Anda di halaman 1dari 19

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
2 Mitigasi Bencana Gempabumi
2
Mitigasi Bencana Gempabumi

2.1

Pendahuluan

Gempabumi adalah getaran dalam bumi yang terjadi sebagai akibat dari terlepasnya energi yang terkumpul secara tiba-tiba dalam batuan yang mengalami deformasi. Gempabumi dapat didefinisikan sebagai rambatan gelombang pada masa batuan/tanah yang berasal dari hasil pelepasan energi kinetik yang berasal dari dalam bumi. Sumber energi yang dilepaskan dapat berasal dari hasil tumbukan lempeng, letusan gunungapi, atau longsoran masa batuan/tanah. Hampir seluruh kejadian gempa berkaitan dengan suatu patahan, yaitu satu tahapan deformasi batuan atau aktivitas tektonik dan dikenal sebagai gempa tektonik. Sebaran pusat-pusat gempa (epicenter) di dunia tersebar di sepanjang batas-batas lempeng (divergent, convergent, maupun transform), oleh karena itu terjadinya gempabumi sangat berkaitan dengan teori Tektonik Lempeng.

Gempa bumi merupakan peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi secara tiba-tiba. Gempabumi dapat disebabkan antara lain oleh:

1. Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi

2. Aktivitas sesar di permukaan bumi

3. Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadi runtuhan tanah

4. Aktivitas gunung api

5. Ledakan Nuklir

Sebagaimana diuraikan diatas bahwa penyebaran pusat-pusat gempabumi sangat erat kaitannya dengan batas-batas lempeng. Pola penyebaran pusat gempa di dunia yang berimpit dengan batas-batas lempeng. Disamping gempa tektonik, kita mengenal juga gempa minor yang disebabkan oleh longsoran tanah, letusan gunungapi, dan aktivitas manusia. Gempa minor umumnya hanya dirasakan secara lokal dan getarannya sendiri tidak menyebabkan kerusakan yang signifikan atau kerugian harta benda maupun jiwa manusia. Adapun mekanisme terjadinya gempabumi dapat dijelaskan seperti yang diilustrasikan pada gambar 2-1. Dalam gambar bagian atas mengilustrasikan gambar permukaan bumi yang berada pada suatu jalur patahan aktif dengan beberapa bangunan rumah sebelum terjadi gempa. Pada kondisi ini batuan berada dalam keadaan tegang (strained). Gambar bagian tengah menjelaskan saat terjadi pergeseran disepanjang jalur

33
33

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

patahan yang diakibatkan oleh gaya yang bekerja dengan arah yang berlawanan dan energi yang terhimpun di dalam masa batuan akan dilepas dan merambat kesegala arah sebagai gelombang longitudinal (gelombang P) dan gelombang transversal (gelombang S). Rambatan gelombang yang menjalar didalam batuan inilah yang menghancurkan bangunan bangunan yang ada disekitarnya. Gambar bagian bawah mengilustrasikan kondisi setelah terjadi gempa dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula.

dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula. Gambar 2- 1 Urut-urutan proses terjadinya gempabumi 2.2
dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula. Gambar 2- 1 Urut-urutan proses terjadinya gempabumi 2.2
dimana batuan kembali berada pada keadaan seperti semula. Gambar 2- 1 Urut-urutan proses terjadinya gempabumi 2.2

Gambar 2- 1

Urut-urutan proses terjadinya gempabumi

2.2 Intensitas dan Magnitude Gempabumi

Intensitas dan magnitude gempa yang terjadi di permukaan bumi dapat diketahui melalui alat seismograf, yaitu suatu alat pencatat getaran seismik yang sangat peka yang ditempatkan diberbagai lokasi di bumi. Alat seismograf akan mencatat setiap getaran seismik yang sampai ke alat tersebut. Pada gambar 2-3 diperlihatkan bagaimana alat seismograf mencatat gelombang seismik melaui suatu bandul yang digantung pada pegas dan dilengkapi dengan jarum pena sebagai alat pencatat getaran seismik diatas kertas yang ada pada tabung silinder yang berputar. Pusat gempa dapat diketahui dengan cara menghitung selisih waktu tiba dari gelombang P dan gelombang S,

34
34

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

sedangkan untuk mengetahui lokasi dari epicenter gempa melalui perpotongan 3 lokasi alat seismograf yang mencatat getaran seismik tersebut (gambar 2-4). Untuk menentukan magnitute gempa didasarkan atas besarnya amplitudo gelombang seismik yang tercatat pada alat seismograf.

