Anda di halaman 1dari 12

Mekanisme Kontraksi dan Relaksasi Otot pada Extremitas

Inferior
Nurul Siti Khodijah
102014117
Fakultas KedokteranUniversitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.06 Jakarta Barat 11510
www.ukrida.ac.id

Abstrak
Dengan menggerakan komponen-kompenen intrasel tertentu, sel otot dapat menghasilkan
tegangan dan memendek yaitu berkontraksi. Melalui kemampuan berkontraksinya yang
berkembang sempurna, kelompok-kelompok sel otot yang bekerja sama dalam suatu otot dapat
menghasilkan gerakan dan melakukan kerja. Otot membentuk kelompok jaringan terbesar di
tubuh, menghasilkan sekitar separuh dari berat tubuh. Otot rangka saja membentuk sekitar 40%
berat tubuh pada pria dan 32% pada wanita, dengan otot polos dan otot jantung membentuk 10%
lainnya dari berat total. Meskipun ketiga jenis otot secara struktural dan fungsional berbeda
namun mereka dapat diklasifikasikan dalam dua cara berlainan berdasarkan karakterisitik
umumnya. Pertama, otot dikategorisasikan sebagai lurik atau serat lintang ( otot rangka dan
otot jantung ), atau polos (otot polos), bergantung pada ada tidaknya pita terang gelap bergantian,
atau garis-garis jika otot dilihat dibawah mikroskop cahaya. Kedua, otot dapat dikelompokkan
sebagai volunteer dan involunteer dimana volunteer artinya bekerja secara sadar sedangkan
involunteer artinya bekerja secara tidak sadar, volunteer pada otot rangka sedangkan involunteer
pada otot jantung dan otot polos. selain itu otot disarafi oleh sistem saraf somatik dan berada di
bawah kesadaran atau disarafi oleh sistem saraf otonom dan tidak berada di bawah kontrol
kesadaran.
Kata Kunci: otot, kontraksi, sumber energi, mekanisme

1
Abstract
By moving the component - specific intracellular kompenen , muscle cells can produce
voltages and retracts that contract . Through a growing ability berkontraksinya perfect , muscle
cell groups are working together on a muscle can produce movement and do work . Muscle
tissue forming the largest group in the body , produces about half of the weight of the body .
Skeletal muscles make up only about 40 % of body weight in men and 32 % in women , with
smooth muscle and cardiac muscle forming the other 10 % of the total weight . Although all
three types of muscle are structurally and functionally different, but they can be classified in two
different ways based on the characteristics generally .First , categorized as striated muscle or
fiber - latitude ( skeletal muscle and cardiac muscle ) , or plain ( smooth muscle ) , relies on the
existence of alternating light-dark bands , or lines if muscle seen under a light microscope .
Second , the muscle can be classified as a volunteer and involunteer which means volunteerand
smooth muscle . besides bibs disarafi by the somatic nervous system and is under conscious or
dsarafi by the autonomic nervous system and not under conscious control .
Keywords: muscle, contraction, energy resources, mechanism

Pendahuluan
Tuhan menjadikan manusia dapat bergerak berpindah tempat sesuai keinginannya. Gerak
bebas tersebut terjadi sebagai hasil kerja sama antara dua sistem organ yaitu rangka dan otot.
Rangka tersusun atas tulang-tulang dapat bergerak karena digerakkan oleh otot. Rangka terletak
didalam tubuh, terlindung atau terbalut dengan otot dan kulit Jadi, sebenarnya rangka tidak
mempunyai kemampuan untuk menggerakkan dirinya. Oleh karena itu, rangka disebut alat gerak
pasif sedangkan otot disebut alat gerak aktif. Didalam tubuh, otot-otot menempel dan
menghubungkan berbagai organ tubuh seperti tulang dengan tulang, tulang dengan kulit, kulit
dengan kulit, dan lain-lain. Otot mempunyai kemampuan untuk berkontraksi atau memendek dan
berelaksasi atau mengendur. Jika otot memendek maka akan dihasilkan tenaga dan terjadilah
gerakan organ-organ yang dilekati ataupun organ disekitarnya ke arah tertentu. Bila otot
mengendur maka organ-organ tadi akan bergerak kea rah berlawanan. Berdasarkan semua ini
maka otot disebut alat gerakaktif. Untuk mendukung fungsi gerak, selain didukung oleh

