerja atau sejenisnya


yang dapat dipergunakan untuk mengukur pengetahuan, keterampilan, bakat, dan
kemampuan dari subjek penelitian. Lembar instrumen berupa tes ini berisi soal-
soal tes yang terdiri dari butir-butir soal, baik itu yang ada pada angket, observasi
atau wawancara. Contohnya adalah tes formatif, baik yang bersifat objektif
(multiple choice) atau Essay. Sedangkan instrumen non tes merupakan instrumen
yang berupa selain dari pada bentuk pertanyaan-pertanyaan, tetapi biasanya
berupa dokumentasi sebagai portofolio, dan menurut Juliansyah Noor (2012 :
141) ditambahkan dengan Focus Group Discussion (FGD) yaitu teknik
pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan
tujuan menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok
[9].

3. Cara Menyusun Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen memegang peranan penting dalam suatu penelitian. Mutu


penelitian sangat dipengaruhi oleh Instrumen penelitian yang digunakan, karena
kevalidan dan kesahihan data yang diperoleh dalam suatu penelitian dsangat
ditentukan oleh tepat tidaknya dalam memilih instrumen penelitian. Instrumen
atau alat pengumpul data adalah suatu alat yang digunakan untuk mengumpulkan
data dalam suatu penelitian. Data tersebut dibutuhkan untuk menguji hipotesis
yang diajukan dalam penelitian.

Untuk mengumpulkan data dalam suatu penelitian kita dapat


menggunakan istrumen yang telah tersedia dan dapat pula menggunakan
instrumen yang dibuat sendiri (Idrus Austam, 1996). Penggunaan instrumen yang
telah tersedia adalah instrumen yang sudah ditetapkan atau dibakukan untuk
mengumpulkan data variabel penelitian yang telah ditentukan. Akan tetapi jika
istrumen baku belum tersedia untuk variabel tertentu dalam penelitian tersebut
maka peneliti dapat menyusun sendiri instrumen yang yang akan digunakan oleh
peneliti dalam melakukan penelitian.

Menyusun instrumen pengumpulan data penelitian dilakukan setelah


peneliti memahami betul apa yang menjadi variabel penelitian. Pemahaman
Peneliti terhadap variabel dan hubungan antar variabel akan mempermudah
peneliti dalam menentukan dan menyususn intrumen penelitian yang akan
digunakan. Setelah memahami variabel peneliti dapat menyusun instrumen untuk
dapat menjabarkan kedalam bentuk sub variabel, indikator, deskriptor dan butir-
butir pertanyaan dan angket dalam daftar cocok atau pedoman observasi. Dengan
demikian maka instrumen penelitan menajdi hal penting untuk menjaga agar
penelitian yang dilakukan tersebut bermutu dan berkualitas.

Hal yang terkait jika membicarakan tentang instrumen penelitian adalah


tekhnik pengumpulan data penelitian. Jika instrumen penelitian adalah alat bantu
yang digunakan dalam penelitian maka tekhnik pengumpulan data adalah
merupakan cara atau prosedur yang ditempuh untuk mendapatkan data yang
dibutuhkan dalam penelitian. Kedua hal tersebut yaitu instrumen penelitian dan
tekhnik pengumpulan data adalah merupakan dua hal yang sangat mempengaruhi
kualitas data yang diperoleh peneliti dalam suatu penelitian. Sehingga kulaitas
data yang dikumpulkan mempengruhi kualitas dan keabsahan serta ketepatan
kesimpulan yang diperoleh peneliti setelah melakukan penelitian

4. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data

Pada bagian ini akan dibahas tentang teknik yang akan digunakan dalam
pengumpulan data. Sebagaimana diketahui bahwa penelitian menurut jenis data
dan analisisnya maka penelitian ada dua bentuk penelitian, yaitu; penelitian
kuantitatif dan penelitian kualitatif.

Penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang berlandaskan pada


filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi dan sampel tertentu,
teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random,
pengumpulan data menggunakan istrumen penelitian, analisis data bersifat
kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah
ditetapkan[10]. Sedangkan penelitian kualitatif adalah penelitian yang
berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi
obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci,
pengambilan sampel sumber data dilakukan secara purposive dan snowbaal,
analisis bersifat induktif/kualitatif dan hasil penelitian lebih menekankan makna
atau data sebenarnya.[11]

Mengingat bentuk penelitian yang banyak dilakukan di lingkungan Pasca Sarjana


IAIN Raden Fatah Palembang adalah penelitian kualitatif, maka penulis akan
menguraikan penjelasan dalam makalah ini, pada bagian instrumen pengumpulan
data dalam bentuk penelitian kualitatif saja. Dalam penelitian ada banyak
instrumen atau teknik yang dapat digunakan dalam mengumpulkan data, namun
dalam penelitian kualitatif, dominan yang banyak digunakan oleh peneliti ada 4
(empat) macam teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara,
dokumentasi dan gabungan/triangulasi. Perhatikan diagram berikut:

Macam Teknik Pengumpulan Data

Observasi

Wawancara

Dokumentasi

Triangulasi/

Gabungan

Gambar 1 Macam-macam Teknik Pengumpulan Data

a. Pengumpulan data dengan observasi

1) Macam-macam observasi

Nasution (1998) menyatakan bahwa, observasi adalah dasar semua ilmu


pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta
mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Mursall (1995)
menyatakan bahwa through observation, the researcher learn about behavior and
the meaning attached to those behaviormelalui observasi, peneliti belajar tentang
perilaku, dan makna dari perilaku tersebut.

Sanafiah Faisal (1990) membedakan observasi menjadi observasi berpartisifasi


(participant observastion), Observasi secara terang-terangan dan tersamar (overt
observastion and covert observastion), observasi yang tak berstruktur
(unstruktured observation),[12] masing-masing tipe dan jenis observasi tersebut
digunakan sesuai dengan karakteristik objek material sumber data penelitian.

a) Observasi Partisipatif (participant observastion).

Observasi partisipatif merupakan seperangkat strategi dalam penelitian yang


tujuannya adalah untuk mendapatkan data yang lengkap. Hal ini dilakukan dengan
mengembangkan keakraban yang dekat dan mendalam dengan satu kelompok
orang dilingkungan alamiah mereka. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan
sejumlah tujuan dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari objek yang sedang
di telitinya.[13]

Susan Stainback (1998), menyatakan bahwa in participant observation, the


researcher observes what people do, listen to what they say, and participates in
their activities. Dalam observasi partisipatif, peneliti mengamati apa yang
dikerjakan orang, mendengarkan apa yang mereka ucapkan, dan berpartisipasi
dalam aktivitas mereka.[14]

Dalam observasi partisipatif terdapat beberapa kategori peran partisipan yang


terjadi di lapangan penelitian kualitatif. Menurut Junker terdapat beberapa macam
kategori peran partisipan dilapangan yaitu:

1.Peran serta lengkap, yaitu peran pengamat dalam hubungan ini menjadi anggota
penuh dari yang diamati. Pengamat akan memperoleh informasi tentang apapun
dari yang diamati, termasuk yang barang kali yang dirahasiakan. 2.Peran serta
sebagai pengamat, yaitu peneliti dalam hubungan ini berperan sebagai pengamat
(ply on the wall). Statusnya sebagai anggota dalam hubungan ini sebenarnya
hanya sebatas pura-pura saja, sehingga tidak melebur secara fisik maupun psikis
dalam pengertian yang sesungguhnya.3.Pengamat sebagai pemeranserta, dalam
hubungan ini peneliti sebagai pengamat ikut melakukan apa yang di lakukan oleh
nara sumber sebagai yang teramati meskipun belum sepenuhnya. 4.Pengamat
penuh, dalam hubungan ini kedudukan pengamat dan yang diamati terpisah,
informasi diteruskan satu arah saja, sehingga subjek tidak merasa diamati[15].
b) Observasi terus terang atau tersamar

Pada uraian di atas telah dijelaskan bahwa ciri penelitian kualitatif diantaranya
adalah untuk menemukan dan mengungkap fakta yang ada di lapangan secara
alamiah (natural setting). Konsekuensinya peneliti harus secara cermat dan
bijaksana menerapkan teknik pengumpulan data di lapangan pada nara sumber,
agar benar-benar data diperolehnya bersifat alamiah.