Skala Richter adalah satuan yang dipakai untuk mengukur besarnya magnitute gempa. Satuan besaran gempa berdasarkan satuan skala Richter adalah 1 hingga 10. Satuan intensitas dan magnitute gempabumi dapat juga diukur berdasarkan dampak kerusakan yang ditimbulkan oleh getaran gelombang seismik dan satuan ini dikenal dengan satuan Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI), nilai satuan ini berkisar dari 1 s/d 12 (lihat Tabel 2-1).

nilai satuan ini berkisar dari 1 s/d 12 (lihat Tabel 2-1). Gambar 2-2 Gelombang P (Primer)

Gambar 2-2 Gelombang P (Primer) sebagai gelombang kompresi yang mampu merubah volume batuan dan gelombang S (Sekunder) sebagai gelombang “Shear” yang mampu merubah bentuk.

sebagai gelombang “Shear” yang mampu merubah bentuk. Gambar 2-3 Alat seismograf yang mencatat arah gerakan

Gambar 2-3

Alat seismograf yang mencatat arah gerakan gempabumi oleh jarum seismograf pada kertas yang berada dipermukaan silinder

35
35

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-4 Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan atas selisih waktu tiba dari
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-4 Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan atas selisih waktu tiba dari

Gambar 2-4 Penentuan lokasi epicenter gempa didasarkan atas selisih waktu tiba dari gelombang P dan gelombang S yang tercatat pada alat seismograf (gambar kiri) dan epicenter gempa yang ditentukan berdasarkan perpotongan dari 3 lokasi alat seismograf yang mencatat kejadian gempabumi (gambar kanan).

Tabel 2-1

Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI)

alat seismograf yang mencatat kejadian gempabumi (gambar kanan). Tabel 2-1 Skala Intensitas Modifikasi Mercalli (MMI) 36
36
36

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

2.3 Dampak Bencana Gempabumi

Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahwa rambatan gelombang seismik yang berasal dari energi yang dilepaskan dari hasil pergerakan lempeng dapat menimbulkan bencana. Bencana yang disebabkan oleh gempabumi dapat berupa rekahan tanah (ground rupture), getaran tanah (ground shaking), gerakan tanah (mass-movement), kebakaran (fire), perubahan aliran air (drainage changes), gelombang pasang/tsunami, dsb.nya. Gelombang gempa yang merambat pada masa batuan, tanah, ataupun air dapat menyebabkan bangunan gedung dan jaringan jalan, air minum, telepon, listrik, dan gas menjadi rusak. Tingkat kerusakan sangat ditentukan oleh besarnya magnitute dan intensitas serta waktu dan lokasi epicenter gempa.

1. Rekahan / patahan di permukaan bumi (ground rupture)

Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas. Pada umumnya gempabumi seringkali berdampak pada rekah dan patahnya permukaan bumi yang secara regional dikenal sebagai deformasi kerakbumi. Deformasi kerakbumi dapat mengakibatkan permukaan daratan rekah dan terpatahkan hingga mencapai areal yang sangat luas. Salah satu bukti nyata terjadinya ground rupture adalah gempa yang terjadi pada Februari, 1976 dimana areal seluas 12.000 km2 yang terletak di jalur patahan San Andreas, 65 km di sebelah utara kota Los Angeles mengalami pegangkatan (uplifted) oleh pergeseran sesar San Andreas. Contoh lain dari deformasi kerakbumi adalah gempabumi yang terjadi pada tahun 1964 di Alaska yang menghasilkan suatu rekahan dan patahan serta deformasi batuan dimana daerah seluas 260.000 km2 terdiri dari dataran pantai dan dasar laut secara lokal terangkat setinggi 2 meter dan secara regional mencapai 16 meter (gambar 2-5). Rekahan dan patahan yang terjadi di permukaan bumi dapat berdampak pada bangunan-bangunan, jalan dan jembatan, pipa air minum, pipa listrik, saluran telepon, serta prasarana lainnya yang ada di daerah tersebut.