2
kontraksi dan relaksasi otot antara tulang atau ruas-ruas tulang satu dengan lainnya dihubungkan
oleh persendian tulang. Pada persendian tulang dilengkapi dengan tendon dan ligamentum.
Interaksi dari seluruh komponen pendukung gerak tersebut akan menghasilkan gerak tertentu
dari suatu organisme. Ketika berlari menggunakan otot-otot di paha (quadriceps), tungkai
belakang (hamstrings), betis, pinggul, punggung bawah, dan pantat. Selain itu peran tubuh
bagian atas juga tidak dapat diacuhkan mengingat dalam berlari, juga diperlukan peran batang
tubuh (otot punggung dan perut) juga lengan dan bahu untuk membuat kestabilan, keseimbangan
dan membuat kemampuan untuk bergerak ke depan. Ada tiga kelompok besar ekstremitas bawah
yang berpengaruh adalah pinggul, pergelangan kaki, kaki serta lutut.
Tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai bahan pembelajaran tentang mekanisme
kerja otot, bagian-bagian otot, karakteristik otot, dan hal-hal yang berhubungan dengan rumusan
masalah pada skenario.

Skenario

Seorang laki-laki usia 21 tahun dibawa ke klinik Ukrida oleh keluarganya, dengan
keluhan kaku pada kaki, tungkai bawah dan atas sejak 3 hari yang lalu, setelah telapak kakinya
tertusuk paku.

Struktur Makroskopik1
Yang dimaksud secara makroskopis disini adalah struktur bagian tubuh secara garis besar
dan biasanya secara umum banyak orang ketahui. Misalnya otot, tulang, sendi, ataupun bagian
tubuh yang lain. Pada pembahasan kali ini, akan dibahas mengenai struktur makroskopis dari
otot.

Otot
Pada manusia, otot dapat digolongkan lagi menjadi tiga bagian besar yang masing-
masing memiliki fungsi khusus. Otot tersebut ialah otot rangka, otot polos, dan otot jantung.

a. Otot rangka

3
Otot rangka adalah spesialisasi kontraksi pada tubuh yang letaknya melekat pada tulang.
Kontraksi otot rangka menyebabkan tulang tempat otot tersebut melekat bergerak, yang
memungkinkan tubuh melaksanakan barbagai aktivitas motorik. Otot rangka yang
menunjang homeostatis mencakup antara lain otot-otot yang penting dalam akusisi,
mengunyah, dan menelan makanan dan otot-otot yang penting untuk bernapas.

b. Otot polos
Otot polos terdapat di dinding organ-organ berongga dan saluran-saluran. Kontraksi
terkontrol otot polos bertanggung jawab untuk mengatur aliran darah melalui pembuluh
darah, gerakan makanan melalui saluran pencernaan, aliran udara melalui saluran
pernapasan, dan aliran urin keluar tubuh. Kontraksi otot ini menimbulkan tekanan dan
mengatur pergerakan maju isi struktur-struktur tersebut.

c. Otot jantung
Otot jantung hanya terdapat di dinding jantung, yang kontraksinya memompa darah
penunjang kelangsungan hidup ke seluruh tubuh. Secara struktural dan fungsional
memiliki kesamaan dengan otot rangka dan otot polos unit tunggal. Otot ini memiliki
serat bergaris-garis yang sangat terorganisasi seperti otot rangka.

Susunan Otot Tungkai Bawah2


Otot tungkai bawah terdiri atas :
a. Otot flexor
b. Otot extensor
c. Otot peronei
a. Otot Flexor Tungkai Bawah
- lapis dangkal
- lapis dalam
Otot flexor tungkai bawah lapis dangkal
1. M. gastrocnemeus
2. M. soleus
3. M.plantaris

4
Gambar 1. Posterior Tungkai bawah2

Otot flexor tungkai bawah lapis dalam


1. M. popliteus
2. M. flexor digitorum longus
3. M. tibialis posterior
4. M. flexor hallucis longus

Gambar 2. Otot flexor tungkai bawah lapis dalam2


Otot ekstensor tungkai bawah
1. M. tibialis anterior
2. M. ekstensor digitorum longus
3. M. ekstensor hallucis longus
4. M. peroneus tertius