Oleh karena itu dalam observasi peneliti dalam pengumpulan data menyatakan
terus terang kepada sumber data (kepada masyarakat yang ditelitinya, bahwa
peneliti sedang melakukan observasi dalam penelitian.[16] Pada tipe ini semua
proses yang dilakukan oleh peneliti diketahui semuanya oleh orang yang diteliti.
Tapi dalam suatu saat peneliti tidak terus terang atau tersamar dalam observasi,
hal ini untuk menghindari kalau suatu data yang dicari merupakan data yang
masih dirahasiakan. Kemungkinan kalau dilakukan dengan terus terang, maka
peneliti tidak akan diijinkan untuk melakukan observasi[17].

c) Observasi tak berstruktur

Dalam penelitian kualitatif dilakukan dengan tidak terstruktur, karena fokus


penelitian belum jelas. Fokus observasi akan berkembang selama kegiatan
observasi berlangsung. Kalau masalah penelitian sudah jelas seperti dalam
penelitian kuantitatif, maka observasi dapat dilakukan secara berstruktur dengan
menggunakan pedoman observasi.

Observasi tidak terstruktur adalah observasi yang tidak dipersiapkan secara


sistematis tentang apa yang akan di observasi. Hal ini dikarenakan peneliti tidak
tahu secara pasti tentang apa yang akan diamati. Dalam melaksanakan penelitian
tidak menggunakan instrumen yang telah baku, tapi hanya berupa rambu-rambu
pengamatan[18].

Selanjutnya Spradley (1980) mengatakan dalam penelitian kualitatif memiliki


tahapan dan objek yang observasi. Tahapan observasi, yaitu; Observasi deskriftif,
Observasi terfokus, dan Observasi terseleksi[19]. Dan objek yang diobservasi
adalah ruang (tempat), pelaku (aktor) dan kegiatan (aktivitas)[20].

Dari ketiga objek tersebut dapat dikembangkan lagi menjadi beberapa item pokok,
yaitu; Ruang (tempat) dalam asfek fisiknya; Pelaku yaitu semua orang yang
terlibat dalam situasi; Kegiatan, yaitu apa yang dilakukan orang dalam situasi itu;
Objek, yaitu benda-benda yang terdapat di tempat itu; Perbuatan, yaitu tindakan-
tindakan tertentu; Kejadian atau peristiwa, yaitu rangkaian kegiatan; Waktu, yaitu
menyangkut urutan kegiatan, tujuan, yaitu apa yang ingin dicapai dan emosi;
Perasaan yang dirasakan dan dinyatakan.[21]

b. Teknik pengumpulan data dengan wawancara

Dalam wawancara kita kita dihadapkan kepada dua hal. Pertama, kita harus
mengadakan interaksi dengan responden. Kedua, kita menghadapi kenyataan,
adanya pandangan orang lain yang kita hadapi ialah bagaimana cara berinteraksi
dengan orang lain, dan bagaimana kita mengolah pandangan yang mungkin
berbeda itu.

Esterberg (2002) mendefinisikan interview sebagai berikut: a meeting of two


persons to exchange information and idea through question and responses,
resulting in-communication and joint construction of meaning about a particular
topic. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar
informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna
dalam topik tertentu[22].

Menurut Mishler (1986:82), ia mengungkapkan tentang wawancara lapangan


adalah

The field interview is a joint production of researcher and a member. Member are
active participant whose insights, feelings, and cooperation are essential part of a
discussion process that reveals subjective meanings. The interviewer's presence
and from of involvement how she or he listens, attends, encourages, interrupts,
digresses, initiates topics, and terminates responses-is integral to the respondent's
account.[23]

Wawancara lapangan adalah produksi bersama peneliti dan anggota. Anggota


adalah peserta aktif yang wawasan, perasaan, dan kerjasama merupakan bagian
penting dari proses diskusi yang mengungkapkan makna subjektif. Kehadiran
pewawancara dan dari keterlibatan bagaimana dia atau dia mendengarkan,
menghadiri, mendorong, menyela, digresses, memulai topik, dan berakhir
tanggapan-merupakan bagian integral ke rekening responden.

1) Macam-macam Interview/wawancara.

Esterberg (2002) mengemukakan beberapa macam wawancara, yaitu; Wawancara


terstruktur (structured interview); Wawancara semiterstruktur (semistructure
Interview); Wawancara tak berstruktur (unstructured Interview)[24].

2) Langkah-langkah wawancara.
Lincoln and Guba dalam Sanapiah Faisal, mengemukakan ada tujuh langkah
dalam penggunaan wawancara unyuk mengumpulkan data dalam penelitian
kualitatif, yaitu:

a) Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan

b) Menyimpan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan

c) Mengawali atau membuka alur wawancara

d) Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya

e) Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan

f) Mengidentifikasikan tindak lanjut hasil wawancara yang telah


diperoleh[25].

3) Isi wawancara

Beberapa jenis yang dapat dinyatakan dalam wawancara adalah:

(a) Pengalaman dan perbuatan responden, yaitu apa yang telah dikerjakannya
atau yang lazim dikerjakannya

(b) Pendapat, pandangan, tanggapan, tafsiran atau perkiraanya tentang sesuatu,

(c) Perasaan, respons emosional, apakah ia merasa cemas, takut, senang,


gembira,curiga, jengkel dan sebagainya tentang sesuatu.

(d) Pengetahuan, fakta-fakta, apa yang diketahuinya tentang sesuatu.

(e) Penginderaan, apa yang dilihat, didengar, dirabah, dikecap atau diciumnya,
diuraikan secara deskriptif.

(f) Latar belakang pendidikan, pekerjaan, daerah asal, tempat tinggal, keluarga
dan sebagainya[26].

Beberapa aspek di atas dipersiapkan agar dapat mengantisipasi kekosongan


terhadap sesuatu yang hendak ditanyakan. Materi pertanyaan dapat
melingkupidimensi waktu, seperti tentang apa-apa yang dikerjakan responden di
masa lampau, sekarang dan akan datang. Dan pada intinya pertanyaan-pertanyaan
yang dirumuskan harus berpedoman pada arah penelitian atau harus sesuai dengan
tujuan penelitian.

4) Alat-alat wawancara
(a) Buku catatan: berfungsi untuk mencatat semua pembicaraan atau
percakapan dengan sumber data, sekarang sudah banyak komputer-komputer
kecil, notebook yang dapat digunakan untuk mencatat hasil pembicaraan.

(b) Tape recorder: berfungsi untuk merekam semua percakapan atau


pembicaraan. Penggunaan tape recorder dalam wawancara perlu memberi tahu
kepada informan boleh atau tidak.

(c) Camera: untuk memotret kalau peneliti sedang melakukan pembicaraan


dengan informan/sumber data. Dengan adanya foto=foto in i dapat meningkatkan
keabsahan penelitian akan lebih terjamin, karena peneliti betul-betul melakukan
pengumpulan data[27].

c. Teknik pengumpulan data dengan dokumen

Dokumen adalah merupakan catatan peristiwa yangtelah lalu. Dokumen dapat


berbentuk tulisan, gambar, atau karya menumental dari seseorang lainnya.
Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life
histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan. Dokumen yang berbentuk
gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa, film, video, CD, DVD, cassete, dan
lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, karya lukis, patung
naskah, tulisan, prasasti dan lain sebagainya.[28]

Secara interpretatif dapat diartikan bahwa dekumen merupakan rekaman kejadian


masa lalu yang ditulis atau dicetak, dapat merupakan catatan anekdotal, surat,
buku harian dan dekomen-dekumen. Dokumen kantor termasuk lembaran internal,
komunikasi bagi publik yang beragam, file siswa dan pegawai, diskripsi program
dan data statistik pengajaran[29]. Nasution menjelaskan bahwa: ada sumber yang
non manusia (non human resources), antara lain adalah dokumen, foto dan bahan
statistik[30].

Dokumen digunakan dalam penelitian sebagai sumber data sekunder manakala


dokumen tersebut memiliki nilai. Menurut Wang dan Soergel (1998), nilai
kegunaan dokumen dapat dilihat dari beberapa hal sebagai berikut:

1) Evistemic values, yaitu suatu dokumen keberadaannya sangat berguna bagi


pemenuhan kebutuhan akan pengetahuan atau informasi yang tidak/belum
diketahui. Nilai evistemic merupakan prasyarat bagi semua dokumen.