2. Getaran / guncangan permukaan tanah (ground shaking)

Bencana gempa yang secara langsung terasa dan berdampak sangat serius adalah runtuhnya bangunan-bangunan yang disebabkan oleh getaran/guncangan gempa yang merambat pada media batuan/tanah. Pada umumnya bangunan-bangunan yang berada diatas lapisan batuan yang padat (firm) dampaknya tidak terlalu parah bila dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang berada diatas batuan sedimen jenuh. Gambar 2-6 menunjukkan bangunan yang roboh akibat goncangan gempa yang merusak kota San Francisco pada tahun 1906 adalah gempa yang epicenter-nya berada di sepanjang jalur patahan (sesar) San Andreas dan bagian dari segmen lepas pantai yang terletak

37
37

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

disisi luar Golden Gate merupakan segmen yang bertanggung jawab terhadap kerusakan kota San Francisco.

bertanggung jawab terhadap kerusakan kota San Francisco. Gambar 2-5 Gempa Alaska tahun 1964 yang menyebabkan wilayah

Gambar 2-5

Gempa Alaska tahun 1964 yang menyebabkan wilayah seluas 260.000 km2 mengalami ground rupture setinggi 2 16 meter

km2 mengalami ground rupture setinggi 2 – 16 meter Gambar 2-6 Gempa California tahun 1995 yang

Gambar 2-6

Gempa California tahun 1995 yang disebabkan oleh ground shaking

3. Longsoran Tanah (mass movement)

Berbagai jenis luncuran dan longsoran tanah umumnya dapat terjadi bersamaan dengan terjadinya gempa. Hampir semua longsoran tanah dapat terjadi pada radius 40 km dari pusat gempa (epicenter) dan untuk gempa yang sangat besar dapat mencapai radius 160 km dan salah satu contoh adalah gempabumi Alaska tahun 1964 yang memicu terjadinya longsoran-longsoran tanah

38
38

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

yang terletak jauh dari epicenter gempa. Pada dasarnya getaran gempa lebih bersifat sebagai pemicu terjadinya longsoran atau gerakan tanah. Dalam hal ini gempa bersifat meng-induksi terjadinya gerakan tanah, sedangkan longsoran dan gerakan tanah baru akan terjadi apabila daya ikat antar butiran lemah, kejenuhan batuan/sedimen, porositas dan permiabilitas batuan/tanah tinggi.

porositas dan permiabilitas batuan/tanah tinggi. Gambar 2-7 Gempa California tahun 1995 yang menyebabkan

Gambar 2-7 Gempa California tahun 1995 yang menyebabkan longsoran tanah

4. Kebakaran

Kerusakan yang utama dan sering terjadi pada saat terjadinya gempabumi adalah bahaya kebakaran. Hampir sembilan puluh persen kerusakan yang terjadi di kota San Francisco pada tahun 1906 adalah disebabkan oleh kebakaran yang berasal dari material bahan bangunan yang mudah terbakar, kerusakan peralatan yang berkaitan dengan listrik serta pecah dan patahnya saluran pipa gas, listrik, dan air. Pada umumnya gempa meng-induksi api yang berasal dari putusnya saluran listrik, gas, dan pembangkit listrik yang sedang beroperasi yang pada akhirnya menyebabkan kebakaran.

5. Perubahan Pengaliran (drainage modifications)

Terbentuknya danau yang cukup luas akibat amblesnya (subsidence) permukaan daratan seperti dataran banjir (floodplain), delta, rawa, yang diakibatkan oleh gempabumi merupakan suatu permasalahan yang cukup serius. Perubahan pengaliran akibat penurunan permukaan daratan yang disebabkan oleh gempa memungkinkan terbentuknya danaudanau buatan dan reservoir baru serta rusaknya bendungan. Contoh kasus terjadinya perubahan pengaliran (drainage) adalah gempa yang terjadi pada tahun 1971 di San Fernando, California telah menyebabkan hancurnya bendungan Van Norman Dam, sedangkan gempa Alaska yang terjadi pada tahun 1864 meruntuhkan 2 Bendungan tipe earth-fill yang berada di selatan kota Anchorage. Kedua bendungan tersebut dilalui oleh suatu

39
39

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

rekahan dan patahan yang memotong badan bendungan dan telah merubah pengaliran (drainase) yang ada di wilayah tersebut.