5
Gambar 3 .Otot Ekstensor Tungkai Bawah2

Stuktur Mikroskopik3

Otot

Sistem muscular terdiri dari sejumlah besar otot yang bertanggung jawab atas gerakan
tubuh. Otot-otot volunteer melekat pada tulang,tulang rawan, ligamen, kulit atau otot lain melalui
struktur fibrosa yang di sebut tendon atau aponeurosis. Serabut-serabut otot volunteer bersama
selubung sarkolema, masing-masing tergabung dalam kumparan oleh endomisium dan
dibungkus oleh perimisium. Kelompok serabut tersebut (fasikulus) di gabungkan oleh selubung
yang lebih padat, yang disebut epimisium dan gabungan fasikulus ini membentuk otot volunteer
badan individu. Semua otot memiliki suplai darah yang baik dari ateri-arteri di dekatnya. Arteriol
pada perimisium memberi cabang kapiler yang berjalan dalam endomisium dan melintasi
serabut-serabut.

Kebanyakan otot mempunyai tendon pada salah satu atau kedua ujungnya. Tendon terdiri
dari jaringan fibrosa dan biasanya berbentuk seperti tali (cord) meskipun pada beberapa otot
yang pipih tali tersebut digantikan oleh suatu lembaran fibrosa kuat yang di sebut aponeurosis.
Jaringan fibrosa juga membentuk lapisan pelindung atau selubung otot, yang di kenal sebagai
fasia. Bila satu otot menempel pada otot lain, serabut-serabut otot ini bisa saling memilin
(interlace), perimisium otot yang satu bersatu dengan perimisium otot yang lain, atau keduanya
bisa menggunakan tendon yang sama. Jenis hubungan yang ketiga terdapat pada otot-otot
dinding abdomen, di mana seabut-serabut aponeurosis saling menyilang, membentuk linea alba,
yang dapat terlihat sebagai cekungan dangkal di atas umbilicus.

Adapun jenis-jenis otot terbagi 3, yaitu:4

a. Otot rangka (otot skelet) adalah otot lurik, bekerja sebagai volunteer dan melekat pada
rangka:

6
- Serabut otot sangat panjang, sampai 30 cm, berbentuk silindris, dengan lebar berkisar
antara 10 mikron sampai 100 mikron.
- Setiap serabut memiliki banyak inti yang tersusun di bagian perifer
- Kontraksinya cepat dan kuat
b. Otot polos, adalah otot yang tidak berlurik dan involunter. Jenis otot ini dapat ditemukan
pada dinding organ berongga seperti kandung kemih dan uterus, serta pada dinding tuba,
seperti pada sistem respiratorik, pencernaan, reproduksi, urinarius dan sistem sirkulasi
darah.
- Serabut otot berbentuk spindle dengan nukleus sentral yang terelongasi
- Serabut inti berukuran kecil, berkisar antara 20 mikron (melapisi pembuluh darah)
sampai 0,5 mm pada uterus ibu hamil
- Kontraksinya kuat dan lamban
c. Otot jantung, adalah otot lurik, involunter dan hanya di temukan pada jantung:
- Serabut terelongasi dan membentuk cabang dengan satu nukleus sentral
- Panjangnya berkisar antara 85 mikron sampai 100 mikron dan diameternya sekitar 15
mikron
- Diskus terinterkalasi adalah sambungan kuat khusus pada sisi ujung yang bersentuhan
dengan sel-sel otot tetangga
- Kontraksi otot jantung kuat dan berirama.

Karakteristik Otot
Otot merupakan alat gerak aktif karena kemampuannya berkontraksi. Otot akan
memendek jika sedang berkontraksi dan memanjang jika berelaksasi. Kotraksi otot dapat terjadi
apabila otot sedang melakukan kegiatan, sedangkan relaksasi otot terjadi jika otot sedang
beristirahat. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa otot memiliki 4 ciri, yaitu:
kontraktilitas, eksitabilitas, ekstensibilitas, dan elastisitas.2
Kontraktilitas adalah saat dimana serabut otot berkontaksi dan menegang, dalam kasus ini
dapat melibatkan pemendekan otot atau juga tidak. Pemendekan yang dihasilkan akan sangat
terbatas karena kontraksi pada setiap diameter sel berbentuk kubus atau bulat. Pada eksitabilitas,
serabut otot akan merespon dengan kuat jika distimulasi oleh impuls saraf. Ekstensibilitas,

7
serabut otot memiliki kemampuan untuk meregang melebih panjang otot saat relaks. Sementara,
elastisitas, serabut otot dapat kembali ke ukurannya semula setelah berkontraksi atau meregang.2