2) Functional values, yaitu suatu dokumen yang keberadaannya sangat berguna


karena memberi konstribusi pada penelitian yang dilakukan. Dokumen akan
berguna karena berisi teori, data pendukung empiris, atau metodologi.
3) Condotional values, yaitu suatu dokumen sangat berguna apabila muncul
beberapa kondisi atau syarat terpenuhi, atau terdapat dokumen lain yang dapat
memperkuat dokumen tersebut.

4) Social values, yaitu suatu dokumen keberadaannya sangat berguna dalam


hubungan dengan kelompok atau individu. Seperti berhubungan dengan guru,
tokoh masyarakat, kiyai, ulama, atau tokoh lainnya[31].

Jadi hasil penelitian dari observasi atau wawancara, akan dapat dipercaya kalau
didukung oleh sejarah pribadi kehidupan dimasa kecil, disekolah, ditempat kerja,
di masyarakat, dan autobiografi. Hasil penelitian juga akan lebih kredibel apabila
didukung oleh foto-foto atau karya tulis akademik dan seni yang telah ada.

Selanjutnya perlu di perhatikan bahwa tidak semua dokumen memiliki kredibel


yang tinggi, misalnya terdapat berbagai foto yang tidak mencerminkan aslinya,
karena foto dibuat untuk kepentingan tertentu. Begitu pula autoboigrafi yang di
tulis untuk dirinya sendiri.

d. Teknik Pengumpulan data dengan Triangulasi

Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik


pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai data dan sumber
data yang telah ada. Triangulasi teknik, berarti peneliti menggunakan observasi
partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang
sama secara serempak. Triangulasi sumber berarti, untuk mendapatkan data dari
sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Hal ini dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 3. Triangulasi teknik pengumpulan data (bermacam cara pada sumber


yang sama).
Wawancara mendalam

Gambar 4. Triangulasi sumber pengumpulan data (satu teknik pengumpulan


data pada bermacam-macam sumber data A, B, C)

Susan stainback (1998) menyatakan bahwa tujuan triangulasi adalah the aim is
not to determine truth about some social phenomenon, rather the purpose of
triangulation is to increase ones understanding of what ever is being
investigated. Tujuan dari triangulasi bukan untuk mencari kebenaran tentang
beberapa fenomena, tetapi lebih pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap
apa yang telah ditemukan[32].

Tujuan penelitian kualitatif memang bukan semata-mata mencari kebenaran,


tetapi lebih pada pemahaman subyek terhadap dunia sekitarnya. Dalam
memahami dunia sekitarnya, mungkin apa yang dikemukakan informan salah,
karena tidak sesuai dengan tiori, tidak sesuai dengan hukum.

Oleh karena itu dengan menggunakan teknik triangulasi dalam pengumpulan data,
maka data yang diperoleh akan lebih konsisten, tuntas dan pasti. Dengan
triangulasi lebih meningkatkan kekuatan data, bila dibandingkan dengan satu
pendekatan.

e. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa, menetapkan jenis instrumen dan
melaksanakan langkah-langkah atau panduan yang yang menunjang instrumen
tersebut dalam sebuah penelitian, menjadi sasuatu hal sangat penting. Karena
dalam menguji hipotesis sangat memerlukan data-data yang valid, data yang kuat,
data yang kredibel. Dengan data-data yang terkumpul sesuai dengan arah dan
tujuan penelitian, maka diharapkan penelitian dapat diselesaikan dengan hasil
yang akurat dan empiris.

Daftar Pustaka

Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam Pendidikan,


Jakarta : Raja Grafindo Persada

Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, Jakarta : Kencana Prenada Media Group,

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012), cet. Xv,

Kaelan, M.S., Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner, (Yokyakarta:


Paradigma, 2010)

Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : PT. Remaja Rosda
Karya, cet.ke-4,

Michael Quninn Patton, Qualitative Evaluation Methodes, (Sage Publications,


Baverly Hills, 1980)

Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito, 1992).

Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dalam Pengembangan, Jakarta :


Prenada Media Group, cet. Ke-2

Satori, Djaman dan Aan Komariah, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung:


Alfabeta, 2009)

Sudikin, dkk., Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Insan Cendekia,

Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2009)

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012), cet. Xv,

Suharsimi Arikunto, Manageman Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2000,


Sutrisno Hadi, Meteologi Research, Yogyakarta : Andi Offset, cet. Ke-23, 1994

Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta : Raja Grafindo, 2008,

Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia,


Manajemen Pendidikan, Bandung : Alpabeta, 2011

W. Lawrence Neuman, Social Research Metthods, (Canadian Internanational


Depelopment Agency, 2004)

[1] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Jakarta : Raja Grafindo, 2008,


hlm.52

[2] Suharsimi Arikunto, Manageman Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2000,


hlm.134

[3] Tim Dosen Administrasi Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia,


Manajemen Pendidikan,

Bandung : Alpabeta, 2011, hlm. 167

[4] Ibnu Hadjar, Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif dalam


Pendidikan, Jakarta : Raja

Grafindo Persada, hlm.160

[5] Sukidin, dkk., Manajemen Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta : Insan


Cendekia, cet.ke-4, hlm.100

[6] Sutrisno Hadi, Meteologi Research, Yogyakarta : Andi Offset, cet. Ke-23,
1994, hlm.123

[7] Punaji Setyosari, Metode Penelitian Pendidikan Dalam Pengembangan,


Jakarta : Prenada Media

Group, cet. Ke-2, hlm.205

[8] Mulyasa, Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, Bandung : PT. Remaja
Rosda Karya,

hlm.203
[9] Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, Jakarta : Kencana Prenada Media
Group, cet.ke-2,

hlm.141

[10] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012), cet.
Xv, hlm. 14

[11] Sugiyono, Ibidt., hlm. 15.

[12] Kaelan, M.S., Metode Penelitian Agama Kualitatif Interdisipliner,


(Yokyakarta: Paradigma,

2010), hlm. 88

[13] Satori, Djaman dan Aan Komariah, Metodelogi Penelitian Kualitatif,


(Bandung: Alfabeta,

2009), hlm. 117.

[14] Sugiyono, op. Cit., hlm. 65

[15] Michael Quninn Patton, Qualitative Evaluation Methodes, (Sage


Publications, Baverly Hills,

1980), hlm. 131-132.

[16] Kaelan, op. Cit., hlm 91.

[17] Sugiyono, op. Cit., hlm. 312.

[18] Ibid., hlm. 313.

[19] Kaelan, op. Cit., hlm. 92-93.

[20] Ibid., hlm 95.

[21] Ibid., hlm 96.

[22] Sugiono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2009),


hlm.72.

[23] W. Lawrence Neuman, Social Research Metthods, (Canadian


Internanational Depelopment

Agency, 2004). Hlm. 390.


[24] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: Alfa Beta, 2012), cet.
Xv, hlm. 319.

[25] Ibid., hlm. 322

[26] Kaelan, op. Cit., hlm 110-111

[27] Sugiyono, op. Cit., hlm. 328.

[28] Kaelan, op. Cit., hlm 113

[29] Satori, Djaman dan Aan Komariah, Metodelogi Penelitian Kualitatif,


(Bandung: Alfabeta,

2009), hlm. 147.

[30] Nasution, Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito,


1992). Hlm. 85.

[31] Satori, op.cit., hlm. 152

[32] Sugiyono, op. Cit., hlm. 330.