6. Perubahan Air Bawah Tanah (Ground Water Modifications)

Regim air bawah tanah dapat mengalami perubahan oleh perpindahan yang disebabkan oleh sesar atau oleh goncangan. Contoh kasus dari perubahan air bawah tanah adalah gempa yang terjadi disepanjang suatu patahan yang mengakibatkan terjadinya offset batuan di kedua sisi permukaan tanah dan aliran air bawah tanah di wilayah Santa Clara County, California, yaitu suatu wilayah yang terletak di bagian selatan teluk San Francisco. Dalam kasus ini kipas aluvial yang sangat luas yang terletak di Alameda Creek mengalami offset/perpindahan sejauh 2 km ke arah

barat perbukitan. Gawir yang terbentuk oleh sesar setinggi 8 meter menutup saluran-saluran sungai yang menuju ke teluk San Francisco sehingga membentuk kolam-kolam yang sangat luas. Patahan

ini

juga berimbas pada air yang berada dibawah tanah, offset yang terjadi pada batuan yang berada

di

bawah tanah telah menyebabkan lapisan batuan yang permeabel tertutup oleh lapisan batuan

impermeabel sehingga mengakibatkan daerah yang berada diantara gawir dan perbukitan mendapat

air

bawah tanah yang melimpah sebaliknya daerah yang lain sedikit menerima air bawah tanah.

7.

Tsunami

Tsunami adalah suatu pergeseran naik atau turun yang terjadi secara tiba-tiba pada dasar samudra pada saat terjadi gempabumi bawah laut, kondisi ini akan menimbulkan gelombang laut pasang yang sangat besar yang lazim disebut “tidal waves”. Tsunami berasal dari bahasa Jepang. "tsu" berarti pelabuhan, "nami" berarti gelombang sehingga secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di pelabuhan. Istilah tsunami telah digunakan secara luas, baik untuk gelombang pasang (“tidal waves”) maupun gelombang yang disebabkan oleh gempabumi atau yang lebih dikenal dengan istilah “seismic sea waves”.

Tsunami dapat diartikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut. Gangguan impulsif tersebut bisa berupa gempa bumi tektonik, erupsi vulkanik atau longsoran? Kecepatan tsunami yang naik ke daratan berkurang menjadi sekitar 25-100 Km/jam. Ketinggian tsunami yang pernah tercatat terjadi di Indonesia adalah 36 meter yang terjadi pada saat letusan gunung api Krakatau tahun 1883.

Penyebab terjadinya Tsunami antara lain:

1. Gempa bumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar dibawah air (laut/danau)

2. Tanah longsor didalam laut

3. Letusan gunungapi dibawah laut atau gunungapi pulau.

40
40

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

Gejala terjadinya tsunami:

1. Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang dengan energi yang sangat kuat.

2. Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempa bumi besar dan

susut laut.

3. Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya? gempa bumi sebagai sumber tsunami dan

waktu tiba tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa jauh lebih besar

dibandingkan kecepatan tsunami.

4. Metode pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi.

5. Di Indonesia pada umumnya tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah

terjadinya gempa bumi besar di bawah laut?

Mekanisme terjadinya tsunami (gambar 2-8):

1. Diawali dengan terjadinya gempa yang disertai oleh pengangkatan sebagai akibat kompresi.

2. Gelombang bergerak keluar ke segala arah dari daerah yang terangkat

3. Panjang gelombang berkurang tetapi tingginya meningkat saat mencapai bagian yang dangkal,

kemudian melaju ke arah darat dengan kecepatan +/-100 km/jam setelah sebelumnya surut

dulu untuk beberapa saat (gambar 2-9).

Gambar 2-10 s/d 2-12 memperlihatkan pembentukan, sebaran, dan dampak dari gelombang tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa berada disebelah barat pantai Sumatra, propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

gempa berada disebelah barat pantai Sumatra, propinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Gambar 2-8 Mekanisme terjadinya tsunami 41

Gambar 2-8 Mekanisme terjadinya tsunami

41
41

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-9 Pergerakan gelombang tsunami ke daratan Gambar 2-10 Model gelombang tsunami

Gambar 2-9 Pergerakan gelombang tsunami ke daratan

2012 Gambar 2-9 Pergerakan gelombang tsunami ke daratan Gambar 2-10 Model gelombang tsunami yang terjadi oleh

Gambar 2-10 Model gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra (source:

42
42

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-11 Kecepatan dan waktu tempuh gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi

Gambar 2-11 Kecepatan dan waktu tempuh gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra

dengan pusat gempa di pesisir sebelah utara pulau Sumatra Gambar 2-12 Menunjukan tinggi gelombang tsunami yang

Gambar 2-12

Menunjukan tinggi gelombang tsunami yang terjadi oleh gempabumi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

43
43

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-13 Penurunan permukaan tanah berkisar antara 1 – 2 meter di

Gambar 2-13

Penurunan permukaan tanah berkisar antara 1 2 meter di Meulaboh Utara sebagai dampak gempabumi yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra. Gambar 2-14 Penurunan permukaan tanah berkisar antara

Gambar 2-14

Penurunan permukaan tanah berkisar antara 1 2 meter di Meulaboh Utara sebagai dampak gempabumi yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

44
44

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012
MITIGASI BENCANA GEMPABUMI 2012 Gambar 2-15 Pengangkatan permukaan tanah (2-3 meter) dimana garis pantai maju ke

Gambar 2-15

Pengangkatan permukaan tanah (2-3 meter) dimana garis pantai maju ke arah laut di Meulaboh Utara sebagai dampak gempabumi yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra. Gambar 2-16 Pengangkatan batu karang sekitar 1.5

Gambar 2-16 Pengangkatan batu karang sekitar 1.5 2.5 meter di Meulaboh Utara sebagai dampak gempabumi yang terjadi tanggal 26 Desember 2004 dengan pusat gempa di utara pantai pulau Sumatra.

45
45

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

2.4 Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana

Adanya tsunami tidak bisa diramalkan dengan tepat kapan terjadinya, akan tetapi kita bisa menerima peringatan akan terjadinya tsunami sehingga kita masih ada waktu untuk menyelamatkan diri. Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan. Namun jika berada di sekitar pantai, terasa ada guncangan gempa bumi, air laut dekat pantai surut secara tiba-tiba sehingga dasar laut terlihat, segeralah lari menuju ke tempat yang tinggi (perbukitan atau bangunan tinggi) sambil memberitahukan teman-teman yang lain. Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita dari pantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai. Arahkan perahu ke laut. Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerah yang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.

Strategi Mitigasi Dan Upaya Pengurangan Bencana Tsunami:

1. Peningkatan kewaspadaaan dan kesiapsiagaan terhadap bahaya tsunami.

2. Pendidikan kepada masyarakat terutama yang tinggal di daerah pantai tentang bahaya tsunami.

3. Pembangunan Tsunami Early Warning System (Sistem Peringatan Dini Tsunami).

4. Pembangunan tembok penahan tsunami pada garis pantai yang beresiko.

5. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya sepanjang garis pantai untuk meredam gaya air tsunami.

6. Pembangunan tempat-tempat evakuasi yang aman disekitar daerah pemukiman yang cukup tinggi dan mudah dilalui untuk menghindari ketinggian tsunami.

7. Peningkatan pengetahuan masyarakat lokal khususnya yang tinggal di pinggir pantai tentang pengenalan tanda-tanda tsunami cara-cara penyelamatan diri terhadap bahaya tsunami.

8. Pembangunan rumah yang tahan terhadap bahaya tsunami.

9. Mengenali karakteristik dan tanda-tanda bahaya tsunami.

10. Memahami cara penyelamatan jika terlihat tanda-tanda akan terjadi tsunami.

11. Meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi tsunami.

12. Melaporkan secepatnya jika mengetahui tanda-tanda akan terjadinyan tsunami kepada petugas yang berwenang : Kepala Desa, Polisi, Stasiun Radio, SATLAK PB maupun institusi terkait

13. Melengkapi diri dengan alat komunikasi.

46
46

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

2.5 Mitigasi Bencana Gempabumi

Mitigasi bencana gempabumi adalah hal yang paling sulit diatasi, hal ini dikarenakan berbagai faktor yang sangat komplek seperti:

i. Interval kejadian yang tidak pasti. Karena interval kejadian gempa yang tidak pasti disepanjang suatu patahan sehingga menyulitkan dalam perencanaan. Data yang sangat minim akan menyulitkan dalam penyesuaian peruntukan lahan secara spesifik serta dalam pembuatan aturan yang berkaitan dengan pemanfaatan lahan di sekitar dan di sepanjang suatu patahan. Peraturan yang dibuat dengan data yang sangat minim secara politis akan sulit memperoleh dukungan.