Mekanisme Kerja Otot


Otot rangka melakukan kerja otot yaitu kontraksi dan relaksasi. Akibat dari aktivitas
kontraksi dan relaksasi ini, akan timbul pergerakan pada rangka tubuh. Otot tidak pernah bekerja
sendiri, walaupun hanya untuk melakukan gerak paling sederhana. Misalnya saja saat mengambil
pensil, memerlukan gerakan jari dan ibu jari, pergelangan tangan, siku, bahu dan mungkin juga
batang tubuh ketika membungkuk ke depan. Setiap otot harus berkontraksi dan setiap otot
antagonis harus rileks untuk menghasilkan gerakan yang halus. Kerja harmonis otot-otot disebut
koordinasi otot.4
Tentu saja, kerja otot tidak lepas dari peran saraf. Otot dipersarafi oleh 2 serat saraf pendek
yaitu saraf sensorik dan saraf motorik. Saraf sensorik yang membawa impuls dari otot menuju ke
saraf pusat, sementara saraf motoik membawa impuls ke serat otot dari saraf pusat untuk memicu
kontraksi otot. Korpus sel dari sel-sel saraf motorik terdapat dalam komu anterior substansia
grisea dalam medula spinalis.5

Kontraksi Otot dan Relaksasi Otot


Kontraksi otot dapat terjadi akibat impuls saraf. Impuls saraf yang sifatnya elektrik, dihantar
ke sel-sel otot secara kimiawi oleh sambungan otot-saraf. Impuls sampai ke sambungan otot-
saraf yang mengandung gelembung-gelembung kecil asetikolin yang kemudian akan dilepaskan
ke dalam ruang antara saraf dan otot (celah sinaps). Ketika asetikolin yang dilepaskan menempel
pada sel otot, ia akan menyebabkan terjadinya depolarisasi dan aktivitas listrik akan menyebar ke
seluruh sel otot. 4
Proses ini kemudiaan diikuti dengan pelepasan ion Ca2+ (kalsium) yang berada diantara sel
otot. Ion kalsium akan masuk ke dalam otot dan kemudian mengangkut troponin dan
tropomiosin ke aktin, sehingga posisi aktin berubah. Impuls listrik yang menyebar akan
merangsang kegiatan protein aktin dan miosin hingga keduanya akan bertempelan membentuk
aktomiosin. Aktin dan miosin yang saling bertemu akan menyebabkan otot memendek dan
terjadilah peristiwa kontraksi. Kejadian ini akan menyebabkan pergeseran filamen (sliding
filamen) yang berujung pada peristiwa kontraksi.4

8
Seperti halnya potensial aksi di serat otot mengaktifkan proses kontraksi dengan memicu
perlepasan Ca2+ dari kantung lateral ke dalam sitosol, proses kontraksi dihentikan ketika Ca2+
dikembalikan ke kantung lateral saat aktivitas listrik lokal berhenti. Retikulum sarkoplasma
memiliki molekul pembawa, pompa Ca2+-ATPase, yang memerlukan energi dan secara aktif
mengangkut Ca2+ dari sitosol untuk memekatkannya di dalam kantung lateral. Ketika
asetilkolinesterase menyingkirkan Ach dari taut neuromuskular, potensial aksi serat otot terhenti.
Ketika potensial aksi lokal tidak lagi terdapat di tubulus T untuk memicu pelepasan Ca2+,
aktivitas pompa Ca2+ retikulum sarkoplasma mengembalikan Ca2+ yang dilepaskan ke kantung
lateral. Hilangnya Ca2+ dari sitosol memungkinkan kompleks troponin-tropomiosin bergeser
kembali ke posisinya yang menghambat, sehingga aktin dan miosin tidak lagi berikatan di
jembatan silang. Filamen tipis, setelah dibebaskan dari siklus perlekatan dan penarikan jembatan
silang, kembali secara pasif ke posisi istirahatnya. Serat otot kembali melemas.6