MAKALAH METODE PENELITIAN

TEKNIK PENGUMPULAN DATA

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Seperti telah disebutkan, kualitas data ditentukan oleh kualitas
alat pengambil data atau alat pengukurnya. Kalau alat pengambil datanya cukup
reliable dan valid, datanya juga reliable dan valid. Namun, masih ada satu hal lagi
yang harus dipertimbangkan, yaitu kualifikasi si pengambil data. Beberapa alat
pengambil data masyarakat memerlukan kualifikasi tertentu pada pihak pengambil
data. Misalnya, beberapa test psikologi tidak dapat dilakukan oleh sembarang
orang. Beberapa alat laboratorium juga menuntun dasar pendidikan dan
pengalaman tertentu untuk dipergunakan secara benar. Persyaratan ini harus
dipenuhi oleh peneliti, jika tidak, reliabilitas dan validitas yang terkumpul akan
terganggu. Disamping hal tersebut diatas, prosedur yang dituntut oleh setiap
metode pengambilan data yang digunakan harus dipenuhi secara tertip. Pada
umumnya setiap alat atau metode pengambilan data mempunyai panduan
pelaksanaan. Panduan ini harus sejak awal dipahami oleh peneliti. Bila
menggunakan jasa orang lain untuk mengumpulkan data, si peneliti harus
mempunyai cara untuk memperoleh keyakinan bahwa pengalaman data itu telah
dilaksanakan menurut prosedur yang seharusnya. Apa yang telah dibicarakan
diatas ialah seluk beluk pengambilan data primer, yaitu data yang langsung
dikumpulkan oleh peneliti (atau petugas-petugasnya) dari sumber pertamanya.
Disamping data primer terdapat data sekunder, yang sering kali juga diperlukan
oleh peneliti. Data sekunder itu biasanya telah tersusun dalam bentuk dokumen-
dokumen, misalnya data mengenai keadaan demografis suatu daerah, data
mengenai produktifitas suatu perguruan tinggi, data persediaan pangan disuatu
daerah, dan sebagainya. Mengenai data sekunder ini, peneliti tidak banyak dapat
berbuat untuk menjamin mutunya. Dalam banyak hal, peneliti harus menerima
menurut apa adanya. Pengambilan data yang dihimpun langsung oleh peneliti
disebut sumber primer, sedangkan apabila melalui tangan kedua disebut sumber
sekunder.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pengumpulan data?

2. Apa saja teknik-teknik dari pengumpulan data ?

3. Apa saja jenis-jenis dari pengumpulan data ?


C. Tujuan Penulisan

1. Ingin mengetahui pengertian tentang pengumpulan data itu sendiri. 2. Ingin


mengetahui teknik-teknik dari pengumpulan data. 3. Ingin mengetahui jenis-jenis
pengumpulan data. D. Manfaat Penulisan 1. Memberi pengetahuan kepada setiap
individu, mengenai pengertian pengumpulan data, dan teknik pengumpulan data,
jenis-jenis pengumpulan data

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh
peneliti untuk pengumpulan data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata
yang abstrak dan tidak diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat
penggunaannya melalui: angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes),
dokumentasi dan lainya. Proses Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan
untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam rangka mencapai tujuan
penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk hipotesis merupakan jawaban
sementara terhadap pertanyaan penelitian. Jawaban itu masih perlu diuji secara
empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan pengumpulan data. Data yang
dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel yang ada dalam hipotesis. Data itu
dikumpulkan oleh sampel yang telah ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut
terdiri atas sekumpulan unit analisis sebagai sasaran penelitian. Variabel-variabel
yang diteliti terdapat pada unit analisis yang bersangkutan dalam sampel
penelitian. Data yang dikumpulkan dari setiap variabel ditentukan oleh definisi
operasional variabel yang bersangkutan. Definisi operasional itu menunjuk pada
dua hal yang penting dalam hubungannya dengan pengumpulan data, yaitu
indikator empiris dan pengukuran.[1]