ii. Penetapan lebar zona patahan. Di perbagai instansi, data tentang lebar suatu zona patahan dapat berbeda beda. Tanpa suatu dasar yang pasti maka untuk memprediksi patahan mana yang berikutnya yang akan bergerak/patah sangat sulit dilakukan, sehingga penyesuaian peruntukan lahan dan penyusunan aturan yang berkaitan dengan lahan juga menjadi sulit dipertahankan.

iii. Bangunan yang sudah terlanjur ada. Pembangunan yang dilaksanakan di tempat tempat yang berdekatan dengan zona patahan dan disepanjang jalur patahan akan sulit dilarang dan untuk menyadarkan masyarakat agar tidak melakukan pembangunan di tempat tempat tersebut akan menjadi sia-sia, hal ini disebabkan karena pemerintah / lembaga yang berwenang tidak memiliki data yang memadai dan akurat terhadap kemungkinan bencana yang mungkin terjadi.

Berkaitan dengan ketidak pastian dan waktu terjadinya gempa, maka bencana gempa harus diposisikan dalam perhitungan dan pengambilan keputusan yang tepat didasarkan atas data-data yang tersedia. Oleh karena itu untuk bangunan bangunan, seperti perumahan, rumah sakit, sekolahan dilarang dibangun di zona patahan. Untuk itu diperlukan suatu peraturan yang melarang warga masyarakat membangun bangunan di tempat tempat yang berada di zona patahan aktif.

Mitigasi bencana geologi pada hakekatnya adalah mengurangi resiko bencana geologi terhadap harta benda maupun jiwa manusia. Mitigasi merupakan suatu upaya kerjasama antara ahli- ahli teknik dan para pembuat kebijakan dan menghasilkan peraturan peraturan pembangunan untuk suatu wilayah yang rentan bahaya geologi. Usaha-usaha dalam penanggulangan bencana untuk meminimalkan kerugian, baik kerugian harta benda ataupun jiwa manusia yang disebabkan oleh gempabumi dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain adalah:

1. Melakukan pemetaan penyebaran lokasi-lokasi gempa yang disajikan dalam bentuk Peta Rawan Bencana Gempabumi / Seismik.

2. Membuat peraturan peraturan yang berkaitan dengan desain struktur bangunan tahan gempa guna mencegah runtuhnya bangunan ketika terjadi gempa.

3. Tidak membangun bangunan di wilayah-wilayah yang rawan bencana gempa.

47
47

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

4.

Menghindari lahan-lahan yang rawan gempa untuk areal pemukiman, dan aktivitas manusia.

5.

Melakukan penataan ruang baik yang berada di sekitar pantai ataupun di daratan guna mencegah dan menghindari terjadinya korban jiwa dan harta serta dampak yang mungkin timbul ketika bencana itu terjadi.

6.

Memasang Sistem Peringatan Dini (Early Warning System).

2.5.1

Strategi Mitigasi dan Upaya Pengurangan Bencana Gempa Bumi

1.

Bangunan harus dibangun dengan konstruksi tahan gempa khususnya di daerah rawan gempa.

2.

Perkuatan bangunan yang telah ada dengan mengikuti standar kualitas bangunan.

3.

Pembangunan fasilitas umum dengan standar kualitas yang tinggi.

4.

Perkuatan bangunan-bangunan vital yang telah ada.

5.

Rencanakan penempatan pemukiman untuk mengurangi tingkat kepadatan hunian di daerah rawan gempa bumi.

6.

Zonasi daerah rawan gempa bumi dan pengaturan penggunaan lahan.

7.

Pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya gempa bumi dan cara - cara penyelamatan diri jika terjadi gempa bumi.

8.

Ikut serta dalam pelatihan program upaya penyelamatan, kewaspadaan masyarakat terhadap gempa bumi, pelatihan pemadam kebakaran dan pertolongan pertama.

9.

Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.

10. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.