Kontraksi Otot Isotonis dan Isometris


Kontraksi isometrik adalah kontraksi yang terjadi saat otot membentuk daya atau
tegangan tanpa bisa memendek untuk memindahkan suatu beban. Kontraksi isometrik terjadi
ketika individu mencoba mengangkat beban yang memerlukan tegangan yang lebih besar
daripada tegangan yang dapat dihasilkan oleh otot. Tidak ada kerja mekanis yang dilakukan.
Aktivitas jembatan silang berlangsung, tetapi mikrofilamen tidak bergeser saat kontraksi
isometrik berlangsung. Tegangan terbentuk, tetapi otot tidak memendek. Tegangan yang
terbentuk dalam otot-otot postural berfungsi untuk mempertahankan kepala tetap tegak dan
tubuh tetap berdiri merupakan contoh kontraksi isometrik.
Sedangkan kontraksi isotonik adalah kebalikan dari kontraksi isometrik, dimana tonus
otot lebih besar dari pada berat beban. Sehingga aktivitas jembatan silang berlangsung serta
mikrofilamen bergeser dan kemudian otot pun memendek.7,8

Sumber Energi bagi Kerja Otot 2


Karena ATP yang tersimpan dalam otot biasanya akan habis setelah sepuluh kali
kontraksi, maka ATP harus dibentuk kembali untuk kelangsungan aktivitas otot melalui sumber
lain. Sumber energi untuk kontraksi bisa berasal dari Kreatin Fosfat, reaksi anaerob jalur
glikolisis, pembentukan asam laktat dalam glikolisi anaerob, dan reaksi aerob. Kreatin fosfat

9
(CP), senyawa berenergi tinggi lainnya, merupakan sumber energi yang langsung tersedia untuk
memperbaharui ATP dari ADP (CP + ADP ATP + Kreatin). CP memungkinkan kontraksi otot
tetap berlangsung saat ATP tambahan dibentuk melalui metabolisme glukosa secara anaerob dan
aerob. CP menyediakan energi untuk sekitar 100 kontraksi dan harus disintesis ulang dengan cara
memproduksi lebih banyak ATP (ATP + Kreatin ADP + CP). ATP tambahan terbentuk dari
metabolisme glukosa dan asam lemak melalui reaksi aerob dan anaerob.
Reaksi Anaerob terjadi ketika otot dapat berkontraksi secara singkat tanpa memakai
oksigen dengan menggunakan ATP yang dihasilkan melalui glikolisis anaerob, langkah pertama
dalam respirasi selular. Glikolisis berlangsung dalam sarkoplasma, tidak memerlukan oksigen,
dan melibatkan pengubahan satu molekul glukosa menjadi dua molekul asam piruvat. Glikolisis
anaerob berlangsung cepat tetapi tidak efisien karena hanya menghasilkan dua molekul ATP per
molekul glukosa. Glikolisis dapat memenuhi kebutuhan ATP untuk kontraksi otot dalam waktu
singkat jika persediaan oksigen tidak mencukupi.
Pembentukan asam laktat terjadi dalam kondisi tidak menggunakan oksigen (tanpa
oksigen). Asam piruvat diubah menjadi asam laktat. Jika aktivitas yang dilakukan sedang dan
singkat, persediaan oksigen yang adekuat akan menghalangi akumulasi asam laktat. Asam laktat
berdifusi ke luar dari otot dan dibawa ke hati untuk disintesis ulang menjadi glukosa.
Reaksi aerob saat aktivitas berlangsung, asam piruvat yang terbentuk melalui glikolisis
anaerob mengalir ke mitokondria sarkoplasma untuk masuk dalam siklus asam sitrat
(trikarboksilat) untuk oksidasi. Jika ada oksigen, glukosa terurai sempurna menjadi
karbondioksida, air, dan energi (ATP). Reaksi aerob berlangsung lambat tetapi efisien,
menghasilkan energi sampai 36 mol ATP per glukosa.

Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hipotesis awal diterima.
Seorang laki-laki usia 21 tahun mengeluh kaku pada kaki, tungkai atas dan bawah, dimana
mekanisme kerja otot memegang peran penting untuk dapat menggerakkan anggota tubuh.

10
Daftar Pustaka

1. Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: PT Gramedia; 2001. h. 81-5

2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta:EGC; 2004

3. Solane E. Sistem rangka. Dalam: Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC ;2004.h.92-6

4. Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Ed 10. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2002

5. Cambrigde Communication Limited. Anatomi fisiologi: sistem lokomotor dan


penginderaan. Ed 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002.h.13

11
6. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC; 2009. h. 289
7. Elizabeth J, Corwin. Buku Saku Patofisiologi.Ed 3. Jakarta:EGC;2009
8. Pendit Bu. Biokimia harper. Diterjemahkan dari Murray R , Granner DK , Rodwell VW,
Harpers illustrated biochemistry.Ed 27.Jakarta:EGC;2009

12