B. Teknik pengumpulan data

Ada beberapa teknik pengumpulan data yaitu angket, wawancara, observasi, studi
dokumentasi, dan teknik lainnya. a. Angket Angket adalah teknik pengumpulan
data dengan menyerahkan atau mengirimkan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri
oleh responden. Responden adalah orang yang memberikan tanggapan atas angket
yang diajukan. Keuntungan dari teknik angket adalah : 1. Angket dapat
menjangkau sampel dalam jumlah besar karena dapat dikirim melalui pos. 2.
Biaya yang diperlukan untuk membuat angket relative murah. 3. Angket tidak
terlalu menggangu responden karena pengisiannya ditentukan oleh responden
sendiri sesuai dengan kesediaan waktunya. Kerugiaan teknik angket : 1. Jika
angket dikirimkan melalui pos, maka presentasi yang dikembalikan relative
rendah. 2. Angket tidak dapat digunakan untuk responden yang kurang bisa
membaca dan menulis. 3. Pertanyaan-pertanyaan dalam angket dapat ditafsirkan
salah dan tidak ada kesempatan untuk mendapat penjelasan. Pertanyaan-
pertanyaan dalam instrument penelitian dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu : 1. Pertanyaan terbuka, adalah pertanyaan yang jawabannya tidak
disediakan sehingga responden bebas menuliskan jawabannya sendiri. 2.
Pertanyaan tertutup, adalah pertanyaan yang jawabannya sudah disediakan
sehingga responden hanya tinggal memilih salah satu jawaban yang sudah
disediakan. Dalam membuat jawaban alternative untuk pertanyaan tertutup atau
dalam menggolong-golongkan jawaban yang diberikan pada pertanyaan terbuka
perlu diperhatikan ketentuan-ketentuan berikut : Penggolongan hanya
didasarkan atas satu prinsip atau satu dimensi. Dengan syarat ini adalah untuk
menghindari agar seseorang tidak dapat masuk dalam lebih dari satu golongan.
Golongan-golongan yang dibuat harus saling meniadakan, artinya jika seseorang
sudah dimasukan kedalam satu golongan, ia tidak dapat dimasukkan kedalam
golongan lainnya. Golongan-golongan yang dibuat harus menyeluruh, artinya
tidak seorang pun yang tidak termasuk kedalam salah satu golongan yang dibuat.
Terdapat beberapa pedoman yang harus diperhatikan dalam membuat pertanyaan-
pertanyaan untuk instrument penelitian : Pertanyaan atau pernyataan yang dibuat
harus jelas dan tidak meragukan. Hindari pernyataan atau pertanyaan ganda.
Responden harus mampu menjawab. Agar dapat dipercaya. Pertanyaan-
pertanyaan atau pernyataan-pernyataan harus relevan (berkenaan dengan tujuan
penelitian). Pertanyaan atau pernyataan yang pendek adalah terbaik. Hindari
pertanyaan, pernyataan atau istilah bias, termasuk tidak menanyakan pertanyaan
atau mengajukan pertanyaan yang sugestif (mendorong responden untuk
menjawab kearah tertentu). Angket yang dikirimkan harus disertai surat
pengantar yang menjelaskan maksud dan tujuan penelitian serta siapa penelitinya.
Perlu juga untuk melampirkan sampul pengembalian yang sudah beralamat dan
sudah berprangko cukup. b. Wawancara Wawancara adalah pengumpulan data
dengan mengajukan pertanyaan secara langsung oleh pewawancara kepada
responden, dan jawaban-jawaban responden dicatat atau direkam dengan alat
perekam. Keuntungan wawancara adalah : 1. Wawancara dapat digunakan pada
responden yang tidak bisa membaca dan menulis. 2. Jika ada pertanyaan yang
belum dipahami, pewawancara dapat segera menjelaskannya. 3. Wawancara dapat
mengecek kebenaran jawaban responden dengan mengajukan pertanyaan
pembanding, atau dengan melihat wajah atau gerak-gerik responden. Kerugian
wawancara adalah : 1. Wawancara memerlukan biaya yang sangat banyak untuk
perjalanan dan uang harian pengumpulan data. 2. Wawancara hanya dapat
menjangkau jumlah responden yang lebih kecil. 3. Kehadiran pewawancara
mungkin mengganggu responden. Daftar pertanyaan untuk wawancara ini disebut
sebagai interview schedule. Sedangkan catatan garis besar tentang pokok-pokok
yang akan ditanyakan disebut pedoman wawancara (interview guide). Untuk
mendapatkan penerimaan dan kerja sama dengan responden ada beberapa
pedoman yang harus diperhatikan : 1. Penampilan fisik 2. Sikap dan tingkah laku
pewawancara 3. Identitas 4. Persiapan 5. Pewawancara harus bersikap netral dan
tidak mengarhkan jawaban atau tanggapan responden. c. Observasi Observasi atau
pengamatan kegiatan adalah setiap kegiatan untuk melakukan pengukuran,
pengamatan dengan menggunakan indera penglihatan yang berarti tidak
mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Observasi juga diartikan sebagai pengalaman
dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek
penelitian. Pengamatan dan pencatatan yang dilakukan terhadap objek ditempat
terjadi atau berlangsungnya peristiwa, sehingga observasi berada bersama objek
yang diselidiki, disebut observasi langsung. Sedangkan observasi tidak langsung
adalah pengamatan yan dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa
yang akan dilakukan tidak pada saat berlangsungnya suatu peristiwa yang akan
diselidiki, misalnya peristiwa tersebut diamati melalui film, rangkaian slide, atau
rangkaian foto. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh orang yang melakukan
observasi (observer) agar penggunaan teknik ini dapat menghimpun data secara
efektif adalah sebagai berikut : a. Pemilikan pengetahuan yang cukup mengenai
objek yang akan diobservasi. b. Pemahaman tujuan umum dan tujuan khusus pada
penelitian yag dilaksanakannya. c. Penentuan cara dan alat yang dipergunakan
dalam mencatat data. Pertimbangan pencatatan langsung ditempat langsung atau
setelah observasi haruslah saksama. Demikian juga alat pencatat data, yaitu
Anecdotal record, catatan berskala, check list, rating scale atau mechanical devide
perlu dipertimbangkan. d. Penentuan kategori pendataan gejala yang diamati,
apakah dengan mempergunakan skala tertentu sekadar mencatat frekuensi
munculnya gejala tanpa klasifikasi tingkatannya sehingga perumusan cirri-ciri
setiap kategori dengan tegas dan jelas sangat perlu. Keuntungan oservasi adalah :
1. Data yang diperoleh adalah data yang segar. 2. Keabsahan alat ukur dapat
diketahui secara langsung. Kerugian observasi adalah : 1. Untuk memperoleh
data yang diharapkan, maka pengamat harus menunggu dan mengamati sampai
tingkah laku yang diharapkan terjadi. 2. Beberapa tingkah laku, bahkan bisa
membahayakan jika diamati. Berdasarkan keterlibatan pengamatan dalam
kegiatan-kegiatan orang yang diamati, observasi dapat dibedakan menjadi : 1.
Observasi partisipan (participant observation) ; pengamat ikut serta dalam
kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh subjek yang diteliti atau yang diamati. 2.
Observasi tak partisipasi (nonparticipant observation) : pengamat berada diluar
sujek yang diamati dan tidak ikut dalam kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan.
Berdasarkan cara pengamatan yang dilakukan , observasi juga dibedakan menjadi
dua bagian : 1. Observasi tak berstruktur : pengamat tidak membawa catatan
tingkah laku apa saja yang harus diamati. d. Studi dokumentasi Studi dokumentasi
merupakan teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan kepada sujek
penelitian. Dokumen dapat dibedakan menjadi dokumen primer (dokumen yang
ditulis oleh orang yang langsung mengalami suatu peristiwa), dan dokumen
sekunder (jika peristiwa dilaporkan kepada orang lain yang selanjutnya ditulis
oleh orang ini) contohnya otobiografi. keuntungan studi dokumentasi adalah : 1.
untuk subjek penelitian yang sukar, studi dokumentasi dapat memberikan jalan
untuk melakukan penelitian. 2. Tak kreatif, karena studi dokumentasi tidak
dilakukan secara langsung dengan orang, maka data yang diperlukan tidak
berpengaruh oleh kehadiran peneliti atau pengumpulan data. 3. Analisis
longitudinal, menjangkau jauh kemasa lalu. 4. Besar sampel. Dengan dokumen-
dokumen yang tersedia, teknik ini memungkin untuk mengambil sampel yang leig
besar karena biaya yang diperlukan relative kecil. Kerugian studi dokumentasi
adalah : 1. Bias, karena dokumen yang diuat tidak untuk keperluan penelitian,
maka data yang tersedia mungkin bias. 2. Tersedia secara selektif. Tidak semua
dokumen dipelihara untuk dapat dibaca ulang oleh orang lain. 3. Tidak lengkap.
Karena tujuan penulisan dokumen berbeda dengan tujuan penelitian. 4. Format
yang tidak baku. Sejalan dengan maksud dan tujuan penulisan dokumen yang
berbeda dengan tujuan penelitian, maka formatnya juga dapat bermacam-macam
sehingga bisa mempersulit pengumpulan data. Sebagaimana metode historic,
dalam studi dokumentasi perlu dilakukan kritik terhadap sumber data, baik kritik
internal maupun kritik eksternal.[2] C. Jenis-jenis pengumpulan data Segala
keterangan mengenai variabel yang diteliti disebut data. Data penelitian pada
dasarnya dikelompokan menjadi data kualitatif dan data kuantitatif. Pada kualitatif
dinyatakan dalam bentuk kata atau kalimat. Misalnya, data dalam bentuk
tingkatan : pandai, sedang, bodoh, kaya sekali, kaya, sedang, miskin sekali. Data
kuantitatif dinyatakan dalam bentuk angka. Dalam penelitian, sering kali data
kualitatif, terutama dalam bentuk tingkatan, ditransformasikan dalam data
kuantitatif dengan memberikan symbol angka secara berjenjang pula, atau dengan
menghitung frekuensi secara terpisah satu dengan yang lain. Dengan transformasi
seperti itu analisis data dapat dilakukan dengan menggunakan perhitungan statistic
tertentu. Dibawah ini akan dikemukakan jenis data kuantitatif, baik berasal dari
transformasi data kualitatif maupun sejak semula sudah bersifat kuantitatif. a.
Data skala nonminal Data skala nonminal ditetapkan berdasarkan proses
penggolongan mencakup penempatan objek kedalam kategori-kategori yang
mempunyai perbedaan kualitatif bukan berdasar kuantitatif. Dalam ukuran ini,
tidak ada asumsi tentang jarak maupun urutan antara kategori dalam ukuran itu.
Satu-satunya hubungan yang ada di antara kategori-kategori itu adalah bahwa
kategori-kategori yang telah ditetapkan itu mewakili lebih atau kurang-nya
cirri yang ada. Penggolongan mahasiswa berdasarkan jenis kelamin, laki-laki atau
perempuan, misalnya, merupakan contoh data skala nominal. Angka yang
digunakan pada tingkat nominal ini, hanya dipergunakan untuk
mengidentifikasikan bagaimana kedudukan kategori tersebut terhadap kategorinya
lainnya. Angka hanyalah sekedar label. Sebagai contoh angka satu yang
diberikan kepada jenis kelamin perempuan tidak menunjukan bahwa kepandaian
perempuan dua kali dari laki-laki. Demikian juga angka atau nomor yang
diberikan kepada para pemain sepak bola. Dalam hal ini tidak akan dikatakan
bahwa pemain dengan nomor punggung tujuh merupakan pemain yang lebih baik
dari pada pemain yang nomor empat. Demikian pula tidak akan bahwa perbedaan
kemampuan pemimpin antara nomor dua dan empat. Angka dalam skala nominal
sudah tentu tidak dapat diolah secara matematis melalui proses penambahan,
pengurangan, perkalian atau pembagian. Orang hanya dapat menggunakan
prosedur statistic berdasarkan data perhitungan belaka. Misalnya, melaporkan
jumlah hasil pengamatan dalam setiap kategori. b. Data Skala Ordinal Data skala
ordinal ialah data yang disusun berdasarkan jenjang dalam atribut tertentu, tanpa
menunjukan jarak antara posisi tersebut. Angka yang ditetapkan dalam data skala
ordinal hanya menunjukan urutan posisi, tidak lebih dari itu. Baik peredaan
ataupun perbandingan antara angka-angka tersebut juga tidak ada artinya. Jika
angka 1,2,3, dan seterusnya dipakai dalam pengukuran ordinal, maka tidak ada
implikasi bahwa jarak antara urutan 1 dan urutan 2 sama dengan jarak antara
urutan 2 dan urutan 3, begitu seterusnya. Jarak antara anak yang menduduki
urutan 1 dengan anak yang menduduki urutan 2 isa, lebih pendek, atau lebih jauh
dari pada jarak antara anak urutan2 dan urutan 3. Dasar untuk menafsirkan
besarnya perbedaan angka-angka itu, tidak ada. Dalam lomba lari yang tak
dihitung waktunya, pertama kali, kedua, ketiga, dan seterusnya, kita tidak
mengetahui berapa perbandingan kecepatan pelari itu satu sama lain. Perbedaan
antara pemenang pertama dan kedua tidak selalu harus sama dengan perebedaan
antara pemenang kedua dan ketiga, atau ketiga dan keempat. Juga tidak dapat
dikatakan, pelari kedua, dua kali lebih cepat dari pada pelari keempat. Hitungan
tambah, kurang, kali, dan bagi tidak dapat digunakan pada data skala ordinal.
Statistic yang sesuai bagi skala ordinal adalah terbatas. Karena besar jarak,
interval antara kategori-kategori tidak diketahui. Statistic, cocok untuk skala
ordinal. a. Data skala interval Data skala interval adalah data yang memberi jarak
interval yang sama dari suatu titik asal yang tidak tetap. Data ini tidak semata-
mata mengurutkan orang atau objek berdasarkan suatu atribut, tetapi juga
memberikan informasi tentang interval antara satu orang atau objek dengan orang
atau objek lainnya. Tetapi data lain ini tidak memberikan informasi tentang jumlah
absolute atribut yang dimiliki seseorang karena tidak memiliki titik tolak mutlak.
Titik nol pada test psikologi atau test pendidikan tidak ada patokannya. Sebagai
contoh, tidak ada angka kecerdasan nol; tidak ada suatu cara pun dalam test
kecerdasan baku yang dapat dipakai untuk menetapkan bahwa seseorang
mempunyai tingkat kecerdasan nol. Kalau ada tiga orang mahasiswa memperoleh
skor 15, 30, dan 45 dalam ujian statistic, tidak dapat dikatakan ahwa mahasiswa
yang memperoleh skor 30 mempunyai pengetahuan statistic dua kali lipat dari
mahasiswa yang mendapat nilai 15. Untuk memahami hal itu, dapat dijelaskan
sebagai berikut. Andai kata dosen statistic tersebut menambah lima belas soal
yang sangat mudah, dan ketiga skor itu kini berubah menjadi 30, 45, dan 60.
Kemudian dibuat perbandingan skor pada skala interval ini, maka akan terjadi
kekeliruan laporan bahwa mahasiswa yang memperoleh niali 60 mempunyai
pengetahuan statistic dua kali lipat dari pada mahasiswa yang memperoleh nilai
30. Dalam perbandingan sebelumnya dianggap bahwa mahasiswa yang
bersangkutan mempunyai pengetahuan statistic tiga kali lipat dari pada mahasiswa
yang lainnya itu. Meskipun demikian, data skala interval merupakan nilai
kuantitatif yang paling banyak digunakan, karena ia memiliki jarak yang sama
antara dua nilai yang terdekat. Disamping itu, sebagian besar teknik perhitungan
statistic dikembangkan dengan menggunakan data ini. a. Data Sakal Ration Data
sakala ratio adalah skala yang memiliki titik nol sejati, sehingga bilamana suatu
gejala dinyatakan nol berarti gejala itu sama sekali tidak ada. Disamping itu, data
ini mempunyai jarak dalam bentuk satuan yang sama, sehingga gejala-gejala
dimaksudkan dapat dinyatakan, dan dibandingkan secara pasti. Misalnya,
seseorang dapat memberi arti bahwa berat barang 4 kg adalah dua kali lipat berat
dan barang yang beratnya 2 kg. demikian pula jarak 4 cm adalah setengah dari
jarak 8 cm dan seterusnya. BAB III KESIMPULAN A. Metode pengumpulan data
ialah teknik atau cara-cara yang dapat digunakan oleh peneliti untuk pengumpulan
data. Metode (cara atau teknik) menunjuk suatu kata yang abstrak dan tidak
diwujudkan dalam benda, tetapi hanya dapat dilihat penggunaannya melalui:
angket, wawancara, pengamatan, ujian (tes), dokumentasi dan lainya. B. Ada
beberapa teknik pengumpulan data yaitu : 1. Angket 2. Wawancara 3. Observasi 4.
Studi dokumentasi, dan teknik lainnya. C. Jenis- jenis pengumpulan data 1. Data
skala nonminal 2. Data skala ordinal 3. Data skala interval 4. Data skala rotation
DAFTAR PUSTAKA [1] http://tithagalz.wordpress.com/2011/03/27/pengertian-
pengumpulan-data/ #diakses 26-05-2012 [2]
http://irabieber.wordpress.com/2011/12/15/teknik-pengumpulan-data/ #diakses
26-05-2012 Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu Copy
the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Copy the BEST Traders and Make Money : http://bit.ly/fxzulu
Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