11. Pembentukan kelompok aksi penyelamatan bencana dengan pelatihan pemadaman kebakaran dan pertolongan pertama.

12. Persiapan alat pemadam kebakaran, peralatan penggalian, dan peralatan perlindungan masyarakat lainnya.

13. Rencana kedaruratan untuk melatih anggota keluarga dalam menghadapi gempa bumi.

2.5.2 Sistem komunikasi dan peringatan dini

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bencana alam geologi yang menjadi ancaman adalah gempa bumi tektonik. Gempa bumi tektonik sulit diprediksi kepastian waktu dan magnitudonya hanya dapat dipetakan daerah patahan serta prakiraan kemungkinannya yaitu berdasarkan sejarah kegempaan serta karakteristik wilayah kegempaan. Namun seperti dijelaskan para ahli bahwa apabila pernah terjadi kegempaan besar yang merusak di suatu kawasan baik satu kali maupun beberapa kali, maka dapat dipastikan bahwa wilayah tersebut rawan terhadap gempa bumi yang paling tidak berkekuatan sama dengan yang pernah terjadi. Artinya wilayah tersebut harus siap menghadapi kejadian gempa bumi serupa atau lebih besar dimasa yang akan datang, karena setiap kejadian gempa bumi pasti berhubungan dengan adanya patahan aktif pada atau sekitar wilayah

48
48

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

tersebut dan proses gempa dengan skala magnitudo tertentu mempunyai siklus atau akan selalu berulang dengan kisaran periode ulang tertentu (Natawidjaja, et. all, 1995).

Dalam persitiwa bencana alam gempa bumi dapat menimbulkan bencana ikutan seperti tanah longsor seperti di Garut, tsunami di Aceh dan kebakaran di San Francisco AS. Jadi sistem komunikasi dan peringatan dini bertujuan untuk menilai efektivitas sebuah informasi peramalan potensi bencana dapat dikomunikasikan hingga ke tingkat komunitas yang terancam. Sehingga saat terjadi sebuah bencana komunitas memiliki waktu untuk menyelamatkan aset-aset kehidupannya. Tantangan yang seringkali muncul dalam sistem peringatan dini adalah bagaimana menterjemahkan informasi teknis menjadi informasi yang mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat bertindak pada saat yang tepat. Tantangan tersebut sebenarnya dapat di reduksi melalui keterlibatan komunitas yang terancam dan pihak yang berwenang dalam memberikan informasi tersebut.

Untuk itu maka sebuah sistem informasi peringatan dini harus memiliki parameter sebagai berikut: pertama menjangkau sebanyak mungkin anggota masyarakat, kedua segera, ketiga tegas, jelas dan tidak membingungkan dan keempat bersifat resmi atau disepakati oleh semua pihak. Sistem peringatan dini biasanya melalui jalur komunikasi yang menginformasikan ramalan ancaman dari suatu lembaga yang berwenang hingga ke satuan kelompok masyarakat terkecil. Penyampaian informasi peringatan dini harus mempertimbangkan hal-hal:

1. Menginformasikan peringatan secara bertingkat ke masyarakat. Setiap perubahan tingkat peringatan bermakna pada peningkatan kewaspadaan yang harus dilakukan masyarakat.

2. Penyeragaman dan kesepakatan informasi mengenai tanda, simbol dan suara baik dari lembaga yang berwenang maupun dari tim siaga desa sehingga semua pihak dapat mengerti dan memahami informasi peringatan dini yang disamapaikan.

3. Menyepakati atau penunjukan terhadap individu yang berwenang di tingkat dusun, desa atau kota untuk membunyikan tanda peringatan dini apabila terjadi ancaman berpotensi menimbulkan risiko.

4. Penggunaan alat sistem informasi peringatan dini yang tepat guna. Peralatan informasi peringatan dini yang digunakan tidaklah harus berteknologi tinggi dan mahal, yang penting dapat berfungsi efektif dan cepat dalam memberikan informasinya. Disamping itu pemilihan alat peringatan dini harus mempertimbangkan waktu ancaman berlangsung mulai dari sumber ancaman hingga sampai di areal pemukiman. Masyarakat pedesaan pada umumnya memiliki alat-alat tradisional yang berfungsi untuk menyampaikan informasi peringatan.

5. Penempatan alat peringatan dan papan informasi di tempat yang strategis sehingga semua orang bisa mengetahui dan mendengarnya.

49
49

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

6. Saran tindakan yang harus dilakukan oleh masyarakat harus konkret dan spesifik, saran mengenai tindakan yang tidak boleh dilakukan masyarakat sehingga dapat mengurangi risiko.