24/09/2013 Afid Burhanuddin 1 Comment

Perkembangan femonomena sosial yang ada di dunia ini membuat banyak orang
untuk mengkaji lebih dalam tentang hal hal yang terjadi dalam kehidupan.
Banyak orang memberikan penafsirannya terhadap fenomena sosial
ini,berdasarkan pengetahuannya dan keyakinan orang tersebut. Suatu misal orang
awam yang mengatakan bahwa fenomena yang terjadi karena ada hubungannya
dengan mistik, kemudian para ulama mengatakan suatu kejadian adalah suatu
takdir atau ketetapan dari Sang Pencipta dan masih banyak lagi orang yang
mengatakan kejadian kejadian itu dlam berbagai asumi.

Melihat hal ini, sebagai pelajar kita harus bisa berfikir rasional,logis dan
empiris,namun juga harus dipadukan berdasarkan pada suatu keyakinan agar kita
dapat melihat fenomena sosial ini dari berbagai arah. Dan kita bisa
memposisikan diri jika berbaur di masyarakat sehingga tidak akan adanya suatu
perdebatan.

Oleh karena itu sebagai pelajar kita memerlukan kaidah kaidah ilmiah untuk
menjawab fenomena sosial ini, dengan berbagai metode ilmiah dan suatu
pengumpulan data baik kuantitatis maupun kualitatif guna mendukung suatu fakta
kejadian yang terjadi dalam kehidupan sosial di masyarakat.

Pengertian

Pengumpulan data dilakukan untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan


dalam rangka mencapai tujuan penelitian. Tujuan yang diungkapkan dalam bentuk
hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap petanyaan penelitian. Jawaban
itu masih perlu diuji secara empiris, dan untuk maksud inilah dibutuhkan
pengumpulan data. Data yang dikumpulkan ditentukan oleh variabel-variabel
yang ada dalam hipotesis. Data itu dikumpulkan oleh sampel yang telah
ditentukan sebelumnya. Sampel tersebut terdiri atas sekumpulan unit analisis
sebagai sasaran penelitian. (http://farelbae.wordpress.com/catatan-kuliah-
ku/pengertian-pengumpulan-data/). Secara sederhana, pengumpulan data diartikan
sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau
menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai
dengan lingkup penelitian. (iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-
tehnik-pengumpulan-data-riset-kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-
eksperimen/).
Menurut Suharsimi Arikunto (2006:1630 bahwa metode penelitian adalah cara
yang dugunakn oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya, sedangkan
instrument penelitian adalah alat atau fasilitasyang digunakan oleh peneliti dalam
mengumpulkan data agar pekerjaannyalebih mudah, dan hasilnya lebih
baik,dalam arti lebih cermat,lengkap, dan sistematis sehinggalebih mudah diolah.

Instrumen penelitian adalah alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti
dalam kegiatannya mengumpulkan agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan
dipermudah olehnya. Instrumen pengumpulan data adalah cara-cara yang dapat
digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data. Instumen sebagi alat bantu
dalam menggunakan metode pengumpulan data merupakan sarana yang dapat
diwujudkan dalam benda, misalnya angket ,perangkat tes, pedoman wawancara,
pedoman observasi, skala dan sebaginya. (http://farelbae.wordpress.com/catatan-
kuliah-ku/pengertian-pengumpulan-data/).

Menurut Suharmi Arikunto (2006:149) ada beberapa instrument yang namanya


sama dengan metodenya,antarlain adalah:

1) Instrument untuk metode tes adalah tes atau soal tes

2) Instrument untuk metode angaket atau kuesioner adalah angket atau


kuesioner

3) Instrument untuk metode observasi adalah chek list

4) Instrument untuk metode observasi adalah pedoman observasi atau dapat


juga chek list

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa pengertian pengumpulan data dan
instrumen penelitian adalah suatu proses yang dilakukan untuk mengungkap
berbagai fenomena yang terjadi di masyarakat dengan menggunakan berbagai cara
dan metode agar proses ini berjalan secara sisitematis dan lebih dapat
dipertanggung jawabkan kevaliditasnya.