7. Bahasa penyampaian informasi sesederhana mungkin dan dalam bahasa lokal/setempat agar dapat dimengerti seluruh orang.

8. Melakukan latihan simulasi sistem komunikasi dan peringatan dini yang teratur dalam periode tertentu di kawasan yang rawan bencana. Hal ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan dan melatih naluri penduduk untuk selalu siap siaga dalam menghadapi ancaman. Disamping itu sebagai kontrol dan penilaian efektivitas dari sistem komunikasi dan peringatan dini yang dilakukan di sebuah kawasan rawan bencana serta pengecekan apakah alat komunikasi dan peringatan dini masih berfungsi dengan baik atau tidak.

2.6 Tindakan Yang Harus Dilakukan Saat Terjadi Gempabumi

Jika gempa bumi menguncang secara tiba-tiba, berikut ini 10 petunjuk yang dapat dijadikan pegangan di manapun anda berada.

1. Di dalam rumah Getaran akan terasa beberapa saat. Selama jangka waktu itu, anda harus mengupayakan keselamatan diri anda dan keluarga anda. Masuklah ke bawah meja untuk melindungi tubuh anda dari jatuhan benda-benda. Jika anda tidak memiliki meja, lindungi kepala anda dengan bantal. Jika anda sedang menyalakan kompor, maka matikan segera untuk mencegah terjadinya kebakaran.

2. Di sekolah Berlindunglah di bawah kolong meja, lindungi kepala dengan tas atau buku, jangan panik, jika gempa mereda keluarlah berurutan mulai dari jarak yang terjauh ke pintu, carilah tempat lapang, jangan berdiri dekat gedung, tiang dan pohon.

3. Di luar rumah Lindungi kepada anda dan hindari benda-benda berbahaya. Di daerah perkantoran atau kawasan industri, bahaya bisa muncul dari jatuhnya kaca-kaca dan papan-papan reklame. Lindungi kepala anda dengan menggunakan tangan, tas atau apapun yang anda bawa.

4. Di gedung, mall, bioskop, dan lantai dasar mall Jangan menyebabkan kepanikan atau korban dari kepanikan. Ikuti semua petunjuk dari petugas atau satpam.

50
50

MITIGASI BENCANA GEMPABUMI

2012
2012

5. Di dalam lift Jangan menggunakan lift saat terjadi gempa bumi atau kebakaran. Jika anda merasakan getaran gempa bumi saat berada di dalam lift, maka tekanlah semua tombol. Ketika lift berhenti, keluarlah, lihat keamanannya dan mengungsilah. Jika anda terjebak dalam lift, hubungi manajer gedung dengan menggunakan interphone jika tersedia.

6. Di kereta api Berpeganganlah dengan erat pada tiang sehingga anda tidak akan terjatuh seandainya kereta dihentikan secara mendadak. Bersikap tenanglah mengikuti penjelasan dari petugas kereta. Salah mengerti terhadap informasi petugas kereta atau stasiun akan mengakibatkan kepanikan.

7. Di dalam mobil Saat terjadi gempa bumi besar, anda akan merasa seakan-akan roda mobil anda gundul. Anda akan kehilangan kontrol terhadap mobil dan susah mengendalikannya. Jauhi persimpangan, pinggirkan mobil anda di kiri jalan dan berhentilah. Ikuti instruksi dari radio mobil. Jika harus mengungsi maka keluarlah dari mobil, biarkan mobil tak terkunci.

8. Di gunung/pantai Ada kemungkinan longsor terjadi dari atas gunung. Menjauhlah langsung ke tempat aman. Di pesisir pantai, bahayanya datang dari tsunami. Jika anda merasakan getaran dan tanda-tanda tsunami tampak, cepatlah mengungsi ke dataran yang tinggi.

9. Beri pertolongan Sudah dapat diramalkan bahwa banyak orang akan cedera saat terjadi gempa bumi besar. Karena petugas kesehatan dari rumah-rumah sakit akan mengalami kesulitan datang ke tempat kejadian, maka bersiaplah memberikan pertolongan pertama kepada orang-orang yang berada di sekitar anda.

10. Dengarkan informasi Saat gempa bumi besar terjadi, masyarakat terpukul kejiwaannya. Untuk mencegah kepanikan, penting sekali setiap orang bersikap tenang dan bertindaklah sesuai dengan informasi yang benar. Anda dapat memperoleh informasi yag benar dari pihak yang berwenang atau polisi. Jangan bertindak karena informasi orang yang tidak jelas.

51
51