TEKNIK PENGUMPULAN DATA PENELITIAN KUANTITATIF

Pengumpulan data penelitian kuantitatif merupakan pengumpulan data yang


datanya bersifat angka angka statistik yang dapat di kuantifikasi. Data tersebut
berbentuk variabel variable dan operasionalisasinya dengan skala ukuran
tertentu misalnya skala nominal,ordinal,interval dan ratio,Jonathan Sarwono
dalam (2006:259).

Menurut Sugiyono dalam (http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-


analisis-data-kuantitatif-dan-kualitatif),pengumpulan data dapat dilakukan dalam
berbagai tempat dan berbagai sumber dan berbagai cara. Bila dilihat dari
tempatnya dapat dikumpulkan pada laboratorium dengan metode eksperimen, di
rumah dengan berbagai responden, dan lain-lain. Bila dilihat dari sumber datanya,
maka pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sekunder.
Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada
pengumpul data, dan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak langsung
memberikan data pada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat
dokumen.

Dan teknik teknik yang digunakan dalam pengumpulan data kuantitatif sebagai
berikut:

Interview (Wawancara)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data apabila peneliti ingin


melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus
diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang
lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit/ kecil.

Menurut Sutrisno Hadi dalam


(http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-analisis-data-kuantitatif-dan-
kualitatif), mengemukakan bahwa anggapan yang perlu dipegang oleh peneliti
dalam menggunakan teknik interview dan juga kuesioner adalah sebagai berikut:

Bahwa subjek (responden) adalah orang yang paling tahu tentang dirinya
sendiri

Bahwa apa yang dinyatakan oleh subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat
dipercaya

Bahwa interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan peneliti


kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh si peneliti.

Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan


dapat dilakukan dengan tatap muka maupun lewat telepon.

1. Wawancara terstruktur

Wawancara terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data, bila peneliti


atau pengumpul data telah mengetahui dengan pasti informasi apa yang akan
diperoleh. Oleh karena itu dalam melakukan wawancara, pengumpul data telah
menyiapkan instrumen penelitian berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis yang
alternatif jawabannya pun sudah disiapkan. Dengan wawancara terstruktur ini
setiap responden diberi pertanyaan yang sama, dan pengumpul data mencatatnya.
Dalam melakukan wawancara, selain harus membawa instrumen sebagai pedoman
untuk wawancara, maka pengumpul data juga dapat menggunakan alat bantu
seperti tape recorder, gambar, brosur dan material lain yang dapat membantu
pelaksanaan wawancara berjalan lancar. Adapun contoh wawancara terstruktur
tentang tanggapan masyarakat terhadap pelayanan pemerintah:

1) Bagaiamanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan pendidikan di


kabupaten ini?

a) Sangat bagus

b) Bagus

c) Tidak bagus

d) Sangat tidak bagus

2) Bagaiamanakah tanggapan Bapak/Ibu terhadap pelayanan bidang kesehatan di


kabupaten ini?

a) Sangat bagus

b) Bagus

c) Tidak bagus

d) Sangat tidak bagus

2. Wawancara tidak terstruktur

Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang bebas dimana peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan
lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya
berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Adapun contohnya
adalah sebagai berikut: Bagaimanakah pendapat Bapak/Ibuk terhadap kebijakan
pemerintah tentang impor gula saat ini?dan bagaimana dampaknya terhadap
pedagang dan petani.

Wawancara tidak terstruktur sering digunakan dalam penelitian pendahuluan


malahan untuk penelitian yang lebih mendalam tentang responden. Pada
penelitian pendahuluan, peneliti berusaha mendapatkan informasi awal tentang
berbagai isu atau permasalahan yang ada pada objek, sehingga peneliti dapat
menentukan secara pasti permasalahan atau variabel apa yang harus diteliti.
Dalam wawancara tidak terstruktur, peneliti belum mengetahui secara pasti data
apa yang akan diperoleh, sehingga peneliti lebih banyak mendengarkan apa yang
diceritakan oleh responden. Berdasarkan analisis terhadap setiap jawaban dari
responden tersebut, maka peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan
berikutnya yang lebih terarah pada satu tujuan.

Dalam melakukan wawancara maka pewawancara harus memperhatikan tentang


situasi dan kondisi sehingga dapat memilih waktu yang tepat kapan dan dimana
harus melakukan wawancara.

Kuesioner

Menurut Iskandar dalam (http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-


analisis-data-kuantitatif-dan-kualitatif) Kuesioner merupakan alat teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat
pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu
pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

Menurut Uma sekaran dalam (http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-


analisis-data-kuantitatif-dan-kualitatif) mengungkapkan beberapa prinsip
penulisan angket yaitu sebagai berikut:

1. Prinsip penulisan angket

1) Isi dan tujuan pertanyaan, yang dimaksud disini adalah isi pertanyaan tersebut
merupakan bentuk pengukuran atau bukan. Kalau berbentuk pengukuran, maka
dalam membuat pertanyaan harus teliti, setiap pertanyaan harus ada skala
pengukuran dan jumlah itemnya mencukupi untuk mengukur variabel yang
diteliti.

2) Bahasa yang digunakan, bahasa yang digunakan dalam penulisan angket harus
disesuaikan dengan kemampuan berbahasa responden.

3) Tipe dan bentuk pertanyaan, tipe pertanyaan dalam angket dapat berupa terbuka
atau tertutup, (dalam wawancara bisa terstruktur dan tidak terstruktur), dan
bentuknya dapat menggunakan kalimat positif dan negatif.

4) Pertanyaan tidak mendua

5) Tidak menanyakan yang sudah lupa

6) Pertanyaan tidak menggiring, artinya usahakan pertanyaan tidak menggiring


pada jawaban yang baik saja atau yang jelek saja.
7) Panjang pertanyaan, pertanyaan dalam angket sebaiknya tidak terlalu panjang,
sehingga akan membuat jenuh responden dalam mengisi.

8) Urutan pertanyaan, urutan pertanyaan dalam angket, dimulai dari yang umum
menuju ke hal yang spesifik, atau dari yang mudah menuju hal yang sulit

Observasi

Menurut (Arikunto, 2006: 229) dalam


http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-analisis-data-kuantitatif-dan-
kualitatif menggunakan observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya
dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen pertimbangan
kemudian format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku
yang digambarkan. Dari peneliti berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa
mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan
pertimbangan kemudian mengadakan penilaian kepada skala bertingkat.
Misalanya memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat rekasi
tersebut, tetapi juga menilai reaksi tersebut apakah sangat kurang, atau tidak
sesuai dengan apa yang dikehendaki

TEKNIK PENGUMPLAN DATA KUALITIATIF

Teknik pengumpulan data kualitatif merupakan pengumpulan data yang datanya


bersifat deskriptif maksudnya data berupa gejala gejala yang di kategorikan
ataupu dalam bentuk lainnya seperti foto,dokumen,artefak, dan catatan catatan
lapangan saat penelitian dilaksanakan, Jonathan Sarwono dalam ( 2006:259).

Dalam metode penelitian kualitatif, lazimnya data dikumpulkan dengan beberapa


teknik pengumpulan data kualitatif, yaitu; wawancara, observasi, dokumentasi,
dan diskusi terfokus (Focus Group Discussion). Pada pendekatan ini, peneliti
membuat suatu gambaran kompleks, meneliti kata-kata, laporan terinci dari
pandangan responden, dan melakukan studi pada situasi yang alami (Creswell,
1998:15). Sebelum masing-masing teknik tersebut diuraikan secara rinci, perlu
ditegaskan di sini bahwa hal sangat penting yang harus dipahami oleh setiap
peneliti adalah alasan mengapa masing-masing teknik tersebut dipakai, untuk
memperoleh informasi apa, dan pada bagian fokus masalah mana yang
memerlukan teknik wawancara, mana yang memerlukan teknik observasi, mana
yang harus kedua-duanya dilakukan. Pilihan teknik sangat tergantung pada jenis
informasi yang diperoleh.

Wawancara

Menuurut Emzir dalam (iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-


pengumpulan-data-riset-kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/)
Wawancara ialah proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan
informasi dengan cara tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek
penelitian Dengan kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, wawancara bisa
saja dilakukan tanpa tatap muka, yakni melalui media telekomunikasi. Pada
hakikatnya wawancara merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi secara
mendalam tentang sebuah isu atau tema yang diangkat dalam penelitian. Atau,
merupakan proses pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang telah
diperoleh lewat teknik yang lain sebelumnya.

Menurut Byrne dalam (iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-


pengumpulan-data-riset-kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/)
menyarankan agar sebelum memilih wawancara sebagai metoda pengumpulan
data, peneliti harus menentukan apakah pertanyaan penelitian dapat dijawab
dengan tepat oleh orang yang dipilih sebagai partisipan. Studi hipotesis perlu
digunakan untuk menggambarkan satu proses yang digunakan peneliti untuk
memfasilitasi wawancara.

Menurut Miles dan Huberman dalam


(iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-data-riset-
kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/) ada beberapa tahapan yang
harus diperhatikan dalam melakukan wawancara, yaitu:
a) The setting, peneliti perlu mengetahui kondisi lapangan penelitian yang
sebenarnya untuk membantu dalam merencanakan pengambilan data. Hal-hal
yang perlu diketahui untuk menunjang pelaksanaan pengambilan data meliputi
tempat pengambilan data, waktu dan lamanya wawancara, serta biaya yang
dibutuhkan.

b) The actors, mendapatkan data tentang karakteristik calon partisipan. Di


dalamnya termasuk situasi yang lebih disukai partisipan, kalimat pembuka,
pembicaraan pendahuluan dan sikap peneliti dalam melakukan pendekatan.

c) The events, menyusun protokol wawancara, meliputi:

1)Pendahuluan,

2) Pertanyaan pembuka,

3) Pertanyaan kunci, dan

4) Probing, pada bagian ini peneliti akan memanfaatkan hasil pada bagian kedua
untuk membuat kalimat pendahuluan dan pernyataan pembuka, serta hasil
penyusunan pedoman wawancara sebagai pertanyaan kunci.

d) The process, berdasarkan persiapan pada bagian pertama sampai ketiga, maka
disusunlah strategi pengumpulan data secara keseluruhan. Strategi ini mencakup
seluruh perencanaan pengambilan data mulai dari kondisi, strategi pendekatan dan
bagaimana pengambilan data dilakukan.

Menurut Yunus dalam ( iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-


pengumpulan-data-riset-kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/)
karena merupakan proses pembuktian, maka bisa saja hasil wawancara sesuai atau
berbeda dengan informasi yang telah diperoleh sebelumnya. Agar wawancara
efektif, maka terdapat berapa tahapan yang harus dilalui yakni: mengenalkan diri,
menjelaskan maksud kedatangan, menjelaskan materi wawancara, dan
mengajukan pertanyaan.

Observasi

Menurut (Guba dan Lincoln, 1981: 191-193) dalam


iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-data-riset-
kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/, Observasi hakikatnya
merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan,
penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk
menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian,
peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang.
Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau
kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.

Menurut Bungin (2007: 115-117) dalam


iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-data-riset-
kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/ mengemukakan beberapa
bentuk observasi, yaitu:

1) Observasi partisipasi adalah (participant observation) adalah metode


pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data penelitian melalui
pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat dalam keseharian
informan.

2) Observasi tidak terstruktur ialah pengamatan yang dilakukan tanpa


menggunakan pedoman observasi, sehingga peneliti mengembangkan
pengamatannya berdasarkan perkembangan yang terjadi di lapangan.
3) Observasi kelompok ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim
peneliti terhadap sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian.

Dokumen

Selain melalui wawancara dan observasi, informasi juga bisa diperoleh lewat fakta
yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat,
cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini
bisa dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu
memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga
tidak sekadar barang yang tidak bermakna (Faisal, 1990: 77) dalam
iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-data-riset-
kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/.

Focus Group Discussion

Metode terakhir untuk mengumpulkan data ialah lewat Diskusi terpusat (Focus
Group Discussion), yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok
orang lewat diskusi untuk menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang
peneliti. Misalnya, sekelompok peneliti mendiskusikan hasil UN 2011 di rendah.
Untuk menghindari pemaknaan secara subjektif oleh seorang peneliti, maka
dibentuk kelompok diskusi terdiri atas beberapa orang peneliti. Dengan beberapa
orang mengkaji sebuah isu diharapkan akan diperoleh hasil pemaknaan yang lebih
objektif. ( iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-
data-riset-kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen/
Dasar filosofi dari penelitian kualitatif menurut Suharsimi Arikunto (2006:14)
adalah

1) Fenomenalogis

2) Interaksi simbolik

3) Kebudayan

4) Antropologi

Menurut Suharsimi Arikunto karakteristik penelitian kualitatif adalah:

1) Mempunyai sifat induktif

2) Melihat setting secara keseluruhan atau holistic

3) Memahami responden dari pandangan responden sendiri

4) Menekankan validitas

5) Mengutamakan proses dari pada hasil

6) Menggunakan non probabilitas sampling.


Perbedaan teknik penelitian kuantitatif dan kualitati adalah (suharsimi, 2006:13) :

NO

PENELITIAN KUANTITATIF

PENELITIAN KUALITATIF

Kejelasan unsur tujuan pendekatan,subjek,dan rinci sejak awal

Kejelasan unsure,subjek,sampel,sumber data tidak


mantab,fleksible,berkembangnya sambil jln

Langkah penelitian,segala suatu direncankan ampi matang ketika persiapan


disusun
Langkah penelitian barudiketahui dengan mantab dan jelas setelah penelitian
selesei

Dapat menggunakan sampel dan hasil penelitiannya diberlakukan populasi

Tidak dapat menggunakan pendekatan populasi dan sampel

Hipotesis ( jika memang petrlu) :

a) Mengajukan hepotesis yang akan di uji dalam penelitian

b) Hipotesis menentukan hasil yang diramalkan

Hipotesis :
Tidak menggunakan hepotesis sebelumnya tetapi dapat lahir selama penelitian
berlangsung

Desain : dalam desain jelas langkah langkah penelitian dan hasil yang
diharapkan

Desain : dedsain penelitiannya aadalah fleksible dengan langkah dan hasil yang
tidak dapat dipastikan sebelumnya

Pengumpulan data: kegiatan dalam pengumpulan data memungkinkan untuk


diwakilkan

Pengumpulan data: kegiatan pengumpulan dataselalau harus dilakukan sendiri


oleh peneliti

Analisis data: dilakukan setelah semua data terkumpul


Analisis data: dilakukan bersamaan dengan pengumpulan data

KESIMPULAN

Pengumpulan data dan instrument penelitian merupakan suatu proses dan


metode,alat atau cara untuk memperoleh informasi terhadap suatu yang di teliti.
Dan teknik yang digunakan dalam penelitian bisa berupa teknik pengumpulan
data penelitian kuantitatif dan kualitatif yang kedua teknik tersebut mempunyai
banyak kelebihan dan kekurangannya. Salah satu kekurangn teknik pengumpulan
data penlitian kuantitatif adalah munculnya kesulitan dalam mengontrol variabel
variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara
langsung maupun tidak langsung. Sedangkan teknik pengumpulan data penelitian
kualitatif mempunyai kekurangan yaitu memakan waktu lama,realibilitasnya
dipertanyakan,prosedurnya tidak baku,tidak terstruktur dan tidak bisa dipakai
untuk penelitian berskala besar.

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT RajaGrafindo


Persada
Sarwano, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif & kualitatif. Yogyakarta:
Graha Ilmu

Arikunto, suharsimi. 2006.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan


Praktek.Jakarta:PT Renika Cipta

http://farelbae.wordpress.com/catatan-kuliah-ku/pengertian-pengumpulan-data/

iahpradiati.wordpress.com/2011/01/28/aplikasi-tehnik-pengumpulan-data-riset-
kuantitatif-dan-kualitatif-dalam-metode-eksperimen

http://www.slideshare.net/NastitiChristianto/teknik-analisis-data-kuantitatif-dan-
kualitatif.

*) Fendi Sugiyantoro, disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi


Penelitian dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.